Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH VULKANOLOGI

“KEDUDUKAN TEKTONIK GUNUNG API DAN PEMBENTUKAN MAGMA”

OLEH:

GARALDI KAPOH (17503016)

MINCE MANGUMA (17503006)

MUSA ARIKALANG (17503015)

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN FISIKA

2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, hanya karena berkat, rahmat dan karunia-
Nya saja kami bisa menyelesaikan makalah kami yang berjudul “kedudukan tektonik gunung
api dan pembentukan magma” dengan mata kuliah vulkanologi.

Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dan memenuhi kewajiban tugas
FISIKA. Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Tondano, 24 september 2019

penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 2

BAB I .............................................................................................Error! Bookmark not defined.

PENDAHULUAN .........................................................................Error! Bookmark not defined.

1.1 LatarBelakang ......................................................................Error! Bookmark not defined.

1.2 Rumusan Masalah ................................................................Error! Bookmark not defined.

1.3 Tujuan...................................................................................Error! Bookmark not defined.

1.4 Manfaat.................................................................................Error! Bookmark not defined.

BAB II............................................................................................Error! Bookmark not defined.

PEMBAHASAN ............................................................................Error! Bookmark not defined.

2.1 pengertian GunungApi .........................................................Error! Bookmark not defined.

2.2 kedudukan Tektonik GunungApi .........................................Error! Bookmark not defined.

2.3 pengertian Magma ................................................................Error! Bookmark not defined.

2.4. Proses Pembentukan Magma ..............................................Error! Bookmark not defined.

BAB III ..........................................................................................Error! Bookmark not defined.

PENUTUP......................................................................................Error! Bookmark not defined.

3.1 KESIMPULAN ....................................................................Error! Bookmark not defined.

3.2 SARAN ................................................................................Error! Bookmark not defined.

DAFTAR
PUSTAKA.........................................................................................................................
Error! Bookmark not defined.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permukaan Bumi telah mengalami banyak perubahan karena fenomena yang dikenal
sebagai proses geologi. Erosi tebing, letusan gunung berapi, atau sedimentasi di muara
sungai adalah contoh dari proses-proses geologi. Agen geologi yang bertanggung jawab
untuk proses tersebut: gelombang, panas internal bumi, atau sungai. Tektonik, yaitu suatu
tenaga yang mengubah kulit bumi dari dalam yang menyebabkan terjadinya dislokasi
(perubahan lokasi) permukaan bumi berupa lipatan, patahan maupun retakan kulit bumi
dan batuan. Lapisan bumi yang tadinya datar karena tenaga dari dalam bumi (endogen)
akan terbentuk lipatan. Karena adanya gaya (dorongan) dari dua arah yang berlawanan,
maka akan menghasilkan lipatan yang baru. Vulkanik dapat diartikan segala aktivitas
magma dari perut bumi mencapai lapisan yang lebih atas (permukaan bumi). Magma
yang menembus permukaan bumi membentuk letusan yang dapat melahirkan gunung api.
Letusan gunung api ada dua macam, yaitu ledakan (eksplosif) dan lelehan (efusif).
Magma adalah suatu lelehan silikat bersuhu tinggi berada di dalam litosfer, yang
terdiri dari ion-ion yang bergerak bebas, hablur yang mengapung di dalamnya, serta
mengandung sejumlah bahan berwujud gas. Secara sederhana, pengertian magma adalah
kumpulan lelehan batuan cair yang berpijar dan sangat panas bercampur air dan gas di
dalam kerak bumi. Lelehan tersebut diperkirakan terbentuk pada kedalaman berkisar
sekitar 200 kilometer dibawah permukaan Bumi, terdiri terutama dari unsur-unsur yang
kemudian membentuk mineral-mineral silikat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Pengertian gunung api
2. Kedudukan Tektonik Gunung Api
3. Pengertian Magma
4. Proses Pembentukan Magma

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu ; yang pertama untuk mengetahui
pengertian dari gunung api, mengetahui kedudukan tektonik gunung api, mengetahui
pengertian magma, dan mengetahui proses pembentukan magma.

