Anda di halaman 1dari 49

Pembubaran Sebuah Persekutuan

“Dissolution of Partnership”
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan I
Dosen pengampu :
Eriana Kartadjumena, Ph.D., Ak., Csrs.

Disusun oleh:
1. Nanda Dwiputri K (0116101154)
2. Ghina Yustika (0116101158)
3. Dian Puspita (0116101137)
4. Irma Amalia N (0116101167)

Kelompok 5
Kelas D

FAKULTAS EKONOMI
AKUNTANSI S1
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2018

1
Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat dan hidayah-Nya kami berhasil menyelesaikan makalah ini. Makalah ini
dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan I, dengan
mengangkat tema yang membahas tentang Pembubaran sebuah
Persekutuan“Dissolution of Partnership”. Dalam penyusunan makalah ini ada
beberapa kesulitan dan hambatan yang kami hadapi, namun dengan semangat dan
kegigihan serta arahan, bimbingan dari berbagai pihak sehingga kami mampu
menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.
Kami menyadari sepenuhnya, bahwa dalam penyusunan makalah ini masih
sangat jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangatlah kami butuhkan. Kami sangat berharap makalah ini dapat
berguna dan bermanfaat, tidak hanya bagi kami tetapi juga untuk para pembaca
lainnya.

Bandung, 2 Oktober 2018

Penyusun

i
Daftar Isi

Kata Pengantar ..................................................................................................................... i

Daftar Isi .............................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................1

1.1. Latar Belakang ................................................................................................................1

BAB I PEMBAHASAN ........................................................................................................3

2.1. Perubahan dalam Keanggotaan .......................................................................................3

2.1.1 Konsep-konsep Umum untuk Mencatat Perubahan Keanggotaan dan


Persekutuan ............................................................................................................4

2.1.2 Sekutu Baru Membeli Hak Kepemilikan ...............................................................6

2.1.3. Sekutu Baru Melakukan Investasi di Persekutuan ................................................9

2.1.4 Menentukan Biaya Investasi Sekutu Baru ...........................................................22

2.1.5 Berhentinya Seorang Sekutu dari Persekutuan ....................................................23

2.2 .Pembubaran ...................................................................................................................27

2.2.1. Pembubaran Persekutuan Usaha Atas Dasar Perubahan Kepemilikan ...............27

2.2.2. Kondisi yang menimbulkan pembubaran persekutuan .......................................27

2.2.3. Perolehan hak melalui pembelian .......................................................................29

2.2.4. Perolehan hak melalui INVESTASI ...................................................................29


2.2.5. Investasi dengan pemberian bonus atau goodwill ...............................................29

2.2.6. Penyelesaian dengan pengunduran diri seorang sekutu…………………………31

2.3. Contoh Soal Pembubaran ..............................................................................................32

2.3.1. Pembelian sebagian hak penyertaan dari anggota persekutuan ..........................32


2.3.2. Pembelian seluruh hak penyertaan dari anggota sekutu lama ............................33
2.3.3 Pemberian bonus kepada anggota pemilik lama ................................................33

ii
2.3.4. Pembentukan Goodwill untuk anggota pemilik lama .........................................34

2.3.5. Pemberian bonus kepada anggota baru ...............................................................35

2.3.6. Pembentukan Goodwiil untuk anggota baru .......................................................35

2.3.7. Pembayaran kepada anggota yang mengundurkan diri dengan jumlah yang
melampaui saldo modalnya .................................................................................36

2.3.8. Pembentukan Goodwill .......................................................................................36

2.3.9.Pembayaran kepada anggota yang mengundurkan diri dengan jumlah lebih


rendah dari saldo modalnya .................................................................................37

BAB II PENUTUP ..............................................................................................................43

2.1 Kesimpulan...................................................................................................................43

Daftar Pustaka ....................................................................................................................44

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Akuntansi merupakan aktivitas jasa. Fungsinya adalah untuk
menyediakaninformasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, tentang entitas
(kesatuan) usaha yang dipandang akan bermanfaat dalam pengambilan keputusan
ekonomi dalam menetapkan pilihan yang tepat di antara berbagai alternatif tindakan.
Semua badan usaha, tanpa memandang besar dan sifat operasinya, memerlukan catatan-
catatan yang akurat untuk transaksi usaha. Perusahaan yang tidak menyelenggarakan
catatan yang akurat tidak akan dapat beroperasi seefisien dan semenguntungkan
perusahaan yang menyelenggarakan catatan yang akurat. Disamping itu, kebutuhan para
pemakai informasi akuntansi atas keakuratan data akuntansi menyebabkan perusahaan
menyelenggarakan pembukuan dan catatan yang akurat, yang secara wajar
mencerminkan aktivitas usaha perusahaannya.
Dalam sebuah perusahaan, ekuitas adalah hak pemilikan. Ekuitas pemilik
mengukur hak pemilik dalam total sumber daya perusahaan bersangkutan. Hal ini timbul
dari investasi oleh pemilik dan meningkat akibat laba bersih dan menurun akibat kerugian
atau pembagian kepada pemilik. Hak pemilikan tidak perlu dibayarkan pada tanggal
tertentu; dalam kasus penutupan usaha, hak itu merupakan klaim atas aktiva sesudah
hutang kepada para kreditor dibayarkan seluruhnya.Metode pelaporan ekuitas pemilik
bervariasi menurut bentuk unit usaha. Unit usaha pada dasarnya dibagi dalam tiga
kategori:
1. perusahaan perorangan,
2. persekutuan dan,
3. perseroan.
Pada persekutuan, masing-masing sekutu memiliki perkiraan ekuitas. Saldo perkiraan
ekuitas mengikhtisarkan investasi dan penarikan serta bagian laba dan kerugian masa lalu
untuk, dan karenanya merupakan ukuran ekuitas masing-masing sekutu dalam aktiva
perusahaan.
Pada perseroan, selisih antara aktiva dan kewajiban disebut ekuitas pemilik,ekuitas
pemegang saham, atau ekuitas saja. Dalam penyajian pemegang saham pada neraca,

1
dibedakan antara ekuitas yang berasal dari investasi pemegang saham, yang disebut
modal kontribusi atau modal setoran, dan ekuitas yang berasal dari laba, yang disebut
saldo laba.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Perubahan Dalam Keanggotaan


Perubahan dalam keanggotaan persekutuan terjadi dengan adanya penambahan
sekutu baru atau berhentinya sekutu saat ini. Sekutu baru biasanya merupakan sumber
tambahan modal utama atau sebagai tenaga ahli. Struktur legal dari persekutuan
mensyaratkan bahwa penerimaan sekutu baru (admission of a new partner) secara tidak
langsung merupakan persetujuan dari semua sekutu saat ini. Lebih dari itu, pengumuman
public biasanya dibuat mengenai penambahan sekutu baru sehingga pihak ketiga yang
melakukan transaksi bisnis dengan persekutuan menyadari adanya perubahan dalam
persekutuan.
Berhentinya atau pengunduran diri seorang sekutu dari persekutuan (withdrawal of a
partner from a partnership) menyebabkan pembubaran secara hukum atas persekutuan.
Banyak persekutuan yang tetap melanjutkan operasi bisnisnya dan persekutuan mungkin
saja membeli kepemilikan sekutu yang berhenti pada harga pembelian (buyout price).
Harga pembelian adalah nilai estimasi, jika: (1) asset dijual pada harga sama dengan atau
lebih besar dari nilai likuidasi atau nilai yang menjadi dasar penjualan seluruh bisnis jika
bisnis tetap berjalan tanpa sekutu yang keluar tersebut, dan (2) persekutuan diakhiri pada
saat tersebut, dengan pembayaran seluruh kreditur persekutuan dan penghentian bisnis.
Sekutu yang mengundurkan diri dari persekutuan dapat dimintai pertanggungjawaban
oleh persekutuan atas kerugian yang dialami persekutuan karena pengunduran diri atau
disasosiasi yang illegal. Disasosiasi yang illegal terjadi ketika disasosiasi tersebut terjadi
karena pelanggaran dalam perjanjian persekutuan atau untuk persekutuan yang dibentuk
untuk waktu atau tujuan tertentu, sebelum waktu atau tujuan tersebut selesai. Ada juga
beberapa kejadian yang mensyaratkan pembubaran secara hukum dan berakhirnya
persekutuan.

3
2.1.1. Konsep-konsep Umum untuk Mencatat Perubahan Keanggotaan dalam
Persekutuan

 Persekutuan sebagai Sebuah Entitas Terpisah dari Individu-individu


Sekutu dan Penggunaan Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum
(GAAP)
KUHPer secara jelas mendefinisikan persekutuan sebagai sebuah entitas
yang terpisah dan masing-masing individu sekutu. Sebagai contoh, entitas
persekutuan tidak berubah karena penambahan atau pengunduran diri individu
sekutu. Ini sama dengan konsep entitas untuk bentuk bisnis korporasi, dimana
korporasi tidak perlu direvaluasi setiap terjadi perubahan pemegang saham.

