Anda di halaman 1dari 37

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam pembangunan
ekonomi meskipun jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian
terus menurun. Berdasarkan lapangan pekerjaan, dari 114, 6 juta
penduduk yang bekerja, sekitar 33, 9 % penduduk Indonesia bekerja di
sektor pertanian (BPS, 2014). Sedangkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada triwulan III tahun 2014 yang diukur dari kenaikan Produk
Domestik Bruto (PDB) meningkat sebesar 5,01 %. Pertumbuhan ini
terjadi pada semua sektor. Pertumbuhan kedua tertinggi dihasilkan oleh
sektor pertanian yaitu sebesar 6,74 % (BPS, 2014). Sektor pertanian
Indonesia terdiri atas tiga sub sektor yaitu sub sektor tanaman
perkebunan, tanaman pangan dan tanaman hortikultura.
Pertanian di Indonesia sebagian besar masih dilakukan dengan cara
konvensional. Pertanian secara konvensional menyebabkan tingginya
pengunaan input bahan-bahan kimia berupa pupuk dan pestisida.
Penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan akan menurunkan
kualitas lingkungan dan kesehatan manusia. Pemahaman masyarakat
akan hal ini sudah mulai terjadi, akan tetapi masih sangat kecil
(Litbang, 2002). Dampak negatif penggunaan pestisida kimia dan pupuk
buatan pabrik, manusia pun kemudian berusaha mencari teknik bertanam
secara aman, baik untuk lingkungan maupun manusia. Inilah yang
kemudian melahirkan teknik bertanam secara organik atau pertanian
organik (Andoko, 2002). Menurut IFOAM atau International Federation
of Organik Agriculture Movements (2014) yang merupakan organisasi
yang mewadahi gerakan organik dunia, bahwa pertanian organik adalah
sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, yang
mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami
sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup,
berkualitas, dan berkelanjutan. Tujuan utama pertanian organik adalah
menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang
aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak
lingkungan (IFOAM, 2014).
Budaya hidup sehat dan kembali ke alam (back to nature) saat ini
menjadi trend baru di masyarakat. Lambat laun pikiran masyarakat
menjadi terbuka untuk menghindari bahan makanan yang mengandung
pestisida. Bahaya residu yang disebabkan oleh kandungan pestisida
tersebut akan terasa dampaknya dalam jangka panjang. Tingginya tingkat
kesadaran masyarakat membuat mereka sedikit demi sedikit beralih pada
konsumsi produk-produk pangan yang sifatnya organik. Akan tetapi,
potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil,
hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala
yang dihadapi untuk petani dapat mengembangkan pertanian organik
yaitu belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk
pertanian organik. Selain itu, perlu investasi mahal pada awal
pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari
bahan agrokimia serta belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan
memproduksi komoditas tersebut (Litbang, 2002).
Pertanian organik banyak diterapkan pada berbagai macam
komoditas. Komoditas yang banyak digunakan dalam pertanian organik
salah satunya yaitu tanaman hortikultura khususnya tanaman sawi. Hal
ini dikarenakan tanaman sawi yang mudah dalam pembudidayaannya
sehingga petani tidak perlu mengeluarkan biaya yang lebih lagi. Selain
itu juga tanaman sawi merupakan tanaman yang umum dikonsumsi oleh
masyarakat.
CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang merupakan salah satu instansi
mitra yang bergerak dalam sektor pertanian organik yang
membudidayakan sawi. CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang
mengembangkan budidaya tanaman sawi organik di perkebunan dengan
luas lahan 1000 m2. Bentuk usaha dari CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
Malang adalah usaha keluarga yang masuk dalam keanggotaan kelompok
tani. Oleh karena itu kami sebagai mahasiswa memilih CV. Kurnia Kitri
Ayu Farm untuk mengasah kompetensi sesuai dengan bidang studi yang
kami geluti. Dengan adanya praktek langsung di dunia kerja diharapkan
mahasiswa mampu memahami keadaan yang terjadi sebenanrya di dunia
bisnis. Sebuah pengaplikasian secara langsung untuk kami memulai
magang di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm, kami ingin mengetahui kegiatan
riil yang dilakukan CV Kurnia Kitri Ayu Farm mulai dari majemen
produksi sampai pada pemasaran prdouk. Singkatnya kami ingin belajar
secara praktik apa saja yang sudah kami pelajari secara teoritis dalam
pengaplikasiannya di dunia kerja.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum kegiatan magang mahasiswa :
a. Mengupayakan penyelarasan antara status pencapaian
pembelajaran di bidang akademik dengan dinamika perkembangan
praktik kegiatan usaha di sektor pertanian.
b. Meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai hubungan antara
teori dan penerapannya, sehingga dapat menjadi bekal bagi
mahasiswa untuk terjun ke masyarakat.
c. Agar mahasiswa memperoleh keterampilan dan pengalaman kerja
yang kompeten dan secara langsung dapat memecahkan
permasalahan yang ada dalam kegiatan di bidang pertanian.
d. Sebagai strategi peningkatan kompetensi lulusan Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
2. Tujuan Khusus kegiatan magang mahasiswa yang dilakukan di CV.
Kurnia Kitri Ayu Farm Malang, Jawa Timur antara lain:
a. Mengetahui perencanaan produksi komoditas sawi di CV. Kurnia
Kitri Ayu Farm Malang, Jawa Timur.
b. Mengetahui proses produksi pengolahan komoditas sawi di CV.
Kurnia Kitri Ayu Farm Malang, Jawa Timur.
c. Mengetahui evaluasi produksi pengolahan komoditas sawi di CV.
Kurnia Kitri Ayu Farm Malang, Jawa Timur.
d. Mengetahui upaya perbaikan pada produksi pengolahan komoditas
sawi di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang, Jawa Timur.
C. Manfaat
Manfaat kegiatan magang mahasiswa yang dilakukan CV. Kurnia
Kitri Ayu Farm Malang, Jawa Timur adalah :
a. Bagi mahasiswa, kegiatan magang bermanfaat untuk menyelaraskan
antara status pencapaian pembelajaran di kampus dengan dinamika
perkembangan kegiatan usaha sektor pertanian di masyarakat.
b. Bagi fakultas, kegiatan magang ini merupakan strategi peningkatan
kompetensi lulusan fakultas pertanian.
c. Bagi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang, Jawa Timur dapat berperan
serta dalam peningkatan dunia pendidikan sekaligus mendapatkan
masukan guna peningkatan kemajuan perusahaan dan perbaikan
operasional perusahaan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pertanian Organik

Pertanian organik merupakan salah satu dari sekian banyak cara yang
dapat mendukung pelestarian lingkungan. Sistem produksi pertanian organik
didasarkan pada standar produksi yang spesifik dan teliti dengan tujuan untuk
menciptakan agroekosistem yang optimal dan lestari berkelanjutan baik secara
sosial, ekologi maupun ekonomi dan etika. Peristilahan seperti biologi dan
ekologis juga digunakan untuk mendiskripsikan sistem organik secara lebih
jelas. Persyaratan untuk pangan yang diproduksi secara organik berbeda
dengan produk pertanian lain, di mana prosedur produksinya merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari identifikasi dan pelabelan, serta pengakuan
dari produk organik tersebut (BSNi, 2016)
Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan
bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan
utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian,
terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya
serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga
secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus
beratribut aman dikonsumsi, kandungan nutrisi tinggi dan ramah lingkungan
(Mayrowani, 2012)
Strategi pertanian organik adalah memindahkan hara secepatnya dari
sisa tanaman, kompos dan pupuk kandang menjadi biomassa tanah yang
selanjutnya setelah mengalami proses mineralisasi akan menjadi hara dalam
tanah. Dengan kata lain, unsur hara didaur ulang melalui satu atau lebih
tahapan bentuk senyawa organik sebelum diserap tanaman. Hal ini berbeda
sama sekali dengan pertanian konvensional yang memberikan unsur hara
secara cepat dan langsung dalam bentuk larutan sehingga segera diserap
dengan takaran dan waktu pemberian yang sesuai dengan kebutuhan tanaman
(Sutanto, 2002).
Permasalahan budidaya sawi di lapang adalah tanaman ini
membutuhkan pemeliharaan intensif, rentan serangan hama dan penyakit,
penggunaan nutrisi kurang efisien, gulma dan pertumbuhan kurang terkontrol.
Berbagai permasalahan itu menyebabkan produksi tidak sesuai dengan
keinginan. Upaya untuk meningkatkan produksi dan kualitas sawi adalah
menerapkan aplikasi efisiensi pemberian air, penggunaan bahan organik,
larutan nutrisi dan penggunaan varietas unggul (Darmawan et al, 2013).
B. Sawi (Brassica sinensis L)

