Anda di halaman 1dari 13

PRINSIP DAN KODE ETIK DALAM BISNIS

Tugas Mata Kuliah


Etika Bisnis dan Profesi

Oleh :
Nadiya Az Zahra
180810301239

Program Studi Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Jember
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu hal yang sering kali sulit dilakukan oleh seorang professional dalam bisnis adalah
menyeimbangkan antara idealism profesi dan tuntutan para pengusaha yang sering
mengesampingkan norma-norma etika demi tercapainya tujuan bisnis pada umumnya,
yaitu keuntungan. Kode etik dalam bisnis mengupayakan untuk mencegah terjadinya
benturan-benturan kepentingan yang akan merugikan beberapa pihak, walaupun masih
dalam himbauan, sebab berbeda dengan kaidah hukum yang dengan tegas akan
memberikan sanksi nyata bagi para pelanggannya secara hukum, sedangkan pelanggran
kode etik belum mempunyai sanksi yang dapat dilaksanakan. Hanya dengan kesadaran
para pelaku bisnis, kode etik akan ditaati bersama sehingga hal tersebut justru akan dapat
melindungi bisnis yang dikelolanya.
Sikap jujur dan patuh terhadap standar etika bisnis akan dapat menumbuhkan rasa
saling percaya, saling menghormati di antara para pelaku bisnis, yang pada gilirannya
akan berdampak pada adanya efisiensi dalam berusaha serta menciptakan iklim
persaingan yang sehat di dunia bisnis sehingga kepentingan semua pihak yang terkait,
termasuk pelanggan akan dapat dilayani dengan memuaskan tanpa benturan-benturan.
Penerapan prinsip etika bisnis dalam menjalankan usaha adalah sebuah keharusan dan
mencakup seluruh aspek yang ada di suatu perusahaan. Pada praktiknya dalam
perusahaan, prinsip etika bisnis tersebut akan membentuk nilai, norma, dan perilaku para
pekerja, mulai dari bawahan hingga atasan. Dengan demikian dalam makalah ini maka
akan dijelaskan apa saja prinsip dan kode etik dalam bisnis.

BAB II

1
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PROFESI

1) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:


Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian.
2) Menurut Hidayat Nur Wahid:
Profesi adalah sebuah pilihan yang sadar dilakukan oleh seseorang, sebuah
pekerjaan yang secara khusus dipilih, dilakukan dengan konsisten, kontinu ditekuni.
Sehingga orang bisa menyebut kalau dia memang berprofesi di bidang tersebut.
3) Menurut Kanter (2001):
Profesi adalah pekerjaan dari kelompok terbatas orang-orang yang memiliki keahlian
khusus yang diperolehnya melalui training atau pengalaman lain, sehingga dapat
membimbing atau memberi nasihat/saran atau juga melayani orang lain dalam
bidangnya sendiri.
4) Menurut Sonny Keraf (1998):
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai nafkah hidup dengan mengandalkan
keahlian dan keterampilan tinggi dan dengan melibatkan komitmen pribadi (moral)
yang mendalam.
5) Menurut Brooks (2004):
Profesi adalah suatu kombinasi fitur, kewajiban dan hak yang kesemuanya dibingkai
dalam seperangkat nilai – nilai profesional yang umum, nilai-nilai yang menentukan
keputusan dan tindakan dilaksanakan.
6) Menurut Prof. Dr. Widjoyo Nitisastro:
Profesi adalah karyanya berarti hasil karya dari seorang profesional dan kaidah berarti
pedoman, aturan, norma, asas. Dalam kaitannya dengan profesi, diperlukan minimal
tiga unsur kaidah yaitu: kaidah pengetahuan (keilmuan), kaidah ketrampilan (teknis),
kaidah tingkah laku (kode etik).

