Anda di halaman 1dari 16

5.1.

1 Pola Konservasi

5.1.1.1 Pola Konservasi Lahan Kritis di Dalam Kawasan Hutan

Peranan fungsi kawasan mangrove pada hakekatnya merupakan pengendali alamiah


terhadap lahan basah di bagian belakangnya. Terganggunya kawasan mangrove di Segara
Anakan, sebagai akibat dari genangan air tawar dan akumulasi sedimen yang dibawa oleh sungai
dapat menyebabkan kematian total terhadap jenis-jenis mangrove berakar lutut. Sedimentasi
tanah kapur yang terjadi akibat dari aktivitas pemanfaatan bahan baku semen menyebabkan
sistem perakaran mangrove menjadi terganggu. Lumpur berpasir yang menjadi persyaratan
habitat mangrove menjadi dangkal dan mengeras, hingga menyebabkan kematian mangrove
secara total, dan kini mulai digantikan oleh semak jenis-jenis wrakas dan gradelan.

Terganggunya komunitas mangrove pada zona ini, berpengaruh langsung terhadap


semakin menjauhnya batas pasang surut. Semakin jauh batas pasang surut, menyebabkan
terhambatnya aliran air sungai yang masuk ke laguna Segara Anakan, hingga menyebabkan lebih
dari 10 tahun sawah-sawah di daerah Sitinggil dan Kawunganten terendam, dan tidak produktif
lagi menjadi lahan pesawahan aspek konservasi sumber daya air, khususnya terhadap: a. tingkat
kekritisan daerah aliran sungai (DAS), meliputi prosentase tutupan lahan terhadap luas DAS, laju
erosi lahan, tingkat sedimentasi sungai, dan rasio debit maksimum dan minimum; b. penggerusan
garis pantai; dan c. sarana dan prasarana sumber daya air

5.1.1.2 Pola Konservasi Lahan Kritis di Luar Kawasan Hutan

Perubahan tata guna lahan di DAS terutama di daerah catchment area tidak diimbangi
dengan usaha dan upaya konservasi. Diganggunya hutan pelindung lahan sebagai media
penangkap hujan menyebabkan air hujan sebagian besar menjadi run off dan langsung ke badan
sungai sehingga menyebabkan banjir dengan membawa erosi dan sedimentasi yang tinggi. Air
hujan yang meresap makin sedikit, maka tanah di lapisan bawah secara alami tidak lagi
menampung air (natural groundwater reservoir) maka pada musim kemarau terjadi kekeringan.
Semakin berkurangnya kawasan hutan juga dapat menambah jumlah kategori luas lahan kritis di
DAS. Terjadinya lahan-lahan kritis di DAS tidak saja menyebabkan penurunan produktivitas
tanah, tetapi juga menyebabkan rusaknya fungsi hidrologis DAS dalam menahan, menyimpan
dan meresapkan air hujan yang jatuh pada kawasan DAS yang menyebabkan semakin
menurunya kuantitas dan kualitas air sungai (sedimentasi sungai). Di wilayah DAS Citanduy
sendiri masih banyak terdapat lahan kritis, bahkan jumlahnya terus bertambah seiring semakin
berkurangnya luas hutan yang ada di DAS. Luas lahan kritis di DAS Citanduy disajikan pada
tabel berikut ini:

Ciri utama lahan kritis adalah gundul, berkesan gersang, dan bahkan muncul batu-batuan
di permukaan tanah, topografi lahan pada umumnya berbukit atau berlereng curam. Meluasnya
lahan kritis dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya tekanan penduduk, perluasan areal
pertanian yang tidak sesuai, perladangan berpindah, pengelolaan hutan yang tidak baik, dan
pembakaran yang tidak terkendali.

5.1.2 Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air


Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu (Integrated Water Resources Management, IWRM)
merupakan suatu proses koordinasi dalam pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air dan
lahan serta sumberdaya lainnya dalam suatu wilayah sungai, untuk mendapatkan manfaat
ekonomi dan kesejahteraan sosial yang seimbang tanpa meninggalkan keberlanjutan ekosistem.
Pengelolaan sumberdaya air terpadu memfokuskan pada pengelolaan terpadu antara kepentingan
bagian hulu dan kepentingan bagian hilir sungai, pengelolaan terpadu antara kuantitas dan
kualitas air, antara air tanah dan air permukaan, serta antara sumberdaya lahan dan sumberdaya
air. Konsep IWRM ini diharapkan dapat mengatasi masalah kelangkaan air, banjir, polusi hingga
distribusi air yang berkeadilan.

