Anda di halaman 1dari 12

TUGAS KEPERAWATAN HIV/AIDS

UPAYA PENURUNAN STIGMA TERHADAP ODHA MELALUI SOCIAL


ENTERPREUNERSHIP

oleh

Kelompok 1

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


PROGRAM STUDI SARJANA KEPERWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
TUGAS KEPERAWATAN HIV/AIDS
UPAYA PENURUNAN STIGMA TERHADAP ODHA MELALUI SOCIAL
ENTERPREUNERSHIP

oleh

Kelompok 1

Hendra Pranata 152310101216


Yuliana 152310101267
Rodiyatul Fitriyah 152310101309

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


PROGRAM STUDI SARJANA KEPERWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tujuan keenam dalam MDGs yaitu menangani berbagai penyakit menular
palig berbahaya. Penyakit ini membawa dampak yang menghancurkan bukan
hanya terhadap kesehatan masyarakat namun juga terhadap negara. Apabila tidak
ditangani dengan serius masalah ini dapat mengganggu bahkan mengancam
ketentraman hidup bangsa Indonesia. Di Indonesia, jumlah penduduk yang hidup
dengan virus HIV diperkirakan antara 172.000-219.000, sebagian besar adalah
laki-laki. Jumlah ini merupakan 0,1% dari jumlah penduduk. Menurut Komisi
Penanggulangan AIDS Nasional (KPA), sejak 1987 sampai 2008 tercata 12.686
kasus AIDS, 2479 diantaranya telah meninggal.
Dampak stigma yang kuat di masyarakat pada akhirnya akan menyebabkan
perubahan mengenai bagaimana seseorang dipandang oleh orang lain, apalagi
stigma pada ODHA adalah sebuah penilaian negatif yang diberikan oleh
masyarakat karena dianggap bahwa penyakit HIV-AIDS yang diderita sebagai
akibat perilaku yang merugikan diri sendiri. Ditambah lagi kondisi ini diperparah
karena hampir sebagian besar kasus penularan HIV pada ODHA disebabkan
karena aktivitas seksual yang berganti-ganti pasangan. Sebagaimana kita ketahui
bahwa masalah mendasar yang dihadapi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
bukan semata hanya penyakitnya, tetapi juga masih banyak masyarakat belum
bisa menerima keberadaan ODHA. Stigma terhadap ODHA masih cukup banyak
ditambah lagi dengan sikap yang menghakimi, menjauhkan, mengucilkan,
mendiskriminasi, bahkan sampai perlakuan yang tidak hanya melanggar hak asasi
manusia tetapi juga kriminal. Untuk itu diperlukan upaya untuk mencegah stigma
dan diskriminasi tersebut melalui program penyuluhan, dukungan, perawatan,dan
pengobatan yang melibatkan semua pihak yang terkait agar ODHA dapat
berfungsi sosial kembali.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahannya adalah
sebagai berikut:
a. Apa definisi stigma ?
b. Apa saja jenis dari stigma ?
c. Bagaimana proses stigmatisasi ?
d. Apa dampak stigmatisasi?

1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui definisi stigma
2. Dapat menjelaskan apa saja jenis dari stigma
3. Mengetahui proses stigmatisasi
4. Mengetahui dampak dari stigmatisasi

1.4 Manfaat
1. Bagi tenaga kesehatan agar dapat lebih perduli untuk pemberian pemahan
pada masyarakat awal terkait persepsi masyarakat pada penyakit
HIV/AIDS.
2. Bagi masyarakat agar tidak mempresepsikan negatif pada penyakit
HIV/AIDS.
BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Definisi stigma


