Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di zona khatulistiwa
(tropik) dan terkenal mempunyai kekayaan alam dengan beranekaragam jenis
tumbuhan, tetapi potensi ini belum seluruhnya dimanfaatkan sebagai bahan industri
khususnya tumbuhan berkasiat obat. Penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional
umumnya hanya didasarkan atas pengalaman atau warisan tanpa mengetahui
kandungan kimianya secara detail. Tumbuhan tersebut jika ditelaah lebih lanjut
mempunyai kandungan kimia aktif biologis (Triharso, 2006).
Farmasi merupakan ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur,
meracik formulasi obat, identifikasi, kombinasi, analisis dan standarisasi atau
pembakuan obat serta pengobatan termasuk pula sifat-sifat obat dan distribusi
penggunaanya yang aman.
Dalam dunia farmasi salah satu ilmu yang dipelajari yaitu farmakognosi.
Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari tentang sumber-sumber bahan obat
alam, terutama dari tumbuh-tumbuhan (bentuk makroskopis dan mikroskopis
berbagai tumbuhan serta organisme lainnya yang dapat digunakan dalam pengobatan
(Syamsuni, 2006).
Menurut Dirjen POM, 1979 yaitu simplisia merupakan bahan obat dari bahan
alam yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain,
berupa bahan yang telah dikeringkan.
Demikian pula tanaman yang sengaja dibudidayakan karena telah diketahui
sebagai bahan dasar dalam pengobatan baik secara empiris maupun yang telah
dibuktikan khasiatnya dengan penelitian ilmiah. Dalam melakukan penelitian ilmiah
juga di butuhkan objek yang berupa herbarium.
Herbarium mempunyai peranan sangat penting dalam dunia ilmu
pengetahuan. Karena herbarium merupakan tempat penyimpanan contoh koleksi
spesiemen tanaman atau tumbuhan yaitu herbarium kering dan herbarium basah.

1
Serta dapat mengenal dan menyimpan berbagai macam tanaman dengan lebih
mengintensifkan penyelidikan data tumbuhan guna, nama dan karakteristik,
herbarium juga merupakan specimen dan bahan tumbuhan yang lebih dahulu telah
dimatikan melalui metode tertentu dan dilengkapi data-data mengenai tumbuhan
tersebut (Stenes, 2006).
Herbarium secara umum dibagi dua jenis yaitu herbarium basah dan
herbarium kering. Herbarium basah merupakan awetan dari suatu hasil eksplorasi
yang sudah didentifikasi dan di tanam bukan lagi pada habitat aslinya. Sedangkan
herbarium kering adalah awetan yang dibuat dengan cara pengeringan, namun tetap
terlihat ciri-ciri morfologinya sehingga masih bisa diamati dan di jadikan
perbandingan (Stacey, 2004).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dilakukan praktek kerja lapangan
untuk mengetahui tanaman obat yang dapat diolah sebagai bahan pengobatan serta
mengetahui cara mengolah atau membuat herbarium dan simplisia.
1.2 Maksud danTujuan
1.2.1 Maksud
Praktek kerja lapangan ini dilakukan agar mahasiswa dapat mengetahui
jenis dan manfaat tanaman yang dapat digunakan sebagai pengobatan,
memahami cara mengolah dan membuat herbarium, mengetahui tanaman
yang dapat dijadikan simplisia dan juga teknik pembuatan simplisia sebagai
bahan obat.
1.2.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis dan manfaat tanaman yang dapat diolah sebagai
bahan pengobatan.
2. Untuk mengetahui cara membuat dan mengolah herbarium
3. Untuk mengetahui tanaman yang dapat dijadikan simplisia dan memahami
teknik pembuatan simplisia sebagai bahan obat.

2
1.3 Manfaat
1. Agar praktikan lebih mengetahui jenis-jenis tanaman obat, cara mengolah
tanaman menjadi simplisia, dan manfaat dari tanaman tersebut.
2. Agar menjadi objek penelitian yang baru untuk mahasiswa-mahasiswa
farmasi yang akan mengikuti penelitian.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Herbarium
Herbarium berasal dari kata “hortus dan botanicus”, artinya kebun botani yang
dikeringkan. Secara sederhana yang dimaksud herbarium adalah koleksi spesimen
yang telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistem klasifikasi (Onrizal,
2005).
Menurut Purwanti (2012), herbarium merupakan koleksi specimen yang telah
dikeringkan atau diawetkan biasanya disusun berdasarkan sistem klasifikasi.
Menurut Matnawi (1989) herbarium terbagi atas dua yaitu :
1. Herbarium basah
Herbarium basah merupakan awetan dari suatu hasil eksplorasi yang sudah
didentifikasi dan di tanam bukan lagi pada habitat aslinya. Spesiesmen tumbuhan
yang telah diawetkan disimpan dalam suatu larutan yang di buat dari komponen
macam zat dengan komposisi yang berbeda-beda adapun zat yang di gunakan
pada herbarium basah diantaranya akuades, formalin 4% asam cuka 40% terusi
alkohol 50% dan gliserin 10%.
2. Herbarium Kering
Herbarium kering adalah awetan yang dibuat dengan cara pengeringan,
namun tetap terlihat ciri-ciri morfologinya sehingga masih bisa diamati dan di
jadikan perbandingan. Zat yang di gunakan dalam proses ini, formalin 4% atau
alkohol 70%
Hal yang perlu diperhatikan pada saat proses pembuatan herbarium yaitu:
1. Tahap pengumpulan
Pengumpulan tanaman dilakukan dengan melakukan eksplorasi di lapangan.
Selanjutnya masukan tumbuhan yang diperoleh kedalam vasculum, atau
dimasukan saja kedalam halaman sebuah buku yang tebal. Ambilah terutama dari
bagian tumbuhan yang berbunga dan berbuah. Bagian dari tumbuhan yang besar

4
sedikitnya panjangnya 30-40 cm dan sedikitnya harus ada satu daun dan satu
inflorescencia yang lengkap, kecuali kalau bagiannya yang khusus masih terlalu
besar. Lihatlah bagian tumbuhan yang berada dibawah tanah. Serta mencatat hal-
hal yang penting dan kekhususan seperti: warna, bau, bagian dalam tanah, tinggi
tempat dari permukaan laut, tempat, banyaknya tanaman tersebut (triharto, 1996).
2. Cara pengeringan
Tumbuhan diatur diatas kertas kasar dan kering, yang tidak mengkilat,
misalkan kertas Koran. Letakan diantara beberapa halaman yang dobel dan
sertakan dalam setiap jenis catatan yang dibuat untuk tanaman tersebut. Juga
biasanya digunakan etiket gantung yang diikatkan pada bahan tumbuh-tumbuhan,
yang nomornya adalah berhubungan dengan buku catatan lapangan. Tumbuh-
tumbuhan yang berdaging tebal, direndam beberapa detik dalam air yang
mendidih. Lalu tekanlah secara perlahan-lahan. Gantilah untuk beberapa hari
kertas pengering tersebut. Ditempat yang kelembabannya sangat tinggi, dapat
dijemur dibawah sinar mata hari atau didekatkan di dekat api (diutamakan dari
arang). Tanaman dikatakan kering kalau dirasakan tidak dingin lagi dan juga
terasa kaku. Diusahakan bahwa seluruh sample terus-menerus dalam keadaan
kering. Makin cepat mereka mengering, maka makin baik warna itu dapat
dipertahankan (triharto, 1996).
3. Pengawetan
Tanaman yang dikeringkan selalu bersifat hygroscopis, akan mudah sekali
terserang jamur. Oleh karena itu, penyimpanan herbarium di tempat kering dan
jemurlah koleksi tersebut dibawah sinar matahari. Ddan dapat di taburi zat
bubukan belerang, naphtaline atau yang lebih baik dapat digunakan
paradichloorbenzol. Kedua zat yang terakhir ini menguap langsung dan terus-
menerus (triharto, 1996).
4. Pembuatan herbarium
Tempel herbarium. Tempelkan nama pada kertas dengan kertas label.
Tuliskan diatas kertas herbarium data mengenai tanggal, tempat ditemukan

