Anda di halaman 1dari 14

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Perkembangan Hewan dengan judul praktikum


“Pemberian Obat Pada Hewan Uji” yang disusun oleh:
Nama : Friska Novia Upriana
NIM : 1714041016
Kelas : Pendidikan Biologi A
Kelompok : III (Tiga)
Setelah diperiksa dan dikoreksi oleh Asisten/ Koordinator maka dinyatakan
diterima.

Makassar, Oktober 2018

KoordinatorAsisten Asisten

Suhardi Aldi Ruhaemah


NIM : 1614042011 NIM :1414440008

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Dr. Adnan, M.S


NIP :19650201 198803 1 003
BAB I
PENDAHULUAN

A. LatarBelakang
Mencit (Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus-tikusan) yang
berukuran kecil. Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai
hewan pengganggu karena kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-barang
kecil lainnya, serta bersarang di sudut-sudut lemari. Hewan ini diduga
sebagai mamalia terbanyak kedua di dunia, setelah manusia. Mencit sangat
mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibuat manusia, bahkan
jumlahnya yang hidup liar di hutan barangkali lebih sedikit daripada yang tinggal
di perkotaan.
Hewan coba adalah hewan yang khusus diternakan untuk keperluan
penelitian biologis. Tidak semua hewan coba dapat digunakan dalam suatu
penelitian, harus dipilih mana yang sesuai dan dapat memberikan gambaran
tujuan yang akan dicapai. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah
memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan
genetis/keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, di
samping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan
reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia.
Mencit percobaan (laboratorium) dikembangkan dari mencit, melalui
proses seleksi. Sekarang mencit juga dikembangkan sebagai hewan peliharaan.
Dalam memilih hewan uji, kita harus mengetahui bagaimana cara
memperlakukan mencit dengan benar agar mencit yang akan kita gunakan
sebagai sarana percobaan tidak stress sehingga percobaan kita berjalan dengan
lancar, kita juga harus mengetahui sifat-sifat hewan yang akan diujikan, serta
bagaimana cara memberikan obat kepada hewan tersebut. Pada praktikum kali
ini, hewan yang akan dijadikan percobaan adalah mencit (Mus musculus), kita
akan mempraktikkan bagaimana cara pemberian obat yang benar pada mencit
dengan beberapa cara. Oleh karena itu, kita melakukan percobaan ini agar kita
dapat mengetahui bagaimana cara pemberian obat pada hewan uji dengan benar
dan baik.
B. Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat mengetahui cara pemberian obat pada hewan
percobaan (mencit) dengan baik dan benar dengan cara intra muscular, intra
peritoneal dan per oral.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh dari praktikum pemberian obat pada hewan uji
ini yaitu kita jadi mengetahui cara pemberian obat pada hewan percobaan dengan
baik dan benar, serta kita jadi terampil melakukannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sebagian besar hewan, apakah aseksual atau seksual, menunjukkan siklus