1.4 Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu menambah wawasan tentang pengertian
gunung api, kedudukan tektonik gunung api, pengertian Magma, proses pembentukan
magma. Serta menjadi bahan referensi untuk pembuatan makalah selanjutnya.
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Gunung Api

Gunung api adalah rekahan pada kerak bumi, tempat keluarnya lelehan batuan cair (yang
disebut magma) dan gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Kata ‘volcano’ (gunungapi)
berasal dari nama sebuah pulau Romawi kuno bernama ‘vulcano’ yang terletak di baratdaya
pantai Itali. Bangsa Romawi percaya bahwa ‘Vulcan’, dewa api dan pembuat senjata,
menggunakan gunung api di pulau tersebut. Gunung berapi atau gunung api secara umum
adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan
dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10km di
bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi
material yang dikeluarkan pada saat meletus. Selanjutnya, istilah gunung api ini juga
digunakan untuk nama fenomena pembentukan es gunung berapi atau gunung berapi es dan
lumpur gunung berapi atau lumpur vulkanik. Es gunung berapi yang umum di daerah yang
memiliki musim dingin yang bersalju, sedangkan gunung lumpur dapat dilihat di daerah
Kuwu, Grobogan, Jawa Tengah yang populer sebagai Bledug Kuwu. Gunung berapi ini
ditemukan dalam berbagai bentuk sepanjang hidup mereka. Sebuah gunung berapi aktif
mungkin berubah menjadi setengah off, beristirahat, sebelum menjadi tidak aktif atau mati.
Tapi gunung berapi mampu istirahat dalam waktu 610 tahun sebelum menjadi aktif kembali.
Dengan demikian, sulit untuk menentukan keadaan sebenarnya dari gunung berapi, jika
gunung berapi berada dalam keadaan istirahat atau mati. Ketika gunung berapi meletus,
magma yang terkandung dalam Magmar basement gunung berapi meletus sebagai lava atau
lava. Selain aliran lava, kerusakan yang disebabkan oleh gunung berapi melalui berbagai cara
seperti berikut:

1. Aliran lava
2. Letusan gunung berapi.
3. Aliran lumpur.
4. Abu.
5. Kebakaran hutan.
6. Gas beracun.
7. Gelombang tsunami.
8. Gempa bumi.
2.2 Kedudukan Tektonik Gunung Api
Teori continental drif yang berkembang sampai akhir tahun 1960-an berangsur-angsur
mulai tergantikan oleh plate tektonik atau tektonik lempeng. Teori ini terus berkembang
seiring dengan semakin banyaknya data yang berhasil di temukan. Berbagai pendekatan
dilakukan untuk menguji kebenaran teori ini, misalnya geomagnetisme, paleomagnetisme,
seismologi,analisa tektonik batimetri, pengeboran laut dalam, isotopik dan dan pentarhikan
paleontologi. Semua data yang di peroleh mengara pada satu hal yaitu bahwa kerak bumi
terdiri dari 7 (tujuh) fragmen lempeng litosfer dan beberapa lempeng kecil yang bergerak
secara relatif antara satu dengan yang lainnya.
Terdapat sekitar 500-600 gunungapi aktif di dunia yang terdistribusi secara tidak
random, tetapi menunjukkan suatu keteraturan yang mengikuti pola batas lempeng.
Penyebaran gunungapi di dunia 95% terletak di batas lempeng dan pengugungan lempeng
samudra. Batas lempeng yang terbentuk tidak hanya bersifat kompresi, tetapi biasa juga
bersifat ekstensi maupun transfrom. Perbedaan ini menyebabkan perbedaan menyebabkan
perbedaan sistem yang ada di dalamny, seperti di tunjukkan pada. Aktifitas vulkanisme
berdasarkan teori tektonik lempeng menurut Cas dan Wright (1988) dapat di klasifikasikan
menjadi :
1. Vulkanisme mid-ocean spreading ridge.
2. Vulkanisme interac basin prenading (misal : Tinggian Lau-Havre, Tinggian Mariana).
3. Vulkanisme ocean intra-plate (misal : Hawaiian Chain)
4. Vulkanisme intra-plate continent (misal : vulkanisme Cenozoikum Australia bagian
Timur)
5. Vulkanisme continental rift(misal : Zona Rifting Afrika Timur).
6. Vulkanisme young island yang berasosiasi dengan Zona subduksi pulung (misal:
Mariana, Tonga Kermadec ).
7. Vulkanisme micro-continental arc yang berasosiasi dengan zona subduksi pulung (misal:
Jepang, New Zeland, Indonesia).
8. Vulkanisme continental margin (masil : Andes, Cascades Volcanic Belt)
Gambar 2.1 lempeng litosfer bumi.

