Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Prinsip ketidakpastian Heisenberg memperkenalkan suatu hubungan timbal balik antara posisi dan
momentum. Jika nilai posisi elektron diketahui dengan tingkat akurasi yang tinggi, maka nilai momentum
elektron elektron akan tidak pasti, dan sebaliknya. Menurut de Broglie suatu partikel yang memiliki
momentum p jika dipandang sebagai gelombang, mempunyai panjang gelombang. Panjang gelombang ini
disebut panjang gelombang de Broglie. Karena itu, panjang gelombang de Broglie berbanding terbalik dengan
massa dan laju partikel.
Sifat partikel dan gelombang suatu materi tidak tampak sekaligus, sifat yang tampak jelas tergantung pada
perbandingan panjang gelombang de Broglie dengan dimensinya serta dimensi sesuatu yang berinteraksi
dengannya. Pertikel yang bergerak memiliki sifat gelombang. Fakta yang mendukung teori ini adalah petir dan
kilat. Kilat akan lebih dulu terjadi daripada petir. Kilat menunjukan sifat gelombang berbentuk cahaya,
sedangkan petir menunjukan sifat pertikel berbentuk suara.
Teori Fisika Utama teori mekanika klasik dapat menjelaskan pergerakan benda dengan tepat, asalkan
benda ini lebih besar daripada atom dan bergerak dengan kecepatan jauh lebih lambat daripada kecepatan
cahaya. Teori-teori ini masih terus diteliti; contohnya, aspek mengagumkan dari mekanika klasik yang dikenal
sebagai teori chaos ditemukan pada abad kedua puluh, tiga abad setelah dirumuskan oleh Isaac Newton.
Namun, hanya sedikit fisikawan yang menganggap teori-teori dasar ini menyimpang. Oleh karena itu, teori-
teori tersebut digunakan sebagai dasar penelitian menuju topik yang lebih khusus, dan semua pelaku fisika,
apa pun spesialisasinya, diharapkan memahami teori-teori tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1) Bagaimana Sejarah Prinsip Ketidakpastian Heisenberg ?
2) Bagaimana Prinsip Ketidakpastian Heisenberg?
3) Bagaimana Prinsip Hipotesis De Broglie ?
4) Bagaimana persamaan dari gelombang ?
5) Bagaimana kecepatan fase dan kecepatan group ?
6) Bagaimana penerapan dari prinsip ketidakpastian ?
7) Bagaimana gerak dan fungsi gelombang ?
8) Bagaimana konsep dari nilai harap dan operator – operator masalah eigen ?

1
1.3 Tujuan
1) Mengetahui Sejarah Prinsip Ketidakpastian Heisenberg.
2) Mengetahui Prinsip Ketidakpastian Heisenberg.
3) Mengetahui Prinsip Hipotesis De Broglie.
4) Mengetahui persamaan dari gelombang.
5) Mengetahui kecepatan fase dan kecepatan group.
6) Mengetahui penerapan dari prinsip ketidakpastian.
7) Mengetahui gerak dan fungsi gelombang.
8) Mengetahui konsep dari nilai harap dan operator – operator masalah eigen.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Prinsip Ketidakpastian Heisenberg
Di tahun 1925 Werner Heisenberg mengajukan rumus baru di bidang fisika, suatu rumus yang
teramat sangat radikal, jauh berbeda dalam pokok konsep dengan rumus klasik Newton. Teori rumus
baru ini sesudah mengalami beberapa perbaikan oleh orang-orang sesudah Heisenberg sungguh berhasil
dan cemerlang. Rumus itu hingga kini bukan cuma diterima melainkan digunakan terhadap semua
sistem fisika, tak peduli yang macam apa dan dari yang ukuran bagaimanapun.
Dapat dibuktikan secara matematik, sepanjang pengamatan hanya dengan menggunakan sistem
makroskopik, perkiraan kuantum mekanika berbeda dengan mekanika klasik dalam jumlah yang
terlampau kecil untuk diukur. (Atas dasar alasan ini, mekanika klasik yang secara matematik lebih
sederhana daripada kuanturn mekanika masih dapat dipakai untuk kebanyakan perhitungan ilmiah).
Tetapi, jika berurusan dengan sistem dimensi atom, perkiraan tentang kuantum mekanika sangat berbeda
dengan mekanika klasik. Percobaan-percobaan membuktikan bahwa perkiraan mengenai kuantum
mekanika adalah benar.
Salah satu konsekuensi dari teori Heisenberg adalah "prinsip ketidakpastian" yang dirumuskannya
sendiri di tahun 1927. Prinsip itu umumnya dianggap salah satu prinsip yang paling mendalam di bidang
ilmiah dan yang paling mempunyai daya jangkau yang lebih jauh. Dalam praktek, apa yang diterapkan
lewat penggunaan "prinsip ketidakpastian" ini adalah mengkhususkan batas-batas teoritis tertentu
terhadap kesanggupan kita membuat ukuran-ukuran ilmiah. Akibat pengaruh dari sistem ini sangat
dahsyat. Apabila hukum dasar fisika menghambat seorang ilmuwan bahkan dalam keadaan yang ideal
sekalipun mendapatkan pengetahuan yang cermat dari suatu penyelidikan, ini disebabkan karena sifat-
sifat masa depan dari sistem itu tidak sepenuhnya bisa diramalkan.
Menurut "prinsip ketidakpastian," tak akan ada perbaikan pada peralatan ukur kita yang akan
mengijinkan kita mengungguli kesulitan, ini. "Prinsip ketidakpastian" ini menjamin bahwa fisika, dalam
keadaannya yang lumrah, tak sanggup membikin lebih dari sekedar dugaan-dugaan statistik. Seorang
ilmuwan yang menyelidiki radioaktivitas, misalnya, mungkin mampu menduga bahwa satu dari setriliun
atom radium, dua juta akan mengeluarkan sinar gamma dalam waktu sehari sesudahnya. Tetapi,
Heisenberg sendiri tidak bisa menaksir apakah ada atom radium yang khusus yang akan berbuat begitu.
Dalam banyak hal yang praktis, ini bukannya satu pembatasan yang ketat. Bilamana menyangkut jumlah
besar, metoda statistik sering mampu menyuguhkan basis pijakan yang dapat dipercaya untuk sesuatu

3
langkah. Tetapi, jika menyangkut jumlah dari ukuran kecil, soalnya jadi lain. Di sini "prinsip
ketidakpastian" memaksa kita menghindar dari gagasan sebab-akibat fisika yang ketat. Ini
mengedepankan suatu perubahan yang amat mendasar dalam pokok filosofi ilmiah. Begitu mendasarnya
sampai-sampai ilmuwan besar Einstein tak pernah mau terima prinsip ini. "Saya tidak percaya," suatu
waktu Einstein berkata, "bahwa Tuhan main-main dengan kehancuran alam semesta."

