Anda di halaman 1dari 53

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/309512503

Introduction to Logic for Beginner / Pengantar Logika untuk Pemula

Book · May 2016


DOI: 10.6084/m9.figshare.4001307.v1

CITATIONS READS

0 1,656

1 author:

Mochammad Tanzil Multazam


Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
26 PUBLICATIONS   16 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Verlijden pada Jabatan Notaris di Kabupaten Sidoarjo Pasca Berlakunya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 View project

Legal scheme of village- owned enterprises in Indonesia View project

All content following this page was uploaded by Mochammad Tanzil Multazam on 29 October 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty
uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasd
fghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx
cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
Introduction To Logic /Pengantar
Logika
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
For Beginner / Untuk Pemula
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg
5/21/2016

Mochammad Tanzil Multazam,S.H., M.Kn.

hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
https://orcid.org/0000-0002-6373-1199
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg
hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg
hjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbn
mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwert
yuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas
Table of Content

1. Filsafat Ilmu
2. Bahasa Ilmiah
3. Teori
1. Metode Ilmiah
2. Proposisi
3. Penalaran Langsung
4. Penalaran Tidak Langsung
5. Silogisme Kategorik
6. Silogisme Kondisional
7. Silogisme Hipotetik
8. Stephen Downes Fallacies

This is an open access under the CC BY license (http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/)


DOI: 10.6084/m9.figshare.4001307
FILSAFAT ILMU

I. Cabang Filsafat
Filsafat terbagi menjadi beberapa cabang yakni :
1. Filsafat Sosial = mempertanyakan persoalan masyarakat
a. Filsafat Moral/Etika = menentukan baik buruk suatu perbuatan
b. Filsafat Keindahan/estetika = menentukan indah jelek suatu objek (filsafat ini melahirkan ilmu
budaya, seni, arsitektur, dsj)
c. Filsafat Pemerintahan
2. Filsafat Alam =mempertanyakan persoalan alam semesta
a. Fisika = mengkaji gejala alam yang tidak hidup
b. Hayati = mengkaji gejala alam yang hidup
3. Filsafat Pengetahuan = mempertanyakan persoalan tentang “pengetahuan” sebagai suatu disiplin
ilmu
a. Filsafat Ilmu = mempertanyakan persoalan tentang “ilmu” sebagai suatu disiplin ilmu (science
of science)
4. Metafisika = mempertanyakan hakekat suatu objek atau benda yang ada di dunia (“meta”= setelah
atau dibalik, “fisika” = hal-hal di alam)
a. Filsafat Ketuhanan = mempertanyakan persoalan tentang hakekat tuhan
b. Filsafat Manusia =mempertanyakan persoalan tentang hakekat manusia
II. Kajian/Pendekatan Filsafat sekaligus obyek formal filsafat ilmu (obyek materialnya “ilmu” itu sendiri)
1. Ontologi = Hakekat yang dikaji (secara kualitatif/memiliki kualitas tertentu atau tidak/pembeda
dari lainnya, secara kuantitatif/ tunggal atau jamak/dilihat dari perbedaan obyek formal dan
materiilnya ex. Hukum pidana, hukum internasiona, HTN = Hukum publik, karena obyek
materiilnya sama kepentingan umum, namun berbeda obyek formalnya/fokus perhatiannya)
2. Epistimologi = cara mendapatkan pengetahuan ilmiah yang benar (metode ilmiah)
3. Aksiologi = Nilai Kegunaan Ilmu
III. Penunjang Berfilsafat
1. Bahasa
2. Logika
3. Matematika
4. Statistika
IV. Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
1. Problem demarkasi/limitasi = pembedaan aktivitas ilmiah dengan aktivitas pengetahuan lainnya.
2. Problem Induksi = bagaimana menjustifikasi landasan pengetahuan ilmiah
3. Problem reduksi = hubungan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya
4. Problem deklarasi/eksplanasi = cara menjelaskan. Berupa hipotesa, model, teori, atau hukum-
hukum ilmiah.
5. Problem berhubungan dengan dinamika pengetahuan ilmiah=mengamati perubahan pengetahuan
ilmiah, suatu evolusi dan revolusi, ataurasional dan irasional.
V. Manfaat
1. Membantu bersikap kritis terhadap pengetahuan ilmiah yang diperolehnya dari pandangan atau
teori yang berasal dari orang lain maupun diri sendiri.
2. Membantu pelaksanaan penelitian karena filsafat ilmu membahas metode ilmiah untuk
mendapatkan pengetahuan ilmiah.
VI. Hakikat Pengetahuan
A. Sumber (John Hospers) :
1. Pengalaman/Inderawi
2. Nalar = cara berpikir/logika
a. Logika alamiah/naturalis/Mantiq Al-Fitri (Salah satu dari ide bawaaan yakni akal/cipta,
syahwat/rasa, kehendak/karsa ketiganya dipengaruhi faktor eksternal dan di saring oleh
qalbu yang wajib disinari wahyu/cahaya)
b. Logika ilmiah/Mantiq As-Suri
3. Otoritas = hal yang disampaikan oleh orang yang berwibawa
4. Intuisi = prose kejiwaan yang menghasilkan pernyataan berupa pengetahuan (tafakur,
meditasi, bertapa)
5. Wahyu = hal yang disampaikan tuhan lewat kitab suci dan diikuti norma agama, yang diawali
dengan kepercayaan. (saya percaya tuhan itu ada)
6. Keyakinan = hal yang tidak diikuti norma agama, melainkan hasil pematangan dari
kepercayaan. (saya yakin tuhan itu ada)
B. Dari sumber menghasilkan 2 Jenis Pengetahuan (Soejono Soemargono):
1. Pengetahuan Ilmiah = mendapatkannya melalui metode ilmiah
2. Pengetahuan Non Ilmiah = tidak didapatkan melalui metode ilmiah

Keduanya dapat berupa pengetahuan produksi (seni), praktis (etika, ekonomi,politik) dan teoritis
(filsafat, matematika dan metafisika) (Aristoteles).

C. Dari sumber menghasilkan 4 tingkatan pengetahuan(Plato) :


1. Pengetahuan Ekasia (Khayalan)/bayangan/gambaran
2. Pengetahuan Pistis (Substansial)/Inderawi
3. Pengetahuan Dianoya (Matematika)/Inderawi + cara berpikir
4. Pengetahuan Noeis (Filsafat)/Ide untuk mewujudkan kebaikan, kebenaran, keadilan
VII. Hakikat Ilmu
A. Definisi Ilmu
Adalah kumpulan pengetahuan yang dirangkai menggunakan metode ilmiah dan telah dibuktikan
kebenaran maupun kevalidannya.
B. Komponen Ilmu :
1. Masalah ilmiah
2. Sikap ilmiah (objective, curiousity, speculativeness, tidak tergesa-gesa menyimpulkan)
3. Metode ilmiah
4. Aktivitas ilmiah/penelitian ilmiah
5. Kesimpulan
6. Pengaruh ilmu, bagi lingkungan atau bagi/dalam masyarakat
C. Trikotomi Ilmu (The Liang Gie) :
Satu kesatuan yang saling berinteraksi antara metode, pengetahuan, dan aktivitas, itulah ilmu.
BAHASA ILMIAH

I. Pendahuluan
1. Komunikasi itu menggunakan tanda atau tanda-tanda
2. Suatu tanda itu terdiri dari tiga term yakni :
a. Objek/peristiwa sebagai sesuatu = T1
b. Objek/peristiwa sebagai penjelasan/makna dari sesuatu = T2
c. Penerjemah atau orang yang bisa menghubungkan T1 dengan T2
3. Tanda itu terbagi menjadi tanda alamiah dan tanda konvensional
4. Tanda alamiah adalah gejala atau peristiwa alamiah yang mendahului gejala atau peristiwa
alamiah lainnya.
5. Tanda konvensional adalah tanda yang sengaja diciptakan manusia untuk berkomunikasi. Tanda
tersebut disepakati oleh manusia baik secara eksplisit atau terang-terangan maupun secara di
implisit atau diam-diam.
6. Tanda konvensional ini disebut juga sebagai lambang atau simbol
7. Lambang dibedakan menjadi dua yakni lambang verbal dan lambang non verbal
8. Lambang verbal adalah lambang yang berupa perkataan.
9. Perkataan adalah bunyi atau tanda-tanda (tulisan/coretan) yang mempunyai arti berdasarkan
konvensi (kesepakatan). Inilah yang disebut bahasa.
10. Makna dari suatu bunyi atau tanda tidak selalu melekat satu sama lain, adakalanya bunyi dan
tanda sama tetapi makna berbeda, atau tanda sama namun bunyi dan makna berbeda, atau
makna sama namun tanda dan bunyi berbeda.
11. Lambang non verbal adalah lambang yang tidak berupa perkataan biasa.
12. Lambang non verbal terbagi menjadi lambang stenografis dan lambang ilustratif
13. Lambang Stenografis merupakan singkatan-singkatan tertentu atau tanda-tanda singkat lainnya.
(huruf stenografis, piktogram, simbol matematis (√,∞,≠,≥,≡,−,∕,+, x), simbol logikal
(∩,A,S,O,I,E,P,Q), ideogram, logogram)
14. Lambang Ilustratif merupakan tanda yang disertai contoh konkret untuk menunjukkan atau
membuktikan sesuatu.
II. Istilah-Istilah
1. Term adalah kata atau susunan kata yang berfungsi sebagai subyek atau predikat atau
penghubung dalam suatu bentuk penalaran.
2. Proposisi adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang dapat dinilai benar atau salahnya yang
terdiri dari sekumpulan term.
III. Tingkatan Akal Budi
1. Aprehensi Sederhana = catch knowledge from experience or thinking activities => melahirkan
ide atau gagasan without questioning true or false => melahirkan Konsep => diwujudkan dalam
bentuk lambang-lambang, verbal/nonverbal
2. Keputusan = categorize two or more concept and linking it with affirming or denying one
concept to another => menentukan subjek atau predikat dari term => penilaian (konsep sama
atau tidak) => menghasilkan proposisi
3. Penalaran = memahami sekumpulan proposisi yang disebut proposisi anteseden (sebab) =>
melahirkan proposisi konsekuen => menghubungkannya => jadilah Argumen
IV. Term Sebagai Subyek
1. Dari Jenisnya
a. Posistif’= penegasan adanya sesuatu (pintar, kaya, sehat, gemuk)
b. Negatif = diawali kata tidak, tak, non, atau bukan (tidak kaya, tak sehat, tak pintar)
c. Privatif = tidak adanya sesuatu (kurus, miskin, sakit, bodoh)
2. Dari Luasnya
a. Universal = mengikat keseluruhan bawahannya tanpa terkecuali (rumah, satpam, polisi,
mahasiswa)
b. Partikular = mengikat banyak bawahan tetapi dibatasi (sebagian rumah, ada polisi, banyak
mahasiswa)
c. Singular = mengikat hanya satu bawahan. Terdiri dari :
1) Nama unik = nama yang memberi identitas berlanjut obyeknya (gubernur bali sekarang,
gedung tertinggi di kampus, mobil ini, sepeda itu)
2) Nama diri = ada identitas dan hanya diberikan padanya dilingkungan itu. (Suharno,
Patrick, Umsida)
3. Dari Isinya
a. Kolektif = sifat yang bisa dipasangkan pada kelompok dan mengikat sejumlah objek yang
membentuk kesatuan dan berfungsi sama, namun tidak bisa dipasangkan pada individu dari
kelompok itu. (Bangsa Indonesia ramah, Mahasiswa Umsida pintar-pintar, Timnas Spanyol
itu kuat, Klub Real Madrid tidak pernah kalah)
Nb. Kalau Universal mengikat seluruh inividunya, namun kalo kolektif mengikat keseluruhan
tapi tidak mengikat individunya. (Klub Real Madrid adalah juara dunia/Universal), (Klub real
madrid sangat kuat/Kolektif)
b. Individual = hanya mengikat individu dalam suatu kelompok (Anggota Tentara itu telah siap
tempur)
Nb. Kalau individual terkait dengan kelompok, namun kalau singular tidak ada kaitannya
dengan kelompok. (Critiano Ronaldo adalah pemain bola yang sangat rajin, dan dia adalah
Gelandang Real Madrid /Individual), (Cristiano Ronaldo ternyata seorang playboy/singular).
4. Dari Maknanya
a. Konkret = menunjukkan suatu benda dengan bentuk atau sifatnya
b. Abstrak = menunjukkan suatu bentuk atau sifat tanpa bendanya
5. Dari Pemahamannya
a. Mutlak = dapat dipahami dengan sendirinya tanpa perlu dihubungkan dengan kata lain
(kursi, Babi, Anjing, Kodok, Meja)
b. Relatif = tidak dapat dipahami dengan sendirinya dan harus selalu ada hubungannya dengan
benda lain. (Presiden, Nenek, Ibu, Ayah, Direktur)
6. Dari Cirinya
a. Sederhana= hanya satu sifat (ada,kosong, mati)
b. Jamak = banyak sifat (kerbau)
7. Dari Artinya
a. Univok =maknanya jelas dan tidak membingungkan (pulpen, pensil, kasur)
b. Ekuivok = mengandung makna lebih dari satu sesuai penggunaan(bunga bank, bunga
tanaman)
c. Analog = pemakaian dan makna aslinya berbeda tetapi masih ada persamaan (bunga desa)
d. Ambigu = bermakna lebi dari satu sesuai penafsiran (hukum, demokrasi, pelanggaran)
8. Dari Fungsinya
a. Bermakna/konotatif = memiliki denotasi dan konotasi (Manusia) (denotasi = barang yang
dicakup/ masodak (contoh kret dari konotasi), konotasi = sifat-sifat tertentu yang
melekat/mafhum(pengertian yang diberikan))
Contoh. “Kursi” adalah benda mati berkaki yang memiliki permukaan datar sehingga dapat
di tempati oleh pantat untuk duduki.(konotasi), kursi kayu, kursi besi, kursi kantor, kursi
makan (denotasi)
Rumus : Semakin bertambah konotasi, semakin sempit denotasi.
b. Tak Bermakna/non konotatif = tidak memiliki denotasi (gatot kaca, nyi blorong)

V. Term Sebagai Predikat

Al-Kulliyyah al-Khamsah/ Predikabilia/Predicable

1. Genus/Jenis/Jins = term yang bisa diucapkan untuk mengikat barang yang banyak namun
berbeda hakikatnya ketika bersekutu. Mahluk Hidup
a. Jenis tinggi/jauh /ba’id/’aly = tidak ada lagi jenis diatasnya / induk dari semua induk, ada
jenis di bawahnya.
b. Jenis menengah/wasath = ada jenis diatasnya, dan ada jenis di bawahnya.
c. Jenis rendah/qarib/safil = ada jenis diatasnya, dan tidak mempunyai jenis di bawahnya, yang
ada hanya spesia/Nau’.
2. Spesia/kelas/Nau’ = term yang mempunyai beberapa hakikat yang sama dan patut dipakai
sebuah jawaban dari pertanyaan perihal benda itu sendiri. Ex. Manusia itu na’u dari hewan,
parto dan ngatiyem itu nau’ dari manusia
3. Differentia/sifat pembeda/fasal/Al-fasl= term yang membedakan antara jenis satu dengan jenis
lainnya, namun mereka masih terikat dengan sifat jenis induknya. Dibagi lagi menjadi 2 :
a. Fasal ba’id, membedakan dengan jenis terjauh example berpikir bagi jenis manusia
b. Fasal qorib, membedakan dengan jenis terdekat example berperasaan bagi jenis manusia
4. Propria/sifat khusus/Khos/Al-khassah = sifat suatu spesia sebagai akibat sifat pembeda yang
dimilikinya (dampak dari sifat pembeda) Ex. Sifat Berpikir Manusia melahirkan sifat khusus
seperti menikah, mendirikan negara, membuat perjanjian, berbudaya. Ex. Sifat berperasaan
manusia melahirkan sifat khusus marah, tertawa, sedih, menangis, terkejut.
5. Accidentia/sifat umum/’Arodl/Al’arad= sifat yang tidak harus dimiliki oleh setiap spesia (gemuk,
kurus, rusak, terawat, ceroboh, bernafas,mortal).
BAHASA ILMIAH 2

I. Definisi
Cara untuk memahami konotasi atau aspek komprehensi, dengan membuat batasan-batasan.
Mendefinisi adalah identifikasi karakteristik suatu kata agar bisa membedakannya dengan kata yang
lain.
Karakteristik adalah genus dan differentia dari suatu kata tersebut.
Menyebutkan genus untuk mengetahui benda sejenis yang dicakup genus tadi, setelah tahu benda
sejenis apa saja yang di cakup genus maka dengan menambahkan differentia maka kita akan sampai
pada penjelasan kata yang kita definisikan.
A. Jenis Definisi
1. Definisi Nominal
Menerangkan dengan melakukan kajian terhadap namanya.
a. Memberikan persamaan kata (Sinonim). Ex. Kongres = Musyawarah
b. Memberikan asal usul kata (etimologis). Ex. Demokrasi = Demos dan kratos

Definisi jenis ini hendaknya dihindari dalam suatu karya ilmiah karena sebenarnya tidak
menerangkan makna term tersebut, bahkan kadangkala berlainan dengan makna yang
dimaksud, atau malah berputar-putar/tautologis.