5
tempat mereka tumbuh, nama penemu, catatan khusus, nama familia dan nama
spesies (triharto, 1996).
Manfaat dan Kegunaan herbarium diantaranya, herbarium sangat penting
artinya sebagai kelengkapan koleksi untuk kepentingan penelitian dan
identifikasi, hal ini memungkinkan karena pendokumentasian tanaman dengan
cara diawetkan dapat bertahan lebih lama, kegunaan herbarium lainnya yaitu
sebagai berikut (Sama,2009):
1. Material peraga pelajaran botani
2. Material penelitian
3. Alat pembantu identifikasi tanaman
4. Material pertukaran antar herbarium di seluruh dunia
5. Bukti keanekaragaman
6. Spesimen acuan untuk publikasi spesies baru
2.1.2 Simplisia
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, simplisia adalah bahan alam yang
digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapaun juga kecuali
dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.
Simplisia terbagi atas tiga golongan yaitu :
1. Simplisia nabati
Simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman dan eksudat tanaman.
Eskudat tanaman ialah isi yang spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang
dikeluarkan dari selnya, dengan cara tertentu atau zat yang dipisahkan dari
tanamannya dengan cara tertentu yang masih belum berupa zat kimia murni
(Winarno,1977).
2. Simplisia hewani
Simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang
dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni (Syukur,2004).

6
3. Simplisia mineral
simplisia yang berupa bahan pelican (mineral) yang belum diolah atau telah
diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni (Amin, 2009).
Selain ketiga jenis simplisia diatas juga terdapat hal lain, yaitu benda organic
asing yang disingkat benda asing, adalah satu atau keseluruhan dari apa-apa yang
disebut dibawah ini (Amin, 2009):
1. Fragmen, merupakan bagian tanaman asal simplisia selain bagian tanaman yang
disebut dalam paparan makroskopik, atau bagian sedemikian nilai batasnya
disebut monografi.
2. Hewan hewan asing, merupakan zat yang dikeluarkan oleh hewan, kotoran
hewan, batu tanah atau pengotor lainnya.
Kecuali yang dinyatakan lain, yang dimaksudkan dengan benda asing pada
simplisia nabati adalah benda asing yang berasal dari tanaman. Simplisia nabati harus
bebas serangga, fragme hewan, atau kotoran hewan tidak boleh menyimpang bau dan
warnanya, tidak boleh mengandung lendir, atau cendawan, atau menunjukkan adanya
zat pengotor lainnya; pada perhitunganpenetapan kadar abu yang tidak larut dalam
asam, kadar abu yang larut dalam air , sari yang larut dalam air, atau sari yang larut
dalam etanol didasarkan pada simplisia yang belum ditetapkan susut pengeringannya
(Isa, 2009).
Sedangkan susut pengering sendiri adalah banyaknya bagian zat yang mudah
menguap termasuk air, tetapkan dengan cara pengeringan, kecuali dinyatakan lain,
dilakukan pada suhu 150o hingga bobot tetap (Amin, 2009).
Pembuatan simplisia merupakan proses memperoleh simplisia dari alam yang
baik dan memenuhi syarat-syarat mutu yang dikehendaki. Cara pembuatan simplisia
ada sebagai berikut:
1. Teknik pengumpulan
Pengumpulan atau panen dapat dilakukan dengan tangan atau
menggunakan alat (mesin). Apabila pengambilan dilakukan secara langsung
(pemetikan) maka harus memperhatikan keterampilan si pemetik, agar diperoleh

7
tanaman/bagian tanaman yang dikehendaki, misalnya dikehendaki daun yang
muda, maka daun yang tua jangan dipetik dan jangan merusak bagian tanaman
lainnya. misalnya jangan menggunakan alat yang terbuat dari logam untuk
simplisia yang mengandung senyawa fenol dan glikosa (Widyaningsih, 2004).
a. Waktu pengumpulan atau panen
Kadar kandungan zat aktif suatu simplisia ditentukan oleh waktu panen,
umur tanaman, bagian tanaman yang diambil dan lingkungan tempat tumbuhnya
(Widyaningsih, 2004).
Menurut Widyaningsih (2004), pada umumnya waktu pengumpulan
sebagai berikut :
1. Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi
masak, contohnya, daun Athropa belladonna mencapai kadar alkaloid
tertinggi pada pucuk tanaman saat mulai berbunga. Tanaman yang
berfotosintesis diambil daunnya saat reaksi fotosintesis sempurna yaitu
pukul 09.00-12.00.
2. Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.
3. Buah dipetik dalam keadaan tua, kecuali buah mengkudu dipetik sebelum
buah masak.
4. Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna.
5. Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber) dan umbi lapis (bulbus),
dikumpulkan sewaktu proses pertumbuhannya berhenti.
b. Bagian Tanaman
1. Klika batang/klika/korteks
Klika diambil dari batang utama dan cabang, dikelupas dengan ukuran
panjang dan lebar tertentu, sebaliknya dengan cara berselang-seling dan
sebelum jaringan kambiumnya, untuk klika yang mengandung minyak atsiri
atau senyawa fenol gunakan alat pengelupas yang bukan terbuat dari logam
(Widyaningsih, 2004).

8
2. Batang (caulis)
Batang diambil dari cabang utama sampai leher akar, dipotong-potong
dengan panjang dan diameter tertentu (Widyaningsih, 2004).
3. Kayu (Lignum)
Kayu diambil dari batang atau cabang, kelupas kuliltnya dan potong-potong
kecil (Widyaningsih, 2004).
4. Daun (Folium)
Daun tua atau muda (daun kelima dari pucuk) dipetik satu persatu secara
manual (Widyaningsih, 2004).
5. Bunga (Flos)
Tergantung yang dimaksud, dapat berupa kuncup atau bunga mekar atau
mahkota bunga atau daun bunga, dapat dipetik langsung dengan tangan
(Widyaningsih, 2004).
6. Akar (Radix)
Bagian yang digunakan adalah bagian yang berada di bawah permukaan
tanah, dipotong-potong dengan ukuran tertentu (Widyaningsih, 2004).
7. Rimpang (Rhizoma)
Tanaman dicabut, rimpang diambil dan dibersihkan dari akar, dipotong
melintang dengan ketebalan tertentu (Widyaningsih, 2004).
8. Buah (Fructus)
Dapat berupa buah yang masak, matang atau buah muda, dipetik dengan
tangan (Widyaningsih, 2004).
9. Biji (Semen)
Buah yang dikupas kulit buahnya menggunakan tangan atau alat, biji
dikumpulkan dan dicuci (Widyaningsih, 2004).
10. Bulbus
Tanaman dicabut, bulbus dipisahkan dari daun dan akar dengan
memotongnya (Widyaningsih, 2004).