2.2 Prinsip Ketidakpastian Heisenberg

Dalam dunia fisika yang banyak berhubungan dengan partikel-partikel berukuran besar, nilai
konstanta Planck (h) dapat diabaikan karena kecil. Tetapi dalam dunia atom, h nilainya cukup besar
sehingga tidak dapat diabaikan. Salah satu prinsip dasar fisika klasik menyatakan bahwa posisi dan
momentum suatu partikel dapat ditentukan secara bersamaan secara pasti, tetapi menurut Heisenberg
posisi dan momentum tidak dapat ditentukan secara bersamaan jika partikel memiliki sifat-sifat
gelombang.
Bila elektron pada tingkat energi terendah mempunyai tingkat energi yang sama dengan nol,
maka kecepatannya juga harus nol, yang berarti momentumnya (mv) juga bernilai nol. Maka, baik posisi
maupun momentum elektron dapat diketahui. Menurut prinsip ketidakpastian Heisenberg (1972) hal
tersebut tidak benar, Heisenberg menyatakan bahwa tidak mungkin mengukur posisi dan momentum
sebuah partikel secara pasti pada waktu bersamaan. Jika posisi partikel diketahui dengan pasti; maka
momentum partikel tidak dapat ditentukan dengan pasti, demikian pula sebaliknya.
Misalnya adalah bahwa ketika Anda melemparkan bola, terutama bola yang berat pada benda
seperti bangku, maka bola mungkin menabrak beberapa benda dalam ruangan, tetapi walaupun demikian
masih terdapat momentum yang cukup sehingga bola tersebut kembali. Anda dapat mengatakan dimana

4
benda lain yang tertabrak, bukan dimana benda tersebut sekarang. Selain itu anda dapat menghitung
velositas benda yang anda lempar dengan bola, tetapi Anda tidak tahu kecepatannya sebelum anda
lempar dengan bola.
Ini adalah masalah yang diungkapkan oleh Prinsip Ketidakpastian Heisenberg. Untuk
mengetahui kecepatan maka kita harus mengukurnya, dan untuk melakukan pengukuran, kita dipaksa
untuk mempengaruhinya. Hal yang sama berlaku untuk mengamati posisi obyek. Ketidakpastian tentang
posisi suatu objek dan kecepatan membuat sulit bagi fisikawan untuk menentukan banyak hal tentang
objek.

2.3 Pendahuluan Gelombang


Setelah Max Planck dan Albert Einstein pada awal abad ke-20 sukses dalam mempelopori teori
kuantum yang menjelaskan tentang sifat-sifat partikel dari gelombang, pada tahun 1924 muncul
gagasan dari Louis de Broglie yang mengajukan hipotesis sebaliknya, yaitu materi mempunyai sifat-
sifat gelombang selain sifat partikel. Hipotesisnya cukup revolusioner karena tanpa didasarkan pada
eksperimental yang kuat, tidak seperti teori kuantum cahaya yang memang didukung oleh fakta-fakta
empiris. Keberadaan gelombang “de Broglie” ditunjukkan orang sekitar tiga tahun kemudian dan
prinsip dualisme partikel dan gelombang de Broglie ini digunakan sebagai proses awal perkembangan
mekanika kuantum oleh Schrodinger.

2.4 Gelombang de Broglie


Untuk memahami pengertian gelombang de Broglie, maka terlebih dahulu kembali diingat beberapa
persamaan penting yang dijelaskan pada Bab 3, seperti ditulis di bawah ini. Sebuah foton dengan
frekuensi  mempunyai momentum
hν h
p atau p  (1.1)
c λ
Berdasarkan persamaan di atas, jika p = mv, maka panjang gelombang foton dapat dinyatakan dengan
persamaan
h h
λ  atau λ  m v (1.2)
p

Panjang gelombang di atas sering disebut sebagai panjang gelombang de Broglie. Dari persamaan
(4.2), bahwa semakin besar momentum benda yang bergerak, maka semakin pendek panjang gelombang

5
yang dihasilkan. Massa benda m pada persamaan tersebut merupakan massa relativistik yang dapat
dituliskan sebagai berikut
m0
m
1  v 2 /c 2

Secara umum, aspek gelombang dan partikel dari sebuah benda yang bergerak tidak dapat
diamati secara bersamaan. Mungkin pada saat tertentu aspek gelombang yang terlihat, tetapi pada
saat yang lain justru aspek partikel yang terlihat. Kondisi semacam ini tergantung dari perbandingan
antara panjang gelombang de Broglie dengan dimensi benda yang bergerak. Contohnya bola voli
dengan massa 2 kg dan bergerak dengan kecepatan 20 m/s, mempunyai panjang gelombang de Broglie
sekitar 1,66 x 10-35 m. Panjang gelombang bola voli ini sedemikian kecil dibandingkan dengan dimensi
bendanya sehingga aspek gelombangnya tidak teramati dari gerak bola voli tersebut. Tetapi sebuah
elektron dengan massa 9,1 x 10-31 kg dan kecepatan 107 m/s mempunyai panjang gelombang de Broglie
sebesar 7,3 x 10-34 m. Nilai ini sebanding dengan dimensi atom, sehingga sifat gelombang dari elektron
yang bergerak dapat teramati melalui suatu pengamatan di laboratorium.