2. Definisi Riel
Menerangkan dengan menunjukkan realitas atau hakikat barang itu sendiri. (Ada tiga cara
melakukannya yakni :
1. Menunjukkan sifat khas atau hakiki (disebut juga sebagai definis logis/essensial).
Diawali dengan menunjukkan genus terdekatnya, kemudian menunjukkan
differentianya.
Example : Meja itu apa ? meja adalah benda konkret salah satu perabotan rumah tangga
atau kantor atau kelas yang memiliki permukaan datar dan ditopang oleh kaki-kaki
penahan namun tidak peruntukkan untuk duduk.
2. Kumpulan sifat-sifat (disebut juga sebagai definisi deskriptif)
Menyebutkan sifat-sifat dari suatu barang sehingga dengan jelas dapat menerangkan
suatu term hingga dapat dibedakan dengan term lainnya.
Example : Hukum itu apa? hukum adalah memaksa, mengikat, untuk mewujudkan
keadilan, untuk mengatur masyarakat, tidak boleh disimpangi, tidak boleh diabaikan,
tegas, harus ditaati, bisa tertulis dan tidak tertulis.
3. Sebab-sebab dan atau tujuannya.
Menyebutkan sebab terjadinya terma dan/atau tujuan dari adanya term.
Example : Hujan itu apa? hujan adalah air yang jatuh dari langit yang disebabkan oleh
proses kondensasi pada awan yang diawali dengan menguapnya air di bumi dengan
tujuan untuk membasahi bumi dengan air tawar yang kemudian digunakan untuk
menopang kehidupan manusia.
B. Aturan membuat definisi
1. Harus bisa dibolak balik antara term dengan definisinya atau konvertible atau omni et solli.
(bolak-balik)
Example :
a. Manusia adalah mahluk hidup yang bernafas, maka mahluk hidup yang bernafas adalah
manusia (ini tidak tepat karena tidak hanya manusia yang merupakan mahluk hidup
yang bernafas).
b. Komputer adalah perangkat listrik yang digunakan untuk mengetik. (tidak tepat karena
ada juga mesin ketik eletrik)
2. Tidak boleh dalam bentuk negatif. (negatif)
Karena tidak menjelaskan maknanya, meskipun benar maksudnya, sedangkan membuat
definisi sama halnya membuat batasan agar dipahami maknanya.
Example :
a. Mati adalah tidak hidup.
b. Hidup adalah tidak mati.
c. Mobil adalah bukan sepeda motor.
d. Meja adalah bukan kursi.

Namun, boleh menggunakan bentuk negatif jika kata yang hendak didefinisikan tersebut
merupakan kata privatif atau yang tidak bisa didefinisikan kalau tidak menggunakan bentuk
negatif atau hakikatnya memang negartif (buta, tuli, buntung, miskin, bodoh).
Example :

a. Miskin adalah keadaan diri seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk
mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
b. Yatim Piatu adalah anak yang tidak lagi mempunyai orang tua karena telah meninggal.
3. Tidak boleh terlalu luas atau terlalu sempit. (luas/sempit)
Bentuk kesatan berpikir = Too Broad and Too Narrow
Terlalu luas bisa bermakna dua yakni :
a. cakupan atau aspek ekstensi atau denotasi menjadi terlalu luas.
Example :
1) Merpati adalah burung yang dapat terbang cepat. (ada burung lain yang bisa
terbang cepat selain merpati)
2) Anjing adalah binatang berkaki empat yang menyusui (banyak binatang berkaki
empat lain yang menyusui selain anjing)
b. definisi berisi genus.
Example :
1) Merpati adalah Burung
2) Meja adalah perabot rumah tangga

Terlalu sempit bisa bermakna dua yakni :

a. Cakupan atau aspek ekstensi atau denotasi menjadi tidak tercakup semua.
Example :
1) Kemiskinan adalah suatu keadaan saat anda tidak punya uang. (ada orang yang
punya uang tapi tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan itu termasuk miskin)
2) Kekayaan adalah segala bentuk hasil pertanian. (selain hasil pertanian seperti
tabungan, tanah, batu mulia juga termasuk kekayaan)
b. Definisi berisi spesia.
Example :
1) Burung adalah Merpati
2) Hewan adalan Anjing
4. Tidak boleh menggunakan kata yang didefinisikan. (berputar)
Bentuk Kesesatan berpikir Circular Definition/Tautologis
Example :
a. Filsafat Hukum adalah Filsafat dalam bidang hukum.
b. Logika adalah ilmu tentang hukum-hukum logika.
c. Pidana adalah hukuman kepada pelaku tindak pidana.
5. Tidak boleh menggunakan istilah-istilah atau kata-kata yang justru membingungkan, istilah-
istilah itu bisa berupa kata kiasan (plastik bahasa/majas) atau kata yang bermakna
ganda/bias atau bahasa yang hanya bisa dimengerti ahlinya/yang membuat pernyataan.
(bingung)
Bentuk kesesatan berpikir = obscurum per obscurius (menjelaskan sesuatu dengan
keterangan yang lebih tidak jelas)/Failure to Elucidate
Example :
a. Hukum adalah panglima tertinggi dalam suatu negara. (kata kiasan)
b. Komodo adalah kadal raksasa yang mengerikan. (Bias/bermakna ganda)
c. Cantik itu jika sesorang berhasil mencapai puncak nilai estetika. (Hanya dimengerti
ahlinya atau yang membuat pernyataan)

Boleh menggunakan kata kiasan namun harus diberikan qarinah (kata penghubung dan
penegas yang menghubungkan kata kiasan dengan makna yang dimaksud).

Example. Wajah Berseri adalah bulan purnama yang tersenyum (Khalimi)

6. Tidak boleh bertentangan dengan term yang didefinisikan (self contradictory).


Bentuk kesesatan berpikir = conflicting condition
Example :
a. Surat ijin mengemudi hanya bisa didaptkan dengan syarat : a. tidak punya SIM
sebelumnya, b. punya kendaraan, c. punya pengalamana mengemudi sebelumnya,
b. Suatu masyarakat bisa dikatakan bebas jika mereka bebas menyatakan pendapat
berdasarkan dengan peraturan yang berlaku,
II. Klasifikasi
Cara untuk menentukan denotasi atau menentukan cakupan dari suatu konotasi atau aspek
komprehensi. Ada dua cara melakukannya yakni :
A. Pembagian
Menentukan Spesia/Kelas/Nau’ dari suatu Jenis (Genus/Genera)
1. Pembagian Realis
Pembagian berdasarkan bahan yang meyusunnya, disebut juga pembagian essensial.
Example :
a. Komputer terbagi menjadi monitor, cpu, mouse, keyboard, power supply, speaker,
microphone.
b. Meja terbagi menjadi kaki dan permukaan datar.
c. Meja terbagi menjadi kayu, paku, cat.
d. Manusia terbagi menjadi badan dan jiwa.
2. Pembagian Accidentia
Pembagian spesia/kelas berdasarkan sifat-sifat yang menyertainya. Disebut juga pembagian
accidentia. Terbagi menjadi 3 yakni :
a. Spesia dibagi menurut accidentianya. (Manusia dibagi atas bahagia, sedih, takut, marah,
jijik, terkejut)
b. Accidentia dibagi menurut subjeknya (Gerak dibagi atas molar, molekuler, atomis)
c. Accidentia dibagi lebih lanjut dengan accidentia. (putih dibagi atas terang, gelap, kelabu,
berkilau, lembut)
3. Pembagian Logis
Pembagian genus menjadi spesia/kelas atau spesia/kelas menjadi sub spesia/kelas, bukan
kelas menjadi sifat, atau kelas menjadi bagian-bagian yang menyusunnya. Ada dua cara
melakukannya yakni :
a. Secara Universal
Membagi genus ke dalam semua species, dari term khusus menjadi term umum yang
tercakup didalamnya (cara ini membutuhkan pengetahuan yang cukup terhadap term
khusus yang tercakup, karena harus tercakup semua).
Example :
1) Genre film terbagi atas aksi, perang, biografi, petualangan, fantasi, kejahatan, horor,
misteri, cerita seru, animasi, komedi, drama, dokumenter, sejarah, musikal,
percintaan, fiksi ilmiah, olah raga, koboi, silat.
2) Permainan daring terbagi atas Massively Multiplayer Online First-person shooter
(MMOFPS), Massively Multiplayer Online Real-time strategy (MMORTS), Massively
Multiplayer Online Role-playing games (MMORPG), Cross-platform online play
(CPOP), Massively Multiplayer Online Browser (MMOB), Simulation games,
Massively Multiplayer Online Social Game (MMOSG).
b. Secara Dikotomi
Membagi genus dengan cara memecah menjadi dua golongan dengan sifat pembedanya
adalah “ada” atau “tidak ada”nya suatu kualitas tertentu.
Example :
1) Film terbagi menjadi mendidik dan tidak mendidik.
2) Mobil terbagi atas berbahan bakar bensin dan non bensin.
3) Permainan daring terbagi atas berbayar dan tidak berbayar
4) Ponsel terbagi atas android dan non android
5) Baju terbagi atas resmi dan non resmi.
6) Laki-laki terbagi atas impoten dan tidak impoten.
7) Perempuan terbagi atas melahirkan dan tidak melahirkan
4. Hukum Pembagian :
a. Pembagian harus utuh, lengkap, tuntas, adekuat (memadai/memenuhi syarat), tidak ada
yang terlewatkan, perlu pengetahuan yang cukup, lebih mudah jika membagi dengan
kontradiktoris (per sic et non).
b. Pembagian tidak boleh tmpang tindih, satu sama lain harus eksklusif, berbeda, bagian
yang satu harus terpisah dari yang lain, bagian yang satu tidak boleh mencakup bagian
yang lain. Contoh tidak eksklusif : tas di bagi menjadi merah, merah maron, hijau, hijau
daun, merah hati, perak, emas, biru tua, biru.
c. Pembagian tidak boleh menggunakan lebih dari satu dasar, agar menghasilkan spesia
yang seragam. Suatu dasar pembagian dapat dipilih sehubungan dengan maksud
pembagian, tetapi apabila telah dipilih maka sebaiknya jangan diubah selama proses
masih berlangsung. Misal dibagi berdasar warna, bahan, ras, fungsi, tujuan. Contoh
tidak seragam : tas di bagi atas mahal, kulit, ransel, piknik.
d. Pembagian harus rapi, tidak boleh lompat, maksudnya setiap pembagian harus bertolak
dari jenis atau kelas yang lebih tinggi ke yang lebih rendah tanpa mengabaikan jenis atau
kelas yang ada di bawahnya. Contoh yang tidak rapi : Genre film terbagi atas komedi
slapstik, drama melankolis, sejarah negara, pahlawan super, tanpa mebaginya terlebih
dahulu menjadi komedi, drama, sejarah, fiksi ilmiah.
e. Pembagian harus mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai, dan hasilnya sesuai.
Misal : bertujuan untuk menemukan definisi Sapi, maka berhenti pada sapi sebagai
Spesia/Nau’/Kelas. Yang kemudian dibagi secara accidentia atau realis.
B. Penggolongan
Menentukan suatu genera/genus/Jenis dari bermacam-macam spesia yang ditemukan.
1. Alam
Penggolongan yang disusun atas kecerdasan kita yang didasari dengan pengetahuan. Ini
dibagi menjadi dua yakni :
a. Berdasarkan persamaan. Sapi, kuda, kambing, anjing, kucing, kesemuanya itu
digolongkan menjadi hewan yang menyusui atau melahirkan atau
b. Berdasarkan perbedaan. Sapi, kuda, kambing, meskipun punya kesamaan namun juga
punya perbedaan, kuda berjari ganjil, sedangkan sapi dan kambing berjai genap.
Contoh : kita menemukan kecoa, lalat, tawon, lebah, semut, laba-laba, kesemuanyanya itu
kita golongkan menjadi insekta dengan menyisihkan laba-laba, karena dia archnida,
meskipun sama-sama berjenis arthropoda, yang berarti kita menggolongkan dengan melihat
perbedaan dan persamaan karena kita mengetahuinya.
2. Buatan
Penggolongan yang disusun berdasarkan satu sifat untuk tujuan atau manfaat tertentu.
Contoh : kita menggolongkan buku milik kita sesuai dengan pengarangnya karena untuk
memudahkan kita melihat buku siapa yang belum kita miliki. Kita menggolongkan sepatu
kita sesuai dengan tahun pembeliannya, sehingga bisa diketahui sepatu mana yang tahan
lama atau sering dipakai. Atau kita menggolongkan wortel, kacang, tomat, bayam, kangkung
sebagai sayuran, karena biasanya benda-benda tersebut dipakai untuk memasak sayur. Pada
intinya penggolongan buatan adalah penggolongan untuk memudahkan.
Skema bekerjanya akal budi

konsep obyektiif (menangkap esensi atau Perkataan definisi


Indera Idea obyek dari suatu konsep)
1

Keputusan (menentukan suatu konsep Proposisi


Penentuan subjek predikat termasuk/terkait konsep lainnya)
Akal Budi 2 Klasifikasi

Proposisi konsekuen/Kesimpulan Argumentasi


Proposisi Anteseden/Premis (kumpulan) Penalaran
3

TM. 2 Skema Akal Budi.mmap - 30/09/2015 -


Menemukan teori yang benar
dengan berdasar dari teori lain
yang sudah ada, diwujudkan
dalam bentuk premis.