9
2. Pencucian dan Sortasi Basah
Pencucian dan sortasi basah dimaksudkan untuk membersihkan simplisia
dari benda-benda asing dari luar (tanah, batu dan sebagainya), dan memisahkan
bagian tanaman yang tidak dikehendaki. Pencucian dilakukan bagi simplisia
utamanya bagian tanaman yang berada di bawah tanah (akar, rimpang,), untuk
membersihkan simplisia dari sisa-sisa tanah yang melekat (Widyaningsih, 2004).
3. Perajangan

Perajangan dilakukan untuk mempermudah proses pengeringandan


pewadahan setelah dicuci dan dibersihkan dari kotoran atau bendaasing,
materi/sampel dijemur dulu ±1 hari kemudian dipotong-potongkecil dengan
ukuran antara 0,25-0,06 cm yang setara dengan ayakan4/18 (tergantung jenis
simplisia). Pembuatan serbuk simplisia kecualidinyatakan lain, seluruh
simplisia harus dihaluskan menjadi serbuk(4/18). Semakin tipis perajangan
maka semakin cepat prosespengeringan kecuali tanaman yang mengandung
minyak menguapperajangan tidak boleh terlalu tipis karena menyebabkan
berkurangnyaatau hilangnya zat aktif. Sebaliknya bila perajangan terlalu
tebalpengeringannya lama dan mudah berjamur (Widyaningsih, 2004).
4. Pengeringan
Menurut Widyaningsih (2004), tujuan pengeringan pada tanaman atau
bagian tanaman adalah :
1. Untuk mendapatkan simplisia yang awet, tidak rusak dan dapat digunakan
dalam jangka relative lama.
2. Mengurangi kadar air, sehingga mencegah terjadinya pembusukan oleh
jamur atau bakteri karena terhentinya proses enzimatik dalam jaringan
tumbuhan yang selnya telah mati. Agar reaksi enzimatik tidak dapat
berlangsung, kadar air yang dainjurkan adalah kurang dari 10 %.
3. Mudah dalam penyimpanan dan mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk

10
a. Pengeringan alamiah
Menurut Widyaningsih (2004), tergantung dari kandungan zat aktif
simplisia, pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Sinar matahari langsung, terutama pada bagian tanaman yang keras (kayu,
kulit biji, biji dan sebagainya) dan mengandung zat aktif yang relative stabil
oleh panas)
2. Diangin-anginkan dan tidak terkena sinar matahari secara langsung,
umumnya untuk simplisia bertekstur lunak (bunga, daun dan lain-lain) dan
zat aktif yang dikandungnya tidak stabil oleh panas (minyak atsiri).
b. Pengeringan buatan
Cara pengeringan dengan ,menggunakan alat yang dapat diatur suhu,
kelembaban, tekanan atau sirkulasi udaranya (Widyaningsih, 2004).
5. Pewadahan dan penyimpanan simplisia
Sortasi kering dilakukan sebelum pewadahan simplisia bertujuan
memisahkan sisa-sisa benda asing atau bagian tanaman yangtidak dikehendaki
yang tidak tersortir pada saat sortasibasah.Simplisia yang diperoleh diberi wadah
yang baik dan disimpanpada tempat yang dapat menjamin terpeliharanya mutu
darisimplisia.Wadah terbuat dari plastik tebal atau gelas yang berwarnagelap dan
tertutup kedap memberikan suatu jaminan yang memadaiterhadap isinya, wadah
dari logam tidak dianjurkan agar tidakberpengaruh terhadap simplisia. Ruangan
penyimpanan simplisiaharus diperhatikan suhu, kelembaban udara dan sirkulasi
udara ruangannya (Widyaningsih, 2004).
2.2 Uraian Tanaman
2.2.1 Gadung (Dioscorea hispida)
1. Klasifikasi (Pambayun, 2007)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Gambar 2.2.3
Ordo : Dioscoreales
(Dioscorea hispida)

11
Famili : Dioscoreaceae
Genus : Dioscorea
Spesies : Dioscorea hispida
2. Morfologi
Sistem perakaran serabut. Umbi membulat, kadang agak memanjang,
kuning pucat sampai abu-abu cerah; daging putih sampai kuning jeruk. Batang
memanjat melingkar ke kiri, biasanya berduri, kekuning setelah kering. Daun
beranak daun 3, berbulu halus; helaian daun tengah menjorong-melonjong,
helaian daun lateral berukuran tidak sama, anak tangkai daun panjang sampai
1 cm. Perbungaan jantan berbentuk bulir. Perbungaan betina soliter, aksiler.
Buah kapsul, berkayu, besar, berwarna seperi madu, bersayap 3. Biji bersayap
(Pambayun, 2007)
3. Kandungan
Umbi gadung merupakan salah satu sumber pangan berkarbohidrat
tinggi. Karbohidrat dalam gadung didominasi oleh pati. Umbi gadung juga
mengandung racun sianida yang dapatmenyebabkan keracunan dan
mematikan. Sehingga perlu dilakukan beberapa proses untukmenghilangkan
kandungan residu HCN sehingga umbi gadungmenjadi aman dan layak untuk
dikonsumsi. Umbi gadung juga mengandung senyawa polisakarida, dioscorin
dan diosgenin (Sirait, 2012).
4. Manfaat
Tanaman gadung berkhasiat mengobati penyakit kusta (tahap awal),
menyembuhkan gejala kencing manis, mengurangi kejang pada perut,
menghilangkan nanah akibat luka, meringankan gejala reumatik serta
menurunkan kadar gula dan kolesterol dalam darah (Winarno,2004).
2.2.2 Sirih hutan (Piper aduncum Linn.)
1. Klasifikasi (Agusta, 2000)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta

12
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Genus : Piper Gambar 2.2.5
(Piper aduncum Linn)
Spesies :Piper aduncum Linn.
2. Morfologi
Tanaman sirih hutan merupakan salah satu jenis tanaman dari suku
sirih-sirihan (Piperaceae). Tanaman sirih hutan ini termasuk tanaman semak
perdu menjalar dengan ukuran yang kecil dengan tinggi sekitar 1 m. Batang
tanaman sirih hutan berdiameter 2 cm, percabangan banyak, menjalar. Daun
tanaman sirih hutan berbentuk spiral elips membulat, tangkai daun tanaman
sirih hutan panjangnya sekitar 1 cm terselubung, petulangan daun banyak
menyirip, mengkilap, dengan ukurannya sekitar 4 cm x 7 cm, berwarna hijau.
Bunga tanaman sirih hutan bertangkai seperti duri menyendiri dengan ukuran
panjang hingga 4,5 cm. Gagang bunga tanaman sirih hutan panjangnya sedikit
lebih panjang dari tangkai daun. Bunga tanaman sirih hutan malai, bunga
jantan dan bunga betina berbulu, kelopak bunga panjangnya sekitar 1 mm;
Bunga jantan tanaman sirih hutan memiliki 2 benang sari. Buah kecil
bentuknya mirip buah murbei, berukuran sekitar 1,5 mm, berwarna hijau
coklat tua sampai hitam. Budidaya tanaman sirih hutan ini
berkembangbiaknya dengan cara stek. Habitat tanaman sirih hutan berada
pada daerah yang lembab dengan sinar matahari yang sedikit (Agusta, 2000).
2. Kandungan
Tanaman sirih hutan mengandung minyak atsiri, Saponin, flavonoid,
alkoloid, fenol alami, kalsium nitrat, sedikit gula, tanin, karoten, tiamin,
riboflavin, asam nikotinat, vitamin C, pati, dan asam amino (Agusta, 2000).
3. Manfaat
Tanaman sirih hutan untuk mengobati batuk menahun, untuk penghilang
bau badan, untuk sari rapet, keputihan dan untuk menjaga kesehatan kelamin