2.5 Persamaan Gelombang


Secara umum gelombang bergerak dengan kecepatan tertentu, misalnya v. Sekarang diandaikan
gelombang de Broglie juga menjalar dengan kecepatan tertentu, misalnya w yang dapat dirumuskan
w  λ (1.3)
Kuantitas  dapat diambil dengan menyamakan energi foton dengan energi total relativistik,
sehingga dapat diperoleh
mc 2
h  m c 2 atau   (1.4)
h
Jika persamaan (1.2) dan (1.4) disubstitusikan ke persamaan (1.3), maka kecepatan gelombang
de Broglie dapat dinyatakan dengan persamaan
mc 2  h  c 2
w  ν λ       (1.5)
 h mv  v

Karena v selalu lebih kecil dari c, maka berdasarkan persamaan (1.5), w tentu selalu lebih besar
dari c, sebuah hasil yang perlu “dianalisis” lebih lanjut.
Secara umum persamaan gelombang yang sedang bergerak untuk setiap saat (t) dan tempat (x) dapat
dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut

6
 x 
y  A cos 2 π ν  t   (1.6)
 w

Contoh gelombang yang merambat pada tali dapat dilihat pada Gambar 1.1. Tali mulai
digetarkan pada x = 0 saat t = 0, sehingga gelombang menjalar ke arah +x dengan kelajuan w. Dalam
waktu t, gelombang ini telah menempuh jarak x = wt, sehingga selang waktu penjalaran dari x = 0
hingga x = x adalah t = x/w. Dengan demikian, pergeseran y di x = x pada waktu t sama dengan
pergeseran y di x = 0 pada waktu sebelumnya yaitu t – x/w.

y
t=0
tali

y t=t

tali
x

wt

Gambar 1.1. Perambatan gelombang pada tali.

Apabila digunakan hubungan w =  , maka persamaan (1.6) dapat dituliskan menjadi persamaan
 νx  x
y  A cos 2 π  ν t   atau y  A cos 2 π ν  t   (1.7)
 w   λ

Dari persamaan (1.7), didefinisikan beberapa parameter gelombang seperti frekuensi anguler dan
bilangan gelombang
ω  2π (frekuensi anguler) (1.8)
2π ω
k   (bilangan gelombang) (1.9)
λ w
Persamaan (4.7) dapat dinyatakan dalam variabel  dan k, sehingga dapat ditulis menjadi
y  A cos (ω t  k x) (4.10)

7
2.6 Kecepatan Fase dan Kecepatan Group
Gelombang de Broglie tidak dapat dinyatakan dengan formulasi sebagaimana persamaan (1.10), yang
menggambarkan deretan gelombang dengan nilai amplitudo sama dan jumlahnya tidak tentu. Hal ini dapat
kita pahami, karena amplitudo dari gelombang de Broglie yang terkait dengan benda yang bergerak
mencerminkan peluang benda itu untuk diperoleh pada suatu tempat dan saat tertentu. Untuk
mempermudah memahami gelombang de Broglie, diperlihatkan sebuah group gelombang seperti pada
Gambar 1.2.

Gambar 1.2. Sebuah group gelombang.

Group gelombang merupakan superposisi dari gelombang individu dengan panjang gelombang yang berbeda-
beda, sehingga interferensinya memiliki pola amplitudo yang bervariasi, seperti terlihat pada Gambar 1.2. Jika
kecepatan gelombang individu sama, maka kecepatan tersebut merupakan kecepatan penjalaran dari group
gelombang. Tetapi jika kecepatan gelombang berubah terhadap panjang gelombangnya, maka gelombang
individu yang berbeda tidak menjalar bersama, dan kecepatan group gelombang berbeda dengan kecepatan
gelombang individunya.
Misalnya ada dua gelombang dengan amplitudo sama A, selisih frekuensi sudutnya d dan selisih bilangan
gelombangnya dk. Kedua gelombang ini dapat dinyatakan dengan persamaan
y1  A cos (ω t  k x)
y 2  A cos  ω  Δω  t  k  Δk  x 

Superposisi dua gelombang merupakan resultan y pada saat t dan pada posisi x yang dapat dinyatakan
dengan persamaan
y  y1  y 2

1
y  2 A cos   2ω  dω  t  (2k  dk) x  cos 1 dω t  dk x 
2 2
Karena d <<  dan dk << k, maka persamaan di atas dapat dituliskan menjadi

8
 dω dk 
y  2A cos (ω t  k x) cos  t x (1.11)
 2 2 
Persamaan (1.11) merupakan gelombang dengan frekuensi sudut  dan bilangan gelombang k yang
termodulasi dengan frekuensi sudut ½ d dan bilangan gelombang ½ dk.
Berdasarkan persamaan (1.11), kecepatan fase dari gelombang de Broglie dapat dituliskan
ω
w (1.12)
k

+ gelombang individu

= gelombang individu

group gelombang

Gambar 1.3. Penjumlahan dua gelombang membentuk sebuah group


gelombang yang termodulasi.

Sedangkan kecepatan groupnya dapat dirumuskan dengan persamaan



u (1.13)
dk
Frekuensi sudut dan bilangan gelombang de Broglie yang terkait dengan benda yang bermassa diam m0
dan bergerak dengan kecepatan v adalah
2π mc2 2 π m0 c 2
ω  2π   (1.14)
h h 1  v 2 /c 2

2 π 2 π mv 2 π m0 v
dan k   (1.15)
λ h h 1  v 2 /c 2

9
Jika persamaan (1.14) dan (1.15) disubstitusikan ke persamaan (1.12), maka kecepatan fase gelombang
de Broglie dapat dituliskan dengan hasil yang sama seperti persamaan (1.5)
ω c2
w  (1.16)
k v
Sedangkan kecepatan group gelombang de Broglie (u) yang terkait dengan benda yang bergerak dapat
dirumuskan

dω 2 π m0 v
dω dv h (1  v 2 /c 2 ) 3/2
u = atau u  v (1.17)
dk dk 2 π m0
dv h (1  v 2 /c 2 ) 3/2

Jadi group gelombang de Broglie terkait dengan benda yang bergerak, menjalar dengan kecepatan
sama dengan kecepatan benda tersebut.

