Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


HIV/AIDS telah menimbulkan kekhawatiran di berbagai belahan bumi. HIV/AIDS
adalah salah satu penyakit yang harus diwaspadai karena Acquired Immunodeficiency
Syndrome ( AIDS) sangat berakibat pada penderitanya. Acquired immunodeficiency
syndrome (AIDS) merupakan sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia
setelah sistem kekebalannya dirusak oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) .
Mengenai penyakit HIV/AIDS, penyakit ini telah menjadi pandemi yang mengkhawatirkan
masyarakat dunia, karena disamping belum ditemukan obat dan vaksin pencegahan penyakit
ini juga memiliki “window periode” dan fase asimtomatik (tanpa gejala) yang relatif panjang
dalam perjalanan penyakitnya.

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara Kini
AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di
seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan
bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui
pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling
mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga
3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-
anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga
memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di
sana.

1.2 Tujuan Penulisan


1. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian HIV/AIDS
2. Mahasiswa mengetahui etiologi dari HIV/AIDS
3. Mahasiswa mengetahui patofisiologi dari HIV/AIDS
4. Mahasiswa mengetahui klasifikasi pada HIV/AIDS
5. Mahasiswa mengetahui manifestasi klinis pada HIV/AIDS

1
6. Mahasiswa mengetahui pemeriksaan penunjang pada HIV/AIDS
7. Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan medis dan keperawatan pada HIV/AIDS
8. Mahasiswa mengetahui komplikasi pada HIV/AIDS
9. Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada remaja dengan HIV/AIDS
10. Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada anak dengan HIV/AIDS

2
BAB II

Tinjauan Teori

2.1 Pengertian HIV/AIDS


Human Immunodeficiency Virus (HIV) Merupakan virus yang merusak sistem
kekebalan tubuh manusia yang tidak dapat hidup di luar tubuh manusia. Kerusakan
sistem kekebalan tubuh ini akan menimbulkan kerentanan terhadap infeksi penyakit.
Sedangkan AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan
gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV.
Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh
Dapatan.
Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan
Immune : Sistem kekebalan tubuh
Deficiency : Kekurangan
Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit
AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan
daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh faktor luar. AIDS diartikan sebagai bentuk paling
erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human
Immunodefciency Virus (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare).

2.2 Etiologi
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut Human Immunodeficiency Virus
yaitu HTL II, LAV, RAV yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang
ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T. Virus ini
ditransmisikan melalui kontak intim (seksual), darah atau produk darah yang terinfeksi
HIV. HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1.
Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-
2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk
memudahkan keduanya disebut HIV. Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima
fase yaitu :

3
a. Periode jendela: Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada
gejala.
b. Fase infeksi HIV primer akut: Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes
illness.
c. Infeksi asimtomatik: Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
d. Supresi imun simtomatik: Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam
hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
e. AIDS: Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali
ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system
tubuh, dan manifestasi neurologist.

AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria


maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
a. Lelaki homoseksual atau biseks
b. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
c. Orang yang ketagian obat intravena
d. Partner seks dari penderita AIDS
e. Penerima darah atau produk darah (transfusi).

2.3 Patofisiologi
HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang
bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup limfosit penolong
dengan peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga meperlihatkan
pengurangan bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi
HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4.
HIV secara istimewa menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang
bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup linfosit penolong
dengan peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga memperlihatkan
pengurangan bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi
HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4 ini tidak pasti, meskipun kemungkinan

