Anda di halaman 1dari 4

Naskah Monolog

“ Secercah Harapan ”
Dagna Kavita L.S.P
PANGGUNG SIMPLE DAN SEDERHANA.
Mengindikasikan tempat pembuangan sampah yang kotor, kumuh dengan banyak
botol botol bekas, yang menyesuaikan kebutuhan, cerita dan pemanggungan.

Muncul Tokoh Aku, aktor yang memainkan lakon monolog ini. Terlihat sedang lelah
dan loyo sedang memunguti botol botol bekas disekitar tempat pembuangan sampah
dekat salah satu sekolah. Lalu, memandangi sekolah tersebut.

( mengelus dada seraya berdecak kagum )


“Betapa bahagianya menjadi mereka, yang.. yaah diumurnya sekarang ini mereka bisa
menghabiskan waktunya disekolah. Sedangkan aku? ( tertawa meremehkan ) beli buku
saja tidak sanggup, apalagi bersekolah. Konyol sekali! “

( terdiam dan tertunduk lesu ) “ tetapi.. apakah aku masih bisa? Menjadi seperti mereka.
Apa aku bisa? “

Disebuah gubuk tua, gadis tersebut termenung dan meratapi nasibnya.

( mengambil cermin, dan menatap kearah cermin dengan penuh tanda tanya )
"inikah diriku? Sudah hampir umur 16 tahun namun masih dalam keadaan miris seperti ini.
Dengan baju yang tidak karuan, wajah yang kusam dan bau badan yang tidak satu
orangpun mau berteman dan mendekati aku. (menggelengkan kepala ) Seharusnya
diumurku sekarang ini, aku berpakaian putih, memakai rok berwana abu abu, memangkul
sebuah tas dan.... tentunya menggunakan sepatu bagus. “ ( melihat tubuhnya dan tertawa
masam. )

( tertunduk sembari sedang memikirkan sesuatu ) “ Sudah tidak bisa bersekolah, ditinggal
ibu pergi, dan sekarang nasibku hanya sebagai seorang pemulung. Apakah tidak ada orang
diluar sana yang memedulikan kehidupanku yang miris seperti ini? Mengapa semua orang
hanya memikirkan dirinya sendiri. Bahkan... ( mulai meninggikan suara ) Tak banyak orang
yang mencaci maki ku dengan kata kata yang kasar, dan mengatakan bahwa aku hanya
sampah masyarakat saja. “

Bangkit berdiri lalu menunjuk setiap penonton yang berada di depannya. Wajah mulai
menampakkan aksi geram, maka kesedihan mulai menciut, dan terganti dengan
wajah penuh amarah.

“ Mengapa? Mengapa dunia terasa tak adil bagiku. Semuanya tak pernah memedulikanku.
Aku hanya sendiri dalam kegelapan. Aku terkurung, aku di cekam, dan aku di kekang. Aku
takut sebias cahaya menyinariku. Bermain-main di atas kepala dan memaksaku untuk
masuk ke dalam dunia entah berantah itu. Ditengah keramaian kota Metropolitan selalu
kesepian hidup di gubuk tua tak layak tinggal ini. ”

( Perasaan geram, marah, dan suara kembali meninggi ) “ inikah yang dinamakan hidup?
EGOIS ! dunia ini memaksaku untuk bekerja, padahal seharusnya orang seusiaku hanyalah
menuntut ilmu untuk menggapai cita-cita tetapi, aku! aku hanya seorang anak pemulung
yang kesehariannya berada di tumpukan sampah. ( nada suara melemah ) Ya.. tapi
apadaya. Memang inilah kehidupanku saat ini. “

( ekspresi kebingungan disertai raut muka yang sedang geram ) “ Apa kalian tahu, banyak
anak sekolah yang lewat di depanku bahkan depan mu ( menunjuk penonton ) yang
seharusnya jam seperti ini sekolah malah hanya berjalan-jalan. Mereka? Bukannkah
mereka seharusnya disaat seperti ini menuntut ilmu di gedung besar itu? Namun mengapa
meraka hanya berjalan-jalan tertawa seakan mereka tidak memiliki beban. “

( memperagakan orang yang sakit hati ) “ Sakit hati ini, sakit! Miris? Tentu Saja miris hati
in. melihat generasi penerus bangsa yang seperti itu. Mereka memiliki semuanya,
dibandingkan denganku yang hidup tanpa pendidikan, hidup tanpa harta warisan, hidup
tanpa mengetahui apakah aku bisa makan atau minum. Aku heran kepada mereka yang
diberikan nasib lebih beruntung dariku.“

Berjalan pelan sembari berfikir dengan ekspresi yang nampak kebingungan.

“Kadang ku berfikir, bagaimana tidak sekarang banyak wakil-wakil rakyat yang meraung
mengubar janji tak pasti, korupsi dimana mana ( menggelengkan kepala pelan ) Ya
memang sepantasnya itu terjadi, mengingat banyak anak bangsa yang moralnya merosot.
Bagaimana mungkin jika orang-orang penerus bangsa seperti itu bisa membangun negeri
yang indah ini? Walaupun aku mungkin tidak bisa menjadi pemimpin di Negara ini
setidaknya aku memiliki semangat dan hati yang tulus untuk membangun negeri,
walaupun hanyalah angan. “

Kembali berjalan perlahan sambil memikirkan sesuatu.

“ Terakhir, Ayahku pernah berkata kepadaku... ( memperagakan seorang ayah ) nak,


sekarang kamu sudah menginjak dunia baru, dunia para remaja. Akan banyak hal yang
kamu temui. Ini dimana kamu akan menentukan masa depanmu. Walaupun kamu tidak
sekolah dan tidak bisa bergaul dengan anak-anak remaja yang lain. Namun jika hati dan
sifatmu tulus untuk meraih cita-citamu. Kamu bisa mencapainya”.

“ Lalu.. aku menjawab seperti ini ( memperagakan dirinya ) Tapi, apakah saya mampu
untuk meraih cita cita saya? Apakah ayah yakin bahwa aku bisa meraih cita citaku dengan
bermodal hati yang tulus? ( tertunduk, sedih ) “

“ Nak, percayalah. Meskipun saat ini kamu hanya seorang anak pemulung. Tetapi, ayah
yakin.. suatu hari nanti kamu akan jadi orang yang sukses nak. “
Terdiam, Terlihat sedang mencerna kata kata ayahnya tadi.

( menatap penonton, seperti sedang meyakinkan para penonton ) “ begitu ucapnya,


iya. Begitu kata ayahku. “

( menunduk, lalu mendongak kembali dengan suara kembali meninggi ) “ Tetapi akankah
cita-cita ku bisa tercapai Tuhan?? Aku masih labil, terkadang aku berfikir , apakah jiwaku
harus terus melayang di tengah kelamnya dunia? Mengadu nasib sendiri? Yang tidak tahu
dimana ibuku berada. “

“ Tidak...!!! Aku yakin, aku pasti bisa menggapai cita citaku dan segera bertemu dengan
ibuku. Walau aku tak tahu kapan itu bisa terjadi. Dan... asal kalian tahu ( menunjuk kearah
penonton ) orang orang sepertiku juga berhak memiliki mimpi, mereka adalah generasi
penerus bangsa juga. Bukan hanya kalian! Orang orang dari golongan tingkat tinggi yang
malah semena mena mencela kami! Camkan itu baik baik. “ ( meyakinkan penonton
dengan nada suara geram sekaligus tegas )

SELESAI