Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. atas ridho-Nya, penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Akuisisi Data Seismik Refraksi”. Penulis juga tak
lupa mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan
mendukung penulis dalam penyelesaian makalah ini. Tak lupa juga penulis ucapkan terima
kasih kepada dosen yang mengajar mata kuliah ini karena telah membantu dan
membimbing penulis.
Demikian, mudah-mudahan makalah ini akan berguna dan memperkaya informasi
mengenai akuisisi data untuk metode geofisika seismik refraksi. Kritik dan saran akan
penulis terima untuk perbaikan makalah ini di masa yang akan datang.

Malang, 20 September 2013

Penulis

2|Page
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
Latar Belakang 4
Rumusan Masalah 4
Tujuan Penulisan 5
BAB II PEMBAHASAN 6
Pengertian Metode Seismik
Konsep Dasar Metode Seismik 6
Akuisisi Data Seismik Refraksi 19
BAB III PENUTUP 22
Kesimpulan 22
DAFTAR PUSTAKA 23

3|Page
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Metode seismik merupakan salah satu metode yang sangat penting dan banyak
dipakai di dalam teknik geofisika. Hal ini disebabkan metode seismik mempunyai
ketepatan serta resolusi yang tinggi di dalam memodelkan struktur geologi di bawah
permukaan bumi. Dalam menentukan struktur geologi, metode seismik dikategorikan ke
dalam dua bagian yang besar yaitu seismik bias dangkal (head wave or refrected seismic)
dan seismik refleksi (reflected seismic). Seismik refraksi efektif digunakan untuk
penentuan struktur geologi yang dangkal sedang seismik refleksi untuk struktur geologi
yang dalam (tidak dibahas dalam makalah ini).
Dasar teknik seismik dapat digambarkan sebagai berikut. Suatu sumber
gelombang dibangkitkan di permukaan bumi. Karena material bumi bersifat elastik maka
gelombang seismik yang terjadi akan dijalarkan ke dalam bumi dalam berbagai arah. Pada
bidang batas antar lapisan, gelombang ini sebagian dipantulkan dan sebagian lain
dibiaskan untuk diteruskan ke permukaan bumi. Dipermukaan bumi gelombang tersebut
diterima oleh serangkaian detektor (geophone) yang umumnya disusun membentuk
garis lurus dengan sumber ledakan (profil line), kemudian dicatat atau direkam oleh suatu
alat seismogram. Dengan mengetahui waktu tempuh gelombang dan jarak antar
geophone dan sumber ledakan, struktur lapisan geologi di bawah permukaan bumi dapat
diperkirakan berdasarkan besar kecepatannya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan metode seismik?
2. Apa saja teori yang dipakai sebagai acuan untuk penjalaran gelombang seismik?
3. Apa yang dimaksud dengan metode seismik refraksi?
4. Bagaimana konsep dasar untuk metode seismik refraksi?
5. Bagaimana parameter dasae akuisisi data pada metode seismik refraksi?
6. Bagaimana cara akuisisi data pada metode seismik refraksi?
7. Apa saja noise yang dapat menggaggu proses akuisisi data seismik refraksi?

4|Page
1.3 Tujuan

Tujuan pembuatan makalah mengenai Akuisisi Data Seismik Refraksi ini adalah
untuk mendapatkan informasi apapun mengenai seismik refraksi baik itu cara akuisisi
data, konfigurasi line sampai pada noise apa saja yang dapat mengganggu saat proses
akuisisi data.

5|Page
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Metode Seismik


1. Pengertian Metode Seismik
Metode seismik merupakan salah satu bagian dari seismologi
eksplorasi yang dikelompokkan dalam metode geofisika aktif, dimana
pengukuran dilakukan dengan menggunakan sumber seismik, setelah sumber
suara diberikan terjadilah gerakan gelombang di dalam medium (tanah atau
batuan) yang memenuhi hukum - hukum elastisitas ke segala arah dan
mengalami pemantulan ataupun pembiasan akibat munculnya perbedaan
kecepatan dan massa jenis batuan. Kemudian gerakan partikel tersebut di
rekam sebagai fungsi waktu. Berdasar data rekaman inilah dapat diperkirakan
bentuk lapisan atau struktur di dalam tanah. Sumber seismik umumnya adalah
palu godam (sledgehammer) yang dihantamkan pada pelat besi di atas tanah,
benda bermassa besar yang dijatuhkan atau ledakan dinamit.

