Anda di halaman 1dari 29

Gejala Kuantum

Minggu, 29 September 2013


Gejala Kuantum

PENDAHULUAN

Dalam fisika modern efek fotolistrik, hamburan Compton dan konsep


foton merupakan salah satu pokok bahasan yang mempunyai kedudukan
istimewa karena interpretasi mekanisme terjadinya peristiwa ini telah
mengantarkan fisika pada tahapan baru yang melahirkan fisika kuantum.
Karenanya pemahaman yang optimal mengenai ketiga materi tersebut pada
pembelajaran fisika modern amat diperlukan sehingga kegiatan laboratorium
yang tidak dapat terlaksana perlu digantikan dengan kegiatan serupa. Salah satu
alternatif yang dapat ditempuh adalah dengan merancang kegiatan eksperimen
virtual yang memanfaatkan program aplikasi komputer untuk menampilkan
hasil perhitungan yang disertai dengan animasi dan simulasi.

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain :

1. Apa itu efek fotolistrik?

2. Apa itu hamburan compton?

3. Bagaimana konsep foton?

4. Apa itu radiasi benda hitam?

Berdasarkan rumusan masalah di atas, pembahasan materi dari makalah


ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui efek fotolistrik

2. Mengetahui hamburan Compton

3. Mengetahui konsep foton

4. Mengetahui radiasi benda hitam


GEJALA KUANTUM

I. EFEK FOTO LISTRIK


a. Pengertian Efek Fotolistrik
Efek fotolistrik adalah munculnya arus listrik akibat permukaan suatu
bahan logam disinari. Arus listrik yang muncul ini adalah arus elektron yang
bermuatan negatif. Sinar yang datang di permukaan bahan adalah menyebabkan
elektron dari bahan keluar dan lepas dari bahan.

Dalam pengertian yang lain, Efek foto listrik adalah peristiwa


terlepasnya elektron dari permukaan suatu zat (logam), bila permukaan logam
tersebut disinari cahaya (foton) yang memiliki energi lebih besar dari energi
ambang (fungsi kerja) logam.

Pada efek fotolistrik, permukaan sebuah logam disinari dengan seberkas


cahaya, dan sejumlah elektron terpancar dari permukaannya. Dalam studi
eksperimental terhadap efek fotolistrik, kita mengukur bagaimana laju dan
energi kinetik elektron yang terpancar bergantung pada intensitas dan panjang
gelombang sumber cahaya. Percobaan ini harus dilakukan dalam ruang hampa,
agar elektron tidak kehilangan energinya karena bertumbukan dengan
molekul-molekul udara.

Susunan percobaan ini diperlihatkan pada gambar berikut. Laju pancaran


elektron diukur sebagai arus listrik pada rangkaian luar dengan menggunakan
sebuah ammeter, sedangkan energi kinetiknya ditentukan dengan mengenakan
suatu potensial perlambat pada anoda sehingga elektron tidak mempunyai
energi yang cukup untuk “memanjati” bukit potensial yang terpasang. Secara
eksperimen, tegangan perlambat terus diperbesar hingga pembacaan arus pada
ammeter menurun ke nol. Tegangan yang bersangkutan ini disebut potensial
henti (stopping potential) Vs. Karena elektron yang berenergi tertinggi tidak
dapat melewati potensial henti ini, maka pengukuran Vs merupakan suatu cara
untuk menentukan energi kinetik maksimum elektron Kmaks :

Kmaks = e Vs

e adalah muatan elektron. Nilai khas Vs adalah dalam orde beberapa volt.

Suatu berkas cahaya yang didatangkan pada permukaan logam alkali (Li,
Na, K, Cs) akan menyebabkan terjadinya efek fotolistrik. Secara skematik
rangkaian eksperimen efek fotolistrik terdiri atas dua plat logam (elektroda),
yang ditempatkan dalam vakum dan terpisah pada jarak tertentu, dan
dihubungkan dengan amperemeter dan potensiometer (yang dilengkapi dengan
voltmeter) dalam suatu rangkaian seri.

Ketika pertama kali peristiwa ini ditemukan oleh Hertz pada tahun 1887,
interaksi antara berkas cahaya dan elektron-elektron logam menunjukkan
beberapa sifat yang belum pernah dikenal sebelumnya, yaitu:

1. Efek fotolistrik hanya terjadi pada frekuensi cahaya yang lebih besar daripada
harga minimum tertentu (frekuensi ambang) yang bergantung pada jenis logam
yang disinari

2. terjadinya efek fotolistrik hampir bersamaan dengan saat datangnya sinar pada
plat logam.

3. energi kinetik maksimum elektron fotolistrik pada logam tertentu hanya


bergantung pada frekuensi berkas cahaya yang datang, tidak bergantung pada
intensitas cahaya yang datang.

4. besar arus fotolistrik sebanding dengan intensitas cahaya yang datang.

Sifat-sifat di atas hanya dapat dijelaskan jika cahaya yang datang


pada permukaan logam diperlukan sebagai paket-paket energi yang disebut.
Dengan mengadopsi teori radiasi benda hitam Einstein menyatakan bahwa besar
energi masing-masing foton tersebut hanya ditentukan oleh frekuensi (f)
foton, dengan h suatu konstanta yang besarnya 6,626’10-34 J,s dan selanjutnya
dikenal sebagai konstanta Planck.
Dari berbagai percobaan seperti ini, kita pelajari fakta-fakta terinci efek
fotolistrik berikut:

1. Laju pemancaran elektron bergantung pada intensitas cahaya.


2. Laju pemancaran elektron tidak bergantung pada panjang
gelombang cahaya di bawah suatu panjang gelombang tertentu; di
atas nilai arus secara berangsur-angsur menurun hingga menjadi
nol pada suatu panjang gelombang pancung, ini biasanya terdapat
pada spektrum daerah biru dan ultraviolet.
3. Nilai λc tidak bergantunga pada intensitas sumber cahaya, tetapi
hanya bergantung pada jenis logam yang digunakan sebagai
permukaan fotosensitif. Di bawah λc sebarang sumber cahaya,
selemah apapun, akan menyebabkan terjadinya pemancaran
fotoelektron; di atas λc tidak satupun cahaya, sekuat apapun, dapat
menyebabkan terjadinya pemancaran fotoelektron.
4. Energi kinetik maksimum elektron yang dipancarkan tidak
bergantung pada intensitas cahaya, tetapi hanyalah bergantung
pada panjang gelombangnya; energi kinetik ini didapati
bertambah secara linier terhadap frekuensi sumber cahaya.
5. Apabila sumber cahaya dinyalakan, arus segera akan mengalir
(dalam selang waktu 10-9 s).
Menurut teori gelombang cahaya, sebuah atom akan menyerap energi
dari gelombang elektromagnet datang yang sebanding dengan luasnya yang
menghadap ke gelombang datang. Dan sebagai tanggapan terhadap medan
elektrik gelombang, elektron atom akan bergetar, hingga tercapai cukup energi
untuk melepaskan sebuah elektron dari ikatan dengan atomnya. Penambahan
kecemerlangan sumber cahaya memperbesar penyerapan energi, karena medan
elektriknya bertambah, sehingga laju pemancaran elektron juga akan bertambah,
yang sesuai dengan hasil percobaan.