Sawi (Brassica juncea) sudah lama di kenal di banyak Negara. Tanaman


ini diperkirakan berasal dari daratan Asia Tengah dan menyebar ke benua
Eropa melalui Yunani. Bagaimana sawi masuk ke Indonesia tidak diketahui
pasti, tetapi saat ini sawi sudah merupakan sayuran yang sangat di kenal di
berbagai golongan masyarakat Indonesia (Widiastuti, 2005).
Sawi (Brassica sinensis L.) termasuk familia Brassicaceae, daunnya
panjang, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Tumbuh baik di tempat yang
berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari
dataran rendah sampai dataran tinggi, tapi lebih baik di dataran tinggi. Daerah
penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan
1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan di daerah
ketinggian 100 - 500 m dpl, dengan kondisi tanah gembur, banyak
mengandung humus, subur dan drainasenya baik (Edi dan Yusri, 2010).
Pada budidaya tanaman, khususnya sawi, baik pembibitan maupun
penanaman dilahan media tanam merupakan salah satu faktor penting yang
perlu diperhatikan. Media Tumbuh di lahan atau tanah adalah tempat tumbuh
tumbuhan di atas permukaan bumi. Di dalam tanah terdapat air, udara dan
berbagai hara tumbuhan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Air yang beada dalam tanah sangat pentig untuk proses kimia,
biologi dan fisika tanah. Sebagain air tanah terdapat dalam bentuk lapisan tipis
yang dinamakan air kapiler. Air kapiler membentuk larutan tanah yang
berfungsi seba-gai sumber unsur hata tumbuhan. Udara dalam tanah beasal dari
udara atmosfir yang mengandung sekitar 21% Okigen, 78% nitrogen, dan 1%
CO2 beserta gas lainnya. Semua gas tersebar dalam poripori tanah atau terlarut
dalam tanah. Akar dan organisme tanah memerlukan oksigen untuk proses
pernafasan (respirasi). Oksigen dalam tanah digunakan oleh se-mua mahluk
hidup dalam tanah, baik organisme maupun mikroor-ganisme, sehingga
konsentrasi oksigen dalam tanah akan lebih rendah dibandingakan dengan
oksigen di atas permukaan tanah (atmosfir) (Nurwandani, 2008).
C. Manajemen Produksi
Selama lebih dari dua abad, manajemen produksi dan operasi telah
diakui sebagai faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Manajemen produksi dan operasi adalah proses yang menggabungkan dan
mengubah berbagai sumber daya yag digunakan dalam produksi/operasi
sebagai subsistem organisasi menjadi nilai tambah produk/jasa sesuai
kebijakan organisasi. Oleh karena itu, bagian dari suatu organisasi yang
berkaitan dengan transformasi berbagai masukan menjadi yang diperlukan
(produk/jasa) yang memiliki tingkat kualitas yang diperlukan
(Sawitri et al., 2013).
Manajemen produksi dan operasi yaitu kegiatan yang mengatur dan
mengkoordinasikan penggunaan sumber-sumber daya yang berupa sumber
daya manusia, sumber daya alat dan sumber daya dana serta bahan, secara
efektif dan efisien untuk menciptakan dan menambah kegunaan (utility)
sesuatu barang atau jasa. Selain itu, manajemen produksi dan operasi
merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal, penggunaan sumber daya-
sumber daya (atau sering disebut faktor-faktor produksi), tenaga kerja, mesin-
mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya dalam proses transformasi
bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa
(Handoko, 2000).
Produksi dan manajemen operasi telah ditetapkan sebagai disiplin utama
di sebagian besar sekolah bisnis di seluruh dunia. Ini telah menjadi hasil dari
perubahan mendasar yang diamati dalam arena bisnis internasional, ditandai
dengan peningkatan tuntutan untuk kualitas, munculnya pasar global, produksi
internasional, dan berbasis waktu persaingan. Manajemen produksi dan operasi
adalah proses yang menggabungkan dan mengubah berbagai sumber daya yang
digunakan dalam produksi atau operasi subsistem organisasi ke dalam produk
atau layanan bernilai tambah secara terkontrol sesuai kebijakan organisasi.
Bagian dari organisasi yang berkaitan dengan transformasi berbagai input ke
produk / layanan yang dibutuhkanmemiliki tingkat kualitas yang diperlukan.
Manajemen operasi melakukan peran transformasi dalam proses mengubah
input seperti bahan mentah menjadi barang jadi dan jasa. Masukan ini termasuk
sumber daya manusia, seperti pekerja, staf, dan manajer; fasilitas dan proses,
seperti bangunan dan peralatan; mereka juga termasuk materi, teknologi, dan
informasi. Dalamoutput model transformasi tradisional adalah barang dan jasa
yang diproduksi perusahaan (Mohammed, 2015).
Kegiatan manajemen produksi harus sebagian besar terlibat dengan
perusahaan-perusahaan yang merupakan bagian dari sektor manufaktur.
Manajemen produksi mengidentifikasi semua kegiatan yang diperlukan untuk
merencanakan, mengembangkan, dan meningkatkan proses bisnis yang terlibat
dalam pembuatan produk atau dalam penyediaan layanan. Manajemen operasi
bukan hanya merujuk pada proses manufaktur, tetapi juga untuk semua operasi
yang berhubungan dengan logistik dan pengembangan produk baru
(Battistoni et al., 2013).
Ruang lingkup manajemen produksi dan operasi akan mencakup
perancangan atau penyiapan sistem produksi dan operasi serta pengoprasian
dari sistem produksi dan operasi. Pembahasan dalam perancangan atau desain
dari sistem produksi dan operasi, ruang lingkup manajemen produksi dan
operasi meliputi seleksi dan rancangan atau desain hasil produksi (product),
seleksi dan perancangan proses dan peralatan, pemilihan lokasi dan site
perusahaan dan unit produk, rancangan tata letak (layout) dan arus kerja atau
proses, rancangan tugas perusahaan, dan strategi produksi dan operasi serta
pemilihan kapasitas. Pembahasan dalam pengoperasian sistem produksi dan
operasi, meliputi penyusunan rencana produksi dan operasi, perencanaan dan
pengendalian persediaan dan pengadaan bahan, pemeliharaan atau perawatan
(maintenance) mesin dan peralatan, pengendalian mutu, dan manajemen tenaga
kerja (sumber daya manusia) (Assauri, 2008).
Seperti apa yang telah diutarakan di atas, maka ruang lingkup
manajemen produksi dan operasi akan mencakup perancangan atau penyiapan
sistem produksi dan operasi, serta pengoperasian dari sistem produksi dan
operasi. Pembahasan dalam perancangan atau penyiapan sistem produksi dan
operasi meliputi :
1. Seleksi dan rancangan atau desain hasil produksi (produk)
Kegiatan produksi dan operasi harus dapat menghasilkan produk,
berupa barang atau jasa, secara efektif dan efisien, serta dengan mutu atau
kualitas yang baik. Kegiatan produksi dan operasi harus dimulai
penyeleksian dan perancangan produk yang akan dihasilkan. Kegiatan ini
harus diawali dengan kegiatan-kegiatan penelitian atau riset, serta usaha-
usaha pengembangan produk yang sudah ada. Dengan hasil riset dan
pengembangan produk ini, maka diseleksi dan diputuskan produk apa yang
akan dihasilkan dan bagaimana desain dari produk itu, yang
menggambarkan pula spesifikasi dari produk tersebut. Untuk penyeleksian
dan perancangan produk, perlu diterapkan konsep-konsep standardisasi,
simplifikasi dan spesialisasi. Akhirnya dalam pembahasan ini perlu dikaji
hubungan timbal balik yang erat antara seleksi produk dan rancangan
produk dengan kapasitas produksi dan operasi.
2. Seleksi dan Perancangan Proses Peralatan
Setelah produk didesain, maka kegiatan yang harus dilakukan untuk
merealisasikan usaha untuk menghasilkannya adalah menentukan jenis
proses yang akan dipergunakan serta peralatannya. Dalam hal ini kegiatan
harus dimulai dari penyeleksian dan pemilihan akan jenis proses yang akan
dipergunakan, yang tidak terlepas dengan produk yang akan dihasilkan.
Kegiatan selanjutnya adalah menentukan teknologi dan peralatan yang akan
dipilih dalam pelaksanaan kegiatan produksi tersebut. Penyeleksian dan
penentuan peralatan yang dipilh, tidak hanya mencakup mesin dan peralatan
tetapi juga mencakup bangunan dan lingkungan kerja.
3. Pemilihan Lokasi dan Site Perusahaan dan Unit Produksi
Kelancaran produksi dan operasi perusahaan sangat dipengaruhi oleh
kelancaran mendapatkan sumber-sumber bahan dan masukan (input), serta
ditentukan pula oleh kelancaran dan biaya penyampaian atau suplai produk
yang dihasilkan berupa barang jadi atau jasa ke pasar. Oleh karena itu untuk
menjamin kelancaran, maka sangat penting peranan dari pemilihan lokasi
dan site perusahaan dan unit produksinya. Dalam pemilihan lokasi dan site
tersebut, perlu memperhatikan faktor jarak, kelancaran dan biaya