dalam aktivitas reproduksi, sering dikaitkan dengan perubahan musim. Siklus ini
dikendalikan oleh hormon, yang sekresi pada gilirannya diatur oleh isyarat
lingkungan. Dengan cara ini, binatang menghemat sumber daya, mereproduksi
hanya ketika sumber energi yang cukup tersedia dan ketika kondisi lingkungan
mendukung kelangsungan hidup keturunan. Sebagai contoh, domba betina (betina)
memiliki siklus reproduksi yang berlangsung 15-17 hari. Ovulasi, pelepasan telur
matang, terjadi di titik tengah setiap siklus. Untuk induk, siklus reproduksi
umumnya hanya terjadi selama musim gugur dan awal musim dingin, dan
panjangnya kehamilan adalah lima bulan. Dengan demikian, sebagian besar anak
domba dilahirkan di awal musim semi, ketika peluang mereka untuk bertahan hidup
optimal. Karena suhu musiman sering menjadi isyarat penting untuk reproduksi,
perubahan iklim dapat menurunkan keberhasilan reproduksi. Para peneliti telah
menemukan efek seperti itu pada karibu (rusa liar) di Greenland. Pada musim semi,
karibu bermigrasi ke daerah calving untuk makan tumbuh tanaman, melahirkan,
dan merawat anak-anaknya. Sebelum tahun 1993, kedatangan karibu di lahan
calving bertepatan dengan periode singkat di mana tanaman bergizi dan mudah
dicerna. Pada tahun 2006, bagaimanapun, suhu rata-rata musim semi di lahan
calving telah meningkat lebih dari 4 ° C, dan tanaman tumbuh dua minggu
sebelumnya. Karena migrasi karibu dipicu oleh panjang hari, bukan suhu, ada
ketidaksesuaian antara waktu pertumbuhan tanaman baru dan kelahiran karibu.
Tanpa nutrisi yang cukup untuk wanita menyusui, produksi keturunan karibu telah
menurun 75% sejak tahun 1993. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang efek
perubahan iklim pada karibu dan lainnya organisme, lihat Membuat Koneksi
Gambar 56.29. Siklus reproduksi juga ditemukan di antara hewan yang dapat
bereproduksi secara seksual dan aseksual. Pertimbangkan, misalnya, kutu air
(genus Daphnia). Seorang wanita Daphnia dapat menghasilkan telur dari dua jenis.
Satu jenis telur membutuhkan pembuahan untuk berkembang, tetapi jenis lainnya
tidak dan berkembang sebagai partenogenesis. Daphnia bereproduksi secara
aseksual ketika kondisi lingkungan menguntungkan dan seksual selama masa stres
lingkungan. Akibatnya, peralihan antara reproduksi seksual dan aseksual secara
kasar terkait dengan musim. Untuk beberapa kadal whiptail aseksual, siklus
perilaku reproduksi tampaknya mencerminkan masa lalu evolusi seksual. Dalam
spesies ini dari genus Aspidoscelis, reproduksi secara eksklusif aseksual, dan tidak
ada laki-laki. Namun demikian, kadal ini memiliki perilaku pacaran dan kawin yang
sangat mirip dengan spesies seksual Aspidoscelis. Selama musim kawin, satu betina
dari masing-masing pasangan kawin meniru seekor jantan. Setiap anggota dari
pasangan itu bergantian peran dua atau tiga kali selama musim. Seseorang
mengadopsi perilaku perempuan ketika tingkat hormon estradiol tinggi, dan beralih
ke perilaku seperti laki-laki ketika tingkat hormon progesteron tinggi.
Ovulasi adalah suatu proses terlepasnya sel telur (ovum) dari ovarium
sebagai akibat pecahnya folikel yang telah masak. Mekanisme terjadinya ovulasi
dipengaruhi oleh hormonal, neurak dan periodisitas cahaya. Ovulasi pada katak
terjadi setelah oosit melepaskan polar bodi pertama, dinding theka ekstrena dan
folikel sel dari folikel mampu menghasilkan hormone estrogen dan progesterone.
Kedua hormone ini dalam jumlah yang kecil memberi dorongan kelenjar hipofisa
anterior untuk menghasilkan hormone (Luteinizing Hormone). Hormone LH
memegang peranan penting dalam menggertak terjadinya ovulasi. Kelenjar hipofisa
katak yang diambil melallui hiposektomi, merupakan sumber hormone FSH dan
LH dapat digunakan untuk menginduksi ovulasi (Adnan, 2016).
Fertilisasi memiliki beberapa fungsi anatar lain (i) transimisi gen dari
paternal dan maternal kepada keturunannya, (ii) merangsang sel telur untuk
berkembang lebih lanjut, (iii) menghasilkan terjadinya syngami, yaitu peleburan
sifat genetis paternal dan maternal, (iv) mempertahankan kondisi diploiditas suatu
species tertentu dan jenisnya, (v) penentuan jenis kelamin secara genetis (Adnan,
dkk, 2016).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari, tanggal : Rabu, 26 September 2018
Waktu : Pukul 13:00 s.d 14.10 WITA
Tempat : Laboratotium Kebun Percobaan Biologi, Jurusan Biologi,
FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Kandang mencit 1 buah
b. Gagave sode/ feeding tube 1 buah
c. Syiringe dan jarum suntik 1 buah
d. Sarung tangan 1 pasang
2. Bahan
a. Mencit (Mus musculus) 1 ekor
b. Alcohol 70% secukupnya
c. Makanan hewan secukupnya
d. Aquabidest secukupnya
C. Langkah Kerja
1. Cara mememegang hewan percobaan sehingga siap diberi sediaan uji