Gambar 2.2 hubungan system gunung api dan kedudukan tektoniknya.


2.3 Pengertian Magma

Magma adalah cairan atau larutan silikat pejar yang terbentuk secara alamiah,
bersifat mudah bergerak (mobile), bersuhu antara 700-13000C (sekitar 1200-2400
derajat Fahrenheit) dan berasal atau terbentuk pada kerak bumi bagian bawah hingga
selubung bagian atas dan bersifat asam atau basa. Secara fisika, magma merupakan
sistem berkomponen ganda (multi compoent system) dengan fase cair dan sejumlah
kristal yang mengapung di dalamnya sebagai komponen utama, dan pada keadaan
tertentu juga berfase gas.

Magma merupakan larutan silikat pijar yang panas mengandung sulfide, oksida, dan
volatile (gas), sumber magma terletak jauh di bawah bumi, pada lapisan mantel, yaitu
pada kedalaman 1200-2900 km, dari sumbernya itu kemudian magma mengalir dan
berkumpul pada suatu tempat yang dikenal sebagai dapur magma, yang terletak pada
kedalaman lebih dari 60 km. Suhu magma berkisar antara 700 - 11000C, sifatnya yang
sangat panas dan cair menyebabkan magma memiliki tekanan hidrostatis yang sangat
kuat sehingga terus bergerak menerobos untuk berusaha ke luar ke atas permukaan
bumi.

Magmatisma adalah peristiwa penerobosan magma melalui rekahan dan


celah-celah pada litosfer yang tidak sampai ke permukaan bumi, peristiwa ini
menyebabkan magma membeku di dalam bumi membenutuk batuan plutonik, proses
tesebut disebut intrusi, dan batuan yang terbentuk disebut batuan intrusi. Apabila
penerobosan magma sampai ke luar permukaan bumi, maka prosesnya dinamakan
ekstrusi, sedangkan cara keluar magma seperti ini dinamakan erupsi dan pristiwanya
dinamakan vulkanisma.

Magma secara nyata berhubungan dengan kerangka tektonik tetapi faktor detailnya
tidak diketahuidengan jelas. Pre;existing structures pada kerak bumi di atas zona
subduksi dapat membentuk zona-zona lemah tempat vulkanisme dan intrusi ter focus
(Blakely and Jachens 1990, op.cit. Muffler 1995). Zona-zona lemah berada pada batas
lempeng yang ter segmantasi dan berkaitan dengan karakteristik dari sistem
vulkanismenya.

2.4 Proses Pembentukan Magma

Para ahli berpendapat bahwa panas bumi berasal dari proses “pembusukan” material-
material radioaktif yang kemudian meluruh atau mengalami disintegration menjadi unsur
radioaktif dengan komposisi yang lebih stabil dan pada saat meluruh akan mengeluarkan
sejumlah energi (panas) yang kemudian akan melelehkan batuan-batuan disekitarnya.
Dimungkinkan, dari proses tersebut dan pengaruhnya terhadap geothermal gradient yang
mencapai 193.600°C inilah magma dapat terbentuk.

a) Komposisi Magma
Komposisi kimiawi magma terdiri dari :
• Senyawa-senyawa yang bersifat non volatile (senyawa yang tidak mudah menguap)
dan merupakan senyawa oksida dalam magma. Jumlahnya sekitar 99% dari seluruh
isi magma , sehingga merupakan mayor element, terdiri dari SiO2, Al2O3, Fe2O3,
FeO, MnO, CaO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5.
• Senyawa volatil (senyawa yang mudah menguap) yang banyak pengaruhnya
terhadap magma, terdiri dari fraksi-fraksi gas CH4, CO2, HCl, H2S, SO2 dsb.
• Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak (trace element) dan merupakan minor
element seperti Rb, Ba, Sr, Ni, Li, Cr, S dan Pb.

