Anda di halaman 1dari 2

Nama : Budi Jaya S.

Kelas /no : XMIPA 2/ 03


Matius 5:13-16
Garam dunia dan terang dunia
5:13 "Kamu adalah garam dunia 1 . Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia
diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. u 5:14 Kamu
adalah terang dunia. v Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin
tersembunyi. 5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di
bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di
dalam rumah w itu. 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan
orang, x supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik y dan memuliakan z Bapamu
yang di sorga."

Isi Kotbah :
Kutipan Injil menurut Matius diambil dari pesan Yesus, yang telah dikumpulkan dalam
Khotbah di Bukit, yang tercatat dalam Injil Matius Bab 5-7. Di situ ditampung ajaran baku
Yesus bagi setiap orang, yang ingin menjadi murid-Nya sejati. Dalam Mat 5:13-16 yang akan
kita dengarkan hari ini, Yesus bersabda: “Kamu adalah garam dunia”, dan “Kamu adalah
terang dunia”. Apakah kiranya makna pesan Yesus itu bagi kita sebagai Gereja-Nya,untuk
tampil dalam masyarakat sebagai garam dan terang bagi dunia di dalam masyarakat kita
sekarang ini?

Sejak dahulu garam merupakan kebutuhan baku untuk hidup manusia. Garam memberi rasa
lezat. Memberi daya untuk memelihara lama atau mengawetkan sesuatu. Bahkan garam
menimbulkan suatu rasa haus akan sesuatu yang lain lagi. Kenyataan sehari-hari inilah yang
dipakai Yesus untuk menyampaikan syarat, yang mutlak diperlukan untuk meneruskan Kabar
Gembira, yaitu Injil-Nya, sebagai santapan makanan yang lezat kepada masyarakat.
Dalam Perjanjian Lama pun garam dipakai secara simbolis untuk tujuan keagamaan.
Misalnya: “Dalam setiap persembahanmu yang berupa korban sajian, haruslah kaububuhi
garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu, beserta segala
persembahanmu haruslah kauper-sembahkan garam. (Im 4:23)”. Bahkan juga dipakai istilah
“perjanjian garam (Bil 18:19)”. Perjanjian garam ini berarti suatu hubungan atau relasi yang
menetap, dan makan garam bersama orang lain itu berarti memasuki ikatan setia satu sama
lain.ditegaskan juga dalam injil Kol 4:6 dan Mrk 9:50.
Apa maknanya bahwa garam bisa menjadi hambar atau kehilangan rasa asinnya? Bagi kita
sekarang ini, garam selalu tetap asin dan tidak hampar! Di zaman Yesus garam tidak dibuat
dan dimurnikan dari unsur-unsur campuran seperti garam kita sekarang ini. Karena tercampur
dengan unsur-unsur lain, rasa garam itu dapat berubah dan bisa kehilangan rasa khususnya.
Nah, sifat garam inilah yang dipilih Yesus untuk menggambarkan sifat setiap orang, apabila
mau sungguh menjadi murid-Nya, yaitu: tetap setia atau tidak setia sebagai murid Yesus!
Singkatnya, setiap orang yang ingin menjadi murid Yesus sejati harus tahu kapan dan
bagaimana ia harus mengubah sikap dasar hidupnya, yaitu apabila “hidangan masakan ajaran
Yesus” dirasakan sebagai hambar dan tidak cocok lagi dengan seleranya sendiri. Ia harus tahu
dan mau berusaha mempertahankan dan memupuk kembali keadaan hidupnya menurut iman
yang benar, apabila arah hidupnya makin terasa bertentangan dengan “rasa” injili atau
alkitabiah yang otentik. Ia harus setia akan serta loyal terhadap janjinya kepada Tuhan
melalui baptisnya dan dalam penerimaan sakramen-sakramen Gereja-Nya. Cukup tegas
Paulus mengatakan, bahwa murid Yesus sejati adalah orang yang tahu “berbicara” (artinya:
berpikir, bersikap, berkata dan bertindak) sesuai dengan nasihatnya: “Hendaklah kata-katamu
senantiasa penuh kasih, jangan hampar, sehingga kamu tahu, bagiamana kamu harus memberi
jawab kepada setiap orang (Kol 4:6)”. Selanjutnya, kita harus tahu, apakah hubungan antara
dua pesan Yesus “Kamu adalah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia?” Pertama-
tama karena Yesus sendiri adalah Terang Dunia! Karena itu murid-murid-Nya harus juga
menjadi terang dunia. Terang mempunyai makna khusus, yaitu harus menghilangkan
kegelapan! Artinya, menghilangkan kejahatan dan dosa, yang timbul dari kebodohan,
ketidaktahuan, praduga dan kepentingan diri sendiri melulu. Sedangkan Yesus sendiri adalah
terang, sebab wajah-Nya bersinar dan menunjukkan diri seperti ada-Nya, yaitu sebagai
segala-galanya yang baik dan benar. Nah, itulah pula yang harus menjadi teladan bagi para
murid Yesus sebagai terang dunia. Demikianlah Injil Matius hari ini memperingatkan kita
secara sederhana namun tegas dan jelas akan keadaan dan tugas kita sebagai umat yang telah
dibaptis sebagai murid Yesus sejati. Bukan sebagai orang yang bersikap acuh tak acuh dan
pasif sebagai orang beriman di kalangan keluarga dan masyarakat.