Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

APLIKASI FAMILY CENTER CARE DI RUANG RAWAT KRONIS

Disusun oleh :

DINI SURYANI 1721312038


NURHAIDA 1721312072
RAHMATIKA AMMELDA 1721312006

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Stres hospitalisasi pada anak dapat berdampak pada orang tua. Pemberdayaan
orang tua merupakan aspek penting dalam asuhan untuk menurunkan stress
hospitalisasi. Seorang anak yang terdiagnosis kanker akan menjalani beberapa
prosedur tindakan yang lama dan menyakitkan. Selama proses hospitalisasi akibat
kanker anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian atau tindakan
penanganan yang menurut berbagai penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang
sangat traumatik dan penuh dengan stress (Cannon, S. 2011).
Permasalahan psikologis yang dialami oleh anak yaitu shock, stres, ketakutan,
marah dan depresi. Anak yang mengalami stres selama dalam masa perawatan, dapat
membuat orang tua menjadi stres dan stres orang tua akan membuat tingkat stres anak
semakin meningkat Reaksi stress hospitalisasi orang tua dipengaruhi oleh keseriusan
penyakit, pengalaman hospitalisasi, sumber pendukung (Wong, 2009)
Jumlah anak-anak dengan penyakit kronis semakin meningkat. Bahkan,
penyakit kronis saat ini salah satu masalah kesehatan utama dari anak-anak. Tuntutan
yang berbeda antara sakit kronis dan akut pada anak dalam keperawatan memiliki
kesalahpahaman di kedua sisi. Hal ini menyebabkan kegagalan tujuan perawatan dan
kemunduran dalam mengontrol efek dari penyakit atau cacat.
Penyakit pada anak membutuhkan pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit
(hospitalisasi). Stres hospitalisasi pada anak dapat disebabkan oleh faktor nyeri,
perpisahan dan kehilangan kontrol. Respons stres yang ditunjukkan oleh anak
meliputi menangis, menjerit, agresif, penolakan dan terus memanggil orang tua. Anak
usia toddler menunjukkan respons hospitalisasi saat dilakukan injeksi adalah
menangis dan berteriak untuk menolak tindakan dan berteriak untuk mengusir
perawat. Respons hospitalisasi pada anak toddler menunjukkan reaksi menangis,
meminta penghentian prosedur injeksi yang dilakukan oleh perawat. Oleh karena anak
menangis dan berteriak saat dilakukan tindakan orang tua menjadi cemas dan
berusaha mengatakan kepada perawat untuk melakukan tindakan secara pelan. Orang
tua tidak menunjukkan upaya untuk menenangkan anak dengan distraksi melalui
permainan akan tetapi hanya berupa kata-kata yang meminta anak untuk tenang.
Konsep Family Centered Care tidak hanya untuk perawatan anak dengan
kebutuhan khusus namun digunakan juga untuk perawatan anak dengan kondisi kritis
dan kronis. Hal ini dikarenakan, elemen penting dari Family Centered Care adalah
hubungan kerjasama yang merupakan pengembangan dari keterlibatan orang tua dan
partisipasi orang tua untuk perawatan anak. Melihat pentingnya peran perawat dalam
menerapkan Konsep Family Centered Care di rumah sakit, maka kelompok tertarik
untuk mengetahui konsep aplikasi family centered care di ruang rawat kronis.

B. Tujuan penulisan makalah


Untuk mengetahui konsep aplikasi family centered care di ruang rawat kronis
bisa berupa pemaparan dari aplikasi yang telah dilakukan diluar negeri atau yang akan
dilaksanakan di Indonesia.

C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan
mengaplikasikan langsung dalam praktik di lapangan mengenai konsep aplikasi
family centered care di ruang rawat kronis dan dapat menambah wawasan,
pengalaman serta bisa berbagi ilmu kepada orang lain.

