Anda di halaman 1dari 32

CHAPTERMa

Tugas Kelompok Mata Kuliah Penerapan Teori Ekonomi di Bidang


Manajemen

PRICING AND RELATED


DECISIONS

Lusiana Pratiwi
Widiananda P.

Magister Manajemen
Program Pasca Sarjana
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
2019
1|Page
PENETAPAN HARGA dan KEPUTUSAN
TERKAIT

Disusun Untuk Menyelesaikan Tugas Kelompok Mata Kuliah Aplikasi Teori Ekonomi di Bidang
Manajemen Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Brawijaya

Disusun Oleh :
Lusiana Pratiwi Yusuf
Widiananda Prabowo

MAGISTER MANAJEMEN PROGRAM PASCA SARJANA


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019

2|Page
Aplikasi Teori Ekonomi di Bidang Manajemen
Chapter 5 – Penetapan Harga dan Keputusan yang Terkait
By :
Lusiana Pratiwi Yusuf
Widiananda Prabowo
1. Overview
Harga merupakan komponen penting atas suatu produk, karena akan berpengaruh terhadap
keuntungan produsen. Harga juga menjadi pertimbangan konsumen untuk membeli, sehingga
perlu pertimbangan khusus untuk menentukan harga tersebut. Pada pembahasan kali ini akan
dibahas tentang pengertian harga, dasar penetapan harga serta tujuan penetapan harga.
 Pengertian Harga
Pengertian harga sangat beragam menurut para ahli. Menurut Tjiptono (2002), Harga
merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang,
ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa. Harga
merupakan komponen yang berpengaruh langsung terhadap laba perusahaan. Kemudian
menurut Harini (2008: 55) “Harga adalah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang
dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.”
Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa harga adalah satuan moneter
yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan dan mendapatkan sejumlah kombinasi dari
produk dan pelayanannya.
 Dasar Penetapan Harga
Menurut Machfoedz (2005: 136) “penetapan harga dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik
faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal meliputi tujuan pemasaran perusahaan,
strategi bauran pemasaran, biaya, dan metode penetapan harga.” Faktor eksternal meliputi sifat
pasar dan permintaan, persaingan, dan elemen lingkungan yang lain.

 Tujuan Penetapan Harga


Penjual barang dalam menetapkan harga dapat mempunyai tujuan yang berbeda satu sama
lain antar penjual maupun antar barang yang satu dengan yang lain. Tujuan penetapan harga
menurut Harini (2008: 55) adalah sebagai berikut:
 Penetapan harga untuk mencapai penghasilan atas investasi. Biasanya besar keuntungan dari
suatu investasi telah ditetapkan prosentasenya dan untuk mencapainya diperlukan penetapan
harga tertentu dari barang yang dihasilkannya.
 Penetapan harga untuk kestabilan harga. Hal ini biasanya dilakukan untuk perusahaan yang
kebetulan memegang kendali atas harga. Usaha pengendalian harga diarahkan terutama untuk
mencegah terjadinya perang harga, khususnya bila menghadapi permintaan yang sedang
menurun.
 Penetapan harga untuk mempertahankan atau meningkatkan bagiannya dalam pasar. Apabila
perusahaan mendapatkan bagian pasar dengan luas tertentu, maka ia harus berusaha
mempertahankannya atau justru mengembangkannya. Untuk itu kebijaksanaan dalam penetapan

3|Page
harga jangan sampai merugikan usaha mempertahankan atau mengembangkan bagian pasar
tersebut.
 Penetapan harga untuk menghadapi atau mencegah persaingan. Apabila perusahaan baru
mencoba-coba memasuki pasar dengan tujuan mengetahui pada harga berapa ia akan
menetapkan penjualan. Ini berarti bahwa ia belum memiliki tujuan dalam menetapkan harga
coba-coba tersebut.
 Penetapan harga untuk memaksimir laba. Tujuan ini biasanya menjadi anutan setiap usaha bisnis.
Kelihatannya usaha mencari untung mempunyai konotasi yang kurang enak seolah-olah menindas
konsumen. Padahal sesungguhnya hal yang wajar saja. Setiap usaha untuk bertahan hidup
memerlukan laba. Memang secara teoritis harga bisa berkembang tanpa batas.

Menurut Machfoedz (2005: 139) “Tujuan penetapan harga meliputi (1). Orientasi laba:
mencapai target baru, dan meningkatkan laba; (2) Orientasi penjualan: meningkatkan volume
penjualan, dan mempertahankan atau mengembangkan pangsa pasar”. Kemudian menurut
Tjiptono (2002) tujuan penetapan harga adalah :
 Berorientasi laba yaitu bahwa setiap perusahaan selalu memilih harga yang dapat menghasilkan
laba yang paling tinggi.
 Berorientasi pada volume yaitu penetapan harga berorientasi pada volume tertentu.
 Berorientasi pada citra (image) yaitu bahwa image perusahaan dapat dibentuk melalui harga.
 Stabilisasi harga yaitu penetapan harga yang bertujuan untuk mempertahankan hubungan yang
stabil antara harga perusahaan dengan harga pemimpin pasar (market leader).
 Tujuan lainnya yaitu menetapkan harga dengan tujuan mencegah masuknya pesaing,
mempertahankan loyalitas konsumen, mendukung penjualan ulang atau menghindari campur
tangan pemerintah.

 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penetapan Harga


a) Daur Hidup Produk
Setiap produk baru yang diluncurkan ke pasar akan melewati suatu daur hidup produk dengan
berbagai persoalan dan peluang yang berubah-ubah. Riwayat suatu penjualan dari kebanyakan
produk mencakup empat tahap :
 Tahap Perkenalan
Pada tahap ini produk baru lahir dan belum ada target konsumen yang tahu sehingga dibutuhkan
pengenalan produk dengan berbagai cara kepada target pasar dengan berbagai cara.
 Tahap Pertumbuhan (growth)
Ketika berada pada tahap tumbuh, konsumen mulai mengenal produk yang perusahaan buat
dengan jumlah penjualan dan laba yang meningkat pesat dibarengi dengan promosi yang kuat.
Akan semakin banyak penjual dan distributor yang turut terlibat untuk ikut mengambil
keuntungan dari besarnya animo permintaan pasar.
 Tahap Kedewasaan (maturity)
Di tahap dewasa produk perusahaan mengalami titik jenuh dengan ditandai dengan tidak
bertambahnya konsumen yang ada sehingga angka penjualan tetap di titik tertentu dan jumlah
keuntungan yang menurun serta penjualan cenderung akan turun jika tidak dibarengi dengan
melakukan strategi untuk menarik perhatian konsumen dan para pedagang. Karena sudah banyak
pesaing, para pedagang mulai meninggalkan persaingan dan yang baru tidak akan banyak terlibat
karena jumlah konsumen yang tetap dan cenderung turun.
 Tahap Kemunduran (decline)
Pada kondisi decline produk perusahaan mulai ditinggalkan konsumen untuk beralih ke produk
lain sehingga jumlah penjualan dan keuntungan yang diperoleh produsen dan pedagang akan
menurun drastis atau perlahan tapi pasti dan akhirnya mati.

4|Page
Gambar Tahapan Daur Hidup Produk

Konsep daur hidup bisa dimanfaatkan oleh manajer agar bisa memahami dinamika produk dan
pasar. Manfaat sesungguhnya bisa beragam tergantung dari situasi pengambilan keputusan.
Sebagai alat perencanaan, konsep daur hidup produk bisa membantu memperjelas tantangan-
tantangan pemasaran pada setiap tahap dan alternative strategi apa saja yang bisa digunakan
perusahaan. Sebagai alat pengendalian, konsep ini membantu perusahaan dalam
membandingkan prestasi dengan produksi sejenis dimasa lalu.
b) Penawaran dan permintaan
Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli oleh pembeli pada tingkat harga tertentu. Pada
umumnya tingkat harga yang lebih rendah akan mengakibatkan jumlah yang diminta lebih besar.
Hubungan antara harga dengan permintaan dapat digambarkan dalam bentuk kurve,
disebut kurva permintaan. Penawaran merupakan kebalikan dari permintaan, yaitu suatu jumlah
yang ditawarkan oleh penjual pada suatu tingkat harga tertentu. Pada umumnya harga yang lebih
tinggi mendorong jumlah yang ditawarkan lebih besar. Hubungan antara harga dengan jumlah
yang ditawarkan dapat digambarkan dalam bentuk kurve, disebut kurva penawaran. Menurut
teori ekonomi, harga akan ditentukan pada suatu titik pertemuan antara kurve permintaan dan
kurve penawaran. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar Kurva Pemintaan dan Penawaran


c) Elastisitas Permintaan
Faktor lain yang dapt mempengaruhi penentuan harga adalah sifat permintaan pasar. Sebenarnya
sifat permintaan pasar ini tidak hanya mempengaruhi penentuan harganya tetapi mempengaruhi
volume yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume penjualan ini

5|Page
berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga maka penjualan akan menurun dan
sebaliknya.
 Inelastis
Jika permintaan itu bersifat inelastic, maka perubahan harga akan mengakibatkan perubahan
yang lebih kecil pada volume penjualannya.
 Elastis
Apabila permintaan itu bersifat elastic, maka perubahan harga akan menyebabkan perubahan
volume penjualan dalam perbandingan yang lebih besar.
 Unitary elasticity
Apabila permintaan itu bersifat unitary elasticity, maka perubahan harga akan menyebabkan
perubahan jumlah yang dijual dalam proporsi yang sama. Dengan kata lain, penurunan harga 10%
akan mengakibatkan naiknya volume penjualan sebesar 10% pula.
d) Persaingan Pasar
Harga jual beberapa macam barang sering dipengaruhi keadaan persaiangan yang ada. Barang-
barang dari hasil pertanian misalnya, dijual dalam keadaan persaingan murni (pure competition).
Banyaknya penjual dan pembeli akan mempersulit penjual perseorangan untuk menjual dengan
harga lebih tinggi kepada pembeli yang lain. Selain persaingan murni dapat pula terjadi keadaan
persaiangan yang lainnya, seperti persaingan tidak sempurna, oligopoly, dan monopoli.
e) Biaya Produksi dan Biaya Pemasaran
Biaya merupakan dasar penentuan harga, sebab suatu tingkat harga yang tidak dapat menutup
biaya akan mengakibatkan kerugian. Sebaliknya apabila suatu tingkat harga melebihi samua
biaya, baik biaya produksi, biaya operasi maupun biaya non operasi akan menghasulkan
keuntungan. Biaya Produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk dapat menghasilkan sebuah
produk dalam jumlah tertentu. Biaya Pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk
mempromosikan suatu produk, mendistribusikan,dll.
f) Tujuan perusahaan
Penetapan harga suatu barang sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Setiap
perusahaan tidak selalu mempunyai tujuan yang sama dengan perusahaan yang lainnya tujuan-
tujuan yang hendak dicapai tersebut antara lain:
· Laba maksimum
· Volume penjualan tertentu
· Penguasaan pasar
· Kembalinya modal yang tertanam dalam jangka waktu tertentu
g) Pengawasan pemerintah
Penguasa pemerintah juga merupakan faktor penting dalam penentuan harga. Pengawasan
pemerintah tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk: penentuan harga maksimum dan
minimum, diskriminaso harga, serta praktek-praktek lain yang mendorong atau mencegah usaha-
usaha kearah monopoli.