Dengan menyimak berbagai definisi tersebut, dapat diketahui bahwa definisi yang
diberikan mulai dari sangat luas sampai ke definisi yang khusus dan terbatas.

a. Definisi yang sangat luas, profesi adalah sebuah pekerjaan yang secara khusus dipilih,
dilakukan dengan konsisten, kontinu ditekuni secara konsisten, sehingga orang bisa
menyebut kalau dia memang berprofesi di bidang tersebut.

2
b. Definisi lebih sempit, profesi adalah pekerjaan yang ditandai oleh pendidikan dan
keterampilan khusus.

c. Definisi yang lebih khusus lagi, profesi ditandai oleh tiga unsur penting yaitu pekerjaan,
pendidikan atau keterampilan khusus, dan adanya komitmen moral/nilai-nilai etis.

Secara lebih rinci pengertian profesi ditandai oleh ciri – ciri sebagai berikut:

1. Profesi adalah suatu pekerjaan mulia.


2. Untuk menekuni profesi ini diperlukan pengetahuan, keahlian dan keterampilan tinggi.
3. Pengetahuan, keahlian dan keterampilan diperoleh melalui pendidikan formal, pelatihan
dan praktik atau pengalaman langsung.
4. Memerlukan komitmen moral (kode etik) yang ketat.
5. Profesi ini berdampak luas bagi kepentingan masyarakat umum.
6. Profesi ini mampu memberikan penghasilan/nafkah bagi penyandang profesi untuk
hidup layak.
7. Ada organisasi profesi sebagai wadah untuk bertukar pikiran, mengembangkan
program pelatihan dan pendidikan berkelanjutan, serta menyempurnakan, menegakkan
dan mengawasi pelaksanaan kode etik di antara anggota profesi tersebut.
8. Ada ijin dari pemerintah untuk menekuni profesi ini.

B. BISNIS SEBAGAI PROFESI

Profesi dalam arti luas diartikan sebagai “pekerjaan sebagai penunjang nafkah hidup”
maka, semua aktivitas bisnis dapat dianggap sebagai profesi. Bisnis dianggap sebagai
profesi karena telah sesuai dengan definisi dan ciri-ciri suatu profesi, yaitu :

1. Profesi adalah pekerjaan dan di dalam bisnis terdapat banyak jenis pekerjaan.
2. Sebagian besar jenis pekerjaan di dalam perusahaan yang dilaksanakan oleh jajaran
manajemen menuntut pengetahuan dan ketrampilan tinggi, baik melalui pendidikan
formal maupun pelatihan dan pengalaman.
3. Profesi menuntut penerapan kaidah moral/etika yang sangat ketat.
4. Tuntutan kaidah moral yang tinggi menjadi keharusan dalam bisnis.

C. PRINSIP-PRINSIP ETIKA BISNIS


1. Prinsip-prinsip etika bisnis menurut Caux Round Table (dalam Alois. A Nugroho, 2001):
a. Tanggung jawab Bisnis dari Shareholders ke StakeHolders
b. Dampak Ekonomis dan Sosial dari Bisnis.
c. Perilaku Bisnis.
d. Menghormati Aturan

3
e. Dukungan bagi Perdagangan Multilateral
f. Sikap Hormat bagi Lingkungan Alam
g. Menghindari Operasi-operasi Tidak Etis

2. Prinsip etika bisnis menurut Sonny Keraf (1998):


Ada 5 prinsip etika bisnis yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan praktik
bisnis, yaitu:
a. Prinsip Otonomi
b. Prinsip Kejujuran
c. Prinsip Keadilan
d. Prinsip Saling Menguntungkan
e. Prinsip Integritas Moral.
3. Prinsip etika bisnis menurut Lawrence, Weber, dan Post (2005):
Prinsip etis merupakan tuntunan bagi perilaku moral. Contoh: Kejujuran, pegang janji,
membantu orang lain dan menghormati hak-hak orang lain.
4. Prinsip etika bisnis menurut Weiss (2006):
Ada empat prinsip etika yaitu : /martabat/ hak, kewajiban, kewajaran,dan keadilan.

