Anda di halaman 1dari 6

Supportive Grief Education (ila)

Dalam artikel ini terlihat bahwa intervensi yang dilakukan merupakan suatu
tahapan dari Acceptance dimana artikel tersebut melakukan sebuah intervensi
penerimaan terhadap seseorang yang sedang mengalami proses dalam berduka.
Didalam artikel tersebut dijelaskan bahwa adaya intervensi diyujukan untuk membuat
seseorang yang sedang mengalami proses berduka untuk dapat kembali
menyesuaikan diri sehingga diharapkan tidak adalagi emosi, serta kesedihan.

Intervensi awal yang dijelaskan dalam artikel ini adalah penanganan dalam
menghadapi proses berduka yang dialami oleh anak-anak. Dalam artikel yang
dijelaskan bahwa kematian merupakan suatu hal yang pasti terjadi pada setiap orang,
dan kesedihan atau berduka merupakan hal yang wajar terjadi pada orang yang
ditinggalkan. Dikatakan dalam artikel tersebut bahwa berduka yang berlarut-larut
diibaratkan sebagai setiap jam yang dilalui ibaratakan sehari yang dilalui. Dan hari
yang dilalui ibaratkan seminggu waktu yang dilalui. Dalam hal ini dapat disimpulkan
bahwa proses kesedihan merupakan suatu proses yang sulit untuk dilalui dan
memakan waktu yang lama untuk dapat kembali seperti sediakala. Artikel ini
menjelaskan bahwa ada cara untuk mengatasi proses berduka, salah satunya adalah
berduka yang dialami oleh anak-anak. Artikel ini menjelaskan bahwa untuk
mengatasi masalah berduka pada anak-anak kita dapat melakukan acara tahunan
untuk anak-anak yang berusia 6-14 tahun yang telah mengalami kematian dengan
anggota keluarga atau orang yang dicintainya dimana anak-anak disini juga
membutuhkan orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap mereka.

Intervensi berikutnya adalah intervensi dengan menggunkan terapi menulis.


Dalam artikel menjelasakan bahwa seseorang yang kehilangan orang yang dicintai
pasti akan memiliki suatu efek emsioanal, yang dapat menghancurkan semua
konstentrasi kita, karena dalam melakukan aktivitas sehari-hari kita bekerja melalui
adanya proses kesedihan. Setiap individu pasti pernah mengalami kesedihan, dan
setiap masing-masing orang pasti berbeda dalam mengalami proses berduka serta
berapa lama hal itu akan terjadi. Banyak seseorang yang berduka namun dapat
menemukan sebuah kenyamanan saat mereka menghabiskan waktu bersama dengan
teman-teman dekat dan keluarga. Mengingat kenangan hal - hal indah dengan
seseorang yang kita cintai merupakan salah satu langkah penting dalam proses
penyembuhan, dalam artikel ini dijelaskan bahwa menulis tentang ingatan kita dapat
menjadi sumber penyembuh. Penelitian yang telah dilakukan oleh “Southern
Methodist University, Ohio State University, Universitas Negeri North Dakota dan
Universitas Texas di Austin”. Dari hasil penelitian tersebut menemukan bahwa
manfaat terapi menulis dapat menyebabkan peningkatan kesejatraan dan kesehatan
yang mencakup berkurangnya rasa sakit fisik. Jika seseorang merasa sedih, kesepian,
merasa tidak berdaya, putus asa. Biarkan kata-kata yang mengekpresikan rasa sakit
yang seseorang rasakan karena adanya proses berduka. Adanya suatu tindakan
menulis emosi ini, dalam artikel dijleasakan bahwa menulis secara rinci dari hati akan
menciptakan suatu rasa kebebasan, ketika seseorang sedang meluapkan emosinya
diatas kertas.
DAFTAR PUSTAKA
1. Penyangkalan denial - Penyangkalan adalah tahap di mana orang dapat
mencoba untuk percaya bahwa kematian belum terjadi. Seseorang
mungkin merasa mati rasa, atau dalam keadaan syok. Penyangkalan
adalah emosi yang melindungi ketika suatu peristiwa kehidupan terlalu
berlebihan untuk dihadapi sekaligus.
2. Kemarahan - Kemarahan anger adalah tahap di mana seseorang sangat
marah bahwa tragedi ini telah terjadi di keluarganya. Cara yang baik
untuk mengatasi ledakan kemarahan adalah dengan berolahraga atau
berpartisipasi dalam jenis aktivitas fisik lainnya. Berbicara dengan
keluarga dan teman, orang tua lain yang kehilangan anak, dan staf
rumah sakit juga dapat membantu.
3. Bargaining — Tawar-menawar - Menanyakan Tuhan dan bertanya "Mengapa anak
saya?" Dan "Apa yang kita lakukan untuk mendapatkan ini?" Rasa bersalah adalah
emosi utama selama tahap ini. Pada tahap ini, orang yang berduka mungkin mencari
sesuatu yang mereka lakukan untuk berkontribusi pada kematian. Penting untuk
diingat bahwa tidak ada orang yang berduka atau anak yang berkontribusi pada
kematian.
4. Depresi atau kesedihan Depression or sadness - Ini adalah tahap di mana
kematian anak tidak bisa lagi disangkal. Orang tua dan saudara
kandung mungkin merasakan kesedihan yang mendalam. Ini normal. Ini
mungkin disertai dengan perubahan fisik seperti kesulitan tidur atau
tidur berlebihan, perubahan nafsu makan, atau kesulitan berkonsentrasi
pada kegiatan sehari-hari yang sederhana. Penting untuk berbicara
tentang depresi dengan seorang profesional perawatan kesehatan seperti
pekerja sosial atau konselor, atau bertemu dengan kelompok pendukung
untuk membantu mengatasi perasaan ini.
5. Acceptance — Penerimaan - Penerimaan adalah tahap di mana orang yang berduka
menerima kematian dan kematian anak telah dimasukkan sebagai bagian dari
kehidupan sehari-hari. Orang tersebut telah membuat penyesuaian terhadap
kerugian. Ini tidak berarti bahwa orang tersebut tidak akan pernah merasakan emosi
lain, tetapi biasanya keluarga menemukan bahwa mereka lebih mampu mengelola
kehidupan mereka secara keseluruhan setelah mencapai tahap ini. Beberapa
resolusi telah terjadi dengan kematian anak itu. Ini mungkin termasuk kepercayaan
dan praktik agama dan budaya.

Dalam artikel ini terlihat bahwa intervensi yang dilakukan merupakan suatu tahapan dari
Acceptance dimana artikel tersebut melakukan sebuah intervensi penerimaan terhadap
seseorang yang sedang mengalami proses dalam berduka. Didalam artikel tersebut dijelaskan
bahwa adaya intervensi diyujukan untuk membuat seseorang yang sedang mengalami proses
berduka untuk dapat kembali menyesuaikan diri sehingga diharapkan tidak adalagi emosi,
serta kesedihan.