Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

Daftar Isi …………………………………………1

Perkembangan Ilmu Bedah di Dunia…………..2

Perkembangan Ilmu Bedah di Indonesia ……..14

PerkembanganKeperawatan Perioperatif di Dunia


……………………………………………………15

Perkembangan Keperawatan Perioperatif di


Indonesia…………...…………………………….21

AsosiasiKeperawatanPerioperatif di
Dunia……………………………….....………….21

AsosiasiKeperawatan Perioperatif di Indonesia


…………………………....……………………....23

Trend dan Isu Keperawatan Perioperatif …....23

DaftarPustaka ……………………..…………....24

1
A.PERKEMBANGAN ILMU BEDAH DI DUNIA
1. Masa Prasejarah

Untuk pengobatan luka dan termasuk prosedur


untuk meringankan gangguan seperti menghapus
sempalan, menusuk bisul atau lecet, mengobati luka
bakar dan menghilangkan jaringan trauma. Operasi
besar adalah Trephination yang lebih mungkin
digunakan untuk alasan spiritual atau magis.

a. Bangsa jaman purbakala


1. Mesir

The Edwin Smith Papyrus : informasi untuk


menangani masalah pembedahan

2. Yunani

Hippocrates
 Analisis logis : mendiagnosis & mengobati

 Cara mengobati luka, fraktur & dislokasi

 Dogma "vis medicatrix naturae“ : betapa


besar daya kemampuan untuk
menyembuhkan yang dimiliki oleh alam

2
semesta ! Kita harus meniru, bila mungkin
memperbaiki cara-cara alam menyembuhkan
penyakit

3. Romawi

- Cornelius Celsus menulis tentang ilmu


kedokteran (Celsus’s De Medicina)

- Galen : "humoral“ yaitu penyakit disebabkan


oleh kelainan harmoni daripada cairan badan
"humor”
2. Masa abad pertengahan
- Makin berpengaruhnya gereja Kristen : para
pendeta & para biarawan (bahasa Latin)
- Pendirian sekolah katedral

- Doktrin gereja ”Ecclesia abhorret a sanguine"


(gereja mengharamkan darah)

- Derajat ilmu bedah merosot

- Pembedahan : para teknisi yang tidak memiliki


pendidikan universiter
- Peraturan yang melarang semua pendeta gereja
untuk berpraktek hukum atau kedokteran

3
- Orang-orang awam-bukan biarawan gereja
mengikuti ilmu pengetahuan di sekolah katedral &
universitas mulai didirikan

- Universitas di Salerno (abad ke IX)

- Buku "Fabrica" tulisan Roger dari Salerno menjadi


"textbook“
- Perancis : universitas di Paris, Montpellier & Lyon

- Lanfranc

- Guy de Chauliac : vademecum bedah "la grande


chirurgie“

- Dua sebab stagnasi : pemisahan ilmubedah dari


ilmu kedokteran umum & diabaikannya ilmu
anatomi

- Profesi "barber“ (tukang potong rambut yang juga


mahir tindakan pembedahan)

3. Masa renaissance
Masa transisi :

- Desakan & minat untuk menggali dan mencari apa


yang sesungguhnya benar

4
- Ilmuwan muda non-gereja : berpikir lebih bebas,
menitikberatkan logika dan rasio & ingin tahu
kebenaran

- lmu anatomi & fisiologi manusia diperdalam

- Andreas Vesalius : De Humani Corporis Fabrica


- Di Jerman ahli bedah Paracelsus : alam adalah
penyembuh utama & menganjurkan agar ilmu
bedah dan ilmu penyakit dalam dipersatu kembali

- Assosiasi barber-ahli bedah mulai di kontrol

- Pendidikan untuk ahli-bedah dilakukan melalui


kurikulum bedah dalam pendidikan kedokteran

4. Masa pra-modern
- Pusat pendidikan terbesar di eropa pada abad 17 :
Leyden, Montpellier, Padua dan Paris

- Intensifikasi studi bidang anatomi, patologi &


fisiologi, masih menganut filosofi kuno

- William Harvey : Fundamental Understanding Of


The Anatomy And Physiology Of The Circulation
Of The Blood

5
- Pendidikan & praktek bagi pembedahan dikelola
profesi kedokteran

- Pengembangan dari ketangkasan tangan & teknik


pembedahan
- Inovasi Larrey : organisasi sistem bedah di
lapangan & sistem ambulans lapangan

- Namun angka kematian di antara prajurit terluka


masih cukup tinggi : belum diterapkan cara
pembiusan & belum diketahui tentang anti- dan
asepsis

