Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Peranan infrastruktur Pertanian dalam pembangunan pertanian semakin strategis
dan penting, hal ini sangat berkaitan dengan upaya pencapaian sasaran program khususnya
program peningkatan nilai tambah. Infrastruktur Pertanian khususnya Jalan Usaha Tani
merupakan salah satu komponen dalam subsistem hulu yang diharapkan dapat mendukung
subsistem Jalan Usaha Tani, subsistem pengolahan dan subsistem pemasaran hasil
pertanian (tanaman pangan, holtikultura perkebunan dan peternakan). Pada saat ini banyak
lokasi lahan pertanian belum mempunyai/ terdapat Jalan Usaha Tani yang memadai
sehingga dapat menghambat masyarakat tani dalam berusaha dilahannya. Didalam UU No.
38 Tahun 2004 tentang jalan terdapat Klosul jalan khususnya yaitu jalan yang pembangunan
dan pembinaannya merupakan tanggung jawab departemen terkait. Sehubungan dengan itu
Jalan Usaha tani di kategorikan jalan khusus sehingga pembinaannya menjadi tanggung
jawab Departemen Pertanian.
B. TUUAN
1. Tujuan pedoman teknis/ spesifikasi teknis pengembangan jalan usaha tani adalah
memberikan pedoman secara teknis kepada kontraktor pelaksana dalam menyiapkan
pembangunan jalan usaha tani
2. Tujuan kegiatan pengembangan jalan usaha tani adalah :
a. Mempercepat transportasi sarana usaha tani dan alat mesin pertanian dari kawasan
permukiman (dusun dan desa) kelahan usaha tani.
b. Mempercepat pengangkutan produk pertanian dari lahan usaha menuju sentra
pemukiman, pemasaran dan pengolahan hasil pertanian.
c. Mengurangi biaya/ ongkos transportasi sebagai komponen biaya usaha tani.
C. SASARAN
Pada tahun 2013 kegaiatan pengembangan jalan usaha tani dilakukan sepanjang ±P 40, 785
km pada kawasan tanaman pangan sepanjang. Adapun lokasi kegiatan perkabupaten/ kota
secara lebih untuk tahun ini lebih rincinnya dapat dilihat pada lampiran dokumen lelang.
D. PENGERTIAN
Dalam pelaksanaan pengembangan jalan usaha tani diperlukan pengertian-pengertian/ istilah
untuk di pahami bersama dalam rangka perencanaan, pelaksanaan dan penilaian kegiatan.
a. Jalan Usaha tani adalah merupakan prasarana transportasi pada kawasan pertanian
(tanaman pangan, holtikultura, perkebunan dan peternakan) yang berhubungan dengan
jalan desa. Jalan ini sangat strategis dan memberi akses untuk transportasi
pengangkutan sarana usaha tani menuju lahan pertanian dan mengangkut hasil produk
pertanian dari lahan menuju pemukiman, tempat penampungan sementara/
pengumpulan atau tempat lainnya.
b. Pengembangan jalan usaha tani adalah pembuatan peningkatan kapasitas dan
rehabilitasi.
1. Pembuatan jalan usaha tani adalah membuat jalan baru sesuai kebutuhan -
Peningkatan kapasitas jalan usaha tani adalah jalan usaha tani yang sudah ada
ditingkatkan tonase/ kapasitasnya sehingga bisa dilalui oleh kendaraan yang lebih
berat/ lebih besar.
2. Rehabilitasi jalan usaha tani adalah memperbaiki jalan usaha tani yang sudah rusak
tanpa ada peningkatan kapasitas.
E. RUANG LINGKUP KEGIATAN
Ruang lingkup kegiatan pengembangan jalan usaha tani terdiri dari :
a. Penjelasan umum
b. Pembersihan damija
c. Penyusunan lapisan tanah atas ( top soil )
d. Galian/ timbunan
e. Parit jalan dengan pengaliran air
f. Pembersihan calon lokasi jalan usaha tani yang akan dibangun/ ditingkatkan
kapasitasnya direhabilitasi.
g. Pembuatan/ peningkatan kapasitas/ rehabilitasi badan jalan
h. Pembuatan/ perbaikan saluran drainase pada kanan atau kiri bahu jalan sesuai
kebutuhan
i. Pengerasan badan jalan
j. Pembuatan gorong-gorong
k. Pembuatan/ Rehabilitasi Jembatan Semi Permanen
BAB II PEDOMAN TEKNIS JALAN
A. Spesifikasi teknis kegiatan jalan usaha tani meliputi norma, standart teknis dan kriteria
sebagai berikut:
1. Penjelasan umum : Pengembangan jalan usaha tani merupakan upaya pembangunan,
peningkatan kapasitas dan rehabilitas jalan terutam dikawasan sentral usaha tani
pertanian ( tanaman pangan, holtikultura, perkebunan rakyat dan peternakan ) sebagai
akses pengangkutan sarana usaha tani, hasil usaha tani dan alat mesin pertanian.
