Anda di halaman 1dari 8

A.

Pengertian
Mobilitas atau mobilisasi merupakan suatu kemampuan individu
untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan aktifitas dalam rangka mempertahankan kesehatannya
(Potter dan perry, 2005).
Mobilitas adalah rangkaian gerakan yang terintegrasi antara sistem
muskuloskeletal dan sistem persarafan.Sistem skeletal berfungsi untuk
Mendukung dan memberi bentuk jaringan tubuh, Melindungi bagian tubuh
tertentu (paru-paru, hati, ginjal, dan otak), Tempat melekatnya otot dan
tendon, Sumber mineral seperti garam dan fosfat, dan Tempat produksi sel
darah.Sedangkan Sistem persarafan berfungsi sebagai menerima rangsangan
dari luar kemudian diteruskan kedalam susunan saraf pusat.Saraf pusat
memproses impuls dan kemudian memberikan respon dan diteruskan ke otot
rangka (Tarwoto dan wartonah, 2003).
Berdasarkan jenisnya, menurut Hidayat (2012) mobilisasi terbagi atas
dua jenis, yaitu:
1. Mobilisasi penuh Mobilisasi penuh merupakan kemampuan seseorang
untuk bergerak dengan batasan tidak jelas dan mampu bergerak secara
bebas tanpa adanya gangguan pada bagian tubuh.
2. Mobilisasi sebahagian Mobilisasi sebahagian adalah ketidakmampuan
seseorang untuk bergerak secara bebas dan aktif karena dipengaruhi oleh
gangguan saraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya. Mobilisasi
sebahagian terbagi atas dua jenis, yaitu:
a. Mobilisasi sebahagian temporer merupakan kemampuan individu
untuk bergerak dengan batasan yang tidak menetap. Hal tersebut
dinamakan sebagai batasan yang bersifat reversible pada sistem
muskuloskeletal, contohnya: adanya dislokasi pada sendi atau tulang.
b. Mobilisasi sebahagian permanen merupakan kemampuan individu
untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap, Contohnya:
terjadinya kelumpuhan karenastroke, lumpuh karena cedera tulang
belakang, poliomyelitis karena terganggunya sistem saraf motorik dan
sensorik.
Hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam pergerakan fisik
mandiri dan terarah pada tubuh atau ekstremitas atau lebih (berdasarkan
tingkat aktifitas) (Wilkinson dan ahern, 2011).
Hambatan mobilitas fisik adalah keadaan ketika individu mengalami
keterbatasan atau beresiko mengalami keterbatasan gerak fisik, tetapi bukan
imobilisasi (Carpenito, 2009).
Imobilisasi atau imobilitas merupakan keadaan seseorang yang tidak
dapat secara bebas bergerak, mengingat kondisi yang mengganggu
pergerakan (aktifitas).Imobilisasi terdiri atas imobilisasi fisik, intelektual, dan
emosional.Imobilisasi fisik merupakan pembatasan untuk bergerak secara
fisik dengan tujuan mencegah terjadi gangguan komplikasi
pergerakan.Imobilisasi intelektual merupakan keadaan seseorang mengalami
pembatasan untuk berpikir.Imobilisasi emosional merupakan keadaan
seseorang mengalami pembatasan secara emosional yang terjadi sebagai hasil
perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.Dan imobilisasi sosial
merupakan keadaan individu yang mengalami terhambatnya untuk melakukan
interaksi sosial, karena keadaan penyakitnya sehingga dapat memengaruhi
peran individu dalam kehidupan sosial (Potter dan perry, 2005).
B. Patofisiologi
C. Etiologi
Faktor-faktor yang memengaruhi kurangnya pergerakan (imobilisasi) adalah
gangguan muskuloskeletal yang meliputi,
1. osteoporosis,
2. atropi,
3. kontraktur,
4. fraktur,
5. kekakuan dan sakit sendi.
6. Gangguan kardiovaskuler yang meliputi, postural hipotensis, vasodilatasi
vena.
7. Gangguan sistem respirasi yang meliputi penurunan gerak pernafasan,
bertambahnya sekresi paru, atelektasis, dan hipostatis pneumonia
(Tarwoto dan wartonah, 2003).
D. Pathways
E. Pengkajian Fokus
Menurut Hidayat (2012) Pengkajian pada kebutuhan mobilisasi dan
imobilisasi meliputi, riwayat sekarang, penyakit terdahulu, kemampuan
fungsi motorik, kemampuan mobilitas, kemampuan rentang gerak, perubahan
intoleransi aktifitas, kekuatan otot, gangguan koordinasi, dan perubahan
psikologi.
1. Pengkajian riwayat pasien saat ini
Pengkajian riwayat pasien saat ini meliputi : alasan pasien yang
menyebabkan terjadinya keluhan/gangguan, tingkat mobilitas dan
imobilitas, daerah terganggunya mobilitas dan imobilitas, dan lama
terjadinya gangguan mobilitas.
2. Pengkajian riwayat penyakit dahulu
Pengkajian riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan
pemenuhan kebutuhan mobilitas seperti adanya riwayat penyakit sistem
neurologi (cerebro vaskuler, trauma kepala, peningkatan tekanan
intrakranial, cedera medulla spinalis, dan lain-lain), riwayat penyakit
sistem kardiovaskuler (infark miokard, gagal jantung kongestif), riwayat
penyakit muskuloskeletal (osteoporosis, fraktur, artritis), riwayat penyakit
sistem pernafasan (penyakit paru obstruktif menahun, pneumonia, dan
lain-lain), riwayat pemakaian obat-obatan seperti sedatif, hipnotik,
depressan sistem saraf pusat, laksatif, dan lain-lain.
3. Kemampuan fungsi motorik dan fungsi sensorik
Pengkajian fungsi motorik antara lain pada tangan kanan dan kiri, kaki
kanan dan kiri untuk menilai ada atau tidaknya kelemahan, kekuatan, atau
spastis.
4. Pengkajian terhadap kemampuan mobilitas
Pengkajian terhadap kemampuan mobilitas meliputi kemampuan untuk
miring, duduk, berdiri, bangun, dan berpindah secara mandiri.
Tingkat Aktivitas
Tingkat Kategori
aktifitas/
mobilitas
Tingkat 0 Mampu merawat diri sendiri secara penuh/mandiri
Tingkat 1 Memerlukan penggunaan alat atau peralatan
Tingkat 2 Memerlukan bantuan dan pengawasan orang lain
Tingkat 3 Memerlukan bantuan dan pengawasan orang lain dan
peralatan atau alat
Tingkat 4 Semua tergantung dan tidak dapat melakukan atau
berpartisipasi dalam perawatan.