Beberapa persekutuan memilih mengikuti atau mentaati prinsip-prinsip


akuntansi yang berlaku umum (general accepted accounting principles-
GAAP) dalam proses akuntansi dan pelaporan keuangan. Persekutuan-
persekutuan ini mengikuti standar yang sama yang disusun oleh oleh PSAK
dan badan regulator lainnya seperti yang dilakukan perusahaan publik.
Seringkali perusahaan joint venture (modal ventura) atau pemberi kredit
lainnya mensyaratkan perusahaan persekutuan swasta mengikuti GAAP agar
finansial persekutuann dapat dibandingkan dengan perusahaan publik lainnya.
Perusahaan joint venture memiliki tujuan untuk dapat memperoleh pemodal
publik. Sehingga jika persekutuan mengikuti GAAP dan diaudit oleh auditor
eksternal, persekutuan dapat memperoleh opini audit yang menyatakan bahwa
laporan keuangan persekutuan telah sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi
yang berlaku umum.
Dengan mengikuti GAAP dan pendefinisian perusahaan sebagai entitas
terpisah dari individu sekutu, perubahan keanggotaan dalam persekutuan akan
dicatat seperti entitas korporasi mencatat jika ada perubahan investornya.
Tambahan investasi diakui pada nilai wajar dan meningkatkan total modal
perusahaan.
GAAP tidak memberikan petunjuk tentang revaluasi asset neto yang
meningkat nilainya karena perubahan anggota persekutuan. Namun ada

4
beberapa situasi berdasarkan GAAP, dimana penurunan nilai asset tertentu
dapat diakui ketika terjadi perubahan anggota dalam persekutuan. Misalnya,
PSAK 48 tentang “Penurunan Nilai Asset”, menyajikan prosedur pengakuan
penurunan nilai asset, termasuk goodwill. Namun, tidak terdaftar standar
GAAP yang mengatur tentang kenaikan nilai asset berwujud atau pengakuan
goodwill baru, hanya karena perubahan anggota dalam persekutuan.

 Persekutuan Sebagai Sekumpulan Hak Kepemilikan Sekutu dan


Penggunaan Akuntansi Non-GAAP
Para sekutu dalam sebuah perusahaan swasta dapat saja memilih
mengikuti metode akuntansi non-GAAP untuk memenuhi kebutuhan informasi
tertentu. Dalam kasus ini, perusahaan dapat diaudit oleh auditor eksternal, tapi
opini audit yang menyatakan dengan jelas bahwa prinsip-prinsip akuntansi
non-GAAP digunakan dalam penyusunan laporan keuangan. Persekutuan
seperti ini tidak dapat memperoleh opini audit “wajar tanpa pengecualian”.
Banyak persekutuan menggunakan transaksi perubahan keanggotaan
persekutuan sebagai kesempatan untuk merevaluasi asset dan kewajiban
persekutuan yang ada atau untuk mencatat goodwill yang belum dicatat.
Praktik revaluasi asset neto atau pengakuan goodwill tidak sesuai dengan
GAAP. Argumen penggunaan metode non-GAAP adalah bahwa revaluasi
asset pada saat perubahan keanggotaan menyatakan secara lengkap kondisi
ekonomis sebenarnya persekutuan pada saat tersebut dan mengalokasikan
perubahan nilai asset serta kewajiban dan goodwill kepada para sekutu yang
telah mengelola bisnis sepanjang terjadinya perubahan nilai. Beberapa akuntan
percaya revaluasi ini diperlukan untuk menilai secara tepat ekuitas tiap sekutu
dalam persekutuan saat ini. Karena banyak persekutuan yang melakukan
revaluasi asset neto atau pengakuan goodwill pada saat perubahan keanggotaan
persekutuan.
Metode bonus tidak mengubah modal neto persekutuan setelah investasi
oleh sekutu baru. Sebaliknya, metode bonus mengalokasikan kepemilikan
modal sekutu berdasarkan persetujuan seluruh sekutu, dan seringkali

5
didasarkan pada nilai investasi sekutu baru. Pada beberapa kasus, sekutu lama
mengalokasikan sebagian modalnya ke sekutu baru; sementara di kasus lain,
sekutu baru setuju mengalokasikan sebagian kepemilikan modalnya ke sekutu
lama. Sehingga metode bonus tidak melanggar GAAP karena para sekutu
secara legal mengalokasikan sebagian atau seluruh kepemilikan modal
persekutuan yang dapat dialihkan kepada sekutu lainnya. Sekutu di perusahaan
swasta memiliki kebebasan memilih bagaimana mencatat perubahan
keanggotaan dalam persekutuan.

2.1.2. Sekutu Baru Membeli Hak Kepemilikan


Seseorang bisa memperoleh hak kepemilikan dalam persekutuan secara
langsung dari satu atau lebih sekutu yang ada saat ini. Dalam transaksi ini, kas
atau asset lain ditukar di luar persekutuan, dan pencatatan yang dilakukan dalam
pembukuan persekutuan hanyalah reklasifikasi modal dalam persekutuan.
Sebuah konsep yang sering digunakan adalah nilai buku. Nilai buku
persekutuan (book value of a partnership) adalah jumlah modal, yang juga
merupakan selisih antara jumlah asset dan kewajiban. Nilai buku sangat penting
karena merupakan basis yang digunakan dalam revaluasi asset dan pengakuan
goodwill.
Contoh pada kasus ini misalnya setelah beroperasi selama tahun 20X1 dan
20X2, persekutuan AB memiliki nilai buku Rp. 30.000.000 dan persentase laba
tanggal 1 Januari 20X3 adalah:

Saldo Modal Persentase Laba


Aldi Rp. 20.000.000 60
Bayu 10.000.000 40
Total Rp. 30.000.000 100
Berikut informasi seputar kasus ini.
1. Tanggal 1 Januari 20X3, Aldi dan Bayu mengundang Citra menjadi sekutu
dalam bisnis mereka. Persekutuan yang dihasilkan disebut persekutuan
ABC.

6
2. Citra membeli seperempat kepemilikan dalam modal persekutuan langsung
dari Aldi dan Bayu dengan jumlah biaya perolehan Rp. 9.000.000, dengan
membayar Rp. 5.900.000 kepada Aldi dan Rp. 3.100.000 kepada Bayu.
Citra akan memiliki modal senilai Rp. 7.500.000 (Rp.30.000.000 x 0,25)
secara proposional terhadap saldo modal Aldi dan Bayu.
3. Citra akan diberikan 25 persen bagian dalam pembagian laba atau rugi
persekutuan. Sisa 75 persen akan dibagi antara Aldi dan Bayu pada rasio
laba mereka sebelumnya 60:40 persen. Hasil dari persentase laba atau rugi
setelah masuknya Citra adalah:
Sekutu Persentase Laba

Aldi 45 (75% dari 60%)


Bayu 30 (75% dari 40%)
Citra 25
Total 100

Dalam contoh ini, 25 persen bagian Citra dalam laba atau rugi persekutuan
adalah sama dengan seperempat nilai modalnya. Kedua nilai persentase tersebut
tidak harus selalu sama. Seperti yang telah dijelaskan diawal, bagian modal
seorang sekutu bisa berubah sepanjang waktu karena distribusi laba, penarikan,
atau penambahan investasi modal. Selanjutnya, Citra bisa memperoleh seluruh
bagian modalnya langsung dari sekutu manapun. Tidaklah penting bahwa
membeli secara langsung kepemilikan dalam sebuah reklasifikasi yang
proporsional dari masingmasing sekutu yang lama.

Transaksi Citra dan sekutu lain secara individu tidak tercermin dalam
pembukuan persekutuan. Satu-satunya pencatatan adalah reklasifikasi modal
persekutuan. Aldi dan Bayu memberikan seperempat dari modal mereka kepada
Citra, sebagai berikut.

1 Januari 20X3
Modal, Aldi 5.000.000

7
Modal, Bayu 2.500.000
Modal, Citra 7.500.000
Reklasifikasi modal kepada sekutu baru.
Dari Aldi: Rp. 5.000.000 = Rp. 20.000.000 x 0,25
Dari Bayu: Rp. 2.500.000 = Rp. 10.000.000 x 0,25
Dalam kasus ini, modal yang dikredit kepada Citra hanya Rp.7.500.000,
sekalipun Rp. 9.000.000 yang dibayarkan untuk seperempat kepemilikan.
Pembayaran Rp. 9.000.000 mencerminkan bahwa nilai wajar persekutuan
adalah Rp. 36.000.000, dihitung dari:

Rp. 9.000.000 = nilai wajar x 0,25


Rp. 36.000.000 = nilai wajar

Nilai buku persekutuan adalah Rp. 30.000.000 sebelum investasi dari Citra.
Pembayaran Rp. 9.000.000 dilakukan secara langsung kepada individu sekutu,
dan tidak akan menjadi bagian dari asset persekutuan. Selisih Rp. 6.000.000
antara nilai wajar dengan nilai buku yang baru bisa berupa asset yang dinilai
terlalu rendah atau adanya goodwill yang belum dicatat.
Aldi dan Bayu bisa menggunakan akuisisi yang dilakukan Citra untuk
merevaluasi asset persekutuan dan mencerminkan sepenuhnya perubahan nilai
yang terjadi sebelum masuknya Citra. Jika tidak, maka akan menyebabkan
bagian Citra meningkat secara proposional ketika peningkatan nilai dilakukan.
Misalnya, jika persekutuan memiliki tanah yang nilainya kurangnya sebesar Rp.
6.000.000 yang dijual setelah Citra masuk dalam persekutuan, Citra akan
mendapatkan bagian keuntungan atas penjualan berdasarkan rasio pembagian
laba. Untuk menghindari masalah ini, beberapa persekutuan melakukan
revaluasi atas asset pada saat masuknya sekutu baru walaupun sekutu baru
tersebut membeli kepemilikan secara langsung dari salah satu sekutu lama.
Dalam kasus ini, Aldi dan Bayu dapat mengakui peningkatan nilai tanah
secepatnya sebelum masuknya Citra dan mengalokasikan kenaikan tersebut
secara proposional terhadap saldo modal masing-masing dengan rasio
pembagian 60:40, sebagai berikut:

8
Tanah 6.000.000
Modal, Aldi 3.600.000
Modal, Bayu 2.400.000
Reklasifikasi modal kepada sekutu baru:
Rp. 5.900.000 = Rp. 23.600.000 x 0,25
Rp. 3.100.000 = Rp. 12.400.000 x 0,25
Rp. 9.000.000 = Rp. 36.000.000 x 0,25
Akuntan dari persekutuan harus memastikan adanya bukti dan alasan yang
memadai untuk dilakukannya revaluasi asset dan kewajiban untuk menghindari
kecurangan. Bukti yang dapat mendukung seperti jasa penilai atau laba selama
beberapa tahun dapat membantu penilaian asset.