D. ETIKA LINGKUNGAN HIDUP

Etika dari sudut pandang manusia sebagai satu-satunya pusat pertimbangan moral yang
disebut moral patient menurut Frankena (dalam Alois A. Nugroho, 2001) meliputi:

1. Teori deontologi (teori kewajiban)


Perilaku etis hanya dilihat dari sudut pandang manusia, yaitu sejauh mana setiap
orang menghargai, mempertimbangkan, memelihara dan memberdayakan umat
manusia sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia.
2. Teori teleologis (teori konsekuensi/akibat)
Perilaku etis juga hanya menyorot kepentingan umat manusia dilihat dari konsekuensi
atau akibat dari setiap keputusan dan tindakan manusia terhadap manusia lainnya.
3. Teori teonom (kepercayaan pada Tuhan)
Pemaknaan ajaran agama juga dilihat dari sudut pandang manusia sebagai pusat
perhatian, dalam hubungannya manusia dengan Tuhan atau kekuatan tak terbatas,
dan sejauh mana umat manusia telah beriman dan menaati perintahNya.

Bertens (2001) pertumbuhan ekonomi global saat ini memunculkan enam persoalan
lingkungan hidup yaitu:
1. Akumulasi bahan beracun

4
2. Efek rumah kaca
3. Perusakan lapisan ozon
4. Hujan asam
5. Deforestasi dan penggurunan.
6. Kematian bentuk-bentuk kehidupan.

E. PARADIGMA ETIKA LINGKUNGAN

Berbagai isu lingkungan hidup tidak dapat lagi diabaikan bila ingin memahami dan
menyadari bahwa perilaku manusia juga berpengaruh terhadap keberadaan bumi beserta
seluruh isinya, bukan hanya menentukan keberadaam umat manusia saja. Sehubungan
dengan hal ini, ada beberapa paradigma (cara pandang/pola pikir) yang berkembang
dalam memahami etika dalam kaitannya dengan isu lingkungan hidup.

1. Etika kepentingan generasi mendatang, yang memandang bahwa suatu keputusan dan
tindakan hendaknya jangan hanya memikirkan kepentingan umat manusia pada
generasi saat ini saja, tetapi juga kepentingan umat manusia pada generasi-generasi
mendatang.
2. Etika lingkungan biosentris, yang memandang perilaku etis bukan saja dari sudut
pandang manusia, tetapi juga dari sudut pandang nonmanusia (flora, fauna, dan benda
bumi nonorganisme) sebagai satu kesatuan sistem lingkungan.
3. Etika ekosistem, menganggap Sang Pencipta (Tuhan) dan seluruh ciptaannya (bumi
dan seluruh isinya, sistem tata surya, sistem galaksi, dan sistem alam jagat raya)
dianggap sebagai moral patients.

F. KODE ETIK DI TEMPAT KERJA

1. Kode Etik Sumber Daya manusia (Human Resource):


A.M Lilik Agung (2007) mencatat ada empat peran yang melekat pada Departemen
SDM, yaitu :
a. Peran adminstratif
b. Peran kontribusi
c. Peran agen perubahan
d. Peran mitra strategis

Weaver, Travino, dan Cochran (dalam Brooks,2003:149) menyatakan diperlukan enam


dimensi program etik agar kode etik dapat dipenuhi, yaitu :
a. Kode etik formal
b. Komite etika
c. Sistem komunikasi etika
d. Pejabat etika

5
e. Program pelatihan etika
f. Proses penetapan disiplin.