Obversi
Konversi
Penalaran/Inferensi langsung
Kontraposisi
Inversi

Kategorik
Konjungtif
Jenisnya Hipotetik Disjungtif

Metode Kondisional
Dilemma

Deduksi Penalaran/Inferensi tidak langsung Silogisme Term Tengah


Term Mayor
Term Minor
Unsurnya
Premis Mayor
Premis Minor
Kesimpulan

ciri salah satu premisnya adalah proposisi universal

Kesimpulan bersifat konklusif, meskipun sebenarnya masih bersifat probabel jika ada teori lain yang membantahnya, karena ilmu itu tidak pernah
Hasil Metode berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang sifatnya mutlak
Cara Mendapatkan
Teori Yang Benar
dan tepat menemukan teori yang benar
dengan membandingkan premis
satu dengan lainnya yang
bersumber dari pengamatan
indrawi.

Metode Kesamaan
Metode Perbedaan
Enumerasi Metode Inferensi Induktif Mill Metode Gabungan Kesamaan dan Perbedaan
Bentuknya Sederhana
Generalisasi Metode Residu
Metode Variasi Keseiringan

Hasilnya Proposisi Universal

Metode
w,x,y,z punya 2
Argumen Analogikal x,y,z punya 3
Argumentatif maka w juga punya 3
Induksi
Bentuknya
Analogi Deskriptif menggambarkan dengan gerakan secara jelas dan hidup
Non Argumentatif
Eksplanatif membandingkan dengan sesuatu yang sudah dikenal

Hasilnya Proposisi Singular atau partikular

Hasil metode kesimpulan bersifat probabilitas

premisnya terdiri dari proposisi singular


ciri atau partikular atau gabungan keduanya

TM. 2 Cara Mendapatkan Teori Yang Benar dan tepat.mmap - 30/09/2015 -


menjelaskan berdasarkan bagiannya atau faktornya buku terdiri dari kertas, sampul, dan di jilid.

menjelaskan berdasarkan keadaan dan kondisi jantung manusia tidak bisa dipakai untuk kuda

menjelaskan suatu fakta bentuknya


Fungsinya karena hujan turun seseorang memakai payung
menjelaskan berdasarkan hubungan sebab akibat

menjelaskan berdasarkan fungsinya jantung bagi tubuh

Kebenaranya sudah teruji/sudah sesuai fakta


Teori
teori thomas robert malthus bahwa
pertumbuhan penduduk itu menurut deret
berlaku di semua tempat, keadaan, dan ukur sedangkan ketersediaan pangan
permasalahan dalam kelas atau spesia mengikuti deret hitung
Teori Umum Berlaku universal
yang dinyatakannya
teori gravitasi newton

Macamnya Teori Hukum Murni Hans Kelsen

berlaku hanya pada kondisi dan situasi dokter mendiagnosa pasien


Teori Khusus tertentu dan pada kelas yang pelajar mediagnosa masalah dia tidak
dinyatakannya bisa memahami pelajaran

TM. 2 Teori.mmap - 14/09/2015 -


kebenarannya belum teruji
namun beranjak dari fakta

penalaran
jika dilakukan
memakai Valid/Tepat sesuai
metode aturannya
deduksi

uang coin jika dilemparkan peluang untuk


disusun berdasar akal terlihat sisi muka adalah 50% karena
a priori hanya terdiri dari 2 sisi

jenis
100 orang mahasiswa yang telah disurvey
disusun berdasar ternyata 40 perokok, maka 60 puluhnya
relatif frekuensi statistik atas data adalah bukan perokok, jadi 60%
empiris mahasiswa adalah bukan perokok

jumlah satuan peristiwa sam yang


dijadikan landasan untuk menarik
Jumlah satuan memperlihatkan kesamaan kesimpulan. peristiwa A, B, C, D, E,
semakin banyak peristiwa yang sama
semakin tinggi derajatnya.

Bentuknya
metode puasanya sama, cara berbuka
jika jumlah aspek hal yang bersangkutan sama, berat badan sama, kesehatan
memakai probabilitas memperlihatkan kesamaan sama.
metode
induksi
jika A menyimpulkan dengan puasa dia
Hipotesa Argumen dapat kurus turun 10Kg seperti B, maka
kekuatan kesimpulan dalam pertautan
dengan premisnya derajat kemungkinannya cukup kuat
penilaian derajatnya karena B turun 25Kg

1 orang kurus karena puasa, 1 orang


jumlah disanalogi atau perbedaan yang lainnya meniru namun ternyta budaya
Penilaian Teori berkaitan dengan kesimpulan berbukanya berbeda

A orang surabaya sekolah di umsida


sukses,
semakin banyak dissimilasi di antara B orang sidoarjo sekolah di umsida
fakta-fakta dalam premis maka semakin sukses
kuatlah argumen (perbedaan dalam c orang aceh sekolah di umsida sukses
premis) maka sekolah diumsida membuat orang
sukses. (semakin jelas perbedaan A, B,
dan C maka semakin kuat argumennya)

1. Korespondensi, pernyataan benar jika


mencerminkan kenyataan sebaimana
adanya

Kebenaran/Sesuai Teori 2. Koherensi, pernyataan benar jika sesuai dengan penyataan lain yang sudah
dengan Kebenaran diakui sebagai benar
Isinya
fakta
3. Pragmatik, Pernyataan itu benar jika efektif mendatangkan manfaat bagi manusia.
4. Intersubjektivitas, pernyataan benar jika disepakati benar oleh orang
lain atau pakar sekeahlian.

TM. 2 Metode Ilmiah.mmap - 30/09/2015 -


bisa dikatakan predikatnya tidak
menjadi keharusan bagi
subjeknya sehingga
kebenarannya perlu diuji
dengan bukti empirisnya

anjing itu pintar

Bentuk terdiri dari spesia dengan accidentianya gadis itu cantik


Rockfeller itu kaya

kebenranannya kita tentukan dengan


proposisi empiris induks dan pengalaman
Sintetik/a posteriori

open system statements mengenai dunia konkret sehari-hari


disebut juga

kebenrannta tidak dapat dipastikan


A Posterirori statements sebelumnya, melainikan sesudahnya atas
dasar pengalaman

Sumbernya
bisa terdiri dari genus dengan spesia anjing adalah hewan
Bentuk
bisa terdiri dari spesia dengan differentia anjing adalah hewan yang menyalak

kebenaran kita tentukan sendiri sehingga


Closed System Statements tidak perlu diperdebatkan atau
dicocokkan dengan fakta
Analitik/a priori

benar karena sudah disetujui bersama teori-teori ilmu pasti, ilmu ukur, alam, dsj
Disebut juga Agreement statements

satu meter adalah 100 cm


A priori statements yang sebelumnya sudah kita pastikan kebenarannya
hukum itu memaksa

bisa dikatakan predikat sudah


terkandung dalam subjek atas
dasar analisis subjek (deduksi)
sehingga bukan pengetahuan
baru

TM. 6 Sumber Proposisi.mmap - 25/05/2015 -


konsep yang hendak dipastikan
pengakuan atau penyangkalannya seseorang yang mengambil barang orang
disingkat menjadi "S" termasuk atau tidak dalam konsep pada lain untuk dikuasainya adalah pencuri
term Subjek
term predikat

seseorang yang mengambil barang orang


disingkat menjadi "P" konsep yang hendak dimasuki oleh subjek. lain untuk dikuasainya adalah pencuri
term Predikat

dengan kopula dapat melihat


proposisi dari sudut kualitasnya

kata "adalah" disini tidak sama


dengan kata "adalah" pada
definisi, jika pada definisi
menyatakan arti/makna, pada
proposisi menyatakan
hubungan.

Indonesia negara hukum


tersembunyi tidak semua persekutuan perdata
kata atau perkataan yang menyatakan
term subjek termasuk atau tidak termasuk berbadan hukum
Kopula dalam term predikat, atau hubungan term jika "adalah" atau sejenis proposisi afirmatif/positif
subyek dengan term predikat seseorang yang mengambil barang orang
tidak tersembunyi lain untuk dikuasainya adalah pencuri
Indonesia adalah negara hukum

seseorang yang mengambil barang orang


proposisi negatif lain untuk tidak dikuasainya adalah bukan
Unsur-Unsur jika "adalah bukan" atau sejenis pencuri
Proposisi

dengan quantifier dapat melihat


proposisi dari sudut kuntitasnya

meski tidak disebut "semua"


tapi penyebutan "seseorang"
mengacu pada setiap orang
jika "semua" atau sejenis proposisi universal
seseorang yang mengambil barang orang
lain untuk dikuasainya adalah pencur i

jika suatu quantifier tidak


tercantum dengan jelas maka meski tidak disebut "beberapa"
kita harus memahami hubungan tapi perkataan "tidak semua"
pengertian antara subjek mengacu pada "beberapa"
dengan predikatnya
jika "beberapa" atau sejenis proposisi partikular
tidak semua pelaku tindak pidana
kata atau perkataan yang menunjukkan dihukum penjara
Quantifier jumlah anggota kelas yang termasuk
dalam term subjek beberapa perjanjian diawali dengan MoU

meski tidak disebut "seorang"


tapi kalimat tersebut dapat
dinyatakan "seorang yang
bernama ahmad adalah seorang
raja"
jika "seorang" atau "sebuah" proposisi singular
Ahmad adalah raja
sebuah film berjudul "mahabarata" adalah membosankan
seorang bernama andre adalah pelaku pembunuhan

TM. 6 Unsur Proposisi.mmap - 12/06/2015 -


pencuri adalah pelaku tindak pidana
kopulanya selalu berupa "adalah" atau
proposisi yang menyatakan sesuatu "adalah bukan" atau "bukan" atau "tidak" penipu adalah bukan orang jujur
Proposisi Kategorik tanpa adanya syarat atau "adalah tidak"
orang jujur tidak menipu

kopulanya berupa "jika....., maka....", atau


"apabila......, maka.....", atau
"manakala....., maka....."
kopula menghubungkan sebab dan akibat
apabila engkau telah melakukan
perjanjian dia, maka lahirlah perikatan
Bila A adalah B maka A adalah C antara kau dan dia
jika kau mencuri dengan merusak kunci
rumah, maka hukumanmu 7 Tahun.
Bentuknya
manakala mobil gadis itu datang, saya
akan sembunyi di belakang pohon
Bila A adalah B maka C adalah D
jika merger ini batal, perusahaan ini harus
Proposisi Kondisional mengajukan pailit ke pengadilan

jika ingin jadi hakim, maka sekolah hukum


jika fajar telah terbit, maka masuk waktu subuh

keharusan jika matahari telah terbit maka waktu subuh habis


Bentuk Proposisi jika perseroan terbatas melakukan rups,
maka seluruh pemegang saham akan
hubungannya diundang

Proposisi yang menyatakan kebenaran apabila perusahaan ini melakukan


dengan adanya syarat, dan terdiri dari merger, maka akan ada pergantian
Proposisi Hipotetik direksi
dua proposisi kategorik kebiasaan
jika ada demonstrasi yang dilakukan oleh
mahasiswa, maka ada ban yang terbakar

Seorang hakim adalah perempuan atau laki-laki


Proposisi disjungtif sempurna, secara perjanjian adalah ditaati atau diingkari
eksklusif mengingkari alternatif yang lain,
Kopulanya bervariasi berupa "jika karena kontradiktif pelaku tindak pidana dipidana penjara
bukan....., maka.....", atau "........atau......", seumur hidup atau non pidana penjara
atau "........kalau tidak .......adalah". Pada seumur hidup
Proposisi Disjungtif intinya kopulanya menunjukkan bahwa
"proposisi itu benar, ini salah" atau Notaris itu membuat akta autentik atau waarmerking
sebaliknya. Proposisi disjungtif tidak sempurna, tidak
Advokat berkewajiban memberikan
secara eksklusif mengingkari yang lain,
pelayanan litigasi atau non litigasi
bahkan dimungkinkan sama-sama benar
Dia sedang berlari atau mendengarkan musik
kopula menghubungkan dua buah alternatif

Kopulanya bervariasi, karena bisa jika kamu berada disini maka tidak
berwujud dua proposisi hipotetik, atau mungkin kamu berada disana
dua proposisi kategoris, atau gabungan seorang yang mati tidak mungkin hidup
Proposisi Konjungtif keduanya pada waktu yang bersamaan
pada intinya proposisi ini menyatakan
bahwa dua hal yang bersifat kontraris
tidakmungkin benar pada saat bersamaan

TM. 7 Bentuk Proposisi.mmap - 19/06/2015 -


Lambangnya "A" dari huruf hidup pertama
kata latin "Affirmo" yang artinya saya Rumus = semua S adalah P
Universal Positif
mengakui/mengiyakan

Lambangnya "I" dari huruf hidup kedua


kata latin "Affirmo" yang artinya saya Rumus = Sebagian S adalah P
Partikular Positif
mengakui/mengiyakan

Lambangnya "A" sama dengan universal


Singular Positif positif karena sama-sama mengakui
secara keseluruhan
Bentuknya
Lambangnya "E" dari huruf hidup pertama
kata latin "Nego" yang artinya saya Rumus = Semua S bukan P
Universal Negatif
menyangkal

Lambangnya "O" dari huruf hidup kedua


kata latin "Nego" yang artinya saya Rumus = Sebagian S bukan P
Partikular Negatif
menyangkal

Lambangnya "E" sama dengan Universal


Singular Negatif Negatif karena sama-sama menyangkal
secara keseluruhan

patut diingat bahwa indikator


negatif atau tidaknya suatu Setiap orang yang tidak
proposisi bukan dari ada atau mentaati peraturan lalu lintas proposisi universal postif
term dinyatakan terdistribusi
tidaknya kata "bukan", "tidak", adalah pelaku tindak pidana
jika term itu ditujukan kepada atau "non" dalam proposisi, contoh
semua anggota kelas yang namun hanya jika kata-kata Setiap orang yang tidak
bersangkutan tersebut menjadi kopula maka melakukan kejahatan tidak proposisi universal negatif
proposisi tersebut dapat dipidana
dikatakan sebagai proposisi
negatif

Term S terdistribusi
namun ada kalanya term P tedistribusi
seperti Proposisi " semua mahluk ciptaan
Term P tidak terdistribusi tuhan", atau "Hakim itu adalah Sueb",
atau "advokat itu adalah hebat", atau
Proposisi Proposisi A "peraturan dibuat oleh penguasa"
Tradisional pada
Proposisi Kategorik Undang-undang dibuat oleh DPR
contoh bersama-sama dengan Presiden
Akta notaris adalah akta autentik

Term S terdistribusi
Term P terdistribusi
Proposisi E Overmacht adalah tidak dipidana
Contoh pembuatan akta jual beli tanah adalah
bukan kewenangan notaris

Term S tidak terdistribusi


Term P tidak terdistribusi
Proposisi I tidak semua perjanjian dapat dibatalkan secara sepihak
Contoh sebagian perjanjian memiliki format yang
Distribusinya ditentukan oleh undang-undang

Term S tidak terdistribusi


Term P terdistribusi
Proposisi O beberapa perjanjian tidak memiliki format
contoh yang ditentukan oleh undang-undang
tidak semua pencurian dihukum maksimal 5 tahun penjara

ini merupakan proposisi A, term "hukum


pidana" disitu merujuk pada semua
anggota kelas "hukum pidana",
Semua hukum pidana adalah hukum publik sedangkan term "hukum publik" disitu
tidak merujuk pada semua anggota kelas
"hukum publik"
contoh
ini merupakan proposisi O, term
"pencurian" disitu tidak merujuk pada
semua anggota kelas "pencurian",
beberapa pencurian tidak menggunakan kekerasan sedangkan term "menggunakan
kekerasan" merujuk pada semua anggota
kelas "menggunakan kekerasan".