Perkembangan dan implementasi konsep IWRM di Indonesia sangat berliku dan


mengalami beragam kendala, dikenal slogan One River-One Plan-One Management. Namun
hingga saat ini koordinasi antar sektor yang menguasai empat hal yang perlu diterpadukan
tersebut di atas, belum dapat berjalan dengan baik. Penebangan hutan terus berlanjut hingga
mengakibatkan bencana banjir serta sedimentasi waduk dan muara sungai, pengambilan air tanah
(blue water) yang lebih sulit diperbaharui terus berlangsung tanpa memperhatikan kemungkinan
penurunan muka tanah dan intrusi air asin, penggalian pasir tidak terkendali, sehingga
mengakibatkan terjadinya degradasi dasar sungai yang membahayakan beberapa infrastruktur
lainnya.

Upaya untuk koordinasi pengelolaan sumberdaya air pernah dilakukan oleh pemerintah
pada kesempatan memperingati Hari Air Sedunia XII tahun 2004 pada tanggal 23 April 2004.
Pada saat itu dicanangkan komitmen pemerintah dalam pengelolaan Sumber Daya Air dengan
penandatanganan Deklarasi Nasional Pengelolaan Air yang Efektif dalam Penanggulangan
Bencana oleh 11 Menteri dalam koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan
Rakyat yang terdiri dari Menko Kesra, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian, Menteri
Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri
Pekerjaan Umum, Menteri Kehutanan, Menteri Sosial, Menteri Negara Riset dan Teknologi,
serta Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Lagi-lagi, mengingat kondisi Sumberdaya Air di Indonesia sudah mencapai tingkat krisis
yang langsung mempengaruhi: kemiskinan, kekurangan pangan; menghambat pertumbuhan
ekonomi sosial budaya bangsa dan terganggunya ekosistem, maka Presiden Susilo Bambang
Yudoyono di Jakarta pada tanggal 28 April 2005 mencanangkan Gerakan Nasional Kemitraan
Penyelematan Air (GNKPA) guna peningkatan keterpaduan implementasi kebijakan pengelolaan
untuk keberlanjutan fungsi sumberdaya air. GN-KPA pada intinya memuat 6 komponen strategis,
yakni (1) Penataan Ruang, pembangunan fisik, pertanahan dan kependudukan; (2) Rehabilitasi
hutan dan lahan serta Koservasi sumber daya air; (3) Pengendalian daya rusak air; (4)
Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air; (5) Penghematan penggunaan dan
pengelolaan permintaan air; dan (6) Pendayagunaan sumber daya air secara adil, efisien dan
berkelanjutan. Dengan telah dicanangkannya GN-KPA, diharapkan urusan air adalah urusan
semua pemegang kepentingan baik masyarakat, pengguna air lainnya dan pemerintah.

Bank Pembangunan Asia (ADB) mengimplementasikan Water Financing Program 2006


– 2010, untuk membantu program IWRM di lima wilayah sungai di Indonesia, diantaranya
Wilayah Sungai Citarum, Ciliwung-Cisadane, Ciujung, Progo-Opak- Oya. ADB mempunyai 25
elemen sebagai indikator kondisi IWRM di sebuah Wilayah sungai, antara lain keberadaan:
Organisasi Pengelola Wilayah Sungai (RBO), partisipasi para pemegang kepentingan,
perencanaan wilayah sungai, kesadaran publik, alokasi air, hak atas air, ijin pembuangan limbah,
pembiayaan IWRM, nilai/harga air, peraturan pengelolaan air, infrastruktur yang mempunyai
multimanfaat, partisipasi sektor swasta lewat CSR (corporate social responsibility), pendidikan
tentang pengelolaan wilayah sungai, pengelolaan daerah tangkapan air, kebijakan tentang aliran
penyangga kualitas lingkungan, manajemen bencana, peramalan banjir, rehabilitasi kerusakan
akibat banjir, monitoring kualitas air, upaya perbaikan kualitas air, konservasi lahan basah
(rawa), perlindungan dan peningkatan ikan di sungai, pengelolaan air tanah, konservasi air dan
sistem informasi guna mendukung penentuan kebijakan.

