Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS KIMIA FARMASI


“ANALISIS GOLONGAN ANALGETIK DAN ANTIPIRETIK”

OLEH:
STIFA A 2016
Kelompok : II dan VII

ASISTEN: ANGGREANI RAHIM,S.Farm

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI
MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Dalam bidang farmasi khususnya kimia farmasi sering dilakukan
analisis sediaan farmasi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis
kualitatif seperti identifikasi organoleptik, sedangkan analisa kuantitatif
digunakan untuk menentukan kadar suatu senyawa.
Pada percobaan ini akan dianalisis senyawa antipiretik dan
analgetik yaitu dari tablet paracetamol, asetosal, ibu profen dan natrium
diklofenat. secara kuantitatif yakni dengan menggunakan metode yang
disebut dengan metode nitrimetri, asidimetri, alkalimetri dan TBA.
Obat analgesik atau penghilang rasa nyeri atau menghalang rasa
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Nyeri adalah perasaan sensoris
dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan dengan kerusakan jaringan
Sedangkan untuk antipiretik, zat yang digunakan untuk menurunkan suhu
tubuh (demam).
Analgesik antipiretik serta obat anti-inflamasi non steroid atau non
steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) merupakan salah satu kelompok
obat yang banyak diresepkan dan juga digunakan tanpa resep dokter.
Oleh sebab itu Analisis senyawa ini dianggap penting sebagaimana
diketahui senyawa ini merupakan zat aktif yang dapat digunakan sebagai
analgetik atau penghilang rasa nyeri dan antipiretik atau penurun panas
atau demam, sehingga dapat diketahui bagaimana sifat dari senyawa ini
seperti kemurniaanya.
I.2. Maksud dan tujuan percobaan
I.2.1. Maksud percobaan
Dapat mengetahui dan memahami bagaimana cara menganalisis
obat paracetamol, asetosal, ibu profen dengan suatu metode.
I.2.2. Tujuan percobaan
Untuk menentukan penentuan kadar paracetamol, asetosal dan
ibu profen dengan metode nitrimetri, asidimetri, alkalimetri dan TBA pada
sediaan obat.
I.3 Prinsip Percobaan
Prinsip dari percobaan ini yaitu dilakukan preparasi sampel
asetosal/aspirin, ibuprofen dan paracetamol, untuk sampel paracetamol
dilakukan dengan metode nitrimetri yang prinsipnya dilakukan pada suhu
tidak lebih dari 25°C agar senyawa tidak terurai, untuk sampel asetosal
dan ibuprofen dilakukan dengan metode titrasi asam basa dengan
penambahan asam ataupun basa membentuk reaksi netralisasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Secara umum,Analgetik adalah zat atau senyawa yang dapat
menghilangkan rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran (berbeda
dengan anestesik), beberapa analgetik juga mempunyai efek antipiretik.
Rasa nyeri umumnya merupakan gejala yang berfungsimelindungi dan
memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan – gangguan dalam
tubuh misalnya peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri
timbul karena adanya rangsangan – rangsangan mekanis atau kimiawi
yang dapat menimbulkan kerusakan – kerusakan pada jaringan dan
melepaskan zat – zat tertentu (Ibnu gholib dan Adul rahman, 2007).
Aspirin merupakan obat analgetik, antipiretik dan antinflamasi yang
sangat luas penggunaannya. Dalam dosis rendah, aspirin digunakan
sebagai zat anti trombosis untuk mencegah agregasi platelet melalui
penghambatan enzim siklooksigenase. Aspirin diadsorbsi secara cepat
disaluran pencernaan bagian atas, terutama dibagian pertama duodenum.
Setelah pemberiaan secara oral, aspirin terhidrolisis secara cepat dalam
tubuh menghasilkan asam salisilat sebagai metabolit utama
(Siswanto,2016).
Berikut adalah metode-metode analisis yang digunakan untuk
analisis asetosal yaitu:
1. Metode asidi-alkalimetri
Asetosal dapat dititrasi secara langsung dengan menggunakan baku-