Mnaemonic/kata baru untuk mengingat


sesuatu AsEdItOp

TM. 7 Bentuk Proposisi Tradisional.mmap - 12/06/2015 -


Peraturan Tertulis adalah hukum
Proposisi A koversinya I
Sebagian hukum adalah peraturan tertulis

tidak semua tuntutan jaksa dikabulkan hakim


Proposisi I konversi I juga tidak semua yang di kabulkan hakim
adalah tuntutan jaksa

dengan catatan, harus juga merubah kehidupan manusia bukan mencari uang saja
menukar kedudukan subyek dengan Proposisi E konversinya E juga
Konversi/Pembalikan predikat dan sebaliknya kuantitas tanpa merubah kualitas
mencari uang saja bukan kehidupan manusia

beberapa tersangka adalah bukan terdakwa


Proposisi O tidak dapat dikonversikan
beberapa terdakwa adalah bukan tersangka salah

tambahkan kata-kata yang menjelaskan Pembunuh itu berdarah dingin


cakupan predikat agar makna jelas Manusia yang berdarah dingin adalah pembunuh itu

Konstitusi adalah unsur deklaratif


berdirinya suatu negara
A menjadi E
Konstitusi adalah bukan non-unsur
deklaratif berdirinya suatu negara

sebagian undang-undang berlaku


I menjadi O
sebagian undang-undang tidak tak berlaku
Mengubah kualitas pernyataan aslinya Dengan catatan, tanpa merubah kuantitasnya
Obversi Peraturan daerah tidak dibuat Bupati
E Menjadi A
Peraturan daerah non dibuat Bupati

Beberapa lembaga negara tidak dibentuk


oleh undang-undang
O menjadi I
beberapa lembaga negara non dibentuk
oleh undang-undang

proposisi awal hukum di buat oleh penguasa

Obversi hukum bukan dibuat oleh non penguasa


Proposisi A
Konversi yang dibuat oleh non penguasa adalah bukan hukum

Obversi yang di buat oleh non penguasa adalah non hukum

Proposisi awal Sebagian manusia melakukan kejahatan

Sebagian manusia adalah bukan non


Proposisi I Obversi pelaku kejahatan

Konversi tidak bisa di konversikan

Menukar kedudukan subyek dan predikat proposisi di obversi kemudian di konversi,


dan mengontradiksikan dan di obversi lagi. Proposisi awal Hukum bukan tuhan
Kontraposisi
teknik masing-masingnya
eduksi/membuat
Obversi Hukum adalah non-tuhan
pernyataan yang
maknanya sama Proposisi E Menjadi O
Konversi Sebagian yang non-tuhan adalah hukum

Obversi Sebagian yang non tuhan adalah bukan non hukum


Penalaran Langsung
Berdasarkan satu proposisi
Proposisi Awal Sebagian polisi tidak korupsi

Obversi Sebagian Polisi non korupsi


Proposisi O menjadi O
Konversi Sebagian yang non korupsi adalah Polisi

Obversi Sebagian yang non korupsi adalah bukan non polisi

Hanya untuk Proposisi A dan E saja


Bila A maka hasil I
Bila E Maka Hasil O
politik luar negeri adalah kewenangan
Proposisi Asli pemerintah pusat

politik luar negeri adalah bukan non


1. Obversi kewenangan pemerintah pusat

Semua yang non kewenangan


2. Konversi pemerintah pusat adalah bukan politik
Bila A maka proses di mulai dari luar negeri

semua yang non kewenangan pemerintah


3. Obversi pusat adalah non politik luar negeri

Mengkontradiksikan subyek dan predikat Sebagian yang non politik luar negeri
Pedoman
Inversi proposisi aslinya 4. Konversi adalah non kewenangan pemerintah
pusat

Proposisi Asli Genosida adalah bukan pelanggaran HAM ringan

1. Konversi Pelanggaran HAM ringan adalah bukan genosida

2. Obversi Pelanggaran HAM ringan adalah non genosida


Bila E maka proses di mulai dari
Sebagian yang non genosida adalah
3. Konversi pelanggaran HAM ringan

Sebagian yang non genosida adalah


4. Obversi bukan non pelanggaran HAM ringan

patt diinggat teknik ini hanya berlaku jika


predikat hanya berlaku bagi subyeknya
atau dalam satu genus

TM. 9 Penalaran Langsung Berdasarkan satu proposisi.mmap - 01/06/2015 -


Baraja adalah cakap hukum
A dengan E Kontradiktori
subyek dan predikat sama Baraja adalah tidak cakap hukum

Gundala adalah seorang hakim


singular Kontrari
Gundala adalah seorang jaksa
subyek sama dan predikat berbeda A dengan A
PT Berkah Mulya adalah berdiri tahun 1987
Independen
PT Berkah Mulya adalah memiliki banyak aset

kedua proposisi menampilkan


penjelasannya permasalahan yang sama sekali
terpisah

independen/ benar salahnya proposisi pertama


bebas/ Sifatnya tidak dapat dijadikan menentukan
tidak benar salahnya proposisi kedua
berkaitan
salah satu subyek hukum adalah manusia
contohnya perjanjian adalah berlaku
selayaknya undang-undang bagi
pembuatnya

kedua proposisi mempunyai


penjelasannya makna yang sama

jika proposisi yang satu benar


ekuivalen/ Sifatnya maka benar pula proposisi yang
persamaan lain, begitu pula sebaliknya

badan hukum adalah subyek hukum


contohnya salah satu subyek hukum adalah
badan hukum

kedua proposisi memiliki subyek


penjelasannya predikat sama, namun kuantitas
dan kualitasnya berbeda

tidak mungkin salah atau benar


sifatnya keduanya, karena harus ada satu
Kontradiktori/
yang benar
Kontradiksi/
pertentangan
Penalaran Langsung manusia adalah zoon politicon
Berdasarkan dua contohnya, proposisi A dengan O
proposisi hanya bisa tidak semua manusia adalah tidak zoon politicon
terjadi
dalam dua Manusia adalah tidak zoon politicon
bentuk Proposisi E dengan I
Tidak semua manusia adalah zoon politicon

universal dan partikular kedua proposisi memiliki subyek


dan predikat yang sama, kuantitas
penjelasannya yang sama yakni universal, namun
kualitasnya berbeda
Kontrari/
Kontraris/ sifatnya salah keduanya atau salah satu saja
perlawanan
tindak pidana adalah di hukum penjara
contohnya, hanya bisa terjadi proposisi A dengan E tindak pidana adalah tidak di
dalam satu bentuk
hukum penjara

Kedua proposisi memiliki subyek


dan predikat yang sama, kuantitas
penjelasannya yang sama yakni partikular, namun
kualitasnya berbeda
Sub-Kontraris/
sub-kontrari/ benar keduanya atau benar satu saja
setengah sifatnya
perlawanan
Sebagian tindak pidana adalah dipidana
contohnya, hanya bisa terjadi proposisi I dengan O Sebagian tindak pidana adalah
dalam satu bentuk
tidak dipidana

Kedua proposisi memiliki subyek


dan predikat yang sama, kualitas
penjelasannya yang sama, namun kuantitasnya
berbeda

benar keduanya, salah keduanya,


sifatnya atau satu benar dan satu salah
Implikasi/
mencakup Hukum Perdata mengatur masalah keperdataan
proposisi A dengan I Tidak semua hukum perdata
mengatur masalah keperdataan
contohnya, hanya bisa terjadi
dalam dua bentuk Hukum Bisnis tidak mengatur
masalah sanksi pidana
proposisi E dengan O
Beberapa hukum bisnis tidak
mengatur masalah sanksi pidana

TM. 9 Penalaran Langsung.mmap - 01/06/2015 -


Honda supra itu bebek, gunawan suka Term Tengah "bebek" bermakna ganda,
hanya boleh memiliki tiga term atau tiga shingga dapat dikatakan ada empat term
konsep dalam bentuk term tengah, term makan bebek, gunawan suka makan
Tum re, tum sensu, terminus esto triplex honda supra yang berbeda dalam silogisme tersebut
mayor, term minor (Kesalahan ekuivokasi)

Term mayor "manusia" awalnya tidak


Jika term mayor atau term minor bersifat Andi adalah manusia, Badu adalah bukan terdistribusi, menjadi terdistribusi pada
Latius hos quam praemissae partikular dalam premis, tidak boleh Andi, Badu adalah bukan manusia konklusi. (ingat rumus AsEdItOp)
conclusio non vult bersifat universal pada konklusinya

karena fungsi Term Tengah hanya untuk


term tengah tidak boleh berada di menghubungkan dua premis, bukan
konklusi, karena yang boleh berada di Andi adalah koki, semua koki manusia, menjadi konklusi, kalau Term tengah
Nequaquam capiat medium andi adalah koki menjadi konklusi, tidak ada pengetahuan
konklusi hanyalah Term Mayor dan term
conclusio fas est minor baru yang didapatkan.

term tengah "manusia" tidak terdistribusi


Term Tengah minimal satu kali (term pada kedua premis (perhatikan premis
tengah muncul dua kali) bermakna Beberapa manusia adalah penjahat, andi
Aut semel aut iterum, medius adalah manusia, andi adalah penjahat minor dengan mengingat rumus
distributif/terdistribusi (mencakup semua AsEdItOp)
generaliter esto kelas)

Kaidah Silogisme tidak boleh kedua premis berkualitas


Roti bukan hewan, anjing bukan roti, jadi
anjing bukan hewan
Kategorik negatif, karena cara bekerja silogisme
kategorik adalah membandingkan dua ini konklusi dan premis benar tapi
Utraque is praemisa neget, nihil inde sequitur term (konsep) dengan satu term tengah prosedur tidak valid, karena ada dua
(penghubung), jika keduanya berbeda Roti bukan batu, motor bukan batu, jadi pelanggaran yang terjadi, yakni term
dengan term tengah atau motor bukan roti tengah tidak ada yang terdistibusi dan
penghubungnya maka tidak ada konklusi kedua premis berkualitas negatif

Sebagian orang kaya kikir, sebagian


advokat kaya, jadi sebagian advokat kikir
In hil sequitur geminis ex Tidak ada konklusi yang pasti jika kedua
premis kuantitasnya partikular Sebagian yang pintar berdebat adalah
particularibus unguam advokat, andi adalah pintar berdebat, jadi
andi adalah advokat

Jika kedua premis kualitasnya adalah advokat pintar berdebat, andi adalah
Ambae affirmantes generae negantem afirmatif maka konklusinya harus afirmatif advokat, andi tidak pintar berdebat

apabila salah satu premis negatif maka


konklusi juga negatif
apabila salah satu premis partikular maka
Peiorem sequitur semper conclusio partem distribusi konklusi tidak boleh melebihi premis. konklusi juga partikular
apabila apabila salah satu premis negatif
dan partikular maka konklusinya juga
negatif dan partikular

TM. 10 Prinsip Silogisme Kategorik.mmap - 19/06/2015 -


Semua wanita bisa melahirkan, karena
Silogisme dengan premis kausal, Salah wanita memiliki rahim yang bisa dibuahi
Epicherema satu premis atau keduanya disambung oleh sperma, Ani adalah wanita, jadi Ani
dengan pembuktian bisa melahirkan

Enthymema Manusia adalah fana, jadi pasti akan mati


Silogisme yang dipersingkat, salah satu
Enthymema premis, atau kesimpulannya dilewati Semua yang fana akan mati, manusia
Bentuk lengkapnya adalah fana, jadi pasti akan mati

Hukum itu mengikat, undang-undang


adalah hukum, undang-undang adalah
Silogisme Kategorik Tersusun Silogisme yang dideretkan sedemikian mengikat, DPR membuat
rupa sehingga konklusi dari silogisme undang-undang, jadi DPR membuat hal
Polisillogisme sebelumnya menjadi premis silogisme yang mengikat, Badrun adalah anggota
sesudahnya DPR, jadi, Badrun membuat hal yang
mengikat.

merupakan jenis dari polisilogisme, Manusia bekerja adalah untuk


bedanya dalam sorites hanya ada satu mendapatkan makan, manusia
konklusi, setiap predikat pada proposisi mendapatkan makan adalah untuk
sebelumnya menjadi subyek pada bertahan hidup, manusia bertahan hidup
Sorites proposisi sesudahnya, terus berlanjut adalah untuk beribadah kepada
sampai pada konklusi yng berisi subyek tuhanNya, jadi manusia bekerja adalah
pada proposisi pertama dan predikat untuk beribadah kepada tuhanNya.
pada proposisi terakhir
Silogisme Kategorik

term mayor predikat dari konklusi

Premis mayor term yang menghubungkan term minor


Term tengah dan mayor, untuk membandingkan
keduanya dan mendapatkan konklusi
Proposisi antesedent
term minor subyek dari konklusi

Silogisme Kategorik Tunggal Terdiri dari 2 proposisi kategorik


Premis minor term yang menghubungkan term minor
term tengah dan mayor, untuk membandingkan
keduanya dan mendapatkan konklusi

term mayor jadi predikat

Proposisi konsekuen Konklusi


term minor Jadi subyek

ketika menemui pernyataan yang tidak untuk S dan P, bisa dilihat di konklusinya,
berbentuk silogisme, maka cara yang setelah itu mencari term penghubungnya S pada konklusi adalah premis minor,
termudah adalah menemukan yang ditandai dengan "karena", "sebab", sedangkan P pada konklusi adalah
catatan konklusinya terlebih dahulu yang ditandai dst premis mayor
dengan kata "oleh karena itu","maka",
"jadi", "tentu", dsb

TM. 10 Ragam Silogisme Kategorik.mmap - 19/06/2015 -


Premis Mayor M_P

Medium menjadi subyek pada premis


mayor dan menjadi predikat pada premis Premis Minor S_M
minor
Ketentuan
Konklusi S_P

Premis Mayor Harus Universal


Premis Minor Harus Afirmatif

Saya makan pangsit A

Contoh 1 orang gemuk adalah saya A

Sebagian orang gemuk makan pangsit I


AAI (Lemah)/jangan dipakai
Bunga itu indah A

AAA Contoh 2 Melati adalah Bunga A

Tidak semua melati itu indah I

Bunga itu indah A


P=Predikat

Contoh Mawar adalah Bunga A

Mawar itu indah A


Bentuk 1 Silogisme
M=Medium
Kategorik
Pembunuhnya tidak berbaju putih dan E
bercelana hitam

Contoh Andi pembunuhnya A


EAO (Lemah)/jangan dipakai
S=Subyek Model Valid
Kadang-kadang andi tidak berbaju putih dan hitam O