2. Bagi Pemberi Layanan Keperawatan


Sebagai informasi dan bahan masukan mengenai konsep aplikasi family
centered care di ruang rawat kronis
BAB II
KERANGKA TEORI

A. Asuhan berpusat pada keluarga (Family Centered Care)


1. Pengertian
Family Centered Care (asuhan berpusat pada keluarga) sebagai filosofi
dimana pemberi perawatan mementingkan dan melibatkan peran penting dalam
keluarga. Sistem pelayanan dan personel harus mendukung, menghargai,
mendorong, dan meningkatkan kekuatan dan kompetensi keluarga melalui
pemberdayaan pendekatan dan pemberian bantuan efektif (Duns & Trivette,
2006).
Stower (1992 dalam Fiane, 2012), Family Centered Care merupakan suatu
pendekatan yang holistik. Pendekatan Family Centered Care tidak hanya
memfokuskan asuhan keperawatan kepada anak sebagai klien atau individu
dengan kebutuhan biologis, pisikologi, sosial, dan spiritual (biopisikospritual)
tetapi juga melibatkan keluarga sebagai bagian yang konstan dan tidak bisa
dipisahkan dari kehidupan anak

2. Konsep dasar dalam family centered care


Dua konsep dasar dalam family centered care adalah:
a. Memampukan keluarga dengan menciptakan kesempatan dan cara bagi semua
anggota keluarga untuk menunjukkan kemampuan dan kompetensi terbaru
mereka dan untuk mendapatkan kemampuan dan kompetensi baru yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan anak dan keluarga.
b. Pemberdayaan menggambarkan interaksi profesional dengan keluarga dalam
cara tertentu sehingga keluarga mempertahankan dan mendapat kontrol atas
kehidupan mereka sendiri dan membuat perubahan positif yang dihasilkan dari
perilaku membantu yang mengembangkan kekuatan, kemampuan, dan
tindakan mereka sendiri (Duns & Trivette, 1996).
Kemitraan orang tua profesional adalah mekanisme yang sangat kuat unutk
memampukan dan memberdayakan keluarga. Orang tua berhak dihargai seperti
halnya profesional dan mereka mempunyai hak unutk memutuskan apa yang
penting bagi mereka sendiri dan keluarganya. Peran profesional adalah
mendukung dan menguatkan kemampuan keluarga untuk mengasuh dan
meningkatkan perkembangan anggota dalam cara yang memampukan dan
memberdayakan. Profesional harus juga bekerja sama sebagai suatu tim demi
keuntungan anak dan keluarga mereka (Patterson, 1996).

3. Manfaat Family Centered Care


Model asuhan family centered care, memberikan manfaat, seperti:
a. Keluarga memiliki kepercayaan dan kemampuan yang lebih besar dan tekanan
yang lebih kecil dalam merawat anak-anak mereka.
b. Ketergantungan keluarga pada pemberi keperawatan profesional berkurang.
c. Biaya perawatan berkurang.
d. Para profesional mengalami kepuasan kerja yang lebih besar.
e. Kedua orang tua dan petugas kesehatan diberdayakan untuk mengembangkan
keahlian dan keterampilan yang baru.