Tetapi penyerapan ini terjadi pada semua panjang gelombang sehingga


keberadaan panjang gelombang pancung sama sekali bertentangan dengan
gambaran gelombang cahaya. Pada panjang gelombang yang lebih besar
daripada λc pun, teori gelombang menyatakan bahwa seharusnya masih mungkin
bagi suatu gelombang elektromagnet memberikan energi yang cukup guna
melepaskan elektron.

Kita dapat menaksir secara kasar waktu yang diperlukan sebuah atom
untuk menyerap energi secukupnya gna melepaskan sebuah elektron. Sebagai
sumber cahaya kita pilih sebuah laser berintensitas sedang, seperti laser
helium-neon yang mungkin telah anda lihat dalam laboratorium. Keluaran daya
yang dihasilkan laser seperti ini, paling tinggi 10-3 W, yang penampang
berkasnya terbatasi pada luas sekitar beberapa milimeter persegi (10-5 m2).
Diameter khas atom adalah dalam orde 10-10 m, jadi luasnya dalam orde 10-20 m2.
Karena itu, fraksi intensitas sinar laser yang jatuh pada atom adalah sekitar 10 -20
m2/ 10-5 m2 = 10-15. Jadi, hanya 10-18 W = 6 eV/s daya yang dapat diserap atom,
dan untuk menyerap energi sebanyak beberapa eV diperlukan waktu sekitar
satu detik. Dengan demikian, menurut gelombang cahaya, kita memperkirakan
tidak akan melihat fotoelektron terpancarkan hingga beberapa detik setelah
sumber cahaya dinyalakan; dalam praktek kita dapati bahwa berkas fotoelektron
pertama dipancarkan dalam selang waktu 10-9 s.

Dengan demikian, teori gelombang cahaya gagal meramalkan keberadaan


panjang gelombang pancung dan waktu tunda yang teramati dalam percobaan.

Teori efek fotolistrik yang benar barulah dikemukakan oleh Einstein pada
tahun 1905. Teorinya ini didasarkan oleh gagasan Planck tentang kuantum
energi, tetapi ia mengembangkannya satu langkah lebih ke depan. Einstein
menganggap bahwa kuantum energi bukanlah sifat istimewa dari atom-atom
dinding rongga radiator, tetapi merupakan sifat radiasi itu sendiri.

Energi radiasi elektromagnet bukanlah diserap dalam bentuk aliran


kontinue gelombang, melainkan dalam buntelan diskret kecil atau kuanta yang
kita sebut dengan foton. Sebuah foton adalah satu kuantum energi
elektromagnet yang diserap atau dipancarkan dan sejalan dengan usulan Planck,
tiap-tiap foton dari radiasi berfrekuensi f memiliki energi

E=hf

H adalah tetapan Planck. Dengan demikian, foton-foton berfrekuensi tinggi


memiliki energi yang lebih besar-energi foton cahaya biru lebih besar daripada
energi foton cahaya merah. Karena suatu gelombang elektromagnet klasik
berenergi U memiliki momentum p = U/c, maka foton itu haruslah pula memiliki
momentum, dan sejalan dengan rumusan klasik, momentum sebuah atom
berenergi E adalah

P=

Dengan menggabungkan kedua persamaan tersebut, kita dapati hubungan


langsung berikut antara panjang gelombang dan momentum foton:

Teori Einstein segera terbukti dapat menjelaskan semua fakta efek


fotoelektrik yang diamati. Andaikanlah kita menganggap bahwa sebuah elektron
terikat dalam logam dengan energi W, yang dikenal sebagai fungsi kerja. Logam
yang berbeda memiliki fungsi berbeda pula; salah satu contoh daftarnya
diperlihatkan dalam tabel berikut. Untuk mengeluarkan sebuah elektron dari
permukaan suatu logam, kita harus memasok energi sekurang-kurangnya
sebesar W. Jika hv < W, tidak terjadi efek fotolistrik; jika hv < W, maka elektron
akan terpental keluar dan kelebihan energi yang dipasok berubah menjadi
energi kinetiknya. Energi kinetik maksimum yang dimiliki elektron yang
terpental keluar dari permukaan logam adalah:

Kmaks = hv – W

Untuk elektron yang berada jauh di bawah permukaan logam, dibutuhkan


energi yang lebih besar daripada W dan beberapa di antaranya keluar dengan
energi kinetik yang lebih rendah.

Sebuah foton yang memasok energi sebesar W, yang adalah tepat sama
dengan energi yang dibutuhkan untuk melepaskan sebuah elektron, berkaitan
dengan cahaya yang panjang gelombangnya sama dengan panjang gelombang
pancung. Pada panjang gelombang ini, tidak ada kelebihan energi yang tersisa
bagi energi kinetik bagi fotoelektron, sehingga persamaan tersebut dapat
disederhanakan menjadi

W = hv =
Karena kita memperoleh satu fotoelektron untuk setiap foton yang
terserap, maka penaikan intensitas sumber cahaya akan berakibat semakin
banyak fotoelektron yang dipancarkan, namun demikian semua fotoelektron ini
akan memiliki energi kinetik yang sama, karena semua foton memilki energi
yang sama.

b. Pengamat Efek Fotolistrik


Dalam perjalanan sejarah, eksperimen mengenai efek fotolistrik ini
telah diamati oleh beberapa orang ahli yaitu :

1. Hallwach ( tahun1887)

Hallwach mengamati bahwa pelat yang dilapisi seng yang


bermuatan negatif akan kehilangam muatannya jika disinari
ultraviolet.

2. Lenard ( tahun1902)

Lenard mengamati bahwa jika pelat (seng) disniari dengan sinar


ultraviolet, maka elektron akan lepas dan meninggalkan pelat.

Hasil pengamatan Lenard tahun 1902 dari eksprimen efek foto


listrik adalah:

 kecepatan elektron (yang sebanding dengan energi kinetik


elektron) yang lepas dari seng itu tidak bergantung kepada
intensitas cahaya, tetapi hanya bergantung kepada
frekuensi (atau panjang gelombang) sinar yang digunakan.
 Untuk suatu logam tertentu, tidak ada pancaran elektron
jika panjang gelombang cahaya lebih besar dari suatu
panjang gelombang tertentu.
Hasil pengamatan tersebut tidak dapat dijelaskan menggunakan teori
gelombang klasik, karena menurut teori gelombang klasik, intensitas
cahaya adalah besarnya kerapatan laju energi (gelombang) cahaya.
Dengan demikian, jika intensitas cahaya yang datang pada permukaan
bahan makin besar berarti laju energi yang datang pada permukaan
bahan juga semakin besar. Karena energi yang datang semakin besar,
seharusnya jumlah elektron yang dipancarkan juga makin besar. Di
samping itu seharusnya elektron dapat terpancar dari pelat asalkan
intensitasnya (energinya) cukup, berapapun panjang gelombang sinar
yang digunakan. Akan tetapi dari hasil eksprimen diketahui bahwa
energi kinetik elektron yang dilepaskan bahan tidak bergantung pada
intensitas cahaya yang digunakan dan elektron tidak dapat
dipancarkan pada sembarang nilai panjang gelombang, meskipun
intensitasnya dibuat besar.
3. Einsten (tahun 1905)

Dalam makalah ilmiah tentang efek fotolistrik, menurut Einstein,


cahaya terdiri dari partikel-partikel yang kemudian disebut sebagai
foton. Ketika cahaya ditembakkan ke suatu permukaan logam,
foton-fotonnya akan menumbuk elektron-elektron pada permukaan
logam tersebut sehingga elektron itu dapat lepas. Peristiwa lepasnya
elektron dari permukaan logam itu dalam fisika disebut sebagai efek
fotolistrik.