b) Kristalisasi Magma
Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari pengendapan larutan, melt
(campuran leleh), atau lebih jarang pengendapan langsung dari gas. Kristalisasi juga
merupakan teknik pemisahan kimia antara bahan padat-cair, di mana terjadi
perpindahan massa dari suat zat terlarut (solute) dari cairan larutan ke fase kristal
padat. Proses Kristalisasi Magma terjadi karena magma merupakan cairan yang
panas, maka ion-ion yang menyusun magma akan bergerak bebas tak beraturan.
Sebaliknya pada saat magma mengalami pendinginan, pergerakan ion-ion yang
tidak beraturan ini akan menurun, dan ion-ion akan mulai mengatur dirinya
menyusun bentuk yang teratur. Proses inilah yang disebut kristalisasi. Pada proses
ini yang merupakan kebalikan dari proses pencairan, ion-ion akan saling mengikat
satu dengan yang lainnya dan melepaskan kebebasan untuk bergerak. Ion-ion
tersebut akan membentuk ikatan kimia dan membentuk kristal yang teratur. Pada
umumnya material yang menyusun magma tidak membeku pada waktu yang
bersamaan.Kecepatan pendinginan magma akan sangat berpengaruh terhadap proses
kristalisasi, terutama pada ukuran kristal. Apabila pendinginan magma berlangsung
dengan lambat, ion-ion mempunyai kesempatan untuk mengembangkan dirinya,
sehingga akan menghasilkan bentuk kristal yang besar. Sebaliknya pada
pendinginan yang cepat, ion-ion tersebut tidak mempunyai kesempatan bagi ion
untuk membentuk kristal, sehingga hasil pembekuannya akan menghasilkan atom
yang tidak beraturan (hablur), yang dinamakan dengan mineral gelas (glass). Pada
saat magma mengalami pendinginan, atom-atom oksigen dan silikon akan saling
mengikat pertama kali untuk membentuk tetrahedra oksigen-silikon. Kemudian
tetahedra-tetahedra oksigen-silikon tersebut akan saling bergabung dengan ion-ion
lainnya dan akan membentuk inti kristal dan bermacam mineral silikat. Tiap inti
kristal akan tumbuh dan membentuk jaringan kristalin yang tidak berubah. Mineral
yang menyusun magma tidak terbentuk pada waktu yang bersamaan atau pada
kondisi yang sama. Mineral tertentu akan mengkristal pada temperatur yang lebih
tinggi dari mineral lainnya, sehingga kadang-kadang magma mengandung kristal-
kristal padat yang dikelilingi oleh material yang masih cair. Komposisi dari magma
dan jumlah kandungan bahan volatil juga mempengaruhi proses kristalisasi.
c) Seri Reaksi Bowen
Deret Bowen menggambarkan secara umum urutan kristalisasi suatu mineral sesuai
dengan penurunan suhu [bagian kiri] dan perbedaan kandungan magma [bagian
kanan], dengan asumsi dasar bahwa semua magma berasal dari magma induk yang
bersifat basa.

Gambar Bagan Seri Reaksi Bowen

Seri Reaksi Bowen merupakan suatu skema yang menunjukan urutan


kristalisasi dari mineral pembentuk batuan beku yang terdiri dari dua bagian.
Mineral-mineral tersebut dapat digolongkan dalam dua golongan besar yaitu:

1. Golongan mineral berwarna gelap atau mafik mineral.


2. Golongan mineral berwarna terang atau felsik mineral.
Dalam proses pendinginan magma dimana magma itu tidak langsung semuanya
membeku, tetapi mengalami penurunan temperatur secara perlahan bahkan mungkin
cepat. Penurunan tamperatur ini disertai mulainya pembentukan dan pengendapan
mineral-mineral tertentu yang sesuai dengan temperaturnya Pembentukan mineral
dalam magma karena penurunan temperatur telah disusun oleh Bowen. Sebelah kiri
mewakili mineral-mineral mafik, yang pertama kali terbentuk dalam temperatur
sangat tinggi adalah Olivin. Akan tetapi jika magma tersebut jenuh oleh SiO2 maka
Piroksenlah yang terbentuk pertama kali. Olivin dan Piroksan merupakan pasangan
”Incongruent Melting”; dimana setelah pembentukkannya Olivin akan bereaksi
dengan larutan sisa membentuk Piroksen. Temperatur menurun terus dan
pembentukkan mineral berjalan sesuai dangan temperaturnya. Mineral yang terakhir
tarbentuk adalah Biotit, ia dibentuk dalam temperatur yang rendah.