2.1.3. Sekutu Baru Melakukan Investasi di Persekutuan


Seorang sekutu baru dapat mengakuisisi kepemilikan dengan cara melakukan
investasi ke dalam persekutuan.Tiga kondisi dapat dapat terjadi jika sekutu baru
melakukan investasi di persekutuan, yaitu :

Kasus 1. Invetasi sekutu baru sama dengan proporsi sekutu baru terhadap nilai buku
persekutuan.

Kasus 2. Investasi sekutu baru lebih besar dari proporsi sekutu baru terhadap nilai
buku persekutuan. Hal ini mengindentifikasikan bahwa nilai aset neto persekutuan
sebelumnya dicatat terlalu rendah di pembukuan atau adanya goodwill yang belum
dicatat

Kasus 3. Investasi sekutu baru lebih rendah dari proporsi sekutu baru terhadap nilai
buku persekutuan. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai aset neto persekutuan
sebelumnya terlalu tinggi di pembukuan atau sekutu baru memberikan kontribusi
goodwill sebagai tambahan aset lain.

Langkah pertama untuk menentukan bagaimana menghitung bagaimana


menghitung masuknya sekutu baru adalah dengan menghitung proporsi sekutu baru

9
terhadap nilai buku persekutuan (new partner’s proportion of the partnership’s
book value) sebagai berikut :

Proporsi sekutu
Baru terhadap = Modal Invetasi Modal
Nilai buku sekutu + Sekutu x Sekutu
Persekutuan sebelumnya Baru

Proporsi sekutu baru terhadap nilai buku persekutuan dibandingkan dengan jumlah
investasi yang dibuat sekutu baru untuk menentukan prosedur akuntansi yang harus
dilakukan dalam penerimaannya sebagai sekutu baru.

Rangkuman dari tiga kasus di atas :


Langkah 1 : adalah membandingkan investasi sekutu baru dengan proporsinya
terhadap nilai buku persekutuan .
Langkah 2 : adalah menentukan metode penerimaan. Tiga metode yang berbeda
tersedia untuk penerimaan sekutu baru ketika terjadi perbedaan antara investasi
sekutu baru dengan proporsinya terhadap nilai buku persekutuan.
Ketiga metode adalah : (1) revaluasi aset neto, (2) pengakuan goodwill, (3)
menggunakan metode bonus (bonus method). Dengan menggunakan revaluasi
aset neto dan pengakuan goodwill, biaya historis yang mendasari aset neto
disesuaikan selama proses penerimaan sekutu baru.
Terdapat bebrapa kesamaan antara akuntansi untuk penerimaan sekutu baru dengan
akuntansi atas investasi pada saham di korporasi. Jika sekutu baru membayar lebih
dari nilai buku, kelebihan biaya perolehan atas nilai buku, yaitu diferensial bernilai
positif, mungkin adalah goodwill yang tidak diakui atau karena aset yang nilainya
terlalu rendah-kasus yang sama seperti akuntansi untuk diferensial pada investasi
saham. Jika nilai buku sama dengan biaya perolehan investasi , maka tidak ada
diferensial, indikasi bahwa nilai buku dari aset neto sama dengan nilai wajarnya.

10
Kasus 1. Nilai investasi Sekutu Baru Sama dengan Proporsi Nilai Buku
Persekutuan
Besarnya investasi sekutu sering kali merupakan hasil negosiasi antara sekutu
lama dengan calon sekutu baru.

Gambaran Umum Akuntansi Penerimaan Sekutu Baru

Langkah 1: Membandingkan proporsi Nilai Langkah 2: Metode Alternatif untuk


Buku dan Investasi sekutu Baru Mencatat Penerimaan Sekutu Baru Obeservasi Kunci

Biaya Perolehan Investasi > Nilai buku 1. Revaluasi aset neto menuju nilai pasar - sekutu lama
menerima
(Kasusn2) dan alokasikan kepada sekutu lama nilai aset, goodwill,
2. Catat goodwill yang belum diakui bonus biaya investasi
Dan alokasikan kepada sekutu lama - mencatat peningkatan
3. Alokasikan bonus kepada sekutu lama. goodwill
persekutuan
Biaya Perolehan investasi = Nilai buku 1. Tidak ada revaluasi, banus, atau - tidak ada alokasi
lanjut
(Kasus 1) goodwill karena sekutu baru
Akan modal investasinya

Biaya perolehan investasi < Nilai buku 1. Revaluasi aset neto menuju nilai pasar - sekutu mendaptkan
(Kasus 3) dan alokasikan kepada sekutu lama goodwill atau bonus
2. mengakui goodwill yang dibawa sebagai insentif
Sekutu baru - mencatat goodwill
3. Alokasikan bonus kepada sekutu baru peningkatan modal

Setelah nilai investasi disetujui, barulah mungkin untuk menghitung proporsi nilai buku sekutu baru.
Untuk investasi Rp10.000.000, Citra akan mendapatkan seperempat kepemilikan pada pesekutuan,
sebagai berikut :

Investasi pada persekutuan Rp10.000.000


Proporsi nilai buku sekutu baru :
(Rp30.000.000 + Rp10.000.000) x 0,25 (10.000.000)
Selisih (investasi = nilai buku) Rp

11
Jurnal yang dicatat dalam pembukuan persekutuan adalah :

1 januari 20X3
(10) Kas 10.000.000
Modal, Citra 10.000.000
Penerimaan Citra untuk seperempat kepemilikan atas
Investasinya sebesar Rp10.000.000

Kasus 2. Nilai investasi Sekutu Baru Lebih Besar dari Proporsi Nilai Buku
Persekutuan

Dalam beberapa kasus, seseorang sekutu dapat melakukan investasi lebih besar
dari porsi kepemilikannya atas nilai buku persekutuan.
Misalnya, diasumsikan Citra menginvestasikan Rp11.000.000 untuk
seperempat kepemilikan modal dalam persekutuan. Langkah pertama adalah
membandingkan investasi sekutu baru dengan proporsi nilai bukunya, sebagai
berikut :
Investasi pada persekutuan
Rp11.000.000
Proprosi nilai buku sekutu baru
(Rp30.000.000 + Rp11.000.000) x 0,25
(10.250.000)
Selisih (investasi= nilai buku Rp 750.000

Citra telah menginvestasikan Rp11.000.000 untuk kepemilikan dengan nilai


buku Rp10.200.000, sehingga membayar lebih tinggi Rp750.000 atas nilai buku
saat ini.
Tiga alternatif perlakuan akuntansi dalam kasus ini adalah :
1. Revaluasi nilai aset. Pada alternatif ini adalah:
a. Nilai buku aset dinaikan ke nilai pasarnya

12
b. Modal sekutu lama dinaikan sebanding dengan kenaikan peningkatan nilai
buku aset.
c. Modal persekutuan yang dihasilkan sama dengan saldo modal awal
ditambah nilai revaluasi aset tambah investasi sekutu baru.
2. Mengakui goodwill yang tidak tercatat. Dengan metode ini adalah:
a. Goodwill yang tidak tercatat diakui
b. Modal sekutu lama dinaikan sebanding dengan nilai goodwill
c. Modal persekutuan yang dihasilkan sama dengan saldo modal awal
ditambah nilai goodwill ditambah investasi sekutu baru.
3. Menggunakan metode bonus. Pada dasarnya, metode bonus adalah
perpindahan saldo modal antara sesame sekutu. Metode ini digunakan ketika
sekutu tidak menginginkan penyelesaian pada nilai aset atau mengakui
goodwill. Dengan metode ini adalah:
a. Modal sekutu lama dinaikan sebanding dengan nilai bonus yang
dibayarkan sekutu baru.
b. Modal persekutuan yang dihasilkan sama dengan saldo modal awal
ditambah investasi sekutu baru.

Ilustrasi pendekatan atas Revaluasi Aset


Misalkan Citra membayar kelebihan sejumlah Rp750.000 (Rp11.000.000
– Rp10.250.000) terhadap proporsi nilai buku karena persekutuan memiliki
tanah dengan nilai buku Rp4.000.000 tetapi penilaian terkini
mengidentifikasikan tanah tersebut memiliki nilai pasar Rp7.000.000.
Peningkatan nilai tanah dialokasikan kepada saldo modal para sekutu baru
ini sebagai pengakuan peningkatan nilai tanag dialokasikan kepada saldo
modal para sekutu dengan menggunakan rasio laba dan rugi yang ada pada saat
terjadinya peningkatan. Modal Aldi meningkat sebesar Rp1.800.000 (60 persen
dari kenaikan sebesar Rp3.000.000), dan modal Bayu meningkat sebesar
Rp1.200.000 (40 persen dari Rp3.000.000) persekutuan akan mencatat jurnal
berikut untuk revaluasi tanah.