2. Penggolongan Metode Seismik


Metode seismik dikategorikan ke dalam dua bagian yaitu seismik
refraksi (seismik bias) dan seismik refleksi (seismik pantul). Terdapat dua
macam metoda dasar seismik yang sering digunakan, yaitu seismik refraksi dan
seismik refleksi. Metoda seismik refraksi mengukur gelombang datang yang
dipantulkan sepanjang formasi geologi di bawah permukaan tanah. Peristiwa
refraksi umumnya terjadi pada muka air tanah dan bagian paling atas formasi
bantalan batuan cadas.
Metoda seismik refleksi mengukur waktu yang diperlukan suatu impuls
suara untuk melaju dari sumber suara, terpantul oleh batas-batas formasi
geologi, dan kembali ke permukaan tanah pada suatu geophone. Refleksi dari
suatu horison geologi mirip dengan gema pada suatu muka tebing atau jurang.
Metoda seismic repleksi banyak dimanfaatkan untuk keperluan Explorasi
perminyakan, penetuan sumber gempa ataupun mendeteksi struktur lapisan
tanah. (Diaz, Rizqy. 2012)

6|Page
3. Prinsip Dasar Metode Seismik
Metode seismik didasarkan pada sifat penjalaran gelombang yang
dihasilkan oleh sumber getar buatan. Beberapa asas sifat penjalaran
gelombang yang digunakan, yaitu :
2.1.3.1 Muka Gelombang (Wavefront) dan Sinar (Ray)
Untuk memudahkan pengert ian ini, kita ambil contoh: sebuah batu
yang dilempar pada kolam. Pada kolam tersebut akan muncul perambatan
part ikel gelombang berupa garis - garis lingkaran. Gambar 1 menunjukkan
bahwa penjalaran gelombang yang dihasilkan oleh suatu sumber
gelombang (source) pada media yang homogen berbentuk lingkaran.
Lingkaran-lingkaran tersebut dinamakan wavefront, dan lintasan penj
alarannya disebut sebagai ray path. Dilihat dari 3 dimensi (volume),
wavefront berbentuk bola (spheris).

Gambar 1. Penjelasan Wave Front dan Ray Path


2.1.3.2 Prinsip Fermat
Prinsip Fermat menyatakan bahwa penj alaran gelombang dari satu
titik ke titik lainnya akan melewati lintasan waktu minimum. Lintasan
gelombang akan selalu berbentuk garis lurus. Gambar 2 menunjukkan
suatu lintasan gelombang yang dihasilkan sumber di permukaan yang
dipantulkan oleh suatu bidang cekung. Waktu tempuh gelombang dari
sumber ke receiver (penerima) akan ditentukan oleh bentuk bidang pantul
tersebut. Pada contoh terlihat bahwa receiver menerima gelombang dari 3
macam raypath. Bila kondisi tersebut dilakukan menggunakan beberapa

7|Page
source dan receiver maka waktu tempuh gelombang akan terlihat seperti
gambar 2 ke-4.

Gambar 2. Penjelasan Prinsip Fermat


2.1.3.3 Refleksi dan Transmisi (refraksi)
Gelombang yang melewati suatu bidang batas, maka energi gelombang
tersebut akan dapat dipantulkan dan diteruskan seperti pada gambar 3 di
bawah ini.

Gambar 3. Gelombang Refraksi


2.1.3.4 Persamaan Zeoppritz dan Koefisien Transmisi
Parameter suatu bidang batas dapat didefinisikan sebagai koefisien
refleksi yang besarnya merupakan perbandingan impedansi (perkalian
antara kecepatan dan densitas) media-1 dan media-2 (Gambar 3).

