Anda di halaman 1dari 13

JURNAL PRAKTIKUM

PRAKTIKUM FITOFARMAKA
TUGAS 1
Pembuatan Ekstrak Rimpang Kaempferia galanga
Dengan Maserasi (Kinetika)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK : 5

KELAS: C
RESTI DWI JULIAWATI (201610410311130)

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Rofida, M.Farm., Apt.
Amaliyah Dina A., M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang kaya akan rempah-rempah, di samping itu juga
kaya akan tanaman biofarmaka. Biofarmaka merupakan tanaman yang bermanfaat
sebagai obat-obatan, biasanya dikonsumsi dari bagian tanaman berupa daun, buah, umbi
(rimpang) atau pun akarnya. Obat herbal atau obat-obatan yang berasal dari tumbuhan di
Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, namun potensi ini masih kurang
dimaksimalkan karena penelitian ilmiah di bidang tumbuhan herbal masih terbatas. Saat
ini, orang mulai beralih untuk memakai tanaman herbal sebagai pengganti obat bahan
kimia dikarenakan selain harga yang lebih terjangkau, banyak yang meyakini efek
samping dari obat-obatan herbal lebih sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.

Salah satu tanaman biofarmaka yang banyak dimanfaatkan di Indonesia,


khususnya untuk bagian umbi atau rimpangnya adalah kencur (Kaempferia galanga L).
Rimpang kencur dimanfaatkan sebagai obat tradisional berbagai macam penyakit seperti
radang lambung, sakit kepala, batuk, dan diare. Kandungan kimia dari rimpang kencur
adalah pati, mineral, flavonoid, alkaloida, dan minyak atsiri. Minyak atsiri di dalam
rimpang kencur banyak digunakan dalam industri kosmetika dan dimanfaatkan sebagai
anti jamur ataupun anti bakteri. Minyak atsiri yang terdapat pada rimpang kencur
diantaranya adalah ethyl trans-p-methoxycinnamate, ethyl cinnamate, pentadecane, 1,8-
ciole, borneol dan terpenoid (Hardiman, 2015). Untuk dapat menarik kandungan kimia
yang terkandung dalam rimpang kencur tersebut, maka diperlukan adanya suatu ekstraksi.
Salah satu teknik ekstraksi yang banyak digunakan untuk ekstraksi kencur adalah
maserasi. Kelebihan dari proses maserasi adalah kerusakan bahan organik oleh pemanas
dapat diminimalkan. Sedangkan kekurangannya yaitu waktu dan tenaga yang lama untuk
mendapatkan hasil ekstraksi yang maksimal.

Maka dari itu, melalui praktikum ini akan dilakukan ekstraksi


rimpang Kaempferia galanga L. dengan menggunakan metode maserasi untuk
mendapatkan ekstrak kering Kaempferia galanga L.

1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan ekstarksi rimpang Kaemferia galangal Ldengan
menggunakan metode maserasi.
1.3 Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana proses pembuatan ekstrak yang baik dan
benar
2. Mahasiswa dapat melakukan ekstraksi rimpang Kaemferia galangal Ldengan
menggunakan berbagai jenis metode maserasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kencur (Kaemferia galanga L.)


2.1.1 Sistematika dan Klasifikasi Tanaman Kencur
Kerajaan :Plantae
Divisi :Magnoliophyta
Kelas :Liliopsida
Ordo :Zingiberales
Famili :Zingiberaceae
Upafamili :Zingiberoideae
Genus :Kaempferia
Spesies :K. galangal
Nama binomial Kaempferia galanga L (Linn.)(Anonim,2014).