2. Diskriminasi Harga (Price Discrimination)


A. Pengertian Diskriminasi Harga
Diskriminasi harga adalah kebijaksanaan untuk memberlakukan harga jual yang berbeda-
beda untuk satu jenis barang yang sama di segmen pasar yang berbeda. Diskriminasi harga terjadi
jika produk yang sama dijual kepada konsumen yang berbeda dengan harga yang berbeda, atas
dasar alasan yang tidak berkaitan dengan biaya. Dengan melaksanakan sistem diskriminasi harga,
perusahaan monopoli memperoleh sebagian dari surplus konsumen yang sesungguhnya akan di
peroleh oleh pembeli pada keadaan-keadaan tersebut. Diskriminasi harga terjadi bila produk yang
sama dijual pada harga yang berbeda untuk pembeli yang berbeda. Biaya produksi adalah sama,
ataupun kalau terjadi perbedaan tetapi tidak sebanyak perbedaan harga. Kita akan membahas
kasus produk yang sama, dihasilkan dengan biaya produksi yang sama, dan dijual pada harga yang
berbeda. Diskriminasi harga dapat ditunjukkan dengan contoh-contoh berikut. PT Pertamina

6|Page
menetapkan harga minyak tanah lebih tinggi untuk sektor industri dari pada sektor rumah tangga.
Tarif dasar listrik per KwH ditetapkan PLN lebih rendah untuk sektor rumah tangga yang
mengkonsumsi listrik lebih sedikit dari pada sektor rumah tangga yang mengkonsumsi listrik lebih
banyak. Tarif percakapan interlokal ditetapkan PT Telkom lebih rendah pada malam hari dari pada
siang hari. Dokter ahli bedah menetapkan harga lebih tinggi untuk operasi pembedahan usus
buntu untuk pasien berpendapatan tinggi yang dirawat di kamar kelas VIP, dari pada pasien
berpendapatan rendah yang dirawat di kamar kelas III. Banyak contoh-contoh lain yang kita temui
dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utama pelaku usaha melakukan diskriminasi harga yaitu
untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dan keuntungan yang lebih tinggi tersebut
diperoleh dengan cara merebut surplus konsumen. Surplus konsumen adalah selisih harga
tertinggi yang bersedia dibayar konsumen dengan harga yang benar-benar dibayar oleh
konsumen. Diskriminasi harga / price discrimination didasari adanya kenyataan bahwa konsumen
sebenarnya bersedia untuk membayar lebih tinggi, maka perusahaan akan berusaha merebut
surplus konsumen tersebut dengan cara melakukan diskriminasi harga.
Contohnya : PLN mengenakan tarif dasar listrik yang lebih tinggi untuk para pemakai industri
dan komersial dari pada untuk para konsumen biasa/rumah tangga. Dalam segmen konsumen
rumah tangga pun tarif dasar listrik dibedakan kembali per daerah ataupun per besarnya daya.
Berikut merupakan stratifikasi (pembedaan) dalam diskriminasi harga, yaitu:
 Setiap konsumen, tanpa stratifikasi apapun, harus membayar harga yang ditetapkan oleh
produsen (contoh: jual beli berlian, atau souvenir di depot-depot turis wisata).
 Melihat jumlah (kuantitas) pembelian, atau semakin besar pembelian semakin murah harganya
(contoh: barang-barang elektronik, atau pembelian partai besar di pasar/grosir).
 Membedakan stratifikasi (kelas/kelompok) konsumen dalam penetapan harga yang berbeda-beda
(contoh: harga khusus untuk pelajar dan orang-orang tua).

B. Persyaratan Diskriminasi Harga


Adapun syarat – syarat menggunakan diskriminasi harga adalah sebagai berikut:
 Barang tidak dapat dipisahkan dari pasar satu ke pasar yang lain.
 Sifat barang dan jasa memungkinkan untuk melakukan diskriminasi harga.
 Sifat permintaan dan elastisitas permintaan di masing – masing pasar haruslah sangat berbeda.
 Kebijakan diskriminasi harga tidak memerlukan biaya yang melebihi tambahan keuntungan yang
diperoleh tersebut.
 Produsen dapat mengeksploiter beberapa sikap tidak rasional konsumen.

C. Jenis-Jenis Diskriminasi Harga


Ada 3 jenis diskriminasi harga yang sering ditemukan di pasaran, antara lain:
1. Diskriminasi Harga Tingkat I
Pada model ini, penjual memasang harga tertinggi pada pelanggan, sesuai dengan jumlah yang
sanggup mereka bayar.
2. Diskriminasi Harga Tingkat II
Dalam tipe diskriminasi harga ini, pelanggan dikenai biaya yang berbeda, tergantung pada
kuantitas tertentu. Misalnya:
 Tarif telepon semakin menurun setelah 10 menit waktu berbicara.
 Tarif listrik tergantung pada besaran daya dan konsumsi harian.
 Diskon atau poin yang diberikan oleh pengguna kartu yang memenuhi syarat tertentu.
3. Diskriminasi Harga Tingkat III (Diskriminasi Harga Kelompok)
Para pelanggan dikelompokkan berdasarkan atribut tertentu, misalnya latar belakang sosial dan
ekonomi. Tipe ini adalah yang paling umum ditemukan di masyarakat. Contohnya sebagai berikut:
 Diskon untuk murid sekolah, mahasiswa, atau karyawan.
 Harga paket wisata di peak season dan off-peak season.
 Harga spesial restoran saat jam makan siang.

7|Page
Contoh lain dari diskriminasi harga :
a) PT Pertamina menetapkan harga minyak tanah lebih tinggi untuk sektor industri dari pada sektor
rumah tangga.
b) Tarif dasar listrik per KwH ditetapkan PLN lebih rendah untuk sektor rumah tangga yang
mengkonsumsi listrik lebih sedikit dari pada sektor rumah tangga yang mengkonsumsi listrik lebih
banyak.
c) Tarif percakapan interlokal ditetapkan PT Telkom lebih rendah pada malam hari dari pada siang
hari.
d) Dokter ahli bedah menetapkan harga lebih tinggi untuk operasi pembedahan usus buntu untuk
pasien berpendapatan tinggi yang dirawat di kamar kelas VIP, dari pada pasien berpendapatan
rendah yang dirawat di kamar kelas III.

Agar kebijakan diskriminasi harga yang ditetapkan perusahaan monopolis dapat dilakukan,
diperlukan beberapa persyaratan, diantaranya adalah:
 Perusahaan monopolis merupakan satu-satunya penjual atau produsen pada industri tersebut.
Tidak ada barang subsitusi yang sempurna, sehingga pembeli tidak dapat beralih ke produsen
lain.
 Penjual harus dapat memisahkan pasar agar perbedaan elastisitas dapat dipertahankan.
 Barang tersebut tidak dapat dijual lagi pada pasar yang harganya rendah ke pasar yang harganya
lebih tinggi, atau tidak terjadi reselling. Biaya transport yang tinggi dapat mencegah pengiriman
barang dari pasar yang harganya rendah ke pasar yang harganya lebih tinggi.

D. Keuntungan Diskriminasi Harga


Dewasa ini, hampir semua pelaku bisnis memberlakukan diskriminasi harga untuk
meningkatkan penjualan dan memperbesar keuntungan mereka. Bagi produsen, inilah
keuntungan diskriminasi harga yang bisa didapatkan :
 Peningkatan Pendapatan
Diskriminasi perusahaan memiliki dua sisi yang berbeda. Bagi beberapa perusahaan, mereka
masih tetap bertahan (meski tidak mendapatkan keuntungan besar). Namun bagi beberapa
perusahan lain, diskriminasi harga bisa saja merugikan mereka. Perusahaan transportasi adalah
contoh yang bisa mendapatkan keuntungan dengan diskriminasi harga.
 Peningkatan Layanan Konsumen
Jika diskriminasi harga bisa memberikan penambahan signifikan pada pendapatan perusahaan,
mereka juga bisa meningkatkan layanan pada konsumen. Caranya dengan menggunakan hasil
dari diskriminasi harga untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
 Memberikan Keuntungan pada Konsumen
Tidak hanya bagi produsen, diskriminasi harga juga menguntungkan konsumen. Misalnya harga
spesial yang diberikan untuk lansia. Umumnya pendapatan lansia lebih rendah dari pekerja aktif,
sehingga mereka sangat terbantu dengan harga yang murah.
 Mengelola Permintaan Konsumen
Perusahaan bisa melakukan pemerataan permintaan konsumen melalui diskriminasi harga.
Misalnya dengan memberikan harga murah untuk tiket transportasi di pagi hari. Dengan
demikian, secara tidak langsung perusahaan mendorong konsumen untuk bepergian di pagi hari
agar mendapatkan harga murah. Hal ini bisa diterapkan untuk menghindari membeludaknya
permintaan konsumen di siang atau malam hari.

E. Kerugian Diskriminasi Harga


Selain keuntungan-keuntungan yang telah disebutkan di atas, diskriminasi harga juga bisa
merugikan perusahaan dan konsumen.

8|Page
 Harga Terlalu Tinggi untuk Beberapa Orang
Jika ada konsumen yang merasa diuntungkan karena harga yang lebih rendah, tentu ada juga
yang merasa dirugikan karena harus membayar lebih tinggi. Misalnya untuk konsumen yang harus
membeli tiket pesawat di jam-jam sibuk, dimana harganya jauh lebih tinggi dibandingkan jam
biasa. Hal ini bisa menyebabkan diskriminasi harga menjadi tidak efisien.
 Surplus Konsumen Menurun
Adanya diskriminasi harga membuat surplus konsumen menurun dan menyebabkan kesenjangan
yang semakin besar di masyarakat. Ini bisa terjadi jika perusahaan menerapkan diskriminasi harga
tingkat pertama.
 Ketidakadilan bagi Konsumen
Meski diskriminasi harga diterapkan berdasarkan kelompok sosial tertentu, konsumen masih bisa
merasakan ketidakadilan. Misalnya saja orang dewasa dan lansia yang harus membayar dengan
harga berbeda. Bisa jadi orang dewasa yang membayar lebih mahal adalah pengangguran,
sementara lansia yang mendapatkan harga murah sangat kaya raya.
 Biaya Administratif
Dalam penerapan diskriminasi harga, dimana konsumen dibagi ke dalam beberapa kelompok,
diperlukan biaya yang besar. Biaya administratif yang dikeluarkan perusahaan bisa berdampak
pada peningkatan harga produk.

F. Penerapan Diskriminasi Harga


Diskriminasi harga diterapkan oleh banyak industri dan perusahaan. Beberapa contoh
penerapan diskriminasi harga adalah sebagai berikut:
 Industri Transportasi
Transportasi adalah industri terbesar yang menerapkan diskriminasi harga. Semua jenis
transportasi, mulai dari darat, laut, dan udara memberlakukan harga yang berbeda-beda.
Perbedaan harga didasarkan pada berbagai hal, seperti kelas, waktu bepergian, hingga usia. Ada
pula perusahaan transportasi yang membedakan harga berdasarkan waktu pembelian tiket.
Misalnya tiket kereta api yang dijual jauh lebih murah pada 2 jam sebelum keberangkatan, untuk
rute-rute tertentu.
 Harga Retail
Produsen bisa menjual produk mereka pada satu perusahaan retail yang sama di beberapa
wilayah sekaligus. Perbedaan harga hanya didasarkan pada berapa banyak jumlah produk yang
dibeli di wilayah tersebut.
 Kupon
Pemberian kupon adalah cara produsen untuk membedakan mana konsumen mereka yang
sensitif harga dan tidak sensitif harga. Konsumen yang rela mengumpulkan kupon demi kupon
adalah mereka yang sensitif terhadap harga. Dengan demikian, produsen bisa menarik harga
lebih tinggi pada konsumen yang tidak sensitif harga, alias tidak memiliki banyak kupon diskon.
 Harga Premium
Harga premium yang diterapkan pada sebuah produk berarti produsen mengeluarkan biaya
marginal lebih besar untuk produk tersebut dibandingkan dengan produk lain. Misalnya untuk
sebuah harga kopi. Kopi “biasa” diberi harga standar, sementara kopi dengan label “premium”
dijual dengan harga berkali-kali lipat dari kopi biasa.
Model diskriminasi harga seperti ini sama seperti yang diterapkan untuk harga tiket pesawat dan
minuman beralkohol premium. Penerapan diskriminasi harga ini bisa memberikan insentif tidak
terduga bagi produsen, yaitu para konsumen yang rela membeli produk “premium” dan
membayar dengan harga yang lebih mahal.

9|Page
3. Non-Linear Pricing
Penetapan harga dengan metode Linear Pricing disini adalah penetapan harga dengan
menggunakan diskriminasi harga tingkat kedua, dimana dalam tipe diskriminasi harga ini,
pelanggan dikenai biaya yang berbeda, tergantung pada kuantitas tertentu.
Diskriminasi harga derajat 2 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang berbeda-beda
pada jumlah batch atau lot produk yang dijual. Diskriminasi harga ini dilakukan karena
perusahaan tidak memiliki informasi mengenai reservation price konsumen. Contoh: perbedaan
harga per unit pada pembelian grosir dan pembelian eceran, pembeli yang membeli mie instan 1
bungkus dan 1 kardus akan berbeda harganya. Diskriminasi harga derajat 2 juga dijelaskan
kedalam grafik yang tersaji pada gambar 2.

