Anda di halaman 1dari 15

MANUSKRIP

HUBUNGAN USIA PERNIKAHAN IBU DENGAN KEJADIAN


STUNTING DI DESA KADUMANEUH, KECAMATAN
BANJAR, KABUPATEN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN
TAHUN 2018

Disusun Oleh:
KELOMPOK 6
Awal Ramadhan 1102014051
Azizah Fitriayu Andyra 1102014055
Desya Billa Kusuma A. 1102014070
Vindhita Ratiputri 1102014273

Pembimbing:
Dr. Maya Trisiswati, MKM

KEPANITERAAN KEDOKTERAN KOMUNITAS


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
2 SEPTEMBER – 4 OKTOBER 2019
Hubungan Usia Pernikahan Ibu Dengan Kejadian Stunting Di Desa Kadumaneuh,
Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten Tahun 2019
Awal Ramadhan1, Azizah Fitriayu Andyra1, Desya Billa Kusuma A1, Vindhita
Ratiputri1 ,Maya Trisiswati2
1
Mahasiswa Kepaniteraan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
2
Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Yarsi
Hubungan Usia Pernikahan Ibu Dengan Kejadian Stunting Di Desa Kadumaneuh,
Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten Tahun 2019
Awal Ramadhan1, Azizah Fitriayu Andyra1, Desya Billa Kusuma A1, Vindhita
Ratiputri1 ,Maya Trisiswati2
1
Mahasiswa Kepaniteraan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
2
Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Yarsi
Pendahuluan
Stunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik pada masa
pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. Keadaan ini
dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang
dari -2 standar deviasi (SD) berdasarkan standar pertumbuhan menurut WHO
(WHO, 2010).

Pada tahun 2017
 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami

stunting. Pada tahun 2017, lebih dari
 setengah balita stunting di dunia
 berasal

dari Asia (55%) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) tinggal di Afrika.
Berdasrakan data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health
Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan
prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR).
Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%.
Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5%
menjadi 29,6% pada tahun 2017. Prevalensi balita sangat pendek dan pendek usia
0-59 bulan di Indonesia tahun 2017 adalah 9,8% dan 19,8%. Kondisi ini meningkat
dari tahun sebelumnya yaitu prevalensi balita sangat pendek sebesar 8,5% dan
balita pendek sebesar 19%. Provinsi dengan prevalensi tertinggi balita sangat
pendek dan pendek pada usia 0-59 bulan tahun 2017 adalah Nusa Tenggara Timur,
sedangkan provinsi dengan prevalensi terendah adalah Bali. (KEMENKES,2018)
Stunting adalah suatu sindrom di mana kegagalan pertumbuhan linier
berfungsi sebagai penanda dari beberapa kelainan patologis yang terkait dengan
peningkatan morbiditas dan mortalitas, hilangnya potensi pertumbuhan fisik,
berkurangnya perkembangan saraf dan fungsi kognitif serta peningkatan risiko
penyakit kronis pada masa dewasa. Stunting dikaitkan dengan peningkatan
morbiditas dan mortalitas akibat infeksi, khususnya pneumonia dan diare, juga
sepsis, meningitis, tuberkulosis, dan hepatitis, menunjukkan adanya kelainan
kekebalan umum pada anak-anak dengan stunting.
Stunting memiliki konsekuensi ekonomi yang penting di tingkat individu,
rumah tangga, dan masyarakat. Ada bukti yang menunjukkan hubungan antara
perawakan orang dewasa yang lebih pendek dan hasil pasar kerja seperti
pendapatan yang lebih rendah dan produktivitas yang lebih buruk. Sebagai contoh,
telah diperkirakan bahwa anak-anak yang stunting memiliki pendapatan 20% lebih
sedikit saat dewasa dibandingkan dengan orang-orang yang tidak stunting , dan
dalam perkiraan Bank Dunia, kekurangan 1% tinggi orang dewasa karena stunting
pada masa kanak-kanak dikaitkan dengan hilangnya 1,4% produktivitas ekonomi.
Stunting juga telah dilaporkan mempengaruhi kesehatan saat dewasa dan
risiko penyakit kronis. Studi pada bayi yang lahir dengan berat badan rendah
menunjukkan hubungan yang konsisten dengan tekanan darah tinggi, disfungsi
ginjal, dan metabolisme glukosa yang berubah. (De Onis & Branca, 2018)
Menurut framework WHO yang diterbitkan pada tahun 2013 menyebutkan
bahwa terdapat beberapa penyebab terjadinya stunting pada balita. Penyebab yang
pertama adalah faktor ibu dan lingkungan sekitar rumah. Faktor ibu (maternal
factor) meliputi gizi yang buruk saat pra – konsepsi, kehamilan dini, kesehatan
mental ibu, kelahiran premature, IUGR (Intra Uterine Growt Restriction), jarak
kelahiran yang pendek dan hipertensi. Faktor yang kedua adalah pemberian ASI
yang kemudian dijabarkan menjadi inisiasi menyusui dini yang terlambat, ASI non
– eksklusif, dan penyapihan yang terlalu cepat (WHO, 2012)
Usia ibu ketika pertama kali hamil sangat berpengaruh terhadap jalannya
kehamilan. Usia ideal seorang wanita untuk melahirkan adalah 20 – 25 tahun. Jika
usia ibu lebih muda atau lebih tua dari usia tersebut maka akan lebih berisiko
mengalami komplikasi kehamilan. Seorang wanita yang hamil pada usia remaja
akan mendapat early prenatal care lebih sedikit. Faktor ini yang diprediksi
menyebabkan bayi lahir dengan berat rendah (BBLR) serta kematian pada bayi.
Kematian bayi, bayi premature dan bayi lahir dengan berat badan rendah akan
tinggi pada pasangan remaja, usia laki – laki dan perempuan sama berpengaruhnya
terhadap hal ini. Sebagian besar remaja putri yang hamil memiliki IMT (Indeks
Massa Tubuh) dengan kategori underweight.
Hal ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dikarenakan kekhawatiran
pada bentuk tubuh selama masa remaja dan kurangnya pendidikan tentang gizi.
Kedua hal tersebut kemudian menjadi sebab rendahnya kenaikan berat badan ibu
selama masa kehamilan. Kenaikan berat badan yang tidak sesuai inilah yang
kemudian berakibat pada kenaikan jumlah bayi lahir premature yang menjadi salah
satu faktor terjadinya stunting pada balita . (Larasati, et al., 2018)

