Anda di halaman 1dari 89

LAPORAN PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)


DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU
DI PUSKESMAS PUNGGING MOJOKERTO
JAWA TIMUR TAHUN 2019

I Gusti Ngurah Ary Putra 16710265

Yafi Aldiansyah Ibrahim 17710141

Sinta Angraini 17710170

I Made Bayu Pramana A 17710127

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
2019
HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)
DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS PUNGGING MOJOKERTO
JAWA TIMUR TAHUN 2019

Tanda Persetujuan Penelitian

Menyetujui untuk diajukan pada Sidang Presentasi


Penelitian Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Di Fakultas Kedokteran
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

I Gusti Ngurah Ary Putra 16710265


Yafi Aldiansyah Ibrahim 17710141
Sinta Angraini 17710170
I Made Bayu Pramana A 17710127

Disetujui,
Pada tanggal: 20 September 2019

Kepala Puskesmas Pungging Dosen Pembimbing

dr. Agus Dwi Cahyono Prof. Dr. Hj. Rika Subarniati T.dr., SKM
NIP. 19800802201006 NIDK. 8851710016
HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)
DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS PUNGGING MOJOKERTO
JAWA TIMUR TAHUN 2019

Tanda Pengesahan Penelitian


Telah disidang dalam sidang Presentasi Penelitian
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat
Pada 20 September 2019

Tim Penguji:
Ketua Sidang merangkap Pembimbing
Prof. Dr. Hj. Rika Subarniati T. dr., SKM:
NIDK. 8851710016

Anggota Sidang
Dr. Tri Ratih Agustina, dr., MARS : __________________
NIDN. 07080885403

Mengesahkan,

Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Dr. Atik Sri Wulandari, SKM.,M.Kes


NIDN. 0731076901

iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

I Gusti Ngurah Ary Putra 16710265


Yafi Aldiansyah Ibrahim 17710141
Sinta Angraini 17710170
I Made Bayu Pramana A 17710127

Judul penelitian:
“HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)
DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS PUNGGING MOJOKERTO
JAWA TIMUR TAHUN 2019”

Dengan ini menyatakan bahwa penelitian ini merupakan hasil karya


tulis ilmiah sendiri dan bukanlah merupakan karya yang pernah diajukan oleh
pihak lain. Adapun karya atau pendapat pihak lain yang dikutip, ditulis sesuai
dengan kaidah penulisan ilmiah yang berlaku.
Pernyataan ini saya buat dengan penuh tanggung jawab dan saya
bersedia menerima konsekuensi apapun yang berlaku apabila dikemudian hari
diketahui bahwa pernyataan ini tidak benar.
Surabaya, 20 September 2019
A.N. Tim Peneliti
Ketua

I Gusti Ngurah Ary Putra


Npm: 16710265

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan hikmat,
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Penelitian dengan judul
“Hubungan antara Peran Pengawas Minum Obat (PMO) dengan Kepatuhan Minum
Obat pada Penderita Tuberkulosis (TB) Paru di Puskesmas Pungging Mojokerto Jawa
Timur Tahun 2019. Laporan penelitian ini berhasil penulis selesaikan karena
dukungan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis sampaikan
terimakasih yang tak terhingga kepada :
1. Prof. Sri Harmadji, dr., Sp.THT-KL (K) Rektor Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya yang telah memberi kesempatan kepada penulis menuntut ilmu di
Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
2. Prof. Dr. Suhartati, dr., MS Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya
Kusuma Surabaya yang telah memberi kesempatan kepada penulis menuntut ilmu
di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
3. Dr. Atik Sri Wulandari, SKM, M.Kes, selaku Kepala Bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
4. Hj. Andiani, dr., M.Kes, selaku Koordinator Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
5. Prof. Dr. Hj. Rika Subarniati T. dr., SKM selaku pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, arahan, serta dorongan dalam menyelesaikan laporan
penelitian ini.
6. Dr. Didik Chusnul Yakin, S.Sos, M.Si., selaku Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Mojokerto yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
melakukan penelitian di Kabupaten Mojokerto
7. dr. Ulum Rokhmat Rokhmawan MH, selaku Koordinator Putaran Puskesmas
Kepaniteraan Klinik IKM beserta staf dan jajaran nya.

v
8. Kepala Puskesmas Pungging Mojokerto, dr. Agus Dwi Cahyono yang telah
memberi kesempatan kepada penulis untuk menyelenggarakan penelitian di
wilayah kerjanya.
9. Semua pihak yang tidak mungkin disebut satu per satu yang telah membantu
dalam menyelesaikan Laporan Penelitian Kepaniteraan klinik IKM ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan penelitian ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan segala bentuk masukan demi
kesempurnaan tulisan ini. Akhir kata, penulis berharap semoga laporan penelitian ini
bermanfaat bagi berbagai pihak yang terkait.

Surabaya, 20 September 2019

Penulis

vi
ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)
DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS PUNGGING MOJOKERTO
JAWA TIMUR TAHUN 2019
Oleh :
I Gusti Ngurah Ary Putra, 1Yafi Aldiansyah Ibrahim, 2Sinta Angraini, 3I Made Bayu
Pramana A
Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosa dan ditularkan lewat droplet. Indonesia merupakan
negara dengan kasus TB paru terbanyak ke-4 di dunia setelah India, Cina dan Afrika
Selatan. Di wilayah Pulau Jawa, Jawa Timur merupakan provinsi dengan kasus TB
terbanyak kedua setelah Jawa Barat dengan kasus TB cenderung meningkat dari
tahun ke tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara
PMO dengan kepatuhan minum obat pada penderita TB di Puskesmas Pungging
Mojokerto Jawa Timur. Penelitian ini bersifat analitik observational dengan desain
Retrospective Cross-Sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Pungging
Mojokerto Jawa Timur pada bulan Agustus hingga September 2019. Populasi dalam
penelitian ini adalah semua penderita TB Paru di Puskesmas Pungging yang
menjalani fase intensif pada tahun 2019 sebanyak 34 orang dengan jumlah sampel
sebanyak 32 responden. Analisis data menggunakan uji statistik Chi Square dengan
tingkat kemaknaan (p value: 0,05). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan
antara PMO dengan kepatuhan minum obat pada penderita TB Paru di Puskesmas
Pungging Mojokerto Jawa Timur tahun 2019 dengan nilai sig = 0,017.

Kata kunci : pengawas minum obat (PMO), kepatuhan minum obat, tuberkulosis
paru

vii
ABSTRACT

RELATIONSHIP BETWEEN OF THE ROLE OF THE DRUG SUPERVISOR


WITH
DRUG COMPLIANCE IN PATIENTS WITH PULMONARY
TUBERCULOSIS IN PUSKESMAS PUNGGING MOJOKERTO
EAST JAVA IN 2019
By:
I Gusti Ngurah Ary Putra, 1Yafi Aldiansyah Ibrahim, 2Sinta Angraini, 3I Made Bayu
Pramana A
Medical Faculty of Wijaya Kusuma Surabaya University

Tuberculosis is an infectious disease caused by the Mycobacterium tuberculosis and


is transmitted through droplets. Indonesia is a country with the 4th most cases of
pulmonary TB in the world after India, China and South Africa. In the Java Island
region, East Java is the 2nd place province with the most TB cases after West Java
with TB cases trending to increase from year to year. The purpose of this study was
to analyze the relationship between of the role of the drug supervisor with drug
compliance in patients with pulmonary tuberculosis in Puskesmas Pungging
Mojokerto East Java in 2019. This research was an analytic observational study with
a retrospective cross-sectional design. This research was conducted at the Pungging
Health Center in Mojokerto East Java in August to September 2019. The population
in this study were all patients with pulmonary TB at the Pungging Health Center who
underwent intensive phases in 2019 by 34 people with a total sample of 32
respondents. Data analysis used Chi Square statistical test with significance level (p
value: 0.05). The results showed a relationship between PMO with medication
adherence in patients with pulmonary TB in Pungging Mojokerto East Java Health
Center in 2019 with a sig = 0.017.

Keywords : The role of the drug supervisor, compliance to take the medication,
pulmonary tuberculosis

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i


LEMBAR PERSETUJUAN PENELITIAN .............................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN PENELITIAN ............................................................... iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ................................................................. iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................... v
ABSTRAK ................................................................................................................. vii
ABSTRACT ................................................................................................................. viii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xiii
DAFTAR SINGKATAN ........................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 5
C. Tujuan Penelitian ................................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian ................................................................................. 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tuberkulosis (TB)
1. Definisi............................................................................................. 7
2. Cara Penularan ................................................................................. 8
3. Manifestasi Klinis TB ...................................................................... 8
4. Diagnosis TB ................................................................................... 9
5. Pemeriksaan Sputum………………………………………………9
6. Deteksi TB Metode RT-PCR GeneXpert………………………….15
7. Pengobatan TB ................................................................................. 16
8. Evaluasi Pengobatan ........................................................................ 18

ix
B. Program DOTS di Indonesia.................................................................. 20
C. Kinerja Pengawas Minum Obat
1. Pengawas Minum Obat ................................................................... 22
2. Kinerja ............................................................................................ 23
D. Kepatuhan ............................................................................................. 24
E. Kesembuhan ......................................................................................... 27
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kerangka Konsep ................................................................................ 29
B. Penjelasan Kerangka Konsep .............................................................. 30
C. Hipotesis .............................................................................................. 30
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian .......................................................................... 31
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 31
C. Populasi dan Sampel Penelitian........................................................... 32
D. Variabel Penelititan ............................................................................. 35
E. Definisi Operasional Variabel ............................................................. 36
F. Prosedur Penelitian .............................................................................. 37
G. Metode Analisis Data .......................................................................... 38
BAB V HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ................................................... 39
B. Data Geografi ...................................................................................... 40
C. Hasil Penelitian.................................................................................... 41
1. Jenis Kelamin Responden ............................................................. 41
2. Tingkat Pendidikan Responden ..................................................... 41
3. Pekerjaan Responden .................................................................... 42
4. Peran PMO pada Responden ......................................................... 43
5. Kepatuhan Minum Obat pada Responden TB Paru ...................... 43
D. Hasil Uji Statistik ................................................................................ 44

x
BAB VI PEMBAHASAN........................................................................................ 45
BAB VII PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................... 50
B. Saran ................................................................................................... 51
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 52
LAMPIRAN ............................................................................................................... 54

xi
DAFTAR TABEL

Tabel IV.1 Definisi Operasional Variabel…………………………………………. 36

Tabel V.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin………………………….. 41

Tabel V.2 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan……………………. 41

Tabel V.3 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan………………………………. 42

Tabel V.4 Distribusi Responden Menurut Peran PMO……………………………. 43

Tabel V.5 Distribusi Responden Menurut Kepatuhan

Minum Obat pada Responden TB Paru…………………………………. 43

Tabel V.6 Hubungan antara Peran Pengawas Minum Obat (PMO)

dengan Kepatuhan Minum Obat pada Penderita

Tuberkulosis (TB) Paru di Puskesmas Pungging

Mojokerto Jawa Timur Tahun 2019…...…………………………..……. 44

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar III.1 Kerangka Konsep Modifikasi Teori H.L Blum………………..…….. 29


Gambar IV.1 Skema Prosedur Penelitian………………………………...………… 37

xiii
DAFTAR SINGKATAN

BTA : Basil Tahan Asam

DOTS : Directly Observed Treatment Short-course

HE : Isoniazid Ethambutol

HIV : Human Immnunodeficiency Virus

HR : Isoniazid Rifampicin

HRE : Isoniazid Rifampicin Ethambutol

HRZ : Isoniazid Rifampicin Pyrazinamide

HRZE : Isoniazid Rifampicin Pyrazinamide Ethambutol

HRZES : Isoniazid Rifampicin Pyrazinamide Ethambutol Streptomicin

IUATLD : International Union Against Tuberculosis and Lung Disease

KIA : Kesehatan Ibu dan Anak

KTD : Kombinasi Dosis Tetap

OAT : Obat Anti Tuberkulosis

PMO : Pengawas Minum Obat

Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat

SPS : Sewaktu-Pagi-Sewaktu

TB : Tuberkulosis

UPK : Unit Pelayanan Kesehatan

WHO : World Health Organization

xiv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular yang sebagian besar

disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut biasanya

masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara yang dihirup masuk ke saluran

pernafasan (trachea, bronchus) ke dalam paru (alveolus), kemudian bakteri

menyebar dari paru ke organ lain melalui sistem peredaran darah dan sistem

saluran limfa (Effendi, 2016).