Gambar 2. Grafik Diskriminasi Harga Derajat 2

Pada gambar 2 diatas menjelaskan tentang diskriminasi harga derajat 2. Pada grafik tersebut
pelaku usaha menetapkan harga (P1, P2 dan P3) berdasarkan jumlah konsumsi.
Kebijakan ini dapat meningkatkan kesejahteraan konsumen karena jumlah output
bertambah dan harga jual semakin murah. Hal ini dikarenakan pelaku usaha menggunakan
sistem perbedaan harga per unit pada pembelian grosir dan pembelian eceran. Harga eceran
lebih tinggi dari pada harga per pak, sehingga konsumen lebih baik membeli barang langsung per
pak daripada membeli barang eceran.

4. Multi-Product Firms and Multi Product Pricing


 Penetapan Harga Produk Berganda
Model mikroekonomi dasar dari suatu perusahaan mengasumsikan bahwa perusahaan
memproduksi satu produk yang homogen. Hampir semua perusahaan memproduksi setidaknya
beberapa model, gaya, atau ukuran dari keluaran mereka, dan masing - masing variasi ini
dipandang sebagai produk yang terpisah untuk maksud penetapan harga. Walaupun penetapan
harga produk berganda mengharuskan analisis yang sama seperti untuk satu produk, analisis ini
diperumit dengan adanya keterkaitan permintaan dan produksi.

10 | P a g e
a) Keterkaitan Permintaan
Keterkaitan permintaan timbul karena persaingan atau sifat saling melengkapi di antara berbagai
produk perusahaan. Analisis Keterkaitan Permintaan Keterkaitan permintaan mempengaruhi
keputusan harga melalui pengaruh mereka terhadap pendapatan marginal.
b) Keterkaitan Produksi
Sama seperti produk - produk perusahaan yang dapat berkaitan melalui fungsi permintaan,
produk - produk itu juga dapat berkaitan dalam produksi. beberapa produk dapat diproduksi
bersama - sama dalam rasio yang tetap atau dalam proporsi yang dapat divariasikan.

 Produk Gabungan Yang Diproduksi Dalam Proporsi Tetap


Kasus paling sederhana dari produksi bersama adalah produk - produk yang dihasilkan dalam
proporsi tetap. Dalam situasi ini, adalah tidak masuk akal untuk mencoba memisahkan produk -
produk tersebut dari sudut pandang produksi atau biaya. Yaitu produk - produk yang harus
dihasilkan dalam proporsi tetap dan tidak memungkinkan penyesuaian terhadap terhadap rasio
keluaran produk.

 Penetapan Harga dalam Pasar yang Mapan


Tingkat harga umum yang terjadi di pasar yang mapan adalah tingkat harga yang memenuhi
tujuan harga tertinggi atau tujuan perusahaan - perusahaan tersebut secara umum. Penetapan
harga dalam pasar yang mapan dapat dilakukan dengan cara :
a) Price Positioning
Jumlah maksimum yang akan dibayar oleh pembeli untuk suatu produk dikenal sebagai harga
reservasi pembeli tersebut. Penelitian pasar yang dilakukan dengan cermat akan bermanfaat bagi
perusahaan dalam menunjukkan harga - harga reservasi untuk produk tertentu dan untuk setiap
ciri yang tercakup atau tidak dalam produk tersebut.
b) Strategi Harga Product Line
Pendekatan ini memilih markup berdasarkan estimasi elastisitas harga permintaan yang secara
implisit mengasumsikan bahwa permintaan akan setiap item pada lini produk tidak tergantung
permintaan setiap item lain dalam lini produk itu.
c) Penentuan Harga Untuk Menduga Kualitas
Penentuan harga sebuah produk yang lebih tinggi akan meyakinkan konsumen bahwa item itu
berkualitas lebih tinggi dan menyebabkan penjualan serta laba lebih besar dibanding apabila
produk itu dijual dengan harga lebih rendah.
d) Penentuan Harga Produk Dalam Satu Paket
Pembundelan produk adalah praktik penjualan satu atau lebih produk secara bersama - sama
sebagai satu paket dengan harga tunggal. Penjualan secara paket akan meningkatkan laba yang
ditempuh dengan cara menaikkan harga setiap produk apabila dijual terpisah dan menawarkan
bundelan sebagai suatu paket dengan satu harga yang lebih rendah dari harga jual masing -
masing komponen dalam bundelan tersebut.

Menurut Tjiptono (2001 : 174) ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu perusahaan harus
selalu meninjau kembali strategi penetapan harga produk - produknya yang sudah ada di pasar,
diantaranya adalah :
a) Adanya perubahan dalam lingkungan pasar, misalnya pesaing besar menurunkan harga.
b) Adanya pergeseran permintaan, misalnya terjadinya perubahan selera konsumen.

5. Penentuan Harga di Sektor Pelayanan Publik (Public Sector Pricing)


Salah satu tugas pokok pemerintah adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat
(publik services). Pemberian pelayanan publik pada dasarnya dibiayai melalui 2 sumber, yaitu :
Pajak dan Pembebanan langsung kepada masyarakat sebagai konsumen jasa publik. Jika

11 | P a g e
pelayanan publik dibiayai dengan pajak, maka setiap wajib pajak harus membayar tanpa
mempedulikan apakah dia menikmati secara langsung jasa publik tersebut atau tidak. Hal
tersebut dikarenakan pajak merupakan iuran masyarakat kepada negara yang tidak memiliki jasa
timbal balik (kontraprestasi) individual yang secara langsung dapat dinikmati oleh pembayar
pajak. Jika pelayanan publik dibiayai melalui pembebanan langsung, maka yang membayar
hanyalah mereka yang memanfaatkan jasa pelayanan publik tersebut, sedangkan yang tidak
menggunakan tidak diwajibkan untuk membayar. Permasalahan yang kemudian muncul adalah
apakah suatu pelayanan publik lebih baik dibiayai melalui pajak atau dengan pembebanan
langsung kepada konsumen.
a) Pelayanan Publik Yang Dapat Dijual
Dalam memberikan memberikan pelayanan publik, pemerintahan dapat dibenarkan menarik
tarif untuk pelayanan tertentu baik secara langsung atau tidak langsung melalui perusahaan milik
pemerintah. Beberapa pelayanan publik yang dapat dibebankan tarif pelayanan misalnya:
 Penyediaan air bersih.
 Transportasi publik.
 Jasa pos dan telekomunikasi.
 Energy dan listrik.
 Perumahan rakyat.
 Fasilitas rekreasi (pariwisata).
 Pendidikan.
 Jalan tol.
 Irigasi.
 Jasa pemadaman kebakaran.
 Pelayanan kesehatan.
 Pengolahan sampah/limbah.

Pembebanan tarif pelayanan publik kepada konsumen dapat dibenarkan karena beberapa
alasan, yaitu :
 Adanya Barang Privat Dan Barang Publik
Terdapat 3 jenis barang yang menjadi kebutuhan masyarakat, yaitu :
 Barang privat
Yaitu barang-barang kebutuhan masyarakat yang manfaat barang atau jasa tersebut hanya
dinikmati secara individual oleh yang membelinya, sedangkan yang tidak mengkonsumsi tidak
dapat menikmati barang/jasa tersebut. (contoh : makanan, listrik dan telepon).
 Barang publik
Yaitu barang-barang kebutuhan masyarakat yang manfaatnya dinikmati oleh seluruh masyarakat
secara bersama-sama (contoh : pertahanan nasional, pengendalian penyakit, jasa polisi).
 Campuran antara barang privat dan publik
Terdapat beberapa barang dan jasa yang merupakan campuran antara barang privat dan barang
publik. Karena, meskipun dikonsumsi secara individual seringkali masyarakat secara umum juga
membutuhkan barang dan jasa tersebut (contoh : pendidikan, pelayanan kesehatan, transportasi
publik, dan air bersih). Barang –barang tersebut sering disebut dengan merit good karena semua
orang membutuhkannya akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan barang dan jasa
tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan barang tersebut pemerintah dapat menyediakannya
secara langsung (direct publik privision), memberikan subsidi, atau mengontrakkan ke pihak
swasta. Sebagai contoh pendidikan, meskipun pemerintah bertanggungjawab untuk menyediakan
pendidikan, namun bukan berarti barang tersebut sebagai pure publik good yang harus dibiayai

12 | P a g e
semuanya dengan pajak dan dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Dapat saja sektor swasta
terlibat dalam penyediaan pelayanan pendidikan tersebut.

Pada tataran praktek, terdapat kesulitan membedakan barang publik dan barang barang
privat. Beberapa sebab kesulitan membedakan barang publik dengan barang privat tersebut
antara lain :
 Batasan antara barang publik dan barang privat sulit untuk ditentukan.
 Terdapat barang dan jasa yang merupakan barang/jasa publik, tapi dalam penggunaannya tidak
dapat dihindari keterlibatan beberapa elemen pembebanan langsung. Contohnya adalah biaya
pelayanan medis, tariff obat-obatan, dan air. Pembebanan terhadap pemanfaatan barang
tersebut memaksa orang untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi sumber-sumber yang mahal
atau langka.
 Terdapat kecenderungan untuk membebankan tarif pelayanan daripada membebankan pajak
karena pembebanan tarif lebih mudah pengumpulkannya. Jika digunakan pajak, maka akan
terdapat kesulitan dalam menentukan besar pajakyang pantas dan cukup. Sedangkan jika
digunakan pembebanan tarif pelayanan, orang harus membayar untuk memperoleh jasa yang
diinginkannya, dan mungkin bersedia untuk membayar lebih tinggi dibandingkan dengan tarif
pajak. Terdapat argument yang menyatakan bahwa pembebanan pada dasarnya demokratis
karena orang dapat memilih barang apa yang ingin mereka bayar dan apa yang tidak mereka
inginkan, sehingga pola pengeluaran publik dapat diarahkan menurut pilihan mereka.

Biasanya terdapat anggapan bahwa dalam suatu sistem ekonomi campuran (mixed
economy), barang privat lebih baik disediakan oleh pihak swasta (privat market) dan barang
publik lebih baik diberikan secara kolektif oleh pemerintah yang dibiayai melalui pajak. Namun
demikian, tidak menutup kemungkinan pemerintah menyerahkan penyediaan barang publik
kepada sektor swasta melalui regulasi, subsidi, atau sistem kontrak.
Jika manfaat dirasakan secara perorangan, seperti listrik,telepon, dan air bersih, maka untuk
memperoleh barang-barang tersebut masyarakat biasanya dibebani dengan tarif untuk
penyediaan kebutuhan tersebut. Jika manfaat dirasakan secara umum, karena spillover effects
(eksternalitas positif), yang tidak bisa dihilangkan dan pasti ada seperti pertahanan dan
pengendalian kesehatan, maka pendanaan untuk hal-hal tersebut lebih tepat didanai lewat pajak.
Dalam hal penyediaan pelayanan publik, yang perlu diperhatikan adalah :
 Identifikasi barang/jasa yang menjadi kebutuhan masyarakat (apakah barang publik atau privat)
 Siapa yang lebih berkompeten (lebih efisien) untuk menyediakan kebutuhan publik tersebut
(pemerintah atau swasta)
 Dapatkah penyediaan pelayanan publik tertentu diserahkan kepada sektor swasta dan sektor
ketiga
 Pelayanan publik apa saja yang tidak harus dilakukan oleh pemerintah namun dapat ditangani
oleh swasta.

13 | P a g e
Pola hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Pelayanan Publik Yang Dibebani Tarif Pelayanan Langsung


Penyediaan Air Bersih Pendidikan
Transportasi Publik Irigasi
Jasa Pos & Telekomunikasi Pemadam Kebakaran
Energi & Listrik Kesehatan
Perumahan Pengelolaan Limbah/Sampah
Rekreasi/Wisata Jalan Tol

b) Efisiensi Ekonomi
Ketika setiap individu bebas menentukan banyaknya barang dan jasa yang mereka ingin
konsumsi , mekanisme harga memiliki perang penting dalam mengalokasikan sumber daya
melalui:
 Pendistribusian permintaan, pihak yang mendapatkan manfaat paling banyak harus membayar
lebih banyak pula.
 Pemberian insentif untuk menghindari pemborosan.
 Pemberian insentif pada suplier berkaitan dengan skala produksi.
 Penyediaan sumber daya pada supplier untuk mempertahankan dan meningkatkan persediaan
jasa (supply of service).