13
wanita.Tanaman sirih hutan digunakan obat kumur sariawan, radang mulut,
sakit gigi.Daun sirih hutan sebagai obat kulit untuk sakit gatal-gatal, koreng,
luka, jerawat, alaergi/ biduren, untuk pengobatan sakit asma, bronchitis,
untuk mengobati sakit jantung, dan wasir (Agusta, 2000).
2.2.3 Tanaman Sukun (Artocarpus communis) (Hutapea, J.R, 1991)
1. Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Urticales
Familia : Moraceae Gaarpus
Gambar comnmunis)
2.2.3 Tanaman
Genus : Artocarpus Sukun (Artocarpus
Spesies : Artocarpus communis communis)

2. Morfologi
Artocarpus communis (sukun) adalah tumbuhan dari genus
Artocarpus dalam famili Moraceae yang banyak
Gambarterdapat di kawasan
2.2.7 Tanaman
Sukun (Artocarpus
tropika seperti Malaysia dan Indonesia. Ketinggian tanaman ini bias
mencapai 20 meter .Di pulau Jawa tanaman ini communis)
dijadikan tanaman
budidaya oleh masyarakat. Buahnya terbentuk dari keseluruhan kelopak
bunganya, berbentuk bulat atau sedikit bujur dan digunakan sebagai bahan
makanan alternatif .Sukun bukan buah bermusim meskipun bias anya
berbunga dan berbuah dua kali setahun. Kulit buahnya berwarna hijau
kekuningan dan terdapat segmen-segmen petak berbentuk poligonal.
Segmen poligonal ini dapat menentukan tahap kematangan buah sukun
(Mustafa, A.M.,1998).
3. Kandungan
Buah sukun mengandung niasin, vitamin C, riboflavin, karbohidrat,
kalium, thiamin, natrium, kalsium, dan besi .Pada kulit kayunya
ditemukan senyawa turunan flavanoid yang terprenilasi, yaitu artonol B

14
dan sikloartobilosanton. Kedua senyawa terebut telah diisolasi dan diuji
bioaktivitas antimitotiknya pada cdc2 kinase dan cdc25 kinase (Makmur,
L., et al., 1999).
4. Manfaat
Daun Sukun juga dapat mengobati penyakit jantung. Karena daun
sukun sangat beik untuk menjaga kesehatan pembuluh darah maupun
jantung. Cara mendapat manfaat daun sukundengan memanfaatkan 1
lembar daun sukun yang sudah tua yang masih berada di pohon. Daun
sukun yang sudah tua memiliki kadar kimia yang maksimal.(Makmur, L.,
et al., 1999).
2..2.4 Tanaman lengkuas (Alpinia galanga) (Hutapea, J.R, 1991)
1. Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divisio : Tracheophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Zingiberales
Familia : Zingiberaceae Gambar 2.2.4 Tanaman
Gambar(Alpinia
lengkuas 2.2.3 Tanaman
Genus : Alpinia roxb
lengkuans (Alpinia
galanga)
Spesies : Alpinia galanga galanga)
2. Morfologi
Daun tanaman lengkuas (Alpinia galanga) daun tunggal yang
berwarna hijau. Daun ini mempunyai tangkai yang pendek dan susunan
Gambar
daunnya berselang seling. Daun di bagian bawah dan2.2.7 Tanaman lebih
atas biasanya
lengkuas
kecil daripada bagian tengah. Bentuk daun lengkuas (Alpinia
lanset memanjang,
galanga)
bagian ujung runcing, dan pangkalnya menumpul , lalu bagian tepi daun
merata.
Panjang daun sekitar 20-60 cm dengan lebar sekitar 4-5 cm . pelepah
daun berukuran kurang lebih 15-30 cm, beralur dan berwarna hijau.

15
3. Kandungan
Rimpang lengkuas mengandung lebih kurang 1 % minyak atsiri
berwarna kuning kehijauan yang terutama terdiri dari metil-sinamat 48 %,
sineol 20%-30 %, eugenol, kamfer 1 %, seskuiterpan, galangin, dan lain
lain. Selain itu rimpang juga mengandung resin yang disebut kaemferida
dan galangin, kadinen, heksabidrokadalen hidrat, kuersetin, amilum,
beberapa senyawa flavonoid dan lain lain.
4. Manfaat
Rimpang lengkuas biasanya dimanfaatkan untuk membantu mengatasi
rematik, bronkhitis, paru-paru, dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu
masyarakat juga menggunakan rempah lengkuas sebagai obat gosok untuk
penyakit jamur kulit (panu) sebelum obat obatan modern berkembang
seperti sekarang(Makmur, L., et al., 1999).
2.2.5 Tanaman pepaya (Carica papaya) (Hutapea, J.R, 1991)
1. Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divisio : Tracheophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Brassicales
Gambar
Gambar2.2.5
2.2.3Tanaman
Tanaman
Familia : caricaceae pepaya (Carica papaya
lengkuas (Alpinia
Genus : Carica L. galanga)
Spesies : Carica papaya
2. Morfologi
Bunga pepaya (Carica papaya) termasuk bunga majemuk yang
tersusun pada sebuah tangkai (pedunculus).Gambar
Ada 32.2.7
jenisTanaman
bunga pada
lengkuas (Alpinia
tanaman pepaya yaitu bunga jantan (masculus), bunga betina (femiculus),
galanga)
dan bunga sempurna (hermaprodit).
Bunga jantan adalah bunga yang hanya mempunyai benang sari
saja(uniseksual), bunga betina adalah bunga yang hanya memiliki putik

16
saja sedangkan bunga sempurna adalah bunga yang meiliki putik dan
benang sari.
Warna bunga pepaya yaitu kekuningan, dengan tangkai kecil, dan
pada bagian ujung runcing , serta pada bagian tengah berkelopak. Bunga
berbentuk terompet kecil dan penyerbukan terjadi secara silang dengan
bantuan angin.
3. Kandungan
Bunga pepaya (Carica papaya) mengandung lemak sebanyak 0.3 gr,
8.1 gr karbohidrat, kalsium sebanyak 290 mg, zat besi sebanyak 4.2 mg,
fosfor sebanyak 113 mg, dan protein sebanyak 2.6 gr.
4. Manfaat
Bunga pepaya (Carica papaya) sangat bermanfaat buat manusia bukan
hanya sebagai lauk tetapi juga bermafaat menyembuhkan penyakit bisul
lambung karena memiliki antioksidan yang tinggi, mencegah kanker,
membantu sistem pencernaan karena mengandung enzim papainyang
berguna untuk membantu proses pencercanaan.
2.2.6 Lamtoro (Leucaena Leucocephala)
1. Klasifikasi (Pambayun, 2007)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae Gambar 2.2.3
Genus : Leucaena (Leucaena
Leucocephala)
Spesies : Leucaena
2. Morfologi
Tanaman semak atau pohon tingggi sampai 18 m, bercabang banyak dan kuat,
dengan kulit batang abu-abu dan lenticel yang jelas. Daun bersirip dua dengan 4-9
pasangan sirip, bervariasi dalam panjang sampai 35 cm, dengan glandula besar

