Anda di halaman 1dari 226

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH INTERVENSI KEPERAWATAN KOMUNITAS


KONTROL TB TERHADAP ANGKA KEBERHASILAN
PENGOBATAN TUBERKULOSIS DI KEL. CURUG
KEC. CIMANGGIS KOTA DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR

NI LUH PUTU EVA YANTI


1006748740

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM STUDI SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS
DEPOK
JUNI, 2014

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH INTERVENSI KEPERAWATAN KOMUNITAS


KONTROL TB TERHADAP ANGKA KEBERHASILAN
PENGOBATAN TUBERKULOSIS DI KEL. CURUG
KEC. CIMANGGIS KOTA DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Ners Spesialis Keperawatan Komunitas

NI LUH PUTU EVA YANTI


1006748740

Pembimbing I : Dra. Junaiti Sahar, SKp., M.App.Sc.,Ph.D

Pembimbing II : Widyatuti, SKp., M.Kep.,Sp.Kom

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM STUDI SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS
DEPOK
JUNI, 2014

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir (KIA) dengan judul
“Pengaruh Intervensi Keperawatan Komunitas ‘Kontrol’ TB terhadap Angka
Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis di Kel. Curug Kec. Cimanggis kota
Depok”. Penulisan KIA ini untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Spesialis Keperawatan Komunitas pada Program Studi Magister Ilmu
Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Saya
menyampaikan terima kasih kepada kedua pembimbing:
1. Dra. Junaiti Sahar, SKp., M.App.Sc., Ph.D sebagai supervisor utama dan
Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
2. Widyatuti, SKp., M.Kep.,Sp. Kep. Kom sebagai supervisor
Keduanya telah mencurahkan waktu dalam memberikan perhatian, ide,
bimbingan, dan motivasi selama penyusunan KIA ini. Bimbingan beliau berdua
membuat saya dapat menyelesaikan KIA ini dengan baik.

Berkat dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak tesis ini dapat terselesaikan.
Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada:
1. Henny Permatasari, S.Kp, M.Kep, Sp.Kep. Kom sebagai Ketua Program
Magister Ilmu Keperawatan dan Spesialis Keperawatan FIK UI
2. Kepala Dinas Kesehatan kota Depok yang telah memberikan kesempatan dan
pemberian praktik residen spesialis keperawatan komunitas
3. Orang tua, Bapak dan Ibu mertua, suami dan anak tercinta yang selalu
mendukung, memberi semangat dan mendoakan agar proses penyusunan KIA
ini berjalan lancar
4. Seluruh kader kesehatan KKP-TB di kelurahan Curug yang telah membantu
dalam pelaksanaan praktik residensi
5. Seluruh dosen dan civitas akademik Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia

iv

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
6. Teman-teman seangkatan khususnya spesialis keperawatan komunitas tahun
2013 yang senantiasa menemani dalam suka duka selama praktik residen
7. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian KIA ini

Saya menyadari KIA ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya sangat
mengharapkan masukan dan saran yang membangun untuk kesempurnaan KIA
ini. Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkah-Nya atas
segala kebaikan yang telah diberikan.

Depok, Juni 2014

Penulis

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
ABSTRAK

Nama : Ni Luh Putu Eva Yanti


Program Studi : Spesialis Keperawatan Komunitas, Fakultas Ilmu
Keperawatan, Universitas Indonesia
Judul : Pengaruh Intervensi Keperawatan Komunitas Kontrol TB
terhadap Angka Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis di
Kel. Curug, Kec. Cimanggis, kota Depok

Kontrol TB merupakan intervensi keperawatan keluarga yang bertujuan untuk


meningkatkan kesembuhan tuberculosis. Intervensi ini dilakukan melalui
kelompok pendukung KKP-TB. Tujuan dari penulisan ini untuk melihat
pengaruh pelaksanaan Kontrol TB melalui integrasi CAP, FCN dan manajemen
pada kelompok dewasa tuberculosis di kelurahan Curug. Hasil intervensi
menunjukkan peningkatan angka penemuan kasus dan angka kesembuhan
pasien TB. Peningkatan pengetahuan anggota KKP-TB melaksanakan Kontrol
TB 11,2% dan sikap 5,6%. Keterampilan KKP-TB melakukan edukasi dengan
rerata 23,5 dan keterampilan deteksi kasus serta rujukan dengan rerata 15,4.
Intervensi Kontrol TB dapat diterapkan di puskesmas melalui upaya penguatan
promosi kesehatan pada program TB.

Kata kunci:
Kontrol TB, intervensi keperawatan keluarga, dewasa, tuberkulosis

viii

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
ABSTRACT

Nama : Ni Luh Putu Eva Yanti


Program Studi : Spesialis Keperawatan Komunitas, Fakultas Ilmu
Keperawatan, Universitas Indonesia
Judul : The Effect of Community Nursing Intervenstion Kontrol TB
on the Success Rate of Tuberculosis Treatment Curug
Village, Cimanggis, Depok

Kontrol TB is a family nursing intervention that aims to improve the tuberculosis


recovery. This intervention was done by a support groups named KKP-TB. The purpose
of this paper was to look at the effect of the implementation of the Kontrol TB through
the integration of the CAP, FCN and management of tuberculosis in the adult population
in Curug Village. The results of the intervention showed an increase in case detection rate
and cure rate of TB patients. The increase of the knowledge of KKP-TB members to
implement Kontrol TB was 11.2% and the attitude was 5.6%. The skills of KKP-TB to
provide educatation was at the mean= 23.5 and a case detection and referral skills were at
the mean of=15.4. Kontrol TB interventions can be applied in health centers through
health promotion efforts to strengthen tuberculosis eradication programs.

Key words: Adult, family nursing intervention, Kontrol TB, tuberculosis

ix

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .............................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... iii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iv
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ...................... vi
FORMULIR PERSETUJUAN PUBLIKASI NASKAH RINGKAS ................ vii
ABSTRAK ......................................................................................................... viii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... x
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan .................................................................................... 8
1.3 Manfaat Penulisan .................................................................................. 8

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Aggregate Usia Dewasa Tuberkulosis Sebagai Populasi Rentan .......... 10
2.2 Tuberkulosis pada Usia Dewasa ............................................................ 13
2.3 Manajemen Pelayanan Kesehatan Komunitas ....................................... 19
2.4 Asuhan Keperawatan Komunitas ........................................................... 22

BAB 3 KERANGKA KONSEP PRAKTIK KEPERAWATAN KOMUNITAS


3.1 Kerangka Konsep Praktik Keperawatan Komunitas .............................. 30
3.2 Profil Wilayah Curug ............................................................................. 33

BAB 4 MANAJEMEN PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN


KOMUNITAS
4.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas ................................... 35
4.2 Asuhan Keperawatan Komunitas ........................................................... 59
4.3 Asuhan Keperawatan Keluarga .............................................................. 70

BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Analisis Pencapaian dan Kesenjangan ................................................... 93
5.2 Keterbatasan ........................................................................................... 106
5.3 Implikasi Keperawatan .......................................................................... 107

BAB 6 PENUTUP
6.1 Kesimpulan ............................................................................................ 110
6.2 Saran ...................................................................................................... 110

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Distribusi Pengetahuan Anggota KKP-TB Sebelum dan Sesudah


Intervensi “Kontrol” TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota
Depok ............................................................................................... 51
Tabel 4.2 Distribusi Sikap Anggota KKP-TB Sebelum dan Sesudah
Intervensi “Kontrol” TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota
Depok tahun 2014 ............................................................................. 53
Tabel 4.3 Distribusi Keterampilan Anggota KKP-TB Melakukan
Penyuluhan dan Deteksi Rujukan Kasus “Kontrol” TB di
Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun 2014 ..................... 54
Tabel 4.4 Distribusi Pengetahuan Klien TB Sebelum dan Sesudah
Pemberian Edukasi TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota
Depok tahun 2014 ............................................................................. 86
Tabel 4.5 Distribusi Tingkat Pengetahuan Klien TB Sesudah Pemberian
Edukasi dengan Keberhasilan Pengobatan TB di Kelurahan Curug,
Cimanggis kota Depok tahun 2014 ................................................... 87
Tabel 4.6 Distribusi Pemantauan Pengobatan dengan Keberhasilan
Pengobatan TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun
2014................................................................................................... 88
Tabel 4.7 Distribusi Berat Badan Klien TB Sebelum dan Sesudah
Manajemen Nutrisi di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok
tahun 2014 ......................................................................................... 88
Tabel 4.8 Distribusi Manajemen Nutrisi dengan Keberhasilan Pengobatan
TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun 2014 ........... 89
Tabel 4.9 Distribusi Respiration Rate (RR) Sebelum dan Sesudah Senam
Pernafasan di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun
2014................................................................................................... 90
Tabel 4.10 Distribusi Kategori RR dengan Keberhasilan Pengobatan TB di
Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun 2014 ..................... 91

xi

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Tabel 4.11 Distribusi Status BTA Sebelum dan Sesudah Intervensi
Keperawatan“Kontrol” TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota
Depok tahun 2014 ............................................................................. 91
Tabel 4.12 Distribusi Tingkat Kemandirian Keluarga Sebelum dan Sesudah
Intervensi Keperawatan“Kontrol” TB di Kelurahan Curug,
Cimanggis kota Depok tahun 2014 ................................................... 92

xii

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Community as Partner ........................................................... 44


Gambar 3.1 Skema Kerangka Konsep KIA .......................................................... 32
Gambar 4.1 Diagram masalah manajemen pelayanan kesehatan kelompok
dewasa dengan tuberkulosis .............................................................. 47
Gambar 4.2 WOC Asuhan Keperawatan Komunitas pada kelompok dewasa TB 64
Gambar 4.3 WOC Asuhan Keperawatan Keluarga dengan TB ............................ 75

xiii

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Kuisioner Pengkajian Keperawatan Komunitas


Lampiran 2 : Penapisan Masalah Manajemen Pelayanan Kesehatan
Keperawatan Komunitas
Lampiran 3 : Penapisan Masalah Asuhan Keperawatan Komunitas
Lampiran 4 : Instrumen Pengetahuan Komunitas
Lampiran 5 : Buku Kerja KKP-TB
Lampiran 6 : Instrumen Evaluasi Penyuluhan KKP-TB
Lampiran 7 : Instrumen Evaluasi Keterampilan Deteksi dan Rujukan Kasus
Lampiran 8 : Instrumen Kuisioner Pengetahuan dan Sikap Anggota KKP-TB
Lampiran 9 : Media Demonstrasi Senam Pernafasan
Lampiran 10 : Instrumen Pemantauan Senam Pernafasan
Lampiran 11 : Materi Manajemen Nutrisi
Lampiran 12 : Media Pendidikan Kesehatan Tuberkulosis

xiv

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
1

BAB 1
PENDAHULUAN

Bagian pendahuluan menjelaskan tentang latar belakang, tujuan penulisan yang


mencakup tujuan umum dan khusus, dan manfaat penulisan karya ilmiah akhir.

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kasus TB menyerang
organ paru-paru. Cara penularannya melalui media udara pada saat klien TB
dengan BTA positif batuk atau bersin. Kuman TB yang tersebar di udara, apabila
terhirup oleh orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah, maka orang tersebut
akan berisiko tertular penyakit TB. Penularan TB secara langsung tersebut
menyebabkan setiap individu berisiko tinggi tertular penyakit TB (Depkes RI,
2008).

Penyakit TB menjadi masalah dunia dan menjadi komitmen global dalam


penanggulangannya. Hal ini karena kasus baru TB setiap tahun terus mengalami
peningkatan. Berdasarkan data Global TB Report 2013, jumlah insidensi TB pada
tahun 2012 di dunia sekitar 8,6 juta penderita dengan kasus kematian TB 1,3 juta
penderita TB. Kasus TB tahun 2012, 58 % terjadi di wilayah Asia Tenggara dan
Pasifik Barat. Indonesia termasuk rangking ke-4 kasus TB terbanyak di dunia,
setelah Cina, India, dan Afrika Selatan (WHO, 2013).

Penanggulangan TB di Indonesia sudah berjalan sebelum kemerdekaan sampai


saat ini. Berbagai program penanggulangan TB telah dilaksanakan sesuai dengan
pedoman WHO. Saat ini strategi nasional penanggulangan TB dilaksanakan
dengan strategi DOTS atau Directly Observed Treatment Short-course di seluruh
Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) termasuk rumah sakit. Strategi ini diterapkan
karena telah terbukti sebagai penanggulangan TB yang ekonomis dan paling
efektif (Dirjen P2PL Depkes RI, 2009). Strategi ini mencakup lima komponen
yaitu 1) komitmen politis dari pengambil keputusan, 2) penegakan diagnosis TB

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
2

dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung, 3) pengobatan TB


dengan panduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan Pengawas
Menelan Obat (PMO) langsung, 4) kesinambungan persediaan OAT untuk pasien,
dan 5) pencacatan dan pelaporan yang baku untuk memudahkan pemantauan dan
evaluasi program TB (Depkes RI, 2008).

Keberhasilan strategi DOTS harus dilaksanakan secara bersamaan pada kelima


komponen tersebut. Namun, hingga saat ini masih ada UPK seperti rumah sakit
dan dokter praktik swasta yang belum merapkan strategi DOTS dengan tepat dan
benar. Selain itu, hambatan keberhasilan strategi DOTS yang lain seperti
ketidakpatuhan pasien untuk melanjutkan pengobatan hingga selesai, pemberian
panduan OAT yang tidak adekuat, dosis dan waktu pengobatan yang tidak tepat.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya resistensi (kekebalan) kuman
terhadap OAT.

Profil kesehatan Indonesia tahun 2012 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan


kasus TB. Pada tahun 2010 kasus baru TB paru BTA positif 183.366 kasus dan
pada tahun 2012 mengalami peningkatan 202.301 kasus. Dari kasus tersebut
jumlah kasus kematian TB pada tahun 2012 adalah 54.000 orang atau 27% dari
jumlah kasus baru TB (Kemenkes RI, 2013).

Berdasarkan data Riskesdas Kemenkes RI (2013), terdapat lima propinsi dengan


prevalensi TB tertinggi di Indonesia adalah Jawa Barat, Papua, DKI Jakarta,
Gorontalo, Banten dan Papua Barat. Jawa Barat menempati posisi pertama dengan
prevalensi TB 0.7% (rata-rata nasional 0.4%). Data ini menunjukkan bahwa kasus
TB yang paling banyak berada di propinsi Jawa Barat. Kejadian kasus TB
disebabkan oleh daya tahan tubuh menurun, gizi kurang, kurangnya kebersihan
diri individu, dan kepadatan hunian lingkungan tempat tinggal (Manalu, 2010).

Indikator kesuksesan penanggulangan TB secara nasional diukur dengan dua cara


yaitu berdasarkan penemuan kasus baru TB BTA positif (Case Detection Rate =
CDR) dan angka keberhasilan pengobatan (Success Rate = SR). Secara nasional,

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
3

indikator penemuan kasus baru TB BTA positif adalah 80% (Kemenkes RI,
2013). Penemuan kasus TB di propinsi Jawa Barat tahun 2012 sebesar 77,35%
(Data profil kesehatan Jawa Barat tahun 2012). Kondisi ini menunjukkan bahwa
Jawa Barat belum mencapai target indikator nasional. Salah satu kotamadya di
Jawa Barat yang masih rendah dalam penemuan kasus baru TB adalah kota
Depok. Target angka keberhasilan pengobatan (SR) nasional 85% (Kemenkes RI,
2013). Data profil kesehatan Propinsi Jawa Barat tahun 2012 menunjukkan SR
Jawa Barat telah mencapai target indikator nasional 91,72%. Nilai SR Kota
Depok adalah 96.49% (Data profil kesehatan Jawa Barat tahun 2012). Nilai ini
menunjukkan bahwa kota Depok sudah mencapai target nasional angka
keberhasilan pengobatan TB.

Penemuan kasus TB di puskesmas Cimanggis sudah mencapai target indikator


nasional 160%. Namun, pencapaian target tersebut belum mencapai target untuk
unit kerja di wilayah kelurahan Cisalak Pasar dan kelurahan Curug. Hasil data
puskesmas Cimanggis penemuan kasus TB di kelurahan Curug bulan Januari-
September 2013 sebanyak 15 orang. Menurut perhitungan puskesmas Cimanggis,
seharusnya ada 30 orang yang terdeteksi sebagai kasus baru TB per tahun untuk
kelurahan Curug.

Angka keberhasilan pengobatan TB di wilayah kelurahan Curug 40% hingga


bulan Desember 2013. Rendahnya angka keberhasilan pengobatan TB dihitung
berdasarkan jumlah klien TB yang dinyatakan sembuh dan klien TB yang telah
mengikuti pengobatan lengkap. Keberhasilan pengobatan TB dipengaruhi oleh
status gizi, keteraturan pengobatan dan pendapatan (Murtantiningsih & Wahyono,
2010). Status gizi kurang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap kuman TB
dan berisiko mengalami kegagalan konversi pengobatan TB (Soemirat, 2000;
Khoriroh, 2001 dalam Murtantiningsih & Wahyono, 2010).

Ketidakteraturan pengobatan dapat memperpanjang waktu pengobatan TB. Salah


satu penyebabnya karena kegagalan konversi TB dari fase intensif ke fase
lanjutan. Sehingga klien TB mendapatkan pengobatan sisipan selama sebulan.

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
4

Kegagalan konversi TB disebabkan oleh ketidakteraturan minum obat, status gizi


klien TB yang termasuk gizi kurang, adanya gejala efek samping obat, adanya
penyakit penyerta, dan pengetahuan TB yang rendah. Ketidakteraturan minum
obat memiliki risiko gagal konversi 3,297 kali lebih besar dibandingkan dengan
teratur minum obat, sedangkan (Amaliah, 2012). Hal ini berkaitan dengan
berkurangnya efektivitas pengobatan TB, sehingga proses penyembuhan berjalan
lambat.

Gejala efek samping obat dengan kondisi berat seperti gatal dan kemerahan di
seluruh tubuh dapat menimbulkan proses pengobatan berhenti sebagian atau
seluruhnya, sehingga menimbulkan ketidakteraturan minum obat yang berisiko
terjadinya kegagalan konversi. Penyakit penyerta seperti diabetes mellitus, HIV,
dan penyakit kronis lainnya dapat memperburuk daya tahan tubuh klien
tuberkulosis sehingga berisiko terjadi kegagalan konversi. Pengetahuan klien
terhadap TB yang rendah juga berisiko terjadi kegagalan konversi, hal ini
disebabkan belum terbentuknya persepsi positif klien TB untuk melakukan
pengobatan secara teratur (Amaliah, 2012).

Menurut Simonds (1976) dalam Glanz, Rimer dan Viswanath (2008),


menjelaskan pendidikan kesehatan bertujuan untuk mengubah perilaku individu,
kelompok dan komunitas yang awalnya memiliki perilaku tidak sehat menjadi
berperilaku sehat. Pendidikan kesehatan pada penyakit menular merupakan
pencegahan primer yang dapat membantu individu yang berisiko menyadari status
kesehatannya dan mau berperilaku sehat untuk melakukan pencegahan penyakit
(Allender, Rector, Warner, 2010). Pemberian pendidikan kesehatan dalam
kegiatan home visit pada keluarga yang menderita TB efektif meningkatkan
pengetahuan, sikap dan keterampilan klien dan keluarga terhadap upaya
pencegahan kegagalan pengobatan TB (Chairani dkk, 2011).

Keberhasilan pengobatan TB juga dipengaruhi oleh keteraturan klien untuk


melakukan pengobatan. Hasil wawancara dengan perawat penanggung jawab
program TB di puskesmas Cimanggis, ada 3 klien TB yang putus obat. Proses

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
5

pelacakan terhadap klien TB yang putus obat sudah dilakukan namun alamat dan
no telepon yang diberikan tidak sesuai. Sehingga sulit dipantau pengobatannya.

Pemantauan pengobatan TB dapat dilakukan dengan menggunakan media


telekomunikasi seperti handphone melalui pengiriman pesan singkat. Petugas
kesehatan mengirimkan pesan singkat berupa jadwal minum obat dan jadwal
kontrol kepada klien TB. Metode ini sudah dijalankan di Kel. Cisalak Pasar dan
memerlukan pengembangan lebih lanjut. Dokumentasi pemantauan pengobatan
pada klien TB yang dilakukan di Kel. Cisalak Pasar dengan menggunakan kartu
pengingat minum obat. Metode ini efektif digunakan untuk mengontrol jadwal
minum obat klien TB. Metode ini sangat sederhana, klien TB hanya memberi
tanda silang pada tanggal bila sudah minum obat. Metode ini perlu dikembangkan
lebih lanjut dengan melakukan observasi secara langsung minum obat klien
dengan didampingi keluarga (Solihin, 2014).

Populasi TB merupakan kelompok rentan yang lebih mudah mengalami masalah


kesehatan serta mengalami kondisi kesehatan yang lebih buruk (Stanhope &
Lancaster, 2004). Cara penularan penyakit TB melalui media udara dapat
menimbulkan masalah kesehatan secara langsung kepada masyarakat. Oleh
karena itu, diperlukan upaya pencegahan untuk mengurangi penularan TB di
masyarakat.

Permasalahan TB tersebut memerlukan penanganan serius dari berbagai pihak,


salah satunya adalah perawat komunitas. Perawat komunitas mempunyai
berbagai peran diantaranya manajer dan pemberi asuhan keperawatan (Allender,
Rector, & Warner, 2010). Perawat sebagai manajer berperan mengelola
pelayanan kesehatan secara langsung untuk kebutuhan masyarakat dengan
menjalankan fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, personalia,
pengawasan dan evaluasi (Allender, Rector, & Warner, 2010; Marquis & Huston,
2003). Peran pemberi asuhan perawat memberikan asuhan keperawatan
kepada individu, keluarga, kelompok dan populasi dewasa dengan tuberkulosis.

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
6

Perawat komunitas dalam mengelola pelayanan dan asuhan keperawatan


menggunakan berbagai teori dan model sebagai landasan praktik. Teori dan
model yang digunakan dalam karya ilmiah akhir (KIA) yaitu integrasi teori dan
model manajemen keperawatan, community as partner, dan family center
nursing (Anderson & McFarlane, 2004; Friedman, Bowden, & Jones, 2003;
Marquis & Huston, 2003). Integrasi ketiga teori dan model tersebut digunakan
dalam melakukan asuhan keperawatan melalui proses keperawatan yang meliputi
pengkajian faktor risiko dan manajemen keperawatan, mengidentifikasi diagnosis
keperawatan, membuat rencana untuk mencapai hasil yang diharapkan,
implementasi intervensi keperawatan, dan melakukan evaluasi terhadap
efektifitas dari intervensi yang diberikan.

Pemberian asuhan keperawatan komunitas pada kelompok dewasa dengan


tuberkulosis, penulis lebih menitikberatkan pada intervensi keperawatan
komunitas. Intervensi keperawatan komunitas yang berfokus pada pada
promosi kesehatan dan intervensi segera yang diberikan kepada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat (Allender, Rector, & Warner, 2010).
Berbagai intervensi yang dapat diberikan kepada kelompok dewasa tuberkulosis
seperti terapi modalitas, pemberian informasi tentang masalah kesehatan,
kebutuhan nutrisi, latihan atau olahraga (Snyder & Lindquist, 2010).

Terapi modalitas yang diberikan pada kelompok dewasa tuberkulosis yaitu


senam pernafasan yang membantu mengurangi gejala sesak nafas dan
meningkatkan daya tahan tubuh klien tuberkulosis. Senam pernafasan efektif
mengurangi sesak nafas dan batuk serta frekuensi nafas menjadi normal
(Rejeki, 2012). Senam pernafasan yang dilakukan secara teratur meningkatnya
aktifitas beta adrenergik saluran pernafasan yang menyebabkan terjadinya
dilatasi bronkus dan memperbesar ventilasi pertukaran udara di dalam paru-paru.
Sehingga paru dapat memasukkan dan mengeluarkan udara dengan lebih baik
(Snyder & Lindquist, 2010; Gorin & Arnold, 2006)

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
7

Pemberian edukasi kesehatan juga merupakan salah satu strategi keperawatan


komunitas. Pendidikan kesehatan merupakan upaya persuasi dan pembelajaran
kepada masyarakat agar mau melakukan tindakan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatannya (Stanhope & Lancaster, 2004). Sedangkan,
pemenuhan kebutuhan nutrisi sangat berperan penting untuk meningkatkan
kesehatan klien TB. Mayoritas klien TB mengalami penurunan berat badan
secara drastis dan penurunan nafsu makan. Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi
membantu untuk mengoptimalkan daya tahan tubuh klien TB dan membantu
proses kesembuhan (Kozier, Erb, Berman, Snyder, 2004).

Berdasarkan intervensi yang diberikan tersebut, maka penulis mengitegrasikan


eduKasi – pengObataN – nuTRisi – OLah raga dengan nama “KONTROL”
sebagai bentuk inovasi penulis. Penulis berharap dengan memberikan terapi
“Kontrol” TB dengan modifikasi senam pernafasan dapat meningkatkan proses
kesembuhan klien TB. Pelaksanaan “Kontrol” TB pada kelompok dewasa TB
membutuhkan peran serta dari elemen masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan
dan kerja sama dengan masyarakat (Allender, Rector, & Warner, 2010;
Helvie, 1998; Hitchcock, Schubert, & Thomas, 1999). Bentuk pemberdayaan dan
kerja sama dengan masyarakat berupa proses kelompok melalui pembentukan
kelompok pendukung atau social support (Pander, Murdaugh, & Parsons,
2002).

Kelompok pendukung tersebut melibatkan peran kader kesehatan dalam


mendukung program “Kontrol” TB. Selain itu, kader kesehatan memiliki peran
dalam pelacakan klien TB dan penemuan kasus TB di masyarakat. Kelompok
pendukung tersebut dinamakan Kelompok Kader kesehatan Peduli TB (KKP-
TB). Kelompok pendukung efektif membantu keluarga dan klien TB dalam
peningkatan akses perawatan TB dan meningkatkan angka temuan TB (Solihin,
2014; Rejeki, 2012).

Berdasarkan fenomena tersebut yang menunjukkan belum ada integrasi edukasi,


pengobatan, nutrisi dan senam pernafasan pada penanganan tuberkulosis, maka

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
8

penulis tertarik mengembangkan dan menerapkan integrasi tersebut dengan nama


“Kontrol” TB pada kelompok dewasa tuberkulosis di kelurahan Curug,
Cimanggis, kota Depok.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan gambaran pengaruh pelaksanaan intervensi keperawatan “Kontrol”
TB terhadap keberhasilan pengobatan tuberkulosis pada kelompok dewasa di
kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok.
1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus mencakup:
a. Peningkatan perilaku anggota KKP-TB terhadap keberhasilan pengobatan
tuberkulosis pada kelompok dewasa melalui intervensi keperawatan
“Kontrol” TB di Kelurahan Curug, Cimanggis, Kota Depok
b. Peningkatan perilaku kelompok dewasa tuberkulosis dalam menerapkan
“Kontrol” TB Kelurahan Curug, Cimanggis, Kota Depok
c. Peningkatan perilaku keluarga terhadap keberhasilan pengobatan
tuberkulosis pada kelompok dewasa melalui intervensi keperawatan
“Kontrol” TB di Kelurahan Curug, Cimanggis, Kota Depok
d. Peningkatan keberhasilan pengobatan TB setelah pelaksanaan “Kontrol” TB
pada kelompok dewasa di Kelurahan Curug, Cimanggis, Kota Depok
e. Peningkatan kemandirian keluarga dalam melakukan perawatan dewasa
dengan tuberkulosis

1.3 Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan mencakup:
1.3.1 Pengelola Program
1.3.1.1 Dinas Kesehatan
Dasar bagi dinas kesehatan untuk menyertakan program “Kontrol” TB pada
berbagai kegiatan dalam menangani masalah tuberkulosis serta melibatkan secara
khusus tenaga perawat agar dapat dievaluasi pelaksanaan “Kontrol” TB secara

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
9

komprehensif dan melibatkan kader melalui kelompok pendukung TB (KKP-TB)


agar keterampilan mereka tetap optimal
1.3.1.2 Puskesmas
Pihak puskesmas dapat mengembangkan program inovasi tambahan pada
pelayanan di Poli Paru dengan melaksanakan kegiatan “Kontrol” TB baik individu
atau kelompok pada dewasa tuberkulosis yang dapat dilakukan terjadwal pada
saat pengambilan obat di puskesmas.
1.3.1.3 Perawat Kesehatan Masyarakat (Perkesmas)
Tenaga kesehatan yang terdapat di Puskesmas sebagai perawat perkesmas dapat
melaksanakan program “Kontrol” TB secara langsung kepada individu, keluarga
dan kelompok tuberkulosis atau melibatkan kader yang ada pada KKP-TB
sehingga dapat dievaluasi secara langsung oleh perawat kompetensi dalam
melakukan dan mengevaluasi pelaksanaan “Kontrol” TB

1.3.2 Kader Kesehatan


Kader atau kelompok pendukung tuberkulosis yang telah terbentuk dapat
melanjutkan tugas dalam melakukan perawatan tuberkulosis pada kelompok
dewasa dengan melaksanakan “Kontrol” TB pada klien tuberkulosis dan keluarga.

1.3.3 Klien TB, Keluarga dan Masyarakat


Peningkatan perilaku klien TB, keluarga dan masyarakat dalam perawatan melalui
program “Kontrol” TB serta upaya pencegahan tuberkulosis.

1.3.4 Perkembangan Ilmu Keperawatan


Penulisan ini dapat menjadi landasan dalam mengembangkan intervensi
keperawatan dengan mengintegrasikan edukasi, pengobatan, nutrisi dan senam
pernafasan untuk perawatan kelompok dewasa tuberkulosis.

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
10

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
10

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Bagian tinjauan pustaka memaparkan teori yang menjadi sumber referensi atau
landasan dalam menulis karya ilmiah akhir. Tinjauan pustaka yang dipaparkan
mencakup, yaitu aggregate usia dewasa tuberkulosis sebagai populasi rentan
(vulnerable population), tuberkulosis pada usia dewasa, keperawatan komunitas
yang mencakup manajamen pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan.
Pemaparan asuhan keperawatan terdiri dari asuhan keperawatan komunitas dan
keluarga.

2.1. Aggregate Usia Dewasa Tuberkulosis Sebagai Populasi Rentan


2.1.1 Pengertian Populasi Rentan (Vulnerable Population)
Menurut Stanhope dan Lancaster (2004) vulnerable population atau kelompok
rentan adalah populasi yang lebih mudah untuk mengalami masalah kesehatan
sebagai akibat terpajan resiko atau akibat buruk dari masalah kesehatan daripada
populasi lain. Kelompok rentan memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah
kesehatan karena keterbatasan sumber kesehatan, keterbatasan fisik, sumber
lingkungan yang tidak sehat, keterbatasan ekonomi dan pendidikan (Aday, 2001
dalam Stanhope & Lancaster, 2004).

Populasi yang dikategorikan sebagai kelompok rentan adalah orang miskin dan
tidak memiliki tempat tinggal (tuna wisma), remaja hamil di luar nikah, imigran,
individu yang mengalami gangguan mental berat, kecanduan obat terlarang,
korban kekerasan dan pemerkosaan, orang dengan penyakit menular dan orang
dengan HIV, hepatitis B dan penyakit menular seksual (Stanhope & Lancaster,
2004). Kelompok ini merupakan kelompok yang mudah mengalami berbagai
masalah seperti sosial dan ekonomi sehingga lebih rentan mengalami masalah
kesehatan (fisik dan psikologis).

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
11

2.1.2 Karakteristik Aggregate Dewasa TB sebagai Populasi Rentan


Menurut Stanhope dan Lancaster (2004), orang dengan penyakit menular
termasuk sebagai kelompok rentan. Penyakit TB adalah penyakit menular
langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis (Kemenkes
RI, 2011). Cara penularannya melalui media udara, pada saat klien TB BTA
positif batuk atau bersin mengeluarkan kuman TB ke udara. Maka, setiap individu
berisiko tinggi atau rentan untuk tertular penyakit TB. Menurut Swanson dan Nies
(1997) populasi rentan adalah kondisi individu/ kelompok yang terpapar atau
tidak terlindungi dari masalah kesehatan dan lingkungannya dengan karakteristik
perubahan fisik, psikologis, dan sosial ekonomi.

2.1.2.1 Perubahan fisik


Penyakit TB dapat menimbulkan gangguan fisik tubuh seperti gejala respiratori
dan gejala sistemik. Gejala tersebut dapat menimbulkan anoreksia, malabsorpsi
nutrien dan mikronutrien serta gangguan metabolisme sehingga mengalami
penurunan berat badan secara drastis (Pratomo, Burhan, Tambunan, 2012;
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011). Menurut Swanson dan Nies (1997)
penyakit menular seperti tuberkulosis berkaitan dengan perubahan fisiologi yang
dapat mengganggu fungsi pernafasan yang berdampak pada metabolisme tubuh
untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

2.1.2.2 Perubahan psikologis


Keadaan psikologis klien dengan tuberkulosis dinilai rentan, karena kondisi
kesehatan yang semakin menurun, adanya dinamika disfungsional keluarga,
stress, koping yang tidak adaptif serta kemampuan dalam menghadapi kecemasan
(Stanhope & Lancaster, 2004; Kaakinen, Gedaly-Duff, Coehlo & Hanson, 2010).

2.1.2.3 Perubahan sosial ekonomi


Faktor lingkungan dapat mempengaruhi interaksi sosial klien TB dengan
masyarakat sekitar. Stigma masyarakat yang negatif tentang penyakit TB
menyebabkan klien TB diperlakukan secara diskriminatif, sehingga klien TB tidak
percaya diri untuk bergaul dengan teman di sekitarnya. Gejala TB yang

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
12

mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas kerja sehingga


pendapatan klien TB berkurang (Stanhope & Lancaster, 2004; Swanson & Nies,
1997).

Menurut Flaskerud dan Winslow (1998) dalam Stanhope dan Lancaster (2004),
populasi rentan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Sumber Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi berhubungan dengan status kesehatan. Hal ini berkaitan
dengan sumber dana yang dimiliki untuk melakukan upaya pemeliharaan
kesehatan. Klien TB yang mengalami kehilangan pekerjaan dapat menurunkan
status kesehatannya. Kondisi ini terkait dengan kebutuhan untuk mencari
pengobatan dan pemeliharaan kesehatan berkurang, karena lebih
mengutamakan kebutuhan primer. Menurut Allender, Rector dan Warner
(2010), individu yang sehat mampu memelihara kesehatannya dan
memaksimalkan tingkat kesehatannya baik dari segi fisik, mental dan sosial.
Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan ekonomi yang memadai adalah sebuah
indikator status kesehatan seseorang.
2. Status kesehatan
Perubahan fisik yang terjadi pada klien TB menyebabkan kerentanan pada
aspek fisiologis, psikologis dan sosial. Perubahan fisiologis klien TB terjadi
pada organ primer tubuh yaitu paru-paru, sehingga berpengaruh terhadap
mekanisme organ yang lain. Perubahan fisiologis tersebut berdampak pada
kondisi psikologisnya (Stanhope & Lancaster, 2004). Klien TB mengalami
kesulitan dalam memelihara kesehatannya karena sistem kekebalan tubuhnya
sudah tidak bekerja secara efektif dalam menjaga kondisi tubuhnya.
3. Risiko kesehatan
Populasi rentan bukan hanya perkumpulan dari berbagai risiko kesehatan saja,
tetapi dianggap sebagai penerima efek-efek dari kejadian berisiko tersebut.
Individu yang memiliki kondisi tubuh yang semakin melemah dan tidak
mampu melakukan aktivitas secara mandiri dapat berisiko menimbulkan
penularan penyakit kepada orang disekitarnya.

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
13

4. Marginalisasi
Stigma masyarakat terhadap klien TB menimbulkan kerentanan secara sosial.
Kurangnya dukungan sosial di masyarakat dan keluarga berpengaruh terhadap
upaya pencegahan penularan, pemeliharaan kesehatan dan emosional dalam
kehidupannya. Kondisi ini memiliki keterbatasan sumber sosial dan ekonomi
untuk menangani masalah kesehatan. Model koping manajemen keluarga yang
memadai dapat secara adaptif mengatasi stress yang timbul (Stanhope &
Lancaster, 2004).