4
mencakup infeksi litik sel CD4 itu sendiri, induksi apaptosis melalui antigen viral, yang
dapat bekerja sebagai super antigen, penghancuran sel yang terinfeksi melalui mekanisme
imun antiviral penjamu dan kematian atau disfungsi precursor limfosit atau sel asesorius
pada timus dan kelenjar getah bening. HIV dapat menginfeksi jenis sel selain limfosit.
Infeksi HIV pada monosit, tidak seperti infeksi pada limfosit CD4, tidak
menyebabkan kematian sel. Monosit yang terinfeksi dapat berperang sebagai reservoir
virus laten tetapi tidak dapat diinduksi, dan dapat membawa virus ke organ, terutama
otak, dan menetap di otak. Percobaan hibridisasi memperlihatkan asam nukleat viral pada
sel-sel kromafin mukosa usus, epitel glomerular dan tubular dan astroglia. Pada jaringan
janin, pemulihan virus yang paling konsisten adalah dari otak, hati, dan paru. Patologi
terkait HIV melibatkan banyak organ, meskipun sering sulit untuk mengetahui apakah
kerusakan terutama disebabkan oleh infeksi virus lokal atau komplikasi infeksi lain atau
autoimun.
Stadium tanda infeksi HIV pada orang dewasa adalah fase infeksi akut, sering
simtomatik, disertai viremia derajat tinggi, diikuti periode penahanan imun pada replikasi
viral, selama individu biasanya bebas gejala, dan periode akhir gangguan imun
simtomatik progresif, dengan peningkatan replikasi viral. Selama fase asimtomatik kedua
bertahap dan progresif, kelainan fungsi imun tampak pada saat tes, dan beban viral
lambat dan biasanya stabil. Fase akhir, dengan gangguan imun simtomatik, gangguan
fungsi dan organ, dan keganasan terkait HIV dihubungkan dengan peningkatan replikasi
viral dan sering dengan perubahan pada jenis vital, pengurangan limfosit CD4 yang
berlebihan dan infeksi oportunistik.
Infeksi HIV biasanya secara klinis tidak bergejala saat terakhir, meskipun periode
inkubasi atau interval sebelum muncul gejala infeksi HIV, secara umum lebih singkat
pada infeksi perinatal dibandingkan pada infeksi HIV dewasa. Selama fase ini, gangguan
regulasi imun sering tampak pada saat tes, terutama berkenaan dengan fungsi sel B,
hipergameglobulinemia dengan produksi antibodi nonfungsional lebih universal diantara
anak-anak yang terinfeksi HIV dari pada dewasa, sering meningkat pada usia 3 sampai 6
bulan. Ketidakmampuan untuk merespon terhadap antigen baru ini dengan produksi
imunoglobulin secara klinis mempengaruhi bayi tanpa pajanan antigen sebelumnya
berperang pada infeksi dan keparahan infeksi bakteri yang lebih berat pada infeksi HIV

5
pediatrik. Deplesi limfosit CD4 merupakan temuan lanjutan, dan mungkin tidak
berkorelasi dengan status simtomatik. Bayi dan anak-anak dengan infeksi HIV sering
memiliki jumlah limfosit yang normal, dan 15% pasien dengan AIDS periatrik mungkin
memiliki resiko limfosit CD4 terhadap CD8 yang normal. Penjamu yang berkembang
untuk beberapa alasan menderita imunopatologi yang berbeda dengan dewasa, dan
kerentanan perkembangan sistem saraf pusat menerangkan frekuensi relatif ensefalopati
yang terjadi pada anak dengan HIV.

2.4 Klasifikasi
Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indikator AIDS
(kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita
AIDS.
a. Kategori Klinis A
Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa
keadaan dalam kategori klinis B dan C.

1. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.


2. Limpanodenopati generalisata yang persisten atau PGI (Persistent
Generalized Limpanodenophaty)
3. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut dengan sakit yang
menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang
akut

b. Kategori Klinis B
Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
1. Angiomatosis Baksilaris
2. Kandidiasis Orofaring atau Vulvavaginal persisten atau frekuen
3. Displasia Serviks sedang atau berat (karsinoma serviks in situ)
4. Gejala konstitusional seperti peninngkatan suhu hingga 38,5o C atau diare
lebih dari 1 bulan.

6
5. Leukoplakial yang berambut
6. Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang berbeda atau terjadi pada lebih
dari satu dermaton saraf.
7. Idiopatik Trombositopenik Purpura
8. Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii

c. Kategori Klinis C
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :
1. Kandidiasis bronkus, trakea atau paru-paru, dan esophagus
2. Kanker serviks inpasif
3. Koksidiomikosis ekstrapulmoner atau diseminata
4. Kriptokokosis ekstrapulmoner
5. Kriptosporidosis internal kronis
6. Cytomegalovirus
7. Refinitis Cytomegalovirus (gangguan penglihatan)
8. Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
9. Herpes simpleks (ulkus kronis, bronchitis, pneumonitis / esofagitis)
10. Histoplamosis diseminata atau ekstrapulmoner
11. Isoproasis intestinal yang kronis
12. Sarkoma Kaposi
13. Limpoma Burkit, Imunoblastik, dan limfoma primer otak
14. Kompleks mycobacterium avium (M. Kansasi yang diseminata atau
ekstrapulmoner
15. M. Tuberculosis pada tiap lokasi (pulmoner atau ekstrapulmoner)
16. Pneumonia Pneumocystic Cranii
17. Pneumonia Rekuren
18. Leukoenselophaty multifokal progresiva
19. Septikemia salmonella yang rekuren
20. Toksoplamosis otak
21. Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV)

7
2.5 Manifestasi Klinis
Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1-2 minggu pasien
akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun)
pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare,
neuropati, keletihan, ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.
Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS
(bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi
opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia
interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk meningitis, kandidiasis,
cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal :
a. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Gejala akut tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti
demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher,
radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.
b. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala
Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam
darah akan diperoleh hasil positif.
c. Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala
pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.

Sedangkan Manifestasi Klinis Gejala dan tanda HIV/AID menurut WHO:

1. Stadium Klinis I :
a. Asimtomatik (tanpa gejala)
b. Limfadenopati Generalisata (pembesaran kelenjar getah bening/limfe
seluruh tubuh)
c. Skala Penampilan
d. Asimtomatik, aktivitas normal.

2. Stadium Klinis II :
a. Berat badan berkurang 10%

8
b. Diare berkepanjangan > 1 bulan
c. Jamur pada mulut
d. TB Paru
e. Infeksi bakterial berat
f. Skala penampilan 3 lebih kurang 1 bulan
g. Kanker kulit (Sarcoma Kaposi)
h. Radang Otak (Toksoplasmosis, Ensefalopati HIV)
i. Skala Penampilan 4 : terbaring di tempat tidur > 50% dalam masa 1 bulan
terakhir

Gejala terkait HIV yang paling dini dan paling sering pada masa bayi jarang
terdiagnostis. Gejala HIV tidak spesifik menurut The Centers For Diseasen Control
mencakup demam, kegagalan berkembang, hepatomegali dan splenomegali,
limfadenopati generalisata (didefinisikan sebagai nodul yang >0,5 cm terdapat pada 2
atau lebih area tidak bilateral selama >2 bulan), parotitis, dan diare. Diantara semua anak
yang terdiagnosis dengan infeksi HIV, sekitar 90% akan memunculkan gejala ini sebagai
tanda awal infeksi. Berdasarkan penelitian oleh The European Collaborativ pada bayi
yang lahir dari ibu yang terinfeksi, mereka menemukan bahwa dua pertiga bayi yang
terinfeksi memperlihatkan tanda dan gejala yang tidak spesifik pada usia 3 bulan, dengan
angka yang lebih rendah diantara bayi yang tidak terinfeksi. Pada penelitian ini, kondisi
yang paling sering muncul antara bayi terinfeksi dan tidak terinfeksi adalah kandidiasis
kronik, parotitis, limfadenopati persistem, hepatosplenomegali. Otitis media, tinitis,
deman yang tidak jelas, dan diare kronik.

2.6 Pemeriksaan Penunjang


Menurut Hidayat (2008) diagnosis HIV dapat tegakkan dengan menguji HIV. Tes
ini meliputi tes Elisa, latex agglutination dan western blot. Penilaian Elisa dan latex
agglutination dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV atau tidak, bila
dikatakan positif HIV harus dipastikan dengan tes western blot. Tes lain adalah dengan
cara menguji antigen HIV, yaitu tes antigen P 24 (polymerase chain reaction) atau PCR.
Bila pemeriksaan pada kulit, maka dideteksi dengan tes antibodi (biasanya digunakan
pada bayi lahir dengan ibu HIV.

