Anda di halaman 1dari 27

JURNAL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan
mulai dari jenjang sekolah dasar hingga menengah. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengkaji
seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada
jenjang sekolah dasar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memuat materi Geografi,
Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan sosial (IPS), siswa
diarahkan untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung
jawab, serta warga dunia yang cinta damai.
Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dirancang untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam
Memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.
Dengan mempelajari mata pelajaran IPS di sekolah dasar, diharapkan siswa dapat mengenal
konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan serta dapat menerapkannnya dalam kehidupan sehari-
hari. Selain itu juga diharapkan siswa dapat berpikir kritis dalam menghadapi masalah-masalah sosial
serta dapat menemukan solusinya hingga dapat mengatasi masalah itu, baik masalah pribadi maupun
masalah sosial.
Pendekatan sosial dapat berpengaruh terhadap pola pikir serta tingkah laku peserta didik.
Pengaruh tersebut antara lain seseorang cenderung melihat dirinya seperti yang dilihat dan dikatakan
atau diharapkan oleh orang lain, seseorang cenderung bertingkah laku sesuai dengan yang dilihat dan
dikatakan atau diharapkan oleh orang lain. Sesuatu yang diharapkan dan diyakini tentang diri sendiri
cenderung menjadi kenyataan, seseorang, melalui konsep dirinya akan menyaring untuk melihat,
mendengar, memberikan penilaian dan memahami segala sesuatu (pesan) yang berada di dalam atau
berasal dari luar dirinya.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah Karakteristik IPS Berpengaruh Terhadap Peserta Didik di SD?
2. Apakah Pendekatan Sosial Berpengaruh Terhadap Pola Pikir dan Tingkah Laku Peserta Didik
di SD?
3. Bagaimana Penanaman Sikap Sosial dalam Diri Siswa Melalui Pembelajaran IPS?

1.3. Sistematika Penulisan


BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Sistematika Penulisan
1.4. Manfaat Penulisan

BAB II REVIEW LITERATUR


2.1. Pembelajaran
2.2. Karakteristik IPS
2.3. Kepribadian
2.4. Penanaman Kepribadian Sosial
BAB III METODOLOGI
3.1. Lokasi Penelitian
3.2. Bentuk penelitian
3.3. Jenis Data
3.4. Sumber Data
3.5. Teknik Pengumpulan Data
3.6. Subjek Penelitian
3.7. Validitas Data
BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Karakteristik pendidikan IPS SD
4.2. Pendekatan Sosial, Personal Dan Perilaku Dalam Pembelajaran IPS SD
4.3. Penanaman Sikap Sosial dalam Diri Siswa Melalui Pembelajaran IPS
BAB V KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

1.4. Manfaat Penulisan


Bagi Pembaca dapat mengetahui bagaimana pengaruh pembelajaran mata pelajaran ips
di SD terhadap kehidupan kepribadian diri peserta didik berupa perubahan berbagai macam
sikap, pengaruh karakteristik IPSterhadap diri peserta didik, penanaman sikap social dalam
diri siswa melalui pembelajaran IPS, serta pengaruh pendekatan sosial terhadap pola pikir dan
tingkah laku peserta didik di SD . Di samping itu manfaat jurnal ini bagi guru dapat di
jadikan sebagai acuan dalam mengajar agar para peserta didiknya dapat berprestasi lebih baik
dimasa yang akan datang.
BAB II
REVIEW LITERATUR

2.1. Pembelajaran
Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai
hasil dari pengalaman.[1]
Prinsip-prinsip pembelajaran:
 Perhatian dan Motivasi
 Keaktifan
 Keterlibatan Langsung/Pengalaman
 Pengulangan
 Tantangan
 Balikan dan Penguatan
 Perbedaan Individual
Macam – Macam Metode Pendekatan Pembelajaran IPS:
a. Contectual teaching and learning (CTL)
Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan
dengan situasi dunia nyata siswa.

b. Cooperative learning
Cooperative learning atau sering disebut dengan kooperasi adalah suatu pendekatan
pembelajaran yang berisi serangkaian aktivitas yang diorganisasikan. Pembelajaran tersebut
difokuskan pada pertukaran informasi terstruktur antar siswa dalam kelompok yang bersifat
social dan pembelajar bertanggung jawab atas tugasnya masing – masing.
c. Metode karyawisata
Metode karyawisata dapat dilaksanakan dengan mengadakan perjalanan dan kunjungan
yang hanya beberapa jam saja ke tempat atau daerah yang tidak begitu jauh dari sekolah ,
asalkan maksudnya memenuhi tujuan instruksional IPS.
d. Metode role playing (bermain peran )
Role playing adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang dipakai untuk
menjelaskan peranan , sikap , tingkah laku ,nilai dengan tujuan menghayati perasaan , sudut
pandang , dan cara berpikir orang lain.
e. Metode simulasi
Istilah simulasi berasal dari kata simulate yang berarti pura –pura dan simulation yang
berarti tiruan atau perbuatan yang hanya pura – pura. Sebagai metode mengajar, simulasi
diartikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat dari suatu konsep,
prinsip atau sesuatu keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi
tiruan.[2]
2.2. Karakteristik IPS
Untuk membahas karakteristik IPS, dapat dilihat dari berbagai pandangan. Berikut ini
dikemukakan karakteristik IPS dilihat dari materi dan strategi penyampaiannya.
1. Materi IPS
Ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:
a. Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah,
desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai
permasalahannya.
b. Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi,
transportasi.
c. Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat
sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang terjauh.
d. Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah
lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang
besar.
e. Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan,
keluarga.
2. Strategi Penyampaian Pengajaran IPS
Strategi penyampaian pengajaran IPS, sebagaian besar adalah didasarkan pada suatu tradisi,
yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga, kota,
region, negara, dan dunia. Tipe kurikulum seperti ini disebut “The Wedining Horizon or
Expanding Enviroment Curriculum” (Mukminan, 1996:5).
Menurut Preston (dalam Oemar Hamalik. 1992 : 42-44), anak mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut :
1. Anak merespon (menaruh perhatian) terhadap bermacam-macam aspek dari dunia
sekitarnya.Anak secara spontan menaruh perhatian terhadap kejadian-kejadian-peristiwa,
benda-benda yang ada disekitarnya. Mereka memiliki minat yang laus dan tersebar di sekitar
lingkungnnya.
2. Anak adalah seorang penyelidik, anak memiliki dorongan untuk menyelidiki dan menemukan
sendiri hal-hal yang ingin mereka ketahui.
3. Anak ingin berbuat, ciri khas anak adalah selalu ingin berbuat sesuatu, mereka ingin aktif,
belajar, dan berbuat
4. Anak mempunyai minat yang kuat terhadap hal-hal yang kecil atau terperinci yang seringkali
kurang penting/bermakna
5. Anak kaya akan imaginasi, dorongan ini dapat dikembangkan dalam pengalaman-pengalaman
seni yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS sehingga dapat memahami orang-orang di
sekitarnya. Misalnya pula dapat dikembangkan dengan merumuskan hipotesis dan
memecahkan masalah.
Berkaitan dengan atmosfir di sekolah, ada sejumlah karakteristik yang dapat diidentifikasi
pada siswa SD berdasarkan kelas-kelas yang terdapat di SD.
1. Karakteristik pada Masa Kelas Rendah SD (Kelas 1,2, dan 3)
a. Ada hubungan kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
b. Suka memuji diri sendiri
c. Apabila tidak dapat menyelesaikan sesuatu, hal itu dianggapnya tidak penting
d. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain dalam hal yang menguntungkan dirinya
e. Suka meremehkan orang lain
2. Karakteristik pada Masa Kelas Tinggi SD (Kelas 4,5, dan 6).
a. Perhatianya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari
b. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis
c. Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus
d. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
Menurut Jean Piagiet, usia siswa SD (7-12 tahun) ada pada stadium operasional konkrit.
Oleh karena itu guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa,
misalnya penggalan waktu belajar tidak terlalu panjang, peristiwa belajar harus bervariasi, dan
yang tidak kalah pentingnya sajian harus dibuat menarik bagi siswa.[3]