17
(sampai 5 mm) pada dasar petiole, helai daun 11-22 pasang/sirip, 8-16 mm x 1-2
mm, akut. Bunga sangat banyak dengan diameter kepala 2-5 cm,stamen (10 per
bunga)dan pistil sepanjang 10 mm. Buah polong 14-26 cm x 1,5-2 cm, pendant,
coklat pada saat tua. Jumlah biji 18-22 per buah polong, berwarna coklat.
5. Kandungan
Biji yang sudah tua setiap 100 g mempunyai nilai kandungan kimia berupa zat
kalori sebesar 148 kalori, protein 10,6 g, lemak 0,5 g, hidrat arang 26,2 g, kalsium
155 mg, besi 2,2 mg, vitamin A, Vitamin BI 0,23 mg. Daun petai cina
mengandung zat aktif alkaloid, saponin, flavonoid dan tanin. Dalam petai cina,
mengandung zat aktif yang berupa alkaloid, saponin, flavonoid, mimosin,
leukanin, protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A dan vitamin B. Berbagai
kandungan yang terdapat dalam tanaman petai cina yang diperkirakan sebagai
antiinflamasi adalah flavonoid. Flavonoid dalam bentuk aglikon bersifat nonpolar,
sedangkan dalam bentuk glikosida bersifat polar. Berdasarkan sifat flavonoid
tersebut, maka untuk ekstraksi dapat digunakan etanol 70% sebagai bahan
penyarinya, karena etanol 70% bersifat semi polar yang dapat melarutkan
senyawa yang bersifat polar maupun non-polar. Selain itu, etanol 70% tidak
menyebabkan 23 pembengkakan membran sel dan memperbaiki stabilitas bahan
obat terlarut. (Dalimartha, 2008).
4. Manfaat
Herba sedikit pahit rasanya dan bersifat netral. Berkhasiat sebagai peluruh
kencing (diuretik), obat cacing, susah tidur karena gelisah, luka terpukul, patah
tulang, abses paru dan bisul. Bijinya untuk mengobati cacingan, bengkak
(oedem), radang ginjal dan kencing manis, sedangkan akar digunakan sebagai
peluruh haid. (Dalimartha, 2008).
2.2.7 Mampelas (Tetracera indica)
1. Klasifikasi (Agusta, 2000)
Regnum : Plantae
Gambar 2.2.5
(Tetracera Indica)

18
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Dilleniales
Famili : Dilleniaceae
Genus : Tetracera
Spesies :Tetracera Indica
2. Morfologi
Genus Tetracera adalah jenis tumbuhan yang hidup subur di daerah
hutan tropis Asia mulai dari Malaysia, Indonesia, Vetnam, Thailand, China
sampai Guinea.Genus ini memeiliki berbagai macam spesies yang pada
dasarnya memiliki manfaat dan kegunaan yang hampir sama yaitu sebagai
anti inflamatori, antioksidan dan memiliki aktifitas hepatoprotektif yang
disebabakan karena adanya berbagai kandungan kimia didalamnya yaitu
flavonoid dan derivatnya seperti kuersetin, kaemferol,apigenin, luteolin,
mirisetin, rhamnetin, isorhamnetin,dan azaleatin (Fitriya,2009).
Tetracera indica atau lebih dikenal sebagai mempelas adalah salah satu
spesies dari genus Tetracera. Tumbuhan ini memiliki ciri- ciri diantaranya
habitus semak ( perdu); cara hidup terestrial; daun tunggal,warna daun hijau
tua, bentuk jarong, permukaan daun kasap sedikit berambut, tepi daun
(margofolio) bergerigi (serratus), urat daun muncul ( menonjol) sekunder
paralel,pangkal daun runcing, ujung daun meruncing; tangkai daun sedikit
berambut; duduk daun (filotaksis) berseling; sistem perakaran tunggang;
batang berkayu,bentuk batang bulat, permukaan batang kasar dan sedikit
mengelupas; arah tumbuh batang merayap (repens); tidak bergetah. (Fitriya,
2009).
3. Kandungan
Genus ini memeiliki berbagai macam spesies yang pada dasarnya
memiliki manfaat dan kegunaan yang hampir sama yaitu sebagai anti
inflamatori, antioksidan dan memiliki aktifitas hepatoprotektif yang

19
disebabakan karena adanya berbagai kandungan kimia didalamnya yaitu
flavonoid dan derivatnya seperti kuersetin, kaemferol,apigenin, luteolin,
mirisetin, rhamnetin, isorhamnetin,dan azaleatin (Fitriya, 2009).
4. Manfaat
Selain untuk mengobati penyakit asam urat dan luka luar, tumbuhan
mempelas ( Tetracera indica) juga dapat dimanfaatkan sebagai ampelas alami
untuk menghaluskan kayu, yaitu dengan cara menjemur daun mempelas (
Tetracera indica) dibawah sinar matahari hingga kering, dan setalah kering
barulah bisa dipakai untuk menghaluskan kayu. (Agusta, 2000).
2.2.8 Buah Loa (Pambayun, 2007)
1. Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae Gambar 2.2.3
(Ficus racemosa)
Genus : Ficus
Spesies : Ficus racemosa
2. Morfologi
Loa atau Ficus racemosa (syn. Ficus glomerata Roxb) nama binomial
adalah jenis spesies tanaman dalam keluarga Moraceae. Pohon Loa ini dikenal
sebagai Cluster Fig Tree atau Goolar (gular). Loa banyak adalah tumbuhan
asli yang banyak dijumpai di Australia, Malesia, Asia Tenggara dan benua
India. Di Indonesia sendiri banyak sekali dijumpai di beberapa daerah hutan
tropis dan banyak juga yang hidup di rawa, sungai dan kali. Karena pohon
Loa ini banyak sekali mengandung air.
Pohon Loa juga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman rindang serta
bagi penggemar bonsai, pohon Loa banyak dijadikan sebagai bakalan bonsai
loa. Bonsai Loa sendiri saat ini sangat populer dikalangan pecinta hoby bonsai

20
tanah air. Bonsai Loa bisa mencapai jutaan bahakan puluhan juta jika
memiliki kriteria bonsai loa yang baik, serta kriteria lainnya.Bentuk atau
kebiasaan : Pohon tinggi bisa mencapai ± 17 mGetah : di seluruh bagian
pohon dan batang berwarna putih susu.Daun : Daun panjang 7,5-15 cm, bulat
telur sampai lonjong atau elips-lanset, seluruh, meruncing ke ujungnya, sedikit
berbulu segera menjadi berbulu.Tangkai daun 2 – 7 cm panjang, stipula
persisten 0,5 – 2 cm .
3. Kandungan
Daun mengandung glikosida, gluanol asetat, β-Amirin dan β-sitosterol.
Bark mengandung ceryl behanate, lupeol, lupeol asetat, α & β-Amirin,
gluanol asetat, β-sitosterol, stigmasterol dan keton. Asetat dan β-Gluanol
sitosterol juga telah isolatated dari kayu batang tersebut. Alkaloid, dumurin
telah diisolasi dari kulit batang. Buah mengandung asetat lupeol, β-sitosterol,
hentriacontane, gluanol asetat dan ester asam tiglic dari taraxasterol dan
glukosa (Ghani, 2003).Sebuah tetracyclic baru triterpen-glauanol asetat telah
diisolasi dari daun, kulit kayu dan kayu batang (Rastogi & Mehrotra, 1993).
4. Manfaat
Buah dianggap astringent, perut dan karminatif, diberikan dalam
menorrhagia, hemoptisis, bronkitis, batuk kering, penyakit ginjal dan
limpa.Buah mentah adalah zat ke dalam perut, tonik dan obat penahan darah,
penawar haus, berguna dalam keputihan. Buah yang matang adalah tajam dan
pendinginan, berguna dalam biliousness, sensasi terbakar, kelelahan,
pembuangan kemih, haus, kusta, menorrhagia, dan perdarahan hidung. Jus
segar dari buah matang digunakan sebagai tambahan untuk persiapan logam,
yang diberikan pada diabetes. Buah digunakan untuk nyeri rematik di
Khagrachari oleh Chakma tersebut. Bark adalah pendinginan, zat dan
galactagogue, berguna dalam asma, tumpukan dan uterus yang matang,
sebagai infus itu diberikan untuk menorrhagia. Daun adalah zat ke dalam
perut dan baik untuk bronkitis dan kasih sayang empedu. Lateks adalah