9
1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
a. ELISA (positif; hasil tes yang positif dipastikan dengan western blot)
b. Western blot (positif)
c. P24 antigen test (positif untuk protein virus yang bebas)
d. Kultur HIV (positif; apabila dua kali uji kadar secara berturut-turut
mendeteksi enzim reverse transcriptase atau antigen p24 dengan kadar yang
meningkat)

2. Tes untuk deteksi gangguan sistem imun.


a. LED (normal namun perlahan-lahan akan mengalami penurunan)
b. CD4 limfosit (menurun; mengalami penurunan kemampuan untuk bereaksi
terhadap antigen)
c. Rasio CD4/CD8 limfosit (menurun)
d. Serum mikroglobulin B2 (meningkat bersamaan dengan berlanjutnya
penyakit).
e. Kadar immunoglobulin (meningkat)

2.7 Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan


1. Penatalaksaan Medis
Hingga kini belum ada penyembuhan untuk infeksi HIV dan AIDS.
Penatalaksanaan AIDS dimulai dengan evaluasi staging untuk menentukan
perkembangan penyakit dan pengobatan yang sesuai. Anak dikategorikan dengan
menmggunakan tiga parameter: status kekebalan, status infeksi dan status klinik
dalam kategori imun: tanpa tanda supresi, tanda supresi sedang dan tanda supresi
berat. Seorang anak dikatakan dengan tanda dan gejala ringan tetapi tanpa bukti
adanya supresi imun dikategorikan sebagai A2. Status imun didasarkan pada jumlah
persentase CD4 yang tergantung usia anak (Betz dan Sowden, 2002).
Selain mengendalikan perkembangan penyakit, pengobatan ditujukan terhadap
mencegah dan menangani infeksi oportunistik seperti Kandidiasis dan Pneumonia
Interstisiel. Azidomitidin ( Zidovudin), Videks dan Zalcitacin (DDC) adalah obat-
obatan untuk infeksi HIV dengan jumlah CD4 rendah, Videks dan DDC kurang

10
bermanfaat untuk penyakit sistem saraf pusat. Trimetoprin sulfametosazol (Septra,
Bactrim) dan Pentamadin digunakan untuk pengobatan dan profilaksi Pneumonia
Cariini setiap bulan sekali berguna untuk mencegah infeksi bakteri berat pada anak,
selain untuk Hipogamaglobulinemia. Imunisasi disarankan untuk anak-anak dengan
infeksi HIV, sebagai pengganti Vaksin Poliovirus (OPV), anak-anak diberi vaksin
virus polio yang tidak aktif (IPV) (Betz dan Sowden, 2002)

2.8 Komplikasi
a. Oral Lesi Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi,
dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat. Kandidiasis oral ditandai oleh
bercak-bercak putih seperti krim dalam rongga mulut. Jika tidak diobati, kandidiasis
oral akan berlanjut mengeni esophagus dan lambung. Tanda dan gejala yang
menyertai mencakup keluhan menelan yang sulit dan rasa sakit di balik sternum
(nyeri retrosternal).
b. Neurologik ensefalopati HIV atau disebut pula sebagai kompleks dimensia AIDS
(ADC; AIDS dementia complex).
1) Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan
berkonsentrasi, konfusi progresif, perlambatan psikomotorik, apatis dan ataksia.
stadium lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam respon
verbal, gangguan efektif seperti pandangan yang kosong, hiperefleksi
paraparesis spastic, psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, dan kematian.
2) Meningitis kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam, sakit kepala,
malaise, kaku kuduk, mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-
kejang. diagnosis ditegakkan dengan analisis cairan serebospinal
c. Gastrointestinal Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang
diperbarui untuk penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup penurunan BB >
10% dari BB awal, diare yang kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang
kronis, dan demam yang kambuhan atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang
dapat menjelaskan gejala ini.

11
1) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam,
malabsorbsi, dan dehidrasi.
2) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal,
alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam
atritis.
3) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal
yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal,
gatal-gatal dan diare.
d. Respirasi Pneumocystic Carinii. Gejala napas yang pendek, sesak nafas (dispnea),
batuk-batuk, nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam akan menyertai pelbagi
infeksi oportunis, seperti yang disebabkan oleh Mycobacterium Intracellulare
(MAI), cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides.
e. Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster,
dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan
efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi sekunder dan sepsis. Infeksi oportunis
seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai dengan pembentukan
vesikel yang nyeri dan merusak integritas kulit. moluskum kontangiosum
merupakan infeksi virus yang ditandai oleh pembentukan plak yang disertai
deformitas. dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang difus, bersisik dengan
indurasi yang mengenai kulit kepala serta wajah.penderita AIDS juga dapat
memperlihatkan folikulitis menyeluruh yang disertai dengan kulit yang kering dan
mengelupas atau dengan dermatitis atopik seperti ekzema dan psoriasis.
f. Sensorik
1) Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata : retinitis
sitomegalovirus berefek kebutaan
2) Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran
dengan efek nyeri yang berhubungan dengan mielopati, meningitis,
sitomegalovirus dan reaksi-reaksi obat.

