Anda di halaman 1dari 9

Materi 1

Makalah Problematika Haji

Oleh: Taufik Rahman Sipahutar. Pelaksanaan ibadah haji merupakan sebuah fenomena
ibadah yang mengagumkan. Kedudukan ibadah haji sebagai rukun Islam pamungkas ini
memiliki keistimewaan khusus dan hikmah tersendiri dalam suatu rangkaian peribadatan yang
sentral dan esensial seperti; thawaf mengelilingi Ka’bah, berlari-lari kecil antara Safa dan
Marwa, wukuf di Padang Arafah, berkurban di Mina, dan melempar Jumrah.. Sebagai jenis
ibadah yang terpenting, ibadah haji hanya diwajibkan bagi orang-orang yang mempunyai
kemampuan untuk melaksanakannya. Allah berfirman: “ …mengerjakan haji adalah kewajiban
manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta
alam” (QS. Ali Imran: 97).

Besarnya biaya dan beratnya praktik-praktik ibadah yang harus dijalankan, pada kenyataannya
tidak menyurutkan cita-cita dan keinginan umat Islam untuk berduyun-duyun pergi
melaksanakan ibadah haji. Secara lahiriah, bertambahnya jumlah jemaah calon haji setiap
tahunnya bisa dinilai sebagai bukti dari kesadaran beragama yang ikut meningkat. Namun, jika
ditilik dari perspektif sosial-kemanusiaan yang lebih luas, fenomena tersebut kerap kali
menghadirkan sejumlah pertanyaan mendasar – terutama yang berkaitan dengan arti penting
kewajiban ibadah.

Rangkaian manasik dan aturan-aturan dalam ibadah haji merupakan momen dan wahana yang
kondusif bagi manusia untuk melakukan penyucian diri. Praktek manasik tersebut dilakukan
seluruh jamaah adalah semacam “titian simbolik” yang mengandung kesadaran beragama dan
makna penyerahan diri secara utuh kepada sang pemilik Ka’bah untuk penghapusan dosa.

Berbicara tentang ruang lingkup kesadaran beragama, pelaksanaan ibadah haji sering dianggap
sebagai ritus yang prestisius dan menjadi puncak kesalehan seseorang dalam beragama. Imam
al-Ghazali pernah mengatakan bahwa di antara rukun Islam dan asas bangunannya, haji
merupakan kewajiban ibadah (sekali) seumur hidup, sebagai pamungkas perintah, dan keutuhan
agama.

Maka ibadah haji dengan beraneka kesulitannya merupakan rekonstruksi nilai kemanusiaan
untuk menebus dosa dan berpribadi saleh ketika ia kembali ke kampung halamnnya. Keagungan
dan kedalaman makna ibadah haji itu di antaranya bisa dilihat dari pakaian yang dikenakan
ketika akan berihram. Pakaian putih itu melambangkan kesucian hati dan kebersihan jiwa
manusia yang begitu kuat sebagai pendorong untuk meninggalkan segala macam perbuatan
yang dapat memalingkan niat istiqomahnya untuk berhaji dan meninggalkan seluruh
perlambang (kenikmatan) duniawi yang kerap menjerumuskan.

Dalam segenap rangkain manasik haji, seluruh jamaah berusaha menunaikan dengan
sesempurna mungkin. Gema ucapan talbiyah, tahmid, tasbih, dan berbagai doa mustajab
lainnya, tiada henti-hentinya diucapkan. Seluruh jamaah haji berkeinginan sama untuk
mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan ampunan dosa.

Hasrat untuk membersihkan diri dan menyucikan jiwa dari berbagai dosa, cela, nista,
kemunafikan dan sifat-sifat buruk lainnya menjadi motivasi bagi jamaah untuk dapat
melaksanakan semua rukun dan kewajiban haji secara sempurna. Dalam konteks inilah upaya
rekonstruksi nilai-nilai suci kemanusiaan sangat mungkin bisa terjadi.

Haji dan Problematikanya

Sepanjang yang dapat kita amati atau mungkin juga mengalaminya sendiri bahwa rutinitas
pelaksanaan ibadah haji dari tahun ke tahun selalu menyisakan problematika buruk. Rangkaian
problematika itu menyangkut teknis pra pelaksanaan, pelaksanaan, dan pasca pelakasanaan
ibadah haji, bahkan dengan sendirinya problematika teknis itu berakhir menjadi kasus hukum
pidana. Permasalahan yang terjadi itu jika kita urut mulai dari daftar tunggu keberangkatan
dengan antrian panjang, keterlambatan pengeluaran paspor/ visa, jadwal penerbangan dan
penelantaran jamaah, pemondokan sampai masalah perut yaitu katering.
Ragam permasalahan kegiatan ibadah haji ini sangat patut mendapat perhatian sekaligus
menjadi kajian khusus, agar menjadi pelajaran moral bagi penyelenggara haji. Karena pada
kenyataannya, selalu berulang dan tentunya telah merugikan para jamaah calon haji.