Kencur digolongkan sebagai tanaman jenis empon-empon yang mempunyai


daging buah yang lunak dan tidak berserat. Rimpang kencur mempunyai aroma yang
spesifik. Kencur tumbuh dan berkembang pada musim tertentu, yaitu pada musim
penghujan kencur dapat ditanam dalam pot atau dikebun yang cukup sinar matahari,
tidak terlalu basah dan di tempat terbuka (Thomas, 1989).
2.1.2 Nama Lain Tanaman Kencur
Istilah kencur yang sekarang popular sebenarnya merupakan nama daerah dari suku
Jawa. Nama daerah lainnya yaitu ceuko (Aceh), tekur (Gayo), kopuk (Mentawai), cokur
(Lampung), cikur (Sunda), kencur (Madura), cekuh (Bali), cekur (Sasak-Limbok), cekir
(sumba), cakuru (Makasar), ceku (Bugis), suha (Seram), asauli, sahulu (Ambon), onegai
(Buru), bataka (Ternate dan Tidore). Dalam bahasa Inggrisnya adalah galangal dan
kamepferia. Sementara nama asing di kawasan Asia Tenggara diantaranya dikenal dengan
dusol (Tagalong,Filipina), cengkur (Malaysia), van hom (Laos), hom proh (Thailand)
Tengah), sown nai (Vietnam). (Afriastini,2004)

2.1.3 Morfologi Tanaman


Kencur termasuk ke dalam suku Zingiberaceae dan digolongkan sebagai
tanaman jenis empon-empon yang mempunyai daging buah paling lunak dan tidak
berserat. Kencur merupakan terna kecil yang tumbuh subuh di daerah dataran rendah
atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Kencur tumbuh
dan berkembang pada musim penghujan dan dapat ditanam dalam pot atau kebun
yang cukup sinar matahari (Hardiman, 2015).
Kencur termasuk dalam susunan terna kecil yang siklus hidupnya semusim
atau beberapa musim. Susunan tubuh tanaman kencur terdiri atas
a. Akar dan Rimpang
 Merupakan akar tunggal yang bercabang halus dan menempel pada umbi akar
yang disebut “rimpang”.
 Rimpang kencur sebagian lagi terletak diatas tanah. Bentuk rimpang umumnya
bulat, bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya coklat-kekuningan dan
berbau harum.
b. Batang dan Daun
 Tanaman kencur memiliki batang semu yang sangat pendek, terbentuk dari
pelepah-pelepah daun yang saling menutupi.
 Daun-daun kencur tumbuh tunggal, melebar dan mendatar hampir rata dengan
pemukaan tanah. Jumlah daun bervariasi antara 8-10 helai dan tumbuh secara
berlawanan satu sama lain. Bentuk daun elip melebar sampai bundar, ukuran
panjang daun 7-12 cm dan lebarnya 3-6 cm, serta berdaging agak tebal.
c. Bunga dan Buah
 Bunga kencur keluar dalam bentuk buliran setengah duduk dari ujung
tanaman di sela-sela daun. Warna bunganya putih, ungu hingga lembayung,
dan tiap tangkai bunga berjumlah 4-12 kuntum bunga.
 Buah kencur termasuk buah kotak beruang 3 dengan bakal buah yang
letaknya tenggelam, tetapi sulit sekali menghasilkan biji (Rukmana, 1994).

2.1.4 Kegunaan Rimpang Kencur

Di Asia Tenggara, rhizom cekur dicampurkan dengan lada sulah, kayu manis
dan madu untuk mengubati selsema. Ia dijadikan tonik untuk mengubati batuk kering
dan bronchitis. Cekur juga dijadikan losyen untuk merawat sakit mata, sakit tekak,
bengkak, demam, sakit dan sengal tulang. Untuk wanita baru bersalin, cekur
mengucupkan rahim dan menggalakkan pembuangan angin. Di Indonesia, akar cekur
digunakan untuk merawat keracunan makanan, ulser mulut, batuk dan selsema. Akar
cekur yang dikunyah dan ditelan boleh membuat seseorang itu khayal. Di India,
wangian daripada cekur digunakan untuk melindungi pakaian daripada serangga. Di
Filipina, air rebusan akar cekur digunakan untuk merawat sakit perut disebabkan
pencernaan makanan yang kurang baik. Air rebusan turut digunakan untuk membasuh
rambut bagi mengatasi masalah kelemumur dan menghilangkan rasa gatal dan pedih
akibat digigit ulat bulu. Di Thailand, cekur digunakan untuk merawat sakit kepala
(Inspirasi Flora, 2018).