basa, seperti natrium hidroksida. Senyawa ini sudh terhidrolisis,
karenanya berlebihan basa selama titrasi harus dihindari. Kerugiaan
metode ini pada penetapan kadar ester (asetosal) adalah tidak dapat
membedakan antara esternya dan asam bebas yang mungkin terbentuk
karena hidrolisis ester. Cara penetapan kadar asetosal secara titrasi
langsung dengan NaOH (Sudjadi, 2015).
Asetosal dapat terhidrolisis di bawah pendingin balik dengan natrium
hidroksida-etanolik 0,5 N selama 90 menit. Kelebihan alkali dititrasi
dengan baku asam seperti HCl atau H2SO4 dilakukan juga titrasi blanko.
Pada penetapan asetosal dengan cara diatas, volume natrium hidroksida
yang pertama tidak diperhitungkan jumlah asetosal yang terdapat dalam
sampel sesuai dengan jumlah natrium hidroksida yang digunakan untuk
hidrolis (Sudjadi, 2015).
Adapun cara lain untuk menganalisis asam asetilsalisilat yaitu
dengan cara penyabunan menjadi asam salisilat (titik leleh). Setelah
terjadi pengesteran asam asetat dengan etanol maka akan terjadi bau
etilasetat. Asam salisilat bebas sebagai pencemar atau asam salisilat
yang terbentuk melalui hidrolisis dapat ditunjukkan dengan besi (III) klorida
(pewarnaan violet karena pembentukan kompleks khelat) (Donal cairms,
2008).
Asam etil asetat senyawa berupa kristal tidak berwarna , yang
sedikit larut dalam air, sebaliknya mudah larut dalam pelarut organik polar
seperti etanol, dengan harga pKa 3,8 asam asetil asetat dibandingkan
dengan asam asam salisilat pKa 3,0 merupakan asam yang lebih lemah,
pada pelarutan dengan penambahan basa akan terjadi hidrolisis yang
cepat atau lambat menjadi salisilat dan asetat tanpa tergantung pada
konsentrasi ion OH- (Dr.jooke dan Dr sriewoelan,1990).
Paracetamol adalah salah satu obat analgesik antipiretik yang
sangat populer. Paracetamol dapat tersedia dalam berbagai macam
sediaan seperti tablet, kapsul, sirup, eliksir, suspensi dan suppositoria.
Paracetamol umumnya diberikan dalam bentuktablet yang mengandung
500 mg bahan aktif. Paracetamol juga sering dikombinasikan dengan
bahan obat lain dalam satu formulasi. Paracetamol dapat ditentukan
kadarnya dengan cara titrimetri metode diazotasi, spektrofotometri baik
UV maupun visibel dan dengan teknik berdasar kromatografi (Sudjadi dan
abdul rahman,1980).
Adapun metode – metode titrimetri sebagai berikut :
1. Asidi – alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yaitu reaksi antara ion
hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal
dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral.
2. Titrasi bebas air (TBA) merupakan posedur titrimetri yang paling
umum digunakan untuk uji – uji dalam farmakope.
3. Titrasi redoks berdasarkan pada perpindahan elektron antara titran
dengan analit, jenis titrasi ini biasanya digunakan potensiometri untuk
menentukan titik akhir titrasi.
4. Titrasi diazotasi ini sangat sederhana dan sangat berguna untuk
menetapkan kadar senyawa – senyawa antibiotik sulfonamida dan
juga senyawa – senyawa anestetika lokal golongan asam amin
benzoat (Ibnu gholib dan abdul rahman,2007).
Asam asetil salisilat atau asetosal merupakan senyawa yang khasiat
sebagai analgesik, antipiretik dan anti inflamasi pada penggunaan dosis
besar. Asetosal termasuk produk over the counter (OTC) yang dapat
diperoleh tanpa resep dokter dan telah digunakan secara luas di
masyarakat. Asetosal bukan lagi merupakan pilihan utama dikarenakan
yang dapat mengiritasi lambung (Sweetman,2002).
Penggunaan analgetik antipiretik yang tidak tepat dapat
menyebabkan perdarahan, iritasi lambung dan keadaan yang lebih parah
world health organization tahun 2011, merekomendasikan obat pilihan
pertama untuk demam adalah parasetamol. Tidak dianjurkan penggunaan
aspirin pada anak diduga berhubungan dengan Reye’s syndrom.
(WHO,2011).