Sejatinya, penyelenggara haji itu profesional dalam memberikan pelayanan bagi para calon haji.
Sebab, mereka (calon haji) itu merupakan tamu Allah yang mendapat seruan untuk
melaksanakan haji. Dengan penuh kesungguhan (tenaga dan materi) serta keikhlasan, mereka
sengaja datang dari setiap penjuru negeri yang jauh untuk bertamu ke Baitullah guna
melaksanakan ibadah haji. Firman Allah: ” Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan
haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengenderai unta yang
kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai
manfaat bagi mereka” (QS. al-Hajj: 27-28).

Berulangnya problematika buruk ibadah haji itu terjadi mengindikasikan betapa pihak
penyelenggara haji kita nampaknya kurang siap dalam melayani para tamu Allah. Padahal kita
semua tahu bahwa para calon haji tersebut dengan motivasi keimanan telah bersusah payah
untuk mempersiapkan (biaya, perlengkapan) keberangkatan hingga pelaksanakan seluruh
manasik haji.

Ibadah haji dianggap sangat potensial untuk dijadikan “lahan basah” atau lahan proyek yang
menggiurkan. Dengan kata lain, nilai ekonomi dan peluang bisnis dalam ibadah haji itu sangat
besar dan menjadi tambang uang. Kalau tidak “basah” dan mengandung pundi-pundi uang,
maka buat apa orang-orang dari berbagai departemen dan instansi terkait suka berebutan untuk
ikut serta dalam penyelenggaraan ibadah haji tersebut. Termasuk di dalamnya adalah semakin
menjamurnya biro perjalanan dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang dikelola oleh
swasta.

Implikasinya, karena ibadah haji dipandang sebagai lahan basah dengan keuntungan finansial
yang berlimpah, terjadilah ketimpangan dalam manajemen pelayanan yang semestinya
profesional dan punya etika-norma. Bahkan muncul suatu asumsi kotor bahwa jamaah calon
haji tidak akan habis layaknya sumber mata air. Karena asumsi seperti itu, profit oriented sangat
dominan dan dinomorsatukan daripada memberikan pelayanan yang baik, manusiawi, dan
sesuai syar’i kepada para jamaah calon haji.

Dengan manajemen penyelengara haji yang buruk itu, kerap terjadi praktik pengelolaan,
pelayanan, dan pengaturan yang merugikan jamaah calon haji sebagai konsumen. Dalam hal
ini, jemaah calon haji bisa menjadi korban eksploitasi dan diposisikan sebagai pihak yang tidak
punya kekuatan untuk menawar. Jemaah calon haji “dipaksa” harus mengikuti, tidak boleh
protes atau membantah, tetapi harus ikhlas karena ini adalah ibadah haji. Dengan alasana atas
nama agama, jemaah calon haji tidak diopeni, diperlakukan dan ditempatkan sebagai pihak yang
terkena fait accompli.

Manajemen yang salah dalam penyelenggaraan haji anehnya lagi sering ditutup-tutupi dan
berlindung di balik dalil-dalil agama. Bahkan oknum yang terlibat dalam penyelenggaran haji
ini buru-buru “cuci tangan dan lenggang kangkung” tanpa merasa bersalah dan bertanggung
jawab pada publik secara moral. Maka jangan heran kalau praktek buruk seperti ini merupakan
bagian dari manipulasi yang kerap terjadi pada musim haji.

Masalah lainnya dalam penyelenggaraan ibadah haji juga patut diduga terjadi praktik korupsi,
kolusi, dan nepotisme. Ironisnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa praktik kotor tersebut
yang secara berjamaah telah melibatkan aparat pemerintah dan swasta. Melihat kasus
penyelenggaraan ibadah haji yang tidak sehat dan tidak bersih ini, maka sungguh sangat
mendesak adanya kebijakan tegas yang berpihak kepada jemaah calon haji.

Desakan untuk pemerintah dan DPR agar mengeluarkan regulasi baru dan membentuk lembaga
khusus yang independen dalam penyelengaraan ibadah haji non-departemen berikut badan
pengawasnya. Kiranya perlu mengikut sertakan peran ormas Islam seperti; NU,
Muhammadiyah, Alwasliyah, dan organisasi lainnya. Lembaga khusus ini dibentuk bersifat
independen dan otonom, berkompeten, kredibel, amanh, dan akuntabel dengan kepengurursan
dan keanggotaan secara priodik dan dipilih melalui mekanisme fit and proper test.

