Anda di halaman 1dari 46

Prolapsus Uteri

Tugas ini dibuat untuk melengkapi persyaratan mengikuti Kepaniteraan klinik


Senior Bagian Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Di RSU Haji Medan
Provinsi Sumatera Utara

Oleh :
Khairunnisa Nasution 71170891032
Nikmatul Hasanah 71170891064
Lady Chintia Pratiwi 102118011

Pembimbing :
Dr. Nurcahya …, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU KEBIDANAN DAN


PENYAKIT
KANDUNGAN RSU HAJI MEDAN PROVINSI SUMATERA UTARA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji syukur penulis sampaikan atas kehadirat Allah


SWT yang mana atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan paper
yang berjudul “Prolapsus Uteri” ini disusun dalam rangka mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Rumah
Sakit Umum Haji Medan.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada dr.


Muslich perangin angin, Sp.OG yang telah bersedia dan meluangkan waktunya
untuk dapat memberikan bimbingan kepada penulis agar paper ini dapat
terselesaikan dengan baik

Akhirnya penulis menyadari bahwa dalam penulisan tinjauan kasus ini


masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan paper ini.

Semoga paper ini dapat memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan


khususnya kepada penulis dan kepada pembaca.

Terima kasih.
Medan, 19 Desember 2018

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................... i


Daftar Isi.................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1


BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................5
2.1 Anatomi dan Fisiologis Uterus ....................................................................5
2.2 Anatomi dan Fisiologis Panggul ..................................................................7
2.3 Definisi Prolapsus Uteri ...............................................................................9
2.4 Epidemiologi ................................................................................................9
2.5 Etiologi .......................................................................................................10
2.6 Patofisiologi ...............................................................................................15
2.7 Penegakan Diagnosis .................................................................................16
2.8 Klasifikasi ...............................................................................................19
2.9 Penatalaksanaan ......................................................................................20
2.10 Komplikasi & Prognosis .........................................................................25
2.11 Laporan Kasus ........................................................................................26

BAB III KESIMPULAN ......................................................................................37


DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................38
BAB I

PENDAHULUAN

Prolapsus uteri merupakan salah satu bentuk dari turunya peranakan, yaitu
turunnya rahim beserta jaringan penunjangnya kedalam liang atau rongga vagina.
Turunnya peranakan dapat terjadi karena adanya kelemahan pada otot besar
panggul sehingga satu atau lebih organ didalam panggul turun (Pajario, 2004).

Prolapsus uteri merupakan suatu keadaan dimana turunnya uterus melalui


hiatus genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen-ligamen (penggantung), fasia
(sarung) dan otot dasar panggul yang menyokong uterus. sehingga dinding vagina
depan jadi tipis dan disertai penonjolan kedalam lumen vagina. Sistokel yang besar
akan menarik utero vesical junction dan ujung ureter kebawah dan keluar vagina,
sehingga kadang-kadang dapat menyebabkan penyumbatan dan kerusakan ureter.
Normalnya uterus tertahan pada tempatnya oleh ikatan sendi dan otot yang
membentuk dasar panggul. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan
dan menopause, persalinan lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap,
laserasi dinding vagina bawah pada kala II, penatalaksanaan pengeluaran plasenta,
reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Oleh karena itu
prolapsus uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat (Winkjosastro, 2005).

Menurut penelitian yang dilakukan WHO tentang pola formasi keluarga dan
kesehatan, ditemukan kejadian prolapsus uteri lebih tinggi pada wanita yang
mempunyai anak lebih dari tujuh daripada wanita yang mempunyai satu atau dua
anak. Prolapsus uteri lebih berpengaruh pada perempuan di negara- negara
berkembang yang perkawinan dan kelahiran anaknya dimulai pada usia muda dan
saat fertilitasnya masih tinggi. Peneliti WHO menemukan bahwa laporan kasus
prolapsus uteri jumlahnya jauh lebih rendah daripada kasus- kasus yang dapat
dideteksi dalam pemeriksaan medik (Koblinsky M, 2001).
Penentuan letak uterus normal dan kelainan dalam letak alat genital
bertambah penting artinya, karena diagnosis yang tepat perlu sekali guna
penatalaksanaan yang baik sehingga tidak timbul kembali penyulit pascaoperasi di
kemudian hari (Wiknjosastro, 2005).

Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara berlainan, seperti


dilaporkan di klinik d’Gynecologie et Obstetrique Geneva insidensinya 5,7%, dan
pada periode yang sama di Hamburg 5,4%, Roma 6,7%. Dilaporkan di Mesir, India,
dan Jepang kejadiannya tinggi, sedangkan pada orang Negro Amerika dan
Indonesia kurang. Frekuensi prolapsus uteri di Indonesia hanya 1,5% dan lebih
sering dijumpai pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita dengan
pekerja berat. Dari 5.372 kasus ginekologik di Rumah Sakit Dr. Pirngadi di Medan
diperoleh 63 kasus prolapsus uteri terbanyak pada grande multipara dalam masa
menopause dan pada wanita petani, dari 63 kasus tersebut 69% berumur diatas 40
tahun. Jarang sekali prolapsus uteri dapat ditemukan pada seorang nullipara
(Winkjosastro, 2005).

Gejala yang timbul pada prolapsus uteri bersifat individual dan berbeda-
beda. Gejala yang biasa muncul adalah tekanan kuat pada vagina, low back pain,
serta terdapat pembengkakan pada introitus vagina dan ketika diperiksa dapat
ditemukan sistokel, rektokel atau enterokel (Andra, 2007).

Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering merupakan faktor
utama terjadinya prolapsus uteri. Wanita yang pernah melahirkan terutama yang
mempunyai riwayat melahirkan empat kali atau lebih akan mengalami kelemahan
otot besar panggul sehingga terjadi penurunan organ panggul (Suryaningdyah,
2011).