2. Lingkup pekerjaan pembuatan jalan meliputi :
a. Pekerjaan penyiapan tanah dasar ( sub grade ) terdiri atas pekerjaan : - Pembersihan
daerah milik jalan - Pegusapan lapisan tanah atas - Galian - Timbunan - Parit jalan
b. Perkerasan lapis Pondasi bawah/ LPB kelas C (timbunan pilihan)
3. Tebal lapisan kelas C ( timbunan pilihan ) untuk jalan penghubung dan poros ditetapkan
minimal 20 cm padat atau sesuai dengan gambar rencana dan untuk jalan usaha tani
ditetapkan tebal lapisan kelas C (timbunan pilihan) 20 cm padat.
4. Apabila pada suatu lokasi tidak terdapat bahan material timbunan tanah pilihan ( kelas C
) dapat menggunakan material lain dengan persetujuan asisten teknik/ Direksi/ Pengawas
Lapangan.
5. Kemiringan arah melintang : - 2 % untuk bagian perkerasa jalan - 2 % untuk bahu jalan -
(sesuai tipikal gambar rencana)
6. Panjang/Volume Jalan Dalam Gambar Teknik Tidak diikuti tetapi mengikut
panjang/volume yang ada dalam RAB
7. Volume jalan usaha tani yang tercantum dalam dokumen kontrak tidak merupakan
kepastian, volume jalan yang sesungguhnya akan ditentukan berdasarkan realisasi
pelaksanaan dilapangan oleh pelaksana fisik atas persetujuan pengawas teknik.
8. Bahan/ material tanah timbunan ( borrowpit ) dan perkerasan sebelum dipergunakan
terlebih dahulu harus diketahui/ disetujui pengawas teknik
B. Pembersihan daerah milik jalan Pembersihan daerah milik jalan ( DMJ ) untuk jalan usaha
tani selebar 05 Untuk Badan Jalan Lebar 3 M dan 06 Untuk Lebar Jalan 4 M. Pekerjaan ini
meliputi pembersihan segala macam tumbuahan, pohon, semak-semak, sampah-sampah,
pencabutan seluruh tunggul-tunggul dan akar serta sisa konstruksi dan sisa-sisa material
lainnya dengan menggunakan peralatan Dozzer dan Chainsaw. Penggunaan Dozzer
disesuaikan dengan kondisi tanah setempat, biaya untuk pekerjaan pembersihan ini tidak
dibayar tersendiri melainkan sudah termasuk kedalam biaya Land Clearing.
C. Pengupasan lapisan tanah atas ( top soil ) Pengusapan top soil untuk pekerjaan jalan usaha
tani 4 M dan jalan usaha tani 3 M pada umumnya pekerjaan pembuangan lapisan tanah atas
ini mencakup hanya pekerjaan membuang tanah humus ( top soil ). Pembuangan tanah dan
akar-akar dengan ketebalan sekitar 30 cm dari permukaan tanah asli atau sesuai petunjuk
pengawas teknik. Pekerjaan pembuangan lapisan humus dan akar-akar dilakukan baik untuk
daerah galian maupun daerah timbunan. Setelah pekerjaan tersebut selesai barulah
dilakukan pemadatan sampai mencapai tingkat pemadatan yang disyaratkan.
D. Galian
1. Membuat galian pada tempat-tempat yang kemiringan/ tanjakannya melebihi syarat-
syarat maksimum yang ditentukan, sesuai dengan gambar rencana atau petunjuk
pengawas teknik pada pembuatan jalan baru
2. Melakukan galian/ pemotongan tebing-tebing kanan kiri untuk mendapatkan lebar badan
jalan yang direncanakan dengan kemiringan 1 : 1 atau sesuai dengan petunjuk
pengawas teknik
3. Melakukan galian/ pemotongan pada puncak pendakian, sebelum mulai menurun harus
ada daerah jalan yang rata minimum sepanjang 30 M begitu pula pada akhir penurunan
sebelum pendakian.