Dengan terbentuknya lembaga tersebut, maka peran Kementerian Agama harus rela
“dipensiunkan” dari urusan haji. Diharapkan melalui lembaga ini, maka penyelenggaraan
ibadah haji tidak lagi diurus sembarangan dengan manjemen yang amburadul. Dengan
manajemen baru yang profesional, etis, dan syar’i, kiranya jamaah calon haji dari tahun ke tahun
dapat menikmati perjalanan haji dengan khusu’ dan aman. Semoga.

Materi 2

Tulisan berikut adalah tulisan terakhir yang kami susun di musim haji tahun lalu. Penjelasan
ini berisi kesalahan-kesalahan seputar ihram, thawaf, sa’i, dan amalan haji lainnya yang
sering kita temukan di tengah-tengah jama’ah haji. Semoga dengan adanya artikel ini bisa
meluruskan ritual keliru yang selama ini berjalan.

Kesalahan ketika ihram

1. Melewati miqot tanpa berihram seperti yang dilakukan oleh sebagian jamaah haji
Indonesia dan baru berihram ketika di Jeddah.
2. Keyakinan bahwa disebut ihram jika telah mengenakan kain ihram. Padahal
sebenarnya ihram adalah berniat dalam hati untuk masuk melakukan manasik.
3. Wanita yang dalam keadaan haidh atau nifas meninggalkan ihram karena
menganggap ihram itu harus suci terlebih dahulu. Padahal itu keliru. Yang tepat,
wanita haidh atau nifas boleh berihram dan melakukan manasik haji lainnya selain
thawaf. Setelah ia suci barulah ia berthawaf tanpa harus keluar
menuju Tan’im atau miqot untuk memulai ihram karena tadi sejak awal ia sudah
berihram.

Kesalahan dalam thawaf

1. Membaca doa khusus yang berbeda pada setiap putaran thawaf dan membacanya
secara berjamaah dengan dipimpin oleh seorang pemandu. Ini jelas amalan yang
tidak pernah diajarkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Melakukan thawaf di dalam Hijr Isma’il. Padahal thawaf harus dilakukan di luar
Ka’bah, sedangkan Hijr Isma’il itu berada dalam Ka’bah.
3. Melakukan roml pada semua putaran. Padahal roml hanya ada pada tiga putaran
pertama dan hanya ada pada thawaf qudum dan thawaf umrah.
4. Menyakiti orang lain dengan saling mendorong dan desak-desakan ketika mencium
hajar Aswad. Padahal menyium hajar Aswad itu sunnah (bukan wajib) dan bukan
termasuk syarat thawaf.
5. Mencium setiap pojok atau rukun Ka’bah. Padahal yang diperintahkan untuk dicium
atau disentuh hanyalah hajar Aswad dan rukun Yamani.
6. Berdesak-desakkan untuk shalat di belakang makam Ibrahim setelah thawaf.
Padahal jika berdesak-desakkan boleh saja melaksanakan shalat di tempat mana
saja di Masjidil Haram.
7. Sebagian wanita berdesak-desakkan dengan laki-laki agar bisa mencium hajar
Aswad. Padahal ini adalah suatu kerusakan dan dapat menimbulkan fitnah.

Kesalahan ketika sa’i

1. Sebagian orang ada yang meyakini bahwa sa’i tidaklah sempurna sampai naik ke
puncak bukit Shafa atau Marwah. Padahal cukup naik ke bukitnya saja, sudah
dibolehkan.
2. Ada yang melakukan sa’i sebanyak 14 kali putaran. Padahal jalan dari Shafa ke
Marwah disebut satu putaran dan jalan dari Marwah ke Shafa adalah putaran kedua.
Dan sa’i akan berakhir di Marwah.
3. Ketika naik ke bukit Shafa dan Marwah sambil bertakbir seperti ketika shalat.
Padahal yang disunnahkan adalah berdoa dengan memuji Allah dan bertakbir sambil
menghadap kiblat.
4. Shalat dua raka’at setelah sa’i. Padahal seperti ini tidak diajarkan dalam Islam.
5. Tetap melanjutkan sa’i ketika shalat ditegakkan. Padahal seharusnya yang dilakukan
adalah melaksanakan shalat jama’ah terlebih dahulu.

Kesalahan di Arafah

1. Sebagian jamaah haji tidak memperhatikan batasan daerah Arafah sehingga ia pun
wukuf di luar Arafah.
2. Sebagian jamaah keluar dari Arafah sebelum matahari tenggelam. Yang wajib bagi
yang wukuf sejak siang hari, ia diam di daerah Arafah sampai matahari tenggelam,
ini wajib. Jika keluar sebelum matahari tenggelam, maka ada kewajiban
menunaikan dam karena tidak melakukan yang wajib.
3. Berdesak-desakkan menaiki bukit di Arafah yang disebut Jabal Rahmah dan
menganggap wukuf di sana lebih afdhol. Padahal tidaklah demikian. Apalagi
mengkhususkan shalat di bukit tersebut, juga tidak ada dalam ajaran Islam.
4. Menghadap Jabal Rahmah ketika berdo’a. Padahal yang sesuai sunnah adalah
menghadap kiblat.
5. Berusaha mengumpulkan batu atau pasir di Arafah di tempat-tempat tertentu.
Seperti ini adalah amalan bid’ah yang tidak pernah diajarkan.
6. Berdesak-desakkan dan sambil mendorong ketika keluar dari Arafah.