2.7 Difraksi Partikel


Pada tahun 1927 Davisson dan Germer di Amerika Serikat dan G.P. Thomson di Inggris secara terpisah
membuktikan hipotesis de Broglie dengan menunjukkan berkas elektron terdifraksi jika berkas itu terhambur
dengan kisi atom kristal yang teratur. Gambar 1.4 di bawah, menunjukkan skema peralatan eksperimen
Davisson-Germer, dimana energi elektron dalam berkas primer, sudut jatuhnya pada target dan posisi detektor
dapat diatur. Pada eksperimen tersebut target dibuat dari nikel yang dipanaskan pada temperatur yang tinggi.
senapan elektron

detektor elektron
berkas
datang

berkas
hambur

Gambar 4.4. Skema eksperimen Davisson-Germer.

Hasil yang diperoleh dari eksperimen Davisson-Germer adalah kurva berkas hambur elektron dengan
pola maksimum – minimum yang jelas teramati yang posisinya tergantung dari energi berkas elektron, seperti
Gambar 4.5. Pola maksimum – minimum seperti kurva di bawah, ditafsirkan sebagai hasil dari peristiwa

10
difraksi gelombang elektron oleh target, seperti halnya difraksi sinar-X oleh bidang-bidang atom dalam
kristal. Pada saat energi berkas elektron 54 eV yang ditembakkan tegak lurus pada target nikel, maka terjadi
pola maksimum pada sudut 50o yang paling tajam dalam distribusi elektron.

Berkas
elektron

500

40 eV 44 eV 48 eV 54 eV 60 eV

Gambar 1.5. Hasil eksperimen Davisson-Germer.

Contoh Soal 1 :
Pada peristiwa difraksi elektron, sudut datang dan sudut hambur relatif terhadap keluarga bidang Bragg
adalah 65o (definisi bidang Bragg dapat dibaca di buku-buku Fisika Modern). Jika jarak antar bidang, setelah
diukur menggunakan difraksi sinar-X adalah 0,91 oA, hitunglah panjang gelombang elektron dengan rumus
difraksi dan rumus de Broglie ?

Penyelesaian
Untuk menghitung panjang gelombang de Broglie dari elektron yang terdifraksi dapat digunakan persamaan
difraksi
n  = 2 d sin .
Jika n = 1, maka  = 2 d sin  = 2 x 0,91 oA x sin 65o = 1,65 oA
Jika digunakan persamaan gelombang de Broglie, maka diperoleh
h h
λ  
mv 2 m EK

6,63 x 10 34 Js
= 1,66 x 10 10 m
 31 19
2 x (9,1 x 10 kg ) x (54 eV ) x (1,6 x 10 J/eV )

= 1,66 oA
Dengan demikian nilai yang dihasilkan mendekati sama.

11
2.8 Partikel Dalam Kotak
Sifat gelombang dari partikel yang bergerak “akan” terlihat jelas, jika partikel itu dibatasi pada suatu daerah
tertentu, misalnya di dalam kotak seperti Gambar 1.6. Menurut teori gelombang, sebuah partikel yang
terperangkap di dalam kotak identik dengan gelombang berdiri pada tali yang terbentang antara dinding-
dindingnya. Pergeseran transversal tali dan fungsi gelombang partikel  sama dengan nol pada dinding,
karena gelombang terhenti di sini.
Panjang gelombang de Broglie dari partikel dalam kotak tergantung dari lebar kotak L. Dari Gambar
1.7, panjang gelombang terbesar adalah  = 2L, kemudian  = L dan  = 2/3 L. Berdasarkan hal ini,
persamaan gelombang de Broglie yang diijinkan adalah
2L
λn  n = 1, 2, 3, … (1.18)
n
Karena  = h/mv, maka pembatasan panjang gelombang de Broglie yang datang terhadap lebar kotak
setara dengan pembatasan momentum partikel atau energi kinetiknya. Energi kinetik partikel (non relativistik)
dengan momentum mv adalah
1 (m v) 2
EK  mv 2 
2 2m

Gambar 1.6. Partikel terperangkap di dalam kotak berdinding tegar.


Dengan memasukkan nilai mv = h/, maka diperoleh
h2
EK  (1.19)
2m λ2

Selanjutnya persamaan (1.18) disubstitusikan ke dalam persamaan (1.19). Jika tidak terdapat
energi potensial pada model ini, maka energi yang dapat dimiliki partikel tersebut adalah
n2 h2
En  n = 1, 2, 3, … (1.20)
8 m L2

12
Setiap energi yang diijinkan disebut sebagai tingkat energi dan bilangan bulat n disebut sebagai
bilangan kuantum.

 = 2/3 L =L  = 2L

  

L L L

Gambar 1.7 Fungsi gelombang partikel yang terperangkap di dalam kotak


dengan lebar L.
Aspek penting dari persamaan (1.20) adalah, bahwa partikel yang ada dalam kotak tidak
boleh memiliki energi nol. Jika E = 0, maka  = 0 di setiap titik dalam kotak, sehingga kerapatan
peluang  2 = 0, artinya partikel tidak terdapat dalam kotak.
Sebuah partikel dalam kotak berdinding tegar hanya suatu model saja, namun demikian kuantisasi energi
yang diperoleh berlaku secara umum. Artinya bahwa sebuah partikel yang terperangkap dalam suatu
ruang (meski ruang itu tidak memiliki batas yang terdefinisikan secara baik) hanya dapat memiliki
energi tertentu saja. Kuantisasi energi dapat muncul untuk elektron dalam atom, molekul dan zat padat
serta untuk proton dan neutron dalam inti atomik.

Contoh Soal 2:
Carilah tingkat energi sebuah elektron yang terperangkap di dalam kotak yang lebarnya 0,1 nm ?

13
Penyelesaian
Diketahui massa elektron = 9,1 x 10-31 kg dan L = 0,1 nm = 10-10 m, sehingga energi elektron yang
diijinkan adalah
n 2 x (6,63 x 10 34 Js )2
En   6,0 x 10 18 n 2 J  38 n 2 eV
8 x (9,1 x 10  31 kg ) x (10 10 m) 2

Karena En = 38 n2 eV, maka tingkat energinya adalah E1 = 38 eV, E2 = 152 eV, E3 = 342 eV, E4 = 608 eV
dan seterusnya.