4. Pemotongan tebing harus dilakukan dengan rapi dan langsung dibentuk badan jalan
sesuai dengan gambar rencana. Tanah bekas galian harus ditempatkan dan diratakan
pada derah yang ditentukan oleh pengawas teknik
5. Pekerjaan pembuatan badan jalan disertai dengan pekerjaan pemadatan badan jalan
sampai mencapai angka kepadatan yang disyaratkan dan disetujui oleh pengawas teknik.
6. Kemiringan/ Landai pemotongan melintang dan memanjang badan jalan harus
benarbenar dikerjakan menurut gambar rencana dengan keharusan membuat
permukaan badan jalan yang segera dapat mengalirkan air hujan (tidak boleh terdapat
genangan air dipermukaan badan jalan).
7. Pemadatan badan jalan dilakukan lapis demi lapis setebal maksimum 20 cm untuk setiap
lapis dan harus mencapai kepadatan 95 % dari maksimum kepadatan yang diselidiki
menurut pemeriksaan kepadatan standart PB.011 (1) 76 (AASHTO-99-74,ASTM D )
manual pemeriksaan badan jalan No.01/MN/BM/197 (6). 8. Dinding tebing terpotong dikiri
kanan jalan harus dirapikan dengan kemiringan maksimum 45 Derajat dan pada
ketinggian tebing 2 M dibuat pertangga atau sesuai dengan gambar rencana. 9.
Kemungkinan didapatkan tanah dasar galian yang tak memenuhi persyaratan dalam
pekerjaan galian, maka harus di adakan penggantian tanah dasar dengan CBR minimum
4 4 % rendam air (soaked) setebal 20 cm dan apabila terdapat galian berbatu pelaksanaannya harus
mendapat petunjuk pengawas teknik dan pihak direksi. E. Timbunan 1. Bagian bagian yang rendah
harus ditimbun sampai mencapai ketinggian yang ditentukan. Tanah timbunan harus cukup baik
bebas dari sisa sisa rumput, akar-akaran dan lain-lain dan dapat mencapai nilai CBR minimum 4 %
rendam air. Dalam hal ini harus mengikuti petunjuk-petunjuk pengawas teknik. 2. Pada tempat-tempat
yang tanahnya lembek harus diadakan perbaikan tanah terlebih dahulu. Tanah yang lembek dibuang
untuk diganti dengan tanah yang baru, sehingga memenuhi persyaratan dengan persetujuan
pengawas teknik. Dasar badan jalan yang basah (rawa, lumpur) dapat menggunakan knoppel
(gambangan/para-para/meeting) dari kayu tahan air (kayu gelam atau sejenisnya) yang disusun
sepanjang jalan yang sangat lembek, kemudian baru ditimbun dengan tanah yang sesuai petunjuk
pengawas teknik. 3. Penimbunan harus dilakukan lapis demi lapis setebal maksimum 20 cm padat
setiap lapisnya. Penggilasan setiap lapisannya harus dilakukan pada kadar air optimum dan
mencapai kepadatan 95% dengan pemeriksaan kepadatan standart PB.001(1)76 manual
pemeriksaan badan jalan No. 01/NM/BM/197/(6) untuk lapisan yang paling atas/ akhir kepadatan,
harus mencapai angka 100%. Pada timbunan yang tinggi, pelaksanaannya dibuat bertangga agar
tidak mudah longsor sesuai dengan petunuk pengawas teknik. F. Parit Jalan dan Pengaliran Air
Pekerjaan ini termasuk pekerjaan badan jalan dan meliputi pelaksanaan pekerjaan berikut : 1. Parit
jalan dibuat sesuai dengan gambar rencana atau kedalaman parit tidak boleh lebih rendah dari parit
pembuangan disekitarnya atau menurut pengarahan dan petunjuk pengawas teknik. 2. Pembuangan
air dari parit jalan dibuat pengaliran air (saluran pembuangan) sesuai dengan kebutuhan keadaan
lapangan sepanjang ± 15 M. Jarak antara pengaliran air dibuat sependek mungkin dengan jarak
minimal 50 M, tergantung kondisi lapangan dan sesuai petunjuk pengawas teknik. 3. Pada tikungan
jalan di daerah galian bagian dalam tikungan terutama yang bertebing tinggi harus dibuat
pembuangan air asal parit jalan yang cukup baik (kalau diperlukan dapat digunakan gorong-gorong)
4. Guna lebih mengetahui tempat-tempat dimana air hujan dapat dialirkan dengan sempurna,
pelaksan fisik disertai pengawas teknik wajib mengadakan peninjauan/ pemeriksaan dijalan pada
waktu hujan G. Lapisan Perkerasan Sub Base 1. Apabila pekerjaan pembuatan badan jalan
dinyatakan selesai, atas perintah dan persetujuan pengawas teknik dibuat lapis perkeras jalan 2.
