Anda di halaman 1dari 6

TEORI AKUNTANSI POSITIF DAN KONSEKUENSI

EKONOMI

Ringkasan Materi Kuliah (RMK)


Mata Kuliah Teori Akuntansi Keuangan
Pengampu Mata Kuliah
Prof. Dr. Sutrisno., SE., M.Si., Ak.

Disusun oleh:
DINY FARIHA ZAKHIR
196020300111004
Magister Akuntansi EE

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019
A. Pendahuluan
Konsekuensi akuntansi adalah suatu konsep yang menekankan bahwa, terlepas dari
implikasi teori pasar sekuritas yang efisien, pilihan kebijakan akuntansi dapat mempengaruhi
nilai perusahaan. Inti dari gagasan mengenai konsekuensi ekonomi adalah kebijakan akuntansi
perusahaan dan perubahan dalam kebijakan tersebut penting, terutama bagi manajemen dan
juga bagi investor yang memiliki perusahan, karena manajer dapat mengubah operasi
perusahaan berdasarkan perubahan kebijakan akuntansi.
Kebijakan akuntansi disini mengacu pada kebijakan akuntansi manapun, bukan hanya
yang berpengaruh pada aliran kas perushaan. Menurut doktrin konsekuensi ekonomi,
perubahan kebijakan akuntansi akan jadi penting, meskipun tidak ada dampak terhadap aliran
kas yang terjadi. Berdasarkan teori pasar yang efisien, perubahan yang terjadi tidak penting,
karena aliran kan akan datang tidak akan terpengaruh, dan demikian pula nilai pasar perusahaan
tersebut.
Asal usul konsekuensi ekonomi adalah dari Teori Akuntansi Positif (Positive
Accounting Theory). Teori tersebut didasarkan pada kontrak yang dijalin oleh perushaan,
terutama kontrak pinjaman dan kontrak kompensasi eksekutif. Kontrak tersebut didasarkan
pada variabel akuntansi keuangan, seperti laba bersih dan rasio hutang terhadap ekuitas. Teori
Akuntansi Positif berusaha memprediksikan apa yang akan dipilih manajer untuk pilihan
kebijakan akuntansi yang memaksimalkan kepentingan perusahaan mereka, kepentingan
sendiri, dibandingkan kontrak tersebut.

B. Munculnya Konsekuensi Ekonomi


Sejak tahun 1960-an, profesi akuntansi Amerika mulai peduli dengan meningkatkan
pengaruh dari “outside forces” dalam proses penetapan standar. Dua perkembangan
paraleltelah menandai hal ini. Pertama, individu dan kelompok yang jarang memperlihatkan
minat dalam penetapan standar akuntansi mulai mengintervensi secara aktif dan kuat dalam
proses penetapan standar. Kedua, pihak-pihak tersebut mulai meminta argumen dibandingkan
mereka yang secara tradisional telah bekerja dalam diskusi akuntansi. Kosekuensi ekonomi
telah digunakan untuk mendeskripsikan beberapa argumen tersebut.
Zeff mendefinisikan konsekuensi ekonomi sebagai dampak dari laporan akuntansi
dalam perilaku pengembalian keputusan bisnis, pemerintah, serikat pekerja, investor dan
kreditur. Inti dari definisi ini adalah bahwa laporan akuntansi dapat mempengaruhi keputusan
sesungguhnya yang dibuat oleh manajer dan lainnya, dibandingkan secara sederhana
menggambarkan hasil dari keputusan tersebut.

1
Pembuatan kebijakan akuntansi sejak tahun 1960-an telah peduli dengan masalah yang
disebut Zeff sebagai “intervensi pihak ketiga” (Third-party intervention) yang sangat
mempersulit penetapan standar akuntansi. Jika kebijakan-kebijakan akuntansi tidak penting,
pilihan atas beberapa kebijakan akan ketat antara badan pembuat standar dan akuntansi serta
auditor yang bertugas untuk mengimplementasikan standar. Jika hanya pihak-pihak tersebut
yang terlibat, maka model akuntansi traditional, berdasarkan konsep yang terkenal seperti
matching antara biaya dan pendapatan, realisasi dan konservatisme, dapat diaplikasikan dan
tidak seorang pun selain pihak yang terlibat akan peduli dengan kebijakan spesifik apa yang
digunakan. Dengan kata lain, sebagai akibatnya pilihan kebijakan akuntansi akan menjadi
netral.
Menurut Zeff, badan penetapan standar menghadapi dilema. Untuk memelihara
kredibilitas akuntan, mereka perlu untuk menetapkan kebijakan akuntansi berkenaan dengan
model akuntansi keuangan dan konsep tradisionalnya (matching and realization). Sejak net
income tidak lagi sebagai konstruksi ekonomi yang jelas pada kondisi yang tidak ideal, tidak
ada lagi teori yang secara jelas menetapkan kebijakan akuntansi apa yang harus digunakan,
selain persyaratan samar-samar bahwa beberapa tradeoff antara relevansi dan reliabilitas
adalah perlu. Oleh karenanya, badan penetapan standar harus beroperasi tidak hanya dalam
domain teori akuntansi, tapi juga dalam domain politik.Zeff mengacu pada hal ini sebagai
“delicate balancing act”. Tanpa sebuah teori untuk mengemudikan pilihan kebijakan
akuntansi, kita harus menemukan beberapa cara untuk mencapai konsesus dalam kebijakan
akuntansi. Sementara kebutuhan untuk menyeimbangkan akan mempersulit badan penetapan
standar, hal ini membuat studi proses penetapan standar, dan teori akuntansi secara umum
menjadi menantang dan menarik.