- Untuk publik goods, pemerintah lebih baik menetapkan harga di bawah harga normalnya (full
price) atau bahkan tanpa dipungut biaya.
- Mekanisme pembebanan tarif pelayanan merupakan satu cara menciptakan keadilan dalam
distribusi pelayanan publik.

c) Prinsip Keuntungan
Ketika pelayanan tidak dinikmati oleh semua orang, pembebanan langsung kepada
masyarakat yang menerima jasa tersebut dianggap “wajar” bila didasarkan prinsip bahwa yang
tidak menikmati manfaat tidak perlu membayar. Jadi pembebanan hanya dikenakan kepada
masyarakat atau mereka yang diuntungkan kepada pelayanan tersebut. Pemerintah tidak boleh
melakukan maksimisasi keuntungan bahkan lebih baik menetapkan harga di bawah full price,
subsidi, bahkan tanpa dipungut biaya. Fee adalah biaya atas perijinan atau lisensi yang diberikan
pemerintah.

14 | P a g e
Biaya perijinan/lisensi relatif kecil, umumnya berupa biaya administrasi & pengaawasan, yang
didasarkan pada:
o Kategori perijinan yang dilakukan.
o Ada tidaknya keuntungan yg diperoleh pemegang ijin/lisensi atas ijin/lisensi yang dimiliki.

d) Argumen Terhadap Tarif Pembebanan Pelayanan


Dalam praktik, pembebanan langsung (direct charging) biasanya ditentukan karena alasan-
alasan sebagai berikut :
 Suatu jasa, baik merupakan barang publik maupun barang privat, mungkin tidak dapat diberikan
kepada setiap orang, sehingga tidak adil bila biayanya dibebankan kepada semua masyarakat
melalui pajak, sementara mereka tidak menikmati jasa tersebut.
 Suatu pelayanan mungkin membutuhkan sumber daya yang mahal atau langka sehingga
konsumsi publik harus didisiplinkan (hemat), misalnya pembebanan terhadap penggunaan air dan
obat-obatan medis.
 Terdapat variasi dalam konsumsi individual yang lebih berhubungan dengan pilihan daripada
kebutuhan, misalnya penggunaan fasilitas rekreasi.
 Suatu jasa mungkin digunakan untuk operasi komersial yang menguntukan dan untuk memenuhi
kebutuhan domestic secara individual maupun industrial, misalnya air, listrik, jasa pos dan
telepon.
 Pembebanan dapat digunakan untuk mengetahui arah dan skala permintaan publik atas suatu
jasa apabila jenis dan standar pelayanannya tidak dapat ditentukan secara tegas.

Terlepas dari kasus yang merupakan barang publiK murni, terdapat argument yang menentang
pembebanan tarif pelayanan, yaitu :
 Terdapat kesulitan administrasi dalam menghitung biaya pelayanan
 Yang miskin tidak mampu untuk membayar

 Terdapat Kesulitan Administrasi Dalam Menghitung Biaya Pelayanan


Penetapan tarif pelayanan mensyaratkan adanya sistem pencatatan dan pengukuran yang handal
(seperti:tarif jalan tol, meteran untuk air). Hal tersebut dapat meningkatkan biaya penyediaan
pelayanan. Akan tetapi keterukuran membuat penafsiran tarif pelayanan lebih mudah
dibandingkan dengan perhitungan pajak (seperti: menghitung besarnya biaya untuk air dan listrik
lebih mudah dibandingakan dengan menghitung pajak penghasilan).
 Yang Miskin Tidak Mampu Untuk Membayar
Kesenjangan ekonomi dan pendapatan yang lebar menyebabkan orang miskin tidak mampu
membayar pelayanan dasar yang mestinya mereka dapatkan, seperti pendidikan, kesehatan, air
bersih, transportasi umum dan bahkan makanan sehat. Namun, yang menjadi masalah adalah
dapatkah kita membuat daftar kebutuhan dasar secara objektif. Yang penting bagi seseorang
belum tentu penting bagi orang lain, sehingga skala prioritas dan pilihan individu berbeda-beda.
Pilihan yang berbeda-beda tesebut membutuhkan perlakuan yang berbeda-beda pula, sehingga
pembebanan tarif pelayanan dipandang sesuai dengan pilihan kebutuhan seseorang. Pelayanan
publik dapat juga diberikan secara gratis oleh pemerintah, akan tetapi penyediaan gratis tersebut
akan mempengaruhi pilihan individu. Pemberian beras gratis mungkin tidak pas untuk orang
tertentu karena mungkin ia lebih suka diberi uang untuk membeli pakaian. Keputusan untuk
membebankan biaya pelayanan kepada pelanggan harus dikompensasi dengan pemberian subsidi
atau pemberiian pelayanan gratis. Penyediaan pelayanan gratis atau subsidi mungkin sia-sia dan
kurang efektif. Apakah subsidi menjamin dinikmati bagi yang miskin? Mungkin saja subsidi
menguntungkan yang kaya jika dikorupsi oleh birokrasi. Atau justru yang miskin mensubsidi yang

15 | P a g e
kaya. Bila kita peduli pada golongan miskin, pendekatan terbaik adalah melalui distribusi
pendapatan (lumpsum transfer), tetapi hal ini sulit dilakukan di Negara berkembang.
 Adanya Eksternalitas, Merit Good, Dan Persyaratan Legal.
Eksternalitas positif (spilover effects) misalnya tarif pelayanan yang terlalu tinggi membuat
masyarakat tidak terdorong untuk menggunakannya. Demikian juga barang yang dianggap
sebagai merid good mungkin lebih baik diberikan secara gratis atau tanpa beban biaya, seperti
pendididkan. Selain itu terdapat peraturan perundang – undangan yang mensyaratkan
pemerintah untuk menyediakan pelayanan tertentu seperti pendidikan dasar 9 tahaun, sehingga
kebutuhsan barabg tersebut biasanya dianggap bebas dari beban masyarakat dan tidak perlu
ditarik tarif pelayanan. Terdapat cara alternatif untuk alokasi sumber daya selain dengan
pembebanan harga pelayanan, misalnya melalui pembagian kupon (cards) dan vouchers.
Meskipun metode kupon tersebut menjamin kaum miskin mendapat kesempatan yang sama,
akan tetapi sistem kupon tersebut tidak dapat memenuhi fungsi sistem harga dan mudah untuk
disalahgunakan.

e) Prinsip Dan Praktek Pembebanan


Prinsip dan praktek pembebanan sebagian barang dan jasa yang disediakan pemerintah lebih
sesuai dibiayai dengan pembebanan tarif. Semakin dekat suatu pelayanan terkait dengan barang
privat, semakin sesuai barang tersebut dikenai tarif. namun batasan identifikasi barang privat dan
publik kadang sulit dan harus dilakukan dengan dasar tiap pelayanan.
Dalam praktiknya, pelayanan yang gratis secara nominal seringkali sulit dijumpai. Pelayanan gratis
menyebabkan insentif rendah, sehingga terkadang kualitas pelayanan menjadi sangat
rendah. Misalnya pemberian pelayanan kesehatan gratis biasanya kualitasnya kurang
memuaskan. Kesalahan penetapan tarif pelayanan publik merupakan penyebab utama defisit
anggaran di negara berkembang (devas, 1989), pelayanan gratis mengakibatkan insentif yang
rendah sehingga kualitas menjadi sangat rendah dan tidak memuaskan.

f) Kegunaan Pembebanan Dalam Praktek


Praktik pembebanan pelayanan publik berbeda-beda tiap negara, antara hjasa yang
disediakan langsung oleh pemerintah dan yang disediakan oleh perusahaan milik negara, dan
antar pemerintah pusat dan daerah. Charging for services merupakan alah satu sumber
penerimaan bagi pemerintah daerah tertentu. Pemerintah memperoleh penerimaan dari
beberapa sumber, antara lain :
 Pajak
 Pembebanan langsung pada masyarakat (Charging for services)
 Laba BUMN/BUMD
 Penjualan aset milik pemerintah
 Hutang
 Pembiayaan defisit anggaran (Mencetak Uang)
Data biaya kadang sulit diperoleh dan sulit diperbandingkan, terutama antara jasa yang
disediakan langsung oleh pemerintah dan yang disediakan oleh perusahaan milik negara. Pada
kasusu perusahaan negara, hanya net defisit atau surplus yang muncul dalam rekening
pemerintah.
Pada umumnya kita mengharapkan bahwa penyedia barang publik seperti pertahanan,
kesehatan publik dan jasa kepolisian seharusnya diberikan secara gratis, dalam arti dibiayai dari
pajak. Sementara itu, penyediaan barang privat yaitu jasa untuk mkepentingan individu seperti
listrik, telepon, transportasi umum ditarik sebesar harga pemulihan biaya totalnya (full cost

16 | P a g e
recovery price). Untuk barang campuran (mixed/merit good), seperti pendidikan menengah,
penyembuhan kesehatan, sanitasi disediakan melalui pajak dan sebagian dari tarif.

g) Penetapan Harga Pelayanan


Jika pemerintah tidak membebankan biaya pelayanan kepada konsumennya, maka
pemerintah harus memutuskan berapa beban yang pantas dan wajar atau dengan kata lain
berapa harga pelayanan yang akan ditetapkan? Aturan yang biasa dipakai adalah bahwa beban
(Charge) dihitung sebesar total biaya untuk menyediakan pelayanan tersebut (Full cost recovery).
Akan tetapi untuk menghitung biaya total tersebut terdapat beberapa kesulitan, karena :
 Kita tidak tahu secara tepat berapa biaya total (full cost) untuk menyediakan suatu pelayanan.
Oleh karena itu, kita perlu memperhitungkan semua biaya sehingga dapat mengindentifikasi
biaya secara tepat untuk setiap jenis pelayanan. Amun tidak boleh terjadi pencampuradukan
biaya untuk pelayanan yang berbeda atau harus ada prinsip different costs for different
purposes. Biaya overhead harus dibebankan secara proporsional terhadap berbagai pelayanan.
Selain itu juga harus diidentifikasi adanya biaya-biaya tersembunyi (hidden costs) dalam
penyediaan pelayanan publik. Hidden costs juga terkait dengan biaya birokrasi ( costs of
bureaucracy).
 Sangat sulit mengukur jumlah yang dikonsumsi. Karena jumlah biaya untuk melayani sau orang
dengan orang lain berbeda-beda, maka diperlukan pembedaan pembebanan tarif pelayanan,
sebagai contoh diperlukan biaya tambahan untuk pengumpulan sampah dari lokasi rumah yang
sulit dijangkau atau memiliki jarak yang jauh. Jika hal ini dilakukan maka akan terlihat tidak adil,
meskipun untuk hal tertentu. Misalnya : bus kota, jarak jauh maupun dekat dikenai tarif sama.
Namun yang jelas, pada prinsipnya pembebanan harus merefleksikan biaya total (full cost) untuk
menyediakan pelayanan tersebut.
 Pembebanan tidak memperhitungkan kemampuan masyarakat untuk membayar. Jika orang
miskintidak mampu membayar suatu pelayanan yang sebenarnya vital, maka mereka harus
disubsidi. Mungkin perlu dibuat diskriminasi harga atau diskriminasi produk untuk menghindari
subsidi.
 Biaya apa saja yang harus diperhitungkan : apakah hanya biaya operasi langsung (currnt
operation costs), atau perlu juga diperhitungkan biaya modal (capital costs). Aturan umumnya
adalah bahwa kita harus memasukkan bukan saja biaya operasi dan pemeliharaan, akan tetapi
juga biaya penggantian barang modal yang sudah usang (kadaluwarsa), dan biaya penambahan
kapasitas. Prinsip tersebut disebut marginal costs pricing.