Tebal lapis perkerasan ditetapkan minimal cm, padat sesuai dengan gambar rencana untuk jalan
usaha tani dengan lebar 4 M, 3 M dan cm untuk jalan usaha tani lebar 3 M 3. Bahan perkerasan
adalah kelas C Alam atau Timbunan Tanah Pilihan dengan ukuran butiran terbesar 1 ¾ Inci ( ± 4,5
cm) dan bergradasi tertutup. H. Penampang Jalan Penampang jalan usaha tani diperlihatkan pada
tabel berikut : Jenis Jalan DMJ (m) A (m) B (m) Jalan Usaha Tani 10,0 4,0 1,00 Jalan Usaha Tani 8,0
3,0 1,00
5 Keterangan : DMJ = Daerah Milik Jalan B = Lebar Bahu Jalan A = Lebar Perkerasan Jalan I.
Pengendalian Mutu (Quality Control) 1. Pengendalian mutu pada tahap pembuatan jalan
dilaksanakan untuk setiap 200 m1, apabila dianggap perlu pengawas teknik dapat menambah jumlah
pemeriksaan. 2. Sebelum dimulai pekerjaan pemadatan yang sesunggunya ( baik untuk tanah
timbunan maupun lapisan perkerasan ), pelaksana fisik harus mengadakan percobaan pamadatan
atas petunjuk Pengawas Teknik sebagai berikut : ( pemadatan Sub Grade dan Pemadatan Sub Base
) a. Bahan yang akan dipadatkan terlebih dahulu dihampar setebal 20 cm atau 25 cm lebar setengah
jalur perkerasan dan paling sedikit sepanjang 45 M yang dibagi-bagi menjadi 3 bagian. Tiap-tiap
bagian dipadatkan dengan mesin gilas dengan jumlah lintasan berfariasi. b. Selanjutnya pada setiap
bagian dilakukan pemeriksaan pemadatan digambarkan pada 3 (tiga) titik. Hasil pemadatan
pemeriksaan di gambarkan dengan grafik dengan sumbu-x menggambarkan jumlah lintasan dan
sumbu-y menggambarkan kepadatan kering yang dicapai. c. Dari hasil percobaan tersebut dapat
ditetapkan jumlah lintas yang paling ekonomis dan optimal yang harus dipakai sebagai pedoman. 3.
Cara pemeriksaan didasarkan pada manual pemeriksaan bahan jalan No.01/MN/BM/1976 tentang :
a. Pemeriksaan pemadatan lapangan dengan tabung pasir/sand Cone (PB ) b. Pemeriksaan
kepadatan standar (PB ) c. Pemeriksaan CBR laboratorium (PB ) rendam air soaked d. Untuk
pelaksanaan pemeriksaan laboratorium pada butir a,b,c dapat dilakukan dilaboratorium perguruan
tinggi setempat. 4. Apabila terjadi kerusakan-kerusakan ditempat tertentu harus dilakukan
pemeriksaan secara teknis oleh pengawas teknik dengan memperlihatkan syarat-syarat teknik serta
sifat-sifat material setempat. 5. Apabila terjadi kerusakan-kerusakan pada bagian jalan perkerasan
jalan sebelum dilakukan serah terima pekerasan maupun sebelum masa pemeiharaan selesai, maka
pelaksanaan fisik harus memperbaikinya tanpa meminta biaya tambahan dari pihak pemberi kerja. 6.
Selama selang waktu pemeliharaan belum selesai, maka pelaksan fisik diharuskan mengadakan
pemeliharaan rutin, sehingga jalan tersebut tetap berfungsi. Jangka waktu pemeliharaan adalah 30
(tiga puluh) hari kalender terhitung mulai proyek selesai seluruhnya, yang dinyatakan dengan Berita
Acara oleh panitia dan ditetapkan oleh pemimpin proyek. 7. Persyaratan bahwa : Bahwa yang
digunakan untuk lapis perkerasan jalan harus memenuhi persyaratan sub base kelas C Alam (tanah
Timbunan Pilihan) sebagaimana tercantum dalam gambar rencana. Bahan lapis perkerasan jalan
terdiri dari campuran batu Kapur atau kerikil alam dengan pasir, lanau dan lempung yang persyaratan
sebagai berikut : a. Persyaratan Mutu Kadar lempung/ sand equivalent (AASHTO T-76) maksimum 25
b. Kehilangan abrasi dengan mesin Lost Angelost (MPBJ PB , ASSHTO-96) minimum 40
6 c. Kepadatan kering maksimum (ASSHTO T-180) minimum 2 gram/cm3 d. CBR maksimum 30% e.