2.9 Prinsip Ketidakpastian


Seperti yang telah dijelaskan bahwa sebuah partikel yang bergerak dapat dipandang sebagai group
gelombang de Broglie. Semakin lebar suatu group gelombang, semakin banyak pula jumlah gelombang
yang dikandungnya serta lebih mudah mendapatkan panjang gelombang dan momentum partikel
tersebut. Sebaliknya, jika lebar group gelombang sempit, posisi partikel lebih mudah ditentukan, tetapi
momentumnya sukar. Sehingga terdapat hubungan “timbal balik” antara ketidakpastian posisi partikel
(x) dan ketidakpastian momentumnya (p).

=? 

x x
p  besar p  kecil

Gambar 1.8. Hubungan timbal balik antara ketidakpastian posisi partikel  x


dan ketidakpastian momentum  p dari suatu group
gelombang de Broglie terbatas.

Sebuah group gelombang (x) dapat dinyatakan dengan persamaan integral fourier, sebagai berikut

ψ (x)   g(k) cos k x dk
0
(1.21)

dimana fungsi g(k) menyatakan amplitudo gelombang yang berkontribusi pada (x) dan nilainya
berubah terhadap bilangan gelombang k. Sebuah grafik group gelombang dan model transformasi
fouriernya ditunjukkan dalam Gambar 1.9.

14
Berdasarkan Gambar 1.9, semakin sempit group gelombang, maka semakin lebar selang bilangan
gelombangnya, begitu juga sebaliknya. Hubungan antara jarak x dan pelebaran bilangan gelombang
k tergantung dari bentuk group gelombang dan cara bagaimana x dan k didefinisikan. Perkalian x
dan k minimum, jika group gelombang berbentuk gaussian (dalam hal ini tranformasi fourier juga
berbentuk gaussian). Selanjutnya jika x dan k diambil dari deviasi standart fungsi (x) dan g(k),
maka nilai minimum x k = ½. Tetapi karena umumnya group gelombang tidak memiliki bentuk
gaussian, maka lebih baik jika hubungan x dan k dapat dirumuskan
x k  ½ (1.22)
Sementara itu panjang gelombang de Broglie untuk sebuah partikel yang dengan momentum p
adalah  = h/p dan bilangan gelombang yang bersesuaian dengannya adalah
2π 2π p
k  
λ h

  

x x x

g g g

k k k

Gambar 1.9. Fungsi gelombang dan transform fourier untuk pulsa, group
gelombang dan gelombang yang melebar tak terhingga.

Hubungan antara k dan p dapat diturunkan dari persamaan di atas, sehingga persamaan di atas
dapat ditulis menjadi
h Δk
Δp 

Seperti kita ketahui x k  ½, sehingga k  1/(2 x), dan selanjutnya


h
Δx Δp  (1.23)

15
Persamaan di atas merupakan salah satu prinsip ketidakpastian yang diperoleh oleh Werner Heisenberg
pada tahun 1927. Kuantitas h/2 merupakan satuan dasar dari momentum sudut, sehingga
kuantitas ini sering dituliskan dengan ћ. Nilai ћ = 1,054 x 10-34 J.s, dan persamaan (1.23) dapat ditulis
menjadi
x p  ћ/2 (1.24)
Untuk mengamati posisi dan mometum sebuah elektron yang sedang bergerak, digunakan cahaya dengan
panjang gelombang . Pada peristiwa ini foton cahaya menumbuk elektron sehingga terpantul ke arah
lain. Setiap foton yang bermomentum h/ dan jika bertumbukan dengan elektron, maka momentum
elektron semula p berubah. Perubahan yang tepat cukup sulit untuk diperkirakan, tetapi perubahannya
berorde besar sama dengan momentum foton cahaya h/. Dengan demikian, jika panjang gelombang
cahaya yang digunakan besar, maka ketidakpastian momentumnya lebih kecil.
h
Δp  (1.25)
λ
Karena cahaya bersifat gelombang, maka kita tidak menentukan posisi elektron dengan ketepatan tak
berhingga, tetapi kita kemungkinan masih dapat mempertahankan ketidakpastian tak tereduksi x dari
posisinya, sepanjang panjang gelombang cahaya yang dipakai, sehingga
x   (1.26)
Dengan demikian, semakin kecil panjang gelombangnya, maka semakin kecil pula ketidakpastian dari
posisi elektron itu.
Dari persamaan (1.25) dan (1.26), bahwa jika digunakan cahaya dengan panjang gelombang kecil agar
penentuan kedudukan elektron lebih tepat, maka akan timbul reduksi yang sesuai dengan ketepatan
penentuan momentum. Sedangkan jika digunakan cahaya dengan panjang gelombang besar, maka hasil
penentuan momentumnya mungkin tepat, tetapi kedudukannya tidak tepat. Jika persamaan (1.26)
disubstitusikan ke persamaan (1.25), maka diperoleh
x p  h (1.27)
yang sebenarnya masih sesuai dengan persamaan (1.24).

Contoh Soal 3:
Atom hidrogen berjari-jari 5,3 x 10-11 m. Gunakan prinsip ketidakpastian untuk memperkirakan energi
elektron yang dapat dimiliki dalam sebuah atom hidrogen tersebut ?

16
Penyelesaian
Diketahui x = 5,3 x 10-11 m. Kita gunakan persamaan (4.24), sehingga

Δp   p  9,9 x 10-25 kg m/s
2 Δx

Elektron dengan momentum besar ini berkelakuan sebagai partikel klasik dan energi kinetiknya adalah
p2 (9,9 x 10 25 kg m/s)2
EK    31
 5,4 x 10 19 J
2m 2 x (9,1 x 10 kg )

Nilai energinya sedemikian adalah setara dengan 3,4 eV.