13
(11) Tanah Rp3.000.000
Modal,Aldi Rp1.800.000
Modal, Bayu Rp1.200.000
Revaluasi tanah persekutuan menjadi nilai pasar.

Investasi Citra sebesar Rp11.000.000 menjadikan modal persekutuan bernilai


Rp44.000.000 sebagai berikut :

Modalpersekutuan AB sebelumnya Rp30.000.000


Revaluasitanahmenjadinilaipasar Rp 3.000.000
Investasi Citra 11.000.000
Modal Persekutuan ABC Rp44.000.000

Bagian sekutu baru atas Modal yang dihasilkan = (Rp30.000.000 +


Rp3.000.000 + Rp11.000.000) x
0,025 = Rp11.000.000

Jurnal untuk mencatat penerimaan Citra ke dalam persekutuan adalah :


(12) kas 11.000.000
Modal,Citra
Penerimaan Citra untuk seperempat kepemilikan modal 11.000.000
Di persekutuan.

Cara lain untuk melihat penciptaan goodwill pada saat penerimaan sekutu baru
adalah menggunakan akun T untuk menggambarkan neraca persekutuan. Jika
ada tambahan aset neto, seperti pengakuan goodwill, harus diseimbangkan
dengan penambahan modal, sebagai berikut.

14
Sebelum penerimaan Citra Aset neto Rp30.000.000 Modalsekutu Rp30.000.000
Sebagai sekutu baru
Investasi sekutu baru berupa Kas 11.000.000 Modal baru 11.000.000
kas
Modal sebelum pengakuan Rp41.000.000 Rp41.000.000
Goodwill
Estimasi goowill baru Goodwill 3.000.000 Modal goodwill 3.000.000
Total modal dihasilkan Aset neto Rp44.000.000 Total dihasilkan
Rp44.000.000

(13) Goodwill 3.000.000


Modal,Aldi 1.800.000
Modal,Bayu 1.200.000
Mengakui goodwill yang belum di catat
(14) Kas 11.000.000
Modal,Citra 11.000.000
Menerima Citra sebagai sekutu baru untuk seperempat bagian
Modal : Rp44.000.000 x 0,25

Yang perlu dicatat adalah Rp11.000.000 yang dikredit ke modal Citra adalah
seperempat dari Rp44.000.000 modal yang dihasilkan Persekutuan ABC,
sebagai berikut :

Bagian sekutu baru atas total modal yang dihasilkan = (Rp30.000.000 +


Rp3.000.000 + Rp11.000.000) x 0,25 = Rp11.000.000

Persekutuan ABC menghasilkan saldo modal senilai Rp30.000.000 di awal,


ditambah Rp11.000.000 investasi dari Citra.

Bagian sekutu baru atas total modal yang dihasilkan = (Rp30.000.000 +


Rp11.000.000) x 0,25 = Rp10.250.000
Jurnal yang dicatat dalam rangka penerimaan Citra sebagai sekutu adalah :
(15) kas 11.000.000

15
Modal,Aldi 450.000
Modal,Bayu 300.000
Modal,Citra 10.250.000

Penerimaan Citra dengan bonus kepada Aldi dan Bayu

Kasus 3. Nilai Investasi Sekutu Baru Lebih kecil dari Proporsi Nilai Buku
Persekutuan
Ada kemungkinan bahwa seorang sekutu baru membayar lebih kecil dari proporsi
kepemilikannya atas nilai buku persekutuan. Misalnya, Citra melakukan investasi
Rp8.000.000 untuk seperempat kepemilikan modal di perusahaan ABC.

Investasi pada persekutuan 8.000.000


Proporsi nilai buku sekutu baru :
(Rp30.000.000 + Rp8.000.000) x 0,25 (9.500.000)
Selisih (investasi < Nilai buku) (1.500.000)

Tiga alternatif pendekatan untuk mengakui diferensial ketika investasi lebih rendah
dari nilai buku yang diakuisisi. Ketiga pendekatan tersebut ialah :

1. Revaluasi nilai aset yang menurun, pada alternatif ini adalah :


a. Nilai buku aset diturunkan untuk mencatat penurunan nilainya
b. Modal sekutu lama diturunkan sebanding dengan kenaikan
penurunan nilai buku aset
c. Modal persekutuan yang dihasilkan lebih rendah dari saldo modal
awal ditambah nilai aset yang diturunkan ditambah investasi
sekutu baru.
2. Mengakui goodwill yang dibawa sekutu baru. Dengan metode ini adalah:
a. Goodwill dan keunggulan lain yang dibawa sekutu baru dicatat dan
dimasukan ke dalam saldo modal sekutu baru.
b. Modal sekutu lama dibiarkan tidak berubah.

16
c. Modal persekutuan yang dihasilkan sama dengan saldo modal awal
ditambah nilai goodwill yang dibawa sekutu baru ditambah
investasi sekutu.
3. Menggunakan metode bonus. Dengan metode ini adalah:
a. Sekutu baru mendapatkan bonus dari modal sekutu lama, yang
akan menurunkan bagian bonus mereka yang nantinya dibayarkan
kepada sekutu baru.
b. Modal persekutuan yang dihasilkan sama dengan saldo modal awal
ditambah investasi sekutu baru.

Ilustrasi Pendekatan Revaluasi Aset


Asumsikan Citra hanya membayar Rp8.000.000 untuk seperempat kepemilikan
pada persekutuan. Persediaan yang saat ini dicatat pada nilai buku sebesar
Rp14.000.000 memiliki nilai wajar hanya Rp8.000.000 karena beberapa
mengalami kerusakan.
Penurunan nilai dialokasikan kepada sekutu lama sebesar rasio laba atau
rugi pada saat terjadinya penurunan nilai yaitu 60 persen kepada Aldi dan 40
persen kepada Bayu. Penurunan dicatat sebagai berikut :

(16) Modal,Aldi 3.600.000


Modal,Bayu 2.400.000
Persediaan 6.000.000
Revaluasi persediaan menjadi nilai wajar
Bagian sekutu baru atas total modal yang dihasilkan = (24.000.000 +
Rp8.000.000) x 0.25 = Rp8.000.000
Jurnal untuk mencatat penerimaan Citra sebagai sekutu baru dalam persekutuan
ABC adalah :
(17) Kas 8.000.000
Modal,Citra 8.000.000
Penerimaan Citra ke dalam persekutuan

17
Nilai kredit modal tercatat milik Citra sama dengan investasinya karena jumlah
nilai modal persekutuan adalah Rp32.000.000 (Rp24.000.000 + Rp8.000.000)
yang sekarang mencerminkan nilai wajar persekutuan.

Ilustrasi Pencatatan Goodwill untuk Sekutu Baru


Misalnya, Aldi Bayu, dan Citra setuju bahwa kemampuan Citra akan
menghasilkan laba. Mereka setuju Citra layak mendapatkan Rp2.000.000
goodwill ketika bergabung sebagai antisipasi laba yang akan dihasilkan Citra di
kemudian hari.
Alternatif lain, nilai goodwill yang dibawa oleh sekutu baru bisa
diperkirakan dari jumlah modal yang ditahan oleh sekutu lama. dalam kasus ini,
sekutu lama menahan 75 persen kepemilikan pada persekutuan dan memberikan
25 persen kepada sekutu baru. Nilai 75 persen kepemilikan sekutu lama adalah
Rp30.000.000 investasi Citra sebesar Rp8.000.000 ditambah goodwill setara
dengan 25 persen sisanya. Nilai goodwill yang dibawa oleh Citra dapat dihitung
sebagai berikut :

Langkah 1
75% dari estimasi modal yang dihasilkan
Rp30.000.000
Estimasi jumlah modal yang dihasilkan (Rp30.000.000/0.75) Rp 40.000.000
Langkah 2
Estimasi jumlah modal yang dihasilkan Rp40.000.000
Jumlah aset neto tidak termasuk goodwill
(30.000.000 ditambah Rp8.000.000 investasi dari Citra (38.000.000)
Estimasi goodwill Rp 2.000.000

Jurnal yang dicatat untuk penerimaan Citra sebagai sekutu baru di persekutuan
ABC adalah:

(18)Kas 8.000.000
Goodwill 2.000.000

18
Modal,Citra 10.000.000
Penerimaan Citra sebagai sekutu baru
Jumlah modal yang dihasilkan dari pembentukan persekutuan ABC adalah
Rp40.000.000 dengan Aldi dan Bayu bersama-sama memiliki 75 persen dan
Citra sebesar 25 persen.
Ilustrasi metode bonus
penerimaan Citra sebagai sekutu baru dengan seperempat kepemilkian pada
persekutuan ABC dengan investasi hanya Rp8.000.000 dapat juga diperlakukan
sebagai bonus kepada Citra dari sekutu lama.
bonus senilai Rp1.500.000 adalah selisih antara nilai buku sekutu baru senilai
Rp9.500.000 dengan investasinya senilai Rp8.000.000 modal sekutu lama
berkurang Rp1.500.000 secara proporsional berdasarkan rasio laba atau rugi
yaitu 60 persen dari Aldi dan 40 persen dari Bayu, dan akun modal Citra akan
dikredit senilai Rp9.500.000 sebagai berikut:
(19)kas 8.000.000
Modal,Aldi 900.000
Modal,Bayu 600.000
Modal, Citra 9.500.000
Penerimaan Citra dalam persekutuan

Jumlah yang dikredit kepada sekutu baru adalah bagian kepemilikannya


terhadap total modal yang dihasilkan, yaitu :
Bagian seekutu baru atas total modal yang dihasilkan = (Rp30.000.000 +
8.000.000) + 0,25 = Rp9.500.000

Ikhtisar dan Perbandingan atas Akuntansi Investasi Sekutu Baru

Berikut ikhtisar ketiga alternatif metode akuntansi untuk investasi dari sekutu
baru.