Sumberdaya air merupakan sumber- daya yang ketersediaanya dirasakan semakin


terbatas. Untuk menghindari hal tersebut strategi pengelolaan sumberdaya air harus diarahkan
untuk perlindungan dan pelestarian sumberdaya air dan merubah kebiasaan masyarakat
yang menganggap air merupakan sumberdaya yang tidak terbatas. Selain itu, dalam
pengelolaan sumberdaya air, perlu dilakukan berbagai tindakan yang meliputi efisiensi dan
distribusi sumberdaya air yang memadai sesuai dengan kebutuhan.

Sasaran pengelolaan air dalam pengelolaan DAS mencakup;


(1) menjaga kelestarian air (meningkatkan ketersediaan air, mengurangi kisaran aliran
maksimum dan minimum, mengurangi hasil sedimen dan meningkatkan kualitas air).
(2) mengelola pemanfaatan sumberdaya air untuk berbagai kepentingan (air minum,
irigasi, industri, rekreasi, perikanan)
5.1.3 Pendayagunaan Sumber Daya Air DAS Citanduy
Pendayagunaan sumberdaya air adalah upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan,
pengembangan, dan pengusahaan sumberdaya air secara optimal, berhasilguna dan berdayaguna.
Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan,
penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada pola
pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Pendayagunaan
sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan
mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil.

Pendayagunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud di atas dikecualikan pada


kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Pendayagunaan sumber daya air
diselenggarakan secara terpadu dan adil, baik antarsektor, antarwilayah maupun antarkelompok
masyarakat dengan mendorong pola kerja sama. Pendayagunaan sumber daya air didasarkan
pada keterkaitan antara air hujan, air permukaan, dan air tanah dengan mengutamakan
pendayagunaan air permukaan. Setiap orang berkewajiban menggunakan air sehemat mungkin.
Pendayagunaan sumber daya air dilakukan dengan mengutamakan fungsi sosial untuk
mewujudkan keadilan dengan memperhatikan prinsip pemanfaat air membayar biaya jasa
pengelolaan sumber daya air dan dengan melibatkan peran masyarakat.

1. Pengaturan Hak Atas Air


Pengaturan hak atas air diwujudkan melalui penetapan hak guna air, yaitu hak untuk
memperoleh dan memakai atau mengusahakan air untuk berbagai keperluan. Hak guna air
dengan pengertian tersebut bukan merupakan hak pemilikan atas air, tetapi hanya terbatas pada
hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan sejumlah (kuota) air sesuai dengan
alokasi yang ditetapkan oleh pemerintah kepada pengguna air, baik untuk yang wajib
memperoleh izin maupun yang tidak wajib izin. Hak guna air untuk memenuhi kebutuhan pokok
sehari¬hari, pertanian rakyat, dan kegiatan bukan usaha disebut dengan hak guna pakai air,
sedangkan hak guna air untuk memenuhi kebutuhan usaha, baik penggunaan air untuk bahan
baku produksi, pemanfaatan potensinya, media usaha, maupun penggunaan air untuk bahan
pembantu produksi, disebut dengan hak guna usaha air. Jumlah alokasi air yang ditetapkan tidak
bersifat mutlak dan harus dipenuhi sebagaimana yang tercantum dalam izin, tetapi dapat ditinjau
kembali apabila persyaratan atau keadaan yang dijadikan dasar pemberian izin dan kondisi
ketersediaan air pada sumber air yang bersangkutan mengalami perubahan yang sangat berarti
dibandingkan dengan kondisi ketersediaan air pada saat penetapan alokasi.