2.2. Tuberkulosis pada Usia Dewasa


Menurut profil kesehatan Indonesia 2012 (Kemenkes, 2013), pasien TB 76,8%
terjadi pada kelompok usia produktif secara ekonomis (15-54 tahun). Menurut
jenis kelamin, penyakit TB pada laki-laki 1,5 kali lebih banyak dari pada
perempuan. Berdasarkan kondisi tersebut pasien TB banyak terjadi pada
kelompok dewasa laki-laki. Padahal dewasa laki-laki merupakan kelompok
produktif yang berperan sebagai penopang ekonomi keluarga. Menurut Kemenkes
(2011), seorang pasien TB dewasa diperkirakan akan kehilangan rata-rata waktu
kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan
tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika klien meninggal akibat TB, maka
akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun.

Penyakit TB yang menular menyebabkan masalah sosial budaya di masyarakat.


Pasien TB mendapatkan tindakan diskriminasi oleh tetangganya berupa dihindari,
tidak diajak berbicara karena takut penyakitnya dapat menularkan. Ada juga yang
menganggap penyakit TB adalah penyakit keturunan, terkena guna-guna sehingga
pasien TB lebih memilih pengobatan non medis. Hal inilah yang menyebabkan
penularan TB masih banyak terjadi karena tidak dilakukan pengobatan medis
secara teratur dan serius. Masalah sosial budaya ini menyebabkan ketidakpatuhan
pasien TB untuk menjalani pengobatan dan akibatnya angka kesembuhan
pengobatan TB rendah (Pare, Amirudin, Leida, 2012).

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
14

Faktor risiko kesehatan yang menyebabkan agregat TB merupakan kelompok


rentan terlihat dari data bahwa klien yang tidak diobati setelah 5 tahun akan
mengalami kematian sebesar 50%, akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh
yang tinggi sebesar 25%, dan akan menjadi kasus kronis yang tetap menular
sebesar 25% (Depkes RI, 2008).

2.2.1 Penatalaksanaan TB
2.2.1 Pengobatan TB
Penemuan kasus TB di masyarakat dilakukan dengan cara pasif dan aktif.
Penemuan secara pasif dilakukan dengan penjaringan suspek TB di UPK,
kemudian dilakukan pemeriksaan dahak. Apabila hasil pemeriksaan dahak
menunjukkan hasil BTA positif maka akan ditindak lanjut dengan pengobatan TB.
Hasil pemeriksaan menunjukkan BTA negatif dengan gejala TB akan dilakukan
pemeriksaan x-ray foto thorak. Dan bila hasil foto thorak menunjukkan gambaran
positif tuberculosis maka selanjutnya akan diberikan pengobatan TB. Selain,
penemuan kasus TB secara pasif, dilakukan juga cara aktif dengan mendatangi
rumah ke rumah, namun cara ini kurang efektif (Depkes, 2008).

Gejala TB terbagi menjadi gejala utama dan gejala tambahan. Gejala utama
adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat dikuti dengan
gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan
lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat di
malam hari tanpa aktivitas fisik, demam lebih dari satu bulan. Gejala ini sering
juga ditemukan pada penyakit lain dari TB, seperti bronkiektasis, bronchitis
kronis, asma, kanker paru. Bila ditemukan gejala seperti di atas, dianggap suspek
TB, oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis dalam bentuk
pemeriksaan dahak.

Klasifikasi penyakit TB lainnya ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan


sebelumnya, yaitu 1) Kasus baru adalah penderita yang tidak mendapat obat anti
tuberkulosis paru lebih dari 1 bulan; 2) Kambuh (relaps) yaitu adalah penderita
yang pernah dinyatakan sembuh dari tuberkulosis paru, tetapi kemudian timbul

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
15

lagi tuberkulosis paru aktifnya; 3) Gagal yaitu penderita yang sputum BTA
positif setelah mendapat obat anti tuberkulosis paru lebih dari 5 bulan atau
penderita menghentikan pengobatannya setelah mendapat obat anti tuberkulosis
paru 1-5 bulan dan sputum BTA masih positit; dan 4) Kasus berobat lalai (putus
obat) yaitu adalah penderita tuberkulosis paru yang kembali berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif setelah putus berobat 2 bulan atau lebih
(Kemenkes, 2011).

Pengobatan TB bertujuan untuk 1) Menyembuhkan penderita dengan gangguan


seminimal mungkin; 2) Mencegah kematian penderita yang sakit sangat berat; 3)
Mencegah kerusakan paru lebih luas dan komplikasi yang terkait; 4) Mencegah
kambuhnya penyakit; 5) Mencegah kuman TB menjadi resisten; dan 6)
Melindungi keluarga dan masyarakat terhadap infeksi. Klien TB menjalani
pengobatan dengan diwajibkan minum obat selama 6 bulan. Jenis obat yang
diminum harus disesuaikan dengan kategori obat yang diberikan (Crofton,
Norman dan Miller, 2002; Kemenkes, 2011).

Terapi obat yang dilakukan sekarang adalah dengan terapi jangka pendek selama
enam bulan dengan jenis obat Isoniazid/INH (H), Rifampicin (R), Pirazinamide
(Z), Ethambutol (E), dan Streptomycin (S) (Depkes, 2008). Program DOTS telah
menetapkan prinsip pengobatan Kombinasi Dosis Tetap (KDT). Prinsip ini
diterapkan untuk menjamin kepatuhan pasien TB dalam menelan obat. Sehingga
obat yang diminum oleh pasien TB jenisnya hanya satu buah yang sudah
mengandung setiap jenis obat TB. Selain itu, KDT mencegah penggunaan obat
tunggal sehingga menurunkan risiko terjadinya resistensi obat ganda dan
mengurangi kesalahan penulisan resep.

Pengobatan TB yang tidak teratur dan rendahnya kepatuhan dalam pengobatan TB


dapat menimbulkan kejadian resistensi obat TB yang disebut Multi Drugs
Resistance Tuberculosis (TB-MDR). Resistensi obat terjadi akibat penggunaan
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang tidak tepat dosis pada klien yang masih
sensitif terhadap rejimen OAT. Ketidaksesuaian ini bisa disebabkan oleh tenaga

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
16

kesehatan tidak memberikan pengobatan dengan rejimen yang tepat atau


kegagalan dalam memastikan klien TB menyelesaikan seluruh tahapan
pengobatan (Burhan, 2010).

Klien TB yang memiliki risiko terjadinya TB-MDR memiliki beberapa kriteria


yaitu 1) kasus kronik atau klien gagal pengobatan kategori 2; 2) klien TB dengan
hasil pemeriksaan dahak tetap positif setelah bulan ke-3 dengan kategori 2; 3)
klien yang pernah diobati TB termasuk OAT lini kedua seperti kuinolon dan
kanamisin; 4) klien gagal pengobatan kategori 1; 5) klien dengan hasil
pemeriksaan dahak tetap positif; 6) kasus TB kambuh; 7) klien yang kembali
setelah lalai/default pada pengobatan kategori 1 dan kategori 2; 8) suspek TB
dengan keluhan yang tinggal dekat dengan klien TB-MDR konfirmasi, termasuk
petugas kesehatan yang bertugas di bangsal TB-MDR (Kemenkes RI, 2013).

Pemantauan pengobatan TB adalah salah satu solusi yang tepat dalam pencegahan
kejadian kasus TB-MDR. Pemantaun ini dapat dilakukan dengan melakukan
kunjungan rumah pada klien TB. Kunjungan rumah dapat meningkatkan
kepatuhan klien TB dalam menjalani pengobatan. Dukungan keluarga juga
berperan dalam pemantauan pengobatan TB. Dukungan keluarga mendorong klien
TB patuh dalam menjalani rejimen pengobatan (Hutapea, 2004).

2.2.2 Pemenuhan Nutrisi pada pasien TB


Pasien TB rata-rata memiliki kondisi status gizi kurang bahkan ada juga yang
berstatus gizi buruk. Pasien TB memerlukan kebutuhan nutrisi yang cukup untuk
mendukung proses kesembuhannya. Penambahan kalori pada pasien TB sekitar
10%-30%. Pemenuhan nutrisi ini bertujuan meningkatkan asupan sumber energi,
protein, lemak dan vitamin. Pembagian penambahan asupan tersebut diberikan
secara bertahap dengan cara makan dengan porsi sedikit tapi sering, mulai dari 4-6
kali per hari dengan ditambah 3 kali makanan selingan. Tujuan pembagian makan
ini untuk mengurangi ketidaknyamanan selama pengobatan fase intensif seperti
mual, batuk dan sesak nafas. Pemberian kebutuhan protein dengan mengkonsumsi
protein hewani atau nabati 2 porsi sehari atau sekitar 75-100 gram per hari.

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
17

Pemberian makanan memperhatikan jarak waktu makan dengan minum obat.


Minum obat TB dianjurkan dalam keadaan perut kosong yaitu pada pagi hari
sebelum sarapan pagi. Kemudian diberikan jarak waktu 30 menit sampai satu jam
setelah minum obat kemudian makan. Asupan cairan yang disarankan 10-12 gelas
per hari, untuk memenuhi kebutuhan cairan dan menjaga fungsi ginjal terhadap
obat TB yang sangat toksik (Destiadi, 2012).

Status gizi buruk, penyerapan oabat TB menjadi kurang optimal dan hal tersebut
memperparah/ memperpanjang proses penyembuhan. Gizi merupakan faktor
pendukung pencegahan dan penyembuhan penyakit. Fungsi makanan dengan gizi
seimbang pada pasien TB sebagai sumber tenaga untuk melakukan kegiatan
sehari-hari. Makanan berfungsi dalam penyerapan obat TB dan mengganti
jaringan atau sel pada jaringan paru yang rusak akibat kuman TB.

Manajemen nutrisi adalah salah satu metode pemenuhan nutrisi pada klien TB.
Metode ini terdiri dari pendidikan kesehatan tentang gizi seimbang, penyusunan
menu gizi seimbang dan pemantauan berat badan (Dochterman & Bulechek,
2004). Pendidikan gizi seimbang menjelaskan peran dari masing-masing zat gizi
yang diperlukan bagi klien TB dan menjabarkan kondisi Indeks Massa Tubuh
(IMT). Kategori IMT pada umur dewasa adalah 1) gizi buruk < 17; 2) gizi kurang
17-18,4; 3) gizi normal 18,5-24,9; 4) gizi lebih 25-28,9; 5) obesitas ≥ 29. Setelah
dilakukan pengidentifikasian IMT, klien TB menjadi paham dan mengerti tentang
kondisi nutrisi yang ada pada dirinya, selanjutnya dilakukan penyusunan menu
makanan yang bertujuan untuk mengatur jadwal, jenis dan jumlah makanan yang
wajib dikonsumsi klien TB untuk meningkatkan berat badannya dan dalam upaya
pemeliharaan kesehatannya. Pemantauan berat badan dilakukan sebulan sekali
untuk melihat keberhasilan penerapan manajemen nutrisi bagi klien TB.

2.2.3 Senam Pernafasan untuk pasien TB


Pasien TB mengalami penurunan fungsi paru akibat terbentuknya jaringan parut
atau fibrotik di organ paru-paru. Penurunan fungsi paru mengakibatkan

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
18

pengembangan alveoli menjadi tidak optimal sehingga terjadi ketidakseimbangan


ventilasi-perfusi paru. Kondisi ini menyebabkan terjadinya hipoksia pada saat
pasien TB beraktivitas sehingga timbul keluhan frekuensi nafas lebih cepat dan
dangkal. Keluhan ini dapat dikurangi dengan melakukan latihan nafas dalam dan
senam pernafasan (Emaliyawati, 2009).

Senam pernafasan adalah gerakan senam yang berfokus pada penguatan otot-otot
pernafasan dan memulihkan fungsi paru-paru (Natalya, 2006; Rejeki, 2012).
Latihan senam pernafasan berguna untuk memaksimalkan ventilasi-perfusi paru
yang lebih terkontrol, menguatkan otot paru-paru, menghilangkan ansietas,
mengurangi dan mencegah sesak nafas, memudahkan batuk dan mengeluarkan
dahak dan meningkatkan kualitas hidup pasien TB. Latihan senam pernafasan
sebaiknya dilakukan 3-4 kali seminggu secara teratur. Gerakan senam pernafasan
terdiri dari gerakan sederhana yang mudah dilakukan oleh pasien TB. Gerakan
senam berfokus pada proses inspirasi dan ekspirasi secara perlahan pada setiap
gerakan.

Senam pernafasan terdiri dari gerakan pemanasan, inti dan pendinginan. Gerakan
ini dimodifikasi dari senam pernafasan yang telah dilakukan oleh mahasiswa
residensi sebelumnya. Gerakan ini lebih sederhana dengan gerakan pemananasan
terdiri dari 7 gerakan yang bertujuan untuk meregangkan tubuh sebelum
melakukan senam. Gerakan inti ada 5 gerakan yang berfokus pada pengaturan
nafas dan penguatan otot dada dan paru-paru. Gerakan pendinginan terdiri dari 3
gerakan yang bertujuan untuk mengembalikan otot-otot dada setelah melakukan
senam pernafasan.

2.2.4 Kepatuhan
Penatalaksanaan pasien TB perlu adanya komitmen yang kuat dari pasien untuk
menjalani pengobatannya. Hal ini karena masa pengobatan TB cukup lama yaitu
antara 6 sampai 9 bulan. Kepatuhan pasien untuk berobat sangat penting untuk
mengoptimalkan proses kesembuhan. Untuk memantau proses kepatuhan minum
obat pasien TB diperlukan Pengawas Menelan Obat (PMO). Tugas PMO adalah

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
19

menjamin ketekunan dan keteraturan pengobatan sesuai jadwal yang ditentukan


pada awal pengobatan, menghindari terjadinya putus obat, dan mencegah
terjadinya resistensi OAT (Depkes, 2008). Pengawas Menelan Obat sebaiknya
orang yang disegani dan dihormati oleh pasien TB, seperti suami/istri, anak,
tetangga, kader kesehatan, tokoh masyarakat.

Menurut penelitian Masniari, Priyanti, Aditama (2007) kegagalan pada


pengobatan TB yang terjadi di negara berkembang karena hilangnya motivasi
klien, kurang informasi mengenai penyakit dan efek samping OAT, problem
ekonomi, sulitnya transportasi, faktor sosiopsikologis, alamat yang salah,
komunikasi yang kurang baik antara klien TB paru dengan petugas kesehatan.
Ketidakpatuhan klien TB paru untuk berobat secara teratur menjadi hambatan
untuk mencapai kesembuhan maksimal. Klien yang tidak datang pada fase intensif
karena tidak adekuatnya motivasi terhadap kepatuhan berobat dan klien merasa
kondisi sudah enak pada akhir fase intensif dan merasa tidak perlu kembali untuk
pengobatan selanjutnya. Penelitian lain yang dilakukan oleh Widagdo (2003)
ditemukan bahwa tidak ada hubungan faktor penguat (dukungan keluarga) dengan
kepatuhan klien TBC dalam pengobatan. Tetapi klien TB yang mendapatkan
dukungan keluarga secara positif memiliki peluang 3,55 kali untuk patuh
melaksanakan pengobatan.

2.3 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas


Manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan keperawatan
melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan dan rasa
aman kepada klien, keluarga dan masyarakat (Gillies, 1994). Manajemen
pelayanan keperawatan komunitas adalah suatu proses bekerja dalam asuhan
keperawatan komunitas dengan menerapkan proses manajemen ke dalam sistem
pelayanan kesehatan (Gillies, 1994; Anderson & McFarlane, 2004; Muninjaya,
2004). Menurut Marquis dan Huston (2003), fungsi manajemen meliputi
perencanaan, pengorganisasian, personalia, pengarahan, dan pengawasan.

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
20

2.3.1 Perencanaan
Perencanaan adalah proses untuk merumuskan masalah di masyarakat,
menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan
program yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan tersebut (Gillies, 1994). Perencanaan merupakan
tahap yang yang sangat penting dan menjadi prioritas di antara fungsi manajemen
yang lain. Tanpa perencanaan yang adekuat, proses manajemen akan mengalami
kegagalan. Tahap perencanaan merupakan pondasi dasar dalam menjalankan
suatu program atau organisasi. Penyusunan perencanaan diawali dengan lingkup
bagian teratas menuju ke bawah dengan tahap penyusunan visi dan misi, filosofi,
penetapan tujuan umum dan khusus, penyusunan kebijakan, prosedur dan aturan,
sarana dan prasarana, perubahan perencanaan, waktu, serta pembiayaan (Marquis
& Huston, 2003; Swanburg, 2000).

2.3.2 Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan, menggolongkan, dan
mengatur berbagai macam kegiatan, penetapan tugas dan wewenang seseorang
dan pendelegasian wewenang dalam rangka mencapai tujuan (Stanhope &
Lancaster, 2004; Marquis & Huston, 2003). Tahap penyusunan proses
pengorganisasian keperawatan diawali dengan penyusunan struktur organisasi,
struktur tugas pokok dan fungsi, garis komando, kekuatan organisasi, politik dan
perorangan, pengorganisasian pemberi asuhan keperawatan, pengaturan kerja dan
kerjasma (Marquis & Huston, 2003).

2.3.3 Personalia
Personalia atau ketenagaan adalah proses pengaturan tenaga kerja dalam proses
pemberian asuhan keperawatan (Gillies, 1994). Pada tahap ini, manajer berperan
dalam merekrut, memilih, memberikan orientasi, dan meningkatkan
perkembangan individu untuk mencapai tujuan organisasi. Proses asuhan
keperawatan komunitas banyak bekerjasama dengan profesi lain, oleh karena itu
perawat membutuhkan keahlian yang lebih baik saat pemberian asuhan
keperawatan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kerja dan tujuan

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
21

organisasi agar menjadi lebih optimal. Oleh karena itu, staf atau personalia harus
mendapatkan pelatihan untuk menunjang keterampilannya dalam pemberian
asuhan keperawatan (Marquis & Huston, 2003).

2.3.4 Pengarahan
Pengarahan adalah menggerakkan semua kegiatan yang telah ditetapkan dalam
fungsi manajemen untuk mencapai tujuan program (Muninjaya, 2004). Pada tahap
ini, manajer menciptakan motivasi kepada bawahan agar lebih baik dalam bekerja,
meningkatkan komunikasi interpersonal antar staf, melakukan pendelegasian dan
melakukan manajemen konflik. Peran perawat berkolaborasi dengan rekan
sejawat dan profesi lain, dituntut harus mampu berkomunikasi dengan baik serta
melakukan pendelegasian secara tepat, agar tujuan organisasi tercapai (Marquis &
Huston, 2003).

2.3.5 Pengawasan
Pengawasan adalah proses pengendalian suatu program agar berjalan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan (Muninjaya, 2004; Marquis & Huston,
2003). Pengawasan dalam manajemen bertujuan agar efisiensi penggunaan
sumber daya dapat lebih berkembang untuk mencapai tujuan program (Ervin,
2002). Elemen dalam pengawasan adalah kendali mutu, penilaian kinerja, dan
lingkungan kerja yang disiplin. Kendali mutu adalah suatu pengendalian spesifik,
mengacu pada aktivitas yang digunakan untuk mengevaluasi, memantau, atau
mengatur layanan yang diberikan kepada masyarakat. Kendali mutu diawali
dengan penetapan standar. Standar tersebut mengacu pada tujuan organisasi dan
standar asuhan keperawatan yang telah ditetapkan secara nasional atau
internasional. Kegiatan kendali mutu dilakukan dengan evaluasi kinerja perawat
seperti melakukan kegiatan supervisi. Supervisi adalah evaluasi kinerja bawahan
oleh atasan dengan memberikan bimbingan dan tuntunan kearah perbaikan dan
perbaikan mutu asuhan keperawatan (Marquis & Huston, 2003).

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
22

2.4 Asuhan Keperawatan Komunitas


2.4.1 Model Community as Partner
Aplikasi model pengkajian yang diterapkan pada komunitas pasien TB di
Kelurahan Curug menggunakan model Community as Partner yang
dikembangkan oleh Anderson dan McFarlae dari teori Betty Neuman (Anderson
& McFarlane, 2004). Model ini berfokus pada keperawatan kesehatan masyarakat
(perkesmas) adalah praktik, keilmuan, dan metodenya melibatkan masyarakat
untuk berpartisipasi penuh dalam meningkatkan kesehatannya. Pada model
community as partner terdapat dua faktor utama yaitu fokus pada komunitas
sebagai mitra dan proses keperawatan (Anderson & McFarlane, 2004). Pada
pengkajian komunitas terdapat core dan delapan subsistem yang ada di
masyarakat. Core terdiri dari riwayat terbentuknya aggregat, demografi, suku,
nilai, dan kepercayaan. Sedangkan pada subsistem mencakup lingkungan fisik,
pelayanan kesehatan dan sosial, ekonomi, transportasi dan keamanan, politik dan
pemerintahan, komunikasi, pendidikan, dan rekreasi.

Model Community as Partner, masyarakat dikelilingi oleh tiga garis pertahanan,


yaitu; garis pertahanan fleksibel, normal, resisten. Garis pertahanan fleksibel
adalah kesehatan yang dinamis hasil dari respon terhadap stresor yang tidak
menetap seperti mobiliasi tetangga dan stresor lingkungan. Garis pertahanan
normal adalah angka kematian, tingkat ekonomi masyarakat. Sedangkan garis
pertahanan resisten adalah mekanisme internal terhadap stresor (Anderson dan
McFarlane, 2004).

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
23

Gambar 2.1 Model Community as Partner, Anderson & McFarlane, 2004

Perencanaan program kesehatan komunitas pada aggregate dewasa dengan TB


berdasarkan Community as Partner difokuskan pada tiga tingkat pencegahan yaitu
primer, sekunder, dan tersier (Anderson McFarlane, 2004). Aktivitas dari program
kesehatan komunitas yang direncanakan difokuskan untuk memperkuat tiga garis
pertahanan pada komunitas yaitu garis pertahanan normal, fleksibel, dan resisten
melalui tiga tingkat pencegahan. Aktivitas dalam perencanaan tersebut dapat
dijalankan melalui strategi intervensi program yaitu pendidikan kesehatan, proses
kelompok, empowering, dan partnership.

2.4.2 Teori Family Center Nursing

Keluarga merupakan sistem dukungan bagi pasien TB. Dukungan keluarga berupa
dukungan sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit.
Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap
memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (Friedman, Bowden, Jones,

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
24

2003). Dukungan sosial keluarga mengacu pada dukungan sosial yang dipandang
oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses untuk keluarga. Dukungan sosial
bisa digunakan atau tidak, tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang
bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika
diperlukan. Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan sosial internal atau
dukungan sosial eksternal. Dukungan keluarga dapat meningkatkan kepatuhan
minum OAT penderita TB.

Dukungan sosial adalah hubungan interpersonal yang menyediakan persahabatan,


bantuan dan bantuan emosional. Dukungan sosial merupakan hubungan
interpersonal yang melibatkan perhatian emosional (ekspresi peduli, dorongan dan
empati), bantuan (jasa, uang atau informasi), penguatan (umpan balik yang
konstruktif, pengakuan) (Pender, 2001). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
yang menyatakan bahwa keberhasilan dalam pengendalian TB memerlukan
dukungan keluarga (Rejeki, 2011).

2.4.3 Pengkajian keluarga pada aggregat TB dengan menggunakan teori


Family Center Nursing
2.4.3.1 Data Umum
Pengkajian data umum pada kasus TB mencakup identitas data meliputi
nama kepala keluarga dan anggota keluarga, usia semua anggota keluarga
dan pekerjaan. Umur berperan dalam menentukan kejadian TB. Menurut
Crofton et.al (2002), TB hanya dapat ditularkan oleh orang dewasa, antar
anak-anak tidak menular. Jadi apabila dalam satu keluarga dengan anak
balita menderita TB, maka kemungkinan dalam satu rumah atau
lingkungan sekitar rumah terdapat klien TB dewasa. Status kelas sosial
ekonomi yang rendah juga merupakan faktor resiko terjadinya TB.
Keluarga dengan ekonomi rendah akan mengalami kesulitan dalam
memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga, padahal nutrisi berperan penting
dalam meningkatkan daya tahan tubuh pasien TB (Destiadi, 2012;
Stanhope & Lancaster, 2004)

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
25

2.4.3.2 Lingkungan
Lingkungan berpengaruh pada kejadian TB yang meliputi: 1) karakteristik
rumah, yang tidak memenuhi standar kesehatan dengan anggota keluarga
banyak, sangat berisiko meningkatkan kejadian TB dalam keluarga
tersebut, 2) karakteristik tetangga dan komunitas berperan terhadap
penularan TB, jika terdapat beberapa warga yang menderita TB, 3) sistem
pendukung dalam keluarga berperan dalam meningkatkan kepatuhan pada
klien TB (Fatimah, 2008). Kondisi lingkungan rumah yang sehat terdiri
dari ventilasi, sirkulasi udara, pencahayaan sinar matahari, kelembaban,
suhu ruangan, lantai dan dinding rumah.

2.4.3.3 Fungsi Keluarga


Fungsi keluarga meliputi afektif, reproduksi, sosialisasi, ekonomi dan
perawatan dalam keluarga. Fungsi afektif menggambarkan bagaimana
keluarga memberikan kebutuhan rasa aman terhadap klien TB. Fungsi
reproduksi dapat terganggu apabila suami/istri yang menderita TB tidak
mampu memenuhi kebutuhan seksual dari pasangannya. Fungsi sosialisasi
menggambarkan bagaimana hubungan keluarga dengan klien TB dan
kemungkinan kemungkinan adanya diskriminasi terhadap klien. Fungsi
perawatan sangat berperan terhadap penularan dan kejadian TB, serta
kepatuhan klien dalam menelan obat. Fungsi perawatan menggambarkan
bagaimana kemampuan keluarga dalam mengenal masalah akibat TB,
membuat keputusan yang tepat, melakukan perawatan pada klien TB,
memelihara lingkungan rumah yang kondusif untuk TB dan kemampuan
menggunakan fasilitas kesehatan dalam melakukan pemeriksaan dahak
maupun pengobatan TB (Friedman, Bowden, Jones, 2003; Stanhope &
Lancaster, 2004).

2.4.3.4 Status Kesehatan


Status kesehatan menunjukkan hasil pemeriksaan fisik terhadap masing-
masing anggota keluarga. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dapat
diketahui adanya masalah yang terjadi pada klien TB seperti adanya sekret

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
26

pada paru-paru, status nutrisi dan gangguan lain yang menyertai (Crofton,
et.al., 2002).

2.4.3.5 Stress dan Koping


Stres dan koping menunjukkan bagaimana keluarga berespon terhadap
masalah, khususnya menghadapi anggota keluarga yang menderita TB.
Pengobatan yang lama dan persepsi yang salah terhadap TB dari
menyebabkan klien TB mengalami tekanan psikologis. Ketidakmampuan
klien TB (jika kepala rumah tangga) mencari nafkah untuk keluarganya,
menyebabkan penurunan penghasilan keluarga yang pada akhirnya
menimbulkan masalah baru (Friedman, Bowden, Jones, 2003).

2.4.4 Intervensi keperawatan dalam perawatan klien TB


2.4.4.1 Proses kelompok
Proses kelompok melalui pembentukan peer atau social support
berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat (Stanhope dan Lancaster,
2004; Hitchock, Schubert dan Thomas, 1999). Pembentukan kelompok
pendukung meliputi support group dan self help group (kelompok
swabantu). Kelompok swabantu adalah sekumpulan dua orang atau lebih
yang mempunyai keinginan untuk berbagi permasalahan, saling membantu
terhadap hal yang dialami atau yang menjadi fokus perhatian bertujuan
mengatasi gangguan kesehatan dan meningkatkan kemampuan kognitif
dan emosional sehingga tercapai perasaan sejahtera antara sesama
penderitaa TB. Kelompok pendukung adalah kelompok yang terdiri dari
orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap kesembuhan pasien TB.

Pembentukan kelompok pendukung juga dapat dilakukan dengan


memanfaatkan kelompok masyarakat yang sudah ada seperti kader
kesehatan ataupun membentuk kelompok pendukung baru seperti
kelompok peduli TB. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah
promosi kesehatan tentang TB, deteksi dini kasus dan rujukan kasus TB,
pelacakan kasus TB mangkir dan putus obat, keterampilan pemberian

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
27

penyuluhan kepada kader kesehatan, dan pembinaan pengelolaan klien TB


di rumah.

2.4.4.2 Pendidikan kesehatan


Pendidikan kesehatan dilakukan dengan memberikan pendidikan
kesehatan tentang perawatan yang dapat dilakukan pada keluarga dan
masyarakat tentang tuberkulosis. Pendidikan kesehatan merupakan upaya
persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau
melakukan tindakan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya
(Stanhope & Lancaster, 2004). Perubahan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan yang terjadi, seharusnya didasarkan pengetahuan dan kesadaran
melalui proses pembelajaran yang dihasilkan melalui pendidikan
kesehatan. Intervensi keperawatan komunitas dengan pemberian
pendidikan kesehatan tentang tuberkulosis, dapat meningkatkan sikap dan
keterampilan klien TB dalam melakukan upaya pencegahan, perawatan
dan pengobatan TB (Murtantiningsih & Wahyono, 2010).

2.4.4.3 Pemberdayaan atau empowering adalah strategi pemberdayaan masyarakat


yang dilakukan dengan melibatkan kader kesehatan dan anggota keluarga
dalam melakukan penerapan kelompok peduli TB. Menurut Pander,
Murdaugh, Parsons (2002), pemberdayaan adalah strategi intervensi dalam
meningkatkan kecenderungan masyarakat untuk menciptakan perubahan.
Pemberdayaan keluarga dan komunitas merupakan suatu jalan bagi
komunitas untuk memperoleh kontrol terhadap sumber dan mengubah
perbedaan kekuatan melalui perubahan sosial. Keluarga adalah sistem
yang paling efektif sebagi kontrol untuk member dukungan dan perubahan
dalam proses penyembuhan dan pemutusan mata rantai penularan TB.
Masyarakat merupakan sistem pendukung yang dapat merubah kondisi
terjadinya peningkatan penyebaran TB yang lebih luas. Peran perawat
komunitas dalam pemberdayaan keluarga dan masyarakat adalah
membangun kemitraan yang efektif melalui peran serta masyarakat
(Pander, Murdaugh, Parsons, 2002).

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
28

2.4.4.4 Kemitraan adalah kerjasama/ hubungan antara dua pihak atau lebih
berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan
(Anderson & McFarlane, 2004). Kemitraan dapat dilakukan dengan
melakukan kerjasama pada LSM, Dinas Kesehatan dan Puskesmas. Prinsip
dalam membangun kemitraan adalah 1) Equity, adanya kesetaraan dalam
mengambil keputusan untuk mencapai keputusan bersama, masing-masing
anggota atau mitra memiliki hak yang sama; 2) Transparency, adanya
keterbukaan sehingga dapat saling melengkapi dan saling membantu
diantara mitra; 3) Mutual Benefit, adanya saling menguntungkan yang
terwujud dari kebersamaan dalam mencapai tujuan kemitraan (Anderson
& McFarlane, 2004; Notoatmodjo, 2005).

Strategi kemitraan untuk mengatasi masalah TB melakukan kerjasama


dengan klien TB, keluarga, masyarakat dan beberapa instansi yang peduli
TB untuk meningkatkan penyembuhan klien TB dan mencegah penularan
TB (Anderson & McFarlane, 2004; Clark, 1999). Bentuk kemitraan
keperawatan pada kelompok dewasa TB misalnya promosi kesehatan,
pengawasan terhadap klien TB, pemantauan pengobatan, pencegahan
penularan TB, deteksi dini kasus TB, melakukan rujukan kasus TB,
pelayanan keperawatan dalam bentuk terapi modalitas dan terapi
komplementer.

2.4.4.5 Advokasi merupakan usaha untuk memengaruhi kebijakan kesehatan


masyarakat melalui berbagai bentuk komunikasi (Swanson & Nies, 1997).
Advokasi kesehatan dapat dilakukan oleh individu atau kelompok agar
pembuat keputusan membuat kebijakan public yang menguntungkan
kelompok masyarakat. Komunikasi yang dilakukan saat advokasi
dirancang secara sistematis agar menarik dengan harapan pembuat
keputusan tertarik, terpengaruh, dan yakin terhadap ide yang disampaikan.
Melalui advokasi, diharapkan dihasilkan kebijakan yang mendukung

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
29

upaya penanggulangan masalah kesehatan serta pencapaian keberhasilan


program dan isu yang diadvokasi.

Sasaran advokasi diutamakan kepada pengambil keputusan seperti unsur


pemerintah atau lembaga negara, media massa, LSM, tokoh masyarakat,
tokoh agama, pihak swasta, asosiasi perusahaan atau penyandang dana
baik di bidang kesehatan maupun sektor lain di luar kesehatan yang
mempunyai pengaruh terhadap public (Kemenkes RI, 2011). Bentuk
kegiatan advokasi antara lain melakukan pendekatan melalui lobby dan
pembicaraan formal atau informal dengan output yang dihasilkan berupa
undang-undang, peraturan, ataupun instruksi yang mengikat masyarakat
dan instansi yang terkait dengan masalah kesehatan.

10
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
30

BAB 3
KERANGKA KONSEP PRAKTIK KEPERAWATAN KOMUNITAS
DI WILAYAH KELURAHAN CURUG

Kerangka konsep menguraikan dan menjelaskan keterkaitan antar konsep yang


mendasari praktik keperawatan komunitas pada agregat dewasa tuberculosis.
Kerangka konsep residensi dalam pengelolaan agregat dewasa tuberculosis
menggunakan integrasi teori manajemen, Community as Partner Model, dan
Family Center Nursing Model.

3.1 Kerangka konsep Praktik Keperawatan Komunitas


Praktik keperawatan komunitas yang dilakukan di Kelurahan Curug Kecamatan
Cimanggis, Depok, Jawa Barat berfokus pada aggregate dewasa dengan
tuberkulosis. Kegiatan ini merupakan integrasi dari praktik manajemen
pelayanan keperawatan, asuhan keperawatan komunitas dan asuhan keperawatan
keluarga. Model pengkajian yang digunakan community as partner, family center
nursing dan teori manajemen.

Pengkajian keperawatan komunitas menggunakan variabel pada aplikasi


community as partner. Variabel tersebut terdiri dari core, delapan subsistem dan
persepsi (Anderson & McFarlane, 2011). Pada pengkajian ini, variabel yang
digunakan core, enam subsistem dan persepsi terhadap masalah kesehatan.
Variabel tersebut dapat menggambarkan permasalahan tuberculosis yang ada di
komunitas. Variabel core mengidentifikasi data demografi, statistic vital, etnis,
dan nilai/keyakinan. Variabel sub sistem terdiri dari 1) lingkungan fisik dan
sosial, 2) pelayanan kesehatan dan sosial, 3) ekonomi, 4) transportasi, 5) politik
dan pemerintahan, 6) komunikasi. Variabel persepsi menggali persepsi individu
dan kelompok dewasa tuberculosis terhadap masalah kesehatan dan pelayanan
kesehatan.

Pada bagian sub sistem pelayanan kesehatan dan sosial, pengkajian digabungkan
dengan teori manajemen. Bagian ini menganalisa sistem manajemen keperawatan

30
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
31

yang dilaksanakan pada lembaga pelayanan kesehatan dan sosial di tingkat dinas
kesehatan, puskesmas hingga ke wilayah kelurahan. Teori manajemen yang
digunakan mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan (Marquis & Huston, 2012).

Pengkajian keperawatan keluarga menggunakan family center nursing dengan


memfokuskan pada variabel riwayat kesehatan keluarga, variabel fungsi
perawatan keluarga dan variabel stress dan adaptasi koping keluarga. Model
family center nursing dipilih sebagai pedoman dalam pengkajian keperawatan
keluarga karena model ini menggunakan teori structural-fungsional yang
dikembangkan menjadi struktur dan fungsi keluarga (Friedman, Bowden, &
Jones, 2003). Salah satu bagian dari fungsi keluarga yaitu fungsi perawatan
kesehatan keluarga sangat cocok dengan permasalahan tuberculosis sebagai
penyakit menular sehingga perlu ditekankan pada aspek perawatan dan
pencegahan agar tidak menularkan kepada anggota keluarga yang lain.