Ahli ekonomi umumnya menganjurkan untuk menggunakan marginal costs pricing, yaitu tarif
yang dipungut seharusnya sama dengan biaya untuk melayani konsumen tambahan (costs of
serving the marginal consumer). Harga tersebut adalah harga yang juga berlaku dalam pasar
persaingan untuk pelayanan tersebut. Marginal costs pricing mengacu pada harga pasar yang
paling efisien (economically efficient price), karena pada tingkat harga tersebut (ceteris paribus)
akan memaksimalkan manfaat ekonomi dan penggunaan sumber daya yang terbaik. Masyarakat
akan memperoleh peningkatan output dari barang atau jasa sampai titik dimana marginal
costs sama dengan harga.
Penetapan harga pelayanan publik dengan menggunakan marginal cost pricing, setidaknya harus
memperhitungkan :
 Operasi biaya variabel (variable operating cost)
 Semi variable overhead cost seperti biaya modal atas aktiva yang digunakan untuk memberikan
pelayanan.
 Biaya penggantian atas aset modal yang digunakan dalan penyediaan pelayanan.

17 | P a g e
 Biaya penambahan aset modal yang digunakan untuk memenuhi tambahan permintaan.

Akan tetapi, marginal cost pricing tidak memperhitungkan pure historic capital
cost atau pure overhead cost, yang tidak terkait sama sekali dengan penggunaan jasa. Contoh
kasus klasik dari historical cost adalah seperti jembatan penyebrangan. Marginal cost
pricing menganjurkan tidak ada biaya yang ditarik atas jasa penyebrangan karena marginal
cost yang ada nol. Memungut biaya penyebrangan sehingga menimbulkan kapasitas menganggur
atas jembatan tersebut, ini akan mengurangi total economic benefit.
Sebaliknya, marginal cost untuk menyediakan rumah tidak sama dengan nol, karena sejak
ditempati kapasitas ruang yang sudah digunakan, sehingga marginal cost-nya sama dengan biaya
untuk menyediakan rumah pengganti dan biaya pemeliharaan.
Contoh : penyediaan air, marginal cost-nya misalnya :
o Tambahan air yang dikonsumsi
o Tambahan jarak yang diambil
o Pemasangan pipa besar untuk industri

h) Permasalahan Marginal Cost Pricing


Penggunaan marginal cost pricing memiliki beberapa permasalahan, antara lain :
 Sulit untuk memperhitungkan secara tepat marginal cost untuk jasa tertentu, dalam praktik,
kadang biaya rata-rata (average cost) digunakan sebagai pengganti walau hal ini menyimpang dari
syarat ekonomis dan efisiensi. Juga terdapat masalah pengukuran dan pengumpulan data biaya
yang membuat marginal cost sulit diimplementasikan.
 Apakah harga seharusnya didasarkan pada biaya marginal jangka pendek (short run MC) atau
biaya marginal jangka panjang (long run marginal cost). Dalam kasus penyediaan air, akan timbul
suatu titik ketika marginal consumer memerlukan pabrik baru. Tidak mungkin mengharapkan
konsumen menanggung full cost sendirian.
 Marginal cost pricing bukan berarti full cost recovery. Historic capital cost tidak mungkin
dipulihkan, demikian juga full operating cost. Ketika sumber daya yang terbatas, kegagalan untuk
menutup biaya menimbulkan adanya penghematan yang dikorbankan (opportunity loss) dalam
pemakaian alternative sumber daya tersebut. Kerugian tersebut harus diukur dengan efisiensi
yang dikorbankan (efficiency loss) yang berasal dari penaikan harga di atas marginal cost.
 Konsep kewajaran digunakan untuk menunjukkan hanya mereka yang menerima manfaat yang
membayar atau semua konsumen membayar sama tanpa memandang perbedaan biaya dalam
menyediakan pelayanan tersebut.
 Ekternalitas konsumsi, seperti manfaat kesehatan umum dari air bersih untuk minum dan mandi
dapat secara signifikan merubah “efisiensi harga” yang ditentukan oleh marginal cost.
 Pertimbangan ekuitas mensyaratkan yang kaya membayar lebih, paling tidak untuk jasa seperti
air, dimana terdapat beberapa macam bentuk diskriminasi harga, (seperti tarif progesif) yang
mungkin digunakan.

i) Kompleksitas Strategi Harga


 Two-part tariffs : banyak kepentingan publik (seperti listrik) dipungut dengan two-part tariffs,
yaitu fixed charge untuk menutupi biaya overhead atau biaya infrastruktur dan variable
charge yang didasarkan atas besarnya konsumsi.
 Peak-load tariffs : pelayanan publik dipungut berdasarkan tarif tertinggi. Permasalahannya adalah
beban tertinggi, membutuhkan tambahan kapasitas yang disediakan, tarif tertinggi untuk periode
puncak yang harus menggambarkan higher marginal cost (seperti telepon dan transportasi
umum).

18 | P a g e
 Diskriminasi harga. Hal ini adalah salah satu cara untuk mengakomodasikan pertimbangan
keadilan (equity) melalui kebijakan penetapan harga. Jika kelompok dengan pendapatan berbeda
dapat diasumsikan memiliki pola permintaan yang berbeda, pelayanan yang diberikan kepada
kelompok dengan pendapatan tinggi. Hal tersebut tergantung dari kemampuan mencegah orang
kaya menggunakan pelayanan yang dimaksudkan untuk orang miskin.
 Full cost recovery. Harga pelayanan didasarkan pada biaya penuh atau biaya total untuk
menghasilkan pelayanan. Penetapan harga berdasarkan biaya penuh atas pelayanan publik perlu
mempertimbangkan keadilan (equity) dan kemampuan publik untuk membayar.
 Harga diatas marginal cost. Dalam beberapa kasus, sengaja ditetapkan harga diatas marginal cost,
seperti tarif parker mobil, adanya beberapa biaya perijinan atau licence fee.

j) Taksiran Biaya
Penentuan harga dengan teknik apapun yang digunakan pada dasarnya adalah mendasarkan
pada usaha penaksiran biaya secara akurat. Hal ini melibatkan beberapa pertimbangan sebagai
berikut :
o Opportunity cost untuk staf, perlengkapan, dll
o Opportunity cost of capital
o Accounting price untuk input ketika harga pasar tidak menunjukkan value to society (opportunity
cost)
o Pooling, ketika biaya berbeda-beda antara setiap individu
o Cadangan inflasi
Pelayanan menyebabkan unit kerja harus memiliki data biaya yang akurat agar dapat
mengestimasi marginal cost, sehingga dapat ditetapkan harga pelayanan yang tepat. Prinsip biaya
memberikan dasar yang bermanfaat untuk penentuan harga di sektor publik. Marginal cost
pricing bukan merupakan satu-satunya dasar untuk penetapan harga di sektor publik.
Digunakan MC pricing atau tidak, yang jelas harus ada kebijakan yang jelas mengenai harga
pelayanan yang mampu menunjukkan biaya secara akurat dan mampu mengidentifikasi skala
subsidi publik.

Penyediaan pelayanan publik dapat dibiayai melalui dua sumber, yaitu pajak dan
penbebanan langsung kepada masyarakat sebagai konsumen jasa publik (charging for services).
Pembebanan tarif dilakukan karena alasan efisiensi ekonomi, untuk memperoleh keuntungan
dank arena adanya barang privat dan barang publik yang perlu diatur penggunaannya secara
proporsional dan memenuhi asas keadilan. Pembebanan pelayanan publik merupakan salah satu
sumber penerimaan bagi pemerintah selain pajak, penjualan asset milik pemerintah, utang dan
laba BUMN/BUMD. Masalah utama dalam pembebanan pelayanan publik adalah menentukan
beberapa harga yang harus dibebankan. Aturan yang bias dipakai adalah beban dihitung sebesar
total biaya untuk menyediakan pelayanan tersebut. Dalam menentukan harga pelayanan publik
juga dianut konsep different cost for different purpose yaitu membedakan cost untuk pelayanan
yang berbeda. Masalah lain adalah adanya hidden cost yang menyulitkan dalam mengetahui total
cost. Kesulitan untuk menghitung biaya total adalah karena sulit mengukur jumlah yang
dikonsumsi dan perbedaan jumlah biaya untuk melayani masing-masing orang. Pembebanan
tidak memperhitungkan kemampuan mayarakat untuk membayar dan biaya apa saja yang
diperhitungkan sehingga untuk memudahkan digunakan konsep current cost operation, capital
cost, dan marginal cost (biaya penambahan kapasitas). Marginal cost pricing menganut prinsip
bahwa tarif yang dipungut seharusnya sama dengan biaya untuk melayani tambahan
konsumen. Marginal cost pricing memperhatikan biaya operasi variabel, semi variabel overhead
cost, biaya penggantian atas asset modal dan biaya penambahan asset modal yang digunakan
untuk memenuhi tambahan permintaan. Namun demikian, konsep marginal cost pricing juga

19 | P a g e
mengahadapi berbagai kendala. Oleh karena itu perlu ditemukan metoda terbaik untuk
menetapkan harga pelayanan publik.

Harga Antartemporal

Tujuan: untuk memeriksa bagaimana perusahaan dapat menyesuaikan harga dari waktu ke
waktu dalam mengejar keuntungan dan untuk menunjukkan bagaimana harga dan kapasitas pilihan
saling bergantung.

Strategi Harga-Skimming

Untuk produk monopoli yang memiliki karakteristik yang baik dan tahan lama, strategi harga-
Skimming melibatkan pengaturan harga yang awalnya tinggi dan kemudian secara sistematis
mengurangi harga ini dari waktu ke waktu. Contoh menggelapkan harga klasik adalah Biro dan
kamera tanah Polaroid, yang awalnya memasuki pasar dengan harga jauh lebih tinggi daripada nanti
dalam siklus hidup mereka.

Dugaan Coase: Konsumen Yang Canggih

Pertimbangkan pasar barang tahan lama yang dimonopoli di mana tidak ada depresiasi dan
tidak ada kemajuan teknis atau pengembangan produk. Misalkan lebih lanjut perusahaan
menghasilkan output pada marjinal konstan (sama rata). Sekarang pertimbangkan proses harga ini
dari perspektif konsumen. bahkan jika dia memiliki kemauan tinggi untuk membayar produk,
konsumen yang rasional akan memahami bahwa perusahaan monopoli pada akhirnya akan
mengurangi harga menjadi biaya marjinal. Definisi: dugaan coase adalah perusahaan monopoli
barang yang tahan lama (memasok barang yang sangat tahan lama dengan biaya marjinal konstan)
akan menjual produknya secara instan dengan biaya marjinal.

Jadi menurut dugaan Coase, yang tahan lama-barang monopoli tidak dapat mengeksploitasi
kekuatan monopolinya, tetapi harus menetapkan harga samadengan biaya marjinal, sebuah prediksi
yang akan menunjukkan bahwa, setidaknya untuk kasus baik yang tahan lama, monopoli kekuasaan
tidak menyebabkan monopoli hilangnya kesejahteraan. Pertimbangan di atas menunjukkan bahwa
setidaknya untuk kasus barang tahan lama, kekuatan monopoli tidak mengarah pada kesejahteraan
kerugian monopoli.

Harga Beban Puncak

Banyak perusahaan menghadapi permintaan yang berbeda-beda secara sistematis untuk


produk mereka: misalnya, utilitas, seperti listrik, gas, dan telekomunikasi, dan layanan transportasi,
seperti kereta api, maskapai penerbangan, bus, pelatih, dan taksi. Sejauh mana harga secara
sistematis bervariasi dari waktu ke waktu dan cenderung menguntungkan yang juga cenderung
bergantung pada :

1. Substitusi permintaan: sejauh mana konsumen dapat menggantikan permintaan pada satu
titik waktu yang lain.
2. Sejauh mana perusahaan harus memproduksi untuk permintaan hanya dalam waktu (bukan
melalui akumulasi persediaan).

Sebagai ilustrasi, perhatikan kasus listrik, di mana permintaan pada siang hari jauh lebih tinggi
daripada di malam hari.

20 | P a g e
Penetapan Harga dan Perencanaan Kapasitas.