EAE
Pembunuhnya tidak berbaju putih dan E
bercelana hitam

Contoh Andi Pembunuhnya A

Andi tidak berbaju putih dan bercelana hitam E

Penipu mengincar uang A

Contoh Orang didepan saya ini sering menjadi penipu I


AII

Orang di depan saya ini sering mengincar uang I

Non Presiden tidak punya hak preogratif E


untuk memilih menteri

Contoh Sebagian manusia adalah non presiden I


EIO

Sebagian manusia adalah tidak punya O


hak preogratif untuk memilih menteri

TM. 11 Bentuk 1 Silogisme Kategorik.mmap - 19/06/2015 -


Premis Mayor P_M

Medium menjadi predikat pada premis S_M


Premis Minor
mayor dan premis minor
Ketentuan Konklusi S_P

Premis Mayor Harus Universal


Premis Minor Kualitasnya Harus Berbeda
dengan Premis Mayornya

Semua mahasiswa punya KTM A

Contoh Agus tidak punya KTM E


AEO (Lemah)/jangan dipakai

Agus kadang-kdang menjadi mahasiswa O

Semua mahasiswa punya KTM A

AEE Contoh 1 Agus tidak punya KTM E

Agus adalah bukan mahasiswa E

Semua Anggota DPR memiliki staf ahli A


Bentuk 2 Silogisme
Kategorik
Contoh 2 Andi tidak punya staf ahli E

Andi bukan anggota DPR E

Model Valid Semua PKL di Sidoarjo tidak boleh E


berjualan di trotoar dan bahu jalan

Contoh Penjual Es Dawet itu boleh berjualan di A


EAE trotoar dan bahu jalan

Penjual Es Dawet itu bukan PKL di Sidoarjo E

Tidak ada manusia yang sempurna E

Contoh Sueb kadang sempurna I


EIO

Berarti Sueb kadang bukan manusia O

Semua ahli hukum bagus nalarnya A

Contoh sebagian polisi tidak bagus nalarnya O


AOO

sebagian polisi bukan ahli hukum O

TM. 11 Bentuk 2 Silogisme Kategorik.mmap - 15/06/2015 -


Premis Mayor M_P

Medium menjadi subyek pada premis M_S


Premis Minor
mayor dan premis minor
Ketentuan
Konklusi S_P

Premis minor harus afirmatif


Konklusi harus partikular

BUMN adalah Badan Hukum A

Contoh BUMN adalah Milik Negara A


AAI

Sebagian Milik Negara adalah Badan Hukum I

Kejahatan adalah Tindak Pidana A

Sebagian Kejahatan adalah I


AII Contoh Menghilangkan nyawa orang lain

Sebagian yang menghilangkan nyawa I


orang lain adalah tindak pidana

Sebagian Tindak Pidana adalah dihukum kurungan I


Bentuk 3 Silogisme
Kategorik A
IAI Contoh Tindak Pidana dilakukan oleh Manusia

Sebagian Manusia dihukum kurungan I

Model Valid
Indonesia adalah bukan negara serikat E

Indonesia adalah Negara Republik A


EAO Contoh

Sebagian Negara Republik adalah O


Negara Serikat

Sebagian Penduduk Negara Komunis O


tidak percayaTuhan

Contoh Semua Penduduk Negara Komunis A


OAO merupakan Manusia

Sebagian Manusia tidak percayaTuhan O

Tidak ada pembunuh yang baik E

Contoh Sebagian pembunuh adalah remaja I


EIO

Sebagian remaja tidak baik O

TM. 11 Bentuk 3 Silogisme Kategorik.mmap - 15/06/2015 -


Premis Mayor P_M

Medium menjadi predikat pada premis


mayor dan menjadi subyek pada premis Premis Mnor M_S
minor
Ketentuan Konklusi S_P

Jika premis mayor afirmatf, maka premis


minor harus universal
jika premis minor negatif, maka premis
mayor harus universal

Wanprestasi dapat digugat A

Contoh Yang dapat digugat adalah perbuatan tercela A


AAI

Sebagian perbuatan tercela adalah wanprestasi I

Wanprestasi dapat digugat A

Yang dapat digugat adalah bukan E


AEE Contoh
perbuatan baik

Bentuk 4 Silogisme Perbuatan baik adalah bukan wanprestasi E


Kategorik
Tidak semua Negara Serikat adalah I
Negara Republik

Semua Negara Republik pemimpinnya A


IAI Contoh tidak berdasarkan keturunan
Model Valid
Sebagian yang pemimpinnya tidak
berdasarkan keturunan adalah negara I
serikat

Tidak ada anak-anak yang non wali E

Yang Non Wali adalah mereka yang cakap hukum A


EAO Contoh

Sebagian yang cakap hukum adalah O


bukan anak-anak

Tidak ada penjahat yang kebal hukum E

Sebagian yang kebal hukum adalah I


EIO Contoh memiliki hak imunitas

Sebagian yang memiliki hak imunitas O


adalah bukan penjahat

TM. 11 Bentuk 4 Silogisme Kategorik.mmap - 15/06/2015 -


Jika A terjadi maka B terjadi
Jika A tidak terjadi maka B belum tentu tidak terjadi
Rumus Pengingat
Jika B tidak terjadi maka A tidak terjadi
Jika B terjadi maka A belum tentu terjadi

(jika aku menikahinya, maka hartanya


akan menjadi milikku), (sekarang aku
Benar menikahinya), (maka hartanya akan
menjadi milikku).
Premis kedua sama dengan anteseden,
Modus Konstruktif sedangkan kesimpulan sama dengan
konsekuen (jika aku menikahinya, maka hartanya
akan menjadi milikku), (sekarang aku
Salah menikahinya), (maka hartanya Tidak
akan menjadi milikku).
Modus Anteseden
Bentuk Silogisme (Jika seseorang tidak memenuhi janji,
Benar maka ia wanprestasi), (bagus tidak
Kondisional kemunculan anteseden pada premis memenuhi janji), (jadi ia wanprestasi)
kedua selalu diikuti oleh konsekuen pada
Modus Ponens kesimpulan, namun tidak munculnya
anteseden pada premis kedua belum (Jika seseorang tidak memenuhi janji,
tentu munculnya konsekuen pada Salah maka ia wanprestasi), ( bagus memenuhi
kesimpulan janji ), (jadi ia tidak wanprestasi)

Ketidak munculan konsekuen pada


premis kedua sellalu diikuti oleh
ketidakmunculan anteseden, namun
Modus Tollens kemunculan konsekuen pada premis
kedua belum tentu munculnya anteseden
Modus Konsekuen pada kesimpulan

Premis kedua menolak konsekuen,


Modus Destruktif sedangkan kesimpulan menolak
anteseden

TM. 12 Bentuk Silogisme Kondisional.mmap - 26/11/2015 -


Proposisi yang memiliki dua predikat yang
bersifat kontraris, karena bersifat kontraris Subtopic
Premis Pertama Proposisi Konjungtif maka tidak mungkin benar dua-duanya,
pasti ada salah satu yang salah.

Silogisme Konjungtif Unsurnya

Premis Kedua Proposisi Kategorik

Kesimpulan Proposisi Kategorik

Term Anteseden jika kamu makan


Proposisi Kategorik

Premis Pertama Proposisi Kondisional


Term Konsekuen maka kamu akan kenyang
Proposisi Kategorik
Unsurnya

Premis Kedua Proposisi Kategorik

Kesimpulan Proposisi Kategorik

Silogisme Kondisional patut diingat, antara term anteseden jika kamu makan, maka kamu akan kenyang
dengan term konsekuen harus memiliki hubungan bersyarat (benar)
hubungan bersyarat, kalau tidak memiliki
hubungan bersyarat maka proposisi hubungan tak bersyarat (tidak benar) jika kamu makan, maka kamu akan lapar
catatan kondisional menjadi tidak benar
pemakaian silogime ini dapat dilanjutkan
dengan menggunakan silogisme
kategorik

Macam Silogisme silogisme kondisional berguna untuk


Hipotetik menilai suatu hipotesis, dan kemudian
Kegunaannya mencoba untuk membuktikannya dengan
percobaan

Proposisinya memiliki dua predikat yang seorang notaris itu sarjana hukum atau
masing-masingnya bersifat eksklusif atau non sarjana hukum
Premis Pertama Proposisi Disjungtif Sempurna
kontradiktoris satu sama lain hukum ditaati atau diingkari

Silogisme Disjungtif sempurna Unsurnya


Premis Kedua Proposisi Kategorik

Kesimpulan Proposisi Kategorik

Macamnya

Premis Pertama Proposisi Disjungtif tidak Sempurna Proposisinya tidak memiliki dua predikat anda minum the atau kopi
Silogisme Disjungtif yang masing-masingnya bersifat eksklusif
atau kontradiktoris satu sama lain seorang pencuri itu di pidana penjara atau pidana kurungan
Silogisme Disjungtif Tidak Sempurna Unsurnya

Premis Kedua Proposisi Kategorik

Kesimpulan Proposisi Kategorik

Penguasaan silogisme ini berguna untuk


terbiasa memndang segala pernyataan
secara obyektif dan tidak terpengaruh
Kegunaannya oleh proposisi alternatif yang dilontarkan
lawan bicara (biasanya berupa
propaganda)

TM. 12 Macam Silogisme Hipotetik.mmap - 19/06/2015 -


STEPHEN DOWNES.
STEPHEN'S GUIDE TO THE LOGICAL FALLACIES.
BRANDON, MANITOBA, CANADA, 1995-2001.
(Kesalahan Berpikir Karena Bahasa)

A. Fallacies of Ambiguity

1. Equivocation: the same term is used with two different meanings


2. Amphiboly: the structure of a sentence allows two different interpretations
3. Accent: the emphasis on a word or phrase suggests a meaning contrary to what the sentence actually
says

B. Category Errors

1. Composition: because the attributes of the parts of a whole have a certain property, it is argued that
the whole has that property
2. Division: because the whole has a certain property, it is argued that the parts have that property

C. Fallacies of Explanation

1. Subverted Support (The phenomenon being explained doesn't exist)


2. Non-support (Evidence for the phenomenon being explained is biased)
3. Untestability (The theory which explains cannot be tested)
4. Limited Scope (The theory which explains can only explain one thing)
5. Limited Depth (The theory which explains does not appeal to underlying causes)

D. Fallacies of Definition

1. Too Broad (The definition includes items which should not be included)
2. Too Narrow (The definition does not include all the items which shouls be included)
3. Failure to Elucidate (The definition is more difficult to understand than the word or concept being
defined)
4. Circular Definition (The definition includes the term being defined as a part of the definition)
5. Conflicting Conditions (The definition is self-contradictory)

________________________________________
FALLACIES OF AMBIGUITY
The fallacies in this section are all cases where a word or phrase is used unclearly. There are two ways in which
this can occur.
i. The word or phrase may be ambiguous, in which case it has more than one distinct meaning.
ii. The word or phrase may be vague, in which case it has no distinct meaning.
The following are fallacies of ambiguity:
1. Equivocation (The same term is used in two different ways)
2. Amphiboly (The structure of a sentence allows two different interpretations)
3. Accent (An emphasis suggests a meaning different from what is actually said)

1. EQUIVOCATION

Definition: The same word is used with two different meanings.


Examples:
i. Criminal actions are illegal, and all murder trials are criminal actions, thus all murder trials are illegal.
(Here the term "criminal actions" is used with two different meanings. Example borrowed from Copi.)
ii. The sign said "fine for parking here", and since it was fine, I parked there.

1
iii. All child-murderers are inhuman, thus, no child-murderer is human. (From Barker, p. 164; this is called
"illicit obversion")
iv. A plane is a carpenter's tool, and the Boeing 737 is a plane, hence the Boeing 737 is a carpenter's tool.
(Example borrowed from Davis, p. 58)
Proof: Identify the word which is used twice, then show that a definition which is appropriate for one use of
the word would not be appropriate for the second use.
References: (Barker: 163, Cedarblom and Paulsen: 142, Copi and Cohen: 113, Davis: 58)

2. AMPHIBOLY

Definition: An amphiboly occurs when the construction of a sentence allows it to have two different
meanings.
Examples:
i. Last night I shot a burglar in my pyjamas.
ii. The Oracle of Delphi told Croseus that if he pursued the war he would destroy a mighty kingdom.
(What the Oracle did not mention was that the kingdom he destroyed would be his own. Adapted
from Heroditus, The Histories.)
iii. Save soap and waste paper. (From Copi, p. 115)
Proof: Identify the ambiguous phrase and show the two possible interpretations.
References: (Copi and Cohen: 114)

3. ACCENT

Definition: Emphasis is used to suggest a meaning different from the actual content of the proposition.
Examples:
i. It would be illegal to give away Free Beer!
ii. The first mate, seeking revenge on the captain, wrote in his journal, "The Captain was sober today."
(He suggests, by his emphasis, that the Captain is usually drunk. From Copi, p. 117)
References: (Copi and Cohen: 115)

_______________________________________________
CATEGORY ERROR
These fallacies occur because the author mistakenly assumes that the whole is nothing more than
the sum of its parts. However, things joined together may have different properties as a whole than any of
them do separately. The following fallacies are category errors:
1. Composition (Because the parts have a property, the whole is said to have that property)
2. Division (Because the whole has a property, the parts are said to have that property)

1. COMPOSITION

Definition: Because the parts of a whole have a certain property, it is argued that the whole has that property.
That whole may be either an object composed of different parts, or it may be a collection or set of
individual members.
Examples:
i. The brick wall is six feet tall. Thus, the bricks in the wall are six feet tall.
ii. Germany is a militant country. Thus, each German is militant.
iii. Conventional bombs did more damage in W.W. II than nuclear bombs. Thus, a conventional bomb is
more dangerous than a nuclear bomb. (From Copi, p. 118)
Proof: Show that the properties in question are the properties of the whole, and not of each part or member
or the whole. If necessary, describe the parts to show that they could not have the properties of the
whole.
References: (Barker: 164, Copi and Cohen: 117)

2
2. DIVISION

Definition: Because the whole has a certain property, it is argued that the parts have that property. The whole
in question may be either a whole object or a collection or set of individual members.
Examples:
i. Each brick is three inches high, thus, the brick wall is three inches high.
ii. Because the brain is capable of consciousness, each neural cell in the brain must be capable of
consciousness.
Proof: Show that the properties in question are the properties of the parts, and not of the whole. If necessary,
describe the parts to show that they could not have the properties of the whole.
References: Barker: 164, Copi and Cohen: 119

_______________________________________________
FALLACIES OF EXPLANATION
An explanation is a form of reasoning which attempts to answer the question "why?" For example, it is
with an explanation that we answer questions such as, "Why is the sky blue?"
A good explanation will be based on a scientific or empirical theory. The explanation of why the sky is
blue will be given in terms of the composition of the sky and theories of reflection.
The following are fallacies of explanation:
1. Subverted Support (The phenomenon being explained doesn't exist)
2. Non-support (Evidence for the phenomenon being explained is biased)
3. Untestability (The theory which explains cannot be tested)
4. Limited Scope (The theory which explains can only explain one thing)
5. Limited Depth (The theory which explains does not appeal to underlying causes)

1. SUBVERTED SUPPORT

Definition: An explanation is intended to explain who some phenomenon happens. The explanation is
fallacious if the phenomenon does not actually happen of if there is no evidence that it does happen.
Examples
i. The reason why most bachelors are timid is that their mothers were domineering.
(This attempts to explain why most bachelors are timid. However, it is not the case that most
bachelors are timid.)
ii. John went to the store because he wanted to see Maria.
(This is a fallacy if, in fact, John went to the library.)
iii. The reason why most people oppose the strike is that they are afraid of losing their jobs.
(This attempts to explain why workers oppose the strike. But suppose they just voted to continue the
strike, Then in fact, they don't oppose the strike. [This sounds made up, but it actually happened.])
Proof: Identify the phenomenon which is being explained. Show that there is no reason to believe that the
phenomenon has actually occurred.
References: Cedarblom and Paulsen: 158

2. NON-SUPPORT

Definition: An explanation is intended to explain who some phenomenon happens. In this case, there is
evidence that the phenomenon occurred, but it is trumped up, biased or ad hoc evidence.
Examples
i. The reason why most bachelors are timid is that their mothers were domineering.
(This attempts to explain why most bachelors are timid. However, it is shown that the author bases his
generalization on two bachelors he once knew, both of whom were timid.)
ii. The reason why I get four or better on my evaluations is that my students love me.
(This is a fallacy when evaluations which score four or less are discarded on the grounds that the
students did not understand the question.)
iii. The reason why Alberta has the lowest tuition in Canada is that tuition hikes have lagged behind other
provinces.

