Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI RINGAN SEDANG

Pembimbing : dr. Yunetti, Sp.A M. Biomed

Oleh :

Hatfina Izzati

NIDM 2636 1076 2012

KEPANITRAAN PEDIATRI RSIJ PONDOK KOPI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2016
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat yang sangat luas
kepada kita semua. Atas pertolongan dan kekuasaan-Nya yang begitu sempurna,
penulis dapat menyelesaikan tugas Kepanitraan Ilmu Kesehatan Anak ini. Shalawat
serta salam juga penulis haturkan ke junjungan besar Nabi Muhammad SAW yang
telah membawa umat manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh
cahaya bagi umat yang betaqwa kepada-Nya.

Penulis menyadari ketidaksempurnaan laporan kasus ini. Oleh karena itu,


penulis sangat mengharapkan saran, kritik, dan koreksi untuk perbaikan penyajian
laporan kasus ini. Semoga tugas ini dapat bermandaat bagi penulis dan teman-teman
sejawat.

Jakarta, Juli 2016

Penulis
LAPORAN KASUS

IDENTITAS

Nama : An. DSA

Tempat/ tgl lahir : Jakarta, 17 Maret 2015

Umur : 1 tahun, 3 bulan, 3 hari

Jenis kelamin : Laki-laki

Nama Ayah : Tn. Asep Saefudin

Pekerjaan Ayah : Karyawan Swasta

Nama Ibu : Ny.Rofingah

Pekerjaan Ibu : Karyawati

Alamat : Jl. Bojong Indah, RT 01/06, Kelurahan Duren Sawit,


Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Tanggal masuk RS : 20-06-2016, Pukul 11.00 WIB

No. RMK : 00-80-72-65

ANAMNESIS (ALLOANAMNESIS) 20 Juni 2016

 Keluhan Utama
Buang air besar cair sejak 3 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit.
 Riwayat Penyakit Sekarang
 3 hari yang lalu pasien demam, BAB cair dan muntah-muntah.
Demam bersifat naik turun, naik pada pagi hari saat pasien bangun
tidur, demam tidak disertai menggigil ataupun kejang. Pasien BAB
cair sebanyak > 6 kali per hari, berwarna kuning, berampas, terdapat
sedikit lendir, tidak berbusa dan tidak berdarah, berbau asam. Pasien
muntah > 10 kali per hari, muntah setiap kali pasien selesai menyusu,
muntah berisi cairan susu berwarna putih sebanyak ± ¼ gelas kecil air
mineral setiap kali muntah.
 Sejak tadi pagi setelah bangun tidur, pasien muntah-muntah dan BAB
cair. Muntah berisi cairan susu berwarna putih sebanyak ± ¼ gelas
kecil air mineral, pasien sudah muntah sebanyak 4 kali dari sejak tadi
pagi setelah bangun tidur sampai pada saat berobat, biasanya muntah
setelah beberapa menit selesai minum susu. Pagi ini pasien BAB cair
sudah 3x. Pasien juga mengalami demam, rewel, nafsu makan
menurun namun masih mau minum susu. Ibu pasien menyangkal
keluhan batuk, pilek dan sesak nafas.

 Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien pernah mengalami gejala yang sama seperti ini sebelumnya, namun
biasanya cukup dibawa berobat ke bidan dan kemudian sembuh.

 Riwayat Penyakit Keluarga


Di keluarga tidak ada yang mengalami gejala yang sama, riwayat kejang
tidak ada.

 Riwayat Pengobatan
4 hari yang lalu pasien sudah berobat ke bidan, diberi obat penurun panas dan
antibiotik, setelah minum obat keluhan sudah mulai membaik namun setelah
itu timbul lagi dan semakin parah.

 Riwayat Psikososial
Pasien memiliki kebiasaan memasukan jari ataupun mengecap jempolnya ke
mulut. Pasien makan bubur tim yang selalu dibeli diluar. Menurut pengakuan
ibu pasien, ibu pasien merebus botol susu dengan air hangat terlebih dahulu
sebelum digunakan dan sebelum memberikan ASI ibu pasien membersihkan
terlebih dahulu area puting payudara dengan air hangat. Air dirumah bening,
tidak berwarna dan berbau. Lingkungan rumah pasien bersih, jauh dari sungai
dan tempat pembuangan sampah.
 Riwayat Alergi
Tidak ada riwayat alergi obat, makanan, susu sapi, cuaca ataupun debu.