Kasus 1. Investasi sekutu baru sama dengan proporsinya terhadap nilai


buku persekutuan.

1. Modal sekutu baru yang dikredit sama dengan investasinya.

19
2. Dalam kasus ini tidak ada goodwill atau banus yang diakui.

Kasus 2. Investasi sekutu baru lebih besar dari pada proporsinya terhadap
nilai buku persekutuan.
1. Revaluasi aset atau pengakuan goodwill meningkatkan modal
persekutuan yang dihasilkan peningkatan tersebut dialokasikan keapada
sekutu lama dengan rasio laba atau rugi masing-masing.
2. Setelah pengakuan revaluasi aset atau goodwill tidak tercatat, modal
sekutu baru akan sama dengan investasinya dan persentasenya pada total
modal persekutuan yang dihasilkan.
3. Dengan menggunakan metode bonus, modal persekutuan yang
dihasilkan akan sama dengan jumlah modal sekutu lama ditambah dari
sekutu baru. Modal yang dikredit kepada sekutu baru lebih rendah dari
investasinya tetapi sama dengan persentasenya terhadap modal
persekutuan yang dihasilkan.

Kasus 3. Investasi sekutu baru lebih kecil dari proporsinya terhapat nilai
persekutuan.

1. Dengan menggunakan pendekatan revaluasi aset, penurunan nilai aset


akan mengurangi modal sekutu lama sebesar rasio laba atau rugi
masing-masing. Modal sekutu baru dikredit sebesar nilai investasinya.
2. Dengan metode goodwill, goodwill dialokasikan kepada sekutu baru,
dan modal persekutuan yang dihasilkan meningkat. Modal sekutu baru
akan dikredit sebesar persentase kepemiliknya terhadap modal
persekutuan yang dihasilkan.

 Ikhtisar Akuntansi untuk Investasi Sekutu Baru : Jurnal dan saldo Modal setelah
Penerimaan Sekutu Baru.

20
Kasus 1: investasi sekutu baru sama dengan proporsinya terhadap nilai buku persekutuan. Citra
menginvestasikan Rp10.000.000 untuk seperempat kepemilikan.

Kas 10.000.000 Aldi Rp20.000.000


Modal,Citra 10.000.000 Bayu 10.000.000
Citra 10.000.000
Total Rp40.000.000

Kasus 2: Investasi sekutu baru lebih besar dari proporsinya terhadap nilai persekutuan, Citra
menginvestaikan Rp11.000.000 untuk seperempat kepemilikan.
(a) Revaluasi aset : (meningkat)
Tanah 3.000.000 Aldi Rp21.800.000
Modal, Aldi 1.800.000 Bayu 11.200.000
Modal, Bayu 1.200.000 Citra 11.000.000
Kas 11.000.000 Total Rp44.000.000
Modal, Citra 11.000.000
(b) Pengakuan goodwill untuk sekutu lama :
Goodwill 3.000.000 Aldi Rp21.000.000
Modal, Aldi 1.800.000 Bayu 11.200.000
Modal, Bayu 1.200.000 Citra 11.000.000
Kas 11.000.00 Total Rp44.000.000
Modal, Citra 11.000.000
(c) Bonus kepada sekutu lama:
Kas 11.000.000 Aldi 20.450.000
Modal, Aldi 450.000 Bayu 10.300.000
Modal, Bayu 300.00 Citra 10.250.000
Modal, Citra 10.250.000 Total Rp41.000.000

Kasus 3 : investasi sekutu baru lebih kecil dari prporsinya terhadap nilai buku persekutuan. Citra
,menginvestasikan Rp8.000.000 untuk seperempat kepemilikan.
(a) Revaluasi aset (menurun)
Modal, Aldi 3.600.000 Aldi Rp16.400.000
Modal, Bayu 2.400.000 Bayu 7.600.000

21
Persediaan 6.000.000 Citra 8.000.000
Kas 8.000.000 Total Rp32.000.000
Modal, Citra 8.000.000
(b) Akun goodwill untuk sekutu baru:
Kas 8.000.000 Aldi Rp20.000.000
Goodwill 2.000.000 Bayu 10.000.000
Modal, Citra 10.000.000 Citra 10.000.000
Total Rp40.000.000
( c ) Bonus kepada sekutu baru :
Kas 8.000.000 Aldi Rp19.100.000
Modal, Aldi 900.000 Bayu 9.400.000
Modal, Bayu 600.000 Citra 9.500.000
Modal, Citra 9.500.000 Total Rp38.000.000

2.1.4. Menentukan Biaya Investasi Sekutu Baru

Nilai kontribusi dari sekutu baru telah tersedia. Dalam beberapa situs, akuntan
diminta untuk menentukan jumlah investasi yang harus dikontribusikan oleh sekutu pasar.
Misalnya, mari kita teruskan contoh Aldi dan Bayu yang ingin memasukan Citra sebagai
sekutu baru. Modal sekutu lama adalah Rp30.000.000, dan para sekutu berkeinginan
untuk memasukan Citra ke dalam persekutuan dengan hak kepemilikan sebesar 25
persen.Asumsikan bahwa sakutu lama, Aldi dan Bayu, menyetujui bahwa aset
persekutuan harus dimiliki persekutuan.

Ketika menentukan biaya investasi sekutu baru, sangatlah penting untuk mencatat
modal persekutuan yang dihasilkan dan persentase kepemilikan yang masih ditahan
sekutu lama. Dalam contoh ini, sekutu lama mempertahankan tiga perempat kepemilikan
pada persekutuan yang dihasilkan, artinya 75 persen kepemilikan modal sebesar
Rp33.000.000, di mana Rp30.000.000 berasal dari modal lama ditambah Rp3.000.000
dari revaluasi tanah, sebagai berikut.

75 % total modal yang dihasilkan Rp33.000.000

Total modal yang dihasilkan (100%) Rp44.000.000

22
Dikurangi modal sekutu lama (33.000.000)

Kontribusi kas yang dibutuhkan bagi sekutu baru Rp11.000.000

Dalam beberapa kasus, jumlah bonus bisa ditentukan sebelum penentuan kontribusi kas yang
dibutuhkan dari sekutu baru. Misalnya, asumsikan bahwa Aldi dan Bayu setuju untuk
memberikan Citra bonus senilai Rp1.500.000 untuk bergabung dengan persekutuan.

Skedul menentukan jumlah investasi kas yang harus dibayarkan Citra sebagai sekutu baru:

Modal Aldi dan Bayu sebelumnya Rp30.000.000

Dikurangi bonus yang diberikan atas penerimaan Citra (1.500.000)

Modal yang ditahan oleh Aldi dan Bayu (75%) Rp28.500.000

Total modal yang dihasilkan

(28.500.000 dibagi 0,75) Rp38.000.000

Dikurangi modal sekutu lama (28.500.000)

Modal yang dibutuhkan untuk sekutu baru Rp9.500.000

Dikurangi bonus dari sekutu lama untuk sekutu baru (1.500.000)

Kontribusi kas yang dibutuhkan dari sekutu baru Rp8.000.00

2.1.5. Berhentinya Seorang Sekutu dari Persekutuan

Ketika seorang sekutu berhenti atau mengundurkan diri dari persekutuan,


maka persekutuan secara tidak langsung dibubarkan, tetapi sekutu yang lainnya
mungkin masih berkeinginan melanjutkan operasi usaha. Dalam sebagian besar
kasus, persekutuan membeli semua kepemilikan sekutu yang berhenti sebesar
harga pembelian (byout price). Harga pembelian adalah jumlah estimasi jika,
(1) aset persekutuan dijual pada harga sama atau lebih besar dari nilai likuidasi
atau nilai yang menjadi dasar harga penjualan keseluruhan bisnis yang terus
berlangsung tanpa sekutu yang berhenti, dan (2) persekutuan berhenti pada saat
itu, dan seluruh kewajiban persekutuan diselesaikan. Perhatikan bahwa
goodwill dapat termasuk dalam penilaian. Persekutuan harus membayar bunga

23
kepada sekutu yang berhenti sejak tanggal berhenti sampai dengan tanggal
pembayaran. Dalam kasus berhentinya sekutu karena ada pelanggaran,
persekutuan dapat menuntut secara legal sekutu yang keluar atas kerusakan atau
kerugian yang ditimbulkan akibat pelanggaran yang terjadi.
Dalam kasus dimana persekutuan menyetujui pemberhentian dan tidak
ada kesalahan, akuntan dapat membantu perhitungan harga pembelian
kepemilikan. Ini penting untuk menentukan seluruh kewajiban yang masih ada
saat tanggal berhenti. Perjanjian persekutuan dapat termasuk prosedur lain
untuk digunakan pada kasus berhentinya sekutu, seperti spesifikasi penilaian,
proses akuisisi nilai sekutu baru yang dapat dialihkan, dan hal lain terkait
perubahan proses keanggotaan.
Pada umumnya, sekutu yang tersisa membeli bagian sekutu yang berhenti
dengan akusisi langsung atau persekutuan membeli bagian kepemilikan sekutu
yang berhenti tersebut. Jika sekutu yang tersisa membeli langsung kepemilikan
sekutu yang berhenti, satu-satunya jurnal pada pembukan persekutuan adalah
mencatat reklasifikasi modal sesama sekutu. Jika persekutuan mengakuisisi
bagian sekutu yang berhenti, persekutuan harus mencatat pengurangan jumlah
modal persekutuan akibat penurunan aset atas pembayaran kepada sekutu yang
berhenti. Perhitungan harga pembelian ketika seorang sekutu berhenti dari
persekutuan dapat digambarkan dalam ketiga skenario berikut.