Tahun 1905. Menurut Einstein pancaran cahaya berfrekuensi f berisi


paket-paket gelombang atau paket-paket energi, energi setiap paket
gelombang adalah hf.

Menurut postulat Planck, foton-foton yang sampai ke katoda akan


diserap sebagai kuantum enrgi. Ketika elektron menyerap foton,
maka elektron mendapat sejumlah energi yang dibawa foton yaitu hf.
Energi yang diperoleh ini sebagian digunakan elektron untuk
melepaskan diri dari bahan dan sisanya digunakan untuk bergerak
menjadi energi kinetik elektron. Besarnya energi yang diperlukan
oleh elektron untuk melepaskan diri dari bahan (melawan energi ikat
elektron dalam bahan) disebut fungsi kerja (θ). Secara matematik
dapat dituliskan :

Ek = hf - θ (2)

Persamaan (2) disebut persamaan foto listrik Einstein.

Dari persamaan (1) dan (2) dapat diperoleh :


e Vo = hf - θ (3)

Dengan eksprimen, kita dapat mencari harga potensial penyetop


untuk suatu harga frekuensi sinar datang. Dari berbagai harga
frekuensi sinar datang, akan didapat berbagai harga potensial
penyetop. Jika dibuat kurva eVo terhadap frekuensi, akan diperoleh
kurva berbentuk linier. Dengan mengeplot grafik hubungan antara
eVo dengan f akan didapatkan persamaan garis eVo = m f + c, jika kita
melihat persamaan (3) maka dapat diperoleh :

m=h;

c=θ

Pengamatan efek foto listrik sangat sesuai dengan teori Einstein


mengenai foton yang dilakukan oleh Milikan pada tahun 1916.
Milikan menggunakan bahan lithium sebagai katoda dan
mendapatkan hasil nilai tetapan h besarnya 6,67 x 10-34 Js. Sekarang
ini tetapan Planck dipandang sebagai salah satu tetapan alam, dan
telah diukur dengan ketelitian yang sangat tinggi dalam berbagai
percobaan. Nilai sekarang yang diterima adalah h = 6,62618 x 10-34
J.s.

4. Robert Millikan (tahun 1916)

Millikan menggunakan bahan Lithium sebagai katode dan


mendapatkan hasil, nilai tetapan h besarnya Js.Luar biasa!Angka yang
nyaris sama dengan yang diperoleh Planck ! Hasil pengamatan
Millikan membuktikan kebenaran teori foton yang dilontarkan
Einsten sebelumnya.

c. Eksperimen Efek Fotolistrik


Gambar : Pengamatan eksperimen efek fotolistrik

Keterangan gambar :
K = katode (terbuat dari bahan logam)

A = anode (penampung elektron yang dipancarkan oleh katode)

G = galvanometer (alat untuk mengamati ada / tidaknya arus


listrik )

Terjadinya efek fotolistrik adalah sebagai berikut :

Sinar yang dipancarkan oleh lampu pada katoda dapat menyebabkan


elektron keluar dan meninggalkan katode. Karena katode dihubungkan
dengan kutub positif baterai, maka potensial anode lebih rendah dari pada
potensial katode. Dalam keadaan demikian, elektron dalam ruang antara
katode dan anode akan tertarik menuju katode yang potensialnya yang
lebih tinggi. Semakin besar beda potensial, semakin besar pula gaya dorong
pada elektron. Elektron yang terdorng ini adalah yang keluar dari katode.

Jika energi kinetik elektron cukup besar meskipun ada beda potensial itu
elektron tetap dapat bergerak menuju anode. Aliran elektron ini
merupakan arus listrik dan dapat diamati dengan galvanometer. Jika beda
potensial cukup besar, dapat menyebabkan elektron tak dapat sampai ke
anode. Beda potensial yang tepat akan menahan pancaran elektron disebut
sebagai potensial penyetop. Pada keadaan tersebut, berarti energi kinetik
maksimum elektron yang dipancarkan tepat sama dengan beda energi
potensial listrik elektron antara anode dan katode.

Dari eksperimen diketahui bahwa energi kinetik (maksimum) akan naik


jika frekuensi sinar datang lebih besar. Kemudian, jumlah elektron yang
dibebaskan akan bertambah jika intensitas cahaya dinaikkan. Hasil
percobaan ini telah mematahkan teori gelombang klasik.

Dalam teori gelombang klasik, intensitas cahaya adalah besarnya


kerapatan laju energi (gelombang) cahaya. Dengan demikian, jika intensitas
cahaya yang datang pada permukaan bahan makin besar berarti laju energi
atau energi perdetik yang datang pada permukaan bahan juga makin besar.
Karena energi yang datang makin besar, maka seharusnya jumlah elektron
yang dipancarkan juga makin besar.
Di samping itu, seharusnya elektron dapat terpancar dari pelat asalkan
intensitasnya (energinya) cukup, berapapun panjang gelombang sinar yang
digunakan. Akan tetapi, dari hasil eksperimen diketahui bahwa energi
kinetik elektron yang dilepaskan bahan tidak bergantung kepada intensitas
cahaya yang digunakan. Juga dari hasil eksperimen diketahui bahwa
elektron tak dapat dipancarkan pada sembarang nilai panjang gelombang,
meskipun intensitasnya di buat besar. Dari sini, tampak bahwa teori
gelombang klasik tak dapat digunakan untuk menjelaskan hasil
eksperimen gejala fotolistrik.

Gagasan ini diperluas oleh Einstein lima tahun setelah itu. Dalam
makalah ilmiah tentang efek fotolistrik, menurut Einstein, cahaya terdiri
dari partikel-partikel yang kemudian disebut sebagai foton. Ketika cahaya
ditembakkan ke suatu permukaan logam, foton-fotonnya akan menumbuk
elektron-elektron pada permukaan logam tersebut sehingga elektron itu
dapat lepas. Peristiwa lepasnya elektron dari permukaan logam itu dalam
fisika disebut sebagai efek fotolistrik.

Einstein menemukan bahwa setiap foton mempunyai energi yang sangat


besar, bergantung pada frekuensi. Dalam fisika, energi dari foton dituliskan
sebagai

E =h f

Simbol f adalah frekuensi dan h adalah konstanta Planck.