2. Kebutuhan Masyarakat Terhadap Air


Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong lebih
menguatnya nilai ekonomi air dibanding nilai dan fungsi sosialnya. Kondisi tersebut berpotensi
menimbulkan konflik kepentingan antarsektor, antarwilayah dan berbagai pihak yang terkait
dengan sumber daya air. Di sisi lain, pengelolaan sumber daya air yang lebih bersandar pada
nilai ekonomi akan cenderung lebih memihak kepada pemilik modal serta dapat mengabaikan
fungsi sosial sumber daya air. Berdasarkan pertimbangan tersebut undang¬undang ini lebih
memberikan perlindungan terhadap kepentingan kelompok masyarakat ekonomi lemah dengan
menerapkan prinsip pengelolaan sumber daya air yang mampu menyelaraskan fungsi sosial,
lingkungan hidup, dan ekonomi.

5.1.4 Penatagunaan Sumber Daya Air


Penatagunaan sumberdaya air adalah upaya untuk menentukan zona pemanfaatan sumber
air dan peruntukan air pada sumber air. Kondisi kekritisan sumber air, keadaannya sudah mulai
tampak dari sekarang, dimana beberapa daerah perkotaan kekurangan air untuk industri terutama
pada musim kemarau, seperti di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan lain-lain Pemanfaatan air
tanah untuk kegiatan industri terus meningkat yang mengakibatkan terjadinya penurunan muka
air tanah, seperti yang terjadi di Jakarta, Cengkareng, Grogol, Cempaka Putih, Cakung, dan lian-
lain. Adapun pengelolaan sumberdaya air, harus memperhatikan:

a. keterpaduan pengelolaan sumberdaya air permukaan dan air bawah tanah serta
kemungkinan pemanfaatan air laut secara lintas sektoral;
b. pengelolaan sumberdaya air dilakukan secara terpadu dalam pemanfaatannya melalui
penataan ruang wilayah;
c. mengatur pemanfaatan air secara efisien;
d. pembentukan tim koordinasi untuk kegiatan koordinasi yang melibatkan berbagai instansi
terkait.
Aspek penatagunaan sumber daya air, khususnya terhadap:

a. ketersediaan air permukaan dan air tanah;


b. jaringan dan bangunan irigasi yang ada, yang meliputi luas daerah irigasi, alokasi air
irigasi, dan potensi lahan yang dapat dikembangkan;
c. sumber-sumber air yang tersedia;
d. pemanfaatan air permukaan dan air tanah untuk berbagai keperluan;
e. kemampuan layanan air minum;
f. sektor-sektor pengguna air yang dominan beserta kuantitas penggunaannya;
g. lokasi daerah yang mengalami kekurangan air dan daerah yang kelebihan air dan neraca
air per-DAS/water district

Penatagunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat (1) ditujukan
untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air .Zona ini
digunakan sebagi acuan untuk : penyusunan atau peeubahan RTRW atau perubahan RTRW,
rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Penetapan zona
pemanfaatan sumber daya air dilakukan dengan :
a. Mengalokasikan zona untuk fuungsi lindung dan budi daya;
b. Menggunakan dasar hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologis;
c. Memperhatikan ruang sumber air yang dibatasi oleh garis sempadan sumber air;
d. Memperhatikan kepentingan bebagai jenis pemanfaatan;
e. Melibatkan peran masyarakat sekitar dan pihak lain yang berkepentingan; dan
f. Memperhatikan fungsi kawasan.
Penetapan peruntukan air pada sumber air pada setiap wilayah sungai dilakukan dengan
memperhatikan :
a. Daya dukung sumber air;
b. Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya;
c. Perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber daya air;

5.1.5 Penyediaan Sumber Daya Air


.Penyediaan sumber daya air adalah penentuan dan pemenuhan volume air per satuan
waktu untuk memenuhi kebutuhan air dan daya air serta memenuhi berbagai keperluan sesuai
dengan kualitas dan kuantitas. Penyediaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal
65 huruf B pada PP 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan
berdasarkan prinsip:

a. mengutamakan penyediaan air untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi
bagi pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada;
b. menjaga kelangsungan penyediaan air untuk pemakai air lain yang sudah ada;
c. memperhatikan penyediaan air untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari bagi
penduduk yang berdomisili di dekat sumber air dan/atau sekitar jaringan pembawa air.