8|Page
2.1.3.5 Hukum Snellius
Perambatan gelombang pada bidang batas (Gambar 4) akan mengikuti
rumus berikut :

Gambar 4. Arah Perambatan Gelombang


Pada Hukum Snellius
2.1.3.6 Azas Huygen
Azas Huygen menyatakan bahwa titik - titik yang dilewati wavefront
akan menjadi wavefront gelombang (sumber gelombang baru). Energi
gelombang yang dihasilkan oleh sumber getar dapat disimplif ikasi sebagai
gelombang tubuh (body wave) dan gelombang permukaan (surface wave).
Body Wave menj alar masuk menembus medium, terdiri dari gelombang
Longitudinal (P) dan Transversal (S). Sedangkan Surface wave gelombang
yang komplek (frekuensi rendah dan amplitudo besar) menj alar pada free
surface medium elastis, terdiri dari gelombang Rayleigh (gerakan part ikel
mediumnya merupakan kombinasi gerakan partikel medium yang
disebabkan oleh gelombang P dan S, orbit gerakan partikel berupa eliptik),
gelombang Love (menjalar dalam bentuk gelombang transversal, bersifat
dispersif, gerakan partikelnya terjadi akibat propagasi gelombang love
mirip gelombang S), dan gelombang Stoneley (menjalar di bidang batas
antara dua medium sama halnya dengan gelombang Rayleigh dan Love,
dimana amplitudonya akan menurun dengan cepat bila menjauhi bidang

9|Page
batas tersebut). Gelombang yang dibutuhkan pada survei seismik ref leksi
adalah P dan S, sedangkan surface wave umumnya sebagai noise. Sifat
penjalaran ketiga gelombang tersebut terlihat seperti pada gambar
berikut.

Gambar 5. Gelombang Primer dan Sekunder


4. Gelombang Seismik
2.1.4.1 Pengertian Gelombang Seismik
Gelombang seismik adalah gelombang elastik yang merambat
dalam bumi. Bumi sebagai medium gelombang terdiri dari beberapa
lapisan batuan yang antar satu lapisan dengan lapisan lainnya mempunyai
sifat fisis yang berbeda. Ketidak-kontinuan sifat medium ini menyebabkan
gelombang seismik yang merambatkan sebagian energinya dan akan
dipantulkan serta sebagian energi lainnya akan diteruskan ke medium di
bawahnya (Telford dkk, 1976). Suatu sumber energi dapat menimbulkan
bermacam–macam gelombang, masing–masing merambat dengan cara
yang berbeda.
2.1.4.2 Tipe Gelombang Seismik
Gelombang seismik dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu:
 Gelombang badan (body waves) yang terdiri dari gelombang
longitudinal (gelombang P) dan gelombang transversal (gelombang S).
Gelombang ini merambat ke seluruh lapisan bumi.
10 | P a g e
 Gelombang permukaan (surface waves) yang terdiri dari gelombang
Love, gelombang Raleygh dan gelombang Stoneley. Gelombang ini
hanya merambat pada beberapa lapisan bumi, sehingga pada survei
seismik refleksi (survei seismik dalam) gelombang ini tidak digunakan.

2.2 Seismik Refraksi


1. Konsep Dasar Seismik Refraksi
Metode seismik refraksi merupakan salah satu metode geofisika untuk
mengetahui penampang struktur bawah permukaan, merupakan salah satu
metode untuk memberikan tambahan informasi yang diharapkan dapat
menunjang penelitian lainnya. Metode ini mencoba menentukan kecepatan
gelombang seismik yang menjalar di bawah permukaan. Metode seismik
refraksi didasarkan pada sifat penjalaran gelombang yang mengalami refraksi
dengan sudut kritis tertentu yaitu bila dalam perambatannya, gelombang
tersebut melalui bidang batas yang memisahkan suatu lapisan dengan lapisan
yang di bawahnya yang mempunyai kecepatan gelombang lebih besar.
Parameter yang diamati adalah karakteristik waktu tiba gelombang pada
masing-masing geophone.
Keterbatasan metode ini adalah tidak dapat dipergunakan pada daerah
dengan kondisi geologi yang terlalu kompleks. Metode ini telah dipergunakan
untuk mendeteksi perlapisan dangkal dan hasilnya cukup
memuaskan. Menurut Sismanto (1999), asumsi dasar yang harus dipenuhi
untuk penelitian perlapisan dangkal adalah:
 Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan setiap lapisan menjalarkan
gelombang seismik dengan kecepatan yang berbedabeda.
 Semakin bertambah kedalamannya, batuan lapisan akan semakin kompak.
 Panjang gelombang seismik lebih kecil daripada ketebalan lapisan bumi.
 Perambatan gelombang seismik dapat dipandang sebagai sinar, sehingga
mematuhi hukum – hukum dasar lintasan sinar.
 Pada bidang batas antar lapisan, gelombang seismik merambat dengan
kecepatan pada lapisan dibawahnya.