Kesalahan di Muzdalifah

1. Mengumpulkan batu untuk melempar jumroh ketika sampai di Muzdalifah sebelum


melaksanakan shalat Maghrib dan Isya’. Dan diyakini hal ini adalah suatu
anjuran. Padahal mengumpulkan batu boleh ketika perjalanan dari Muzdalifah ke
Mina, bahkan boleh mengumpulkan di tempat mana saja di tanah Haram.
2. Sebagian jama’ah haji keluar dari Muzdalifah sebelum pertengahan malam. Seperti
ini tidak disebut mabit. Padahal yang diberi keringanan keluar dari Muzdalifah adalah
orang-orang yang lemah dan itu hanya dibolehkan keluar setelah pertengahan
malam. Siapa yang keluar dari Muzdalifah sebelum pertengahan malam tanpa
adanya uzur, maka ia telah meninggalkan yang wajib.

Kesalahan ketika melempar jumroh

1. Saling berdesak-desakkan ketika melempar jumroh. Padahal untuk saat ini lempar
jumroh akan semakin mudah karena kita dapat memilih melempar dari lantai dua
atau tiga sehingga tidak perlu berdesak-desakkan.
2. Melempar jumroh sekaligus dengan tujuh batu. Yang benar adalah melempar jumroh
sebanyak tujuh kali, setiap kali lemparan membaca takbir “Allahu akbar”.
3. Di pertengahan melempar jumroh, sebagian jama’ah meyakini bahwa ia melempar
setan. Karena meyakini demikian sampai-sampai ada yang melempar jumroh
dengan batu besar bahkan dengan sendal. Padahal maksud melempar jumroh adalah
untuk menegakkan dzikir pada Allah, sama halnya dengan thawaf dan sa’i.
4. Mewakilkan melempar jumroh pada yang lain karena khawatir dan merasa berat jika
mesti berdesak-desakkan. Yang benar, tidak boleh mewakilkan melempar jumroh
kecuali jika dalam keadaan tidak mampu seperti sakit.
5. Sebagian jama’ah haji dan biasa ditemukan adalah jama’ah haji Indonesia, ada yang
melempar jumrah di tengah malam pada hari-hari tasyrik bahkan dijamak untuk dua
hari sekaligus (hari ke-11 dan hari ke-12).
6. Pada hari tasyrik, memulai melempar jumroh aqobah, lalu wustho, kemudian ula.
Padahal seharusnya dimulai dari ula, wustho lalu aqobah.
7. Lemparan jumroh tidak mengarah ke jumroh dan tidak jatuh ke kolam. Seperti ini
mesti diulang.

Kesalahan di Mina

1. Melakukan thawaf wada’ dahulu lalu melempar jumrah, kemudian meninggalkan


Makkah. Padahal seharusnya thawaf wada menjadi amalan terkahir manasik haji.
2. Menyangka bahwa yang dimaksud barangsiapa yang terburu-buru maka hanya dua
hari yang ia ambil untuk melempar jumrah yaitu hari ke-10 dan ke-11. Padahal itu
keliru. Yang benar, yang dimaksud dua hari adalah hari ke-11 dan ke-12. Jadi yang
terburu-buru untuk pulang pada hari ke-12 lalu ia ia melempar tiga jumrah setelah
matahari tergelincir dan sebelum matahari tenggelam, maka tidak ada dosa
untuknya.

Kesalahan ketika Thawaf Wada’

1. Setelah melakukan thawaf wada’, ada yang masih berlama-lama di Makkah bahkan
satu atau dua hari. Padahal thawaf wada’ adalah akhir amalan dan tidak terlalu lama
dari meninggalkan Makkah kecuali jika ada uzur seperti diharuskan menunggu
teman.
2. Berjalan mundur dari Ka’bah ketika selesai melaksanakan thawaf wada’ dan diyakini
hal ini dianjurkan. Padahal amalan ini termasuk bid’ah.

Demikian beberapa penjelasan haji yang bisa kami ulas dalam tulisan yang sederhana ini.
Tulisan ini perlu dirujuk dan ditambahkan dari beberapa sisi karena masih belum lengkap.
Namun insya Allah sudah mencukupi bagi yang membutukan.

Wallahu Ta’ala a’lam. Walhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.


Sumber https://rumaysho.com/2897-ringkasan-panduan-haji-8-kesalahan-kesalahan-
seputar-haji.html