2.1.5 Kandungan Kimia Kaempferia galanga


Rimpang kencur mengandung saponin, flavonoida dan senyawa-senyawa
polifenol (Rahayu, 2014). Minyak atsiri di dalam rimpang kencur banyak digunakan
dalam industri kosmetika dan dimanfaatkan sebagai anti jamur ataupun anti
bakteri. Rimpang kencur mengandung pati (4,14%), mineral (13,73%) dan 54
komponen minyak atsiri diantaranya yang terdapat dalam jumlah besar adalah ethyl-
trans-p-methoxycinnamate (51,6%), ethyl cinnamate (16,5%), pentadecane (9,0%),
1,8-cineole (5,7%), δ-3-carene (3,3%), boneol (2,7%) dan terpenoid (16,4%)
(Hardiman, 2015).

2.2 Tinjauan Tentang Etil p-metoksisinamat


Etil p-metoksisinamat (EPMS) atau C12H14O3 adalah salah satu senyawa hasil
isolasi rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) yang termasuk senyawa turunan asam
sinamat yang dengan demikian jalur biosintesis asam sikhimat. Senyawa EPMS
termasuk ke dalam senyawa ester yang mengandung cincin benzen dan gugus metoksi
yang bersifat non polar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifa sedikit
polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang
mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, metanol, air dan n-heksan (Barus,
2009).
Etil p-metoksisinamat merupakan bahan dasar senyawa tabir surya yaitu
pelindung kulit dari sengatan sinar matahari. EPMS merupakan senyawa aktif yang
ditambahkan pada lotion kulit ataupun bedak setelah mengalami sedikit modifikasi
yaitu perpanjangan rantai dimana etil dari ester ini digantikan oleh oktil, etil heksil atau
heptil melalui transesterifikasi maupun esterifikasi bertahap. EPMS bila terhidrolisa
akan melepaskan etanol yang bersifat karsinogenik terhadap kulit sedangkan hasil
modifikasinya akan melepaskan alkohol dengan rantai lebih panjang yang tidak
berbahaya (Caesaria, 2009).

2.3 Tinjauan Tentang Ekstraksi


2.3.1 Pengertian
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai,
kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang
tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah ditentukan.
Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara
perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara destilasi dengan menggunakan
tekanan (Ditjen POM, 1995).
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga
terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat
dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri,
alkaloid, flavonoid, dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung
simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen
POM, 2000).
2.3.2 Metode Ekstraksi
Ekstraksi dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pembagian metode ekstraksi
menurut Ditjen POM (2000) yaitu :
1. Cara dingin
a. Maserasi
Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut
dengan perendaman dan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada
temperatur ruangan (kamar). Cairan penyari akan menembus dinding sel dan
masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif yang akan larut, karena
adanya perbedaan kosentrasi larutan zat aktif didalam sel dan diluar sel maka
larutan terpekat didesak keluar. Proses ini berulang sehingga terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan didalam dan diluar sel. Cairan penyari
yang digunakan dapat berupa air, etanol, metanol, etanol-air atau pelarut
lainnya. Remaserasi berarti dilakukan penambahan pelarut setelah dilakukan
penyaringan maserat pertama, dan seterusnya. Remaserasi berarti dilakukan
penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan
seterusnya.
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan
peralatan yang digunakan sederhana yang mudah diusahakan.
b. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan
cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Proses perkolasi
terdiri dari tahapan pengembang bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi
sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus menerus sampai diperoleh
ekstrak (perkolat).
2. Cara panas
a. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur tititk didihnya,
selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan
adanya pendingin balik.
b. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang pada
umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dan
jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
c. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada
temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum
dilakukan pada temperatur 40-500 C.
d. Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai
titik didih air, yakni 30 menit pada suhu 90-1000 C.
2.4 Tinjauan Pelarut
Pada proses ekstraksi, pelarut atau campuran pelarut disebut menstruum atau
endapan atau ampas yang tidak mengandung zat aktif lagi, diistilahkan sebagai
marc(Ansel, 1989). Pelarut organik berdasarkan konstanta dielektrikum dapat dibedakan
menjadi dua yaitu pelarut polar dan pelarut non-polar. Konstanta dielektrikum dinyatakan
sebagai gaya tolak menolak antara dua pertikel yang bermuatan listrik dalam suatu
molekul. Semakin tinggi konstanta dielektrikumnya maka pelarut bersifat semakin polar
(Sudarmadji et al, 1989). Konstanta dielektrikum dari beberapa pelarutdapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Konstanta dielektrikum pelarut organik
Pelarut Besarnya konstanta