1. Harga Pembelian Sama dengan Saldo Kredit Modal Sekutu


Misalnya , Aldi mengundurkan diri dari Persekutuan ABC pada saat saldo
modalnya Rp. 55.000.000 setelah mencatat peningkatan pada aset persekutuan
termasuk pengakuan laba sampai tanggal pengunduran diri. Jurnal yang dicatat
oleh persekutuan ABC adalah:
Modal, Aldi 55.000.000
Kas 55.000.000
Mundurnya Aldi dari persekutuan.

24
Jika persekutuan tidak dapat membayar dana sejumlah Rp. 55.000.000
kepada Aldi pada saat pengunduran diri, maka persekutuan harus mencatatnya
sebagai kewajiban atas sisa yang belum terbayar

2. Harga Pembelian Lebih Besar dari Saldo Kredit Modal Sekutu


Misalnya Aldi memiliki saldo modal Rp. 55.000.000 dan seluruh sekutu setuju
membayar Aldi sejumlah Rp. 65.000.000. Sebagian persekutuan akan mencatat
Rp. 10.000.000 kelebihan pembayaran di atas saldo modal Aldi (Rp. 65.000.000
– Rp. 55.000.000) sebagai bonus penyesuaian modal kepada Aldi dari sekutu
yang bertahan. Dalam kasus ini, Rp.10.000.000 akan mengurangi modal Bayu
dan Citra sebesar rasio laba atau rugi masing-masing. Bayu memilik 3) persen
bagian dan Citra memilik 25 persen bagian pada laba persekutuan. Jumlah dari
bagian keduanya adalah 55 persen, dan persentase laba diantara keduanya,
setelah dibulatkan, adalah 55 persen untuk Bayu dan 45 persen untuk Citra,
dihitung sebagai berikut:

Persentase Laba Lama Persentase Laba Sisa


Aldi 45 0
Bayu 30 55 (30/55)
Citra 25 45 (25/55)
Total 100 100

Jurnal yang dicatat pada saat pengunduran diri Aldi adalah:


Modal, Aldi 55.000.000
Modal, Bayu 5.500.000
Modal, Citra 4.500.000
Kas 65.000.000
Mundurnya Aldi dari persekutuan

25
Bonus Rp. 10.000.000 yang dibayarkan kepada Aldi dialokasikan kepada Bayu
dan Citra sebesar rasio laba atau rugi masing-masing. Bayu dikenakan 55
persen, dan Citra dikenakan 45 persen.
Adakalanya, persekutuan menggunakan pengunduran diri sekutu dan
dibubarkannya persekutuan untuk mencatat goodwill. Dalam kasus ini,
persekutuan dapat mencatat bagian sekutu lama saja, atau menghitung
keseluruhan goodwillberdasarkan persentase laba sekutu yang berhenti. Jika
memasukan keseluruhan goodwill, maka sekutu yang tersisa akan menerima
bagiannya atas total goodwill yang diakui. Banyak akuntan mengkritik
pengakuan goodwill pada saat pengunduran diri sekutu seperti halnya mereka
mengkritik pengakuan goodwillpada saat penambahan sekutu baru. Walau
bagaimanapun, akuntansi untuk persekutuan akan membuat jurnal pada saat
mundurnya Aldi sebagai berikut.
Goodwill 10.000.000
Modal, Aldi 10.000.000
Mencatat goodwill untuk Aldi.

Modal, Aldi 65.000.000

Kas 65.000.000
Mundurnya Aldi dari Persekutuan.

3. Harga Pembelian Lebih Besar dari Saldo Kredit Modal Sekutu

Kadangkala, harga pembelian kurang dari saldo kredit modal sekutu. Hal ini
dapat terjadi jika nilai likuidasi asset neto lebih kecil dari nilai bukunya atau
karena sekutu yang berhenti berniat meninggalkan persekutuan dengan cukup
menerima lebih kecil dari saldo modalnya. Misal, Aldi setuju menerima Rp.
50.000.000 sebagai harga pembelian kepemilikannya di persekutuan.
Persekutuan harus mengevaluasi asset netonya untuk menentukan jika terjadi
penurunan nilai yang sudah diakui. Jika tidak diperlukan asset neto, perbedaan
Rp. 5.000.000 (Rp. 55.000.000 – Rp. 50.000.000) dialokasikan sebagai
penyesuaian modal Bayu dan Citra berdasarkan rasio laba rugi.

26
2.2. Pembuburan Persekutuan

2.2.1 Pembubaran Persekutuan Usaha Atas Dasar Perubahan Kepemilikan


Dengan masuknya seorang sekutu kerja yang baru atau keluarnya sekutu kerja atau
meninggalnya seorang sekutu maka akan membubarkan persetujuan bersama
persekutuan. Suatu persekutuan dikatakan bubar apabila persetujuan awal para
sekutu untuk menjalankan usaha bersama-sama dilanggar dan tidak berlaku lagi.
Misalnya, persekutuan secara otomatis bubar jika salah seorang sekutu meninggal
dunia. Apabila timbul perselisihan di antara para sekutu, maka atas permintaan
seorang sekutu atau lebih pengadilan dapat memutuskan pembubaran persekutuan
firma. Pengunduran diri salah seorang sekutu atau lebih lewat penjualan
kepentingannya juga membubarkan persekutuan firma.

Dengan bubarnya persekutuan firma, maka wewenang para sekutu untuk


menjalankan perusahaannya juga berakhir. Walaupun pembubaran ini mengakhiri
asosiasi perorangan-perorangan untuk tujuan awal mereka, namun hal ini tidak
berarti pembubaran perusahaan atau bahkan hambatan dalam kelangsungan
hidupnya. Kalau seorang sekutu meninggal atau mengundurkan diri, maka
perusahaan dapat dilanjutkan sebagai persekutuan firma baru, yang terdiri dari
sekutu-sekutu yang ada ataupun sekutu-sekutu yang ada ditambah dengan
masuknya seorang sekutu baru.

2.2.2 Kondisi yang menimbulkan pembubaran persekutuan


Masuknya sekutu baru dan keluarnya sekutu lama pada persekutuan akan
mengakibatkan pembubaran. Pembubaran ada dua jenis:
1. Pembubaran persekutuan dari segi hukum (perubahan surat perjanjian/akte
pendirian), tetapi kegiatan perusahaan tetap dilanjutkan, ini disebut disolution.
2. Pembubaran persekutuan dengan menghentikan kegiatan dan penutupan
perusahaan atau disebut likuidasi.

Kondisi-kondisi yang menimbulkan pembubaran persekutuan firma

27
dikelompokkan dan diikhtisarkan sebagai berikut:
 Pembubaran oleh tindakan sekutu
Tindakan seorang sekutu persekutuan firma dapat menimbulkan pembubaran
meliputi :
1. 􀂾 Pencapaian waktu atau penyelesaian tujuan
2. 􀂾 Persetujuan yang saling menguntungkan
3. 􀂾 Pengunduran diri seorang sekutu
 Pembubaran karena ketentuan Undang-undang
Persekutuan firma dengan sendirinya bubar karena kemungkinan-kemungkinan
tertentu yang ditetapkan oleh undang-undang, yakni:
1) Seorang anggota persekutuan firma meninggal dunia.
2) Seorang sekutu atau persekutuan firma itu sendiri mengalami kebangkrutan.
3) Setiap kejadian yang menyebabkan perusahaan tidak layak untuk
menjalankan kegiatan usahanya lagi atau bagi individu-individu untuk
menjalankan perusahaan sebagai persekutuan firma.
4) Perang.
 Pembubaran oleh Keputusan Pengadilan
Pengadilan dapat memutuskan pembubaran karena terbukti timbul hal-hal berikut
ini :
1) Seorang sekutu tidak waras atau tidak mampu untuk menyelesaikan setiap
masalah atau untuk memenuhi bagiannya dalam perjanjian persekutuan firma.
2) Sikap seorang sekutu yang merugikan perusahaan.
3) Perselisihan intern di antara para sekutu.
4) Kelanjutan perusahaan tidak mungkin lagi menguntungkan

Seseorang dapat diterima sebagai sekutu baru hanya dengan kesepakatan semua
sekutu. Penerimaan sekutu baru menimbulkan perjanjian baru dan hal ini
merupakan pembentukan persekutuan firma baru, persekutuan firma yang
sebelumnya dianggap bubar dengan kesepakatan umum. Persetujuan persekutuan
firma hanya mengikat sepanjang para sekutunya tetap tunduk terhadap
persetujuan yang ditetapkan. Dengan masuknya seorang sekutu baru, maka suatu

28
persetujuan baru harus dirancang untuk menetapkan kepentingan sekutu pada
pembentukan firma, pembagian laba dan rugi, dan semua hal yang menyangkut
asosiasi. Seorang sekutu yang baru masuk biasanya menyetorkan aktiva untuk
memperoleh kepentingan dalam persekutuan firma yang baru didirikan. Seseorang
dapat memperoleh kepentingan atau hak dalam persekutuan firma lewat :
1. Perolehan hak melalui pembelian
2. Perolehan hak melalui investasi

2.2.3 Perolehan hak melalui pembelian

Jika semua sekutu setuju untuk menerima seorang pembeli kepentingan sebagai
sekutu, maka hal ini akan membubarkan persekutuan firma yang lama dan menciptakan
persekutuan firma baru.