Prolapsus uteri terjadi karena kelemahan otot ligamen endopelvik terutama


ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli
disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokele. Pada keadaan ini fasia
pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang keregangannya. Faktor penyebab
lain yang sering adalah melahirkan dan menopause. Persalinan lama yang sulit,
meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pada kala
dua, penatalaksanaan pengeluaran plasenta, reparasi otot-otot panggul yang tidak
baik. Diprediksi hampir setengah dari seluruh wanita yang pernah melahirkan akan
mengalami penurunan organ peranakan (Mazna, Shafinaz Sheikh. 2007).
BAB II

PEMBAHASAN

2. Prolapsus Uteri

2.1 Anatomi dan Fisiologi Uterus


Uterus merupakan organ berongga dan berdinding tebal, terletak di
tengah-tengah rongga panggul di antara kandung kemih dan rektum. Uterus
pada wanita nulipara dewasa berbentuk seperti buah avokad atau buah pir
dengan ukuran 7,5 x 5 x 2,5 cm.
Uterus terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu corpus uteri dan serviks
uteri, dimana kedua bagian tersebut menyatu pada bagian yang disebut
ismus. Hampir seluruh dinding uterus diliputi oleh serosa (peritoneum
viseral) kecuali di bagian anterior dan di bawah ostium histologikum uteri
internum. Uterus mempunyai tiga lapisan yaitu:
A. Lapisan serosa (peritoneum viseral).
Di bawahnya terdapat jaringan ikat subserosa; lapisan yang paling
padat dan terdapat berbagai macam ligamen yang memfiksasi uterus
ke serviks.
B. Miometrium
lapisan otot uterus dan lapisan paling tebal, terdiri atas serabut-
serabut otot polos yang dipisahkan oleh jaringan ikat yang
mengandung pembuluh darah. Miometrium terdiri atas tiga lapisan,
otot sebelah luar berjalan longitudinal dan lapisan sebelah dalam
berjalan sirkuler, di antara kedua lapisan ini otot polos berjalan saling
beranyaman. Miometrium dalam keseluruhannya dapat berkontraksi
dan berelaksasi. Ketebalan miometrium sekitar 15 mm pada uterus
perempuan nulipara dewasa.
C. Endometrium
Lapisan terdalam yang terdapat di sekitar rongga uterus.
Endometrium terdiri atas epitel selapis kubik, kelenjar-kelenjar dan
stroma dengan banyak pembuluh darah yang berkelok-kelok.
Endometrium mengalami perubahan yang cukup besar selama siklus
menstruasi. Bagian atas uterus disebut fundus uteri dan merupakan
tempat tuba Falopii kanan dan kiri masuk ke uterus.

Umumnya uterus pada perempuan dewasa terletak di sumbu tulang


panggul dalam posisi anteversiofleksio, yaitu fundus uteri mengarah ke
depan, hampir horizontal, dengan mengadakan sudut tumpul antara korpus
uteri dan serviks uteri. Di Indonesia, uterus sering ditemukan dalam
retrofleksio (korpus uteri berarah ke belakang) yang pada umumnya tidak
memerlukan pengobatan.
Berikut adalahh gambar hubungan Uterus, serviks dan vagina:

2.2 Anatomi dan Fisiologi Dasar Panggul


Dasar panggul terdiri atas otot levator ani, uretra dan otot sfingter ani serta
jaringan ikat endopelvis. Lapisan pertama dukungan otot terdiri dari otot
iliococcygeus serta fascia obturator internus. Lapisan kedua terdiri dari otot
puboviseralis yaitu m. puborectalis dan m. pubococcygeus yang mengelilingi
hiatus urogenitalis dimana uretra, vagina, anorectum berjalan melaluinya Otot
levator ani mempunyai dua fungsi terpenting yaitu menjaga tegangan otot basal
yang konstan sehingga hiatus urogenitalis tetap tertutup dan juga menjadi
lempengan otot penyokong.
Bila tegangan atau tonus basal ini hilang atau menurun, hiatus genitalis
dapat melebar sehingga menyebabkan penurunan organ pelvis. Fungsi kedua
dari otot levator ani adalah secara refleks berkontraksi terhadap peningkatan
tekanan intraabdominal seperti saat batuk atau berdiri sehingga membuat
keseimbangan tekanan intraabdominal dan tekanan luar. Otot levator ani
dipersarafi oleh serabut saraf anterior S2-S4, dimana cabang motorik dari saraf
ini mempunyai kemungkinan untuk tertekan dan teregang selama persalinan
pervaginam.
Selain otot dan serabut saraf, dasar panggul juga memiliki sistem ligamen
dan jaringan ikat kompleks yang dikenal dengan fascia endopelvis. Fascia ini
menampung organ pelvis dan melekat pada dinding panggul. Terdapat tiga
tingkatan dukungan terhadap uterus dan vagina, yaitu:

 Tingkat pertama dimana apeks vagina dipertahankan di lateral ke arah


dinding pelvis dan ke arah sakrum di bagian posterior (oleh ligamen
kardinal dan sakrouterina). Posterior serviks dipertahankan oleh
ligamentum uterosakral yang membentang dari bagian serviks sampai
vertebra sakral kedua-keempat. Ligamentum kardinal menyokong bagian
lateral serviks dan merupakan penyokong utama serviks dan uterus.

 Tingkatan kedua akan memfiksasi vagina secara tranversal di antara


kandung kemih dan rektum.

 Tingkatan ketiga melekatkan vagina dengan membran dan otot perineum.

Jaringan ikat, dukungan otot dan persarafan di daerah pelvis dapat


mengalami trauma penekanan saat kehamilan dan juga menjelang persalinan
dimana regangan, robekan dan ruptur jaringan ikat, otot dan saraf dapat terjadi.
Hal ini dapat memberikan efek jangka pendek dan jangka panjang berupa
prolapsus organ pelvis.
2.3 Definisi
Prolapsus uteri adalah suatu kondisi jatuh atau tergelincirnya uterus ke
dalam atau keluar melalui vagina. Hal tersebut dikarenakan dukungan yang
tidak adekuat dari ligamentum kardinal dan uterosakral serta struktur
penyangga pelvis mengalami kerusakan dan kadang-kadang organ pelvis
yang lain juga ikut turun.
Prolaps uteri adalah turunnya uterus kedalam introitus vagina
yangdiakibatkan oleh kegagalan atau kelemahan dari ligamentum dan
jaringan penyokong (fasia).
2.4 Epidemiologi
Prolapsus organ panggul (POP) masih menjadi masalah kesehatan pada
wanita yang mengenai hingga 40% wanita usia di atas 50 tahun. Prolapsus
uteri merupakan salah satu jenis prolapsus organ panggul (genitalia) dan
menjadi kasus nomor dua tersering setelah cystouretrochele (bladder and
urethral prolapse).
Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara, seperti dilaporkan di
klinik Gynecologie et Obstetrique Geneva insidennya 5,7% dan pada periode
yang sama di Hamburg 5,4%, Roma 6,4%. Dilaporkan di Mesir, India, dan
Jepang kejadiannya cukup tinggi.

Prolapsus organ panggul (POP) merupakan masalah yang sering dialami


dengan prevalensi 41-50% dari keseluruhan perempuan di atas usia 40 tahun
dan akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia harapan hidup seorang
perempuan. Insidensi bedah untuk POP yaitu 15-49 kasus per 10.000
perempuan per tahun.