2.10 Penerapan Prinsip Ketidakpastian


Tetapan Planck h bernilai sangat kecil, sehingga pembatasan yang dihasilkan dari prinsip ketidakpastian
hanya sesuai dalam dimensi atom. Dalam hal ini penerapan prinsip ketidakpastian dapat digunakan
untuk menafsirkan berbagai gejala. Perlu anda ketahui bahwa batas bawah ħ/2 untuk x p jarang
tercapai, umumya x p  ħ atau x p  h, seperti persamaan (1.27).
Model lain dari prinsip ketidakpastian kadang-kadang diperlukan, misalnya untuk mengukur energi E
yang dipancarkan pada suatu waktu selama selang waktu t dalam proses atomik. Jika energi ini
berbentuk gelombang elektromagnetik, maka batas waktu yang tersedia membatasi untuk menentukan
frekuensi  dari gelombang itu. Asumsikan group gelombang itu sebagai satu gelombang, karena
frekuensi gelombang yang sedang dipelajari sama dengan bilangan yang dihitung dan dibagi dengan
selang waktu. Oleh karena itu ketidakpastian frekuensi  adalah
1
Δν  (1.28)
Δt
Ketidakpastian energi yang sesuai
E = h  (1.29)
sehingga diperoleh hubungan
h
ΔE  atau ΔE Δt  h (4.30)
Δt
Persamaan di atas dapat diubah secara lebih teliti, menurut sifat group gelombang, sehingga menjadi

ΔE Δt  (1.31)
2

17
Persamaan (1.31) disebut sebagai persamaan ketidakpastian energi dan waktu dan secara umum
kasusnya tidak dibatasi hanya untuk kasus gelombang elektromagnetik.

Contoh Soal 4:
Sebuah atom tereksitasi memancarkan energi dalam bentuk foton yang memiliki frekuensi tertentu.
Periode rata-rata antara saat eksitasi hingga memancarkan foton adalah 10 -8 s. Cari batas ketidakpastian
energi dan frekuensi foton itu ?

Penyelesaian
Ketidakpastian energi foton
 1,054 x10 34 Js
ΔE    E  5,3 x 10-27 J
2 Δt 2 x10 8 s

Ketidakpastian frekuensi foton


E
Δ   8 x10 6 Hz
h

2.11 Gerak dan Fungsi Gelombang


Dalam upaya perumusan gelombang ada tonggak2 yang menuntun kita, misalnya apapun bentuk
perumusan itu, mestilah ia:
a. Ada sangkut pautnya dengan gelombang2 de Broglie (memenuhi kaitan de
Broglie)
b. Mencakup keberlakuan prinsip ketidakpastian Heisenberg
c. Menghasilkan adanya besaran dengan harga2 yang diskrit
d. Memenuhi prinsip korespondensi.
Yang pertama-tama harus kita tangani adalah bagaimana caranya melaporkan keadaan dinamis suatu
sistem. Ambil sistem itu sistem sederhana, misalnya satu partikel, elektron misalnya. Dalam teori klasik,
melaporkan keadaan gerak sistem itu setiap saat cukup dengan memberikan kedudukan dan momentum
nya pada saat itu. Hal itu karena spesifikasi (r , p ) itu sekaligus telah menentukan nilai dari setiap
besaran dinamis A sistem, karena menurut klasik semua besaran dinamis itu kompatibel, dan nilainya
ditentukan oleh dan itu, yakni A = A (r , p ). Hal demikian tentulah tidak mungkin lagi dalam
mekanika kuantum, karena kedudukan dan momentum, menurut Heisenberg, bukanlah merupakan
besaran2 kompatibel. Kalau kedudukannya pasti, di misalnya, momentumnya sama sekali tidak pasti,
hingga sesungguhnya tak dapat menyatakan apa2 mengenainya. Perihal yang paling umum tentunya
adalah dimana posisi kita ketahui dalam batas2 suatu ketidakpastian x tertentu, begitu pula
momentumnya dalam , dan antara x dan itu selalu dipenuhi x px > h. Perbedaan pandangan itu
dijelaskan dengan diagram 2seperti berikut ini.

18
(Gambar: Klasik) (Gambar: Kuantum)

Dalam pandangan klasik kita dapat berbicara, misalnya, tentang kedudukan yang tertentu bagi
suatu partikel pada suatu saat. Dalam fisika kuantum sebaliknya kita berbicara mengenai berapa
besarnya kebolehjadian partikel itu berada dalam suatu selang tertentu pada saat itu, ataupun lebih
umum, bagaimana bentuk fungsi distribusinya untuk posisi: P(x).

Pertanyaannya kemudian: bagaimana caranya kita melukiskan, atau melaporkan, keadaan sistem
pada suatu saat? Dengan jalan melukiskan fungsi distribusi dari semua besaran sistem tentulah tidak
praktis. Kalau bisa, lebih baik dengan pertolongan suatu fungsi saja, dari mana kemudian fungsi2
distribusi tadi dapat kita peroleh melalui suatu prosedur tertentu. Dan untunglah fungsi seperti ini
ternyata memang ada, ia disebut fungsi gelombang dari sistem itu. Dengan demikian:

Keadaan suatu sistem pada suatu saat dilukiskan oleh fungsi gelombangnya, yakni Ψ , pada saat
itu. Fungsi gelombang ini mengandung informasi maksimum mengenai sistem tadi pada saat itu.

2.12 Distribusi Kebolehjadian Posisi

Mari kita tinjau kembali percobaan difraksi Young memakai dua celah. Berkas cahaya
monokromatis dengan panjang gelombang λ yang dijatuhkan pada dua celah sempit sejajar akan
membentuk suatu pola difraksi pada suatu layar yang dipasang di balik celah itu. Pola difraksi yang
berbentuk pola terang – gelap silih berganti itu dinyatakan dengan grafik intensitas I (x) pada gambar di
bawah, dengan puncak2 menunjukkan yang paling terang, dan lembah menunjukkan tempat2 yang
paling gelap.

19
(Gambar : Difraksi Young)

perumusan fungsi gelombang untuk keadaan partikel dengan momentum pasti sebesar p, yaitu :

Keadaan ini disebut sebagai suatu keadaan eigen bagi besaran momentum. Maksudnya, dalam
keadaan ini besaran momentum mempunyai nilai yang pasti, sebesar p, yang bearti, apabila dilakukan
pengukuran momentum pada sistem, kita akan memperoleh nilai p itu.

Partikel menunjukkan kerapatan kebolehjadian posisi P (x) yang mempunyai sifat :

Syarat di atas mensyaratkan pula bahwa

20
2.13 Distribusi Kebolehjadian Momentum

Dalam bagian sebelumnya diperlihatkan bagaimana perumusan fungsi gelombang untuk


keadaan partikel dengan momentum pasti sebesar p, yaitu :

(dimana C = konstanta).

Tentu saja terdapat banyak keadaan eigen bagi momentum, untuk harga-harga yang berbeda dari
momentum tersebut.