pengangkutan dari sumber-sumber bahan dan masukan (input), serta biaya
pengangkutan dari barang jadi ke pasar.
4. Rancangan Tata Letak (Layout) dan Arus Kerja atau Proses
Kelancaran dalam proses produksi dan oprasi ditentukan pula oleh
salah satu faktor yang terpenting didalam prusahaan atau unit produksi,
yaitu rancangan tata letak (layout) dan arus kerja atau proses. Rancangan
tata letak harus mempertimbangkan berbagai faktor antara lain adalah
kelancaran arus kerja, optimalisasi dari waktu pergerakan dalam proses,
kemungkinan kerusakan yang terjadi karena pergerakan dalam proses akan
minimalisasi biaya yang timbul dari pergerakan dalam proses atau
material handling.
5. Rancangan Tugas Pekerjaan
Rancangan tugas pekerjaan merupakan bagian yang integral dari
rancangan sistem. Dalam melaksanakn fungsi produksi dan operasi, maka
organisasi kerja harus disusun, karena organisasi kerja sebagai dasar
pelaksanaan tugas pekerjaan, merupakan alat atau wadah kegiatan yang
hendaknya dapat membantu pencapaian tujuan perusahaan atau unit
produksi dan operasi tersebut. Rancangan tugas pekerjaan harus
merupakan suatu kesatuan dari human engineering, dalam rangka untuk
menghasilkan rancangan kerja yang optimal. Disamping itu dalam
penyusunan rancangan tugas pekerjaan harus pula memperhatikan
kelengkapan tugas pekerjaan yang terkait dengan variabel tugas dalam
struktur teknologi, dan mutu atau kualitas suasana kerja yang ditentukan
oleh variabel manusianya.
6. Strategi Produksi dan Operasi serta Pemilihan Kapasitas.
Sebenarnya rancangan sistem produksi dan operasi harus disusun
dengan landasan strategi produksi dan operasi yang disiapkan terlebih
dahulu. Dalam strategi produksi dan operasi harus terdapat pernyataan
tentang maksud dan tujuan dari produksi dan operasi, serta misi dan
kebijakan-kebijakan dasar atau kunci untuk lima bidang, yaitu proses,
kapasitas, persediaan, tenaga kerja dan mutu atau kualitas. Semua hal
tersebut merupakan landasan bagi penyusunan strategi produksi dan
operasi. Berdasarkan strategi produksi dan operasi, maka ditentukanlah
pemilihan kapasitas yang akan dijalankan dalam bidang produksi dan
operasi (Assuari, 2008).
Pembahasan dalam pengoperasian sistem produksi dan operasi akan
mencakup :
1. Penyusunan rencana Produksi dan Operasi.
Kegiatan pengoperasian sistem produksi dan operasi harus dimulai
dengan penyusunan rencana produksi dan operasi. Dalam rencana
produksi dan operasi harus tercakup penetapan target produksi,
scheduling, routing, dispatching, dan follow-up. Perencanaan kegiatan
produksi dan operasi merupakan kegiatan awal dalam pengoperasian
sistem produksi dan operasi.
2. Perencanaan dan Pengendalian Persediaan dan Pengadaan Bahan
Kelancaran kegiatan produksi dan operasi sangat ditentukan oleh
kelancaran tersedianya bahan atau masukan yang dibutuhkan bagi
produksi dan operasi tersebut. Kelancaran tersedianya bahan atau masukan
produksi dan operasi ditentukan oleh baik tidaknya pengadaan bahan serta
rencana dan pengendalian persediaan yang dilakukan. Dalam hal ini perlu
diketahui maksud dan tujuan diadakannya persediaan, model-model
perencanaan dan pengendalian persediaan, pengadaan dan pembelian
bahan, perencanaan kebutuhan bahan (Material Requirement and
Planning) dan perencanan kebutuhan distribusi (Distribution Requirement
Planning).
3. Pemeliharaan atau perawatan (Maintenance).
Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi dan
operasi harus selalu terjamin tetap tersedia untuk digunakan, sehingga
dibutuhkan adanya kegiatan pemeliharaan atau perawatan. Dalam
pembahasan pemeliharaan atau perawatan mesin dan peralatan ini
mencakup tentang penting dan peranan dari kegiatan pemeliharaan atau
perawatan mesin dan peralatan, macam-macam kegiatan pemeliharaan
atau perawatan yang efektif dan efisien, serta proses pelaksanaan kegiatan
pemeliharaan dan perawatan mesin dan peralatan.
4. Pengendalian Mutu
Terjaminnya hasil atau keluaran dari proses produksi dan operasi
menentukan keberhasilan dari pengoperasian sistem produksi danoperasi.
Dalam rangka ini maka perlu dipelajari kegiatan pengendalian mutu yang
harus dilakukan agar keluaran dapat terjamin mutunya. Pembahasan yang
tercakup dalam pengendalian mutu antara lain adalah maksud dan tujuan
dari kegiatan pengendalian mutu, proses kegiatan perencanaan dan
pengendalian mutu, peran pengendalian proses dan produk dalam
pengendalian mutu, teknik dan peralatan pengendalian mutu, serta
pengendalian mutu secara statistik (Statistical Quality Control)
(Assauri, 2008).
Manajer operasi bertanggung jawab atas keputusan yang mengikat
system tranfsormasi. Kerangka keputusan ini mengatakan bahwa operasi-
operasi mempunyai 5 (lima) tanggung jawab keputusan utama yaitu
proses, kapasitas, persediaan, tenaga kerja, dan mutu Melalui ruang
lingkup manajemen produksi dan operasional tersebut diatas, terlihat
bahwa pemeliharaan terletak pada proses dari kelima tanggung jawab
utama. Hal ini menunjukan betapa pentingnya manajemen produksi,
dengan demikian kedudukan manajemen produksi sangat diperlukan
dalam suatu industry serta perlu mendapatkan perhatian yang sangat serius
karena berpengaruh terhadap kontuinitas proses produksi dan kualitas
produk. (Assauri, 2008).
Evaluasi adalah suatu proses terus menerus sehingga di dalam proses kegiatannya
dimungkinkan untuk merevisi apabila dirasakannya ada suatu kesalahan. Menurut
kamus istilah manajemen, evaluasi adalah proses bersistem obyektif yang
menganalisa sifat dan ciri pekerjaan di dalam perusahaan atau organisasi. Evaluasi
dilakukan tidak hanya setelah proses saja tetapi saat keberjalanan produksi juga
harus dilakukan agar diketahui proses produksi tersebut sesuai dengan
perencanaan produksi yang diharapkan (Daryanto, 2012)
III. TATA LAKSANA KEGIATAN
A. Waktu dan Lokasi Kegiatan Magang
Kegiatan magang ini akan dilaksanakan mulai tanggal 14 Januari 2019
sampai tanggal 22 Februari 2019 yang berlokasi di CV. Kurnia Kitri Ayu
Farm Malang, Jawa Timur di Jalan Rajawali No. 10 Sukun, Kota Malang,
Jawa Timur.
B. Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan magang mahasiswa yang berlangsung di CV.
Kurnia Kitri Ayu Farm Malang, Jawa Timur ini menggunakan beberapa
metode pengambilan data. Beberapa metode yang akan dilaksanakan adalah
sebagai berikut:
1. Pengamatan dan Praktek Lapang
Pengamatan dan praktek lapang dilakukan secara langsung dengan
mengikuti kegiatan kerja di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang, Jawa
Timur mulai dari perencanaan produksi, proses produksi, evaluasi
pengolahan produksi sawi yang dihasilkan oleh CV. Kurnia Kitri Ayu
Farm Malang, Jawa Timur sehingga mahasiswa akan memperoleh
gambaran secara lebih jelas mengenai aspek yang dikaji.
2. Wawancara
Wawancara dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab secara
langsung yang berkaitan dengan materi magang dan kegiatan yang
dipelajari di lapangan kepada pembimbing lapang dan dengan pihak-pihak
yang ditugaskan di setiap bagian (divisi).
3. Dokumentasi
Pengambilan gambar meliputi komoditas dan kegiatan mulai dari
perencanaan produksi, proses produksi, dan evaluasi produksi pengolahan
sawi yang dihasilkan oleh CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang, Jawa
Timur.
4. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan mencari referensi sebagai informasi
pelengkap, pendukung dan pembanding serta konsep dalam alternatif
pemecahan masalah. Referensi tersebut antara lain diperoleh dari buku-buku,
jurnal, majalah, koran, dan internet.
C. Aspek yang Dikaji
1. Aspek umum
Mengkaji tentang keadaan umum perusahaan meliputi
sejarah,tujuan, visi, misi, lokasi serta struktur organisasi di CV. Kurnia Kitri
Ayu Farm Malang, Jawa Timur.
2. Aspek khusus
Mengkaji secara khusus tentang manajemen produksi (perencanaan
produksi, proses pengolahan, evaluasi dan perbaikan proses produksi) di
CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang, Jawa Timur.
D. Rincian Kegiatan Magang
Kegiatan magang mahasiswa yang dilakukan lebih dialokasikan pada
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan manajemen sumberdaya
manusia, manajemen pemasaran, analisis usaha tani, dan proses produksi di
CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dengan rencana aktivitas magang kajian
perencanaan dan pengelolaan tenaga kerja sebagai berikut :
Tabel 4.1 Rincian Kegiatan Magang