Bagian ini mempertimbangkan masalah perencanaan kapasitas dan hubungannya dengan


penetapan harga yang optimal. Kebanyakan perusahaan harus berinvestasi dalam kapasitas sebelum
produksi dan penjualan produk. Dengan demikian pertanyaan penilaian proyek tentang berapa
banyak kapasitas untuk pemasangan tidak hanya melibatkan pertimbangan biaya pemasangan
kapasitas, tetapi juga dari keuntungan operasi bersih yang diharapkan dari produk di setiap tahun
selama umur ekonomi pabrik. Tujuan dari bagian ini bukan untuk mencoba analisis yang realistis,
tetapi untuk menunjukkan prinsip-prinsip yang terlibat dalam melakukan analisis tersebut.
Pertimbangan utama adalah apakah produk dapat disimpan, sehingga perusahaan dapat
memproduksi untuk persediaan.

Biaya Plus Dan Biaya Mark-Up.

Perbedaan kecil antara mark-up dan penetapan harga biaya penuh terletak pada kenyataan
bahwa penetapan harga biaya penuh membutuhkan biaya tambahan untuk dialokasikan di seluruh
produk yang diproduksi dan dijual perusahaan. Dalam praktiknya untuk perusahaan dengan banyak
lini produk (seperti supermarket), ada kecenderungan untuk lebih memilih markup pricing. Ini karena
biaya variabel rata-rata umumnya lebih mudah diperkirakan daripada biaya penuh, sehingga aturan
penetapan harga cenderung lebih mudah diterapkan. Masalah dengan aturan penetapan harga biaya
penuh, dari perspektif keputusan penetapan harga, adalah bahwa biaya penuh membutuhkan biaya
tambahan untuk dialokasikan ke produk.

C = total cost

F = fixed or evorhead cost

VC = variable cost

AC = Average cost

AVC = Average variable cost

M = Mark-up on AC

m = mark up on AVC

maka Mark-up dapat diterapkan dalam bentuk mark-up absolut

P = AC + M or P = AVC + m

Atau sebagai yang proporsional (atau persentase) Mark-up

P = AC (1 + M) or P = AVC (1 + m)

Dalam apa yang berikut, hanya yang proporsional atau persentase Mark-up akan
dipertimbangkan. Jelas, mengingat bahwa, untuk setiap tingkat output, AC > AVC, perusahaan akan
cenderung perlu mengadopsi Mark-up yang lebih tinggi pada AVC daripada di AC.

Perdebatan Harga yang Marginalis/Biaya Plus

Bukti empiris menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan, dalam menentukan harga
jual, menggunakan biaya ditambah harga daripada model ekonom, yaitu untuk memilih harga
sehingga pendapatan marjinal sama dengan biaya marginal.

21 | P a g e
Penilaian Kritik Kaum Marginalis Tentang Harga Biaya-Plus

Menurut kritik (naif) marginalis tentang biaya plus harga.

1) harga plus biaya (dalam semua variasinya) tidak secara eksplisit berfokus pada pendapatan
marjinal atau biaya marginal
2) Plus biasanya ditambahkan ke perkiraan biaya historis AC atau AVC
3) pengaturan pendapatan marginal sama dengan biaya marjinal adalah kondisi yang
diperlukan untuk maksimalisasi keuntungan.
4) penetapan harga biaya-plus tidak akan, kecuali sebagai kecelakaan kebetulan,
memaksimalkan laba dan karenanya lebih rendah daripada pendekatan marginalis terhadap
penetapan harga..

Kritik Anti-Marginalis

Memang, pengamatan ini menunjukkan kritik anti-marginalis (naif) marginalisme yang berjalan
sebagai berikut:

1) model marginalis mengabaikan fakta bahwa masalah harga adalah satu yang dinamis. Model
periode tunggal tidak memadai. Ini mengabaikan pesaing ' reaksi dan loyalitas merek
konsumen dan fakta bahwa perusahaan sering menjual berbagai produk yang berbeda. Oleh
karena itu model marginalis naif umumnya tidak memaksimalkan nilai sekarang dari laba
masa depan (dan karenanya nilai perusahaan).
2) dalam praktiknya, kurva permintaan jarang diketahui secara rinci. Selain itu, ada
ketidakpastian atas perkembangan permintaan di masa depan. Seperti halnya informasi
biaya marjinal mungkin tidak tersedia dan mungkin ada ketidakpastian tentang biaya
marjinal yang ada di masa depan.
3) aturan harga biaya penuh harus dilihat dalam terang kritik di atas. Hal ini sering disarankan
bahwa harga biaya-Plus tidak memerlukan informasi permintaan rinci. Memastikan
keuntungan akan dibuat, dan mempromosikan keuntungan jangka panjang.
4) Meskipun marginalisme dapat diperluas untuk memperhitungkan pertimbangan-
pertimbangan di atas, ia menjadi terlalu rumit: risiko membuat kesalahan adalah
pertimbangan praktis yang penting.

Mari Ambil Argumen Ini Pada Gilirannya.

1. Argumen bahwa marginalisme mengabaikan dinamika adalah kritik yang valid hanya dari model
marginalis periode tunggal naif.

2. Jika kurva permintaan tidak diketahui, ini dengan jelas menunjukan bahwa model marginalis tidak
operasional.

3) Argumen di sini umumnya meragukan. Seperti yang telah diusulkan, argumen bahwa biaya
ditambah harga mempromosikan keuntungan jangka panjang yang keliru; ada situasi di mana
stabilitas harga mungkin menguntungkan, tetapi sama-sama ada situasi di mana harga responsif
akan meningkatkan profitabilitas baik dalam jangka pendek dan panjang.

4) Pada diskusi di atas menghilangkan kritik yang menerapkan marginalisme di dunia nyata bukanlah
tugas yang mudah; itu jelas fakta bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam kompleksitas jika
model marginalis adalah untuk menggabungkan faktor seperti loyalitas merek dan reaksi kompetitif,

22 | P a g e
dan risiko mendapatkan sesuatu yang salah dalam analisis dapat menjadi faktor yang signifikan
secara jelas.

Menyimpulkan Komentar Tentang Perdebatan

Sering diperdebatkan bahwa penetapan harga biaya-plus hanya pernah digunakan sebagai
penilaian awal terhadap harga. Menurut pandangan ini, itu hanyalah cara mencari informasi tentang
kurva permintaan pada tingkat harga yang tidak terlalu merusak perusahaan. Banyak ekonom
merasa nyaman dengan argumen bahwa, jika perilaku yang diamati terjadi di pasar, pasti ada alasan
kuat yang mendukung bentuk perilaku itu. Namun, argumen bahwa 'perusahaan harus mendapatkan
sesuatu dengan benar jika tidak, mereka akan diusir dari pasar' hanya berlaku di pasar di mana ada
persaingan yang signifikan dan lingkungan yang stabil di mana ada beberapa inovasi dalam
pengembangan produk atau teknologi produksi. Singkatnya, perspektif marginalis mendorong
pemikiran eksplisit tentang isu-isu utama yang harus memengaruhi kebijakan harga, dan biaya
praktik terbaik plus harga (harga mark-up dengan mark-up variabel) cenderung mendekati hal ini.
Marginalisme tidak boleh ditolak karena terlalu rumit secara matematis atau konseptual.

Biaya Plus Harga: Lingkaran Dan Stabilitas

Argumen bahwa biaya ditambah harga tidak memerlukan pengetahuan tentang permintaan
atau elastisitas permintaan dapat berdua dikritik dan dipertahankan. Kritik adalah bahwa klaim
bahwa biaya ditambah harga tidak memerlukan informasi permintaan melibatkan penalaran
melingkar. Jadi jika biaya rata-rata bervariasi dengan output, Anda perlu tahu seberapa besar
kemungkinan Anda akan menghasilkan sebelum Anda dapat mengatakan berapa biaya rata-rata, AC
untuk output itu akan menjadi- dan Anda perlu tahu bagaimana AC untuk menambahkan mark-up ke
tiba harganya.

Saran Kaum Marjinalis Untuk Cost-Plus Pricers

Jelas, ada beberapa Mark-up, apa pun model Mark-up tertentu yang digunakan, yang akan Maxi-
mize laba jangka pendek. Bagian ini mengkaji bagaimana Mark-up ini dapat diperkirakan. Jika ada
faktor jangka panjang seperti membangun pangsa pasar, pertumbuhan, dan loyalitas merek,
maksimalisasi keuntungan jangka pendek mungkin tidak konsisten dengan maksimalisasi keuntungan
jangka panjang. Namun, anggaplah kondisi berikut ini terus:

1. Keputusan penetapan harga dapat dipisahkan oleh waktu, yaitu, ini secara efektif
merupakan masalah satu periode (sehingga tidak ada loyalitas merek antarwaktu atau
efek reaksi pesaing, tidak ada persediaan, dll.)
2. Tidak ada ketidakpastian permintaan atau biaya
3. Lebih dari rentang permintaan yang relevan, biaya variabel yang konstan.
4. perusahaan hanya menjual satu produk, atau produk yang dijual oleh perusahaan bukan
merupakan pengganti atau pelengkap.

Multi Produk Biaya Harga Plus

Perusahaan multi-produk adalah norma dan bukan pengecualian. Banyak ide dan argumen
yang dibahas. Menerapkan sama baiknya dengan multi-produk mungkin menemukan itu berguna
untuk membaca dengan teliti pendekatan marginalis untuk penetapan harga multi produk yang
dibahas. Secara khusus, alokasi overhead yang digerakkan oleh formula dapat menyebabkan
penetapan harga yang tidak masuk akal. Gagasan marginalis utama adalah bahwa harga harus dipilih
untuk memaksimalkan kontribusi yang dibuat oleh setiap produk.

23 | P a g e
Apa Yang Dilakukan Orang – Dan Apa yang Mereka Katakan

Walaupun para pembuat keputusan sering mengatakan mereka tidak mempraktikkan


marginalisme, adalah umum untuk mengamati bahwa kenaikan harga bervariasi berdasarkan produk
yang dijual. Pembuat keputusan sering mengatakan mereka menyesuaikan kenaikan harga sesuai
dengan apa yang akan ditanggung pasar. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki
pemahaman intuitif tentang konsep pendapatan marjinal, tentang bagaimana pendapatan dan
penjualan berbeda dengan perubahan harga (walaupun mereka tidak secara eksplisit menggunakan
penalaran marginal). Memang sering dikatakan bahwa pendekatan mark-up variabel ini bisa
mendekati solusi memaksimalkan laba. Namun, perhatikan bahwa memfokuskan biaya rata-rata
tidak akan meningkatkan kualitas proses pengambilan keputusan.

Psikologi Dari Justifikasi Sebuah Harga

Sebagian besar penekanan dalam teks ini adalah pada pertimbangan biaya tambahan dan
peluang, pendapatan marjinal dan biaya marjinal sebagai dasar untuk sampai pada keputusan
penentuan harga yang optimal. Biaya sunk, biaya historis, dll harus diabaikan. Namun, khususnya
ketika menentukan harga produk sekali pakai, atau dalam tender untuk kontrak, seringkali sangat
nyaman untuk memiliki cerita yang bagus untuk menjelaskan bagaimana harga yang dipungut
diturunkan. Kisah ini biasanya menjelaskan bagaimana harga diperoleh dari beberapa basis biaya
ditambah mark-up yang adil di atasnya.

Kekuatan Pasar Pembeli

Monopsoni melibatkan penawaran oleh agen-agen harga (lih. Monopoli, yang menonjolkan
permintaan oleh agen-agen harga). Idenya adalah bahwa agen yang berbeda sering kali memiliki
harga pemesanan yang berbeda, sehingga, ketika harga penawaran naik, semakin banyak persediaan
yang dipanggil. Monopsonis menentukan harga untuk memperoleh jumlah barang yang diinginkan
(tenaga kerja atau apa pun). Monopsoni terjadi di mana pembeli tunggal menghadapi kurva
penawaran miring ke atas (yaitu, ada sejumlah besar pemasok, semua pengambil harga). Oligopsoni
terjadi ketika ada sejumlah kecil pembeli.

Penawaran Yang Kompetitif

Penawaran kompetitif dapat dianggap sebagai kasus monopsoni khusus di mana pembeli
hanya ingin membeli satu item, dan ada banyak penjual potensial:

Definisi: penawaran kompetitif terjadi ketika pembeli tunggal dapat meminta banyak penjual
potensial untuk tender kontrak (proyek dari beberapa deskripsi). Pembeli kemudian dapat memilih
penawaran yang mewakili nilai tertinggi yang dirasakan untuk uang.

