Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH EKONOMI

Manajemen Laba

DOSEN/GURU PEMBIMBING :

LOGO

DISUSUN OLEH
NAMA : ISTAVITA UTAMA
NIM : 11210012
FAKULTAS/KELAS : XI

SMA AVICENNA
JOMBANG
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan Rahmat-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Ekonomi yang berjudul “Manajemen Laba”
ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun makalah ini dibuat oleh penulis guna
memenuhi tugas mata pelajaran Ekonomi

Dalam pembuatan makalah ini penulis mengucapkan terima kasih yang


sebesarnya pada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan sehingga makalah
ini dapat diselesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak. Saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan oleh penulis guna memperbaiki
makalah selanjutnya.

Jombang, 11 Juni 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manajemen laba sebagai suatu proses mengambil langkah yang disengaja dalam batas
prinsip akuntansi yang berterima umum baik didalam maupun diluar batas General
Accepted Accounting Principle (GAAP). Menurut Schipper (1989) Manajemen laba
adalah campur tangan dalam proses penyusunan pelaporan keuangan eksternal
dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan pribadi.

Selain itu dikemukakan juga oleh Healy & Wahlen (1999) bahwa Manajemen laba
terjadi apabila manajer menggunakan penilaian dalam pelaporan keuangan dan dalam
struktur transaksi untuk mengubah laporan keuangan guna menyesatkan pemegang
saham mengenai prestasi ekonomi perusahaan atau mempengaruhi akibat perjanjian
yang mempunyai kaitan dengan angka-angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian laba?
2. Apa itu kualitas laba?
3. Apa pengertian Manajemen laba?
4. Apa Motivasi manajemen laba?
5. Apa Tujuan manajemen laba?
6. Apa dampak dari manajemen laba?

C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui pengertian laba
2. Untuk mengetahui itu kualitas laba
3. Untuk mengetahui pengertian Manajemen laba
4. Apa Motivasi manajemen laba
5. Apa Tujuan manajemen laba
6. Untuk mengetahui dampak dari manajemen laba
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Laba
Pengertian laba dapat dibedakan menjadi dua, yakni pengertian secara ekonomi murni
maupun pengertian secara akutansi. Laba dalam ilmu ekonomi dapat diartikan sebagai
keuntungan yang didapat oleh seorang investor dalam suatu kegiatan bisnisnya. Hal ini
tentu sudah dikurangi dengan biaya operasional yang ada di suatu bisnis yang
dijalankan. Hal ini akan memberikan kemudahan dalam memahami laba atau yang
secara umum dikenal dengan kata keuntungan. Sementara itu, laba menurut ilmu
akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya yang
dikeluarkan pada saat produksi.

Berikut terdapat beberapa pengertian laba atau definisi laba yang disebutkan oleh para
ahli. Menurut Horngren (1997), bahwa laba merupakan kelebihan total pendapatan
dibandingkan total bebannya. Laba disebut juga pendapatan bersih atau net earnings.
Sedangkan menurut Hansen dan Mowen (2001), bahwa laba atau laba bersih
merupakan laba operasi dikurangi pajak, biaya bunga, biaya riset, dan pengembangan.
Laba bersih disajikan dalam laporan rugi-laba dengan menyandingkan antara
pendapatan dengan biaya.

B. Pengertian kualitas laba


Kualitas laba merupakan indikator dari kualitas informasi keuangan. Kualitas informasi
keuangan yang tinggi berasal dari tingginya kualitas pelaporan keuangan.

Bellovary et al. (2005) mendefinisikan kualitas laba sebagai kemampuan laba dalam
merefleksikan kebenaran laba perusahaan dan memmbantu memprediksi laba
mendatang, dengan mempertimbangkan stabilitas dan persistensi laba. Laba
mendatang merupakan indikator kemampuan membayar deviden masa mendatang.
Selama ini tidak ada ukuran yang pasti atau tepat untuk mengukur sebera- pa besar
kualitas laba dari suatu laporan keuangan, yang ada hanya merupakan pendekatan
yang digunakan untuk mem- proksi kualitas laba tersebut. Oleh karena itu ukuran laba
yang digunakan oleh peneliti yang satu bisa berbeda dengan yang lain. Berikut ini akan
diuraikan tentang berbagai ukuran kualitas laba yang digunakan oleh para peneliti.