2.3. Kepribadian Sosial


Kepribadian sosial adalah pembentukan seperangkat karakteristik psikologis yang
menentukan pola berpikir, merasakan dan bertindak individu terhadap individu lain yang
dibentuk melalui interaksi sosial.[4]
18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah:[5]

1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap
pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya
dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang
lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah
dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu
yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan


Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Menghargai Prestasi


Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi
masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi
masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi
masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi
dirinya.

16. Peduli Lingkungan


Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang
membutuhkan.

18. Tanggung Jawab


Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia
lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan
Yang Maha Esa.

2.4. Penanaman Kepribadian Sosial


Ada sebagian orang berpendapat bahwa setiap anak membawa karakter dan sifatnya
sendiri sejak didalam kandungan. Pendapat ini seolah-olah mengenyampingkan pengaruh dari
luar walaupun itu berasal dari orang tua. Anak sudah membawa kecerdasan sendiri. Anak tidak
perlu diajari. Orang tua tinggal menanti, sifat dan watak anak sudah terpatri.[6]
John Lock berpendapat lain bahkan bersebrangan dengan pendapat diatas. Dalam
teori tabularasanya, John Lock mengatakan bahwa anak diibaratkan kertas putih tak berwarna,
kitalah (orang tua) yang memberi goresan dan lukisan sehingga tergambar sesutu seperti yang
kita harapkan. Walaupun pendapat John Lock itu tidak seluruhnya benar akan tetapi setidaknya
kita perlu mengantisipasi pengaruh luar pada anak agar tidak merubah goresan yang sudah kita
persiapkan itu. Pendapat John Lock agaknya banyak dianut masyarakat dengan alasan adanya
kecenderungan anak meniru sikap orang tuanya dalam beberapa hal. Anak harus diajari, anak
harus dikendalikan, anak harus diawasi dan anak harus diarahkan. Ringkasnya, anak tidak
boleh dibiarkan. Orang tua mempunyai tugas memberikan goresan pada kertas putih tak
berwarna (anak) sebagaimana pendapat John Lock ai atas. Garesan-goresan itu hendaknya
yang sesuai dengan norma, agama, adat yang dinilai baik bagi masyarakat. Goresan-goresan
itu diarahkan untuk membentuk watak dan kepribadian yang baik untuk anak. Adapun
termasuk didalamnya membentuk kepribadian anak itu adalah mengajarkan atau membentuk
anak agar bersifat baik dimasyarakat maupun dihadapan Tuhan yang Maha Kuasa.
Membentuk kepribadian anak adalah membentuk anak berakhlak yang baik. Nabi
Muhammad saw juga menjadikan akhlak terpuji sebagai kesempurnaan iman, sebagaimana
sabdanya: “orang mukmin yang paling sempurna keimananya adalah yang paling baik
akhlaknya”.
Pendidikan dasar sebagai salah satu jenjang pendidikan dalam sistem pendidikan
nasional diibaratkan sebagai tiket masuk atau “paspor” untuk melanjutkan perjalanan
berikutnya. Gagalnya pendidikan pada tahap ini terutama dalam pembinaan sikap/nilai diyakini
akan berdampak sistemik terhadap pendidikan berikutnya. Orientasi penyelenggaraan
pendidikan dasar sangat menekankan pada pembinaan kepribadian, watak dan karakter anak.
Karena itu, integrasi pendidikan yang sarat dengan nilai dan pembentukan karakter diperlukan
untuk membekali peserta didik dalam mengantisipasi tantangan ke depan yang dipastikan akan
semakin berat dan kompleks. Guru sebagai pengembang kurikulum selanjutnya dituntut untuk
mampu secara terampil menghadirkan suasana dan aktivitas pembelajaran yang berorietansi
pada penanaman dan pembinaan kepribadian, watak dan karakter.