Dalam banyak kasus, ada ruang untuk negosiasi tentang apa yang harus disampaikan
(kualitas dan karakteristik lainnya). Dalam kasus seperti itu, menjadi penjual harus merancang paket
produk dan mengutip harga di mana mereka bersedia untuk membuatnya tersedia. Pembeli
kemudian memilih penawaran yang tampaknya memberikan nilai terbaik untuk uang. Contoh:
(beberapa contoh penawaran kompetitif): sebagian besar negara mengajukan kontrak pertahanan
untuk tender. Perusahaan seperti Rolls-Royce sering terlibat dalam tender untuk kontrak sektor
swasta dan publik yang besar untuk memasok turbin, mesin pesawat terbang, dll. Pembuangan
limbah sering diajukan ke tender oleh otoritas lokal; demikian juga konstruksi jalan tol. Layanan
katering dan kebersihan juga sering dikontrak oleh banyak organisasi. Seorang penjual rumah
mungkin mendapatkan beberapa penawaran dari agen properti sebelum memilih satu.

24 | P a g e
Contoh-contoh di atas menggambarkan seberapa luas penawaran kompetitif, baik dalam hal
jumlah maupun jenis proyek, dan khususnya skala proyek-proyek ini (dari parokial hingga yang
melibatkan miliaran pound).

Jenis Kontrak Alternatif

Ketika seorang monopsonis mengundang perusahaan untuk mengajukan penawaran, ia


dapat menentukan struktur dasar yang ia harapkan untuk diambil tawarannya - atau ia dapat
menyerahkannya kepada penjual untuk merancang dan menawarkan kontrak. Berbagai bentuk
kontrak memiliki karakteristik yang berbeda, dan menciptakan insentif untuk berbagai perilaku.

Definisi: dalam kontrak harga tetap, perusahaan menawarkan untuk melakukan kontrak dengan
harga tetap, berapa pun biaya yang dikeluarkan.

Definisi: dalam kontrak biaya-plus, perusahaan menawarkan untuk melakukan kontrak dengan harga
yang sama dengan biaya yang dikeluarkannya ditambah biaya tetap

Potensi Kolusi

Ketika jumlah penawar kecil, dimungkinkan bagi mereka untuk mengoordinasikan kegiatan
penawaran. Wawasan utama di sana adalah bahwa, mengingat perjanjian kolusif formal adalah
ilegal, tidak ada cara perjanjian itu dapat ditegakkan secara hukum- dan karenanya para pemain
menghadapi dilema tahanan yang biasa; masing-masing akan mendapatkan keuntungan dengan
menipu dan menawarkan penawaran harga yang lebih rendah dari yang disepakati sebelumnya.
Meskipun dimungkinkan untuk berargumen bahwa, dalam permainan multi-periode di mana tidak
ada periode terakhir yang pasti, hasil kolusif mungkin berkelanjutan, diskon positif dari manfaat
masa depan cenderung mendorong pahat, yang merusak perjanjian kolusif. Teori ekonomi juga
menunjukkan bahwa praktik kolusif lebih mudah untuk diatur dan dipertahankan jika jumlah
pemainnya sedikit.

Pengungkapan Penawaran

Biasanya, perusahaan sektor swasta tidak akan membocorkan hasil harga dari proses
penawaran dan tender. Intinya adalah bahwa publikasi informasi tersebut membantu perusahaan
penjual, karena mereka lebih mampu menghitung harga penawaran mereka. Pengungkapan
cenderung mengurangi besarnya tawaran yang menang. Kebijakan tanpa pengungkapan
memaksimalkan penyebaran tawaran dan karenanya meningkatkan efek kutukan pemenang.
Namun, keterbukaan sering dipraktikkan dalam kontrak pemerintah untuk mencoba mengimbangi
ruang lingkup backhanders birokrasi dan korupsi. Tawaran dapat diungkapkan untuk menunjukkan
bahwa biaya pesta telah terbuka dan adil, dan bahwa tawaran terendah adalah faktanya yang
diambil atau jika tawaran yang lebih tinggi diambil atau jika tawaran yang lebih tinggi diambil,
alasannya mungkin harus ditentukan dengan jelas.

Monopoli Bilateral dan Berturut-Turut

Istilah 'monopoli bilateral' sering dianggap sebagai situasi di mana satu perusahaan secara
eksklusif menjual produknya ke perusahaan lain, dan masalahnya adalah bagaimana kedua pihak
memutuskan berapa banyak untuk berdagang dan berapa harganya.

Definisi: monopoli bilateral terjadi ketika satu perusahaan menjual ke yang lain dan itu mahal
bagi kedua perusahaan untuk meninggalkan hubungan.

25 | P a g e
Perbedaan antara bilateral dan monopoli berturut-turut terletak pada kenyataan bahwa
pada yang pertama, penjual dan pembeli memiliki beberapa kekuatan pasar, sementara pada yang
kedua, hanya penjual yang memiliki kekuatan pasar.

Definisi: monopoli berturut-turut terjadi ketika perusahaan monopoli menjual kepada


beberapa pembeli, satu atau lebih di antaranya menjual kepada beberapa pembeli. Dalam model ini,
pada setiap tahap, hanya penjual yang memiliki kekuatan monopoli, dan pembeli tidak memiliki
kekuatan monopsoni.

Kunci untuk mengidentifikasi situasi monopoli bilateral terletak pada dua pertanyaan:

1. Jika penjualan perusahaan menahan produksi, dapatkah perusahaan pembelian dengan


cepat dan mudah mendapatkan produk dari pemasok alternatif?
2. jika perusahaan pembeli menolak pembelian, dapatkah penjual dengan cepat dan mudah
menempatkan produk lain di mana?

Jika jawabannya tidak untuk kedua pertanyaan, maka ada situasi monopoli bilateral. Dalam monopoli
berturut-turut, hanya pertanyaan pertama yang relevan, tetapi harus diterapkan pada lebih dari satu
tahap dalam rantai produksi.

Periklanan

Beriklan hanyalah bagian dari upaya penjualan atau promosi secara keseluruhan. Ini adalah
elemen kunci dari pekerjaan perwakilan penjualan untuk memberi tahu pelanggan potensial tentang
perusahaan dan mencoba membujuk mereka untuk melakukan pembelian. Pengamatan ini
menunjukkan bahwa iklan dalam praktiknya melakukan dua jenis fungsi yang dijelaskan di atas, yaitu
untuk :

1. Menginformasikan
Untuk memberikan informasi tentang produk dan layanan (tentang keberadaan
produk, harganya, di mana ia dapat dibeli, karakteristiknya, kualitasnya, dll.) Promosi
penjualan meliputi: sampel gratis; penawaran khusus; bundling produk, termasuk
melampirkan tiket lotre, kupon, dll. dengan produk; mendesain ulang kemasan;
mendesain ulang marchanduseing; mengatur tampilan iklan dan pameran; dan
menggunakan pesan langsung.
2. Membujuk
Untuk mengubah preferensi individu tentang barang yang dikenal. Secara alami,
informasi dapat memengaruhi pemesanan preferensi konsumen; misalnya,
melakukan pengecekan mekanik atas mobil bekas tidak mengisi karakteristiknya -
tetapi mungkin mengisi persepsi Anda tentang karakteristik tersebut.

Struktur Periklanan Dan Pasar

Bukti empiris menunjukkan bahwa ada korelasi positif yang lemah antara intensitas iklan dan tingkat
konsentrasi dalam suatu industri. Ini konsisten dengan sudut pandang struktur-perilaku-kinerja.
Secara khusus, periklanan (perilaku) dipandang sebagai variabel strategis yang dikendalikan oleh
perusahaan yang memiliki pengaruh umpan balik pada struktur pasar, dalam hal itu dapat digunakan
tidak hanya untuk membangun kekuatan monopoli tetapi juga untuk menciptakan penghalang untuk
masuk baru ke dalam industri. Dengan demikian arah sebab-akibat dapat diperdebatkan, tetapi
harapan teoritis, korelasi positif antara intensitas dan konsentrasi periklanan, tampaknya konsisten
secara luas dengan fakta-fakta empiris. Dalam apa yang berikut, pengaruh struktur pasar pada
tingkat periklanan

26 | P a g e
APLIKASI TEORI EKONOMI DI BIDANG MANAJEMEN
PEMBAHASAN JURNAL
Comparison of Methods for Pricing of The Product and its Impact on
Economic Efficiency of Enterprise
Katarína Teplickáa*
aassoc.prof. of Management and Economy,Technical university of Košice, Letná 9, 042 00 Košice,Slovakia

1. Latar Belakang Penelitian


Perhitungan produk dewasa ini sangat penting dan perhitungan diperlukan dalam memenuhi
permintaan pelanggan dan kebutuhan pelanggan. Saat ini sebagian besar perusahaan perlu
mempertahankan dua keunggulan kompetitif yang dimilikinya, yaitu kualitas produk yang lebih baik
dan harga yang lebih murah (Sarokolaee et al., 2012). Dengan menciptakan analisa perhitungan,
maka akan sangat penting untuk mengevaluasi kualitas dari produk yang dihasilkan dan melakukan
penilaian harga dari produk tersebut dengan mengikuti kualitasnya. Dewasa ini, pelanggan dapat
mempengaruhi harga dari produk dengan spesifikasi dari produk dan produsen, maka dari itu,
pengusaha harus menyesuaikan harga produk dengan kebutuhan pelanggan. Alasan tersebut dapat
digunakan sebagai stimulus untuk para pelaku industri untuk mengubah metode kalkulasi yag telah
mereka terapkan dan mulai menggunakan metode kalkulasi yang berbasis lebih modern, seperti
misalnya penetapan biaya berdasarkan aktivitas, penetapan target biaya, penetapan biaya kaizen
(sistem yang mendukung proses penyempurnaan biaya secara berkesinambungan pada tahap
produksi yang berusaha mengurangi biaya standar saat ini) dan penetapan biaya pekerjaan, dan
penetapan biaya inventaris (Baharudin, Jusoh, 2015). Pemanfaatan metode ini di perusahaan
membawa beberapa perubahan spesifik. Metode ini menghasilkan hasil yang lebih baik dari segi
biaya dan penetapan harga produk tetapi metode ini sangat sulit untuk diterapkan dalam praksis
(the act of engaging, applying, exercising, realizing, or practicing ideas). Salah satu yang memegang
perananan penting dalam implementasinya untuk perusahaan adalah sistem manajemen harga
(Zengin, 2010). Elemen dasar dari penciptaan metode kalkulasi adalah Knowledge Management.
Manajemen pengetahuan akan berorientasi untuk mengetahui segala sesuatu tentang pelanggan
dan kebutuhan dari pelanggan tersebut, spesifikasi pasar dan bagaimana suatu perusahaan dapat
menjadi kompetitif, persaingan dan strategi dalam bidang perhitungan dan cara perusahaan
mengadopsi proses dan target pengembangan produk baru secara bersamaan, dan (Gopalakrishnan
et al., 2015). Dalam kondisi meningkatnya persaingan dan tekanan untuk terus-menerus
menurunkan harga produk maka dibutuhkan manajemen biaya (cost management). Dimana sebuah
struktur manajemen suatu perusahaan harus dirombak secara menyeluruh dan memasukkan
manajemen biaya menjadi bagian dari alat manajemen yang digunakan perusahaan untuk
memastikan efisiensi ekonomi dan manajemen biaya (Meghabber, 2015). Biaya seperti kategori
ekonomi dasar yang mempengaruhi hasil operasi dalam banyak kasus menjadi subjek penghalang
bisnis, dan juga dapat menyebabkan perusahaan keluar dari lini bisnis, yang menyebabkan
kebangkrutan dan likuidasi perusahaan. Manajemen biaya di banyak perusahaan tidak sistematis dan
itulah sebabnya pertanyaan tentang pengenalan kontrol biaya sebagai alat untuk pengambilan
keputusan yang efektif, perencanaan dan manajemen biaya sangat penting dan perlu. Perusahaan
untuk meningkatkan kondisi bisnis memerlukan instrumen yang sistematis dan proses yang mereka
kelola arus kas, yang juga tercermin dalam kategori biaya.

2. Material dan Metode Penelitian


Kami akan menggunakan metode perhitungan batu paving produk TOP ZONE 200 dalam
makalah ini (gbr.1): metode penetapan harga divisi tunggal, penetapan biaya berdasarkan aktivitas,
penetapan target biaya.