4. Elemen Penting Family Centered Care menurut Association for the Care of
Children’s Health (ACCH), yaitu:
a. Keluarga dipandang sebagai unsure yang konstan sementara kehadiran profesi
kesehatan fluktuatif.
b. Memfasilitasi kolaborasi orangtua –profesional pada semua level perawatan
kesehatan.
c. Meningkatkan kekutan keluarga, dan mempertimbangkan metode-metode
alternative dalam koping.
d. Memperjelas hal-hal yang krang jelasdan informasi lebih komplit oleh
orangtua tentang perawatan anaknya yang tepat.
e. Menimbulkan kelompok support antara orangtua.
f. Mengerti dan memanfaatkan sistem pelayanan kesehatan dan memenuhi
kebutuhan perkembangan bayi, anak, dewasa dan keluarganya.
g. Melaksanakan kebijakan dan program yang tepat, komprehensif meliputi
dukungan emosional dan financial dalam memenuhi kebutuhan kesehatan
keluarganya.
h. Menunjukkan desain transportasi perawatan kesehatan fleksibel, accessible,
dan responsive terhadap kebutuhan pasien.
i. Implementasi kebijakan dan program yang tepat komprehensif meliputi
dukungan emosional dengan staff.
5. Family center care pada penyakit kronis
Menurut (Kodadek, 1979) tentang Family-centered care of the chronically ill
child yang mengembangkan sebuah program keperawatan berpusat pada keluarga.
Dalam pengambilan keputusan tentang tindakan operasi elektif, sering membuat
perasaan keluarga menjadi stress. Hal ini disebabkan karena keluarga akan
meninggalkan anak mereka dengan perawat rumah sakit yang tidak dikenal, serta
menghadapi perubahan dalam rutinitas perawatan.
Perawat memberikan bantuan secara tepat dan efektif, Untuk mengurangi
stress yang dihadapi keluarga, perawat cenderung memberikan pengetahuan dan
informasi yang terkait langsung dengan perawatan. Dimana perawat
membutuhkan data tentang bagaimana keluarga mendefinisikan penyakit kronis,
rawat inap, dan perannya sebagai orangtua. Keluarga dengan anak penyakit kronis
memiliki asumsi yang tidak terkendali, kurangnya penghargaan untuk orang tua,
kurangnya pengetahuan tentang anak mereka, serta tidak memiliki tempat dalam
perawatan yang berpusat pada keluarga.
Anak dengan penyakit kronis lebih rentan terhadap masalah psikososial. Tugas
utama perawat adalah menentukan faktor apa saja indikator kerentanan masalah
psikososial tersebut. Dengan memberikan pengetahuan dan informasi, intervensi
keperawatan dapat dilakukan dan dievaluasi untuk efektivitasnya dalam
mengurangi dan mencegah stress.
orangtua berperan sangat penting untuk memberikan keputusan bagi anak
mereka. Karena orangtua lebih mengetahui apa yang dialami oleh anak mereka,
tanpa keterlibatan orangtua, tenaga kesehatan mengalami kesulitan untuk
mengetahui apa yang dirasakan oleh anak. Namun, orangtua sering merasa
kesulitan dalam membuat keputusan hal ini disebabkan orangtua memiliki
keterbatasan pengetahuan pada prosedur tindakan yang akan dijalani oleh anak
mereka. Orangtua takut untuk menanyakan tentang hal-hal yang tidak dimengerti
oleh mereka. Perawat melibatkan orangtua untuk bekerja sama dalam jangka
waktu yang lama dan melibatkan mereka dalam tim medis yang sangat membantu
keberhasilan pengobatan yang dijalani oleh anak. Oleh karena itu, penting untuk
menciptakan hubungan saling percaya diantara orangtua yang memiliki anak
dengan penyakit kronis sehingga mereka dapat memberikan rasa nyaman untuk
anak mereka.
BAB III
APLIKASI FAMILY CENTERED CARE DI RUANG RAWAT KRONIS