d. Evolusi Magma
Magma pada perjalanannya dapat mengalami perubahan atau disebut dengan evolusi
magma. Proses perubahan inilah yang menyebabkan magma berubah menjadi
magma yang bersifat lain oleh proses-proses sebagai berikut :
1. Hibridasi : Pembentukan magma baru karena pencampuran dua magma yang
berlainan jenisnya.
2. Sinteksis : Pembentukan magma baru karena proses asimilasi dengan bantuan
samping
3. Anteksis : Proses pembentukan magma dari peleburan batuan pada kedalaman
yang sangat besar.
Dari magma dengan kondisi tertentu ini selanjutnya mengalami differensiasi
magma. Diferensiasi magma ini meliputi semua proses yang mengubah magma dari
keadaan awal yang homogen dalam skala besar menjadi masa batuan beku dengan
komposisi yang bervariasi.

1. Sifat-sifat Fisik Magma

a) Viskositas dan Densitas Magma


Viskositas dan densitas magma adalah sifat fisika magma dan sebagai parameter
yang signifikan untuk memahami proses aktivitas gunung api. Viskositas magma
mengontrol mobilitas magma, densitas mengontrol arah gerakan relatif antara magma
dan material padat (batuan fragmen dan kristal). Magma yang mempunyai viskositas
rendah, seperti magma basalti, dapat membentuk lava yang sangat panjang dengan aliran
yang cepat. Sebaliknya, magma riolitis yang cukup kental sangat terbatas mengalir.
Karena kentalnya magma riolitis, maka gelembung gas di perangkap oleh magma,
mengalami ekspansi, dan dapat menyebabkan erupsi yang eksplosif.

Viskositas merupakan sifat suatu cairan atau gas yang berhubungan dengan
hambatan alir gas/cairan itu sendiri akibat adanya gaya-gaya antar partikel yang
mengalir. Viskositas magma didefinisikan sebagai perbandingan antara shear stress dan
strain rate. Lava akan mengalir pada saat shear stress lebih besar dari yield strength.
Viskositas bergantung pada komposisi/kandungan kristal, gelembung, gas (H2O), serta
temperatur dan tekanan.

Densitas ukuran kepekatan atau kemampatan suatu zat merupakan


perbandingan antara massa dan volume zat itu sendiri. Magma terdiri atas cairan si-lika,
dan material lainnya, seperti kristal, gelembung gas, dan fragmen batuan. Cairan silika
mengandung rantai panjang dan cincin polimer Si-O tetrahedra, bersama-sama kation
(seperti Ca2+, Mg2+, Fe2+) dan anion (misal OH-, F-, Cl-, S-) yang terletak secara acak,
berada dalam tetrahedra (Gambar 3). Densitas rangkaian Si-O, yang merupakan fungsi
komposisi, tekanan, dan temperatur, mengontrol sifat-sifat fisika cairan, seperti densitas
dan viskositas. Densitas cair-an silika berbeda dengan densitas magma, karena cairan
silika tidak mengandung kristal, gelembung, dan fragmen. Batuan ini akan memengaruhi
densitas magma. Densitas cairan silika mempunyai rentang antara 2850 kg/m 3 untuk
basaltik sampai 2350 kg/m3 untuk riolit.

b) Suhu Magma

Suhu magma secara umum (seperti yang ada di luar inti bumi atau lapisan outer
core) yang mencapai 5000 derajat celcius, meski jika berada di udara terbuka, suhunya
bisa turun hingga 1300 derajat celcius

Secara khusus suhu magma berdasarkan jenisnya sebagai berikut :

 Suhu magma Basaltik atau gabbroic - 1000-1200oC,


 Andesitik atau dioritik - 800-1000oC,
 Rhyolitic atau granit - 650-800oC,
 Magma Jenis Batu Vulkanik Pemadatan Batu Komposisi Kimia Konten Suhu Gas
Basaltik Basalt Gabbro 45-55% SiO2, tinggi Fe, Mg, Ca, rendah K, Na 1000-1200oC,
 RendahAndesit Diorit 55-65% SiO2, menengah di Fe, Mg, Ca, Na, K 800 -
1000 oC,
 Menenga Rhyolite Granit 65-75% SiO2, rendah Fe, Mg, Ca, tinggi di K, Na 650-800
o
C.