21
afrodisiak dan vulnerary, berguna dalam radang, tumpukan, diare dan dalam
kombinasi dengan minyak wijen pada kanker. Akar digunakan dalam disentri,
getah tonik dan digunakan pada diabetes (Yusuf et al 2009.).
2.2.9 Tanaman jahe (Zingiber officinale) (Hutapea, J.R, 1991)
1. Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Familia : Zingiberaceae
Gambar2.2.8Tanaman
Gambar 2.2m.3 Tanaman
Genus : Zingiber
jahelengkuas
(Zingiber(Zingiber
officinale)
Spesies : Zingiber officinale officinale)
2. Morfologi
Tanaman jahe merupakan terna tahunan, berbatang semu dengan
tinggi antara 30 cm - 75 cm. Berdaun sempit memanjang menyerupai pita,
dengan panjang 15 cm – 23 cm, lebar lebih kurang 2,5 cm, tersusun teratur
dua baris berseling. Tanaman jahe hidup merumpun, beranak-pinak,
menghasilkan rimpang dan berbunga. Berdasarkan ukuran dan warna
rimpangnya, jahe dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu: jahe besar (jahe
gajah) yang ditandai dengan ukuran rimpang yang besar, berwarna muda
atau kuning, berserat halus dan sedikit beraroma maupun berasa kurang
tajam; jahe putih kecil (jahe emprit) yang ditandai dengan ukuran rimpang
yang termasuk kategori sedang, dengan bentuk agak pipih, berwarna
putih, berserat lembut, dan beraroma serta berasa tajam; jahe merah yang
ditandai dengan ukuran rimpang yang kecil, berwarna merah jingga,
berserat kasar, beraroma serta berasa sangat tajam (Rukmana, 2000).
3. Kandungan
Jahe banyak mengandung berbagai fitokimia dan fitonutrien. Beberapa
zat yang terkandung dalam jahe adalah minyak atsiri 2-3%, pati 20-60%,

22
oleoresin, damar, asam organik, asam malat, asam oksalat, gingerin,
gingeron, minyak damar, flavonoid, polifenol, alkaloid, dan musilago.
Minyak atsiri jahe mengandung zingiberol, linaloal, kavikol, dan geraniol.
Rimpang jahe kering per 100 gram bagian yang dapat dimakan
mengandung 10 gram air, 10-20 gram protein, 10 gram lemak, 40-60 gram
karbohidrat, 2-10 gram serat, dan 6 gram abu. Rimpang keringnya
mengandung 1-2% gingerol (Suranto, 2004).
Kandungan gingerol dipengaruhi oleh umur tanaman dan agroklimat
tempat tumbuh tanaman jahe. Gingerol juga bersifat sebagai antioksidan
sehingga jahe bermanfaat sebagai komponen bioaktif anti penuaan.
Komponen bioaktif jahe dapat berfungsi melindungi lemak atau membran
dari oksidasi, menghambat oksidasi kolesterol, dan meningkatkan
kekebalan tubuh (Kurniawati, 2010).
4. Manfaat
Berkaitan dengan unsur kimia yang dikandungnya, jahe dapat
dimanfaatkan dalam berbagai macam industri, antara lain sebagai berikut:
industri minuman (sirup jahe, instan jahe), industri kosmetik (parfum),
industri makanan (permen) jahe, awetan jahe, enting-enting jahe), industri
obat tradisional atau jamu, industri bumbu dapur (Prasetyo, 2003).
Selain bermanfaat di dalam industri, hasil penelitian Kikuzaki dan
Nakatani (1993) menyatakan bahwa oleoresin jahe yang mengandung
gingerol memiliki daya antioksidan melebihi α tokoferol, sedangkan hasil
penelitian Ahmed et al., (2000) menyatakan bahwa jahe memiliki daya
antioksidan yang sama dengan vitamin C.Jahe memiliki rimpang yang
kaya akan kandungan poliphenol ternyata dapat melindungi tubuh dari
berbagai polutan yang ada di lingkungan. Efek antioksidan jahe juga dapat
meningkatkan hormon testosteron, LH dan melindungi testis tikus putih
yang diinduksi oleh fungisida mancozeb (Sakr et al., 2009).
2.2.10 Tanaman coklat (Theobroma cacao L) (Hutapea, J.R, 1991)

23
1. Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divisio : Tracheophyta
Class : Mangnoliopsida
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Theobroma L. Gambar
Gambar2.2.8Tanaman
2.2m.3 Tanaman
coklat (Theobroma cacao
lengkuas (Zingiber
Spesies : Theobroma cacao L.
L) officinale)
2. Morfologi
Coklat (Theobroma cacao L.) tanaman pohon tahunan dengan tinggi
mencapai 5 meter. Indonesia merupakan negara pemasok komoditi coklat
ketiga terbesar di dunia setelah pantai gading (38%) dan ghana (20%)
dengan presentase ekspor 13%. Sistem perakaran tanaman coklat adalah
akar tunggang. Panjang pertumbuhan akar ini bisa mencapai 8 meter
secara horizontal dan 15 meter ke arah bawah. Untuk jenis coklat yang
diperbanyak secara vegetatif, akar coklat tidak membentuk akar tunggang
pada awalnya, melainkan akar-akar serabut yang banyak, baru setelah
dewasa tanaman akan membentuk dua akar yg menyerupaiakar tunggang
(Rukmana, 2000).
3. Kandungan
Coklat (Theobroma cacao L) memiliki kandungan asam oleat, asam
lemak tak jenuh ditemukan pada minyak zaitun, katekin antioksidan kuat
yang tinggi, theobromine, kafein dan phenethyylamine.
4. Manfaat
Berkaitan dengan unsur kimia yang dikandungnya, jahe dapat
dimanfaatkan dalam berbagai macam industri, antara lain sebagai berikut:
industri minuman (sirup jahe, instan jahe), industri makanan (permen),
industri obat tradisional atau jamu, industri bumbu dapur (Prasetyo, 2003).

24
Selain bermanfaat di dalam industri, hasil penelitian Kikuzaki dan
Nakatani (1993) menyatakan bahwa coklat yang mengandung antioksidan
melebihi α tokoferol, sedangkan hasil penelitian Ahmed et al., (2000)
menurunkan tekanan darah, memperlambat penuaan, menghilangkan
depresi dan mencegah kerusakan gigi.(Sakr et al., 2009).
2.2.11 Tanaman bawang merah (Allium cepa L.) (Hutapea, J.R, 1991)
1. Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : monocotylledoneae
Ordo : Liliales
Familia : Liliaceae
Gambar 2.2.8Tanaman
Gambar 2.2m.3 Tanaman
Genus : Allium bawang merah (Allium
lengkuas (Zingiber
Spesies : Allium ascolanicum L. cepa L.)
officinale)
2. Morfologi
Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang termasuk
sayuran rempah yang berguna sebagai bumbu untuk menambah cita rasa
dan kenikmatan pada masakan. Asal –usul bawang merah diperkirakan
berasal dari Iran Pakistan barat dan Syira. Bawang merah menyebar ke
India pada tahun 600 SM. Biji bawang merah terlihat seperti kubah dan
memiliki tiga ruang yang masing-masing merupakan bakal biji. Pada
bunga yang berhasil melakukan persarian akan tumbuh buah sedangkan
bunga yang lain akan mengering dan mati. Biji bawang merah dapat
diperbanyak secara generativ (seksual). Buah bawang merah memiliki
bentuk bulat dan pangkal ujungya tumpul yang membungkus 2-3 butir
biji. Biji bawang merah berbentuk pipih yang biasa disebut dengan siung.
Biji bawang merah tersebut memiliki warna merah, tetapi akan berubah
menjadi warna hitam setelah tua. (Rukmana, 2000).

