Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Membicarakan kehamilan dan seluk beluknya selalu membuat penasaran. Selalu saja
ada yang menarik, unik dan indah didalamnya. Apalagi bila berkaitan dengan kearifan tradisi
budaya Nusantara. Dimana didalamnya terkandung nilai - nilai adat istiadat lokal yang
mempunyai kekayaan tradisional yang merupakan warisan leluhur turun - temurun. Banyak
nilai positif tertuang didalamnya. Dari sana pula kemajuan ilmu pengetahuan digali pada
mulanya.
Mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi
sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun
negatif terhadap kesehatan ibu dan anak.
Menjadi seorang perawat bukanlah hal yang mudah. Seorang perawat harus siap fisik
maupun mental, karena tugas seorang perawat sangatlah berat. Perawat yang siap mengabdi
di kawasan pedesaan mempunyai tantangan yang besar dalam mengubah pola kehidupan
masyarakat yang mempunyai dampak negatif tehadap kesehatan masyarakat. Tidak mudah
mengubah pola pikir ataupun sosial budaya masyarakat. Apalagi masalah proses persalinan
yang umum masih banyak menggunakan dukun beranak.
Bagi seorang ibu hamil yang terjebak didalam lingkungan yang menganut budaya-
budaya tradisional dalam mayarakat pasti akan penuh tanda tanya, harus mengikuti atau
mengabaikannya saja. Perlu penjelasan yang tepat mengenai budaya-budaya tradisonal dalam
masyarakat khususnya dalam dunia kehamilan. Karena jika hanya mengikuti budaya yang
tidak ada dasar alasan yang jelas, bisa membahayakan jiwa ibu dan anak. Karena itu makalah
ini dibuat untuk menjelasakan budaya-budaya masyarakat khususnya dalam dunia kehamilan
dan bagaimana kita harus menanggapinya.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa saja perilaku sosial budaya yang berpengaruh pada pelayanan kesehatan
komunitas pada ibu hamil dan ibu bersalin?
2. Bagaimana peran perawat dalam kondisi tersebut?

1.3. Tujuan

1
1. Untuk mengetahui perilaku sosial budaya yang berpengaruh pada pelayanan
kesehatan komunitas pada ibu hamil dan ibu bersalin
2. Untuk mengetahui peran perawat dalam kondisi tersebut.

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk
mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu juga untuk
menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante
natal care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri.
Fakta di berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang
menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak
perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter. Masih banyaknya ibu-ibu
yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan ke bidan menyebabkan tidak
terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru
diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat
membawa akibat fatal yaitu kematian.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya
informasi. Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya perawatan kehamilan,
permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan persalinan dipengaruhi juga oleh faktor
nikah pada usia muda yang masih banyak dijumpai di daerah pedesaan. Disamping itu,
dengan masih adanya preferensi terhadap jenis kelamin anak khususnya pada beberapa suku,
yang menyebabkan istri mengalami kehamilan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang
relatif pendek, menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi saat melahirkan.
Di Indonesia yang termasuk negara heterogen terdiri dari macam-macam etnik,
macam-macam suku, termasuk macam-macam budaya yang dilestarikan ditempatnya
masing-masing, suatu budaya pasti ada yang positif dan ada yang negatif. Kita tidak bisa
menghindari budaya tersebut karena kita hidup dalam masyarakat yang berbeda pemikiran
antara individu satu dengan yang lainnya untuk menjaga keharmonisan bermasyarakat kita
tidak boleh menghindari bahkan menghujat budaya yang berkambang itu. Dalam makalah ini
kita akan lebih membahas tentang budaya-budaya yang berkembang pada masa kehamilan.
Kita kenali dahulu budaya-budaya seperti apa yang sering muncul dimasyarakat.
Perilaku kesehatan merupakan salah satu faktor perantara pada derajat kesehatan.
Perilaku yang dimaksud adalah meliputi semua perilaku seseorang atau masyarakat yang
dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, angka kesakitan dan angka kematian.
Perilaku sakit (ilness behavior) adalah cara seseorang bereaksi terhadap gejala penyakit yang
biasanya dipengaruhi oleh pengetahuan, fasilitas, kesempatan, kebiasaan, kepercayaan,