 Riwayat Imunisasi
Hepatitis B : 3x umur 0 bulan, 1 bulan, 6 bulan
BCG : 1x, umur 2 bulan Scar : 2 mm
DPT : 3x umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan
Polio : 4x umur 0 bulan, 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan
Campak : 1x umur 9 bulan

 Riwayat Makanan
Tidak mendapat ASI ekslusif, langsung mendapat susu formula karena ASI
tidak keluar. Setelah ASI keluar, tetap diberikan juga susu formula.
MP-ASI (susu formula) : saat lahir - sekarang
MP- ASI (Nasi Tim halus) : 8 – 12 bulan
MP-ASI (Nasi Tim kasar) : 13 – 15 bulan

 Riwayat Kehamilan dan Persalinan :


Ibu pasien rutin memeriksa kandungan ke bidan. Tidak ada riwayat gangguan
saat kehamilan, riwayat persalinan SC, BBL 4450 gram, PB 52 cm, cukup
bulan, menangis kuat, air ketuban jernih.

 Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan


 Motorik Kasar : normal
 Motorik Halus : normal
 Bicara : normal
 Personal social : normal
Kesimpulan : Tumbuh kembang anak sesuai usia.
F N
F N
F N
P N
P N
P N
P N
F N
P N
F N
P N F N
P N
P N
P N

F N
F N
F N
F N
P N
P N F N
P N F N
P N F N
P N F N
P N
P N
P N
P N
P N
PEMERIKSAAN FISIK

 Keadaan umum : Sakit sedang


 Kesadaran : Compos Mentis

 TANDA VITAL :
Suhu : 38,2 ◦c Frekuensi Pernapasan : 28x/menit
Nadi : 115x/menit Jenis Pernapasan : Abdominothorakal
Isi/tegangan : Cukup, teratur

 STATUS GIZI :
BB : 9,6 kg Lingkar Kepala : 46 cm
TB : 76 cm
Kesimpulan Status Gizi :
BB/U : 9,6/11,2 x 100% = 87 %
TB/U: 76/79 x 100% = 96 %
BB/TB : 9,6/10,4 x 100% = 92 %
Kesan : Gizi Baik
PEMERIKSAAN KHUSUS :
 Kulit : Turgor kulit kembali lambat, tidak sianosis, tidak ikterik, tidak ada
purpura, tidak ada eritema.
 Kepala :
 Bentuk kepala : Normocephal
 Rambut : Kecoklatan, tidak mudah rontok dan dicabut
 Ubun-ubun : Belum menutup sempurna, cekung (+).
 Mata : Mata cekung (+)/(+), konjungtiva anemis (+)/(+), sklera tidak ikterik,
pupil ishokor, refleks cahaya positif.
 Hidung : Tidak ada deviasi septum, tidak ada epistaksis, tidak ada sekret, tidak
ada pernafasan cuping hidung.
 Telinga : Normotia, nyeri tekan daun telinga telinga tidak ada.
 Mulut :
 Bibir : mukosa bibir kering, tidak sianosis
 Lidah : tremor tidak ada, lidah kotor tidak ada.
 Tonsil : tidak ada pembesaran tonsil
 Pharinx : tidak hiperemis
 Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar
 Thorax (Paru dan Jantung)
 Inspeksi : Dada simetris dextra-sinistra, bentuk dada normal
 Palpasi : Tidak ada bagian dinding thorax yang tertinggal, vocal fremitus
simetris.
 Perkusi :
 Paru : sonor dikedua lapang paru
 Jantung : pekak