Sumber : Potter dan Perry (2005)

Pengkajian mobilisasi pasien berfokus pada rentang gerak, gaya


berjalan, latihan, dan toleransi aktivitas, serta kesejajaran tubuh. Rentang
gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan
sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagittal, frontal, dan
transversal tubuh. Pengkajian rentang gerak (range of motion-ROM)
dilakukan pada daerah seperti: kepala (leher spinal servikal), bahu, siku,
lengan, jari-tangan, ibu jari, pergelangan tangan, pinggul, dan kaki(lutut,
telapak kaki, jari kaki).

5. Pengkajian Rentang Gerak

Derajat
Gerak sendi
rentang
normal (˚)
Leher
1. Fleksi : menggerakkan dagu menempel ke dada 45
2. Ekstensi : mengembalikan kepala ke posisi tegak
3. Hiperekstensi : menekuk kepala kebelakang sejauh 45
mungkin
4. Fleksi lateral : memiringkan kepala sejauh mungkin 10
kearah setiap bahu
5. Rotasi : memutar kepala sejauh mungkin dalam 40-45
gerakan sirkuler

180
Bahu
1. Fleksi : menaikkan lengan dari posisi disamping 180
tubuh ke depan ke posisi di atas kepala
2. Ekstensi : mengembalikan lengan keposisi
disamping tubuh 180
3. Hiperekstensi : mengembalikan lengan hingga
kebelakang tubuh, siku tetap lurus 45-60
4. Abduksi : gerakan lengan ke lateral dari posisi
samping ke atas kepala, telapak tangan menghadap
keposisi yang paling jauh 180
5. Adduksi : menurunkan lengan ke samping dan
menyilang tubuh sejauh mungkin

320
Siku
1. Fleksi : angkat lengan bawah ke arah depan dan
kearah atas menuju bahu
2. Ekstensi : meluruskan siku dengan menurunkan 150
tangan
Pergelangan Tangan
1. Fleksi : tekuk jari-jari tangan ke arah bagian dalam 80-90
lengan bawah
2. Ektensi : luruskan pergelangan tangan dari posisi 80-90
fleksi
3. Hiperekstensi : tekuk jari-jari tangan ke arah 70-90
belakang sejauh mungkin
4. Abduksi : tekuk pergelangan tangan ke sisi ibu jari
ketika telapak tangan menghadap ke arah atas 0-20
5. Adduksi : tekuk pergelangan tangan ke arah
kelingking, telapak tangan menghadap ke atas

30-50
Tangan dan Jari
1. Fleksi : buat kepalan tangan 90
2. Ekstensi : luruskan jari 90
3. Hiperekstensi : tekuk jari-jari tangan kebelakang 30
sejauh mungkin
4. Abduksi : Kembangkan jari tangan
5. Adduksi : rapatkan jari-jari tangan dari posisi 20
abduksi
20
Pinggul
1. Fleksi : menggerakkan tungkai ke depan dan ke atas 90-120
2. Ekstensi : menggerakkan kembali kesamping tungkai
yang lain 90-120
3. Hiperekstensi : menggerakkan tungkai ke belakang
tubuh
4. Abduksi : menggerakkan tungkai ke samping 30-50
menjauhi tubuh
5. Adduksi : menggerakkan tungkai kembali ke posisi 30-50
medial dan melebihi jika mungkin
30-50
Lutut
1. Fleksi : menggerakkan tumit ke arah belakang paha 120-130
2. Ekstensi : mengembalikan tungkai ke lantai
120-130
Mata kaki
1. Dorsofleksi : menggerakkan kaki sehingga jari-jari 20-30
kaki menekuk keatas
2. Plantarfleksi : menggerakkan kaki sehingga jari-jari
kaki menekuk ke bawah 45-50
Jari-jari kaki
1. Fleksi : melengkungkan jari-jari kaki ke bawah 30-60
2. Ekstensi : Meluruskan jari-jari kaki
3. Abduksi : merenggangkan jari-jari kaki satu dengan 30-60
yang lain
4. Adduksi : merapatkan kembali bersama-sama ≤15

≤15

6. Perubahan intoleransi aktivitas


Pengakajian intoleransi yang berhubungan dengan perubahan pada sistem
pernafasan, antara lain: suara napas, analisis gas darah, gerakan dinding
thoraks, adanya mucus, batuk yang produktif diikuti panas, dan nyeri saat
repirasi dan sistem kardiovaskuler seperti nadi dan tekanan darah,
gangguan sirkulasi perifer, adanya trombus, serta perubahan tanda vital
setelah melakukan aktivitas atau perubahan posisi.
7. Kekuatan otot dan gangguan koordinasi
Dalam pengkajian kekuatan otot dapat ditentukan kekuatan secara
bilateral atau tidak. Derajat kekuatan otot dapat ditentukan dengan:
Skala Presentase Karakteristik
Kekuatan
Normal (%)

0
1
2
3
4
5