Anda di halaman 1dari 17

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Perkembangan Hewan dengan judul praktikum


“Perkembangan Embrio Katak” yang disusun oleh:
nama : Friska Novia Upriana
NIM : 1714041016
kelas : Pendidikan Biologi A
kelompok : III (Tiga)
Setelah diperiksa dan dikoreksi oleh Asisten/ Koordinator maka dinyatakan
diterima.

Makassar, Desember 2018

KoordinatorAsisten Asisten

Suhardi Aldi Bertha Tandi


NIM : 1614042011 NIM : 1414442010

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Dr. Adnan, M.S


NIP :19650201 198803 1 003
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai manusia, kita cenderung berpikir tentang
reproduksi dalam hal perkawinan laki-laki dan perempuan.
Reproduksi hewan, bagaimanapun dari banyak spesies yang
ada. Ada spesies yang dapat bereproduksi tanpa bentuk
perkawinan dan spesies di mana individu tidak mengalami
perkawinan selama masa hidup mereka. Ada juga spesies,
termasuk karang tertentu, di mana individu memiliki organ
jantan dan betina. Beberapa serangga , seperti lebah madu,
menampilkan variasi lebih lanjut dengan reproduksi hanya
melibatkan beberapa individu dalam populasi besar. Sebuah
populasi hidup lebih lama dari anggotanya hanya dengan
reproduksi, generasi individu baru dari yang sudah ada.
Amphibi memegang peranan dalam ekosistem yang merupakan salah
satu komponen dalam jaring-jaring makanan. Bahkan hal itu tidak menutup
kemungkinan rusaknya jaring-jaring makanan akan berakibat pula rusaknya
keseimbangan ekosistem. Hal lain yang harus diperhatikan adalah kelestarian
amphibi yang semakin terancam dengan adanya penggunaan atau eksploitasi
yang berlebihan serta rusaknya habitat atau tempat hidupnya. Sekarang sudah
jarang ditemukan habitat untuk amphibi karena aktivitas manusia yang
merugikan (Firmansyah, 2007). Aktivitas manusia yang merusak tersebut
diantaranya adanya perusakan habitat atau pembukaan lahan, pemakaian
pestisida bagi tanaman yang akan berdampak terhadap hewan yang ada
disekitarnya, berkurangnya sumber makanan hewan akibat pembukaan lahan
(Kasmeri, 2016).
Periode pertumbuhan awal sejak zigot mengalami pembelahan
berulangkali sama saat embrio memiliki bentuk primitif ialah bentuk dan
susunan tubuh embrio yang masih sederhana dan kasar. Bentuk dan susunan
tubuh embrio itu umum terdapat pada jenis hewan vertebrata. Periode ini
terdiri atas 4 tingkat yaitu tingkat pembelahan, tingkat blastula, tingkat
gastrula dan tingkat tubulasi (Yatim, 2015).
Maka dari itu praktikum perkembangan embrio ayam ini sangat
penting dilakukan agar kita lebih memahami tahapan perkembangan embrio
ayam secara langsung tidak hanya dari teori dan diharapkan agar kita lebih
paham mengenai perkembangan embrio dari awal sampai akhir dan dengan
praktikum ini juga dapat melatih keterampilan kita dalam melakukan
percobaan.

B. Tujuan Praktikum
1. Mempelajari perkembangan embrio katak mulai zigot sampai bentuk
larva.
2. Mempelajari tipe dan pembelahan embrio katak.
3. Mempelajari pembentukan bakal organ katak yang berasal dari setiap
lapisan embrional.

C. Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa mengetahui perkembangan embrio katak mulai zigot sampai
bentuk larva.
2. Mahasiswa mengetahui tipe dan pembelahan embrio katak.
3. Mahasiswa mengetahui pembentukan bakal organ katak yang berasal dari
setiap lapisan embrional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Amphibi memegang peranan dalam ekosistem yang merupakan salah satu


komponen dalam jaring-jaring makanan. Bahkan hal itu tidak menutup
kemungkinan rusaknya jaring-jaring makanan akan berakibat pula rusaknya
keseimbangan ekosistem. Hal lain yang harus diperhatikan adalah kelestarian
amphibi yang semakin terancam dengan adanya penggunaan atau eksploitasi yang
berlebihan serta rusaknya habitat atau tempat hidupnya. Sekarang sudah jarang
ditemukan habitat untuk amphibi karena aktivitas manusia yang merugikan
(Firmansyah, 2007). Aktivitas manusia yang merusak tersebut diantaranya adanya
perusakan habitat atau pembukaan lahan, pemakaian pestisida bagi tanaman yang
akan berdampak terhadap hewan yang ada disekitarnya, berkurangnya sumber
makanan hewan akibat pembukaan lahan (Kasmeri, 2016).
Secara morofologi cleavage atau pembelahan berbeda paad sejumlah
kelompok-kelompok hewan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap
pembelahan adalah faktor-faktor dalam sitoplasma telur mempengaruhi sudut
spindle mitosis dan waktu pembelahannya dan distribusi protein yolk yang
terdapat dalam sitoplasma. Telur katak terdiri atas dua kutub yaitu kutub anima
berpigmen hitam dan kutub vegetative tidak berpigmen. Ciri telur yang telah
difertilisasi adalah adanya daerah kelabu yang berbentuk sabit. Hal ini akibat
penetrasi sperma, sehingga pigmen ditempat yang berlawanan bergeser kea rah
masuknya sperma. Zigot yang terbentuk , memasuki tahap I pembelahan. Tipe
pembelahannya holoblastik, yaitu pembelahannya menyeluruh dari kutub anima
ke kutub vegetatif. (Adnan, 2016).
Katak merupakan komoditas perikanan yang sangat penting, baik untuk
konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Hewan ini sangat digemari, terutama di
negara-negara Eropa, Amerika dan beberapa negara Asia. Selain rasanya enak,
katak juga memiliki kandungan protein yang tinggi. Karena adanya kelebihan dari
katak tersebut, tidak mengherankan bila permintaan katak dari negara-negara
tersebut tiap tahunnya terus meningkat. Ini merupakan peluang yang sangat besar
bagi negara kita untuk meningkatkan ekspor, sebagai sumber devisa Negara yang
berasal dari komoditas nonmigas (Kasmeri, 2016).
Pada embrio katak, dua alur kerutan pertama terbentuk sejajar dengan garis
(atau meridian) yang menghubungkan kedua kutub. Selama pembagian-
pembagian ini, kuning yang padat memperlambat penyelesaian sitokinesis.
Akibatnya, kerutan pembelahan pertama masih membagi sitoplasma yolky di
belahan vegetis ketika pembelahan sel kedua dimulai. Akhirnya, empat blastomer
dengan ukuran yang sama memanjang dari kutub hewan ke kutub vegetal. Selama
pembagian ketiga, kuning telur mulai mempengaruhi ukuran relatif sel yang
diproduksi di dua belahan otak. Pembagian ini ekuatorial (tegak lurus dengan
garis yang menghubungkan kutub) dan menghasilkan embrio delapan sel. Namun,
karena masing-masing dari empat blastomer memulai divisi ini, kuning telur di
dekat tiang vegetal menggantikan aparat mitosis dan alur pembelahan dari ekuator
telur menuju kutub hewan. Hasilnya adalah ukuran blastomere yang lebih kecil di
belahan binatang daripada di belahan vegetal. Efek menggusur dari kuning telur
berlanjut di divisi berikutnya, menyebabkan blastocoel terbentuk seluruhnya di
belahan binatang (Campbell dkk, 2016).
Ada empat macam selaput ekstra embrio yang umum terdapat pada embrio
vertebrata tinggi, yaitu kantung amnion, kantung yolk, kantung chorion, dan
kantung allantois. Bagian dari kuning telur yaitu kantung chorion, dimana
membran ekstra embrio yang paling luar dan yang berbatasan dengan cangkang
atau jaringan induk, merupakan tempat pertukaran antara emrio dan lingkungan
disekitarnya adalah chorion atau serosa. Kantung allantois, dimana kantung ini
merupakan suatu kantung yang terbentuk sebagai hasil evaginasi bagian ventral
usus belakang pada tahap awal perkembangan. Fungsi kantung ini sebagai tempat
penampungan dan penyimpanan urine dan sebagai organ pertukaran gas antara
embrio dengan lingkungan luarnya. Lapisan penyusun kantung allantois sama
dengan kantung yolk, yaitu splanknopleura yang terdiri atas endoderm di dalam
dan mesoderm splank di luar. Kantung amnion, kantung ini adalah suatu membran
tipis yang berasal dari somatoplura berbentuk suatu kantung yang menyelubungi
embrio yang berisi cairan. Dimana kantung ini berfungsi sebagai pelindung
embrio terhadap kekeringan, penawar goncangan, pengaturan suhu intrauterus,
dan anti adhesi (Adnan dkk, 2016).
Terbentuknya daerah Gray crescent merupakan awal untuk proses
pembelahan. Proses pembelahan pada telur katak R. cancrivora terjadi setelah 1
jam fertilisasi. Pada proses pembelahan 1 dihasilkan 2 sel atau 2 blastomer yang
sama besar pada kutub animal sedangkan pada kutub vegetal belum berlangsung
proses pembelahan, hal ini disebabkan oleh banyaknya yolk yang terdapat pada
kutub vegetal dari telur katak. Pada proses pembelahan ke 2 merupakan proses
pembelahan menghasilkan 4 sel/blastomer. Embrio katak R. cancrivora
membutuhkan waktu 9 jam untuk mencapai tahap gastrula. Gastrula pada embrio
katak dimulai dari sisi dorsal embrio dan pada daerah ini terbentuk celah
blastoporus. Akhir dari tahap gastrulasi terbentuklah sumbat yolk (yolk plug).
Proses perkembangan selanjutnya adalah Neurulasi yang merupakan tahapan
pembentukan bumbung saraf (neural tube). Tahap neurula dicirikan dengan
adanya penebalan pada lapisan ektoderm membentuk neural plate, kemudian
membentuk neural groove dan Jurnal Pelangi 147 neural fold dan diakhiri dengan
terbentuknya neural tube (bumbung neural). Menurut Lufri dan Helendra (2002)
bahwa pada saat embrio memasuki tahap neurulasi terjadi penebalan ektoderm
saraf pada sisi dorsal embrio. Penebalan itu berbentuk keping sehingga disebut
keping saraf (neural plate). dan endoderm. Perkembangan lapisan ektoderm akan
membentuk sistem saraf, otak dan mata. dengan proses pembentukan jantung dan
sistem sirkulasi . Setelah proses Neurulasi selesei maka embrio katak akan
memasuki tahap selanjutnya yaitu tahap Organogenesis. Pada tahap organogenesis
terjadi proses perkembangan dari lapisan lembaga ektoderm, mesoderm dan
endoderm. Perkembangan lapisan ektoderm akan membentuk sistem saraf, otak
dan mata. dengan proses pembentukan jantung dan sistem sirkulasi (Kasmeri dan
Elza, 2014).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas telur adalah rasio jantan dan
betina, pakan induk, umur penjantan yang digunakan dan umur telur. Selain itu
hubungan temperatur lingkungan yang semakin meningkat antara lain temperatur
atmosfir disinyalir dapat menyebabkan penurunan fertilitas telur atau sebaliknya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengamati morfologi dari organ
tersebut yang mengalami perubahan yang dapat dikenali secara visual atau
makroskopis dari setiap tahapan akan digunakan yang telah ditetapkan umur.
Penciri-penciri yang dapat dijadikan indikator dalam penetuan umur embrio antara
lain terbentuknya garis, lengkungan embrio, pigmen bagian mata, perkembangan
sayap dan kaki (Paputungan dkk, 2017).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/tanggal : Rabu, 5 Desember 2018
Waktu : 13-14.10 WITA
Tempat : Laboratorium kebun percobaan Biologi FMIPA
UNM

B. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Mikroskop cahaya 1 buah
b. Mikroskop stereo 1 buah
c. Kaca objek 1 buah
d. Kaca penutup 1 buah
e. Pipet tetes 1 buah
2. Bahan
a. Sediaan awetan basah embrio dan larva katak
secukupnya
b. Sediaan sayatan embrio katak
secukupnya
c. Model perkembangan embrio katak
1 buah

C. Prosedur Kerja
Ambil sediaan awetan basah Amati dengan menggunakan
embrio katak dengan menggunakan mikroskop. Bandingkan hasil
pipet tetes dan larva katak dengan pengamatan dengan model
tunas ekor dan larva dengan insang perkembangan embrio katak.

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Tabel Pengamatan Perkembangan Embrio Katak

N Gambar
Tahap Gambar Keterangan
O Pembanding

1 Telur

Pembelahan
stadium 2 sel.
1. Grey crescent
2 Pembelahan I
Pembelahan
stadium 4 sel.
3 Pembelahan II

Pembelahan
stadium 8 sel.
1. Mikromer
Pembelahan kearah kutub
4
III anima.
2. Makromer
kea rah kutub
vegetative.
1. Blastomer
pada stadium
5 Morula 32 sel.

1. Mikromer
2. Makromer

6 Blastula

1. Yolk
plug
7 Gastrula 2. Gastrula
1. Lempeng
neuron
2. Notokord
8 Neurulasi 3. Ectoderm
4. Mesoderm
5. Endoderm
6. Arkenteron

