Anda di halaman 1dari 4

Mata Kuliah : Audit Kinerja

Materi : Standar Audit Kinerja Sektor Publik


Sub Materi : 1. Standar Umum
2. Standar pelaksanaan audit kinerja
3. Standar pelaporan audit kinerja
Kelompok 3 : 1. Synta 2. Dian Irwanda
2. Kurnia Afriyanti 4. Rama Mahendra

STANDAR AUDIT KINERJA SEKTOR PUBLIK

Dalam melaksanakan suatu audit, diperlukan standar yang akan digunakan untuk menilai
mutu pekerjaan audit yang dilakukan. Standar tersebut memuat persyaratan minimum yang harus
dipenuhi oleh seorang auditor dalam melaksanakan tugasnya.

Di Indonesia standar audit pada sektor publik adalah Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara (SPKN) yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berdasarkan SPKN,
dalam audit kinerja berlaku standar umum, standar pelaksanaan, dan standar pelaporan. Standar
umum berlaku untuk audit keuangan, audit kinerja dan audit dengan tujuan tertentu. Standar
pelaksanaan dan standar pelaporan adalah spesifik untuk ketiga jenis tersebut.

1. Standar Umum, Standar umum terdiri atas empat pernyataan :

Pernyataan standar umum pertama “Pemeriksa secara kolektif harus memiliki


kecakapan profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan”. Dasar
pemikiran pernyataan ini adalah auditor harus bertanggung jawab terhadap mutu pekerjaan audit
dengan lingkup dan kompleksitas yang bervariasi. Untuk memperoleh mutu yang baik, auditor
harus mempunyai keahlian dan pengetahuan yang memadai sehingga mampu menghasilkan
laporan audit yang akurat, berguna dan kredibel. Keahlian tersebut diperoleh melalui pendidikan
dan pelatihan.

Pernyataan standar umum kedua “Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan
pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan
penampilan dari gangguan pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat memengaruhi
independensinya”. Dasar pemikiran pernyataan ini adalah pelaksanaan audit oleh orang yang
mempunyai keahlian dan pengetahuan saja tidaklah cukup. Dibutuhkan suatu sikap independensi
atau ketidakberpihakan dari auditor. Adanya sikap independensi ini membuat seorang auditor
dapat memberikan pendapat, simpulan, pertimbangan, atau rekomendasi dari hasil audit yang
dilaksanakan secara tidak memihak.

Pernyataan standar umum ketiga “Dalam pelaksanaan pemeriksaan serta penyusunan


laporan hasil pemeriksaan, pemeriksa wajib menggunakan kemahiran profesionalnya secara
cermat dan saksama”. Dasar pemikiran pernyataan ini adalah keahlian dan keterampilan serta
kebebasan bertindak dan bependapat akan mencapai mutu pekerjaan yang baik apabila audit
dilaksanakan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan. Pernyataan ini mewajibkan auditor
untuk menggunakan kemahirannya secara profesional, cermat dan saksama, memerhatikan
prinsip-prinsip pelayanan atas kepentingan publik serta memelihara integritas, objektivitas, dan
independensi dalam menerapkan kemahiran profesional terhadap setiap aspek auditnya.
Pernyataan standar umum keempat “Setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan
pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu yang
memadai dan sistem pengendalian mutu tersebut harus di review oleh pihak lain yang kompeten
(pengendalian mutu eksternal)”. Dasar pemikiran pernyataan ini adalah sistem pengendalian
mutu diperlukan untuk menjamin mutu audit yang dilakukan. Untuk menjamin adanya sistem
pengendalian mutu yang baik dan up to date, sistem penggendalian mutu yang ada pada suatu
organisasi harus di review secara berkala oleh pihak yang independen dan kompeten sehingga
memberikan keyakinan yang memadai bahwa kebijakan dan prosedur audit yang ditetapkan dan
standar audit yang berlaku telah dipatuhi.

2. Standar Pelaksanan Audit Kinerja, Standar pelaksanaan audit kinerja terdiri atas
empat pernyataan:

Pernyataan standar pelaksanaan pertama “Pekerjaan harus direncanakan secara


memadai”. Dasar pemikiran pernyatan ini adalah suatu kenyataan bahwa objek audit biasanya
terdiri atas objek yang baru atau objek yang berulang. Tingkat pemahaman terhadap organisasi,
kegiatan, dan kebijakan yang dilaksanakan akan menentukan tingkat kecermatan dan keandalan
perencanaan audit yang akan dilakukan. Oleh karena itu, perencanaan audit merupakan
keharusan karena sangat menentukan efesiensi dan efektivitas audit. Perencanaan audit kinerja
meliputi penentuan tujuan, lingkup dan metodologi audit. Hal-hal yang harus dilakukan oleh
auditor dalam merencanakan audit kinerja dirinci sebagai berikut:

1. Mempertimbangkan signifikansi masalah dan kebutuhan potensial pengguna laporan


audit.
2. Memperoleh suatu pemahaman mengenai program yang diaudit.
3. Mempertimbangkan pengendalian internal.
4. Merancang audit untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan atas ketentuan dan
peraturan perundang-undangan, kecurangan (fraud), dan ketidakpatutan (abuse).
5. Mengidentifikasi kriteria yang diperlukan untuk mengevaluasi hal-hal yang harus
diaudit.
6. Mengidentifikasi temuan audit dan rekomendasi yang signifikan dari audit terdahulu
yang dapat memengaruhi tujuan audit.
7. Mempertimbangkan apakah pekerjaan auditor lain atau ahli dapat digunakan untuk
mencapai tujuan audit yang telah ditetapkan.
8. Menyediakan pegawai atau staf yang cukup dan sumber daya lain untuk melaksanakan
audit.
9. Mengomunikasikan informasi mengenai tujuan audit serta informasi umum lain yang
berkaitan dengan rencana dan pelaksanaan audit kepada manajemen dan pihak lain yang
terkait.
10. Mempersiapkan rencana audit.
Pernyataan standar pelaksanaan kedua “Staf harus disupervisi dengan baik”. Dasar
pemikiran pernyataan ini adalah bahwa pelaksanaan audit kinerja membutuhkan waktu yang
cukup lama, melibatkan jumlah auditor cukup banyak dengan latar belakang yang multidisiplin,
jadwal penyelesaian pekerjaan yang ketat, serta lokasi audit yang tersebar di beberapa tempat
dan daerah. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu organisasi dan sistem audit yang mampu
menciptakan sistem pengawasan terhadap staf. Sistem supervisi tersebut harus jelas mengatur
“siapa mengerjakan apa, di mana dan kapan” serta menjadi sistem peringatan dini terhadap
pelaksanaan audit.
Pernyataan standar pelaksanaan ketiga “Bukti yang cukup, kompeten, dan relevan
harus diperoleh untuk menjadi dasar yang memadai bagi temuan dan rekomendasi pemeriksa”.
Dasar pemikiran pernyataan ini adalah bahwa pelaksanaan audit pada hakikatnya merupakan
pengumpulan dan pengujian atas bukti dan fakta yang ada dilapangan sehingga bukti yang
didapatkan harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Apabila dari pengujian
ditemukan adanya kesalahan data atau auditor tidak mampu memperoleh bukti yang cukup,
kompeten, dan relevan, auditor dapat mencari bukti dari sumber lain atau tetap menggunakan
data tersebut namun secara jelas menunjukan dalam laporan auditnya mengenai keterbatasan
data serta menghindari pembuatan simpulan dan rekomendasi yang tidak kuat dasarnya. Bukti
dikatakan cukup apabila bukti itu dapat menyakinkan seseorang bahwa temuan audit tersebut
valid. Bukti dikatakan kompeten apabila bukti tersebut valid, dapat diandalkan, dan konsisten
dengan fakta. Bukti dikatakan relevan apabila bukti tersebut mempunyai hubungan yang logis
dan arti penting bagi temuan audit yang bersangkutan.
Pernyataan standar pelaksanaan keempat “Pemeriksa harus mempersiapkan dan
memelihara dokumen pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja pemeriksaan. Dokumen
pemeriksaan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan pemeriksaan
harus berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan pemeriksaan tersebut, dapat
memastikan bahwa dokumen pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung
temuan, simpulan, dan rekomendasi pemeriksa”. Dasar pemeriksaan pernyataan ini adalah
bahwa tujuan akhir audit kinerja adalah membuat simpulan hasil audit dan memberikan
rekomendasi untuk perbaikan terhadap pengelolaan entitas yang diaudit.
3. Standar Pelaporan Audit Kinerja, Standar pelaporan audit kinerja terdiri atas
empat pernyataan:
Pernyataan standar pelaporan pertama “Pemeriksa harus membuat laporan hasil
pemeriksaan untuk mengomunikasikan setiap hasil pemeriksaan”. Dasar pemikiran pernyataan
ini adalah bahwa setiap kegiatan audit yang dilakukan tidak ada artinya apabila hasilnya tidak
dikomunikasikan dengan baik. Oleh karena itu, hasil audit harus dikomunikasikan dalam bentuk
laporan hasil audit. Berikut ini beberapa fungsi laporan hasil audit :
1. Mengomunikasikan hasil audit kepada pihak yang berwenang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2. Membuat hasil audit terhindar dari kesalahpahaman.