2. Sifat Kimia Magma

a) Magma Asam

Magma asam, yaitu magma yang banyak mengandung silika (SiO2), biasanya
berwarna terang, seperti granit dan diorit.

Magma yang bersifat asam biasanya lebih kental dan sulit membeku, mengakibatkan
terbentuknya batuan dengan komposisi kristal yang perfect atau sempurna. Hal ini
disebabkan karena pada saat terjadinya pendinginan yang lambat maka kristalnya
memiliki cukup waktu untuk membentuk dirinya.

b) Magma Basa

Magma basa, yaitu magma yang sedikit mengandung Silika (SiO2) dan
berwarna lebih gelap karena mengandung mineral yang berwarna lebih tua, seperti
gabro dan basalt.

Magma yang bersifat basa biasanya lebih encer dari pada magma asam, hal ini
disebabkan karena magma basa memiliki viskositas yang tinggi sehingga proses
pendinginannya atau pembekuannya lebih cepat dibandingkan dengan magma asam.
Dikarenakan proses pembekuannya yang begitu cepat maka kristal yang terbentuk
akan kecil – kecil bahkan ada juga yang tidak memiliki kristal sama sekali.

A. Klasifikasi Magma

Magma secara umum dapat dibedakan menjadi tiga tipe magma, yaitu:

1. Magma Basa atau Magma Basaltik (Basaltic magma)


2. Magma Intermediet atau Magma Andesitik (Andesitic magma).
3. Magma Asam atau Magma Riolitik (Rhyolitic magma)
Tiap-tiap magma memiliki karakteristik yang berbeda. Rangkuman dari sifat-sifat
mangma itu seperti terlihat di dalam Tabel.

Rangkuman Sifat-sifat Magma

Batuan
Tipe Kandungan
Beku yang Komposisi Kimia Temperatur Viskositas
Magma Gas
dihasilkan

45-55 SiO2 %,
kandungan Fe, Mg,
1000 –
Basaltik Basalt dan Ca tinggi, Rendah Rendah
1200oC
kandungan K, dan
Na rendah.

55-65 SiO2 %,
kandungan Fe, Mg, 800 –
Andesitik Andesit Menengah Menengah
Ca, Na, dan K 1000oC
menengah.

65-75 SiO2 %,
kandungan Fe, Mg,
650 –
Rhyolitik Rhyolit dan Ca rendah, Tinggi Tinggi
800 oC
kandungan K, dan
Na tinggi.

a) Berdasarkan Kandungan SiO2 atau derajat keasaman

Magma dapat dibedakan berdasarkan kandungan SiO2. Dikenal ada tiga tipe
magma, yaitu:

1. Magma Basaltik (Basaltic magma) – SiO2 45-55 % berat; kandungan Fe dan Mg


tinggi; kandungan K dan Na rendah.
2. Magma Andesitik (Andesitic magma) – SiO2 55-65 % berat, kandungan Fe, Mg,
Ca, Na dan K menengah (intermediate).
3. Magma Riolitik (Rhyolitic magma) – SiO2 65-75 % berat, kandungan Fe, Mg dan
Ca rendah; kandungan K dan Na tinggi.

b) Berdasarkan Kandungan Gas

Pada kedalaman di Bumi hampir semua magma mengandung gas. Gas memberikan
magma karakter eksplosif mereka, karena gas mengembang menyebabkan tekanan
berkurang, Kebanyakan H2O dengan beberapa CO2 , Kecil jumlah Sulfur, Cl, dan F

Penggolongan magma berdasarkan kandungan gas adalah :

1. Magma dengan kandungan gas tinggi, yaitu magma Ryolitik atau Granit
2. Magma dengan kandungan gas menengah, yaitu magma Andesitik
3. Magma dengan kandungan gas rendah, yaitu magma Basaltik..

c) Berdasarkan kimiawi dan mineralogi

Magma Jenis Batu Vulkanik Pemadatan Pemadatan Batu Komposisi Kimia:

1. Basalt Gabbro

2. SiO2 45-55 % berat; kandungan Fe dan Mg tinggi; kandungan K dan Na


rendah.