BAB III
METODOLOGI

3.1. Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di SDN CARINGIN 4, yang terletak diCipuntang RT 02/06 desa
talaga kecamatan Caringin, Sukabumi. Kami memilih lokasi penelitian
ini berdasarkan pada kesepakatan dan pertimbangan kelompok kami bahwa SDN CARINGIN 4 telah
mememiliki siswa yang cukup berprestasi di bidang pendidikan sosial yaitu mata pelajaran IPS, maka
tema yang akan kita bahas dalam penelitian ini yaitu tentang pengaruh pembelajaran mata
pelajaranIPS di SD terhadap kehidupan kepribadian diri peserta didik, yang cukup menarik untuk
diungkapkan.

3.2. Bentuk Penelitian


Pada penelitian yang kami lakukan berdasarkan rumusan masalah maka jenis penelitian adalah
penelitian kualitatif deskriftif, karena dalam melakukan penelitian ini pada umumnya kita mengambil
data penelitian dalam bentuk kata-kata, gambar, data disini berisi transkip-transkip wawancara,
dokumen kelompok, foto-foto kamera, dan lain-lainnya secara deskriftif.

3.3. Jenis Data


Jika dilihat dari sumber datanya maka pengumpulan data menggunakan sumber primer dan
sumber sekunder. Data primer yang kita peroleh adalah wawancara dan observasi. Jenis data yang
diperoleh melalui wawancara antaralain data mengenai pengaruh karakteristik IPS terhadap peserta
didik,pengaruh pendekatan sosial terhadap pola pikir dan tingkah laku peserta didik, serta
penanaman sikap sosial dalam diri siswa melalui pembelajaran IPS
Adapun data melalui observasi di lapangan antara lain meliputi data mengenai pembelajaran
IPS, pendekatan sosial yang dilakukan guru dalam pembelajaran IPS, pendapat siswa terhadap
pembelajaran IPS, serta data mengenai penanaman sikap sosial dalam diri siswa melalui pembelajaran
IPS.
Sedangkan jenis data sekunder dapat berupa arsip yang dimiliki oleh administrasi SDN
CARINGIN 4, seperti Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Kisi-kisi Soal, dan Media
Pembelajaran.

3.4. Sumber Data


Sumber data dari penelitian ini antara lain:
1. Informan atau nara sumber yang terdiri dari siswa dan guru.
2. Tempat dan peristiwa yang didalamnya terdiri dari, kegiatan pembelajaran, sikap sosial siswa didalam
maupun diluar kelas, dan pendekatan sosial yang dilakukan guru dalam pembelajaran IPS
3. Arsip yang berkaitan dengan pembelajaran IPS yang dimiliki oleh administrasi, yaitu Silabus, Rencana
Pembelajaran Siswa (RPP), Kisi-kisi Soal, dan Media Pembelajaran.

3.5. Teknik Pengumpulan Data


1. Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi berperan aktif dimana kami
melakukan observasi secara langsung.
2. Wawancara (interview), untuk memastikan dan mengeccek informasi melalui face to face
association. Wawancara yang kami lakukan sangat mendalam dimana kami mengajukan
pertanyaan-pertanyaan terbuka, yang memungkinkan responden memberikan jawaban secara
luas, pertanyaan yang diajukan mengarah kepada peristiwa-peristiwa yang dialami berkenaan
pada inti permasalahan yang kami teliti.
3. Pencatatan arsip dan dokumen.

3.6. Subjek Penelitian


Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswa SDN CARINGIN 4, berjumlah 3 siswa dan satu
guru, penelitian ini dilakukan oleh orang yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan
sehingga mempermudah kami sebagai (peneliti) menjelajahi obyek/ situasi sosial yang diteliti.

3.7. Validitas Data


Dalam menguji tingkat kepercayaan dan kebenaran data yang diperoleh agar validitasnya
dapat diandalkan maka data sejenis yang diperoleh diuji dengan berbagai sumber, misalnya
data tentangPendekatan Sosial, Personal Dan Perilaku dalam Pembelajaran IPS SDyang
diperoleh dari siswa agar valliditasnya tinggi maka kami menguji dengan berbagai sumber
lainnya, seperti guru, atau siswa lainnya.
Data-data yang diperoleh melalui metode wawancara, juga diuji dengan metode
observasi sehingga data dapat dipertanggunggjawabkan kebenarannya. Dan selanjutnya data-
data di susun ke dalam laporan untuk dikomunikasikan kepada narasumber.
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Karakteristik pendidikan IPS SD