Berikan rasa nyaman pada Ujung ekor mencit diangkat


mencit agar tidak stress dan diletakkan pada rem kawat
dengan cara mengelus-elus sehingga bila ditarik mencit
, kemudian akan mencengkram
Balik badan mencit hingga Kulit pada bagian tengkuk
menjadi posisi telentang mencit dijepit dengan ibu
dan pastikan tangan sudah jari dan jari telunjuk
memegang secara kuat

2. Cara pemberian obat pada hewan percobaan


a. Per oral
Cairan obat diberikan dengan menggunakan
sode oral, sode oral tersebut dditempelkan
pada langit-langit mulut atas mencit
kemudian masukkan perlahan-lahan sampai
ke esophagus dan cairan obat d masukkan,
sebelum memasukkan sonde oral, posisi
kepala mencit adalah mengadah dan
mulutnya terbuka sedikit, sehingga sonde
oral masuk secara lurus
b. Subkutan
Penyuntikan dilakukan pada area tengkuk.
Bersihkan area kulit dengan alcohol 70%.
Masukkan obat degan alat suntik 1 ml
secara parallel dari arah depan menembus
kulit. Usahakan lakukan dengan cepat
untuk menghindari pendarahan yang terjadi
karena pergerakan kepala mencit
c. Intra muscular
Obat disuntikkan pada paha posterior
dengan jarum suntik no. 24

d. Intra peritoneal
mencit dipegang dengan kepala lebih
rendah dari abdomen. Jarum disuntikkan
dengan sudut sekitar 10̊ dari abdomen pada
daerah yang sedikit menepi dari garis
tengah, agar jarum suntik tidak terkena
kandung kemih dan tidak terlalu tinggi
supaya tidak terkena penyuntikkan pada
hati

e. Intravena

Pegang mencit dengan posisi yang benar


kemudian lekor mencit d luruskan seperti
pada gambar lalu suntikkan pada bagian
ekor.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1. Cara memegang hewan percobaan sehingga siap diberi sediaan uji

