Anda di halaman 1dari 31

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Osteoarthritis

2.1.1 Definisi

Osteoartritis (OA) merupakan kegagalan pembaikan kerusakan di sendi

yang disebabkan oleh stress mekanik yang berlebihan (Kenneth, 2010).. Penyakit

ini bersifat degeneratif kronik non inflamasi serta

progresif lambat, ditandai dengan adanya degenerasi tulang rawan sendi,

hipertrofi tulang pada tepinya, sklerosis tulang subkondral, perubahan pada

membran sinovial, disertai nyeri, biasanya setelah aktivitas berkepanjangan, dan

kekakuan, khususnya pada pagi hari atau setelah inaktivitas. Penyakit ini disebut

juga degenerative arthritis, hypertrophic arthritis, dan degenerative joint disease.

Osteoartritis adalah bentuk artritis yang paling umum terjadi yang mengenai

mereka di usia lanjut atau usia dewasa dan salah satu penyebab terbanyak

kecacatan di negara berkembang.

2.1.2 Epidemiologi

Di Asia, China dan India menduduki peringkat 2 teratas sebagai negara dengan

epidemiologi osteoartritis tertinggi yaitu berturut-turut 5.650 dan 8.145 jiwa yang

menderita osteoartritis lutut (Fransen et. al, 2011). Data Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) tahun 2013 hasil dari wawancara pada usia ≥ 15 tahun rata-rata

prevalensi penyakit sendi/rematik sebesar 24,7%. Provinsi Nusa Tenggara Timur

(NTT) m erupakan provinsi dengan prevalensi OA tertinggi yaitu sekitar 33,1%


dan provinsi dangan prevalensi terendah adalah Riau yaitu sekitar 9% sedangkan

di Jawa Timur angka prevalensinya cukup tinggi yaitu sekitar 27% (Riskesdas,

2013). Sekitar 32,99% lansia di Indonesia mengeluhkan penyakit degeneratif

seperti asam urat, rematik/radang sendi, darah tinggi, darah rendah, dan diabetes

(Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2013). 56, 7% pasien di

poliklinik rheumatologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta didiagnosis

menderita osteoartritis (Soenarto, 2010). Gejala OA lutut lebih tinggi terjadi pada

wanita dibanding pada laki-laki yaitu 13% pada wanita dan 10% pada laki-laki.

Murphy, et.al mengestimasikan risiko perkembangan OA lutut sekitar 40% pada

laki-laki dan 47% pada wanita. Oliveria melaporkan rata-rata insiden OA panggul,

lutut dan tangan sekitar 88, 240, 100/100.000 disetiap tahunnya.

2.1.3 Klasifikasi

Pada umumnya diagnosis osteoarthritis didasarkan pada gabungan gejala

klinik dan perubahan radiografi. Gejala klinik perlu diperhatikan, oleh karena

tidak semua pasien dengan perubahan radiografi osteoarthritis mempunyai

keluhan pada sendi. Terdapat 4 kelainan radiografi utama pada osteoarthritis,

yaitu: penyempitan rongga sendi, pengerasan tulang bawah rawan sendi,

pembentukan kista di bawah rawan sendi dan pembentukan osteofit, sendi yang

dapat terkena osteoarthritis antara lain:

1. Osteoarthritis sendi lutut.

2. Osteoarthritis sendi panggul.

3. Osteoarthritis sendi-sendi kaki.


4. Osteoarthritis sendi bahu.

5. Osteoarthritis sendi-sendi tangan.

6. Osteoarthritis tulang belakang (Nur, 2009).

Namun ada pula yang membagi klasifikasi osteoarthritis berdasarkan

primer dan sekunder seperti yang dilakukan Atman et al.

2.1.2.1 Osteoartritis primer

Osteoartritis primer atau OA idiopatik belum diketahui penyebabnya dan

tidak berhubungan dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada

sendi. Meski demikian, osteoartritis primer banyak dihubungkan pada penuaan.

Pada orang tua, volume air dari tulang muda meningkat dan susunan

protein tulang mengalami degenerasi. Akhirnya, kartilago mulai degenerasi

dengan mengelupas atau membentuk tulang muda yang kecil. Pada kasus-kasus

lanjut, ada kehilangan total dari bantal kartilago antara tulang-tulang dan sendi-

sendi. Penggunaan berulang dari sendi-sendi yang terpakai dari tahun ke tahun

dapat membuat bantalan tulang mengalami iritasi dan meradang, menyebabkan

nyeri dan pembengkakan sendi. Kehilangan bantalan tulang ini menyebabkan

gesekan antar tulang, menjurus pada nyeri dan keterbatasan mobilitas sendi.

Peradangan dari kartilago dapat juga menstimulasi pertumbuhan-pertumbuhan

tulang baru yang terbentuk di sekitar sendi-sendi.


Osteoartritis primer ini dapat meliputi sendi-sendi perifer (baik satu

maupun banyak sendi), sendi interphalang, sendi besar (panggul, lutut), sendi-

sendi kecil (carpometacarpal, metacarpophalangeal), sendi apophyseal dan atau

intervertebral pada tulang belakang, maupun variasi lainnya seperti OA

inflamatorik erosif, OA generalisata, chondromalacia patella, atau Diffuse

Idiopathic Skeletal Hyperostosis (DISH).