Energi kinetik foto elektron yang terlepas:

Ek = h f - h fo

Ek = h f - Wo

Ek maks = e Vo

hf = energi foton yang menyinari logam

h fo = Fo frekuensi ambang = fungsi kerja

= energi minimum untuk melepas elektron

e = muatan elektron = 1.6 x 10-19 J

Vo = potensial penghenti

Wo = fungsi kerja

h = J.s

Proses kebalikan foto listrik adalah proses pembentukan sinar X yaitu


proses perubahan energi kinetik elektron yang bergerak menjadi
gelombang elektromagnetik (disebut juga proses Bremmsstrahlung).

Kesimpulan hasil eksperimen:

1. Agar elektron dapat lepas dari permukaan logam maka f > fo

2. Ek maksimum elektron yang terlepas tidak tergantung pada


intensitas cahaya yang digunakan, hanya tergantung pada energi
atau frekuensi cahaya. Tetapi intensitas cahaya yang datang
sebanding dengan jumlah elektron yang terlepas dari logam.

d. Aplikasi Efek Fotolistrik


Sangat mengherankan jika kita mendengar bahwa aplikasi pertama
efek fotolistrik berada dalam dunia hiburan. Ek maksimum elektron
yang terlepas tidak tergantung pada intensitas cahaya yang digunakan,
hanya tergantung pada energi atau frekuensi cahaya. Tetapi intensitas
cahaya yang datang sebanding dengan jumlah elektron yang terlepas
dari logam. Dengan bantuan peralatan elektronika saat itu suara
dubbing film direkam dalam bentuk sinyal optik di sepanjang
pinggiran keping film. Pada saat film diputar, sinyal ini dibaca kembali
melalui proses efek fotolistrik dan sinyal listriknya diperkuat dengan
menggunakan amplifier tabung sehingga menghasilkan film bersuara.

Aplikasi paling populer di kalangan akademis adalah tabung


foto-pengganda (photomultiplier tube). Dengan menggunakan tabung
ini hampir semua spektrum radiasi elektromagnetik dapat diamati.
Tabung ini memiliki efisiensi yang sangat tinggi, bahkan ia sanggup
mendeteksi foton tunggal sekalipun. Dengan menggunakan tabung ini,
kelompok peneliti Superkamiokande di Jepang berhasil menyelidiki
massa neutrino yang akhirnya dianugrahi hadiah Nobel pada tahun
2002. Di samping itu efek fotolistrik eksternal juga dapat
dimanfaatkan untuk tujuan spektroskopi melalui peralatan yang
bernama photoelectron spectroscopy atau PES.

Efek fotolistrik internal memiliki aplikasi yang lebih menyentuh


masyarakat. Ambil contoh foto-diode atau foto-transistor yang
bermanfaat sebagai sensor cahaya berkecepatan tinggi. Bahkan, dalam
komunikasi serat optik transmisi sebesar 40 Gigabit perdetik yang
setara dengan pulsa cahaya sepanjang 10 pikodetik (10-11 detik)
masih dapat dibaca oleh sebuah foto-diode.

Sel surya yang sangat kita kenal manfaatnya dapat mengubah energi
matahari menjadi energi listrik melalui efek fotolistrik internal.
Sebuah semikonduktor yang disinari dengan cahaya tampak akan
memisahkan elektron dan hole. Kelebihan elektron di satu sisi yang
disertai dengan kelebihan hole di sisi lain akan menimbulkan beda
potensial yang jika dialirkan menuju beban akan menghasilkan arus
listrik.
Akhir-akhir ini kita dibanjiri oleh produk-produk elektronik yang
dilengkapi dengan kamera CCD (charge coupled device). Sebut saja
kamera pada ponsel, kamera digital dengan resolusi hingga 12
Megapiksel, atau pemindai kode-batang (barcode) yang dipakai
diseluruh supermarket, kesemuanya memanfaatkan efek fotolistrik
internal dalam mengubah citra yang dikehendaki menjadi data-data
elektronik yang selanjutnya dapat diproses oleh komputer.

II. HAMBURAN COMPTON


Tanggal ini pada 1892, fisikawan Amerika dan Nobelis bidang Fisika 1927
Arthur Holly Compton lahir di Wooster, Ohio. Arthur adalah putra Elias Compton,
profesor dan dekan ilmu filsafat di College of Wooster.

Di College of Wooster pula, Arthur belajar dan meraih gelar sarjananya


pada 1913. Kemudian selama tiga tahun melakukan penelitian pasca sarjana di
Princeton University. Gelar Ph.D diraihnya pada 1916.

Di Princeton, ia berhasil menemukan sebuah metode elegan untuk


mendemonstrasikan rotasi bumi. Namun, sumbanganya yang terkenal adalah
penelitian dalam lapangan sinar-X. Ia mengembangkan teori intensitas pantulan
sinar X dari kristal-kristal.

Pada 1918 ia mulai meneliti penghamburan sinar X. Penelitian ini


membawanya pada penemuan bahwa peningkatan panjang gelombang sinar X
diperlukan untuk menghamburkan radiasi yang terbentuk oleh
electron-elektron bebas. Implikasinya, kuanta yang dihamburkan memiliki
energi yang sedikit ketimbang kuanta dari sorotan asli. Efek ini kemudian
dikenal sebagai Efek Compton yang mengilustrasikan konsep partikel dari
radiasi elektromagnetik. Penemuan ini diperkuat oleh penelitian Charles
Thomson Rees Wilson dari University of Cambridge, Inggris melalui metode
ruang awannya untuk menunjukkan keberadaan dari jalur lompatan
elektron-elektron.

Untuk penemuan itu, Arthur dan Charles dianugerahi Hadiah Nobel


Bidang Fisika tahun 1927. Selain itu, Arthur dan C. F. Hagenow menemukan
fenomena dari pantulan total sinar X dan polarisasi lengkapnya. Penemuan ini
mengarah pada penentuan dengan cermat jumlah electron dalam sebuah atom.

Periode 1930-1940, Arthur memfokuskan penelitian variasi geografi dari


intensitas sinar-sinar kosmik. Menurutnya, intensitas sinar kosmik berkaitan
dengan geomagnetic ketimbang garis lintang geografi.

Arthur menikahi Betty Charity McCloskey pada 1916. Mereka dikaruniai


empat putra. Arthur menyukai tenis, astronomi, fotografi dan musik. Ia wafat
pada 15 Maret 1962 di Berkeley, California.

Arthur Holly Compton (1892-1962) ialah fisikawan Amerika Serikat yang


menerima Penghargaan Nobel dalam Fisika atas sumbangannya dalam
penemuan sebuah efek yang dinamai menurut namanya (efek Compton).

Dilahirkan di Ohio dan menjalani pendidikan di Wooster College dan


Princeton. Saat bekerja di Universitas Washington, St. Louis ia menemukan
bahwa panjang gelombang sinar X bertambah jika mengalami hamburan, dan
pada 1923 ia bisa menerangkannya menurut teori kuantum cahaya. Pekerjaan
ini telah meyakinkan orang akan kebenaran realitas foton; sebenarnya Compton
sendirilah yang mengajukan kata "foton".