No. Hari/Tanggal Macam Kegiatan Lokasi

Minggu, Kantor CV. Kurnia


1. Orientasi magang oleh pimpinan kebun
13 Januari 2019 Kitri Ayu
Senin, Pengolahan tanah dan penanaman bayam Lahan CV. Kurnia
2.
14 Januari 2019 dan kangkung Kitri Ayu
Tempat produksi
Selasa, Pasca panen kacang merah dan
3. dan kebun CV.
15 Januari 2019 penanaman sawi
Kurnia Kitri
Tempat produksi
Rabu,
4. Pasca panen daun bawang dan sawi CV. Kurnia Kitri
16 Januari 2019
Ayu
Kamis, Pengolahan tanah polibag dan Kebun CV. Kurnia
5.
17 Januari 2019 penanaman kangkung Kitri Ayu
Jumat, Kantor CV. Kurnia
6. Materi terkait profil perusahaan
18 Januari 2019 Kitri Ayu
Tempat produksi
Sabtu,
7. Penanaman kangkung dan sortasi bayam dan kebun CV.
19 Januari 2019
Kurnia Kitri
Senin, Penyemaian sawi dan penanaman Lahan CV. Kurnia
8.
21 Januari 2019 kangkung Kitri Ayu
Tempat produksi
Selasa, Sortasi kacang merah, kangkung, dan
9. CV. Kurnia Kitri
22 Januari 2019 bayam
Ayu
Tempat Produksi
Rabu, Sortasi bayam dan packing sawi dan
10. CV. Kurnia Kitri
23 Januari 2019 bayam
Ayu
Kamis, Lahan CV. Kurnia
11. Penyiraman tanaman di lahan
24 Januari 2019 Kitri Ayu
Jumat, Kantor CV. Kurnia
12. Materi terkait pertanian organik
25 Januari 2019 Kitri Ayu
Sabtu, Lahan CV. Kurnia
13. Penyiraman dan penanaman sawi
26 Januari 2019 Kitri Ayu
Senin, Kunjungan ke lahan pertanian di Gunung Lahan Gunung
14.
28 Januari 2019 Kawi Kawi
Tempat Produksi
Selasa,
15. Sortasi kacang merah CV. Kurnia Kitri
29 Januari 2019
Ayu
Tempat Produksi
Rabu,
16. Sortasi bayam dan daun bawang CV. Kurnia Kitri
30 Januari 2019
Ayu
Kamis, Penyiraman tanaman di kebun dan Lahan CV. Kurnia
17.
31 Januari 2019 penanaman kangkung Kitri Ayu
Jumat, Kantor CV. Kurnia
18. Materi tentang budidaya sayuran organik
1 Februari 2019 Kitri Ayu
Sabtu, Lahan CV. Kurnia
19. Penyiraman dan penanaman kangkung
2 Februari 2019 Kitri Ayu
Tempat Produksi
Senin,
20. Pasca Panen kacang merah CV. Kurnia Kitri
4 Februari 2019
Ayu
Tempat Produksi
Selasa,
21. Sortasi kacang merah CV. Kurnia Kitri
5 Februari 2019
Ayu
Tempat Produksi
Rabu,
22. Sortasi bayam merah dan daun bawang CV. Kurnia Kitri
6 Februari 2019
Ayu
Kamis, Penyiraman tanaman dan pengolahan Lahan CV. Kurnia
23.
7 Februari 2019 lahan Kitri Ayu
Jumat, Materi terkait aspek kajian magang Kantor CV. Kurnia
24.
8 Februari 2019 mahasiswa Kitri Ayu
Sabtu, Lahan CV. Kurnia
25. Penyiraman dan penyemaian timun
9 Februari 2019 Kitri Ayu

Senin,
26. Kunjungan ke lokasi kemitraan Rumah petani mitra
11 Februari 2019

Selasa, Lahan CV. Kurnia


27. Penyiraman dan penyemaian sawi
12 Februari 2019 Kitri Ayu
Tempat Produksi
Rabu, Pasca panen bayam, kangkung, sawi dan
28. CV. Kurnia Kitri
13 Februari 2019 daun bawang
Ayu

Kamis, Lahan CV. Kurnia


29. Penanaman bibit mentimun
14 Februari 2019 Kitri Ayu

Jumat, Kantor CV. Kurnia


30. Penjelasan materi terkait MSDM
15 Februari 2019 Kitri

Sabtu, Lahan CV. Kurnia


31. Penyiraman dan pengolahan lahan
16 Februari 2019 Kitri Ayu

Senin, Penyiraman dan penanaman bibit Lahan CV. Kurnia


32.
18 Februari 2019 mentimun Kitri Ayu

Tempat Produksi
Selasa,
33. Sortasi kacang merah CV. Kurnia Kitri
19 Februari 2019
Ayu

