Anda di halaman 1dari 7

PEMERINTAH KABUPATEN CIREBON

DINAS KESEHATAN
UPT PUSKESMAS MAYUNG
Jl. Ki Gede Mayung No. 36 Kecamatan Gunung Jati Telp. 0231-8228618
Email: mayung.pkm@gmail.com, Kode Pos 45151

KERANGKA ACUAN PROGRAM KUSTA TAHUN 2017

PENDAHULUAN

Permasalahan penyakit kusta ini bila dikaji secara mendalam merupakan


permasalahan yang sangat kompleks dan merupakan permasalahan kemanusiaan
seutuhnya. Masalah yang dihadapi pada penderita bukan hanya dari medis saja
tetapi juga adanya masalah psikososial sebagai akibat penyakitnya. Dalam keadaan
ini warga masyarakat berupaya menghindari penderita. Sebagai akibat dari
masalah-masalah tersebut akan mempunyai efek atau pengaruh terhadap
kehidupan bangsa dan negara, karena masalah-masalah tersebut dapat
mengakibatkan penderita kusta menjadi tuna sosial, tuna wisma, tuna karya dan
ada kemungkinan mengarah untuk melakukan kejahatan atau gangguan di
lingkungan masyarakat. Program pemberantasan penyakit menular bertujuan untuk
mencegah terjadinya penyakit, menurunkan angka kesakitan dan angka kematian
serta mencegah akibat buruk lebih lanjut sehingga memungkinkan tidak lagi menjadi
masalah kesehatan masyarakat. Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular
yang masih merupakan masalah nasional kesehatan masyarakat, dimana beberapa
daerah di Indonesia prevalens rate masih tinggi dan permasalahan yang ditimbulkan
sangat komplek. Masalah yang dimaksud bukan saja dari segi medis tetapi meluas
sampai masalah sosial ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan sosial. Pada
umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang, dan
sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Hal ini sebagai
akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan
yang memadai di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi
pada masyarakat. Di Indonesia pengobatan dari perawatan penderita kusta secara
terintegrasi dengan unit pelayanan kesehatan (puskesmas sudah dilakukan sejak
pelita I). Adapun sistem pengobatan yang dilakukan sampai awal pelita III yakni
tahun 1992, pengobatan dengan kombinasi (MDT) mulai digunakan di Indonesia.
Indonesia hingga saat ini merupakan salah satu negara dengan beban penyakit
kusta yang tinggi. Pada tahun 2013, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia
setelah India dan Brazil. Tahun 2013, Indonesia memiliki jumlah kasus kusta baru
sebanyak 16.856 kasus dan jumlah kecacatan tingkat 2 di antara penderita baru
sebanyak
9,86% (WHO, 2013). Penyakit kusta merupakan salah satu dari delapan penyakit
terabaikan atau Neglected Tropical Disease (NTD) yang masih ada di Indonesia,
yaitu Filaria, Kusta, Frambusia, Dengue, Helminthiasis, Schistosomiasis, Rabies dan
Taeniasis. Indonesia sudah mengalami kemajuan yang pesat dalam pembangunan
di segala bidang termasuk kesehatan, namun kusta sebagai penyakit kuno masih
ditemukan.
Pelaksanaan kegiatan asuhan keperawatan keluarga dilakukan dengan cara Santun, inovatif,
gesit, aman, dan peduli (SIGAP).