2.1.2.2 Osteoartritis sekunder

Osteoartritis sekunder adalah OA yang disebabkan oleh penyakit atau

kondisi lainnya, seperti pada post-traumatik, kelainan kongenital dan

pertumbuhan (baik lokal maupun generalisata), kelainan tulang dan sendi,

penyakit akibat deposit kalsium, kelainan endokrin, metabolik, inflamasi,

imobilitas yang terlalu lama, serta faktor risiko lainnya seperti obesitas, operasi

yang berulangkali pada struktur-struktur sendi, dan sebagainya

2.1.4 Patofisiologi

Rawan sendi dibentuk oleh sel tulang rawan sendi (kondrosit) dan matriks

rawan sendi. Kondrosit berfungsi mensintesis dan memelihara matriks tulang

rawan sehingga fungsi bantalan rawan sendi tetap terjaga dengan baik. Matriks

rawan sendi terutama terdiri dari air, proteoglikan dan kolagen. Perkembangan

perjalanan penyakit osteoarthritis dibagi menjadi fase, yaitu sebagai berikut :

1) Fase 1

Terjadinya penguraian proteolitik pada matriks kartilago. Metabolisme

kondrosit menjadi terpengaruh dan meningkatkan produksi enzim seperti


metalloproteinases yang kemudian hancur dalam matriks kartilago. Kondrosit

juga memproduksi penghambat protease yang mempengaruhi proteolitik. Kondisi

ini memberikan manifestasi pada penipisan kartilago.

2) Fase 2

Pada fase ini terjadi fibrilasi dan erosi dari permukaan kartilago, disertai

adanya pelepasan proteoglikan dan fragmen kolagen ke dalam cairan sinovia.

3) Fase 3

Proses penguraian dari produk kartilago yang menginduksi respons

inflamasi pada sinovia. Produksi magrofag sinovia seperti interleukin 1 (IL-1),

tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), dan metalloproteinase menjadi meningkat.

Kondisi ini memberikan manifestasi balik pada kartilago dan secara langsung

memberikan dampak adanya destruksi pada kartilago. Molekul-molekul pro-

inflamasi lainnya seperti nitric oxide (NO) juga ikut terlibat. Kondisi ini

memberikan manifestasi perubahan arsitektur sendi dan memberikan dampak

terhadap pertumbuhan tulang akibat stabilitas sendi. Perubahan arsitektur sendi

dan stress inflamasi memberikan pengaruh pada permukaan artikular menjadi

kondisi gangguan yang progresif (Helmi, 2012).


2.2 Osteoarthritis lutut (genu)

2.2.1 Riwayat Alamiah

Sendi lutut terdiri atas tiga kompartemen yaitu sendi tibiofemoral yang

terbagi menjadi kompartemen medial dan lateral, serta sendi patellofemoral. Sendi

patellofemoral adalah salah satu kompartemen yang paling sering terkena pada

kasus OA lutut. Penelitian yang dilakukan oleh R. S. Hinman dan K. M. Crossley

menunjukkan bahwa OA sendi patellofemoral tidak hanya menjadi sumber

penting dari gejala OA lutut, tetapi juga bahwa orang yang menderita penyakit

OA sendi patellofemoral menunjukkan karakteristik yang berbeda dari OA sendi

tibiofemoral.

Dahulu, OA lutut dilihat sebagai suatu kelainan yang terjadi terutama pada

sendi tibiofemoral karena penilaian radiografi cenderung hanya terfokus pada X-

ray antero-posterior, yang tidak dapat mencitrakan sendi patellofemoral dengan

baik. Namun pengetahuan akan keterlibatan sendi patellofemoral dalam proses

OA semakin meningkat seiring dengan meningkatnya penggunaan X-ray lateral

dan skyline. Pada pemeriksaan radiografi, osteofit pada sendi patellofemoral lebih

banyak dibanding pada sendi tibiofemoral. Penelitian lain pada orang dengan

nyeri lutut memperlihatkan pola radiografi yang tersering adalah kombinasi sendi

tibiofemoral dan patellafemoral, diikuti oleh OA sendi patellofemoral, OA sendi

tibiofemoral, dan sisanya menunjukkan radiografi normal.


Gambar 2.1 : Penampakan radiologi lutut normal (gambar 1) dan lutut yang
mengalami osteoarthritis (gambar 2)
Sumber : Stemcelldoc‟s WeBlog, 2011

2.2.2 Diagnosa Osteoarthritis

2.2.2.1 Manifestasi Klinis

Nyeri pada sendi tersebut biasanya merupakan keluhan utama yang

membuat pasien datang ke dokter. Nyeri biasanya bertambah berat dengan gerakan

dan berkurang dengan istirahat. Pada umumnya pasien OA mengatakan bahwa

keluhannya sudah berlangsung lama tetapi berkembang secara perlahan.

Nyeri tersebut juga tidak menghilang setelah lutut pasien dikompres, nyeri makin

memberat saat pasien melipat lututnya dan menggerakkan kakinya namun sedikit

berkurang dengan istirahat.. Pada beberapa pasien OA juga dapat timbul kaku

sendi yang dapat timbul setelah imobilisasi seperti setelah duduk di kursi atau

mobil dalam waktu yang cukup lama atau bahkan setelah bangun tidur. Biasanya

kaku sendi ini berlangsung kurang dari 30 menit. .


untuk bergerak dan berjalan karena nyerinya dan pasien juga mengaku kadang

merasakan seperti ada sesuatu yang patah atau remuk ketika lututnya digerakkan.