A. Aplikasi Family Centered Care Di Ruang Rawat Kronis di Indonesia


Penelitian yang dilakukan Kanker et al.(2017) tentang Implementasi Konsep
Healing Environment dan Family Centered Care Design pada Interior Pusat
Rehabilitasi Kanker untuk Anak-Anak di Surabaya menunjukkan bahwa Healing
Environment memberikan satu akses tidak terbatas sehingga pada desain banyak
menggunakan partisi yang dapat dibuka tutup, jendela kaca, pintu yang dapat
memberikan pengguna view maupun akses langsung ke alam. Selain itu, didukung
dengan exitig bangunan yang memiliki taman pada bagian tengah bangunan yang
bertujuan memberikan kedekatan pengguna ke alam.
Implementasi Family Center Care pada desain ini adalah memberikan
kebebasan antara pengguna untuk saling berinteraksi satu dengan yang lain. Baik
orangtua dengan anak, maupun interaksi antar orang tua dan antar anak mereka
yang sedang menggunakan fasilitas ini. Aplikasi konsep ini lebih terlihat pada area-
area yang memang tidak dibuat kaku dengan memberikan ruang yang lebih fleksibel
seperti lesehan sehingga memudahkan orangtua untuk berinteraksi dengan
anak. Hal ini juga berlaku pada sirkulasi yang memang dibuat lebih luas. Beberapa
area juga memang di hadirkan untuk menunjang konsep ini yaitu dengan adanya ‘rest
area’ yang dapat digunakan untuk duduk-duduk dan bercengkarama dalam setiap
fasilitas utama yang disediakan meliputi lobby, ruang belajar, ruang bermain, kamar
tidur dan foyer.
Penelitian lain yang dilakukan Krisnana (2012), salah satu prinsip dalam FCC
adalah pemberdayaan (Empowerment) anak dan keluarga untuk menemukan kekuatan
diri, menumbuhkan rasa percaya diri dan menentukan pilihan dan keputusan dalam
kesehatan. Pemberdayaan orang tua meliputi: peningkatan pengetahuan, partisipasi,
keterampilan dan lingkungan yang kondusif bagi perawatan anak. Penerapan
pemberdayaan (Empowerment) orang tua di rumah sakit telah dikembangkan oleh
Melnyk, et al. dalam bentuk COPE (CreatingOpportunity for Parent Empowerment)
dibidang keperawatan kritis anak/Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan Pediatric
Intensive Care Unit (PICU) yang merupakan educational-behavioral intervention
program (Program intervensi pendidikan perilaku).
Hasil penelitian serupa yang dilakukan oleh Melnyk, et al. (2004)
menunjukkan hasil bahwa penerapan COPE dapat menurunkan stress orang tua dan
peningkatan partisipasi orangtua dalam perawatan secara fisik maupun emosional
anak. Program COPE (Creating Opportunity for Parent Empowerment) merupakan
inovasi baru yang memerlukan penyebaran (difusi) secara tepat. Proses difusi inovasi
dipengaruhi oleh karakteristik individu: sikap terhadap perubahan, status sosial
ekonomi, motivasi. Inovasi COPE yang sesuai dengan kebutuhan orang tua bertujuan
untuk meningkatkan pemahaman orang tua melalui edukasi tentang penyakit dan
keterlibatan orang tua dalam perawatan fisik maupun emosi. Pemberian informasi
tentang respons perilaku normal anak saat hospitalisasi dapat menurunkan stres orang
tua).

B. Aplikasi Family Centered Care Di Ruang Rawat Kronis di Luar Negri


Penelitian Kodadek (1979), perawat di Rumah Sakit Shriners di Chicago
mengenai bagaimana keluarga menanggapi penyakit kronis atau kondisi cacat anak.
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengembangkan sebuah program keperawatan
berpusat pada keluarga. Dalam pengambilan keputusan tentang tindakan operasi
elektif, sering membuat perasaan keluarga menjadi stress. Hal ini disebabkan karena
keluarga akan meninggalkan anak mereka dengan perawat rumah sakit yang tidak
dikenal, serta menghadapi perubahan dalam rutinitas perawatan.
Perawat memberikan bantuan secara tepat dan efektif, Untuk mengurangi
stress yang dihadapi keluarga, perawat cenderung memberikan pengetahuan dan
informasi yang terkait langsung dengan perawatan. Dimana perawat membutuhkan
data tentang bagaimana keluarga mendefinisikan penyakit kronis, rawat inap, dan
perannya sebagai orangtua. Keluarga dengan anak penyakit kronis memiliki asumsi
yang tidak terkendali, kurangnya penghargaan untuk orang tua, kurangnya
pengetahuan tentang anak mereka, serta tidak memiliki tempat dalam perawatan yang
berpusat pada keluarga.
Anak dengan penyakit kronis lebih rentan terhadap masalah psikososial. Tugas
utama perawat adalah menentukan faktor apa saja indikator kerentanan masalah
psikososial tersebut. Dengan memberikan pengetahuan dan informasi, intervensi
keperawatan dapat dilakukan dan dievaluasi untuk efektivitasnya dalam mengurangi
dan mencegah stress
BAB IV
PEMBAHASAN