II.2 Uraian Bahan


1. Aquadest (irjen POM, 1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air suling
Rumus Molekul : H2O
Bobot Massa : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup.
2. Asetosal (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : ACIDUM ACETYLSALICYLICUM
Nama Lain : Asetosal
Rumus Molekul : C9H0O4
Bobot Massa : 180, 16
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk
hablur putih. Tidak berbau atau hampir
tidak berbau, rasa asam.
Kelarutan : Agak sukar larut dalam air, mudah larut
dalam etanol (95%) p, larut dalam
kloroform p dan dalam eter p.
Kegunaan : Sebagai sampel
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
3. Natrium hidroksida (Dierjen POM, 1979)
Nama Resmi : NATRII HYDROXYDUM
Nama Lain : Natrium hidroksida
Rumus Molekul : NaOH
Bobot Massa : 40,00
Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur
atau keping, kering, keras, rapuh dan
menunjukkan susunan hablur, putih
mudah meleleh basah, sangat alkalis,
dan korosif.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam
etanol
Kegunaan : Pelarut.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
4. Asam Klorida (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM
Nama Lain : Asam Klorida
Rumus Molekul : HCl
Bobot Massa : 36,46
Pemerian : Cairan, tidak berwarna, berasap, bau
merangsang. Jika diencerkan dengan 2
bagian air, asap dan bau hilang.
Kegunaan : Sebagai penitrasi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
5. Besi (III) klorida (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : FERRI CHLORIDUM
Nama Lain : Besi (III) klorida
Rumus Molekul : FeCl3
Bobot Massa : 162,5
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur, hitam
kehijauan, bebas warna jingga dari
garam hidrat yang telah berpengaruh
oleh kelembapan.
Kelarutan : Larut dalam air, larutan berpotensi
berwarna jingga.
Kegunaan : Penitrasi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
6. Indikator PP (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : FENOLFTALEIN
Nama Lain : Indikator PP
Rumus Molekul : C20H14O4
Bobot Massa : 318,33
Pemerian : Serbuk hablur putih atau putih
kekuningan, tidak berbau, satbil di
udara.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam
etanol
Kegunaan : Sebagai indikator
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
7. Kalium dikromat (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : KALII DICROMAT
Nama Lain : Kalium dikromat
Rumus Molekul : K2Cr2O7
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur, merah
jingga.
Kelarutan : Mudah larut dalam air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
8. Aseton (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : ACETUM
Nama Lain : Aseton
Rumus Molekul : C3H60
Bobot Massa : 58,00
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, mudah
menguap, bau khas, mudah terbakar.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, etanol
: (95%), ester, kloroform, membentuk
larutan jenuh
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
9. Ibu profen (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : IBU PROFEN
Nama Lain : Ibu profen
Rumus Molekul : C13H18O2
Bobot Massa : 206,3
Pemerian : Putih atau hampir putih, serbuk kristal
atau kristal berwarna.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam
aseton, sangat mudah larut dalam
etanol, metil alkohol, sedikit larut dalam
etil asetat.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
10. Metilen blue (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : METHYLTHIONINI CHLORIDUM
Nama Lain : Biru metilen
Rumus Molekul : C16H18CIN3S. 3H2O
Bobot Massa : 373,90
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur hijau tua,
berkilauan seperti perunggu, tidak
berbau atau praktis tidak berbau.
Kelarutan : Larut dalam air dan larut dalam
kloroform, agak sukar larut dalam
etanol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
11. Natrium nitrit (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : NATRII NITRIT
Nama Lain : Natrium nitrit
Rumus Molekul : NaNo2
Pemerian : Hablur atau granul, tidak berwarna, putih