Selain itu pasien juga mengeluhkan adanya bengkak pada lutut kirinya yang juga

dapat ditemukan pada pasien OA.

2.2.2.2 Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik, pada pasien OA ditemukan adanya gerak sendi

baik secara aktif maupun pasif. Selain itu biasanya terdengar adanya krepitasi

yang semakin jelas dengan bertambah beratnya penyakit. Gejala ini disebabkan

karena adanya pergesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi

digerakkan atau secara pasif dimanipulasi. Pada pasien ini terdengar adanya

krepitasi pada lutut kirinya ketika digerakkan secara pasif. Selain itu pada pasien

juga terdapat hambatan gerak aktif pada sendi lutut kiri yaitu pasien hanya mampu

untuk memfleksikan lututnya sebatas 40-45° saja, begitu pula jika digerakkan

secara pasif. Dari hasil pemeriksaan lokal pada sendi pasien juga ditemukan

adanya pembengkakan dan adanya tanda – tanda peradangan seperti adanya nyeri

sendi, kemerahan dan teraba hangat pada lutut kirinya. Semua tanda ini sesuai

dengan tanda – tanda pada pasien OA yang biasanya pembengkakan yang terjadi

itu disebabkan karena adanya efusi cairan dan adanya osteofit pada permukaan

sendi.
2.2.2.3 Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis osteoarthritis selain berdasarkan gejala klinis juga didasarkan

pada hasil radiologi. Namun pada awal penyakit , radiografi sendi seringkali

masih normal. Adapun gambaran radiologis sendi yang menyokong diagnosis

osteoarthritis adalah :

a) Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris ( lebih berat pada bagian

yang menanggung beban).

b) Peningkatan densitas (sclerosis) tulang subkondral.

c) Kista tulang

d) Osteofit pada pinggir sendi

e) Perubahan struktur anatomi sendi (Imayati, 2012)

Pada hasil radiografi pasien ditemukan adanya osteofit. Pemeriksaan

penunjang laboratorium osteoarthritis biasanya tidak banyak berguna. Darah tepi

(hb, leukosit, laju endap darah) dalam batas-batas normal kecuali osteoarthritis

generalisata yang harus dibedakan dengan arthritis peradangan (Imayati, 2012).

Gambar 2.2 : Gambaran radiologis sendi genu yang menyokong diagnosa


osteoarthritis.
Sumber : MendMeShop.com, 2006 – 2017
2.2.3 Grading menurut kriteria Kellgren-Lawrence dan ACRC

Pada OA terdapat gambaran radiografi yang khas, yaitu osteofit. Selain

osteofit, pada pemeriksaan X-ray penderita OA biasanya didapatkan penyempitan

celah sendi, sklerosis, dan kista subkondral.16 Berdasarkan gambaran radiografi

tersebut, grading Kellgren and Lawrence membagi OA menjadi empat grade.

1) Grade 0 : normal

2) Grade 1 : sendi normal, terdapat sedikit osteofit

3) Grade 2 : osteofit pada dua tempat dengan sklerosis subkondral, celah sendi
normal, terdapat kista subkondral

4) Grade 3 : osteofit moderat, terdapat deformitas pada garis tulang, terdapat


penyempitan celah sendi

5) Grade 4 : terdapat banyak osteofit, tidak ada celah sendi, terdapat kista
subkondral dan sklerosis

Gambar 2.3 : Gambaran radiologis menunjukkan empat grading Kellgren


Lawrence . A. Kellgren Lawrence grade 1. B. Kellgren Lawrence grade 2. C.
Kellgren Lawrence grade 3. D. Kellgren Lawrence grade 4.
\Sumber : sciencedirect.com, 2017
American College of Rheumatology (1987) mendeskripsikan kesehatan seseorang

berdasarkan derajat keparahan.

 Derajat 0 : Tidak merasakan tanda dan gejala.

 Derajat 1 : Terbentuk taji kecil, nyeri dirasakan ketika beraktifitas cukup

berat, tetapi masih bisa dilokalisir dengan cara mengistirahatkan sendi

yang terkena osteoartritis.

 Derajat 2 : Osteofit yang pasti, mungkin terdapat celah antar sendi, nyeri

hampir selalu dirasakan, kaku sendi pada pagi hari, krepitus,

membutuhkan bantuan dalam menaiki tangga, tidak mampu berjalan jauh,

memerlukan tenaga asisten dalam menyelesaikan pekerjaan rumah.

 Derajat 3-4 : Osteofit sedang-berat, terdapat celah antar sendi,

kemungkinan terjadi perubahan anatomis tulang, nyeri disetiap hari, kaku

sendi pada pagi hari, krepitus pada gerakan aktif sendi, ketidakmampuan

yang signifikan dalam beraktivitas (Woolf dan Pfleger, 2003).

2.2.4 Penatalaksanaan

Pengobatan penyakit sendi osteoarthritis dapat dilakukan dengan beberapa terapi,

antaranya adalah:

a. Terapi Non Farmakologis

1). Edukasi atau penerangan

Langkah pertama adalah memberikan edukasi pada pasien tentang

penyakit, prognosis, dan pendekatan manajemennya. Selain itu, diperlukan

konseling diet untuk pasien osteoarthritis yang mempunyai kelebihan berat badan

(Elin dkk, 2008). Ahli bidang kesehatan harus memberikan informasi pada pasien

15
dengan penyakit osteoarthritis mengikut kesesuaian keadaan dan keselesaan

pasien (Anonim, 2008).

