Anda di halaman 1dari 12

ALOKASI ANGGARAN BOP

OLEH
KELOMPOK 6
FITRI QALABI ILYAS (A021171003)
ANDI REZKY ANANDA AMALIA (A021171006)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

B. RUMUSAN MASALAH

C. TUJUAN
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Anggaran Biaya Overhead Pabrik
Anggaran Biaya overhead pabrik adalah suatu perencanaan yang terperinci
mengenai biaya- biaya tidak langsung yang dikeluarkan sehubungan dengan
proses produksi selama periode yang akan datang meliputi jenis biaya,waktu,dan
tempat (departemen) dimana biaya terjadi. Alokasi anggaran/biaya merupakan
pembiayaan yang memberikan manfaat bersama dan yang terjadi ketika sumber
daya yang sama digunakan untuk menghasilkan lebih dari satu produk atau jasa.
Hal ini dapat dicontohkan seperti biaya mesin foto kopi pada kantor konsultan
yang mendukung aktivitas pelayanan lebih dari satu jenis jasa. Oleh karena itu,
biaya mesin fotokopi akan dibebankan ke pada masing-masing jenis jasa dengan
proposional.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Anggaran BOP
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun anggaran BOP adalah
1. Anggaran unit yang akan diproduksi, terutama yang berkaitan dengan
kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu selama periode yang akan
datang
2. Berbagai standar yang telah ditetapkan perusahaan (misalnya standar
pemakaian bahan pembantu, pemakaian listrik dan sebagainya)
3. Sistem pembayaran upah yang dipakai oleh perusahaan
4. Metode depresiasi, khususnya terhadap aktiva tetap
5. Metode alokasi biaya yang dipakai oleh perusahan untuk membagi biaya-
biaya yang semula merupakan satu kesatuan, menjadi beberapa kelompok
biaya dimana biaya tersebut terjadi.
C. Penyusunan Anggaran Biaya Overhead Pabrik
Karena biaya overhead pabrik terdiri dari tiga macam sifat biaya maka
penentuan anggaran BOP adalah sebagai berikut :
1. Biaya tetap adalah biaya yang besarnya ditentukan oleh pihak
manajemen, baik bagian pabrik atau produksi maupun manajemen
puncak. Kemungkinan yang lain, biaya tetap ditentukan oleh pihak luar,
misalnya ditentukan oleh pemerintah.
2. Biaya yang bersifat variable ditentukan berdasarkan tarif tertentu yang
disesuaikan dengan kondisi yang akan dating.
3. Biaya yang bersifat semivariabel akan ditentukan dengan menganalisis
biaya pada beberapa periode yang lalu, kemudian mengelompokannya ke
dalam biaya tetap dan biaya variable.
D. Departementalisasi
Departementalisasi adalah pembagian perusahaan ke dalam unit-unit yang
disebut departemen.Departementalisasi BOP adalah proses pengumpulan dan
penentuan tarif BOP per departemen. Departementalisasi BOP lebih tepat jika
pabrik memproduksi berbagai produk yang tidak melewati departemen yang
sama. Tujuan departementalisasi BOP adalah menentukan biaya produk dengan
teliti. Produk yang diproses melalui lebih dari satu departemen akan dibebani
dengan tarif yang berlaku di masing-masing departemen. Terdapat dua kategori
departemen yaitu: Departemen produksi dan departemen pendukung. Departemen
produksi secara langsung bertanggung jawab pada pembuatan produk atau jasa
yang dijual pada pelanggan.
Departemen produksi adalah departemen secara langsung mengerjakan
produksi yang diproduksi. Contoh, departemen pengesahan dan perakitan.
Departemen pendukung menyediakan pelayanan pendukung yang diperlukan oleh
departemen produksi. Departemen ini berhubungan secara tidak langsung dengan
suatu jasa atau produk organisasi tersebut, misalnya: pemeliharaan, permesinan.
Dalam perusahaan jasa dapat dibagi menjadi departemen produksi dan
departemen pendukung. Pabrik pembuat furniture dapat dibagi dua departemen
produksi (perakitan dan penyelesaian) serta empat departemen pendukung (ruang
penyimpanan bahan baku, kafetaria, pemeliharaan, general factory).
E. Biaya Langsung & Tidak Langsung Departemen
Biaya langsung departemen adalah semua biaya yang dapat ditelusur ke
departemen tertentu dan dibebankan pada departemen tersebut tanpa melalui
proses alokasi. Contoh depresiasi mesin dan biaya sewa gedung yang digunakan
hanya oleh Departemen Perakitan merupakan biaya langsung departemen tersebut.
Biaya tidak langsung departemen adalah biaya yang tidak dapat ditelusur ke
departemen tertentu dan dibebankan kepada departemen tersebut melalui proses
alokasi. Contoh: depresiasi mesin dan biaya sewa gedung yang digunakan oleh
beberapa departemen, tidak dapat ditelusur pemakaiannya secara langsung
merupakan biaya tidak langsung departemen. Biaya ini dibebankan kepada
departemen pemakai melalui proses alokasi.
F. Alokasi Biaya Overhead Pabrik
Alokasi biaya overhead pabrik adalah pembagian biaya overhead pabrik
departemen pembantu ke departemen produksi, atau dari departemen pembantu
yang lain dan departemen produksi.
Satuan kegiatan atau satuan penghitung adalah satuan yang dipakai untuk
mengetahui jumlah kegiatan yang telah dilakukan oleh bagian produksi dan
bagian jasa, dalam rangka proses produksi.
Ditinjau dari bagian yang bertanggung jawab, biaya overhead pabrik
dikelompokkan sebagai:
1. Biaya langsung, yakni biaya yang semata-mata menjadi tanggung jawab
bagian yang bersangkutan dan tidak dibebankan ke bagian lain.