 Auskultasi :
 Paru : Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
 Jantung : BJ I dan BJ II reguler
 Abdomen :
 Inspeksi : Perut datar
 Auskultasi : Bising usus meningkat
 Palpasi : nyeri tekan tidak ada, massa tidak ada, turgor kulit
kembali lambat
 Perkusi : Timpani
 Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 dtk.
Tungkai Lengan
Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif
Tonus + + + +
Trofi - - - -
Klonus - - - -
Refleks fisiologis + + + +
Refleks patologis - - - -
M.Sign - - - -
Sensibilitas + + + +
Kaku kuduk Brudzinki Brudzinki Kernig
I (-) II (-) sign (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal : 20 Juni 2016

Hematologi rutin Hasil Nilai normal Satuan

Hb 12,0 10,5 – 13,5 gr %

Leukosit 9,2 6,0 – 15 103/uL

Hematokrit 37 36,0 – 44,0 %

Trombosit 423 200 - 475 103/uL

Electrolit

Natrium 144 132-145 mmol/L


Kalium 4,81 3,50-5,50 mmol/L

Chloride 108 98-110 mmol/L

RESUME :

Anak laki-laki usia 1 tahun, 3 bulan, 3 hari, datang dengan keluhan BAB cair,
demam dan muntah sejak 3 hari yang lalu. Demam bersifat naik turun, naik pada
pagi hari saat pasien bangun tidur, demam tidak disertai menggigil ataupun kejang.
BAB cair sebanyak > 6 kali per hari, berwarna kuning, berampas, terdapat sedikit
lendir, tidak berbusa dan tidak berdarah, berbau asam. Muntah > 10 kali per hari,
muntah setiap kali pasien selesai menyusu, muntah berisi cairan susu berwarna putih
sebanyak ± ¼ gelas kecil air mineral setiap kali muntah. Sejak tadi pagi setelah
bangun tidur, pasien muntah-muntah, muntah berisi cairan susu berwarna putih
sebanyak ± ¼ gelas kecil air mineral, pasien sudah muntah sebanyak 4 kali dari sejak
tadi pagi setelah bangun tidur sampai saat masuk poli, pasien demam, rewel, nafsu
makan menurun namun masih mau minum. Ibu pasien menyangkal keluhan batuk,
pilek dan sesak nafas.

Pemeriksaan fisik didapatkan kondisi umum sakit sedang, kesadaran compos mentis,
suhu : 38,2 ◦c, frekuensi pernapasan : 28x/ menit, nadi : 115x/menit, mata cekung,
ubun-ubun cekung, konjungtiva dextra dan sinistra anemis, suara napas vesikuler,
ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada, suara jantung BJ I dan BJ II normal, reguler,
bising usus meningkat, turgor kulit kembali lambat, CRT < 2 detik, akral hangat.

DIAGNOSA KERJA : Diare Akut dengan Dehidrasi Ringan Sedang


PENATALAKSANAAN :

Kebutuhan cairan  BB 9,6 kg

1500𝑥20
- IVFD KaEn 3B 1500 ml/24 jam : = 21 tpm (makro)
24𝑥 60
1 Kolf = 500 ml
Total cairan yang dibutuhkan untuk dehidrasi ringan sedang (kekurangan
cairan 5%) yaitu 1500 ml (3 kolf), jadi 1 kolf diberikan setiap 8 jam.

Terapi IV : Cedantron drip 4 mg (Kalf I)

Daryazinc syr 1x1 cth

Probiokid sachet 1x1 sehari

Tempra drop 4x1 ml

Edukasi : edukasi orang tua pasien untuk terus memberikan banyak cairan, cukupi
kebutuhan kalori dengan memberi asupan makanan yang cukup, berikan makanan
yang halus (lembut), hindari makanan-makanan yang asam dan pedas.

