Anda di halaman 1dari 23

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Perkembangan Hewan dengan judul praktikum “Sistem


Reproduksi dan Pengamatan Sel Kelamin” yang disusun oleh:
nama : Friska Novia Upriana
NIM : 1714041016
kelas : Pendidikan Biologi A
kelompok : III (Tiga)
Setelah diperiksa dan dikoreksi oleh Asisten/ Koordinator maka dinyatakan
diterima.

Makassar, November 2018

KoordinatorAsisten Asisten

Suhardi Aldi Muhammad Al Gazali


NIM : 1614042011 NIM :1514042001

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Dr. H Adnan, M.S


NIP :19650201 198803 1 003
BAB I
PENDAHULUAN

A. LatarBelakang
Sebagai manusia, kita cenderung berpikir tentang reproduksi dalam hal
perkawinan jantan dan betina. Reproduksi hewan, bagaimanapun dari banyak
spesies yang ada. Ada spesies yang dapat bereproduksi tanpa bentuk perkawinan
dan spesies di mana individu tidak mengalami perkawinan selama masa hidup
mereka. Ada juga spesies, termasuk karang tertentu, di mana individu memiliki
organ jantan dan betina. Beberapa serangga , seperti lebah madu, menampilkan
variasi lebih lanjut dengan reproduksi hanya melibatkan beberapa individu
dalam populasi besar. Sebuah populasi hidup lebih lama dari anggotanya hanya
dengan reproduksi, generasi individu baru dari yang sudah ada.
Reproduksi ada yang terjadi secara aseksual dan adapula secara seksual
yang menggunakan alat atau organ reproduksi berupa sel kelamin
jantan(sperma) dan sel kelamin betina (ovum), sedangkan pada reproduksi
aseksual tidak meggunakan alat atau organ reproduksi sehingga proses
perkembangbiakannya menggunakan organ tubuh seperti akar dan batang pada
tumbuhan.
Hormon dan lingkungan saling bekerjasama dalam memacu proses
vitelogenesis, ovulasi dan pemijahan. Tahapan reproduksi dikendalikan oleh
kelenjar hipofisis dan estrogen yang dapat dipercepat prosesnya dengan
penambahan hormon-hormon reproduksi (Lam 1995, Fujaya 2004). Rekayasa
hormonal pada umumnya memengaruhi proses vitelogenesis sehingga
mempercepat pematangan dan pemijahan (Ya-ron 1995). Menurut Alfonso et al.
(1999), dalam proses reproduksi katak terdapat hormon penghambat aromatase
(aromatase inhibitor-AI) dan oksitosin yang secara fisiologis bekerjasama untuk
memacu terjadinya ovulasi dan pemijahan. Aktivitas hormon oksitosin
meningkat pada saat ovulasi dan berperan penting dalam proses pemijahan
(Haraldsen, 2001).
Agar bisa memahami dengan baik maka dilakukan praktikum sistem
reproduksi dan pengamatan sel kelamin untuk mengetahui lebih jelas sistem
reproduksi dan sel kelamin (gamet) pada hewan maupun manusia. Pengamatan
secara langsung tersebut akan memudahakan kita untuk dapat lebih memahami dan
tidak hanya mengetahuinya dari buku saja sistem reproduksi dan sel kelamin pada
makhluk hidup, khususnya pada katak, mencit dan merpati.

B. Tujuan Praktikum
a). Sistem Reproduksi
1. Mengenal bagian –bagian dan susunan sistem reproduksi internal dan
eksternal serta memahami fungsinya.
2. Membandingkan sistem reproduksi pada katak, mencit dan merpati.
b). Pengamatan Sel Kelamin
1. Untuk mengenal struktur morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa
hewan vertebrata
2. Untuk mengamati perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-
bagian sistem reproduksi yang berbeda