2). Terapi fisik dan rehabilitasi

Terapi fisik dapat dilakukan dengan pengobatan panas atau dingin dan

program olahraga bagi membantu untuk menjaga dan mengembalikan rentang

pergerakan sendi dan mengurangi rasa sakit dan spasmus otot. Program olahraga

dengan menggunakan teknik isometric didesain untuk menguatkan otot,

memperbaiki fungsi sendi dan pergerakan, dan menurunkan ketidakmampuan,

rasa sakit, dan kebutuhan akan penggunaan analgesik (Elin dkk, 2008). Alat bantu

dan ortotik seperti tongkat, alat pembantu berjalan, alat bantu gerak, heel cups,

dan insole dapat digunakan selama olahraga atau aktivitas harian (Elin, dkk,

2008). Pasien osteoarthritis lutut yang memakai sepatu dengan sol tambahan yang

empuk yang bertujuan untuk meratakan pembagian tekanan akibat berat, dengan

demikian akan mengurangi tekanan di lutut (Bethesda, 2013). Kompres hangat

atau dingin serta olahraga dapat dilakukan untuk memelihara sendi, mengurangi

nyeri, dan menghindari terjadinya kekakuan (Priyanto, 2008). Kompres hangat

atau dingin ini dilakukan pada bagian sendi yang mengalami nyeri.

3). Penurunan berat badan

Penurunan berat badan dapat diterapkan dengan mempunyai gaya hidup

yang sehat (Iskandar, 2012). Penurunan berat badan dapat membantu mengurangi

beban atau mengurangi gejala pada bagian yang mengalami penyakit

osteoarthritis terutamanya pada lutut dan pinggul (Felson, 2008).

16
4). Istirahat

Istirahat yang cukup dapat mengurangi kesakitan pada sendi. Selain itu

juga istirahat dapat menghindari trauma pada persendian secara berulang

(Priyanto, 2008).

b) Terapi Farmakologi

Terapi obat pada osteoarthritis ditargetkan pada penghilangan rasa sakit.

Karena osteoarthritis sering terjadi pada individu lanjut usia yang memiliki

kondisi medis lainnya, diperlukan suatu pendekatan konservatif terhadap

pengobatan obat, antaranya (Elin dkk, 2008):

1). Golongan Analgesik

a) Golongan Analgesik Non Narkotik

(1). Asetaminofen (Analgesik oral)

Asetaminofen menghambat sintesis prostaglandin pada sistem saraf pusat

(SSP). Asetaminofen diindikasikan pada pasien yang mengalami nyeri ringan ke

sedang dan juga pada pasien yang demam. Obat yang sering digunakan sebagai

lini pertama adalah parasetamol.

(2). Kapsaisin (Analgesik topikal)

Kapsaisin merupakan suatu estrak dari lada merah yang menyebabkan

pelepasan dan pengosongan substansi P dari serabut syaraf. Obat ini juga

bermanfaat dalam menghilangkan rasa sakit pada osteoarthritis jika digunakan

secara topikal pada sendi yang berpengaruh. Kapsaisin dapat digunakan sendiri

batau kominasi dengan analgesik oral atau NSAID. Kapsaisin ini diberikan dalam

bentuk topikal, yaitu dioleskan pada bagian nyeri sendi.

17
b). Analgesik Narkotika

Analgesik narkotika dapat mengatasi rasa nyeri sedang sampai berat.

Penggunaan dosis obat analgesik narkotika dapat berguna untuk pasien yang tidak

toleransi terhadap pengobatanasetaminofen, NSAID, injeksi intra-artikular atau

terapi secara topikal. Pemberian narkotika analgesik merupakan intervensi awal

dan sering diberikan secara kombinasi bersama asetaminofen. Pemberian

narkotika ini harus diawasi karena dapat menyebabkan ketergantungan.

2). Golongan NSAID

Dalam dosis tunggal antiinflamasi nonsteriod (NSAID) mempunyai

aktivitas analgesik yang setara dengan parasetamol, tetapi parasetamol lebih

banyak dipakai terutamanya pada pasien lanjut usia.Dalam dosis penuh yang

lazim NSAID dapat sekaligus memperlihatkan efek analgesik yang bertahan lama

yang membuatnya sangat berguna pada pengobatan nyeri berlanjut atau nyeri

berulang akibat radang. NSAID lebih tepat digunakan daripada parasetamol atau

analgesik opioid dalam arthritis rematoid dan pada kasus osteoarthritis lanjut.

3). Kortikosteroid

Kortikosteroid berfungsi sebagai anti inflamasi dan digunakan dalam dosis

yang beragam untuk berbagai penyakit dan beragam individu, agar dapat dijamin

rasio manafaat dan risiko setinggitingginya. Kortikosteroid sering diberikan dalam

bentuk injeksi intra-artikular dibandingkan dengan penggunaan oral.

4). Suplemen makanan

Pemberian suplemen makanan yang mengandung glukosamin, kondroitin

yang berdasarkan uji klinik dapat mengurangi gangguan sendi atau mengurangi

simptom osteoarthritis (Priyanto, 2008). Suplemen makanan ini dapat digunakan

18
sebagai obat tambahan pada penderita osteoarthritis terutamanya diberikan pada

pasien lanjut usia.