4.1.1. Pengertian dan Tujuan Pendidikan IPS
Bericara tentang pengertian pendidikan IPS, peneliti bertanya kepada guru kelas V
SDN Caringin 4 mengenai arti dari pendidikan IPS.
Pendidikan IPS terdiri dari dua kata yaitu Pendidikan dan IPS. Pendidikan mengandung
pengertian suatu perbuatan yang di sengaja untuk menjadikan manusia memiliki kualitas yang
lebih baik.[7] Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan
sebagainya. Selanjutnya untuk memahami pengertian pendidikan, silahkan anda perhatikan
definisi pendidikan yang di rumuskan dalam Pasal 1 undang-undang nomor 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional ini:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar pesrta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
spritual keagaman, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pengertian IPS merujuk pada kajian yang memusatkan perhatian pada aktivitas
kehidupan manusia. Berbagai dimensi manusia dalam kehidupan sosial merupakan fokus
kajian dari IPS. Aktivitas manusia di lihat dari dimensi waktu yang meliputi masa lalu.,
sekarang dan masa depan. Aktivitas manusia yang berkaitan dalam hubungan dan interaksinya
dengan asfek keruangan dan geografis. Aktivitas manusia dalam memenuhi segala kebutuhan
hidupnya dalam dimensi arus produksi, distribusi dan komsumsi. Selain itu dikaji pula
bagaimana manusia membentuk seperangkat peraturan sosial dalam menjaga pola interaksi
sosial antar manusia dan bagaimana manusia cara memperoleh dan mempertahankan suatu
kekuasaan. Pada intinya, fokus kajian IPS adalah berbagai aktivitas manusia dalam berbagai
dimensi kehidupan sosial sesuai dengan karakteristik manusia sebagai makhluk sosial ( homo
socius ).
Ada tiga aspek yang harus dituju dalam pengembangan pendidikan IPS, yaitu aspek
intelektual, kehidupan sosial, dan kehidupan individual. Pengembangan kemampuan
intelektual lebih didasarkan pada pengembangan disiplin ilmu itu sendiri serta pengembangan
akademik dan thinking skills. Tujuan intelektual berupaya untuk mengembangkan kemampuan
siswa dalam memahami disiplin ilmu sosial, kemampuan berpikir, kemampuan prosesual
dalam mencari informasi dan mengkomunikasikan hasil temuan. Pengembangan intelektual ini
akan selalu berhubungan dengan aspek pengembangan intelektual.
Pengembangan kehidupan sosial berkaitan dengan pengembangan kemampuan dan
tanggung jawab siswa sebagai anggota masyarakat.oleh karna itu tujuan ini mengembangkan
kemampuan seperti berkomunikasi, rasa tanggung jawab sebagai warga negara dan warga
dunia, kemampuan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan bangsa.
Termasuk dalam tujuan ini adalah pengembangan pemahaman dan sikap positif siswa terhadap
nilai, norma dan moral yang berlaku di masyarakat.
Karakteristik dari pendidikan IPS adalah pada upaya nya untuk mengembangkan
kompetensi sebagai warga negara yang baik. Warga negara yang baik berarti yang dapat
menjaga keharmonisan hubungan diantara masyrakat sehingga terjalin persatuan dan keutuhan
bangsa. Hal ini dapat dibangun apabila dalam diri orang terbentuk perasaan yang menghargai
terhadap segala perbedaan, baik perbedaan pendapat, etnik, kelompok budaya dan sebagainya.
Bersikap terbuka dan senantiasa memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang atau
kelompok yang dapat mengembangkan dirinya. Oleh karena itu pendidikan IPS memiliki
tanggung jawab untuk melatih siswa dalam membangun sikap yang demikian.
Selain bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik, pendidikan IPS juga
mempunyai tujuan yang lebih spesifik. Tujuan ini dirumuskan oleh Pennsylvania Council for
the Social Studies ( Clark, 1073;8), yaitu
Fokus utama dari program IPS adalah membentuk individu-individu yang memahami
kehidupan sosialnya dunia manusia, aktivitas dan interaksinya yang ditujukan untuk
menghasilkan anggota masyarkat yang bebas, yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk
melestarikan melanjutkan dan memperluas nilai-nilai dan ide-ide masyarakat bagi generasi
masa depan. Untuk melengkapi tujuan tersebut, program IPS harus memfokuskan pada
pemberian pengalaman yang akan membantu setiap individu siswa.

4.1.2. Landasan Kurikulum Pendidikan IPS


Penerapan materi pendidikan IPS yang akan di berikan kepada siswa disusun dan di
rencenakan sedemikian rupa yang memperhatikan teori dan konsep serta landasan filosopis,
akademik dan edukatif. Kesemuanya itu tentu saja akan diarahkan pada tujuan-tujuan yang
telah di tetapkan pada Pendidikan IPS.
Pendidikan IPS merupakan suatu synthetic antara disiplin ilmu pendidikan dan disiplin
ilmu ossial itu sendiri maka didalam pengembangan nya tidak saja hanya didasarkan pada
pengembangan dari segi keilmuan semata melainkan diarahkan untuk tujuan pendidikan. Teori
dan konsep yang digunakan mengacu kepada teori dan konsep yang memiliki relevansinya
dengan segi kependidikan. Pada tahap kemudian dari segi penyajian harus harus di sesuaikn
dengan landasan edukatif pendidikan IPS. Artinya materi yang di berikan harus dilakukan
proses penyederhanaan terlebih dahulu yang di dasarkan pada pertimbangan-pertimbangan
psikologis ataupun faktor tingkat kematangan siswa. Penyederhanaan pendidikan IPS
diorganisir dan di siapkan sedemikian rupa dan pada tujuan yang hendak di capai.
Pengembangan kurikulum IPS di indonesia tidak terlepas dari landasan filosofis yang
mendasari pengembangan kurikulum tersebut. Landasan filosofis yang di maksud adalah
landasan filosofis kependidikan atau lebih khusus lagi landasan filosofis kurikulum pendidikan
ilmu-ilmu sosial.
Desain pembelajaran Pendidikan IPS yang baik tidak hanya menekankan pada aspek
pengembangan intelektual saja tetapi juga mencakup segi pengembangan apektif dan
psikomotor siswa. Ada empat perspektif yang perlu dikembangkan, pertama persepektif,
personal, yang akan membantu siswa untuk membangun kemampuannya dalam menyelidiki
setiap peristiwa, isu serta kejadian yang akan berdampak pada diri, keluarga, bangsa serta
masyarakat dunia. Siswa di harapkan dapat memperhitungkan kerugian dan keuntungan serta
mempertanggung jawabkan serta keputusan yang diambilnya. Kedua perspektif akademik,
proses dan pengalaman pembelajaran yang telah dimiliki siswa dapat diaplikasikan dalam
kehidupsn sosial siswa. Ketiga perspektif pluralis, siswa dapat menerima dan menghargai
kenyataan adanya perbedaan masyarakat dalam hal ras, agama, gender, kelompok dan budaya
secara keseluruhan. Keempat perspektif global siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan
dunia yang semakin berkurang kekayaan alamnya serta memiliki komitmen dalam menghadapi
masyarakat dunia yang majemuk.
Organisasi materi Pendidikan IPS pada tingkat sekolah dasar mengunakan pendekatan secara
terpadu/ fusi. Materi Pendidiakan IPS yang di sajikan pada tingkat sekolah dasar tidak
menunjukan label dari masing-masing disiplin ilmu sosial. Materi disajikan secara tematik
dengan mengambil tema-tema sosial yang terjadi di sekitar siswa. Demikian juga hal nya tema-
tema sosial yang dikaji berangkat dari fenomena-fenomena serta aktivitas sosial yang terjadi
disekitar siswa. Tema-tema ini kemudian meluas pada lingkungan yang jauh dari lingkaran
kehidupan siswa.pendekatan seperti ini dikenal dengan model pendekatan kemasyarakatan
yang meluas (Expanding Commuunity approach ) yang pernah dikembangkan oleh Paul R.
Hanna pada kurun waktu tahun 1963-an. Materi IPS dikembangkan dari fenomena-fenomena
yang terjadi dekat dengan lingkungan siswa kemudian meluas pada lingkungan sekolah,
masyarakat sekitar tempat tinggal kita, lingkungan kota dimana siswa tinggal, propinsi, Negara
dan kemudian kewilayah regional Negara tentang bahkan sampai lingkungan dunia.