12
2.9 Asuhan Keperawatan pada Remaja dengan HIV/AIDS
2.9.1 Pengkajian
a. Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun.
Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun
sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya
kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan
terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan
melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah
beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap
sebagai faktor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut
bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan
kelainan hospes :
1) Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )
Terapi radiasi, defisiensi nutrisi, penuaan, aplasia timik, limpoma,
kortikosteroid, globulin anti limfosit, disfungsi timik kongenital.
2) Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)
Limfositik leukemia kronis, mieloma, hipogamaglobulemia kongenital,
protein liosing enteropati (peradangan usus).

a. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)


1) Aktifitas / Istirahat
Gejala: Mudah lelah, intoleran aktivitas, progresi malaise, perubahan pola
tidur.
Tanda: Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas
(Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan).
2) Sirkulasi
Gejala: Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
Tanda: Perubahan TD postural, menurunnya volume nadi perifer,
pucat/sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.

13
3) Integritas dan Ego
Gejala: Stress berhubungan dengan kehilangan, mencemaskan penampilan,
penolakan akan diagnosa, putus asa
Tanda: penyangkalan, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah
4) Eliminasi
Gejala: Diare intermitten terus menerus, sering dengan atau tanpa kram
abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi
Tanda: Feses encer dengan atau tanpa mukus atau darah, diare pekat dan
sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rektal, perianal, perubahan
jumlah, warna, dan karakteristik urine.
5) Makanan/Cairan
Gejala: Anoreksia, mual muntah, disfagia
Tanda: Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang
buruk, edema
6) Hygiene
Gejala: Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda: Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
7) Neurosensori
Gejala: Pusing, sakit kepala, perubahan status mental, kerusakan status
indera, kelemahan otot, tremor, perubahan penglihatan.
Tanda: Perubahan status mental, paranoid, ansietas, refleks tidak normal,
tremor, kejang, hemiparesis, kejang.
8) Nyeri/Kenyamanan
Gejala: Nyeri umum/lokal, rasa terbakar, sakit kepala, nyeri dada, pleuritis.
Tanda: Bengkak pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan, penurunan
rentang gerak.
9) Pernafasan
Gejala: ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada
dada.
Tanda: Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya
sputum.

14
10) Keamanan
Gejala: Risiko jatuh, terbakar, pingsan, luka, transfusi darah, penyakit
defisiensi imun, demam berulang, berkeringat saat malam hari.
Tanda: Perubahan integritas kulit, luka perianal/abses, timbulnya nodul,
pelebaran kelenjar limfe.
11) Seksualitas
Gejala: Riwayat berperilaku seks beresiko tinggi, menurunnya libido,
penggunaan pil pencegah kehamilan.
Tanda: Kehamilan, herpes pada genitalia
12) Interaksi Sosial
Gejala: Masalah yang ditimbulkan pasca terdiagnosa isolasi, kesepian,
adanya trauma AIDS
Tanda: Perubahan interaksi sosial
13) Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala: Kegagalan dalam perawatan, prilaku seks beresiko tinggi,
penyalahgunaan obat-obatan IV, merokok, alkoholik.

