Anda di halaman 1dari 5

MATERIAL SAFETY DATA SHEET (MSDS)

(Pada Industri Penyamakan Kulit)

I. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian dan fungsi dari MSDS
2. Mengetahui dasar hukum MSDS
3. Mengetahui isi MSDS
4. Mengetahui cara memperoleh dan menyimpan MSDS

II. DASAR TEORI


MSDS atau LDKB Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
472/MENKES/PER/V/1996, Lembar data pengamanan adalah lembar petunjuk berisi
informasi penting tentang sifat fisika, kimia dari bahan berbahaya, jenis bahaya yang dapat
ditimbulkan, cara penanganan, dan tindakan khusus yang berhubungan dengan keadaan
darurat di dalam penanganan bahan berbahaya.

Material Safety Data Sheet (MSDS) atau Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB)
adalah dokumen yang terdiri dari informasi-informasi penting untuk para pengguna yang
berkaitan dengan sifat kandungan bahayanya dan cara-cara penggunaan yang aman, ciri-ciri,
pemasok, penggolongan bahayanya, peringatan-peringatan, bahaya, dan prosedur tanggap
darurat.

Penyediaan MSDS ditujukan untuk penanganan dan penggunaan bahan kimia. Oleh
karena itu informasi tersebut harus dinyatakan dalam bahasa yang jelas dan dapat dimengerti
oleh pekerja. MSDS juga merupakan informasi awal bagi para pekerja baru atau pekerja lama
tetapi baru terlibat dalam penanganan bahan kimia.

Fungsi MSDS yaitu memberikan informasi kepada puplik atau pengguna B3 sebagai alat
keselamatan terkait dengan penggunaan B3 , informasi yang ada berkaitan dengan :

1. Sifat bahan
2. Batas pajanan
3. Cara penanganan, penyimpanan, pengangkutan, dan pembuanagn
4. Penanganan kondisi darurat
5. Dan informasi lainnya

Terdapat pula dasar hukum yang berkaitan dengan MSDS dapat diperoleh dari berbagai
peraturan, diantaranya yaitu :

I. PP No.74 Thaun 2001


Pasal 11 :
Setiap orang yang mengkonsumsi B3 wajib membua Lembar Data Keselamatan
Bahan (Material Safety data Sheet)
Pasal 12 :
Setiap penanggung jawab pengangkutan, penyimpanan, dan pengedaran B3 wajib
menyeertakan Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet)
sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 11

II. Kepmenaker N0.187 Tahun 1999


Pasal 2 :
Pengusaha atau pengurus yang menggunakan, menyimpan, memakai,
memproduksi dan mengangkut bahan kimia berbahaya di tempat kerja wajib
mengendalikan bahan kimia berbahaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja.

Pasal 3 :
Pengendalian bahan kimia berbahaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 2
meliputi :
a. Penyediaan lembar data keselamatan bahan (LDKB) dan label
b. Penunjukan petugas K3 kimia dan ahli K3 kimia./PT

III. Kepmenperindag No. 254 Tahun 2000


Pasal 11 :
1. IP-B2 dan IT-B2 wajib membuat dan menyusun Lembar data Keselamatan
Bahan (LDKB/MSDS) B2
2. Lembar Data Keselamatan Bahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
disertakan pada setiap kemasan dan juga ditempatkan pada tempat B2
disimpan sehingga mudah dilihat dan dibaca.
3. Bentuk Lembar Data Keselamatan bahan adalah sebagaiaman contoh dalam
Lampiran V keputusan ini

MSDS bahan kimia biasanya memuat beberapa point informasi seperti:

1. Identifikasi Produk
2. Komposisi
3. Identifikasi Potensi Bahaya
4. Tindakan P3K
5. Penanganan bahaya Api
6. Tindakan penanganan saat terjadi tumpahan
7. Penanganan dan penyimpanan
8. Kontrol paparan dan APD
9. Sifat Fisika dan Kimia
10. Stabilitas dan reaktivitas
11. Informasi toksikologi
12. Informasi Ekologi/lingkungan
13. Aturan pembuangan limbah
14. Informasi peraturan transportasi bahan
15. Informasi peraturan
16. Informasi tambahan/lainnya