Proses keperawatan selanjutnya analisa data dan penyusunan masalah


keperawatan pada manajemen, keperawatan komunitas dan keperawatan
keluarga. Upaya menyelesaikan masalah keperawatan tersebut diperlukan strategi
intervensi yang sesuai untuk masalah kesehatan tuberculosis. Strategi intervensi
yang digunakan adalah pendidikan kesehatan, proses kelompok, pemberdayaan,
kemitraan, dan terapi modalitas (Hitchcock, Schubert, dan Thomas, 1999;
Stanhope & Lancaster, 2004). Intervensi keperawatan komunitas yang utama
adalah program “Kontrol” tuberculosis yang telah dimodifikasi untuk
meningkatkan kesembuhan pada individu, keluarga dan kelompok dewasa
tuberculosis. Perawat juga membentuk kelompok pendukung tuberculosis (KKP-
TB) dengan menggerakkan kader kesehatan untuk melanjutkan program Kontrol
TB dan pelacakan kasus tuberculosis di wilayah kelurahan Curug.

30
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
32

30
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Input Proses Output

Manajemen Manajemen
Community As Partner-Family Center - Pembentukan - Peningkatan
Nursing-Manajemen Pelayanan KKP-TB perilaku
Kesehatan: - Pelatihan KKP-TB anggota KKP-
- Supervisi kegiatan TB dalam
KONTROL KKP-TB
- Demografi program
TB “Kontrol“ TB
- Statisik vital
- Etnis
- Nilai/keyakinan
- Lingkungan fisik dan sosial - Pendidikan kesehatan Komunitas
- Lingkungan sosial - Manajemen Nutrisi - Pendidikan Komunitas
- Pelayanan kesehatan dan sosial TB Kesehatan - Peningkatan
 Perencanaan Masalah “Kontrol” TB perilaku kelompok
- Terapi modalitas:
 Pengorganisasian Keperawatan: - Senam dewasa TB dalam
senam pernafasan,
 Personalia Manajemen Pernafasan pada program
batuk efektif
 Pengarahan Komunitas kelompok “Kontrol” TB
- Pemantauan
 Pengawasan Keluarga
Pengobatan dewasa TB
- Ekonomi - Pembentukan
- Transportasi kelompok pendukung
- Politik dan pemerintahan KKP-TB Keluarga
- Komunikasi - Konseling Keluarga - Peningkatan
- Persepsi keluarga - Skrining TB - Pendidikan perilaku keluarga
- Riwayat kesehatan keluarga kesehatan : dalam
- Fungsi perawatan kesehatan perawatan dan melaksanakan
- Stres dan adaptasi koping keluarga pencegahan “Kontrol” TB
- Tingkat Kemandirian Keluarga penularan TB - Peningkatan
- Penerapan keberhasilan
(Anderson & McFarlane, 2004; Friedman, program pengobatan TB
Bowden, & Jones, 2003; Marquis & Huston, -
“Kontrol“ TB Peningkatan
2012; Depkes RI, 2006) kemandirian
- Konseling
keluarga

Gambar 3.1 Skema Kerangka Konsep KIA

32
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
33

3.2 Profil Wilayah Curug

Kelurahan Curug berada pada wilayah kecamatan Cimanggis, kota Depok. Luas
wilayah kelurahan Curug ± 185 Ha. Kelurahan Curug memiliki batas wilayah
sebelah utara adalah kelurahan Cisalak Pasar yang dipisahkan oleh jalan tol
Cijago, sebelah timur kelurahan Sukatani, sebelah selatan kelurahan Sukamaju,
dan sebelah barat kelurahan Cisalak (Jalan Raya Bogor) (Kelurahan Curug,
2012). Kondisi ini menciptakan kelurahan Curug sebagai wilayah yang ramai dan
padat karena letaknya yang sangat strategis dalam mobilitas penduduk.

Jumlah penduduk kelurahan Curug tercatat 15.025 jiwa dengan mayoritas


kelompok umur dewasa. Distribusi persebaran penduduk menurut tingkat
pendidikan yaitu 1.800 jiwa berpendidikan SD, 1.900 jiwa berpendidikan SLTP,
1.285 jiwa berpendidikan SLTA dan 1.146 jiwa berpendidikan akademi dan
universitas. Pekerjaan penduduk paling banyak di wilayah ini adalah pedagang,
selanjutnya adalah PNS, pegawai swasta, TNI/Polri, wiraswasta, dan tukang ojek
(Kelurahan Curug, 2012).

Kelurahan Curug memiliki 11 RW, RW 03 dan RW 09 merupakan daerah


perumahan sedangkan RW yang lain termasuk pemukiman umum. Hampir
semua wilayah di kelurahan Curug termasuk pemukiman padat. Penduduk asli
hidup berbaur dengan penduduk pendatang. Penduduk asli berasal dari suku
Betawi. Penduduk pendatang berasal dari berbagai daerah, mayoritas berasal
dari suku Jawa.

Hasil pengkajian perawat terhadap kelurahan Curug, hampir 40% kepemilikin


rumah berupa rumah sewa/ kontrakan. Bentuk rumah sewa berupa rumah
petakan dan kost yang jaraknya sangat dekat dan padat. Kondisi ini terjadi
karena adanya pabrik, sehingga keberadaan rumah sewa sebagai tempat tinggal
karyawan pabrik yang ada di wilayah Curug. Kepemilikan rumah pribadi
hampir 60% ada di wilayah Curug dengan kondisi padat. Hal ini terjadi karena
wilayah kota Depok sebagai daerah sub urban yang berbatasan langsung dengan
kota Jakarta, menjadikan semua wilayah di kota Depok sebagai tempat tinggal

Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
34

utama bagi penduduk yang bekerja di Jakarta. Bentuk rumah petakan dan kost
mayoritas memiliki sistem sirkulasi udara yang buruk dan pencahayaan yang
kurang. Kondisi ini hampir sama dengan jenis rumah dengan kepemilikan
rumah pribadi, hal ini disebabkan karena mobilitas penghuni rumah yang tinggi
sehingga rumah selalu dalam kondisi tertutup. Kondisi pemukiman yang padat,
sirkulasi udara rumah yang buruk dan pencahayaan yang kurang merupakan
faktor risiko kejadian penyakit tuberculosis (Fatimah, 2008).

Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
35

BAB 4
MANAJEMEN PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
KOMUNITAS PADA AGGREGATE DEWASA TUBERKULOSIS
DI KELURAHAN CURUG

Bab 4 menguraikan tentang analisis situasi manajemen pelayanan keperawatan


komunitas, asuhan keperawatan komunitas dan asuhan keperawatan keluarga.

4.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas


Pada bagian ini memaparkan tentang integrasi fungsi manajemen pelayanan
kesehatan dengan asuhan keperawatan komunitas yang berkaitan dengan penyakit
tuberkulosis pada agregat dewasa. Bagian ini bertujuan untuk menganalisis
permasalahan yang terjadi pada pengendalian penyakit TB mulai dari Dinas
Kesehatan Kota, pelaksanaan operasional kegiatan di Puskesmas Cimanggis dan
wilayah binaan di kelurahan Curug. Tahap ini menggunakan alur proses
keperawatan. Pengkajian diawali dengan pelaksanaan fungsi manajemen
pelayanan kesehatan, selanjutnya merumuskan masalah pelayanan keperawatan
komunitas, menyusun rencana inovasi, melakukan tindakan penyelesaian masalah,
melakukan evaluasi kegiatan serta menyusun rencana tindak lanjut.

4.1.1 Analisis Situasi Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas


Analisis program pengendalian penyakit TB menggunakan pendekatan analisis
fish bone. Proses analisis mencakup 5 fungsi manajemen, yaitu fungsi
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), personalia/ ketenagaan,
pengarahan (directing), dan pengawasan (controlling) (Marquis & Huston, 2003).
Proses analisis dimulai dari Dinas Kesehatan Kota Depok, Puskesmas Cimanggis,
dan wilayah Kelurahan Curug. Hasil analisis program pengendalian penyakit TB
disusun dalam suatu kerangka masalah program dan rumusan masalah. Kerangka
masalah program ini digunakan sebagai pedoman menyusun rencana inovasi dan
pedoman indikator pencapaian hasil dalam pengendalian penyakit TB.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
36

4.1.1.1 Perencanaan (Planning)


a. Visi dan Misi
Penyusunan perencanaan program diawali dengan analisis sinkronisasi visi
misi dinas kesehatan kota Depok dengan unit kerja di bawahnya yaitu
puskesmas Cimanggis. Visi dinas kesehatan kota Depok 2011-2016 adalah
mewujudkan kota Depok sehat dengan layanan kesehatan merata dan
berkualitas. Misi dinas kesehatan kota Depok ada empat yaitu: 1)
meningkatkan pemerataan layanan kesehatan; 2) meningkatkan kualitas
layanan kesehatan untuk semua puskesmas di kota Depok; 3) meningkatkan
kualitas sumber daya termasuk SDM dan pembiayaan; serta 4) meningkatkan
promosi kesehatan dan kualitas lingkungan yang sehat.

Visi puskesmas Cimanggis adalah mewujudkan puskesmas yang mampu


memberikan layanan prima dan menjadi pilihan utama bagi seluruh lapisan
masyarakat tanpa melupakan tugas pokoknya sebagai pembina kesehatan di
wilayahnya. Misi puskesmas Cimanggis yaitu: 1) meningkatkan dan
mengembangkan mutu pelayanan; 2) meningkatkan dan mengembangkan
SDM; 3) meningkatkan dan mengembangkan sumber daya umum (SDU); 4)
meningkatkan jumlah kunjungan; 5) meningkatkan dan mengembangkan
jumlah sarana dan prasarana; 6) meningkatkan dan mengembangkan sistem
pemasaran; 7) meningkatkan dan mengembangkan sistem informasi
manajemen; 8) meningkatkan kemitraan; 9) melaksanakan program pokok;
10) menjadi pusat pembangunan kesehatan di wilayahnya.

Berdasarkan gambaran di atas, sudah ada persamaan visi misi dari dinas
kesehatan kota Depok terhadap unit kerja di bawahnya puskesmas Cimanggis.
Persamaan visi meliputi pemberian layanan kesehatan yang prima ke semua
kalangan masyarakat. Persamaan misi dengan meningkatkan sarana prasarana,
SDM, dan sistem informasi manajemen. Persamaan visi dan misi ini sudah
menggambarkan dukungan untuk program penanggulangan TB, walaupun
tidak dijabarkan secara eksplisit. Dukungan ini meliputi pemberian pelayanan

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
37

prima kepada pasien TB atau suspek TB, meningkatkan sarana dan prasarana
dengan tersedianya laboratorium pemeriksaan dahak dan poli TB.

Perbedaan misi dinas kesehatan kota Depok dengan puskesmas Cimanggis


adalah upaya meningkatkan promosi kesehatan penyakit TB di masyarakat.
Hal ini belum tergambarkan pada misi puskesmas Cimanggis, puskesmas
hanya berusaha meningkatkan jumlah kunjungan, namun belum ada bentuk
promosi kesehatan yang dilakukan di wilayah binaannya. Puskesmas
Cimanggis telah merencanakan untuk melaksanakan enam program pokok
puskesmas, salah salahnya adalah promosi kesehatan, namun program ini
belum berjalan optimal, hanya berfokus pada penerapan PHBS di rumah
tangga. Belum ada kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan di luar
gedung. Kegiatan promosi kesehatan hanya diberikan berupa pendidikan
kesehatan kepada pasien dan keluarga pasien TB saat melakukan pengobatan
dan kontrol ke puskesmas.

Dinas kesehatan kota Depok tidak memiliki visi misi secara khusus dalam
program penanggulangan TB. Program penanggulangan TB mengacu pada
visi kementerian kesehatan RI yang tertuang dalam buku pedoman
penanggulangan TB yaitu menuju masyarakat bebas masalah TB, sehat,
mandiri, dan berkeadilan. Misi penanggulangan TB adalah 1) meningkatkan
pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani dalam
pengendalian TB; 2) menjamin ketersediaan pelayanan TB yang paripurna,
merata, bermutu, dan berkeadilan; 3) menjamin ketersediaan dan pemerataan
sumberdaya pengendalian TB, dan 4) menciptakan tata kelola program TB
yang baik. Perencanaan kegiatan TB di Dinas Kesehatan kota Depok belum
sesuai dengan misi penanggulangan TB secara nasional. Dinas kesehatan kota
Depok belum merencanakan kegiatan yang bersifat pemberdayaan masyarakat
dalam penanggulangan TB. Perencanaan kegiatan masih mengacu pada
pencapaian pelayanan kesehatan bagi penderita TB di UPT/ Puskesmas.
Upaya kemitraan dengan pihak swasta dan sosial juga masih bersifat pasif.
Dinas kesehatan kota Depok selama ini masih bersifat menunggu kerjasama

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
38

dengan pihak swasta dan masyarakat, sehingga program penanggulangan TB


di kota Depok belum berjalan optimal.

b. Tujuan
Tujuan Dinas Kesehatan kota Depok dalam penanggulangan TB berpedoman
pada program TB yang dikeluarkan kementerian RI yaitu menurunkan angka
kesakitan dan kematian akibat TB dalam rangka pencapaian tujuan
pembagunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Perencanaan tujuan ini sudah sesuai dengan program TB yang ada di Dinas
Kesehatan kota Depok, kegiatan ini berupa pelaporan secara rutin angka
kesakitan dan kematian akibat TB yang disampaikan setiap UPT/ Puskesmas
di bawah Dinas Kesehatan kota Depok.

c. Program Kegiatan
Koordinator Program TB di dinas kesehatan kota Depok merencanakan
kegiatan antara lain: 1) Pelatihan TB DOTS; 2) Sosialisasi TB dan MDR TB;
3) Pelacakan (pasien TB yang mangkir, dan resistensi) dan 4) pemberian uang
tranpor kunjungan rumah oleh petugas kesehatan. Pelatihan TB DOTS hanya
berfokus pada petugas kesehatan pemegang program TB di puskesmas, belum
memberikan pelatihan kepada petugas kesehatan di lingkungan RS dan dokter
praktik swasta. Rumah sakit yang telah menerapkan DOTS hanya RSUD kota
Depok, rumah sakit swasta yang lain masih belum menerapkan DOTS.

Puskesmas Cimanggis tidak memiliki perencanaan secara khusus dalam


melaksanakan program TB. Perencanaan program TB di puskesmas
Cimanggis masih difokuskan pada kegiatan rutin yaitu pelayanan program TB
di poli TB dan balai pengobatan. Penjaringan pasien TB masih bersifat pasif,
menunggu pasien yang datang ke puskesmas. Belum ada perencanaan untuk
melakukan kerjasama dengan pihak swasta atau LSM dalam melakukan
penjaringan pasien TB maupun suspek TB di wilayah binaannya. Kegiatan
program TB di puskesmas Cimanggis dilakukan di luar gedung berupa
kunjungan rumah pada pasien TB di wilayah binaan puskesmas yaitu

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
39

kelurahan Curug dan kelurahan Cisalak Pasar. Kunjungan dilakukan untuk


mengevaluasi kepatuhan minum obat pasien TB dan memotivasi anggota
keluarga pasien TB yang tinggal serumah untuk melakukan pemeriksaan
dahak.

Petugas kesehatan di Puskesmas selain melakukan kegiatan pelayanan


kesehatan, melakukan registrasi pasien TB baru/ kambuh setiap satu bulan dan
melaporkan kepada dinas kesehatan untuk dilakukan pendataan. Namun,
registrasi tersebut belum bisa menggambarkan secara langsung kondisi status
pasien (sembuh, gagal, kambuh).

Indikator keberhasilan program penanggulangan TB secara nasional yaitu


angka penemuan kasus baru TB BTA positif (Case Detection Rate/ CDR) dan
angka keberhasilan pengobatan (Success Rate/ SR). Nilai target CDR nasional
adalah 80% (Kemenkes RI, 2013) dan CDR Jawa Barat pada tahun 2012
adalah 77,35% (Profil Kesehatan Jawa Barat tahun 2012). Nilai CDR kasus
TB di kota Depok pada tahun 2012 adalah 57,64 % (Profil Kesehatan Jawa
Barat tahun 2012), di puskesmas Cimanggis mencapai 160% (data Dinkes
kota Depok tahun 2012), dan di kelurahan Curug 66,66% (data Puskesmas
Cimanggis). Angka ini menunjukkan bahwa CDR di kota Depok dan di
kelurahan Curug berada di bawah CDR Propinsi Jawa Barat dan indikator
nasional. Angka SR pada tahun 2012 di kota Depok 96,49% dan di puskesmas
Cimanggis 96,40%.

Data CDR di kelurahan Curug dan kota Depok belum mencapai target
indikator nasional, hal ini dikarenakan perencanaan program TB masih
difokuskan pada kegiatan rutin pelayanan program TB di puskesmas.
Penjaringan pasien TB bersifat pasif, menunggu pasien yang datang ke
puskesmas tanpa promosi kesehatan yang aktif di masyarakat. Hasil
pencapaian CDR puskesmas Cimanggis tahun 2012 160% merupakan data
semua klien TB yang berobat ke puskesmas Cimanggis bukan data dari dua
wilayah kerja puskesmas Cimanggis. Data tersebut berasal dari kelurahan lain

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
40

yang ada disekitar puskesmas Cimanggis yang sebenarnya bukan wilayah


kerja dari Puskesmas Cimanggis.

d. Budgeting
Pembiayaan program TB di dinas kesehatan kota Depok bersumber dari
APBD tingkat I dan II. Pembiayaan ini digunakan untuk pengadaan sarana dan
prasarana, dan menunjang kegiatan operasional. Sedangkan pembiayaan
program TB di puskesmas Cimanggis bersumber dari dana BOK dan dinas
kesehatan kota Depok. Anggaran untuk program pengendalian TB hanya
sampai di tingkat puskesmas, tidak ada anggaran untuk pengendalian TB di
tingkat kelurahan. Anggaran di tingkat kelurahan bersifat sosial.

4.1.1.2 Pengorganisasian
Pengorganisasian program TB di dinas kesehatan kota Depok sudah jelas, namun
belum menerapkan kerjasama lintas program seperti bidang promosi kesehatan.
Sedangkan pengorganisasian program TB di puskesmas Cimanggis meliputi
penyediaan pelayanan pemeriksaan laboratorium, pengobatan dan rujukan ke
puskesmas kecamatan dan rumah sakit.

Organisasi program TB di tingkat kelurahan belum ada. Kegiatan TB bersifat


kesehatan masuk ke dalam kegiatan PKK melalui peran dan tugas Pokja IV yaitu
kesehatan masyarakat. Kegiatannya rutin yang dilakukan berupa kegiatan
posyandu dan posbindu. Belum ada kegiatan khusus terkait program TB yang
dimasukkan ke dalam Pokja IV PKK.

Organisasi kepegawaian di puskesmas masih belum optimal, karena keterbatasan


jumlah SDM sehingga satu petugas kesehatan tidak menangani satu program
tetapi merangkap program lain sehingga penanganan TB tidak maksimal terutama
untuk kunjungan rumah. Hal yang sama juga terjadi di dinas kesehatan kota
Depok, jumlah koordinator pengelola TB berjumlah satu orang sehingga
pelaksanaan rencana kegiatan tidak dapat berjalan sesuai dengan perencanaan.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
41

Organisasi program TB hanya berfungsi dari tingkat dinas dan puskesmas saja
sedangkan di tingkat kelurahan belum tercapai.

4.1.1.3 Personalia (Staffing)


Ketenagaan program TB di Dinas Kesehatan kota Depok berjumlah satu orang.
Menurut pedoman pengendalian TB di tingkat kota/ kabupaten, seorang
supervisior membawahi 10-20 Fasyankes (Kemenkes RI, 2011). Kondisi
ketenagaan ini belum ideal dengan jumlah Fasyankes yang ada di kota Depok.
Fasyankes yang tersebar di kota Depok ada 48 buah yang terdiri dari 32 buah
puskesmas, 1 buah RSUD, 14 buah RS Swasta, dan 1 buah RS TNI/Polri.
Berdasarkan data tersebut, tenaga supervisor TB di Dinas Kesehatan kota Depok
berjumlah minimal dua orang.

Ketenagaan program TB di puskesmas Cimanggis ada satu orang. Tugas


penanggung jawab TB di puskesmas melakukan pelayanan pengobatan di poli
TB, dan kunjungan rumah pada klien TB yang mangkir dan putus obat. Tugas
kunjungan rumah dilakukan pada klien TB yang tinggal di dua wilayah binaan
puskesmas Cimanggis. Saat ini, petugas TB menjalankan dua tanggung jawab
yaitu program TB dan program HIV/AIDS. Selain menjalankan tugas program di
puskesmas, petugas TB memiliki tanggung jawab sebagai bendahara internal
puskesmas. Hasil wawancara dengan kepala tata usaha puskesmas Cimanggis
menyatakan menyadari keterbatasan ketenagaan masih menjadi persoalan dalam
menjalankan pelayanan puskesmas. Puskesmas sudah berusaha dengan
mengajukan permintaan tenaga ke Dinas Kesehatan kota Depok dan BKD, namun
belum direalisasikan. Untuk mengatasi persoalan ketenagaan tersebut, sudah ada
bantuan satu perawat yang membantu pelayanan pengobatan TB dan kunjungan
rumah pasien TB.

Puskesmas Cimanggis termasuk Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM).


Kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih program TB pada PRM terdiri dari
satu dokter, satu perawat/ petugas TB, dan satu laboratorium (Kemenkes RI,
2011). Hasil wawancara dengan penanggung jawab program TB di puskesmas

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
42

menyatakan tidak merasa berat dengan beban kerja yang menjadi tugasnya dan
dapat melaksanakan pelayanan pengobatan TB sesuai jadwal yang telah
direncanakan. Petugas TB di puskesmas Cimanggis memiliki tanggung jawab
kegiatan di luar gedung berupa pembinaan masyarakat pada dua wilayah kerja
yaitu kelurahan Curug dan Cisalak Pasar. Kegiatan yang berjalan di luar gedung
yang terlaksana saat ini adalah kunjungan rumah pada pasien TB yang mangkir
dan putus obat. Kegiatan pembinaan masyarakat belum berjalan, karena
keterbatasan waktu dan luasnya cakupan wilayah yang menjadi binaan
puskesmas. Jumlah RW yang ada di kelurahan Cisalak Pasar ada 8 RW dan di
kelurahan Curug ada 11 RW. Kondisi tersebut berdampak pada kurang
optimalnya pelayanan kesehatan TB di masyarakat dan penemuan kasus TB.

Jenjang pendidikan penanggung jawab TB di Dinas Kesehatan kota Depok dan di


puskesmas Cimanggis adalah diploma keperawatan. Kedua penanggung jawab TB
tersebut sudah mendapatkan pelatihan dasar program TB. Belum ada perencanaan
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Kendala yang ditemukan karena
tidak ada ijin belajar dan tugas belajar dari Badan Kepegawaian Daerah. Padahal
dukungan dari atasan telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk
melanjutkan pendidikan yang sesuai dengan bidang program yang dikelola.

Pada tingkat kelurahan Curug sudah ada tiga orang kader kesehatan yang
mendapatkan pelatihan TB ditingkat kota Depok pada tahun 2006. Hingga saat
ini, mereka belum melakukan kegiatan apapun terkait peran mereka dalam
penemuan kasus TB dan pemantauan pengobatan pasien TB. Selain itu, pelatihan
TB yang telah diperoleh tidak disosialisasikan kepada kader kesehatan yang lain,
sehingga informasi program penanggulangan TB tidak dirasakan oleh seluruh
masyarakat.

4.1.1.4 Pengarahan (Directing)


a. Motivasi
Kegiatan pengarahan terdiri dari motivasi, komunikasi, delegasi dan supervisi
(Marquis & Huston, 2003). Kegiatan motivasi di tingkat dinas kesehatan kota

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
43

Depok berupa dukungan dari pimpinan/ kepala Dinas Kesehatan dan kepala
bidang P2PL kepada kepala seksi P2P dan penanggung jawab program TB
dalam pencapaian target kegiatan program pengendalian penyakit tuberkulosis
yang telah disusun di awal tahun. Dukungan berupa mengingatkan target
waktu pencapaian tujuan program TB. Sedangkan di tingkat puskesmas
Cimanggis tidak ada pemberian motivasi kepada petugas TB dari tingkat dinas
dan dari kepala puskesmas.

b. Komunikasi
Kegiatan komunikasi dari kepala dinas kesehatan kepada kepala seksi P2P dan
penanggung jawab TB bersifat satu arah. Komunikasi ini terjalin apabila ada
kegiatan dari propinsi yang akan diteruskan ke tingkat kota. Di tingkat
puskesmas, komunikasi antara penanggung jawab TB dengan petugas TB di
puskesmas berjalan dua arah. Kegiatan ini terutama terkait dengan pelacakan
kasus TB yang mangkir berobat di RS yang tempat tinggalnya berada di
wilayah petugas puskesmas berada. Komunikasi dari petugas TB puskesmas
ke penanggung jawab TB di dinas terkait dengan penanganan TB dengan efek
samping berat dan penemuan kasus TB dengan kegagalan konversi.

Komunikasi dari tingkat puskesmas ke kelurahan/ kader yang telah


mendapatkan pelatihan TB tidak berjalan. Pelacakan klien TB yang mangkir
dan putus obat dijalankan sendiri oleh petugas TB puskesmas dengan terjun
langsung kunjungan rumah dan bila menemukan kesulitan dalam menekukan
alamat rumah, petugas TB bertanya pada ketua RW/ RT setempat. Namun,
kenyataannya yang lebih banyak berperan dan mengenal anggota warga di
masyarakat adalah kader kesehatan. Petugas TB di puskesmas belum
bekerjasama dengan kader kesehatan di wilayah binaannya sehingga kesulitan
untuk pelacakan kasus TB dan penemuan kasus TB.

c. Delegasi
Pendelegasian tugas TB di tingkat dinas kurang optimal karena jumlah
petugas TB hanya satu orang dan belum ada kerjasama lintas program seperti

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
44

dengan bagian promkes dalam mensosialisasikan program pengendalian


penyakit TB. Pada kegiatan pendelegasian di dinas kesehatan kota Depok, ada
satu atau dua petugas yang berada di bagian P2P yang diminta untuk
memasukkan data kasus TB baru saat koordinator TB tidak ada di tempat,
namun untuk kegiatan lainnya tidak mampu dan harus melakukan koordinasi
langsung kepada koordinator TB. Pendelegasian juga sudah jelas terutama
dalam pelayanan TB secara rutin (pemeriksaan dahak dan kontrol pengobatan)
di puskesmas. Bila petugas pengelola program TB tidak ada, maka akan
dilimpahkan kepada satu atau dua orang perawat dari bagian lain untuk
menggantikannya. Kendalanya kedua perawat tersebut belum mendapatkan
pelatihan TB, sehingga bertugas hanya menjalankan instruksi saja.

Pendelegasian program TB di tingkat kelurahan belum ada. Kegiatan berupa


penemuan kasus TB di tingkat kelurahan dapat dilakukan dengan
menggerakkan masyarakat melalui kader kesehatan yang ada. Namun, belum
ada bentuk kegiatan atau wadah yang menampung kegiatan tersebut.

d. Supervisi
Kegiatan pengarahan di dinkes kota Depok sudah memberikan gambaran yang
jelas terhadap masing-masing pemegang program. Koordinator pengelola
program TB di dinas kesehatan kota Depok telah menjalankan tugasnya sesuai
dengan program kegiatan yang telah direncanakan. Kegiatan rutin yang
dilakukan berupa rekapitulasi jumlah kasus TB baru, sembuh, gagal dan
resisten dari setiap laporan bulanan atau triwulan puskesmas. Namun, kendala
yang ditemukan adalah belum semua puskesmas melakukan pelaporan secara
lengkap dan rutin sehingga menyulitkan untuk melakukan pendataan. Jarak
tempuh yang jauh terkadang menyulitkan pengiriman laporan, rencana di
tahun 2014 akan menggalakkan sosialisasi sistem informasi manajemen
berupa pengiriman laporan dengan menggunakan sistem berbasis web.
Namun, banyak kendala yang ditemukan terkait belum semua petugas
kesehatan mampu mengoperasikan komputer.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
45

Kegiatan supervisi dari dinas kesehatan ke puskemas belum optimal. Kegiatan


supervisi dilakukan setahun sekali kepada beberapa puskesmas, sehingga
supervisi tidak berjalan kontinyu. Topik supervisi masih bersifat administratif
yaitu melihat kelengkapan pelaporan. Belum ada kegiatan supervisi dan
standar operational prosedur (SOP) untuk mengevaluasi kinerja petugas
kesehatan saat memberikan layanan kesehatan TB.

4.1.1.5 Pengawasan (Controling)


Fungsi pengawasan program pengendalian TB dinas kesehatan kota Depok belum
menjalankan proses monitoring dan evaluasi (Monev) dengan baik karena belum
adanya SOP Monev yang baku sebagai indikator penilaian kinerja petugas
kesehatan. Monev hanya tentang kelengkapan pelaporan jumlah kasus TB.

Hasil wawancara dengan petugas TB di dinas kesehatan kota Depok


menyampaikan bahwa monitoring dan evaluasi hanya dilakukan satu kali setahun
untuk validasi data per wilayah/ puskesmas. Menurut pedoman pengendalian TB
monitoring dan evaluasi ke fasilitas pelayanan kesehatan dilakuakan sekurang-
kurangnya 3 bulan sekali (Kemenkes RI, 2011).

Kegiatan Monev yang dilakukan oleh pihak puskesmas berupa pemantauan


pengobatan TB dan kunjungan rumah. Kunjungan rumah hanya dilakukan satu
kali saja pada satu pasien TB yang bertempat tinggal di wilayah binaan
puskesmas. Pemantauan pengobatan TB berpedoman pada jadwal kontrol untuk
pengambilan obat, sehingga pemantauan pengobatan setiap hari tidak
teridentifikasi. Kendala yang ditemukan adalah pasien TB yang melakukan
pengobatan banyak yang berasal di luar wilayah binaan puskesmas Cimanggis
sehingga sulit untuk dilakukan pemantauan dan kunjungan rumah.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
46

4.1.2 Analisa Masalah


Berdasarkan uraian data tentang pelaksanaan fungsi manajemen pelayanan
kesehatan program TB di kelurahan Curug wilayah kerja Puskesmas Cimanggis
kota Depok, maka analisis masalah digambarkan dengan fish bone untuk
merumuskan masalah manajemen pelayanan kesehatan program TB.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
47
PERENCANAAN PENGORGANISASIAN PERSONALIA
Belum ada Blm ada Blm semua Belum
perencanaan Risiko Blm ada optimalnya
kerjasama lintas kader kesehatan
pemberdayaan terhambatnya Sosialisasi penemuan
sektor program mendapatkan
masyarakat dlm program pencegahan dan kasus TB di
pengendalian TB pelatihan TB
pengendalian TB pengendalian pengendalian TB masyarakat
1. Belum optimalnya di Puskesmas
TB
perencanaan
program kegiatan Blm ada Blm ada Blm adanya Beban kerja
Kurangnya
masyarakat pada perencanaan pengorganisasian organisasi berat, shg keg di
Risiko SDM di
kelompok dewasa promosi program masyarakat luar gedung tdk
peningkatan Puskesmas
tuberkulosis kesehatan di pengendalian TB peduli TB di berjalan optimal
2. Belum ada organisasi kasus TB Kel. Curug
masyarakat di tingkat
masyarakat peduli Belum semua Pelayanan TB
kelurahan
tuberkulosis di kurang optimal,
SDM program
wilayah kelurahan hanya berdasarkan
Curug TB mendapatkan
pelatihan dasar instruksi
3. Belum optimalnya
peran kader dalam TB
pengendalian Tidak
Sistemada
danpemantauan
format
Proses Kunjungan
tuberkulosis keteraturan pengobatan
pendelegasian
rumah belum
klien TB pelaporan di sekolah
4. Belum efektifnya TB setiap hari
komunikasi petugas terlihat dilakukan 1 kali belum ada
TB puskesmas Proses kederisasi Evaluasi hanya
dengan kader Supervisi program tingkat puskesmas
kesehatan Kompetensi petugas menunggu laporan
TB tidak berjalan dan sekolah belum Tidak di
5. Pelaksanaan TB dalam pelayanan Monev program kunjungan
adekuat efektif diketahuinya
monitoring dan TB kurang optimal TB belum Puskesmas
evaluasi program optimal hambatan
tuberculosis belum PKPR di sekolah Evaluasi
pelaksanaan
optimal Belum efektifnya belum berjalan pelaksanaan
program TB PKPR
Sulit melacak kasus TBmandiri
secara di tingkat sekolah
pendelegasian petugas
putus obat sehingga belum dilakukan
TB puskesmas dengan
menurunkan angka
kader kesehatan
kesembuhan (SR)

PENGARAHAN PENGAWASAN

Gambar 4.1 Diagram masalah manajemen pelayanan kesehatan kelompok dewasa dengan tuberkulosis

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
48

4.1.3 Diagnosis Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas


Berdasarkan analisis fish bone, diagnosis manajemen pelayanan keperawatan
komunitas sebagai berikut:
1. Belum optimalnya perencanaan program kegiatan masyarakat pada kelompok
dewasa tuberkulosis
2. Belum ada organisasi masyarakat peduli tuberkulosis di wilayah kelurahan
Curug
3. Belum optimalnya peran kader kesehatan dalam pengendalian tuberkulosis
4. Belum optimalnya komunikasi petugas TB puskesmas dengan kader
kesehatan
5. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi program tuberkulosis belum optimal

Selanjutnya diagnosis manajemen pelayanan keperawatan komunitas di atas,


dilakukan prioritas masalah berdasarkan dengan menggunakan metode Paper and
Pencil Tool yang tertera pada Ervin (2002). Setelah dilakukan skoring, diagnosis
manajemen pelayanan kesehatan komunitas yang dibahas pada laporan ini hanya
dua diagnosis dengan nilai total tertinggi. Prioritas masalah manajemen pelayanan
keperawatan komunitas terlampir

Diagnosis manajemen pelayanan keperawatan komunitas yang muncul


berdasarkan kriteria prioritas masalah adalah:
1. Belum ada organisasi masyarakat peduli tuberkulosis di wilayah kelurahan
Curug
2. Belum optimalnya komunikasi petugas TB puskesmas dengan kader
kesehatan

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
49

4.1.4 Penyelesaian Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan


Komunitas
4.1.4.1 Masalah Manajemen 1: Belum ada organisasi masyarakat peduli
tuberkulosis di wilayah kelurahan Curug
a. Tujuan Umum
Setelah intervensi keperawatan selama 8 bulan diharapkan ada organisasi
masyarakat peduli TB di wilayah kelurahan Curug
b. Tujuan Khusus
1. Terbentuk Kelompok Kader kesehatan Peduli Tuberkulosis (KKP-TB)
2. Terselenggara kegiatan pelatihan tuberkulosis bagi kader kesehatan di
kelurahan Curug
3. Terjadi peningkatan pengetahuan KKP-TB tentang program “Kontrol”
TB
4. Terjadi peningkatan keterampilan KKP-TB dalam melakukan program
“Kontrol” TB
5. Terjadi peningkatan sikap KKP-TB dalam melakukan program “Kontrol”
TB
6. Terjadi peningkatan keterampilan KKP-TB dalam deteksi kasus TB dan
melakukan rujukan kasus TB
7. Adanya komitmen untuk melaksanakan program KKP-TB
8. Peningkatan angka penemuan kasus TB

c. Rencana intervensi
Rencana intervensi untuk menanggulangi masalah 1 yaitu : 1) Sosisalisasi
pembentukan organisasi peduli TB; 2) Pembentukan KKP-TB di RW 06 dan
RW 07; 3) Pelatihan program “Kontrol” TB bagi anggota KKP-TB; 4)
Kegiatan KKP-TB; 5) Pendampingan dan penilaian KKP-TB dalam
pelaksanaan program “Kontrol” TB dan deteksi kasus TB; 6) Ciptakan
komitmen untuk melaksanakan program Kontrol TB

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
50

d. Pembenaran
Kelompok peduli TB merupakan salah satu bentuk social support group yang
bertujuan untuk mendukung klien TB menjalani pengobatannya sehingga
teratur minum obat (Pander, Murdaugh, & Parsons, 2002). Dukungan kepada
klien TB berasal dari individu yang memiliki kepedulian terhadap
tuberkulosis. Kelompok peduli TB terdiri dari kader kesehatan yang telah
mendapatkan pelatihan edukasi TB. Pemilihan kader kesehatan sebagai
anggota kelompok peduli TB karena kader kesehatan merupakan anggota
masyarakat yang bekerja secara sukarela dalam membantu program
penanggulangan TB (Depkes RI, 2009).