Rabu, Penyampaian materi mengenai Kantor CV. Kurnia


34.
20 Februari 2019 keorganikan sayuran dan perpisahan Kitri Ayu

Kamis, Penyerahan kenang-kenangan dan Kantor CV. Kurnia


35
21 Februari 2019 sertifikat Kitri Ayu

Sumber: Data M9
IV. HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN
A. Profil CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
1. Sejarah CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
Perusahaan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm didirikan oleh Ir. Hary
Soejanto pada tanggal 26 April 2006. Lokasi kantor CV. Kurnia Kitri Ayu
Farm terletak di Jalan Rajawali No. 10 Sukun, Malang, Jawa Timur,
sedangkan letak produksinya ada dibeberapa daerah yaitu pekarangan CV.
Kurnia Kitri Ayu dan di daerah Gunung Kawi untuk lahan kepemilikan
perusahaan. Lahan produksi yang digunakan dari mitra terdiri dari 4
tempat yaitu Kalipare, Wajak, Bululawang, dan Pagelaran. Sayuran
organik yang ditanam telah mendapatkan sertifikat organik dengan No.
Reg LSPO – 003 – IDN dengan SNI 01 – 6729 – 2002. Perusahaan ini
bergerak dalam usaha pertanian organik khususnya tanaman hortikultura
(sayur-sayuran). Pengambilan nama “Kurnia Kitri Ayu” berasal dari
Kurnia yaitu karunia, Kitri berasal dari bahasa jawa kitren yang memiliki
arti tanaman, dan Ayu yang berarti indah. Kitri Ayu sebenarnya juga
memiliki singkatan tersendiri, yaitu:
Ki: Kinasih (orang/kami)
T: Tinemu (menemukan)
R: Rahmating (rahmat/berkah)
I: Illahi (Allah)
A: Agawe (membuat)
Y: Yekti (mulia-Nya)
U: Urip (hidup)
Pemilik perusahaan berharap dengan penggunaan nama tersebut,
karunia dari usaha menanam tanaman sayuran organik ini dapat
mendapatkan rahmat dari Tuhan yang Maha Esa serta dapat memuliakan
hidupnya dan umat manusia yang lain. Berdirinya CV. Kurnia Kitri Ayu
Farm berawal dari pemilik yang melihat lingkungan pertanian yang
semakin rusak karena penggunaan kimia sintesis yang berlebihan, selain
itu usaha pertanian organik memiliki potensi yang tinggi. Pemilik juga
melihat dari masih jarangnya petani menggunakan sistem pertanian
organik dan peluang pasar terhadap pertanian organik yang semakin luas.
Peluang pasar pertanian organik yang semakin luas membuat masyarakat
semakin paham akan pentingnya pola hidup sehat.
Latar belakang berdirinya CV. Kurnia Kitri Ayu Farm yakni dari
segi modal awal yang dikeluarkan untuk biaya budidaya sayuran organik
yang relatif lebih murah dan harga jual yang relatif lebih mahal dari
sayuran konvensional. Adanya peluang pasar yang masih terbuka lebar
sehingga masih luas untuk memasarkan produknya kemana saja. Dilihat
dari sisi lingkungan di Indonesia yang rusak dimana tanah yang sudah
terdegradasi, kandungan tanah yang sudah sangat miskin unsur hara, dan
residu yang terdapat di lingkungan yang cukup tinggi. Sasaran dari produk
sayuran organik adalah dari kalangan orang-orang menengah keatas dan
beberapa supermarket yang terdapat di Surabaya. Hal ini dilakukan dengan
pertimbangan harga jual yang tinggi dan konsumen yang membeli sayuran
organik dari kalangan sadar akan pola hidup sehat.
2. Tujuan, Visi dan Misi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
Harapan di masa mendatang dari CV. Kurnia Kitri Ayu Farm yaitu
mengembangkan dan menyediakan sayuran organik demi terciptanya pola
hidup sehat, dapat meningkatkan laba perusahaan dan mengembangkan
sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Guna mencapai harapan
atau cita-cita tersebut, perlu adanya tujuan, visi, dan misi perusahaan.
Adapun Tujuan, Visi dan Misi dari CV. Kurnia Kitri Ayu Farm adalah
sebagai berikut:
a. Tujuan
1) Ikut membantu program pemerintah dalam pengembangan pertanian
organik dan menyukseskan program pemerintah Go Organic 2010.
2) Menciptakan peluang kerja kepada masyarakat untuk bekerja di
kebun, menjadi petani plasma atau pemasar produk pertanian
organik.
3) Ikut dalam melestarikan alam sekitar.
4) Menciptakan masyarakat sehat.
5) Meningkatkan kesejahteraan keluarga.
6) Memberi ketrampilan pada masyarakat untuk menanam sayuran
organik dan sebagai konsumsi sendiri.
b. Visi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
Visi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm adalah sebagai pelaku usaha
pertanian organik yang profesional, mandiri, sesuai dengan prinsip
pengelolaan manajemen dan teknis modern.
c. Misi
Misi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm antara lain:
1) Memproduksi pangan organik yang aman, sehat, dan bergizi.
2) Meningkatkan pendapatan petani.
3) Menciptakan lapangan pekerjaan dan keharmonisan kehidupan sosial
di perkotaan.
4) Meminimkan polusi dan melestarikan sumber daya alam.
3. Kondisi Geografis CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
CV. Kurnia Kitri Ayu Farm berlokasi di Jalan Rajawali No. 10
Sukun, Malang, Jawa Timur. Lokasi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm memiliki
topografi lahan bergelombang sampai berbukit. Tinggi tempat ini adalah
444 mdpl. CV. Kurnia Kitri Ayu memiliki dua lahan yang berada di daerah
Sukun dan Gunung Kawi. Lahan di daerah Sukun memiliki luas 250 m2,
sedangkan lahan yang berada di Gunung Kawi yaitu memiliki luas 1 Ha
dan 2.500 m2.
4. Struktur Organisasi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dipimpin dan dimanajeri oleh pemilik
dan dibantu oleh keluarganya dalam pengurusan perusahaannya, yaitu istri
dan 3 orang anaknya. Kebun yang berada di luar daerah Kota Malang
diserahkan kepada pegawainya namun masih dalam pengawasan pemilik
perusahaan. Adapun struktur organisasi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dapat
dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 5.1 Struktur Organisasi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
Struktur organisasi menggambarkan susunan jabatan yang ada pada
suatu perusahaan yang mana akan memudahkan dalam pemantauan dan
pembebanan tugas dan tanggungjawab. Peletakan posisi dalam struktur
organisasi mangandung arti tentang tinggi rendahnya jabatan serta arus
tanggungjawab. Penjelasan mengenai bagian - bagian dari bagan tersebut
antara lain:
a. Pimpinan Perusahaan
Pimpinan perusahaan merupakan pemegang tanggung jawab terbesar
dalam keberlangsungan perusahaan. Pimpinan perusahaan bertugas
untuk mengontrol dan mengawasi setiap bagian-bagian organisasi
perusahaannya sehingga jalannya perusahaan dapat berjalan
sebagaimana mestinya. Selanjutnya, pimpinan perusahaan juga sebagai
pengawas dan pengatur setiap manajemen dalam usahanya mulai dari
persediaan bahan baku dan pengendali mutu. Pimpinan kebun memiliki
tugas pokok sebagai berikut:
1) Penanggung jawab seluruh kegiatan kebun
2) Koordinator pelaksana kebun
3) Menyusun rencana kerja / program kerja kebun
4) Memberikan petunjuk pelaksanaan budidaya organik dengan
mengutamakan kendali mutu keorganikannya
5) Melakukan hubungan dengan masyarakat atau petani untuk
pengembangan usaha pertanian organik dengan model kemitraan
6) Mengevaluasi hasil pekerjaan
b. Divisi Administrasi
Bagian administrasi memiliki fungsi yaitu melaksanakan
administrasi umum dan administrasi keuangan. Tugas pokok divisi
administrasi yaitu sebagai berikut:
1) Menyiapkan dana untuk operasional sesuai dengan rencana
program kerja
2) Menyiapkan kebutuhan tenaga kerja yang terampil, terlatih, dan
sehat untuk melaksanakan budidaya sayur organik
3) Menyiapkan administrasi pekerja, data absen, dan upah sesuai
dengan jumlah pekerja
4) Melakukan koordinasi dengan petugas pelaksana kebun, staff
kebun, dan pekerja kebun dalam rangka pelaksanaan dan
perkembangan pertanian sayur organik
5) Memberikan kesepakatan jaminan kesehatan kepada karyawan
6) Melayani dan menjalin hubungan dengan masyarakat dan
pemerintah daerah dalam rangka pengembangan
c. Pengendali Mutu
Pimpinan perusahaan juga memiliki jabatan sebagai pengendali
mutu. Pengendali mutu memiliki fungsi dalam mengendalikan dan
mengawasi mutu keorganikan budidaya tanaman sampai pemasaran.
Pengendali mutu memiliki tugas pokok sebagai berikut:
1) Memberikan rekomendasi/kepastian penggunaan lahan budidaya
tanaman organik kebun dari pencemaran dan sisa residu pestisida
sintetik maupun bahan-bahan sintetik yang lain
2) Memberikan rekomendasi penggunaan pupuk kandang
kompos/bokashi untuk media bahan tanaman organik
3) Memberikan rekomendasi penggunaan benih, biopestisida untuk
budidaya tanaman organik
4) Memberikan petunjuk dan rekomendasi tentang penggunaan air
untuk penyiraman dan pencucian sayur organik
5) Memberikan petunjuk dan rekomendasi tentang peralatan dan
perlengkapan untuk budidaya, panen, dan pasca panen khusus
untuk budidaya organik
6) Memberikan petunjuk dan rekomendasi untuk sarana pengemasan
dan cara pengangkutan untuk produksi organik
7) Memberikan petunjuk dan rekomendasi kepada pekerja tentang
kebersihan dan kesehatan pekerja dalam melakukan pekerjaan
d. Divisi Quality Control Produk
Divisi Quality Control terhadap produk memiliki fungsi dalam
memberikan petunjuk dan mengawasi pelaksanaan budidaya, panen,
dan pasca panen untuk mendapatkan produk yang berkualitas. Tugas
pokok divisi quality control sebagai berikut:
1) Memberikan petunjuk dan memeriksa hasil pengolahan tanah
sesuai dengan GAP
2) Memberikan rekomendasi asalnya media, tanah, pupuk atau bahan
lain untuk budidaya organik
3) Memeriksa sarana peralatan yang digunakan untuk budidaya,
panen, dan pasca panen serta pengiriman
4) Merekomendasi dan memeriksa benih dan bibit yang akan ditanam
5) Mengawasi prosedur tanam
6) Mengawasi prosedur pemeliharaan tanaman, panen, dan pasca
panen (pengairan, pengendalian hama penyakit, panen, seleksi,
grading, pencucian sampai dengan pengemasan)
7) Memberikan petunjuk kepada pelaksana untuk menentukan kualitas
produk sesuai dengan spesifikasi dan memeriksa hasil
pelaksanaannya
8) Memberikan tanggapan dan memperbaiki hasil prosedur ssesuai
dengan komplain konsumen
e. Divisi Budidaya
Divisi budidaya memiliki fungsi dalam pelaksana dan penanggung
jawab budidaya tanaman organik. Tugas pokok divisi budidaya yaitu
sebagai berikut:
1) Menyiapkan benih dan persemaian untuk budidaya tanaman
organik
2) Menyiapkan sarana dan peralatan
3) Menyiapkan pengolahan tanah sesuai dengan GAP atau
menyiapkan media untuk pertanaman di dalam polybag
4) Menyiapkan tenaga-tenaga yang sudah terlatih untuk melaksanakan
budidaya sayuran organik
5) Membuat pola dan jadwal setiap jenis di tiap-tiap petak
kebun/plasma dan rencana panennya
6) Memberikan petunjuk dan mengawasi pelaksanaan budidaya,
tanam, pemeliharaan, pengendalian hama penyakit, dan persiapan
7) Melakukan koordinasi dengan seksi panen dan pasca panen dalam
menyiapkan panen dan processing
8) Melihat dan memeriksa kesehatan, kebersihan pelaksana tugas /
pekerja kebun
f. Divisi Panen dan Pasca Panen
Divisi panen dan pasca panen memiliki fungsi dalam menangani
panen dan pasca panen. Tugas pokok divisi panen dan pasca panen
yaitu sebagai berikut:
1) Melaksanakan panen sesuai dengan jadwal rencana panen
2) Koordinasi dengan budidaya
3) Menyiapkan sarana dan peralatan untuk panen dan pasca panen
4) Mengawasi pelaksanaan panen, mengawasi proses seleksi, grading
pencucian penirisan, penimbangan, dan pengawasan
5) Menyiapkan sarana, peralatan, dan administrasi untuk pengiriman
g. Divisi Pemasaran
Divisi pemasaran/marketing memiliki fungsi dalam mengelola
pemasaran. Tugas pokok divisi pemasaran/marketing yaitu sebagai
berikut:
1) Menyiapkan produk yang dipasarkan sesuai dengan jumlah dan
lokasi pemasaran
2) Memeriksa produk akhir untuk dipasarkan
3) Menyiapkan sarana pengangkutan sesuai dengan produsen GAP
(organik) serta kelengkapannya
4) Merencanakan dan melakukan pengembangan pemasaran sayuran
organik
5) Melakukan promosi
6) Menerima keluhan/komplain dari konsumen atau pelanggan
7) Koordinasi dengan FM dan budidaya dalam rangka penyusunan
rencana pengembangan budidaya sesuai dengan permintaan dan
pengembangan pasar