- Permulaan abad ke XIX ilmu-bedah telah kembali


menduduki tempat yang kokoh (si ahli-bedah
adalah seorang tabib terpelajar yang disegani &
memiliki kemahiran pribadi, serta menguasai ilmu
anatomi dan patologi)

- Dua hal rintangan untuk majunya ilmu-bedah :


anestesi & metoda antiseptis pembedahan

6
5. Masa bedah modern
1) Anestesi.
- Crawford Long (Amerika) pada operasinya tahun
1842 : ether sulfat
- Tahun 1844 dokter gigi H. Wells menggunakan
nitrous oxide untuk extraksi gigi
- Tahun 1846 oleh Morton dan Warren di RSU
Massachusetts : ketangguhan ether (anestetikum
operasi)
- Ether digunakan untuk menunjang operasi kecil
dan besar
- Tahun 1847 oleh Simpson digunakan chloroform
di Edinburgh

- Tahun 1884 Koller menggunakan kokain pada


operasi mata
- Corning secara tak sengaja.memasukkan kokain
ke rongga sub-arachnoid : anestesi pada kedua
tungkai pasien
- Dikembangkan menjadi anestesi spinal oleh R.
Matas di Amerika tahun 1899

7
- Einhorn tahun 1905 : prokain hidrokhlorida
(anestetikum paling utama secara lokal atau
regional)
- Kurang dari 50 tahun : anestesi menjadi bidang
ilmu tersendiri

2) Antisepsis & asepsis


- Empat rintangan sejak 150 tahun yang lalu : rasa
nyeri, infeksi, perdarahan & shock

- Lister & ahli-bedah mengira : infeksi luka


sesudah operasi disebabkan oleh faktor atau
substansi kimia yang timbul di dalam jaringan

- Mereka yakin sebab pernanahan datangnya dari


dalam jaringan
- Pasteur, Lister dan Koch : inisiatif pengembangan
ilmu bakteriologi

- Lister : infeksi disebabkan oleh invasi kuman


bakteri dari luar

- Lister : teori antisepsis (1860) : asam karbolat

8
- Teknik aseptik oleh Von Bergmann &
Schimmelbusch

3) Penghentian perdarahan (hemostasis)


- tekanan di atas luka

- cara kauterisasi dengan besi yang dipanaskan

- ikatan ligatur (jahitan benang)

- Metoda tourniket

- Pean menemukan forceps arteri kemudian diikat


dengan sutera halus

- Tahun 1883 Theodor Billroth di Wina melakukan


reseksi lambung karena kanker dengan hasil baik

4) Lima rangkaian tindakan pembedahan


a)Diagnosis

b) Indikasi tepat

c)Keadaan optimal pre-operatif

d) Teknik pembedahan yang baik

e)Keadaan optimal postoperatif

9
5) Abad ke-20
- Hampir semua organ & rongga badan bisa
dioperasi

- Kemajuan ilmu kedokteran didapat dengan


pengetahuan dasar ilmiah, riset, percobaan
binatang & teknik baru

- Berkembangnya spesialisi & subspesialisasi


bedah

6. Masa Milenium
Loncatan besar dalam teknologi kedokteran
disebabkan kemajuan luar biasa dari teknologi
informasi, lensa optik, elektronika, mesin/alat mikro,
dsb.

7. Tokoh yang berjasa di bidang ilmu bedah


Peletak dasar-dasar ilmu bedah modern bernama
Al-Zarawi (936-1013 M) atau yang lebih dikenal
dengan Abulcasis. Dia menulis kitab yang berjudul
Al-Tasrif li man ajaz an-il-talil—sebuah ensiklopedia
kedokteran. Kitab yang dijadikan materi sekolah

10
kedokteran di Eropa itu terdiri dari 30 volume. Dalam
Kitab Al-Tasrif yang ditulisnya, ia memperkenalkan
lebih dari 200 macam alat bedah yang dimilikinya. Di
antara ratusan koleksi alat bedah yang dipunyainya,
ternyata banyak peralatan yang tak pernah digunakan
ahli bedah sebelumnya.

Di antara alat bedah yang ditemukan dan


digunakan Al-Zahrawi adalah Catgut. Alat ini
digunakan Al-Zahrawi untuk menjahit bagian dalam
tubuh yang hingga kini masih digunakan di seluruh
dunia dalam ilmu bedah modern.

