Anda di halaman 1dari 10

METODE SAMPLING DAN KOLEKSI SPESIMEN HEWAN

Oleh:
Nama : Yulia Kurnaeni
NIM : B1A018067
Rombongan : VII
Kelompok :3
Asisten : Nugroho Dwi Septianto

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latal Belakang

Populasi dalam penelitian klinis didefinisikan sebagai kelompok orang yang


memiliki karakter atau kondisi yang sama, biasanya penyakitnya. Pendekatan
praktis dalam penelitian klinis adalah untuk memasukkan bagian dari populasi ini,
disebut populasi sampel. Seluruh populasi kadang-kadang disebut populasi target
sementara populasi sampel disebut populasi penelitian. Saat melakukan penelitian,
kami harus mempertimbangkan sampel untuk mewakili target populasi, sebanyak
mungkin, dengan kesalahan sesedikit mungkin dan tanpa substitusi atau
ketidaklengkapan. Proses dari memilih populasi sampel dari populasi target adalah
disebut metode sampling (Elfil & Negida, 2017).

Koleksi spesimen bermanfaat untuk menyediakan informasi mengenai


variabilitas, morfologi, dan genetik dari species. Selain itu koleksi spesimen juga
berperan dalam mempelajari ekologi dan aspek biologi lain untuk jenis-jenis
tertentu, memberikan layanan/jasa pendidikan konservasi menyangkut jenis dan
kebutuhan untuk mengkonservasinya, berbagai field guide manual akan
memudahkan pengenalan jenis di lapangan dan akan sangat membantu peneliti di
lapangan. Disamping itu koleksi spesimen juga membantu pengungkapan
pengetahuan baik dibidang boisistematik atau kepentingan lainnya, terutama dengan
teknik ekstrak DNA yang secara langsung maupun tidak langsung dapat diambil
dari koleksi (Budiman et al., 2002).

Pendataan ada beberapa macam yaitu data lapangan, labeling, cataloging dan
database (data spesimen dan data penunjang). Data lapangan Berisikan semua data
identitas spesimen dari lapangan yang dicatat dalam buku lapangan dan merupakan
catatan kerja (nama jenis, tanggal pengambilan, kolektor, lokasi, suhu, arus,
kedalaman, kecerahan, posisi, salinitas, pH, parameter kualitas air lainnya, teknik
koleksi, nama lokal dan lain-lainnya). Labeling (pelabelan) hanya berisikan
informasi tertentu saja misalnya nama jenis, nama suku, nomor katalog, koordinat,
nama lokasi, nama kolektor, nama identifikator, tanggal identifikasi, tanggal
pengambilan dan alat yang digunakan. Identifikasi Spesimen yang telah selesai
diproses, maka segera dilakukan identifikasi. Identifikasi biasanya dilakukan
dengan bantuan mikroskop. Setelah itu ditulis dalam label dan dicatat dalam buku
katalog. Spesimen yang telah diidentifikasi, akan dilakukan pengatalogan yaitu
penulisan data dalam buku besar yang selanjutnya akan disimpan dan dipindahkan
dalam komputer dalam bentuk database. Database tersebut berisikan semua
informasi yang terdapat dalam suatu spesimen secara lengkap dan benar. Katalog
adalah suatu daftar dari, dan indeks ke, suatu koleksi buku dan bahan lainnya.
Katalog memungkinkan pengguna untuk menemukan suatu bahan pustaka yang
tersedia dalam koleksi perpustakaan tertentu. Katalog juga memungkinkan
pengguna untuk mengetahui di mana suatu bahan pustaka bisa ditemukan (Ginting
dan Syahputra, 2017).
B. Tujuan

Tujuan praktikum metode sampling dan koleksi spesimen adalah:


1. Mengetahui metode pengambilan sampel dan pengawetan spesimen hewan.

2. Melakukan pengawetan terhadap hewan Invertebrata dan Vertebrata.

3. Melakukan pendataan spesimen awetan dalam katalog.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Metode sampling dibagi menjadi dua tipe, yaitu probabilitas atau sampling acak
dan non probabilitas atau sampling tak acak. Sampling dengan probabilitas berarti
bahwa semua aspek dalam populasi dapat diikutsertakan dalam sampel. Sampling
probabilitas berarti bahwa setiap item dalam populasi memiliki peluang yang sama
untuk menjadi termasuk dalam sampel. Probabilitas atau pengambilan sampel acak
mempunyai kebebasan terbesar dari bias tetapi dapat mewakili sampel paling mahal
dalam hal waktu dan energi untuk tingkat kesalahan pengambilan sampel tertentu.
Probabilitas sampling memiliki jenis yaitu, simple random, stratified random, cluster
sampling, systematic sampling, dan multi stage sampling (Taherdoost, 2016).