Proses penularan terjadi ketika seorang yang memiliki penyakit TB

berbicara, batuk saat berinteraksi langsung di depan orang lain. Terlebih lagi jika

ketahanan tubuh teman berbicara tersebut lemah maka bakteri dari penderita TB

akan mudah masuk dan menyerang. Bakteri TB masuk ke tubuh manusia melalui

saluran pernafasan dan berakhir di paru kemudian bakteri akan berkembang di

sana. Bakteri pada TB ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga

memerlukan waktu yang lama untuk mengobatinya (Effendi, 2016).

World Health Organization (WHO) mendeklarasikan TB sebagai suatu

kondisi kedaruratan dalam kesehatan masyarakat. TB menyebabkan gangguan

1
kesehatan jutaan penduduk dunia setiap tahunnya. Laporan WHO mengenai

pengendalian TB tahun 2012 menyebutkan, terdapat 8,6 juta kasus baru dan

diperkirakan angka kematian akibat TB mencapai 1,3 juta kasus. Sebagian besar

kasus TB dan kematian akibat penyakit ini terjadi di negara-negara berkembang. Data

WHO tahun 2012 menunjukkan, sebagian besar kasus TB terjadi di benua Asia

(58%) dan benua Afrika (27%). Lima negara dengan angka insiden TB terbesar pada

tahun 2012 menurut WHO adalah India, China, Afrika Selatan, Indonesia dan

Pakistan. Prevalensi TB pada tahun 2012 diperkirakan mencapai angka 12 juta,

sehingga setara dengan 169 kasus per 100.000 penduduk (Baddeley, 2014).

Di Indonesia, TB paru merupakan masalah utama kesehatan masyarakat.

Jumlah penderita TB paru di Indonesia pada tahun 2010 merupakan ke-4 terbanyak di

dunia setelah India, Cina dan Afrika Selatan. Diperkirakan pada tahun 2010, angka

insidensi semua tipe TB, 450.000 kasus atau 189 per 100.000 penduduk, angka

prevalensi semua tipe TB, 690.000 atau 289 per 100.000 penduduk dan angka

kematian akibat TB, 64.000 atau 27 per 100.000 penduduk atau 175 orang per hari

(Depkes RI, 2017).

Pada tahun 2007 hingga tahun 2012 kasus TB paru di Indonesia mengalami

penurunan dari 74.000 kasus menjadi 72.000 kasus. Di wilayah Pulau Jawa, Provinsi

Jawa Timur merupakan salah satu penyumbang kasus TB paru terbanyak kedua

setelah Provinsi Jawa Barat (Dinkes Jatim, 2014). Dari data dinkes Provinsi Jawa

Timur pada tahun 2011, kasus TB paru BTA positif sebanyak 21.477 dan pada tahun

2
2012 sebanyak 25.618 kasus (Dinkes Jatim, 2017). Kota Surabaya menempati urutan

kedua penderita TB paru di Jawa Timur setelah kota Jember (Dinkes Surabaya,

2016).

Berdasarkan data profil dari Puskesmas Pungging, Kecamatan Pungging

Kabupaten Mojokerto Provinsi Jawa Timur, penderita TB paru di Puskesmas

Pungging mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2016 jumlah penderita

TB paru positif sebanyak 27 penderita, kemudian pada tahun 2017 mengalami

peningkatan menjadi 39 penderita. Sedangkan pada tahun 2018 penderita TB paru di

Puskesmas Pungging mencapai 53 penderita dan yang didampingi oleh PMO

(Pengawas Minum Obat) sebanyak 50 penderita (Data Profil Puskesmas Pungging,

2018).

Awal tahun 1990-an WHO (World Health Organization) dan IUATLD

(International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) telah mengembangkan

strategi penanggulangan TB paru yang dikenal sebagai strategi DOTS dan telah

terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-

efective). Pengertian DOTS dapat diterapkan dalam kasus per kasus TB paru yaitu

dimulai dari memfokuskan perhatian (direct attention) dalam usaha menemukan/

mendiagnosis penderita secara baik dan akurat, utamanya melalui pemeriksaan

mikroskopik. Selanjutnya setiap penderita harus diawasi (observed) dalam minum

obatnya yaitu obat tersebut ditelan di depan seorang pengawas minum obat (PMO),

3
dan inilah yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short-course (DOTS)

(Depkes RI, 2017).

Orang yang mengawasi penderita TB paru dikenal dengan istilah PMO.

Melalui peran PMO diharapkan kepatuhan penderita minum obat, makan-makanan

berprotein tinggi dan keteraturan pengobatan dapat ditingkatkan sehingga

kesembuhan dapat tercapai. Aktifitas kerja PMO yang efektif diharapkan akan

mendukung keberhasilan program DOTS pada penderita TB paru. Dalam

menyukseskan upaya pemberantasan TB paru, maka peran tenaga kesehatan dalam

surveillance dan pencatatan pelaporan yang baik merupakan suatu keharusan.

Pengawas minum obat (PMO) sebaiknya orang yang disegani dan dekat dengan

penderita, misalnya keluarga, tetangga, atau kader kesehatan. Pengawas minum obat

(PMO) bertanggung jawab untuk memastikan penderita meminum obat sesuai

anjuran tenaga puskesmas atau UPK.

Berdasarkan fenomena tersebut maka peneliti akan melakukan penelitian

tentang “Hubungan antara Peran Pengawas Minum Obat (PMO) dengan Kepatuhan

Minum Obat pada Penderita Tuberkulosis (TB) Paru di Puskesmas Pungging

Mojokerto Jawa Timur Tahun 2019”.

4
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka diperlukan penelitian

evaluatif rumusan masalah sebagai berikut: “Adakah hubungan antara peran

pengawas minum obat (PMO) dengan kepatuhan minum obat pada penderita

tuberkulosis (TB) paru di Puskesmas Pungging Mojokerto Jawa Timur tahun

2019?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka peneliti menetapkan tujuan

penelitian, diantaranya:

1. Tujuan Umum

Menganalisis hubungan antara peran pengawas minum obat (PMO)

dengan kepatuhan minum obat pada penderita tuberkulosis (TB) paru di

Puskesmas Pungging Mojokerto Jawa Timur tahun 2019.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasikan peran pengawas minum obat (PMO) pada penderita

tuberkulosis (TB) paru di Puskesmas Pungging Mojokerto Jawa Timur.

b. Mengidentifikasikan kepatuhan minum obat pada penderita tuberkulosis

(TB) paru di Puskesmas Pungging Mojokerto Jawa Timur.

5
c. Menganalisis hubungan antara peran pengawas minum obat (PMO)

dengan kepatuhan minum obat pada penderita tuberkulosis (TB) paru di

Puskesmas Pungging Mojokerto Jawa Timur tahun 2019.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:

1. Bagi institusi kesehatan

Diharapkan bisa menjadi evaluasi untuk peningkatan kinerja


puskesmas di bidang pengawasan dan pengobatan penderita TB.

2. Bagi peneliti

Sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan di dalam


pelaksanaan penelitian, penulisan hasil penelitian serta menambah wawasan
dan bekal pengetahuan dalam bekerja di masyarakat.

3. Bagi ilmu kedokteran

Dapat digunakan sebagai menambah bahan kajian pustaka tentang


penyakit TB paru.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberkulosis (TB)

1. Definisi

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang

disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis (Alsagaf dan Mukti, 2016).

Sebagian besar bakteri TB menyerang paru (TB paru), tetapi dapat juga

mengenai organ tubuh lainnya (TB ekstra paru) seperti pleura, kelenjar limfe,

tulang, dll (Marunung, 2018). Mycobacterium tuberculosis merupakan patogen

dengan karakteristik non motil, non spora, dan tidak berkapsul. Berbentuk

batang, bersifat aerob, mudah mati pada air mendidih (5 menit pada suhu 80̊ C,

dan 20 menit pada suhu 60̊ C), dan mudah mati apabila terkena sinar

ultraviolet. Sebagian besar dinding bakteri terdiri atas lipid, kemudian

peptidoglikan dan arabinomannan. Lipid inilah yang membuat bakteri lebih

tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam

(BTA). Bakteri ini dapat bertahan terhadap gangguan kimia maupun fisik. Pada

saat bakteri berada dalam sifat dormant (tidur), ia dapat bertahan hidup di udara

kering maupun di keadaan dingin, atau dapat hidup bertahun-tahun dalam

lemari es. Dengan sifat dormant ini, bakteri TB dapat kembali aktif dan

berkembang jika keadaan sudah memungkinkan (Muharman, 2015).

7
2. Cara Penularan

TB ditularkan melalui udara (melalui percikan sputum penderita TB).

Ketika penderita TB batuk, bersin, berbicara atau meludah, mereka

memercikkan bakteri TB atau bacilli ke udara (Depkes RI, 2018). Percikan

sputum (droplet) yang mengandung bakteri dapat bertahan di udara pada suhu

kamar selama beberapa jam. Hanya droplet nukleus ukuran 1-5 μ (mikron)

yang dapat melewati atau menembus sistem mukosilier saluran nafas sehingga

dapat mencapai dan bersarang di bronkiolus dan alveolus (Widodo, 2014).

Setelah bakteri TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, bakteri

TB tersebut dapat menyebar dari paru ke organ lainnya, melalui sistem

peredaran darah maupun sistem saluran limfe (Depkes RI, 2018).

Seseorang dapat terpapar dengan TB hanya dengan menghirup sejumlah

kecil bakteri TB. Penderita TB dengan status TB BTA (Basil Tahan Asam)

positif dapat menularkan sekurang-kurangnya kepada 10-15 orang lain setiap

tahunnya (Depkes RI, 2017).

3. Manifestasi Klinis TB

Gejala utama penderita TB paru adalah batuk bersputum selama 2-3

minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu sputum

bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun,

berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa didahului dengan

aktivitas fisik dan demam lebih dari satu bulan (Depkes RI, 2016).

8
4. Diagnosis TB

Semua suspek TB paru diperiksa 3 spesimen sputum dalam waktu 2

hari, yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS). Diagnosis TB paru pada orang

dewasa ditegakkan dengan ditemukannya bakteri TB (BTA). Bakteri ini baru

kelihatan dibawah mikroskopis bila jumlah bakteri paling sedikit sekitar 5.000

batang dalam 1 ml sputum. Dalam pemeriksaan sputum yang baik adalah

sputum yang mukopurulen berwarna hijau kekuningan dan jumlahnya harus 3-5

ml tiap pengambilan (Depkes RI, 2018).

Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan

sputum mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto

toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis

sepanjang sesuai dengan indikasinya (Depkes RI, 2018).

Tidak dibenarkan mendiagnosis TB paru hanya berdasarkan

pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran

yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi over diagnose. Gambaran

kelainan radiologik paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit (Depkes

RI, 2018).