9 Organogenesis

1. Anterior
2. Mata
3. Dorsal
10 Larva
4. Ventral
5. Lipatan neural

B. Pembahasan
Tahap embrio dimulai dari proses fertilisasi (penyatuan sel telur dan
sperma). Pada fase morula mengalami pembelahan berkali-kali.
Pembelahan yang cepat terjadi pada bagian vertikal yang memiliki kutub
hewan dan kutub vegetatif. Morula : embrio yang terdiri dari 16-64 sel.
Blastula adalah bentuk lanjutan dari morula yang terus mengalami
pembelahan, bentuk blastula ditandai dengan mulai adanya perubahan sel
dengan mengadakan pelekukan yang tidak beraturan, di dalam blastula
terdapat cairan sel yang disebut dengan blastosoel. Adapun proses
pembentukan blastula di sebut blastulasi. Blastulasi (proses pembentukan
blastula) menunjukan perbedaan pada tingkat takson masing-
masing.Blastulasi ( proses pembentukan blastula ) menunjukan perbedaan
pada tingkatan takson masing-masing. Proses blastulasi akan diiringi oleh
suatu proses berikutnya yaitu gastrulasi. Pada tingkat gastrula ini akan
terjadi proses dinamisasi daerah-daerah bakal pembentuk alat pada
blastula, diatur dan dideretkan sesuai bentuk dan susunan tubuh spesies
yang bersangkutan.. Dalam gastrulasi sel masih terus membelah dan
memperbanyak sel. Selain terjadi perbanyakan sel, di dalam proses
gastrulasi juga terjadi berbagai gerakan untuk mengatur dan menyusun
deretan sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh dari individu spesies
masing-masing
Pada pengamatan yang telah dilakukan yaitu pada Stadium 1, pada
tahap ini telur belum di buahi. Pada telur katak yang belum dibuahi akan
terlihat suatu ciri-ciri polus animalis berwarna hitam. Polus animalis
merupakan kutub telur yang miskin akan kuning telur (yolk). Stadium 2
(Telur yang telah dibuahi), pada tingkat ini terbentuk membran pembuahan
berbentuk bulan sabit dan berwarna abu-abu yang disebut gray crescent.
Grey crescent adalah daerah yang terbentuk pada fertilisasi. Pada Stadium
3, yaitu pada tingkat ini pada gray crescent membelah dan terbagi menjadi
dua bagian yang sama besar. Dua buah blastomer yang terbentuk memiliki
bagian polus animalis dan vegetativus. Pada tingkat ini bidang
pembelahannya disebut bidang pembelahan pertama dengan pola
meredional.
Stadium 4, pada tingkat ini terjadi pembelahan menjadi 4 sel.
Bidang pembelahan kedua masih tetap meredional. Terjadi perbedaan
pembagian gray crescent. Dua sel memiliki dan dua sel lainnya tidak
memiliki. Tingkat ini disebut juga bidang pembelahan dua. Stadium 5,
merupakan tingkat dimana terjadi pembelahan menjadi 8 sel. Blastomer
dipolus animalis lebih kecil, sedangakan blastomer dipolus vegetativus
lebih besar. Pada tingkat ini, bidang pembelahan disebut pembelahan
ketiga dan berpola latitudinal.
Stadium 6, merupakan pembelahan mnjadi 16 sel, bidang
pembelahan yang terbentuk dua sekaligus yaitu meredional dan vertikal.
Stadium 7, merupakan tingkat dimana pembelahan menjadi 32 sel. Dua
bidang pembelahan yaitu latitudinal. Membentuk massa sel yang disebut
sebagai morulla. Blastomer penyusunnya berukuran lebih kecil apabila
dibandingkan dengan stadium sebelumnya, sedang blastocel
membesar. Stadium 8, pada tingkat ini blastocel terus membesar. Pola
pembelahan berikutnya yang terjadi tidak memiliki aturan pasti.
Pergerakan embrio secara umum dilakukan dengan bantuan silia sel-sel
blastomer bagian luar. Permukaan embrio masih terlihat sebagai susunan
sel-sel yang tidak rata dan membentuk struktur permukaan multiseluler.
Stadium 9, pada tingkat ini struktur permukaan yang multiseluler
berangsur manghilang dan menjadi lebih halus atau rata. Terbentuk
bangunan yang disebut germ ring, epiblast, dan hypoblast. Stadium 10,
tingkat labium dorsale (gastrula awal) tampak lekukan seperti bulan sabit.
Di bibir lekukan adalah sebagai labium dorsale.terjadi epiboly germ ring
ke arah polus vegetativus invaginasi dan involusi bibir dorsal (labium