Kelompok peduli atau pendukung TB efektif dalam upaya penemuan kasus


TB di masyarakat. Pembentukan kelompok peduli TB ini sudah
dikembangkan di kelurahan Pasir Gunung Selatan dan Cisalak Pasar, kota
Depok. Anggota kelompok peduli TB berasal dari kader kesehatan yang telah
mendapatkan pelatihan TB sehigga memiliki keterampilan dalam melakukan
deteksi kasus dan memberikan edukasi TB kepada keluarga klien TB serta
anggota masyarakat. Penerapan kegiatan kelompok peduli TB meningkatkan
CDR di keluarahan Pasir Gunung Selatan yang awalnya 20% menjadi 85,7%
(Rejeki, 2012). Kegiatan inovasi kelompok peduli TB di kelurahan Cisalak
Pasar berhasil melakukan pemantauan pengobatan TB sehingga klien TB
teratur minum obat (Solihin, 2014).

Peran kelompok peduli TB adalah memberikan edukasi TB kepada keluarga


klien TB dan masyarakat, berperan sebagai PMO, memotivasi anggota
keluarga untuk melakukan pemeriksaan dahak, memotivasi anggota keluarga
untuk mendukung pengobatan penderita TB dan penemuan kasus TB (Depkes
RI, 2009; Kemenkes RI, 2011; Putra, Rosa, Rasyid, 2001; Acha, Sweetland,
Guerra, Chalco, Castillo, Palacios, 2007). Pemberian edukasi TB kepada
masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
tentang TB sehingga masyarakat dapat mendeteksi lebih dini tentang penyakit
TB dan memutuskan penularan TB.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
51

e. Implementasi masalah manajemen 1


Implementasi untuk mengatasi masalah manajemen 1 yaitu 1) Pelatihan
tuberkulosis bagi kader kesehatan di kelurahan Curug; 2) Pembentukan KKP-
TB di RW 06 dan RW 07; 3) Sosialisasi kegiatan KKP-TB dalam melakukan
program Kontrol TB; 4) Pelatihan program Kontrol TB pada anggota KKP-
TB; 5) Supervisi kemampuan anggota KKP-TB melakukan program Kontrol
TB, program deteksi kasus TB dan melakukan rujukan kasus TB; 6)
Pelaksanaan kegiatan KKP-TB secara mandiri dilakukan dengan
pendampingan mahasiswa residen

f. Evaluasi
1. Kegiatan pelatihan tuberkulosis bagi kader kesehatan di kelurahan Curug
telah terlaksana selama 2 hari. Kehadiran kader kesehatan dalam pelatihan
lebih dari 80 % dari jumlah undangan. Peserta kader yang diundang
sebanyak 4 orang dari setiap posyandu. Jumlah posyandu ada 15 di
Kelurahan Curug. Jadi, jumlah kader kesehatan yang diundang 60 orang.
Jumlah peserta yang hadir 50 orang. Persentase kehadiran peserta 83,3%.
Nilai ini sudah melampaui target kriteria keberhasilan pelatihan. Peserta
pelatihan TB berasal dari kader posyandu karena peran kader posyandu
lebih aktif dibandingkan kader posbindu.
2. Kriteria keberhasilan pelatihan TB juga dilihat dari peningkatan
pengetahuan kader kesehatan. Terdapat peningkatan pengetahuan kader
kesehatan 14,7% tentang tuberkulosis, pencegahan tuberkulosis, dan peran
kader dalam upaya pencegahan TB di masyarakat. Rerata pengetahuan
kader kesehatan sebelum pelatihan 75,5 dan sesudah pelatihan 88,5.
3. Terbentuknya Kelompok Kader kesehatan Peduli Tuberkulosis (KKP-TB)
di RW 06 (8 orang) dan RW 07 (8 orang)
4. Tersusun struktur organisasi KKP-TB di RW 06 dan RW 07
5. Terjadi peningkatan pengetahuan anggota KKP-TB sebelum dan sesudah
kegiatan Kontrol TB sebesar 11,2%. Hasil uji statistik (Paired T-Test)

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
52

menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pengetahuan anggota KKP-


TB sebelum dan sesudah kegiatan Kontrol TB dengan nilai p = 0.000
Tabel 4.1
Distribusi Pengetahuan Anggota KKP-TB Sebelum dan Sesudah
Intervensi “Kontrol” TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok
tahun 2014
Inisial RW Nilai Pengetahuan Peningkatan Status
Kader Sebelum Sesudah (%)
K1 6 8 10 20% Meningkat
K2 6 7 9 22,2% Meningkat
K3 6 9 10 10% Meningkat
K4 6 8 9 11,1% Meningkat
K5 6 9 10 10% Meningkat
K6 6 7 9 22,2% Meningkat
K7 6 7 9 22,2% Meningkat
K8 6 9 10 10% Meningkat
K9 7 10 10 0% Tetap
K10 7 10 10 0% Tetap
K11 7 8 9 11,1% Meningkat
K12 7 10 10 0% Tetap
K13 7 8 9 11,1% Meningkat
K14 7 8 9 11,1% Meningkat
K15 7 9 10 10% Meningkat
K16 7 7 8 12,5% Meningkat
Rata-rata 8,38 9,44 11,2%

Berdasarkan tabel 4.1 diatas, ada 3 anggota KKP-TB dengan status


peningkatan pengetahuan tetap. Nilai yang dicapai pada anggota KKP-TB
tersebut sudah mencapai nilai pengetahuan maksimal dari sebelum dan
sebelum intervensi.
6. Terjadi peningkatan sikap anggota KKP-TB sebelum dan sesudah kegiatan
“Kontrol” TB sebesar 5,6%. Hasil uji statistik (Paired T-Test)
menunjukkan ada perbedaan yang signifikan sikap anggota KKP-TB
sebelum dan sesudah kegiatan Kontrol TB, dengan nilai p = 0,000

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
53

Tabel 4.2
Distribusi Sikap Anggota KKP-TB Sebelum dan Sesudah
Intervensi “Kontrol” TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota
Depok tahun 2014
Inisial RW Nilai Sikap Peningkatan Status
Kader Sebelum Sesudah (%)
K1 6 21 23 8,7% Meningkat
K2 6 20 20 0% Tetap
K3 6 22 23 4,3% Meningkat
K4 6 21 23 8,7% Meningkat
K5 6 22 24 8,3% Meningkat
K6 6 20 22 9,1% Meningkat
K7 6 22 23 4,3% Meningkat
K8 6 21 23 10% Meningkat
K9 7 23 23 0% Tetap
K10 7 20 21 4,8% Meningkat
K11 7 20 20 0% Tetap
K12 7 23 24 4,2% Meningkat
K13 7 22 22 0% Tetap
K14 7 20 23 13% Meningkat
K15 7 20 22 9,1% Meningkat
K16 7 20 21 4,8% Meningkat
Rata-rata 21,06 22,31 5,6%

Berdasarkan tabel 4.2 di atas, ada 4 anggota KKP-TB dengan status


peningkatan sikap tetap. Hal ini menunjukkan ada 4 anggota KKP-TB
yang tidak menunjukkan perubahan sikap setelah diberikan intervensi
“Kontrol” TB.
7. Keterampilan KKP-TB dalam melakukan penyuluhan, deteksi dan
rujukan kasus TB dilakukan pada 10 anggota KKP-TB. Hasil evaluasi
menunjukkan bahwa nilai rata-rata melakukan penyuluhan 23,5.
Anggota KKP-TB yang memiliki kemampuan melakukan penyuluhan
dengan kategori kurang ada 4 orang.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
54

Tabel 4.3
Distribusi Keterampilan Anggota KKP-TB Melakukan
Penyuluhan dan Deteksi Rujukan Kasus “Kontrol” TB di
Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun 2014
Inisial RW Melakukan Penyuluhan Deteksi dan Rujukan
Kader Kasus TB
Nilai Kategori Nilai Kategori
K1 6 25 Baik 16 Baik
K3 6 26 Baik 17 Baik
K4 6 23 Kurang 13 Kurang
K2 6 20 Kurang 13 Kurang
K7 6 20 Kurang 15 Kurang
K9 7 27 Baik 18 Baik
K12 7 24 Baik 16 Baik
K15 7 20 Kurang 14 Kurang
K11 7 25 Baik 16 Baik
K10 7 25 Baik 16 Baik
Rata- 23,5 15,4
rata

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, keterampilan KKP-TB dalam deteksi


kasus TB dan melakukan rujukan kasus TB dengan rata-rata 15,4.
Anggota KKP-TB yang memiliki kemampuan deteksi dan melakukan
rujukan kasus TB dengan kategori kurang atau di bawah rata-rata ada
4 orang.
8. Semua anggota KKP-TB bersedia menandatangani pernyataan
kesediaan menjadi anggota kelompok peduli TB dan menjalankan
kegiatan KKP-TB
9. Terjaring 7 kasus tersangka TB yang ditemukan anggota KKP-TB
10. Ada 3 kasus yang dinyatakan positif TB

g. Hambatan
1. Kemampuan kader melakukan penyuluhan bervariasi sehingga ada
beberapa kader yang belum percaya diri untuk dilakukan supervisi
2. Kemampuan kader melakukan kunjungan rumah dan keterampilan
berkomunikasi untuk deteksi kasus TB masih kurang karena belum
percaya diri

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
55

3. Kegiatan anggota KKP-TB untuk pemantauan program “Kontrol” TB


tidak berjalan rutin karena kesibukan anggota KKP-TB dengan kegiatan
rumah tangga dan kegiatan di masyarakat
4. Belum ada inisiatif dari anggota KKP-TB untuk melakukan pertemuan
secara mandiri

h. Rencana Tindak Lanjut


1. Puskesmas Cimanggis
a. Membuat kesepakatan pertemuan KKP-TB secara rutin tiga bulan
sekali untuk melakukan penyegaran materi TB dan supervisi
keterampilan kader dalam melakukan penyuluhan dan deteksi kasus
TB
b. Membuat kesepakatan antara puskesmas dengan anggota KKP-TB
untuk pembuatan laporan hasil pemantauan program “Kontrol” TB tiga
bulan sekali dan dilaporkan kepada puskesmas serta pemberian
feedback dari puskesmas
2. Kader Kesehatan/ Anggota KPP-TB
a. Meningkatkan keterampilan penyuluhan, teknik komunikasi saat
deteksi kasus dan rujukan kasus dengan berlatih secara terus menerus
dengan pendampingan teman KKP-TB yang lebih mampu atau dengan
petugas TB dari puskesmas
b. Membuat kesepakatan jadwal kunjungan rumah antar anggota KKP-
TB untuk pemantauan program “Kontrol” TB
c. Berkoordinasi kesediaan melakukan kunjungan rumah antara anggota
KKP-TB apabila ada anggota KKP-TB yang terjadwal berhalangan
untuk melakukan kunjungan rumah
d. Ketua KKP-TB mempelopori kegiatan pertemuan KKP-TB secara
rutin tiga bulan sekali dengan didampingi petugas TB dari puskesmas

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
56

4.1.4.2 Masalah Manajemen 2: Belum optimalnya kerjasama dan


komunikasi petugas TB puskesmas dengan kader kesehatan untuk
deteksi kasus TB dan pelacakan kasus TB
a. Tujuan Umum
Setelah intervensi keperawatan selama 8 bulan diharapkan ada kerjasama dan
komunikasi untuk deteksi kasus TB dan pelacakan kasus TB

b. Tujuan Khusus
1. Terbentuk struktur jaringan komunikasi antara petugas TB Puskesmas,
petugas kesehatan wilayah Curug dan kader kesehatan yang telah
mendapatkan pelatihan TB
2. Terlacaknya klien TB yang mangkir dan putus obat di wilayah kelurahan
Curug
3. Melakukan rujukan kasus mangkir dan putus obat kepada petugas
kesehatan wilayah Curug dan petugas TB Puskesmas
4. Ada rujukan kasus TB 25% dari 5 kasus mangkir dan putus obat yang ada
di wilayah Curug
5. Kunjungan rumah klien TB yang mangkir dan putus obat oleh petugas TB
Puskesmas dan melakukan melanjutkan pengobatan

c. Rencana intervensi
Rencana intervensi untuk menanggulangi masalah 2 yaitu : 1) Sosisalisasi
kader kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan TB; 2) Membentuk
penanggung jawab program TB di setiap RW Kel. Curug; 3) Membentuk
uraian tugas pokok dan fungsi dari penanggung jawab TB di setiap RW Kel.
Curug; 4) Kerjasama dan koordinasi program TB dari petugas TB Puskesmas
kepada petugas kesehatan wilayah Curug; 4) Fasilitasi pendampingan dan
supervisi dari petugas TB dalam kegiatan KKP-TB

d. Pembenaran
Pendelegasian adalah pemindahan tanggung jawab dalam melakukan tugas
dari satu orang ke orang lain (ANA, 1996 dalam Marquis & Huston, 2003).

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
57

Pendelegasian dilakukan karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan oleh


satu orang. Tugas petugas kesehatan TB di puskesmas Cimanggis dilakukan
dalam bentuk kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung. Kegiatan di dalam
gedung berupa kegiatan rutin pemberian obat TB, pemberian formulir
pemeriksaan dahak, dan pemeriksaan pada kasus baru TB. Kegiatan di luar
gedung adalah kunjungan rumah pada kasus TB dan pelacakan kasus TB
mangkir dan putus obat. Petugas kesehatan TB kesulitan mengatur waktu
untuk melakukan kegiatan di luar gedung.

Kegiatan petugas kesehatan TB di luar gedung berupa kunjungan rumah dan


pelacakan kasus TB memerlukan pendelegasian tugas kepada individu yang
kompeten (Marquis & Huston, 2003; Gillies, 1994). Pendelegasian ini dapat
diberikan kepada kader kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan TB.
Bentuk pendelegasian dilakukan dengan menunjuk seorang penanggung jawab
penemuan kasus TB di setiap RW. Tugas penanggung jawab diuraikan secara
jelas dan tertulis untuk memperkuat tugasnya dalam penemuan kasus TB.

Kerjasama merupakan satu bentuk partisipasi aktif dan adanya keterlibatan


semua pihak untuk perubahan ke arah kesehatan komunitas (Shanhope &
Lancaster, 2004). Kegiatan kerjasama dapat diselenggarakan antar program,
lintas sektor, kerjasama sektor dengan organisasi profesi, organisasi sosial
masyarakat, LSM, media massa dan swasta. Bentuk kegiatan kerjasama yang
sesuai dengan masalah manajemen ke dua ini adalah kerjasama antar program.
Kerjasama dilakukan antara program TB dengan program petugas kesehatan
di wilayah Kel. Curug. Kegiatan petugas kesehatan di wilayah Kel. Curug
banyak berhubungan dengan kegiatan di luar gedung seperti kegiatan rutin
posyandu dan posbindu. Kegiatan ini banyak berinteraksi dengan kader
kesehatan di setiap RW Kel. Curug. Sehingga dengan melakukan kerjasama
antar program ini, tentu akan memberikan manfaat positif kepada petugas TB
dalam penemuan kasus TB dan pelacakan kasus TB mangkir.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
58

e. Implementasi masalah manajemen 2


Implementasi untuk mengatasi masalah manajemen 2 yaitu 1) Sosisalisasi
kader kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan TB. Kegiatan ini dilakukan
dengan memberikan nama kader kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan
TB kepada petugas kesehatan TB Puskesmas; 2) Membentuk penanggung
jawab program TB di setiap RW Kel. Curug. Kegiatan ini berupa penunjukan
satu nama kader kesehatan yang bertanggung jawab sebagai penerima delegasi
kegiatan penemuan kasus TB dari petugas kesehatan TB Puskesmas; 3)
Memaparkan tugas pokok dan fungsi dari penanggung jawab TB secara verbal
dan tertulis saat kegiatan Rapat Koordinasi bulanan di Kel.Curug; 4)
Kerjasama dan koordinasi program TB dari petugas TB Puskesmas kepada
petugas kesehatan wilayah Curug. Kegiatan ini berupa komunikasi dua arah
antara petugas TB dengan petugas kesehatan TB dalam penemuan kasus TB
yang mangkir dan putus obat; 4) Fasilitasi pendampingan dan supervisi dari
petugas TB dalam kegiatan KKP-TB

f. Evaluasi
1. Petugas kesehatan TB di Puskesmas mendapatkan data nama-nama kader
kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan TB
2. Terbentuk struktur jaringan komunikasi petugas kesehatan TB di
Puskesmas dengan penanggung jawab TB di setiap RW Kel. Curug
3. Keterlibatan petugas TB puskesmas dalam kegiatan role play pemberian
penyuluhan oleh anggota KKP-TB di RW 06 pada 1 kali kegiatan
4. Teridentifikasi 1 klien TB yang putus obat dan melakukan rujukan kasus
TB ke petugas TB di Puskesmas

g. Hambatan
1. Petugas kesehatan di Kelurahan Curug tidak bersedia bekerjasama dengan
petugas kesehatan TB dalam penemuan kasus TB di wilayah Curug,
karena upaya penemuan kasus TB bukan tugasnya
2. Belum ada keterlibatan petugas TB puskesmas dalam kegiatan supervisi
keterampilan deteksi kasus dan rujukan kasus TB pada kegiatan KKP-TB,

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
59

karena jadwal kegiatan petugas TB berhalangan dengan pertemuan KKP-


TB

h. Rencana Tindak Lanjut


1. Puskesmas Cimanggis
Melakukan advokasi berupa dengar pendapat dan diskusi bersama dengan
melibatkan kepala puskesmas terkait kerjasama penemuan kasus TB
dengan petugas kesehatan di wilayah Curug
2. Anggota KKP-TB
Membuat kesepakatan waktu antara anggota KKP-TB dengan petugas TB
Puskesmas secara berkala 3 bulan sekali

4.2 Asuhan Keperawatan Komunitas


4.2.1 Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan pada pengkajian ini menggunakan variabel pada model
Community as Partner, Family Center Nursing dan konsep penyakit TB (gejala,
pengobatan, perawatan dan pencegahan TB). Instrumen pengkajian dalam bentuk
kuisioner, lembar observasi lingkungan rumah pasien TB, pedoman wawancara
untuk kader kesehatan dan petugas TB di puskesmas. Lembar kuisioner diisi
langsung oleh pasien TB dan keluarga sedangkan lembar observasi diisi oleh
mahasiswa.

4.2.2 Analisis Situasi


Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh 14 klien TB yang tersebar di wilayah Kel.
Curug. Klien TB terbagi menjadi dua kelompok, 10 klien menjalani pengobatan
TB di Puskesmas Cimanggis dan 4 klien TB menjalani pengobatan di dokter
praktik swasta. Jenis kelamin pasien TB terbanyak adalah laki-laki (71,4%).
Alamat tempat tinggal pasien TB terbanyak ada di RW 06. Tingkat pendidikan
pasien TB adalah SD 14,3%, SMP 50%, dan SMA 35,7%. Pekerjaan yang dijalani
pasien TB beragam, yaitu: buruh (28,6%), pegawai swasta (28,6%), ibu rumah
tangga (14,3%) dan lain-lain (sebagai mahasiswa) 7,1%. Penghasilan keluarga
dengan dewasa TB < Rp 2.042.000: 78,6%.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
60

Perilaku kelompok dewasa TB mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan


dalam perawatan, pengobatan dan pencegahan TB. Pengetahuan dewasa TB
tentang perawatan, pengobatan dan pencegahan penyakit TB sudah baik yang
ditandai dengan 50% dewasa TB memiliki pengetahuan baik dan 50% memiliki
pengetahuan kurang baik. Sikap dewasa TB dalam melakukan perawatan,
pengobatan dan pencegahan TB sudah sangat baik, terbukti memiliki sikap positif
57,1%. Sedangkan kebiasaan dewasa TB dalam menerapkan perawatan,
pengobatan dan pencegahan TB masih kurang baik 57,1%. Pasien TB masih ada
yang belum menerapkan cara kontrol infeksi dengan benar seperti etika batuk dan
membuang dahak. Ada juga pasien TB yang tidak teratur minum obat, masih ada
yang terlambat minum obat 1-2 hari dan lupa kontrol untuk melakukan
pengambilan obat di puskesmas atau dokter praktik swasta. Perilaku
ketidakteraturan minum obat tersebut menyebabkan timbulnya masalah
keperawatan komunitas adalah regimen pengobatan tidak efektif dan risiko
peningkatan kasus MDR-TB

Hasil windshield survey perawat di wilayah kelurahan Curug menunjukkan


kondisi pemukiman yang padat. Hampir di setiap RW jarak antar rumah
berdekatan dan banyak terdapat rumah kontrakan. Rata-rata rumah kontrakan
berbentuk rumah petakan yang memiliki sistem sirkulasi udara yang buruk dan
pencahayaan yang kurang. Hasil observasi perawat pada kondisi lingkungan
rumah pasien TB di kelurahan Curug menunjukkan 86% ruang keluarga dan
kamar tidur gelap dan hal ini divalidasi dengan pernyataan pasien TB tidak pernah
membuka jendela kamar dan ruang keluarga. Kondisi ini menyebabkan tidak ada
sirkulasi udara di dalam rumah dan hawa udara menjadi pengap serta lembab.
Lingkungan rumah yang gelap, pengap dan lembab merupakan lingkungan yang
baik untuk pertumbuhan kuman TB (Kemenkes RI, 2011). Berdasarkan uraian
kondisi lingkungan di kelurahan Curug dan lingkungan rumah klien TB tersebut
menunjukkan risiko penularan TB kepada keluarga dan masyarakat. Risiko
penularan TB juga dapat terjadi karena perilaku klien TB yang berpindah-pindah
tempat tinggal.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
61

Pola kebiasaan pasien TB yang mempengaruhi kesembuhan TB yaitu 1)


menyatakan setiap hari merokok 28,6% dan menyatakan kadang-kadang merokok
42,9%; 2) menyatakan berolahraga seminggu sekali 64,3%; 3) menyatakan makan
bergizi dengan menyediakan lauk pada menu makanan 50%; 4) menyatakan
minum OAT secara teratur 100%; dan menyatakan selalu membersihkan rumah
dan kamar 71,4%. Ada juga persepsi yang salah dari pasien TB yang menyatakan
bahwa terlambat minum obat TB tidak mempengaruhi kesembuhan TB 21,4%.
Kondisi ini dapat menimbulkan masalah ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan
pada kelompok dewasa TB.

Hasil wawancara dengan 6 orang pasien TB menyatakan memiliki keluhan batuk


berdahak lebih dari 2 minggu. Mereka menganggap batuk berdahak sebagai batuk
biasa. Upaya awal yang dilakukan dengan membeli obat di warung, ke dokter
umum, dan ke bidan. Namun, upaya awal tersebut tidak menyembuhkan pasien,
bahkan bertambah parah hingga terjadi penurunan berat badan secara drastis.
Gejala TB bertambah parah setelah mengeluhkan batuk berdarah, selanjutnya
pasien TB memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit dan puskesmas. Namun,
ada juga pasien TB yang menganggap batuk berdarah tersebut karena penyakit
magic atau diguna-guna, sehingga tidak segera ke pelayanan kesehatan tetapi
mencari pengobatan ke dukun. Persepsi yang salah tentang penyakit TB dapat
mempengaruhi proses kesembuhan klien dan dapat terjadi kekambuhan serta
resistensi pengobatan TB

Kondisi klien TB selama menjalani pengobatan TB: 1) kurang nafsu makan


42,8%; 2) badan lemah 35,7%; 3) batuk 57,2%; dan 4) sesak nafas 57,2%.
Kondisi ini dapat memperlambat proses kesembuhan. Oleh karena itu, klien TB
harus menerapkan pola hidup sehat seperti makan makanan yang bergizi,
berolahraga, menghindari stress dan berhenti merokok. Bila klien TB masih tetap
menerapkan pola hidup kurang sehat dapat menimbulkan masalah
ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan pada kelompok dewasa TB.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
62

Mayoritas pasien TB belum mengetahui cara kontrol infeksi yang baik dan benar.
Empat orang pasien TB belum menerapkan cara membuang dahak dengan baik,
masih membuang dahak disembarang tempat dan ada pula yang tidak
menggunakan masker saat batuk. Dua orang pasien TB menyatakan pernah
terlambat minum obat 1-2 hari dan terlambat mengambil obat ke puskesmas.
Alasannya karena sibuk bekerja dan tidak mendapatkan ijin dari tempat bekerja
untuk ke puskesmas. Ada juga yang menyatakan karena sudah merasa sembuh
sehingga tidak melanjutkan kembali pengobatannya hingga tuntas.

Hasil wawancara dengan ketua kader kesehatan Kel. Curug, sudah ada 3 orang
kader kesehatan yang mendapatkan pelatihan TB. Pelatihan tersebut diberikan
pada tahun 2006. Namun, belum pernah melakukan upaya deteksi dini penyakit
TB pada warga di Kel. Curug. Menurut pernyataan ketua kader kesehatan
Kel.Curug, setelah kader kesehatan mendapatkan pelatihan, jarang membagikan
informasi terkait TB kepada kader kesehatan yang lain, sehingga informasi
tersebut tidak tersosialisasikan. Padahal, ada program dari puskesmas terkait
pemberdayaan kader kesehatan dapat memberikan surat keterangan rujukan
kepada pasien suspek TB ke puskesmas. Tindakan tersebut akan mendapatkan
biaya transport apabila hasil pemeriksaan pada pasien suspek TB menunjukkan
BTA positif.

Belum ada program atau tindakan yang dilakukan kader kesehatan dalam
penanggulangan TB. Kegiatan kader kesehatan saat ini hanya terfokus pada
kegiatan posyandu dan posbindu. Belum ada wadah khusus untuk
penanggulangan TB di masyarakat.

Hasil wawancara dengan petugas TB Puskesmas Cimanggis menyatakan program


TB di puskemas hanya berfokus pada pengobatan di poli paru seperti kontrol
pengobatan. Kegiatan di luar gedung dilakukan dengan melakukan kunjungan
rumah pada pasien TB. Namun, kendala yang sering ditemukan adalah sulitnya
melacak rumah pasien TB yang menggunakan alamat tidak tetap seperti pasien
yang tinggal di kontrakan atau tidak jujur menyatakan alamat tempat tinggal saat

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
63

ini. Kunjungan rumah dilakukan satu kali saja pada pasien TB dan tindakan
keperawatan yang dilakukan berupa penyuluhan kesehatan kepada anggota
keluarga serta memotivasi anggota keluarga yang tinggal satu rumah untuk
melakukan pemeriksaan dahak. Perawat pengelola pasien TB menyatakan tidak
ada kunjungan lanjutan pada pasien TB untuk mengawasi pengobatan dan
kepatuhan minum obat. Hal ini terjadi karena terbatasnya jumlah tenaga kesehatan
yang bertugas untuk melakukan kunjungan rumah.

Kendala kepatuhan pengobatan TB terjadi pada pasien TB yang mendapatkan


pengobatan di dokter praktik swasta dan rumah sakit. Kondisi ini menyebabkan
pengawasan pengobatan TB tidak berjalan aktif dan lancar. Karena belum semua
dokter praktik swasta dan rumah sakit di Depok yang belum menerapkan strategi
DOTS.

Masalah keperawatan pada kelompok dewasa TB dapat disusun dengan


menggunakan Web of Caution (WOC) untuk menegakkan diagnosis keperawatan
komunitas. Diagram WOC pada kelompok dewasa TB di Kel. Curug adalah
sebagai berikut

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
64

Regimen pengobatan TB Persepsi yang


kurang efektif salah tentang
pengobatan TB
Risiko terjadinya
penyakit tuberkulosis

Risiko peningkatan kasus Risiko penularan TB


Belum ada upaya MDR-TB
penanggulangan TB
di masyarakat

Ketidakefektifan Risiko kekambuhan pada


pemeliharaan kesehatan klien TB

Pola hidup tidak sehat

Gambar 4.2 WOC Asuhan Keperawatan Komunitas pada kelompok dewasa TB

Berdasarkan WOC di atas, masalah keperawatan komunitas adalah


1. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan pada kelompok dewasa TB di
kelurahan Curug
2. Risiko peningkatan kasus MDR-TB pada kelompok dewasa TB di
kelurahan Curug
3. Risiko penularan TB pada masyarakat di kelurahan Curug
4. Risiko kekambuhan pada klien TB di kelurahan Curug
5. Regimen pengobatan TB kurang efektif di kelurahan Curug

Selanjutnya dilakukan prioritas masalah berdasarkan enam komponen


penilaian yaitu 1) kesadaran masyarakat terhadap masalah, 2) motivasi
masyarakat untuk menyelesaikan masalah, 3) kemampuan masyarakat untuk
menyelesaikan masalah; 4) tersedianya fasilitas di masyarakat; 5) derajat

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
65

keparahan masalah; 6) waktu untuk menyelesaikan masalah (Stanhope &


Lancaster, 2004). Setiap komponen penilaian diberikan nilai skor beratnya
masalah dengan rentang 1-10 dan setiap komponen penilaian diberikan kriteria
ranking 1-10. Kemudian nilai skor beratnya masalah dikalikan dengan nilai
kriteria ranking sehingga mendapatkan nilai komponen prioritas diagnosis.
Semua nilai komponen prioritas dijumlahkan sehingga menghasilakan nilai
total prioritas. Nilai total prioritas yang paling besar merupakan prioritas
masalah yang akan diatasi terlebih dahulu. Prioritas masalah keperawatan
komunitas terlampir.

Diagnosis keperawatan komunitas yang muncul berdasarkan kriteria prioritas


masalah adalah:
1. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan pada kelompok dewasa TB di
Kel. Curug
2. Risiko penularan TB pada masyarakat di Kel. Curug

4.2.3 Penyelesaian Masalah Asuhan Keperawatan Komunitas


4.2.3.1 Masalah Keperawatan Komunitas 1: Ketidakefektifan pemeliharaan
kesehatan pada kelompok dewasa TB di Kel. Curug
a. Tujuan umum:
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 8 bulan, pemeliharaan
kesehatan di Kel. Curug meningkat

b. Tujuan khusus:
1. Terjadi peningkatan pengetahuan penyakit TB pada warga di RW 06
2. Terjadi penurunan RR klien TB sebelum dan sesudah dilakukan senam
pernafasan
3. Mengungkapkan secara verbal perubahan positif setelah melakukan senam
pernafasan pada klien TB

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
66

c. Rencana Tindakan
1. Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat di Kel. Curug
tentang penyakit dan penanganan TB
2. Demonstrasi senam pernafasan bersama di RW 06
3. Penyebaran leaflet TB di seluruh RW di Kel. Curug

d. Pembenaran
Pendidikan kesehatan merupakan upaya persuasi atau pembelajaran kepada
masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatannya. Pendidikan kesehatan merupakan strategi
penting dalam asuhan keperawatan komunitas, karena pendidikan kesehatan
merupakan upaya transformasi pengetahuan tertentu dari perawat kepada
masyarakat (Stanhope & Lancaster, 2004; Allender, Rector, & Warner, 2010).
Pendidikan kesehatan dapat memperbaiki persepsi klien TB tentang penyakit
tuberkulosis sehingga klien TB dapat mengubah perilakunya untuk
menerapkan pola hidup sehat (Yani, Isaramalai, Kritpracha, 2012).

Metode pendidikan kesehatan dengan melakukan demonstrasi bertujuan


mengubah tindakan/ psikomotor masyarakat dari tidak mampu menjadi
mampu melakukan kegiatan kesehatan sesuai harapan (Allender, Rector, &
Warner, 2010). Demonstrasi senam pernafasan diharapkan dapat memberikan
gambaran tentang prosedur atau langkah-langkah pelaksanaan senam
pernafasan kepada masyarakat. Demonstrasi senam pernafasan lebih
meyakinkan masyarakat karena dapat ditiru dan dibuktikan langsung
manfaatnya. Sehingga masyarakat termotivasi untuk menerapkan sendiri
prosedur demonstrasi senam pernafasan.

Menurut Pander, Murdaugh, Parsons (2002), peningkatan dan pemeliharaan


kesehatan seseorang dapat dicapai melalui aktivitas fisik, salah satunya adalah
melakukan senam. Senam pernafasan adalah gerakan senam yang berfokus
pada penguatan otot-otot pernafasan dan memulihkan fungsi paru-paru
(Rejeki, 2012). Gerakan tubuh yang difokuskan pada olah pernafasan

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
67

bertujuan mempercepat pemulihan dan menguatkan otot paru serta


melonggarkan saluran pernafasan.

e. Pelaksanaan
1. Memberikan pendidikan kesehatan TB kepada warga di RW 06 pada saat
kegiatan pengajian dan posyandu. Pendidikan kesehatan ini dilakukan
sebanyak 6 kali. Pada kegiatan pengajian ada di 3 wilayah yaitu RT 01 dan
RT 04, RT 03, dan RT 02. Pada kegiatan posyandu dilakukan sebanyak 3
kali pada bulan Pebruari, Maret, dan April. Jumlah total warga di RW 06
yang mendapatkan pendidikan kesehatan TB adalah 78 orang
2. Melakukan demonstrasi senam pernafasan setiap hari Jumat pagi di RW
06. Kegiatan senam pernafasan dilakukan sebanyak 12 kali dengan
didampingi anggota KKP-TB di RW 06. Klien TB yang hadir sangat
sedikit (1 atau 2 orang saja), peserta senam pernafasan paling banyak
berasal dari warga RW 06
3. Melakukan demonstrasi senam pernafasan setiap hari Rabu pagi di aula
Puskesmas Cimanggis sebanyak 6 kali. Senam pernafasan ini mulai
dilaksanakan pada bulan Maret. Kegiatan ini untuk mendukung kegiatan
senam pernafasan yang kurang efektif berjalan di RW 06, sehingga
penerapan senam pernafasan untuk klien TB lebih tepat sasaran. Jumlah
total klien TB yang mengikuti senam pernafasan 39 orang.

f. Evaluasi
1. Terjadi peningkatan pengetahuan pada masyarakat di RW 06 sebelum dan
sesudah penyuluhan TB 20,48% (rerata nilai pre post 6,64 dan rerata nilai
post test 8,35). Hasil uji statistic di dapatkan nilai p value 0.000, maka
dapat disimpulkan adanya perbedaan yang signifikan pengetahuan
masyarakat sebelum dan sesudah penyuluhan TB
2. Terjadi penurunan RR pada klien TB sebelum dan sesudah mengikuti
senam pernafasan di Puskesmas 0,73% (rerata nilai sebelum senam
pernafasan 21,95 dan rerata sesudah senam pernafasan 21,79). Hasil uji
statistic didapatkan nilai p value 0.000, maka dapat disimpulkan adanya

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
68

perbedaan yang signifikan nilai RR sebelum dan sesudah melakukan


senam pernafasan
3. Hasil wawancara dengan klien TB yang mengikuti senam pernafasan
mengungkapkan bahwa dada terasa lebih ringan dan badan terasa lebih
bugar

g. Hambatan
1. Kesulitan untuk mengumpulkan klien TB yang ada di kelurahan Curug
untuk kegiatan senam pernafasan bersama, karena distribusi klien TB
menyebar di seluruh RW kelurahan Curug sehingga jarak tempuh untuk
tempat senam pernafasan di RW 06 jauh. Alasan ketidakhadiran klien TB
di RW 06 untuk mengikuti senam pernafasan karena jadwal kegiatan
senam di pagi hari, hal tersebut berhalangan dengan waktu bekerja dan
mengurus RT.
2. Kesulitan untuk mengumpulkan klien TB yang berasal dari kelurahan
Curug untuk datang pada kegiatan senam pernafasan karena jadwal senam
pernafasan tidak sesuai dengan jadwal pengambilan obat
3. Kurangnya sosialisasi senam pernafasan di aula puskesmas pada pasien
TB di wilayah Curug

h. Rencana tindak lanjut:


1. Sosialisasi kegiatan senam pernafasan dengan menggunakan media poster
atau X-banner untuk menginformasikan kepada klien TB tentang kegiatan
senam pernafasan
2. Melanjutkan kegiatan senam pernafasan dengan instruktur petugas TB
sebelum jadwal pengambilan obat selama 20 menit
3. Bekerjasama dengan puskesmas untuk mengatur jadwal pengambilan obat
klien TB di Curug bertepatan dengan jadwal senam pernafasan

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
69

4.2.3.2 Masalah Keperawatan Komunitas 2: Risiko penularan TB pada


masyarakat di Kel. Curug
a. Tujuan umum
Setelah intervensi keperawatan selama 8 bulan diharapkan tidak terjadi
penularan TB pada masyarakat di Kel. Curug

b. Tujuan khusus
1. Terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap upaya pencegahan penularan
TB pada warga di RW 06
2. Peserta penyuluhan mampu memperagakan kembali cara pencegahan
penularan TB
3. Teridentifikasi rumah yang berisiko terjadinya TB

c. Rencana Tindakan
a. Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang upaya
pencegahan penyakit TB
b. Demonstrasikan cara pencegahan TB (manajemen dahak, manajemen
batuk dan cuci tangan)
c. Penyebaran leaflet TB di seluruh RW di Kel. Curug
d. Melakukan skrining rumah risiko TB pada saat jadwal jumantik bersama
anggota KKP-TB

d. Pembenaran:
Manajemen dahak, batuk dan cuci tangan merupakan cara untuk mengontrol
penyebaran patogen dari individu yang terinfeksi (WHO, 2007). Penularan
penyakit tuberkulosis melalui media udara berupa percikan batuk atau bersin
dapat menularkan secara langsung kepada setiap orang (Depkes RI, 2008).
Oleh karena itu, diperlukan pengendalian penularan penyakit dari individu
yang terinfeksi dan orang yang berisiko terpapar dengan kuman TB/ individu
yang terinfeksi.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
70

Manajemen cuci tangan juga merupakan cara untuk membersihkan tangan dari
kuman, kotoran dan mikroorganisme. Perilaku cuci tangan merupakan
indikator perilaku hidup bersih dan sehat (Depkes RI, 2008). Cuci tangan yang
benar adalah dengan menggunakan sabun dan dibilas pada air yang mengalir.
Sabun berfungsi membunuh dan melepaskan mikroorganisme yang menempel
di tangan sedangkan air mengalir berfungsi melepaskan dan mengalirkan
mikroorganisme. Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun dapat
menguranngi angka diare sebanyak 45% dan mampu menurunkan kasus ISPA
serta flu burung hingga 50% (CDC, 2008).