5. Pemeriksaan Sputum

a. Pengambilan Spesimen
1) Waktu
a) Diperlukan 3 kali pengambilan sputum dalam 2 kali kunjungan, yaitu
b) Sputum sewaktu (S), yaitu ketika penderita pertama kali datang

9
c) Sputum pagi (P), keesokan harinya ketika penderita datang lagi
dengan membawa sputum pagi (sputum pertama setelah bangun
tidur)
d) Sputum sewaktu (S), yaitu saat penderita tiba di laboratorium,
penderita diminta mengeluarkan sputumnya lagi
2) Persiapan Alat
a) Sputum pot (tempat ludah) yang bertutup
b) Botol bersih dengan penutup
c) Hand scoon
d) Formulir dan etiket
e) Perlak
f) Pengalas
g) Bengkok
h) Tissue
3) Persiapan Penderita
Jelaskan pada penderita apa yang dimaksud dengan sputum agar yang
dibatukkan benar-benar merupakan sputum, bukan air liur/saliva
ataupun campuran antara sputum dan saliva. Selanjutnya, jelaskan cara
mengeluarkan sputum.
4) Prosedur Tindakan
a) Menyiapkan alat
b) Memberitahu penderita
c) Mencuci tangan
d) Mengatur posisi duduk (fowler)
e) Memasang perlak pengalas dibawah dagu dan menyiapkan bengkok.
f) Memakai hand scoon
g) Meminta penderita membatukkan dahaknya ke dalam tempat yang
sudah disiapkan (sputum pot)

10
h) Mengambil 5 cc bahan, lalu masukkan ke dalam botol
i) Membersihkan mulut penderita
j) Merapikan penderita dan alat
k) Melepas hand scoon
l) Mencuci tangan
5) Pelaksanaan
Memberi informasi kepada penderita terkait tindakan yang akan
dilakukan. Hasil yang didapat akan digunakan untuk perawatan atau
terapi selanjutnya. Informasi penting yang wajib disampaikan kepada
penderita antara lain:
a) Tujuan pemeriksaan, perbedaan antara sputum dan saliva, dan cara
mendapatkan spesimen sputum
b) Bagian dalam wadah specimen tidak boleh disentuh
c) Mengeluarkan sputum langsung ke dalam wadah sputum untuk
menjaga bagian luar wadah tidak terkena sputum, bila
memungkinkan
d) Cara memeluk bantal secara kuat pada insisi abdomen bila
penderita merasa nyeri saat batuk
e) Jumlah sputum yang diperlukan (biasanya 1-2 sendok teh (5-10 ml)
sputum cukup analisis)
f) Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi lain yang
sesuai
g) Berikan privasi penderita
h) Berikan bantuan yang diperlukan untuk mengumpulkan specimen
i) Bantu penderita mengambil posisi berdiri atau duduk (mis., posisi
Fowler-tinggi atau- semi atau pada tepi tempat tidur atau kursi).
Posisi ini memungkinkan ventilasi dan ekspansi paru yang
maksimum.

11
j) Minta penderita untuk memegang bagian luar wadah sputum, atau,
untuk penderita yang tidak dapat melakukannya, pasang sarung
tangan dan pegang bagian luar wadah tersebut untuk penderita.
k) Minta penderita untuk bernapas dalam dan kemudian membatukan
sekresi. Inhalasi yang dalam memberikan udara yang cukup untuk
mendorong sekresi keluar dari jalan udara ke dalam faring.
l) Pegang wadah sputum sehingga penderita dapat mengeluarkan
sputum ke dalamnya, pastikan sputum tidak kontak dengan bagian
luar wadah. Memasukan sputum ke dalam wadah akan mencegah
penyebaran mikroorganisme ke tempat lain.
m) Bantu penderita untuk mengulang batuk sampai terkumpul jumlah
sputum yang cukup.
n) Tutup wadah segera setelah sputum berada di dalam wadah.
Menutup wadah akan mencegah penyebaran mikroorganisme
secara tidak sengaja ke tempat lain.
o) Bila sputum mengenai bagian luar wadah, bersihkan bagian luar
dengan disinfektan. Beberapa institusi menganjurkan untuk
membersihkan seluruh bagian luar wadah dengan sabun cair dan
air dan kemudian mengeringkannya dengan handuk kertas.
p) Lepas dan buang sarung tangan.
q) Pastikan penderita merasa nyaman.
r) Bantu penderita untuk membersihkan mulutnya dengan obat kumur,
bila dibutuhkan.
s) Bantu penderita mengambil posisi nyaman yang memungkinkan
ekspansi paru secara maksimal, bila diperlukan.
t) Beri label dan bawa spesimen ke laboratorium.
u) Patikan informasi yang benar tertulis pada label dan slip permintaan
laboratorium. Tempelkan label dan lampirkan perimintaan

12
laboratorium pada wadah spesimen. Identifikasi dan / atau
informasi yang tidak akurat pada wadah spesimen dapat membuat
kesalahan diagnosis atau terapi.
v) Atur agar specimen dikirim segera ke laboratorium atau di
dinginkan. Kultur bakteri harus segera dimulai sebelum organisme
yang mengkontaminasi tumbuh dan berkembang baik sehingga
memberikan hasil positif palsu.
w) Dokumentasikan semua informasi yang relevan.
x) Dokumentasikan pengumpulan spesimen sputum pada catatan
penderita. Pendokumentasian meliputi jumlah, warna, konsistensi
(kental, lengket, atau encer), adanya hemoptisis (darah pada
sputum), bau sputum, tindakan yang perlu dilakukan untuk
mendapatkan sputum (mis., drainase postural), jumlah sputum yang
dihasilkan secara umum, adanya ketidaknyamanan yang dialami
penderita.
b. Cara Pengiriman Specimen
Baik spesimen yang dikirim dalam pot maupun wadah harus disertai
dengan data/keterangan, baik mengenai kriteria spesimen maupun
penderita. Ada 2 data yang harus disertakan, yaitu:
1) Data 1:
Pot/wadah dilabel dengan menempelkan label pada dinding luar pot.
Proses direct labelling yang berisi data: nama, umur, jenis kelamin,
jenis spesimen, jenis tes yang diminta dan tanggal pengambilan.
2) Data 2:
Formulir/kertas/buku yang berisi data keterangan klinis: dokter yang
mengirim, riwayat anamnesis, riwayat pemberian antibiotik terakhir
(minimal 3 hari harus dihentikan sebelum pengambilan spesimen),
waktu pengambilan spesimen, dan keterangan lebih lanjut mengenai

13
biodata penderita. Jadi, data mengenai spesimen harus jelas: label dan
formulir. Spesimen tidak akan diterima apabila:
a) Tidak dilengkapi dengan data yang sesuai.
b) Jumlah yang dibutuhkan untuk pemeriksaan kurang
c) Cara pengambilan tidak sesuai dengan prosedur yang ada

c. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan


Pengambilan sputum pada penderita tidak boleh menyikat gigi. Agar
sputum mudah dikeluarkan, dianjurkan penderita mengonsumsi air yang
banyak pada malam sebelum pengambilan sputum. Sebelum mengeluarkan
sputum, penderita disuruh untuk berkumur-kumur dengan air dan penderita
harus melepas gigi palsu (bila ada). Sputum diambil dari batukkan pertama
(first cough). Cara membatukkan sputum dengan tarik nafas dalam dan
kuat (dengan pernafasan dada) batukkan kuat sputum dari bronkus trakea
mulut wadah penampung. Wadah penampung berupa pot steril bermulut
besar dan berpenutup (Screw Cap Medium).
Periksa sputum yang dibatukkan, bila ternyata yang dibatukkan adalah
air liur/saliva, maka penderita harus mengulangi membatukkan sputum.
Sebaiknya, pilih sputum yang mengandung unsur-unsur khusus seperti :
darah dan unsur-unsur lain. Bila sputum susah keluarkan lakukan
perawatan mulut Perawatan mulut dilakukan dengan obat glyseril
guayakolat (expectorant) 200 mg atau dengan mengonsumsi air teh manis
saat malam sebelum pengambilan sputum.
Sedangkan bagi interpretasi untuk penyakit TBC, berdasar hasil
pemeriksaan dahak (BTA), TB paru dibagi atas:
1) Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:
a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil
BTA positif

14
b.Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif
dan kelainan radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
c. Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif
dan biakan positif
2) Tuberkulosis paru BTA (-) adalah:
a. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif,
gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan
tuberkulosis aktif
b. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan
biakan Mycobacterium tuberculosis positif (Kemenkes RI, 2017).

6. Deteksi TB metode RT-PCR GeneXpert

GeneXpert merupakan penemuan terobosan untuk diagnosis TB

berdasarkan pemeriksaan molekuler yang menggunakan metode Real Time

Polymerase Chain Reaction Assay (RT-PCR) semi kuantitatif yang

menargetkan wilayah hotspotgen rpoBpada M. tuberculosis, yang terintegrasi

dan secara otomatis mengolah sediaan dengan ekstraksi deoxyribo nucleic acid

(DNA) dalam cartridge sekali pakai. Penelitian invitro menunjukkan batas

deteksi kuman TB dengan metode RT-PCR GeneXpert minimal 131 kuman/ml

sputum. Waktu hingga didapatkannya hasil kurang dari dua jam dan hanya

membutuhkan pelatihan yang simpel untuk dapat menggunakan alat ini. Tehnik

pemeriksaan dengan metode RT-PCR GeneXpert didasarkan pada

amplifikasi berulang dari target DNA dan kemudian dideteksi secara

fluorimetrik. Teknik ini dapat mengidentifikasi gen rpoB M. tuberculosis dan

15
urutannya secara lebih mudah, cepat dan akurat. Gen ini berkaitan erat dengan

ketahanan sel dan merupakan target obat rifampisin yang bersifat bakterisidal

pada M. tuberculosis dan M. leprae. Penelitian pendahuluan menyatakan

sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi pada sampel saluran pernapasan

untuk mendeteksi M. tuberculosis dan sekaligus mendeteksi resistensi M.

tuberculosis terhadap rifampisin.

Cara kerjanya adalah sebagai berikut: spesimen sputum diambil pada

penderita suspek TB paru secara spontan pada pagi hari. Spesimen sputum yang

sudah dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam botol dilakukan sentrifugasi.

Deposit hasil sentrifugasi sputum diperiksa dengan metode RT-PCR

GeneXpert. Sputum diinkubasi selama 15 menit di suhu kamar. Selanjutnya

sputum diambil dengan pipet khusus dan dimasukkan ke dalam cartridge.

Setelah itu cartridge dimasukkan ke dalam alat GeneXpert. Sputum diproses

dan diperiksa oleh GeneXpert secara otomatis, hasilnya dapat diperoleh setelah

± 2 jam.

7. Pengobatan TB

Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan penderita, mencegah

kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah

terjadinya resistensi bakteri terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis) (Depkes

RI, 2018). Pengobatan pada penderita tuberkulosis dewasa dibagi menjadi

beberapa kategori:

16
a. Kategori-1 (2HRZE/4H3R3)

Tahap intensif terdiri dari Isoniazid (H), Rifampisin (R),Pirazinamid (Z)

dan Ethambutol (E). Obat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan

(2HRZE). Kemudian diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari

Isoniazid (H) dan Rifampisin (R), diberikan tiga kali dalam seminggu

selama 4 bulan (4H3R3). Obat ini diberikan untuk :

1) Penderita baru TB paru BTA positif

2) Penderita TB paru BTA negatif rontgen positif yang“sakit berat” dan

3) Penderita TB ekstra paru berat

b. Kategori-2 (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)

Tahap intensif diberikan selama 3 bulan. Dua bulan pertama dengan

Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Ethambutol(E) dan suntikan

Streptomisin setiap hari di Unit Pelayanan Kesehatan. Dilanjutkan 1 bulan

dengan Isoniazid (H), Rifampisin(R), Pirazinamid (Z) dan Ethambutol (E)

setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan

dengan HRE yangdiberikan tiga kali dalam seminggu. Perlu diperhatikan

bahwa suntikan Streptomisin diberikan setelah penderita selesai minumobat.