4.2. Pendekatan Sosial, Personal Dan Perilaku Dalam Pembelajaran IPS SD


Pendekatan sosial, personal, dan perilaku pada prinsipnya merupakan bentuk sentuhan
pedagogisnya terhadap dimensi sosial dan personal atau dimensi intelegensia emosional atau
emotional intelligence menurut goleman (1996). Apabila kita menganalisis, dimensi atau aspek
sosial dan personal atau emosional ini memiliki aspek-aspek emosi, nilai, dan sikap, serta
perilaku sosial yang satu sama lain memiliki keterikatan.

4.2.1. EMOSI
Apabila dilihat secara harfiah, Oxford English Dictionary mengartikan emosi (emotion)
sebagai setiap kegiatan atau pergolsksn pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang
hebat atau meluap-luap. Bertolak dari pengertian itu Goleman (1996) mengartikan emosi
sebagai suatu perasaan atau suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian
kecendrungan untuk bertindak. Tercakup dalam emosi ini adalah amarah, kesehatan rasa takut,
kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu (Goleman, 1996: 411 – 412). Pikiran emosional
cenderung bersifat cepat, namun ceroboh atau tidak teliti, namun lambat. Pikiran emosional
merupakan dorongan hati bukan dorongan kepala. Kedua jenis pikiran ini saling mengisi satu
sama lain dan potensial ada dalam diri kita. Hal yang sangat diperlukan adalah penyelarasan
dan penyeimbangan pikiran emosional dan pikiran rasional. Untuk menyelaraskan dan
menyeimbangkan kedua aspek pikiran itu perlu pendidikan emosi yang harmonis dengan
pendidikan rasio.
Menurut W.T. Grand Consortium, dalam goleman (1996: 426 – 427) keterampilan
emosional mencakup hal-hal berikut.
1. Mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan
2. Mengungkapkan perasaan
3. Menilai intensitas perasaan
4. Mengelola perasaan
5. Menunda pemuasan
6. Mengendalikan dorongan hati
7. Mengurangi setres
8. Mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan

4.2.2. NILAI DAN SIKAP


4.2.2.1. Nilai
Menurut Doley dan Copaldi (1965: 32) kata value yang diterjemahkan menjadi nilai
memiliki dua sisi, yakni sebagai kata benda dan kata kerja. Sebagai kata benda nilai
mempunyai dua pengertian. Pertama, sebagai objek sesuatu dianggap suatu nilai, apabila
memiliki suatu kualitas kebaikan atau harga (goodness atau worth). Misalnya gula manis, gadis
cantik, orang alim, udara sejuk. Manis, cantik, alim itulah nilai. Kedua, sebagai pengamat suatu
hal dianggap bernilai atau memiliki nilai apabila dilihat dari pikiran seseorang sebagai
memiliki, kualitas harga. Contohnya, gadis itu dianggap cantik apabila dilihat dari pandangan
orang lain.
Dalam pengertian teknis, seperti yang dikemukakan oleh Milton Rokeach dalam Banks
(1977: 407 – 408) nilai8 adalah suatu jenis kepercayaan yang ada dalam keseluruhan system
kepercayaan seseorang, mengenai bagaimana seseorang seharusnya atau tidak seharusnya
berperilaku atau perlu tidak sesuatu dicapai nilai juga merupakan ukuran untuk menetapkan
baik dan buruk. Nilai dapat dibangun dalam satu tatanan atau system yang bisa merupakan
system nilai perseorangan atau kelompok. Contohnya, setiap orang memiliki nilai religi yang
terbentuk dari pengetahuan pemahaman pelaksanaan dan komitmen seseorang pada agama
yang dipeluknya dengan baik. Negara RI memiliki system nilai pancasila dan UUD 1945 yang
merupakan tatanan nilai yang dipahami dan dihayati dalam rangka berkehidupan dan berbangsa
serta bernegara Indonesia. System nilai ini dapat juga sebagai tatanan kebaikan.
4.2.2.2. Sikap
Menurut Alport (1935) dalam winaputra (1989: 148) sikap adalah suatu kondisi
kesiapan mental dan syarat yang ternebtuk melalui pengalaman yang memancarkan arah atau
pengarah yang dinamis terhadp repons atau tanggapan individu terhadap objek atau situasi
yang dihadapinya. Sikap dapat bersifat senang atau tak senang, takut atau berani, penuh
perhatian atau acuh tak acuh, saying atau benci, dan bertanggung jawab atau lepas tangan.
Dilihat dari kadarnya sikap juga dapat bersifat simpleks dan multipleks. Sikap yang simpleks
lebih mudah berubah daripada sikap yang multiplels.