atau kuning
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air, sukar larut
dalam etanol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
12. Tropeolin OO
Nama Resmi : 4-(4-PHENYLAMINO)PHENYLAZO
Nama Lain : Tropeolin OO
Rumus Molekul : C10H14N3NaO2S
Bobot Massa : 375,38
Pemerian : Serbuk coklat kekuningan
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Kegunaan : Sebagai indikator
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
13. Paracetamol (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : ACETAMINOPHENUM
Nama lain : Paracetamol
Rumus molekul : C3H9NO2
Bobot molekul : 151,16
Pemeriaan : Hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau,
rasa pahit
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian
etanol (95%) p, dalam 3 bagian aseton p,
dalam 40 bagian gliserol p, dan dalam 9
bagian propilenglikol p, larut dalam larutan
alkali hidroksida.
Khasiat : Analgetik, antipiretik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari
cahaya.
BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini alu, batang
pengaduk, erlenmeyer, gelas ukur, hot plate, klem, lumpang, pipet tetes,
statif, timbangan, tabung reaksi, dan termometer.
III.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu asam klorida
(HCl), aquadest (H2O), asetosal, asam asetat glasial,asam perklorat,
aseton, besi (III) klorida (Fecl3), etanol, ibuprofen, indikator Kristal violet,
indikator PP, kertas kanji, kalium dikromat (K2Cr2O7), kalium bromat
(KBrO3), kalium iodidia (KI), Lieberman, MB, natrium nitrit (NaNO 2),
natrium hikroksida (NaOH), natrium tiosulfat dan TOO.
III.2 Cara Kerja
A. Metode Nitrimetri
1. Uji Kuantitatif
 Disiapkan alat dan bahan
 Ditimbang seksama paracetamol tablet yang setara dengan 250
mg paracetamol dan dimasukan kedalam erlenmeyer
 Ditambahkan 30 mL HCL 0,1 N
 Direfluks selama 30 menit, kemudian didinginkan
 Ditambahkan masing- masing 10 mL aquadest, dan HCL pekat
 Dikocok lalu didinginkan sampai 15℃
 Ditetesi TOO : MB dengan perbandingan 5:3
 Dititrasi dengan NaNO2
 Dihitung persen kadar, saat terjadi TAT yaitu berwarna biru saat
digoreskan pada pasta kanji iodida.
2. Uji kualitatif
a. Uji kelarutan
 Sampel sebanyak 0,5 gram masing-masing dimasukkan
kedalam 4 tabung reaksi yang berbeda
 Kedalam masing-masing tabung reaksi ditambahkan aquadest
sebanyak 35 ml, aseton 3,5 ml, etanol 6 ml, dan NaOH 3 ml
 Diamati kelarutannya.
b. Uji warna
1. Fecl3
 Dimasukkan sampel sebanyak 100 mg kedalam tabung reaksi
 Ditambahkan aquadest dan 0,5 ml Fecl3
 Diamati perubahan warna (+) biru
2. Lieberman
 Dimasukkan sampel sebanyak 100 mg kedalam tabung reaksi
 Ditambahkan 2-3 tetes Lieberman
 Diamati perubahan warna (+) ungu
3. kalium diklofenak (K2Cr207)
 Dimasukkan sampel sebanyak 100 mg kedalam tabung reaksi
 Ditambahkan 1 ml HCl
 Dipanaskan selama 3 menit
 Ditambahkan 10 ml aquadest, kemudian didinginkan
 Ditambahkan K2Cr207 0,02 Nsebanyak 0,5 ml
 Diamati perubahan warna (+) ungu
B. Metode Bromometri
 Ditimbang seksama sampel sirup paracetamol yang setara dengan
100 mg paracetamol
 Ditambahkan 50 ml H2O
 Diambil larutan sebanyak 3 ml, lalu ditambahkan KBrO3 1 N
sebanyak 5 ml dan KBr 0,1 N sebanyak 500 mg
 Ditambahkan HCl pekat 10 tetes
 Didiamkan selama 15 menit ditempat yang gelap
 Ditambahkan KI sebanyak 500 mg
 Dititrasi dengan natrium tiosulfat 0,1 hingga warna coklat
 Ditambahkan indikator kanji, hingga terbentuk warna biru/ungu
 Dititrasi kembali sebanyak 2 tetes titran
 Dihitung persen kadar saat terjadi TAT,warna biru hilang.
C. Metode Alkalimetri
 Ditimbang seksama sampel yang setara dengan 100 mg ibuprofen,
kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer
 Ditambahkan 2-3 indikator PP
 Dititrasi dengan NaOH
 Dihitung persen kadar saat terjadi TAT
D. Metode Asidimetri
 Ditimbang seksama sampel yang setara dengan 500 mg asetosal,
kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer
 Ditambahkan 2-3 indikator PP
 Dititrasi dengan HCl
 Dihitung persen kadar saat terjadi TAT
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan

A. Analisis Kualitatif
1. Pemerian Sampel :
- Bentuk : Serbuk
- Warna : Kuning
- Bau / Rasa : -
2. Identifikasi
Langkah Identifikasi Data Hasil Pengamatan
 Syrup PCT + FeCl3  (+) Biru Violet
 PCT + Aquadest + FeCl3  (+) Biru
 PCT + HCl + H2 O + Kalium  (-) Jingga
Dikromat
 PCT + Pereaksi Lieberman  (-) Tidak Berwarna
Bouchard
 Ibuprofen + NaOH + FeCl3  (+) Violet Tua
B. Analisis Kuantitatif
Data Volume Perubahan
Sampel Metode Kadar
Penimbangan Titrasi Warna

99,08 Tak
Asetosal 1420 mg 11 ml Asidimetri
% Berwarna
Merah
Ibuprofen 200 mg 9 ml Alkalimetri 18%
Muda
Tab. PCT 263 mg 18 ml Diazotasi 109% Biru
Perhitungan
1. Asetosal
Dik : Volume titran : 11 ml
Normalitas : 0,5 N
Bobot setara : 45,04
Bobot sampel : 500 mg
Fk : 0,5
Dit : % kadar?
v.titran x N x Bst
Penyelesaian : % kadar : x 100%
Bobot sampel x fk
11 ml x 0,5 N x 45,04
: x 100%
500 mg x 0,5

: 99,08%.
2. Ibuprofen
Dik : Volume titran : 9 ml
Normalitas : 0,1 N
Bobot setara : 21,5
Bobot sampel : 200 mg
Fk : 0,1
Dit : % kadar?
v.titran x N x Bst
Penyelesaian : % kadar : x 100%
Bobot sampel x fk
9 ml x 0,1 N x 21,5
: x 100%
200 mg x 0,1

: 18%.
3. Paracetamol
Dik : Volume titran : 18 ml
Normalitas : 0,1 N
Bobot setara : 20
Bobot sampel : 263 mg
Fk : 0,1
Dit : % kadar?
v.titran x N x Bst
Penyelesaian : % kadar : x 100%
Bobot sampel x fk
18 ml x 0,1 N x 20
: x 100%
263 mg x 0,1