Obat ini diberikan untuk :

1) Penderita kambuh (relaps)

2) Penderita gagal (failure)

3) Penderita dengan pengobatan setelah lalai (afterdefault)

17
c. Kategori-3 (2HRZ/4H3R3)

Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan,

diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan diberikan 3

kali seminggu. Obat ini diberikan untuk :

1) Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif yang “sakit ringan”

2) Penderita TB ekstra paru ringan

d. OAT sisipan

Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif

dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan

kategori 2, hasil pemeriksaan sputum masih BTA positif, diberikan obat

sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan (Depkes RI, 2017).

8. Evaluasi Pengobatan

a. Evaluasi klinis

1) Penderita dievaluasi setiap 2 minggu pada 1 bulan pertama, pengobatan

selanjutnya setiap 1 bulan.

2) Evaluasi terhadap respon pengobatan dan ada tidaknya efek samping obat

serta ada tidaknya komplikasi penyakit.

3) Evaluasi klinis meliputi keluhan, berat badan, pemeriksaan fisik.

b. Evaluasi bakteriologis (0-2-6/9 bulan pengobatan)

1) Bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya konversi sputum.

2) Pemeriksaan dan evaluasi pemeriksaan mikroskopis :

18
a) Sebelum pengobatan dimulai

b) Setelah 2 bulan pengobatan (setelah fase intensif)

c) Pada akhir pengobatan, bila ada fasilitas biakan, dilakukan

pemeriksaan biakandan uji resistensi.

c. Evaluasi radiologi (0-2-6/9 bulan pengobatan)

Pemeriksaan dan evaluasi foto toraks dilakukan pada :

1) Sebelum pengobatan

2) Setelah 2 bulan pengobatan (kecuali pada kasus yang juga dipikirkan

kemungkinan keganasan dapat dilakukan 1 bulan pengobatan)

3) Pada akhir pengobatan.

d. Evaluasi efek samping secara klinis

Bila pada evaluasi klinis dicurigai terdapat efek samping, maka dilakukan

pemeriksaan laboratorium untuk memastikannya dan penanganan efek

samping obat sesuai pedoman.

e. Evaluasi keteraturan berobat

1) Yang tidak kalah pentingnya adalah evaluasi keteraturan berobat dan

diminum/ tidaknya obat tersebut.

2) Ketidakteraturan berobat akan menyebabkan timbulnya masalah resistensi

(Depkes, 2017).

19
B. Program DOTS di Indonesia

DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) adalah nama untuk

strategi yang dilaksanakan pada pelayanan kesehatan dasar di dunia untuk

mendeteksi dan menyembuhkan penderita TB. Strategi ini terdiri dari lima

komponen, yaitu :

1. Dukungan politik para pimpinan wilayah di setiap jenjang sehingga program ini

menjadi salah satu prioritas dan pendanaan pun akan tersedia.

2. Mikroskop sebagai komponen utama untuk mendiagnosis TB melalui

pemeriksaan sputum langsung penderita tersangka TB.

3. Pengawas minum obat (PMO) yaitu orang yang dikenal dan dipercaya baik oleh

penderita maupun tenaga kesehatan yang akan ikut mengawasi penderita

minum seluruh obatnya.

4. Pencatatan dan pelaporan dengan baik dan benar.

5. Paduan obat anti TB jangka pendek yang benar, termasuk dosis dan jangka

waktu yang tepat (Depkes, 2018).

Pada tahun 1994, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Badan

Kesehatan Dunia (WHO), melaksanakan suatu evaluasi bersama (WHO-

IndonesianJointEvaluation) yang menghasilkan rekomendasi, “Perlunya segera

dilakukan perubahan mendasar pada strategi penanggulangan TB di Indonesia.”

Penanggulangan ini kemudian disebut sebagai strategi DOTS. Sejak saat itulah

dimulailah era baru pemberantasan TB di Indonesia (Muharman, 2015). Fokus

20
utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan penderita. Prioritas diberikan

kepada penderita TB yang menular. Strategi ini akan memutuskan rantai penularan

TB paru dan dengan demikian menurunkan insidens TB paru di masyarakat.

Menemukan dan menyembuhkan penderita merupakan cara terbaik dalam upaya

pencegahan penularan TB paru (Depkes, 2017).

WHO menetapkan target CDR (Case Detection Rate) minimal 70% pada

tahun 2005. Jika CDR> 70%, Cure Rate> 85%, Error Rate< 5% tercapai, dalam

kurun waktu 5 tahun, jumlah penderita TB akan berkurang setengahnya (Depkes,

2018).

Sejak DOTS diterapkan secara intensif terjadi penurunan angka kesakitan TB

menular yaitu pada tahun 2001 sebesar 122 per 100.000 penduduk dan pada tahun

2005 menjadi 107 per 100.000 penduduk. Hasil yang dicapai Indonesia dalam

menanggulangi TB hingga saat ini telah meningkat. Angka penemuan kasus TB

menular ditemukan pada tahun 2004 sebesar 128.981 orang (54%) meningkat

menjadi 156.508 orang (67%) pada tahun 2005. Keberhasilan pengobatan TB dari

86,7% pada kelompok penderita yang ditemukan pada tahun 2003 meningkat

menjadi 88,8% pada tahun 2004 (Depkes, 2017). Penguatan strategi DOTS dan

pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan, kemudahan

akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai

penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB (Depkes, 2017).

21
C. Kinerja Pengawas Minum Obat (PMO)

1. Pengawas Minum Obat (PMO)

Salah satu komponen DOTS adalah paduan pengobatan OAT jangka

pendek dengan pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan

diperlukan seorang PMO.

a. Persyaratan PMO

1) Seseorang yang dikenal, dipercaya, dan disetujui, baik oleh tenaga

kesehatan maupun penderita, selain itu harus disegani dan dihormati oleh

penderita.

2) Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita.

3) Bersedia membantu penderita dengan sukarela.

4) Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan

penderita.

Sebaiknya seorang PMO berasal dari keluarga dekat yang tinggal satu

rumah dengan penderita. Jika tidak ada, PMO bisa berasal dari tetangga atau

kerabat dekat yang sekiranya tiap hari bisa menemani dan mengawasi

penderita terutama saat waktu meminum obat.

b. Peran PMO

1) Mengawasi penderita TB agar minum obat secara teratur sampai selesai

pengobatan.

2) Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur.

22
3) Mengingatkan penderita untuk periksa ulang sputum pada waktuyang

telah ditentukan.

4) Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB yang

mempunyai gejala - gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan

diri ke unit pelayanan kesehatan. Tugas seorang PMO bukanlah untuk

menggantikan kewajiban penderita mengambil obat dari unit pelayanan

kesehatan.

5) Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada

penderita dan keluarganya:

a) TB disebabkan oleh bakteri, bukan penyakit keturunan atau kutukan.

b) TB dapat disembuhkan dengan berobat secara teratur.

c) Cara penularan TB, gejala yang mencurigakan dan cara

pencegahannya.

d) Cara pemberian obat pada penderita (tahap intensif dan lanjutan).

e) Pentingnya pengawasan supaya penderita berobat secara teratur.

f) Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera

meminta pertolongan ke UPK (Depkes, 2017).

2. Kinerja

Kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang

dalam melaksanakan tugas - tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan

23
atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Ada 3 faktor yang

berpengaruh terhadap kinerja, antara lain:

a. Faktor individu: kemampuan, keterampilan, latar belakang keluarga,

pengalaman kerja, tingkat sosial dan demografi seseorang

b. Faktor psikologis: persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi dan

kepuasan kerja.

c. Faktor organisasi: struktur organisasi, desain pekerjaan, kepemimpinan,

sistem penghargaan (reward system) (Depkes, 2017).

D. Kepatuhan

Kepatuhan berasal dari kata dasar “patuh” yang berarti disiplin dan taat.

Kepatuhan adalah suatu tingkat dimana perilaku individu (misalnya dalam kaitan

dengan mengikuti pengobatan, mengikuti instruksi diet, atau membuat perubahan

gaya hidup) sesuai atau tepat dengan anjuran dokter. Kepatuhan juga

didefinisikan sebagai tingkatan dimana individu mengikuti instruksi yang diberikan

untuk mendukung pengobatan terhadap penyakitnya. Kepatuhan merupakan sikap

atau ketaatan individu mematuhi anjuran tenaga kesehatan untuk melakukan

tindakan medis (Niven, 2015).

Kepatuhan adalah tingkat perilaku penderita yang tertuju terhadap instruksi

atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik

diet, latihan, pengobatan atau menepati janji pertemuan dengan dokter (Stanley,

2017). Kepatuhan terhadap pengobatan didefinisikan sebagai sejauh mana perilaku

24
penderita sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh tenaga medis mengenai

penyakit dan pengobatannya. Tingkat kepatuhan untuk setiap penderita biasanya

digambarkan sebagai persentase jumlah obat yang diminum setiap harinya dan

waktu minum obat dalam jangka waktu tertentu (Osterberg & Terrence, 2015).

Sebagian penyedia layanan kesehatan menggunakan istilah kesesuaian

(compliance) lebih tepat dibandingkan kepatuhan (adherence). Kesesuaian

didefinisikan sebagai sejauh mana perilaku seseorang bertepatan dengan saran

medis. Non compliance kemudian pada dasarnya berarti bahwa penderita tidak

mematuhi saran dari penyedia layanan kesehatan. Ketidaksesuaian penderita

dipengaruhi oleh kualitas pribadi dari penderita, seperti lupa, kurangnya kemauan

atau sikap disiplin, atau rendahnya tingkat pendidikan. Kepatuhan (adherence)

didefinisikan sebagai sikap aktif, sukarela, keterlibatan kolaborasi penderita dalam

menerima perilaku untuk menghasilkan outcome therapy. Konsep dari kepatuhan

adalah pilihan dalam penetapan tujuan, perencanaan perawatan, dan implementasi

dari regimen (Delamater, 2016).

Menurut WHO (2017), kepatuhan (adherence) didefinisikan sebagai tingkat

perilaku seseorang dalam menjalankan pengobatan, mengikuti diet, dan/atau

melaksanakan perubahan gaya hidup, sesuai dengan rekomendasi yang telah

disepakati dengan penyedia layanan kesehatan. Sedangkan compliance merupakan

tingkat perilaku seseorang dalam menjalankan pengobatan sesuai dengan petunjuk

atau perintah yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Disini penderita berperan pasif

25
dalam proses pengobatan, mengikuti perintah dokter dan rencana terapi tidak

didasarkan pada therapeutic alliance atau kesepakatan antara penderita dan dokter,

sehingga penggunaan istilah ini sudah tidak begitu disukai.

Kepatuhan (adherence) didefinisikan sebagai mengikuti instruksi yang telah

diberikan, hal ini melibatkan pilihan konsumen dan tidak bersifat menghakimi,

tidak seperti compliance yang menuntut penderita bersifat pasif. Ketidakpatuhan

terapi meliputi penundaan pengambilan resep, tidak mengambil obat yang

diresepkan, tidak mematuhi dosis, dan mengurangi frekuensi penggunaan obat

(Bosworth, 2015). Menurut Kozier (2016) kepatuhan adalah perilaku individu

(misalnya: minum obat, mematuhi diet, atau melakukan perubahan gaya hidup)

sesuai anjuran terapi dan kesehatan. Tingkat kepatuhan dapat dimulai dari tindak

mengindahkan setiap aspek anjuran hingga mematuhi rencana.

Istilah kepatuhan (compliance) menurut Pranoto (2017) adalah sikap suka,

menurut perintah, taat pada perintah. Secara sederhana kepatuhan adalah perilaku

sesuai aturan dan berdisiplin. Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang berarti

disiplin dan taat. Patuh adalah suka menurut perintah, taat pada perintah atau

aturan (Slamet, 2015). Kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin.

Kepatuhan dokter dan perawat adalah sejauh mana perilaku seorang perawat atau

dokter sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan pimpinan perawat ataupun

pihak rumah sakit (Niven, 2015).