3. Andesit Diorit

SiO2 55-65 % berat, kandungan Fe, Mg, Ca, Na dan K menengah


(intermediate).

d) Berdasarkan % berat perbandingan alkali

Unsur alkali adalah golongan IA contohnya Na. untuk pengelompokan magma


berdasarkan perbandingan unsur alkali adalah sebagai beriku :

1. Magma dengan kandungan Na tinggi, contohnya: Rhyolite Granit


2. Magma dengan kandungan Na menengah, contohnya: Andesit, Diorit
3. Magma dengan kandungan Na rendah, contohnya: Basalt, Gabbro
e) Berdasarkan % berat oksida

1. Berat oksida 45-55 % berat adalah magma Basalt, Gabbro


2. Berat oksida 55-65 % berat adalah magma Andesit, Diorit
3. Berat oksida 65-75 % berat adalah magma Rhyolitic, Rhyolite, Granit

B. Intrusi dan Ekstrusi Magma


1. Intrusi Magma
Intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma di antara lapisan batuan,
tetapi tidak mencapai permukaan Bumi. Intrusi magma dapat dibedakan atas
sebagai berikut :
 Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), yaitu magma menyusup di antara dua
lapisan batuan, mendatar, dan paralel dengan lapisan batuan tersebut.
 Lakolit, yaitu magma yang menerobos di antara lapisan Bumi paling atas.
Bentuknya seperti lensa cembung atau kue serabi.
 Gang (korok), yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku
di sela-sela lipatan (korok).

2. Ekstrusi Magma

Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar ke


permukaan Bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi apabila tekanan
gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit Bumi sehingga menghasilkan letusan
yang sangat dahsyat. Ekstrusi magma inilah yang menyebabkan terjadinya
gunung api. Ekstrusi magma tidak hanya terjadi di daratan tetapi juga bisa
terjadi di lautan. Oleh karena itu gunung berapi bisa terjadi di dasar lautan.
Secara umum ekstrusi magma dibagi dalam tiga macam, yaitu:

1. Ekstrusi linear, terjadi jika magma keluar lewat celah-celah retakan atau
patahan memanjang sehingga membentuk deretan gunung berapi. Misalnya
Gunung Api Laki di Islandia, dan deretan gunung api di Jawa Tengah dan Jawa
Timur.

2. Ekstrusi areal, terjadi apabila letak magma dekat dengan permukaan bumi,
sehingga magma keluar meleleh di beberapa tempat pada suatu areal tertentu.
Misalnya Yellow Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya
mencapai 10.000 km2.

3. Ekstrusi sentral, terjadi magma keluar melalui sebuah lubang (saluran


magma) dan membentuk gunung-gunung yang terpisah. Misalnya Gunung
Krakatau, Gunung Vesucius, dan lain-lain.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Gunung api adalah rekahan pada kerak bumi, tempat keluarnya lelehan batuan cair
(yang disebut magma) dan gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Kata ‘volcano’
(gunungapi) berasal dari nama sebuah pulau Romawi kuno bernama ‘vulcano’ yang terletak
di baratdaya pantai Itali. Bangsa Romawi percaya bahwa ‘Vulcan’, dewa api dan pembuat
senjata, menggunakan gunung api di pulau tersebut. Gunung berapi atau gunung api secara
umum adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas
(batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10km di
bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi
material yang dikeluarkan pada saat meletus. Selanjutnya, istilah gunung api ini juga
digunakan untuk nama fenomena pembentukan es gunung berapi atau gunung berapi es dan
lumpur gunung berapi atau lumpur vulkanik.