Ukuran dan Kualitas Laba


Givoly et al. (2010) mengukur kualitas laba menggunakan Persistensi akrual. Kualitas
laba didasarkan pada per- bedaan relatif persistensi akrual terhadap arus kas.
Persistensi diukur dengan menggunakan regresi sebagai berikut:

Keterangan:
OI adalah pendapatan operasi (Operating Income) setelah dikurangi depresiasi,
CF adalah arus kas operasi (cash flow) yang dihitung dari OI diku-rangi ACCR.
ACCR (accrual component of earnings) dihitung dari perubahan NOA (net operating
asset) tahun t-1 terhadap t.
Nama perusahaan ditunjukkan oleh I dan t menunjukkan tahun.
Seluruh variabel distandarisasi oleh NOAt-1
Kkontribusi tambahan akrual ditentukan oleh besarnya signifikansi β2.

B. Manejemen Laba
Pengertian manajemen laba menurut Scott (2000) membagi pemahaman tentang
manajemen menjadi 2 sudut pandang. Yang pertama, melihatnya sebagai perilaku
oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitas dalam menghadapi kontrak uang,
kontrak kompensasi dan political cost (opportunistic earnings managemen).

Yang kedua, memandang manajemen laba dari prespektif (efficient Earning


Management). Aktivitas manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk
melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang
terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak.
Bentuk pengaturan laba menurut Scott yaitu:
1. Taking a bath
Disebut juga dengan big baths, teknik ini bisa terjadi saat tekanan reorganisasi,
misalnya penggantian direksi. Jika teknik ini dilakukan, maka seluruh biaya yang ada
pada peruide yang akan datang, diakui pada periode berjalan. Akibatnya, laba pada
periode di masa yang akan datang menjadi tinggi, meskipun kondisi tidak
menguntungkan.

2. Income minimization
Teknik ini adalah dengan meminimumkan laba, alasannya karena motif politik atau
motif meminimumkan pajak. Cara ini digunakan pada saat perusahaan memperoleh
profitabilitas tinggi, dengan tujuan supaya tidak mendapat perhatian secara politis.

3. Income maximization
Teknik ini adalah dengan cara memaksimalkan laba, tujuannya adalah untuk
memperoleh bonus yang lebih besar. Tindakan ini juga bisa dilakukan untuk
menghindari pelanggaran atas kontrak hutang jangka panjang (debt covenant).

4. Income smoothing
Teknik ini adalah dengan cara melaporkan trend pertumbuhan laba yang stabil,
daripada perubahan laba yang meningkat atau menurun secara drastis.

5. Timing Revenue dan Expenses Recognation


Teknik ini dilakukan dengan membuat kebijakan yang berkaitan dengan timing suatu
transaksi, contohnya: pengakuan premature atas pendapatan.

Manajemen laba dapat terjadi karena penyusunan statemen keuangan menggunakan


dasar akrual. Dengan menggunakan dasar akrual, transaksi atau peristiwa lain diakui
pada saat transaksi atau peristiwa lain tersebut terjadi bukan pada saat kas atau setara
kas diterima atau dikeluarkan. Sebagai konsekuensi penggunaan dasar akrual ini,
dalam statemen keuangan, laba dalam suatu perioda dapat mengandung unsur kas
dan akrual (non kas).

Unsur akrual dapat terjadi berdasarkan kebijakan manajemen (discretionary accruals)


atau non-kebijakan manajemen (nondiscretionary accruals). Peningkatan penjualan
secara kredit seiring dengan pertumbuhan perusahaan (tanpa perubahan kebijakan)
dapat merupakan contoh nondiscretionary accruals, sedangkan perubahan biaya
kerugian piutang yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi yang dilakukan
oleh manajemen dalam penentuan biaya kerugian piutang dapat dijadikan contoh
discretionary accruals. Dasar akrual ini mempunyai implikasi bahwa laba akuntansi
antara lain ditentukanoleh besaran akrual baik yang discretionary maupun
nondiscretionary.

C. Motivasi Manajemen Laba


Menurut Scout (2003), motivasi manajemen melakukan tindakan pengaturan laba
diantaranya:

1. Rencana Bonus (bonus scheme)


Manajer perusahaan yang ingin mendapatkan bonus akan menghindari metode
akuntansi yang melaporkan net income rendah. Manajer menggunakan laba akuntansi
untuk menentukan besarnya bonus, cenderung akan memilih kebijakan akuntansi yang
dapat memaksimumkan laba. Dalam rencana bonus, ada istilah bogey dan cap.

Pengertian bogey adalah tingkat laba minimun untuk memperoleh bonus. Sedangkan
pengertian cap adalah tingkat laba maksimum untuk mendapatkan bonus.