PROGNOSIS :

 Quo Ad Vitam : dubia ad bonam


 Qua Ad Functionam : dubia ad bonam
 Qua Ad Sanationam : dubia ad bonam
Follow Up :

 20 Juni 2016, jam 16.30 WIB


S : Masih demam, BAB encer 8x, muntah sudah > 10x berisi makanan ± ¼
gelas air mineral, lemas, nafsu makan masih kurang,
O : suhu 37,80C, frekuensi pernapasan : 30x/menit, nadi : 106x/menit, mata
masih cekung, konjungtiva hiperemis, suara napas vesikuler, ronkhi tidak
ada, wheezing tidak ada, turgor kulit kembali lambat, CRT < 2 detik.
A : Diare Akut dengan Dehidrasi Sedang
P : IVFD KaEn 3B 1500 ml/24 jam
Terapi IV : Cedantron drip 4 mg (kolf I)
Daryazinc 1x1 cth
Probiokid 1x1 cth
Tempra drop 4x1 ml

 21 Juni 2016, jam 15.30 WIB


S : Demam tidak ada, muntah sudah tidak ada, BAB cair tidak ada, terakhir BAB
pagi hari berwarna kuning, lendir tidak ada namun terdapat sedikit ampas,
nafsu makan membaik,
O : suhu 36,4◦c , frekuensi pernapasan : 32x/menit, nadi : 108x/menit, ubun-
ubun datar, mata cekung (-)/(-), konjungtiva hiperemis (+)/(+), suara napas
vesikuler, ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada, turgor kulit normal, CRT ≤
2 detik.
A : Diare Akut dengan Dehidrasi Sedang sudah membaik
P : Daryazinc syr 1x1
ANALISIS MASALAH

 Pasien ini didiagnosis diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang karena :

Pasien ini didiagnosis diare akut dengan dehidrasi ringan sedang karena
pada kasus ini, pasien BAB cair sudah 3 hari (< 1 minggu) dengan frekuensi > 6x
per hari (> 3x per hari), berwarna kuning, berampas, terdapat sedikit lendir, tidak
berbusa dan tidak berdarah, berbau asam,

Menurut WHO, diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga
kali sehari. Dalam referensi lain juga disebutkan bahwa definisi diare untuk bayi
dan anak-anak adalah pengeluaran tinja > 10 g/kg/24 jam, sedangkan rata-rata
pengeluaran tinja normal pada bayi sebesar 5-10 g/kg/24 jam.
Selanjutnya, menurut teori diare dibagi menjadi diare akut dan diare
kronis. Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali
perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir
dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu. Kadang-kadang pada
seorang anak buang air besar kurang dari 3 kali perhari tetapi konsistensinya cair,
keadaan ini sudah dapat disebut diare. Diare kronik adalah diare yang
berlangsung lebih dari 2 minggu sedangkan kondisi serupa yang disertai berat
badan menurun atau sukar naik oleh Walker-Smith et al. didefinisikan sebagai
diare persisten.
Berikut penentuan derajat dehidrasi menurut WHO :

Penilaian Tanpa Dehidrasi Dehidrasi ringan Dehidrasi Berat


sedang
Keadaan Umum Baik, Sadar *Gelisah, Rewel *Lesu, Lunglai/
Tidak Sadar
Mata Normal Cekung Sangat Cekung
Air Mata Ada Berkurang Kering
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat Kering
Rasa Haus Minum biasa *Haus ingin *Malas minum/
tidak haus minum banyak tidak bisa minum
Periksa Turgor Kembali Cepat *Kembali lambat *Kembali sangat
Kulit lambat
Hasil Pemriksaan Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan Dehidrasi Berat
sedang Bila ada 1 tanda*
Bila ada 1 tanda* ditambah 1 atau
ditambah 1 atau lebih tanda lain.
lebih tanda lain
Terapi Rencana terapi A Rencana terapi B Rencana terapi C

 Faktor resiko :

Pada riwayat psikososial, pasien memiliki kebiasaan memasukan jari


ataupun mengecap jempolnya ke mulut. Pasien diberi makan bubur tim yang
selalu dibeli diluar. Serta pasien tidak mendapatkan ASI eksklusif dikarenakan
ASI tidak keluar sehingga pada saat lahir pasien langsung diberi susu formula.