Stigma didefinisikan sebagai keyakinan negatif, pandangan, dan perasaan
terhadap diri sendiri yang timbul dari identifikasi diri dengan kondisi stigmatisasi
(Logie&Gadalla, 2009). Stigma yang berlaku mengacu pada diskriminasi dan
pengecualian yang diarahkan pada individu akibat atribut dan kondisi yang
menjadi ciri mereka (Brown et al., 2003).
Stigma adalah suatu ancaman, sifat, dan karakteristik bahwa masyarakat
menerima ketidaknyamanan yang sangat tinggi. Mendapat ancaman tersebut
membuat seorang menerima stigmatisasi (Goffman, 1963 dalam Pusdiklat
Kemenkes, 2013). Stigmatisasi adalah tindakan memfonis seseorang sebagai
buruk moral (Aisyah et al., 2015).
2.2 Jenis Stigma
Menurut Herek GM (2002), stigma HIV AIDS lebih jauh dapat dibagi
menjadi tiga kategori, yaitu :
1) Stigma instrumental, yaitu refleksi ketakutan dan keprihatinan atas hal-hal yang
berhubungan dengan penyakit mematikan dan menular.
2) Stigma simbolis, yaitu penggunaan HIV AIDS untuk mengekspresikan sikap
terhadap kelompok sosial atau gaya hidup tertentu yang dianggap berhubungan
dengan penyakit tersebut.
3) Stigma kesopanan, yaitu hukuman sosial atas orang yang berhubungan dengan
isu HIV AIDS atau orang yang positif HIV.
Stigma AIDS sering diekspresikan dalam satu atau lebih stigma, terutama
yang berhubungan dengan homoseksualitas, biseksualitas, pelacuran, dan
penggunaan narkoba melalui suntikan. Banyak negara maju, terdapat
penghubungan antara AIDS dengan homoseksualitas atau biseksualitas, yang
berkorelasi dengan tingkat prasangka seksual yang lebih tinggi, misalnya sikap-
sikap anti homoseksual. Demikian pula terdapat anggapan adanya hubungan
antara AIDS dengan hubungan seksual antar laki-laki, termasuk bila hubungan
terjadi antara pasangan yang belum terinfeksi.
2.3 Proses Stigmatisasi
Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPA), sejak 1987 sampai
2008, tercatat 12.686 kasus AIDS, 2479 diantaranya telah meninggal. Kalopun
kemudian dengan pengobatan yang baik, penderita dapat melanjutkan kehidupan,
persoalan tidak kemudian menjadi selesai bagi ODHA. Ketika mereka berada di
masyarakat, Stigma masih menjadi persoalan yang banyak terjadi.Masyarakat
relative masih mudah memberikan cap atau sebutan kepada seseorang yang
diduga mengidap suatu penyakit yang berbahaya atau menulartanpa berupaya
menyelidiki kebenarannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi Stigma antara lain
bahwa masyarakat masih menganggap HIV/AIDS adalah penyakit yang
mengancam hidup, ketakutan untuk kontak dengan HIV, hubungan HIV/AIDS
dengan perilaku seperti homoseksual, IDU, PSK dan sebagainya, ODHA dinilai
sebagai penyakit yang dibuat sendiri, religi atau kepercayaan yang menyamakan
penyakit ini dengan kesalahan moral,seperti penyimpangan seks yang pantas
mendapat hukuman, status social ekonomi, usia dan gender.
2.4 Dampak Stigmatisasi
Konsekuensi negatif dari stigmatisasi terhadap ODHA adalah sebagai berikut:
1. Tidak patuh terhadap terapi antiretroviral (ART) (Dlamini et al., 2009)
2. Pola akses yang tidak teratur terhadap perawatan kesehatan (Evangeli et
al., 2015)
3. Peningkatan gejala HIV (Earnshaw et al., 2015)
4. Kesepian (Hubach et al., 2015)
5. Penurunan kualitas hidup (Slater et al., 2014)
6. Penolakan sosial atau penurunan penerimaan dalam interaksi sosial
7. Keterbatasan atau kehilangan kesempatan seperti tempat tinggal,
pekerjaan, akses terhadap pelayanan kesehatan
8. Perasaan malu terhadap diri sendiri
9. Meningkatkan diskriminasi
10. Menambah beban ganda keluarga
11. Menghambat upaya pencegahan dan perawatan (Aisyah et al., 2015)
BAB 3 PEMBAHASAN