Jika laba di posisi atas cap, ada tidaknya bonus tergantung pada kontrak yang
dilakukan antara pihak manajer dan pemegang saham. Manajemen laba bisa dilakukan
dengan cara menggeser laba ke periode berikutnya.
Jika laba berada di bawah bogey maka manajer akan mengurangi laba bersih. Dengan
demikian kemungkinan untuk mendapat bonus di periode berikutnya akan
meningkatkan.

2. Kontrak utang jangka panjang (Debt Covenant)


Pengertian hutang jangka panjang adalah perjanjuan untuk melindungi pemberi
pinajaman dari tindakan manajer terhadap kepentingan kreditur, misalnya dividen,
pinjaman tambahan atau memberikan modal kerja dan kekayaan pemilik berada
dibawah tingkat yang telah ditentukan.

3. Motivasi Politis (political motivation)


Aspek politis pada perusahaan bisa saja terjadi, misalnya perusahaan yang
berkecimpung di bidang penyediaan fasilitas bagi kepentingan publik, seperti
telekomunikasi, air, listrik dan infrastruktur, secara politis akan mendapat perhatian dari
masyarakat dan pemerintah.

Perusahaan di bidang ini cenderung akan menurunkan laba untuk mengurangi


visibilitasnya, supaya mendapat kemudahan dan fasilitas dari pemerintah seperti
subsidi.

4. Motivasi Perpajakan (taxation motivation)


Motivasi perpajakan adalah motivasi yang dilakukan perusahaan untuk mengurangi
laba bersih yang dilaporkan. Dengan jumlah laba yang sedikit, maka akan
meminimalkan besarnya pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah. Misalnya
dengan merubah metode pencatatan persediaan menjadi LIFO supaya laba bersih
yang dihasilkan rendah.

5. Pergantian Direksi
Bagi direksi yang mendekati masa akhir penugasan/pensiun akan berusaha
memaksimalkan laba untuk meningkatkan bonus. Sebaliknya, direksi yang kurang
berhasil memperbaiki kinerja perusahaan akan memaksimalkan laba untuk
membatalkan atau mencegah pemecatannya.

6. Penawaran Perdana (initial public offering)


Ketika suatu perusahaan dinyatakan go public, informasi keuangan yang ada di dalam
persuahaan merupakan sumber informasi penting. Informasi ini dapat digunakan untuk
menilai perusahaan oleh calon investor. Untuk mempengaruhi calon investor, manajer
akan berusaha menaikkan laba yang dilaporkan.

D. Tujuan Manajemen Laba


Tujuan manajemen laba diantaranya:
1. Dalam rangka mendapatkan bonus berbasis laba.
2. Untuk menghindari pelanggaran kontrak utang
3. Menghindari biaya politis (political cost).
4. Mengkomunikasikan informasi privat secara efesien.

Manajemen laba dilakukan dengan tujuan tertentu. Misalnya, manajemen laba yang
dilakukan dengan menggunakan akrual yang menaikan laba untuk tujuan mendapatkan
harga saham yang relatif tinggi pada waktu penerbitan saham. Hasil penelitian bahwa
terdapat manajemen laba dalam statemen keuangan perusahaan sebagai go public
dengan menggunakan akrual yang menaikan laba.

Manajemen laba dapat juga dilakukan dengan tujuan mendapatkan keuntungan terkait
dengan kepemilikan saham manajemen. Hal ini dapat dilakukan, misalnya, dalam
rangka program opsi saham karyawan. Dalam program ini, harga pengambilan opsi
biasanya ditentukan pada saat penawaran program. Hal ini mendorong menajemen
untuk melakukan manajemen laba sebelum tanggal hibah opsi yaitu penurunkan laba
agar supaya mempengaruhi harga saham dan dengan demikian manajemen dapat
menerima opsi pada waktu harga saham relatif rendah.
E. Dampak Manajemen Laba
Manajemen laba mempunyai dampak pada kebermanfaatan informasi laba dalam
pengambilan keputusan. Perusahaan yang menggunakan kebijakan akuntansi agresif
(positive discretionary accruals) mempunyai biaya modal lebih tinggi dibandingkan
dengan perusahaan yang menerapkan kebijakan akuntansi konservatif (negative
discretionary accruals).

Manajemen laba dapat sinkron dengan kebermanfaatan informasi laba dalam


pengambilan keputusan tetapi dapat juga tidak. Oleh sebab itu, diperlukan berbagai
alternatif solusi atas masalah yang timbul akibat manajemen laba yang dapat tidak
sesuai dengan kebermanfaatan laba dalam pengambilan keputusan, dan solusi
tersebut tidak menimbulkan masalah baru.