Selain itu, Al-Zahrawi juga menemukan


Forceps, yakni alat yang sampai detik ini masih

11
digunakan oleh rumah sakit di seluruh dunia untuk
mengangkat janin yang meninggal di dalam
kandungan ibunya. Alat itu juga digambarkan dalam
Kitab Al-Tasrif. Dalam kitab itu, Al-Zahrawi juga
memperkenalkan penggunaan Ligature (benang
pengikat luka) untuk mengontrol pendarahaan arteri,
yang sampai detik ini pun masih dipergunakan di
seluruh dunia.

Salah satu sumbangan pemikiran Al Zahrawi


yang begitu besar bagi kemajuan perkembangan ilmu
kedokteran modern adalah penggunaan Gypsum
(Gips) bagi penderita patah tulang maupun geser
tulang agar tulang yang patah bisa tersambung
kembali. Sedangkan tulang yang tergeser bisa
kembali ke tempatnya semula. Metode penemuan Al-
Zahrawi ini pun sampai detik ini masih dipergunakan
di seluruh dunia.

Berbagai macam peralatan penting untuk


pembedahan yang ditemukan Al-Zahrawi, antara lain,
pisau bedah (scalpel), curette, retractor, sendok bedah
(surgical spoon), sound, pengait bedah (surgical

12
hook), surgical rod, dan specula, yang kesemuanya
itu sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh dokter-
dokter bedah dan paramedis di seluruh dunia.

Tak cuma itu saja, Al-Zahrawi juga menemukan


peralatan bedah yang sangat rumit yang digunakan
untuk memeriksa bagian dalam uretra (saluran
kencing), alat untuk memindahkan benda asing dari
tenggorokan, serta alat pemeriksa telinga.

13
B. PERKEMBANGAN ILMU BEDAH DI
INDONESIA

Perkembangan ilmu bedah di Indonesia dapat dilihat


dari kemampuan ahli-ahli bedahnya yang merupakan
produk dari program pendidikan dokter spesialis bedah.
Oleh karena itu, kurikulum pendidikan dokter spesialis
ilmu bedah berperan penting dalam berkembangnya
ilmu bedah di Indonesia. Saat ini, ilmu bedah di
Indonesia sedang mengalami berbagai tuntutan.

Menurut Prof. Sjamsuhidajat, kolegium Ilmu Bedah


sebagai penyusun kurikulum pendidikan dokter
spesialis bedah harus memiliki pandangan dan
wawasan yang jauh ke depan. Perkembangan ilmu
bedah di Indonesia saat ini masih kalah dengan negara-

14
negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand,
dan Filipina. Apabila kita bertahan dengan kurikulum
konvensional, sebagian masyarakat yang cerdas dan
kaya tentunya akan mencari pengobatan ke luar negeri
karena menganggap kompetensi dokter bedah
Indonesia tertinggal dari negara-negara lain.

C.PERKEMBANGAN KEPERAWATAN
PERIOPERATIF DI DUNIA

Sekolah pelatihan untuk perawat terbentuk setelah


sekolah Florence Nightingale didirikan di Amerika dan
Kanada pada akhir abad ke-19. Universitas John
Hopkins mengidentifikasi keperawatan kamar bedah
sebagai suatu area spesialisasi dalam sekolah pelatihan
mereka pada tahun 1889 dan pendidikan kamar bedah
dimulai di Sekolah Pelatihan Boston (selanjutnya di
Sekolah Pelatihan untuk Perawat di Massachusetts
General Hospital).

Tenik kamar bedah termasuk dalam kurikulum


standar yang dikeluarkan oleh National League of
Nursing (NLN) pada tahun 1919. Kurikulum
merekomendasikan teori 10 jam, bakteriologi 20 jam

15
dan rotasi ke kamar bedah selama dua sampai tiga
bulan (Fairchild, 1983).

Berikut adalah sejarah dan perkembangan keperawatan


perioperatif :

1.Wanita pergi untuk Perang


• Pengenalan dini tentang pentingnya mencuci
tangan.
• Secara bertahap, kain, instrumen dan dressing
dengan cermat dibersihkan.
• kemajuan Praktek asepsis.
2.perawat pada saat Perang Saudara
• Anestesi diperbolehkan untuk operasi yang lebih
rumit.
• Infeksi Fatal terjadi pada lebih dari 30% pasien.
• dilakukannya sayatan dimulai sekitar 1860 untuk
mengobati infeksi.
3.Keperawatan OR Akhir 1800

16
Operating Theatre 1897 Operating Room Theatre
1898

4. Keperawatan OR pada tahun 1890


 siswa perawat bertanggung jawab untuk sterilitas
peralatan.
 mempersiapkan ruangan, menggosok lantai dan
dinding dengan antiseptik.
 dressing yang direbus, direndam dan dibungkus
handuk antiseptik atau stoples kaca besar.
 mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan
termasuk Kebutuhan Bedah:
- Botol air panas
- Stimulan
- Handuk bersih