3
(Lower tuitions in three other provinces - Quebec, Newfoundland and Nova Scotia - were dismissed as
"special cases" [again this is an actual example])
Proof: Identify the phenomenon which is being explained. Show that the evidence advanced to support the
existence of the phenomenon was manipulated in some way.
References: Cedarblom and Paulsen: 160

3. UNTESTABILITY

Definition The theory advanced to explain why some phenomen occurs cannot be tested. We test a theory by
means of its predictions. For example, a theory may predict that light bends under certain conditions, or
that a liquid will change colour if sprayed with acid, or that a psychotic person will respond badly to
particular stimuli. If the predicted event fails to occur, then this is evidence against the theory. A thoery
cannot be tested when it makes no predictions. It is also untestable when it predicts events which would
occur whether or not the theory were true.
Examples
i. Aircraft in the mid-Atlantic disappear because of the effect of the Bermuda Triangle, a force so subtle
it cannot be measured on any instrument.
(The force of the Bermuda Triangle has no effect other than the occasional downing of aircraft. The
only possible prediction is that more aircraft will be lost. But this is likely to happen whether or not the
theory is true.)
ii. I won the lottery because my psychic aura made me win.
(The way to test this theory to try it again. But the person responds that her aura worked for that one
case only. There is thus no way to determine whether the win was the result of an aura of of luck.)
iii. The reason why everything exists is that God created it.
(This may be true, but as an explanation it carries no weight at all, because there is no way to test the
theory. No evidence in the world could possibly show that this theory is false, because any evidence
would have to be created by God, according to the theory.)
iv. Ny. Quil makes you go to sleep because it has a dormative formula.
(When pressed, the manufacturers define a "dormative formula" as "something which makes you
sleep". To test this theory, we would find something else which contains the domative formular and
see if makes you go to sleep. But how do we find something else which contains the dormative
formula? We look for things which make you go to sleep. But we could predict that things which make
you sleep will make you sleep, no matter what the theory says. The theory is empty.)
Proof: Identify the theory. Show that it makes no predictions, or that the predictions it does make cannot ever
be wrong, even if the theory is false.
References: Cedarblom and Paulsen: 161

4. LIMITED SCOPE

Definition: The theory doesn't explain anything other than the phenomenon it explains.
Examples
i. There was hostility toward hippies in the 1960s because of their parents' resentment toward children.
(This theory is flawed because it explains hostility toward hippes, and nothing else. A better theory
would be to say there was hostility toward hippies because hippies are different, and people fear
things which are different. This theory would explain not only hostility toward hippies, but also other
forms of hostility.)
ii. People get schizophrenia because different parts of their brains split apart.
(Again, this theory explains schizophrenia - and nothing else.)
Proof: Identify the theory and the phenomenon it explains. Show that the theory does not explain anything
else. Argue that theories which explain only one phenomenon are likely to be incomplete, at best.
References: Cedarblom and Paulsen: 163

4
5. LIMITED DEPTH

Definition: Theories explain phenomena by appealing to some underlying cause or phenomena. Theories
which do not appeal to an underlying cause, and instead simply appeal to membership in a category,
commit the fallacy of limited depth.
Examples
i. My cat likes tuna because she's a cat.
(This theory asserts only that cats like tuna, without explaining why cats like tuna. It thus does not
explain why my cat likes tuna.)
ii. Ronald Reagan was militaristic because he was American.
(True, he was American, but what was it about being American that made him militaristic? What
caused him to act in this way? The theory does not tell us, and hence, does not offer a good
explanation.)
iii. You're just saying that because you belong to the union.
(This attempt at dismissal tries to explain your behaviour as frivolous. However, it fails because it is
not an explanation at all. Suppose everyone in the union were to say that. Then what? We have to get
deeper - we have to ask why they would say that - before we can decide that what they are saying is
frivolous.)
Proof: Theories of this sort attempt to explain a phenomenon by showing that it is part of a category of similar
phenomenon. Accept this, then press for an explanation of the wider category of phenomenon. Argue
that a theory refers to a cause, not a classification.
References: Cedarblom and Paulsen: 164

___________________________________________
FALLACIES OF DEFINITION
In order to make our words or concepts clear, we use a definition. The purpose of a definition is to
state exactly what a word means. A good definition should enable a reader to 'pick out' instances of the word
or concept with no outside help.
For example, suppose we wanted to define the word "apple". If the definition is successful, then the
reader should be able go out into the world and select every apple which exists, and only apples. If the reader
misses some apples, or includes some other items (such as pears), or can't tell whether something is an apple
or not, then the definition fails.
The following are fallacies of definition:
1. Too Broad (The definition includes items which should not be included)
2. Too Narrow (The definition does not include all the items which shouls be included)
3. Failure to Elucidate (The definition is more difficult to understand than the word or concept being
defined)
4. Circular Definition (The definition includes the term being defined as a part of the definition)
5. Conflicting Conditions (The definition is self-contradictory)

1. TOO BROAD

Definition: The definition includes items which should not be included.


Examples
i. An apple is something which is red and round.
(The planet Mars is red and round. So it is included in the definition. But obviously it is not an apple.)
ii. A figure is square if and only if it has four sides of equal length.
(Not only squares have four sides of equal length; trapezoids do as well.
Proof: Identify the term being defined. Identify the conditions in the definition. Find an item which meets the
condition but is obviously not an instance of the term.
References: Cedarblom and Paulsen: 182

2. TOO NARROW

Definition: The definition does not include items which should be included.
Examples

5
i. An apple is something which is red and round.
(Golden Delicious apples are apples, however, they are not red (they are yellow). Thus they are not
included in the definition, however, they should be.)
ii. A book is pornographic if and only if it contains pictures of naked people.
(The books written by the Marquis de Sade do not contain pictures. However, they are widely regarded
as pornographic. Thus, the definition is too narrow.
iii. Something is music if and only if it is played on a piano.
(A drum solo cannot be played on a piano, yet it is still considered music.)
Proof: Identify the term being defined. Identify the conditions in the definition. Find an item which is an
instance of the term but does not meet the conditions.
References: Cedarblom and Paulsen: 182

3. FAILURE TO ELUCIDATE

Definition: The definition is harder to understand than the term being defined.
Examples
i. Someone is lascivious if and only if he is wanton.
(The term being defined is "lascivious". But the meaning of the term "wanton" is just as obscure as the
term "lascivious". So this definition fails to elucidate.)
ii. An object is beautiful if and only if it is aesthetically successful.
(The term "aesthetically successful" is harder to understand than the term "beautiful".
Proof: Identify the term being defined. Identify the conditions in the definition. Show that the conditions are
no more clearly defined than the term being defined.
References: Cedarblom and Paulsen: 184

4. CIRCULAR DEFINITION

Definition: The definition includes the term being defined as a part of the definition.
(A circular definition is a special case of a Failure to Elucidate.)
Examples
i. An animal is human if and only if it has human parents.
(The term being defined is "human". But in order to find a human, we would need to find human
parents. To find human parents we would already need to know what a human is.)
ii. A book is pornographic if and only if it contains pornography.
(We would need to know what pornography is in order to tell whether a book is pornographic.)
Proof: Identify the term being defined. Identify the conditions in the definition. Show that at least one term
used in the conditions is the same as the term being defined.
References: Cedarblom and Paulsen: 184

5. CONFLICTING CONDITIONS

Definition: The definition is self-contradictory.


Examples
i. A society is free if and only if liberty is maximized and people are required to take responsibility for
their actions.
(Definitions of this sort are fairly common, especially on the internet. However, if a person is required
to do something, then that person's liberty is not maximized.)
ii. People are eligible to apply for a learner's permit (to drive) if they have (a) no previous driving
experience, (b) access to a vehicle, and (c) experience operating a motor vehicle.
(A person cannot have experience operating a motor vehicle if they have no previous driving
experience.)
Proof: Identify the conditions in the definition. Show that they cannot all be true at the same time (in
particular, assume that one of the conditions is true, then show from this that another of the conditions
must be false).
References: Cedarblom and Paulsen: 186

6
STEPHEN DOWNES.
STEPHEN'S GUIDE TO THE LOGICAL FALLACIES.
BRANDON, MANITOBA, CANADA, 1995-2001.
(Kesalahan Berpikir dalam Metode Induksi)
A. Inductive Fallacies

1. Hasty Generalization: the sample is too small to support an inductive generalization about a population
2. Unrepresentative Sample: the sample is unrepresentative of the sample as a whole
3. False Analogy: the two objects or events being compared are relevantly dissimilar
4. Slothful Induction: the conclusion of a strong inductive argument is denied despite the evidence to the
contrary
5. Fallacy of Exclusion: evidence which would change the outcome of an inductive argument is excluded
from consideration

B. Fallacies Involving Statistical Syllogisms

1. Accident: a generalization is applied when circumstances suggest that there should be an exception
2. Converse Accident : an exception is applied in circumstances where a generalization should apply

INDUCTIVE FALLACIES
Inductive reasoning consists of inferring from the properties of a sample to the properties of a population
as a whole.
For example, suppose we have a barrel containing of 1,000 beans. Some of the beans are black and some
of the beans are white. Suppose now we take a sample of 100 beans from the barrel and that 50 of them are white
and 50 of them are black. Then we could infer inductively that half the beans in the barrel (that is, 500 of them) are
black and half are white.
All inductive reasoning depends on the similarity of the sample and the population. The more similar the
same is to the population as a whole, the more reliable will be the inductive inference. On the other hand, if the
sample is relevantly dissimilar to the population, then the inductive inference will be unreliable.
No inductive inference is perfect. That means that any inductive inference can sometimes fail. Even
though the premises are true, the conclusion might be false. Nonetheless, a good inductive inference gives us a
reason to believe that the conclusion is probably true.
The following inductive fallacies are described in this section:

1. Hasty Generalization
2. Unrepresentative Sample
3. False Analogy
4. Slothful Induction
5. Fallacy of Exclusion

1. HASTY GENERALIZATION

Definition: The size of the sample is too small to support the conclusion.
Examples:
i. Fred, the Australian, stole my wallet. Thus, all Australians are thieves. (Of course, we shouldn't judge all
Australians on the basis of one example.)
ii. I asked six of my friends what they thought of the new spending restraints and they agreed it is a good
idea. The new restraints are therefore generally popular.
Proof: Identify the size of the sample and the size of the population, then show that the sample size is too small.
Note: a formal proof would require a mathematical calculation. This is the subject of probability theory. For
now, you must rely on common sense.
References: Barker: 189, Cedarblom and Paulsen: 372, Davis: 103

2. UNREPRESENTATIVE SAMPLE

Definition: The sample used in an inductive inference is relevantly different from the population as a whole.
Examples:
i. To see how Canadians will vote in the next election we polled a hundred people in Calgary. This shows
conclusively that the Reform Party will sweep the polls. (People in Calgary tend to be more conservative,
and hence more likely to vote Reform, than people in the rest of the country.)
ii. The apples on the top of the box look good. The entire box of apples must be good. (Of course, the rotten
apples are hidden beneath the surface.)
Proof: Show how the sample is relevantly different from the population as a whole, then show that because the
sample is different, the conclusion is probably different.
References: Barker: 188, Cedarblom and Paulsen: 226, Davis: 106

3. FALSE ANALOGY

Definition: In an analogy, two objects (or events), A and B are shown to be similar. Then it is argued that since A
has property P, so also B must have property P. An analogy fails when the two objects, A and B, are different in
a way which affects whether they both have property P.
Examples:
i. Employees are like nails. Just as nails must be hit in the head in order to make them work, so must
employees.
ii. Government is like business, so just as business must be sensitive primarily to the bottom line, so also
must government. (But the objectives of government and business are completely different, so probably
they will have to meet different criteria.)
Proof: Identify the two objects or events being compared and the property which both are said to possess. Show
that the two objects are different in a way which will affect whether they both have that property.
References: Barker: 192, Cedarblom and Paulsen: 257, Davis: 84

4. SLOTHFUL INDUCTION

Definition: The proper conclusion of an inductive argument is denied despite the evidence to the contrary.
Examples:
i. Hugo has had twelve accidents n the last six months, yet he insists that it is just a coincidence and not his
fault. (Inductively, the evidence is overwhelming that it is his fault. This example borrowed from Barker, p.
189)
ii. Poll after poll shows that the N.D.P will win fewer than ten seats in Parliament. Yet the party leader insists
that the party is doing much better than the polls suggest. (The N.D.P. in fact got nine seats.)
Proof: About all you can do in such a case is to point to the strength of the inference.
References: Barker: 189
5. FALLACY OF EXCLUSION

Definition: Important evidence which would undermine an inductive argument is excluded from consideration.
The requirement that all relevant information be included is called the "principle of total evidence".
Examples:
i. Jones is Albertan, and most Albertans vote Tory, so Jones will probably vote Tory. (The information left
out is that Jones lives in Edmonton, and that most people in Edmonton vote Liberal or N.D.P.)
ii. The Leafs will probably win this game because they've won nine out of their last ten. (Eight of the Leafs'
wins came over last place teams, and today they are playing the first place team.)
Proof: Give the missing evidence and show that it changes the outcome of the inductive argument. Note that it is
not sufficient simply to show that not all of the evidence was included; it must be shown that the missing
evidence will change the conclusion.
References Davis: 115

____________________________________________________
FALLACIES INVOLVING STATISTICAL SYLLOGISMS
A statistical generalization is a statement which is usually true, but not always true. Very often these are
expressed using the word "most", as in "Most conservatives favour welfare cuts." Sometimes the word "generally"
is used, as in "Conservatives generally favour welfare cuts." Or, sometimes, no specific word is used at all, as in:
"Conservatives favour welfare cuts."
Fallacies involving statistical generalizations occur because the generalization is not always true. Thus,
when an author treats a statistical generalization as though it were always true, the author commits a fallacy.
This section describes the following fallacies involving statistical syllogisms:

1. Accident
2. Converse Accident

1. ACCIDENT

Definition: A general rule is applied when circumstances suggest that an exception to the rule should apply.
Examples:
i. The law says that you should not travel faster than 50 kph, thus even though your father could not
breathe, you should not have travelled faster than 50 kph.
ii. It is good to return things you have borrowed. Therefore, you should return this automatic rifle from the
madman you borrowed it from. (Adapted from Plato's Republic, Book I).
Proof: Identify the generalization in question and show that it is not a universal generalization. Then show that the
circumstances of this case suggest that the generalization ought not to apply.
References Copi and Cohen: 100