B. Manajemen Produksi
Manajemen Produksi merupakan salah satu bagian dari bidang
manajemen yang mempunyai peran dalam mengkoordinasi berbagai kegiatan
untuk mencapai tujuan. Proses produksi pasti menggunakan manajemen guna
proses produksi yang lebih terarah. Dalam mengatur kegiatan ini, perlu dibuat
keputusan yang berhubungan dengan usaha-usaha untuk mencapai tujuan
agar barang dan jasa yang dihasilkan sesuai dengan apa yang direncanakan.
ruang lingkup manajemen produksi dan operasi akan mencakup perancangan
atau penyiapan sistem produksi dan operasi, serta pengoperasian dari sistem
produksi dan operasi. Pembahasan dalam perancangan atau penyiapan sistem
produksi dan operasi meliputi :
1. Seleksi dan Rancangan atau Desain Hasil Produksi (Produk)
Kegiatan produksi harus dapat menghasilkan produk secara efektif
dan efisien dengan mutu atau kualitas yang baik. Kegiatan produksi dan
operasi harus dimulai dengan penyeleksian dan perancangan produk yang
akan dihasilkan. Kegiatan ini harus diawali dengan riset dan
pengembangan produk yang sudah ada. Berdasarkan hasil pengembangan
produk sawi pada produksi-produksi sebelumnya, CV. Kurnia Kitri Ayu
Farm menetapkan sawi yang akan diproduksi yaitu sawi daging dan
caisim. Komoditas sawi tersebut dipilih karena memiliki permintaan pasar
yang tinggi dibandingkan dengan jenis sawi lainnya. Selain itu juga,
kondisi lahan hanya memungkinkan sawi jenis sawi daging dan caisim.
Kemudahan dalam pengolahan pasca panen sawi pun menjadi
pertimbangan dalam memilih komoditas sawi tersebut. Hal ini dikarenakan
dalam pengolahan pasca panen terdapat proses pengemasan, dalam hal ini
sawi memiliki proses yang cukup mudah dalam proses pembersihannya
serta memiliki ketahanan yang cukup lama dalam penyimpanan.
Ketahanan ini dibutuhkan karena produk-produk yang dihasilkan oleh CV.
Kurnia Kitri Ayu Farm juga dipasarkan hingga kota Surabaya sehingga
membutuhkan ketahanan yang lebih.
2. Seleksi dan Perancangan Proses Perawatan
3. Pemilihan Lokasi dan Site Perusahaan dan Unit Produksi
4. Rancangan Tata Letak (Layout) dan Arus Kerja atau Proses
5. Rancangan Tugas Pekerjaan
6. Strategi Produksi dan Operasi serta Pemilihan Kapasitas
Pembahasan dalam pengoperasian sistem produksi dan operasi akan
mencakup :
1. Penyusunan Rencana Produksi dan Operasi
Perencanaan produksi merupakan aktivitas yang dilakukan dengan
tujuan mengadakan persiapan yang sistematis bagi proses produksi yang
akan dijalankan. Menurut Biegel (2009) perencanaan produksi merupakan
pengorganisasian kebutuhan tenaga kerja, bahan-bahan baku, mesin dan
peralatan lain seperti modal yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah
barang pada suatu periode tertentu di masa depan sesuai dengan kuantitas
dan kualitas yang dikehendaki dengan keuntungan maksimum.
Perencanaan produksi merupakan salah satu aspek penting dalam
manajemen produksi di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm.
Perencanaan produksi yang dilakukan oleh CV. Kurnia Kitri Ayu
Farm mencakup penetapan target produksi, penetapan urutan produksi
(Routing) serta penjadwalan (Scheduling). Perencanaan dalam penetapan
target produksi dilakukan dengan menyesuaikan permintaan pasar yang
ada. CV. Kurnia Kitri Ayu Farm memiliki pencatatan kebutuhan
permintaan sawi dari setiap konsumennya, sehingga dapat memperkirakan
target produksi yang harus dicapai. Target produksi ini sangat penting
karena akan digunakan untuk dasar dalam penyediaan berbagai macam
bahan baku dan media yang digunakan selama proses produksi.
Routing adalah proses perencanaan yang dilakukan untuk menemukan
urutan terbaik dalam memproduksi produk tertentu. Perencanaan routing
akan menentukan tahapan pekerjaan atau proses yang dilakukan pada
suatu produk dan bagaimana cara yang paling efisien untuk
mengerjakannya. CV. Kurnia Kitri Ayu Farm memiliki perencanaan
routing dalam proses produksi sawi yaitu mengurutkan proses produksi
mulai dari pembibitan, pengolahan lahan, penanaman bibit sawi,
pemeliharaan, proses panen dan pasca panen. Pembibitan dipilih sebagai
urutan pertama karena pembibitan sawi membutuhkan waktu seminggu
dalam prosesnya, sehingga jika dilakukan setelah pengolahan lahan maka
akan membuang waktu yang ada.
Scheduling atau penjadwalan adalah alokasi sumber daya untuk proses
produksi dengan memperhatikan faktor pembatas seperti waktu.
Penjadwalan yang dilakukan oleh CV. Kurnia Kitri Ayu meliputi
penjadwalan masa tanam, pembelian bahan baku, pembuatan media,
proses pasca panen serta penjadwalan pengiriman kepada konsumen.
Selain itu penjadwalan yang dilakukan juga berlaku untuk petani mitra
CV. Kurnia Kitri Ayu. Scheduling yang dibuat berdasarkan permintaan
pasar yang ada, agar CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dapat memenuhi
permintaan pasar sesuai dengan waktu yang diminta oleh konsumen.
Penjadwalan juga dibuat dengan melihat kondisi cuaca dan kondisi lahan.
Jika iklim diperkirakan tidak mendukung atau kondisi lahan sedang tidak
memungkinkan maka penjadwalan komoditas yang ditanam pun akan
berubah.
Perencanaan proses produksi di CV. Kurnia Kitri dibuat oleh Bapak
Hary selaku pemilik perusahaan. Perencanaan yang dilakukan semuanya
ditulis manual oleh Bapak Hary dan selalu diarsipkan oleh pemilik
perusahaan. Perencanaan tersebut juga nantinya akan dijadikan sebagai
bahan evaluasi apakah produksi yang dihasilkan oleh perusahaan sesuai
dengan perencanaan yang telah direncanakan. Selain sebagai bahan
evaluasi, perencanaan ini juga digunakan untuk pengawalan terhadap
proses produksi yang sedang berjalan agar tidak terjadi penyimpangan
seperti pembengkakan dana atau sebagainya.
Perencanaan produksi yang dilakukan oleh CV. Kurnia Kitri Ayu
Farm juga meliputi anggaran pemasukan dan anggaran biaya. Anggaran
biaya yang diterima oleh CV. Kurnia Kitri Ayu Farm yaitu sebesar
Rp.16.000,- untuk setiap 1 kilogram sawi yang dijual. Sedangkan biaya
yang harus dikeluarkan oleh perusahaan adalah Rp.4000,- untuk setiap 1
kilogram sawi yang dihasilkan.
Manajemen produksi tidak dapat berjalan dengan baik bila dalam
penerapan produksinya tidak ada standar operasi yang diterapkan.
Produksi sawi yang dilakukan juga berdasarkan Standart Operating
Procedure (SOP) yang disusun oleh CV. Kurnia Kitri Ayu. Standar
operasi ini digunakan untuk meningkatkan produksi sayur khususnya
komoditas sawi agar menjadi lebih efisien dan layak untuk dipasarkan
hasilnya. Berikut merupakan Standart Operating Procedure (SOP) untuk
budidaya komoditas sawi yang menjadi pedoman di CV. Kurnia Kitri Ayu
Farm.
a. Pengelolaan tanah
1) Cangkul tanah sedalam 40 cm.
2) Buat bedengan ukuran 1,1 meter x 4 meter, dengan ketinggian
bedengan 30 cm.
b. Pemupukan
1) Beri pupuk kandang 4 atau 5 kilogram per m2, lalu sebar rata.
2) Cangkul rata / kecroh supaya pupuk merata
c. Persemaian
Semai benih sawi dalam polybag selama 7 hari
d. Tanam
1) Tanam pada larikan dengan jarak larikan 7 cm atau dengan jarak
tanam 7 x 10 cm.
2) Kebutuhan tiap lubang ditanam 2 sampai 3 biji.
3) Setelah ditanam, biji ditutup tanah.
4) Selesai tanam, tanah disiram menggunakan air yang berpenampang
kecil agar biji tidak keluar dari tanah.
e. Pemeliharaan
1) Penyiraman dilakukan satu kali sehari pada sore hari
2) Penyiraman menggunakan alat gembor
3) Penyiangan gulma dilakukan dengan cara dicabut dan dilakukan saat
gulma masih kecil
4) Pengendalian hama dan penyakit menggunakan tanaman perangkap
dan obat-obatan alami yang dibuat sendiridan disemprotkan pada
tanaman
f. Panen
1) Panen dapat dilakukan pada tanaman berumur 20 – 22 hari dengan
panjang 20 – 25 cm.
2) Tanaman dipanen dengan cara dicabut sampai akarnya