Insektarium merupakan tempat menyimpan koleksi spesimen insekta, baik awetan


basah maupun awetan kering. Insektarium sering menampilkan berbagai jenis serangga.
Koleksi serangga merupakan bahan untuk belajar struktur tubuh serangga secara
mendalam, terutama yang berhubungan dengan ciri khasnya, sehingga kita lebih mudah
mengenal dan menggolongkannya bila suatu waktu menjumpainya kembali di lapangan.
Insektarium merupakan salah satu sumber pembelajaran yang penting dalam ilmu
biologi, karena melalui media tersebut dapat melihat secara langsung bentuk asli dari
insekta (Rahma, 2018). Menurut Alipour et al. (2018), pemeliharaan koloni serannga
dengan berbagai tahap siklus hidupnya dalam koleksi spesimen insektarium dihadapkan
dengan beberapa masalah yang menyebabkan munculnya metode lain seperti
cryopreservation atau pengawetan dingin yang dapat memelihara serangga selama di
laboratorium.
Taksidermi merupakan istilah pengawetan untuk hewan, khususnya pada hewan
vertebrata dan biasanya dilakukan terhadap hewan yang berukuran relatif besar dan
hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, burung, dan Mamalia. Organ
dalam dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali, seperti bentuk asli ketika hewan
tersebut hidup. Taksidermi yaitu kulit hewan yang dibentuk kembali sesuai dengan
aslinya setelah kulit dikeringkan dan diganti dengan benda lain (Sugiarti, 2017).
taksidermi merupakan suatu bentuk seni mengawetkan kulit binatang baik bagi
kepentingan ilmu pengetahuan (penelitian) maupun hiburan. Pengawetan taksiderni
dilakukan pada hewan vertebrata dan biasanya hewan yang berukuran relatif besar yang
dapat dikuliti seperti beberapa amphibi, reptil, aves, dan mamalia (Rohmatulloh et al.,
2017).

Koleksi spesimen yaitu pengawetan yang digunakan dalam mempertahankan


organ spesimen teknik koleksi dibedakan menjadi dua yaitu koleksi basah dan koleksi
kering. Koleksi kering dilakukan untuk hewan seperti kelas mamalia amfibi dan aves.
Koleksi basah digunakan untuk kelas reptil dan pisces. Persiapan koleksi spesimen yaitu
mematikan objek, fiksasi dan pengawetan objek. Hewan yang akan dijadikan spesimen
harus dimatikan terlebih dahulu untuk memudahkan dalam melakukan pengawetan
kemudian dilakukan fiksasi. Fiksasi bertujuan mempertahankan ukuran dan bentuk sel
tubuh dilakukan pengawetan spesimen agar spesimen tersebut tidak rusak, sehingga
dapat dijadikan koleksi rujukan dalam identifikasi hewan secara koleksi tergantung pada
taksa satu spesies (Tjakrawidjaya, 1999).

Terdapat dua macam tipe koleksi spesimen yaitu koleksi basah dan koleksi kering.
Koleksi basah adalah koleksi yang disimpan dalam larutan pengawet etanol 70%,
sedangkan koleksi kering berupa tulang dan kulit yang diawetkan dengan bahan kimia
formalin atau boraks. Pengawetan hewan dapat dilakukan dengan cara pembuatan
preparat tulang yaitu terlebih dahulu membedah dan menguliti spesimen hingga bersih
dari kulitnya kemudian dilakukan perebusan selama 30 menit hingga 2 jam agar
memudahkan pemisahan otot dari rangka lalu didinginkan secara alami selanjutnya
dibersihkan otot atau daging yang masih menempel pada rangka dengan hati-hati
sampai bersih lalu dibersihkan dan direndam dalam pemutih agar tulangnya putih bersih
terakhir ditata rapi, diberi label dan di identifikasi (Yayuk et al.,2010).