2. Cara pemberian obat pada hewan uji


a. Oral b. Subkutan

c. Intra muscular d. Intra peritoneal


e. Intra vena

B. Pembahasan
1. Cara memegang hewan percobaan sehingga siap diberi sediaan uji
Pada saat praktikum berlangsung yang pertama kali dilakukan adalah
memegang hewan percobaan dengan baik dan benar. Pertama angkat mencit
dengan memegang ekornya menggunakan tangan kiri dari dalam kandang
keatas rang, lalu tarik ekor mencit sehingga mencit tersebut mencengkram
pada rang. Kedua agar mencit tidak stress elus-elus mencit, lalu kulit pada
bagian tengkuk mencit dijepit dengan telunjuk dan ibu jari tangan kiri
sedangkan ekornya tetap dipegang dengan tangan kanan kemudian tubuh
mencit dibalikkan sehingga permukaan perut menghadap kekita dan ekor
dijepit di antara jari manis dan kelingking tangan kiri.
2. Cara memberikan obat pada hewan percobaan
a. Oral
Pemberian secara oral pada mencit dilakukan dengan alat suntik
yang dilengkapi jarum oral atau sonde oral (berujung tumpul). Pertama
elus-elus mencit agar tidak stress lalu pegang mencit seperti cara diatas
dan posisi kepala mencit adalah menengadah dan mulutnya terbuka
sedikit, sehingga sonde oral atau jarum suntik akan masuk secara lurus ke
dalam tubuh mencit. Cairan obat diberikan menggunakan sonde oral,
sonde oral ditempelkan pada langit-langit mulut atas mencit kemudian
masukkan secara perlahan-lahan sampai ke esophagus dan cairan obat
dimasukkan. Setelah pemberian obat elus-elus lagi mencit agar tidak stress
lalu masukkan kedalam kandang.
b. Subkutan
Pertama pegang mencit seperti cara diatas. Penyuntikan dilakukan
di bawah kulit pada daerah tengkuk dicubit diantara jempol dan telunjuk.
Bersihkan area kulit yang akan disuntik dengan alcohol 70%. Maukkan
obat dengan menggunakan alat suntik 1ml secara parallel dari aarh depan
menembus kulit. Diusahakan dilakukan dengan cepat untuk menghindari
pendarahan yang terjadi karena pergerakan kepala mencit. Pemberian obat
ini berhasil jika jarum suntik telah melewati kulit dan pada saat alat suntik
ditekan, cairan yang berbeda didalamnya dengan cepat masuk kedaerah
bawh kulit. Setelah pemberian obat elus-elus lagi mencit agar tidak stress
lalu masukkan kedalam kandang.
c. Intra muscular
Pertama pegang mencit seperti cara diatas. Kemudian obat
disuntikkan pada paha posterior dengan jarum suntik no.24. Diusahakan
dilakukan dengan cepat untuk menghindari pendarahan yang terjadi dan
dilihat baik-baik sebelum menyuntik agar tidak salah suntik. Setelah
pemberian obat elus-elus lagi mencit agar tidak stress lalu masukkan
kedalam kandang.
d. Intra peritoneal
Pertama pegang mencit seperti cara diatas. Pada penyuntikan posisi
kepala lebih rendah dari abdomen. Jarum disuntikkan dengan sudut 10º
dari abdomen pada daerah yang sedikit menepi dari garis tengah, agar
jarum suntik tidak terkena kandung kemih dan tidak terlalu tinggi supaya
tidak terkena penyuntikan pada hati. Setelah pemberian obat elus-elus lagi
mencit agar tidak stress lalu masukkan kedalam kandang.
e. Intra vena
Pertama pegang mencit seperti cara diatas. Ekor mencit dipegang
memanjang, penyuntikan pada vena di ekor mencit. Usahakan agar jarum
suntik selurus dengan ekor mencit agar tidak terjadi kesalahan. Setelah
pemberian obat elus-elus lagi mencit agar tidak stress lalu masukkan
kedalam kandang.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat kita tarik
kesimpulan bahwa sebelum melakukan penyuntikan pada hewan percobaan
sebaiknya hewan tersebut diberikan perlakuan terlebih dahulu agar hewan tidak
stress. Dan ada 5 cara pemberian obat pada hewan uji yaitu, oral, subkutan, intra
muscular, intra peritoneal dan intra vena.
B. Saran
Diharapkan kepada praktikan selanjutnya agar lebih berhati hati dan
meguasai semua materi terutama prosedur kerja dan fungsi dari setiap alat dan
bahan sehingga yang diperoleh dapat sesuai dengan teori dan tidak menyakiti
hewan percobaan.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2016. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan


Biologi FMIPA UNM.
Akbar, Budhi. 2010. Tumbuhan Dengan Kandungan Senyawa Aktif Yang
Berpotensi Sebagai Bahan Antifertilitas. Jakarta: Adabia Press.

Sulanjani, Ian., Andini, Meiana Dwi., Halim, Marta. 2013. Dasar-Dasar


Farmakologi 1.
Santoso, Setyo Dwi., Suryanto, Imam. 2017. Komparasi Efek Pemberian Minyak
Jintan Hitam (Nigella Sativa) Dengan Minyak Zaitun (Olea Europea) Terhadap
Penurunan Glukosa Darah Pada Mencit (Mus Musculus) Strain Balb/C. Jurnal
SainHealth. Vol 1 No. 1: 37
Tolistiawaty, Intan., Widjaja, Junus., Sumolang, Phetisya Pamela F., Octaviani.
2014. Gambaran Kesehatan pada Mencit (Mus musculus) di Instalasi Hewan
Coba. Jurnal Vektor Penyakit. Vol. 8 No. 1, Hal 27 – 28.

Umami, Samsul Rizal., Hapizah, Sarifa Siti., Fitri, Rosita., Hakim, Aliefman.
2016. Uji Penurunan Kolesterol Pada Mencit Putih (Mus Musculus) Secara In-
Vivo Menggunakan Ekstrak Metanol Umbi Talas (Colocasia Esculenta L)
Sebagai Upaya Pencegahan Cardiovascular Disease. Jurnal Pijar Mipa. Vol. Xi
No.2: 121