11 | P a g e
 Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman.

2. Penjalaran Gelombang Seismik


Dalam penj alaran gelombang seismik, kita hanya akan membahas
gelombang longitudinal saja (P). Gelombang transversal (S) dan gelombang
permukaan tidak memberikan prospek yang baik pada saat ini.
Dimana :
S = Sumber ledakan
G = Geopon (penerima)
V1= Kecepatan gelombang pada lapisan pertama
V2= Kecepatan gelombang pada lapiasan kedua
X = jarak dari S ke G

2.3 Parameer Akuisisi Data Seismik Refraksi


Akuisisi data merupakan pekerjaan bagian terdepan dari suatu eksplorasi.
Persiapan awal yang harus dilakukan adalah menentukan parameter-parameter
lapangan yang cocok dari suatu daerah yang hendak disurvey. Penentuan parameter
ini sangat penting karena akan menentukan kualitas data yang akan diperoleh.
Parameter lapangan dari suatu daerah biasanya tidak sama untuk daerah lain yang
berbeda. Maksud dari penentuan parameter lapangan ini adalah untuk menetapkan
parameter awal dalam suatu rancangan survey (akuisisi data) yang dipilih sedemikian
rupa sehingga dalam pelaksanaannya akan diperoleh informasi target selengkap
mungkin dengan noise serendah mungkin (perbandingan S/N tinggi).
1. Offset Terjauh (far offset)
Adalah jarak antara sumber seismik dengan geophone/receiver terjauh. Penentuan
offset terjauh didasarkan atas pertimbangan kedalaman target terdalam yang ingin
dicapai dengan baik pada perekaman (gambar 1.1.).
2. Offset Terdekat (near offset)
Adalah jarak antara sumber seismik dengan geophone/receiver terdekat.
Penentuan offset terdekat didasarkan atas pertimbangan kedalaman target yang
terdangkal yang masih dikehendaki
3. Group Interval

12 | P a g e
Adalah jarak antara satu kelompok geophone terhadap satu kelompok geophone
yang berikutnya. Satu group geophone ini memberikan satu sinyal atau trace yang
merupakan stack atau superposisi dari beberapa geophone yang ada dalam
kelompok tersebut. Susunan geophone di dalam kelompok ini tertentu untuk
meredam noise.
4. Ukuran Sumber Seismik (Charge Size)
Ukuran sumber seismik (dynamit, tekanan pada air gun, water gun, dll) merupakan
ukuran energy yang dilepaskan oleh sumber seismik. Sumber yang terlalu kecil jelas
tidak mampu mencapai target yang dalam, sedangkan ukuran sumber yang terlalu
besar dapat merusak event (data) dan sekaligus meningkatkan noise. Oleh karena
itu diperlukan ukuran sumber yang optimal melalui test charge.
5. Kedalaman Sumber (Charge Depth)
Sumber sebaiknya ditempatkan di bawah lapisan lapuk, sehingga energy sumber
dapat ditransfer optimal masuk ke dalam istem lapisan medium di bawahnya.
Untuk mengetahui ketebalan lapisan lapuk dapat diperoleh dari hasil survey
seismik refraksi atau up hole survey
6. Kelipatan Liputan (Fold Coverage)
Fold Coverage adalah jumlah atau seringnya suatu titik di subsurface terekam oleh
geophone di permukaan. Semakin besar jumlah fold-nya, kualitas data akan
semakin baik seperti contoh gambar 1.3. Untuk mengetahui berapa kali titik
tersebut akan terekam dapat dilakukan perhitungan sebagai barikut; Jika diketahui
jarak trace (antar trace), jarak shot point SP (titik ledakan dynamit) dan jumlah trace
(kanal) maka banyak liputannya adalah,
Jarak trace
Fold Coverage  x Jumlah Kanal (geophone) x 100% (1.1)
2 x jarak SP
Atau, bila suatu lintasan seismik ditembak secara teratur, maka bilangan kelipatan
liputannya bisa juga dihitung dengan rumus,
Jumlah Trace dalam satu SP
Fold Coverge  x 100% (1.2)
2 x langkah group
Sebagai Contoh :
Apabila dalam setiap shot point terdiri dari 24 trace, penembakan dari satu SP ke
SP berikutnya group geophone maju 1 langkah, maka diperoleh,