C. Employee Stock Options


Terdapat tiga karakteristik opsi, yaitu:
1. Pengembalian yang diharapkan dari menahan suatu opsi melebihi return saham yang
diharapkan.
2. Potensi kenaikan opsi Amerika meningkat seiring dengan waktu jatuh tempo.
3. Jika opsi “deep-in-the-money” artinya jika nilai saham dasar jatuh lebih tinggi daripada
harga exercise price, maka hasil dari menahan opsi tersebut dan probabilitasnya sangat
mendekati hasil dan probabilitasnya dari menahan saham dasarnya.
Dua keadaan di mana karyawan melaksanakan opsinya. Pertama, jika Employee Stock
Options (ESO) mencakup nilai uang rendah, waktu sampai jatuh temponya singkat dan

2
karyawan tersebut diharuskan menahan saham yang diperolehnya, maka penghindaran resiko
dapat memicu pelaksanaan lebih awal. Kedua, jika ketika ESO mencakup nilai uang tinggi,
waktu sampai jatuh temponya singkat, dan karyawan dapan menahan maupun menjual saham
yang diperolehnya dan menginvestasikan hasilnya pada aktiva yang tidak beresiko.

D. Hubungan antara Pasar Sekuritas Efisien dan Konsekuensi Ekonomi


Teori pasar sekuritas efisien memprediksi tidak ada reaksi harga terhadap perubahan
kebijakan akuntansi yang tidak berdampak pada profitabilitas dan arus kas. Teori pasar efisien
menujukkan pentingnya full disclosure, termasuk pengungkapan kebijakan akuntansi. Namun,
apabila pengungkapan penuh akan kebijakan akuntansi dibuat, maka pasar akan
mempresentasikan nilai dari sekuritas perusahaan pada kebijakan yang digunakan dan tidak
akan tertipu dengan variasi reported net income yang timbul dari perbedaan pada kebijakan
akuntansi.
Dalam area yang penting akan pilihan kebijakan akuntansi, seperti akuntansi untuk
ESOs, memperlihatkan bahwa konstituensi manajemen secara jelas bereaksi terhadap
perubahan dalam kebijakan akuntansi. Beragam reaksi ini diringkas dalam konsep konsekuensi
ekonomi.Pilihan kebijakan akuntansi adalah penting meski tidak berdampak terhadap arus
kas.Kebijakan akuntansi memiliki potensi untuk mempengaruhi keputusan manjemen
sesungguhnya, termasuk kebijakan untuk mengintervensi mendukung atau menentang standar
akuntansi yang diusulkan.

E. Teori Akuntansi Positif


Teori akuntansi positif (TAP) berkenaan dengan memprediksi tindakan-tindakan sebagai
pilihan kebijakan akuntansi oleh manajer perushaan dan bagaimana manajer akan merespon
standar akuntansi. TAP beranggapan bahwa perusahaan akan mengorganisir diri dalam cata
yang paling efisien sehingga dapat memaksimalkan prospek mereka untuk bertahan hidup.
Perusahaan dapat dipandang sebagai kumpulan kontrak (nexus of contract), artinya
pengorganisasiannya terutama dapat ditentukan oleh sekumpulan kontrak yang dijalaninya.
TAP berpendapat bahwa kebijakan akuntansi dipilih sebagai bagian dari masalah yang lebih
puas dari pencapaian manajemen perusahaan yang lebih efisien.
Perlu dicatat bahwa TAP tidak sampai menyarankan bahwa perusahaan harus menjelaskan
sepenuhnya kebijakan akuntansi yang akan mereka pergunakan. Memberi keleluasaan kepada
manajemen untuk memilih dari sekumpulan kebijakan akuntansi akan membuka peluang untuk
terjadinya perilaku oportunis ex-post. Artinya dengan diberikan sekumpulan kebijakan yang

3
ada, para manajer dapat memilih kebijakan akuntansi dari sekumpulan tersebut untuk
kepentingan mereka pribadi, dan karenanya mengurangi efisiensi kontrak.