2.2.4 Perolehan hak melalui INVESTASI

Apabila seseorang memperoleh kepentingan dengan melakukan investasi, maka


aktiva dan modal persekutuan firma akan bertambah.

2.2.5 Investasi dengan pemberian bonus atau goodwill

1.) Investasi dengan pemberian bonus atau goodwill kepada sekutu lama.
Masuknya sekutu baru dengan memberikan bonus atau goodwill kepada sekutu lama
berdasarkan ratio laba-rugi sekutu lama. Bonus ditentukan oleh selisih kepentingan
dengan modal yang disetor, dan total modal sekutu lama dan baru yang disetor tidak
berubah. Goodwill ditentukan selisih kepentingan dengan modal sekutu baru yang
disetor, dan total modal sekutu lama berubah.

Ketentuan bonus dan goodwill di atas tidak berlaku bila ada ketentuan modal
persekutuan. Bonus dan goodwill mempunyai pengertian yang sama, tetapi berbeda dari
segi pencatatan. Bonus dan goodwill adalah pengakuan adanya kelebihan terhadap salah
satu pihak dalam persekutuan yang baru didirikan.Jika persekutuan firma telah beroperasi
dengan sukses, maka para sekutu dapat menerima seorang sekutu baru dengan ketentuan
sebagai berikut:

29
1. Bagian dari investasi sekutu baru akan diberikan sebagai bonus kepada sekutu
lama, atau

2. Goodwill persekutuan akan ditetapkan dan mengkredit sekutu lama.


2.) Investasi dengan pemberian bonus atau goodwill kepada sekutu baru.
Hal ini terjadi apabila sekutu lama mempunyai nilai tambah dibandingkan sekutu lama.
Misal, sekutu baru ahli di bidang pemasaran. Metode bonus dengan memberikan
tambahan modal kepada sekutu baru dan mengurangi modal sekutu lama. Metode
goodwill ditetapkan bila modal persekutuan yang baru tidak sama dengan modal
persekutuan lama setelah ditambah investasi dari sekutu baru.

3.) Tidak ada ketentuan bonus dan goodwill untuk sekutu lama dan baru.

1. Kepentingan sekutu baru sama dengan modal yang disetor, maka tidak ada bonus
dan goodwill.

2. Kepentingan sekutu baru lebih kecil dari modal yang disetor, maka bonus dan
goodwill untuk sekutu lama.

3. Kepentingan sekutu baru lebih besar dari modal yang disetor, maka bonus atau
goodwill untuk sekutu baru.

4. Kepentingan sekutu baru lebih kecil dengan modal yang disetor, dan total modal
yang diinginkan sama dengan total modal yang disetor oleh sekutu lama dan
baru. Masuknya sekutu baru akan menimbulkan bonus untuk sekutu lama.

5. Kepentingan sekutu baru lebih besar dengan modal yang disetor, dan total modal
yang diinginkan sama dengan total modal yang disetor oleh sekutu lama dan
baru. Masuknya sekutu baru akan menimbulkan bonus untuk sekutu baru, dan
modal sekutu lama berkurang.

6. Kepentingan sekutu baru lebih kecil dengan modal yang disetor, dan total modal
yang diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang
disetor. Masuknya sekutu baru akan memberikan bonus dan goodwill untuk
sekutu lama.

30
7. Kepentingan sekutu baru lebih besar dengan modal yang disetor dan total modal
yang diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang
disetor. Masuknya sekutu baru akan memberikan bonus dan goodwill untuk
sekutu baru.

2.2.6 Penyelesaian dengan pengunduran diri seorang sekutu


Pengunduran diri salah seorang sekutu dimana kegiatan perusahaan tetap
dilanjutkan oleh sekutu yang ditinggal. Hal ini para sekutu yang lama harus
membyr kepaada sekutu yang mengundurkn diri. Pembaran kepada sekutu yang
keluar ada 2 kemungkinan yaitu :
Pembayaran lebih besar dari saldo modalnya
Pembayaran kepada sekutu yang keluar melebihi saldo modalnya pencatatan ada
3 metode yaitu :
 Selisih dicatat sebagai bonus
Selisih pembayaran dengan saldo modal sekutu lama dicatat sebagai bonus, maka
modal sekutu yang tinggal akan berkurang sesuai dengan perbandingan laba-rugi
sekutu yang tinggal.
 Selisih dicatat sebagai goodwill
Selisih pembayaran dengan saldo modal sekutu lama dicatat sebagai goodwill.
Goodwill hanya diberikan kepada sekutu yang keluar.
 Modal persekutuan dinilai kembal dengan dasar jumlah selisihnya atau
dibentuk goodwill untuk semua ekutu
Selisih pembayaran dengan saldo modal sekutu lama dicatat sebagai goodwill atau
aktiva lainnya. Goodwill yaitu selisih pembayaran dibagi ratio modal sekutu yang
keluar dan dialokasikan kepada para sekutu yang tinggal dan keluar

Pembayaran lebih kecil dari saldo modalnya


Pencatatan pembayaran kepada sekutu yang keluar lebih kecil dari saldo
modalnya ada dua metode yaitu goodwill dan bonus.

31
2.3. Contoh Soal Pembuburan
2.3.1 Pembelian sebagian hak penyertaan dari anggota persekutuan

Persekutuan “YE”

Neraca 1 Desember 2012

Kas 5,000,000 Hutang dagang 12,000,000

Piutang dagang 7,000,000 Modal Y 4,000,000

Aktiva tetap 10,000,000 Modal E 6,000,000

Total 22,000,000 22,000,000

Tn. S masuk dengan membeli hak Tn. Y ½ bagian dan membeli hak Tn. E ¼
bagian,maka pencatatan pemindahan hak penyertaan atau modal sebagai berikut :

Modal Tn. Y 2.000.000

Modal Tn. E 1.500.000

Modal Tn. S 3.500.000

Oleh karena itu persekutuan berubah dari “YE” menjadi persekutuan “YES”
dengan neraca sbb:

Persekutuan “YES”

Neraca 1 Desember 2012

Kas 5,000,000 Hutang dagang 12,000,000

Piutang dagang 7,000,000 Modal Y 2,000,000

Aktiva tetap 10,000,000 Modal E 4,500,000

Modal S 3,500,000

32
Total Hutang &
Total aktiva 22,000,000 22,000,000
Modal

2.3.2 Pembelian seluruh hak penyertaan dari anggota sekutu lama

Jika Tn. I masuk dengan membeli seluruh hak Tn.Y dengan harga 3.000.000 maka
pencatatan yang dilakukan persekutuan sbb:

Modal Y 2.000.000

Modal I 2.000.000

(kelebihan pembayaran dianggap keuntungan pribadi untuk Tn. Y sehingga tidak


perlu dilakukan pencatatan oleh persekutuan)

2.3.3 Pemberian bonus kepada anggota pemilik lama

Berikut ini adalah modal dan pembagian laba pada persekutuan “NOA”

Saldo Modal Pembagian laba(rugi)


Modal N
4.000.000 25 %
Modal O
5.000.000 35 %
Modal A
6.000.000 40 %
Jumlah 15.000.000 100 %

Kemudian Tn. H masuk dengan menyetorkan modal sebesar 3.000.000 dan diakui
haknya sebesar 15 % dari jumlah modal persekutuan yang baru.

Modal Tn.H 15% x 18.000.000 = 2.700.000

Setoran Tn.H 3.000.000

Bonus kepada anggota lama 300.000

Kelebihan setoran Tn.H dianggap sebagai bonus untuk sekutu lama yang
dibagikan sesuai dengan ketentuan laba (rugi) yang telah disepakati.Sehingga
modal sekutu lama akan bertambah masing-masing sbb:

Tn.N 25% x 300.000 = 75.000

33
Tn.O 35% x 300.000 = 105.000

Tn.A 40% x 300.000 = 120.000

Maka Jurnal untuk mencatat masuknya Tn.N adalah sbb.

Kas 3.000.000

Modal N 75.000

Modal O 105.000

Modal A 120.000

Modal H 2.700.000

2.3.4 Pembentukan Goodwill untuk anggota pemilik lama :

Dari contoh setoran modal Tn.H diatas,maka goodwill yang akan dibentuk untuk
sekutu lama adalah sbb.

100 x 3.000.000 =20.000.000(pembulatan)

15

Total modal yang sesungguhnya =18.000.000

Goodwill yang harus dibentuk = 2.000.000

Berikut ini pembagian goodwill sesuai perhitungan kesepakatan laba(rugi)

Modal Tn.N 25% x 2.000.000 = 500.000

Modal Tn.O 35% x 2.000.000 = 700.000

Modal Tn.A 40% x 2.000.000 = 800.000

Jurnal yang harus dicatat oleh persekutuan adalah:

Goodwill 2.000.000

Modal Tn.N 500.000

Modal Tn.O 700.000

Modal Tn.A 800.000

34
Kas 3.000.000

Modal Tn.H 3.000.000

2.3.5 Pemberian bonus kepada anggota baru

Persekutan Tn.N,Tn.O,Tn.A setuju untuk memasukkan Tn.H kedalam


persekutuan dengan menyetorkan modal sebesar 3.000.000 diakui haknya sebesar
20% daro total modal persekutuan yang baru,maka pencatatannya adalah sbb.