13 | P a g e
Fold Coverage = 24/(2 x 1) = 12 atau 1200 % (12 fold)
Kalau group geophone maju 2 langkah, maka
Fold Coverage = 24/(2 x 2) = 6 atau 600 % (6 fold)
7. Laju Pencuplikan (Sampling rate)
Laju pencuplikan akan menentukan batas frekuensi maximum yang masih dapat
direkam dan direkonstruksi dengan benar sebagai data. Frekuensi yang lebih besar
dari batas maximum akan mengakibatkan timbulnya aliasing. Batas frekuensi
maximum ini disebut frekuensi Nyquist . Pada umumnya sinyal frekuensi tinggi
dicuplik dengan laju pencuplikan 2 ms atau 1 ms agar terhindar dari alias. Frekuensi
Nyquist dihitung dengan persamaan,
1
fq 
2t
fq = frekuensi Nyquist ; t = laju pencuplikan

Sinyal yang mempunyai kandungan frekuensi > fq akan direkam dan direkonstruksi
menjadi sinyal yang mempunyai kandungan frekuensi yang lebih rendah dari pada
kandungan frekuensi sebenarnya (alias).

8. Tapis Potong Rendah (Low Cut Filter)


Merupakan tapis/filter yang dipasang pada instrumen perekaman untuk
memotong/ menurunkan amplitudo frekuensi gelombang/trace yang rendah. Misal
untuk memotong frekuensi gelombang < 5,3 Hz dengan laju penurunan 18 dB/oct.
9. Frekuensi Geophone
Adalah watak geophone dalam merespon suatu gelombang seismik. Suatu
geophone
mampu merekam gelombang seismik sampai batas frekuensi rendah tertentu yang
pada umumnya (7-28 Hz) untuk refleksi, dan 4,5 Hz untuk refraksi dan untuk
frekuensi tinggi biasanya cukup besar (200 Hz). Responsibilitas geophone ini
disebabkan oleh adanya faktor peredaman (dumping) dari gerakan massa terhadap
koil di dalam geophone. Misal untuk geophone jenis GSCD-20,10 Hz.
10.Panjang Perekaman (Record Length)

14 | P a g e
Adalah lamanya merekam gelombang seismik yang ditentukan oleh kedalaman
target. Apabila targetnya dalam maka diperlukan lama perekaman yang cukup agar
gelombang yang masuk ke dalam setelah terpantul kembali dapat direkam di
permukaan. Minimal 1 detik dari target, namun pada umunya  2 kali kedalaman
taget (dalam waktu).
11.Rangkaian Geophone (Group Geophone)
Adalah sekumpulan geophone yang disusun sedemikian rupa sehingga noise yang
berupa gelombang horizontal (Ground roll, Air blast/air wave) dapat ditekan sekecil
mungkin. Kemampuan menekan noise oleh susunan geophone tersebut
bergantung pada jarak antar geophone, panjang gelombang noise, dan konfigurasi
susunannya.

12.Panjang lintasan
Panjang lintasan ditentukan dengan mempertimbangkan luas sebaran/panjang
target di sub-surface terhadap panjang lintasan survey di surface.
12.Larikan Bentang Geophone (Geophone Array)
Bentang Geophone menentukan informasi kedalaman rambatan gelombang, nilai
kelipatan liputan dan alternatif sistem penembakan pada daerah-daerah sulit,
seperti lintasan menyeberangi sungai lebar dll.
14.Arah Lintasan
Ditentukan berdasarkan informasi studi pendahuluan mengenai target. Survey
akan dilakukan pada arah memotong atau membujur atau sembarang terhadap
orientasi target. Pada arah dip atau strike, up dip atau down
15.Spasi Antar Lintasan
Pertimbangan spasi antar lintasan melibatkan segi teknis dan ekonomis. Dari segi
teknis akan dilihat pada kepentingan survey, yaitu untuk studi pendahuluan atau
studi pengembangan atau sebagai data pelengkap saja (gambar 1.7.). Sedangkan
dari segi ekonomis tentu menyangkut besarnya dana yang tersedia. Semakin rapat
semakin mahal, namun demikian apakah data yang diperoleh cukup memadai atau
mubazir relatif terhadap kepentingannya.