5). Obat osteoarthritis yang lain

a). Injeksi Hialuronat

Asam hialuronat membantu dalam rekonstitusi cairan sinovial,

meningkatkan elastisitas, viskositas dan meningkatkan fungsi sendi. Obat ini

diberikan dalam bentuk garamnya (sodium hialuronat) melalui injeksi intra-

artrikular pada sendi lutut jika osteoarthritis tidak responsif dengan terapi yang

lain (Priyanto, 2008). Dua agen intra-artrikular yang mengandung asam hialuronat

tersedia untuk mengobati rasa sakit yang berkaitan dengan osteoarthritis lutut.

Injeksi asam hialuronat diberikan pada pasien yang tidak lagi toleransi terhadap

pemberian obat anti nyeri dan antiinflamasi yang lainnya (Hansen & Elliot, 2005).

Injeksi asam hialuronat diberikan oleh tenaga medis yang mempunyai keahlian

karena kesalahan dalam memberikan injeksi ini akan memperparah kondisi lutut

pasien.

c) Terapi bedah

Tindakan operasi seperti arthroscopic debridement, joint debridement,

dekompresi tulang, osteotomi, dan artroplasti merupakan tindakan yang efektif

pada penderita dengan OA yang sudah parah.Tindakan operatif ini dapat

menghilangkan nyeri pada sendi OA, tetapi kadang fungsi sendi tersebut tidak

dapat diperbaiki secara adekuat, sehingga terapi fisik pre dan pasca operatif harus

dipersiapkan dengan baik.

19
2.2.5 Faktor Risiko

Secara garis besar, faktor risiko timbulnya OA lutut meliputi usia, jenis

kelamin, ras, genetik, nutrisi, obesitas, penyakit komorbiditas, menisektomi,

kelainan anatomis, riwayat trauma lutut, aktivitas fisik, kebiasaan olah raga, dan

jenis pekerjaan.

2.2.5.1 Usia

Usia adalah faktor risiko utama timbulnya OA, dengan prevalensi dan

beratnya OA yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Lebih

dari 80% individu berusia lebih dari 75 tahun terkena OA. Bukti radiografi

menunjukkan insidensi OA jarang pada usia di bawah 40 tahun.OA hampir tidak

pernah terjadi pada anak-anak dan sering pada usia di atas 60 tahun. Meskipun

OA berkaitan dengan usia, penyakit ini bukan merupakan akibat proses penuaan

yang tak dapat dihindari.

Perubahan morfologi dan struktur pada kartilago berkaitan dengan usia

termasuk penghalusan dan penipisan permukaan artikuler; penurunan ukuran dan

agregasi matriks proteoglikan; serta kehilangan kekuatan peregangan dan

kekakuan matriks. Perubahan-perubahan ini paling sering disebabkan oleh

penurunan kemampuan kondrosit untuk mempertahankan dan memperbaiki

jaringan, seperti kondrosit itu sendiri sehingga terjadi penurunan aktivitas sintesis

dan mitosis, penurunan respon terhadap anabolic growth factor, dan sintesis

proteoglikan yang lebih kecil dan tidak seragam.

20
2.2.5.2 Jenis kelamin

Wanita berisiko terkena OA dua kali lipat dibanding pria. Meningkatnya

kejadian OA pada wanita di atas 50 tahun diperkirakan karena turunnya kadar

estrogen yang signifikan setelah menopause.. Kondrosit memiliki reseptor

estrogen fungsional, yang menunjukkan bahwa sel-sel ini dipengaruhi oleh

estrogen. Penelitian menunjukkan bahwa estrogen menyebabkan peningkatan

pengaturan reseptor estrogen pada kondrosit, dan peningkatan ini berhubungan

dengan peningkatan sintesis proteoglikan pada hewan percobaan.

2.2.5.3 Ras

Prevalensi OA lutut pada penderita di negara Eropa dan Amerika tidak

berbeda, sedangkan suatu penelitian membuktikan bahwa ras Afrika – Amerika

memiliki risiko menderita OA lutut 2 kali lebih besar dibandingkan ras Kaukasia.

Penduduk Asia juga memiliki risiko menderita OA lutut lebih tinggi dibandingkan

Kaukasia.

2.2.5.4 Genetik

Faktor genetik juga berperan pada kejadian OA lutut. Hal tersebut

berhubungan dengan abnormalitas kode genetik untuk sintesis kolagen yang

bersifat diturunkan, seperti adanya mutasi pada gen prokolagen II atau gen-gen

struktural lain untuk struktur-struktur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX

dan XII, protein pengikat, atau proteoglikan perbedaan antar pengaruh genetik

menentukan lokasi sendi yang terkena OA.

21
2.2.5.5 Nutrisi

Orang yang jarang mengkonsumsi makanan bervitamin D memiliki

peningkatan risiko 3 kali lipat menderita OA lutut.Penelitian faktor nutrisi sebagai

etiopatologi OA membuktikan adanya peningkatan risiko kejadian OA lutut pada

individu dengan defisiensi vitamin C dan E.

2.2.5.6 Obesitas

Kegemukan (obesitas) adalah faktor risiko terkuat untuk terjadinya

osteoartritis lutut. Efek obesitas terhadap perkembangan dan progresifitas OA

terutama melalui peningkatan beban pada sendi-sendi penopang berat badan. Tiga

hingga enam kali berat badan dibebankan pada sendi lutut pada saat tubuh

bertumpu pada satu kaki. Peningkatan berat badan akan melipatgandakan beban

sendi lutut saat berjalan yang menyebabkan kerusakan kartilago di samping

berhubungan melalui faktor-faktor sistemik.