26
E. Kesembuhan

Penderita dinyatakan sembuh bila penderita telah menyelesaikan

pengobatannya secara lengkap, dan pemeriksaan ulang sputum (follow-up) paling

sedikit dua kali berturut-turut dan hasilnya negatif (yaitu pada akhir pengobatan

dan/atau sebelum akhir pengobatan, dan pada satu pemeriksaan follow-up

sebelumnya) (Depkes, 2018).

Dalam proses penyembuhan, penderita TB dapat diberikan obat anti-TB

(OAT) yang diminum secara teratur sampai selesai dengan pengawasan yang

ketat. Masa pemberian obat memang cukup lama yaitu 6-8 bulan secara terus-

menerus, sehingga dapat mencegah penularan kepada orang lain. Walau telah ada

cara pengobatan TB dengan efektivitas tinggi, angka sembuh lebih rendah dari

yang diharapkan. Kondisi seorang penderita penyakit TB sering berada dalam

kondisi rentan dan lemah, baik fisik maupun mentalnya. Kelemahan itu dapat

menyebabkan penderita tidak berobat, putus berobat, dan atau menghentikan

pengobatan karena berbagai alasan (WHO, 2017).

Peranan PMO sangat mempengaruhi kedisiplinan penderita TB paru dan

keberhasilan pengobatan. Kerjasama tenaga kesehatan dengan keluarga yang

ditunjuk untuk mendampingi ketika penderita minum obat merupakan faktor yang

perlu dievaluasi untuk menentukan tingkat keberhasilan pengobatan.

27
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi angka kesembuhan TB paru :

1. Faktor sarana

Faktor ini ditentukan oleh:

a. Pelayanan kesehatan : sikap tenaga kesehatan terhadap pola penyakit TB

paru.

b. Logistik obat.

2. Faktor penderita

Faktor ini ditentukan oleh :

a. Pengetahuan penderita mengenai penyakit TB paru, cara pengobatan, dan

bahaya yang dapat ditimbulkan akibat berobat tidak adekuat.

b. Menjaga kondisi tubuh dengan makan makanan bergizi, cukup istirahat,

hidup teratur, dan tidak mengkonsumsi alkohol atau merokok.

c. Menjaga kebersihan diri dengan tidak membuang sputum sembarangan dan

bila batuk menutup mulut dengan sapu tangan.

3. Faktor keluarga dan lingkungan

Faktor ini ditentukan oleh:

a. Dukungan keluarga yang baik selama pengobatan

b. Ventilasi yang baik sehingga udara dapat keluar masuk

c. Lantai rumah yang kering sehingga bakteri TB sulit untuk hidup dan

berkembang (Wukir, 2015).

28
BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Genetik

Lingkungan
Pelayanan
1. Sosial Peran PMO
Penderita TB Kesehatan
2. Fisik
3. Biologi

Perilaku Penderita Karakteristik Penderita


1. Kepatuhan Minum Obat 1. Umur
2. Nilai dan norma 2. Jenis kelamin
3. Sputum pot
3. Penyakit lain yang
menyertai
4. Imunitas

Keterangan :

: variabel yang diteliti : variabel yang tidak diteliti

Gambar III.1 Kerangka Konsep Modifikasi Teori H.L Blum

29
B. Penjelasan Kerangka Konsep

Teori H. L. Blum merupakan konsep hidup sehat secara holistik, baik secara

fisik, spiritual dan sosial dalam masyarakat. H. L. Blum menjelaskan ada 4 faktor

utama yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, terdiri dari faktor

perilaku, faktor lingkungan, faktor pelayanan kesehatan dan faktor genetik.

Konsep ini juga dapat digunakan dalam kasus TB. Faktor perilaku meliputi

perilaku penderita dalam meludah, tidak menutup mulut saat batuk dan tidak

menggunakan masker. Faktor lingkungan meliputi kepadatan hunian, ventilasi

rumah, pencahayaan dalam rumah, lingkungan tempat kerja penderita. Untuk

faktor pelayanan kesehatan meliputi peran tenaga kesehatan dalam edukasi

tentang TB ke pengawas minum obat dan penderita, ketersediaan obat. 3 faktor

diatas merupakan faktor yang ingin diteliti. Ada beberapa faktor lain yang juga

berpengaruh seperti genetik dan karakteristik penderita. Dalam hal ini 2 faktor itu

tidak diteliti lebih dalam.

C. Hipotesis Penelitian

H0 : Tidak ada hubungan antara peran pengawas minum obat (PMO) dengan

kepatuhan minum obat pada penderita tuberkulosis (TB) paru di Puskesmas

Pungging Mojokerto Jawa Timur.

H1 : Ada hubungan antara peran pengawas minum obat (PMO) dengan kepatuhan

minum obat pada penderita tuberkulosis (TB) paru di Puskesmas Pungging

Mojokerto Jawa Timur.

30
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis observasional

dengan rancangan retrospektif cross-sectional (Notoatmodjo, 2015). Pendekatan

retrospektif cross-sectional adalah suatu pendekatan yang mempelajari dinamika

kolerasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan,

observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat secara retrospektif

(pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa yang telah terjadi) (Notoatmodjo,

2015).

Tujuan dari metode penelitian tersebut adalah untuk mengetahui sejauh

mana hubungan antara variabel yang diteliti. Pengukuran dan pengamatan

dilakukan secara simultan dalam satu saat atau kurun waktu tidak lebih dari satu

tahun.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Puskesmas Pungging Mojokerto Jawa Timur. Waktu

penelitian dimulai pada bulan Agustus hingga September 2019.

31
C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi penelitian ini adalah semua penderita TB paru di Puskesmas

Pungging pada tahun 2019. Jumlah populasi pada penelitian ini adalah 34

orang.

2. Sampel

Sampel penelitian adalah semua penderita TB fase intensif di Puskesmas

Pungging pada tahun 2019 (Notoatmodjo, 2015). Sampel yang digunakan di

dalam penelitian ini berjumlah 32 orang.

a. Besar Sampel

Besar sampel ditentukan dengan rumus besar sampel menurut

Slovin (Sujarweni, 2017)

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁𝑒 2

Keterangan :

n : jumlah sampel minimal yang diperlukan

N : populasi desa Pekukuhan

e : tingkat kepercayaan yang diinginkan

32
Berdasarkan rumus Slovin, maka perhitungan besar sampel menjadi:

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁𝑒 2

34
𝑛=
1 + 34 (0.05)2

34
𝑛=
1 + 34 (0.0025)

34 34
𝑛= 𝑛=
1 + 0.085 1,085

= 31.33

Jadi jumlah sampel yang diambil adalah 32 responden

Keterangan:

n = jumlah sampel

N = jumlah populasi

e = batas toleransi error

b. Cara Pengambilan Sampel

Cara pengambilan sampel menggunakan metode purposive simple

random sampling. Purposive simple random sampling adalah salah satu

teknik sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan

cara menetapkan kriteria khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian

sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian.

(Notoatmodjo, 2015). Sampel diambil secara acak, dimana sebelumnya

33
responden atau penderita yang memenuhi kriteria diberi nomor 1 sampai

34. Dari 34 nomor, akan diambil 2 nomor secara acak. Selanjutnya 32

nomor sisanya akan digunakan sebagai sampel penelitian.

a. Kriteria Inklusi

1) Penderita TB paru BTA (+) yang tinggal menetap di Puskesmas

Pungging Mojokerto Jawa Timur.

2) Penderita TB paru BTA (+) yang baru pertama kali menjalani

pengobatan TB paru.

3) Penderita TB paru BTA (+) yang mampu berkomunikasi dengan

baik dan tidak buta huruf.

4) Penderita yang didampingi PMO.

5) Bersedia menjadi responden.

b. Kriteria Eksklusi

1) Penderita TB paru BTA (+) yang berobat tidak teratur di

Puskesmas Pungging Mojokerto, Jawa Timur.

2) Penderita TB Paru BTA (+) yang sudah selesai menjalani

pengobatan di Puskesmas Pungging Mojokerto, Jawa Timur.

3) Penderita TB Paru BTA (+) yang menjalani pengobatan ulang

(kasus kambuh).

4) Penderita TB Paru BTA (+) yang tidak mampu berkomunikasi

dengan baik.

34
5) Tidak bersedia menjadi responden.

D. Variabel Penelitian

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah peran PMO, sedangkan variabel

terikatnya adalah kepatuhan minum obat pada penderita TB Paru.

35
E. Definisi Operasional Variabel

Tabel IV.1 Definisi Operasional Variabel

Hasil Ukur
Skala
No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur (kode, kategori,
Data
score)
1. Peran 1. PMO berasal 1. Field Note 1.Peran baik jika Nominal
pengawas adalah orang yang jumlah skor
minum obat dikenal, dipercaya 2. Kuesioner jawaban benar
dan disegani >50%
(PMO)
penderita. Bersedia
membantu 2.Peran kurang
penderita dengan baik jika jumlah
sukarela. skor jawaban
benar skor <50%
2. PMO bertugas
untuk mengawasi
dan member
dorongan penderita
TB agar minum
obat secara teratur
sampai tuntas,
mengingatkan
penderita untuk
periksa ulang
dahak pada waktu
yang ditentukan
2. Kepatuhan Patuh adalah perilaku 1.Kuesioner 1. Patuh Nominal
minum obat untuk taat kepada jikajumlah skor
setiap intruksi yang 2.Obser- jawaban benar>
50%
disampaikan petugas vational list
kesehatan terkait 2.Tidak patuh jika
tatalaksana jumlah skor
kesehatan. jawaban benar
Kepatuhan minum <50%
obat penderita
digambarkan dengan
ketepatan jumlah
obat, dosis obat dan
waktu minum obat
yang dilakukan
penderita.

36
F. Prosedur Penelitian

1. Skema Prosedur Penelitian

Persiapan penelitian

Identifikasi jumlah subyek yang masuk dalam sampel penelitian

Memenuhi kriteria Tidak memenuhi


kriteria

Penderita PMO Tenaga Kesehatan

Pemberian informed consent Tidak bersedia

Bersedia

Pengumpulan data

Analisis data

Laporan hasil penelitian

Gambar IV.1 Skema Prosedur Penelitian

37
Kepatuhan minum obat penderita TB diklasifikasikan menjadi:

a. Patuh, jika menjalani pengobatan hingga tuntas (tepat dosis, waktu dan

jumlah obat) sesuai yang ditentukan oleh tenaga kesehatan.

b. Tidak patuh, jika tidak tuntas menjalani pengobatan, seperti: pengobatan

sengaja dihentikan oleh penderita, lupa minum obat dan kurangnya

dosis dan jumlah minum obat.

G. Metode Analisis Data

1. Analisis Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk menggambarkan masing-masing

variabel dengan membuat tabel distribusi frekuensi dan persentase.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara peran

pengawas minum obat (PMO) dengan kepatuhan minum obat pada penderita

tuberkulosis (TB) paru di Puskesmas Pungging Mojokerto Jawa Timur.

Analisis yang paling tepat untuk penelitian ini yaitu menggunakan uji Chi-

Square. Uji ini merupakan asosiasi yang menuntut kedua variabel diukur

sekurang-kurangnya pada skala nominal sehingga objek atau responden dapat

di-ranking dalam dua rangkaian yang berurutan.

38
BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Pungging terletak di Jalan Raya PunggingNo. 62 Dusun

Pungging Kecamatan Pungging, Mojokerto, Jawa Timur 61384. Wilayah kerja

Puskesmas Pungging terdiri dari dua belas desa yang terdiri dari Desa Pungging,

Desa Tunggal Pager, Desa Banjar Tanggul, Desa Jati Langkung, Desa Tempuran,

Desa Mojorejo, Desa Purworejo, Desa Sekar Gadung, Desa Lebaksono, Desa

Kalipuro, Desa Curah Mojo, Desa Randuharjo. Puskesmas Pungging memiliki

fasilitas antara lain balai pengobatan umum, poli gigi, poli KIA, farmasi, poli

kesehatan gizi, instalasi gawat darurat, ruang rawat inap, poli lansia, poli TB dan

poli KB. Hampir seluruh masyarakat memanfaatkan dengan baik seluruh fasilitas

yang ada di Puskesmas Pungging, salah satunya dalam pelayanan program

penanggulanagan TB. Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah

penderita TB paru BTA (+) yang telah mendapat pengobatan selama fase intensif

di Puskesmas Pungging dimana pengobatannya berakhir pada tahun 2019.