25
3. Kandungan
Bawang merah juga memiliki kandungan gizi yang setingkat dengan
sayuran lainya. Bawang merah merupakan sumber pridoksin, vitamin A,
Vitamin C, besi, mangan, dan tembaga yang potensial didalam memenuhi
kebutuhan harian.
4. Manfaat
Bawang merah (Allium cepa L.) memiliki manfaat selain digunakan
untuk kebutuhan masakan, bawang merah juga memiliki manfaat untuk
membantu mencegah kanker karena Bawang merah mengandung zat yang
disebut dengan quercetin. Quercetin adalah zat alami yang membua Dalam
sebuah penelitian yang dilakukan di daerah Sudan, penderita diabetes
mellitus tipe satu dan tipe dua yang mengonsumsi bawang merah mentah
terbukti memiliki jumlah gula darah yang normal dibandingkan yang tidak
mengonsumsinyat bawang jadi berwarna warna merah gelap, dan bawang
merah juga memiliki manfaat untuk menurunkan kolestrol (Prasetyo,
2003).

26
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Uraian Lokasi PKL
Adapun lokasi praktikum ini diadakan di 2 desa yaitu di desa Bone Da’a dan
desa Bonda Raya Kec. Suwawa Selatan Kab. Bone Bolango Provinsi Gorontalo.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang kami gunakan dalam pembuatan herbarium yaitu Botol
semprot,gunting,cutter,loyang,selotip. Dan pada pembuatan simplisia kami
menggunakan alat Amplop coklat,botol semprot,cutter,gunting,karung.Kemudian
Bahan yang kami gunakan pada pembuatan Herbarium yaitu air, alkohol
70%,bambu,kardus,kapas,koran,lakban hitam tali rafiah. Dan pada pembuatan
simplisia bahan yang kami gunakan adalah alkohol 70%,Tali Rafiah dan koran.
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Pembuatan Herbarium
1. Dipanen sampel pada pukul 09.00-12.00 WITA
2. Dilakukan sortasi basah yang disertai dengan pencucian dengan air yang
mengalir
3. Dikeringkan sampel dengan cara diangin-anginkan
4. Diolesi sampel menggunakan alkohol 70%
5. Dilakukan sortasi kering pada sampel
6. Disiapkan sasak dari bambu yang sudah dibuat sebelumnya
7. Ditempelkan koran pada kardus yang sudah disiapkan dan ditata rapi diatas
sasak bambu
8. Ditempelkan sampel diatas koran dengan menggunakan kertas yang telah
digunting kecil dengan selotip
9. Dilakukan pengepakan pada sasak dengan menggunakan tali rapiah
10. Dipres sasak dengan menggunakan lakban

27
3.3.2 Pembuatan Simplisia
1. Dipanen sampel pada pukul 09.00-12.00 WITA
2. Dilakukan sortasi basah yang disertai dengan pencucian dengan air yang
mengalir
3. Diranjang sampel
4. Disemprot sampel yang telah dirajang menggunakan alkohol 70%
5. Dikeringkan sampel
6. Dilakukan sortasi kering pada sampel
7. Dilakukan pengepakan pada sampel
8. Disimpan sampel pada wadah yang tertutup baik

28
BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Herbarium

Herbarium

4.1.2 Simplisia

Kulit Kayu Daun

29
Batang Akar

Bunga
Umbi Lapis

Buah Biji

30
Rimpang

4.2 Pembahasan
4.2.1 Herbarium
Menurut Steenis (2003), herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan
tumbuhan yang telah dimatikan dan diawetkan melalui metode tertentu dan
dilengkapi dengan data-data mengenai tumbuhan tersebut. Pada praktek kerja
lapangan kali ini dibuat herbarium yang terdiri dari tumbuhan. Adapun cara
pembuatan diawali dengan proses pemanenan, dimana waktu panen yang sangat tepat
pada pukul 09.00-11.00 karena pada saat itu tumbuhan berfotosintesis. Menurut
Onrizal (2005), diambil pada pukul 09.00-11.00 pada saat itu tumbuhan berfotosintsis
sedang aktif dalam mengubah zat-zat karbon menjadi bahan organik serta
diasimilasikan didalam tubuh tumbuhan, hal ini menyebabkan tumbuhan yang
diambil saat fotosintesis akan mempengaruhi hasil herbarium yang akan dibuat.
Setelah itu proses selanjutnya yaitu penyiapan alat seperti botol semprot, cutter,
gunting, loyang dan selotip, serta bahan berupa air, alkohol 70%, bambu, kardus,
koran, kapas, lakban hitam, selotip dan tanaman herba. Dalam pembuatan herbarium
juga menggunakan sasak, dimana sasak yang digunakan terbuat dari bambu. Menurut
Stacey (2004), dalam pembuatan sasak, bambu dipotong-potong dengan ukuran sasak
yaitu 2 x 60 cm. Sasak dibuat berongga agar udara yang masuk dapat mencegah

31
terjadinya kelembapan pada herbarium dan mencegah munculnya jamur yang dapat
merusak herbarium.
Dilakukan proses sortasi basah. Menurut Onrizal (2005), tujuan dari sortasi
basah ini yaitu untuk memisahkan bagian-bagian yang tidak diperlukan dari tanaman
tersebut. Setelah disortasi basah dilakukan pencucian sampel dengan air yang
mengalir, ini sesuai dengan pendapat Dapundu (2015), tujuan sampel dicuci dengan
air yang mengalir agar kotoran dan debu yang menempel pada tanaman tersebut dapat
terbawa mengalir bersama air. Setelah dicuci dengan air yang mengalir selanjutnya
sampel dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Setelah sampel kering, kemudian
diolesi dengan alkohol 70%. Hal ini dilakukan karena alkohol 70% memiliki kadar
yang sesuai untuk membunuh bakteri. Berbeda dengan alkohol 95% yang kadarnya
berlebihan dan dapat menyebabkan tanaman memutih atau berjamur (Onrizal, 2005).
Setelah diolesi alkohol, sampel ditata diatas kertas koran, kertas koran memiliki
tekstur yang sangat baik dalam penyerapan air sehingga pemilihan kertas koran
sangat tepat dalam pembuatan herbarium, hal ini sesuai dengan Tjitrosoepomo
(2009). Karena bahan-bahan herbarium merupakan objek studi, maka dalam
penempelan harus diperhatikan, agar bahan yang ditempelkan dapat diamati dari
berbagai sudut. Selanjutnya sampel yang diletakkan diatas koran diberi potongan
kertas kecil pada ujung-ujung sampel dengan menggunakan selotip. Hal ini bertujuan
agar bisa menahan sampel. Setelah seluruh sampel ditempel diatas kertas koran,,
koran tersebut ditempel diatas sasak yang sudah dilapisi dengan kardus terlebih
dahulu kemudian disatukan dengan sasak yang satunya lagi. Ujung-ujung sasak diikat
dan diberi lakban untuk menimbulkan pengepresan pada bahan-bahan tumbuhan yang
ditempatkan diantara sasak tersebut dan untuk mencegah pengerutan bagian tanaman
terutama daun (Tjitrosoepomo, 2009).
Proses selanjutnya adalah penyimpanan. Menurut Tjitrosoepomo (2009),
bahan-bahan yang telah diawetkan melalui pengeringan sebelum atau setelah
ditempel pada kertas herbarium atau dimasukkan di dalam amplop atau wadah lain
untuk disimpan, biasanya mendapat perlakuan tambahan yang bertujuan untuk