Persyaratan gradasi (MPBJ PB ) Ukuran Saringan 1 ½ No.10 No.200 % Berat Lolos Keterangan
Lubang bujur sangkar diagonal 1 ½ 1 Inchi persegi 10 lubang 1 Inchi persegi 200 lubang 8. Bila
terjadi kondisi lapangan yang tidak sesuai dengan gambar rencana dan tidak dapat dilaksanakan,
maka dapat dilakukan perubahan desain dan relokasi dengan persetujuan Direktorat Teknik. J.
Pengukuran Hasil Kerja dan Pembayaran 1. Pengukuran Hasil Kerja a. Pengukuran hasil kerja untuk
keperluan pembayaran khususnya untuk pekerjaan jalan diukur sesuai hasil pemeriksaan yang sudah
selesai dikerjakan dan diterima baik oleh pengawas Teknik. Pengukuran harus digambar pada peta
monitoring jalan yang disetujui oleh pengawas. b. Jumlah pekerjaan jalan per-km panjang yang
ditetapakan sebagai berikut : 1. Untuk Jalan Usaha Tani dengan lebar Badan jalan 4 meter, DMJ
(Daerah Milik Jalan) 10 m, tebal cm telah dipadatkan dan diterima baik oleh pengawasan teknik. 2.
Untuk Jalan Usaha Tani dengan lebar Badan jalan 3 meter, DMJ (Daerah Milik Jalan) 8 m, tebal cm
telah dipadatkan dan diterima baik oleh pengawasan teknik. 3. Untuk jalan Usaha Tani, dengan
rincian lebar Badan jalan 3 meter cm telah dipadatkan dan diterima baik oleh pengawasan teknik. 2.
Dasar Pembayaran Pembayaran hasil pekerjaan jalan akan dibayar sesuai dengan hasil pengukuran
yang sudah selasai dikerjakan dan peta monitoring jalan (Assbuil Drawing), menurut mata
pembiayaan sebagai berikut: No. Mata Pembiayaan dan Uraian Satuan 1. Jalan Usaha Tani Lebar
badan jalan m 2. Bahu Jalan Kiri-Kanan m BAB III PEDOMAN TEKNIK PEMBUATAN DEUKER A.
Galian Tanah Galian tempat pemasangan saluran gorong-gorong/deuker dibuat sesuai dengan
gambar rencana, atau sesuai petunjuk pengawas teknik. Diameter 1,00 M, Lebar 5 meter. B.
Pemasangan a. Pembuatan pondasi batu kali dan harus sesuai dengan gambar rencana dan
pengikuti petuntuk saran pengawas teknik. b. Lantai deuker dan plat beton bertulang dengan mutu
beton minimal K-175 dan memakai besi tulangan minimal Ø 12 mm dengan jarak tulangan 20 cm. c.
Plat beton harus mencapai ketebalan minimal 20 cm, dengan elevasi yang tepat agar menjamin
kelancaran aliran air.
7 d. Kepala deuker yang dibuat dari pasangan batu gunung harus sesuai dengan ukuran
sebagaimana ditentukan dalam gambar rencana. C. Timbunan Selesai pemasangan, deuker plat
beton bertulang ditimbuni tanah setelah mendapat persetujuan pengawas teknik. Tanah timbunan
yang harus memenuhi persyaratan sesuai petunjuk pengawas teknik. Penimbunan dilakukan lapis
demi lapis pada bagian samping deuker plat dan diatas plat deuker. Pemadatan harus dilakukan
secara hati-hati dengan alat pemadat ang sesuai, agar konstruksi deuker plat yang terpasang tidak
mengalami kerusakan. D. Penyelesaian Akhir Pelaksana harus memberikan daerah kerja pembuatan
Deuker Plat dari sisa-sisa material dan lain-lain. E. Lain-lain Pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya Non-
standar akan ditentukan dalam spesifikasi khusus yang disetujui oleh Direktorat Teknik. BAB IV
PEKERJAAN JEMBATAN SEMI PERMANEN A. KETENTUAN UMUM 1. Yang dimaksud jembatan
adalah bangunan yang melintas sungai/aliran yang ada umumnya dibuat untuk bentang labih dari 3
M. 2. Type dan macam jembatan seperti tercantum pada gambar Teknik. 3. Semua pengukuran
harus dilakukan dengan teliti/cermat menurut gambar kerja dan petunjuk Direksi Lapangan/Pengawas
Teknik dan diadakan pengecekan setiap akan maupun setelah diadakan kegiatan. 4. Pelaksanakan
pembangunan jembatan tidak b oleh menghambat lalulintas, baik lalulintas jalan maupun lalulintas
air. 5. Pelaksana harus membuat jembatan sementara atau merubah arah jalan sehingga lalulintas
tidak terhambat. 6. Bila ada perbedaan antara gambar kerja dan keadaan lapangan pelaksana fisik
harus melaporkan kepada Direksi Lapangan?Pengawas teknik untuk mendapat petunjuk lebih lanjut.