15 | P a g e
2.4 Tahapan Akuisisi Dat Seismik
Sebelum melakukan akuisisi data, tentukan dahulu sasaran yang akan dicapai,
problem-problem apa saja yang ada dan masalah-masalah yang mungkin akan muncul
pada daerah survey. Paling tidak ada beberapa problem yang harus dijawab yaitu :
1. Bagaimana desain survey dan pola point dalam grid yang akan digunakan sebagai
acuan untuk pengambilan data seismik yang menentukan resolusi penampang yang
akan dihasilkan
2. Berapa kedalaman target
3. Bagaimana kualitas refleksi
4. Bagaimana resolusi vertikal yang diinginkan
5. Seberapa besar kemiringan target yang tercuram
6. Apa ciri-ciri jebakan yang menjadi sasaran
7. Apa problem noise yang khusus
8. Bagaimana problem logostik team
9. Apa ada spesial proses yang mungkin diperlukan

Secara umum kegiatan akuisisi data seismik adalah dimulai dengan membuat
sumber getarbuatan, seperti palu seismik, vibroseis atau dinamit, kemudian mendeteksi
dan merekamnya ke suatu alat penerima (receiver), seperti geophone atau hidrophone.
Getaran hasil ledakan akan menembus ke dalampermukaan bumi dimana sebagian dari
sinyal tersebut akan diteruskan dan sebagian akandipantulkan kembali oleh reflektor.
Sinyal yang dipantulkan kembali tersebut akan direkamoleh alat perekam
di permukaan.Sedangkan sinyal yang menembus permukaan bumi akan dipantulkan
kembali oleh bidangrefleksi yang kedua snyalnya akan diterima kembali oleh alat
perekam dan seterusnya hinggake alat perekam yang terakhir. Alat perekam akan
menghasilkan data berupa trace seismik. Sedangkan untuk tata cara dalam operasi
penyelidikan seismik adalah sebagai beikut:

1. Pelaksanaan tes parameter akuisisi agar survei optimal


2. Pembuatan desin survei koordinat teoritik dari titik-titk tembak dan receiver
3. Pengukuran dan pemberiaan tanda terhadap koordinat titk tembak dan reciver oleh
tim topografi dan sambil melakukan pembukaan akses jalan, serta memindahkan
(offset dan kompensasi) titik tembak jika ditemukan penghambat dalam survei.

16 | P a g e
4. Pengeboran lubang titik shot source dengan kedalaman tertentu sesuai dengan hasil
parameter tes yang dilakukan atau persiapan lempeng jika menggunakan palu seismik
5. Pengisian lubang dengan bahan peledak sesuai dengan aturan atau penaruhan
lempeng palu seismik di tempat yang langsung kontak dengan tanah
6. Penutupan kembali lubang yang telah diisi dengan campuran rumput, tanah, jerami,
daun sampai lubang bener-benar tertutup rapat.
7. Pengukuran/pengecekan terhadap koordinat aktual yang telah diisi.
8. Selanjutnya dilakukan kontrol kualitas lubang shot point untuk mengurangi resiko
terjadinya missfire dan weakshot.
9. Pembentangan kabel dan pemasangan geophone untuk kondisi permukaan yang
kering dan hydrophone untuk kondiisi berair.
10. Perekaman dengan melakukan penembakan shot point dan mengaktifkan reciver
dengan jumlah channel yang aktif disesuaikan dengan hasil tes parameter yang
dilakuakan. Sebelum penembakan dilakuakan, ada petugas yang bertugas untuk
menghentian bising.
11. Kontrol kualitas data rekaman, untuk memastikan data telah memenuhi syarat atau
malah perlu dilakuakan penembakan ulang.
12. Penyimpanan data rekaman dan kemudian data dari mobil labo dibawa ke basecamp.
13. Pengolahan data lapangan