Beberapa metode /cara penyediaan sumber daya air yang selama ini telah kita kenal adalah
sebagai berikut :

1. Saluran Irigasi Hemat Air

2. Embung

3. Teknologi Bendungan Air Tanah

4. Teknologi Pengairan Rawa dan Pantai

5. Pengembangan Daerah Pasang Surut

6. Teknologi Hujan Buatan

7. Teknologi Pengairan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah

5.1.6 Penggunaan Sumber Daya Air


Penggunaan sumberdaya air adalah pemanfaatan sumberdaya air dan prasarananya
sebagai media dan atau materi. Peningkatan kebutuhan air yang disebabkan oleh peningkatan
jumlah penduduk di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, berbanding terbalik dengan suplai
air ke wilayah tersebut. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan
membangun suatu reservoir air yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yaitu
membuat bendungan.
Salah satunya b endungan Manonjaya merupakan bendungan tipe urugan dengan inti
vertikal yang dibangun di atas Sungai Citanduy dengan luas daerah tangkapan sebesar
2
590.422 km . Tujuan dibangunnnya Bendungan Manonjaya untuk memenuhi kebutuhan
air baku dan irigasi di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Bendungan Manonjaya didesain
3
dengan debit banjir rencana periode ulang 100 tahun sebesar 513.9 m /detik. Bendungan
3
Manonjaya direncanakan setinggi 23.5 m dengan kapasitas tampungan sebesar 3,9 juta m .
Bendungan tersebut dilengkapi dengan pipa penyadap berdiameter 3,5 m, bangunan
pelimpah dengan lebar 30 m, dan kolam olak USBR tipe III.

Gambar 1. Bendung di Wangundireja

Gambar 2. Bendung di Cikembang


Gambar 3. Bendung di Cimulu

Gambar 4. Bendung di Ciputrahaji

Gambar 5. Bendung di Cigede


Gambar 6. Bendung di Cikalang

5.1.7 Pengembangan Sumber Daya Air


Pengembangan sumberdaya air adalah upaya peningkatan kemanfaatan fungsi
sumberdaya air tanpa merusak keseimbangan lingkungan. Pengembangan sumber daya air
adalah merupakan upaya pendayagunaan sumber-sumber air secara terpadu dengan upaya
pengelolaan, pengendalian dan pelestariannya. Wawasan pengembangan sumber daya air adalah
cara pandang atau cara memahami daripada upaya pendayagunaan sumber-sumber air secara
terpadu melalui kegiatan pengelolaan, pengendalian, dan pelestariannya.

Peningkatan kebutuhan akan air telah menimbulkan eksploitasi sumber daya air secara
berlebihan sehingga mengakibatkan penurunan daya dukung lingkungan sumber daya air yang
pada gilirannya menurunkan kemampuan pasokan air. Gejala degradasi fungsi lingkungan
sumber daya air ditandai dengan fluktuasi debit air di musim hujan dan kemarau yang semakin
tajam, pencemaran air, berkurangnya kapasitas waduk dan lainnya.
Disamping tantangan fisik tersebut, pengelolaan sumber daya air juga mengalami
tantangan dalam penanganannya seperti tidak tercukupinya dana operasi dan pemeliharaan,
lemahnya kordinasi antar instansi terkait dan masih kurangnya akuntabilitas, transparansi serta
partisipasi para pihak (stakeholders) yang mencerminkan good governance dalam pengelolaan
sumber daya air.
Sementara itu seiring dengan semangat reformasi disektor publik seperti good
governance, akuntabilitas publik, otonomi daerah dan pemberdayaan keuangan daerah
sebagaimana telah diamanatkan oleh TAP – TAP MPR dan UU no.32/2004 tentang Pemerintah
Daerah dan UU no. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah, pada awal milenium ketiga ini telah terjadi pula pergeseran paradigma pengelolaan
sumber daya air, yang dulunya pengelolaan secara sektoral berubah menjadi pengelolaan secara
holistik, komprehensif dan terpadu.
Pengelolaan kebutuhan atau alokasi air tidak saja untuk pertanian, domestik, perkotaan,
industri dan kebutuhan lainnya tetapi air juga sebagai komoditas ekonomi yang memiliki fungsi
sosial yang berwawasan lingkungan. Pengembangan organisasi pengelola air diharapkan dapat
menuju ke desentralisasi dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan
pembiayaan sumber daya air.