2.9.2 Diagnosa Keperawatan


a. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola
hidup yang beresiko.
b. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya
infeksi non opportunisitik yang dapat ditransmisikan.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen,
malnutrisi, kelelahan.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolik, dan menurunnya absorbsi zat
gizi.
e. Diare berhubungan dengan infeksi GI
f. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang
orang dicintai

15
2.9.3 Intervensi Keperawatan

Diagnosa Perencanaan Keperawatan


Keperawatan Tujuan dan Intervensi Rasional
kriteria hasil
Resiko tinggi Pasien akan bebas 1. Monitor tanda-tanda 1.Untuk
infeksi infeksi oportunistik infeksi baru. gunakan pengobatan dini
berhubungan dan komplikasinya teknik aseptik pada 2.Mencegah pasien
dengan dengan kriteria tak setiap tindakan invasif. terpapar oleh
imunosupresi, ada tanda-tanda 2. Cuci tangan sebelum kuman patogen
malnutrisi dan infeksi baru, lab meberikan tindakan. yang diperoleh di
pola hidup yang tidak ada infeksi 3.Anjurkan pasien rumah sakit.
beresiko. oportunis, tanda metoda mencegah 3.Mencegah
vital dalam batas terpapar terhadap bertambahnya
normal, tidak ada lingkungan yang infeksi
luka atau eksudat. patogen. 4.Meyakinkan
4. Kumpulkan spesimen diagnosis akurat
untuk tes lab sesuai dan pengobatan
order. 5.Mempertahankan
5.Atur pemberian anti kadar darah yang
infeksi sesuai order terapeutik

Resiko tinggi Infeksi HIV tidak1. 1. Anjurkan pasien atau 1.Pasien dan
infeksi (kontak ditransmisikan, tim orang penting lainnya keluarga mau dan
pasien) kesehatan metode mencegah memerlukan
berhubungan memperhatikan transmisi HIV dan informasikan ini
dengan infeksi universal kuman patogen lainnya. 2.Mencegah
HIV, adanya precautions dengan2. 2. Gunakan darah dan transimisi infeksi
infeksi kriteria kontak cairan tubuh precaution HIV ke orang lain
nonopportunisitik pasien dan tim bila merawat pasien.
yang dapat kesehatan tidak Gunakan masker bila
ditransmisikan. terpapar HIV, tidak perlu.
terinfeksi patogen
lain seperti TBC.

Intoleransi Pasien 1. 1. Monitor respon 1.Respon


aktivitas berpartisipasi dalam fisiologis terhadap bervariasi dari hari
berhubungan kegiatan, dengan aktivitas ke hari
dengan kriteria bebas
2. 2. Berikan bantuan 2. Mengurangi
kelemahan, dispnea dan perawatan yang pasien kebutuhan energi

16
pertukaran takikardi selama sendiri tidak mampu 3. Ekstra istirahat
oksigen, aktivitas. 3. 3. Jadwalkan perawatan perlu jika karena
malnutrisi, pasien sehingga tidak meningkatkan
kelelahan. mengganggu isitirahat. kebutuhan
metabolik

Perubahan nutrisi Pasien mempunyai 1. Monitor kemampuan 1. Intake menurun


kurang dari intake kalori dan mengunyah dan dihubungkan
kebutuhan tubuh protein yang menelan. dengan nyeri
berhubungan adekuat untuk 2. Monitor BB, intake tenggorokan dan
dengan intake memenuhi dan ouput mulut
yang kurang, kebutuhan 3. Atur antiemetik 2. Menentukan
meningkatnya metaboliknya sesuai order data dasar
kebutuhan dengan kriteria 4. Rencanakan diet 3. Mengurangi
metabolik, dan mual dan muntah dengan pasien dan muntah
menurunnya dikontrol, pasien orang penting lainnya. 4. Meyakinkan
absorbsi zat gizi. makan TKTP, bahwa makanan
serum albumin dan sesuai dengan
protein dalam batas keinginan pasien
normal, BB
mendekati seperti
sebelum sakit.

Diare Pasien merasa 1. Kaji konsistensi dan 1.Mendeteksi


berhubungan nyaman dan frekuensi feses dan adanya darah
dengan infeksi mengnontrol diare, adanya darah. dalam feses
GI komplikasi minimal 2.Auskultasi bunyi usus 2.Hipermortilitas
dengan kriteria 3.Atur agen usus umumnya
perut lunak, tidak antimotilitas dan dengan diare
tegang, feses lunak psilium (Metamucil) 3.Mengurangi
dan warna normal, sesuai order motilitas
kram perut hilang,4. 4. Berikan ointment A usus, yang pelan,
dan D, vaselin atau zinc memperburuk
oside perforasi pada
intestinal
4.Untuk
menghilangkan
distensi