3.1 Solusi
Hubungan sosial yang berhasil dilaksanakan dengan baik, akan memperbaiki
cap buruk atau stigma yang diberikan oleh masyarakat. Begitupun sebaliknya, jika
ODHA tidak memiliki hubungansosial yang baik akan meningkatkan persepsi
buruk masyarakat tentang HIV/AIDS yang dirasakan oleh para ODHA. Hal ini
dapat dijelaskan sebagai berikut :Orang-orang yang terjangkit HIV AIDS secara
alamiah hubungan sosialnya akan berubah. Dampak yang paling berat dirasakan
oleh keluarga dan orang-orang dekat lainnya. Perubahan hubungan sosial dapat
berpengaruh positif atau negatif pada setiap orang. Reaksi masing-masing orang
berbeda, tergantung sampai sejauh mana perasaan dekat atau jauh, suka dan tidak
suka seseorang terhadap yang bersangkutan. Upaya kuratif pada aspek sosial
harus diterapkan kepada pengidap HIV AIDS, hal itu dengan melihat bahwa
pengidap HIV AIDS mengalami proses “labelling” oleh masyarakat dimana
mereka mendapatkan label buruk sebagai “orang-orang yang tidak berguna”.
Upaya kuratif pada aspek sosial difokuskan dalam upaya mendorong pengidap
HIV AIDS agar menjadi produktif dan punya kontribusi terhadap masyarakat,
maka secara tidak langsung akan mengurangi stigma buruk di masyarakat.
3.2 Program
Dalam upaya mengurangi stigma terhadap ODHA dapat dilaksanakan
program social enterpreunership.Social Entrepreneurship akhir-akhir ini menjadi
makin popular. Namun di Indonesia sendiri kegiatan ini masih belum
mendapatkan perhatian yang sungguh sungguh dari pemerintah dan para tokoh
masyarakat karena memang belum ada keberhasilan yang menonjol secara
nasional. Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang
mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship
untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang
kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare). Keberhasilan
Social Entrepreneurship diukur dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
Pemberdayaan ODHA diyakini merupakan salah satu kunci bagi penanggulangan
dan pencegahan HIV/AIDS. Program pemberdayaan yang tepat dalam hal ini
sangat dibutuhkan(Rima Jauharoh, 2011). Program pemberdayaan merupakan
langkah yang positif oleh karena dapat menjawab kebutuhan sehingga para
penderita HIV/AIDS akan mengalami perubahan-perubahanyang positif dan pada
akhirnya turut pula meningkatkan mutu hidup ODHA. Program pemberdayaan
untuk ODHA sejalan dengan prinsipdasar andragogy di mana program
pemberdayaan tersebut dipandang oleh ODHA sebagai program pemberdayaan
yang partisipatif dan menempatkan ODHA sebagai subyek bukan obyek sehingga
mereka dapat terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
Melalui program social enterpreunership ini diharapkan dapat meningkatkan
hubungan sosial ODHA sehingga mengurangi stigma terhadap ODHA.
BAB 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hampir seluruh ODHA mempersepsikan adanya Stigma dari masyarakat
tentang HIV/AIDS dalam upaya penurunan stigma terhadap ODHA melalui social
enterpreunership. Pada stigma tersebut memfokuskan pada populasi dalam
menanggung beban pada stigma HIV yang tinggi.

4.2 Saran
1. Perlunya memberikan Emotional Support yang meliputi perasaan nyaman,
dihargai, dicintai dan diperhatikan melalui peningkatan partisipasi aktif
para ODHA dalam kegiatan kelompok pendukung sebaya.
2. Perlunya peningkatan Cognitive Support melalui penyebarluasan informasi
tentang HIV/AIDS
3. Pemberian materials Support meliputi bantuan atau pelayanan berupa
peningkatan pelayanan VCT
DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, S., Pramaningtyas, S, &Suwoyo. (2015). Pengaruh Program “Social