B. MACAM KERJA 1. Pekerjaan ini meliputi pelaksanaan pembangunan jembatan semi permanen
sesuai dengan spesifikasi dan gambar kerja serta petunjuk Direksi maupun Pengawas Teknik. 2.
Pekerjaan meliputi : a. Pekerjaan Persiapan dan Pendahuluan b. Pekerjaan Tanah (Galian dan
Timbunan) c. Pekerjaan Bangunan Bawah, dan d. Pekerjaan Bangunan Atas. C. PEKERJAAN
TANAH 1. Galian Tanah Untuk Pondasi :
8 a. Galian tanah sesuai gambar kerja, kedalamannya harus mendapat persetujuan dari Direksi
Lapangan/Pengawas Teknik. b. Kemiringan galian harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak
terjadi longsoran. 2. Timbunan Bekas Galian Pondasi : a. Bekas galian pondasi dapat digunakan
untuk timbunan kembali, sepanjang tanah tersebut merupakan tanah baik dan mendapat persetujuan
dari pengawas Teknik/Direksi Lapangan. b. Timbunan dilaksanakan setelah pondasi dinyatakan
kering dan setelah dipasang ijuk dan pasir pada pangkal lubang peresapan. c. Timbunan dipadatkan
lapis demi lapis hingga diperoleh kepadatan maximum, (maximum 20 Cm tiap lapisnya), bila material
dalam keadaan kering harus disiram dengan air. 3. Timbunan Opritan : a. Opritan dibuat lurus landai
dan nyaman bagi pemakai jalan (maximum ±12.5%). b. Timbunan opritan harus benar-benar padat
(dipadatkan lapis demi lapis), maximum 20 Cm perlapisnya, bila material dalam keadaan kering harus
disiram air. c. Diatas timbunan tanah harus diberi lapis perkerasan (tarsitu) setebal ± 10 Cm dan
dipadatkan. d. Kemiringan kearah melintang (kemiringan lereng 1 : 1, hingga tidak longsor. e.
Pelaksana tidak boleh mengambil tanah timbunan disekitar jembatan (radius ± 200 m). f. Panjang,
tinggi dan lebar opritan sesuai gambar kerja. g. Tanah yang digunakan harus tanah baik dan
mendapat persetujuan Direksi Lapangan/Pengawas Teknik. 4. Kisdam/Kofferdam : a. Fungsinya
sebagai pelindung bangunan pada saat pelaksanaa agra ruang kerjanya terlindungi dari air, sehingga
kisdam harus dibuat sedemikian rupa dengan konstruksi kedap air dan tahan terhadap air. b. Untuk
mengeringkan air di dalam kisdam menggunakan pompa dengan kapasitas yang memadai. c.
Lebar/ruas dari kisdam dibuat sedemikian rupa agar dapat ruang bebas kerja. D. PEKERJAAN
BANGUNAN BAWAH 1. Pondasi : Pondasi yang digunakan untuk jembatan semi permanen
menggunakan 2 type(pemilihannya harus dengan persetujuan Direksi Lapangan/Pengawas Teknik
dan Supervisi yang didasarkan atas pengamatan lapangan), type tersebut : a. Pondasi sumuran
9 b. Pondasi pancang kayu a.1 Pondasi Sumuran : Terbuat dari cincin beton bertulang yang
dimensinya sesuai gambar kerja. Silinder diturunkan melalui galian, bila muka air didalam silinder
tinggi, maka diadakan pemompaan. Bagian atas dari silinder yang menghubungkan plat poor,
tulangan memanjang disisihkan ± 25 Cm dan bagian ujungnya dibengkokkan. Isi bagian bawah dan
atas terbuat dari beton kedap air dengan campuran 1 : 2 : 3 dengan ketebalan sesuai gambar kerja.