Hal tersebut sesuai dengan teori dimana mekanisme penularan utama


untuk patogen diare adalah fecal-oral, melalui minuman dan makanan yang
tercemar oleh enteropatogen, kontak langsung tangan dengan penderita atau
barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui
lalat (melalui 4F = finger, flies, fluid, field). Faktor resiko yang dapat
meningkatkan penularan enteropatogen antara lain: tidak memberikan ASI secara
penuh untuk 4- 6 bulan pertama kehidupan bayi, tidak memadainya penyediaan
air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan (MCK),
kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan dan penyimpanan
makanan yang tidak higienis, gizi buruk, imunodefisiensi, menurunnya motilitas
usus, menderita campak dalam 4 minggu terakhir, faktor genetik, dan faktor
lainnya antara lain :
Faktor lainnya antara lain:
 Faktor umur
Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.
Insidensi tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-11 bulan pada saat
diberikan makanan pendamping ASI. Pola ini menggambarkan kombinasi
efek penurunan kadar antibodi ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi,
pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan kontak
langsung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai
merangkak.
 Infeksi asimtomatik
Meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif.
Orang dengan infeksi asimtomatik berperan penting dalam penyebaran
enteropatogen terutama bila mereka tidak menyadari adanya infeksi, tidak
menjaga kebersihan dan berpindah-pindah tempat.
 Faktor musiman
Di daerah subtropik, diare karena bakteri lebih sering terjasi pada musim
panas sedangkan diare karena virus terutama rotavirus puncaknya terjadi pada
musim dingin. Di daerah tropik (termasuk Indonesia), diare yang disebabkan
oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang
musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada
musim hujan.

 Etiologi :
Pada kasus ini pasien memiliki kebiasaan menghisap jari jempol dan diberi
makanan (bubur tim) yang selalu dibeli diluar, dimana kebersihannya tidak
diketahui dan mungkin tercemar dengan kotoran yang mengandung kuman
patogen.

Secara teori, diare dibagi menjadi diare infeksi dan non infeksi. Diare infeksi
dibagi lagi atas inflammatory dan non inflammatory. Enteropatogen
menimbulkan non inflammatory diare melalui produksi enterotokin oleh bakteri,
desktruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan
dan/atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya inflammatory diare biasanya
disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau
memproduksi sitotoksin. Sedangkan penyebab diare non infeksi antara lain
seperti defek anatomis, malabsorbsi, keracunan makanan, alergi susu sapi, dll.
Beberapa penyebab diare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia
adalah:12
Golongan bakteri
1. Aeromonas 8. Salmonella
2. Bacillus cereus 9. Shigella
3. Campylobacter jejuni 10. Staphylococcus aureus
4. Clostridium perfringens 11. Vibrio cholera
5. Clostridium defficile 12. Vibrio parahaemolyticus
6. Escherichia coli 13. Yersinia enterocolitica
7. plesiomonas shigeloides

Golongan virus
1. Astrovirus 5. Rotavirus
2. Calcivirus (Norovirus, Sapovirus) 6. Norwalk virus
3. Enteric adenovirus 7. Herpes simplex virus*
4. Coronavirus 8. Cytomegalovirus*

Golongan parasit
1. Balantidium coli 5. Giardia lamblia
2. Blastocystis homonis 6. Isopora belli
3. Cryptosporidium parvum 7. Strongyloides stercoralis
4. Entamoeba histolytica 8. Trichuris trichiura

Sumber : Nelson Textbook of Pediatric

*umumnya berhubungan dengan diare hanya pada penderita


immunocompromised

Di negara berkembang kuman patogen penyebab penting diare akut pada anak-
anak yaitu: Rotavirus, Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella,
Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium.
 Gejala Klinis
Pada kasus pasien mengeluhkan demam, BAB cair serta muntah-muntah
sejak 3 hari yang lalu, berwarna kuning, berampas, terdapat sedikit lendir, tidak
berbusa dan tidak berdarah, berbau asam,
Secara teori, infeksi pada usus menimbulkan tanda dan gejala
gastrointestinal. Gejala gastrointestinal bisa berupa diare, kram perut dan muntah.
Sedangkan manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya. Bila
terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat dehidrasi.
Panas badan umumnya terjadi pada penderita dengan inflammatory diare.
Mual dan muntah adalah simptom yang non spesifik tetapi muntah
mungkin disebabkan oleh karena organisme yang menginfeksi saluran cerna
bagian atas seperti: enterik virus, bakteri yang memproduksi enterotoksin,
Giardia, dan Cryptosporidium. Muntah juga sering terjadi pada non
inflammatory diare. Biasanya penderita tidak panas atau hanya subfebris, nyeri
perut periumbilikal tidak berat, watery diare, menunjukkan bahwa saluran cerna
bagian atas yang terkena.
Gejala khas diare akut oleh berbagai penyebab:

Gejala Rotavirus Shigella Salmonella ETEC EIEC Kolera


Masa 17-72 24-48 6-72 jam 6-72 6-72 jam 48-72
tunas jam jam jam jam
Panas + ++ ++ - ++ -

Mual Sering Jarang Sering + - Sering


muntah
Nyeri Tenesmu Tenesm Tenesmus - Tenesmu Kramp
perut s us kolik s kramp
kramp
Nyeri - + + - - -
kepala
Lamanya 5-7 hari >7 hari 3-7 hari 2-3 hari Variasi 3 hari
sakit
Sifat tinja
Volume Sedang Sedikit Sedikit Banyak Sedikit Banyak
Frekuensi 5- >10x/har Sering Sering Sering Terus
10x/hari i menerus
Konsisten Cair Lembek Lembek Cair Lembek Cair
si
Darah - ± Kadang - + -
Bau Langu Busuk + Tidak Amis
khas
Warna Kuning Merah Kehijauan Tak Merah- Seperti

hijau hijau berwar hijau air cucian


na beras
Leukosit - + + - - -
Lain- lain Anorexia Kejang Sepsis ± Meteori Infeksi ±
± smus sistemik
 Hasil Pemeriksaan Laboratorium :
Hasil laboratorium pada kasus untuk hematologi rutin dan elektrolit masih dalam
batas normal, tidak terdapat peningkatan kadar leukosit yang berarti tidak terjadi
suatu proses infeksi bakteri. Namun dibutuhkan pemeriksaan penunjang lainnya
seperti diff count (basofil, eosinophil, neutrofil, limfosit, monosit) dan
pemeriksaan feses untuk mengetahui lebih jelas dan pasti penyebab diare
tersebut.

Hematologi rutin Hasil Nilai normal Satuan

Hb 12,0 10,5 – 13,5 gr %

Leukosit 9,2 6,0 – 15 103/uL

Hematokrit 37 36,0 – 44,0 %

Trombosit 423 200 - 475 103/uL

Electrolit

Natrium 144 132-145 mmol/L

Kalium 4,81 3,50-5,50 mmol/L

Chloride 108 98-110 mmol/L

 Tatalaksana
Pada kasus ini, pasien menderita diare akut dengan dehidrasi ringan sedang
sehingga memerlukan tatalaksana terapi B yaitu:

Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan


pemberian oral sesuai dengan defisit yang terjadi namun jika gagal dapat
diberikan secara intravena. Pemberian oralit sebanyak 75 ml/kgBB/3jam.
Volume kekurangan cairan apabila berat badan tidak diketahui yaitu usia < 1
tahun sebesar 300 ml, 1-5 tahun 600 ml, > 5tahun adalah 1200 ml dan dewasa
adalah 2400 ml. bila oralit tidak dapat diberikan secara oral dapat diberikan
melalui nasogastrik dengan volume yang sama dengan kecepatan 20
ml/kgBB/jam. Beri tablet zink selama 10 hari dengan dosis yang sama seperti
pada rencana terapi A.
Meskipun belum terjadi dehidrasi berat tetapi bila anak sama sekali tidak bisa
minum oralit misalnya karena anak muntah, dapat diberikan infus dengan
intravena secepatnya. Berikan 70 ml/kgBB cairan RL atau Ringer Asetat (atau
jika tak tersedia, gunakan larutan NaCl) yang dibagi sebagai berikut :

 Bayi (dibawah 12 bulan) : 70 ml/kgBB/5 jam


 Anak (12 bulan sampai 5 tahun) : 70 ml/kgBB/2,5 jam.