C. Manfaat Praktikum
a). Sistem Reproduksi
1. Mahasiswa dapat mengenal bagian –bagian dan susunan sistem
reproduksi internal dan eksternal serta memahami fungsinya.
2. Mahasiswa mengetahui perbedaan sistem reproduksi pada katak, mencit
dan merpati.
b). Pengamatan Sel Kelamin
1. Mahasiswa dapat mengenal struktur morfologi spermatozoid dan sel
telur beberapa hewan vertebrata
2. Mahasiswa dapat mengamati perbedaan sel kelamin yang diambil dari
bagian-bagian sistem reproduksi yang berbeda
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Setiap hewan dilengkapi dengan kemmampuan untuk bereproduksi. Pada


hewan-hewan dengan taksa yang tinggi seperti mamalia, alat-alat reproduksinya
biasanya lebih terspesialisasi dan dilengkapi dengan alat kelamin luar. Pada hewan
jantan, gonadnya dinamakan testis. Didalam testis terdapat saluran reproduksi yang
berperan sebgaai penghasil sperma yang disebut tubulus seminiferous. Dinding
tubulus seminiferous merupakan tempat dimana spermatogenesis berlangsung.
Saluran-saluran reproduksi yang lain yaitu vas efferent, epididymis, vas deferens
dan urethra. Epididimis merupakan saluran panjang yang berlekuk dan ditutupi oleh
badan lemak. Vas deferensia bermuara didalam urethra sebelah dorsal dan vesikula
seminalis. Urethra merupakan bagian akhir dari saluran reproduksi yang terdiri atas
(Adnan, 2016).
Secara umum, sistem reproduksi jantan terdiri dari sepasang testis, saluran
reproduksi, dan kelenjar aksesori (Eroschenko, 2008). Testis berfungsi
memproduksi sel sperma dan sekresi hormon. Selama musim kawin, sel germinal
primordial dalam testis memulai proses spermatogenesis, dan sel germinal yang
terseleksi akhirnya menjadi spermatozoa. Spermatogenesis melibatkan mitosis dan
pembelahan meiosis, serta reorganisasi sitoplasma (Kardong, 2008). Perkembangan
sel spermatogenik terjadi di dalam epitel tubulus seminiferous testis. Tipe sel
spermatogenik yang dapat diamati secara histologis, misalnya, spermatogonia,
spermatosit, dan spermatid (Mahfud dkk, 2016).
Testis merupakan kelenjar utama dalam sistem reproduksi jantan yang
bertanggung jawab terhadap produksi gamet jantan atau spermatozoa
(spermatogenesis) dan sintesis hormon jantan atau androgen (steroidogenesis).
Testis berjumlah sepasang, terletak di inguinal, tersimpan dalam kantung skrotum.
Pada mammal, testis turun dan keluar dari rongga abdomen (peritoneal) menuju
posisi ekstrakorporeal dan akhirnya masuk ke dalam skrotum (inguinoskrotal).
Proses ini dikenal sebagai descensus testiculorum yang dikendalikan oleh
androgen. Dengan posisi ini temperatur testis menjadi lebih rendah daripada
temperatur tubuh (sekitar 2–4 ºC) yang diperlukan untuk spermato-genesis (Fitria
dkk, 2015).
Tiga set kelenjar aksesori yaitu vesikula seminal, kelenjar prostat, dan
kelenjar bulbourethral menghasilkan sekresi yang bergabung dengan sperma untuk
membentuk air mani, cairan yang ejakulasi. Dua vesikula seminalis berkontribusi
sekitar 60% volume semen. Cairan dari vesikula seminalis tebal, kekuningan, dan
basa. Ini mengandung lendir, fruktosa gula (yang menyediakan sebagian besar
energi sperma), enzim penggumpal, asam askorbat, dan regulator lokal yang disebut
prostaglandin. Kelenjar prostat mengeluarkan produknya langsung ke dalam uretra
melalui saluran kecil. Tipis dan milky, cairan dari kelenjar ini mengandung enzim
antikoagulan dan sitrat (nutrisi sperma). Kelenjar bulbourethral adalah sepasang
kelenjar kecil di sepanjang uretra di bawah prostat. Sebelum ejakulasi, mereka
mengeluarkan lendir jernih yang menetralisir air kencing asam yang tersisa di uretra
(Campbell dkk, 2016).
Pada hewan betina, gonadnya disebut ovarium. Didalam ovarium terdapat
folikel-folikel ovarian dengan stadium perkembangan yang berbeda. Folikel
ovarium dapat berupa folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier dan folikel de
Graff. Saluran reproduksi terdiri atas tuba fallopi yang berdekatan dengan ovarium
dan uterus (Adnan, 2016).
Ovarium adalah sumber utama dari androstenedion berlebihan dan
testosterone pada wanita hiperandrogen. Ovarium memainkan peran utama
hiperandrogenisme pada perempuan meskipun tidak eksklusif. Steroidogenesis
dalam folikel ovarium dicapai melalui kerjasama antara sel teka dan granulosa. Sel
teka adalah sumber eksklusif androstenedion pada perempuan. Enzim 17E-
hidroksisteroid dehydrogenase yang expresinya didominasi dalam sel granulosa,
hal itu karenakan banyak testosteron yang diproduksi di dalam sel granulosa.