dorsale). Stadium 11, tingkat labium laterale (gastrula pertengahan),
tampak lekukan tigaperempat lingkaran dipolus vegatativus.
Stadium 12, tingkat bibir ventral (gastrula akhir), tampak lekukan
melingkar di tengah lingkaran sel-selnya besar, di luar lingkaran kecil.
Sesudah gastrula selesai tampak lubang sebagai blastoporus. Sering masih
terdapat yolk plug (provitellus). Stadium 13, tingkat Neural Plate (neural
awal), embrio mulai memanjang. Balstoporus sebagai ujung caudal dan
mengecil seiring dengan adanya pembentukan siria primitiva. Lamina
neuralis juga mulai tampak pada bagian dorsal. Stadium 14, tingkat
neurula pertengahan. Di dorsal terdapat peninggian sepasang torus
medullaris (neural fold).
Stadium 15, pada tingkat ini torus medullaris mengalami peleburan
menjadi satu dan membentuk crista neuralis. Bagian enteron membentuk
bangunan yang memanjang dan diikuti oleh adanya rotasi sumbu tubuh
embrio. Stadium 16, tingkat ratation (neurula akhir), embrio telah jelas
memanjang. Stadium 17, antara kepala dan badan terjadi penyempitan
kelihatan sebagai leher. Di dorsal tampak meninggi. Balstoporus mulai
menghilang dan muncul canalis mesoentericus. Neuroporus menutup,
badan memanjang, bagian dorsal cekung, dan somit-somit terbentuk.
Stadium 18, tingkat mulai bergerak aktif (muscular response), bentuk telah
jelas sebagai berudu yang kelihatan dengan mata biasa. Mulai terjadi
gerakan pertama dengan bantuan otot tubuh embrio. Gerak kontraksi ke
kanan dan ke kiri.
Sumbat esofagus mulai terbentuk dan mulai timbul aorta dorsalis
maupun vena vitellina. Stadium 19, pada tingkat ini jantung mulai
berdenyut (kuntum-kuntum insang). Denyut jantung terletak dibagian
dada, dibagian leher timbul kuntum-kuntum insang sebagai jari-jari
pendek dan ekor sudah mulai memanjang.
Stadium 20, tingkat peredaran pertama pada insang pertama kali..
Pada tingkat ini insang seperti jari-jari, dari capilair-capilair darah. Sudah
terjadi peredaran darah, terlihat butir-butir erythrocyt yang mengalir satu
persatu. Stadium 21, pada tingkat ini mulut sudah termata tampak jernih
buka dan corn, tampak berudu-berudu telah bisa makan. Mata sudah
kelihatan hidup, dan bagian perut langsing.
Stadium 22, pada tingkat ini merupakan permulaan peredaran darah
pada ekor. Bentuk ekor telah lebar dan panjang (melebihi panjang badan).
Tampak butir erythrocyt beredar pada capilair ekor. Insang sudah
mencapai panjang maksimum.
Stadium 23, tingkat ini merupakan ahap pembentukan insang.
Dibagian leher terdapat lipatan yang akan menutup insang. Selanjutnya,
pangkal insang mulai tertutup.
Stadium 24, tingkat ini merupakan tingkat penutupan insang
sebelah kanan. Bagian leher tidak simetris lagi karna insang di sebelah
kanan sudah tertutup oleh operculum atau tutup insang.
Stadium 25, tingkat penutupan insang sempurna. Insang kanan kiri
sudah tidak nampak lagi karena masuk, tertutup operculum. Hanya sebagai
lubang di sebelah kiri yang disebut spiraculum. Demikian perkembangan
katak, untuk tahapan selanjutnya katak akan mengalami metamorfosis.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan, maka dapat dirarik kesimpulan
bahwa, Amphibia bentuknya bundar terbentuknya suatu celah di bawah
bidang equator pada daerah kelabu Notocord terbentuk dari mesoderm dorsal
di atas arkenteron. Fertilisasi merupakan penyatuan sel telur dan sperma.Pada
fase fertilisasi zygote akan melakukan pembelahan sel (cleavage) yang
melalui tiga fase, yaitu morula, blastula dan gastrula. Fase Embrionik yaitu
fase pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup selama masa embrio
yang diawali dengan peristiwa fertilisasi sampai dengan terbentuknya janin di
dalam tubuh induk betina. Fase Pasca Embrionik yaitu fase pertumbuhan dan
perkembangan makhluk hidup setelah masa embrio, terutama penyempurnaan
alat-alat reproduksi setelah dilahirkan.