Entrepreneurship “ kelompok ODHA terhadap Stigma Masyarakat
tentang HIV/AIDS di Daerah Binaan Kota Kediri. Jurnal Ilmu Kesehatan
Brown, L., Macintyre, K., & Trujillo, L. ( 2003) ). Intervensi untuk Mengurangi
stigma HIV / AIDS: Apa yang telah kita pelajari: AIDS Pendidikan dan
Pencegahan , 15 (1), 49–69. Doi: 10.1007 / S10461-010-9847-0
Dlamini, PS, Wantland, D., Makoae, LN, Chirwa, M., Kohi, TW, Greeff, M., …
Holzemer, WL ( 2009 ). Stigma HIV And missed medications in HIV-
positive people in five Negara-negara Afrika. AIDS Patient Care and
STDs , 23 (5), 377–387. Doi:10.1089/apc.2008.0164
Earnshaw, VA, Lang, SM, Lippitt, M., Jin, H., & Chaudoir, SR ( 2015 ). HIV
stigma and physical health symptoms: Do Social support, adaptive coping,
and/or identity centrality Act as resilience resources? AIDS and Behavior ,
19 (1), 41– . doi:10.1007/s10461-014-0758-3
Evangeli, M., Newell, ML, Richter, L., & McGrath, N. ( 2014 ). The association
between self-reported stigma and loss-to- Follow up in treatment eligible
HIV positive adults in Rural Kwazulu-Natal, South Africa. PloS One , 9
(2), E88235. Doi:10.1371/journal.pone.0088235
Hubach, RD, Dodge, B., Li, MJ, Schick, V., Herbenick, D., Ramos, WD, …
Reece, M. ( 2015 ). Loneliness, HIV-related Stigma, and condom use
among a predominantly rural Sample of HIV-positive men who have sex
with men (MSM). AIDS Education and Prevention , 27 (1), 72–83.
Doi:10.1521/aeap.2015.27.1.72
KPA Nasional, 2010. Pedoman Pencegahan HIV melalui Transmisi Seksual.
Jakarta
Logie, C., & Gadalla, TM ( 2009 ). Meta-analysis of health And demographic
correlates of stigma towards people living With HIV. AIDS Care , 21 (6),
742–753. Doi:10.1080/ 09540120802511877
Pusdiklatnakes Kemenkes, RI. 2013. Modul Pelatihan Managemen HIV/AIDS
bagi Tenaga Pendidik. UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat Murnajati
Slater, LZ, Moneyham, L., Vance, DE, Raper, JL, Mugavero, MJ, & Childs, G. (
2015 ). The multiple stigma Experience and quality of life in older gay
men with HIV. Journal of the Association of Nurses in AIDS Care , 26 (1),
24–35. Doi:10.1016/j.jana.2014.06.007
Zhen Li, Evelyn Hsieh, Jamie P. Morano & Yu Sheng (2016): Exploring HIV
related stigma among HIV-infected men who have sex with men in
Beijing, China: a correlationStudy, AIDS Care, DOI:
10.1080/09540121.2016.1179713
CONTOH SOAL

1. Klien A berumur 28 tahun dirawat di rumah sakit karena diare sejak 1


bulan yang lalu, keringat pada malam hari dan kadang demam serta tubuh
terasa lemah. Ada riwayat sebagai pekerja seks, beliau dikucilkan oleh
tetangga karena pekerjaan yang kurang sopan tersebut. Padahal klien
sudah berniat ingin terapi antiretroviral, karena selalu dikucilkan dampak
apa yang akan dialami oleh klien tersebut ?
a. Menjauhi tetangga
b. Tidak patuh terhadap terapi antiretroviral (ART)
c. Membalas dengan cacimakian
d. Patuh dalam terapi
e. Mengajak tetangga dalam pekerjaannya
2. Klien B seorang LSL sejak beberapa tahun yang lalu, beliau tertutup jika
ada tetangga hendak ingin kerumahnya. Apa dampak jika klien berada
dalam lingkup tersebut
a. Senang
b. Kesepian
c. Perasaan malu terhadap diri sendiri
d. Tidak sopan
e. Bersikap acuh
3. Klien N dirawat di rumah sakit dikarenakan diare sejak 1 bulan yang lalu,
beliau sebagai pekerja di club. Beliau merasa kalau dirinya makin kurus
dan gejala yang dialami tidak wajar. Klien tersebut takut kalau dirinya
mengalami penyakit menular. Hal tersebut merupakan dari stigma…
a. Stigma
b. Kesopanan
c. Simbolis
d. Natural
e. Instrumental