Setelah menerima Hadiah Nobel Fisika pada 1927, ia bekerja di


Universitas Chicago untuk mempelajari sinar kosmik dan membantu
menjelaskan bahsa sebenarnya sinar ini terdiri atas partikel yang bergerak cepat
(ternyata sekarang partikel itu ialah inti atom, dan sebagian besar ialah proton)
yang berputar dalam ruang dan bukan sinar gamma. Ia membuktikan hal ini
dengan memperlihatkan bahwa intensitas sinar kosmik berubah terhadap
lintang, dan hal ini hanya bisa diterima jika partikel itu ialah ion yang
lintasannya dipengaruhi medan magnet bumi. Selama PD II, ia merupakan salah
satu tokoh pimpinan yang mengembangkan bom atom.

Pada tahun 1923, Compton mempelajari gejala-gejala tumbukan antara


foton dan elektron. Berkas gelombang elektromagnetik yang bersumber pada
bahan radioaktif dikenakan pada keping tipis berilium. Kemudian, pada
arah-arah tertentu dipasang alat pengamat (detektor) elektron dan foton yang
diatur agar hanya dapat mengamati pasangan elektron dan foton yang datang
secara serentak. Conpton mendapatkan suatu kesimpulan bahwa paket-paket
energi gelombang elektromagnetik itu dapat berfungsi sebagai partikel dengan
momentum sebesar,

Dengan pfoton = momentum, hf = energi foton, λ = panjang


gelombang.

Jadi, sudah tidak disangsikan lagi bahwa cahaya memiliki


sifat kembar (dualisme) sebagai gelombang dan sebagai partikel. Skema
percobaan tumbukan foton dengan elektron oleh Compton dapat dilihat
pada gambar.

a) Elektron diam, foton datang dengan panjang gelombang λ


b) Elektron terpental dengan dengan momentum p, foton terhambur
dengan panjang gelombang lebih panjang λ’ dan momentum P’ yang
membentuk sudut θ dengan arah foton datar.

Setelah terjadi tumbukan antara foton dan elektron, foton kehilangan


energinya sebesar (hf-hf’), dalam hal ini f’<f sedangkan panjang gelombang
setelah tumbukan akan bertambah besar, yaitu λ’>λ. Bila penyimpangan
arah foton setelah tumbukan adalah θ terhadap arahnya semula, maka
hubungan antara λ dan λ’ memenuhi
λ’- λ =

dengan,
λ = panjang gelombang foton sebelum tumbukan
λ’ = panjang gelombang foton setelah tumbukan
m = massa elektron yang terpental
c = kecepatan cahaya
h = tetapan Planck
θ = sudut penyimpangan foton terhadap arah semula
a) Panjang Gelombang Compton

Dari persamaan kita lihat bahwa perubahan panjang


gelombang terbesar yang dapat terjadi ialah pada θ = 180o, ketika itu
perubahan panjang gelombang menjadi dua kali panjang gelombang
Compton λ. Karena panjang gelombang Compton untuk elektron ialah λ =
2,426 pm, dan lebih kecil lagi untuk partikel yang lain karena massanya
lebih besar, maka perubahan panjang gelombang maksimum dalam efek
Compton adalah 4,852 pm. Perubahan sebesar itu atau lebih kecil lagi
hanya bisa teramati untuk sinar-x karena pergeseran panjang gelombang
cahaya tampak kurang dari 0,01 persen dari panjang gelombang awal
sedangkan untuk sinar-x dengan λ = 0,1 nm, besaran itu menjadi
beberapa persen.

b) Mendemonstrasikan Efek Compton


Demonstrasi eksperimental efek Compton dapat dilihat secara
langsung. Seperti pada gambar di bawah ini, seberkas sinar-x dengan
panjang gelombang tunggal yang diketahui diarahkan pada target
(sasaran), dan panjang gelombnag sinar-x hambur juga ditentukan
untuk berbagai sudut θ. Hasilnya ditunjukkan pada gambar , hasil ini
menunjukkan pergeseran panjang gelombang, tetapi pada
masing-masing sudut sinar-x hambur termasuk juga sinar-x dengan
panjang gelombang awal. Hal ini tidak terlalu sukar untuk dimengerti.
Dalam penurunan persamaan tadi dianggap bahwa partikel hambur
dapat bergerak bebas, sesuatu anggapan yang nalar, karena banyak
elektron dalam materi terikat lemah pada atom induknya. Namun,
ada elektron lainnya yang terikat kuat dan jika elektron ini ditumbuk
oleh sebuah foton, seluruh atom bergerak, bukan hanya elektron
tunggalnya. Dalam kejadian seperti ini, besar m yang dipakai dalam
persamaan ialah massa seluruh atom yang besarnya beberapa puluh
ribu kali besar dari massa elektron, sehingga hasil pergeseran
Comptonnya sedemikian kecil sehinnga tidak terdeteksi

III. KONSEP POTON


Foton adalah partikel elementer dalam fenomena elektromagnetik.
Biasanya foton dianggap sebagai pembawa radiasi elektromagnetik, seperti
cahaya, gelombang radio, dan Sinar-X. Foton berbeda dengan partikel elementer
lain seperti elektron dan quark, karena ia tidak bermassa dan dalam ruang
vakum foton selalu bergerak dengan kecepatan cahaya, c. Foton memiliki baik
sifat gelombang maupun partikel ("dualisme gelombang-partikel").

Sebagai gelombang, satu foton tunggal tersebar di seluruh ruang dan


menunjukkan fenomena gelombang seperti pembiasan oleh lensa
dan interferensi destruktif ketika gelombang terpantulkan saling memusnahkan
satu sama lain.

Sebagai partikel, foton hanya dapat berinteraksi dengan materi dengan


memindahkan energi sejumlah:

E=

Di mana adalah konstanta Planck, adalah laju cahaya, dan adalah


panjang gelombangnya.

Selain energi partikel foton juga membawamomentum dan


memiliki polarisasi. Foton mematuhi hukum mekanika kuantum, yang berarti
kerap kali besaran-besaran tersebut tidak dapat diukur dengan cermat. Biasanya
besaran-besaran tersebut didefinisikan sebagai probabilitas mengukur polarisasi,
posisi, atau momentum tertentu.

Sebagai contoh, meskipun sebuah foton dapat mengeksitasi


satu molekul tertentu, sering tidak mungkin meramalkan sebelumnya molekul
yang mana yang akan tereksitasi.

Deskripsi foton sebagai pembawa radiasi elektromagnetik biasa


digunakan oleh para fisikawan. Namun dalam fisika teoretis sebuah foton dapat
dianggap sebagai mediator buat segala jenis interaksi elektromagnetik,
sepertimedan magnet dan gaya tolak-menolak antara muatan sejenis.

Konsep modern foton dikembangkan secara berangsur-angsur antara


1905-1917 oleh Albert Einstein untuk menjelaskan pengamatan eksperimental
yang tidak memenuhi model klasik untuk cahaya. Model foton khususnya
memperhitungkan ketergantungan energi cahaya terhadap frekuensi, dan
menjelaskan kemampuan materi dan radiasi elektromagnetik untuk berada
dalam kesetimbangan termal. Fisikawan lain mencoba menjelaskan anomali
pengamatan ini dengan model semiklasik, yang masih menggunakan persamaan
Maxwell untuk mendeskripsikan cahaya. Namun dalam model ini objek material
yang mengemisi dan menyerap cahaya dikuantisasi. Meskipun model-model
semiklasik ini ikut menyumbang dalam pengembangan mekanika kuantum,
percobaan-percobaan lebih lanjut membuktikan hipotesisEinstein bahwa cahaya
itu sendirilah yang terkuantisasi. Kuantum cahaya adalah foton.