Terlepas dari tempat metabolism androstenedion untuk testosteron, dimulainya
produksi androgen di ovarium khusus pada sel teka (Amelia dkk, 2017).
Folikel-folikel ovarium dapat dibedakan atas tiga jenis yaitu (i) folikel
primordial. (ii) folikel yang sedang tumbuh, dan (iii) follikel de Graff. Beberapa
ahli histology membagi folikel-folikel yang sedang tumbuh menjadi tiga kategori,
yaitu (i)folikel primer, (ii) folikel sekunder, dan (iii) folikel tersier. Folikel primer
diliputi oleh sel-sel granulose berbentuk kubus. Folikel sekunder memiliki lapisan
padat yang dibentuk dari sel-sel granulose. Folikel tersier atau folikel vaskuler
memiliki banyak rongga-rongga yang berisi cairan diantara sel-sel granulose
(Adnan dkk, 2016).
Sel kelamin (gamet) merupakan hasil proses gametogenesis. Gamet jantan disebut
spermatozoid dan gamet betina disebut sel telur. Spermatozoa diproduksi didalam
tubulus seminiferous testis. Spermatozoid vertebrata terdiri atas bagian kepala, leer,
bagian tengah dan ekor yang berupa flagel panjang. Sperma hewan-hewan berbeda,
berbeda pula dalam ukuran, bentuk dan mobilitasnya. Bentuk spermatozoid adalah
spesifik spesies, perbedaanya terutama terletak pada bentuk kepalanya, yaitu dati
bulat pipih sampai panjang lancip (Adnan, 2016).
Spermatogenesis, pembentukan dan perkembangan sperma, terus menerus
dan subur pada pria dewasa manusia. Pembelahan sel dan pematangan terjadi di
seluruh tubulus seminiferus yang digulung dalam dua testis, menghasilkan ratusan
juta sperma setiap hari. Untuk satu sperma, prosesnya memakan waktu tujuh
minggu dari awal sampai akhir. Oogenesis, pengembangan oosit matang (telur),
adalah proses berkepanjangan pada wanita manusia. Telur yang belum matang
terbentuk di ovarium embrio perempuan tetapi tidak menyelesaikan
perkembangannya sampai bertahun-tahun, dan seringkali beberapa dekade
kemudian (Campbell dkk, 2016).
Spermatogenesis berlangsung di dalam tubuli seminiferi testis.
Spermatogonia, sperma-tosit, dan spermatid berasosiasi secara spesifik membentuk
siklus spermatogenik atau staging yang bervariasi antarspecies. Spermatogenesis
meliputi beberapa fase, yaitu: mitosis, meiosis, spermiogenesis, golgi, capping,
acrosomal, dan maturasi (Hess & de Franca, 2008). Spermatozoa sebagai produk
spermatogenesis mengalami migrasi dari tubuli seminiferi testis menuju epididimis
untuk maturasi dan disimpan sementara. Stimulasi menyebabkan sebagian
spermatozoa dialirkan melalui vas deferens menuju ampula untuk ditambahkan
cairan dari accessory sex glands membentuk semen yang siap (Fitria dkk, 2015)
Dari testis, sperma bergerak melalui ductuli efferentes ke ductus
epididymidis untuk akumulasi, penyimpanan, dan pematangan. Selama eksitasi
seksual dan ejakulasi, sperma meninggalkan ductus epididymidis melalui ductus
deferens (Eroschenko, 2008) dan bergabung dengan plasma semen yang
disekresikan kelenjar aksesoris menuju uretra (Bacha dan Bacha, 2000), kemudian
diejakulasikan ke dalam saluran reproduksi betina (Mahfud dkk, 2016).
Sel telur diproduksi di dalam ovarium. Perkembangan sel telur terjadi di
dalam folikel-folikel telur. Folikel telur yang matang akan mengalami ovulasi, sel
telur yang dilepaskan dari ovarium akan masuk kedalam oviduk. Seperti sel yang
lain, sel telur dilengkapi dengan membran yang disebut plasmalemma atau oolema
untuk mellindungi sitoplasma, inti yolk, dan organel-organel dalam sel. Disamping
oolema, kebanyakan sel telur dikelilingi oleh membran-membran telur. Membrane
telur yang diskeresi oleh sel telur sendiri disebut membran telur primer. Membran
vitelin yang mengelilingi oolema termasuk membran telur primer. Membran telur
yang diskeresi oleh sel-sel folikel disebuut membran telur sekunder, misalnya zona
pelusida yang terletak disebelah luar membran vitelin. Membran telur yang
disekresi oleh kelenjar-kelenjar oviduk dan uterus disebut membran sel tersier,
misalnya membran cangkang dan cangkang kapur pada telur reptile da naves
(Adnan, 2016).
Secara umum selaput telur dibedakan atas tiga jenis, yaitu (i) selaput telur
primer, (ii) selaput telur sekunder, dan (iii) selaput telur tersier. Selaput telur primer
dihasilkan oleh oosit sendiri, misalnya zona radiate pada burung dan membrane
vitelin pada insekta, molska, amphia dan burung. Selaput telur primer biasanya
melekat ddidekta permukaan oosit pada runag antara oosit dan sel folikel yang
ditempati oleh mikrovili yang berinterdigitata (Adnan dkk, 2016).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