B. Saran
Sebaiknya praktikan lebih berhati-hati dalam proses pengamatan.
Praktikan sebaiknya memahami tahapan perkembangan embrio pada katak
agar memudahkan dalam proses pengamatan dan mengetahui perbedaan tiap
tahapan agar tidak keliru.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2016. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan


Biologi FMIPA UNM.

Adnan., Arifah, N.A., A.Irma, S. 2016. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan


Biologi FMIPA UNM.

Campbell, N.A., Lisa, A.U., Jane, B.R., Michael, L.C., Steven, A.W., & Peter,
V.M. 2016. Biology Eleventh Edition. United States of America: Pearson
Education.

Paputungan, S., Lucia, J.L., Linda, S.T., Jaqualine, L. 2017. Pengaruh Bobot Telur
Tetas Itik Terhadap Perkembangan Embrio, Fertilitas Dan Bobot Tetas.
Jurnal Zootek. 37 (1): 98.
Kasmeri, R., dan Elza, S. 2014. Induksi Kejutan Suhu 360 C Terhadap
Perkembangan Embrio Dan Keberhasilan Poliploidisasi Katak (Rana
cancrivora). Jurnal Pelangi. 6 (2): 146-147.

Kasmeri, Ria. 2016. Poliploidisasi Katak Rana Cancrivora. BioCONCETTA. II


(2): 40.