Skrining kesehatan merupakan salah satu strategi dalam upaya pencegahan


penyakit. Strategi ini masuk ke dalam upaya pencegahan sekunder. Pada tahap
pencegahan sekunder, awal masalah kesehatan timbul ataupun belum tampak
tetapi memiliki risiko untuk timbulnya penyakit (Fertman & Allensworth,
2010; Pander, Murdaugh, & Parsons, 2002). Contoh upaya pencegahan
sekunder adalah deteksi dini dan skrining kesehatan. Skrining kesehatan pada
rumah yang berisiko terjadi penyakit tuberkulosis sesuai diterapkan untuk
mencegah penularan TB di wilayah RW 06. Skrining rumah berisiko TB ini
ditujukan kepada rumah dengan ventilasi udara yang kurang dan kurang
mendapatkan pencahayaan matahari langsung (Fatimah, 2008).

e. Pelaksanaan
1. Memberikan pendidikan kesehatan tentang upaya pencegahan penularan
TB kepada warga di RW 06 pada saat kegiatan pengajian di RT 01 dan RT
04.
2. Melakukan demonstrasi manajemen dahak dan cara batuk santun. Evaluasi
dilakukan dengan meminta dua orang peserta penyuluhan melakukan
peragaan kembali teknik manajemen dahak dan batuk santun
3. Menyebarkan leaflet PHBS dan teknik cuci tangan kepada peserta
penyuluhan

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
71

4. Skrining rumah yang berisiko terjadinya penyakit TB di RW 06. Kegiatan


ini dilakukan bersamaan dengan jadwal pemeriksaan jentik. Kegiatan ini
dilakukan dua kali pada bulan Maret dan April.

f. Evaluasi
1. Terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap pada masyarakat di RW 06
sebelum dan sesudah penyuluhan pencegahan penularan TB 4,5% (rerata
nilai pre test 16,05 dan rerata nilai post test 16,81). Hasil uji statistic di
dapatkan nilai p value 0.000, maka dapat disimpulkan adanya perbedaan
yang signifikan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah penyuluhan
pencegahan penularan TB
2. Peserta yang mendapatkan kesempatan memperagakan kembali cara batuk
santun dan cara pembuatan pembuangan dahak sudah mampu
melakukannya dengan benar
3. Teridentifikasi 4 rumah warga di RW 06 yang memiliki sistem sirkulasi
udara tidak sehat dan pencahayaan rumah yang kurang. Kemudian
keluarga diberikan penyuluhan kesehatan oleh kader kesehatan untuk
melakukan pencegahan TB dengan modifikasi lingkungan rumah.

g. Hambatan
Kegiatan skrining rumah yang berisiko terjadinya TB tidak dilakukan secara
rutin karena keterbatasan jumlah anggota kader

h. Rencana Tindak Lanjut


Membuat kesepakatan jadwal skrining setiap bulan untuk satu wilayah RT,
sehingga kader kesehatan dan anggota KKP-TB yang terlibat lebih banyak

4.3 Asuhan Keperawatan Keluarga


Pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga di kelurahan Curug dilakukan pada 10
keluarga dengan kelompok dewasa tuberkulosis. Pengelolaan asuhan keperawatan
keluarga ini dilakukan pada dua periode, yaitu pembinaan 5 keluarga dilakukan

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
72

pada bulan Oktober 2013 sampai Januari 2014 dan 5 keluarga selanjutnya pada
bulan Pebruari sampai Mei 2014.

Asuhan keperawatan keluarga pada dewasa TB dilakukan dengan pendekatan


Family Center Nursing. Pada tahap pengkajian difokuskan pada identifikasi
kondisi lingkungan rumah, struktur keluarga, fungsi keluarga, stresor dan koping
keluarga serta lima tugas perawatan keluarga dalam merawat anggota keluarga
dengan TB.

Berikut ini diuraikan ringkasan asuhan keperawatan keluarga Bpk A yang


dipandang berhasil setelah dilakukan intervensi keperawatan keluarga.

4.3.1 Analisis Situasi


Asuhan keperawatan keluarga dilakukan pada keluarga Bpk A (31 tahun).
Keluarga Bpk A adalah keluarga inti yang terdiri dari Ibu W (30 tahun) dan An. N
(2 tahun). Saat pengkajian berlangsung Bpk A baru menjalani pengobatan TB
selama 1 minggu. Bpk A datang ke puskesmas dengan keluhan batuk berdahak
selama sebulan, sesak nafas, kurang nafsu makan, dan terjadi penurunan berat
badan. Menurut Kemenkes RI (2011), pedoman nasional pengendalian
tuberkulosis Indonesia, gejala utama TB adalah batuk berdahak selama lebih dari
2-3 minggu. Gejala utama TB tersebut memperjelas diagnosis TB pada Bpk A.

Hasil pemeriksaan dahak menunjukkan BTA positif. Selanjutnya Bpk A


menjalani pengobatan TB kategori 1 selama 6 bulan. Pengobatan TB kategori 1
diberikan kepada pasien baru dengan BTA positif, pasien baru BTA negatif
dengan foto toraks positif, dan pasien TB ekstraparu (Kemenkes RI, 2011).
Pengobatan kategori 1 terdiri dari dua tahap yaitu fase intensif selama 2 bulan dan
fase lanjutan selama 4 bulan. Bentuk obat yang diberikan adalah kemasan obat
kombinasi dosis tetap (KDT). Dosis obat KDT sudah sesuai berdasarkan rentang
dosis yang telah ditentukan oleh WHO dalam batas dosis terapi dan non toksik
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011).

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
73

Hasil pemeriksaan fisik Bpk A adalah tekanan darah 130/80 mmHg dan RR: 32
x/menit. Pemeriksaan sistem pernafasan Bpk A terlihat retraksi otot-otot
pernafasan dan terdengar suara ronkhi di bagian kiri dan kanan lobus atas. Bapak
A kesulitan mengeluarkan dahak sehingga frekuensi nafas menjadi cepat dan
dangkal. Dahak tersebut merupakan mekanisme infiltrasi kuman TB ke dalam
alveolus. Kuman TB difagosit dan dimakan oleh makrofag sehingga membentuk
koloni berbentuk globular yang disebut tuberkel. Tuberkel ini mengandung
sputum/ dahak (Prince & Wilson, 2006). Pada pasien yang memiliki daya tahan
tubuh yang lemah, produksi tuberkel semakin banyak dan menimbulkan batuk
berdahak secara terus-menerus. Kondisi ini menghambat proses pernafasan
sehingga tubuh meresponsnya dengan meningkatkan frekuensi nafas (DeLaune &
Ladner, 2011).

Berdasarkan kondisi tersebut, masalah keperawatan yang sesuai dengan Bpk A


adalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Hal ini terjadi karena
ketidakmampuan Bapak A untuk membersihkan sekresi dari saluran nafas untuk
mempertahankan bersihan jalan nafas (NANDA, 2011).

Hasil observasi lingkungan rumah Bpk A terlihat berantakan, berdebu dan kotor.
Barang-barang tidak tertata dengan baik. Sirkulasi udara di rumah Bpk A kurang
sehat, karena Bpk A jarang membuka jendela dan pintu rumah. Sumber cahaya
dan ventilasi rumah Bpk A hanya dapat diperoleh dari jendela dan pintu di depan
rumah. Rumah Bpk A menghadap ke timur, namun karena di depan rumah ada
rumah tetangga, hal ini mengakibatkan rumah Bpk A kurang mendapatkan cahaya
matahari secara langsung. Rumah Bpk A terdiri dari dua kamar, satu ruang tamu,
satu dapur dan satu kamar mandi. Kedua kamar Bpk A kurang cahaya dan
lembab. Ada ventilasi di setiap kamar namun kurang mendapatkan sirkulasi udara
dan cahaya karena tertutup tembok rumah tetangga. Kondisi rumah Bpk A
tersebut sebagai faktor risiko timbulnya TB dan penularan TB kepada anggota
keluarga yang lain. Menurut Pertiwi (2004), lingkungan fisik rumah dengan
cahaya kurang, kondisi rumah yang lembab dan ventilasi rumah yang kurang baik
dapat meningkatkan kejadian tuberkulosis.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
74

Ibu W mengatakan belum mengetahui jenis penyakit yang dialami suaminya. Ibu
W hanya mengetahui Bpk A sakit batuk. Ibu W belum mengetahui penyakit Bpk
A memerlukan pengobatan selama 6 bulan. Bpk A belum menjelaskan hal
tersebut kepada istrinya, terkait penularan dan pengobatan yang akan dijalani. Bpk
A sudah mendapatkan informasi tentang penyakit TB tentang pengobatan dan
penularannya kepada anggota keluarga yang lain. Petugas TB di Puskesmas
menyarankan Bpk A untuk mengajak istri dan anaknya pemeriksaan dahak dan
mantoux tes, namun Bpk A belum bersedia dengan alasan belum ada waktu
mengantarkan anak dan istrinya.

Bapak A jarang menggunakan masker selama di rumah padahal Bpk A banyak


berinteraksi dengan An. N. Saat bekerja pun Bpk A mengungkapkan jarang
menggunkan masker. Bpk A selama bekerja membuang dahak di tisu dan
mengumpulkannya di plastik. Saat istirahat dan pulang, plastik tersebut dibuang di
tempat sampah. Bila di rumah, Bpk A membuang dahak ke lubang WC dan segera
menyiramnya.

Perilaku Bpk A jarang menggunakan masker selama di rumah berisiko


menularkan percikan batuk kepada An. N dan Ibu. W. Percikan batuk yang
mengandung kuman TB dapat terbang dengan jarak kurang lebih 3 meter.
Percikan batuk tersebut dapat dikurangi dengan sirkulasi udara yang baik melalui
ventilasi rumah (Kemenkes RI, 2011). Usia muda seperti An. N sangat berisiko
tertular TB karena daya tahan tubuh yang rendah dan organ tubuhnya belum
berfungsi maksimal (Depkes RI, 2009). Oleh karena itu, masalah keperawatan
yang sesuai dengan keluarga Bpk A adalah risiko penularan TB pada anggota
keluarga yang kontak serumah.

Hasil pemeriksaan fisik Bpk A menunjukkan berat badan 40 kg dan tinggi badan
160 cm. Menurut rumus indeks masa tubuh, status gizi Bpk A termasuk ke dalam
kategori gizi buruk. Keadaan umum Bpk A lemah dan kurus. Bpk A mengeluhkan
kurang nafsu makan, sehingga jumlah makanan yang dikonsumsi sangat sedikit.
Masalah keperawatan yang sesuai dengan kondisi Bpk A tersebut

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
75

ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh. Asupan nutrisi Bapak A


tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya (NANDA, 2011). Hal ini
mengakibatkan Bpk A lemah dan tidak mampu melakukan aktivitasnya sehari-
hari.

Berdasarkan hasil pengkajian di atas, disusun WOC untuk menentukan masalah


keperawatan pada keluarga Bpk A dengan masalah tuberkulosis adalah

Risiko klien
tidak bekerja/
ekonomi rendah

Aktifitas untuk
melakukan kegiatan
sehari-hari rendah Risiko kehilangan
kekuatan keluarga

Intoleransi
aktifitas Risiko penularan
TB terhadap
kontak serumah
Kelemahan

Kondisi sanitasi
Ketidakefektifan
Nutrisi kurang yang tidak
bersihan jalan
dari kebutuhan memenuhi syarat
nafas
tubuh kesehatan

Gambar 4.3 WOC Asuhan Keperawatan Keluarga dengan TB

4.3.2 Masalah asuhan keperawatan keluarga:


Diagnosis keperawatan yang muncul berdasarkan penapisan yang perawat
lakukan adalah
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada Bpk A
b. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh pada Bpk
A

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
76

4.3.3 Penyelesaian masalah pengelolaan Asuhan keperawatan keluarga

4.3.3.1 Masalah 1: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada Bpk A


a. Tujuan umum:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 12 minggu, masalah
jalan nafas Bpk A teratasi

b. Tujuan khusus:
Setelah pertemuan 6 x 45 menit, keluarga mampu:
1. Mengenal masalah tuberkulosis dengan menjelaskan pengertian TB,
penyebab TB, tanda dan gejala TB, cara penularan TB, mengidentifikasi
anggota keluarga dengan masalah TB
2. Memutuskan untuk merawat anggota keluarga dengan tuberkulosis,
menyebutkan akibat lanjut TB, mengungkapkan keinginan untuk merawat
anggota keluarga dengan TB
3. Merawat anggota keluarga dengan intervensi “Kontrol” TB yaitu
mendemonstrasikan cara batuk efektif, cara membuang dahak yang benar,
membuat larutan klorin penampungan dahak, inhalasi sederhana dan
senam pernafasan.
4. Memodifikasi lingkungan dalam perawatan TB dengan cara melakukan
modifikasi lingkungan untuk mengurangi masalah bersihan jalan nafas
5. Memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk pengobatan TB

c. Rencana tindakan keperawatan:


1. Pendidikan kesehatan menjelaskan tentang pengertian TB, penyebab TB,
tanda dan gejala TB, cara penularan TB, mengidentifikasi anggota
keluarga dengan masalah TB dan akibat lanjut TB bila tidak diobati
2. Coaching tindakan keperawatan cara mengurangi batuk dan sesak nafas
dengan batuk efektif, inhalasi sederhana dan senam pernafasan
3. Demonstrasi cara pembuatan larutan klorin pembuangan dahak dan
edukasi cara membuang dahak yang benar

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
77

4. Diskusi dengan keluarga cara memodifikasi lingkungan rumah untuk


mengurangi masalah bersihan jalan nafas
5. Memotivasi untuk patuh menjalani kontrol dan pengobatan TB di
puskesmas secara teratur. Pemantauan kepatuhan pengobatan TB
dilakukan dengan meminta Bpk A dan keluarga mengisi kartu pengingat
minum obat yang diberikan oleh perawat. Kartu tersebut wajib diisi oleh
Bpk A setiap kali minum obat.

d. Pembenaran
Salah satu peran perawat sebagai edukator. Pemberian pendidikan kesehatan
merupakan proses yang aktif berbagi informasi kesehatan kepada klien/
keluarga dengan tujuan perubahan perilaku (Edelman & Mandle, 2010).
Pendidikan kesehatan bertujuan untuk membantu individu/ keluarga mencapai
status kesehatan yang optimum melalui tindakan mereka sendiri. Perawat
mengajarkan sesuatu tentang kesehatan sesuai dengan kebutuhan klien/
keluarga (DeLaune & Ladner, 2011). Pemberian pendidikan kesehatan tentang
tuberkulosis sesuai dengan kebutuhan klien/ keluarga. Informasi tentang
gejala penyakit tuberkulosis sebagai dasar pemahaman klien untuk mengatasi
masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas.

Coaching atau bimbingan merupakan proses belajar intensif melalui


bimbingan perorangan, demonstrasi, dan praktik yang diikuti dengan
pemberian umpan balik segera (Depkes RI, 2004). Tujuan coaching adalah
meningkatkan, mengembangkan, dan memantapkan kualitas khususnya
keterampilan dan sikap dalam melaksanakan atau menerapkan materi
pembelajaran atau prosedur, misalnya prosedur batuk efektif, inhalasi
sederhana dan senam pernafasan.

e. Pelaksanaan
TUK 1-2 dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan dengan
menggunakan lembar balik dan leaflet bersama-sama dengan keluarga
mendiskusikan pengertian, penyebab, cara penularan TB, tanda dan gejala,

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
78

dan akibat lanjut TB bila tidak diobati. Selanjutnya perawat memberikan


kesempatan keluarga mengidentifikasi penyebab TB, cara penularan TB,
identifikasi anggota keluarga dengan tanda dan gejala TB, serta
mengidentifikasi tindakan yang telah dilakukan oleh keluarga untuk mengatasi
masalah TB. Kemudian, respons perawat terhadap jawaban keluarga dengan
memberikan pujian atas kemampuan keluarga menjelaskan dan menjawab
pertanyaan yang telah diberikan. Evaluasi pengetahuan keluarga tentang apa
yang telah dijelaskan oleh perawat dan memberikan motivasi kepada keluarga
untuk mengambil keputusan dalam menghindari akibat lanjut TB

TUK 3-4 dilakukan dengan mendemonstrasikan cara perawatan untuk


mengatasi masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas dengan menerapkan
“Kontrol” TB yang salah satu intervensinya melakukan senam pernafasan.
Selain senam pernafasan, perawat mendemonstrasikan cara batuk efektif dan
inhalasi sederhana. Senam pernafasan diajarkan sebanyak 8 kali pertemuan.
Perawat juga melakukan demonstrasi pembuatan larutan klorin untuk tempat
pembuangan dahak dan teknik pembuangan dahak yang benar. Selanjutnya,
perawat memberikan kesempatan keluarga untuk redemonstrasi setiap cara
perawatan untuk mengurangi masalah bersihan jalan nafas tersebut.
Kemudian, perawat memberikan reinforcement positif atas kemampuan
keluarga memperagakan dengan benar cara batuk efektif, inhalasi sederhana
dan senam pernafasan. Modifikasi lingkungan rumah dilakukan dengan
mendiskusikan bersama-sama keluarga cara yang efektif untuk mencegah dan
mengurangi masalah bersihan jalan nafas. Memberikan masukan kepada
keluarga untuk menjaga kebersihan rumah dan kamar setiap hari.

TUK 5 dilakukan dengan mengunjungi puskesmas secara teratur untuk


pengambilan obat dan kontrol evaluasi perkembangan kesehatan. Pemantauan
minum obat Bpk A dilakukan dengan mengsisi kartu pengingat minum obat
sesuai dengan tahap pengobatannya. Pengisian kartu pengingat minum obat ini
didampingi keluarga dan dipantau oleh perawat dan anggota KKP-TB.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
79

f. Evaluasi
1) Keluarga Bpk A mampu menyebutkan tanda dan gejala TB, cara penularan
TB, penyebab TB, akibat lanjut apabila TB tidak segera diobati, dan cara
perawatan TB dengan masalah bersihan jalan nafas. 2) Keluarga Bpk A
mampu memperagakan cara batuk efektif, inhalasi sederhana dan senam
pernafasan. Bpk A melakukan senam pernafasan setiap hari pada pagi hari.
Evaluasi sistem pernafasan Bpk A setelah melakukan senam pernafasan, Bpk
A merasakan lebih mudah mengeluarkan dahak dan keluhan sesak nafas
berkurang. Hasil pemeriksaan fisik Bpk A setelah 6 minggu melakukan senam
pernafasan adalah RR 28 x/menit. 3) Keluarga Bpk A mampu memodifikasi
lingkungan rumah dengan membersihkan rumah secara teratur setiap hari dan
melakukan kegiatan buka jendela pada pagi hari. 4) Keluarga mampu
memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan cara rutin mengambil obat TB dan
kontrol di puskesmas.

g. Hambatan
1 Bpk A tidak rutin melakukan senam pernafasan. Selama 2 minggu di awal,
Bpk A setiap hari melakukan senam pernafasan. Namun, setelah dua
minggu, kegiatan senam pernafasan tidak teratur dilakukan. Hal ini
disebabkan Bpk A sudah mulai aktif bekerja, sehingga sulit untuk
meluangkan waktu melakukan senam pernafasan
2 Bpk A tidak teratur mengisi kartu pengingat minum obat. Padahal obat
yang diminum sudah dilakukan. Hal ini terjadi karena Bpk A sering lupa
mengisi kartu pengingat minum obat

h. Rencana Tindak Lanjut


1. Membuat kesepakatan dengan keluarga dan Bpk A untuk melanjutkan
senam pernafasan setiap hari. Membuat tabel jadwal senam pernafasan dan
diari senam pernafasan
2. Mendelegasikan pada keluarga dan anggota KKP-TB di RW 07 untuk
memantau pengobatan TB Bpk A

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
80

4.3.3.2 Masalah 2: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


pada Bpk A
a. Tujuan umum:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 12 minggu, terpenuhinya
kebutuhan nutrisi pada keluarga Bpk A

b. Tujuan khusus:
Setelah pertemuan 4 x 45 menit, keluarga mampu;
1. Mengenal masalah gizi kurang dengan menjelaskan pengertian gizi
seimbang, menyebutkan penyebab gizi kurang pada masalah kesehatan
TB, tanda dan gejala gizi kurang, dan mengidentifikasi anggota keluarga
dengan risiko gizi kurang
2. Memutuskan untuk merawat anggota keluarga dengan gizi kurang dengan
cara menyebutkan akibat lanjut gizi kurang dan menyatakan keinginan
untuk merawat anggota keluarga dengan gizi kurang
3. Merawat anggota keluarga dengan untuk mengatasi masalah gizi kurang
dengan cara menyusun menu gizi seimbang bersama-sama keluarga,
pemantauan berat badan setiap sebulan sekali
4. Mampu memodifikasi lingkungan rumah untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi dengan cara membuat modifikasi menu gizi seimbang yang kaya
protein, karbohidrat dan zat besi
5. Memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk melakukan penanganan masalah
nutrisi

c. Rencana tindakan keperawatan


1. Pendidikan kesehatan menjelaskan tentang pengertian gizi kurang,
penyebab gizi kurang, tanda dan gejala gizi kurang dan mengidentifikasi
keluarga dengan risiko gizi kurang
2. Coaching tentang modifikasi menu gizi seimbang untuk klien TB dengan
konsep tinggi protein, tinggi karbohidrat dan tinggi zat besi.
3. Observasi peningkatan berat badan setiap sebulan sekali

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
81

d. Pembenaran:
Pemberian pendidikan kesehatan tentang penyebab dan akibat kurang gizi
pada klien TB bertujuan agar keluarga mengenal dan mampu menyediakan
gizi yang seimbang untuk klien TB sehingga proses kesembuhan pasien TB
menjadi lebih optimal. Pendidikan kesehatan adalah proses belajar yang dapat
meningkatkan pengetahuan seseorang. Pendidikan kesehatan yang diberikan
kepada individu dan keluarga lebih efektif meningkatkan perilaku kesehatan
dibandingkan dalam bentuk ceramah dengan jumlah peserta banyak (Murti,
Prabandari, Riyanto, 2006). Hal ini disebabkan karena interaksi pada saat
memberikan penyuluhan bersifat dua arah dan dengan komunikasi non formal
sehingga keluarga lebih mudah memahaminya. Selain itu, tempat memberikan
pendidikan kesehatan beraada di rumah Bpk A sendiri sehingga proses
interaksi saat penyuluhan lebih nyaman dan terbuka (. Bpk A dan keluarga
tidak ragu-ragu untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan yang
disampaikan perawat.

e. Pelaksanaan
TUK 1-2 memberikan pendidikan kesehatan dengan lembar balik dan leaflet
menjelaskan tentang gizi kurang, penyebab gizi kurang pada klien TB, tanda
dan gejala gizi kurang dengan menghitung IMT untuk kelompok usia dewasa,
akibat lanjut apabila masalah gizi kurang pada klien TB tidak segera diatasi.
Selanjutnya, perawat memberikan kesempatan kepada keluarga untuk
mengidentifikasi penyebab, tanda gejala gizi kurang dan tindakan yang telah
dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah gizi kurang. Evaluasi
pengetahuan keluarga tentang gizi kurang dan memberikan pujian atas
kemampuan menjawab dengan benar tentang gizi kurang pada masalah
kesehatan TB.

TUK 3-4 dilakukan dengan mendemonstrasikan cara menyusun menu gizi


seimbang dengan berpedoman pada tinggi protin, tinggi karbohidrat dan
mengandung zat besi. Selanjutnya memodifikasi lingkungan untuk
meningkatkan nafsu makan dengan cara makan sedikit tapi sering,

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
82

menyiapkan makanan dengan hangat, dan membuat makanan yang sesuai


dengan kesukaan klien TB. Observasi peningkatan berat badan di lakukan
dengan penimbangan secara teratur sebulan sekali

f. Evaluasi
Evaluasi manajemen nutrisi dilakukan dengan pengukuran berat badan. Berat
badan Bpk A naik 1,5 kg setelah dilakukan pemantauan pemenuhan nutrisi
pada minggu ke 8. Keluarga menunjukkan peningkatan pengetahuan dan
kemampuan dalam merawat anggota keluarga dengan gizi kurang yang
ditunjukkan dengan mampu menyebutkan penyebab gizi kurang pada klien
TB, tanda dan gejala gizi kurang pada klien TB, akibat lanjut bila gizi kurang
tidak segera diatasi, dan cara perawatan gizi kurang di rumah. Keluarga
mampu mendemonstrasikan kembali cara menyusun menu seimbang pada
klien TB dengan cara mengatur jumlah, jenis dan jadwal makan dalam
seminggu. Keluarga mampu memodifikasi lingkungan untuk mengurangi
mual dan meningkatkan nafsu makan dengan cara makan sedikit tapi sering,
minum teh manis hangat, dan menyajikan makanan kesukaan klien TB.

g. Hambatan
Keluarga Bpk A kesulitan menyiapkan makanan yang sesuai dengan
penyusunan menu yang telah dibuat, hal ini disebabkan Ibu W kesulitan
mengatur waktu untuk masak dan menjaga An. N

h. Rencana tindak lanjut


Menyusun jadwal kegiatan sehari-hari untuk keluarga Bpk A dan pembagian
tugas bersama saat menjaga An. N sehingga Ibu W memiliki waktu untuk
masak dan menyiapkan makanan keluarga.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
83

4.3.4 Penerapan Intervensi “Kontrol” pada Asuhan Keperawatan Keluarga


terhadap keberhasilan pengobatan TB
Intervensi keperawatan “Kontrol” diterapkan pada sepuluh keluarga dengan
tuberkulosis. Intervensi ini terdiri dari: 1) pemberian edukasi/ pendidikan
kesehatan tentang tuberkulosis, 2) pemantauan pengobatan TB melalui pengisian
kartu pengingat minum obat, 3) manajemen nutrisi, dan 4) melakukan olahraga
berupa senam pernafasan.
a. Pemberian edukasi/ pendidikan kesehatan diberikan kepada klien TB dan
keluarga dengan menggunakan media lembar balik dan leaflet. Materi
pendidikan kesehatan terdiri dari pengertian TB, penyebab TB, tanda dan
gejala TB, penularan TB, pengobatan TB, perawatan dan pencegahan TB di
rumah. Materi ini diberikan sebanyak 2 kali pertemuan. Pertemuan pertama
dengan menyampaikan materi TB secara keseluruhan dan pada pertemuan
kedua berupa review atau pengulangan.

Evaluasi pemberian edukasi ini dilakukan dua kali yaitu sebelum dan sesudah
pemberian edukasi. Bentuk evaluasi ini berupa kuisioner dengan 15 item
pertanyaan yang mencakup materi tuberkulosis. Setiap item pertanyaan
dengan jawaban benar mendapatkan nilai 2 dan jawaban salah nilai 1.
Kuisioner sebelum edukasi diberikan saat pengkajian dan kuisioner sesudah
edukasi diberikan saat fase terminasi dengan keluarga.

b. Pengobatan TB
Pemantauan pengobatan TB dilakukan dengan meminta klien dan keluarga
mengisi kartu pengingat minum obat. Kartu ini merupakan model yang sudah
diterapkan oleh mahasiswa residensi sebelumnya dan efektif sebagai
pemantau pengobatan TB. Cara pengisian kartu ini sangat sederhana, klien
hanya memberi tanda silang pada kolom yang ada sesuai dengan tanggal
minum obat. Pemantauan pengisian kartu pengingat minum obat ini dilakukan
oleh keluarga, perawat dan anggota KKP-TB. Evaluasi pemantauan
pengobatan TB dilakukan dengan mengobservasi kartu pengingat minum obat,
jumlah obat yang tersisa pada klien, dan wawancara dengan petugas TB

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
84

puskesmas sebagai cross check kesesuaian pengobatan. Hasil akhirnya berupa


kategori teratur dan tidak teratur. Kategori teratur diberikan apabila klien
mentaati jadwal minum obat pada kartu pengingat minum obat. Sedangkan
klien yang tidak mentaati jadwal minum obat, termasuk melewatkan 1 hari
jadwal minum obat dikategorikan tidak teratur.

c. Manajemen nutrisi
Manajemen nutrisi terdiri dari 1) penyuluhan gizi seimbang; 2) penyusunan
menu makanan untuk klien TB dengan konsep tinggi protein, tinggi
karbohidrat dan kaya zat besi, dan 3) pemantauan berat badan sebulan sekali.
Kegiatan ini dilakukan 4 kali pertemuan yang terdiri dari satu kali pertemuan
tentang gizi seimbang dan tiga kali pertemuan tentang penyusunan menu
makanan dan diskusi bersama tentang nutrisi bagi klien tuberkulosis. Evaluasi
manajemen nutrisi terdiri dari evaluasi kuantitatif dan kualitatif. Evaluasi
kuantitatif berupa pengukuran berat badan sebelum dan sesudah manajemen
nutrisi. Pengukuran berat badan sebelum manajemen nutrisi dilakukan pada
saat pengkajian kunjungan pertama sedangkan pengukuran sesudah
manajemen nutrisi pada minggu ke 8. Evaluasi kualitatif berupa hasil
wawancara dengan klien berupa respons klien tentang manajemen nutrisi.

d. Olahraga
Kegiatan olahraga untuk klien TB difokuskan pada penguatan otot dada dan
organ paru-paru. Olahraga yang sesuai adalah senam pernafasan. Senam
pernafasan ini merupakan modifikasi senam pernafasan yang pernah
diterapkan oleh mahasiswa residensi sebelumnya. Gerakan senam pernafasan
ini terdiri dari 3 tahap, yaitu gerakan pemanasan, gerakan inti, dan gerakan
pendinginan. Gerakan pemanasan terdiri dari 7 gerakan yang bertujuan untuk
meregangkan tubuh sebelum melakukan senam. Gerakan inti terdiri dari 5
gerakan yang berfokus pada pengaturan nafas dan penguatan otot dada serta
organ paru-paru. Gerakan pendinginan terdiri dari 3 gerakan yang bertujuan
untuk mengembalikan otot-otot dada setelah melakukan senam pernafasan.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
85

Perawat mengajarkan tahap-tahap senam pernafasan sebanyak 8 kali


pertemuan. Selanjutnya klien melakukannya sendiri di rumah tanpa
pendampingan perawat. Perawat memberikan leaflet gerakan senam
pernafasan kepada klien agar klien dapat melakukan gerakan senam
pernafasan secara mandiri. Pemantauan kegiatan senam dilakukan dengan
mengisi daftar kegiatan senam. Evaluasi senam pernafasan dilakukan dengan
menghitung nilai respiration rate sebelum dan sesudah senam pernafasan.

Keberhasilan pengobatan TB dievaluasi pada akhir masa pengobatan. Kategori


keberhasilan pengobatan TB yang digunakan adalah sembuh dan gagal. Kategori
sembuh adalah klien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan
pemeriksaan apusan dahak ulang (follow-up) hasilnya negatif pada akhir
pengobatan dan pada satu pemeriksaan sebelumnya. Sedangkan kategori gagal
adalah klien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan (Kemenkes RI, 2011).
Selain kategori sembuh dan gagal, perawat menambahkan kategori dalam masa
pengobatan. Kategori ini muncul karena pada saat evaluasi keberhasilan
pengobatan masih ada klien yang menjalani masa pengobatan TB.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
86

4.3.5 Hasil Penerapan Intervensi “Kontrol” TB pada Asuhan Keperawatan


Keluarga
4.3.5.1 Pemberian Edukasi Tuberkulosis
a. Hasil evaluasi sebelum dan sesudah pemberian edukasi tuberkulosis
Tabel 4.4
Distribusi Pengetahuan Klien TB Sebelum dan Sesudah Pemberian
Edukasi TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun 2014

Nama Sebelum Edukasi TB Sesudah Edukasi TB Peningkatan


Initial Nilai Tingkat Nilai Tingkat
Klien pengetahuan pengetahuan
Ibu I 28 Baik 28 Baik 0%
Ibu M 26 Kurang 28 Baik 7,1%
Bpk AS 24 Kurang 26 Kurang 7,7%
Nn. N 25 Kurang 26 Kurang 3,8%
Bpk. A 28 Baik 28 Baik 0%
Bpk R 26 Kurang 27 Kurang 3,7%
Ibu St 27 Baik 28 Baik 3,6%
Bpk CG 28 Baik 28 Baik 0%
Bpk JU 28 Baik 29 Baik 3,4%
Bpk HS 26 Kurang 28 Baik 7,1%
Rata-rata 26,6 27,6 3,6%

Berdasarkan tabel 4.4 terjadi peningkatan pengetahuan klien TB sebelum


dan sesudah pemberian edukasi TB 3,6%. Hasil uji statistik (Paired T-
Test) menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pengetahuan klien TB
sebelum dan sesudah pemberian edukasi TB dengan nilai p value = 0.004.
Pada tabel di atas, klien TB yang mengalami peningkatan pengetahuan
lebih dari 5% ada tiga orang dan tiga orang klien TB tidak menunjukkan
peningkatan pengetahuan setelah pemberian edukasi TB.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
87

b. Hasil evaluasi pengaruh pemberian edukasi TB dengan keberhasilan


pengobatan
Tabel 4.5
Distribusi Tingkat Pengetahuan Klien TB Sesudah Pemberian
Edukasi dengan Keberhasilan Pengobatan TB di Kelurahan Curug,
Cimanggis kota Depok tahun 2014
Tingkat Status keberhasilan pengobatan Total p value
pengetahuan Sembuh Gagal Sedang
pengobatan
n % n % n % n % 0,117
Kurang 3 100 0 0 0 0 3 100
Baik 2 28,6 2 28,6 3 42,9 7 100
Jumlah 5 50 2 20 3 30 10 100

Hasil analisis pengaruh pemberian edukasi dengan keberhasilan


pengobatan TB diperoleh bahwa ada 3 (100%) klien TB dengan tingkat
pengetahuan kurang yang sembuh. Sedangkan klien TB dengan tingkat
pengetahuajn baik, ada 2 (28,6%) klien TB yang gagal dalam pengobatan
TB. Hasil uji statistik (Chi Square Test) diperoleh nilai p value = 0,117,
maka dapat disimpulkan tidak ada pengaruh pemberian edukasi TB
dengan keberhasilan pengobatan.