Sistem Reproduksi :

A. Waktu dan Tempat


Praktikum dilaksanakan pada :
Hari/ tanggal : Rabu/ 21 November 2018
Waktu : 13.00 – 14.00
Tempat : Laboratorium Kebun Percobaan Biologi FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat yang disediakan oleh laboratorium :
a. Pisau tajam (1)
b. Papan bedah (1)
c. Alat bedah satu set (1)
d. Botol pembius (1)
2. Bahan yang disediakan oleh laboratorium :
a. Aquadestilata Secukupnya
b. Kapas Secukupnya
c. Alkohol 70% Secukupnya
d. Kloroform Secukupnya
3. Bahan yang disediakan oleh praktikan :
a. Mencit jantan (1)
b. Mencut betina (1)
c. Merpati jantan (1)
d. Merpati betina (1)
e. Katak betina (1)
C. Langkah Kerja
1. Mencit jantan dan mencit betina
Pengamatan organ reproduksi dilakukan dengan cara yang sama dan
pengamatan organ yang berbeda :
a. Mencit jantan
Mendislokasi mencit Meletakkan badan mencit
betina dan mencit jantan dan betina diatas
jantan dengan papan seksi dan masing-
menekan pada bagian maisng kaki dan tangan di
leher hingga terdengar tindis menggunakan
bunyi jarum

Kemudian Setelah bagian kulit luar


menggunting bagian terbuka kemudian gunting
posterior abdomen kembali lapisan kulit
dari mencit kearah bagian dalam yang
anterior membungkus abdomen
pada mencit betina dan
jantan

Amati organ
reproduksi pada
mencit jantan
Gambar penampang Terlihat beberapa bagian
melintang permukaan seperti vesikula
tubuh mencit jantang seminalis, testis,
yang sudah dibelah epididimis, vas differens
dan uretra

b. Mencit betina

Mencit betina yang Mencit betina dengan


telah dibedah ovarium setelah
memperlihatkan dibedah dan diamati
ovarium yang
berwarna merah muda
2. Merpati jantan dan betina
a. Merpati jantan :