2. Biaya tidak langsung, yakni biaya yang menjadi tanggung jawab beberapa
bagian pada pabrik.
Kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar penyusunan anggaran biaya
overhead pabrik, antara lain adalah:
1. Kapasitas praktis, adalah teoritis (yakni kapasitas pabrik untuk menghasilkan
produk pada kecepatan penuh, tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu)
dikurangi dengan kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan
intern perusahaan.
2. Kapasitas normal, adalah kemampuan perusahaan berproduksi dan menjual
produknya dalam jangka panjang.
3. Kapasitas sesungguhnya yang diharapkan, adalah kapasitas sesungguhnya
yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam periode yang akan datang.
G. Tujuan Alokasi Biaya
Beberapa tujuan penting berhubungan dengan alokasi biaya departemen
pendukung ke departemen produksi, dan akhirnya ke produk tertentu:
1. Untuk menghasilkan satu kesepakatan harga yang menguntungkan
2. Untuk menghitung profibilitas lini produk
3. Untuk memprediksi pengaruh ekonomi dari perencanaan dan pengendalian
4. Untuk memotivasi para manajer
Jika biaya tidak dialokasikan dengan akurat, biaya beberapa jasa dapat terlalu
tinggi, hingga mengakibatkan penawaran yang terlalu tinggi dan hilangnya
potensi bisnis, sebaliknya, jika biaya terlalu rendah dan mengakibatkan kerugian
pada jasa ini. Hal yang berhubungan dekat dengan penentuan harga adalah laba.
Dengan menilai laba berbagai jasa, seseorang manajer dapat mengevaluasi bauran
jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Tentu saja biaya yang akurat adalah hal
yang penting untuk menentukan laba.
Alokasi dapat digunakan untuk memotivasi para manajer. Jika biaya
departemen pendukung tidak dialokasikan ke departemen produksi, para manajer
dapat memperlakukan jasa ini seakan-akan jasa tersebut gratis. Tentu saja, pada
kenyataa nya, biaya marginal sebuah jasa lebih besar dari nol. Dengan
mengalokasikan biaya dan meminta para manajer departemen produksi
bertanggung jawab atas kinerja ekonomi unit mereka, suatu organisasi dapat
memastikan bahwa para manajer akan menggunakan suatu jasa hingga manfaat
marginal suatu jasa sama dengan biaya marginalnya. Jadi, mengalokasikan biaya
jasa membantu tiap departemen produksi memilih tingkat konsumsi yang benar.
H. Penentuan Tarif BOP Departemen
Karakteristik departemen menyebabkan pemicu biaya yang berbeda, yang
digunakan sebagai dasar pembebanan biaya, sehingga berpengaruh pada
perhitungan tarif setiap departemen. Contoh departemen produksi yang banyak
menggunakan mesin, maka tarif BOP lebih tepat menggunakan jam mesin. BOP
departemen produksi terdiri atas BOP departemen produksi dan alokasi biaya dari
departemen jasa yang digunakan. Oleh karena itu, perlu mengalokasikan biaya
departemen jasa pada departemen produksi terlebih dahulu sebelum menghitung
tarif BOP departemen.
Langkah-langkah penentuan tarif BOP departemen:
1. Menyusun anggaran BOP departemen produksi dan anggaran biaya
departemen jasa.
Anggaran BOP departemen produksi dan biaya departemen jasa terdiri atas
anggaran biaya langsung dan biaya tidak langsung, baik yang bersifat
variabel maupun tetap. Contoh biaya langsung adalah supervisor, bahan
penolong, pemeliharaan, bahan bakar dan telepon, karena pemakaiannya
dapat ditelusuri langsung melalui alat pengukur. Contoh biaya tidak langsung
adalah depresiasi gedung yang dipakai bersama-sama oleh beberapa
departemen. Depresiasi gedung tersebut dialokasikan pada setiap departemen
berdasarkan luas lantai.
2. Menetapkan dasar alokasi biaya departemen jasa
Dasar alokasi biaya departemen jasa tergantung pada pemicu biayanya.
Contoh: departemen listrik menggunakan dasar alokasi konsumsi kwh
departemen pengguna, departemen kafetaria yang banyak menggunakan
tenaga karyawan dasar alokasi yang sesuai adalah jumlah karyawan atau jam
kerja karyawan.
3. Mengalokasikan biaya departemen jasa pada departemen produksi
Biaya departemen produksi yang digunakan untuk menghitung tarif meliputi
biaya yang terjadi di departemen tersebut ditambah dengan biaya alokasi dari
departemen jasa. Biaya departemen jasa dapat dialokasikan dengan
menggunakan metode langsung, bertahap dan aljabar.
4. Menghitung tarif BOP departemen produksi dengan cara membagi BOP
departemen setelah alokasi dengan dasar pembebanan setiap departemen.
I. Metode Alokasi Biaya Departemen Pendukung
Dalam menentukan metode alokasi biaya departemen pendukung yang
digunakan, perusahaan hatus menetapkan batasan interaksi departemen
pendukung. Selain itu, mereka harus menimbang biaya dan manfaat yang
berhubungan dengan ketiga metode pengalokasian biaya, yakni:
1. Metode Langsung
Metode langsung adalah metode paling sederhana dan paling langsung
mengalokasikan biaya departemen pendukung. Biaya jasa variabel dialokasikan
langsung ke departemen produksi secara proporsional terhadap masing-masing
departemen pengguna jasa. Biaya tetap juga dialokasikan langsung kepada
departemen produksi, tetapi berdasarkan proporsi pada kapasitas normal atau
praktis departemen produksi
Dari data di atas dapat dilakukan melakukan alokasi biaya pendukung dengan
metode langsung sebagai berikut:

2. Metode Berurutan
Metode ini mengetahui bahwa interaksi diantara departemen pendukung telah
terjadi. Akan tetapi, metode berurutan tidak secara penuh mengakui interaksi
departemen pendukung. Alokasi biaya dilakukan secara tahap demi setahap
mengikuti prosedur penetapan peringkat yang ditentukan terlebih dahulu.
Biasanya urutanya ditentukan dengan menyusun peringkat departemen pendukung
dalam suatu tatanan jumlah jasa yang diberikan, dari yang terbesar ke yang
terkecil.

3. Metode Timbal Balik


Metode ini mengakui semua interaksi di antara departemen pendukung.
Menurut metode ini salah satu departemen pendukung menggunakan angka
departemen lain dalam menentukan total biaya setiap departemen pendukung
dimana total biaya mencerminkan interaksi antara departemen pendukung. Jadi,
total biaya yang baru dari departemen pendukung dialokasikan ke departemen
produksi.
Misal data ditambah rincian nya sebagai berikut:
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Haruman,Tendi dan Sri Rahayu. 2007. Penyusunan Anggaran Perusahaan. Graha


Ilmu: Yogyakarta.
http://duniaakuntan10.blogspot.com/2014/10/alokasi-biaya-departemen-
pendukung.html
http://ekonomiuh.blogspot.com/2012/12/departementalisasi-biaya-overhead-
pabrik.html