3
norma, nilai, dan segala aturan (social law) dalam masyarakat atau yang biasa disebut dengan
budaya. Beberapa perilaku dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pelayanan
kesehatan, diantaranya :
1. Health Believe
Tradisi-tradisi yang diberlakukan secara turun-temurun dalam pemberian makanan
bayi. Contohnya di daerah Nusa Tenggara Barat ada tradisi pemberian nasi papah atau di
Jawa dengan tradisi nasi pisang.
2. Life Style
Gaya hidup yang berpengaruh terhadap kesehatan. Contohnya gaya hidup kawin cerai
di lombok atau gaya hidup perokok (yang juga termasuk bagian dari aspek sosial budaya)
3. Health Seeking Behavior
Salah satu bentuk perilaku sosial budaya yang mempercayai apabila seseorang sakit
tidak perlu pelayanan kesehatan, akan tetapi cukup dengan membeli obat di warung atau
mendatangi dukun.

2.2 Budaya-Budaya Kepercayaan Yang di Lakukan di Masyarakat di Pulau Jawa


1. Upacara satu bulanan
Upacara ini sudah semakin jarang ditemukan, apalagi bagi yang tinggal di kota besar.
Dalam upacara satu bulanan ini diperingati dengan membuat semacam bubur sum - sum.
Bubur ini terbuat dari bahan beras dan di tepung. Selanjutnya dimasak dengan air . Sebagai
pelengkap diberi kuah dua warna, yakni dari santan kelapa yang diberi sedikit garam dan satu
lagi kuah warna merah yang terbuat dari gula jawa atau gula aren. Hidangan ini sebagai
pertanda awal kehamilan. Biasanya dibagikan kepada tetangga kiri kanan dengan
permohonan doa agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam memulai kehamilan.
Dari pandangan kesehatan: Bubur ini sangat baik untuk ibu hamil awal, terlebih bila
ada keluhan mual muntah, makanan lunak dengan kandungan manis dari gula asli akan
memberi asupan kalori dan mempermudah pencernaan terutama saat ibu hamil enggan
menikmati berbagai macam jenis makanan beraroma tajam. Bubur dari bahan katul yang
diproses secara tradisional sangat kaya akan vitamin B1 yang dibutuhkan ibu hamil. Makan
bubur ini bersama dengan para tetangga juga memberi dukungan psikologis bahwa semua
orang terlibat memperhatikan dan terlebih dukungan spiritual.