17
Koping keluarga Keluarga atau orang 1. Kaji koping keluarga 1. Memulai suatu
tidak efektif penting lain terhadap sakit pasein hubungan dalam
berhubungan mempertahankan dan perawatannya bekerja secara
dengan cemas suport sistem dan 2. Biarkan keluarga konstruktif dengan
tentang keadaan adaptasi terhadap mengungkapkana keluarga.
yang orang perubahan akan perasaan secara verbal
2. Mereka tak
dicintai. kebutuhannya 3. Ajarkan kepada
menyadari bahwa
dengan kriteria keluaraga tentang
mereka berbicara
pasien dan keluarga penyakit dan
secara bebas
berinteraksi dengan transmisinya.
3. Menghilangkan
cara yang
kecemasan tentang
konstruktif
transmisi melalui
kontak sederhana.

2.10 Asuhan Keperawatan pada Anak dengan HIV/AIDS


2.10.1 Pengkajian
A. Data Subjektif, mencakup:
1. Pengetahuan klien tentang AIDS
2. Data nutrisi, seperti masalah makan, penurunan bb
3. Nyeri (lokasi, karakteristik, lamanya)
B. Data Objektif, meliputi:
1. Kulit, lesi, integritas terganggu
2. Bunyi nafas
3. Kondisi mulut dan genitalia
4. BAB (frekuensi dan karakteristiknya)
5. Gejala cemas
6. Pemeriksaan Fisik
7. Pengukuran TTV
8. Pengkajian Kardiovaskuler
9. Suhu tubuh meningkat, nadi cepat, tekanan darah meningkat. Gagal
jantung kongestif sekunder akibat kardiomiopati karena HIV.
10. Pengkajian Respiratori
11. Batuk lama dengan atau tanpa sputum, sesak napas, takipnea, hipoksia,
nyeri dada, napas pendek waktu istirahat, gagal napas.
12. Pengkajian Neurologik

18
13. Sakit kepala, somnolen, sulit konsentrasi, perubahan perilaku, nyeri otot,
kejang-kejang, ensefalopati, gangguan psikomotor, penurunan kesadaran,
delirium, meningitis, keterlambatan perkembangan.
14. Pengkajian Gastrointestinal
15. Berat badan menurun, anoreksia, nyeri menelan, kesulitan menelan,
bercak putih kekuningan pada mukosa mulut, faringitis, candidiasis
esophagus, candidiasis mulut, selaput lender kering, pembesaran hati,
mual, muntah, colitis akibat diare kronis, pembesaran limfa.
16. Pengkajain Renal
17. Pengkajaian Muskuloskeletal
18. Nyeri otot, nyeri persendian, letih, gangguan gerak (ataksia)
19. Pengkajian Hematologik
20. Pengkajian Endokrin
21. Kaji status nutrisi
22. Kaji adanya infeksi oportunistik
23. Kaji adanya pengetahuan tentang penularan

2.10.2 Dapatkan riwayat imunisasi


1. Dapatkan riwayat yang berhubungan dengan faktor resiko terhadap aids pada
anak-anak: penularan dari ibu ke bayi, pajanan terhadap produk darah,
khususnya anak dengan hemophilia, remaja yang menunjukan perilaku resiko
tinggi.
2. Obsevasi adanya manifestasi AIDS pada anak-anak: gagal tumbuh,
limfadenopati, hepatosplenomegaly
3. Infeksi bakteri berulang
4. Penyakit paru khususnya pneumonia pneumocystis carinii (pneumonitys inter
interstisial limfositik, dan hyperplasia limfoid paru).
5. Diare kronis
6. Gambaran neurologis, kehilangan kemampuan motorik yang telah di capai
sebelumnya, kemungkinan mikrosefali, pemeriksaan neurologis abnormal
7. Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian misal tes antibody serum.