Modal Tn.H 20% x 18.000.000= 3.600.000

Setoran Tn.H 3.000.000

Bonus kepada anggota baru 600.000

Perhitungan pengurangan masing-masing modal pada sekutu lama

Tn.N 25% x 600.000 = 150.000

Tn.O 35% x 600.000 = 210.000

Tn.A 40% x 600.000 = 240.000

Jurnal untuk mencatat masuknya Tn.H

Kas 3.000.000

Modal Tn.N 150.000

Modal Tn.O 210.000

Modal Tn.A 240.000

Modal Tn.H 3.600.000

2.3.6. Pembentukan Goodwill untuk anggota baru

Apabila kelebihan 600.000 dari setoran modal Tn.H dianggap sebagai


goodwill,maka masing-masing modal anggota lama tidak berubah dan berikut
pencatatannya.

Kas 3.000.000

Goodwill 600.000

35
Modal Tn.H 3.600.000

2.3.7. Pembayaran kepada anggota yang mengundurkan diri dengan Jumlah yang
melampaui saldo modalnya

Pemberian Bonus

Tn.O,N dan E adalah anggota-anggota persekutuan yang mempunyai saldo modal


masing-masing 400.000. Perjanjian pembagian keuntungan di antara mereka
adalah berbanding sebagai berikut : 55%,25%,20%. Tn.E menyatakan
mengundurkan diri dan diterima baik oleh semua anggota. Para anggota setuju
untuk membayar kepada Tn.E sebesar 450.000. Kelebihan pembayaran kepada
Tn.E dianggap sbg bonus.

Jurnal untuk mencatat pengunduran diri Tn.E adalah sbb.

Modal E 400.000

Modal O 30.000

Modal N 20.000

Hutang Tn.E atau Kas 450.000

2.3.8. Pembentukan Goodwill

-Goodwill hanya untuk anggota yang keluar

Jurnal pembentukan Goodwill dan pengunduran diri Tn.E

Modal E 400.000

Goodwill 50.000

Hutang Tn.E atau Kas 450.000

-Goodwill untuk keseluruhan anggota

Jurnal yang dicacat oleh persekutuan untuk pembentukan goodwill adalah


sbb.

Goodwill 250.000

Modal E 50.000

Modal O 137.500

36
Modal N 62.500

Modal E 450.000

Hutang Tn.E atau Kas 450.000

2.3.9 Pembayaran kepada anggota yang mengundurkan diri dengan jumlah lebih rendah
dari saldo modalnya

Pemberian bonus

Selisih 50.000 dianggap sebagai bonus untuk anggota-anggota yang melanjutkan


usaha,berikut jurnal yang harus dicatat oleh persekutuan.

Modal E 400.000

Hutang Tn.E atau Kas 350.000

Modal O 30.000

Modal N 20.000

Pembentukan Goodwill

Jurnal yang diperlukan untuk mencatat pengunduran diri Tn.E

Modal E 400.000

Goodwill 50.000

Hutang Tn.E atau Kas 350.000

Ada kemungkinan pula untuk mengakui pengurangan goodwill persekutuan


bersama-sarna dengan penyelesaian keluarnya Tuan U. Selama pengurangan
sejumlah 50.000 itu merupakan 20%. Maka jumlah pengurangan goodwill
seluruhnya akan berjumlah :

100 x 50.000 = 250.000

20

Sehingga jurnal untuk mencatat pengunduran diri tuan E adalah :

Modal O 137.500

Modal N 62.500

37
Modal E 400.000

Goodwill 250.000

Hutang Tn.E atau Kas 350.000

PENYELESAIAN PENGUNDURAN DIRI SEORANG ANGGOTA

1. Bagian penyertaan anggota yang mengundurkan diri dijual kepada anggota yang
lain atau anggota yang baru.
2. Bagian penyertaannya dikembalikan dalarn bentuk uang tunai atau harta
kekayaan lainnya sesuai dengan perhitungan bagian penyertaannya.

PENYELESAIAN DENGAN ADANYA KEMATIAN SEORANG ANGGOTA

Para anggota persekutuan dapat rnengadakan penyelesaian (yang disetujui) atas


bagian penyertaan (modal) anggota yang mati sebagai berikut :

1. Dengan pembayaran dari harta persekutuan.


2. Dengan pembayaran oleh salah seorang anggota yang ada yang bersedia membeli
bagian penyertaan (modal) anggota yang mati.
3. Dengan pembayaran dari hasil asuransi. persekutuan dengan pembelian bagian
penyertaan anggota yang mati oleh anggota-anggota yang masih ada. Apabila
perusahaan diteruskan oleh anggota-anggota yang ada, kematian seorang anggota
berakibat pembubaran persekutuan semula dan suatu persekutuan yang baru
harus dibentuk.

PENYATUAN ATAU PELEBURAN SUATU PERSEKUTUAN KEDALAM


BENTUK SUATU PERSEROAN

Proses akuntansi selanjutnya bagi perseroan yang baru; tergantung apakah


perseroan akan rnelanjutkan buku persekutuan ataukah akan membuka buku-buku
yang baru sama sekali. Apabila buku-buku Persekutuan tetap dipertahankan, maka
pencatatan hendaknya menunjukkan adanya :

1. Perubahan nilai aktiva, hutang dan bagian penyertaan masing-masing anggota


sebelumnya kepada bentuk perseroan.
2. perubahan di dalam bentuk pemilikan.

Apabila membuka buku-buku baru maka pencatatan yang pertama harus


dilakukan adalah penyesuaian aktiva dan bagian penyertaan para anggota,
kemudian diikuti dengan pencatatan-pencatatan ;

1. Pemindahan aktiva dan hutang ke dalam perseroan.

38
2. Penerimaan saham-saham sebagai pembayaran terhadap kekayaan bersih yang
dipindahkan.
3. Pembagian saham kepada para anggota pemilik.

Contoh soal :

Tn.M dan Tn.E adalah anggota-anggota sebuah persekutuan yang pembagian


laba(rugi) dibagi sama rata,keduanya sepakat melebur persekutuannya menjadi
suatu perseroan dengan modal statutair 25 lembar saham biasa nominal @
1.000.000. Berikut posisi keuangan persekutuan sebelum diadakannya peleburan.

Sebelum melakukan peleburan keduanya setuju untuk melakukan peninjauan


kembali terhadap beberapa jenis aktiva,antara lain :

Piutang Dagang 5.500.000

Peralatan kantor 14.000.000

Perlengkapan kantor 3.000.000

Jurnal – jurnal yang diperlukan apabila perseroan melanjutkan buku –


buku persekutuan

 Penyesuaian rekening dan penilaian kembali aktiva

Akumulasi penyusutan peralatan kantor 1.000.000

39
Perlengkapan kantor 2.000.000

Cadangan kerugian piutang 1.000.000

Rekening penyesuaian modal 2.000.000

 Pembagian keuntungan (kerugian karena penilaian kembali)

Rekening penyesuaian modal 2.000.000

Modal M 1.000.000

Modal N 1.000.000

 Pengeluaran saham saham untuk Tn.M dam Tn.E

Modal M 9.000.000

Modal N 11.000.000

Modal Saham 20.000.000

Dengan demikian “Neraca Perseroan” yang baru akan menjadi,sbb:

Apabila perseroan membuka buku-buku baru tersendiri, maka jurnal-jurnal yang


diperlukan adalah :

 Pencatatan (jurnal) pada waktu persekutuan Tn.M dan N ditutup,sesudah


penilaian kembali (dalam buku lama) :

40
Piutang perseroan 20.000.000

Hutang Dagang 17.500.000

Cadangan kerugian piutang 1.500.000

Akumulasi penyusutan peralatan kantor 1.000.000

Kas 5.000.000

Piutang Dagang 7.000.000

Persediaan Barang Dagangan 10.000.000

Perlengkapan kantor 3.000.000

Peralatan kantor 15.000.000

 Pada waktu Tn.M dan Tn.E menerima saham – saham dari Perseroan (dalam
buku lama)

Modal M 9.000.000

Modal E 11.000.000

Piutang Perseroan 20.000.000

 Pencatatan pada waktu pemindahan aktiva dan hutang persekutuan Tn.M dan E
(dalam buku baru) :

Kas 5.000.000

Piutang Dagang 7.000.000

Persediaan barang dagangan 10.000.000

Perlengkapan kantor 3.000.000

Peralatan kantor 15.000.000

Hutang dagang 17.500.000

Hutang Tn.M dan Tn.E 20.000.000

Cadangan kerugian piutang 1.500.000

41
Akumulasi penyusutan peralatan kantor 1.000.000

 Pencatatan pada waktu perseroan mengeluarkan saham – saham untuk Tn.M dan
Tn.E

Hutang Tn.M dan Tn.E 20.000.000

Modal saham 20.000.000

42
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Berdasarkan konsep hukum perwakilan bersama (mutual agency) pada bentuk


usaha persekutuan maka tiap sekutu merupakan agen untuk seluruh kegiatan
persekutuan dengan kekuatan untuk mengikat sekutu lainnya melalui tindakannya
mewakili persekutuan. Implikasi dari perwakilan bersama ini menjadi signifikan
bila dihubungkan dengan sifat kewajiban tidak terbatas yang ada pada
persekutuan. Masing-masing sekutu bertanggung jawab atas seluruh utang
persekutuan dan, dalam hal persekutuan tidak mampu membayar, mungkin harus
menggunakan harta pribadi untuk membayar utang persekutuan yang disetujui
sekutu lainnya.
Disini kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
sempurna sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
penulisan makalah selanjutnya sangat kami harapkan.

43
Daftar Pustaka

Baker E,Richard.2014. Akuntasi Keuangan Lanjutan.Jakarta: Salemba Empat

44
45