Dari empat jurnal aplikasi family center care di ruang rawat kronis baik itu
pemaparannya di Indonesia ataupun di luar negri yang ditemukan mempunyai
perbedaan. Aplikasi family center care di ruang rawat kronis di indonesia ditemukan
tiga jurnal yaitu pertama menurut penelitian Kanker et al., (2017) yang menjelaskan
bahwa pengobatan secara medis bukan satu-satunya jalan untuk pasien kanker.
Dukungan keluarga juga terapi paliatif menjadi jalan yang efektif untuk meningkatkan
semangat hidup penderita kanker. Karena bila kondisi psikologis seseorang itu baik
maka akan dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan. Perawatan intensif yang
harus di jalani oleh anak – anak penderita kanker akan memakan waktu yang panjang
sehingga membawa seorang anak menjadi tertekan dan bosan. Hal ini yang menjadi
faktor terbesar anak – anak penderita kanker menjadi lebih mudah stress. Seorang
anak tetap memerlukan fasilitas yang dapat mendukung pertumbuhan mereka dan
wadah untuk beraktivitas serta meningkatkan sisi kreativitas anak tersebut. Fasilitas
yang serba terbatas menjadi salah satu kendala yang membatasi pengobatan terhadap
pasien anak yang mengidap kanker.
Hal ini di dukung teori Komiske (2005) Family-centered care design
memberikan dukungan pada pelayanan sehingga anak – anak tidak akan gelisah
ketika ke rumah sakit selain itu orangtua dapat berperan sebagai partner dalam
merawat anak mereka yang sakit. Anak-anak dan keluarga mereka juga membutuhkan
media untuk mempersonalisasi ruangan mereka. Ruangan personal juga dibutuhkan
dengan keamanan yang cukup. Seperti membuat papan buletin dengan magnet atau
white board untuk anakanak menggambar juga bisa menggunakan digital media. Perlu
juga diperhatikan pada pemilihan material sehingga memberi dukungan pada aspek
sustainable design dan indoor air qualit
Penelitian kedua yang dilakukan oleh Krisnana (2012), dimana orang tua
dilibatkan dalam perawatan fisik dasar anak seperti; personal hygiene, pengukuran
suhu, penurunan demam anak, pemberian nutrisi dan perawatan anak yang lain secara
sederhana untuk kemandirian orang tua, perawat anak dapat menerapkan
empowerment melalui penciptaan lingkungan yang kondusif terutama lingkungan
nonfisik. Perawat berperan sebagai educator untuk membentuk sistem komunikasi
yang terbuka melalui peningkatan pengetahuan dan pemahaman orang tua tentang
perawatan bagi anak serta pemberian informasi dalam setiap tindakan yang dilakukan.
Pemberian informasi dapat dilakukan secara lisan dan diperkuat dengan informasi
secara tertulis, orang tua diharapkan dapat melaksanakan upaya pemberdayaan secara
penuh melalui peningkatan pemahaman tentang penyakit anak, peningkatan
partisipasi dalam perawatan anak secara fisik maupun emosional melalui penerapan
terapi bermain dalam waktu yang tepat misalnya saat dilaksanakan tindakan invasif
(suntik) dan saat waktu luang untuk menghibur anak sehingga stress hospitalisasi
anak berkurang.
Pada kasus penyakit kronik yang membutuhkan perawatan jangka panjang
dengan partisipasi orang tua sebagai penentu keberhasilan perawatan misalnya; anak
dengan gangguan mental, Diabetes mellitus pada anak, gagal ginjal kronik dan
sebagainya. Perawatan penyakit kronik pada anak memerlukan pemberdayaan orang
tua secara penuh baik selama di rumah sakit maupun perawatan lanjutan di rumah.
Penelitian ketiga oleh Melnyk, et al. (2004) mengenai pengembangan model
asuhan keperawatan pendekatan cope (creating opportunity for parent empowerment)
dalam penurunan stres hospitalisasi orang tua anak terdiagnosis kanker. Program
COPE (Creating Opportunity for Parent Empowerment) merupakan inovasi baru
yang memerlukan penyebaran (difusi) secara tepat. Inovasi COPE yang sesuai dengan
kebutuhan orang tua bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua melalui
edukasi tentang penyakit dan keterlibatan orang tua dalam perawatan fisik maupun
emosi. Pemberian informasi tentang respons perilaku normal anak saat hospitalisasi
dapat menurunkan stres orang tua).
Hali ni di dukung teori Wong (2009) dalam mencegah atau meminimalkan
perpisahan dengan orang tua merupakan tujuan utama pada anak dirawat di rumah
sakit (hospitalisasi). Salah satu pendekatan terbaik adalah menganjurkan orang tua
untuk tetap bersama dan berpartisipasi dalam perawatan anak . Perawat mempunyai
peran yang sangat penting sebagai care giver, educator dan collaborator untuk
memfasilitasi upaya meningkatkan pemahaman orang tua tentang penyakit dan
perawatan anak melalui prinsip Family Centered Care.
Pada aplikasi family center care di ruang rawat kronis di luar negri ditemukan
satu jurnal yaitu yang dilakukan Kodadekc (1979), bahwa orangtua berperan sangat
penting untuk memberikan keputusan bagi anak mereka. Karena orangtua lebih
mengetahui apa yang dialami oleh anak mereka, tanpa keterlibatan orangtua, tenaga
kesehatan mengalami kesulitan untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh anak.
Namun, orangtua sering merasa kesulitan dalam membuat keputusan hal ini
disebabkan orangtua memiliki keterbatasan pengetahuan pada prosedur tindakan yang
akan dijalani oleh anak mereka. Orangtua takut untuk menanyakan tentang hal-hal
yang tidak dimengerti oleh mereka. Perawat melibatkan orangtua untuk bekerja sama
dalam jangka waktu yang lama dan melibatkan mereka dalam tim medis yang sangat
membantu keberhasilan pengobatan yang dijalani oleh anak. Oleh karena itu, penting
untuk menciptakan hubungan saling percaya diantara orangtua yang memiliki anak
dengan penyakit kronis sehingga mereka dapat memberikan rasa nyaman untuk anak
mereka.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Aplikasi family center care di ruang rawat kronis di Indonesia ditemukan tiga
jurnal yaitu implementasi konsep Healing Environment dan Family Center Care
(FCC) design, pemberdayaan pemberdayaan (Empowerment), program COPE
(Creating Opportunity for Parent Empowerment), sedangkan aplikasi family center
care di ruang rawat kronis di luar negri lebih melibatkan orangtua untuk bekerja sama
dalam jangka waktu yang lama dan melibatkan mereka dalam tim medis yang sangat
membantu keberhasilan pengobatan