2.5 Noise Yang Dapat Menggaggu Proses Akuisisi Data Seismik Refraksi
Berdasarkan land dan marine seismic acquisition, jenis noise dalam seismik
refraksi dapat dibedakan menjadi :
a. Impulsive and swell noise : mengkontaminasi trace pada near offset dan
merupakan noise dengan level sangat tinggi dan mempengaruhi frekuensi dalam
rentang yang terbatas. Misal : gelombang laut yang mengenai streamer. Denoising :
F-X domain.
b. Interference noise : berasal dari sumber sekunder yang memiliki waktu tiba dan
frekuensi yang tidak dapat diprediksi dari satu shotpoint ke berikutnya jika
sumber noise yang menginterferensi tidak secara terus menerus
merambatkan noise. Misal : akibat tembakan dari shot yang lain.
Denoising : SRME (Surface Related Multiple Elimination).
c. Random noise : kapal, perahu, rig, kabel panjang.
d. Denoising : tau-p domain (Radon)

17 | P a g e
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Metode seismik
refraksi merupakan salah satu metode geofisika untuk mengetahui penampang
struktur bawah permukaan, merupakan salah satu metode untuk memberikan
tambahan informasi yang diharapkan dapat menunjang penelitian lainnya. Metode ini
mencoba menentukan kecepatan gelombang seismik yang menjalar di bawah
permukaan. Metode seismik refraksi didasarkan pada sifat penjalaran gelombang
yang mengalami refraksi dengan sudut kritis tertentu. Secara umum kegiatan akuisisi
data seismik adalah dimulai dengan membuat sumber getarbuatan, seperti palu
seismik, vibroseis atau dinamit, kemudian mendeteksi dan merekamnya ke suatu alat
penerima (receiver), yang dapat dilakukan di land atau marine dengan kondisi dan
noise yang berbeda-beda pula.

3.2 Saran
Diharapkan dalam penerapan akuisisi data seismik dilakukan dengan persiapan yang
matang dengan menentukan parameter-parameter lapangan yang cocok dari suatu
daerah yang hendak disurvey sebab akan menentukan kualitas data yang akan
diperoleh yang biasanya tidak sama untuk daerah lain yang berbeda, sehingga kualitas
data yang didapat dapat bernilai tinggi yang kemudian akan dilakukan processing data
seismiknya.

18 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Seismic Experiments & Modelling (exploration and ... Publication of Drijkoningen, 2006,
Rademakers. Slob and Fokkema, Geophysics
Sismanto, 1996, Modul Seismik Eksplorasi : Akuisisi Data Seismik, Laboratorium Geofisika
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjahmada

DAFTAR PERTANYAAN
 Apakah ada kriteria laut untuk survey seismik marine? (Rya Yudhi A.)

Jawab : Dalam survei seismik di laut, gelombang energi mengarah langsung pada
dasar laut dan mendasari lapisan geologi ke berbagai kedalaman – dari beberapa ratus ke
beberaparibuan meter dibawah tanah. Selama survei seismik, suatu zona eksklusif
keamanan sementara akan diumumkan,dengan radius 500m di depan kapal dan dari unjung
alat streamer yang digandeng. Jarak sesungguhnya dari pantai dan kedalaman air pada
akhir dari garis-garis tersebut akan ditentukan setelah dilakukan suatu survei
batimetrik (dengan menggunakan teknik pembunyian untuk gema dan pengamatan
sonar samping) sebelum kapal seismik beradadi lokasi. Krireria yang terpenting antara
lain kedalaman laut, semakin dalam maka perambatan gelombang semakin lama;
gelombang (tinggi, periode, distribusinya), semakin besar maka distribusi lokal
gelombang akan sulit fokus; seismik, bergantung dari elastisitas seafloor dan kondisi
tanahnya; angin, arus sebagai noising yang berpengaruh pada akuisisi; marine growth
sebagai faktor pemantulan gelombang dan sifat gelombang setelah mengenai
seafloor

 Pada setiap geophone apakah dihubungkan dengan kabel konektor GeoDe atau satu
line hanya satu? (Fitra Sulestianson)
Jawab : Kabel konektor disini berfungsi layaknya streamer yang digunakan dalam
akuisisi dseismik laut yang berguna sebagai penghubung seluruh alat dalm akuisisi,
terutama receiver atau dalam hal ini berupa geophone dan hidrophone, jadi semua
geophone yang akan digunakan sebagai receiver harus dihubungkan pada kabel
konektor yang kesemuanya akan terhubung dalam GeoDe lalu di transfer ke pc dalam
tiap data yang diperoleh.