4.2.3. PERILAKU SOSIAL


Perilaku sosial sering disebut keterampila sosial (social skills) atau keterampilan studi
sosial (social studies skills) (Marsh dan print, 1975, jarolimeh, 1971). Keterampilan, seperti
ditegaskan oleh jarolimek (1971: 65) menganudng unsur proficiency atau kemahira dan the
capability of doing something well atau kemampuan melakukan sesuatu dengan baik.
Keterampilan ini memiliki 2 karakteristik, yakni developmental atau bertahap dan practice atau
latihan. Artinya keterapilan memerlukan latihan secara bertahap. Keterampilan sosial pada
dasarnya mencakup semua kemampuan operasional yang memungkinkan individu dapat
berhubungan dan hidup bersama secara tertib dan teratur dengan oranglain. Engan demikin
dapat memerankan dirinya sebagai actor sosial yang cerdas secara rasional, emosional,
dan sosial. Semua itu mencerminkan pola perilaku seseorang.
Di sekolah dasar aspek emosi, sosial dan keterampilan sosial dapat dikembangkan
melalui berbagai kegiatan, antara lain yang ditawarkan oleh jarolimek (1971:67) sebagai
berikut.
1. Kehidupan elas sehari-hari yang menitik beratkan keada kepedulian pada orang lain,
kebebasan dan persamaan, kemerdekaan berpikir, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap
harga diri manusia.
2. Mempelajari sejarah dan perkembangan kehidupan Negara terutama mengenai cita-cita dan
ideology nya yang memerlukan usaha unttuk terus mewujudkannya.
3. Mempelajari riwayat hidup tokoh-tokoh penting yang mencerminkan nilai-nilai dari bangsa
dan negaranya.
4. Mempelajari hukum beserta system hokum dan system peradilannya.
5. Merayakan hari-hari besar yang memperkenalkan nilai dan sikap
6. Menganalisis makna kata-kata dalam proklamasi, pembukaan UUD’45 batang tubuh, UUD
’45 dan peratran perundangan lainnya.
Bentuk pembelajaran diatas dapat kita buat dalam 2 kelompoksebagai berikut.
1. Pembelajaran formal yang menitikberatkan pada pemahaman dan analisis didalam atau
diluar kelas.
2. Pembelajaran informal yang menitikberatkan pada penghayatan, pelibatan, dan penciptaan
suasana yang mencerminkan komitmen terhadap nilai dan sikap terutama diluar kelas.
Khusus dalam pembelajaran formal Simon, Howe, Kirshenbaum (1972) menawarkan 4
pendekatan yang berorientasi pada nilai dan sikap sebagai berikut.
1. Transmisi nilai secara bebas. Anak didik diberi kebebasan untuk menangkap, mengkaji dan
memilih nilai atas dasar pertimbangannya sendiri. Kelihatannya bagi Indonesia modul ini perlu
diadaptasi menjadi transmisi nilai secara bebas terarah. Anak disajikan pilihan nilai secara
bebas atas alternative nilai secara sosial dapat diterima dalam masyarakat Indonesia.
2. Penanaman Nilai atau Value Inculaction yang pada dasarnya merupakan proses
pembelajaran nilai secara langnsung mengenai konsep dan nila yang sudah dianggap baik.
Contohnya, pembelajaran nilai-nilai pancasila dan UUD ’45 dan nilai-nilai keagamaan yang
dianut.
3. Suri teladan atau modeling model ini menitik beratkan pada penampilan teladan atau
keteladanan dalam berbagai lingkungan kehidupan. Misalnya, siswa teladan, guru teladan,
keluarga teladan, petani teladan, dokter teladan, sopir teladan, kampung atau desa teladan da
kantor teladan,
4. Klarifikasi nilai atau value clarification yang menitikberatkan pada langkah sistematis
dalam menghayati, memahami, dan melaksanakan nilai.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.


I. Bangga atas nilai dan perilaku.
1. Menunjukkan rasa senang dan bangga.
2. Mengatakan nilai pada oranglain
II. Memilih nilai dan perilaku.
1. Memilih dari berbagai kemungkinan.
2. Memilih setelsh mengujinya.
3. Memilih dengan bebas.
4. Berindak atas dasar pilihan itu.
5. Bertindak atau berperilaku.
6. Bertindak sesuai pola secara tetap/konsisten.
Pada dasarnya model klarifikasi nilai ini merupakan bentuk komunikasi dialogis guru murid
dalam memantapkan nilai yang dihayati murid atas pengarahan guru. Dengan cara ini murid
tidak akan merasa bahwa nilai itu diajarkan, tetapi dipahami, dihayati, dan dipilih sendiri.
Klarifikasi nilai terintegrasi struktur. Model ini menitikberatkan pada sebenarnya nilai
melalui pross analisis konsep bidang studi. Jadi sebenarnya model ini bertolak dari pendekatan
kognitif, tetapi diupayakan bermuara pada pembelajaran niali. Misalnya, dapat menganalisis
masalah banjir, yaitu apa, mengapa, dan bagaimana banjir. Pada saat membicarakan materi,
guru selalu menghubungkan dengan nilai dan sikap warga masyarakat.
Untuk kebutuhan praktis dalam pembelajaran IPS di Sekolah Dasar beberapa model terpilih
yang dapat diterapkan di SD. Model tersebut akan berbentuk model perpaduan atau modul
elektik yang dalam modul ini akan dikemukakan sebagai berikut.

1. Pendekatan ekspositori berorientasi nilai dan sikap.


a. Tujuannya adalah menyampaikan nilai/sikap secara dialogis melalui ceramah, peragaan dan
tanya jawab.
b. Langkah-langkahnya
1) Guru memilih suatu nilai yang sudah seharusnya diterima oleh semua murid karena memang
telah diterima kebenarannya, misalnya tertib, cinta lingkungan, tanggung jawab sosial,
berdagang dengan jujur, menghargai pahlawan.
2) Guru menyiapkan bahan peragaan berupa diagram, gambar, rekaman, clipping, dan lain-lain.
3) Guru menyajikan konsep nilai dengan memanfaatkan peragaan yang lelah disiapkan diselingi
dengan dialog yang hangat mengenai pentingnya nilai.
4) Menguasai murid untuk menerapkan nilai-nilai yang telah dikaji dalam kehidupannya sehari-
hari, misalnya tertib dirumah, terib di jalan raya, tertib di sekolah, dan tertib di masayarakat.
5) Pada kesempatan selanjutnya guru meminta laporan penerapan nilai itu dan membicarkannya
kembali dikelas.
2. Pendekatan analitik keteladanan
a. Tujuannya adalah menangkap nilai/sikap melalui analisi sampel keteladanan dalam
masyarakat dalam berbagai bidang, di berbagai tempat, dan dalam berbagi era/kurun waktu,
dan motivasi murid untuk mengadaptasi keteladanan itu.
b. Langkah-langkah
1) Guru memilih sampel keteladanan dalam berbagai bidang/tempat/era, misalnya para nabi dan
rasul, negarawan, Muhammad saw, nabi isya. As, J.F Kennedy, Kemal ataturk, Nehru,
Soekarno, hatta, Bung tomo, Thomas alva Edison, Tjut nyak dien, wolter monginsidi, R.A
Kartini, ibu Tien Suharto, Si doel anak betawi, si kancil).
2) Guru membaca dan menyediakan sumber informasi.
3) Guru menyajikan pertanyaan
4) Guru berkelompok murid mencari jawaban dengan memanfaatkan sumber yang ada.
5) Guru memimpin diskusi kelas setelah masing-masing kelompok selesai mendapatkan jawaban
dari sumber informasi yang tersedia.
6) Bersama murid guru mengidentifikasi ciri-ciri keteladanan
7) Bersama murid guru memilih ciri mana yang dapat diterapkan oleh murid-murid sesuai dengan
tingkat usia dan lingkungannya.
8) Guru menugaskan murid untuk mencoba menerapkan ciri keteladanan yang dipilihnya.
9) Guru meminta kesan-kesan penerapan keteladan itu dari setiap murid.