Menurut BKKBN, usia ideal menikah bagi perempuan minimal 21 tahun


dan 25 tahun untuk laki-laki, bahwa pernikahan di usia dini khususnya remaja akan
menghilangkan kesempatan seseorang untuk sekolah dan mematangkan kejiwaan.
Rekomendasi ini ditujukan demi untuk kebaikan masyarakat, agar pasangan yang
baru menikah memiliki kesiapan matang dalam mengarungi rumah tangga,
sehingga dalam keluarga juga tercipta hubungan yang berkualitas, karena dalam
berumah tangga sekaligus menjaga keharmonisan rumah tangga bukan suatu
pekerjaan yang mudah, karena memerlukan kedewasaan berpikir dan bertindak
setiap adanya masalah akibat ekonomi, masalah internal maupun eksternal.
(BKKBN.go.id)

Menurut World Health Organization (WHO) (2012), bahwa pada tahun


2008 terdapat 11% kelahiran yang merupakan kelahiran dari perempuan berusia 15
– 19 tahun. Sedangkan di Indonesia berdasarkan SDKI 2007, Age Specific Fertility
Rate (ASFR) usia 15-19 tahun sebesar 51 kelahiran, usia 20-24 tahun sebesar 135,
usia 25-29 tahun sebesar 134, usia 30-34 tahun sebesar 108, usia 35-39 tahun
sebesar 65, usia 40-44 sebesar 19 dan usia 45-49 sebesar 6 kelahiran. Penurunan
proporsi kelahiran tersebut mengindikasikan bahwa semakin meningkatnya
kesadaran pada risiko perkawinan dini. Meskipun terjadi penurunan proporsi
kelahiran pada remaja yaitu dari 10 persen menjadi 9 persen namun masih terjadi
disparitas atau kesenjangan yang tinggi antarprovinsi, antarwilayah, dan antarstatus
sosial-ekonomi. (Wati, 2013) (http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-03/S46369-
Dwi%20Arika%20Wati)

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dilakukan Kementerian


Kesehatan RI mengungkapkan bahwa di antara perempuan 10-54 tahun, 2,6%
menikah pertama kali pada umur kurang dari 15 tahun, dan 23,9% menikah pada
umur 15-19 tahun. Ini berarti sekitar 26% perempuan di bawah umur telah menikah
sebelum fungsi-fungsi organ reproduksinya berkembang dengan optimal. Dalam
konteks regional ASEAN, angka perkawinan anak di Indonesia adalah tertinggi
kedua setelah Kamboja. Perkawinan anak ini perlu mendapat perhatian serius
karena mengakibatkan hilangnya hak-hak anak perempuan, seperti pendidikan, ber-
main, perlindungan, keamanan, dan lainnya termasuk dampak atas kesehatan
reproduksinya. (Djamilah & Kartikawati, 2014)