: 109%.
Reaksi
1. Asetosal/aspirin

2. Ibuprofen
3. Paracetamol
IV.2 Pembahasan
Analgetik merupakan obat yang mampu mengurangi rasa sakit
dengan meningkatkan batas ambang rasa sakit. Analsik digolongankan
menjadi dua kelompok besar yakni :
1. Analsik non narkotika
2. Anlgesik narkotika
Antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan demam ( suhu
tubuh yang tinggi ) karena alas an inilah, maka analisis analgesic dan
antipiretik dijadikan satu (Sudjadi, 2015).
Analgesik antipiretik dapat dikelompokkan sebagai turunan struktur
asam salisilat seperti asetosal, turunan amiofenol seperti paracetamol,
turunan asam fenamat seperti asam mefenamat, dan turunan aksisam
seperti piroksisam dan melaksikam (Ganjar, 2003).
Pada percobaan ini yaitu sampel Aspilet yang menagandung
asetosal atau aspirin. Aspirin adalah asam organic lemah yang unit
diantara obat-obat AINS dalam asetilisasi (Inaktetivasi) siklo-oksigenase
irreversible (Ganiswara, 1995).
Pada percobaan ini dilakukan uji kualitatif, pada uji kualitatif sampel
aspirin ditambahkan NaOH dan FeCl3 . Hasil yang diperoleh yaitu positif
berwarna biru violet. Hasil ini dikatakan positif karena telah sesuai dengan
farmakope Indonesia jilid III.
Pada uji kuantitatif digunakan metode alkalimetri yang dititran
dengan HCl 0.5 N. hasil yang diperoleh positif dengan penambahan
indikator PP. larutan berwarna merah muda (pink) dan ketika dititrasi
dengan HCl 0,5 N, warna merah muda berubah menjadi tidak berwarna.
Dan pada uji kuantitatif didapatkan % kadar 99,08 %, hal ini telah sesuai
dengan literature, dimana menurut farmakope indonesi edisi III kadar air
aspirin atau asetosal tidak melebihi dari 99,50 %, dapat diketahui bahwa
hasil yang didapatkan positif (Dirjen POM, 1979).
Pada uji kualitatif digunakan/ditambahkan FeCl3 yang berfungsi
memberikan warna ungu pada hasil akhirnya nanti. Sedangkan
penambhana NaOH berfungsi agar dapat menetralkan sampel karena
sampel bersifat asam lemah. Oleh karena itu digunakan NaOH untuk
membentuk garam yang akan bereaksi, garam yang terbentuk yaitu
CH3 COONa.
Pada uji kualitatif, digunakan juga NaOH sebagai pereaksi yang
berfungsi untuk menetralkan gugus karboksil dari asetosal, asam salisilat
dan natrium asetat. Selain itu dilakukan pemanasan pada suhu 15°C -
20°C dan pada pendinginan, larutan harus dijaga terhadap CO2 dan udara.
Sebab larutan panas NaOH cepat menyerap panas dari karbon dioksida
diudara yang berasal dari udara membentuk natrium karbonat yang
menyebabkan terjadinya perubhan warna indikator sebelum titik ekuivalen
tercapai.
Selain itu, digunakan juga indikator PP yang bertujuan untuk
mengurangi kemungkinan terurainya asetosal pada suasana basa akan
memberikan warna pink pada larutan dan suasana asam larutan menjadi
tidak berwarna. Setelah itu dititrasi dengan HCl karena penetapan
kadarnya menggunakan metode alkalimetri yang digunakan asam kuat
atau HCl.
Alasannya digunakan metode alkalimetri karena asetosal atau
aspirin bersifat asam dan untuk menetralkannya maka dibutuhkan larutan
basa, oleh karena itu digunkan alkalimeri dengan menggunkan larutan
standar basa dengan titrasinya yaitu HCl.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu pada sampel
paracetamol yang menggunakan metode nitrimetri diperoleh kadar 109%,
pada sampel asetosal yang menggunakan metode asidimetri diperoleh
kadar 99,08% dan pada sampel ibu profen dengan menggunakan metode
alkalimetri diperoleh kadar 18%.
V.2 Saran
V.2.1 Saran untuk Laboratorium
Sebaiknya alat dan bahan dapat dilengkapi agar praktikum dapat
berjalan sesuai dengan prosedur.
V.2.2 Saran untuk Dosen
Semoga kedepannya ibu dapat mempertahankan sikapnya yaitu
dengan selalu datang mengawasi praktikan dan datang tepat waktu.
V.2.3 Saran untuk Asisten
Sebaiknya seluruh asisten dapat mengawasi praktikan sampai
praktikum selesai.
DAFTAR PUSTAKA
Cairms, Donald. 2004. Intisari Kimia Farmasi. EGC : Jakarta

Dirjen, POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III . DEPKES RI : Jakarta

Dirjen, POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. DEPKES RI : Jakarta

Gandjar, Ibnu Gholib. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar


Yogyakarta

Siswanto, Agus. 2016. Validasi Metode HPLC Untuk Penetapan Aspirin


dan Asam Salisilat Dalam Plasma Kelinci Secara Stimulansi.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Sudjadi. 2015. Analisis Farmasi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Sweetman C.S, Martindale The Complete Drug Reference, 33th edition,


pharmaceutical Press, London, UK, 2002,p. 14-18

Watimena, Joke R, dkk. 1950. Senyawa Obat Edisi II. Gadja Mada
University Press : Yogyakarta

WHO, 2011, Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of


Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever, P. 18-24, Reviced
and Expanded Edition, India, World Health Organization