F. Tiga Hipotesis Teori Akuntansi Positif


Menurut Watts dan Zimmerman (1990), prediksi yang dibuat oleh TAP disusun seputar
3 hipotesis antara lain:
1. Hipotesis rencana bonus (The bonus plan hypothesis)
Dengan semua hal dianggap setara,para manajer perusahaan dengan rencana bonus
lebih mungkin memilih prosedur akuntansi yang menggeser pendapatan yang
dilaporkan dari masa akan datang ke saat ini.
2. Hipotesis persyartan perjanjian pinjaman (The debt covenant Hypothesis)
Dengan semua hal dianggap setara,semakin besar kemungkinan perusahaan melakukan
pengingkaran persyratan perjanjian pinjaman berbasis akuntansi,semakin besar pula
kemungkinan manajer perusahaan tersebut memilih prosedur akuntansi yang
menggeser pendapatan yang dilaporkan dari periode akan datang ke periode berjalan.
3. Hipotesis biaya politik (The political cost hypothesis)
Dengan semua hal dianggap setara,semakin besar biaya politik yang dihadapi oleh
perusahaan,semakin besar kemungkinan manajer memilih prosedur akuntansi yang
menangguhkan pendapatan yang dilaporkan dari periode berjalan ke periode akan
datang.
Ketiga hipotesis tersebut membentuk komponen yang penting dari TAP,tiga komponen
tersebut mengarah pada prediksi yang dapat diuji secara empiris.Ketiga kontrak ini juga dapat
ditafsirkan dari perspektif perjanjian kontrak yang efisien.

G. Penelitian Empiris pada Teori Akuntansi Positif


Terdapat banyak penelitian empiris yang dilakukan untuk menguji tiga hipotesis dalam
Teori Akuntansi Positif. Penelitian terhadap hipotesis rencana bonus yang dilakukan oleh
Healy (1985) menyatakan bahwa manajer dengan rencana bonus berdasarkan laba bersih secara
sistematis mengadopsi kebijakan akrual yang sedemikian rupa sehingga memaksimalkan
bonus yang diharapkan.
Penelitian terhadap hipotesis perjanjian utang yang dilakukan oleh Dichev dan Skinner
(2002) menyatakan bahwa manajer berusaha untuk mempertahankan level pelanggaran
perjanjian hutang (covenant slack) sebesar nol atau justru bernilai positif dengan mengatur
rasio utangnya (covenant ratio). Hasil ini konsisten dengan hipotesis perjanjian utang.

4
Hipotesis biaya politik yang memiliki arah berkebalikan dari dua hipotesis sebelumnya
dilakukan oleh Jones (1991) dimana hasilnya perusahaan melaporkan laba neto yang lebih
rendah dari seharusnya selama investigasi pembebasan impor.
Pada akhirnya, hipotesis pada teori akuntansi positif dapat dibagi ke dalam dua bentuk:
1. Teori Akuntansi Positif versi Oportunistik
Pada Teori Akuntansi Positif bentuk oportunistik, diasumsikan bahwa manajer akan
memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalkan tingkat utilitas yang diharapkan
sehubungan dengan upah yang diberikan, kontrak-kontrak hutang, dan biaya-biaya
politik.
2. Teori Akuntansi Positif versi Kontrak Efisien
Pada Teori Akuntansi Positif bentuk kontrak efisien, diasumsikan bahwa kontrak stem
pengendalian internal, serta tata kelola yang baik dari perusahaan, dapat membatasi
munculnya sifat oportunistik dan sebaliknya dapat memotivasi manajer dalam memilih
kebijakan akuntansi untuk mengendalikan biaya-biaya kontrak, sehingga dapat
menyeimbangkan kepentingan perusahaan dengan para pemegang saham.

H. Kesimpulan
TAP berusaha memahami dan memprediksi pilihan kebijakan akuntansi perusahaan.
Teori tersebut menilai bahwa kebijakan akuntansi adalah bagian dari kebutuhan perusahaan
secara menyeluruh untuk meminimalkan biaya modalnya dan biaya kontrak lainnya.
Karenanya pilihan kebijakan akuntansi adalah bagian dari proses manajemen perusahaan
secara keseluruhan.
Dari perspektif TAP tidak sulit memahami mengapa kebijkan akuntansi dapat memiliki
konsekuensi ekonomi. Dari perspektif efisiensi, kumpulan kebijakan yang tersedia
mempengaruhi fleksibilitas perusahaan. Dari perspektif opportunis, kemampuan manajemen
untuk memilih kebijakan akuntansi untuk keuntungannya sendiri pun terpengaruhi. Standar
akuntansi mungkin membatasi kebijakan akuntansi yang diperbolehkan.
Kekhawatiran Manajer terhadap kebijakan dan standar akuntansi mungkin diarahkan
oleh oportunisme atau oleh kontrak yang efisien, terdapat bukti yang signifikan yang
mendukung kontrak TAP. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mampu mensejajarkan
kepentingan-kepentingan para pemegang saham.