Fungsi gelombang yang mempunyai sifat ini, yakni kita

namakan paket gelombang. Fungsi gelombang yang memenuhi

ini disebut ternormalisasi.

Sifat ini selanjutnya selalu kita anggap berlaku bagi keadaan-keadaan yang “fisikal”, dalam hal ini
interpretasi Born menjadi:

Haruslah kita ingat bagaimana memproleh fungsi distribusi kebolehjadian momentum dari Ψ (x)
itu.

Distribusi kebolehjadian momentum bagi suatu keadaan yang fungsi gelombangnya berupa paket
gelombang :

Seperti telah dijanjikan kita pilih Ψ (x) yang ternormalisasi, yaitu :


maka:

21
2.14 Konsep Nilai Harap dan Operator – Operator Besaran Dinamika

Mengingat dalam fisika klasik nilai posisi dan momentum telah menentukan nilai setiap besaran
lainnya, maka kini tentulah kita pun mengharapkan bahwa fungsi gelombang keadaan sistem juga
mengandung informasi tentang setiap besaran lain dari sistem tersebut. Namun, harapan ini barulah akan
memperoleh landasan apabila ternyata kita memang mampu merumuskan cara menarik informasi itu,
disini tentu dalam bentuk distribusi kebolehjadian, yang konsisten dengan maknanya sebagai suatu
distribusi peluang. Langkah ke arah itu kita mulai dengan membahas suatu pengertian yang perlu, yakni
nilai harap dari suatu besaran.

Kita definisikan nilai harap suatu besaran dalam suatu keadaan sebagai rata-rata dari nilai-
nilai besaran itu dengan bobot peluangnya. Misalnya, bagi besaran posisi, dalam keadaan dengan
kerapatan peluangnya P(x), nilai harap itu adalah:

< x> =

Sedangkan untuk momentum :

<p> =

Secara eksperimental nilai harap adalah sama dengan harga rata-rata hasil banyak sekali
pengukuran besaran bersangkutan, dengan setiap kalinya sistem berada dalam keadaan yang sama.
Atau, ia sama pula dengan nilai rata-rata hasil pengukuran terhadap banyak sistem identik, semuanya
dalam keadaan yang sama. Sebagai contoh, dalam percobaan difraksi berkas elektron dengan celah
ganda, nilai harap kordinat vertikal bagi elektron pada kedudukan layar adalah pada tengah-tengah
difraksi (yang simetris) itu.

22
Karena P(x) |Ψ (x)| =Ψ (x) Ψ (x) maka kita dapat menuliskan ungkapan nilai harap x, yang dari setiap
fungsinya, dalam bentuk;

Nilai harap p :

2.15 Aljabar Operator dan Masalah Nilai Eigen

Berdasarkan pada pembahasan sebelumnya, permasalahan spektrum besaran dinamis kita sadari
betapa pentingnya operator dari besaran-besaran sistem. Jika dugaan ini benar, berati bentuk operator itu
telah mengandung informasi, minimal informasi tentang nilai-nilai (atau spektrum) besaran
bersangkutan. Dengan demikian, masalah tentang bagaimana memperoleh spektrum suatu besaran dari
bentuk operatornya tentulah merupakan salah satu masalah utama dalam mekanika kuantum. Masalah
begini tidak kita jumpai dalam mekanika klasik, karena dalam mekanika klasik suatu besaran dapat
mengambil nilai berapa saja dalam suatu selang yang umumnya mudah pula dilihat. Energi kinetik
misalnya, dapat mengambil nilai berapa saja yang tak negatif. Sedangkan energi total, nilainya boleh
berapa saja di atas harga minimum energi potensial!

Untuk model sistem yang (hampir selalu) kita ambil, yaitu partikel yang bergerak sepanjang
garis lurus di bawah pengaruh gaya konservatif, sebenarnya tinggal energi total yang spektrumnya masih
harus ditetapkan. Ini karena, secara diam-diam kita sudah menganggap bahwa spektrum posisi, juga
spektrum momentum, adalah kontinu dari . Pada gilirannya, ini berakibat pula pada kontinunya
spektrum setiap besaran lain yang merupakan fungsi dari salah satu dari kedua besaran itu. Walaupun
spektrum posisi maupun momentum tidak merupakan masalah lagi, kita toh mengharap – agar segala

23
sesuatunya lengkap dan taat azas – sifat spektrum yang kontinu tadi juga dapat kita turunkan dari
ungkapan operator masing-masingnya! Jadi singkatnya:

Spektrum suatu besaran sudah ditentukan oleh operator besaran itu. Dalam uraian yang akan
datang kita akan pelajari bagaimana memperoleh spektrum dari bentuk operatur besarannya. Perangkat
matematika yang diperlukan untuk itu kita perkenalkan terlebih dulu dalam bagian ini.

a. Operator bekerja pada fungsi gelombang


Operator yang kita maksudkan di sini adalah misalnya operator  yang bekerja pada fungsi
gelombang yang dituliskan langsung di belakangnya, menghasilkan suatu fungsi lainnya,
yakni: Aˆ =j . Fungsi-fungsi gelombang itu sendiri bergantung pada sistemnya. Bagi
partikel yang bergerak sepanjang garis lurus ,    ( x ) , bagi yang bergerak dalam ruang, 
=  (r ), yang selanjutnya masih dapat dituliskan dalam koordinat kartesian, bola, atau
lainnya. Yang kita tinjau sekarang adalah keadaan sistem pada suatu saat tertentu, sebab itu
pergantungannya terhadap t kita abaikan dulu. Lagi pula, pada umumnya fungsi ini berbentuk
2
paket gelombang, yakni dimana j dx  

b. Operator Linier
Contoh-contoh dari operasi operator linier tersebut, misalnya, perkalian dengan suatu
d
konstanta: C j , perkalian dengan suatu fungsi: V(x) j , diferensiasi: . Ketiganya adalah
dx
contoh dari operasi yang linear, yaitu yang memenuhi
 (  ˆ ˆ
1 1  2 2 )  1 A 1  2 A 2