2.10.3 Diagnosa Keperawatan


Menurut Wong (2004) diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada
anak dengan HIV antara lain:
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret
sekunder terhadap hipersekresi sputum karena proses inflamasi

19
2. Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen dari hipotalamus
sekunder terhadap reaksi antigen dan antibody (Proses inflamasi)
3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan
pemasukan dan pengeluaran sekunder karena kehilangan nafsu makan dan
diare
4. Perubahan eliminasi (diare) yang berhubungan dengan peningkatan
motilitas usus sekunder proses inflamasi system pencernaan
5. Risiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan dermatitis
seboroik dan herpers zoster sekunder proses inflamasi system integument
6. Risiko infeksi (ISK) berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh,
adanya organisme infeksius dan imobilisasi
7. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kekambuhan penyakit, diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral
8. Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan pembatasan fisik,
hospitalisasi, stigma sosial terhadap HIV
9. Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK sekunder proses penyakit
(misal: ensefalopati, pengobatan).
10. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan
penyakit yang mengancam hidup.

2.10.4 Intervensi Keperawatan


Menurut Betz dan Sowden (2002) intervensi keperawatan yang dapat
dilakukan oleh seorang perawat terhadap anak dan ibu yang sudah menderita
infeksi HIV antara lain :
1. Lindungi bayi, anak atau remaja dari kontak infeksius, meskipun kontak
biasa dari orang ke orang tidak menularkan HIV
2. Cegah penularan infeksi HIV dengan membersihkan bekas darah atau
cairan tubuh lain dengan larutan khusus, pakai sarung tangan lateks bila
akan terpajan darah atau cairan tubuh, pakai masker dengan pelindung
mata jika ada kemungkinan terdapat aerosolisasi atau terkena percikan
darah atau cairan tubuh, cuci tangan setelah terpajan darah atau cairan

20
tubuh dan sesudah lepasa sarung tangan, sampah-sampah yang
terrkontaminasi darah dimasukkan ke dalam kantong plastik limbah
khusus.
3. Lindungi anak dari kontak infeksius bila tingkat kekebalan anak rendah
dengan cara lakukan skrining infeksi, tempatkan anak bersama anak yang
non infeksi dan batasi pengunjung dengan penyakit infeksi.
4. Kaji pencapaian perkembangan anak sesuai usia dan pantau pertumbuhan
(tinggi badan, berat badan, lingkar kepala
5. Bantu keluarga untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat
kepatuhan terhadap perencanaan pengobatan
6. Ajarkan pada anak dan keluarga untuk menghubungi tim kesehatan bila
terdapat tanda-tanda dan gejala infeksi, ajarkan pada anak dan keluarga
memberitahu dokter tentang adanya efek samping
7. Ajarkan pada anak dan keluarga tentang penjadualan pemeriksaan tindak
lanjut : nama dan nomor telepon dokter serta anggota tim kesehatan lain
yang sesuai, tanggal dan waktu serta tujuan kunjungan pemeriksaan tindak
lanjut

Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan pada ibu dan anak


yang belum terinfeksi HIV antara lain :
1. Ibu jangan melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan tanpa
kondom
2. Gunakan jarum suntik steril, dan tidak menggunakan jarum suntik secara
bersama secara bergantian atau tercemar darah mengandung HIV.
3. Tranfusi darah melalui proses pemeriksaan terhadap HIV terlebih dahulu.
4. Untuk Ibu HIV positif kepada bayinya saat hamil, proses melahirkan
spontan/normal sebaiknya tidak menyusui bayi dengan ASInya
5. HIV tidak menular melalui : bersentuhan, bersalaman dan berpelukan
(kontak sosial), berciuman (melalui air liur), keringat, batuk dan bersin,
berbagi makanan atau menggunakan peralatan makan bersama, gigitan

21
nyamuk atau serangga lain, berenang bersama, dan memakai toilet
bersama sehingga tidak perlu takut dan khawatir tertular HIV.

22
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa
HIV Merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang tidak
dapat hidup di luar tubuh manusia. Kerusakan sistem kekebalan tubuh ini akan
menimbulkan kerentanan terhadap infeksi penyakit. Sedangkan AIDS atau
Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit
akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV

23
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I
Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta
Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr.
Soetomo Surabaya
Nursalam, M.Nurs (Hons) dan Nunik Dian Kurniawati, S.Kep.Ns . 2007. Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi . Jakarta : Salemba Medika.
SUMBER : http://pphipkabi.org

24