Isi bagian tengah silinder yaitu beton cyclop dengan campuran 1 : 5 : 7. a.2 Pondasi Pancang Kayu :
Pekerjaan pancang terdiri dari pemancang untuk : Pondasi tiang pancang Pilar jembatan. Kayu
pancang Ø 20 s/d 25 Cm dari kayu besi, kayu jati, kayu bitti, kayu bayam dan kayu kulahi, kayu diluar
jenis-jenis tersebut tidak diperkenankan untuk digunakan sebagai tiang pancang. Ketentuan
pelaksanaan : Penumbukan dapat dihentikan apabila dalam 10 tumbukan terakhir dengan
menggunakan besi tumbuk seberat 300 kg dengan tinggi penumbukan (slag) 1 m, maximum masuk
2.5 cm. Sebelum kayu tiang pancang diletakkan. Tanah harus digali sampai kedalaman yang
disyaratkan, agar diperoleh muka tanah yang siap untuk dipancang. Perancah tumbukan harus dibuat
kuat hingga mampu menerima getaran/goncangan pada waktu penumbukan. Apanila lapisan
tanah/dasar sungai terdiri dari batu-batu kerikil yang sulit ditembus oleh tiang pancang, maka
pelaksana fisik harus memberitahukan kepada Pengawas Teknik/ Direksi Lapangan untuk
mendapatkan petunjuk lebih lanjut perihal type pondasi yang digunakan yaitu pondasi sumuran.
Kepala tiang yang ditumbuk harus diberi topi besi, bila kepala kayu pecah/hancur pada waktu
penumbukan belum mencapai tanah keras, maka penumbukan harus dihentikan dan setelah kepala
batu dipotong kemudian ditumbuk lagi. Apabila kayu satu batang setelah ditumbuk dapat habis
masuk tanah, maka dibuat tiang sambungan (disambung) untuk ditumbuk kembali (teknis
penyambungan sesuai petunjuk direksi). Bila terdapat kelainan keadaanhingga tiang mudah masuk
tanah, pelaksana fisik harus memberitahukan kepada pengawas teknik untuk mendapatkan petunjuk-
petunjuk lebih lanjut. Sebelum penumbukan tiang dimulai harus diberitahukan kepada Pengawas
teknik untuk mendapatkan ijin memulai penumbukan. Bila jembatan telah selesai dan ternyata ada
penurunan dalam waktu masa pemeliharaan, maka pelaksana fisik harus memperbaiki sesuai
petunjuk Pengawas Teknik dengan biaya sepenuhnya ditanggung kontraktor pelaksana.
10 Bila dalam pelaksanaan pemancang pelaksana fisik mengabaikan persyaratan teknis, maka
segala akibat yang ditimbulkan menjadi beban pelaksana fisik/kontraktor pelaksana sebelumnya. 1.
Lantai Kerja : Lantai kerja terbuat dari campuran 1 : 4 yang dipasng rata dengan tebal10 cm panjang
dan lebar sesuai dengan gambar kerja. 1. Plat Poor : Plat poor terbuat dari beton bertulang dengan
campuran 1 : 2 : 3 yang ukurannya sesuai gambar kerja. 2. Abutment : a. Abutment terbuat dari
pasangan batu yang didirikan diatas plat poor sesuai gambar, batu untuk abutment dapat dari batu
kali, batu gunung atau batu cadas selektif yang bersih dari kotoran b. Campuran untuk perekat
menggunakan adukan campuran 1 Pc : 4 Ps. c. Untuk menghindari susutnya bahan pasangan batu
dibuat kolom praktis dan ring yang terbuat dari beton bertulang dengan ukuran sesuai dengan
gambar. d. Abutment diplester halus dan diaci. e. Didalam abutment dipasang drainage/peresapan
dari paralon Ø 2 yang dibagian hulunya dilengkapi ijuk, pasir dan kerikil agar drainage dapat
berfungsi dengan baik. f. Bantalan atau tumpukan gelagar terbuat dari beton bertulang dengan
ukuran sesuai dengan gambar. g. Pondasi tembok pengarah/lenning terbuat dari pasangan batu dan
terdiri diatas plat poor. h. Tembok pengarah atau lenning terbuat dari pasangan batu dengan adukan
campuran 1 : 4 diplester dan diaci hingga halus, rata serta dicat tembok (warna putih/hitam). i. Bila
terdapat skoor, tumpukan/perletakannya diusahakan tepat diring balok praktis. j. Plat injak dari beton
bertulang tebal 12 cm campuran 1 : 2 : 3 dan diletakkan dibawah opritan ± 50 cm yang perletakan
dan ukurannya sesuai gambar kerja. k. Pada tumpukan gelagar dibuat angker (tumpukan jepit) dan
stek-stek untuk menambat/mengikat gelagar (tumpukan bebas) sesuai gambar kerja. l. Peil jembatan
harus tinggi, (sesuai gambar kerja dan petunjuk direksi). E. PEKERJAAN PILAR 1. Bila bentang
jembatan lebih besar dari 8 m, maka antara abutment dibuat pilar, (kesulitan ditentukan lain). 2. Pilar
dibuat dari konstruksi kayu besi atau sejenisnya Ø cm yang tingginya disesuaikan dengan peil
lantai(jenis kayu yang digunakan seperti pasal 12 a.1 butir 2). 3. Tiang pilar dipancang dengan berat
pemukul ± 300 kg dan tingginya jatuh bebas minimal 1 m. 4. Jumlah pilar 5 tiang penempatan
disesuaikan dengan penampang melintang sungai harus mendapat persetujuan Pengawas
teknik/direksi Lapangan. 5. Agar kepala tiang tidak pecah diberi plat (topi baja). 6. Konstruksi pilar
sesuai gambar kerja.