2.2.5.7 Penyakit komorbid

Faktor metabolik juga berkaitan terhadap timbulnya OA, selain faktor

obesitas. Hal ini didukung dengan adanya kaitan antara OA dengan beberapa

penyakit seperti diabetes mellitus, hipertensi, hiperurisemia, dan penyakit jantung

koroner.

22
2.2.5.8 Menisektomi

Menisektomi merupakan suatu tindakan operasi yang dilakukan di daerah

lutut dan merupakan salah satu faktor risiko penting pada timbulnya OA lutut.

Osteoartritis lutut dapat terjadi pada 89% pasien yang telah menjalani

menisektomi.

2.2.5.9 Kelainan anatomis

Kelainan lokal pada sendi lutut yang dapat menjadi faktor risiko OA lutut

antara lain genu varum, genu valgus, Legg – Calve – Perthes disease, displasia

asetabulum, dan laksiti ligamentum pada sendi lutut. Kelemahan otot kuadrisep

juga berhubungan dengan nyeri lutut, disabilitas, dan progresivitas OA lutut.

Selain karena kongenital, kelainan anatomis juga dapat disebabkan oleh trauma

berat yang menyebabkan timbulnya kerentanan terhadap OA.

2.2.5.10 Riwayat trauma lutut

Trauma lutut akut, terutama kerusakan pada ligamentum cruciatum dan

robekan meniskus pada lutut merupakan faktor risiko timbulnya OA lutut, dan

berhubungan dengan progresifitas penyakit. Perkembangan dan progresifitas OA

pada individu yang pernah mengalami trauma lutut tidak dapat dicegah, bahkan

setelah kerusakan ligamentum cruciatum anterior diperbaiki. Risiko

berkembangnya OA pada kasus ini sebesar 10 kali lipat.

23
2.2.5.11 Aktivitas fisik

Aktivitas fisik yang berat / weight bearing seperti berdiri lama (2 jam atau

lebih setiap hari), berjalan jarak jauh (2 jam atau lebih setiap hari), naik turun

tangga setiap hari merupakan faktor risiko terjadinya OA lutut. Di sisi lain,

seseorang dengan aktivitas minim sehari-hari juga berisiko mengalami OA lutut.

Kurangnya aktivitas sendi yang berlangsung lama akan menyebabkan disuse

atrophy yang akan meningkatkan kerentanan terjadinya trauma pada kartilago.

2.2.5.12 Kebiasaan olah raga

Olah raga yang sering menimbulkan cedera sendi berkaitan dengan risiko

OA yang lebih tinggi. Beban benturan yang berulang juga dapat menjadi suatu

faktor penentu lokasi pada individu yang mempunyai predisposisi OA dan dapat

berkaitan dengan perkembangan dan beratnya OA. Atlet olah raga yang

cenderung mengalami benturan keras dan membebani lutut seperti sepak bola, lari

maraton, dan kung fu meningkatkan risiko untuk menderita OA lutut.

2.2.5.13 Jenis pekerjaan

Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus,

misalnya tukang pahat, pemetik kapas, berkaitan dengan peningkatan risiko OA

tertentu. Terdapat hubungan signifikan antara pekerjaan yang menggunakan

kekuatan lutut dan kejadian OA lutut. Osteoartritis lebih banyak ditemukan pada

pekerja fisik berat, terutama yang sering menggunakan kekuatan yang bertumpu

pada lutut, seperti penambang, petani, dan kuli pelabuhan.

24
2.3 Radiologi Osteoarthritis

Setiap sendi yang menyangga berat badan dapat terkena osteoartritis,

seperti panggul, lutut, selain itu bahu, tangan, pergelangan tangan, dan tulang

belakang juga sering terkena. Gambaran radiologi OA sebagai berikut:

 Pembentukan osteofit: pertumbuhan tulang baru (semacam taji) yang

terbentuk di tepi sendi.

 Penyempitan rongga sendi : hilangnya kartilago akan menyebabkan

penyempitan rongga sendi yang tidak sama.

 Badan yang longgar : badan yang longgar terjadi akibat terpisahnya

kartilago dengan osteofit.

 Kista subkondral dan sklerosis: peningkatan densitas tulang di sekitar

sendi yang terkena dengan pembentukan kista degeneratif.

2.3.1 Radiologi OA pada lutut (genu)

Bagi gambaran radiologi khusus pada osteoarthritis lutut, bisa didapatkan:

 Sering terjadi hilangnya kompartemen femorotibial pada rongga sendi.

 Kompartemen bagian medial merupakan penyangga tubuh yang utama,

tekanannya lebih besar sehingga hampir selalu menunjukkan penyempitan

paling dini.

25
Gambar 2.4 : Gambaran radiologis Osteoarthritis Genu
Sumber : Stemcelldoc‟s WeBlog, 2011

2.3.2 Klasifikasi OA berdasarkan radiologi

Berdasarkan gambaran radiografi tersebut, Kellgren dan Lawrence membagi OA

menjadi empat grade.