Magma adalah cairan atau larutan silikat pejar yang terbentuk secara alamiah,
bersifat mudah bergerak (mobile), bersuhu antara 700-13000C (sekitar 1200-2400 derajat
Fahrenheit) dan berasal atau terbentuk pada kerak bumi bagian bawah hingga selubung
bagian atas dan bersifat asam atau basa. Secara fisika, magma merupakan sistem
berkomponen ganda (multi compoent system) dengan fase cair dan sejumlah kristal yang
mengapung di dalamnya sebagai komponen utama, dan pada keadaan tertentu juga berfase
gas.

3.2. SARAN

Dalam mata kuliah Vulkanologi kita harus mengusai apa yang di maksud dengan
Gunung Api dan Magma karena dalam mata kuliah vulkanologi sangat banyak berbicara
tentang hal itu. Dalam makalah kami ini masih banyak sekali kekurangan untuk itu semua
pembaca agar memberikan saran dan kritikan kepada kami agar dapat merevisi makalah kami
ini sehingga menjadi makalah yang layak untuk di baca dan menamba wawasan.
DAFTAR PUSTAKA

Sumintadireja, Prihadi. 2005. Vulkanologi dan Geotermal. Bandung: Institut Teknologi


Bandung Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral

Noor, Djouhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor: Pakuan University Press


Mulyo, Agung. 2004. Pengantar Ilmu Kebumian. Bandung: Pustaka Series

https/makalah pembentukan magma/academia.id.com


LAMPIRAN

Soal Jawab

1. Apa yang di maksud dengan GunungApi ?

Jawab : Gunung api adalah rekahan pada kerak bumi, tempat keluarnya lelehan batuan cair
(yang disebut magma) dan gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi.

2. Sebutkan 3 kerusakan yang di sebabkan oleh gunungapi !

Jawab :

a. Aliran lava
b. Letusan gunung berapi.
c. Aliran lumpur.

3. Pengertian Magma

Jawab : Magma adalah cairan atau larutan silikat pejar yang terbentuk secara alamiah,
bersifat mudah bergerak (mobile), bersuhu antara 700-13000C (sekitar 1200-2400 derajat
Fahrenheit) dan berasal atau terbentuk pada kerak bumi bagian bawah hingga selubung
bagian atas dan bersifat asam atau basa.

4. Jelaskan secara singkat proses pembentukan Magma !

Jawab : Para ahli berpendapat bahwa panas bumi berasal dari proses “pembusukan” material-
material radioaktif yang kemudian meluruh atau mengalami disintegration menjadi unsur
radioaktif dengan komposisi yang lebih stabil dan pada saat meluruh akan mengeluarkan
sejumlah energi (panas) yang kemudian akan melelehkan batuan-batuan disekitarnya.

5. Sebutkan 2 komposisi Kimiawi Magma !

Jawab : • Senyawa-senyawa yang bersifat non volatile (senyawa yang tidak mudah menguap)
dan merupakan senyawa oksida dalam magma. Jumlahnya sekitar 99% dari seluruh
isi magma , sehingga merupakan mayor element, terdiri dari SiO2, Al2O3, Fe2O3,
FeO, MnO, CaO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5.
• Senyawa volatil (senyawa yang mudah menguap) yang banyak pengaruhnya
terhadap magma, terdiri dari fraksi-fraksi gas CH4, CO2, HCl, H2S, SO2 .

6. Jelaskan secara singkat apa yang di maksud dengan kristalisasi magma !

Jawab : Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari pengendapan larutan, melt
(campuran leleh), atau lebih jarang pengendapan langsung dari gas.

7. Sebutkan sifat fisik magma ?

Jawab :a) Viskositas dan Densitas Magma

b) Suhu Magma

8. Berapa kisaran suhu magma secara umum ?

Jawab : Suhu magma secara umum (seperti yang ada di luar inti bumi atau lapisan outer
core) yang mencapai 5000 derajat celcius, meski jika berada di udara terbuka, suhunya
bisa turun hingga 1300 derajat celcius

9. Sebutkan 2 sifat kimia magma ?

Jawab : - magma Asam

- magma Basa

10. Jelaskan apa yang di maksud dengan Ekstrusi Magma ?

Jawab : Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar ke permukaan
Bumi dan membentuk gunung api.