3. Pendekatan kajian nilai.


a. Tujuannya adalah menagkap nilai melalui kajian nilai secara sistematis dan mendasar.
b. Langkah-langkah
Langkah-langkah ini diadaptasi dari model Hunt and Metcalfs Decision Making.
1. Membahas apa hakikat dari objek peristiwa atau kebijaksanaan yang akan dinilai. Misalnya
diambil masalah pemerataan.
a. Membahas kriteria untuk menilai masalah pemerataan
b. Menyepakati kriteria
2. Membahas konsekuensi penerapan kriteria dalam hal ini untuk menilai masalah pemerataan.
3. Menguji keberlakuan kriteria
4. Memberikan justifikasi kriteria dengan cara melihat apakah kriteria itu dapat diterapkan secara
ajek/konsisten.
4. Pendekatan integratif konsep dan nilai.
a. Tujuannya adalah menangkap nilai yang melekat pada atau merupakan implikasi dan suatu
konsep melalui kajian akademis.
b. Langkah-langkah
1) Guru menetapkan suatu konsep yang akan dibahas memiliki implikasi atau mengandung nilai.
2) Guru bersama murid membahas sebab dan akibatnya secara akademis melalui pemecahan
masalah.
3) Memusatkan perhatian pada sebab dan akibat
4) Mengangkat isu nilai/sikap/moril dari masalah-masalah yang terjadi disekitar melalui diskusi.
5) Membahas secara analitis cara penanggulangannya dan mengangkat isu nilai/sikap/moril yang
terkait pada caracara itu.
6) Memusatkan perhatian pada faktor.
7) Memberi penguasaan pentingnya unsur manusia khusus nilai, sikap, moral.
Keempat contoh pendekatan sosial, personal, dan perilaku pada dasar nya merupakan
sarana pembelajaran yang dapat dipakai oleh guru dalam upaya mengembangkan dimensi
sosial, personal, dan perilaku dalam pembelajaran IPS di SD. Pendekatan ini secara utuh saling
melengkapi dengan pendekatan kognitif.

4.3. Penanaman Sikap Sosial dalam Diri Siswa Melalui Pembelajaran IPS
Sikap sosial sangat penting di tanamkan dalam diri anak, khususnya bagi anak Sekolah
Dasar karena anak yang masuk ke Sekolah Dasar merupakan awal dari pembentukan karakter,
sikap, sifat, kepribadian, dan perilaku dalam diri siswa sehingga seorang guru harus paham dan
mampu dalam menanamkan sikap social ke dalam diri siswa.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menanamkan sikap social dalam diri siswa,
salah satunya adalah dengan melalui kegiatan belajar disekolah. Kegiatan belajar di sekolah
merupakan kegiatan yang bisa menjadikan siswa belajar banyak hal, terutama belajar dari figur
seorang guru, karena itu guru dituntut untuk bisa selalu memberikan contoh yang baik untuk
siswa.
Sosok seorang guru merupakan sosok yang penting, karena dari guru siswa banyak
belajar tentang berbagai pengetahuan. Dari seorang guru pula siswa meniru dan belajar
tentang bersikap, berperilaku karena seorang guru akan selalu menjadi contoh bagi siswanya,
baik di kelas, di sekolah, dan di luar lingkungan sekolah pun seorang guru akan menjadi pusat
perhatian bagi siswanya.
Menurut guru dalam menanamkan sikap sosial dalam diri siswa, yang paling berperan
adalah Keluarga di rumah, karena keluargalah yang memiliki banyak waktu bersama siswa di
rumah dan selanjutnya adalah lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan
yang penting setelah keluarga untuk bisa membentuk dan menumbuhkan sikap sosial siswa
karena di lingkungan sekolah siswa banyak melakukan interaksi baik dengan teman sebayanya,
guru, penjaga sekolah dan anggota masyarakat sekolah lainnya sehingga siswa banyak belajar
dari mereka yang berada di lingkungan sekolah, setelah itu barulah masyarakat sekitar yang
ikut berperan dalam menanamkan sikap sosial dalam diri siswa.
Upaya-upaya yang dilakukan guru dalam menanamkan sikap sosial siswa antara lain
dengan memberikan bimbingan, mendidik, mengarahkanserta mencontohkan kepada siswa
sikap sosial yang baik dari seorang guru, contohnya jika guru menginginkan siswa memiliki
sikap disiplin, maka guru harus memberi contoh dengan disiplin pula misalnya datang ke
sekolah tepat waktu. Guru juga bisa menanamkan nilai-nilai positif yang akan didapat jika
siswa memiliki sikap sosial dalam diri, contohnya pentingnya sikap tolong menolong dengan
sesama teman karena dengan saling tolong-menolong akan mendapatkan manfaat, seperti
dapat meringankan beban orang yang telah siswa tolong, akan terjalin tali silaturahmi, sehingga
dengan upaya-upaya itu siswa bisa lebih termotivasi untuk memiliki sikap yang
baik. Begitupun cara yang guru lakukan dalam menanamkan sikap sosial siswa di dalam
pembelajaran IPS. Cara yang guru lakukan yaitu, guru mempersiapkan RPP, media dan materi
yang akan guru bahas kemudian pada saat mengajar guru selalu memberikan kalimat-kalimat
positif yang bisa menumbuhkan rasa sikap sosial siswa, dan ketika guru menjelaskan sebuah
materi pelajaran guru selalu mengkaitkannya dengan sikap-sikap sosial yang harus ditanamkan
dalam diri siswa. Begitu juga ketika mengajar pelajaran IPS, kalimat-kalimat
pembangkit semangat itu guru berikan di awal pembelajaran sebelum guru menjelaskan
materi pembelajarannya. Misalnya, pada saat guru akan membahas atau menerangkan materi
IPS tentang keanekaragaman suku bangsa di Indonesia, guru terlebih dahulu menyampaikan
kata pembuka atau kalimat yang bisa menumbuhkan rasa sikap sosial siswa.
Dalam belajar IPS, siswa banyak mendapatkan pelajaran dan masukan tentang sikap
sosial yang harus siswa miliki. Materi yang terdapat dalam pelajaran IPS sudah terkait dengan
sikap sosial misalnya materi tentang keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia,
perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan lain-lain. Guru hanya mengembangkan
kembali materi tersebut dengan rangkaian kata-kata guru agar siswa mengerti, memahami,
semangat serta rasa sikap sosialnya akan tumbuh dengan sendirinya dalam diri siswa.Dengan
memberikan kalimat-kalimat positif, penyemangat di awal pembelajaran IPS, bisa memberikan
motivasi kepada siswa, sehingga siswa bisa berfikir dan meresapi apa yang dikatakan oleh
guru. Terbentuklah di dalam hati dan diri siswa mengenai sikap sosial yang guru tanamkan,
sehingga siswa akan terbiasa dan mempunyai keinginan untuk menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari baik di rumah, di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Selain itu,
guru juga selalu memberikan contoh sikap yang baik ketika dalam kegiatan belajar mengajar
IPS di kelas. Contohnya, saat diadakan kerjakelompok di kelas guru selalu menanamkan sikap
kepada siswa bahwa di dalam mengerjakan tugas kelompok harus ada komunikasi yang baik
antara anggota dan ketua kelompok, harus bisa saling menghargai perbedaan pendapat antar
teman, harus saling tolong menolong jika ada kesulitan.