Konsep foton telah membawa kemajuan berarti dalam fisika teoretis dan
eksperimental, seperti laser, kondensasi Bose-Einstein, teori medan
kuantum dan interpretasi probabilistik dari mekanika kuantum. Menurut model
standar fisika partikel, foton bertanggung jawab dalam memproduksi
semua medan listrik dan medan magnet dan foton sendiri merupakan hasil
persyaratan bahwa hukum-hukum fisika memiliki kesetangkupan pada tiap titik
pada ruang-waktu. Sifat-sifat intrinsik foton seperti muatan
listrik,massa dan spin ditentukan dari kesetangkupangauge ini.

Konsep foton diterapkan dalam banyak area seperti fotokimia,


mikroskopi resolusi tinggi dan pengukuran jarak molekuler. Baru-baru ini foton
dipelajari sebagai unsur komputer kuantum dan untuk aplikasi canggih dalam
komunikasi optik seperti kriptografi kuantum.

IV. RADIASI BENDA HITAM


a. Pengertian Radiasi
Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau
ruang dalam bentuk panas, partikel atau gelombang
elektromagnetik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa
sumber radiasi yang kita kenal di sekitar kehidupan kita,
contohnya adalah televisi, lampu penerangan, alat pemanas
makanan (microwave oven), komputer, dan lain-lain.
Selain benda-benda tersebut ada sumber-sumber radiasi yang
bersifat unsur alamiah dan berada di udara, di dalam air atau
berada di dalam lapisan bumi. Beberapa di antaranya adalah
Uranium dan Thorium di dalam lapisan bumi; Karbon dan Radon di
udara serta Tritium dan Deuterium yang ada di dalam air.

Perbedaan Radiasi dalam bentuk partikel dan radiasi dalam


bentuk gelombang elektromagnetik yaitu radiasi dalam bentuk
partikel adalah jenis radiasi yang mempunyai massa terukur.
Sebagai contoh adalah radiasi alpha dengan simbol:
2α4
angka 4 pada simbol radiasi menunjukkan jumlah massa dari
radiasi tersebut adalah 4 satuan massa atom (sma) dan angka 2
menunjukkan jumlah muatan radiasi tersebut adalah positif 2,
serta radiasi beta dengan simbol:
-1β0
menunjukkan bahwa jumlah massa dari jenis radiasi tersebut
adalah 0 dan jumlah muatannya adalah 1 negatif, sedangkan
radiasi neutron dengan simbol:
1η0
menunjukkan bahwa jumlah massa dari neutron adalah 1 sma dan
jumlah muatannya adalah 0. Radiasi dalam bentuk gelombang
elektromagnetik atau disebut juga dengan foton adalah jenis
radiasi yang tidak mempunyai massa dan muatan listrik. Misalnya
adalah gamma dan sinar-X, dan juga termasuk radiasi tampak
seperti sinar lampu, sinar matahari, gelombang microwave, radar
dan handphone.

b. Jenis-Jenis Radiasi
Dalam fisika, radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana
energi bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya
diserap oleh benda lain. Orang awam sering menghubungkan kata
radiasi ionisasi (misalnya, sebagaimana terjadi pada senjata nuklir,
reaktor nuklir, dan zat radioaktif), tetapi juga dapat merujuk
kepada radiasi elektromagnetik (yaitu, gelombang radio, cahaya
inframerah, cahaya tampak, sinar ultra violet, dan X-ray), radiasi
akustik, atau untuk proses lain yang lebih jelas. Apa yang membuat
radiasi adalah bahwa energi memancarkan (yaitu, bergerak ke luar
dalam garis lurus ke segala arah) dari suatu sumber. geometri ini
secara alami mengarah pada sistem pengukuran dan unit fisik yang
sama berlaku untuk semua jenis radiasi. Beberapa radiasi dapat
berbahaya.

a) Radiasi Ionisasi
Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat
menyebabkan proses ionisasi (terbentuknya ion positif dan ion
negatif) apabila berinteraksi dengan materi.
Beberapa jenis radiasi memiliki energi yang cukup untuk
mengionisasi partikel. Secara umum, hal ini melibatkan sebuah
elektron yang 'terlempar' dari cangkang atom elektron, yang akan
memberikan muatan (positif). Hal ini sering mengganggu dalam
sistem biologi, dan dapat menyebabkan mutasi dan kanker. Jenis
radiasi umumnya terjadi di limbah radioaktif peluruhan
radioaktif dan sampah.
Tiga jenis utama radiasi ditemukan oleh Ernest Rutherford,
Alfa, Beta, dan sinar gamma. radiasi tersebut ditemukan melalui
percobaan sederhana, Rutherford menggunakan sumber
radioaktif dan menemukan bahwa sinar menghasilkan memukul
tiga daerah yang berbeda. Salah satu dari mereka menjadi positif,
salah satu dari mereka bersikap netral, dan salah satu dari
mereka yang negatif. Dengan data ini, Rutherford menyimpulkan
radiasi yang terdiri dari tiga sinar. Beliau memberi nama yang
diambil dari tiga huruf pertama dari abjad Yunani yaitu alfa, beta,
dan gamma.
b) Radiasi non-ionisasi
Radiasi non-ionisasi, sebaliknya, mengacu pada jenis radiasi
yang tidak membawa energi yang cukup per foton untuk
mengionisasi atom atau molekul. Ini terutama mengacu pada
bentuk energi yang lebih rendah dari radiasi elektromagnetik
(yaitu, gelombang radio, gelombang mikro, radiasi terahertz,
cahaya inframerah, dan cahaya yang tampak). Dampak dari
bentuk radiasi pada jaringan hidup hanya baru-baru ini telah
dipelajari. Alih-alih membentuk ion berenergi ketika melewati
materi, radiasi elektromagnetik memiliki energi yang cukup
hanya untuk mengubah rotasi, getaran atau elektronik
konfigurasi valensi molekul dan atom. Namun demikian, efek
biologis yang berbeda diamati untuk berbagai jenis radiasi
non-ionisasi