N-heksan 2,0

Etil asetat 6,0

Kloroform 4,8

Asam asetat 6,2

Benzen 2,3

Etanol 24,3
Metanol 33,1
Air 80,4

Sumber : Sudarmadji et al. (1989)


Tahapan yang harus diperhatikan dalam mengekstraksi jaringan tumbuhan
adalah penyiapan bahan sebelum ekstraksi, pemilihan pelarut dan kondisi proses
ektraksi, proses pengambilan pelarut pengawasan mutu, dan pengujian yang dikenal
pula sebagai tahapan penyelesaian. Penggunaan pelarut bertitik didih tinggi
menyebabkan adanya kemungkinan kerusakan komponen-komponen senyawa
penyusun pada saat pemanasan. Pelarut yang digunakan harus bersifat inert terhadap
bahan baku, mudah didapat, dan harganya murah (Sabel dan Waren 1973).
Dalam pemilihan pelarut harus memenuhi beberapa kriteria, antara lain murah
dan mudah diperoleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral tidak mudah
menguap, dan tidak mudah terbakar, selektif. Selektif yaitu hanya menarik zat
berkhasiat yang dikehendaki, tidak mempengaruhi zat berkhasiat, dan diperbolehkan
oleh peraturan (Ketaren 1986).
Pelarut yang diplih pada penelitian ini adalah etanol. Etanol disebut juga etil
alkohol atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar,
tak berwarna dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia
C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Senyawa ini merupakan isomer konstitusional dari
dimetil eter. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan singkatan
dari gugus etil (C2H5) (Lei dkk., 2002).
Etanol memiliki massa jenis 0.7893 g/mL. Titik didih etanol pada tekanan
atmosfer adalah 78.32 °C. Indeks bias dan viskositas pada temperatur 20°C adalah
1.36143 dan 1.17 cP (Kirk and Othmer, 1965).
Sifat-sifat fisika etanol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan gugus hidroksil
dan pendeknya rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat berpartisipasi ke dalam
ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih sulit menguap daripada senyawa
organik lainnya dengan massa molekul yang sama (Lei dkk, 2002). Etanol termasuk
dalam alkohol primer, yang berarti bahwa karbon yang berikatan dengan gugus
hidroksil paling tidak memiliki dua hidrogen atom yang terikat dengannya juga. Reaksi
kimia yang dijalankan oleh etanol kebanyakan berkutat pada gugus hidroksilnya (Lei
dkk., 2002).
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Metode Maserasi


3.1.1 Bagan Alir

Ditimbang 400 g serbuk rimpang kencur, dimasukan dalam bejana maserasi

Ditambahkan 1000 ml etanol 96% aduk hingga seluruh serbuk


terbasahi

Hasil no.2 ditambahkan 600 ml etanol 96%, dan di diaduk sampai


homogen, tutup bagian mulut bejana dengan alumunium, lakukan
pengadukan pada kecepatan tertentu (semua serbuk simplisia teraduk)
selama 2 jam (catat kecepatan yang digunakan)

Hasil maserasi di saring, tampung filtrat, dan dilakukan kembali maserasi dengan 1200 ml
etanol 96% pada residu selama 2 jam pada kecepatan yang sama (perlakuan no 3)

Disaring hasil maserasi no. 3, tampung filtrat, dan dialkukan kembali maserasi dengan 1200
ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada kecepatan yang sama (perlakuan no 3)

Disaring kembali maserasi no. 4. Kumpulkan semua filtrat menjadi


satu

Kaliberasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume 400
ml

Filtrat dipekatkan dengan rotavapor hingga volume tersisa 400 ml (tanda kaliberasi).
Kemudian hasilnya dipindahkan kedalam loyang dan diratakan

Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak 20 g dengan ditaburkan sedikit demi


sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering)

Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol selai)

Berikan label identitas pada


wadah
3.1.2 Skema Kerja

Ditimbang 400 g serbuk rimpang kencur, Ditambahkan 1000 ml etanol 96%


dimasukan dalam bejana maserasi aduk sampai serbuk terbasahi

Hasil maserasi
di saring,
Residu ditambahkan 600 ml etanol 96%, dan dan di diaduk tampung filtrat
sampai homogen, tutup bagian mulut bejana dengan
alumunium, lakukan pengadukan pada kecepatan tertentu
(semua serbuk simplisia teraduk) selama 2 jam