1) Grade 0 : normal

2) Grade 1 : sendi normal, terdapat sedikit osteofit

3) Grade 2 : osteofit pada dua tempat dengan sklerosis subkondral, celah sendi
normal, terdapat kista subkondral

4) Grade 3 : osteofit moderat, terdapat deformitas pada garis tulang, terdapat


penyempitan celah sendi

5) Grade 4 : terdapat banyak osteofit, tidak ada celah sendi, terdapat kista
subkondral dan sklerosis

26
Gambar 2.5 : Klasifikasi Osteoarthritis Genu menurut grading KellgrenLawrence.
Sumber : Hatena Blog, 2015

27
American College of Rheumatology (1987) mendeskripsikan kesehatan

seseorang berdasarkan derajat keparahan. Antara lain sebagai berikut:

 Derajat 0 : Tidak merasakan tanda dan gejala.

 Derajat 1 : Terbentuk taji kecil, nyeri dirasakan ketika beraktifitas cukup

berat, tetapi masih bisa dilokalisir dengan cara mengistirahatkan sendi

yang terkena osteoartritis.

 Derajat 2 : Osteofit yang pasti, mungkin terdapat celah antar sendi, nyeri

hampir selalu dirasakan, kaku sendi pada pagi hari, krepitus,

membutuhkan bantuan dalam menaiki tangga, tidak mampu berjalan jauh,

memerlukan tenaga asisten dalam menyelesaikan pekerjaan rumah.

 Derajat 3-4 : Osteofit sedang-berat, terdapat celah antar sendi,

kemungkinan terjadi perubahan anatomis tulang, nyeri disetiap hari, kaku

sendi pada pagi hari, krepitus pada gerakan aktif sendi, ketidakmampuan

yang signifikan dalam beraktivitas (Woolf dan Pfleger, 2003).

28
2.4 Lanjut Usia

2.4.1 Definisi

Penuaan bermaksud suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

terhdp jejas/infeksi dan sekaligus memperbaiki kerusakan yang diderita. Penuaan

turut didefinisikan secara subyektif dan obyektif. Secara subyektif penuaan

didefinisikan menurut makna dan pengalaman personal. Secara obyektif, penuaan

dihubungkan dengan lanjut usia (Miller, 2004).

2.4.2 Klasifikasi Usia

 Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2007) lanjut usia meliputi :

1) Usia pertengahan (middle age) adalah kelompok usia antara 60-74

tahun.

2) Usia lanjut tua (old) adalah kelompok usia antara 75-90 tahun.

3) Usia sangat tua (very old) adalah kelompok usia di atas 90 tahun.

 Menurut Departemen Kesehatan

1) Kelompok Pertengahan Umur

-kelompok usia dalam masa virilitas, yaitu masa persiapan usia lanjut

yang menampakkan keperkasaan fisik dan kematangan jiwa (45-59 tahun).

2) Kelompok Usia Lanjut Dini

-kelompok dalam masa presenium, yaitu kelompok yang mulai memasuki

usia lanjut (60-65 tahun).

29
3) Kelompok Usia Lanjut

-kelompok dalam masa senium (65 tahun keatas)

4) Kelompok Usia Lanjut dengan Risiko Tinggi

-kelompok yang berusia lebih dari 70 tahun atau kelompok usia lanjut

yang hidup sendiri, terpencil, menderita penyakit berat atau cacat.

2.4.3 Teori Proses Menua

 Teori Genetic Clock

Telah terprogram secara genetic yang mana jam genetik telah diputar

menurut suatu replikasi. Jam ini yang menghitung mitosis dan

menghentikan replikasi sel.

 Mutasi Somatik (teori „Error Catastrophe‟)

Ada kesalahan beruntun sepanjang kehidupan samaada kesalahan dalam

proses transkripsi (DNARNA) maupun dalam proses translasi

(RNAprotein/enzim)

 Rusaknya Sistem Imun Tubuh

Mutasi berulang karena perubahan protein pascatranslasi sehingga

kemampuan sistem imun tubuh berkurang. Ini dinamakan peristiwa

“autoimmune”.

 Kerusakan Akibat Radikal Bebas

Merupakan teori yang dapat dipercaya. Radikal bebas dianggap sebagai

kausa utama terjadinya kerusakan fungsi sel. Radikal bebas bersifat

erusak, sangat reaktif, bisa bereaksi denganDNA, protein, asam lemak

30
tidak jenuh, dalam membran sel. Antara contoh radikal bebas adalah

seperti Superoksida anion, hidroksil, peroksida hidrogen, radikal purin.

 Akibat Metabolisme

Disebut juga “Teori Glikosilasi”.Peranan utama adalah glikasi protein

dimana proses glikosilasi nonenzimatik yang menghasilkan pertautan

glukosa-protein (AGEs). Akibatnya, terjadi akumulasi di berbagai jaringan

sehingga meningkatkan kekakuan jaringan, termasuk kolagen dan

elastisitas pmbuluh darah berkurang.

2.4.3 Implikasi Fisiologi Pada Proses Menua

a. Komposisi tubuh

• Massa otot berkurang dan massa lemak bertambah

• Jumlah cairan tubuh berkurang

• Tinggi badan biasanya makin rendah

b. Otak

• 10 % mengalami atrofi otak difus.

• Proses informasi melambat.

• Daya ingat jangka pendek menurun.

• Menurunnya stimulus/rangsangan yang datangdan kemampuan kalkulasi.

c. Jantung dan pembuluh darah

• Perubahan denyut jantung

• Berkurangnya frekwensi jantung

espon terhadap stress berkurang

31
• Elastisitas pembuluh darah menurun

• Kejadian aterosklerosis meningkat

• Respon otot polos pembuluh darah menurun menyebabkan relaksasi dan

vasodilatasi menurun.

d. paru

• Compliance paru & rongga dada menurun

• Aktivitas silia menurun

• Volume residu meningkat

• Kapasitas vital menurun

• Refleks batuk menurun

• Pertukaran gas terganggu

• Kekuatan otot pernapasan melemah

• Penurunan massa jaringan paru

e. Ginjal dan saluran kemih

• Jumlah darah yang sampai ke ginjal menurun oleh karena aterosklerosis

dan gangguan jantung.