Dalam pengendalian bahan kimia, beberapa hal yang harus dipenuhi adalah :

1. Label dan tanda.


2. Alat pelindung diri, meliputi : pakaian kerja, pelindung mata dan muka, pelindung
tangan dan kaki, dan pelindung pernafasan.
3. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), pertolongan pertama dimaksudkan untuk
memberikan perawatan darurat pada korban sebelum pertolongan yang lebih lanjut
dilakukan oleh dokter atau petugas kesehatan lainnya, dengan tujuan : menyelamatkan
nyawa korban, mencegah cidera atau penyakit menjadi lebih parah, mempertahankan
daya tahan korban, mencarikan pertolongan lebih lanjut.
4. Pendidikan dan pelatihan.
5. Penyimpanan bahan kimia.
6. Penanganan tumpahan bahan kimia.
7. Pengolahan dan pembuangan limbah bahan kimia, dalam melakukan pekerjaan di
laboratorium selalu menghasilkan sisa atau limbah bahan yang tidak tergunakan.
Demikian pula terkadang terdapat bahan kimia yang tumpah atau tidak terpakai yang
harus segera dibuang secara khusus atau bersama dengan buangan limbah cair. Dalam
pembuangan bahan kimia harus diperhatikan kepentingan masyarakat dan lingkungan.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 472/MENKES/PER/V/1996 tentang


Pengamanan Bahan Berbahaya bagi Kesehatan mendefinisikan bahan berbahaya sebagai
berikut : bahan berbahaya adalah zat, bahan kimia, dan biologi, baik dalam bentuk tunggal
maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup secara
langsung atau tidak langsung, yang mempunyai sifat racun, karsinogenik, teratogenik,
mutagenik, korosif, dan iritasi.

Klasifikasi atau penggolongan bahan-bahan kimia berbahaya diperlukan untuk


memudahkan pengenalan serta cara penanganan dan transportasi. Secara umum bahan kimia
diklasifikasikan menjadi beberapa golongan diantaranya :

1. Bahan kimia beracun (toxic), adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan bahaya
terhadap kesehatan manusia atau menyebabkan kematian apabila terserap ke dalam tubuh
karena tertelah, terhirup, atau terserap melalui kulit. Sifat racun adalah kemampuan suatu
zat untuk membuat akibat sakit atau kematian pada manusia, tumbuhan, atau binatang.
Bahan beracun termasuk didalamnya bahan yang dapat menyebabkan kanker, kerusakan
gen, atau cacat pada kelahiran (teratofen).
2. Bahan kimia korosif (corrosive), adalah bahan kimia yang karena reaksi kima dapat
mengakibatkan kerusakan apabila kontak dengan jaringan tubuh atau bahan lain. Sifat
korosif berhubungan dengan kemampuan bahan untuk menyerang bahan lain seperti besi,
kain, atau kulit.
3. Bahan mudah terbakar (flamable substance), adalah bahan kima yang mudah bereaksi
dengan oksigen dan menimbulkan kebakaran, reaksi kebakaran yang terjadi amat cepat
dan dapat menghasilkan ledakan.
4. Bahan mudah meledak (explosive), adalah suatu zat yang karena suatu reaksi kimia dapat
menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan yang besar serta suhu tinggi sehingga
menimbulkan kerusakan di sekelilingnya.
5. Bahan kimia oksidator (oxidation agent), adalah bahan kimia yang mungkin tidak mudah
terbakar tetapi dapat menghasilkan oksigen yang dapat menyebabkan kebakaran bahan
lainnya.
6. Bahan kimia yang reaktif terhadap air (water sensitive substance), adalah bahan kimia
yang sangat mudah bereaksi dengan air dan menghasilkan panas dan gas yang mudah
terbakar.
7. Bahan kimia yang reaktif terhadap asam (acid sensitive substance), adalah bahan kimia
yang mudah bereaksi dengan asam menghasilkan panas dan gas yang mudah terbakar atau
gas yang beracun dan korosif.
8. Gas bertekanan (compressed gasses), adalah gas yang disimpan di bawah tekanan, baik
gas yang ditekan, maupun gas cair atau gas yang dilarutkan dalam pelarut di bawah
tekanan.
9. Bahan radioaktif, adalah bahan kima yang mempunyai kemampuan memancarkan sinar
radiasi dengan aktifitas jenis lebih besar dari 0,002 μCi/gram. Bahan kimia dapat dianggap
berbahaya jika terpapar oleh bahan tersebut dapat menyebabkan infeksi atau terpapat pada
tingkat yang abnormal dari sifat radioaktif suatu bahan.
Pengaruh bahan kimia terhadap kesehatan dapat terjadi secara akut maupun kronis,
tergantung pada konsentrasi dan lamanya pajanan yang terjadi. Efek bahan kimia dapat
dikategorikan sebagai berikut :