Hasil maserasi
di saring,
dilakukan kembali maserasi kinetika dengan 1200 ml
tampung filtrat
etanol 96% selama 2 jam pada kecepatan yang sama

Hasil maserasi
di saring,
tampung filtrat
dilakukan kembali maserasi kinetika dengan 1200 ml
etanol 96% selama 2 jam pada kecepatan yang sama

Filtrat dipekatkan dengan


Kaliberasi labu pada
rotavapor hingga volume tersisa
rotavapor (berisi
ekstrak), berikan tanda 400 ml (tanda kaliberasi).
pada volume 400 ml Kemudian hasilnya dipindahkan
kedalam loyang dan diratakan

Homogenkan dan
simpan pada
Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari wadah tertutup
ekstrak 20 g dengan ditaburkan sedikit demi (botol selai).
sedikit secara merata. Kemudian diamkan
selama semalam (sampai kering)
Berikan label identitas pada wadah
3.1.3 Prosedur Kerja
1 Ditimbang 400 g serbuk rimpang kencur, dimasukan dalam bejana maserasi
2 Ditambahkan 1000 ml etanol 96% aduk sampai serbuk terbasahi
3 Hasil no.2 ditambahkan 600 ml etanol 96%, dan di diaduk sampai homogen, tutup
bagian mulut bejana dengan alumunium, lakukan pengadukan pada kecepatan
tertentu (semua serbuk simplisia teraduk) selama 2 jam (catat kecepatan yang
digunakan)
4 Hasil maserasi pada no. 2 di saring. Tampung filtrat dan lakukan kembali maserasi
kinetika dengan 1200 ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada kecepatan yang
sama (perlakuan no.3)
5 Disaring hasil maserasi pada no. 3 di saring. Tampung filtrat dan lakukan kembali
maserasi kinetika dengan 1200 ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada
kecepatan yang sama (perlakuan no.3)
6 Disaring kembali maserasi no. 4. Kumpulkan semua filtrat menjadi satu
7 Kaliberasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume 400 ml
8 Filtrat yang terkumpul dilakukan pemekatan dengan rotavapor yaitu penguapan
dengan penururnan tekanan hingga volume tersisa 400 ml (tanda kaliberasi) dan
pindahkan hasilnya kedalam loyang. Ratakan ekstrak pada loyang
9 Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak 20 g dengan ditaburkan sedikit
demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering)
10 Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol selai)
11 Berikan label identitas pada wadah.
DAFTAR PUSTAKA
Afriastini, J. 2004. Bertanam Kencur. Penebar Swadaya. Jakarta
Anonim, 2014, Kencur. http://id.wikipedia.org/wiki/Kencur. Diakses pada 20 september 2019
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke-4. Jakarta: UI-Press.
Barus R, 2009, Amidasi p-metoksisinamat yang Diisolasi dari Kencur (Kamferia galanga, L)
[Thesis], Sumatera Utara, Program Pascasarjana USU.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan R.I.
Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Inspirasi Flora. (2019, September 18). Retrieved from Rimpang Kencur:
https://sites.google.com/site/dangaulubai/inspirasi-flora/rimpang-kencur

Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Cetakan Pertama.
Jakarta: UI-Press.
Kirk, R.E & Othmer, D.F., 1965. Encyclopedia of Chemical Technology. Vol 10, 1st,
Interscience Encyclopedia, Inc., New York.
Lei, Z., Wang H., Zhou R., Duan Z. 2002. Influence of salt added to solvent on extractive
distillation. Chem Eng J. 87: 149-56.
Rukmana, R. 1994. Kencur. Kanikus : Yogyakarta.
Sabel W, & waren JDF. 1973. Theory and Practices of Oleoresin Extraction on Proceding at
The Conference on Spesies.London.: Tropical Product Institut.
Sudarmadji, S; B. Haryono dan Suhardi. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian.
Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Thomas, A. N. S., 1989, Tanaman Obat Tradisional, Kanisius, Yogyakarta