Pada studi Women’s Health Initiative (Amerika), 41 % wanita usia 50-79


tahun mengalami Prolapsus Organ Panggul (POP), diantaranya 34%
mengalami cystocele, 19% mengalami rectocele dan 14% mengalami
prolapsus uteri. Prolapsus terjadi di Amerika sebanyak 52% setelah wanita
melahirkan anak pertama, sedangkan di Indonesia prolapsus terjadi sebanyak
3,4-56,4% pada wanita yang telah melahirkan. Data Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo menunjukkan setiap tahun ada 47-67 kasus prolapsus, dan
sebanyak 260 kasus pada tahun 2005-2010 yang mendapat tindakan operasi.
2.5 Etiologi

Penyebab prolapsus organ panggul belum diketahui secara pasti, namun


secara hipotetik penyebab utamanya adalah persalinan pervaginam dengan
bayi aterm.9 Pada studi epidemiologi menunjukkan bahwa faktor risiko
utama penyebab prolapsus uteri adalah persalinan pervaginam dan penuaan.
Para peneliti menyetujui bahwa etiologi prolapses uteri berkembang secara
multifactorial dan bertahap serta memakan waku bertahun.

Berikut ini adalah factor resiko dari prolapses uteri:

Faktor obstetri Faktor non-obstetri

1) Paritas 1) Genetik

2) Persalinan pervaginam 2) Usia

3) Perpanjangan kala 2 3) Ras

persalinan (> 2 jam) 4) Menopause

4) Makrosomia (berat badan 5) Peningkatan BMI

lahir ≥ 4000 gram) (obesitas)

5) Persalinan dengan tindakan 6) Peningkatan tekanan intra

(riwayat persalinan dengan Abdomen

forsep atau ekstraksi vakum) 7) Kelainan jaringan ikat

8) Merokok
a. Faktor Obstetri
1. Proses Persalinan dan paritas
Prolapsus uteri terjadi paling sering pada wanita multipara sebagai
akibat progresif yang bertahap dari cedera melahirkan pada fascia
endopelvik (dan kondensasi, ligamentum uteroskral dan kardinal) dan
laserasi otot, terutama otot-otot levator dan perineal body (perineum).
Persalinan pervaginam merupakan faktor risiko utama terjadinya
prolapsus organ genital. Pada penelitian tentang levator ani dan fascia
menunjukkan bukti bahwa kerusakan mekanik dan saraf terjadi pada
perempuan dengan prolapsus dibandingkan perempuan tidak
prolapsus, dan hal tersebut terjadi akibat proses melahirkan
Secara global, prolapsus mempengaruhi 30% dari semua wanita
yang telah melahirkan.27 Jumlah paritas berbanding lurus dengan
kejadian prolapsus. WHO Population Report (1984) menduga bahwa
kejadian prolapsus akan meningkat tujuh kali lipat pada perempuan
dengan tujuh anak dibandingkan dengan perempuan yang
mempunyai satu anak.
2. Faktor Obstetri lainnya
Penggunaan forsep, vakum, dan episiotomi, disebutkan sebagai
faktor risiko potensial dalam terjadinya prolaps organ panggul.
Penggunaan forsep secara langsung terlibat dalam terjadinya cedera
dasar panggul, yaitu dalam kaitannya dengan terjadinya laserasi
sfingter anal. Manfaat forsep terhadap dasar panggul dalam
memperpendek kala dua masih mempunyai bukti yang kurang.
Penggunaan forsep elektif untuk mencegah kerusakan pada dasar
panggul tidak direkomendasikan.
Percobaan kontrol secara acak pada penggunaan elektif dan
selektif episiotomi tidak menunjukkan manfaat, tetapi telah
menunjukkan hubungan dengan terjadinya laserasi sfingter anal
inkontinensia dan nyeri pasca persalinan.10 Sejumlah cedera pada ibu
dan bayi dapat terjadi sebagai akibat penggunaan forsep. Luka yang
dapat ditimbulkan pada ibu berkaitan dengan penggunaan forsep
berkisar dari ekstensi sederhana sampai ruptur uterus atau kandung
kemih.28 Klein, dkk menemukan hubungan antara episiotomi dan
berkurangnya kekuatan dasar panggul tiga bulan post partum.
b. Faktor Ginekologi
1. Faktor Genetik
Dua persen prolapsus simptomatik terjadi pada perempuan nulipara.
Perempuan nulipara dapat menderita prolapsus dan diduga merupakan
peran dari faktor genetik. Bila seorang perempuan dengan ibu atau
saudaranya menderita prolapsus, maka risiko relatif untuk menderita
prolapses, dibandingkan jika ibu atau saudara perempuan tidak memiliki
riwayat prolapsus.
2. Usia
Bertambahnya usia akan menyebabkan berkurangnya kolagen
dan terjadi kelemahan fascia dan jaringan penyangga. Hal ini terjadi
terutama pada periode post-menopause sebagai konsekuensi akibat
berkurangnya hormon estrogen.
3. Ras
Perbedaan ras pada prevalensi prolapsus organ panggul (POP)
telah dibuktikan dalam beberapa penelitian. Perempuan berkulit
hitam dan perempuan Asia memiliki risiko yang lebih rendah,
sedangkan perempuan Hispanik dan berkulit putih memiliki risiko
tertinggi. Perbedaan kandungan kolagen antar ras telah dibuktikan,
tetapi perbedaan bentuk tulang panggul juga diduga memainkan
peran. Misalnya, perempuan kulit hitam lebih banyak yang memiliki
arkus pubis (lengkungan kemaluan) yang sempit dan bentuk panggul
android atau antropoid. Bentuk-bentuk panggul tersebut adalah
pelindung terhadap POP dibandingkan dengan panggul ginekoid
yang merupakan bentuk panggul terbanyak pada perempuan berkulit
putih.
4. Monopouse
Pada usia 40 tahun fungsi ovarium mulai menurun, produksi
hormon berkurang dan berangsur hilang, yang berakibat perubahan
fisiologik. Menopause terjadi rata-rata pada usia 50-52 tahun.
Hubungan dengan terjadinya prolaps organ panggul adalah, di kulit
terdapat banyak reseptor estrogen yang dipengaruhi oleh kadar
estrogen dan androgen. Estrogen mempengaruhi kulit dengan
meningkatkan sintesis hidroksiprolin dan prolin sebagai penyusun
jaringan kolagen. Ketika menopause, terjadi penurunan kadar
estrogen sehingga mempengaruhi jaringan kolagen, berkurangnya
jaringan kolagen menyebabkan kelemahan pada otot-otot dasar
panggul Saraf pada serviks merupakan saraf otonom, sebagian besar
serabut saraf cholinesterase yang terdiri dari serabut saraf adrenergik
dan kolinergik, jumlah serabut kolinergik lebih sedikit. Sebagian
besar serabut ini menghilang setelah menopause.
5. Peningkatan BMI (Obesitas)
Obesitas menyebabkan memberikan beban tambahan pada otot-
otot pendukung panggul, sehingga terjadi kelemahan otot-otot dasar
panggul. Pada studi Women’s Health Initiative (WHI), kelebihan
berat badan (BMI 25 – 30 kg/m2) dikaitkan dengan peningkatan
kejadian prolapsus dari 31-39%, dan obesitas (BMI > 30 kg/m2)
meningkat 40-75%
6. Peningkatan Tekanan Intra Abdomen
Tekanan intra abdomen yang meningkat karena batuk-batuk
kronis (bronkitis kronis dan asma), asites, mengangkat beban berat
berulang-ulang, dan konstipasi diduga menjadi faktor risiko
terjadinya prolapsus. Seperti halnya obesitas (peningkatan indeks
massa tubuh) batuk yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan
intraabdomen (rongga perut) dan secara progresif dapat
menyebabkan kelemahan otot-otot panggul.
7. Kelainan jaringan ikat
Wanita dengan kelainan jaringan ikat lebih untuk mungkin untuk
mengalami prolapsus. Pada studi histologi menunjukkan bahwa pada
wanita dengan prolapsus, terjadi penurunan rasio kolagen tipe I
terhadap kolagen tipe III dan IV.10 Pada beberapa penelitian,
sepertiga dari perempuan dengan Sindroma Marfan dan tigaperempat
perempuan dengan Sindroma Ehler- Danlos tercatat mengalami
POP.17 Kelemahan bawaan (kongenital) pada fasia penyangga pelvis
mungkin penyebab prolapsus uteri seperti yang kadang-kadang
ditunjukkan pada nulipara.
8. Merokok
Merokok juga dikaitkan dalam pengembangan prolapsus. Senyawa
kimia yang dihirup dalam tembakau dipercaya dapat menyebabkan
perubahan jaringan yang diduga berperan dalam terjadi prolapsus.10
Namun, beberapa penelitian tidak menunjukkan hubungan antara
merokok dengan terjadinya prolapses.
2.6 Patofiologi