Pada pasien ini tidak diberikan oralit tetapi diberikan infus intravena dikarenakan
pasien mengalami muntah-muntah. Tatalaksananya yaitu:

Usia = 15 bulan

BB = 9,6 kg

Jenis cairan ringer laktat, dengan perhitungan cairan untuk anak usia 12 bulan
sampai 5 tahun yaitu 70 ml/kgBB/2,5 jam :

Total cairan yang dibutuhkan yaitu 70 ml x 9,6 = 672 ml

- 500 ml (1 kolf) habiskan untuk 2 jam pertama :

500 𝑥 20
= 83 𝑡𝑝𝑚 (makro)
2 𝑥 60

- Sisanya yaitu 172 ml dihabiskan dalam 30 menit :


172 𝑥 20
= 114 𝑡𝑝𝑚 (makro)
30

Terapi IV : Cedantron drip 4 mg (Kalf I)

Daryazinc syr 1x1 cth

Probiokid sachet 1x1 sehari

Tempra drop 4x1 ml

Selanjutnya lakukan observasi pada anak:


 Periksa kembali anak setiap 1-2 jam.
 Juga beri oralit (kira-kira 5 ml/kg/jam) segera setelah anak mau minum.
 Periksa kembali anak sesudah 3 jam.
 Klasifikasikan kembali dehidrasi.
 Kemudian pilih rencana terapi yang sesuai (A, B, atau C) untuk melanjutkan
penanganan.

Atau dapat juga menggunakan perhitungan :

Dehidrasi dibagi tiga tingkat yaitu dehidrasi ringan, sedang dan berat.

 Dehidrasi ringan
Penurunan cairan tubuh kurang 5% BB. Gejala umum yang sering ditunjukkan
yaitu haus, bibir kering, dan lemas.

 Dehidrasi sedang
Penurunan cairan tubuh antara 5-10 % BB. Pada tingkat dehidrasi sedang
penderita terlihat haus, buang air kecil mulai berkurang. Mata terlihat agak
cekung, kekenyalan kulit menurun, dan bibir kering

 Dehidrasi berat
Penurunan cairan tubuh antara 10-15% BB. Gejalanya selain gejala klinis yang
terlihat pada dehidrasi ringan dan sedang, pada keadaan ini juga terlihat napas
yang cepat dan dalam, kekenayalan kulit sangat menurun, kondisi tubuh sangat
lemas, kesadaran menurun, nadi cepat.
Kebutuhan Cairan Berdasarkan Berat Bada Ideal

BB aktual = 9,6 kg

TB aktual = 76 cm

BB Ideal berdasarkan TB aktual = 11 kg

BB Ideal (Kg) Rumatan (ml) Rumatan + Defisit 5%


(ml)
5 500 750
10 1000 1500
15 1250 2000
20 1500 2500
25 1600 2850
30 1700 3200

Pada kasus ini, pasien diare dengan dehidrasi ringan sedang yang berarti terdapat
defisit cairan 5%, dan berdasarkan tabel kebutuhan cairan berdasarkan berat badan
(rumatan + defisit 5%) maka pasien dapat diberikan terapi cairan 1500 ml/24 jam:

1500𝑥20
- IVFD KaEn 3B 1500 ml/24 jam : = 21 tpm (makro)
24𝑥 60
1 Kolf = 500 ml ; 1500 ml/24 jam = 3 kolf/24 jam ; 1 kolf = 8 jam
Jadi 1 kolf dihabiskan dalam waktu 8 jam dengan kecepatan 21 tetes per
menit (makro).
- Terapi IV : Cedantron drip 4 mg (Kolf I)
- Daryazinc syr 1x1 cth
- Probiokid sachet 1x1 sehari
- Tempra drop 4x1 ml

Terapi yang diberikan pada pasien sesuai dengan teori berdasarkan kebutuhan cairan
berdasarkan berat badan ideal (rumatan+defisit 5%).
DAFTAR PUSTAKA

http://www.idmedis.com/2014/11/pengertian-dehidrasi-gejala-penyebab.html