A. LATAR BELAKANG
Hingga kini, kusta seringkali terabaikan. Meskipun kusta tidak secara
langsung termasuk ke dalam pencapaian Millenium Development Goals (MDGs),
namun terkait erat dengan lingkungan yaitu sanitasi. Penggunaan air bersih dan
sanitasi akan sangat membantu penurunan angka kejadian penyakit NTD. Beban
akibat penyakit kusta bukan hanya karena masih tingginya jumlah kasus yang
ditemukan tetapi juga kecacatan yang diakibatkannya, Indonesia sudah mencapai
eliminasi di tingkat nasional. Namun saat ini, masih ada 14 propinsi yang
mempunyai beban tinggi yaitu Banten, Sulteng, Aceh, Sultra, Jatim, Sulsel, Sulbar,
Sulut, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dan Kalimantan Utara.
Dampak sosial terhadap penyakit kusta ini sedemikiari besarnya, sehingga
menimbulkan keresahan yang sangat mendalam. Tidak hanya pada penderita
sendiri, tetapi pada keluarganya, masyarakat dan negara. Hal ini yang mendasari
konsep perilaku penerimaan periderita terhadap penyakitnya, dimana untuk kondisi
ini penderita masih banyak menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit
menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, najis dan
menyebabkan kecacatan. Akibat anggapan yang salah ini penderita kusta merasa
putus asa sehingga tidak tekun untuk berobat. Hal ini dapat dibuktikan dengan
kenyataan bahwa penyakit mempunyai
kedudukan yang khusus diantara penyakit-penyakit lain. Hal ini disebabkan oleh
karena adanya leprophobia (rasa takut yang berlebihan terhadap kusta).
Leprophobia ini timbul karena pengertian penyebab penyakit kusta yang salah dan
cacat yang ditimbulkan sangat menakutkan. Dari sudut pengalaman nilai budaya
sehubungan dengan upaya pengendalian leprophobia yang bermanifestasi sebagai
rasa jijik dan takut pada penderita kusta tanpa alasan yang rasional. Terdapat
kecenderungan bahwa masalah kusta telah beralih dari masalah kesehatan ke
masalah sosial. Leprophobia masih tetap berurat akar dalam seleruh lapisan
masalah masyarakat karena dipengaruhi oleh segi agama, sosial, budaya dan
dihantui dengan kepercayaan takhyul. Fhobia kusta tidak hanya ada di kalangan
masyarakat jelata, tetapi tidak sedikit dokter-dokter yang belum mempunyai
pendidikan objektif terhadap penyakit kusta dan masih takut terhadap penyakit
kusta. Selama masyarakat kita, terlebih lagi para dokter masih terlalu takut dan
menjauhkan penderita kusta, sudah tentu hal ini akan merupakan hambatan
terhadap usaha penanggulangan penyakit kusta. Akibat adanya phobia ini, maka
tidak mengherankan apabila penderita diperlakukan secara tidak manusiawi di
kalangan masyarakat.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan dibuatnya suatu kerangka acuan dalam setiap


pelaksanaan kegiatan sebuah program yaitu agar pelaksanaan kegiatan tersebut
dapat berjalan sesuai rencana sehingga dapat terukur, terjangkau dan dapat di
evaluasi.
1. Tujuan umum yaitu :
Meningkatkan cakupan pelayanan program kusta sesuai dengan
masalah yang ada, sehingga dapat meningkatkan penemuan secara dini
penderita kusta baru dan bisa mengobati pasien kusta secara sempurna.
2. Tujuan khusus :
2.1 Mengupayakan peningkatan keterampilan petugas dalam mendeteksi
suspect Kusta.
2.2 Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya deteksi
dini Kusta.
2.3 Mempertahankan keterampilan petugas kesehatan di unit pelayanan dalam
tata laksana pasien kusta.

C. VISI DAN MISI


1. Visi
Terwujudnya pelayanan kesehatan dasar yang optimal demi mencapai
masyarakat sehat
2. Misi
2.1 Meningkatkan kualitas sumber daya kesehatan
2.2 Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai standar
2.3 Meningkatkan peran aktif masyarakat dibidang kesehatan
2.4 Menciptakan kemandirian masyarakat dalam menilai kesehatan diri dan
lingkungan.