4.3.5.2 Pemantauan pengobatan TB


a. Hasil evaluasi pemantauan pengobatan TB
Evaluasi pemantauan pengobatan TB dilakukan dengan memeriksa
pengisian kartu pengingat minum obat, jumlah obat yang tersisa, dan
wawancara dengan keluarga serta petugas TB di puskesmas. Hasil
evaluasi diperoleh data, ada 1 klien TB yang tidak teratur minum obat
dan 9 klien TB teratur minum obat. Klien yang tidak teratur minum
obat, karena mengalami efek samping berat sehingga dirujuk ke RS
Fatmawati. Setelah dirujuk, klien tidak melanjutkan kembali
pengobatan TB di Fatmawati atau disebut putus obat.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
88

b. Hasil evaluasi pengaruh pemantauan pengobatan TB dengan


keberhasilan pengobatan
Tabel 4.6
Distribusi Pemantauan Pengobatan dengan Keberhasilan
Pengobatan TB di Kelurahan Curug, Cimanggis
kota Depok tahun 2014
Kategori Status keberhasilan pengobatan Total p value
pemantauan Sembuh Gagal Sedang
pengobatan pengobatan
TB n % n % n % n % 0,574
Teratur 4 44,4 2 22,2 3 33,3 9 100
Tidak teratur 1 100 0 0 0 0 1 100
Jumlah 5 50 2 20 3 30 10 100

Hasil analisis pengaruh pemantauan pengobatan TB dengan keberhasilan


pengobatan diperoleh bahwa ada 4 (44,4%) klien TB dengan pemantauan
pengobatan teratur yang sembuh. Sedangkan klien TB dengan pemantauan
pengobatan teratur, ada 2 (22,2%) klien TB yang gagal dalam pengobatan
TB. Hasil uji statistik (Chi Square Test) diperoleh nilai p value = 0,574,
maka dapat disimpulkan tidak ada pengaruh pemantauan pengobatan TB
dengan keberhasilan pengobatan.

4.3.5.3 Manajemen Nutrisi


a. Hasil evaluasi sebelum dan sesudah penerapan manajemen nutrisi
Tabel 4.7
Distribusi Berat Badan Klien TB Sebelum dan Sesudah Manajemen
Nutrisi di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun 2014
Nama Sebelum Manajemen Sesudah Manajemen Perubahan
Initial Nutrisi Nutrisi
Klien Berat IMT Berat IMT
badan badan
Ibu I 45 Normal 47 Normal 4,25%
Ibu M 45 Normal 49 Normal 8,16%
Bpk AS 60 Normal 61,5 Normal 2,44%
Nn. N 45 Kurang 46 Kurang 2,17%
Bpk. A 40 Buruk 41,5 Buruk 3,61%
Bpk R 70 Normal 72 Normal 2,77%
Ibu St 52 Normal 51 Normal -1,92%
Bpk CG 58 Normal 58,5 Normal 0,85%
Bpk JU 52 Kurang 52,5 Kurang 0,95%
Bpk HS 40 Buruk 40,5 Buruk 1,23%
Rata-rata 50,70 51,95 2,4 %

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
89

Berdasarkan tabel 4.7 terjadi peningkatan berat badan klien TB sebelum


dan sesudah manajemen nutrisi 2,4%. Hasil uji statistik (Paired T-Test)
menunjukkan ada perbedaan yang signifikan berat badan klien TB
sebelum dan sesudah manajemen nutrisi dengan nilai p value = 0.015.
Pada tabel di atas, klien TB yang mengalami peningkatan berat badan
lebih dari 8% ada 1 orang dan 1 klien TB mengalami penurunan berat
badan setelah intervensi manajemen nutrisi.

b. Hasil evaluasi pengaruh manajemen nutrisi dengan keberhasilan


pengobatan
Tabel 4.8
Distribusi Manajemen Nutrisi dengan Keberhasilan Pengobatan
TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun 2014
Status gizi Status keberhasilan pengobatan Total p value
Sembuh Gagal Sedang
pengobatan
n % n % n % 6 % 0,695
Normal 3 50 2 33,3 1 16,7 9 100
Kurang 1 50 0 0 1 50 2 100
Buruk 1 50 0 0 1 50 2 100
Jumlah 5 50 2 20 3 30 10 100

Hasil analisis pengaruh manajemen nutrisi dengan keberhasilan


pengobatan diperoleh bahwa ada 3 (50%) klien TB dengan status gizi
normal yang sembuh. Sedangkan klien TB dengan status gizi buruk, ada 1
(50%) klien TB yang sembuh dalam pengobatan. Hasil uji statistik (Chi
Square Test) diperoleh nilai p value = 0,695, maka dapat disimpulkan
tidak ada pengaruh manajemen nutrisi dengan keberhasilan pengobatan.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
90

4.3.5.4 Olahraga
a. Hasil evaluasi sebelum dan sesudah senam pernafasan
Tabel 4.9
Distribusi Respiration Rate (RR) Sebelum dan Sesudah Senam
Pernafasan di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun 2014
Nama Sebelum Senam Sesudah Senam Penurunan
Initial Pernafasan Pernafasan RR
Klien RR Kategori RR Kategori
RR RR
Ibu I 20 Normal 18 Normal 11,11%
Ibu M 26 Takipnea 24 Normal 8,33%
Bpk AS 18 Normal 18 Normal 0%
Nn. N 18 Normal 16 Normal 12,5%
Bpk. A 32 Takipnea 28 Takipnea 14,28%
Bpk R 20 Normal 16 Normal 25%
Ibu St 24 Normal 24 Normal 0%
Bpk CG 24 Normal 22 Normal 9,09%
Bpk JU 20 Normal 18 Normal 11,11%
Bpk HS 30 Takipnea 30 Takipnea 0%
Rata-rata 23,2 21,4 8,4 %

Berdasarkan tabel 4.9 terjadi penurunan RR sebelum dan sesudah senam


pernafasan 8,4%. Hasil uji statistik (Paired T-Test) menunjukkan ada
perbedaan yang signifikan RR klien TB sebelum dan sesudah senam
pernafasan dengan nilai p value = 0.004. Pada tabel di atas, klien TB yang
mengalami penuruanan RR sebelum dan sesudah senam pernafasan 25%
ada 1 orang.

b. Hasil evaluasi pengaruh senam pernafasan dengan keberhasilan


pengobatan
Tabel 4.10
Distribusi Kategori RR dengan Keberhasilan Pengobatan TB
di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok tahun 2014
Kategori Status keberhasilan pengobatan Total p value
RR Sembuh Gagal Sedang
pengobatan
n % n % n % n % 0,659
Normal 4 50 2 25 2 25 8 100
Takipnea 1 50 0 0 1 50 2 100
Jumlah 5 50 2 20 3 30 10 100

Hasil analisis pengaruh senam pernafasan dengan keberhasilan pengobatan


diperoleh bahwa ada 4 (50%) klien TB dengan RR normal yang sembuh.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
91

Sedangkan klien TB dengan RR takipnea yang sembuh 1 orang (50%).


Hasil uji statistik (Chi Square Test) diperoleh nilai p value = 0,659, maka
dapat disimpulkan tidak ada pengaruh senam pernafasan dengan
keberhasilan pengobatan.

4.3.5.5 Keberhasilan pengobatan


a. Hasil evaluasi sebelum dan sesudah intervensi keperawatan “Kontrol”
Tabel 4.11
Distribusi Status BTA Sebelum dan Sesudah Intervensi
Keperawatan“Kontrol” TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota
Depok tahun 2014

Nama Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi


Initial Klien “Kontrol” “Kontrol”
Status BTA Status BTA
Ibu I Negatif Positif
Ibu M Positif Positif
Bpk AS Negatif Negatif
Nn. N Positif Negatif
Bpk. A Positif Negatif
Bpk R Positif Negatif
Ibu St Positif Sedang Pengobatan
Bpk CG Positif Negatif
Bpk JU Positif Sedang Pengobatan
Bpk HS Positif Sedang Pengobatan

Evaluasi keberhasilan pengobatan TB berdasarkan status pemeriksaan


BTA pada akhir pengobatan. Sebelum intervensi “Kontrol” ada 2 klien TB
dengan status BTA negatif. Klien ini mendapatkan pengobatan kategori 3.
Pada tabel di atas, ada 1 klien TB yang mengalami perubahan status BTA
dari negatif menjadi positif setelah intervensi “Kontrol”. Klien TB dengan
status BTA tidak berubah ada 1 orang, statusnya tetap positif sebelum dan
sesudah intervensi “Kontrol”.

4.3.6 Resume Tingkat Kemandirian Keluarga

Evaluasi tingkat kemandirian keluarga diukur berdasarkan pelaksanaan lima tugas


kesehatan keluarga (Depkes RI, 2006). Tugas kesehatan keluarga tersebut diukur
melalui 7 aspek dalam pelaksanaan tindakan keperawatan keluarga, yaitu (1)

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
92

penerimaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan pengetahuan keluarga


tentang tuberkulosis; (2) penerimaan keluarga untuk memutuskan tindakan
keperawatan masalah kesehatan tuberkulosis; (3) mampu mengungkapkan
permasalahan yang dihadapi keluarga tentang perawatan tuberkulosis; (4)
keluarga mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas;
(5) keluarga melakukan tindakan keperawatan sesuai anjuran perawat termasuk
terapi modalitas; (6) keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat untuk
mengatasi masalah kesehatan tuberkulosis; dan (7) keluarga mampu
meningkatkan status kesehatannya melalui latihan atau tindakan promotif.

Evaluasi dilakukan dengan mengukur tingkat kemandirian keluarga sebelum dan


sesudah diberikan intervensi “Kontrol” TB. Pada tabel di bawah ini akan
dijabarkan perubahan tingkat kemandirian keluarga.

Tabel 4.12
Distribusi Tingkat Kemandirian Keluarga Sebelum dan Sesudah Intervensi
Keperawatan“Kontrol” TB di Kelurahan Curug, Cimanggis kota Depok
tahun 2014
Inisial Nama Tingkat Kemandirian Keluarga Waktu
Keluarga Sebelum Sesudah Pembinaan
(minggu)

Ibu I II III 12
Ibu M II III 12
Bpk AS II III 12
Nn. N II III 12
Bpk. A II IV 12
Bpk R II III 12
Ibu St II III 12
Bpk CG II IV 12
Bpk JU II III 12
Bpk HS II III 12

Pada tabel 4.12 didapatkan data hasil pencapaian tingkat kemandirian keluarga
pada 10 keluarga yang menjadi binaan melalui asuhan keperawatan keluarga yaitu
2 keluarga (20 %) mencapai tingkat kemandirian IV dan 8 keluarga (80 %) pada
tingkat kemandirian III.

35
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
93

BAB 5
PEMBAHASAN

Bab 5 menguraikan analisis hasil pengelolaan manajemen pelayanan keperawatan


komunitas, asuhan keperawatan komunitas dan asuhan keperawatan keluarga pada
agregat dewasa tuberkulosis di Kelurahan Curug dengan teori, konsep dan
penelitian terkait. Pada bagian ini, penulis juga membahas implikasi hasil praktik
terhadap pelayanan dan penelitian dalam keperawatan.

5.1 Analisis Pencapaian dan Kesenjangan


5.1.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas
5.1.1.1 Masalah manajemen pertama yaitu belum ada organisasi masyarakat
peduli tuberkulosis di wilayah kelurahan Curug
Pembentukan kelompok kader kesehatan peduli TB (KKP-TB) di Kel. Curug
memiliki dampak positif dalam peningkatan deteksi kasus TB dan peningkatan
kesembuhan pasien TB. Hal ini di dukung dengan kemampuan anggota KKP-
TB melakukan identifikasi klien suspek TB dan melakukan rujukan kasus TB ke
puskesmas. Kelompok pendukung merupakan kelompok organisasi yang
memiliki kepedulian dalam membantu individu yang memiliki masalah
kesehatan (Kurt, 1997). Menurut Pander, Murdaugh, & Parsons ( 2002),
kelompok pendukung merupakan hubungan interpersonal yang melibatkan
perhatian emosional (ekspresi peduli, dorongan dan empati), bantuan (jasa,
uang, informasi), penguatan (umpan balik yang konstruktif, pengakuan). Tujuan
kelompok pendukung adalah memberikan resolusi permasalahan, memberikan
motivasi dan perubahan perilaku individu untuk menjadi lebih baik. Kelompok
pendukung memiliki struktur organisasi sebagai pengelolaan kelompok.
Tujuannya untuk memperjelas tugas dan peran masing-masing anggota untuk
mencapai visi dan misi yang telah disepakati (Marquis & Huston, 2003).

Keberhasilan intervensi kelompok pendukung KKP-TB di kelurahan Curug


didukung oleh peran anggotanya sendiri yang berasal dari kader kesehatan.
Menurut Depkes RI (2009), kader kesehatan adalah anggota masyarakat yang

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
94

bekerja secara sukarela dalam membantu program penanggulangan TB dan


sudah mendapatkan pelatihan TB. Kader kesehatan lebih banyak terlibat pada
kelompok ini karena peran sebagai kader posyandu dan posbindu yang sudah
kenal wilayah dan memiliki kesadaran sosial untuk bekerja sukarela di
masyarakat. Hasil penelitian Putra, Rosa dan Rasyid (2010) menunjukkan
bahwa peran kader kesehatan dalam kelompok pemberdayaan masyarakat
tuberkulosis sangat membantu dalam penemuan kasus TB dan pemantauan
pengobatan pasien TB.

Pelatihan TB kepada kader kesehatan telah dilakukan selama 2 hari di aula


kelurahan. Tujuan pelatihan adalah mengajarkan kepada anggota kader
kesehatan tentang penyakit TB sehingga dapat memberikan informasi kepada
anggota masyarakat yang ada di wilayahnya masing-masing dan dapat segera
melakukan deteksi dini apabila menemukan kasus dengan gejala TB. Menurut
Allender, Rector dan Warner (2010), metode pendidikan kesehatan yang sesuai
diberikan kepada masyarakat dengan jumlah banyak dengan menggunakan
metode ceramah. Pelatihan adalah salah satu bentuk pendidikan kesehatan
dengan metode ceramah. Metode ini dapat mengukur kemampuan kognitif
individu seelum dan sesudah mendapatkan pelatihan. Hasilnya menunjukkan
adanya perbedaan pengetahuan 14,7% kader kesehatan sebelum dan sesudah
dilakukan pelatihan TB. Hal yang sama juga terjadi pada penelitian yang
dilakukan Pratiwi, Betty, Hargono, Widya (2012), menunjukkan adanya
peningkatan pengetahuan 12,5% kader kesehatan dan tokoh masyarakat sebelum
dan sesudah dilakukan pelatihan tuberkulosis. Pelatihan dengan metode ceramah
efektif meningkatkan pengetahuan kader kesehatan tentang penyakit
tuberkulosis.

Tahapan pembentukan organisasi kelompok pendukung diawali dengan


penentuan visi dan misi organisasi. Pada organisasi KKP-TB memiliki visi
pengendalian kasus TB di wilayah Curug dan misi penemuan kasus TB baru dan
melakukan rujukan kasus TB ke pelayanan kesehatan. Selanjutnya penyusunan
struktur organisasi kelompok yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
95

Pemilihan ketua organisasi ditentukan berdasarkan pengalaman dan


kemampuannya menjadi seorang pemimpin. Kemudian menyusun rencana kerja
organisasi. Rencana kerja merupakan kegiatan terencana yang dilakukan dalam
jangka panjang atau pendek yang berkaitan dengan visi dan misi organisasi
(Marquis & Huston, 2003). Pada KKP-TB, rencana kerja mencakup pelatihan
TB, pelatihan “Kontrol” TB, deteksi dan rujukan kasus TB serta supervisi
kemampuan anggota kelompok (Rejeki, 2012; Solihin, 2014). Tahapan
pembentukan organisasi kelompok pendukung ini juga telah diterapkan oleh
residensi sebelumnya. Kegiatan pembentukan kelompok pendukung tersebut
berjalan dengan lancar dan efektif membimbing anggota kelompok pendukung
dalam penemuan kasus TB. Oleh karena itu, cara tersebut digunakan kembali
pada kegiatan ini dan dimodifikasi dengan membuat format lembar rujukan
kasus TB ke puskesmas.

Tugas anggota KKP-TB adalah melakukan edukasi kepada keluarga dan


masyarakat di wilayahnya untuk memberikan informasi tentang tuberkulosis,
pencegahan, perawatan dan pengobatannya. Selain itu, anggota KKP-TB juga
berperan dalam melakukan deteksi kasus TB dan melakukan rujukan kasus ke
puskesmas (Depkes RI, 2009). Materi edukasi diberikan oleh perawat dalam
bentuk pelatihan. Dan selanjutnya dilakukan supervisi kepada anggota KKP-TB
dalam melakukan kunjungan rumah pada klien terduga TB dan membujuk untuk
melakukan pemeriksaan dahak ke puskesmas.

Supervisi kemampuan kader dalam melakukan penyuluhan, deteksi dan rujukan


kasus TB dilakukan pada 10 anggota KKP-TB. Hasilnya 60% anggota KKP-TB
yang disupervisi menunjukkan kemampuan di atas rata-rata. Hasil laporan karya
ilmiah akhir yang dilakukan Rejeki (2012), menunjukkan bahwa 82% kader
kesehatan yang mendapatkan pelatihan penyuluhan mampu melakukan
penyuluhan secara baik dan benar kepada keluarga dan masyarakat. Hal ini
berhubungan dengan pengalaman kader kesehatan yang telah terlatih
memberikan informasi dan berbicara di depan banyak orang mempermudah
keterampilannya untuk memberikan penyuluhan dan berkomunikasi dengan

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
96

keluarga kasus TB untuk dirujuk melakukan pemeriksaan dahak. Namun, masih


ada anggota KKP-TB yang menolak disupervisi dengan alasan takut dan belum
percaya diri tampil di depan umum. Hal ini terjadi karena, anggota KPP-TB
yang menolak jarang berlatih saat didampingi perawat atau dengan anggota
KKP-TB yang lebih terampil.

5.1.1.2 Masalah manajemen kedua yaitu belum optimalnya komunikasi petugas


TB puskesmas dengan kader kesehatan
Salah satu tugas tenaga kesehatan penanggung jawab TB di puskesmas adalah
melakukan kunjungan rumah pada pasien TB dan pelacakan kasus TB yang
mangkir berobat (Kemenkes RI, 2011). Tugas ini dapat didelegasikan kepada
kelompok pendukung KKP-TB yang sudah terbentuk di kelurahan Curug seperti
di RW 06 dan RW 07. Sehingga pelacakan kasus TB yang mangkir lebih mudah
ditemukan. Pendelegasian adalah pemindahan tanggung jawab dalam
melakukan tugas dari satu orang ke orang lain. Pendelegasian diberikan kepada
bawahan atau teman sejawat (Marquis & Huston, 2003). Tapi, bukan berarti
semua tanggung jawab dibebankan kepada orang lain, tetap diperlukan batasan
yang jelas tentang tanggung jawab yang diterima. Oleh karena itu, diperlukan
komunikasi dua arah yang berkelanjutan antara anggota KKP-TB dengan
petugas puskesmas.

Pendelegasian tugas petugas TB di puskesmas kepada anggota KKP-TB sudah


berjalan dengan baik. Hal ini terbukti dengan ditemukannya satu kasus TB yang
putus obat di wilayah Curug. Komunikasi yang efektif antara petugas TB dan
anggota KKP-TB menghubungkan keberadaan klien TB yang putus obat.
Kemudian, komunikasi berlanjut dengan kehadiran petugas TB melakukan
kunjungan rumah klien TB dan membujuk untuk dilakukan pengobatan lanjutan.

Peran anggota KKP-TB dalam penemuan dan pelacakan kasus TB perlu


didukung oleh tenaga kesehatan penanggung jawab wilayah Curug untuk ikut
serta membantu dalam pelacakan kasus TB dan penemuan kasus TB. Kendala
yang ditemukan adalah tidak adanya komunikasi yang efektif antara petugas TB

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
97

dengan tenaga kesehatan pemegang wilayah Curug. Kondisi ini menyulitkan


petugas TB untuk melakukan kunjungan rumah dan pelacakan kasus TB.

Kerjasama merupakan salah satu bentuk partisipasi aktif dan adanya keterlibatan
semua pihak untuk perubahan ke arah kesehatan komunitas (Stanhope &
Lancaster, 2004). Bentuk kerjasama yang telah diupayakan pada kegiatan ini
adalah kerjasama lintas program. Kerjasama dilakukan antara petugas TB
dengan petugas kesehatan penanggung jawab wilayah kelurahan Curug.
Kerjasama ini tidak berjalan sesuai harapan karena perbedaan program dan
profesi. Petugas kesehatan penanggung jawab wilayah kelurahan Curug
merasakan bahwa kerjasama dalam penemuan kasus TB bukan tugasnya dan
menyerahkan tugas tersebut sepenuhnya kepada petugas TB puskesmas.
Penolakan kerjasama antar beda program karena ketidakjelasan tugas pokok dan
fungsi peran masing-masing yang terlibat dalam kerjasama. Oleh karena itu,
perlu dilakukan advokasi dan diskusi bersama dengan ketua atau pimpinan yang
lebih tinggi dalam menyusun bentuk kerjasama lintas program, agar tugas dan
fungsinya jelas baik secara tertulis ataupun verbal (Marquis & Huston, 2003).

Kerjasama lintas sektoral terjalin melalui kerjasama antara petugas TB dengan


kader kesehatan. Untuk mendukung kerjasama tersebut, perawat telah menyusun
struktur jaringan komunikasi yang berisi nama, alamat dan no telepon anggota
KKP-TB dan anggota kader kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan TB.
Penyusunan nama ini bertujuan untuk mempermudah komunikasi dan
kerjasama. Pada kegiatan KKP-TB, perawat juga mengundang petugas
kesehatan TB puskesmas sebagai narasumber pada pertemuan kelompok
pendukung. Sehingga lebih mudah menjalin komunikasi antar kedua pihak.

5.1.2 Asuhan Keperawatan Komunitas


5.1.2.1 Masalah keperawatan komunitas pertama adalah ketidakefektifan
pemeliharaan kesehatan pada kelompok dewasa TB di kelurahan Curug
Hasil analisis data pengkajian keperawatan komunitas menunjukkan bahwa 50%
klien TB di wilayah Curug memiliki pengetahuan yang kurang tentang perawatan

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
98

dan pencegahan TB. Kurang pengetahuan tentang penyakit TB dapat


menyebabkan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengelola dan mencari
bantuan untuk mempertahankan kesehatan (NANDA, 2011). Identifikasi gejala
TB yang tidak tepat dapat menimbulkan kesalahan dalam pengobatan. Gejala TB
berupa batuk berdahak sering dianggap remeh, sehingga klien suspek TB
melakukan pengobatan sendiri. Hal ini akan memperburuk kondisi klien TB dan
proses kesembuhan akan semakin lama (Kemenkes RI, 2013).

Pendidikan kesehatan adalah bentuk promosi kesehatan yang bertujuan untuk


mengubah kognitif individu agar mau dan mampu berperilaku sehat (Stanhope &
Lancaster, 2004; Notoadmodjo, 2010). Pendidikan kesehatan tentang TB, cara
perawatan dan pencegahan TB dapat mempengaruhi tindakan klien TB untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Upaya pemeliharaan kesehatan pada
klien TB dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat seperti makan
makanan yang bergizi, menghindari stres, berhenti merokok, olahraga, dan minum
obat secara teratur (Rachmawati & Turniani, 2006; Pander, Murdaugh, &
Parsons, 2002).

Salah satu upaya pemeliharaan kesehatan pada klien TB adalah melakukan


olahraga. Jenis olahraga yang baik untuk klien TB adalah senam pernafasan.
Senam pernafasan adalah jenis olahraga yang berfokus pada gerakan otot dada
dan organ paru-paru. Penerapan senam pernafasan secara teratur efektif dalam
menurunkan frekuensi respiration rate klien TB (Rejeki, 2012). Senam
pernafasan bermanfaat untuk menguatkan otot paru-paru, memperbaiki fungsi dan
kapasitas paru-paru, mengurangi dan mencegah sesak nafas, melancarkan
pengeluaran dahak, melancarkan aliran darah dalam tubuh, dan meningkatkan
daya tahan tubuh (Natalya, 2007; Snyder & Lindquist, 2010).

Pelaksanaan senam pernafasan di komunitas sulit dilakukan karena stigma


penyakit TB di masyarakat. Masyarakat masih menganggap penyakit TB adalah
penyakit memalukan dan menularkan, sehingga klien TB merasa malu untuk
bergaul di masyarakat (Pratiwi, Betty, Hargono, Widya, 2012). Klien TB memilih

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
99

untuk diam dan tidak menceritakan tentang penyakitnya kepada tetangga dan
masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, bila ada kegiatan di masyarakat klien
TB berusaha untuk tidak terlibat di masyarakat. Hal ini juga terjadi pada kegiatan
senam pernafasan bersama yang dilakukan di komunitas. Klien TB tidak mau
datang, karena sibuk bekerja dan rasa malu. Klien TB malu karena takut akan
diperlakukan diskriminatif oleh tetangga dan masyarakat di sekitarnya (Baral,
Karki, Newell, 2007).

Pelaksanaan senam pernafasan sebaiknya dilakukan pada tempat yang nyaman


dan aman bagi klien TB (Baral, Karki, Newell, 2007). Salah satunya adalah
puskesmas. Senam pernafasan yang dilakukan di puskesmas lebih efektif
mengumpulkan banyak klien TB dibandingkan di masyarakat. Klien TB pun
merasa nyaman untuk senam pernafasan dengan sesama penderita TB, karena
pada waktu tersebut klien TB tidak merasa malu dan memiliki perasaan yang
sama (Murti, Prabandari, Riyanto, 2006).

Hasil kegiatan senam pernafasan yang dilakukan di puskesmas secara signifikan


menunjukkan adanya penurunan RR sebelum dan sesudah mengikuti senam. Hasil
laporan karya ilmiah akhir yang dilakukan Rejeki (2012) pada salah satu keluarga
binaan yang mendapatkan intervensi senam pernafasan menunjukkan penurunan
RR 32 x/menit menjadi 26 x/menit. Penelitian yang dilakukan oleh Parwati
(2013), senam tera efektif meningkatkan kebugaran jantung paru pada lansia dan
menurunkan RR 0,87% sebelum dan sesudah latihan senam tera. Senam tera
adalah salah satu bentuk senam yang memadukan gerakan tubuh dengan irama
pernafasan melalui pemusatan pikiran secara teratur, benar dan berkesinambungan
(Munir, 2013). Senam tera hampir sama dengan senam pernafasan yang dilakukan
pada intervensi ini, walaupun jumlah gerakan senam pernafasan lebih sedikit
dibandingkan dengan gerakan senam tera. Senam tera bermanfaat untuk
memperbaiki dan meningkatkan kondisi dan fungsi jantung, peredaran darah,
sistem pernafasan, syaraf, pencernaan, keseimbangan, kelenturan otot dan sendi
serta meningkatkan daya tahan tubuh.

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
100

5.1.2.2 Masalah keperawatan komunitas kedua adalah risiko penularan TB pada


masyarakat di Kel. Curug
Penyakit tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman
mycobacterium tuberculosis (Kemenkes RI, 2011). Penyakit ini menyebarkan
penyakit secara langsung melalui media udara. Klien TB yang ada di wilayah
Curug masih ada yang belum menerapkan pencegahan dan perawatan TB dengan
baik. Pencegahan TB dapat dilakukan dengan menerapkan etika batuk,
manajemen dahak dan cuci tangan dengan sabun. Teknik ini efektif menurunkan
penularan TB kepada anggota keluarga yang tinggal serumah dan masyarakat
yang tinggal disekitarnya (Kemenkes RI, 2013; Curry, 2007). Penerapan cuci
tangan dengan menggunakan sabun membantu mengurangi kontak dengan
mikroorganisme penyebab penyakit menular, seperti flu burung, tuberkulosis,
diare, thypoid dll (Depkes RI, 2008).

Penularan TB dapat terjadi pada anggota keluarga yang tinggal serumah.


Penularan terjadi karena kontak langsung kuman TB dari media udara.
Kebersihan rumah dan menjaga sirkulasi rumah dengan baik, dapat mengurangi
insiden penyakit TB. Hasil penelitian di kabupaten Cilacap menunjukkan bahwa
ada hubungan kejadian TB dengan pencahayaan, ventilasi, keberadaan jendela,
kelembaban, suhu, dan jenis dinding rumah (Fatimah, 2008). Upaya pencegahan
yang dapat dilakukan di komunitas adalah deteksi kesehatan lingkungan rumah
yang berisiko terjadinya penyakit TB. Kegiatan skrining ini dapat diakukan oleh
kader kesehatan dan anggota kelompok peduli TB yang ada di komunitas.

Pengobatan TB harus dijalankan secara teratur, apabila tidak minum obat secara
teratur dapat menimbulkan resistensi obat dan proses pengobatan akan
berlangsung lama (Kemenkes RI, 2011). Klien TB yang ada di wilayah Curug
masih ada yang lupa minum obat secara teratur sehingga menghambat proses
kesembuhan. Menurut Wahyono dan Murtantiningsih (2010), faktor yang
mempengaruhi kesembuhan pasien TB adalah status gizi, pendapatan dan
keteraturan berobat. Pengobatan yang salah atau tidak adekuat dapat
menyebabkan kegagalan pengobatan dan menyulitkan penyembuhan serta

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
101

membuat klien TB hidup dengan infeksi yang sudah kebal terhadap pengobatan
sehingga memudahkan penularan kepada orang lain (Golden & Vikram, 2005).

Kebutuhan nutrisi yang adekuat dapat meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga
tubuh dapat terhindar dari penularan kuman TB. Kebutuhan nutrisi tersebut
dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang
seperti karbohidrat, protein, lemak, viatamin, mineral dan air. Menurut Manalu
(2010), pada kelompok keluarga yang berisiko kontak langsung dengan klien TB
membutuhkan asupan nutrisi lebih banyak terutama kebutuhan vitamin dan
mineral seperti vitamin A, B16, C dan zink. Kandungan vitamin dan mineral ini
banyak mengandung antioksidan yang dapat membunuh kuman TB.

5.1.3 Asuhan Keperawatan Keluarga


5.1.3.1 Masalah keperawatan keluarga pertama adalah ketidakefektifan bersihan
jalan nafas pada Bpk A
Masalah keperawatan yang ditemukan pada keluarga ketidakefektifan bersihan
jalan nafas, hal ini berdasarkan gejala mayoritas yang muncul pada pasien TB
berupa batuk berdahak. Gejala batuk berdahak, sesak nafas, dan nyeri dada dapat
menghambat proses oksigenasi pasien TB. Cara yang efektif untuk mengatasi
gejala tersebut dengan mengajarkan inhalasi sederhana, batuk efektif dan olahraga
senam pernafasan.

Inhalasi sederhana adalah teknik pemberian uap ke dalam saluran pernafasan


dengan bahan dan cara yang sederhana serta dapat dilakukan dalam lingkungan
keluarga (Kozier, Erb, Berman, Snyder, 2004; DeLaune & Ladner, 2011). Teknik
ini bertujuan untuk mencairkan sekret yang ada di dalam saluran pernafasan
sehingga mudah untuk dikeluarkan. Teknik ini hampir sama dengan teknik
nebulizer pada bayi, namun alat yang digunakan lebih sederhana. Pada teknik ini
diberikan obat bronkodilator yang berfungsi untuk melonggarkan saluran nafas,
sedangkan pada inhalasi sederhana dapat menggunakan minyak hangat yang dapat
merangsang dilatasi saluran nafas. Teknik ini efektif membantu mencairkan dahak
dan selanjutnya teknik ini digabungkan dengan teknik batuk efektif.

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
102

Teknik batuk efektif merupakan tindakan yang dilakukan untuk membersihkan


sekresi dari saluran nafas. Teknik ini dapat mempermudah klien TB untuk
mengeluarkan dahak sehingga proses oksigenasi berjalan lebih baik (Pranowo,
2008). Tujuan dari batuk efektif adalah untuk meningkatkan ekspansi paru dan
mobilisasi sekresi. Batuk efektif membantu klien TB mengeluarkan dahak dan
tidak banyak mengeluarkan tenaga.

Senam pernafasan adalah jenis olahraga dalam bentuk senam yang berfokus pada
penguatan otot dada dan organ paru-paru Hasil penelitian menunjukkan bahwa
senam pernafasan efektif memaksimalkan fungsi paru dan membantu
mengeluarkan dahak (Rejeki, 2012; Natalya, 2007). Hasil intervensi senam
pernafasan yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan frekuensi nafas klien
TB. Hal ini membantu mengurangi keluhan klien TB berupa sesak nafas dan
kesulitan dalam mengeluarkan dahak.

5.1.3.2 Masalah keperawatan keluarga kedua adalah ketidakseimbangan nutrisi:


kurang dari kebutuhan tubuh pada Bpk A
Salah satu gejala TB adalah menurunkan nafsu makan dan terjadi penurunan berat
badan secara drastis. Kondisi ini menyebabkan status gizi klien TB berada pada
kategori kurus dan gizi kurang bahkan ada yang gizi buruk. Oleh karena itu,
diperlukan manajemen nutrisi untuk meningkatkan kebutuhan nutrisi pada pasien
TB. Manajemen nutrisi adalah upaya pengaturan nutrisi untuk meningkatkan berat
badan pada klien TB yang memiliki berat badan di bawah kategori ideal
(Dochterman & Bulechek, 2004).

Manajemen nutrisi mencakup pemberian pendidikan kesehatan kepada keluarga


dan klien TB tentang gizi seimbang. Pendidikan kesehatan dapat mengubah
pemahaman dan keterampilan keluarga tentang kebutuhan nutrisi pada klien TB
sehingga keluarga dapat memberikan dukungan kepada klien TB terkait
pemenuhan nutrisi pada tuberkulosis. Dukungan keluarga terkait pemenuhan
nutrisi adalah bagian dari bentuk dukungan instrumental. Dukungan ini berupa

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
103

pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti menyiapkan makanan yang sesuai


dengan kebutuhan klien TB (Kaakinen, Gedaly-Duff, Coehlo & Hanson, 2010).

Intervensi manajemen nutrisi berikutnya adalah melakukan penyusunan menu


yang sesuai dengan kondisi klien TB, yaitu dengan meningkatkan kebutuhan
energi, protein dan mikronutrien seperti vitaman dan mineral. Keluarga belum
mampu menyiapkan makanan yang sesuai dengan menu gizi seimbang untuk
klien TB, karena keterbatasan waktu, tenaga dan dana (Nursyam, Amin,
Rumende, 2006). Modifikasi kebutuhan nutrisi pada klien TB sudah dilakukan
oleh perawat dengan menyesuaikan kondisi ekonomi keluarga, sehingga keluarga
masih dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya sesuai susunan menu yang telah
ditetapkan.

5.1.3.3 Penerapan intervensi keperawatan komunitas “Kontrol” dengan


keberhasilan pengobatan TB
Intervensi keperawatan komunitas “Kontrol” diterapkan kepada 10 keluarga
binaan pada dewasa dengan masalah kesehatan tuberkulosis. Intervensi ini terdiri
dari edukasi kesehatan, pemantauan pengobatan, manajemen nutrisi dan olahraga.
Asuhan keperawatan keluarga dilaksanakan secara efektif selama 12 minggu.
Kegiatan asuhan keperawatan keluarga dilakukan dengan kunjungan rumah 2 kali
seminggu atau satu kali seminggu, tergantung kontrak waktu dengan keluarga.

Pemberian edukasi kesehatan kepada keluarga efektif meningkatkan 3,6%


pengetahuan keluarga tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, penularan,
pengobatan, perawatan, dan pencegahan tuberkulosis. Hasil ini menunjukkan ada
perbedaan yang signifikan pengetahuan keluarga sebelum dan sesudah pemberian
edukasi TB. Kondisi ini sebanding dengan hasil penelitian Chairani, dkk (2011)
yang menyatakan bahwa keluarga yang mendapatkan home visit dan diberikan
pendidikan kesehatan menunjukkan hasil adanya peningkatan pengetahuan
perawatan dan pengobatan TB sebelum dan sesudah pelaksanaan home visit.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya perilaku.
Pengetahuan yang baik tentang tuberkulosis dapat merangsang terjadinya

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
104

perubahan sikap dan tindakan individu untuk melakukan perilaku yang


mendukung keberhasilan pengobatan.