39
B. Data Geografi

Kabupaten Mojokerto merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa Timur

yang secara geografis terletak di antara 111°20'13'' sampai dengan 111°40'47''

bujur timur dan antara 7°18'35'' sampai dengan 7°47'30" lintang selatan dengan

luas daerah seluruhnya 969.360 km2 atau sekitar 2,09% dari luas Provinsi Jawa

Timur.

Secara geografis Kabupaten Mojokerto tidak berbatasan dengan pantai, hanya

berbatasan dengan wilayah kabupaten lainnya :

1. Sebelah Utara : Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik

2. Sebelah Timur : Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Pasuruan

3. Sebelah Selatan : Kabupaten Malang dan Kota Batu

4. Sebelah Barat : Kabupaten Jombang

40
C. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil pengumpulan data, didapatkan distribusi responden sebagai

berikut:

1. Jenis Kelamin Responden


Tabel V.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

Laki-Laki 23 71.9

Perempuan 9 28.1

Total 32 100.0

Sumber: Data Kuesioner

Berdasarkan tabel V.1 diketahui bahwa sebagian besar responden

berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 23 orang (71,9%) sedangkan

responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 9 orang (28,1%).

2. Tingkat Pendidikan Responden


Tabel V.2 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan
Pendidikan Frekuensi Persentase (%)

Tamat SD 5 15.6

SMP 12 37.5

SMA 15 46.9

Total 32 100.0

Sumber: Data Kuesioner

41
Berdasarkan tabel V.2 diketahui bahwa dari 32 responden dapat

diketahui bahwa semua responden pernah mengenyam pendidikan, antara

lain: tamat SD sebanyak 5 orang (15.6%), SMP sebanyak 12 orang (37,5%)

dan SMA sebanyak 15 orang (46,9%).

3. Pekerjaan Responden
Tabel V.3 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)

Tidak bekerja 13 40.6

Swasta 12 37.5

Wiraswasta 7 21.9

Total 32 100.0

Sumber : Data Kuesioner

Berdasarkan tabel V.3 diketahui bahwa sebanyak 13 orang (40,6%)

responden tidak bekerja. Swasta sebanyak 12 orang (37,5%) dan wiraswasta

sebanyak 7 orang (21,9%).

42
4. Peran PMO pada Responden
Tabel V.4 Distribusi Responden Menurut Peran PMO
Peran PMO Frekuensi Persentase (%)

Kurang baik 14 43.8

Baik 18 56.3

Total 32 100.0

Sumber : Data kuesioner.

Berdasarkan tabel V.4 dapat diketahui bahwa dari 32 orang responden

sebanyak 14 orang (43.8%) responden dengan peran PMO kurang baik.

Sedangkan peran PMO baik ditemukan sebanyak 18 orang (56,3%).

5. Kepatuhan Minum Obat pada Responden TB Paru


Tabel V.5 Distribusi Responden Menurut Kepatuhan Minum Obat pada
Responden TB Paru
Kepatuhan Minum Obat
Frekuensi Persentase (%)
responden TB Paru

Tidak Patuh 12 37.5

Patuh 20 62.5

Total 32 100.0

Sumber : Data kuesioner.

Berdasarkan tabel V.5 diketahui bahwa sebanyak 12 orang (37,5%) responden

tidak patuh minum obat TB, sedangkan sebanyak 20 orang (62,5%) responden

patuh minum obat TB.

43
D. Hasil Uji Statistik

Setelah diketahui karakteristik masing-masing variabel (univariat) dapat

diteruskan dengan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel.

Berikut ini akan disajikan hasil pengujian menggunakan uji Chi-Square.

Tabel V.6 Hubungan antara Peran Pengawas Minum Obat (PMO) dengan
Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Tuberkulosis (TB) Paru di Puskesmas
Pungging Mojokerto Jawa Timur Tahun 2019.
Peran PMO Kepatuhan Minum Obat Total Uji
pada Responden TB Paru Chi-Square
Patuh Tidak Patuh
Baik 15 (83,3%) 3 (16,7%) 18 (100%) Value = 0,5723
Kurang Baik 5 (35.7%) 9 (64.3%) 14 (100%)
Total 20 (62,5%) 12 (37,5%) 32 (100%) Sig = 0,017

Hasil penelitian dengan menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa

adanya hubungan antara peran pengawas minum obat (PMO) dengan kepatuhan

minum obat pada penderita tuberkulosis (TB) paru di Puskesmas Mojokerto Jawa

Timur 2019. Hal ini ditunjukkan dengan nilai sig. = 0,017 (<0,05). Dimana dari

100% responden TB paru dengan peran PMO baik (mendukung) sebanyak

83,3% diantaranya patuh minum obat. Dari 100% responden TB paru dengan

peran PMO tidak baik, sebanyak 64,3% responden tidak patuh minum obat.

44
BAB VI

PEMBAHASAN

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan infeksi Mycobacterium

tuberculosis yang menyerang pada paru-paru, beberapa kasus lain menyerang organ

tubuh lainnya (Effendi, 2016).

TB paru dapat disembuhkan dengan pengobatan secara teratur. Keberhasilan

pengobatan dipengaruhi beberapa faktor mulai dari karakteristik penderita termasuk

status gizi dan imunitas, faktor lingkungan, faktor sarana dan prasarana yang

mendukung keteraturan pengobatan. Pengobatan TB paru memerlukan waktu yang

sangat panjang dan mungkin menyebabkan kebosanan dan kejenuhan pada penderita.

Untuk menjamin keteraturan pengobatan tersebut diperlukan seorang pengawas

minum obat (PMO) yang akan membantu penderita selama dalam program

pengobatan TB Paru (Muharman, 2017).

Berdasarkan data dari 32 responden, hasil penelitian dengan menggunakan uji

korelasi Chi-Square menunjukkan bahwa adanya hubungan antara peran pengawas

minum obat (PMO) dengan kepatuhan minum obat pada penderita tuberkulosis (TB)

paru di Puskesmas Pungging Kecamatan Pungging Mojokerto Jawa Timur. Hal ini

ditunjukkan dengan nilai sig. = 0,017 (<0,05).

Pengawasan penderita tuberkulosis sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan

penderita. Pemilihan pengawas minum obat (PMO) disesuaikan dengan keadaan

45
tempat penderita. Pengawas minum obat berasal dari dari keluarga maupun tokoh

masyarakat. Selain bertugas sebagai pengawas minum obat, PMO juga dapat

mendampingi penderita di dalam pengambilan obat dan menepati jadwal kunjungan

berobat (Depkes RI, 2017).

Pada tabel V.1 diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin

laki-laki yaitu sebanyak 23 (71,9%) sedangkan responden yang berjenis kelamin

perempuan berjumlah 9 orang (28,1%). Menurut penulis, hal ini dikarenakan pada

laki-laki lebih banyak kontak dengan lingkungan di luar rumah dibandingkan

perempuan, sehingga kemungkinan tertular bakteri tuberkulosis lebih besar pada laki-

laki

Pada tabel V.2 menunjukan bahwa dari 32 responden dapat diketahui bahwa

responden memiliki pendidikan setingkat SMA yaitu sebanyak 15 orang (49,6%),

setingkat SMP sebanyak 12 orang (37,5%) dan 5 orang (15,6%) responden yang

tamat SD. Tingginya tingkat pendidikan di wilayah Pungging dikarenakan lokasi

sekolah SD, SMP, SMA yang sangat strategis dan dekat dengan pemukiman

penduduk sehingga minat masyarakat untuk bersekolah juga tinggi.

Menurut penulis, tingkat pendidikan sangat berpengaruh pada PMO maupun

penderita. Tingginya tingkat pendidikan pada PMO akan berpengaruh pada

kemampuan PMO di dalam menjelaskan informasi pada penderita dan keluarganya.

Pada penderita, tingkat pendidikan akan berpengaruh pada kemampuan untuk

46
menerima informasi tentang penyakit, terutama tentang TB Paru yang dijelaskan

baik itu oleh PMO maupun tenaga kesehatan.

Kurangnya informasi tentang TB Paru menyebabkan kurangnya dukungan

keluarga dan kepatuhan berobat penderita atau berhenti berobat bila gejala

penyakit tidak dirasakan lagi (Widodo, 2014). Alsagaf dan Mukti (2016) dalam

penelitiannya mengungkapkan peranan pendidikan mengenai penyakit dan

keteraturan berobat sangat penting, karena ketidakteraturan berobat menyebabkan

timbulnya masalah resistensi. Akibatnya semua tatalaksana yang telah dilakukan

dengan baik akan menjadi sia-sia, bila tanpa disertai dengan sistem evaluasi yang

baik pula.

Berdasarkan tabel V.3 diketahui 7 orang (21,9%) responden bekerja sebagai

wiraswasta, 12 orang (37,5%) bekerja swasta dan 13 orang (40,6%) tidak bekerja.

Tingginya angka tidak bekerja pada wilayah Pungging bisa diakibatkan karena

kurangnya niat masyarakat untuk bekerja menghasilkan uang dan masih bergantung

pada penghasilan anggota keluarga yang lain. Hal ini sering terjadi pada ibu-ibu

rumah tangga.

Berdasarkan tabel V.4 dapat diketahui bahwa dari 32 orang responden

penelitian, 14 orang (48,3%) responden memiliki PMO yang berperan kurang baik

(kurang optimal), sedangkan 18 orang (56,3%) responden memiliki PMO yang

berperan baik (berperan optimal). PMO yang berperan baik (yang berasal dari

keluarga dekat atau orang yang sangat dipercaya penderita) ini sangat menentukan

47
kepatuhan penderita terhadap pengobatan. Menurut penulis, penderita cenderung

mendengarkan dan mematuhi hal-hal yang disampaikan apabila PMO itu dekat dan

mengerti kondisi keseharian penderita. Dan dari sisi PMO sendiri, bisa dengan luwes

menjelaskan informasi terkait dengan kepatuhan minum obat kepada penderita.

Peran PMO yang baik didukung oleh hubungan PMO dengan penderita dan

kedekatan PMO dengan penderita. Dukungan PMO sebagai anggota keluarga

penderita merupakan bentuk dukungan instrumen keluarga, yaitu memberikan

pertolongan praktis terhadap kegiatan pemenuhan dan pemeliharaan kesehatan

anggota keluarga. Didukung oleh kedekatan hubungan penderita dengan PMO,

dimana distribusi tempat tinggal PMO dengan penderita sebagian besar tinggal

serumah dengan PMO, meningkatkan peran PMO terhadap kepatuhan minum obat

penderita. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Widodo (2014) yang

menyatakan bahwa salah satu dukungan keluarga terhadap anggotanya adalah

dukungan instrumental yaitu keluarga merupakan sebuah pertolongan praktis dan

konkrit, diantaranya kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum,

istirahat, terhindarnya penderita dari kelelahan.

Berdasarkan tabel V.5 menunjukkan bahwa 20 orang (62,5%) responden

patuh dalam meminum obat TB, sedangkan 12 orang (37,5%) responden tidak patuh

dalam meminum obat TB. Tingginya angka kepatuhan minum obat ini sesuai saat

dilakukan observasi pada penderita. Disini, penulis menanyakan secara langsung

bagaimana cara minum obat, waktu minum obat , jumlah obat yang diminum dan itu

48
semua sesuai dengan apa yang disampaikan oleh PMO dan tenaga kesehatan. Penulis

kembali menegaskan bahwa komunikasi yang efektif antara PMO dan tenaga

kesehatan sangat besar pengaruhnya terhadap kepatuhan minum obat penderita.