Oleh karenanya perlu diteliti lebih mendalam mengenai hubungan antara


usia pernikahan ibu dengan kejadian stunting di Desa Kadumaneuh, Kecamatan
Banjar, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Metode

Penilitian ini sejatinya menggunakan desain penelitian cross sectional,


bersifat analisis bivariate serta menggunakan metode survey. Penelitian
dilaksanakan selama dua belas hari pada tanggal 9 September 2019 sampai dengan
20 September 2019 di Desa Kadumaneuh, Kecamatan Banjar, Kabupaten
Pandeglang, Provinsi Banten. Dalam hal ini yang menjadi populasi adalah seluruh
keluarga yang memiliki baduta (Bayi dibawah Dua Tahun) di Desa Kadumaneuh,
Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Sampel yang diambil
adalah seluruh baduta dengan ibu yang pernikahan pertama dibawah umur 18
tahun. Responden yang diambil berjumlah 102 responden. Adapun teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penyebaran
kuesioner yang dilakukan oleh tim peneliti. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah total sampling. Sampel yang dipilih merupakan keluarga dengan
baduta yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu ibu dengan pernikahan pertama
dibawah 21 tahun.

Hasil
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Stunting

Stunting Frekuensi Presentase


Normal 15 72,7 %
Stunting 87 85,3 %
Total 102 100%

Tabel. 1 menunjukan bahwa terdapat 102 baduta di Desa Kadumaneuh dan


dari 102 orang baduta terdapat 15 (14,7%) diantaranya stunting dan 87 orang
(85,3%) baduta normal.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Usia Pertama Ibu Menikah

Umur Menikah Frekuensi Presentase


< 21 tahun 76 74.5 %
>= 21 tahun 26 25.5 %
Total 102 100.0 %

Tabel. 2 menunjukan bahwa dari total 102 ibu baduta, sebanyak 76 (74,5%)
orang diantaranya menikah dibawah umur 21 tahun dan 26 (25,5%) orang
diantaranya menikah diumur diatas atau sama dengan umur 21 tahun.

Status Stunting
Variabel
Stunting Tidak Stunting P Value

<21 tahun 11 65
21 tahun 4 22 1.000
Total 15 87
Karakteristik responden berdasarkan umur dan pendidikan responden pada
penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden


Karakteristik Frekuensi Presentase (%)
Usia
15-65 38 100%
Jenis Kelamin
Laki-Laki 28 73,68%
Perempuan 10 26,32%

Dari data distribusi karakteristik responden presentase usia 15-65 tahun


sebesar 100%. Serta data distribusi karakteristik responden presentase laki-laki
sebesar 73,68%, lebih banyak dibandingkan dengan presentase perempuan yaitu
sebesar 26,32%.
Distribusi responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada diagram 1
dan 2, sebagai berikut :

Presentase Pekerjaan

7.89%
15.79%
Pedagang
10.53%
Karyawan
Petani
21.05%
Buruh
Supir
42.11%
Wiraswasta
2.63%

Diagram 1. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan

Dari data distribusi pekerjaan responden didapatkan kelompok pekerja


terbesar yaitu buruh dengan 16 responden (42,11%), sedangkan karyawan dengan
8 responden (21,05%), pedagang dengan (15,79%), supir dengan 4 responden
(10,53%), wiraswasta dengan 3 responden (7,89%), dan petani dengan 1 responden
(2,63%).
Presentase Jenis Pekerjaan
0%

Non Formal
Formal

100%

Diagram 2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Dari data distribusi jenis pekerjaan responden didapatkan keseluruhan


responden merupakan pekerja non-formal dengan 38 responden (100%).

Analisis Univariat
Distribusi responden berdasarkan lama kerja per hari dilihat pada tabel 1,
sebagai berikut :
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Kerja per Hari
Lama Kerjaa Frekuensi Presentase (%)
3 Jam 1 2,63%
4 Jam 3 7,90%
5 Jam 1 2,63%
6 Jam 1 2,63%
7 Jam 1 2,63%
8 Jam 27 71,05%
12 Jam 4 10,53%
Total 38 100%
Dari data distribusi lama kerja per hari didapatkan lama kerja terbesar yaitu
8 jam per hari dengan 27 responden (71,05%), sedangkan lama kerja 3 jam per hari
dengan 1 responden (2,63%), lama kerja 4 jam per hari dengan 3 responden
(7,90%), lama kerja 5 jam per hari dengan 1 responden (2,63%), lama kerja .6 jam
per hari dengan 1 responden (2,63%), lama kerja 7 jam per hari dengan 1 responden
(2,63%), lama kerja 12 jam per hari dengan 4 responden (10,53%).