2. Upacara dua bulanan


4
Pada saat peringatan usia hamil dua bulan, ibu hamil akan dibuatkan beberapa jenis
sajian yang lebih komplit. Yakni nasi tumpeng, urap - urap lengkap dari sayur mayur segar.
Ada beberapa aturan mengenai jenis sayuran yang dipilih dan jumlah macamnya setiap
daerah mempunyai ketentuan yang beda , yang pasti jumlahnya ganjil. Untuk pelengkap
sajian juga disediakan semacam jenang katul atau bubur dari katul beras, diatas jenang katul
ini ditaburi dengan parutan kelapa dan parutan gula aren. Kemudian dibuatkan juga campuran
dari bahan beras, santan dan gula merah yang dibungkus daun lalu dikukus. Lalu bubur
berikutnya adalah bubur merah putih yang terbuat dari bahan beras. Bubur warna merah
terbuat dari beras yang ditanak dengan gula merah, sedangkan bubur warna putih terbuat dari
beras yang ditanak dengan santan. Cara menghidangkan adalah bubur merah lebih dulu
dituang di pring lalu diatasnya dituang sedikit bubur putih.
Dalam pandangan kesehatan: Tumpeng ini merupakan salah satu cara penyajian
makan bersama yang menggugah selera dan sangat baik untuk membantu meningkatkan
selera makan ibu hamil, tumpeng juga memberi sebuah perlambang adanya dukungan para
sanak keluarga dan tetangga untuk bersama sama mengadakan doa syukuran bagi ibu hamil.
Sedangkan sayur mayur segar terutama berwarna hijau sangat baik bagi ibu hamil trimester
pertama karena dalam sayur mayur hijau terkandung asam folat alami yang berguna
mencegah kecacatan pada janin. Keberadaan bubur beras yang manis sangat baik pula bagi
ibu hamil yang menginginkan kudapan atau makanan selingan sebagai pembuka sebelum
menyantap menu lain. Biasanya pada kehamilan awal asam lambung meningkat dan bubur
tersebut menjadi hidangan pembuka yang baik.
3. Upacara tiga bulanan atau Madeking
Upacara tiga bulanan sudah agak sulit ditemukan di kota besar. Dalam upacara
Madeking ini dihidangkan aneka jenis makanan yang berupa ketupat lalu nasi gurih, kali ini
nasi berwarna kuning dengan mencampur air kunyit saat menanak nasi dan di beri garam
sedikit dan santan sebelum dikukus. Untuk lauk pauk sudah lebih lengkap dan bervariasi, ada
sambal goreng ati rempela, daging sapi dan sebagai kudapan dibuatkan kue apem.
Dalam pandangan Kesehatan: Nasi gurih dan ketupat sebagai hidangan ibu hamil
adalah salah satu cara kreatif untuk membangkitkan selera makan ibu hamil agar terpenuhi
kebutuhan kalori. Kebutuhan protein sudah mulai diberikan seiring adanya peningkatan
selera makan menjelang kehamilan 4 bulan. Dengan menghidangkan aneka macam daging
dan cara pengolahannya. Protein sangat dibutuhkan ibu hamil untuk pembentukan organ
tubuh bayi . Upacara Madeking ini juga diadakan sebagai wujud permohonan keselamatan
bagi janin dalam Kandungan. Selamatan berupa doa - doa sesuai agama masing - masing.
5
4. Kehamilan lima bulanan
Pada masa kehamilan ini dilakukan upacara selamatan dengan kudapan khasnya yakni
ketan aneka warna dengan ditaburi enten - enten yang terbuat dari bahan kelapa parut di beri
gula. Sebagai hidangan yang dibagikan untuk tetangga adalah urap - urap terbuat dari sayur
mayur hijau. Hidangan urap urap ini lengkap dengan nasi dan diletakkan dalam takir atau
daun pisang yang dibentuk seperti mangkuk dengan jepit lidi. Hantaran hidangan ada yang
diberikan dengan alas tampah/ tambir kecil dari anyaman bambu atau bisa pula dengan cobek
tanah liat. Pelengkapnya adalah rujak 7 jenis buah.Upacara lima bulanan sulit ditemukan saat
ini.
Dalam Pandangan kesehatan : Upacara untuk kehamilan 5 bulanan ini merupakan
dukungan psikologis dan spiritual yang baik bagi ibu hamil. Dimana pada usia kehamilan 20
minggu janin sudah makin lincah bergerak, Jantung berdetak dengan baik, dan organ tubuh
bayi terbentuk. Kebutuhan akan zat makanan bergisi dan kalori juga tetap mendapat perhatian
istimewa. Kehadiran sanak keluarga yang mengunjungi ibu hamil saat upacara ini membantu
mengurangi kecemasan, kesempatan saling berbagi pengalaman melewati masa masa
kehamilan tiga bulan pertama yang sangat rawan. Upacara ini merupakan ungkapan syukur
atas terlaluinya trimester pertama kehamilan dan mohon keselamatan untuk proses kehamilan
berikutnya.
5. Upacara enam bulanan
Dalam upacara ini dibuatkan kudapan khas yakni apem kocor terbuat dari tepung
beras dan diberu kuah air gula aren. Untuk tradisi enam bulan ini juga jarang dilakukan.
Namun demikian perlu kita tetap tahu.
6. Upacara 7 bulanan, atau biasa dikenal dengan tingkeban dan Mitoni
Berikutnya adalah upacara 7 bulanan, upacara inilah yang masih sering kita jumpai di
masyarakat kita. Hidangan khas yang paling dinantikan para tamu adalah rujak dan dawet
atau cendol beras. Menurut tradisi bila rasa dawet dan rujaknya sedap berarti anaknya
perempuan dan bila saat upacara membelah kelapa muda air kelapa muncrat tinggi berarti
anak dalam kandungan perempuan. Menarik sekali bukan. Hidangan pelengkap lain adalah
polo pendem yakni umbi umbian dan bisa juga kacang tanah yang direbus, urap urap , nasi
megono dan tumpeng 7 buah kecil kecil, bubur beras merah putih, yang putih di makan
suami, yang merah dimakan istri, urap – urap sayuran hijau 7 jenis, pisang raja, ampyang dan
bola ketan kukus diwarna merah,kuning,hijau ,putih dan coklat. Telur 7 butir. Kudapan
berupa jajan pasar melengkapi hidangan.