Salah satu alternatif adalah pemberlakuan standar akuntansi yang lebih ketat tetapi
masih memberi peluang bagi manajemen dalam melakukan pemilihan kebijakan
akuntansi dalam batas wajar untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, misalnya untuk
mengkomunikasikan informasi privat yang dapat meningkatkan keinformasian laba,
atau untuk tujuan efficient contracting berbasis laba. Standar akuntansi yang lebih ketat
dapat meningkatkan kualitas laba, tetapi perlu diperhatikan bahwa standar akuntansi
yang lebih atau terlalu ketat dapat meningkatkan manajemen laba total (manajemen
laba akuntansi dan manajemen laba real) serta meningkatkan biaya manajemen laba.

Di samping itu, untuk mencegah manajemen laba yang berlebihan, penerapan good
corporate governance (GCG) diperlukan. Struktur corporate governance yang baik
dapat mengurangi manajemen laba. Lee et al. (2007) menemukan bahwa manajemen
laba berhubungan positif dengan keter¬kaitan organisasional (manajemen laba
cenderung terjadi pada perusahaan dengan keterkaitan organisasional tinggi).
Manajemen laba tersebut berkurang pada perusahaan dengan keterkaitan
organisasional tinggi yang disertai proporsi direksi eksternal yang besar dan
kepemilikan ekuitas institusional yang tinggi (struktur corporate governance relatif baik).
Penerapan GCG memungkinkan keputusan-keputusan operasional yang relatif baik,
misalnya pemilihan auditor sesuai dengan spesialisasi auditor dalam industri yang
diaudit. Balsam et al. (2003) menemukan bahwa perusahaan yang diaudit oleh auditor
spesialis industri mempunyai discretionary accruals lebih rendah dan koefisien respon
laba lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang diaudit oleh auditor non-
spesialis. Temuan ini menunjukkan bahwa kompetensi auditor yang tinggi dalam
industri yang diaudit dapat mengurangi manajemen laba (meningkatkan kualitas laba)
dan menambah manfaat informasi laba.

Perluasan pengungkapan merupakan alternatif untuk mencegah atau mengurangi


manajemen laba berlebihan. Sebagai contoh, kewajiban pengungkapan tentang
dampak pemilihan kebijakan akuntansi yang menaikkan atau menurunkan laba,
misalnya dampak untung penghentian aset, biaya kerugian piutang, atau rugi
penghentian asset.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
manajemen laba menurut Scott (2000) membagi pemahaman tentang manajemen
menjadi 2 sudut pandang. Yang pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik
manajer untuk memaksimumkan utilitas dalam menghadapi kontrak uang, kontrak
kompensasi dan political cost (opportunistic earnings managemen).

Yang kedua, memandang manajemen laba dari prespektif (efficient Earning


Management). Aktivitas manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk
melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang
terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak.

Tujuan Manajemen Laba adalah untuk mendapatkan bonus berbasis laba, menghindari
pelanggaran kontrak utang, Menghindari biaya politis (political cost),
Mengkomunikasikan informasi privat secara efesien dll

Manajemen laba mempunyai dampak pada kebermanfaatan informasi laba dalam


pengambilan keputusan
DAFTAR PUSTAKA

Ansar Zainuddin.2017.Manejemen Laba. https://www.kumpulanmakalah.com/. Diakses


pada: Rabu, 30 Mei 2018

Istavita.2018. Makalah Manajemen Laba. https://underpapers.blogspot.com. Diakses


pada: Rabu, 30 Mei 2018

Eetkimiko. 2013. Manajemen Laba.


https://mikoedoankz.wordpress.com/2013/11/14/manajemen-laba/. Diakses pada: Rabu,
30 Mei 2018

Adzikra Ibrahim. 2018. Pengertian Laba : Definisi Ahli dan Unsur – Unsur Laba.
http://pengertiandefinisi.com/pengertian-laba-definisi-ahli-dan-unsur-unsur-laba/.
Diakses pada: Rabu, 30 Mei 2018

Mithaaryani. 2017. Apa yang dimaksud dengan kualitas laba atau quality of earnings.
https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-kualitas-laba-atau-quality-of-
earnings/3691/2. Diakses pada: Rabu, 30 Mei 2018

Sandy Makruf. 2018. “Manajemen Laba” Pengertian, Bentuk dan Motivasi.


http://www.akuntansilengkap.com/manajemen/manajemen-laba-pengertian-bentuk-dan-
motivasi/. Diakses pada: Rabu, 30 Mei 2018