Sebelum dibedah Setelah disembelih


merpati jantan kemudian merpati
disembelih terlebih diletakan diatas papan
dahulu menggunakan bedah dan dibedah dari
pisau yang tajam arah posterior ke atas
anterior

Setelah dibedah Kemudian amati organ-


kemudian lapisan tubuh organ reproduksi yang
merpati kemudian dibuka dimiliki oleh merpati
selebar-lebarnya tersebut.
Organ-organ
reproduksi pada
jantan

b. Merpati betina

Merpati yang sudah Setelah itu dengan


dibedah dan menggunakan pisau tajam
dipisahkan dari lapisan lapisan selanjutnya
tubuh yang paling luar dipotong sehingga terlihat
abdomen

Mengamati organ Memisahkan organ-


reproduksi pada organ reproduksi dari
merpati betina tubuh merpati betina
Mengamati organ
reproduksi yang
sudah dipisahkan
dari tubuh merpati

3. Katak betina

Bius katak dengan


Letakkan katak di Lakukan
memasukkannya ke
atas papan bedah, pembedahan
dalam botol bius
bagian ventralnya
yang berisi kapas
menghadap ke atas.
dengan kloroform.

Mengamati sistem
reproduksi pada
katak
Pengamatan Pada Sel Kelamin

D. Alat dan Bahan


1. Alat yang disediakan oleh laboratorium :
a. Pisau tajam (1)
b. Papan bedah (1)
c. Alat bedah satu set (1)
d. Mikroskop (1)
e. Gelas kimia 100 ml (1)
f. Pipet (1)
g. Kaca benda (1)
h. Kaca penutup (1)
i. Pengaduk (1)
2. Bahan yang disediakan oleh laboratorium :
a. Aquades Secukupnya
b. NaCl Secukupnya
3. Bahan yang disediakan oleh praktikan :
a. Mencit jantan (1)
b. Mencit betina (1)
c. Merpati jantan (1)
d. Merpati betina (1)
4. Langkah Kerja
Pengamatan pada sel kelamin jantan pada mencit :

Setelah mencit Kemudian epididmis yang


dibedah epididimis dipotong kemudian dipindahkan
dari mencit tersebut ke cawan petri dan
dipotong menambahkan beberapa tetes
NaCl menggunakan pipet tetes
Epididimis kemudian
Kemudian pindahkan
dihancurkan
ke kaca preparat lalu
menggunakan gunting
tutup dengan kaca
dan pengaduk
objek dan amati
dibawah mikroskop
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
a. Sistem Reproduksi
Nama
No. Hewan Gambar Pengamatan Keterangan
Percobaan
1 Mencit
jantan
1. Vesikula
1 seminalis
2. Bladder
2 3. Testis
4. Kelenjar
3 prostat
5. Uretra
5 4

2 Mencit
betina 11
1. Ureter
2 2. Ovary
3. Tuba Fallopi
4. Uterus
3 5. Vagina
6. Kelenjar
6 5 4 Clitoris

3 Merpati 1. Testis
jantan 1
2. Pembuluh
2 eferensia
3. Saluran
3 deferens
4 4. Kloaka
4 Merpati 1. Kloaka
betina 2. Ovarium
1