6
Pandangan kesehatan : Upacara 7 bulanan ini hanya dilakukan pada kehamilan
pertama kali dan merupakan dukungan bagi ibu hamil dimana dalam masa kehamilan
trimester tiga, ibu hamil mengalami perubahan bentuk tubuh, biasanya bertambah gemuk dan
merasa tidak cantik. Namun tradisi masyarakat justru mengangkat rasa percaya diri dan
memperbaiki body image seorang ibu hamil agar tampak begitu mempesona dalam upacara
siraman dan mandi bunga. Ibu hamil didandani dengan roncean bunga melati dan ganti jarik
7 kali. Sedangkan untuk hidangan makanan yang diadakan merupakan suatu sajian yang
semakin komplit berbagai protein nabati dan hewani, berbagai sumber jenis zat kalori
disertakan. Dengan harapan bahwa ibu hamil senantiasa selamat dan terjaga baik kondisi
kesehatannya diiringi doa doa para sanak keluaraga dan tetangga.
7. Upacara delapan bulanan
Pada upacara ini, dihidangkan simbol bulus angrem ( kura kura sedang mengerami
telur ). Uniknya hidangan terbuat dari klepon yakni adonan tepung ketan diwarnai pandan
hijau dan diberi gula parut didalamnya. Setelah matang klepon disusun dalam piring lalu
diartasnya di telungkupkan kue serabi.
Pandangan Kebidanan : Dalam penyajian kudapan ini memberi makna simbolik dan
dukungan mental bagi ibu hamil dimana ia harus hati – hati menjaga kehamilan yang
memasuki trimester ke tiga. Seperti perilaku positif seekor kura kura yang setia mengerami
telur – telur bakal anak anaknya. Kehamilan merupakan anugerah sekaligus menuntut
tanggungjawab seorang calon ibu agar menjaga janin dalam kandungannya.
8. Upacara 9 Bulanan
Dalam upacara ini diadakan doa untuk mohon keselamatan dan kelancaran persalinan,
dimana hidangan yang dibuat dinamakan bubur procot. Bahan terbuat dari tepung beras, gula
merah dan sanatan, ditanak,Setelah matang dituang dalam takir daun pisang lalu diberi pisang
kupas yang utuh ditengahnya.Dalam Pandangan kebidanan: Semua yang dilakukan dalam
simbolik sajian ini ini erat kaitannya dengan dukungan mental bagi ibu yang akan bersalin.
Menanamkan sugesti diri yang positif. Tak lupa disertai doa dari sanak keluarga dan para
tetangga. Harapan bahwa menjelang proses persalinan tak kurang suatu apapun, ibu hamil
melaluinya dengan tenang dan bahagia. Melahirkan dengan lancar tanpa penyulit.
Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah
gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantangan-pantangan
terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak berkurang
ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang sebenrnya
sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif terhadap kesehatan
7
ibu dan janin. Tidak heran kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi
terutama di daerah pedesaan.
Di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan
mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan
yang banyak. Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya
memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya
kecil dan mudah dilahirkan. Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan
laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Dan memang, selain
ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat
merugikan dan membahayakan keselamatan ibu dan bayi.