c) Radiasi Neutron
Radiasi Neutron adalah jenis radiasi non-ion yang terdiri dari
neutron bebas. Neutron ini bisa mengeluarkan selama baik
spontan atau induksi fisi nuklir, proses fusi nuklir, atau dari
reaksi nuklir lainnya. Ia tidak mengionisasi atom dengan cara
yang sama bahwa partikel bermuatan seperti proton dan elektron
tidak (menarik elektron), karena neutron tidak memiliki muatan.
Namun, neutron mudah bereaksi dengan inti atom dari berbagai
elemen, membuat isotop yang tidak stabil dan karena itu
mendorong radioaktivitas dalam materi yang sebelumnya
non-radioaktif. Proses ini dikenal sebagai aktivasi neutron.
d) Radiasi elektromagnetik
Radiasi elektromagnetik mengambil bentuk gelombang yang
menyebar dalam udara kosong atau dalam materi. Radiasi EM
memiliki komponen medan listrik dan magnetik yang berosilasi
pada fase saling tegak lurus dan ke arah propagasi energi. Radiasi
elektromagnetik diklasifikasikan ke dalam jenis menurut
frekuensi gelombang, jenis ini termasuk (dalam rangka
peningkatan frekuensi): gelombang radio, gelombang mikro,
radiasi terahertz, radiasi inframerah, cahaya yang terlihat, radiasi
ultraviolet, sinar-X dan sinar gamma. Dari jumlah tersebut,
gelombang radio memiliki panjang gelombang terpanjang dan
sinar gamma memiliki terpendek. Sebuah jendela kecil frekuensi,
yang disebut spektrum yang dapat dilihat atau cahaya, yang
dilihat dengan mata berbagai organisme, dengan variasi batas
spektrum sempit ini. EM radiasi membawa energi dan
momentum, yang dapat disampaikan ketika berinteraksi dengan
materi.
e) Cahaya
Cahaya adalah radiasi elektromagnetik dari panjang
gelombang yang terlihat oleh mata manusia (sekitar 400-700 nm),
atau sampai 380-750 nm. Lebih luas lagi, fisikawan menganggap
cahaya sebagai radiasi elektromagnetik dari semua panjang
gelombang, baik yang terlihat maupun tidak.

f) Radiasi termal
Radiasi termal adalah proses dimana permukaan benda
memancarkan energi panas dalam bentuk gelombang
elektromagnetik. radiasi infra merah dari radiator rumah tangga
biasa atau pemanas listrik adalah contoh radiasi termal, seperti
panas dan cahaya yang dikeluarkan oleh sebuah bola lampu pijar
bercahaya. Radiasi termal dihasilkan ketika panas dari
pergerakan partikel bermuatan dalam atom diubah menjadi
radiasi elektromagnetik. Gelombang frekuensi yang dipancarkan
dari radiasi termal adalah distribusi probabilitas tergantung
hanya pada suhu, dan untuk benda hitam asli yang diberikan oleh
hukum radiasi Planck. hukum Wien memberikan frekuensi paling
mungkin dari radiasi yang dipancarkan, dan hukum
Stefan-Boltzmann memberikan intensitas panas.

c. Satuan Radiasi
Sama halnya dengan besaran fisis lainnya, seperti panjang
yang mempunyai satuan (ukuran) meter, inchi, feet; satuan berat
(kilogram, ton, pound); satuan volume (liter, meter kubik); maka
radiasi pun mempunyai satuan atau ukuran untuk menunjukkan
besarnya paparan atau pancaran radiasi dari suatu sumber radiasi
maupun banyaknya dosis radiasi yang diberikan atau diterima
oleh suatu medium yang terkena radiasi.
Mengapa radiasi nuklir mempunyai satuan tidak lain
karena radiasi nuklir, seperti halnya panas dan cahaya yang
dipancarkan dari matahari, membawa (mentransfer) energi yang
diteruskan ke bumi dan atmosfir. Jadi radiasi nuklir juga
membawa atau mentransfer energi dari sumber radiasi yang
diteruskan ke medium yang menerima radiasi. Sumber radiasi
dapat berasal dari zat radioaktif, pesawat sinar-X, dan lainnya.
Satuan radiasi ada beberapa macam. Satuan radiasi ini tergantung
pada kriteria penggunaannya, yaitu :
1. Satuan untuk paparan radiasi adalah Rontgen, dengan simbol
satuan R.
2. Satuan untuk dosis absorbsi medium adalah Radiation
Absorbed Dose, dengan simbol satuan Rad.
3. Satuan untuk dosis ekuivalen adalah Rontgen equivalen of man,
dengan simbol satuan Rem.
4. Satuan untuk aktivitas sumber radiasi adalah Bacquerel, dengan
simbol satuan Bq.
d. Radiasi Benda Hitam
Secara umum bentuk terperinci dari spektrum radiasi panas yang
dipancarkan oleh suatu benda panas bergantung pada komposisi
benda itu. Walaupun demikian, hasil eksperimen menunjukkan
bahwa ada satu kelas benda panas yang memancarkan pektra panas
dengan karakter universal. Benda ini adalah benda hitam atau black
body. Benda hitam didefinisikan sebagai sebuah benda yang
menyerap semua radiasi yang datang adanya. Dengan kata lain,
tidak ada radiasi yang dipantulkan keluar dari benda hitam. Jadi,
benda hitam mempunyai harga absorptansi dan emisivitas yang
besarnya sama dengan satu.
Seperti yang telah kalian ketahui, bahwa emisivitas (daya pancar)
merupakan karakteristik suatu materi, yang menunjukkan
perbandingan daya yang dipancarkan per satuan luas oleh suatu
permukaan terhadap daya yang dipancarkan benda hitam pada
temperatur yang sama. Sementara itu, absorptansi (daya serap)
merupakan perbandingan fluks pancaran atau fluks cahaya yang
diserap oleh suatu benda terhadap fluks yang tiba pada benda itu.
Benda hitam ideal digambarkan oleh suatu rongga hitam dengan
lubang kecil. Sekali suatu cahaya memasuki rongga itu melalui lubang
tersebut, berkas itu akan dipantulkan berkali-kali di dalam rongga
tanpa sempat keluar lagi dari lubang tadi. Setiap kali dipantulkan,
sinar akan diserap dinding-dinding berwarna hitam. Benda hitam
akan menyerap cahaya sekitarnya jika suhunya lebih rendah daripada
suhu sekitarnya dan akan memancarkan cahaya ke sekitarnya jika
suhunya lebih tinggi daripada suhu sekitarnya. Hal ini ditunjukkan
pada dibawah. Benda hitam yang dipanasi sampai suhu yang cukup
tinggi akan tampak membara.
Gambar no.3 & 4 ronggapadabendahitam