Penyangga organ panggul merupakan interaksi yang kompleks antara otot-


otot dasar panggul, jaringan ikat dasar panggul, dan dinding vagina. Interaksi
tersebut memberikan dukungan dan mempertahankan fungsi fisiologis organ-
organ panggul. Apabila otot levator ani memiliki kekuatan normal dan vagina
memiliki kedalaman yang adekuat, bagian atas vagina terletak dalam posisi
yang hampir horisontal ketika perempuan dalam posisi berdiri.
Posisi tersebut membentuk sebuah “flap-valve” (tutup katup) yang
merupakan efek dari bagian atas vagina yang menekan levator plate selama
terjadi peningkatan tekanan intra abdomen. Teori tersebut mengatakan bahwa
ketika otot levator ani kehilangan kekuatan, vagina jatuh dari posisi horisontal
menjadi semi vertikal sehingga menyebabkan melebar atau terbukanya hiatus
genital dan menjadi predisposisi prolapsus organ panggul. Dukungan yang tidak
adekuat dari otot levator ani dan fascia organ panggul yang mengalami
peregangan menyebabkan terjadi kegagalan dalam menyangga organ panggul.
Mekanisme terjadinya prolapsus uteri disebabkan oleh kerusakan pada
struktur penyangga uterus dan vagina, termasuk ligamentum uterosakral,
komplek ligamentum kardinal dan jaringan ikat membran urogenital. Faktor
obstetri, dan non-obstetri yang telah disebutkan di awal diduga terlibat dalam
terjadinya kerusakan struktur penyangga tersebut sehingga terjadi kegagalan
dalam menyangga uterus dan organ-organ panggul lainnya.28,34 Meskipun
beberapa mekanisme telah dihipotesiskan sebagai kontributor dalam
perkembangan prolapsus, namun tidak sepenuhnya menjelaskan bagaimana
proses itu terjadi.
2.7 Penegakan Diagnosis
A. Anamnesis
Gejala prolapsus uteri bersifat individual, berbeda-beda pada setiap
orang. Tingkat keparahan prolapsus uteri bervariasi. Kadangkala penderita
dengan prolapsus yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun,
sebaliknya penderita lain dengan prolapsus ringan mempunyai banyak
keluhan. Keluhan-keluhan yang paling umum dijumpai.
 Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal di vagina atau
menonjol di genitalia eksterna
 Rasa sakit di panggul atau pinggang (backache) merupakan gejala
klasik dari prolapses
 Luka dan dekubitus pada porsio uteri akibat gesekan dengan celana
atau pakaian dalam
 Gangguan berkemih, seperti inkontinensia urin atau retensi urin
 Kesulitan buang air besar
 Infeksi saluran kemih berulang
 Perdarahan vagina
 Rasa sakit atau nyeri ketika berhubungan seksual (dispareunia)
 Keputihan atau cairan abnormal yang keluar melalui vagina
 Prolapsus uteri derajat III dapat menyebabkan gangguan bila berjalan
dan bekerja

Gejala dapat diperburuk apabila berdiri atau berjalan dalam waktu


yang lama. Hal ini dikarenakan peningkatan tekanan pada otot-otot
panggul oleh pengaruh gravitasi. Latihan atau mengangkat beban juga
dapat memperburuk.
B. Pemeriksaan Fisik
Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan fisik, yaitu:
a. Pasien dalam posisi telentang pada meja ginekologi dengan
posisi litotomi.
b. Pemeriksaan ginekologi umum untuk menilai kondisi patologis
lain.
c. Inspeksi vulva dan vagina, untuk menilai:
 Erosi atau ulserasi pada epitel vagina.
 Ulkus yang dicurigai sebagai kanker harus dibiopsi
segera, ulkus yang bukan kanker diobservasi dan
dibiopsi bila tidak ada reaksi pada terapi.
 Perlu diperiksa ada tidaknya prolapsus uteri dan penting
untuk mengetahui derajat prolapsus uteri dengan
inspeksi terlebih dahulu sebelum dimasukkan
inspekulum
d. Manuver Valsava
 Derajat maksimum penurunan organ panggul dapat
dilihat dengan melakukan pemeriksaan fisik sambil
meminta pasien melakukan manuver Valsava.
 Setiap kompartemen termasuk uretra proksimal, dinding
anterior vagina, serviks, apeks, cul-de-sac, dinding
posterior vagina, dan perineum perlu dievaluasi secara
sistematis dan terpisah.
 Apabila tidak terlihat, pasien dapat diminta untuk
mengejan pada posisi berdiri di atas meja periksa.
 Tes valsava dan cough stress testing (uji stres) dapat
dilakukan untuk menentukan risiko inkontinensia tipe
stres pasca operasi prolapsus.
e. Pemeriksaan vagina dengan jari untuk mengetahui kontraksi dan
kekuatan otot levator ani.
f. Pemeriksaan rektovaginal
 Untuk memastikan adanya rektokel yang menyertai
prolapsus uteri.
C. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan, yaitu :