Berdasarkan hasil wawancara kelompok kami dengan ketiga siswa kelas v di SD


Caringin 4 mengenai bagaimana sikap sosial mereka dalam keluarga dan masyarakat sekitar,
maka mereka menjawab “sikap sosial dalam keluarga contohnya membantu orang tua dalam
melaksanakan pekerjaan rumah dan contoh sosial dalam masyarakat contohnya ikut gotong
royong dalam kerja bakti dilingkungan sekitar dengan masyarakat”.[8]
Begitu pun dengan guru, guru harus bisa menunjukkan sikap yang baik terhadap siswa
seperti, jika ada siswa yang masih belum mengerti tentang materi yang guru sampaikan, maka
guru menolong siswa dengan cara menanyakan kepada siswa bagian mana yang belum siswa
mengerti kemudian guru jelaskan kembali sampai siswa mengerti. Di dalam kelas, guru juga
pernah mendapati anak yang memiliki sikap sosial yang kurang baik yaitu, ketika ada temannya
yang sakit saat belajar, maka guru meminta tolong kepada salah seorang siswa tetapi siswa
tersebut tidak mau menolongnya dengan alasan malas. Memang dalam kesehariannya di kelas,
siswa tersebut bisa dikatakan nakal karena sering mengganggu temannya yang sedang belajar.
Namun guru tidak diam begitu saja, guru menanyakan kepada siswa yang lainnya tentang sikap
siswa tersebut. Dari hasil informasi yang didapat oleh guru, ternyata siswa tersebut memang
sedikit dijauhi temannya karena memang suka menjaili temannya dan menggangu temannya
ketika sedang belajar atau bermain saat jam istirahat.

BAB V
KESIMPULAN

Pada jenjang sekolah dasar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memuat materi
Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan sosial
(IPS), siswa diarahkan untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia yang demokratis dan
bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Pembelajaran adalah setiap
perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil daripengalaman.
Kepribadian sosial adalah pembentukan seperangkat karakteristik psikologis yang
menentukan pola berpikir, merasakan dan bertindak individu terhadap individu lain yang
dibentuk melalui interaksi sosial.Sikap sosial sangat penting di tanamkan dalam diri anak,
khususnya bagianak Sekolah Dasar karena anak yang masuk ke Sekolah Dasar merupakan
awal dari pembentukan karakter, sikap, sifat, kepribadian, dan perilaku dalam diri
siswa sehingga seorang guru harus paham dan mampu dalam menanamkan sikap social ke
dalam diri siswa.
Upaya-upaya yang dilakukan guru dalam menanamkan sikap sosial siswa antara lain
dengan memberikan bimbingan, mendidik, mengarahkanserta mencontohkan kepada siswa
sikap sosial yang baik dari seorang guru, contohnya jika guru menginginkan siswa memiliki
sikap disiplin, maka guru harus memberi contoh dengan disiplin pula misalnya datang ke
sekolah tepat waktu. Guru juga bisa menanamkan nilai-nilai positif yang akan didapat jika
siswa memiliki sikap sosial dalam diri, contohnya pentingnya sikap tolong menolong dengan
sesama teman karena dengan saling tolong-menolong akan mendapatkan manfaat, seperti
dapat meringankan beban orang yang telah siswa tolong, akan terjalin tali silaturahmi, sehingga
dengan upaya-upaya itu siswa bisa lebih termotivasi untuk memiliki sikap yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran (di unduh pada tanggal 17 Januari 2013)

http://tiyapoenya.blogspot.com/2010/12/metode-dan-media-pembelajaran-ips-di-
sd.html (di unduh pada tanggal 17 Januari 2013)

http://aampgsd.blogspot.com/2011/12/karakteristik-ips-sd.html (di unduh pada tanggal 17


Januari 2013)

http://id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/2291346-pengertian-kepribadian/(di unduh
pada tanggal 17 Januari 2013)

Drs. Nana Supriatna, M.Ed, dkk (2009). Pendidikan IPS di SD. Bandung: UPI PRESS
Sardjiyo, dkk. (2009). Pendidikan IPS di SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Anda mungkin juga menyukai