Peningkatan pengetahuan keluarga tentang penyakit TB tidak selalu menunjukkan


adanya perubahan sikap dan keterampilan dalam keberhasilan pengobatan.
Menurut Tirtana dan Musrichan (2011) dalam penelitiannya tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan pada pasien TB resistensi obat di
Jawa Tengah adalah keteraturan pengobatan dan lama pengobatan. Keteraturan
pengobatan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan nilai-nilai keluarga tentang
tuberkulosis. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari lingkungan yang berada di
luar keluarga seperti jarak tempuh ke puskesmas, ketersediaan transportasi
menuju ke puskesmas, ketersediaan obat di fasilitas kesehatan, dan tidak ada
kunjungan rumah oleh petugas kesehatan (Senewe, 2002; MKopi et al, 2012)

Pemantauan pengobatan TB dengan menggunakan kartu pengingat minum obat


menunjukkan adanya keteraturan keluarga menjalani pengobatan anti
tuberkulosis. Semua keluarga yang menjadi binaan asuhan keperawatan keluarga
menunjukkan keteraturan dalam minum obat dan kontrol ke puskesmas. Namun,
keteraturan pengobatan tersebut tidak seluruhnya menunjukkan keberhasilan
pengobatan TB. Hasil evaluasi pemantauan pengobatan TB, ada dua keluarga
yang termasuk kategori gagal pada akhir pengobatan TB. Kegagalan pengobatan
TB dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti penyediaan dan kualitas obat
yang tidak adekuat (kualitas obat yang buruk, persediaan obat yang terputus,
kondisi tempat penyimpanan yang tidak terjamin, kombinasi obat yang salah atau
dosis yang kurang); penyedia pelayanan kesehatan (buku panduan yang tidak
sesuai, tidak mengikuti panduan yang tersedia, tidak memiliki panduan, pelatihan
yang buruk, tidak terdapatnya pemantauan program pengobatan, dan pendanaan
program penanggulangan TB yang lemah; faktor klien (kepatuhan klien yang
kurang, kurang informasi, kekurangan dana, masalah transportasi, masalah efek
samping, masalah sosial, malabsorpsi, dan ketergantungan terhadap substansi
tertentu (Burhan, 2010; ICN, 2008; Kemenkes RI, 2013).

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
105

Kondisi klien TB banyak yang mengalami masalah nutrisi. Klien TB mayoritas


memiliki status nutrisi dengan gizi kurang dan gizi buruk (Ratnawati, 2002). Hal
ini terjadi karena infeksi TB menimbulkan anoreksia, malabsorpsi nutrien dan
mikronutrien serta gangguan metabolisme sehingga terjadi proses penurunan
massa otot dan lemak (Pratomo, Burhan, Tambunan, 2012). Upaya perbaikan gizi
dengan diiringi pengobatan secara teratur dapat meningkatkan kesembuhan klien
TB. Salah satu upaya perbaikan gizi adalah dengan melakukan manajemen nutrisi.
Manajemen nutrisi adalah upaya pengaturan makanan untuk meningkatkan
kesehatan individu (Dochterman & Bulechek, 2004). Manajemen nutrisi yang
diberikan pada asuhan keperawatan keluarga terdiri dari pendidikan kesehatan
tentang menu seimbang, penyusunan menu dan jadwal makan, dan pemantauan
berat badan. Intervensi ini menunjukkan adanya peningkatan berat badan klien TB
setelah diberikan manajemen nutrisi. Namun, intervensi ini belum menunjukkan
adanya perubahan status gizi klien TB karena waktu pemberian intervensi masih
singkat. Menurut Gupta et al (2009), upaya peningkatan status gizi klien TB
dengan manajemen terapi melalui pemberian makanan tambahan dan konseling
efektif meningkatkan berat badan klien TB dengan waktu intervensi selama 6
bulan.

Intervensi manajemen nutrisi tidak bermakna dengan keberhasilan pengobatan


TB. Hal ini disebabkan oleh belum optimalnya keluarga dalam menyiapkan
makanan yang bergizi untuk klien TB. Selain itu, status ekonomi keluarga
berpengaruh terhadap daya beli keluarga untuk memenuhi kebutuhan nutrisi,
sehingga keluarga belum mampu menyiapkan menu makanan yang sesuai dengan
menu gizi seimbang. Keluarga menganggap kebutuhan nutrisi klien TB belum
sebagai kebutuhan yang penting, sehingga keluarga lebih memilih untuk
memenuhi kebutuhan yang lain (Cegielski & McMurray, 2004; Nursyam, Amin,
Rumende, 2006).

Pemeliharaan kesehatan klien TB dapat dilakukan dengan olahraga secara teratur.


Bentuk olahraga yang sesuai diterapkan pada klien TB adalah senam pernafasan.

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
106

Senam pernafasan dapat meningkatkan volume tidal paru-paru sehingga ekspansi


paru untuk inspirasi dan ekspirasi menjadi lebih optimal. Hasil intervensi
menunjukkan adanya perbedaan nilai respiration rate (RR) pada klien TB
sebelum dan sesudah senam pernafasan, terjadi penurunan RR 8,4%. Menurut
Arifin (2011), senam pernafasan dengan metode satria nusantara efektif
menurunkan frekuensi nafas dan tingkat stres. Menurut Rejeki (2012), senam
pernafasan yang dilakukan dengan kombinasi dzikir juga efektif menurunkan RR
pada keluarga binaan dengan TB di wilayah kelurahan Pasir Gunung Selatan.

5.2 Keterbatasan

Keterbatasan pelaksanaan kegiatan “Kontrol” TB yang ada di wilayah Curug


berkaitan dengan tenaga yang melakukan evaluasi penerapan “Kontrol” pada
keluarga adalah kader kesehatan bukan tenaga profesional kesehatan seperti
perawat, dokter atau bidan. Sehingga kemampuan melakukan evaluasi kepada
keluarga belum sesuai dengan kompetensi tenaga professional kesehatan.

Peran kader kesehatan sebagai anggota kelompok peduli TB mengakibatkan


tugas yang diemban oleh kader kesehatan bertambah. Sehinggga kegiatan
kelompok pendukung belum mampu berjalan secara mandiri dan pelaksanaan
kunjungan rumah pada klien TB serta deteksi kasus TB kurang berjalan optimal.

Kemampuan kader kesehatan dalam melakukan penyuluhan masih kurang,


karena jarang berlatih dengan pendampingan perawat dan teman yang lebih
terampil sehingga kurang percaya diri dan belum memiliki keterampilan
penyuluhan yang baik. Kader kesehatan yang kurang terampil dan kurang
percaya diri, tidak berani melakukan penyuluhan kesehatan kepada warga.
Sehingga kegiatan penyuluhan TB hanya dilakukan oleh kader yang terampil saja
dan hal tersebut menimbulkan kejenuhan bagi kader kesehatan yang terampil.

Tenaga kesehatan penanggung jawab wilayah Curug adalah bidan, yang merasa
bukan menjadi kompetensinya dalam melakukan “Kontrol” TB sehingga terkesan
tidak peduli dengan tugasnya di masyarakat. Perawat penanggung jawab di

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
107

puskesmas belum bekerjasama dengan tenaga kesehatan di wilayah Curug dalam


kegiatan kunjungan rumah dan deteksi kasus TB, sehingga proses kunjungan
rumah dan pemberdayaan di masyarakat menjadi kurang optimal.

Kurangnya SDM, baik kuantitatif dan kualitatif di puskesmas terkait pelayanan


kesehatan tuberkulosis. Petugas penanggung jawab TB masih berfokus pada
pelayanan di dalam gedung, sehingga kegiatan di luar gedung berupa kunjungan
rumah pada keluarga TB jarang dilakukan.

Kesulitan untuk mengumpulkan klien TB di masyarakat dalam melakukan senam


pernafasan secara bersama-sama. Karena alasan bekerja, malu dan tidak ada yang
mengantar ke tempat senam. Stigma negatif tentang penyakit TB masih melakat
di masyarakat, hal inilah yang menyebabkan klien TB malu untuk berkumpul
bersama melakukan senam pernafasan di sekitar wilayah tempat tinggalnya.
Kondisi klien TB yang menyebar di seluruh RW pada kelurahan menyebabkan
kesulitan untuk menjangkau tempat senam yang dilaksanakan pada satu wilayah
RW.

Keterbatasan dana untuk kegiatan pemberian tambahan makanan bagi klien TB


dengan status gizi kurang dan buruk. Puskesmas belum aktif melakukan
kerjasama dengan LSM ataupun pihak swasta dalam pengumpulan dana bagi
klien TB.

5.3 Implikasi Keperawatan


5.3.1 Implikasi terhadap pelayanan keperawatan komunitas
a. Pembentukan Kelompok Kader kesehatan Peduli TB (KKP-TB) dalam
upaya pengendalian TB telah teruji meningkatkan keberhasilan
pengobatan pada dewasa TB. Anggota KKP-TB dilatih melakukan
pendidikan kesehatan kepada keluarga dan masyarakat dalam menerapkan
intervensi “Kontrol” TB, pemantauan pengobatan TB, serta melakukan
deteksi dan rujukan kasus TB. Pembentukan KKP-TB ini memerlukan

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
108

dukungan dana dari Dinas Kesehatan, puskesmas, dan kelurahan untuk


keberlangsungan kegiatan KKP-TB.
b. Keberhasilan pembentukan KKP-TB dengan berfokus pada intervensi
“Kontrol” TB dapat digunakan sebagai acuan dalam penerapan
pengendalian TB di masyarakat. Media pendidikan kesehatan berupa
leaflet, lembar balik, modul dan buku kerja yang digunakan pada
intervensi “Kontrol” TB dapat dipakai sebagai pedoman dalam
memberikan penyuluhan kepada keluarga dengan klien TB dan
masyarakat serta dapat digunakan untuk memberikan pelatihan kepada
anggota kelompok pendukung tuberkulosis.
c. Keberhasilan pembentukan KKP-TB dengan peran membantu pelacakan
kasus TB yang putus obat dan mangkir di kelurahan Curug dapat
membantu tugas penanggung jawab program TB di puskesmas dalam
kegiatan di luar gedung. Struktur jaringan komunikasi antara kader
kesehatan, anggota KKP-TB dan petugas TB yang telah terbentuk menjadi
bagian dalam upaya program pengendalian TB di Puskesmas Cimanggis.
Peran ini memerlukan dukungan dana dari Dinas Kesehatan, puskesmas,
dan kelurahan untuk keberlangsungan kegiatan pelacakan kasus TB
mangkir dan putus obat
d. Prosedur senam pernafasan efektif untuk mengurangi sesak nafas dan
membantu mengeluarkan dahak pada klien TB. Prosedur senam
pernafasan tersebut dapat diaplikasikan kepada klien TB di puskesmas
melalui kegiatan senam pernafasan bersama.

5.3.2. Implikasi terhadap ilmu dan penelitian keperawatan komunitas

a. Intervensi keperawatan komunitas “Kontrol” telah teruji efektif


meningkatkan keberhasilan pengobatan pada keluarga dengan masalah
TB. Penerapan ini dapat dikembangkan dan digunakan sebagai salah satu
model pemberdayaan keluarga yang dapat diterapkan di tatanan
masyarakat Indonesia. Kesinambungan model ini memerlukan dukungan
kelompok peduli TB yang ada di masyarakat dan di supervisi oleh petugas
kesehatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terkait dengan peran

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
109

dan pentingnya kelompok pendukung menerapkan “Kontrol” TB dalam


merawat keluarga dengan tuberkulosis
b. Media yang digunakan pada intervensi ini adalah modul kesehatan
tuberkulosis bagi kader kesehatan. Pengembangan modul masih
diperlukan untuk diterapkan kepada perawat. Sehingga diperlukan
pengembangan modul kesehatan bagi perawat terkait materi lain yang
berkaitan dengan masalah fisik, sosial dan psikologis pada klien TB.

93
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
110

BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
a. Peningkatan perilaku anggota KKP-TB sebelum dan sesudah
menerapkan intervensi “Kontrol” TB yang mencakup keterampilan
memberikan penyuluhan TB, deteksi dan rujukan kasus TB
b. Peningkatan pengetahuan keluarga dengan TB sebelum dan sesudah
menerapkan pendidikan kesehatan tuberkulosis
c. Peningkatan berat badan keluarga dengan TB sebelum dan sesudah
menerapkan manajemen nutrisi
d. Penurunan respiration rate pada keluarga dengan TB sebelum dan
sesudah menerapkan senam pernafasan
e. Intervensi komunitas “Kontrol” TB tidak bermakna terhadap
keberhasilan pengobatan TB
f. Terjadi peningkatan angka penemuan kasus TB melalui kelompok
pendukung KKP-TB
g. Terjadi peningkatan angka kesembuhan pasien TB melalui intervensi
“Kontrol” TB
h. Terjadi peningkatan kemandirian keluarga setelah diberikan intervensi
“Kontrol” TB

6.2 Saran
6.2.1 Untuk Pemangku Kebijakan
a. Dinas kesehatan:
1). Pembentukan kelompok pendukung KKP-TB efektif meningkatkan
keberhasilan pengobatan TB dan deteksi kasus TB dapat dijadikan
inovasi tambahan untuk usulan perencanaan pengembangan program
pengendalian TB di puskesmas
2). Petugas supervisor TB Dinas Kesehatan kota Depok menetapkan
perencanaan program TB terkait pengembangan public private mix

110
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
111

untuk meningkatkan cakupan program TB melalui kelompok


pendukung KKP-TB

6.2.2 Untuk Pemberi Pelayanan Kesehatan dan Keperawatan


a. Puskesmas
1). Menetapkan pelatihan secara berkelanjutan untuk kader kesehatan atau
anggota kader kesehatan peduli TB untuk meningkatkan keterampilan
dalam penyuluhan, melakukan deteksi dan rujukan kasus TB serta
melakukan kunjungan rumah dalam pemantauan pengobatan TB
2). Membentuk kelompok pendukung berupa kelompok swabantu bagi
klien TB dengan perawat/ penanggung jawab TB sebagai fasilitator .
Kegiatan dilakukan secara rutin yang berisi kegiatan yang
meningkatkan keberhasilan pengobatan TB seperti senam pernafasan
bersama. Kegiatan senam pernafasan dapat dilakukan sebelum jadwal
pengambilan obat
3). Melakukan kerjasama public-private mix dengan pihak swasta
setempat seperti pabrik industri yang ada di sekitar wilayah Curug
untuk bersama-sama menanggulangi TB melalui pemberian dukungan
dana pada kegiatan KKP-TB
b. Perawat Komunitas
1). Melakukan sosialisasi intervensi keperawatan komunitas “Kontrol” TB
pada kegiatan minilokakarya puskesmas, rapat koordinasi lintas
sektoral di kelurahan dan kecamatan
2). Menggunakan intervensi “Kontrol” TB sebagai metode intervensi
asuhan keperawatan keluarga
3). Membantu memberikan bimbingan dan pendampingan kepada
kelompok pendukung sebagai bagian untuk menguatkan program
“Kontrol” TB

110
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
112

6.2.3 Perkembangan Ilmu Keperawatan


a. Hasil intervensi ini dapat dipublikasikan pada tingkat nasional sehingga
dapat menjadi rujukan bagi yang ingin meneliti lebih lanjut tentang
tuberkulosis
b. Pengembangan intervensi keperawatan komunitas “Kontrol” berkontribusi
terhadap perkembangan keilmuan keperawatan keluarga yang dapat
dijadikan alternatif intervensi keperawatan untuk meningkatkan
keberhasilan pengobatan TB

6.2.4 Penelitian selanjutnya


a. Penelitian lanjutan diharapakan mampu mengidentifikasi lebih objektif
mengenai setiap bagian intervensi “Kontrol” seperti waktu dalam
penerapan senam pernafasan terhadap keberhasilan pengobatan TB
b. Penelitian lanjutan dapat dikembangkan dengan membandingkan pada
kelompok kontrol
c. Penelitian lanjutan juga dapat dikembangkan penerapan “Kontrol” pada
komunitas seperti kelompok swabantu TB

110
Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
DAFTAR PUSTAKA

Acha, J., Sweetland, A., Guerra, D., Chalco, K., Castillo, H., Palacios, E. (2007).
Psychosocial Support Groups for Patients with Multidrug-Resistant
Tuberculosis: Five years of experience. Global Public Health 2(4): October
2007

Aditama, Y. (1993). Patofisiologi Batuk. Jakarta: Bagian Pulmonologi FK UI,


Unit Paru RS Persahabatan

Allender, J.A., Rector, C., Warner, K.D. (2010). Community Health Nursing:
Promoting and Proctecting the Public’s Health 7th Edition. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins

Amaliah, R. (2010). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kegagalan


Konversi Penderita TB Paru BTA Positif Pengobatan Fase Intensif di
Kabupaten Bekasi Tahun 2010. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat:
Universitas Indonesia

Anderson, E. T dan McFarlane, J. (2004). Community as Partner: Theory and


Practice in Nursing. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins

Arifin, K. (2011). Pengaruh Senam Pernafasan Satria Nusantara terhadap


Penurunan Tingkat Stres. Tesis, tidak dipublikasikan. Fakultas Psikologi:
Universitas Diponogoro

Burhan, E. (2010). Tuberkulosis Multi Drug Resistance (TB-MDR). Majalah


Kedokteran Indonsesia Vol: 60, No.12, Desember 2010

Cegielski, J.P dan McMurray, D.N. (2004). The Relationship between


Malnutrition and Tuberculosis: Evidance from Studies in Human and
Experimental animals. International Journal Lung Disease 8(3); March
2004

Chairini, dkk. (2011). Efektivitas Home Visit terhadap Perubahan Pengetahuan,


Sikap, dan Keterampilan Klien TBC di Wilayah Puskesmas Kec. Pasar
Minggu Jakarta Selatan. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol. 14 No.3;
Juli 2011

Curry, F.J. (2007). Tuberculosis Infection Control: A Practical Manual for


Preventing TB. San Francisco: Francis. J. Curry Tuberculosis Center

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Pedoman Nasional


Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2. Jakarta: Depkes RI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Pedoman Pengelolaan
Promosi Kesehatan: Dalam Pencapaian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS). Jakarta: Departemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Buku Saku Kader Program


Penanggulangan TB. Jakarta: Depkes RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Pedoman Penyelenggaraan


Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas. Jakarta: Depkes
RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Pedoman Pengelolaan


Promosi Kesehatan: Dalam Pencapaian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS). Jakarta: Departemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan

DeLaune, S.C dan Ladner, P.K. (2011). Fundamental of Nursing: Standards and
Practice 4th Edition. USA: Delmar Cengage Learning

Dirjen P2PL Depkes RI. (2009). Pelatihan Penanggulangan TB MDR: Modul 1


Pengantar Pelatihan. Jakarta: Depkes RI

Dochterman, J.C., & Bulechek, G.M. (Eds.). (2004). Nursing Interventions


Classification: NIC 4th ed. St. Louis, MO: Mosby

Edelman, C dan Mandle, C.L. (2010). Health Promotion Throughout The Life
Span 7th Edition. St. Louis: Mosby

Ervin, N. E. (2002). Advanced Community Health Nursing Practice: Population-


Focused Care. New Jersey: Pearson Education, Inc

Fatimah, S. (2008). Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah yang berhubungan


dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten Cilacap (Kecamatan: Sidareja,
Cipari, Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari). Tesis.
http://eprints.undip.ac.id/24695/1/SITI_FATIMAH.pdf

Fertman, C. I dan Allensworth, D. D. (2010). Health Promotion Programs: From


Theory to Practice. San Francisco: A Wiley Imprint

Friedman, M.M., Bowden, V.R., Jones, E.G. (2003). Family Nursing: Research,
Theory & Practice 5th Edition. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Gillies, D. A. (1994). Nursing Management: A Systems Approach 3th Edition.


Philadelphia: W.B Saunders Company

Glanz, K., Rimer, B. K., Viswanath, K. (2008). Health Behavior and Health
Education: Theory, Research and Practice 4 th Edition. San Francisco: John
Wiley and Sons

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Gorin, S. S dan Arnold, J. (2006). Health Promotion in Practice. San Francisco:
John Wiley and Sons

Golden, M.P. and Vikram, H.R. (2005). Extra-pulmonary Tuberculosis: An


Overview.American Family Physician, 72 (9)

Gupta, et al. (2009). Tuberculosis and Nutrition. Lung India Journal, 26(1);
January-March 2009

Helvie, C. O. (1998). Advanced Practice Nursing in the Community. Thousand


Oaks, CA: Sage

Hitchcock, J.E., Schubert, P.E dan Thomas, S.A. (1999). Community Health
Nursing: Caring in Action. New York: Delmar Publishers

Hutapea, T. P. (200ICN. (2008). TB Guidelines: for Nurses in the Care and


Control of Tuberculosis and Multi-drug Resistant Tuberculosis 2nd Edition.
Geneva: ICN

Kaakinen, J. R., Gedaly-Duff, V., Coehlo, D.P., & Hanson, S. M. H. (2010).


Family Health Care Nursing: Theory, Practice and Research 4th Edition.
Philadelphia: F.A Davis Company

Kemenkes RI. (2013). Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta:


Kemenkes Republik Indonesia

Kemenkes RI. (2013). Petunjuk Teknis Manajemen Terpadu Pengendalian


Tuberkulosis Resistan Obat. Jakarta: Kemenkes RI

Kemenkes RI. (2011). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta:


Kemenkes RI

Kozier, B., Erb, G., Berman, A., Snyder, S. (2004). Fundamentals of Nursing:
Concepts, Process, and Practice. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Kurtz, L F. (1997). Self-Help and Support Groups: A Handbook for Practitioners.


California: Sage Publications, Inc

Manalu, H S P. (2010). Faktor faktor yang mempengaruhi kejadian TB Paru dan


Upaya Penanggulangannya. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol.9, No.4,
Desember 2010

Marquis, B. L & Huston, C.J. (2003). Leadership roles and management functions
in nursing: theory and application 4th Edition. Philadelphia: Lippincoatt
Williams & Wilkins

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
MKopi, A., et al. (2012). Adherence to Tuberculosis Therapy among Patients
Receiving Home-Based Directly Observed Treatment: Evidence from the
United Republic of Tanzania. PLoS ONE 7(12); Desember 2012

Murtantiningsih dan Wahyono, B. (2010). Faktor –Faktor yang Berhubungan


dengan Kesembuhan Penderita Tuberkulosis Paru. Kemas 6 (1) (2010)

Murti, E. S., Prabandari, Y. S., Riyanto, B. S. (2006). Efektivitas Promosi


Kesehatan dengan Peer Education pada Kelompok Dasawisma dalam Upaya
Penemuan Tersangka Penderita TB Paru. Berita Kedokteran Masyarakat
Vol.2 No.3, Sepetember 2006

Muninjaya, A. A. (2004). Manajemen Kesehatan. Jakarta: EGC

Munir, M. (2013). Hubungan antara Senam Lansia (Senam Tera) dengan


Kesegaran Jasmani pada Lansia di Posyandu Mahkota Sari Kelurahan
Kingking Tuban. Laporan Hasil Penelitian, tidak dipublikasikan. FKM:
Stikes NU Tuban

Natalya, W. (2007). Aplikasi Keperawatan Komunitas pada Aggregate TBC di


Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas kota Depok. Karya
Ilmiah Akhir. Tidak dipublikasikan. FIK: UI

NANDA International (2011). Nursing Diagnoses: Definitions & Classification


2012-2014. Philadelphia: Wiley-Blackwell

Notoadmodjo, S. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT.Rineka Cipta

Notoadmodjo, S. (2005). Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka


Cipta

Nugroho, R. A. (2011). Studi Kualitatif Faktor yang Melatarbelakangi Drop Out


Pengobatan Tuberkulosis Paru. Kemas 7(1), 2011.
http://journal.unnes.ac.id/index.php/kemas

Nursyam, E.W., Amin, Z., Rumende, C.M. (2006). The Effect of Vitamin D as
Supplementary Treatment in Patients with Moderately Advanced
Pulmonary. Indonesia Journal Intern Medical, 38(1) March 2006

Parwati, N.P, Karmaya, N. M., Sutjana, D.P., (2013). Senam Tera Indonesia
Meningkatkan kebugaran jantung Paru lansia di Panti Werdha Wana Seraya
Denpasar. Tesis. Tidak dipublikasikan. IKM: Universitas Udayana

Pender, N., Murdaugh, C. L., Parsons, M.A. (2002). Health Promotion in Nursing
Practice 4rd Edition. New Jersey: Pearson Education, Inc

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pertiwi. (2004). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru pada
usia 0-14 tahun di Jakarta Timur tahun 2004. Tesis. FKM: Universitas
Indonesia

Putra, A.E., Rosa, Y.,Rasyid, R. (2001). Pemberdayaan Komponen Masyarakat


melalui Pembentukan Kelompok Peduli TB Paru dalam Menurunkan
Morbiditas dan Mortalitas TB Paru pada Masyarakat Desa Pincuran Sonsang
Kec. VII Kota Sei Sarik Padang Pariaman.
http://repository.unand.ac.id/4565/1/LP.pdf

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2011). Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis


dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia

Pranowo, C.W. (2008). Efektifitas Batuk Efektif dalam Pengeluaran Sputum


untuk Penemuan BTA pada pasien TB Paru di Ruang Rawat Inap RS Mardi
Rahayu Kudus. Skripsi, tidak dipublikasikan,

Pratiwi, N. L., Betty, R., Hargono, R., Widya, N. E. (2012). Kemandirian


Masyarakat dalam Perilaku Pencegahan Penularan Penyakit TB Paru.
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol. 15, No.2; April 2012

Prince, S. A dan Wilson, L. M. (2006). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-


proses penyakit Edisi 6 Vol.2. Jakarta: EGC

Rachmawati, T dan Turniani, L. (2006). Pengaruh Dukungan Sosial dan


Pengetahuan tentang Penyakit TB terhadap Motivasi untuk Sembuh
Penderita Tuberkulosis Paru yang Berobat di Puskesmas. Buletin Penelitian
Sistem Kesehatan Vol.9, No.3; Juli 2006

Ratnawati, N.L.Y. (2002). Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Gizi


pada Pasien Tuberkulosis Paru Rawat Jalan di RSU dr. Soeselo dan
Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Skripsi, tidak
dipublikasikan. FKM: Undip

Rejeki, H. (2012). Kelompok Pendukung sebagai Bentuk Intervensi Pengendalian


TB Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Pasir Gunung Selatan
Kota Depok. Karya lmiah Akhir. Tidak dipublikasikan. FIK: UI

Senewe, F. P. (2002). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Berobat


Penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas Depok. Buletin Penelitian
Kesehatan Vol.30, No.1, 2002

Snyder, M dan Lindquist, R. (2010). Complementary & Alternative Therapies in


Nursing. 6 Edition. New York: Springer Publishing Company

Solihin, J. R. (2014). SMS TB sebagai media intervensi keperawatan komunitas


untuk meningkatkan kepatuhan dan deteksi kasus TB di kelurahan Cisalak

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pasar, Cimanggis, Depok. Karya Ilmiah Akhir. Tidak dipublikasikan. FIK:
UI

Stanhope, M dan Lancaster, J. (2004). Community and Public Health Nursing


Sixth Edition. Missouri: Mosby Elsevier

Swanburg, R.C. (2000). Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan


untuk Perawat Klinis. Jakarta: EGC

Swanson, J. M dan Nies, M. A. (1997). Community Health Nursing: Promoting


the Health of Aggregates 2nd Edition. Philadelphia: W.B Saunders Company

Tirtana, B. T dan Musrichan. (2011). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi


Keberhasilan Pengobatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dengan Resistensi
Obat Anti Tuberkulosis di Wilayah Jawa Tengah. Skripsi. Tidak
dipublikasikan. FK: Universitas Diponogoro

WHO. (2007). Pedoman Interim WHO: Pencegahan dan Pengendalian Infeksi


Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan
pandemi di fasilitas pelayanan kesehatan. Akses 12 Maret 2014: 23.05 WIB.
http://www.who.int/csr/resources/publications/

WHO. (2013). Global Tuberculosis Report 2013. Akses 30 Desember 2013; 12.15
WIB. http://www.who.int/tb/publications/global_report/en/index.html

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Lampiran 1
KUISIONER MASALAH KESEHATAN
KELURAHAN CURUG KEC. CIMANGGIS KOTA DEPOK

No. Responden
Petunjuk Pengisian :
1. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti
2. Lingkarilah jawaban yang Bapak/Ibu/ keluarga pilih pada nomor jawaban yang tersedia
3. Isilah titik-titik sesuai dengan kondisi Bapak/Ibu dan keluarga anda
4. Nomor responden diisi oleh petugas

A. DATA UMUM KELUARGA


1 Nama Kepala
Keluarga (KK) : ..................................................

2 Umur :
..................................................
3 Jenis Kelamin : 1. Laki-laki (L)
2. Perempuan (P)

4 Suku :
..................................................
5 Agama : 1. Islam 4. Hindu
2. Kristen 5. Budha
3. Katolik 6. Kepercayaan
lainnya.........................
6 Alamat : Jln.............................................
RW..............RT.............
HP/Telepon...............................
7 Pendidikan Terakhir : 1. Tidak Sekolah 4. SMA
Kepala Keluarga 2. SD 5. Diploma
(KK) 3. SMP 6. Sarjana/ Magister/ Doktor
8 Pekerjaan kepala : 1. Pedagang 5. Buruh
keluarga (KK) 2. Petani 6. TNI
3. Pegawai Swasta 7. PNS
4. Wiraswasta 8. Lain-lain
sebutkan.......................
9 Penghasilan : 1. < Rp 2.042.000.00
perbulan keluarga 2. ≥ Rp 2.042.000.00
10 Berapa lama tinggal : 1. < 6 bulan
di Wilayah Curug 2. 6-12 bulan
3. > 12 bulan

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
11 Apakah keluhan : 1. Batuk/ Pilek 4. Nyeri sendi dan otot
kesehatan yang KK 2. Tekanan darah tinggi/ 5. Kencing manis
rasakan selama 3 hipertensi 6. Lain-lain,
bulan terakhir? 3. Flek paru/ batuk berdahak sebutkan…………………
lebih dari 3 minggu/ batuk ……………………………
berdarah ……………………………
……………………………

B. DATA ANGGOTA KELUARGA YANG TINGGAL SERUMAH

NO Nama Jenis Umur Penddk Pekerjaan Hub. Apa keluhan BB/TB


Panggilan Kelamin terakhir dgn KK kesehatan yang
dirasakan 3 bln
L/P terakhir
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Ket:
BB : Berat Badan
TB : Tinggi Badan

C. DATA PELAYANAN KESEHATAN

1 Apa yang Saudara lakukan : 1. Membiarkan saja 4. Mengunjungi fasilitas


apabila ada anggota keluarga 2. Membeli obat di warung kesehatan
yang mengalami masalah 3. Berobat alternatif 5. Lainnya,
kesehatan? sebutkan........................
2 Apa jenis pelayanan kesehatan : 1. Puskesmas 4. Bidan Praktik
yang digunakan keluarga saat 2. RS 5. Pengobatan alternatif
mengalami masalah kesehatan? 3. Dokter Praktik 6. Lain-lain,
sebutkan.......................

3. Apa jenis jaminan kesehatan : 1. Jamkesmas 4. Jamsostek


yang digunakan/ dimiliki 2. Jampersal 5. ASKES
keluarga? 3. Jamkesda 6. Lain-lain,
sebutkan………………
4 Apakah Saudara pernah : 1. Ya
mendapatkan informasi 2. Tidak
kesehatan?

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
5 Apa jenis informasi kesehatan : 1. Flek paru/ Tuberkulosis (TB) 5. Stress pada pekerja
yang pernah Saudara peroleh? Paru 6. Gangguan tulang dan
2. Hipertensi/darah tinggi otot akibat bekerja
3. ASI Eksklusif 7. Lainnya,.......................
4. Nutrisi Ibu Hamil
6 Darimanakah sumber informasi : 1. Petugas kesehatan 4. Internet
kesehatan Saudara peroleh? 2. Media cetak (koran, brosur, 5. Teman/ keluarga/
poster, leaflet) tetangga
3. Media elektronik (TV, radio) 6. Lainnya,
sebutkan........................

7 Menurut Saudara, metode : 1. Pemutaran Video/ Film


apakah yang paling menarik 2. Website/ internet
untuk penyampaian informasi 3. Penyuluhan
kesehatan? 4. Poster/leaflet
5. Lainnya,
sebutkan...................................

D. DATA RISIKO PASIEN FLEK PARU/ TUBERKULOSIS (TB)

1. Apakah ada anggota keluarga yang pernah sakit flek paru / TB


1. Ya, pernah
2. Tidak pernah
2. Apakah Bapak/ Ibu/ anggota keluarga memiliki keluhan kesehatan seperti di bawah ini?
(pertanyaan ini diajukan kepada risiko TB/ pasien TB/ pernah menderita TB)
Berilah tanda centang ( √ ) pada keluhan kesehatan yang Bapak/ Ibu/ anggota keluarga
rasakan!
No Keluhan kesehatan Ya Tidak
1. Batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih
2. Batuk berdahak bercampur darah selama 2-3 minggu atau lebih
3. Berkeringat di malam hari tanpa kegiatan fisik
4. Batuk mengeluarkan darah selama 2-3 minggu atau lebih
5. Nafsu makan menurun dan mengalami penurunan berat badan
6. Mengalami sesak nafas
7. Badan terasa lemas
8. Demam meriang lebih dari satu bulan

3. Apakah Bapak/ Ibu/ anggota keluarga pernah melakukan pemeriksaan terhadap keluhan kesehatan
sesuai dengan tabel di atas ke pelayanan kesehatan?
1. Ya, dimana....................................hasil pemeriksaan...................................................................
2. Tidak, kenapa................................................................................................................................
4. Bila ya, hasil pemeriksaan menunjukkan diagnosa TB, lanjutkan ke pengkajian E (Data Pasien
TB/ Pernah Menderita TB)

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
E. DATA PESIEN TB/ PERNAH MENDERITA TB

1. Sejak kapan Bapak/ Ibu terdiagnosa menderita TB:


1. Kurang dari 6 bulan yang lalu
2. Lebih dari 6 bulan yang lalu
2. Waktu Mulai Berobat : Tanggal..........................Bulan.........................Tahun........................
3. Dimana Bapak/ Ibu mengambil obat atau memeriksa kesehatan?
1. Posbindu 4. Puskesmas 7. Klinik
2. Rumah sakit 5. Posyandu 8. Praktik Bidan
3. Praktik Dokter 6. Praktik Perawat 9. Lain-
lain,…………………
4. Apakah obat diberikan secara gratis?
1. Ya 2. Tidak
5. Bagaimana cara Bapak/ Ibu menuju ke tempat pelayanan kesehatan atau mengambil obat?
1. Jalan kaki
2. Menggunakan kendaraan pribadi (sepeda, motor, mobil)
3. Kendaraan umum
4. Lainnya,
sebutkan...........................................................................................................................
6. Apakah di dalam keluarga Bapak/ Ibu ada yang mengalami penyakit yang sama?
1. Ada, sebutkan ................................... 2. Tidak ada

7. Adakah terapi alternatif yang digunakan selain pengobatan medis?


1. Ada, sebutkan ..................................Alasannya.............................................................................
2. Tidak ada
8. Apakah Bapak/ Ibu sampai saat ini masih bekerja?
1. Ya 2. Tidak
9. Apa kegiatan Bapak/ Ibu yang di ikuti di masyarakat?
1. Pengajian
2. Arisan RT/RW
3. Lain-lain,……………………………………………………………………………………..
4. Tidak ada
10. Apa aktivitas yang Bapak/ Ibu lakukan saat mengisi waktu luang di rumah?
1. Memasak
2. Menonton TV
3. Membaca
4. Tidur
5. Lain-lain, sebutkan………………………………………………………………………….