5.1.8 Pengusahaan Sumber Daya Air


Pengusahaan sumberdaya air adalah upaya pemanfaatan sumberdaya air untuk tujuan
komersial. Meski bukan menjadi destinasi wisata yang komersil tapi banyak warga yang
nongkrong-nongkrong di pinggiran Taman Bantaran Sungai Citanduy ini lantaran memiliki
kenyamanan serta pemandangan bagus

Gambar 7. Taman-taman di bantaran sungai citanduy


Gambar 8. Taman-taman di bantaran sungai citanduy kota banjar

Seiring terus menggeliatnya pembangunan Kota Banjar yang terus berinovasi dan
membenahi wilayahnya, terbukti semakin bertambahnya Lahan terbuka Hijau di kota banjar,
seperti pemanfaatan lahan kosong dan tak terpakai dijadikannya Taman-taman Bantaran
Sungai Citanduy yang cantik dan menjadi daya tarik sendiri terhadap Kota Banjar, warga merasa
mempunyai fasilitas tempat untuk sekedar nongkrong, melepas kepenatan, menyalurkan hobi-
hobi, atau mungkin mencari ide-ide segar dan tentunya masih banyak lagi.
Pembangunan Taman-taman Bantaran Sungai Citanduy kota ini tentunya segala sesuatunya
diperhitungkan dengan matang, sehingga kawasan-kawasan sekitarnyapun menjadi nilai tambah
tersendiri, contohnya dimulai dari penanfaatan lahan kosong di depan terminal banjar, dimana
dulunya adalah tempat mengadu burung dara, sekarang sudah dibangun menjadi gedung Pusdai
serta dipercantik dengan taman-taman yang sungguh luar biasa.

Balai Kota sehingga menjadi cikal bakalnya, kemudian menjadi merembet ke sebrangnya
yang tak kalah indannya,bahkan bisa menjadi taman yang paling sejuk dan asri. Sungai Citanduy
memang sudah menjadi primadona utama taman yang berada di Kota Banjar, disebabkan
sebagian besar taman ada disepanjang bantaran sungai Citanduy, sungai yang membentang di
tegah kota yang menjadikan pemandangan tersendiri untuk kota ini. Sungai Citanduy masih
tertata rapi, dan masih menjadi tempat para penambang pasir, dan tentunya hal ini menjadi nilai
tambah untuk kota Banjar.
DAFTAR PUSTAKA

Agudelo, JI., 2001, The Economic Valuation of Water, Value of Water Research Report Series
No. 5, IHE Delft, The Netherland.

Bann C. 1998. The Economic Valuation of Tropical Forest Land Use Options: A Manual for
Researchers. Economy and Environment Programme for Southeast Asia.
http://www.eepsea.org/ev.php
Clark, E.H., 2007, Water Prices Rising Worldwide, Earth Policy Institute, March, 2007.

Dajan, A. 1976. Pengantar Metode Statistik Jilid I. cet. Keempat LP3ES.

Darta, Ketut. 1983. Laporan Kerusakan Pura Tirta Empul Tampaksiring, Gianyar. Suaka

Ditjen Sumberdaya Air, 2004. Sebanyak 65 DAS dalam kondisi semakin kritis. Harian Kompas
tanggal 20 Agustus 2004, hal. 15, Jakarta.
Dixon, J.A., and Hufschmidt, M. 1986. Economic Valuation Techniques For The Environmental:
A Case Study Workbook. The Johns Hopkins University Press, Copyright by the East-
West Center, East-West Environment and Policy Institute. All Rights reserved.
Diterjemahkan oleh Sukanto Reksohadiprodjo, Gadjah Mada University Press.

Dudley, N. and Stolton, S. Running Pure: The Importance of Forest Protected Areas to Drinking
Water. http://www.forest-alliance.org.
Hadi, D. P. dan Van Noordwijk, M. Agro-ecosystems, Their Population Densities and Land
Cover in Indonesia in The Context of Upland-Lowland Relationships. ICRAF SE Asia,
RUPES Working Paper.
Haryono, 2001, Nilai Hidrologis Bukit Kars, Makalah dalam Seminar Nasional Eko Hidrolik,
Teknik Sipil Universitas Gadjahmada.
Hufschmidt MM et al. 1987. Lingkungan, Sistem Alami, dan Pembangunan : Pedoman Penilaian
Ekonomis. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Januaris. 2004. ESTIMASI NILAI EKONOMI SUMBERDAYA AIR SEBAGAI AIR IRIGASI
DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN PERTANIAN DI DAERAH ALIRAN
SUNGAI KAMPAR. Master Theses Intitut Teknologi Bandung. Central Library Institute
Technology Bandung.