Sebagian kecil responden tidak patuh, hal ini bisa dikarenakan karena peran PMO

yang kurang di dalam menyampaikan informasi-informasi maupun dari penderita

sendiri yang memang tidak taat (karena umur sudah terlalu tua, malas minum obat,

merasa sudah sembuh, dll)

49
BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. PMO adalah orang yang dikenal, dekat dan dipercaya oleh penderita. PMO

sebaiknya yang tinggal dekat dengan penderita dan bersedia membantu

penderita dengan sukarela. PMO berperan mengawasi dan memberi dorongan

kepada penderita agar mau patuh minum obat.

2. Baik atau kurangnya peran PMO dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan PMO.

Hal ini mempengaruhi cara penyampaian informasi dari PMO ke penderita.

3. Kepatuhan minum obat pada penderita TB paru adalah suatu perilaku taat

untuk minum obat (tepat waktu minum, tepat jumlah obat, dan tepat dosis

obat) sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh PMO dan tenaga

kesehatan.

4. Tingkat kepatuhan minum obat pada penderita TB paru dipengaruhi oleh usia,

tingkat pendidikan, jenis kelamin dan pekerjaan dari penderita.

5. Ada hubungan antara peran pengawas minum obat (PMO) dengan kepatuhan

minum obat pada penderita tuberkulosis (TB) paru di Puskesmas Pungging

Mojokerto Jawa Timur.

50
B. Saran

1. Bagi Puskesmas Pungging Kecamatan Pungging Mojokerto

Perlu dilakukannya penyuluhan tentang TB paru terhadap masyarakat,

khususnya penderita maupun keluarga penderita agar memahami penyebab,

pengobatan, efek samping yang mungkin akan dirasakan selama pengobatan

dan perlunya berobat secara teratur. Pihak puskesmas sebaiknya mampu

memberikan motivasi khususnya pada penderita untuk patuh menjalani

pengobatan hingga tuntas.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Perlu dilakukannya pengkajian lebih dalam lagi terkait faktor-faktor lain yang

mempengaruhi kepatuhan minum obat pada penderita TB paru selain dari

peran PMO yang sudah disebutkan di makalah penelitian ini

3. Bagi penderita dan PMO

Diharapkan penderita TB paru tetap patuh terhadap pengobatan dan PMO bisa

lebih mengoptimalkan perannya di dalam pengawasan dan motivasi terhadap

penderita.

51
DAFTAR PUSTAKA

Alsagaf dan Mukti 2016. Hubungan Kinerja Pengawas Minum Obat (PMO) dengan
Keteraturan Berobat Penderita TB Paru Strategis DOTS di RSUD Dr
Moewardi Surakarta. Skripsi. FK-Universitas Sebelas Maret Surakarta

Baddeley, 2014. WHO Global Tuberculosis Report 2014. Switzerland: World Health
Organization, p. 24-26.

Depkes RI, 2018. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta:


Depkes, hal. 107-109.

Dinkes Jatim. 2014 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2014. Surabaya:
Dinkes Jatim, hal. 36-37.

Dinkes Surabaya. 2016. DataKasus TB Paru BTA Positif di Kota Surabaya, Tahun
2016. Surabaya: Dinkes Jatim, hal. 126-127.

Effendi, Dyas. 2016. Pencegahan Penyakit Menular. Jakarta: PT Bhratara Karya


Aksara, hal. 33.

Kemenkes RI. 2017. Petunjuk Teknis Pemeriksaan TB menggunakan Tes Cepat


Molekuler. Jakarta

Marunung. 2018. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernafasan Akibat Infeksi.


Jakarta: CV Trans Info Medika, hal. 74.

Muharman. 2017. Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Angka Kesembuhan TB di


Kabupaten Banjar Tahun 2017..Kalimantan Selatan: Poltekes Kementrian
Kesehatan. Jurnal Buski vol.4 (4), hal.192-199.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2015. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka
Cipta, hal. 323.

52
Widodo, 2014. Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan TB Paru. Jakarta : Puspas
Swara, hal 50-51.

World Health Organization. 2017. A global action framework for TB research in


support of the third pillar of WHO’s End TB Strategy. Geneva: World Health
Organization; 2017 (http://www.who.int/tb/publications/global-framework
research/en/, diakses pada 18 August 2019).

53
Lampiran 1: Pengantar Kuesioner

KUESIONER

Kuesioner Ini Digunakan Untuk Mengumpulkan Data Penelitian Mengenai


“Hubungan Antara Peran Pengawas Minum Obat (PMO) dengan Kepatuhan Minum
Obat pada Penderita Tuberkulosis (TB) Paru di Puskesmas Pungging Kecamatan
Pungging Mojokerto Jawa Timur Tahun 2019”
Kecamatan Pungging merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten
Mojokerto yang memiliki insidensi tuberkulosis yang tinggi. Tujuan penelitian ini
adalah untuk menganalisis hubungan antara peran pengawas minum obat (PMO)
dengan kepatuhan minum obat pada penderita tuberkulosis (TB) paru di Puskesmas
Pungging Kecamatan Pungging Mojokerto.
Untuk mencapai tujuan tersebut mohon kerjasamanya untuk mengisi
kuesioner berikut serta bersedia memberikan informasi yang cukup untuk melengkapi
data penelitian ini. Terima kasih atas kesempatan yang telah Anda berikan dan mohon
maaf apabila dalam penelitian ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan.

Petunjuk Pengumpulan Data


1. Memberi salam sebelum masuk ke tempat tinggal responden
2. Memeperkenalkan diri dan memberitahukan maksud dan tujuan penelitian ini
kepada responden
3. Meminta kesediaan responden menjadi sampel dalam penelitian ini dengan cara
mengisi tanda tangan di lembar persetujuan menjadi responden
4. Melakukan wawancara sesuai dengan kuesioner
5. Apabila saat wawancara terdapat jawaban tambahan dari responden agar dicatat
6. Setelah wawancara selesai, ucapkan terima kasih kepada responden

54
Lampiran 2: Persetujuan sebagai Responden/ Subyek Penelitian

SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

(Informed Consent)

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :

Nama : (Inisial)

Alamat :

Menyatakan bersedia untuk menjadi responden penelitian yang dilakukan oleh

mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma yang sedang melakukan

penelitian dengan judul ”Hubungan Antara Peran Pengawas Minum Obat (PMO)

dengan Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Tuberkulosis (TB) Paru di Puskesmas

Pungging Kecamatan Pungging Mojokerto Jawa Timur”.

Saya memahami bahwa dalam penelitian ini tidak ada unsur yang merugikan,

untuk itu saya secara sukarela dan sadar bersedia menjadi responden dengan

menandatangani persetujuan ini.

Mojokerto,……………….

Responden

(…………………………)

55
Lampiran 3: Kuesioner Penelitian untuk Penderita

KUESIONER UNTUK PENDERITA

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)


DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS PUNGGING
MOJOKERTO JAWA TIMUR

A. Identitas penderita
1. Nomor penderita : (diisi oleh petugas)
2. Jenis kelamin :
3. Umur :
4. Alamat :
5. Pekerjaan :
6. Tingkat pendidikan :
7. Agama :
8. Status perkawinan :
9. Jumlah anak :
10. Kepemilikan Rumah :
11. Ukuran Rumah :

B. Tingkat pengetahuan PMO


Beri Saudara silang (x) pada salah satu pilihan yang sesuai dengan pilihan jawaban
Saudara
1. Apakah Saudara diberitahu tentang penyakit TB oleh pengawas minum
obat?
a. Ya
b. Tidak

56
2. Pernyataan yang benar dibawah ini tentang penyakit TB :
a. TB merupakan penyakit menular yang dapat disembuhkan
b. TB merupakan penyakit yang diturunkan dari orang tua
3. Menurut Saudara apa penyebab dari penyakit TB?
a. Bakteri
b. Makanan atau minuman
c. Tidak tahu
4. Bagaimana cara penularan penyakit TB
a. Sentuhan dan keringat
b. Melalui air liur saat menggunakan alat makan yang sama dengan
penderita dan melalui udara yang tercemar saat penderita batuk
5. Bagaimana gejala pada penderita penyakit TB?
a. Batuk> 2minggu, nafsu makan menurun, berat badan menurun
b. Panas tinggi, mual, muntah dan sariawan
c. Tidak tahu
6. Apakah tujuan dari pengobatan TB yang Saudara ketahui?
a. Menyembuhkan penderita, mencegah penularan dan kekambuhan
b. Meningkatkan kekebalan tubuh dan membersihkan paru-paru
c. Tidak tahu
7. Berapa macam obat yang harus Saudara konsumsi selama pengobatan?
a. 3 obat pada 2 bulan awal dilanjut dengan 2 obat pada 4 bulan
berikutnya
b. 3 obat sampai dengan 6 bulan
8. Apakah selama pengobatan TB, Saudara boleh berhenti minum obat?
a. Boleh
c. Tidak
9. Apa yang terjadi jika Saudara tidak patuh minum obat?
a. Kuman TB menjadi kebal terhadap obat
b. Tidak terjadi apa-apa

57
10. Berikut ini efek samping obat TB yang anda ketahui:
a. Kencing warna merah, gangguan fungsi hati, gangguan saraf
b. Tidak ada efek samping

58
Lampiran 4: Kuesioner Penelitian untuk PMO

KUESIONER UNTUK PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)


DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS PUNGGING
MOJOKERTO JAWA TIMUR

C. Identitas PMO
12. Nama PMO : (diisi oleh petugas)
13. Jenis kelamin :
14. Umur :
15. Alamat :
16. Pekerjaan :
17. Tingkat pendidikan :
18. Agama :
19. Hubungan dengan :
Penderita
20. Lama Jadi PMO :

D. Peran PMO
Beri Saudara silang (x) pada salah satu pilihan yang sesuai dengan pilihan
jawaban Saudara
11. Apakah Saudara sudah memberi informasi kepada penderita tentang
penyakit TB?
c. Sudah
d. Belum
12. Bila di sekitar Saudara ada penderita TB, tindakan pencegahan apa saja
yang dapat Saudara lakukan?