Contoh yang tak linear, misalnya; penjumlahan dengan suatu fungsi tertentu. Namun
selanjutnya kita hanya membahas operator yang linier saja. Dua operator disebut sama:
Aˆ  Bˆ , jika hasil operasinya terhadap fungsi  yang mana saja adalah identik.

c. Penjumlahan dan perkalian operator


Antara dua operator dapat kita lakukan penjumlahan, dan perkalian. Jumlah dari dua
operator, yakni ( Aˆ  Bˆ )  = A ˆ  Bˆ . Definisi ini mengakibatkan, misalnya
Aˆ  Bˆ  Cˆ  Aˆ  ( Bˆ  Cˆ )  ( Aˆ  Bˆ )  Cˆ begitu pula Aˆ  Bˆ  Bˆ  Aˆ . Yang terakhir
menunjukkan bahwa operator-operator berkomutasi, singkatnya komut pada operasi
penjumlahan.
Perkalian dua operator didefinisikan melalui ( AB ˆ ˆ )  AB
ˆ ˆ  Aˆ ( Bˆ ) . Perhatikan definisi
urutannya: B̂ dulu bekerja pada , baru kemudian pada fungsi hasilnya dioperasikan
Aˆ . AA
ˆ ˆ  Aˆ 2 , AAA
ˆ ˆ ˆ  Aˆ 3 , dan sebagainya.
Pada perkalian juga berlaku
ˆ ˆ ˆ  Aˆ ( BC
ABC ˆ ˆ )  ( AB
ˆ ˆ )Cˆ , sehingga AAA ˆ ˆ ˆ  Aˆ 2 Aˆ  AA
ˆ ˆ 2 dan sebagainya.

24
Contoh Soal :

1. Soal 3.2
Cari Solusi persamaan differensial berikut :
d 2x
(a) 2
  2 x(t )  0 x (0) = 0, x’ (0) = V0
dt
d2x
(b) 2
  2 x(t )  0 x (0) = A, X’ (0) =V0
dt

Buktikan bahwa dalam kedua kasus ini x(t) berosilasi dengan frekuensi  2

Solusi 3.2
a)
d2x
 2x  0
dt 2
Solusi umum persamaan ini adalah
X(t) = Acos t  B sin t
Kedua kondisi diterapkan, diperoleh
X(0) = 0 = A
X(0) = v0 = B 
A = 0 dan B = v0 / 
b). Solusi umum adalah
x(t) = A cos t + B sin t
Kedua kondisi diterapkan, diperoleh
X (0) = A
X’ (0) = v0 = B 
Jadi
v0
X (t) = A cos t + sin t

2. Solusi umum pada persamaan differensial

25
d2x
2
  2 x(t )  0 adalah x (t) = e1 cos  t + e2 sin  t
dt
Sering Solusi ini ditulis dalam bentuk ekuivalen seperti berikut:
x(t )  A sin(t  f ) atau
x(t )  B cos(t  j )
Tunjukkan ketiga ekspressi tersebut untuk x(t) adalah ekuivalen. Turunkan persamaan-persamaan
untuk A dan f dalam suku-suku C1 dan C2. Tunjukan pula bahwa ketiga bentuk untuk x (t) tersebut

berosilasi dengan frekuensi  2

Solusi 3.3
Mari kita mulai dengan
X(t) =A sin (t  f )  A cos f sin t  A sin f cos t
Bandingkan dengan
x(t )  C1 cos t  C2 sin t
Kita lihat bahwa,
C1 = A sin f C2 = A cos f
Dengan cara sama,
X (t) = B cos ( t  ) = B cos  cos t - B sin  sin t
Bandingkan hasil ini dengan x (t) = c1 cos t + c2 sin t
Menunjukkan bahwa,
C1 = B cos  C2 = - B sin 
Untuk menunjukkan A sin ( t  f ) berisolasi dengan frekuensi
 / 2 , ganti dengan t + n t , dimana t = 2  /  yang merupakan
perioda osilasi. Subtitusi ini akan menghasilkan
A sin(t  f )  A sin[ (t  2 n /  )  f ]
 A sin[(t  f )  2 n]
 A sin(t  f ) cos 2 n
 A cos(t  f ) sin 2 n
 A sin(t  f )
Jadi, t  2 /  merupakan periode osilasi dan  / 22 adalah frekuensi

26
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1) Prinsip ketidakpastian Heisenberg memperkenalkan suatu hubungan timbal balik antara posisi
dan momentum. Jika nilai posisi elektron diketahui dengan tingkat akurasi yang tinggi, maka nilai
momentum elektron elektron akan tidak pasti, dan sebaliknya.
2) Ketidakpastian kecepatan elektron cukup besar, mendekati nilai kecepatan cahaya pada ruang
hampa. Dengan kata lain, tidak mungkin untuk menentukan posisi elektron di sekitar inti atom secara
pasti. Menunjukkan bahwa teori Bohr yang menyatakan bahwa elektron bergerak pada orbit tertentu
dan dengan kecepatan diketahui adalah tidak benar.
3) Suatu ciri dari mekanika kuantum adalah adanya besaran-besaran dengan nilai-nilai yang
diskrit, misalnya energi. Tapi kalau ketidaktelitian pengukuran-pengukuran energi sistem itu jauh
melampaui selang energi sistem itu, maka sifat “kuantum” sistem ini tentu saja tak dapat diamati.
Dengan kata lain, energi tersebut tampak kontinu, dan sistem berlaku sebagai sistem klasik saja.
4) Nilai harap suatu besaran dalam suatu keadaan sebagai rata-rata dari nilai-nilai besaran itu
dengan bobot peluangnya. Misalnya, bagi besaran posisi, dalam keadaan dengan kerapatan peluangnya
P(x).
5) Jika dugaan ini benar, berati bentuk operator itu telah mengandung informasi, minimal
informasi tentang nilai-nilai (atau spektrum) besaran bersangkutan. Dengan demikian, masalah tentang
bagaimana memperoleh spektrum suatu besaran dari bentuk operatornya tentulah merupakan salah satu
masalah utama dalam mekanika kuantum.

3.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka kami ingin kritik dan saran yang bersifat
membangun.

27
DAFTAR PUSTAKA

Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ributhermanto. 2010. Asas Ketidakpastian Heisenberg dan persamaan Schrodinger. Pages: 1-8.

28