a. Urin residu pasca berkemih


 Kemampuan pengosongan kandung kemih perlu dinilai
dengan mengukur volume berkemih pada saat pasien
merasakan kandung kemih yang penuh, kemudian diikuti
dengan pengukuran volume residu urin pasca berkemih
dengan kateterisasi atau ultrasonografi.
b. Skrining infeksi saluran kemih.
c. Pemeriksaan urodinamik apabila dianggap perlu.
d. Pemeriksaan Ultrasonografi
 Ultrasonografi dasar panggul dinilai sebagai modalitas
yang relatif mudah dikerjakan, cost-effective, banyak
tersedia dan memberikan informasi real time.
 Pencitraan dapat mempermudah memeriksa pasien secara
klinis. Namun belum ditemukan manfaat secara klinis
penggunaan pencitraan dasar panggul pada kasus POP.
Jadi, yang dimaksud dengan prolapsus organ panggul adalah apabila jelas
ada penurunan organ ke dalam vagina atau keluar melalui vagina dengan keluhan
seperti di atas.
2.8 Klasifikasi
Terdapat beberapa cara dalam mengklasifikasikan prolapsus organ panggul.
Tahun 1996, International Continence Society, the American Urogynecologic
Society, and the Society of Gynecologic Surgeons memperkenalkan sistem
POP-Q (Pelvic Organ Prolapse Quantification). Metode penilaian prolapsus
organ pelvis ini memberikan penilaian yang objektif, deskriptif sehingga dapat
memberikan nilai kuantifikasi atau derajat ringan beratnya prolapsus yang
terjadi
Staging prolapsus organ pelvis berdasarkan sistem POP-Q adalah sebagai
berikut:

Derajat Prolapsus Organ panggul:

Derajat 0 Tidak terlihat adanya prolapsus.

Derajat I Bagian distal dari prolapsus > 1cm di atas himen.


Derajat II Bagian yang paling distal dari prolapsus < 1cm di bawah lingkaran

himen.

Derajat III Bagian yang paling distal dari prolapsus > 1cm di bawah himen,

namun kurang dari TVL (total vaginal length) – 2 cm.

Derajat IV Eversi komplit total panjang traktus genetalia bawah. Bagian distal

prolapsus uteri menurun sampai (TVL-2) cm

Untuk prolapsus uteri, Friedman dan Little (1961) mengemukakan beberapa


macam klasifikasi, tetapi klasifikasi yang dianjurkan sebagai berikut:

Desenses uteri Uterus turun, tetapi serviks masih dalam vagina.

Prolapsus uteri tingkat I Uterus turun, serviks uteri trurun paling rendah

sampai introitus vagina.

Prolapsus uteri tingkat II sebagian besar uterus keluar dari vagina.

Prolapsus uteri tingkat III uterus keluar seluruhnya dari vagina, disertai
atau prosidensia uteri dengan inversio uteri.

2.9 Penatalaksanaan
1. Observatif
Derajat luasnya prolapsus tidak berhubungan dengan gejala. Apabila
telah menderita prolapsus, mempertahankan tetap dalam stadium I
merupakan pilihan yang tepat. Observasi direkomendasikan pada wanita
dengan prolapsus derajat rendah (derajat 1 dan derajat 2, khususnya untuk
penurunan yang masih di atas himen). Memeriksakan diri secara berkala
perlu dilakukan untuk mencari perkembangan gejala baru atau gangguan,
seperti gangguan dalam berkemih atau buang air besar, dan erosi vagina.

2. Konservatif
Pilihan penatalaksaan non-bedah perlu didiskusikan dengan semua
wanita yang mengalami prolapses. Terapi konservatif yang dapat dilakukan,
diantaranya :
a. Latihan otot dasar panggul
Latihan otot dasar panggul (senam Kegel) sangat berguna pada
prolapsus ringan, terutama yang terjadi pada pasca persalinan yang
belum lebih dari enam bulan. Tujuannya untuk menguatkan otot-
otot dasar panggul dan otot-otot yang mempengaruhi miksi. Namun
pada penelitian yang dilakukan oleh Cochrane review of
conservative management prolapsus uteri menyimpulkan bahwa
latihan otot dasar panggul tidak ada bukti ilmiah yang mendukung.
Cara melakukan latihan yaitu, penderita disuruh menguncupkan
anus dan jaringan dasar panggul seperti setelah selesai buang air
besar atau penderita disuruh membayangkan seolah-olah sedang
mengeluarkan buang air kecil dan tiba-tiba menghentikannya.
b. Pemasangan pesarium
Pesarium dapat dipasang pada hampir seluruh wanita dengan
prolapsus tanpa melihat stadium ataupun lokasi dari prolapsus.
Pesarium digunakan oleh 75%-77% ahli ginekologi sebagai
penatalaksanaan lini pertama prolapsus. Alat ini dipasang dengan
bentuk dan ukuran serta indikasi tertentu.

Tipe Mekanisme kerja Indikasi Keterangan

Ring Suportif Sistokel, prolapsus Ketebalan, ukuran,

uteri ringan dan rigiditas

bervariasi

Donut Suportif Semua prolapsus

kecuali defek

posterior berat

Lever Suportif Sistokel, Mengikuti kurvatura


penurunan uterus vagina

ringan

Dish Suportif Prosidensia berat

Stem Suportif Sistokel,

prosidensia ringan

Cube Mengisi ruang Semua prolapsus Perlu dilepaskan

setiap hari

Inflantable Mengisi ruang Semua prolapsus Perlu dilepaskan

setiap hari

Pesarium dapat dipakai selama bertahun-tahun, tetapi harus diawasi


secara tepat. Penempatan pesarium bila tidak tepat atau bila ukurannya
terlalu besar dapat menyebabkan iritasi atau perlukaan pada mukosa
vagina sehingga dapat menyebabkan ulserasi dan perdarahan.
3. Operatif

Operasi pada prolapsus uteri tergantung dari beberapa faktor,


seperti umur penderita, masih berkeinginan untuk mendapatkan anak
atau mempertahankan uterus, tingkat prolapsus, dan adanya keluhan.
Prolapsus uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina. Maka, jika
dilakukan pembedahan untuk prolapses uteri, prolapsus vagina juga
perlu ditangani. Terdapat kemungkinan prolapses vagina yang
membutuhkan pembedahan, tetapi tidak ada prolapsus uteri atau
prolapsus uteri yang ada belum perlu dioperasi. Di Inggris dan Wales
pada tahun 2005-2006, 22.274 operasi dilakukan untuk prolapsus
vagina. Beberapa literatur melaporkan bahwa dari operasi prolapsus
uteri, disertai dengan perbaikan prolapsus vagina pada waktu yang
sama.2 Macam-macam operasi untuk prolapsus uteri sebagai berikut:

1) Ventrovikasi
Dilakukan pada wanita yang masih tergolong muda dan masih
menginginkan anak. Cara melakukannya adalah dengan
memendekkan ligamentum rotundum atau mengikat ligamentum
rotundum ke dinding perut atau dengan cara operasi Purandare
(membuat uterus ventrofiksasi).
2) Operasi Manchester
Operasi ini disarankan untuk penderita prolapsus yang masih
muda, tetapi biasanya dilakukan amputasi serviks uteri, dan
penjahitan ligamentum kardinale yang telah dipotong, di depan
serviks dilakukan pula kolporafi anterior dan kolpoperineoplastik.
Amputasi serviks dilakukan untuk memperpendek serviks yang
memanjang (elongasio koli). Tindakan ini dapat menyebabkan
infertilitas, partus prematurus, abortus.
Bagian yang penting dari operasi Manchester ialah penjahitan
ligamentum kardinale di depan serviks karena dengan tindakan ini
ligamentum kardinale diperpendek, sehingga uterus akan terletak
dalam posisi anteversifleksi, dan turunnya uterus dapat dicegah.
3) Histerektomi Vagina
Operasi ini tepat dilakukan pada prolapsus uteri tingkat lanjut
(derajat III dan IV) dengan gejala pada saluran pencernaan dan
pada wanita yang telah menopause. Setelah uterus diangkat,
puncak vagina digantungkan pada ligamentum rotundum kanan
dan kiri atas pada ligamentum infundibulo pelvikum, kemudian
operasi akan dilanjutkan dengan kolporafi anterior dan
kolpoperineorafi untuk mengurangi atau menghilangkan gejala
saluran pencernaan seperti, sembelit, inkontinensia flatus, urgensi
tinja, kesulitan dalam mengosongkan rektum atau gejala yang
berhubungan dengan gangguan buang air besar dan untuk
mencegah prolaps vagina di kemudian hari.2,39,40 Histerektomi
vagina lebih disukai oleh wanita menopause yang aktif secara
seksual. Di Netherlands, histerektomi vaginal saat ini merupakan
metode pengobatan terkemuka untuk pasien prolapsus uteri
simtomatik.
4) Kolpokleisis (Kolpektomi)
Tindakan ini merupakan pilihan bagi wanita yang tidak
menginginkan fungsi vagina (aktivitas seksual dan memiliki anak)
dan memiliki risiko komplikasi tinggi. Operasi ini dilakukan
dengan menjahit dinding vagina depan dengan dinding vagina
belakang, sehingga lumen vagina tertutup dan uterus terletak di atas
vagina. Keuntungan utama dari prosedur ini adalah waktu
pembedahan singkat dan pemulihan cepat dengan tingkat
keberhasilan 90 - 95%.

2.10 Komplikasi dan prognosis


A. Komplikasi
 Kreatinisasi mukosa vagina dan portio uteri
Prosidensia uteri disertaidengan keluarnya dinding vagina (inversio);
karena itu mukosa vagina danserviks uteri menjadi tebal serta berkerut, dan
berwarna keputih-putihan.
 Dekubitus
Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya bergeser dengan
paha dan pakaian dalam; hal itu dapat menyebabkan luka danradang, dan
lambat laun timbul ulkus dekubitus. Dalam keadaan
demikian, perlu dipikirkan kemungkinan karsinoma, lebih
lebih pada penderita berusia lanjur.
 Hipertrofi serviks uteri dan elangasio kolli
Jika serviks uteri turun kedalam vagina sedangkan jaringan penahan
dan penyokong uterus masihkuat, karena tarikan ke bawah di bagian uterus
yangturunserta pembendungan pembuluh darah, serviks uteri mengalami h
ipertrofi danmenjadi panjang pula. Hal yang terakhir ini dinamakan
elongasio kolli.
 Kemandulan
Karena serviks uteri turun sampai dekat pada introitusvaginae atau
sama sekali keluar dari vagina, tidak mudah terjadi kehamilan.

B. Prognosis
Sebagian besar wanita (lebih dari 40%) yang mempunyai prolaps
derajat awal biasanya timbul gejala minimal atau tidak terdapat gejala sama
sekali. Latihan otot dasar panggul dapat membantu atau mencegah
perburukan prolaps derajat awal.

LAPORAN KASUS GINEKOLOGI

STATUS ORANG SAKIT

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. M
Umur : 44 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SMP
Alamat : DSN IV. Gang Baharu, Sei Rotan
Tanggal Masuk : 27 September 2018
Pukul : 21.00 WIB
Nama : Tn.H
Umur : 48 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA
Alamat : DSN IV. Gang Baharu, Sei Rotan

ANAMNESA
Ny. D, 44 th, G3P3A0, Islam, IRT, SMP i/d Tn. H, 48 th, Islam, Wiraswasta,
SMA, datang ke RS Haji Medan pada tanggal 27 September 2018 pada pukul 21.00
WIB dengan :
Keluhan Utama : Perdarahan sejak 1 bulan yang lalu
Telaah : Pasien datang ke IGD RS Haji Medan dengan
keluhan perdarahan yang di alami kurang lebih 1 bulan yang lalu, perut terasa mules
(+), sakit perut (+), keputihan (-). Riwayat keluar lendir bercampur darah (-),
Riwayat bercampur dengan suami beberapa hari ini (-), Riwayat Trauma (-),
Riwayat perut di kusuk (-), BAB dan BAK dalam batas normal.

RIWAYAT HAID :

• Menarche : 12 tahun
• Lama haid : 2-3 hari
• Siklus Haid : 28 hari
• Volume : 2x ganti duk (pembalut) /hari
• Dysmenorrhea : (-)
• Metrorrhagia : (-)
• Menorrhagia : (-)
• Spotting : (-)
• Darah beku : (-)
• Contact bleeding : (-)
• Climacterium : (-)
• Menopause : (-)
Kehamilan dan persalinan yang lalu :

P3A0

1. Perempuan/3000 gr/Rumah/ Bidan/ 21th/ Sehat


2. Laki-laki/4000 gr/Rumah/ Bidan/ 19 th/ Sehat
3. Laki-laki/3700 gr/Rumah/ Bidan/ 13th/ Sehat
Keputihan
- Jumlah : sedikit / sedang / banyak
- Warna : kekuningan
- Bau : -
- Konsistensi : encer / kental / berlendir
- Gatal (pruritus vulvae) :+

Seksual / Perkawinan :

Umur Kawin Istri : 22 tahun Suami : 24 tahun

Lama Kawin : 22 tahun

Kemandulan :-

Frigiditas / Vaginismus :-

Libido : kurang / sedang / kuat / hiperseksull.