59
a. Menggunakan masker, makan-makanan bergizi dan menjaga stamina
agar tetap fit
b. Menjauhi penderita TB
c. Tidak tahu
13. Berapa macam obat yang diberikan kepada penderita TB
d. 3 obat pada fase intensif selama 2 bulan, 3 obat pada fase lanjutan
selama 4 bulan.
e. 3 obat sampai 6 bulan.
14. Apa yang anda lakukan jika terjadi komplikasi dari pengobatan TB?
c. Bawa ke faskes terdekat
d. Hentikan pengobatan atas inisiatif sendiri

60
Lampiran 4: Observational List

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)


DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS PUNGGING
MOJOKERTO JAWA TIMUR

Observatinal List

No Ya Tidak
1. Penderita mendapat informasi tentang penyakitnya dari
PMO:
a. Menular atau tidak
b. Cara penularan
c. Membuang ludah/sputum sembarangan
d. Obat
2. Penderita mempunyai perilaku sanitasi yang baik:
a. Membuang ludah sembarangan
b. Membuang ludah pada sputum pot
3. Penderita meminum obat sesuai dengan dosis perhari yang
dianjurkan
4. Penderita meminum obatnya secara teratur. Dihitung dari
saat pengambilan obat di puskesmas, terdapat……..sisa
obat. Sesuai

5. Kondisi rumah:
a. Ventilasi cukup
b. Pencahayaan yang cukup
c. Ukuran rumah
d. Jumlah penghuni rumah

61
Lampiran 5: Field Note untuk PMO

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)


DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS PUNGGING
MOJOKERTO JAWA TIMUR

Field Note untuk PMO

1. Kepatuhan Penderita
a. Nama:
b. Nomor Rekam Medis :
c. Tanggal Mulai Pengobatan :
d. Fase Pengobatan :
e. Tanggal Kunjungan :
2. Follow Up
a. Tanggal Kunjungan :
b. Sisa Obat :
3. Hal yang disampaikan tenaga kesehatan di Puskesmas :

62
Lampiran 6: Field Note untuk Tenaga Kesehatan

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO)


DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA
TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS PUNGGING
MOJOKERTO JAWA TIMUR

Field Note untuk Tenaga Kesehatan

1. Kepatuhan Penderita
a. Nama :
b. Nomor Rekam Medis :
c. Tanggal Mulai Pengobatan :
d. Fase Pengobatan :
e. Tanggal Kunjungan :
2. Follow Up
a. Tanggal Kunjungan :
b. Sisa Obat :
3. Edukasi PMO
Hal yang disampaikan kepada PMO :

63
Lampiran 7: Hasil SPSS

HASIL UJI STATISTIK CHI-SQUARE

Frequencies

Statistics

Usia Usia PMO


N Valid 32 32
Missing 0 0
Mean 50.50 42.81
Std. Deviation 11.995 8.960
Minimum 19 24
Maximum 66 58

Frequency Table

Usia
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 18-20 tahun (remaja akhir) 1 3.1 3.1 3.1
21-35 tahun (dewasa awal) 3 9.4 9.4 12.5
36-45 tahun (dewasa tengah) 4 12.5 12.5 25.0
46-60 tahun (dewasa akhir) 17 53.1 53.1 78.1
> 60 tahun (lansia) 7 21.9 21.9 100.0
Total 32 100.0 100.0

Jenis kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Laki-laki 23 71.9 71.9 71.9
Perempuan 9 28.1 28.1 100.0
Total 32 100.0 100.0

64
Pendidikan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid SD 4 12.5 12.5 12.5
SMP 11 34.4 34.4 46.9
SMA 17 53.1 53.1 100.0
Total 32 100.0 100.0

Pekerjaan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak bekerja 13 40.6 40.6 40.6
Swasta 12 37.5 37.5 78.1
Wiraswasta 7 21.9 21.9 100.0
Total 32 100.0 100.0

Pengetahuan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kurang baik 14 43.8 43.8 43.8
Baik 18 56.3 56.3 100.0
Total 32 100.0 100.0

Pernah mendapat informasi TBC


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak pernah 15 46.9 46.9 46.9
Pernah 17 53.1 53.1 100.0
Total 32 100.0 100.0

Perilaku Sanitasi
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kurang baik 12 37.5 37.5 37.5
Baik 20 62.5 62.5 100.0
Total 32 100.0 100.0

65
Kondisi Rumah
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak memenuhi syarat 6 18.8 18.8 18.8
Memenuhi syarat 26 81.3 81.3 100.0
Total 32 100.0 100.0

Kepatuhan Minum Obat


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak Patuh 12 37.5 37.5 37.5
Patuh 20 62.5 62.5 100.0
Total 32 100.0 100.0

Usia PMO
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 21-35 tahun (dewasa awal) 6 18.8 18.8 18.8
36-45 tahun (dewasa tengah) 14 43.8 43.8 62.5
46-60 tahun (dewasa akhir) 12 37.5 37.5 100.0
Total 32 100.0 100.0

Jenis Kelamin PMO


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Laki-laki 9 28.1 28.1 28.1
Perempuan 23 71.9 71.9 100.0
Total 32 100.0 100.0

Pendidikan PMO
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid SD 5 15.6 15.6 15.6
SMP 12 37.5 37.5 53.1
SMA 15 46.9 46.9 100.0
Total 32 100.0 100.0

66
Pekerjaan PMO
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak bekerja 11 34.4 34.4 34.4
Swasta 10 31.3 31.3 65.6
Wiraswasta 11 34.4 34.4 100.0
Total 32 100.0 100.0

Hubungan dg Penderita
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Suami 7 21.9 21.9 21.9
Istri 19 59.4 59.4 81.3
Anak 4 12.5 12.5 93.8
Ibu 2 6.3 6.3 100.0
Total 32 100.0 100.0

Lama menjadi PMO


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid < 1 tahun 17 53.1 53.1 53.1
> 1 tahun 15 46.9 46.9 100.0
Total 32 100.0 100.0

Peran PMO
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kurang baik 14 43.8 43.8 43.8
Baik 18 56.3 56.3 100.0
Total 32 100.0 100.0

67
Crosstabs

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Peran PMO * Kepatuhan 32 100.0% 0 .0% 32 100.0%
Minum Obat

Peran PMO * Kepatuhan Minum Obat Crosstabulation

Kepatuhan Minum Obat

Tidak Patuh Patuh Total


Peran PMO Kurang baik Count 9 5 14
% within Peran PMO 64.3% 35.7% 100.0%
Baik Count 3 15 18
% within Peran PMO 16.7% 83.3% 100.0%
Total Count 12 20 32
% within Peran PMO 37.5% 62.5% 100.0%

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.
Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 7.619a 1 .006
Continuity Correctionb 5.723 1 .017
Likelihood Ratio 7.871 1 .005
Fisher's Exact Test .010 .008
Linear-by-Linear Association 7.381 1 .007
N of Valid Cases 32
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.25.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper


Odds Ratio for Peran PMO 9.000 1.724 46.994
(Kurang baik / Baik)
For cohort Kepatuhan Minum 3.857 1.278 11.638
Obat = Tidak Patuh
For cohort Kepatuhan Minum .429 .206 .892
Obat = Patuh
N of Valid Cases 32

68
Lampiran 8: Rekapitulasi Data Penelitian

REKAPITULASI DATA PENELITIAN (PENDERITA TB PARU)


Kepatuhan
No. Umur Jenis Perilaku
Pendidikan Pekerjaan Pengetahuan Minum Informasi TB Kondisi Rumah
Resp. (tahun) Kelamin Sanitasi
Obat
1 48 Laki-laki SMA Wiraswasta Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
Tidak
2 65 Laki-laki SMP Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
3 53 Laki-laki SMA Swasta Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
4 49 Laki-laki SMA Swasta Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
Kurang
5 35 Laki-laki SMA Wiraswasta Kurang baik Patuh Tidak pernah Memenuhi syarat
baik
Kurang Tidak memenuhi
6 21 Laki-laki SMA Swasta Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah
baik syarat
7 57 Laki-laki SMA Wiraswasta Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
Tidak
8 33 Perempuan SD Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
9 51 Laki-laki SMA Wiraswasta Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
Tidak
10 42 Perempuan SMP Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
Tidak
11 41 Perempuan SMP Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
Kurang
12 37 Laki-laki SMA Swasta Kurang baik Tidak Patuh Pernah Memenuhi syarat
baik
Tidak
13 63 Laki-laki SD Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
14 40 Laki-laki SMA Swasta Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
Kurang Tidak memenuhi
15 54 Laki-laki SMA Swasta Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah
baik syarat
Tidak Kurang
16 66 Laki-laki SMP Baik Patuh Pernah Memenuhi syarat
bekerja baik
Tidak Kurang Tidak memenuhi
17 19 Laki-laki SMP Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah
bekerja baik syarat
18 47 Laki-laki SMA Wiraswasta Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
Kurang Tidak memenuhi
19 53 Laki-laki SMA Swasta Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah
baik syarat
Tidak
20 56 Perempuan SMP Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
Tidak
21 63 Perempuan SMP Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
Tidak Kurang
22 61 Perempuan SMP Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah Memenuhi syarat
bekerja baik
23 55 Laki-laki SMA Swasta Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
Tidak
24 49 Perempuan SMP Baik Patuh Tidak pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
Kurang Tidak memenuhi
25 54 Laki-laki SD Wiraswasta Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah
baik syarat
Kurang
26 59 Laki-laki SMA Swasta Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah Memenuhi syarat
baik

69
Tidak
27 63 Perempuan SMP Baik Patuh Pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
Kurang Tidak memenuhi
28 58 Laki-laki SMA Swasta Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah
baik syarat
Kepatuhan
No. Umur Jenis Perilaku
Pendidikan Pekerjaan Pengetahuan Minum Informasi TB Kondisi Rumah
Resp. (tahun) Kelamin Sanitasi
Obat
29 55 Perempuan SMP Wiraswasta Kurang baik Patuh Tidak pernah Baik Memenuhi syarat
Tidak
30 65 Laki-laki SD Kurang baik Patuh Tidak pernah Baik Memenuhi syarat
bekerja
Kurang
31 57 Laki-laki SMA Swasta Kurang baik Tidak Patuh Tidak pernah Memenuhi syarat
baik
32 47 Laki-laki SMA Swasta Baik Tidak Patuh Tidak pernah Baik Memenuhi syarat

70
REKAPITULASI DATA PENELITIAN

Hubungan Lama
No. Umur Jenis Peran
Pendidikan Pekerjaan dg menjadi
Resp. (tahun) Kelamin PMO
Penderita PMO

Tidak
1 42 Perempuan SMP Istri > 1 tahun Baik
bekerja
2 53 Perempuan SD Wiraswasta Istri > 1 tahun Baik
Tidak
3 45 Perempuan SMP Istri > 1 tahun Baik
bekerja
Tidak
4 40 Perempuan SMP Istri > 1 tahun Baik
bekerja
Tidak
5 30 Perempuan SMP Istri > 1 tahun Baik
bekerja
Kurang
6 47 Perempuan SMA Swasta Ibu < 1 tahun
baik
Tidak
7 53 Perempuan SMA Istri < 1 tahun Baik
bekerja
8 40 Laki-laki SMA Swasta Suami < 1 tahun Baik
Tidak
9 46 Perempuan SMP Istri > 1 tahun Baik
bekerja
10 44 Laki-laki SMA Wiraswasta Suami > 1 tahun Baik
11 46 Laki-laki SMA Swasta Suami > 1 tahun Baik
Kurang
12 30 Perempuan SMA Wiraswasta Istri < 1 tahun
baik
Tidak
13 58 Perempuan SD Istri > 1 tahun Baik
bekerja
Tidak Kurang
14 34 Perempuan SMP Istri < 1 tahun
bekerja baik
Tidak
15 45 Perempuan SMA Istri < 1 tahun Baik
bekerja
Kurang
16 24 Perempuan SMA Swasta Anak < 1 tahun
baik
Kurang
17 38 Perempuan SMP Wiraswasta Ibu < 1 tahun
baik
Tidak
18 30 Perempuan SMA Istri > 1 tahun Baik
bekerja
Kurang
19 42 Perempuan SMP Wiraswasta Istri < 1 tahun
baik
20 37 Laki-laki SMP Swasta Suami > 1 tahun Baik
21 52 Laki-laki SD Wiraswasta Suami > 1 tahun Baik
Kurang
22 43 Laki-laki SD Swasta Suami < 1 tahun
baik
23 54 Perempuan SMA Wiraswasta Istri > 1 tahun Baik
Kurang
24 55 Laki-laki SMP Swasta Suami < 1 tahun
baik
Kurang
25 25 Perempuan SD Swasta Anak < 1 tahun
baik
Kurang
26 45 Perempuan SMA Swasta Istri < 1 tahun
baik

71
Kurang
27 40 Laki-laki SMA Wiraswasta Anak < 1 tahun
baik
Kurang
28 52 Perempuan SMA Wiraswasta Istri < 1 tahun
baik
Kurang
29 36 Laki-laki SMA Wiraswasta Anak < 1 tahun
baik
Tidak
30 50 Perempuan SMP Istri > 1 tahun Baik
bekerja
Kurang
31 54 Perempuan SMP Wiraswasta Istri < 1 tahun
baik
32 40 Perempuan SMA Swasta Istri > 1 tahun Baik

72
Lampiran 9: Dokumentasi Kegiatan Pengumpulan Data Penelitian

73
74
75