Tipe spesies merupakan tipe utama dari spesimen, dapat sebagai holotype, syntype,
lectotype, dan neotype. Holotype adalah spesimen tunggal yang ditunjuk dalam literatur
sebagai standar untuk spesies tertentu atau spesimen tertentu yang ditunjuk untuk
mewakili jenis suatu spesies. Syntype merupakan salah satu dari dua atau lebih spesimen
yang dikutip oleh pengarang apabila tidak ada holotype yang ditetapkan, atau salah satu
dari dua atau lebih spesimen secara bersamaan ditetapkan sebagai jenis. Lectotype
adalah spesimen yang dibuat dari material aslinya dan dinyatakan sebagai type
disebabkan pada saat itu belum ada publikasi yang menyatakan holotype-nya. Neotype
adalah spesimen yang tercantum dalam publikasi dan berfungsi sebagai nomenclatural
type dikarenakan seluruh material menjadi dasar pemberian nama suatu takson diambil
telah hilang atau musnah (Hawkswoth, 2010).

Gambar 2.1. Insktarium Gambar 2.2. Taksidermi


Gambar 2.3 Awetan Basah Gambar 2.4 Awetan Rangka
II. METODOLOGI

A. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah botol kaca, spuit,
kotak fiksasi, jaring serangga, killing bottle, kapas, kardus, kertas kalkir, pinset,
office pin atau jarum, styrofoam, alat bed, alat penyimpan spesimen, baki preparat,
kompor, sikat gigi, alat tulis dan kamera.

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah alkohol 70%, tisu,
chloroform, formalin, alkohol, silica gel, tepung maizena, boraks, kapas atau dakron,
mata palsu, kawat, lem, Sabun cair, pemutih / Natrium Hipoklorit (NaOCl 10%),
dan Spesimen yang digunakan.

B. Metode

Metode yang dilakukan pada praktikum kali metode sampling dan koleksi
spesimen hewan antara lain:

1. Beberapa teknik pengambilan sampel hewan dipelajari


2. .Proses preparasi koleksi hewan di lapangan atau laboratorium (pembiusan,
pembunuhan, fiksasi, pengawetan) dipelajari.

1. Proses manajemen koleksi spesimen hewan dipelajari.


2. Laporan praktikum sementara dilengkapi.
DAFTAR REFERENSI

Alipour, H., Shahriari-Namadi, M., Raz, A. & Moemenbellah-Fard, M. D.,


2018.Cold-Preservation of Lucilia sericata (Diptera: Calliphoridae) Pupae and
Adult Products As a New Venture to Adult Rearing. Journal of Experimental
Biology and Agricultural Sciences; 6(3), pp.544-599.

Budiman, A., Arief, A. J., & Tjakrawidjaya, A. H., 2002. Peranan Museum Zoologi
dalam Penelitian dan Konservasi Keanekaragaman (Ikan). Jumal Iktiologi
Indonesia, 2(2), pp.51-55.

Elfil M, Negida A. 2017. Sampling methods in Clinical Research; an Educational


Review. Emergency, 5 (1).pp. 52.

Ginting, G.L. and Syahputra, F., 2017. Aplikasi E-Resources Perpustakaan dalam
Penunjang Peningakatan Kinerja pada Layanan Katalog Digital Online. KOMIK
(Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komputer), 1(1), pp. 288.

Hawkswoth, D. L., 2010. Terms Used in Bionomenclature: The Naming of Organism.


Copenhagen: Global Biodiversity Information Facility.

Rahma, A., 2018. Di berbagai tipe habitat pada kawasan hutan lindung Ambawang
Desa Sungai deras Kecamatan Teluk pakedai Kabupaten Kubu Raya. Jurnal
Hutan Lestari, 6(1), pp. 96-106.

Rahmatulloh, R., Effendi,M., & Triastinurmiatiningsih, T., 2017. Pemanfaatan Abu


Pelepah Kelapa sebagai Pengganti Boraks dalam Teknik Taksidermi Mencit
(Mus Musculus). Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Biologi, 2(2). pp. 1-7.

Sugiarti, A., 2017. Identifikasi jenis paku-pakuan (Pteridophyta) di kawasan Cagar


Alam Pagerwunung Darupono Kabupaten Kendal sebagai media pembelajaran
sistematika tumbuhan herbariuma. Doctoral dissertation, UIN Walisongo,
Semarang.
Taherdoost, H., 2016. Sampling Methods in Research Methodology; How to Choose a
Sampling Technique for Research. International Journal of Academic Research
in Management (IJARM), 5(2), pp. 18-27.

Tjakrawidjaya, F. 1999. Arsenic In Taxidermy Collections. Bogor : Puslitbang.

Yayuk, S., Hartini, U. & Sartiami, E. 2010. Koleksi, Preservasi, Identifikasi, Kurasi dan
Manajemen Data. Bandung: Angkasa.