Frekuensi koitus : Tidak ditanyakan

Orgasmus :-
Dispareuni :-

Kelurga Berencana :-

Gizi dan Kebiasaan

• Nafsu makan : Sedang


• Perubahan berat badan : Tidak
• Merokok / Suntil : Tidak
• Alkohol : Tidak
• Kebiasaan makan obat : Tidak ada
• Obat-obat yang di masukan kedalam vagina : Tidak ada
Penyakit-penyakit yang pernah diderita :

Tuberculosis :(-) Penyakit hati :(-)


Peny. Jantung / pemb. Darah : ( - ) Penyakit ginjal : ( - )
Penyakit endokrin :(-) Peny. Kelamin : ( - )
Hipertensi :(-) Diabetes Melitus: ( - )

Pengobatan Penyinaran :

Lokalisasi :-
Lama penyinaran :-

PEMERIKSAAN FISIK

a. Status present

Keadaan umum : Compos Mentis Dyspnoe :-

Keadaan Gizi : Baik Edema :-

Keadaan Penyakit : Cyanose :-


- Bisa jalan sendiri √ Suhu : 36,80 C
- Bisa duduk sendiri Tekanan darah:120/70 mmhg
- Hanya berbaring saja Tinggi badan : 155 cm
Berat Badan : 59 kg Anemi :+

Habitus :- Icterus :-

b. Status Generalisata

• Kepala : Dalam batas normal


• Leher : Dalam batas normal
• Thorax :
– Cor : Bunyi Jantung normal, reguler, Bunyi Jantung Tambahan
(-)
– Pulmo : Suara pernapasan vesikuler, suara tambahan (-)
– Kelenjar – kelenjar supra / intra clavikula : tidak teraba
– Mamae : DBN
• Membesar :-
• Hiperpigmentasi :-
• Colostrum :-
• Secret :-
• Tumor-tumor :-
• Tegang :-

• Abdomen :
– Membesar : (+)
– Simetris / Asimetris : Asimetris
– Soepel : (+)
– Defense Musculare : (-)
– Hepar : Tidak Teraba
– Lien : Tidak Teraba
– Shifting Dullness : (-)
– Meteorismus : (-)
– Ascites : (-)
– Peristaltik Usus : (+) N
– Tumor : (-)
– Besarnya : sebesar tinju dewasa
– Batas-batasnya : pole atas 3 jari dibawah pusat, pole bawah
selentang symphysis pubis
– Konsistensi : solid
– Permukaan : rata
– Nyeri tekan : (+)
c. Status Ginekologi
Pemeriksaan Dalam
Inspekulo :

Portio : licin
- Erosi :-
- - Polip :-
- Ectropion : - - Bunga kol (exophytik) : -
- Laserasi :- - Leukoplakia : -
- Ovula naboti : - - Schiller test : -
- Tampak gumpalan darah di fornix posterior, dibersihkan tidak
mengalir
Vaginal Toucher

Uterus

– Posisi : Anteflexi
– Besarnya : Sebesar tinju dewasa
– Mobilitas : Mobile
– Konsistensi : Lunak
– Sakit waktu digerakkan : (-)
– Nyeri tekan : (+)
Parametrium Kanan/Kiri : Lemas

Adnexa Kanan/Kiri : adnexa kanan dan kiri tidak teraba

Cavum douglas : Tidak menonjol

Douglas crise : (-)

Vagina

- Dinding : Normal
- tanda-tanda peradangan : (-)
- sekret : (-)
- massa : (-)
Pemeriksaan sekret vagina
Langsung : tidak dilakukan pemeriksaan
Kultur : tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan rectal toucher : spingter ani ketat, mukosa rectum licin (tidak teraba
massa, ampulla recti kosong
PAP’S SMEAR
Diambil tanggal : (-)
Hasil : (-)
Anjuran : (-)
DIAGNOSA BANDING
 Hiperplasia Endometrium

 Karsinoma endometrium

 Abortus inkomplit

 Leiomioma
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Radiologi

• Thorax :Cor/ pulmo dalam batas normal


• Abdomen :Tidak dilakukan pemeriksaan
• BNO-IVP :Tidak tampak kelainan tractus urinarius

USG-TAS: tanggal 12/12/2018

- KK terisi baik
- UT : Sulit dinilai tampak penebalan pada dinding rahim 1,75 cm.
- Cairan bebas (-)
- Kesan : hiperplasia endometrium

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 13/12/ 2018 jam 11.49

Hematologi
Darah rutin Nilai Nilai Rujukan satuan
Hemoglobin 10,5 12 – 16 g/dl
Hitung eritrosit 4,3 3,9 - 5,6 106/µl
Hitung leukosit 11.820 4,000- 11,000 /µl
Hematokrit 34.5 36-47 %
Hitung trombosit 492.000 150,000-450,000 /µl

Index eritrosit
MCV 77,0 80 – 96 fL
MCH 244,4 27 – 31 pg
MCHC 31.7 30 – 34 %

Hitung jenis leukosit


Eosinofil 5 1–3 %
Basofil 0 0–1 %
N.Stab 0 2– 6 %
N. Seg 68 53–75 %
Limfosit 22 20–45 %
Monosit 4 4–8 %
Laju Endap Darah - 0-20 mm/jam

Kimia Klinik
GDS 91 <140 mg/dL

DIAGNOSA

Hiperplasia endometrium

TERAPI

- IVFD RL 20 gtt/i
- Inj. Cefataxim 2gr/iv
- Rencana kuretase tanggal 28 September 2018 jam 09.00 wib
FOLLOW UP PRE-OP Tanggal 13 Desember 2018
- S : perdarahan (+), nyeri perut (+)
- O : sensorium : CM
- TD : 120/90mmHg
- HR : 70x/i
- RR : 24x/i
- T : 36oC
- Status Lokalisata
- Abdomen : soepel, peristaltik (+) N
- TFU : tidak teraba ballottement
- P/V :-
- BAB dan BAK : (+) N
- A : hiperplasia endometrium
- P : IFVD RL 20 gtt/i
- Inj. Cefotaxime 2 gr/8 jam
- Rencana : kuretase hari ini