B. Saran
Diharapkan orang tua dilibatkan dalam perawatan fisik dasar anak seperti;
personal hygiene, pengukuran suhu, penurunan demam anak, pemberian nutrisi dan
perawatan anak yang lain secara sederhana untuk kemandirian orang tua, perawat
anak dapat menerapkan empowerment melalui penciptaan lingkungan yang kondusif
terutama lingkungan nonfisik.
Perawat melibatkan orangtua untuk bekerja sama dalam jangka waktu yang
lama dan melibatkan mereka dalam tim medis yang sangat membantu keberhasilan
pengobatan yang dijalani oleh anak. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan
hubungan saling percaya diantara orangtua yang memiliki anak dengan penyakit
kronis sehingga mereka dapat memberikan rasa nyaman untuk anak mereka.
DAFTAR PUSTAKA

Cannon, S. 2011. Family Centered Care in the Critical Care Setting. Dimens Crit Care Nurs.
30(5):241/245

Gavaghan SR & Carroll DL. 2009. Families of Critically Ill Patients and the Effect of
Nursing Interventions. Dimens Crit Care Nurs. 29(3):28-33.

Kanker, R., Prasetio, C. P., Hasudungan, R., Sitindjak, I., Studi, P., Interior, D., …
Siwalankerto, J. (2017). Implementasi Konsep Healing Environment dan Family
Centered Care Design pada Interior Pusat, 5(2), 571–578.
Kodadek, S. (1979). Family-centered care of the chronically ill child. AORN Journal, 30(4),
635–638. https://doi.org/10.1016/S0001-2092(07)61225-3

Komiske, Bruce King. Children’s Hospitals : the future of healing


design. Australia : The images Publishing Group pty Ltd,( 2005)

Krisnana, I. (2012). Pengembangan model asuhan keperawatan pendekatan cope


(CREATING OPPORTUNITY FOR PARENT EMPOWERMENT) dalam menurunkan
stres hospitalisasi orang tua anan terdiagnosis kanker, (May).

Morrison M. 1997. Body-Guarded: The Social Aesthetics of Critical Care. In: deRase M,
Grace VM, eds. Bodily Boundaries, Sexualized Genders and Medical Discourse.
Palmerston North, New Zealand: The Dunmore Press Ltd.

Van Horn E, Kautz D. 2007. Promotion of Family Integrity in the Acute Care Setting.
Dimens Crit Care Nurs. 26(3):101-107.
Wong, Dona L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Ed. 6. Jakarta: EGC