2
5. Katak betina
1

3 1. Saluran
telur
4 2. Ginjal
3. Uterus
4. Kloaka

b. Pengamatan Sel Kelamin


Gambar Pengamatan Keterangan

Sperma
B. Pembahasan
a). Sistem Reproduksi
1. Merpati
a. Betina
Fertilisasi pada merpati betina merupakan reproduksi internal
artinya bahwa alat/organ reproduksi terletak didalam tubuh. Pada burung
betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak
tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium
dilekati oleh suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh
oviduk. Oviduct, merupakan saluran yang berkelok-kelok yang berfungsi
sebagai saluran telur. Ujung oviduk membesar menjadi uterus. Uterus
atau shell gland untuk menghasilkan cangkang kapur yang bermuara
pada kloaka.
b. Jantan
Testis berjumlah sepasang, berbentuk oval atau bulat, bagian
permukannya licin, dan berfungsi untuk menghasilkan sperma. Tubulus
mesonefrus membentuk duktus aferen dan epididimis. Duktus wolf
bergelung dan membentuk duktus deferen. Vas eferensia, merupakan
saluran yang berhubungan dengan epididmis dan testis. Kloaka,
merupakan tempat keluarnya sperma.
2. Katak
a. Betina
Pada betina, ovarium berjumlah sepasang, pada sebelah kranialnya
dijumpai jaringan lemak berwarna kuning (korpus adiposum). Saluran
reproduksi berupa oviduk yang merupakan saluran berkelok-kelok.
Oviduk dimulai dengan bangunan yang mirip corong (infundibulum)
dengan lubangnya yang disebut oskum abdominal. Oviduk di sebelah
kaudal mengadakan pelebaran yang disebut dutus mesonefrus. Dan
akhirnya bermuara di kloaka.
3. Mencit (Mus musculus)
a. Betina
Ovarium, terletak berdekatan dengan saluran telur dan berfungsi
untuk mengahasilkan ovum.Infudibulum, sebagai tempat terbentuknya
kalaza. Oviduct, merupakan saluran yang berkelok-kelok yang berfungsi
sebagai saluran telur. Uterus, sebagai saluran telur dan merupakan
pelebaran dari oviduk. Vagina, merupakan organ hewan betina dan
sebagai jalan keluar anak.Vulva yang berupa tonjolan pada bagian luar
vagina yang merupakan organ genitalia eksterna.
b.Jantan
Mencit telah memiliki alat kelamin luar berupa penis. Alat kelamin
dalam yaitu: Testis, berjumlah dua buah terletak satu pada bagian kanan
kelenjar bul bourethra dan satu di sebelah kirinya. Testis berada dalam
rongga perut dan terletak pada suatu kantong yang disebut
scrotum. Epididmis, melekat pada sisi posterior testis. Yang terdiri atas
tiga daerah utama, yaitu caput yang merupakan bagian kepala, corpus
merupakan bagian tengah, dan cauda yang merupakan bagian ujung atau
ekor yang terletak di bawah testis. Vas defferens, merupakan kelenjar
pelengkap langsung dengan saluran epididmis dan vasikula seminalis,
strukturnya kecil memanjang dan berlekuk-lekuk. Vas efferens, saluran
halus yang bermuara pada kloaka. Vesikula seminalis, merupakan
kelenjar asesoris yang terdapat dalam keadaan berpasangan.
b). Pengamatan Sel Kelamin
Sperma umumnya terdiri atas kepala, leher dan ekor. Pada praktikum
kali ini, sperma mencit yang berasal dari testis maupun epididimis berhasil
terlihat namun sangat kecil karena hanya menggunakan mikroskop cahaya.
Sehingga struktur morfologinya sangat susah untuk diamati sehingga sulit
membedakan struktur morfologi sperma pada testis dan pada epididimis.
Struktur yang jelas terlihat hanyalah ekor sedangkan bentuk kepala sperma
tidak jelas.
Spermatozoa mencit adalah sel kelamin (gamet) yang diproduksi di
dalam tubulusseminiferus melalui proses spermatogenesis, dan bersama-
sama dengan plasma semen akandikeluarkan melalui sel kelamin jantan.
Menurut Rugh (1968), spermatozoa mencit yang normalterbagi atas
bagian kepala yang bentuknya bengkok seperti kait, bagian tengah yang
pendek (middle piece), dan bagian ekor yang sangat panjang. Panjang
bagian kepala kurang lebih 0,0080mm, sedangkan panjang spermatozoa
seluruhnya sekitar 0,1226 mm (122,6 mikron).
Bentuk kepala sperma pada setiap spesies itu berbeda. Pada mencit
kepala sperma berbentuk kait dan agak pipih. Kepala sperma berfungsi
sebagai penerobos jalan menuju dan masuk ke dalam ovum. Sperma
mencit digolongkan sebagai sperma tipe hematospermium yaitu sperma
yang memiliki ekor.
Ekor spermanya terdiri atas 2 mikrotubul pusat yang kelilingi oleh 9
mikrotubul yang berpasangan. Ekor dibagi menjadi daerah neck (leher)
terbentuk pada dasar ekor. Elemen-elemen utama dari struktur ini adalah
connecting piece yang bersambung dengan bagian cembung pada dasar
kepala sperma (Adnan, 2015). Ekor sperma berfungsi untuk pergerakan
menuju tempat pembuahan dan untuk mendorong kepala menerobos
selaput ovum.
Sperma pada mencit memiliki dua sentriol, yaitu sentriol proksimal
yang tertanam pada connecting piece, dan terdapat pula sentriol distal.
Selama perkembangan, ekor sentriol distal dapat dijumpai, namun
berdegenerasi selama perkembangan connecting piece, sedangkan middle
piece ditandai dengan adanya seludang mitokondria yang mengelilingi
aksonema dan berfungsi untuk menghasilkan energi yang penting bagi
pergerakan sperma. Middle piece diakhiri dengan satu struktur yang
disebut annulus. Dibelakang annulus, aksonema dikelilingi oleh seludang
serabut. Daerah ini disebut principal piece. Pada bagian belakang principal
piece disebut end piece (Browders, 1984 dalam Adnan, 2004).
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
a). Sistem Reproduksi
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
1. Alat reproduksi pada Mencit, katak dan merpati adalah sebagai berikut:
a. Mencit jantan terdiri atas : penis, testis, epididmis, vas defferens, dan
vasikula seminalis.
b. Mencit betina alat reproduksinya terdiri atas : vagina, vulva, ovarium,
oviduct, dan uterus.
c. Merpati jantan alat reproduksinya terdiri atas : testis, vas efferensia,
dan kloaka.
d. Merpati betina alat reproduksinya terdiri atas : ovarium, ostium,
oviduct, uterus, dan kloaka.
e. Katak betina alat reproduksinya terdiri atas : ovarium, oviduct,
osrium, dan uterus.
2. Perbedaan sistem reproduksi pada ketiganya yaitu :
Pada hewan-hewan dengan taksa yang tinggi seperti mamalia,
khususnya pada mencit alat-alat reproduksinya biasanya lebih
terspesialisasi dan dilengkapi dengan kelamin luar dan sudah kompleks
dibanding dengan katak dan merpati .
b). Pengamatan Sel Kelamin
Berdasarkan hasil pengamatan dan studi literatur dapat disimpulkan bahwa
sperma mencit tergolong dalam sperma tipe hematospermium, yaitu sperma
yang memiliki ekor. Bentuk kepala dari sperma mencit itu sendiri adalah
berbentuk kait dan agak pipih.