32
mencegah gangguan serangga atau jamur selama disimpan. Waktu yang dibutuhkan
untuk pembuatan herbarium adalah lebih kurang selama 2 minggu pada suhu kamar.
Hal ini sesuai dengan literature Meynyeng (2010) yang menyatakan pembuatan
herbarium biasanya membutuhkan waktu lebih kurang 2 minggu dan suhu yang
digunakan adalah suhu kamar berkisar 30-350C.
4.2.2 Simplisia
Simplisia merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat
alam yang berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk
(Gunawan dan Mulyani, 2002).
Pada praktek kerja lapangan kali ini dibuat simplisia yang terdiri dari
beberapa tumbuhan. Untuk simplisia akar digunakan tumbuhan coklat, simplisia kulit
batang digunakan tumbuhan sirih hutan, simplisia daun tumbuhan lengkuas, simplisia
batang tumbuhan mempelas, simplisia umbi tumbuhan ubi hutan, simplisia rimpang
tumbuhan jahe, simplisia buah tumbuhan lao, simplisia biji tumbuhan lamtaro,
simplisia umbi lapis tumbuhan bawang merah, simplisia bunga tumbuhan bunga
papaya dan simplisia herba tumbuhan sukun.
Adapun cara pembuatan diawali dengan proses pengumpulan bahan baku.
Dalam proses pengumpulan bahan baku ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Menurut Manaring (2015), pada proses pengambilan akar dapat menggunakan
cangkul, sekop dan alat lain yang tidak merusak tanaman. Pada proses pengambilan
kortex diambil dari batang utama cabang, dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar
tertentu, sebaiknya dengan cara berselang-seling dan sebelum jaringan kambiumnya,
untuk korteks atau kulit batang yang mengandung minyak atsiri atau senyawa fenol
gunakan alat pengelupas yang bukan terbuat dari logam. Pada proses pengambilan
daun diambil daun pucuk dilakukan dengan cara pemangkasan menggunakan pisau
atau gunting bersih dan diambil saat tumbuhan berfotosintesis pada pukul 09.00-
12.00. Pada proses pengambilan batang diambil dari batang utama dan cabang
dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu dan tidak mengambilnya dengan
satu lingkaran penuh pada batang. Pada proses pengambilan umbi dapat

33
menggunakan cangkul, sekop dan alat lain yang tidak merusak tanaman. Pengambilan
umbi lapis dilakukan pada saat umbi mencapai besar maksimum dan pertumbuhan
pada bagian diatas tanah berhenti. Pada proses pengambilan rimpang diambil secara
langsung yang harus memperhatikan agar diperoleh bagian rimpang yang
dikehendaki dan rimpang diambil pada proses pertumbuhannya berhenti. Pada proses
pengambilan biji ditandai dengan telah mengeringnya buah. Pada proses pengambilan
bunga dilakukan dengan cara dipetik. Menurut Ballitro (2009), pengambilan buah
diambil pada saat buah tidak terlalu matang dan dipanen setelah masak dengan cara
memetik.
Setelah dipanen, sampel disortasi basah, menurut Wahyuni (2014), sortasi
basah dilakukan untuk memilih kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari
tumbuhan sebelum pencucian dengan cara membuang bagian-bagian tanaman yang
tidak digunakan. Setelah disortasi basah sampel dicuci, sampel dicuci dengan
menggunakan air yang mengalir, ini sesuai dengan pendapat Dapundu (2015), tujuan
sampel dicuci dengan air yang mengalir agar kotoran dan debu yang menempel pada
tanaman tersebut dapat terbawa mengalir bersama air. Setelah dicuci sampel dirajang,
menurut Indarfiya (2011), perajangan sebaiknya tidak terlalu tipis untuk mencegah
kurangnya kadar suatu senyawa dan jika dirajang terlalu tebal memerlukan waktu
penjemuran lebih lama yang kemungkinan tanaman ditumbuhi jamur. Setelah
dilakukan perajangan, sampel dikeringkan dengan cara diangin-anginkan atau
dibawah sinar matahari dan ditutup menggunakan kain hitam, menurut Nasuda
(2001), tujuan penutupan kain hitam untuk menghindari kontak langsung antara
tumbuhan dengan sinar matahari sehingga kerusakan komponen-komponen dapat
dikurangi. Hal ini sesuai dengan pendapat Onrizal (2005) pengeringan dilakukan
dengan cara diangin-anginkan, cara ini digunakan untuk mengeringkan bagian
tanaman yang lunak dan mengandung senyawa aktif mudah menguap. Setelah
dikeringkan sampel disortasi kering, Triharto (2009), mengatakan bahwa sortasi
kering dilakukan terhadap bahan yang terlalu gosong dan dibersihkan dari kotoran

34
hewan. Setelah disortasi kering sampel diawetkan dengan menyemprotkan alkohol.
Sesuai dengan pendapat Nugroho (2008), penyemprotan menggunakan alkohol
bertujuan untuk membunuh mikroba yang ada pada sampel dan mempercepat
pengeringan. Setelah diawetkan kemudian sampel disimpan dalam amplop coklat,
menurut Steenis (2003), simplisia yang diperoleh diberi wadah yang baik dan
disimpan pada tempat yang dapat menjamin terpeliharanya mutu dari simplisia.
Wadah terbuat dari plastik tebal atau gelas yang berwarna gelap dan tertutup kedap
memberikan suatu jaminan yang memadai terhadap isinya.

35
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Terdapat banyak jenis tanaman sebagai bahan alami yang dapat diolah sebagai
obat. Seperti tanaman lengkuas (Alpinia galanga), pepaya (Carica papaya),
ubi hutan (Dioscorea hispida Dennst), bawang merah (Allium cepa), jahe
(Zingiber officinale), sukun (Artocarpus altilis), lamtoro (Leucaena
leucocephala), coklat (Theobroma cacao), dan sirih hutan (Piper aduncum
Linn). Dari semua tanaman tersebut mempunyai manfaat yang berbeda-beda,
tergantung pada kandungan zat tanaman tersebut.
2. Cara pembuatan herbarium yaitu pengambilan sampel, sortasi basah,
pencucian, pengeringan, sortasi kering, pengawetan, pengepakan,
pengepresan, penyimpanan, dan pengemasan. Sedangkan untuk cara
pembuatan simplisia yaitu pengambilan sampel, sortasi basah, pencucian,
perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengawetan, pengepakan dan
penyimpanan.
5.2 Saran
5.2.1 Jurusan
Kami sebagai praktikan mengharapkan agar pihak jurusan dalam pelaksanaan
kegiatan PKL untuk saling bekerja sama dengan orangtua memberitahukan mengenai
pelaksanaan PKL,.
5.2.2 Asisten
Saran kami yaitu ketika dalam praktek kerja lapangan sebaiknya asisten
memantau terus menerus para praktikan dan pada saat proses pengambilan sampel
dengan mengikuti tahap-tahap yang sudah ditentukan. Serta juga membimbing
praktikan agar fokus untuk melakukan tugasnya.

36
5.2.3 Praktikan
Diharapkan agar praktikan lebih memahami dan menguasai materi tentang
Praktek Kerja Lapangan Farmakognosi ini serta dapat bekerja sama dengan baik
bersama asisten dan juga anggota kelompok lainnya, selain itu juga praktikan bisa
lebih disiplin terhadap waktu untuk kesuksesan Praktek Kerja Lapangan ini.

37