1. Hukum Stefan-Boltzmann
Radiasi benda hitam adalah radiasi elektromagnetik yang
dipancarkan oleh sebuah benda hitam. Radiasi ini menjangkau
seluruh daerah panjang gelombang. Distribusi energi pada daerah
panjang gelombang ini memiliki ciri khusus, yaitu suatu nilai
maksimum pada panjang gelombang tertentu. Letak nilai
maksimum tergantung pada temperatur, yang akan bergeser ke
arah panjang gelombang pendek seiring dengan meningkatnya
temperatur. Pada tahun 1879 seorang ahli fisika dari Austria, Josef
Stefan melakukan eksperimen untuk mengetahui karakter
universal dari radiasi benda hitam. Ia menemukan bahwa daya
total per satuan luas yang dipancarkan pada semua frekuensi oleh
suatu benda hitam panas (intensitas total) adalah sebanding
dengan pangkat empat dari suhu mutlaknya. Sehingga dapat
dirumuskan: dengan I menyatakan intensitas radiasi pada
permukaan benda hitam pada semua frekuensi, T adalah suhu
mutlak benda, dan σ adalah tetapan Stefan-Boltzman, yang bernilai
5,67 × 10-8 Wm-2K-4. Untuk kasus benda panas yang bukan benda
hitam, akan memenuhi hukum yang sama, hanya diberi tambahan
koefisien emisivitas yang lebih kecil daripada 1
sehingga: Intensitas merupakan daya per satuan luas, maka
persamaan diatas dapat ditulis sebagai:
Beberapa tahun kemudian, berdasarkan teori gelombang

elektromagnetik cahaya, Ludwig Boltzmann (1844 - 1906) secara


teoritis menurunkan hukum yang diungkapkan oleh Joseph Stefan
(1853 - 1893) dari gabungan termodinamika dan
persamaan-persamaan Maxwell. Oleh karena itu, persamaan
dikenal juga sebagai Hukum Stefan- Boltzmann, yang berbunyi:
“Jumlah energi yang dipancarkan per satuan permukaan sebuah
benda hitam dalam satuan waktu akan berbanding lurus dengan
pangkat empat temperatur termodinamikanya”.
2. Hukum pergeseran wien
Untuk sebuah benda hitam, berlaku suatu hubungan antara
panjang gelombang dengan suhu mutlak yang
dinyatakan: dengan merupakan panjang gelombang yang sesuai
dengan radiasi energi maksimum, T adalah temperatur
termodinamik benda, dan C adalah tetapan pergeseran Wien
(2,898 × 10-3 mK). Hubungan tersebut disebut Hukum pergeseran
Wien, yang dinyatakan oleh Wilhelm Wien (1864 - 1928). Gambar
disamping memperlihatkan grafik hubungan antara intensitas
radiasi dan panjang gelombang radiasi benda hitam ideal pada tiga
temperatur yang berbeda. Grafik ini dikenal sebagai grafik
distribusi spektrum. Intensitas merupakan daya yang dipancarkan
per satuan panjang gelombang. Ini merupakan fungsi panjang
gelombang I maupun temperatur T, dan disebut distribusi
spektrum. Dari grafik terlihat bahwa puncak kurva penyebaran
energi spektrum bergeser ke arah ujung spektrum panjang
gelombang pendek dengan semakin tingginya temperatur.
Fungsi distribusi spektrum P( λ ,T ) dapat dihitung dari
termodinamika klasik secara langsung, dan hasilnya dapat
dibandingkan dengan Gambar diatas. Hasil perhitungan klasik ini
dikenal sebagai Hukum Rayleigh- Jeans yang dinyatakan: P ( λ,T ) =
8 π kTλ-4 dengan k merupakan konstanta Boltzmann. Hasil ini
sesuai dengan hasil yang diperoleh secara percobaan untuk
panjang gelombang yang panjang, tetapi tidak sama pada panjang
gelombang pendek. Begitu λ mendekati nol, fungsi P ( λ , T ) yang
ditentukan secara percobaan juga mendekati nol, tetapi fungsi
yang dihitung mendekati tak terhingga karena sebanding dengan
λ−4 . Dengan demikian, yang tak terhingga yang terkonsentrasi
dalam panjang gelombang yang sangat pendek. Hasil ini dikenal
sebagai katastrof ultraviolet.

3. Teori plank tentang radiasi benda hitam


Teori Wien cocok dengan spektrum radiasi benda hitam untuk
panjang gelombang yang pendek, dan menyimpang untuk panjang
gelombang yang panjang. Teori Rayleigh-Jeans cocok dengan
spektrum radiasi benda hitam untuk panjang gelombang yang
panjang, dan menyimpang untuk panjang gelombang yang pendek.
Pada tahun 1900, Planck memulai pekerjaannya dengan
membuat suatu anggapan baru tentang sifat dasar dari getaran
molekul-molekul. Dalam dinding-dinding rongga benda hitam
(pada saat itu elektron belum ditemukan). Anggapan baru ini
sangat radikal dan bertentangan dengan fisika klasik, yaitu sebagai
berikut:
1) Radiasi yang dipancarkan oleh getaran molekul-molekul
tidaklah kontinu tetapi dalam paket-paket energi diskret,
yang disebut kuantum (sekarang disebut foton). Besar energi
yang berkaitan dengan tiap foton adalah E = hf, sehingga untuk
n buah foton maka energinya dinyatakan oleh En =
nhf Dengan n = 1, 2, 3, ... (bilangan asli), dan f adalah
frekuensi getaran molekul-molekul. Energi dari
molekul-molekul dikatakan terkuantisasi dan energi yang
diperkenankan disebut tingkat energi. Ini berarti bahwa
tingkat energi bisa hf, 2hf, 3hf, ... sedang h disebut tetapan
Planck, dengan h = 6,6 × 10-34 J s (dalam 2 angka penting)

2) Molekul-molekul memancarkan atau menyerap energi dalam


satuan diskret dari energi cahaya, disebut kuantum (sekarang
disebut foton). Molekul-molekul melakukan itu dengan
“melompat” dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya.
Jika bilangan kuantum n berubah dengan satu
satuan, persamaan (8.10) menunjukkan bahwa jumlah energi
yang dipancarkan atau diserap oleh molekul-molekul sama
dengan hf. Jadi, beda energi antara dua tingkat energi yang
berdekatan adalah hf. Molekul akan memancarkan atau
menyerap energi hanya ketika molekul mengubah tingkat
energinya. Jika molekul tetap tinggal dalam satu tingkat energi
tertentu, maka tidak ada energi yang diserap atau dipancarkan
molekul. Berdasarkan teori kuantum di atas, Planck dapat
menyatakan hukum radiasi Wien dan hukum radiasi
Rayleigh-Jeans, dan menyatakan hukum radiasi benda
hitamnya yang akan berlaku untuk semua panjang gelombang.
Hukum radiasi Planck tersebut adalah

u (λ, T) = dengan h = 6,6 × 10-34 J s adalah tetapan Planck, c =


3,0 × 108 m/s adalah cepat rambat cahaya, k = 1,38 × 10-23 J/K
adalah tetapan Boltzman, dan T adalah suhu mutlak benda
hitam.
KESIMPULAN

Peristiwa pelepasan elektron dari logam oleh radiasi disebut efek


fotolistrik, diamati pertama kali oleh Heinrich Hertz (1887). Elektron yang
terlepas dari logam disebut foto-elektron.

Hamburan Compton adalah suatu efek yang merupakan bagian interaksi


sebuah penyinaran terhadapsuatu materi. Efek Compton adalah salah satu dari
tiga proses yang melemahkan energi suatu sinar ionisasi. Bila suatu sinar jatuh
pada permukaan suatu materi sebagian daripada energinya akan diberikan
kepadamateri tersebut, sedangkan sinar itu sendiri akan di sebarkan.

Foton adalah partikel elementer dalam fenomena elektromagnetik.


Sebagai gelombang, satu foton tunggal tersebar di seluruh ruang dan
menunjukkan fenomena gelombang sepertipembiasan oleh lensa
dan interferensi destruktif ketika gelombang terpantulkan saling memusnahkan
satu sama lain.