B. Saran
Diharapkan kepada praktikan selanjutnya agar lebih berhati hati, serius
dalam praktikum dan meguasai semua materi terutama prosedur kerja dan fungsi
dari setiap alat dan bahan sehingga yang diperoleh dapat sesuai dengan teori dan
tidak menyakiti hewan percobaan.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2016. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan


Biologi FMIPA UNM.
Adnan., Arifah, N.A., A.Irma, S. 2016. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan
Biologi FMIPA UNM.

Amelia, D., Budi, S., Bambang, P. 2017. Ekstrak Daun Moringa oleifera terhadap
Jumlah Folikel Tikus Model Sindroma Ovarium Polikistik. Jurnal
Biosains Pascasarjana. 19 (3).

Campbell, N.A., Lisa, A.U., Jane, B.R., Michael, L.C., Steven, A.W., & Peter, V.M.
2016. Biology Eleventh Edition. United States of America: Pearson
Education.

Fitria, L., Mulyati., Cut, M.T., Dan Andreas, S.B. 2015. Profil Reproduksi Jantan
Tikus (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) Galur Wistar Stadia Muda,
Pradewasa, dan Dewasa. Jurnal Biologi Papua. 7 (1): 30.

Mahfud., Adi, W,. dan Chairun, N. 2016. Mikromorfologi Alat Kelamin Primer
Biawak Air (Varanus salvator bivittatus) Jantan Micromorphological
Structure of Primary Reproductive Organ of Male Water Monitor Lizard
(Varanus salvator bivittatus). Jurnal Kedokteran Hewan. 10 (1): 72-73.