Jonkowski. Jerzy, 2001, Geol 9111 Groundwater Environments, UNSW Groundwater Centre,
University of New South Wales, New South Wales.
Kementrian Lingkungan Hidup, 2003. Kajian Strategi Nasional Mengenai Mekanisme
Pembangunan bersih di Sektor Kehutanan. Jakarta.
Kramer, R. A., Sharma, N. and Munasinghe, M. 1995. Valuing Tropical Forests: Methodology
and Case Study of Madagascar (World Bank Environment Paper Number 13). The World
Bank, Washington, D.C.
Kurnia, G., T. W. Avianto and B. R. Bruns.,2000, Farmers, factories and the dynamics of water
allocation in West Java. In B. R. Bruns and R. S. Meinzen-Dick (eds.) Negotiating Water
Rights, pp. 292-314. London: Intermediate Technology Publications.

Made Sudita dan Made Antara. 2006. NILAI SOSIAL-EKONOMI AIR DI KAWASAN
SUMBER MATA AIR DESA MANUKAYA, KABUPATEN GIANYAR, BALI: SUATU
PENDEKATAN EKONOMI LINGKUNGAN. Jurusan Sosek, Fakultas Pertanian, Unud
Bali.

Mandel, S, 1981, Groundwater Resources: Investigation and Development, Academic Press,


New York.
Meinzen-Dick, D., Ringler, C., 2006, Water Reallocation: Challenges, Threats, and Solutions for
the Poor, Occasional Paper, HumanDevelopmen Report 2006, UNDP

Mercer, David. 2000. A Question of Balance, Natural resources conflict Issues in Australia. The
Federation Press. Canberra.
Munasinghe, M., and E. Lutz. 1993. Environmental Economics and Valuation in Development
Decisionmaking. Environmental Economics and Natural Resource Management In
Developing Countries, edited by Mohan Munasinghe copiled by Adelaide Schwab.
Committee of International Development Institution on the Evironment (CIDIE),
distributed for CIDIE by The World Bank Washington, DC.
Nasution, S. 2002. Metode Research: Penelitian Ilmiah. Ed.1,cet.5—Jakarta: Bumi Aksara

Noordwijk, Meine, F., et.al. 2004. Peranan Agroforestry dalam Mempertahankan Fungsi
Hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS). AGRIVITA Vol. 26. No. 1.
NRM, 1999. Resource Valuation: A Tool for improving Protected Areas management in
Indonesia. NRM, Jakarta.
Pearce David, W. and Turner R. Kerry, 1990, Economic of Natural Resources and The
Environment, Harvester Weatsheaf New York London, Toronto Sydney Tokyo.

Pearce, D. 1992. Economic Valuation and the Natural World. Working Papers, World
Development Report. Center for Social and Economic Research on the Global
Environment, London and Norwich, UK.
Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali.

Ramdan, H., Yusran dan Dudung Darusman. 2003. Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Otonomi
Daerah: Perspektif Kebijakan dan Valuasi Ekonomi. Alqaprint, Jatinangor, Sumedang.
Reksohadiprodjo Sukanto dan Andreas Budi P.B, 1997, Ekonomi Lingkungan, Suatu Pengantar,
Edisi Pertama, Cetakan kelima, BPFE, Yogyakarta.

Rogers, P., Bhatia R.,Huber,A.,1998, Water as a Social and Economic Good:How to Put the
Principle into Practice, Global Water Partnership/Swedish International Development
Cooperation Agency, Stockholm, Sweden

Rosa, H., Kandel, S., dan Dimas L. 2005. Kompensasi untuk Jasa Lingkungan dan Masyarakat
Pedesaan: Pelajaran dari Negara-Negara Amerika. RUPES Program, ICRAF-SEA Bogor.
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/sda/PP42-2008PengelolaanSDA.pdf