19 | P a g e
 Apakah pada proses pengambilan data di land, 1 kali dentuman palu akan
mendapatkan satu data atau diperlukan berapa kali dentuman untuk mendapatkan
sebuah data? (M. Tajul A.)
Jawab : Pertama kita definisikan arti thumper atau palu seismik itu sendiri. Thumper
adalah jenis bhan non ledakan yg paling tua yg pling sering dgunakan. Thumper ini
terdri dari muatan masa sberat 3 ton. Muatan ini (biasanya berbentk palu) diangkat
kira2 3 meter dri tanah dan dijathkan kmbli ke tanah. Dalam akuisisi data seismik,
setiap 1x thumper djatuhkan ke tanah,maka akn tercatat 1 data saja. Setelah kita
menjatuhkan thumper ketanah, sinyal seismik akan bekerja sesuai refleksi atw refraksi
lalu masuk ke pc. Kemudian kita catat sbg 1 data. Itulah kenapa terdpat jeda waktu
sbelum kita menjatuhkan thumper ke tanah stiap mengambil data.Ini untuk
membiarkan data masuk ke pc dlu bru kita mengambil data lainnya, Jadi untuk
mengambil beberapa data dperlukan beberapa kali dentuman pula. Hal ini juga
berkaitan dengan resolusi seisimic data yang dihasilkan, semakin banyak shot source
yang diberikan maka resolusinya akan semakin baik tergantung dari dimensi seismik
yang di ambil apakah 2D atau 3D.
 Pada pengambilan data di lautan, apakah ikan yang berada di dalamnya akan
mempengaruhi gelombang pemancaran? (Barqi Muhammad I)
 Jawab : Iya, karena gerakan ikan termasuk ke dalam noise random. Oleh karena itu
untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, selama operasi akuisisi data disertai dua
buah kapal perintis (chase boat) yakni sekitar 2 mil di depan kapal utama yang
berfungsi untuk membersihkan lintasan yang dilewati serta menghalau ikan-ikan dan
kapa-kapal agar pergi dari daerah survey, termasuk kapal2, rumpon, perangkap ikan,
atau kumpulan ikan lumba2 yg dapat menghalangi jalur yg telah ditentukan. Tetapi
dengan pemrosesan seismik modern memungkinkan jalur seismik yang menyimpang
sehingga di buat trek atau jalur yang sesuai atau tidak sesuai jalur dengan membuat
jalur baru yang merusak habitat flora disekitarnya. Walaupun penggunaan instrumen
navigasi inersia untuk survey tanah yang lebih baru dapat menurunkan dampak
ledakannya Dan dampak kerusakan lingkungan yang paling utama utama untuk survei
laut adalah potensi sumber gempa mengganggu kehidupan hewan, khususnya
cetacea seperti ikan paus dan ikan lumba-lumba. Survei ini menggunakan frekuensi
ledakan 15-45 Hz dengan Air Gun pneumatik di bawah permukaan laut , kapal yang
20 | P a g e
digunakan untuk survei ini juga memancarkan gelombang yang berfrekuensi rendah
(10-300 Hz),dengan intensitas tinggi (215-250 dB).
 Geophone di laut itu di dasar laut atau di atas kapal? Terus noise di laut selain ombak
itu apa? (Dwi wahyu Purboyo)
Jawab : Lebih tepatnya hidrophone, yang dapat diletakkan di permukaan laut atau
tepat di kontak seafloor, keduanya sama dalam sisi konsep hanya saja jika di letakkan
di permukaan laut maka data akan ditransmisikan dulu ke satelit kemudian diterima
oleh kapal penerima, sedangkan jika pada seafloor data akan disalurkan pada
bouyant receiver lalu dikirimkan ke kapal penerima data tergantung dari kondisi noise
dan topografi seafloor yang teridentifikasi. Noise selain ombak, untuk marine juga
terdapat noise berupa random noise seperti kapal, perahu, rig, kabel panjang, atau
ikan besar dibawah permukaan laut.

21 | P a g e