11 F. BANGUNAN ATAS 1. Bangunan atas terdiri dari konstruksi kayu. 2. Gelagar memanjang dan
melintang terbuat dari kayu kelas I atau jenis-jenis kayu seperti kayu jati, kayu besi, kayu bitti, kayu
bayam, kayu kulahi dan kayu korumba, jenis kayu lainnya tidak diperbolehkan untuk digunakan (kayu
korumba hanya dapt digunakan untuk konstruksi yang tidak berhubungan dengan tanah/air). 3. Balok
skoor, diafragma, papan lantai, tiang sandaran dan konstruksi bangunan atas hanya dibuat dari kayu
seperti pasal Ikatan/hubungan konstruksi kayu dipergunakan paku, beugel dan baut yang ukuran
dimensinya sesuai gambar kerja atau petunjuk Direksi. 5. Balok penghambat dipasang pada jarak 3
m, khusus pada ujung lantai jembatan harus dipasang, ukuran balok penghambat 10/10 cm dipasng
melintang. G. BANGUNAN PENGAMAN Bila pekerjaan jembatan memerlukan bangunan pengaman,
maka pengawas Teknik atau Direksi Lapangan memberikan petunjuk pada pelaksana fisik untuk
memasangnya. Bangunan pengaman berupa bangunan pengaman opritan. Bangunan pengaman
opritan terbuat dari batu kali (talud). H. PEKERJAAN PENGECATAN 1. Semua bangunan bawah
pekerjaan kayu harus di teer sebelum dipasang. 2. Bagian atas yaitu tiang sandaran dicat sesuai
petujuk Direksi Lapangan. 3. Tembok pengarah (lenning) dicat tembok hingga rata dan halus. 4. Tiap
jembatan diberi nomor kode jembatan dibagian depan tembok pengarah. I. PEKERJAAN LAIN-LAIN
1. Bila didalam gambar kerja atau syarat-syarat teknis blum tercantum atau ada perbedaan antara
gambar kerja /RKS dengan kondisi lapangan atau masih ada yang belum jelas, maka pelaksana fisik
harus memberitahukan kepada Pengawas Teknik /Direksi Lapangan sebelum memulai pekerjaan
untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut. 2. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara laina adalah
pelaksana fisik memberitahukan kepada Pengawas Teknik/Direksi Lapangan perihal : a.
Pemberhentian galian untuk abutment, pemancangan dan galian sumuran b. Pemilihan
lokasi/bentang jembatan dan posisi/arahnya. c. Tinggi/peil jembatan/tinggi opritan. d. Pengecoran
bertulang Untuk mendapatkan persetujuan dan pengesahannya. 3. Dalam segala hal sehubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan ini kontraktor pelaksana harus senantiasa koordinasi dan konsultasi
dengan pihak Direksi atau Supervisi.
12 BAB V PENUTUP Apabila terdapat perbedaan ukuran dan keterangan antara RAB dan Gambar
Teknik dalam kontrak dengan spesifikasi ini, maka ang mengikat adalah RAB. Dan gambar teknik
dalam kontrak, namun perbedaan ini harus disampaikan dan mendapat persetujuan direksi
lapangan/supervise. Hal-hal yang belum tercantum dalam spesifikasi ini, akan ditentukan oleh direksi
teknik/supervise. Demikian spesifikasi ini dibuat sebagai acuan dalam pelaksanaan pekerjaan
pembangunan jalan produksi dan jalan usaha tani serta deuker. Raha, 2013 CV. Segitiga Raya
Konsultan Pusat Kendari Mukkarama, S.Pd Direktri