g. Pasca panen
1) Seleksi tanaman sesuai ketentuan.
2) Buang daun yang rusak.
3) Kelompokkan sayur sesuai dengan ukuran.
4) Bersihkan akar dari kotoran yang ada lalu potong supaya terlihat
rapih.
5) Cuci sayur menggunakan air mengalir yang bersih
6) Akar disikat supaya lebih bersih.
7) Setelah cuci tiriskan kurang lebih 1 jam.
2. Perencanaan dan Pengendalian Persediaan dan Pengadaan Bahan
Kelancaran kegiatan produksi dan operasi sangat ditentukan oleh
kelancaran tersedianya bahan atau masukan yang dibutuhkan bagi
produksi dan operasi tersebut. Kelancaran tersedianya bahan atau masukan
produksi dan operasi ditentukan oleh baik tidaknya pengadaan bahan serta
rencana dan pengendalian persediaan yang dilakukan (Assauri, 2008).
Perencanaan pengadaan bahan tersusun dengan baik pada CV. Kurnia Kitri
Ayu Farm. Perencanaan pengadaan bahan ini dilakukan berdasarkan
permintaan sawi pada periode sebelumnya. Pengadaan bahan baku harus
selalu dilakukan secara berkala agar proses produksi dapat dilakukan
secara kontinyu.
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi sawi yaitu benih
sawi, pupuk organik, serta air. Benih sawi yang digunakan merupakan
benih sawi organik bermerk “Panah Merah” yang diproduksi oleh PT. East
West Seed Indonesia (EWINDO) yang sudah memiliki sertifikat untuk
produk organik. Benih yang dibeli disesuaikan dengan penjadwalan masa
tanam sawi. Pengadaan benih ini harus sesuai dengan kebutuhan, jika
benih berlebih maka akan terbuang karena ada masa kadaluarsa dan sifat
benih yang tidak tahan lama, apalagi jika penyimpanan benih tidak
dilakukan dengan cara yang tepat maka akan merusak kualitas benih.
Pengadaan benih kurang dari kebutuhan akan mengakibatkan perusahaan
tidak dapat menjalankan kegiatan produksi.
Gambar 1. Benih Sawi Organik
Pupuk organik yang digunakan yaitu pupuk kandang.
3. Pemeliharaan atau Perawatan (Maintenance)
Pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan berupa pemeliharaan
mesin dan peralatan. Peralatan yang digunakan yaitu berupa cangkul,
gembor, selang, gunting, timbangan. Peralatan yang digunakan merupakan
peralatan yang sederhana karena dalam proses produksi tidak memerlukan
peralatan yang memiliki teknologi dengan tingkat yang lebih tinggi.
Peralatan-peralatan sederhana tersebut memiliki nilai ekonomi yang
rendah serta biaya perawatan yang rendah karena pemeliharaan yang
dilakukan pun sederhana. Peralatan tersebut hanya memerlukan
pembersihan sederhana seperti dicuci atau dibersihkan menggunakan kain
lap. Untuk timbangan hanya perlu ditera dalam periode waktu tertentu
untuk memastikan ketepatan pengukuran.
Gambar 2. Timbangan
Mesin yang digunakan dalam produksi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
yaitu kulkas berjumlah 2 buah. Kulkas tersebut berasal dari bantuan
pemerintah untuk CV. Kurnia Kitri Ayu Farm. Pemeliharaan dan
perawatan yang dilakukan oleh pemilik perusahaan yaitu membersihkan
bagian dalam kulkas ketika tidak digunakan untuk membersihkan kotoran-
kotoran yang tertinggal. Tidak ada pemeliharaan khusus yang dilakukan
dalam perawatan dan pemeliharaan kulkas tersebut.