LAPORAN DILATASI DAN KURETASE

Operator : dr. A. Khuwalid , Sp.OG

Dibuat oleh : dr. Asmin lbs Sp.An

Tanggal : 13 Desember 2018

Jenis Anestesi : General anastesi

Jenis Operasi : dilatasi dan kuretase

Langkah-langkah dilatasi dan kuretase

1) Tindakan untuk memperlebar kanalis servikalis dilakukan dengan


pemasangan batang laminaria, dimulai dengan mendesinfektan bagian vagina
dan sekitarnya setelah itu pasang spekulum cocor bebek sesuai dengan
ukuran vagina pasien, bersihkan terlebih dahulu vagina bagian dalam dengan
kassa, pastikan posisi mulut rahim terlihat dan ukur kedalamn panjang rahum,
lalu pasang batang laminaria kaitkan kassa dengan benang pada ujung
laminaria dengan ikat simpul. Masukkan tampon kassa dalam vagina, dalam
waktu maksimum 12 jam sebelum tindakan kuretase.
2) Dilatasi juga dapat dilakukan dengan dilatator Hegar yang terbuat dari logam
dari berbagai ukuran (antara 0.5 cm sampai 1.0 cm)
3) Setelah persiapan operator dan pasien selesai, pasien diminta untuk berbaring
pada posisi lithotomi setelah sebelumnya mengosongkan vesica urinaria.
4) Dibawah general anastesi dilakukan tindakan antiseptic pada permukaan
vagina dengan larutan betadin dan alkohol
5) Dilakukan pemeriksaan dalam ulangan untuk menentukan posisi servik, arah
dan ukuran uterus serta keadaan adneksa
6) Spekulum dipasang dan bibir depan porsio dijepit dengan 1 atau 2 buah
cunam servik.
7) Gagang sonde dipegang antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan dan
kemudian dilakukan sondage untuk menentukan arah dan kedalaman uterus
8) Bila perlu dilakukan dilatasi dengan dilatator Hegar
9) Sendok kuret dipegang diantara ujung jari dan jari telunjuk tangan kanan
(hindari cara memegang sendok kuret dengan cara menggenggam), sendok
dimasukkan ke kedalam uterus dalam posisi mendatar dengan lengkungan
yang menghadap atas.
10) Pengerokan uterus dikerjakan secara sistematik ( searah dengan jarum jam
dan kemudian berlawanan arah dengan jarum jam ). Dokter kemudian
melakukan tindakan kuret dengan alat kuret atau dengan alat hisap.
11) Spekulum di lepaskan kembali.
12) Keadaan umum ibu post kuret baik.
Terapi : IVFD RL 20 gtt/i

Ceftriaxone 1 gr/12 jam

Asam mefenamat 3 x 1

Neurodex 2 x 1

Rencana : Awasi perdarahan, vital sign

Follow Up Tanggal 14 Desember 2018

S : perut terasa mules


O : Sensorium : Compos Mentis
TD : 120/70 mmHg
HR : 68 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36 ºC
A : Post curet
P : Ceftriaxone 3 x 1

Asam mefenamat 3 x 1

Neurodex 2 x 1

Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi Tanggal 14 Desember 2018

- Makroskopi
Diterima jaringan endometrium compang-camping sekitar 6 cc, warna
cokelat kehitaman, konsistensi padat kenyal.
- Mikroskopi
Jaringan telah diproses seluruhnya menunjukkan endometrium dengan
gambaran kelenjar dilatasi sedikit stroma endometrium, pola dan
formasi kelenjar regular

- Kesan : simple hyperplasia endometrium

Follow Up Tanggal 15 Desember 2018

S : -
O : Sensorium : Compos Mentis
TD : 120/80 mmHg
HR : 70 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36 ºC
A : Post curet
P : Ceftriaxone 3 x 1

Asam mefenamat 3 x 1

Neurodex 2 x 1

Pbj

BAB III

Kesimpulan

1. Prolaps uteri adalah turunnya uterus kedalam introitus vagina yang


diakibatkan oleh kegagalan atau kelemahan dari ligamentum dan jaringan

penyokong (fasia).

2. Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan

penyulit, merupakan penyebab prolapsus uteri, dan memperburuk prolaps

yang sudah ada.

3. Prolapsus uteri tingkat I,dimana serviks uteri turun sampai introitus

vaginae; Prolapsus uteri tingkat II, dimana serviks menonjol keluar dari

introitus vaginae; Prolapsus uteri tingkat III, seluruh uterus keluar dari

vagina, prolapsus ini juga dinamakan prosidensia uteri.

4. Gejala yang sering mucul adalah Perasaan adanya suatu benda yang

mengganjal atau menonjol di genialia eksterna. Rasa sakit di panggul dan

pinggang (backache). Biasanya jika penderita berbaring, keluhan

menghilang atau menjadi kurang.

5. Penatalaksanaan pada prolaps uterus yaitu: observasi, konservarif, dan

terapi pembedahan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Faraj R, Broome J. Laparoscopic Sacrohysteropexy and Myomectomy


for Uterine Prolapse: A Case Report and Review of the Literature. Journal
of Medical Case Report 2009. [database on the NCBI]. [cited on September 23,
2013]; 02:1402. Available
from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pmc/articles/PMC2783099/pdf/1752-1947-
3-99.pdf .

2. Barsoom RS, Dyne PL. Uterine Prolapse in Emergency Medicine.Medscape


Article. [database on the medscape] 2011. [cite on September 28, 2013].
Available from:http://emedicine.medscape.com/article/797295-
overview#showall.

3. Anhar K, Fauzi A. Kasus Prolapsus Uteri di Rumah Sakit DR.


MohammadHoesin Palembang Selama Lima Tahun (1999– 2003).
DepartemenObstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran
UniversitasSriwijaya/RSMH Palembang. [database on the internet]. [cited
onSeptember 23, 2013]. Available
from:http://digilib.unsri.ac.id/download/KASUS%20PROLAPSUS%20UTERI
%20DI%20RUMAH%20SAKIT%20DR_%20MOHMMAD%20HOESIN.pdf
.

4. Detollenaere RJ, Boon J, Stekelenburg J, Alhafidh AH, Hakvoort RA, etal.


Treatment of Uterine Prolapse Stage 2 or Higher: A RandomizedMulticenter
Trial Comparing Sacrospinnosus Fixation with VaginalHysterectomy (SAVE U
Trial).BMC Womens Health Journals 2011.[database on the NCBI]. [cited on
September 23, 2013]; 02:1402.Available
from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3045971/ pdf/1472-6874-
11-4.pdf .

5. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Ilmu Kandungan. EdisiKedua,


Cetakan Ketujuh. Jakarta: PT Bina Pustaka SarwonoPrawirohardjo. 2009. Hal:
9-11,432,433,436,437

6. Anatomy of Uterine [Image on the Gray’s Anatomy Student Consult]2010.


[cited on September 27, 2013]. Available
from:http://www.studentconsult.com/bookshop/chome/default.cfm?shortcut=a
natomy.

7. Standring S, Ellis H, Healy JC, Johnson D, Williams A, et al. Gray’s Anatomy:


The Anatomical Basis of Clinical Practice. 39th Edition.[textbook of Anatomy].
Elsevier Churchill Livingstone: 2008

Anda mungkin juga menyukai