2. CONVERSE ACCIDENT

Definition: An exception to a generalization is applied to cases where the generalization should apply.
Examples:
i. Because we allow terminally ill patients to use heroin, we should allow everyone to use heroin.
ii. Because you allowed Jill, who was hit by a truck, to hand in her assignment late, you should allow the
entire class to hand in their assignments late.
Proof: Identify the generalization in question and show how the special case was an exception to the
generalization.
References: Copi and Cohen: 100
STEPHEN DOWNES.
STEPHEN'S GUIDE TO THE LOGICAL FALLACIES.
BRANDON, MANITOBA, CANADA, 1995-2001.
(Kesalahan Berpikir Karena Melanggar Hukum Silogisme)

A. Non Sequitur

1. Affirming the Consequent: any argument of the form: If A then B, B, therefore A


2. Denying the Antecedent: any argument of the form: If A then B, Not A, thus Not B
3. Inconsistency: asserting that contrary or contradictory statements are both true

B. Syllogistic Errors

1. Fallacy of Four Terms: a syllogism has four terms


2. Undistributed Middle: two separate categories are said to be connected because they share a common
property
3. Illicit Major: the predicate of the conclusion talks about all of something, but the premises only mention
some cases of the term in the predicate
4. Illicit Minor: the subject of the conclusion talks about all of something, but the premises only mention
some cases of the term in the subject
5. Fallacy of Exclusive Premises: a syllogism has two negative premises
6. Fallacy of Drawing an Affirmative Conclusion From a Negative Premise: as the name implies
7. Existential Fallacy: a particular conclusion is drawn from universal premises

__________________________________________________
NON-SEQUITUR
The term non sequitur literally means "it does not follow". In this section we describe fallacies which
occur as a consequence of invalid arguments. The following fallacies are non sequiturs:
1. Affirming the Consequent
2. Denying the Antecedent
3. Inconsistency

1. AFFIRMING THE CONSEQUENT

Definition: Any argument of the following form is invalid:


If A then B
B Therefore, A
Examples:
i. If I am in Calgary, then I am in Alberta. I am in Alberta, thus, I am in Calgary. (Of course, even though the
premises are true, I might be in Edmonton, Alberta.)
ii. If the mill were polluting the river then we would see an increase in fish deaths. And fish deaths have
increased. Thus, the mill is polluting the river.
Proof: Show that even though the premises are true, the conclusion could be false. In general, show that B might
be a consequence of something other than A. For example, the fish deaths might be caused by pesticide run-
off, and not the mill.
References: Barker: 69, Cedarblom and Paulsen: 24, Copi and Cohen: 241

1
2. DENYING THE ANTECEDENT

Definition: Any argument of the following form is invalid:


If A then B
Not A Therefore, Not B
Examples:
i. if you get hit by a car when you are six then you will die young. But you were not hit by a car when you
were six. Thus you will not die young. (Of course, you could be hit by a train at age seven, in which case you
still die young.)
ii. If I am in Calgary then I am in Alberta. I am not in Calgary, thus, I am not in Alberta.
Proof: Show that even though the premises are true, the conclusion may be false. In particular, show that the
consequence B may occur even though A does not occur.
References: Barker: 69, Cedarblom and Paulsen: 26, Copi and Cohen: 241

3. INCONSISTENCY

Definition: The author asserts more than one proposition such that the propositions cannot all be true. In such a
case, the propositions may be contradictories or they may be contraries.
Examples:
i. Montreal is about 200 km from Ottawa, while Toronto is 400 km from Ottawa. Toronto is closer to Ottawa
than Montreal.
ii. John is taller than Jake, and Jake is taller than Fred, while Fred is taller than John.
Proof: Assume that one of the statements is true, and then use it as a premise to show that one of the other
statements is false.
References: Barker: 157

_________________________________________________
SYLLOGISTIC FALLACIES
The fallacies in this section are all cases of invalid categorical syllogisms. Readers not familiar with categorical
syllogisms should consult Stephen's Guide to Categorical Syllogisms.
The following are syllogistic fallacies:
1. Fallacy of Four Terms: a syllogism has four terms
2. Undistributed Middle: two separate categories are said to be connected because they share a common
property
3. Illicit Major: the predicate of the conclusion talks about all of something, but the premises only mention
some cases of the term in the predicate
4. Illicit Minor: the subject of the conclusion talks about all of something, but the premises only mention
some cases of the term in the subject
5. Fallacy of Exclusive Premises: a syllogism has two negative premises
6. Fallacy of Drawing an Affirmative Conclusion From a Negative Premise: as the name implies
7. Existential Fallacy: a particular conclusion is drawn from universal premises

1. FALLACY OF THE FOUR TERMS


(QUATERNIO TERMINORUM)

Definition: A standard form categorical syllogism contains four terms.


Examples:
i. All dogs are animals, and all cats are mammals, so all dogs are mammals.
The four terms are: dogs, animals, cats and mammals.
Note:In many cases, the fallacy of four terms is a special case of equivocation. While the same word is used, the
word has different meanings, and hence the word is treated as two different terms. Consider the following
example:
ii. Only man is born free, and no women are men, therefore, no women are born free.
The four terms are: man (in the sense of 'humanity'), man (in the sense of 'male'), women and born free.
Proof: Identify the four terms and where necessary state the meaning of each term.
References: Copi and Cohen: 206

2
2. UNDISTRIBUTED MIDDLE

Definition: The middle term in the premises of a standard form categorical syllogism never refers to all of the
members of the category it describes.
Examples:
i. All Russians were revolutionists, and all anarchists were revolutionist, therefore, all anarchists were
Russians.
The middle term is 'revolutionist'. While both Russians and anarchists share the common property of being
revolutionist, they may be separate groups of revolutionists, and so we cannot conclude that anarchists are
otherwise the same as Russians in any way. Example from Copi and Cohen, 208.
ii. All trespassers are shot, and someone was shot, therefore, someone was a trespasser.
The middle term is 'shot'. While 'someone' and 'trespassers' may share the property of being shot, it doesn't
follow that the someone in question was a trespasser; he may have been the victim of a mugging.
Proof: Show how each of the two categories identified in the conclusion could be separate groups even though they
share a common property.
References: Copi and Cohen: 207

3. ILLICIT MAJOR

Definition: The predicate term of the conclusion refers to all members of that category, but the same term in the
premises refers only to some members of that category.
Examples:
i. All Texans are Americans, and no Californians are Texans, therefore, no Californians are Americans.
The predicate term in the conclusion is 'Americans'. The conclusion refers to all Americans (every American is
not a Californian, according to the conclusion). But the premises refer only to some Americans (those that
are Texans).
Proof: Show that there may be other members of the predicate category not mentioned in the premises which are
contrary to the conclusion. For example, from (i) above, one might argue, "While it's true that all Texans are
Americans, it is also true that Ronald Regan is American, but Ronald Regan is Californian, so it is not true that
No Californians are Americans."
References: Copi and Cohen: 207

4. ILLICIT MINOR

Definition: The subject term of the conclusion refers to all members of that category, but the same term in the
premises refers only to some members of that category.
Examples:
i. All communists are subversives, and all communists are critics of capitalism, therefore, all critics of
capitalism are subversives.
The subject term in the conclusion is 'critics of capitalism'. The conclusion refers to all such critics. The premise
that 'all communists are critics of capitalism' refers only to some critics of capitalism; there may be other
critics who are not communists.
Proof: Show that there may be other members of the subject category not mentioned in the premises which are
contrary to the conclusion. For example, from (i) above, one might argue, "While it's true that all communists
are critics of capitalism, it is also true that Thomas Jefferson was a critic of capitalism, but Thomas Jefferson was
not a subversive, so not all critics of capitalism are subversives."
References: Copi and Cohen: 208

5. EXCLUSIVE PREMISES

Definition: A standard form categorical syllogism has two negative premises (a negative premise is any premise of
the form 'No S are P' or 'Some S is not P').
Examples:
i. No Manitobans are Americans, and no Americans are Canadians, therefore, no Manitobans are Canadians.
In fact, since Manitoba is a province of Canada, all Manitobans are Canadians.

3
Proof: Assume that the premises are true. Find an example which allows the premises to be true but which clearly
contradicts the conclusion.
References: Copi and Cohen: 209

6. DRAWING AN AFFIRMATIVE CONCLUSION FROM A NEGATIVE PREMISE

Definition: The conclusion of a standard form categorical syllogism is affirmative, but at least one of the premises is
negative.
Examples:
i. All mice are animals, and some animals are not dangerous, therefore some mice are dangerous.
ii. No honest people steal, and all honest people pay taxes, so some people who steal, pay taxes.
Proof: Assume that the premises are true. Find an example which allows the premises to be true but which clearly
contradicts the conclusion.
References: Copi and Cohen: 210

7. EXISTENTIAL FALLACY

Definition: A standard form categorical syllogism with two universal premises has a particular conclusion. The idea
is that some universal properties need not be instantiated. It may be true that 'all trespassers will be shot' even
if there are no trespassers. It may be true that 'all brakelesstrains are dangerous' even though there are no
brakelesstrains. That is the point of this fallacy.
Examples:
i. All mice are animals, and all animals are dangerous, so some mice are dangerous.
ii. No honest people steal, and all honest people pay taxes, so some honest people pay taxes.
Proof: Assume that the premises are true, but that there are no instances of the category described. For example, in
(i) above, assume there are no mice, and in (ii) above, assume there are no honest people. This shows that the
conclusion is false.
References: Copi and Cohen: 210

4
STEPHEN DOWNES.
STEPHEN'S GUIDE TO THE LOGICAL FALLACIES.
BRANDON, MANITOBA, CANADA, 1995-2001.
(Kesalahan Berpikir Karena Karena Tidak Relevan)

A. Fallacies o f Distraction
1. False Dilemma: two choices are given when in fact there are three options
2. From Ignorance: because something is not known to be true, it is assumed to be false
3. Slippery Slope: a series of increasingly unacceptable consequences is drawn
4. Complex Question: two unrelated points are conjoined as a single proposition

B. Appeals to Motives in Place of Support

1. Appeal to Force: the reader is persuaded to agree by force


2. Appeal to Pity: the reader is persuaded to agree by sympathy
3. Consequences: the reader is warned of unacceptable consequences
4. Prejudicial Language: value or moral goodness is attached to believing the author
5. Popularity: a proposition is argued to be true because it is widely held to be true

C. Changing the Subject

1. Attacking the Person:


a. the person's character is attacked
b. the person's circumstances are noted
c. the person does not practise what is preached
2. Appeal to Authority:
a. the authority is not an expert in the field
b. experts in the field disagree
c. the authority was joking, drunk, or in some other way not being serious
3. Anonymous Authority: the authority in question is not named
4. Style Over Substance: the manner in which an argument (or arguer) is presented is felt to affect the
truth of the conclusion
D. Causal Fallacies

1. Post Hoc: because one thing follows another, it is held to cause the other
2. Joint effect: one thing is held to cause another when in fact they are both the joint effects of an
underlying cause
3. Insignificant: one thing is held to cause another, and it does, but it is insignificant compared to other
causes of the effect
4. Wrong Direction: the direction between cause and effect is reversed
5. Complex Cause: the cause identified is only a part of the entire cause of the effect

E. Missing the Point

1. Begging the Question: the truth of the conclusion is assumed by the premises
2. Irrelevant Conclusion: an argument in defense of one conclusion instead proves a different conclusion
3. Straw Man: the author attacks an argument different from (and weaker than) the opposition's best
argument
_________________________________________________
FALLACIES OF DISTRACTION
Each of these fallacies is characterized by the illegitimate use of a logical operator in order to distract the
reader from the apparent falsity of a certain proposition. The following fallacies are fallacies of distraction:
1. False Dilemma (misuse of the "or" operator)
2. Argument From Ignorance (misuse of the "not" operator)
3. Slippery Slope (misuse of the "if-then" operator)
4. Complex Question (misuse of the "and" operator)

1. FALSE DILEMMA

Definition: A limited number of options (usually two) is given, while in reality there are more options. A false
dilemma is an illegitimate use of the "or" operator. Putting issues or opinions into "black or white" terms
is a common instance of this fallacy.
Examples:
i. Either you're for me or against me.
ii. America: love it or leave it.
iii. Either support Meech Lake or Quebec will separate.
iv. Every person is either wholly good or wholly evil.
Proof: Identify the options given and show (with an example) that there is an additional option.
References: Cedarblom and Paulsen: 136

2. ARGUMENT FROM IGNORANCE


(ARGUMENTUM AD IGNORANTIAM)

Definition: Arguments of this form assume that since something has not been proven false, it is therefore true.
Conversely, such an argument may assume that since something has not been proven true, it is therefore
false. (This is a special case of a false dilemma, since it assumes that all propositions must either be known
to be true or known to be false.) As Davis writes, "Lack of proof is not proof." (p. 59)
Examples:
i. Since you cannot prove that ghosts do not exist, they must exist.
ii. Since scientists cannot prove that global warming will occur, it probably won't.
iii. Fred said that he is smarter than Jill, but he didn't prove it, so it must be false.
Proof: Identify the proposition in question. Argue that it may be true even though we don't know whether it is
or isn't.
References: Copi and Cohen: 93, Davis: 59

3. SLIPPERY SLOPE

Definition: In order to show that a proposition P is unacceptable, a sequence of increasingly unacceptable


events is shown to follow from P. A slippery slope is an illegitimate use of the "if-then" operator.
Examples:
i. If we pass laws against fully-automatic weapons, then it won't be long before we pass laws on all
weapons, and then we will begin to restrict other rights, and finally we will end up living in a
communist state. Thus, we should not ban fully-automatic weapons.
ii. You should never gamble. Once you start gambling you find it hard to stop. Soon you are spending all
your money on gambling, and eventually you will turn to crime to support your earnings.
iii. If I make an exception for you then I have to make an exception for everyone.
Proof: Identify the proposition P being refuted and identify the final event in the series of events. Then show
that this final event need not occur as a consequence of P.
References: Cedarblom and Paulsen: 137
4. COMPLEX QUESTION

Definition: Two otherwise unrelated points are conjoined and treated as a single proposition. The reader is
expected to accept or reject both together, when in reality one is acceptable while the other is not. A
complex question is an illegitimate use of the "and" operator.
Examples:
i. You should support home education and the God-given right of parents to raise their children
according to their own beliefs.
ii. Do you support freedom and the right to bear arms?
iii. Have you stopped using illegal sales practises? (This asks two questions: did you use illegal practises,
and did you stop?)
Proof: Identify the two propositions illegitimately conjoined and show that believing one does not mean that
you have to believe the other.
References: Cedarblom and Paulsen: 86, Copi and Cohen: 96

______________________________________________________
APPEALS TO MOTIVE IN PLACE OF SUPPORT
The fallacies in this section have in common the practise of appealing to emotions or other
psychological factors. In this way, they do not provide reasons for belief.
The following fallacies are appeals to motive in place of support:

1. Appeal to Force
2. Appeal to Pity
3. Appeal to Consequences
4. Prejudicial Language
5. Appeal to Popularity

1. APPEAL TO FORCE
(ARGUMENTUM AD BACULUM)

Definition: The reader is told that unpleasant consequences will follow if they do not agree with the author.
Examples:
i. You had better agree that the new company policy is the best bet if you expect to keep your job.
ii. NAFTA is wrong, and if you don't vote against NAFTA then we will vote you out of office.
Proof: Identify the threat and the proposition and argue that the threat is unrelated to the truth or falsity of
the proposition.
References: Cedarblom and Paulsen: 151, Copi and Cohen: 103