1. Iritasi, yaitu terjadi luka bakar setempat akibat kontak bahan kimia dengan bagian-bagian
tubuh tertentu, seperti kulit, mata, atau saluran pernafasan.
2. Korosif, yaitu menyebabkan kerusakan pada jaringan.
3. Alergi, tampak sebagai bintik-bintik merah kecil atau gelmebung berisi cairan, gangguan
pernafasan berupa batuk-batuk atau nafas tersumbat.
4. Sesak nafas, nafas seperti tercekik atau aspiksian karena kekurangan oksigen akibat
keberadaan oksigen di udara digantikan oleh gas inert seperti nitrogen dan karbon
dioksida.
5. Keracunan sistematik, bahan kima yang dapat mempengaruhi bagian tubuh, diantaranya
merusak hati, ginjal, susunan syaraf pusat, dll.
6. Menyebabkan kanker, akibat pajanan jangka panjang bahan kimia sehingga merangsang
pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali dalam bentuk tumor ganas.
7. Menyebabkan kerusakan/kelainan janin, ditandai oleh kelahiran dalam keadaan cacat atau
kemandulan.
8. Menyebabkan pneumokiniosis, timbunan debu dalam paru-paru, sehingga kemampuan
paru-paru untuk menyerap oksigen menjadi berkurang,akibatnya penderita mengalami
nafas pendek.
9. Menyebabkan efek bius (narkotika), yaitu bahan kimia yang mengganggu sistem syaraf
pusat dan menyebabkan orang tidak sadar, pingsan, atau kematian.
III. METODE
A. ALAT
1. Alat tulis
2. Komputer

B. BAHAN
1. Bahan kimia pada penyamakan kulit :
a. NaCl
b. Na2S
c. NaOH
d. H2SO4
e. NaOCl
f. HCOOH
g. CH2O
h. (C2H5)2O
i. NH4Cl
j. NaHCO3
2. Lembar/file MSDS

C. Langkan percobaan
1. Dicari bahan kimia yang ada dilaboratorium untuk dilakukan pendataan
2. Dicari MSDS bahan tersebut dalam bahasa inggris, kemudian di
terjemahkan . (data MSDS diusahakan sesuai dengan label pada bahan
kimia).
3. Disiapkan rangkuman lembar MSDS dengan format seperti pada
lampiran petunjuk praktikum.
4. Diisi lembar MSDS tersebut dengan dat-data yang ada.
5. Diusahakan bahwa semua data yang diminta oleh lembar MSDS terisi
semuanya, semakin lengkap mengisi data, maka semakin baik telah
melaksanakan praktikum ini.
6. Dibuat laporan dan pembahasan sebaik baiknya.