D. KELUARAN YANG DIHARAPKAN


1. Meningkatnya kesadaran dan partisipasi keluarga / masyarakat agar pengobatan
berjalan baik dan tidak ada diskriminasi.
2. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengendalian penyakit Kusta.
3. Meningkatnya pengetahuan dan partisipasi petugas kesehatan.
4. Ditemukannya kasus baru sedini mungkin.
5. Meningkatnya komitmen dan dukungan dari lintas program dan lintas sektor.

E. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


N
Kegiatan Pokok Rincian Kegiatan
o
1 Pemeriksaan Kontak 1. Untuk pasien baru, kunjungan rumah dilakukan
Serumah sesegera mungkin.
2. Pemberian konseling sederhana dan pemeriksaan
fisik. Sasarannya adalah keluarga yang tinggal
serumah dengan pasien dan tetangga di sekitarnya.
3. Saat melakukan kunjungan, petugas diwajibkan
membawa kartu pasien, alat pemeriksaan, dan obat
MDT.
2 Pemeriksaan anak 1. Sebelum dilakukan pemeriksaan, terlebih dahulu
sekolah SD sederajat diberikan penyuluhan tentang kusta kepada siswa dan
guru.
2. Pemeriksaan dilakukan pada seluruh siswa kelas 1 s/d
6.
3. Pemeriksaan dilakukan oleh programer kusta bekerja
sama dengan lintas program atau petugas kesehatan
lainnya yang telah mendapat sosialisasi Kusta.
4. Jika pemeriksaan dilakukan oleh lintas program /
petugas kesehatan dan menemukan suspek kusta,
maka perlu dirujuk ke dokter dan programer kusta / ke
Puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut.
5. Jumlah siswa yang diperiksa dan kasus baru yang
ditemukan dicatat.
3 Rapid Village Survey I. Persiapan
(RVS) Pimpinan Puskesmas berserta programer kusta dan
kepala desa membuat rencana pelaksanaan
kegiatan.
II. Pelaksanaan
1. Tahap Pertama
a. Penjelasan maksud dan tujuan pertemuan.
b. Penjelasan tanda-tanda dini kusta dan program
pengendalian penyakit kusta oleh
dokter/programer kusta.
c. Tanya jawab.
d. Pembagian tugas kelompok kerja ( kelompok
untuk deteksi suspek, kelompok untuk
pencatatan, dan kelompok untuk diagnosa serta
verifikator ). Besar dan jumlah kelompok
disesuaikan dengan kapasitas dan sumber
daya yang ada.
e. Kelompok kerja bisa dari kader kesehatan,
perangkat desa, dan petugas kesehatan
lainnya.
2. Tahap Kedua
a. Pemeriksaan seluruh desa untuk mencari
suspek yang dijaring oleh kelompok kerja
( target suspek adalah minimum 10 % dari
popilasi umum ).
b. Pagi hari pemeriksaan difokuskan pada suspek
dari anak sekolah sedangkan siang hari pada
suspek di masyarakat umum.
c. Pasien baru yang ditemukan pada saat
pemeriksaan, dibuatkan kartu dan diberikan
pengobatan serta penyuluhan yang mendalam.
d. Suspek dicatat dan dijadwalkan untuk periksa
ulang di Puskesmas dalam kurun waktu 3-6
bulan setelah pertemuan
4 Leprosy Elimination Sasarannya adalah pimpinan wilayah kerja di lingkup
Campaign ( LEC ) kecamatan, pemangku kepentingan, dan masyarakat
Pelaksanaan :
1. Pertemuan dengan Camat dan Kepala Desa
menjelaskan mengenai kegiatan LEC, membuat
perencanaan pertemuan lintas sektor dimana Camat
diharapkan sebagai pelaksana pertemuan.
2. Pertemuan lintas sektor
Meningkatkan kesadaran lintas sektor mengenai
pengendalian penyakit kusta dan mengharapkan
bantuannya dalam pelaksanaan LEC.
3. Pelatihan sehari team leader, staff puskesmas, dan
bidan desa.
Meningkatkan kemampuan peserta dalam
mendiagnosis, klasifikasi, dan pengobatan penyakit
kusta.
4. Membuat jadwal pelatihan tenaga puskesmas ( lintas
program ).
5. Pertemuan dengan kepala desa dan kader kesehatan
Memberikan pengetahuan tentang penyakit kusta dan
mengharapkan bantuan Kades, tokoh masyarakat
dalam pelaksanaan LEC.
6. Kunjungan ke Desa
Tim yang terdiri team leader, lintas program, petugas
puskesmas, Kades, dan kader mengadakan
penyuluhan di Balai Desa. Sebelum penyuluhan
dimulai, poster dan leaflet harus dipasang/dibagikan.
Setelah masyarakat kumpul, team leader/dokter
puskesmas mengadakan penyuluhan dan
mengharapkan masyarakat yang mempunyai
kelainan kulit agar memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan / Puskesmas. Bila terdapat suspek maka
mereka di rujuk ke puskesmas untuk diperiksa lebih
lanjut.
5 Special Action Program 1. Merupakan kegaiatan khusus untuk mencapai tujuan
for Elimination Leprosy eliminasi kusta dan dilaksanakan pada daerah yang
( SAPEL ) mempunyai geografis yang sulit.
2. Pada kegiatan ini MDT diberikan sekaligus 1 ( satu )
paket dibawah pengawasan petugas kesehatan di
wilayah tersebut / kader kesehatan yang telah dilatih /
keluarga terdekat.
3. Programer kusta puskesmas melakukan monitoring
ke wilayah tersebut ± 1 atau 2 bulan sekali. Dan atau
petugas wilayah / kader / keluarga melaporkan
perkembangan pasien ke programer kusta
puskesmas tiap bulan.

F. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


1. Ceramah dan diskusi
2. Pemeriksaan fisik
3. Pembagian brosur dan leaflet
4. Pemasangan banner di tempat – tempat strategis
5. Monitoring dan evaluasi

G. SASARAN
1. Masyarakat
2. Sekolah dasar
3. Lintas Program
4. Lintas sektoral

H. PEMBIAYAAN
Pendanaan dalam kegiatan program kusta dibiayai oleh dana Puskesmas yang sah
dan APBD
I. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
Terlampir

J. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN


Evaluasi dilakukan setiap 2 ( dua ) minggu sekali oleh Programer Kusta Puskesmas
terhadap pelaksanaan kegiatan dimana hal yang dievaluasi adalah ketepatan waktu,
baik pembukaan, pengisian materi maupun penutupan dan partisipasi peserta yang
tercermin dalam diskusi yang aktif.

K. PENCATATAN DAN PELAPORAN


1. Pencatatan dilakukan oleh notulen terhadap semua pelaksanaan kegiatan.
2. Laporan pelaksanaan kegiatan harus disusun pada tiap akhir tiap kegiatan paling
lambat 1 minggu setelah kegiatan dilaksanakan.
3. Evaluasi dan tindak lanjut terhadap setiap kegiatan ini dilakukan paling lambat 1
bulan setelah kegiatan dilakukan.

Demikianlah kerangka acuan ini kami buat, semoga kegiatan tersebut yang
kami laksanakan dapat membantu meningkatkan derajat kesehatan program
penyakit kusta.

Mengetahui, Mayung, 03 Januari 2017


Kepala UPT Puskesmas Mayung Penanggung jawab program Kusta

Hj. Sofiyah, SST. M.H Wisana, S.Kep., Ners.


NIP. 19640213 198312 2 001 NIP. 19830615 200801 1 002
KERANGKA ACUAN

PROGRAM KUSTA
TAHUN 2017
UPT PUSKESMAS MAYUNG
Jl. Ki Gede Mayung No. 36 Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon Telp. 0231-8228612
Email: mayung.pkm@gmail.com Kode Pos: 45151