2. APPEAL TO PITY
(ARGUMENTUM AD MISERCORDIAM)

Definition: The reader is told to agree to the proposition because of the pitiful state of the author.
Examples:
i. How can you say that's out? It was so close, and besides, I'm down ten games to two.
ii. We hope you'll accept our recommendations. We spent the last three months working extra time on
it.
Proof: Identify the proposition and the appeal to pity and argue that the pitiful state of the arguer has nothing
to do with the truth of the proposition.
References: Cedarblom and Paulsen: 151, Copi and Cohen: 103, Davis: 82
3. APPEAL TO CONSEQUENCES

Definition: The author points to the disagreeable consequences of holding a particular belief in order to show
that this belief is false.
Example:
i. You can't agree that evolution is true, because if it were, then we would be no better than monkeys
and apes.
ii. You must believe in God, for otherwise life would have no meaning. (Perhaps, but it is equally possible
that since life has no meaning that God does not exist.)
Proof: Identify the consequences to and argue that what we want to be the case does not affect what is in fact
the case.
References: Cedarblom and Paulsen: 100, Davis: 63

4. PREJUDICIAL LANGUAGE

Definition: Loaded or emotive terms are used to attach value or moral goodness to believing the proposition.
Examples:
i. Right thinking Canadians will agree with me that we should have another free vote on capital
punishment.
ii. A reasonable person would agree that our income statement is too low.
iii. Senator Turner claims that the new tax rate will reduce the deficit. (Here, the use of "claims" implies
that what Turner says is false.)
iv. The proposal is likely to be resisted by the bureaucrats on Parliament Hill. (Compare this to: The
proposal is likely to be rejected by officials on Parliament Hill.)
Proof: Identify the prejudicial terms used (eg. "Right thinking Canadians" or "A reasonable person"). Show that
disagreeing with the conclusion does not make a person "wr ong thinking" or "unreasonable".
References: Cedarblom and Paulsen: 153, Davis: 62

5. APPEAL TO POPULARITY
(ARGUMENTUM AD POPULUM)

Definition: A proposition is held to be true because it is widely held to be true or is held to be true by some
(usually upper crust) sector of the population. This fallacy is sometimes also called the "Appeal to
Emotion" because emotional appeals often sway the population as a whole.
Examples:
i. If you were beautiful, you could live like this, so buy Buty-EZ and become beautiful. (Here, the appeal
is to the "beautiful people".)
ii. Polls suggest that the Liberals will form a majority government, so you may as well vote for them.
iii. Everyone knows that the Earth is flat, so why do you persist in your outlandish claims?
References: Copi and Cohen: 103, Davis: 62

_______________________________________________
CHANGING THE SUBJECT
The fallacies in this section change the subject by discussing the person making the argument instead
of discussing reasons to believe or disbelieve the conclusion. While on some occasions it is useful to cite
authorities, it is almost never appropriate to discuss the person instead of the argument.
The fallacies described in this section are:

1. Attacking the Person


2. Appeal to Authority
3. Anonymous Authorities
4. Style Over Substance
1. ATTACKING THE PERSON
(ARGUMENTUM AD HOMINEM)

Definition: The person presenting an argument is attacked instead of the argument itself. This takes many
forms. For example, the person's character, nationality or religion may be attacked. Alternatively, it may
be pointed out that a person stands to gain from a favourable outcome. Or, finally, a person may be
attacked by association, or by the company he keeps.
There are three major forms of Attacking the Person:
1. ad hominem (abusive): instead of attacking an assertion, the argument attacks the person who
made the assertion.
2. ad hominem (circumstantial): instead of attacking an assertion the author points to the
relationship between the person making the assertion and the person's circumstances.
3. ad hominem (tu quoque): this form of attack on the person notes that a person does not practise
what he
preaches.
Examples:
i. You may argue that God doesn't exist, but you are just following a fad. (ad hominem abusive)
ii. We should discount what Premier Klein says about taxation because he won't be hurt by the increase.
(ad hominem circumstantial)
iii. We should disregard Share B.C.'s argument because they are being funded by the logging industry.
(ad hominem circumstantial)
iv. You say I shouldn't drink, but you haven't been sober for more than a year. (ad hominem tu quoque)
Proof: Identify the attack and show that the character or circumstances of the person has nothing to do with
the truth or falsity of the proposition being defended.
References: Barker: 166, Cedarblom and Paulsen: 155, Copi and Cohen: 97, Davis: 80

2. APPEAL TO AUTHORITY
(ARGUMENTUM AD VERECUNDIAM)

Definition: While sometimes it may be appropriate to cite an authority to support a point, often it is not. In
particular, an appeal to authority is inappropriate if:
i. the person is not qualified to have an expert opinion on the subject,
ii. experts in the field disagree on this issue.
iii. the authority was making a joke, drunk, or otherwise not being serious
A variation of the fallacious appeal to authority is hearsay. An argument from hearsay is an argument which
depends on second or third hand sources.
Examples:
i. Noted psychologist Dr. Frasier Crane recommends that you buy the EZ-Rest Hot Tub.
ii. Economist John Kenneth Galbraith argues that a tight money policy s the best cure for a recession.
(Although Galbraith is an expert, not all economists agree on this point.)
iii. We are headed for nuclear war. Last week Ronald Reagan remarked that we begin bombing Russia in
five minutes. (Of course, he said it as a joke during a microphone test.)
iv. My friend heard on the news the other day that Canada will declare war on Serbia. (This is a case of
hearsay; in fact, the reporter said that Canada would not declare war.)
v. The Ottawa Citizen reported that sales were up 5.9 percent this year. (This is hearsay; we are not n a
position to check the Citizen's sources.)
Proof:
Show that either (i) the person cited is not an authority in the field, or that (ii) there is general
disagreement among the experts in the field on this point.
References:
Cedarblom and Paulsen: 155, Copi and Cohen: 95, Davis: 69

3. ANONYMOUS AUTHORITIES

Definition: The authority in question is not named. This is a type of appeal to authority because when an
authority is not named it is impossible to confirm that the authority is an expert. However the fallacy is so
common it deserves special mention. A variation on this fallacy is the appeal to rumour. Because the
source of a rumour is typically not known, it is not possible to determine whether to believe the rumour.
Very often false and harmful rumours are deliberately started in order to discredit an opponent.
Examples:
i. A government official said today that the new gun law will be proposed tomorrow.
ii. Experts agree that the best way to prevent nuclear war is to prepare for it.
iii. It is held that there are more than two million needless operations conducted every year.
iv. Rumour has it that the Prime Minster will declare another holiday in October.
Proof: Argue that because we don't know the source of the information we have no way to evaluate the
reliability of the information.
References: Davis: 73

4. STYLE OVER SUBSTANCE

Definition: The manner in which an argument (or arguer) is presented is taken to affect the likelihood that the
conclusion is true.
Examples:
i. Nixon lost the presidential debate because of the sweat on his forehead.
ii. Trudeau knows how to move a crowd. He must be right.
iii. Why don't you take the advice of that nicely dressed young man?
Proof: While it is true that the manner in which an argument is presented will affect whether people believe
that its conclusion is true, nonetheless, the truth of the conclusion does not depend on the manner in
which the argument is presented. In order to show that this fallacy is being committed, show that the style
in this case does not affect the truth or falsity of the conclusion.
References: Davis: 61

-----------------------------------------------------------
CAUSAL FALLACIES
It is common for arguments to conclude that one thing causes another. But the relation between
cause and effect is a complex one. It is easy to make a mistake.
In general, we say that a cause C is the cause of an effect E if and only if:
i. Generally, if C occurs, then E will occur, and
ii. Generally, if C does not occur, then E will not occur ether.
We say "generally" because there are always exceptions. For example, we say that striking the match causes
the match to light, because:
i. Generally, when the match is struck, it lights (except when the match is dunked in water), and
ii. Generally, when the match is not struck, it does not light (except when it is lit with a blowtorch).
Many writers also require that a causal statement be supported with a natural law. For example, the
statement that "striking the match causes it to light" is supported by the principle that "friction produces heat,
and heat produces fire". The following are causal fallacies:
1. Post Hoc (Because one thing follows another, it is held to cause the other)
2. Joint Effect (A purpoted causeand effect are both the effects of a joint cause)
3. Insignificant (The purported cause is insignificant compared to others)
4. Wrong Direction (The direction between cause and effect is reversed)
5. Complex Cause (The cause identified is only part of the entire cause)

1. COINCIDENTAL CORRELATION
(POST HOC ERGO PROPTER HOC)

Definition: The name in Latin means "after this therefore because of this". This describes the fallacy. An author
commits the fallacy when it is assumed that because one thing follows another that the one thing was
caused by the other.
Examples:
i. Immigration to Alberta from Ontario increased. Soon after, the welfare rolls increased. Therefore, the
increased immigration caused the increased welfare rolls.
ii. I took EZ-No-Cold, and two days later, my cold disappeared.
Proof: Show that the correlation is coincidental by showing that: (i) the effect would have occurred even if the
cause did not occur, or (ii) that the effect was caused by something other than the suggested cause.
References: (Cedarblom and Paulsen: 237, Copi and Cohen: 101)

2. JOINT EFFECT

Definition: One thing is held to cause another when in fact both are the effect of a single underlying cause.
This fallacy is often understood as a special case of post hoc ergo prompter hoc.
Examples:
i. We are experiencing high unemployment which s being caused by a low consumer demand. (In fact,
both may be caused by high interest rates.)
ii. You have a fever and this is causing you to break out in spots. (In fact, both symptoms are caused by
the measles.)
Proof: Identify the two effects and show that they are caused by the same underlying cause. It is necessary to
describe the underlying cause and prove that it causes each symptom.
References (Cedarblom and Paulsen: 238)

3. GENUINE BUT INSIGNIFICANT CAUSE

Definition: The object or event identified as the cause of an effect is a genuine cause, but insignificant when
compared to the other causes of that event. Note that this fallacy does not apply when all other
contributing causes are equally insignificant. Thus, it is not a fallacy to say that you helped cause defeat
the Tory government because you voted Reform, for your vote had as much weight as any other vote, and
hence is equally a part of the cause.
Examples:
i. Smoking is causing air pollution in Edmonton. (True, but the effect of smoking is insignificant
compared to the effect of auto exhaust.)
ii. By leaving your oven on overnight you are contributing to global warming.
Proof: Identify the much more significant cause.
References: (Cedarblom and Paulsen: 238)

4. WRONG DIRECTION

Definition: The relation between cause and effect is reversed.


Examples:
i. Cancer causes smoking.
ii. The increase in AIDS was caused by more sex education. (In fact, the increase in sex education was
caused by the spread of AIDS.)
Proof: Give a causal argument showing that the relation between cause and effect has been reversed.
References: (Cedarblom and Paulsen: 238)

5. COMPLEX CAUSE

Definition: The effect is caused by a number of objects or events, of which the cause identified is only a part. A
variation of this is the feedback loop where the effect is itself a part of the cause.
Examples:
i. The accident was caused by the poor location of the bush. (True, but it wouldn't have occurred had
the driver not been drunk and the pedestrian not been jaywalking.)
ii. The Challenger explosion was caused by the cold weather. (True, however, it would not have occurred
had the O-rings been properly constructed.)
iii. People are in fear because of increased crime. (True, but this has lead people to break the law as a
consequence of their fear, which increases crime even more.)
Proof: Show that all of the causes, and not just the one mentioned, are required to produce the effect.
References: Cedarblom and Paulsen: 238
______________________________________
MISSING THE POINT
These fallacies have in common a general failure to prove that the conclusion is true.
The following fallacies are cases of missing the point:
1. Begging the Question (The truth of the conclusion is assumed by the premises)
2. Irrelevant Conclusion (An argument in defense of one conclusion proves another)
3. Straw Man (The arguer attacks a weak version of an opponent's argument)

1. BEGGING THE QUESTION


(PETITIO PRINCIPII)

Definition: The truth of the conclusion is assumed by the premises. Often, the conclusion is simply restated in
the premises in a slightly different form. In more difficult cases, the premise is a consequence of the
conclusion.
Examples:
i. Since I'm not lying, it follows that I'm telling the truth.
ii. We know that God exists, since the Bible says God exists. What the Bible says must be true, since God
wrote it and God never lies. (Here, we must agree that God exists in order to believe that God wrote
the Bible.)
Proof: Show that in order to believe that the premises are true we must already agree that the conclusion is
true.
References: Barker: 159, Cedarblom and Paulsen: 144, Copi and Cohen: 102, Davis: 33

2. IRRELEVANT CONCLUSION
(IGNORATIO ELENCHI )

Definition: An argument which purports to prove one thing instead proves a different conclusion.
Examples:
i. You should support the new housing bill. We can't continue to see people living in the streets; we
must have cheaper housing. (We may agree that housing s important even though we disagree with
the housing bill.)
ii. I say we should support affirmative action. White males have run the country for 500 years. They
run most of government and industry today. You can't deny that this sort of discrimination is
intolerable. (The author has proven that there is discrimination, but not that affirmative action will
end that discrimination.)
Proof: Show that the conclusion proved by the author is not the conclusion that the author set out to prove.
References: Copi and Cohen: 105

3. STRAW MAN

Definition: The author attacks an argument which is different from, and usually weaker than, the opposition's
best argument.
Examples:
i. People who opposed the Charlottetown Accord probably just wanted Quebec to separate. But we
want Quebec to stay in Canada.
ii. We should have conscription. People don't want to enter the military because they find it an
inconvenience. But they should realize that there are more important things than convenience.
Proof: Show that the opposition's argument has been misrepresented by showing that the opposition has a
stronger argument. Describe the stronger argument.
References: Cedarblom and Paulsen: 138
REFERENSI:

1. B. Arief Sidharta, Pengantar Logika : Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah, Refika
Aditama, Bandung, 2012.
2. I Dewa Gede Atmadja, Sudarsono, Suko Wiyono, Filsafat Ilmu : Dari Pohon Pengetahuan Sampai
Karakter Keilmuan Ilmu Hukum, Madani, Malang, 2014.
3. Khalimi, Logika: Teori dan Aplikasinya, GP Press, Jakarta Selatan, 2011.
4. Mundiri, Logika, Rajawali Press, Jakarta, 2014.
5. W. Poespoprodjo, EK. T. Gilarso, Logika Ilmu Menalar: Dasar-Dasar Berpikir Tertib, Logis, Kritis,
Analitis, Dialektis, Pustaka Grafika, Bandung, 1999.
6. Stephen Downes. Stephen's Guide to the Logical Fallacies. Brandon, Manitoba, Canada, 1995-
2010. http://www.fallacies.ca.
7. A. Basiq Djalil, Logika : Ilmu Mantiq, Kencana, Jakarta, 2014.
8. E. Sumaryono, Dasar-Dasar Logika, Kanisius, Yogyakarta, 1999.
9. Hans Kelsen, B. Arief Sidharta (Penj.), Hukum dan Logika (Essay in Legal and Moral Philosophy),
Alumni, Bandung, 2006.
10. JJ.H. Bruggink, B. Arief Sidharta (Penj.), Refleksi tentang Hukum: Pengertian-Pengertian Dasar
dalam Teori Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2011.
11. W. Poepoprodjo, Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu, Pustaka Grafika, 1999,
Bandung.

View publication stats