2.3 Mitos-Mitos Selama Kehamilan


Budaya tidak bisa dipisahkan dengan mitos. Mitos sangat berpengaruh bagi kehidupan
masyarakat. Ada masyarakat yang mempercayai mitos tersebut, ada juga masyarakat yang
tidak mempercayainya. Jika mitos tersebut terbukti kebenarannya, maka masyarakat yang
mempercayainya merasa untung. Tetapi jika mitos tersebut belum terbukti kebenarannya,
maka masyarakat bisa dirugikan. Di bawah ini adalah beberapa contoh mitos yang sering kita
dengar, yaitu :
1. Tidak boleh memotong atau menjahit baju.
a) Mitos: Tidak boleh memotong atau menjahit baju selama kehamilan atau anak akan
lahir dengan bibir sumbing.
b) Fakta: Bibir sumbing biasanya karena pengaruh obat-obatan yang diminum ibu saat
hamil, efek radiasi atau factor genetic. Oleh karenanya x-ray tidak dilakukan selama
kehamilan kecuali atas indikasi tertentu.
2. Minuman dari kacang kedeai (susu kacang) akan membuat kulit bayi bewarna putih.
a) Mitos: Minum susu kacang atau makanan dari kacang kedelai akan membuat bayi
berkulit putih.
b) Fakta: warna kulit seseorang dipengaruhi oleh factor genetic ayah – ibunya, bukan dari
susu kedelai.
3. Jeruk akan meningkatkan lendir pada bayi dan resiko kuning pada bayi baru lahir.
a) Mitos: Jangan makan jeruk terlalu sering akan meningkatkan lendir pada paru bayi dan
resiko kuning saat bayi lahir.
b) Fakta: Jeruk adalah sumber vitamin C dan serat yang baik.
4. Minum air es akan menyebabkan bayi besar.\
8
a) Mitos: Sering minum es saat hamil menyebabkan bayi besar dan akan sulit lahir.
b) Fakta: Bayi besar biasanya berhubungan dengan ibu hamil yang mempunyai penyakit
kencing manis. Jadi mungkin es ini diminum oleh ibu hamil yang memang dengan
riwayat penyakit kencing manis. Jadi bukan minum es lalu menyebabkan bayi besar
karena air es akan dikeluarkan oleh tubuh sebagai keringat atau air seni.
5. Makanan pedas akan menyebabkan bayi lahir dengan bercak kulit kemerahan atau berkulit
lebih gelap.
a) Mitos: Makan makanan pedas saat hamil akan menyebabkan bayi lahir dengan bercak
kulit kemerahan atau bayi akan berkulit lebih gelap/hitam.
b) Fakta: Sekali lagi warna kulit seseorang tidak ditentukan oleh makanan pedas, tapi
factor genetic dari orang tuanya. Dan faktanya bahwa makan makanan pedas saat
hamil, membuat rasa tak enak diperut apalagi bila anda sedang mual, jadi bukan karena
menyebabkan bercak kemerahan pada kulit.
6. Bentuk wajah menandakan jenis kelamin bayi.
a) Mitos: Bentuk wajah anda selama hamil menandakan jenis kelamin bayi anda.
b) Fakta: Setiap wanita akan mengalami kenaikan berat badan selama hakil, begitupun
mereka akan mengalami perubahan kondisi kulit yang berbeda-beda, dan tidak ada
hubungannya dengan jenis kelamin bayi anda.
7. Dilarang membunuh binatang
a) Mitos: Ibu hamil dan suaminya dilarang membunuh binatang. Sebab dipercaya bisa
menimbulkan cacat pada janin sesuai dengan perbuatannya itu.
b) Fakta:Tentu saja tidak demikian. Cacat janin disebabkan oleh kekurangan gizi pada
bayi maupun ibu, penyakit keturunan dan pengaruh radiasi. Sedangkan gugurnya janin
paling banyak disebabkan karena penyakit, gerakan berlebihan yang dilakukan oleh ibu
(misal benturan) dan karena faktor psikologis (misalnya shock, stress, pingsan). Tapi
yang perlu diingat membunuh atau menganiaya binatang adalah perbuatan yang tidak
bisa dibenarkan.
8. Dilarang makan buah dempet
a) Mitos: Ibu hamil tidak boleh makan pisang yang dempet, nanti anaknya jadi kembar
siam.
b) Fakta:Secara medis-biologis, lahirnya anak kembar siam tidak dipengaruhi oleh makan