Tabel 1.1
Topik yang dijumpai dalam Kode Etik Perusahaan
No. Topik
1. Prisip-prinsip Etika : keyakinan, kejujuran, keadilan, rasa kasih, integritas,
prediktabilitas, responsibilitas.
2. Penghormatan terhadap hak dan kewajiban setiap pemangku kepentingan.
3. Visi, Misi dan kebijakan pokok yang terkait dengan hal di atas.
4. Kerangka proses keputusan etis.
5. Kapan perlu nasehat dan kepada siapa meminta nasihat.
6. Topik-topik khusus untuk temuan diatas 5 % yang berhubungan dengan
karyawan, pemasok dan kode usaha patungan:
 Penyuapan
 Konflik kepentingan
 Keamanan informasi

Hak – hak karyawan menurut Sony Keraf (1998) antara lain :

a. Hak atas pekerjaan yang layak.


b. Hak atas upah yang adil.
c. Hak untuk berserikat dan berkumpul.
d. Hak atas perlindungan keamanan dan kesehatan.
e. Hak untuk diproses hukum secara sah.
f. Hak untuk diperlakukan secara sama.
g. Hak atas rahasia pribadi.
h. Hak atas kebebasan suara hati.

2. Kode Etik Pemasaran :

Ringkasan Kode Etik Menurut American Marketing Association (AMA):

a. Tanggung jawab (responsibilities), pelaku pemasaran harus bertanggung jawab atas


konsekuensi aktivitas mereka dan selalu berusaha agar keputusan, rekomendasi dan
fungsi tindakan mereka mengidentifikasi, melayani, dan memuaskan masyarakat
(publik) yang relevan: para pelanggan, organisasi dan masyarakat.

6
b. Kejujuran dan kewajaran (honesty and fairness), pelaku pemasaran harus menjaga dan
mengembangkan integritas, kehormatan dan martabat profesi pemasaran.
c. Hak (Rights) dan Kewajiaban (Duties),
d. Hubungan organisasi (organizational relationships)

3. Kode Etik Akuntansi:

Ringkasan Kode Etik Menurut Insitute of Management Accountant:

a. Kompetensi
Praktisi akuntansi manajemen dan manajemen keuangan beranggung jawab:
 Memelihara tingkat kompetensi professional yang layak dengan mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan.
 Menjalankan kewajiban profesional dengan mematuhi hukum, peraturan dan
standar teknis yang relevan.
 Menyiapkan laporan dan rekomendasi yang lengkap dan jelas setelah melakukan
analisis terhadap informasi yang andal dan relevan.

b. Kerahasiaan
Praktisi akuntansi dan manajemen keuangan bertanggung jawab:
 Menahan diri untuk membeberkan informasi rahasia.
 Memberitahukan kepada bawahan menyangkut kerahasiaan informasi.
 Menahan diri dari keinginan untuk menggunakan informasi rahasia sebagai alat
untuk kepentingan tidak etis.

c. Integritas
Praktisi akuntansi dan manajemen keuangan bertanggung jawab:
 Menghindari konflik kepentingan.
 Menahan diri untuk melakukan ikatan dalam setiap aktivitas yang dapat
menimbulkan prasangka menyangkut kemampuannya menjalankan kewajiban
secara etis.
 Menolak setiap pemberian, kemurahan hati, dan pelayanan yang dapat
memengaruhi atau tampaknya memengaruhi tindakan mereka.
 Menahan diri baik secara aktif maupun pasif dari tindakan yang menyimpang
terhadap pencapaian tujuan etis dan legitimasi organisasi.
 Mengungkapkan dan mengkomunikasikan keterbatasan profesional.
 Mengomunikasikan informasi yang tidak menyenangkan dan yang menyenangkan.
 Menahan diri dari suatu ikatan yang dapat mendeskreditkan profesi.

7
d. Objektifitas
Praktisi akuntansi dan manajemen keuangan bertanggung jawab:
 Mengkomunikasikan informasi secara adil dan objektif
 Mengungkapkan informasi relevan .
e. Resolusi atas konflik Etis
Dalam mengatasi isu etika yang signifikan, praktisi akuntansi manajemen dan
manajemen keuangan harus mengikuti kebijakan organisasi yang telah ditentukan..
Bila kebijakan tersebut tidak mampu memecahkan konflik etis, maka praktisi harus
mempertimbangkan langka-langkah berikut:
 Mendiskusikan masalah dengan atasan langsung.
 Mengklarifikasi isu yang relevan melalui diskusi rahasia.
 Mengundurkan diri dari organisasi dan memberikan nota memorandum kepada
perwalikan oraganisasi.