Pembahasan
Menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 telah mengatur tentang jam
kerja bagi para pekerja di sektor swasta, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal
85. Pasal 77 ayat 1, Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 mewajibkan setiap
pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan waktu kerja
meliputi, 7 jam dalam sehari dan 40 jam seminggu untuk 6 hari kerja, atau 8 jam
sehari dan 40 jam seminggu untuk 5 hari kerja. (Kemenakertrans, 2011).
Dari hasil data distribusi pada keluarga binaan Desa Pangkalan, Kecamatan
Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, didapatkan lama kerja per hari
terbesar yaitu 8 jam per hari dengan 27 responden (71,05%). Dimana rata-rata para
pekerja yang ada di keluarga binaan merupakan pekerja informal yang sudah sesuai
dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 pasal 77 ayat 1.
Suma’mur (2014) menjelaskan bahwa lamanya seseorang bekerja dengan
baik dalam sehari pada umumnya 6-10 jam. Sisanya dipergunakan untuk kehidupan
dalam keluarga dan masyarakat, istirahat, tidur dan lain-lain. Memperpanjang
waktu kerja dari kemampuan lama kerja tersebut biasanya terlihat penurunan
kualitas dan hasil kerja sehingga menimbulkan penyakit serta kecelakaan akibat
kerja. Simanjuntak & Sutrisno (2011) mengatakan bahwa lama kerja yang baik
harus mengikuti ketentuan jam kerja yang mengacu pada Undang-Undang Nomor
13 tahun 2003.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian pada keluarga binaan Desa Pangkalan, Kecamatan
Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Lama kerja per hari terbesar
pada keluarga binaan ialah selama 8 jam dengan 27 responden (71,05%). Dimana
rata-rarta pekerja pada keluarga binaan menjalani pekerjaannya sesuai dengan
ketetapan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003.

Saran
berdasarkan simpulan diatas karena keterbatasan peneliti diharapkan dapat
dilakukan penelitian dengan sampel lebih banyak. selain itu diharapkan dapat
dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan antara usia
pernikahan ibu dengan kejadian stunting.

Ucapan Terima Kasih


Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dr. Maya Trsisiswati, MKM.
selaku pembimbing kelompok 6 kepanitraan kedokteran komunitas, kepada
Puskesmas Banjar, kepada kader kesehatan Desa Kadumaneuh, kepada keluarga
terpilih di Desa Kadumaneuh, serta tidak lupa pula kepada bagian Kepanitraan Ilmu
Kesehatan Masyarakat Universitas YARSI, kepada seluruh teman-teman yang
terlibat langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan penelitian ini sehingga
dapat berjalannya kegiatan penelitian ini dengan baik karena peran serta kalian
semua, terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA

BKKBN. (2012). Pernikahan Dini pada Beberapa Provinsi di Indonesia:


Akar Masalah dan Peran Kelembagaan di Daerah. Jakarta: Direktorat Analisis
Dampak Kependudukan BKKBN.

De Onis M, Branca F. 2016. Childhood stunting: A global


perspective. Matern. Child Nutr. (Suppl. 1):12–26. doi: 10.1111/mcn.12231.

Djamilah, Kartikawati ,R. 2014 .Dampak Perkawinan Anak di Indonesia.


Jurnal Studi Pemuda.3(1) .

Kementerian Kesehatan RI .(2018).Situasi Balita Pendek (STUNTING) di


Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

Larasati, et al. Amerta Nutr. 2018.Hubungan antara Kehamilan Remaja dan


Riwayat Pemberian ASI Dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja
Puskesmas Pujon Kabupaten Malang.392-40, DOI: 10.2473/amnt.v2i4.2018.392-
401

World Health Organization, 2010. Nutrition landscape information system


(NLIS) country profile indicators: Interpretation guide. WHO, Geneva,
Switzerland. .

World Health Organization, 2012. Global Nutrition Targets 2025 : Stunting


Policy Brief. WHO, Geneva, Switzerland.

Anda mungkin juga menyukai