Gambar 3. Kulkas
4. Pengendalian Mutu
Menurut Sulaeman (2010), pengendalian mutu adalah penggunaan
teknik dan kegiatan untuk mencapai, mempertahankan dan meningkatkan
mutu dari sebuah produk atau jasa. Pengendalian mutu merupakan usaha
untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu dari produk yang
dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan
berdasarkan kebijakan pemilik perusahaan. Pengendalian mutu pada CV.
Kurnia Kitri Ayu Farm memiliki standar mutu untuk produknya sesuai
Standart Operational Procedure (SOP) yang telah ditetapkan.
Pengendalian mutu yang dilakukan dimulai dari pengadaan
bahanbaku yang digunakan. Bahan-bahan yang digunakan oleh CV.
Kurnia Kitri Ayu Farm selalu dipastikan menggunakan bahan organik
yang juga tersertifikasi untuk menjaga agar sawi yang dihasilkan benar-
benar merupakan produk organik. Pupuk yang digunakan sebelumnya
diperiksa oleh pemilik perusahaan ke tempat produksi pupuk untuk
memastikan pupuk yang digunakan ialah pupuk organik.
Budidaya tanaman juga menentukan kualitas produk yang
dihasilkan. Pemilik perusahaan meminimalisir kerusakan tanaman dengan
menggunakan obat yang dibuat sendiri oleh pemilik perusahaan. Proses
pemeliharaan yang dilakukan untuk meningkatkan mutu produk yaitu:
a. Penyiangan gulma
1) Penyiangan gulma dilakukan secara mekanik atau dicabut.
2) Penyiangan gulma dilakukan saat gulma masih kecil sehingga tidak
mengganggu perakaran tanaman.
b. Pengendalian hama dan penyakit menggunakan trapcrops
1) Trapcrops ditanam di tepian bedengan tanaman.
c. Pengendalian hama dan penyakit menggunakan obat-obatan alami yang
dibuat sendiri
1) Untuk hama ulat: air 10 liter + daun sambiloto 1 kg, direndam
selama 3 hari, lalu semprotkan.
2) Untuk hama belalang: air 10 liter + buah mengkudu 1 kg dan daun
mengkudu 1 kg, rendam selama 3 hari, lalu semprotkan.
3) Untuk penyakit bercak daun: air 10 liter + lengkuas 0,5 kg
dihancurkan, kapur sirih 2 sendok, rendam selama 3 sampai 5 hari,
lalu semprotkan.
Pengendalian mutu selain dilakukan saat pemeliharaan budidaya
tanaman juga dilakukan saat panen dan pasca panen tanaman. Sawi yang
dipanen harus merupakan tanaman sawi yang sudah berumur 20 sampai 22
hari dan sudah berukuran 20 sampai 25 cm. Jika kurang ukuran tersebut
maka akan mengurangi kualitas sawi. Selanjutnya proses pasca panen yang
meliputi kegitan seleksi, grading, pencucian dan pengemasan. Sawi yang
sudah dipanen akan diseleksi sesuai dengan ketentuan, lalu daun-daun
yang rusak atau menguning harus dipetik. Pemetikan daun yang rusak ini
bertujuan agar sayuran yang sudah dikemas nantinya dapat bertahan lebih
lama. Selanjutnya akar dipotong sedikit agar terlihat rapih.

Gambar 4. Kegiatan pemetikan daun yang rusak dan grading sawi.


Tahap selanjutnya ialah grading atau pengelompokan sawi. Sawi yang
sudah diseleksi akan dikelompokkan berdasarkan ukuran panjang sawi
tersebut. Sesuai masih kecil namun sudah tercabut maka akan dipisahkan
untuk dijual ke tempat yang berbeda atau dikonsumsi sendiri. Hal ini
dilakukan untuk
5. Evaluasi Produksi
Tahap evaluasi produksi dilakukan untuk menilai apakah proses
produksi yang dijalankan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat dan
hasil produksi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh perusahaan. Tahap
evaluasi ini sangat penting untuk perkembangan perusahaan. Hal ini
dikarenakan perusahaan akan terus memperbaiki diri jika melakukan
evaluasi terhadap proses produksinya. Evaluasi yang dijalankan dapat
berupa evaluasi terhadap produk, pelayanan purna jual maupun evaluasi
terhadap proses produksi itu sendiri.
Evaluasi yang dilakukan oleh CV. Kurnia Kitri Ayu Farm yaitu dengan
mengandalkan konsumen untuk mengevaluasi
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Artikelsiana. 2015. Pengertian Evaluasi Produksi.


http://www.artikelsiana.com/2015/01/pengertian-evaluasi-definisi-
pengertian.html?m=1. Diakses pada tanggal 30 Januari 2018 pukul 19.00
WIB.
Assauri, S. 2008. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Battistoni, Bonacelli, Schiraldi. 2013. An Analysis of the Effect of Operations
Management Practices on Performance. International Journal of
Engineering Business Management 5(44) : 1-11.
Biegel, J. E. 2009. Pengendalian Produksi Suatu Pendekatan Kuantitatif. Jakarta:
Akademika Pressindo.
Darmawan A. Herlina N. Soelistyono R. 2013. Pengaruh Berbagai Macam Bahan
Organik dan Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Sawi. J. Produksi Tanaman 1 (5) : 389-397.
Daryanto. 2012. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Echols, John M and Hassan Shadily. 2008. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Edi dan Yusri. 2010. Budidaya Sawi Hijau. Jurnal Agrisistem. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Jambi. Jambi.
Handoko, T. 2000. Manajemen. BPFE: Yogyakarta.
Mayrowani, 2012. Pengembangan Pertanian Organik Indonesia. J. Agroekonomi 3
(2) : 91-108
Mohammed Ali Abusalah Elmabrok, Ng Kim Soon, Lau Kum Shen, danAbd
Rahman Ahmad. 2015. Production and Operations Management
Coursework: Transforming the Industrial Factory Visits into Rich Learning
Experiences. Journal 4th International Conference on Technology
Management, Business and Entrepreneurship 1(1): 1497-1508.
Nurwandani, P. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih. Jakarta :
Depdiknas.
Sawitri P, Hartato E, Yusryh K, dan Lasminiasih. 2013. Pengantar Manajemen
Produksi dan Operasi I. Universitas Gunadarma.
Sutanto. 2002. Penerapan Pertanian Organik, menuju Pertanian Alternatif dan
Berkelanjutan. Yogyakarta: Kanisius.
Widiastuti, S. 2007. Bertanam Tanpa Tanah. Musi Perkasa Utama. Jakarta.