27 | P a g e
Metode penetapan harga divisi tunggal sangat mudah dan paling bermanfaat dalam praksis.
Dasar dari metode ini adalah untuk hitung semua biaya produksi produk dan bagi jumlah produk.
Dengan metode ini sangat Penting untuk menggunakan informasi tentang biaya sistem manajemen
biaya. Pengendalian biaya adalah pendekatan baru untuk biaya sistem manajemen (Šatanová &
Potkány, 2004). Perubahan biaya berarti pandangan rasional tentang akuntansi biaya dan
menggunakan banyak teknik penetapan biaya. Informasi biaya penting untuk keputusan manajerial
dan untuk mencapai ekonomi efisiensi (Cinquini, L., 2015). Akuntansi biaya sekarang menjadi bagian
dari sistem informasi bisnis (Rajnoha, 2013). Metode ini membutuhkan sistem biaya yang sangat
efektif. Sistem ini harus mengandung bukti, perencanaan, analisis biaya, mengevaluasi biaya,
perhitungan, akuntansi, pengendalian biaya. Kerugian dari metode ini adalah alokasi semua biaya
bisnis untuk produk-produk manufaktur yang tidak terkait dengan produksi (Potkány & Hitka, 2009).
Metode kedua adalah biaya berdasarkan aktivitas. Metode ini berarti cara yang efektif untuk
mengendalikan biaya produk proses berpikir dan sangat sulit adalah mengidentifikasi kegiatan
produksi. Aktivitas membutuhkan item biaya untuk dihitung harga produk (Tornberg et.al, 2002).
Sistem ABC / M sebagai enabler untuk meningkatkan pengambilan keputusan operasi (Gupta et.al,
2003). Metodologi ABC berfokus pada alokasi biaya dalam manajemen operasional (Vetráková et al.,
2013). ABC membantu memisahkan biaya tetap, biaya variabel, biaya overhead. Pemecahan biaya
membantu mengidentifikasi biaya driver, jika tercapai. Tenaga kerja langsung dan material relatif
mudah dilacak langsung ke produk, tetapi lebih sulit untuk secara langsung mengalokasikan biaya
tidak langsung ke produk. Di mana produk menggunakan sumber daya umum secara berbeda,
semacam itu pembobotan diperlukan dalam proses alokasi biaya. Pengemudi biaya adalah faktor
yang menciptakan atau mendorong biaya aktivitas. ABC telah membuktikan penerapannya di luar
diskusi akademis. ABC berlaku di seluruh perusahaan pembiayaan, penetapan biaya dan akuntansi:
ABC adalah proses pemodelan yang berlaku untuk cakupan penuh serta untuk sebagian pandangan,
ABC membantu mengidentifikasi produk, departemen, dan kegiatan yang tidak efisien, ABC
membantu mengalokasikan lebih banyak sumber daya produk, departemen, dan aktivitas yang
menguntungkan, ABC membantu mengendalikan biaya di setiap level level produk dan seterusnya
tingkat departemen, ABC membantu menemukan biaya yang tidak perlu yang dapat dihilangkan,
ABC membantu memperbaiki harga a produk atau layanan dengan resolusi analitik yang diinginkan
(Lapašinskaite, 2005). Laporan merangkum alasan untuk menerapkan ABC sebagai tidak spesifik dan
terutama untuk tujuan studi kasus: manajemen yang lebih baik, penganggaran, pengukuran kinerja,
menghitung biaya lebih akurat, memastikan profitabilitas produk / pelanggan, mengevaluasi dan
membenarkan investasi dalam teknologi baru, meningkatkan kualitas produk melalui produk dan
desain proses yang lebih baik, meningkatkan daya saing atau mengatasi lebih banyak kompetisi,
manajemen, mengelola biaya, menyediakan perilaku insentif dengan menciptakan kesadaran biaya
di antara karyawan, menanggapi peningkatan overhead, merespons peningkatan tekanan dari
regulator, mendukung inovasi manajemen lainnya seperti sistem TQM dan JIT.

28 | P a g e
Metode ketiga adalah target costing. Metode ini adalah alat manajerial strategis dan metode
ini mengurangi risiko derivatif keuangan (Balea, E.C, 2013). Target costing didefinisikan sebagai
pendekatan terstruktur untuk menentukan umur siklus biaya di mana produk yang diusulkan dengan
fungsionalitas dan kualitas yang ditentukan harus dihasilkan untuk menghasilkan tingkat keuntungan
yang diinginkan selama siklus hidupnya ketika dijual dengan harga jual yang diantisipasi (Cooper
et.al, 1999). Target cost = target harga jual - target margin keuntungan. Target costing adalah
metode yang diterapkan dalam praksis dan apa adanya relevan untuk perusahaan manufaktur.
Dalam perusahaan jasa sulit untuk menerapkan metode ini dan tingkat implementasi teknik itu
menantang (Yazdifar, 2012). Penentuan target biaya memainkan peran penting dalam mengelola
biaya (Meghabber, 2015). Metode ini mengurangi biaya produk baru, menjamin tingkat keuntungan,
memenuhi tingkat kualitas, menuntut harga oleh pasar, memotivasi semua karyawan untuk
mencapai laba. Definisi target biaya mencakup konsep utama: produk harus didasarkan pada
penilaian akurat atas keinginan dan kebutuhan pelanggan di segmen pasar yang berbeda, dan target
biaya harus menjadi hasil apa setelah dikurangi margin keuntungan berkelanjutan apa yang rela
dibayarkan pelanggan pada saat pengenalan produk dan sesudahnya. Konsep-konsep ini didukung
oleh empat langkah dasar Target Costing: 1. Tentukan Produk, 2.Set Harga dan Target Biaya, 3.
Mencapai Target. 4. Pertahankan Biaya Kompetitif. Perusahaan-perusahaan Jepang telah
mengembangkan penetapan target biaya sebagai tanggapan terhadap masalah mengendalikan dan
mengurangi biaya selama siklus hidup produk. Target costing adalah sistem di mana rencana awal
perusahaan untuk poin harga, biaya produk, dan margin yang ingin dicapai untuk produk baru.
Jika tidak dapat memproduksi produk pada level yang direncanakan ini, maka ia
membatalkan proyek desain sepenuhnya. Dengan target biaya, tim manajemen memiliki alat yang
ampuh untuk terus memantau produk dari saat mereka masuk fase desain dan seterusnya sepanjang
siklus hidup produk mereka. Ini dianggap sebagai salah satu alat paling penting untuk mencapai
profitabilitas yang konsisten di lingkungan manufaktur.

29 | P a g e
3. Hasil dan Pembahasan
Kami menyiapkan harga untuk produk baru di perusahaan dan kami menggunakan metode
ini - metode penetapan harga divisi tunggal (tabel 1), penetapan biaya berdasarkan aktivitas (tabel
2), penetapan target biaya (tabel 3). Kami membutuhkan banyak informasi tentang biaya dan kami
menggunakan sistem akuntansi biaya di perusahaan. Metode pertama adalah sederhana dan
berdasarkan pada informasi ekonomi dari akuntansi Keuangan. Kami menemukan biaya aktual dan
jumlah produksi. Harga produk adalah sebagai berikut:

Metode ini menerima semua biaya produksi dan laba 5%. Ringkasan harga adalah 92, 50 €
untuk unit perhitungan (10 m2). Untuk produksi batu paving kita perlu menerima bahan langsung.
Bagian yang sangat penting dari produk adalah agregat, semen, campuran warna, plasticizer. Unit
perhitungan adalah 10 m2. Metode ini juga termasuk biaya kerugian dan biaya kemasan dan palet.
Metode tradisional bukanlah motivasi pengurangan biaya. Harga ini dapat diterima untuk
perusahaan dan untuk pelanggan, tetapi tidak untuk persaingan. Metode ini dapat diterima untuk
harga produk tetapi meningkatkan biaya tegas dan mengurangi efisiensi dan laba ekonomi.
Metode penetapan biaya berdasarkan aktivitas adalah instrumen yang sangat baik untuk
bukti. Metode ini memungkinkan kami untuk melacak pengeluaran oleh proses bisnis. Biaya tinggi
dalam proses stamping, penyimpanan, administrasi, pemeliharaan.

30 | P a g e
Memonitor efisiensi ekonomi penting untuk diketahui, proses mana yang akan kita kurangi di
masa depan. Proses dari administrasi menciptakan biaya bisnis yang tinggi dan di masa depan perlu
mencari cara untuk mengoptimalkan biaya-biaya ini. Proses seperti stamping, penyimpanan,
pemeliharaan menciptakan biaya terlalu tinggi pada unit perhitungan. Pengurangan biaya adalah a
prasyarat untuk mencapai harga yang dapat diterima bagi pelanggan. Metode ini dapat diterima
untuk perusahaan, karena itu mengendalikan biaya produksi dalam semua proses. Bahan langsung
adalah harga yang sama dengan metode pertama karena kita membutuhkan bahan yang sama untuk
produksi. Metode ABC ini dapat diterima untuk harga produk, mengurangi biaya pada perhitungan
unit untuk tenaga kerja langsung, overhead, biaya administrasi, biaya pemasaran; itu meningkatkan
efisiensi ekonomi dan keuntungan. Metode penetapan biaya target adalah metode yang menantang
untuk implementasi. Pada langkah pertama kami mendapatkan harga produk dari pelanggan melalui
eksplorasi. Kami memiliki 50 pelanggan. Harga setelah eksplorasi adalah € 80 pada unit perhitungan.
Untuk itu harga kami menghitung laba untuk unit perhitungan dan kami mendapat target biaya
untuk unit perhitungan. Biaya target adalah € 76. Biaya ini harus diperoleh untuk produksi produk -
Paving stone TZ 200. Metode ini mengacu pada kebutuhan pelanggan dan memungkinkan Anda
untuk mengurangi biaya produksi produk. Pengurangan biaya produk untuk menghemat sumber
daya dan kami mencapai penjualan produk dengan margin per unit. Pengembalian berdampak pada
efisiensi ekonomi dan penciptaan laba perusahaan.

Pada prinsip metode perhitungan perbandingan ketika menentukan harga produk baru - Paving
stone TOP Zone 200 kami menyimpulkan bahwa harga terbaik dari efisiensi ekonomi adalah harga
dengan metode target costing (tabel 4).

31 | P a g e
Ini harga yang diterima oleh pelanggan, harga produk ini membawa laba 5% ke unit
perhitungan dan biaya memproduksi produk dapat diterima oleh perusahaan.

Metode harga yang dihitung memberikan pandangan yang sangat penting pada harga
produk. Produk TOP ZONE 200 ini baru produk untuk perusahaan dan perusahaan perlu mengetahui
dampak pada efisiensi ekonomi perusahaan. Kami memperoleh sangat indeks ekonomi penting
untuk perusahaan - efisiensi ekonomi (e). Indeks ini menentukan jumlah: Pendapatan / Biaya. Jika
nilai ini lebih dari satu adalah efisiensi yang baik. Efisiensi yang sangat baik adalah dengan metode
penetapan harga target. Ini metode dapat diterima untuk produk TOP ZONE 200 baru.

4. Kesimpulan
Perbedaan hasil dari perhitungan tradisional, penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan
penetapan target biaya (tabel 4). Dengan membandingkan berbagai metode dapat menemukan
cadangan di bidang biaya berkurang dengan cara itu bisa memenuhi tuntutan klien pada tingkat
harga target. Harga target adalah faktor penentu tidak hanya untuk klien, tetapi juga untuk
perusahaan tunggal, karena itu menyajikan dasar untuk penciptaan laba, yang sangat diperlukan
untuk kelangsungan hidup perusahaan. Kami membandingkan metode penghitungan pada harga
produk. Perhitungan produk sangat penting saat ini dan dari sudut pandang kebutuhan klien dan
menuntut kepuasan juga sangat diperlukan. Persyaratan untuk mengetahui elemen-elemen
individual, terdiri dari harga produk, hasil dari tuntutan pada kualitas produk yang diberikan dan
evaluasi harga produk sehubungan dengan kualitasnya. Saat ini pelanggan sangat memengaruhi
produk harga oleh permintaan mereka dan karenanya produsen, pengusaha saat ini harus
menyesuaikan harga produk mereka tuntutan pelanggan.

32 | P a g e