4. Kode Etik Keuangan:

Kode Etik Dalam Association for Investment Management and Research (AIMR)

a. Bertindak berdasarkan integritas, kompetensi, martabat dan bertindak etis dalam


berhubungan dengan public, pelanggan, calon pelanggan dan lain sebagainya.
b. Menjalankan dan mendorong pihak lain untuk bertindak etis dan professional.
c. Berusaha keras untuk memeliharan dan meningkatkan kompetensi dan kompetensi
pihak lain.
d. Menerapkan kehati-hatian dan menjalankan penilaian yang bersifat independen.

Standar-standar perilaku professional juga meliputi :

 Tanggung jawab fundamental.


 Hubungan dan tanggung jawab atas profesi.
 Hubungan dan tanggung jawab pada atasan.
 Hubungan dan tanggung jawab pada pelanggan dan calon pelanggan.
 Hubungan dan tanggung jawab kepada publik.

5. Kode Etik Teknologi Informasi:

Kode Etik Association for Computing Machinary (ACM): Komitmen terhadap kode etik
professional diharapkan bagi setiap anggota (anggota yang mempunyai hak suara,
anggota asosiasi dan anggota mahasiswa) dari Association for Computing Machinary
(ACM). Kode ini mencakup 24 keharusan yang dirumuskan sebagai pernyataan tentang
tanggung jawab pribadi, mengidentifikasi unsur-unsur seperti komitmen.

8
ACM mencakup : kontribusi bagi masyarakat dan kesejahteraan umat manusia,
menghindari merugikan orang lain, jujur dan dapat dipercaya, adil dan tidak melakukan
diskriminasi, menghormati hak kekayaan dan hak cipta dan hak paten, memberikan
penghargaan atas kekayaan intelektual, menghormati privasi dan menghargai
kerahasiaan.

6. Kode Etik Fungsi Lainnya:

Setiap elemen di dalam perusahaan akan berinteraksi satu dengan yang lainnya yang
akan memengaruhi perusahaan secara keseluruhan, sekecil apapun peran yang
dimainkan oleh setiap elemen tersebut. Misalnya bagian produksi di suatu perusahaan.
Walaupun bagian produksi tidak berhubungan langsung dengan pelanggan, namun
kualitas produk yang dihasilkan sangat menentukan kinerja fungsi pemasaran.

G. PERBANDINGAN KODE ETIK

Tabel 1.2
Topik-topik Kode Etik dalam Perbandingan

Association for
Institute of Association for
American Marketing Investment
Management Computing
Association (AMA) Management and
Accountants Machine (ACM)
Research (AIMR)

Tanggung jawab
Tanggung jawab Kompetensi Kompetensi
dan komitmen

Kejujuran dan Integritas, Jujur dan dapat


Integritas
Kewajaran Martabat (dignity) dipercaya

Kerahasiaan,
Kerahasiaan,
Kerahasiaan, Menghormati hak
Hak dan Kewajiban Objektivitas,
Objektivitas kekayaan
Independensi
intelektual

Adil dan tidak


Kehati-hatian; Larangan
Hubungan Resolusi atas diskriminatif;
menggunakan informasi
organisasi konflik etis Menghormati
nonpublik
privasi orang lain

9
Sehubungan dengan hal tersebut dibawah ini akan diulas beberapa konsep yang biasa
muncul dalam pedoman kode etis suatu profesi :

1. Integritas

Banyak yang mengitepretasikan integritas sama dengan keujujuran, meski sebenarnya


konsep integritas lebih luas dari konsep kejujuran. Kejujuran hanya merupakan salah
satu unsur yang membangun integritas seseorang. Menurut Cloud, Pengertian integritas
bukan hanya sekedar berarti jujur, tetapi juga menyiratkan adanya sifat utuh, tidak
terbagi, menyatu, kokoh, serta konsisten. Pandangan lain dikemukakan oleh Julian M
dan Alfred (2007) yang mengatakan bahwa integritas merujuk pada segala hal yang
membuat seseorang bisa dipercaya.