17
- kain lembut
- Lint
- Baskom (Bengkok)
- Ember
- Air panas dan dingin
- Bran
- Menempel plester
- Air berkarbonasi
- Ice
- Pinset
- Jarum
- Silk
- Minyak jelly
- Sabun
- Minyak sutra
- Spons
- selimut Karet
- bantal
- selimut untuk menutupi pasien

5.Pendidikan Keperawatan OR

18
- Perawat tidak membaca buku-buku kedokteran dan
buku tentang keperawatan tidak ada.
- "Jika seorang perawat ingin menjadi seorang
dokter, dia harus pergi ke sekolah kedokteran."
- "Perawat yang membaca buku-buku medis
membebani otak mereka."
- "Dalam kasus apapun, setiap membaca informasi
tidak akan diingat dalam semalam."

6.Keperawatan OR di Prancis 1917


- pengaturan anastesi
- penjahitan dan pengikatan
- penempatan Saluran
- menghilangkan jaringan yang mati

19
OR & Anesthesia-First Nursing Specialties

Surgery 1918

Recycling Gloves Choosing gloves for an


Appy 1941

20
D.PERKEMBANGAN KEPERAWATAN
PERIOPERATIF DI INDONESIA

Perkembangan keperawatan perioperative di


Indonesia sudah dimulai sejak lama melalui program
seminar, pelatihan baik yang diprakarsai oleh Rumah
Sakit, Institusi atau organisasi seperti PPNI, HIPKABI.
Bahkan sekarang Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia mulai mengadakan program yang bertujuan
untuk melahirkan tenaga perawat yang mahir dan
kompeten di kamar bedah atau perawat perioperatif
melalui program pendidikan lanjutan Diploma IV Mitra
Spesialis Medikal Bedah, Mitra Spesialis Kebidanan,
Reanimasi Anastesi dan Mitra Spesialis Perawat
Kardiologi.

E. ASOSIASI PERAWAT BEDAH DI DUNIA

Banyak asosiasi profesional yang muncul untuk


perawat pada umumnya. Semua ini tidak ditujukan
untuk kebutuhan yang spesifik melainkan sering kali
berhubungan dengan praktik klinis, yaitu di lingkungan
perioperatif. Oleh karena itu, didirikanlah Association
of Operating Room Nurse (AORN).

21
AORN dibentuk pada tahun 1949 ketika 17 penyelia
kamar bedah di New York bertemu dan setuju
membentuk suatu asosiasi untuk perawat ruang bedah
supaya dapat menyatukan pengetahuan dan bertukar
gagasan. Edith D. Hall terpilih sebagai ketua asosiasi
untuk yang pertama kali. Konfrensi pertama diadakan
di kota New York pada tahun 1954 dan dihadiri oleh
750 perawat (Driscoll, 1990)

Selain itu, untuk mengembangkan standard an praktik


yang direkomendasikan, AORN telah mengembangkan
“Ketetapan KOmpetensi dalam Keperawatan
Perioperatif”. Ketetapan ini dikembangkan karena
tuntutan tugas AORN yang bertujuan menggambarkan
fungsi peran profesional dari perawat pemula di ruang
bedah (AORN, 1994).

Di inggris, Doreen Ayres setelah menghadiri kongres


AORN, dia membentuk West Riding Theatre Nurses’
Club. Organisasi ini selanjutnya berubah menjadi
Association of Theatre Nurses (NATN).

22
F. ASOSIASI PERAWAT BEDAH DI INDONESIA
 HIPMFDI (Himpunan Perawat Medikal Bedah
Indonesia)
 HIPKABI (Himpunan Perawat Kamar Bedah
Indoensia)
 IPAI (Ikatan Perawat Anastesi Indonesia)

G. TREND DAN ISSUE KEPERAWATAN


PERIOPERATIF

23
Daftar Pustaka

1. Jain et al. Patient Safety in Surgery (2015) 9:8 DOI


10.1186/s13037-015-0057-6
2. Gruendemann, Barbara J & Fernsebner, Billie.2005.
Buku Ajar Keperawatan Perioperatif. Jakarta : EGC
3. http://id.scribd.com/doc/134639877/Sejarah-Dan-
Perkembangan-Ilmu-Bedah-Modern
4. http://id.scribd.com/doc/65929589/ILMU-
BEDAH#scribd
5. Anwar, Rosihan.2010. Sejarah Kecil “Petitek historie”
Indonesia. Jakarta : PT Kompas.

24