3. Menjadikan hasil audit sebagai bahan untuk melakukan tindakan perbaikan oleh instansi
terkait.
4. Memudahkan pemantauan tindak lanjut untuk menentukan pengaruh tindakan perbaikan
yang seharusnya dilakukan.
Pernyataan standar pelaporan kedua “Laporan hasil audit mencakup: (a) pernyataan
bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan standar pemeriksaan; (b) tujuan, lingkup, dan
metodologi pemeriksaan; (c) hasil pemeriksaan berupa temuan audit, simpulan dan
rekomendasi; (d) tanggapan pejabat yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan; (e)
pelaporan informasi rahasia apabila ada”. Dasar pemeriksaan pernyataan ini adalah bahwa
laporan yang jelas dan lengkap diperlukan untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman.
Pernyataan standar pelaporan ketiga “Laporan hasil pemeriksaan harus tepat waktu,
lengkap, akurat, objektif, meyakinkan, serta jelas dan seringkas mungkin”. Dasar pemikiran
pernyataan ini adalah bahwa suatu informasi akan bermanfaat secara maksimal apabila laporan
hasil audit tersebut tepat waktu. Laporan yang dibuat dengan hati-hati tetapi terlambat
disampaikan, nilainya menjadi kurang bagi pengguna laporan hasil audit.
Pernyataan standar pelaporan keempat “Laporan hasil pemeriksaan diserahkan
kepada lembaga perwakilan, entitas yang diaudit, pihak yang mempunyai kewenangan untuk
mengatur entitas yang diaudit, pihak yang bertanggungjawab untuk melakukan tindak lanjut
hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil
pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Dasar
pemikiran pernyataan ini adalah bahwa audit kinerja bertujuan untuk memberikan mekanisme
jaminan pengendalian yang kuat, yang memperluas konsep akuntabilitas dari hal-hal yang
bersifat keuangan ke hal-hal yang bersifat operasional. Hal ini dilakukan dengan
mengidentifikasi kesempatan untuk memperkuat pengendalian internal dan menyarankan
perubahan yang akan meningkatkan efesiensi dan efektivitas operasi. Laporan audit tertulis
membantu dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Memberikan media untuk mengomunikasikan hasil audit kepada pejabat yang berwenang
disemua tingkatan manajemen.
2. Mengurangi kesalahpahaman atas temuan audit.
3. Memberikan dasar untuk mendiskusikan temuan audit dengan manajemen dan sebagai
alat untuk menerbitkan tanggapan manajemen.
4. Memberikan dasar untuk tindak lanjut audit dan sejauh mana rekomendasi akan
diimplementasikan.
5. Memungkinkan temuan audit untuk diawasi oleh masyarakat.
Secara umum perbandingan antara standar pelaksanaan dan standar pelaporan untuk
ketiga jenis audit keuangan negara dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Uraian mengenai perencanaan audit kinerja lebih banyak dari audit keuangan dan audit
dengan tujuan tertentu. Hal ini dikarenakan sifat audit kinerja yang lebih luas dan sifat
informasi yang berbeda antar entitas.
2. Berbeda dengan audit keuangan yang menekankan pada kompetensi bukti audit dengan
tujuan tertentu justru menekankan pada kecukupan bukti sedangkan pengumpulan bukti
pada audit kinerja ditekankan baik pada kecukupan, kompetensi, maupun relevansi bukti.
3. Bentuk dokumentasi pada audit keuangan, audit kinerja, dan audit dengan tujuan tertentu
adalah sama yaitu kertas kerja audit.
4. Hasil dari audit keuangan berupa opini; hasil dari audit kinerja adalah temuan, simpulan
dan rekomendasi; sedangkan audit dengan tujuan tertentu adalah simpulan.
5. Untuk laporan audit keuangan, audit kinerja dan audit dengan tujuan tertentu pada
dasarnya sama. Namun demikan, laporan audit kinerja juga harus memuat tujuan, lingkup
dan metodologi audit karena hal tersebut dapat berbeda antara audit kinerja yang satu
dengan lainnya.
6. Standar pelaporan audit kinerja memuat unsur mutu laporan, dimana audit keuangan dan
audit dengan tujuan tertentu tidak mengatur hal tersebut. Hal ini dikarenakan sifat dan
lingkup pelaporan audit kinerja yang lebih luas dan rumitt dibandingkan dengan kedua
jenis audit lainnya.
7. Uraian mengenai penerbitan dan pendistribusian laporan pada dasarnya sama antara
ketiga jenis audit.

Referensi : Rai, I Gusti Agung. 2008. Audit kinerja pada sektor publik. Jakarta : Penerbit
Salemba empat