• Jumlahdan ukuran glomerulus menurun (25%)

• Jumlah darah yang difiltrasi oleh ginjal menurun (LFG 10 ml/dekade)

• Kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlahbesar berkurang

menyebabkannatrium serum encer dan hiponatremia.

f. Gastrointestinal

• Motilitas dan pengosongan lambung menurun

• Absorbsi karbohidrat dan 1-25 dihidroksivitamin D menurun.

32
g. Muskuloskeletal

• Komposisi otot berubah digantikan oleh lemak, jaringan kolagen dan

jaringan parut.

• Kekuatan otot dan berkurang.

• Kekuatan dan stabilitas tulang berkurang.

• Lapisan sinovial menipis.

• Cairan sinovial lebih mengental.

• Perkerutan diskus intevertebralis pada spina lumbalis akibat cairan dalam

diskus berkurang

h. Fungsi Kognitif

• Kemampuan meningkatkan fungsi intelektual berkurang.

• Berkurangnya efisiensi transmisi saraf di otak, menyebabkan proses

informasi melambat dan banyak informasi hilang selama transmisi.

• Berkurangnya kemampuan mengakumulasi informasi baru dan mengambil

informasi dari memori.

• Kemampuan mengingat kejadian masa lalu lebih baik dibanding

kemampuan mengingat yang baru saja terjadi.

i. Saluran Kemih dan Kelamin

• Perpanjangan masa refrakter untuk ereksi pada pria.

• Berkurangnya intensitas orgasme pada pria maupun wanita.

• Pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna dan peningkatan

volume residual urin.

• Berkurangnya sekresi prostat di urin.

33
2.4.2 Usia Sebagai Faktor Risiko Osteoarthritis

Dari semua faktor risiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan

adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya osteoartritis semakin meningkat

dengan bertambahnya umur. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan antara

umur dengan penurunan kekuatan kolagen dan proteoglikan pada kartilago sendi

(Wahyuningsih, 2009). Usia rata−rata laki−laki yang mendapat osteoartritis sendi

lutut yaitu pada umur 59 tahun dengan puncaknya pada usia 55 - 64 tahun,

sedangkan wanita 65,3 tahun dengan puncaknya pada usia 65 – 74 tahun.

2.4.1 Implikasi Fisiologi Proses Penuaan pada Muskuloskeletal

Seiring bertambahnya usia, bantalan antara tulang rawan sendi semakin

menipis.Hal ini adalah karena terjadi perubahan yang berkait dengan usia pada

kolagen dan proteoglikan yang menurunkan ketegangan dari tulang rawan sendi

dan juga karena pasokan nutrisi yang berkurang untuk tulang rawan (Lozada,

2013).Mekanisme pertahanan sendi diperankan oleh pelindung sendi yaitu :

Kapsula dan ligamen sendi, otot-otot, saraf sensori aferen dan tulang di dasarnya .

Kapsula dan ligamen-ligamen sendi memberikan batasan pada rentang gerak

(Range of motion) sendi. Kapsula dan ligamen sendi semakin menipis dan susah

untuk melakukan proses anabolik. Selain itu, cairan sendi (sinovial) mengurangi

gesekan antar kartilago pada permukaan sendi sehingga mencegah terjadinya

keletihan kartilago akibat gesekan.. Protein yang disebut dengan lubricin

merupakan protein pada cairan sendi yang berfungsi sebagai pelumas. Protein ini

henti disekresikan apabila terjadi cedera dan peradangan pada sendi. ada usia

lanjut, cairan sinovia semakin mengental dan berkuranglah


34
fungsi perlindungan sewaktu pergerakan. Kemudian, ligamen,

bersama dengan kulit dan tendon, mengandung suatu mekanoreseptor

yang tersebar di sepanjang rentang gerak sendi. Umpan balik yang

dikirimkannya memungkinkan otot dan tendon mampu untuk memberikan

tegangan yang cukup pada titik-titik tertentu ketika sendi bergerak.

Otot-otot dan tendon yang menghubungkan sendi adalah inti dari

pelindung sendi. Kontraksi otot yang terjadi ketika pergerakan sendi

memberikan tenaga dan akselerasi yang cukup pada anggota gerak untuk

menyelesaikan tugasnya. Kontraksi otot tersebut turut meringankan stres

yang terjadi pada sendi dengan cara melakukan deselerasi sebelum terjadi

tumbukan (impact). Tumbukan yang diterima akan didistribusikan ke

seluruh permukaan sendi sehingga meringankan dampak yang diterima. .

Pada golongan lansia, komposisi otot berubah digantikan oleh lemak,

jaringan kolagen dan jaringan parut.dan menyebabkankekuatan otot

berkurang. Selain itu, tulang di balik kartilago memiliki fungsi untuk

menyerap goncangan yang diterima. Namun dengan bertambahnya usia,

tulang menjadi kekurangan struktur normalnya dan menjadi sarcopenia.

Ini mengakibatkan instabilitas pengurangan keseimbangan (Felson, 2008).

35