Dengan menyimak kedua pandangan diatas, dapat disimpulkan bahwa integritas


menyiratkan pengertian keutuhan atau keseimbangan, menjadi dasar atau pondasi untuk
membangun kepercayaan, meliputi banyak atribut atau kualitas terkait untuk
membangun karakter atau pribadi utuh.

2. Whistleblowing

Menurut Sonny Keraf (1998), Whistleblowing dalam konteks etika adalah tindakan
yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang karyawan untuk membocorkan
kecurangan entah yang dilakukan oleh perusahaan atau atasannya kepada pihak lain.

3. Kompetensi

Dalam arti luas, Kompetensi mencakup penguasaan ilmu atau pengetehuan dan
keterampilan atau skill yang mencukupi, seta mempunyai sikap dan perilaku yang sesuai
untuk melaksanakan pekerjaan atau profesinya. Bila kompetensi mencakup ketuga unsure
ini, pegetahuan, ketampilan, sikap dan perilaku, maka orang yang kompeten sama artinya
dengan orang yang professional.

4. Objektifitas dan Independensi

Objektif Berarti sesuai tujuan, sesuai sasaran, tidak berat sebelah, selalu
didasarkan atas fakta, atau bukti yang mendukung. Konsep ini menyiratkan bahwa segala
sesuatu diungkapkan apa adanya, tidak menyembunyikan sesuatu, jujur dan wajar.

10
Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak dibawah pengaruh atau
tekanan pihak tertentu dalam mengambil keputusan atau tindakan.

BAB III
KESIMPULAN

 Pada praktiknya dalam perusahaan, prinsip etika bisnis akan membentuk nilai, norma,
dan perilaku para pekerja, mulai dari bawahan hingga atasan. prinsip etika bisnis yang
dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan praktik bisnis, yaitu: prinsip otonomi,

11
prinsip kejujuran, prinsip keadilan prinsip saling menguntungkan dan prinsip integritas
moral.
 Kode etik dalam bisnis mengupayakan untuk mencegah terjadinya benturan-benturan
kepentingan yang akan merugikan beberapa pihak, walaupun masih dalam himbauan.
Kode etik ditempat kerja terdiri dari 6 macam, yaitu:
a. Kode etik sumberdaya manusia, meliputi 5 (lima) peran peran adminstratif, peran
kontribusi, peran agen perubahan dan peran mitra strategis.
b. Kode etik pemasaran, meliputi tanggung jawab, Kejujuran dan kewajaran, Hak dan
Kewajiaban dan hubungan organisasi.
c. Kode etik akuntansi , meliputi kompetensi, kerahasiaan, integritas, objektivitas, dan
resolusi atas konflik etis.
d. Kode etik keuangan, bertindak berdasarkan integritas, kompetensi, martabat dan
bertindak etis dalam berhubungan dengan public, pelanggan, calon pelanggan dan
lain sebagainya.
e. Kode etik tekhnologi informasi, mencakup kontribusi bagi masyarakat dan
kesejahteraan umat manusia, menghindari merugikan orang lain, jujur dan dapat
dipercaya.
f. Kode etik fungsi lainnya, setiap elemen di dalam perusahaan akan berinteraksi satu
dengan yang lainnya yang akan memengaruhi perusahaan secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2014. Etika Bisnis dan Profesi Tantangan Membangun Manusia
Seutuhnya Edisi Revisi. Jakarta Salemba Empat.

12