pisang dempet yang dimakan oleh ibu hamil. Kembar siam disebabkan karena adanya
pembelahan dua sel janin yang tidak sempurna.
9. Dilarang mengkonsumsi nanas
9
a) Mitos: Dilarang makan nanas karena nanas dipercaya dapat menyebabkan janin dalam
kandungan gugur.
b) Fakta: Secara medis-biologis, getah nanas mudah mengandung senyawa yang dapat
melunakkan daging. Tetapi buah nanas yang sudah tua atau disimpan lama akan
semakin berkurang kadar getahnya, demikian juga dengan nanas olahan. Yang pasti
nanas mengandung vitamin C dengan kadar tinggi sehingga baik untuk kesehatan.
10. Membawa gunting lipat kemana saja
a) Mitos: Membawa gunting kecil atau pisau atau benda tajam lainnya di kantung baju si
ibu agar janin terhindar dari bahaya.
b) Fakta: Hal ini justru lebih membahayakan apabila benda tajam itu melukai si ibu.
Sebenarnya masih banyak sekali budaya dari tiap-tiap provinsi di Indonesia, bnyak
pula mitos-mitosnya namun kami hanya mengambil yang biasa muncul saja. Yang biasa
didengar di masyarakat kita berikan penjelasn secara fakta mengenai mitos tersebut supaya
dapat mengambil tindakan yang positif setelah mengetahui kenyataanya.
Meski tak selamanya mitos yang berkembang karena budaya di masyarakat benar, tak
ada salahnya kita menikmati mitos-mitos tersebut, selama hal tersebut tidak mengganggu
mental serta kondisi janin. Jadikan mitos-mitos tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan,
namun balikan segala sesutu tentang kondisi medis kehamilan pada ahlinya, semua bertujuan
positif kepada keluarga jika kita menanggapinya dengan benar dengan akal yang rasional.
Yang paling penting, serahkan semuanya pada Tuhan yang Maha Pencipta.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sebenarnya masih banyak beberapa upacara yang berkaitan dengan penyulit
menjelang persalinan, namun demikian pada intinya sama adalah memberi dukungan
positif bagi seorang ibu yang sedang hamil. Dalam praktek tradisional, memang ada banyak
hal yang tak jarang dikaitkan dengan mitos – mitos dan sedikit berbau tahayul. Namun
10
demikian kita tidak perlu menyikapinya dengan antipati. Petiklah hal-hal positif yang tentu
saja tidak merugikan bagi ibu hamil. Hal penting adalah jangan sampai kita lambat laun
melupakan warisan kekayaan tradisi asli nusantara kita terutama di Indonesia ini. Kamiyakin
kekayaan tradisi dari Sabang hingga Merauke juga banyak yang menarik untuk dibagikan dan
kita pelajari. Siapa lagi yang akan mengakui kekayaan tradisi dan budaya tersebut jika bukan
kita. Jangan lupa tetap periksa teratur selama kehamilan baik pada dokter kandungan, bidan
maupun tenaga kesehatan agar mendapat bimbingan yang benar dalam menjaga kesehatan
selama hamil. Tak lupa selama kehamilan lebih mendekatkan diri pada Tuhan, mohon
keselamatan melalui doa sesuai agama dan kepercayaan yang kita anut.

3.2 Saran

1. Bagi ibu hamil dan bersalin, sebaiknya berkonsultasi ke bidan atau tenaga kesehatan
sebelum melakukan adat/budaya masyarakat yang dirasa tidak sesuai atau agak
membahayakan bagi kondisinya.
2. Budaya yang ada harus dilihat apakah baik atau tidak untuk kesehatan ibu hamil dan
bersalin. Jika kita lihat dari akal berdasarkan ilmu yang kita dapat budaya tersebut tidak
baik, maka tidak boleh diikuti lagi.

DAFTAR PUSTAKA

AtmawatiYuris.2012.Budaya-Da-Mitos-Yang-Selalu-Dihubungkan-Seputar-Kehamilan-
Perawatan Anak. Avariable on. Diakses pada 11.12am. .

Novi.2011. Ilmu Budaya : Mitos-dan-Adat-Jawa-Seputar Kehamilan. avariableon. Diakses


pada 12.39am

11
12