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
F. DATA PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)

1. Adakah pengawas menelan obat TB?


1. Ya 2. Tidak
2. Nama : ………………………………..
3. Umur : ………………………………..
4. Jenis Kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan
5. Status PMO :
1. Suami 2. Istri 3. Bapak/ibu
4. Kader 5. Tetangga 6. Anak

6. Apakah peran PMO yang sudah dilakukan terhadap Bapak/ Ibu?


1. Mengantarkan pasien memeriksakan kesehatan ke fasilitas kesehatan
2. Mengambil OAT untuk pasien
3. Mengingatkan pasien untuk minum obat
4. Memantau pasien minum obat
5. Lainnya……………………………………………………………………………………

G. PERILAKU KESEHATAN PENDERITA TB


Berilah tanda centang ( √ ) pada pernyataan yang sesuai pendapat Bapak/ Ibu!
1. Pengetahuan
No Pernyataan Ya Tidak
1. Pasien flek paru/ TB dapat menularkan penyakitnya kepada anggota keluarga
2. Penyakit flek paru/ TB menular melalui percikan dahak, batuk dan bersin
3. Penyakit flek paru/ TB disebabkan oleh minum air yang tidak dimasak
4. Penyakit flek paru/ TB terjadi karena faktor ekonomi keluarga yang kurang
mampu
5. Penyakit flek paru/ TB ditandai denggan batuk berdahak selama 3 minggu
atau lebih
6. Kamar yang lembab dan sedikit mendapatkan sinar matahari langsung
mengurangi pertumbuhan kuman flek paru/ TB
7. Penyakit flek paru/ TB dapat disembuhkan jika minum obat secara teratur
paling sedikit selama 6 bulan berturut-turut
8. Penyembuhan penyakit flek paru/ TB didukung dengan makan makanan
bergizi
9. Terlambat minum obat flek paru/ TB selama lebih dari 2 hari tidak
mempengaruhi proses kesembuhan

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
No Pernyataan Ya Tidak
10. Penyakit TB dapat dicegah dengan imunisasi
11. Pemeriksaan dan pengobatan TB di puskesmas diberikan secara gratis
12. Setiap orang yang terhirup kuman TB akan menjadi sakit
13. Untuk mencegah penularan penyakit flek paru/ TB dengan membuang dahak
ditempat tertutup, menggunakan masker dan menutup mulut saat batuk/
bersin
14. Merokok merupakan salah satu penyebab penyakit flek paru/ TB
15. Penderita TB membutuhkan pengawas minum obat untuk membantunya
minum obat secara teratur

2. Sikap

Sangat Ragu- Tidak


No Pernyataan Setuju
setuju ragu setuju
1. Penyakit flek paru/ TB adalah penyakit berbahaya,
sehingga harus diisolasi
2. Menurut saya, menjaga kebersihan lingkungan
rumah dan sekitar harus dilakukan untuk mencegah
TB pada keluarga
3. Menurut saya, penyakit flek paru/ TB adalah
penyakit orang miskin
4. Menurut saya, penyakit flek paru/ TB adalah
penyakit memalukan
5. Menurut saya, obat yang diberikan petugas kesehatan
dapat menyembuhkan penyakit saya
6. Menurut saya, pasien flek paru/ TB harus rajin
minum obat supaya sembuh
7. Menurut saya, pasien flek paru/ TB harus makan
makan yang bergizi
8. Menurut saya, pasien flek paru/ TB dapat kambuh
kembali apabila tidak menjaga kesehatannya
9. Pasien flek paru/ TB yang berhenti minum obat
selama masa pengobatan, akan susah sembuh dan
pengobatannya lebih sulit dan lama
10. Menurut saya, bahwa pasien flek paru/ TB harus
didukung dan didampingi keluarga untuk minum
obat

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Sangat Ragu- Tidak
No Pernyataan Setuju
setuju ragu setuju
11. Menurut saya, obat flek paru/ TB menimbulkan efek
samping obat, seperti: mual, tidak nafsu makan,
gatal-gatal, sesak nafas, badan terasa panas, kencing
berwarna merah
12. Saya tidak bisa bekerja selama menjalani pengobatan
flek paru/ TB
13. Saya jenuh menjalani pengobatan flek paru/ TB yang
lama
14. Saya malu, menyendiri dan menjaga jarak dengan
orang lain

3. Kebiasaan sehari-hari

No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak


kadang pernah
1. Membersihkan kamar dan rumah setiap hari
2. Membuka jendela kamar dan ruang keluarga setiap
hari
3. Ada yang merokok di rumah
4. Olah raga supaya sembuh
5. Petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin terkait
TB di lingkungan Bapak/ bu secara berkala
6. Menutup mulut saat batuk atau bersin
7. Minum obat teratur sesuai anjuran petugas kesehatan
8. Membuang dahak ke tempat yang telah disediakan
yaitu tempolong atau tempat dahak tertutup yang
berisi desinfektan (bayclin)
9. Ada lauk (tahu, tempe, telur, daging, dll) di setiap
menu makanan
10. Terlambat mengambil obat dan melakukan kontrol ke
puskesmas atau fasilitas kesehatan

Keterangan:
Selalu : Jika setiap hari dilakukan
Sering : Jika lebih dari 2 kali seminggu dilakukan
Kadang-kadang : Jika hanya 1 kali dalam seminggu dilakukan
Tidak pernah : Tidak pernah dilakukan

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PEDOMAN OBSERVASI LINGKUNGAN RUMAH
No. Responden

Petunjuk (diisi oleh petugas kesehatan):


Berikan tanda centang (√) sesuai dengan kondisi lingkungan rumah saat kunjungan
rumah!

Komponen Komponen yang dinilai Ya Tidak Keterangan


Lingkungan Rumah
Kepadatan penghuni Kepadatan penghuni rumah 6
rumah m2/ orang
Pencahayaan sinar Sinar matahari bisa masuk ke
matahari dalam kamar tidur
Sinar matahari masuk ke ruang
keluarga
Ventilasi ≥ 10% luas lantai rumah
Keberadaan jendela Jendela kamar tidur
rumah Jendela ruang keluarga
Kebiasaan jendela di Jendela kamar tidur di buka
buka setiap hari
Jendela ruang keluarga di buka
setiap hari
Lantai rumah Tanah
Tegel
Semen
Bahan pembuat Batu bata/ tembok
dinding rumah terbua Kayu/ bambu

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PANDUAN WINSHIELD SURVEY

1. Bagaimana kondisi perumahan masyarakat Kelurahan Curug?


2. Apa saja yang dilakukan masyarakat terkait kebersihan lingkungan?
3. Jumlah fasilitas kesehatan yang ada dan akses kepada masyarakat?
4. Adakah fasilitas penyampaian informasi terkait penyakit TBC?
5. Apa saja pekerjaan masyarakat di wilayah tersebut?
6. Adakah sumber polusi dari daerah tersebut?

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PENAPISAN MASALAH MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

Diagnosis Manajemen Pentingnya Kemungkinan Peningkatan Rangking semua TOTAL


Pelayanan Kesehatan masalah untuk perubahan terhadap diagnosis dari 1-
dipecahkan positif jika kualitas hidup 6
diatasi bila diatasi 1= kurang
1= Rendah 0= Tidak ada 0= Tidak ada penting
2= Sedang 1= Rendah 1= Rendah 6= paling
3= Tinggi 2= Sedang 2= Sedang penting
3= Tinggi 3= Tinggi
Belum optimalnya perencanaan program kegiatan 2 2 1 2 7
masyarakat pada kelompok dewasa tuberkulosis

Belum ada organisasi masyarakat peduli tuberkulosis di 3 2 2 5 12


wilayah kelurahan Curug

Belum optimalnya peran kader kesehatan dalam 3 2 2 3 10


pengendalian tuberkulosis

Belum optimalnya komunikasi petugas TB puskesmas 3 2 2 4 11


dengan kader kesehatan

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi program 2 2 1 1 6


tuberculosis belum optimal

Lampiran 2
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PENAPISAN MASALAH ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

No Masalah Keperawatan Komunitas No Komponen Penilaian Skor Kriteria Nilai


Dx Beratnya Ranking Prioritas
Masalah (1-10) Diagnosis
(1-10) (A X B)
A B
1 Ketidakefektifan pemeliharaan 1 Kesadaran masyarakat terhadap masalah 7 7 49
kesehatan pada kelompok 2 Motivasi masyarakat untuk menyelesaikan masalah 6 8 48
dewasa TB di kelurahan Curug 3 Kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan masalah 6 8 48
4 Tersedianya fasilitas di masyarakat 6 8 48
5 Derajat keparahan masalah 7 9 49
6 Waktu untuk menyelesaikan masalah 7 8 56
Total 298
2 Risiko peningkatan kasus 1 Kesadaran masyarakat terhadap masalah 6 8 48
MDR-TB pada kelompok 2 Motivasi masyarakat untuk menyelesaikan masalah 7 7 49
dewasa TB di kelurahan Curug 3 Kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan masalah 6 7 42
4 Tersedianya fasilitas di masyarakat 7 7 49
5 Derajat keparahan masalah 6 6 36
6 Waktu untuk menyelesaikan masalah 6 8 48
Total 272
3 Risiko penularan TB pada 1 Kesadaran masyarakat terhadap masalah 7 7 49
masyarakat di kelurahan 2 Motivasi masyarakat untuk menyelesaikan masalah 6 7 42
Curug 3 Kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan masalah 6 8 48
4 Tersedianya fasilitas di masyarakat 6 7 42

Lampiran 3
5 Derajat keparahan masalah 7 8 56
6 Waktu untuk menyelesaikan masalah 7 8 56
Total 293

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
4 Risiko kekambuhan pada klien 1 Kesadaran masyarakat terhadap masalah 6 8 48
TB di kelurahan Curug 2 Motivasi masyarakat untuk menyelesaikan masalah 6 7 42
3 Kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan masalah 6 7 42
4 Tersedianya fasilitas di masyarakat 7 7 49
5 Derajat keparahan masalah 6 6 36
6 Waktu untuk menyelesaikan masalah 6 8 48
Total 265

5 Regimen pengobatan TB 1 Kesadaran masyarakat terhadap masalah 6 9 54


kurang efektif di kelurahan 2 Motivasi masyarakat untuk menyelesaikan masalah 7 7 49
Curug 3 Kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan masalah 6 8 48
4 Tersedianya fasilitas di masyarakat 7 8 56
5 Derajat keparahan masalah 6 6 36
6 Waktu untuk menyelesaikan masalah 6 8 48
Total 291

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
KUISIONER
Pre dan Post Test

NAMA :
ALAMAT RT/ RW :

No Pernyataan Ya Tidak
1. Penderita TB dapat menularkan penyakitnya kepada anggota
keluarga yang tinggal serumah
2. Penyakit TB dapat dicegah dengan menjaga kebersihan
lingkungan rumah dan sekitarnya
3. Pasien TB dilarang makan ikan dan telur
4. Penyakit TB dapat disembuhkan jika minum obat secara teratur
tiap hari paling sedikit selama 6 bulan berturut-turut
5. Penyakit TB disebabkan oleh minum air yang tidak dimasak
6. Penyembuhan penyakit TB didukung dengan makan makanan
bergizi
7. Penyakit TB ditandai dengan batuk berdahak selama 3 minggu
berturut-turut
8. Pasien TB yang lupa minum obat sehari, tidak mempengaruhi
proses kesembuhannya
9. Penyakit TB menyebabkan penderitanya mengalami penurunan
berat badan yang cepat
10. Penyakit tuberkulosis dapat dicegah dengan membuang dahak
di tanah

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
BUKU KERJA
KELOMPOK PEDULI TB

UNTUK MASYARAKAT YANG PEDULI


TERHADAP TUBERKULOSIS

Oleh:
Ns. Ni Luh Putu Eva Yanti, M.Kep

Kel. Curug, Kec. Cimanggis kota Depok bekerjasama dengan


Mahasiswa Spesialis Keperawatan Komunitas FIK UI

“Jadilah Kader Kesehatan yang Peduli TB”


Depok, 2014

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

BUKU KERJA
KELOMPOK KADER KESEHATAN
PEDULI TB (KKP-TB)

UNTUK MASYARAKAT
YANG PEDULI TERHADAP TUBERKULOSIS

BIODATA PEMILIK BUKU

NAMA :

ALAMAT :

No. HP :

1 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat-Nya, buku kerja Kelompok PEDULI TB ini dapat tersusun. Buku ini
merupakan panduan bagi kader kesehatan yang memiliki kepedulian terhadap
penanggulangan tuberkulosis (TB) di masyarakat. Buku kerja ini berisi tentang
catatan harian kegiatan anggota kelompok PEDULI TB dalam menemukan kasus TB
(suspek TB) dan pemantauan kesehatan pada pasien TB.

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang harus segera disembuhkan. Deteksi dini
pada kasus TB membantu mengurangi penyebaran TB di masyarakat. Oleh karena itu,
diperlukan dukungan kader kesehatan dalam kelompok PEDULI TB untuk melakukan
penemuan kasus dan pemantauan kesehatan pasien TB yang ada di wilayahnya secara
berkala.

Buku kerja ini memberi kemudahan bagi kader kesehatan dalam mendokumentasikan
kasus suspek TB, rujukan kasus TB dan pemantauan kesehatan pasien TB. Sehingga
meningkatkan kepatuhan pengobatan dan kesembuhan pasien TB.

Akhir kata, kami berharap buku kerja ini bermanfaat bagi kader kesehatan dalam
melakukan deteksi kasus TB dan pemantauan kesehatan kepada pasien TB dan
keluarga.

Depok, Maret 2014

Penyusun

2 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

BUKU KERJA KELOMPOK PEDULI TB

APAKAH BUKU KERJA KELOMPOK PEDULI TB?


Buku kerja kelompok PEDULI TB adalah buku panduan bagi kader kesehatan yang
peduli terhadap penyakit tuberkulosis. Buku kerja ini berisi tentang cara
mengidentifikasi orang dengan suspek TB, cara melakukan rujukan kasus TB dan
cara pemantauan kesehatan pasien TB

APA MANFAAT BUKU KERJA KELOMPOK PEDULI TB?

Manfaat buku ini sebagai pedoman anggota kelompok dalam mengidentifikasi tanda
dan gejala penyakit TB, melakukan kunjungan rumah pada kasus suspek TB,
melakukan rujukan kasus dan pemantauan kesehatan pasien TB

KAPAN BUKU KERJA KELOMPOK PEDULI TB INI DIGUNAKAN?


Buku ini digunakan saat anggota kelompok menemukan orang dengan gejala TB,
melakukan kunjungan rumah pada kasus suspek TB dan pasien TB.
Buku ini wajib di bawa saat pertemuan kelompok PEDULI TB

SIAPA YANG MENGISI BUKU KERJA KELOMPOK PEDULI TB?


Setiap anggota kelompok PEDULI TB, kader kesehatan, atau petugas kesehatan

APA TUGAS KADER KESEHATAN DALAM KELOMPOK PEDULI TB?


Peran kader kesehatan dalam kelompok PEDULI TB adalah:
1. Memberikan penyuluhan tentang TB dan penanggulangannya kepada masyarakat
2. Membantu menemukan orang yang dicurigai sakit TB dan pasien TB di
wilayahnya
3. Melakukan rujukan kasus suspek TB atau pasien TB
4. Mendorong pasien TB untuk kontrol dan pemeriksaan dahak secara teratur
5. Mendorong anggota keluarga/ yang kontak langsung dengan pasien TB untuk
melakukan pemeriksaan dahak

3 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

6. Membantu puskesmas atau sarana kesehatan lainnya dalam membimbing dan


memberikan motivasi kepada Pengawas Menelan Obat (PMO) untuk selalu
melakukan pengawas menelan obat
7. Jika seseorang tidak memiliki PMO, maka seorang kader bisa menjadi PMO

SIAPA SAJA YANG DAPAT DICURIGAI MENDERITA TB?


Orang yang berisiko terkena TB:
1. Anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TB
2. Orang yang memiliki gejala TB

APA GEJALA TB?


Gejala utama: Batuk terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih
Gejala tambahan:
1. Batuk bercampur darah
2. Sesak nafas dan nyeri dada
3. Nafsu makan berkurang dan berat badan menurun
4. Lemas
5. Demam/ meriang selama sebulan atau lebih
6. Berkeringat di malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan

BAGAIMANA ALUR PENEMUAN KASUS TB?

Identifikasi Orang dengan


suspek TB

Hub Mahasiswa/ Bidan Desa/ Petugas


Puskesmas  Memastikan kasus TB

Buat rujukan kasus


Mengantarkan ke puskesmas

Hasil positif TB:


Lakukan pemantauan kesehatan:
1. Jadwal kontrol kembali
2. Jadwal pengobatan
3. Kemajuan kesehatan
4 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS
4. Efek samping obatFIK UI
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

CARA PENGISIAN BUKU KERJA INI

PENEMUAN KASUS TB
Langkah pengisian:
1. Mengidentifikasi gejala/ faktor risiko TB
a. Mengisi hari/ tanggal saat kader kesehatan menemukan orang yang dicurigai
TB
b. Mencatat nama, umur, dan alamat
2. Cara mengatasi masalah
a. Merencanakan tindakan yang akan dilakukan kader kesehatan
b. Mencatat apa tindakan yang kader lakukan setelah menemukan suspek TB

Contoh:

Hari/ Nama/ Umur/ Gejala TB/ Tindakan kader kesehatan


Tanggal Alamat Suspek TB Faktor risiko TB
Selasa, 18 Ibu De/ 32 th/ Batuk berdahak Menghubungi mahasiswa/
Maret 2014 RT 02 RW 06 sebulan, bidan desa,
Riwayat suami Kunjungan rumah bersama
menderita TB, mahasiswa/ bidan desa,
Berat badan turun Deteksi gejala TB
drastis

Kamis, 20 Bpk Am/ 45 th/ RT Batuk berdarah, Kunjungan rumah,


Maret 2014 01 RW 06 Badan kurus, nafas Dorong untuk ke
sesak puskesmas,
Membuat rujukan kasus

5 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

PEMANTAUAN KESEHATAN TB

Langkah pengisian:
Setelah ditemukan pasien dengan TB positif, lakukan kunjungan rumah untuk
memantau kesehatannya.
1. Mengidentifikasi masalah
a. Mengisi hari/ tanggal saat kader kesehatan melakukan kunjungan rumah
b. Mencatat nama, umur, dan alamat
c. Menanyakan kesehatannya dan keluhan yang dirasakan
d. Menanyakan jadwal pengobatan dan kontrol
e. Mengobservasi tanda kemajuan kesehatan
f. Mencatat masalah kesehatan yang ditemukan
2. Cara mengatasi masalah
a. Merencanakan tindakan yang akan dilakukan kader kesehatan
b. Mencatat apa tindakan yang kader lakukan setelah menemukan masalah
tersebut

Contoh:

Hari/ Nama/ Umur/ Masalah kesehatan Tindakan kader kesehatan


Tanggal Alamat Suspek TB
Selasa, 11 Ibu Sa/ 35 th/ Setiap minum obat Menghubungi mahasiswa/
Maret 2014 RT 03 RW 06 TB merasakan mual bidan desa,
dan muntah Kunjungan rumah bersama
Ingin berhenti mahasiswa/ bidan desa,
minum obat Bersama mahasiswa/ bidan
desa memberikan
penyuluhan kesehatan

Kamis, 13 Bpk Ah/ 40 th/ RT Kontrol sudah sesuai Motivasi untuk patuh
Maret 2014 04 RW 06 jadwal, minum obat,
Minum obat secara Dukung pengobatan teratur
teratur akan mempercepat
penyembuhan

6 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

LEMBAR RUJUKAN KASUS

Langkah pengisian:
1. Tuliskan nama pasien (orang) yang dicurigai TB
2. Tuliskan umurnya dan jenis kelamin
3. Tuliskan alamat tempat tinggal dengan jelas
4. Kemudian lingkari keluhan/ gejala dari pasien (orang) yang dicurigai TB.
Keluhan bisa lebih dari 1
5. Tuliskan nama Anda (kader kesehatan) yang melakukan rujukan dan tanda tangan
6. Tuliskan nama bidan desa/ mahasiswa yang telah melakukan pemeriksaan dan
tanda tangan
Contoh:
LEMBAR RUJUKAN KASUS
Kpd Yth:
Dokter/ Petugas TB Puskesmas Cimanggis Depok

Berikut ini, saya kirimkan pasien untuk diperiksa lebih lanjut di Puskesmas.
Nama pasien : Ibu Suwinah
Umur : 42 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jln. Pekapuran RT 02/ RW 06
Keluhan/ tanda gejala dari pasien
1. Batuk berdahak terus menerus lebih dari 2 atau 3 minggu
2. Batuk bercampur darah
3. Demam
4. Sesak dan nyeri dada
5. Keringat malam hari
6. Nafsu makan menurun
7. Penurunan berat badan

Mengetahui, Depok, 12 Maret 2014


Bidan Desa/ Mahasiswa Kader yang merujuk

( ) ( )

7 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

PENEMUAN KASUS TB
Hari/ Nama/ Umur/ Gejala TB/ Tindakan kader kesehatan
Tanggal Alamat Suspek Faktor risiko TB
TB

8 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

PENEMUAN KASUS TB
Hari/ Nama/ Umur/ Gejala TB/ Tindakan kader kesehatan
Tanggal Alamat Suspek Faktor risiko TB
TB

9 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

PENEMUAN KASUS TB
Hari/ Nama/ Umur/ Gejala TB/ Tindakan kader kesehatan
Tanggal Alamat Suspek Faktor risiko TB
TB

10 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

PEMANTAUAN KESEHATAN TB
Hari/ Nama/ Umur/ Masalah Kesehatan Tindakan kader kesehatan
Tanggal Alamat Suspek
TB

11 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

PEMANTAUAN KESEHATAN TB
Hari/ Nama/ Umur/ Masalah Kesehatan Tindakan kader kesehatan
Tanggal Alamat Suspek
TB

12 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

PEMANTAUAN KESEHATAN TB
Hari/ Nama/ Umur/ Masalah Kesehatan Tindakan kader kesehatan
Tanggal Alamat Suspek
TB

13 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

------------------------------------------------------------------------------- gunting

LEMBAR RUJUKAN KASUS

Kpd Yth:
Dokter/ Petugas TB
Puskesmas Cimanggis Depok

Berikut ini, saya kirimkan pasien untuk diperiksa lebih lanjut di Puskesmas.
Nama pasien :
Umur :
Jenis kelamin :
Alamat :
Keluhan/ tanda gejala dari pasien
1. Batuk berdahak terus menerus lebih dari 2 atau 3 minggu
2. Batuk bercampur darah
3. Demam
4. Sesak dan nyeri dada
5. Keringat malam hari
6. Nafsu makan menurun
7. Penurunan berat badan

Mengetahui, Depok, ………………


Bidan Desa/ Mahasiswa Kader yang merujuk

( ) ( )

14 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

------------------------------------------------------------------------------- gunting

LEMBAR RUJUKAN KASUS

Kpd Yth:
Dokter/ Petugas TB
Puskesmas Cimanggis Depok

Berikut ini, saya kirimkan pasien untuk diperiksa lebih lanjut di Puskesmas.
Nama pasien :
Umur :
Jenis kelamin :
Alamat :
Keluhan/ tanda gejala dari pasien
1. Batuk berdahak terus menerus lebih dari 2 atau 3 minggu
2. Batuk bercampur darah
3. Demam
4. Sesak dan nyeri dada
5. Keringat malam hari
6. Nafsu makan menurun
7. Penurunan berat badan

Mengetahui, Depok, ………………


Bidan Desa/ Mahasiswa Kader yang merujuk

( ) ( )

15 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

------------------------------------------------------------------------------- gunting

LEMBAR RUJUKAN KASUS

Kpd Yth:
Dokter/ Petugas TB
Puskesmas Cimanggis Depok

Berikut ini, saya kirimkan pasien untuk diperiksa lebih lanjut di Puskesmas.
Nama pasien :
Umur :
Jenis kelamin :
Alamat :
Keluhan/ tanda gejala dari pasien
1. Batuk berdahak terus menerus lebih dari 2 atau 3 minggu
2. Batuk bercampur darah
3. Demam
4. Sesak dan nyeri dada
5. Keringat malam hari
6. Nafsu makan menurun
7. Penurunan berat badan

Mengetahui, Depok, ………………


Bidan Desa/ Mahasiswa Kader yang merujuk

( ) ( )

16 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

------------------------------------------------------------------------------- gunting

LEMBAR RUJUKAN KASUS

Kpd Yth:
Dokter/ Petugas TB
Puskesmas Cimanggis Depok

Berikut ini, saya kirimkan pasien untuk diperiksa lebih lanjut di Puskesmas.
Nama pasien :
Umur :
Jenis kelamin :
Alamat :
Keluhan/ tanda gejala dari pasien
1. Batuk berdahak terus menerus lebih dari 2 atau 3 minggu
2. Batuk bercampur darah
3. Demam
4. Sesak dan nyeri dada
5. Keringat malam hari
6. Nafsu makan menurun
7. Penurunan berat badan

Mengetahui, Depok, ………………


Bidan Desa/ Mahasiswa Kader yang merujuk

( ) ( )

17 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Buku Kerja Kelompok PEDULI TB Stop TB!

------------------------------------------------------------------------------- gunting

LEMBAR RUJUKAN KASUS

Kpd Yth:
Dokter/ Petugas TB
Puskesmas Cimanggis Depok

Berikut ini, saya kirimkan pasien untuk diperiksa lebih lanjut di Puskesmas.
Nama pasien :
Umur :
Jenis kelamin :
Alamat :
Keluhan/ tanda gejala dari pasien
1. Batuk berdahak terus menerus lebih dari 2 atau 3 minggu
2. Batuk bercampur darah
3. Demam
4. Sesak dan nyeri dada
5. Keringat malam hari
6. Nafsu makan menurun
7. Penurunan berat badan

Mengetahui, Depok, ………………


Bidan Desa/ Mahasiswa Kader yang merujuk

( ) ( )

18 SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
LEMBAR EVALUASI
PELAKSANAAN PENYULUHAN KESEHATAN
OLEH ANGGOTA KELOMPOK PEDULI TB PADA KELUARGA/ MASYARAKAT
DI KELURAHAN CURUG

NAMA KADER :………………………………………………..


WAKTU :………………………………………………..
PENILAI :………………………………………………..

Elemen Kemampuan Yang Dinilai Keterampilan Saran dan Masukan


0 1 2
Persiapan 1. Menyiapakan media yang
digunakan
2. Menyiapkan lingkungan yang
nyaman bagi keluarga/
masyarakat
3. Penampilan bersahabat
Pelaksanaan 4. Mengucapkan salam
5. Menetapkan lama waktu
interaksi
6. Menyampaikan tujuan
penyuluhan
7. Menanyakan pengetahuan TB
kepada anggota keluarga/
masyarakat
8. Memberi materi dengan bahasa
sederhana dan mudah
dimengerti keluarga/
masyarakat
9. Berbicara dengan kontak mata
dan mendengarkan pendapat
keluarga/ masyarakat
10. Menguasai materi yang
disampaikan

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
11. Memberikan kesempatan
keluarga/ masyarakat untuk
bertanya
12. Menjawab pertanyaan
keluarga/ masyarakat dengan
tepat
Terminasi 13. Membuat simpulan materi
yang telah disampaikan
14. Membuat kesepakatan materi
yang akan didiskusikan pada
pertemuan selanjutnya
15. Mengucapkan salam penutup

Keterangan Penilaian:
0: Tidak dilakukan Total Nilai = Total Nilai Keterampilan x 100
1: Dilakukan tapi tidak sempurna 30
2: Dilakukan dengan sempurna
Total Nilai =

Depok, ……………..……2014

Penilai

(...............................................)

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
LEMBAR OBSERVASI
KEMAMPUAN KOMUNIKASI KADER
SAAT KUNJUNGAN RUMAH TERDUGA TB

NO Tahapan Keterampilan
0 1 2
Kemampuan mengidentifikasi suspek
1 Mengidentifikasi tanda dan gejala TB
Pendekatan dengan suspek
2 Memberi salam
3 Menjelaskan tujuan kunjungan rumah
4 Menanyakan gejala
5 Mengklarifikasi upaya yang telah dilakukan untuk
mengurangi gejala
6 Memotivasi untuk melakukan pemeriksaan
7 Kontrak waktu untuk periksa dahak dan mengantarkan
pasien suspek TB ke puskesmas
Melakukan rujukan
8 Mengisi lembar rujukan kasus
9 Mencatat hasilnya di buku kader

Ket:
0: Tidak dilakukan
1: Dilakukan tapi tidak sempurna
2: Dilakukan dengan sempurna Total Nilai = Total Nilai Keterampilan x 100
18

Total Nilai =

CATATAN, SARAN DAN MASUKAN:

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
NAMA :

SOAL PRE DAN POST TEST

NO PERNYATAAN JAWABAN
YA TIDAK
1 Batuk bercampur darah adalah salah satu gejala tuberkulosis
2 Bila ada warga yang menunjukkan gejala batuk berdahak lebih dari
sebulan, maka saya akan mencurigainya sebagai pasien TB
3 Penyebab tuberkulosis adalah minum air yang tidak dimasak
4 Penyakit tuberkulosis dapat dicegah dengan membuang dahak di
tanah
5 Salah satu tugas kader peduli TB adalah melakukan kunjungan
rumah pada terduga TB dan membujuk untuk melakukan
pemeriksaan dahak
6 Pengobatan TB dapat menimbulkan efek samping seperti mual,
gatal-gatal, kulit kemerahan dll
7 Pasien TB dilarang mengkonsumsi ikan dan telur
8 Buah dan sayur bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh
pasien TB
9 Pasien TB yang lupa minum obat sehari, tidak mempengaruhi
proses kesembuhannya
10 Jalan pagi dan senam pernafasan membantu meningkatkan fungsi
organ paru-paru pasien TB

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Sangat
Sangat Tidak
No Pernyataan Setuju tidak
setuju Setuju
setuju
Bila bertemu pasien tuberkulosis, saya
1
lebih baik menjauhinya
Bila saya bertemu pasien TB, saya akan
2 mendorong pasien tersebut untuk teratur
minum obat
Saya akan menghubungi bidan desa/
3 petugas kesehatan, bila ada pasien yang
menunjukkan gejala TB
Bila ada tetangga saya yang batuk
4 berdarah, maka saya akan menyuruhnya
ke puskesmas
Menurut saya, pasien tuberkulosis dapat
5 kambuh kembali apabila tidak menjaga
kesehatannya
Menurut saya, pasien TB harus makan
6
makanan bergizi
Menurut saya, pasien TB dan keluarga
perlu mendapatkan penyuluhan kesehatan
7
tentang pencegahan dan perawatan
tuberkulosis
Pasien TB yang berhenti minum obat
selama masa pengobatan, akan susah
8
sembuh dan pengobatannya lebih sulit
dan lama
Menurut saya, pasien TB perlu
9 berolahraga untuk meningkatkan
kesehatannya
Menurut saya, keluarga pasien TB yang
tinggal serumah perlu melakukan
10
pemeriksaan dahak untuk mencegah
penularan TB

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
SENAM
PERNAFASAN

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
APA ITU SENAM
PERNAFASAN ?
GERAKAN OLAH TUBUH YANG
BERFOKUS PADA PENGUATAN
OTOT-OTOT PERNAFASAN.

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
MANFAAT SENAM
PERNAFASAN

1. Menguatkan otot paru-paru


2. Memperbaiki fungsi dan
kapasitas paru-paru

3. Mengurangi dan
mencegah sesak nafas
4. Melancarkan pengeluaran
dahak

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
MANFAAT SENAM
PERNAFASAN

5. Melancarkan aliran darah


di dlm tubuh
6. Meningkatkan daya tahan
tubuh

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PERSIAPAN
SEBELUM SENAM
1. Perut dalam keadaan
kosong
2. Menghirup nafas lewat
hidung
3. Menghembuskan nafas
melalui mulut
4. Keberhasilan senam bukan
ditentukan oleh banyaknya
gerakan tapi lamanya
gerakan
5. Senam sebaiknya dilakukan
pagi (06.00-08.00) atau sore
(16.00-17.00)
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
PEMANASAN

1. Berdiri tegak

2. Jalan di tempat
2 x 8 hitungan

3. Anggukkan dan
menengadahkan
kepala 2 x 8
hitungan

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
PEMANASAN

4. Kepala menoleh
ke kanan dan ke kiri
2 x 8 hitungan

5. Miringkan kepala
ke kanan dan ke kiri
2 x 8 hitungan

6. Putar badan
ke samping
kanan & kiri
2 x 8 hitungan
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
PEMANASAN

8. Tendangkan kaki ke depan, ke


samping dan belakang,
bergantian kaki kiri dan kanan,
masing-masing 8 hitungan

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
INTI

1. Ayunkan tangan ke atas,


telapak tangan bertemu,
kemudian tangan diturunkan

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
INTI

2. Ayunkan tangan ke depan


hingga berada disamping
kepala, kemudian tangan
diturunkan

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
INTI

3. Gerakan sama seperti no.2,


pada saat tangan berada di
samping kepala, condongkan
bdn ke belakang.

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
INTI

4. Gerakan sama seperti no.3,


pada saat bdn dicondongkan
ke belakang, kemudian badan
dibungkukkan ke bawah.

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
INTI

5. Berdiri tegak dengan kaki


diregangkan, kemudian angkat
kedua tangan kearah dada sambil
menarik nafas. Langkahkan kaki ke
depan sambil dorong kedua tangan
ke depan dengan kekuatan penuh,
turunkan tangan dan
menghembuskan nafas lewat mulut.

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
PENDINGINAN
GERAKAN 1

GERAKAN 2

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GERAKAN SENAM
PERNAFASAN GERAKAN
PENDINGINAN
GERAKAN 3

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
DAFTAR KEGIATAN SENAM PERNAFASAN

NAMA :
ALAMAT :

HARI/ TANGGAL DILAKUKAN ALASAN TIDAK DILAKUKAN


( YA/ TIDAK)

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 DITENTUKAN OLEH:
1. PENGOBATAN SECARA TERATUR
2. NUTRISI
3. DUKUNGAN KELUARGA
4. ISTIRAHAT

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 ASUPAN MAKANAN SANGAT PENTING UNTUK
MENJAGA TUBUH AGAR TETAP SEHAT
MENJALANI AKTIVITAS
 MAKANAN MEMBUAT TUBUH MENJADI LEBIH
SEHAT DAN BUGAR
 KURANG NAFSU MAKAN  BERAT BADAN
MENURUN

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 KARBOHIDRAT
 PROTEIN
 LEMAK
 VITAMIN
 AIR

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 MINUM AIR PUTIH 10-12 GELAS/ HARI
 KARBOHIDRAT : MAKAN DENGAN PORSI 4-6
KALI/ HARI
 PROTEIN: MAKAN LAUK NABATI DAN LAUK
HEWANI SETIAP KALI MAKAN MINIMAL 2 PORSI
 MINUM SUSU 2 KALI/ HARI
 VITAMIN DAN MINERAL: PERBANYAK KONSUMSI
SAYUR DAN BUAH YANG MENGANDUNG ZAT BESI
SEPERTI SAYUR BAYAM, KACANG IJO
 WAKTU MAKAN BERIKAN JEDA 30 MENIT – 1 JAM
SETELAH MINUM OBAT

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 GIZI SEIMBANG ADALAH SUSUNAN MAKANAN
SEHARI-HARI YANG MENGANDUNG ZAT-ZAT
GIZI DALAM JENIS DAN JUMLAH YANG SESUAI
DENGAN KEBUTUHAN TUBUH.
 ZAT –ZAT MAKANAN TERSEBUT ADALAH
1. KARBOHIDRAT
2. PROTEIN
3. LEMAK, GULA, GARAM
4. VTAMIN DAN MINERAL
5. AIR
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 SUMBER ENERGI ATAU TENAGA UTAMA BAGI
TUBUH
 SUMBER KARBOHIDRAT:

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 SUMBER ZAT PEMBANGUN, PEMELIHARAAN
TUBUH DAN PERTUMBUHAN
 SUMBER PROTEIN ADA 2 MACAM HEWANI
DAN NABATI

CONTOH PROTEIN HEWANI


Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 CONTOH PROTEIN NABATI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 SUMBER ZAT PENGATUR
 SUMBER SERAT YANG MELANCARKAN BUANG AIR
BESAR
 MENURUNKAN KADAR KOLESTEROL
 MEMPERCEPAT PENGELUARAN RACUN BAGI
TUBUH
 SUMBER: BUAH DAN SAYURAN

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 MANFAAT LEMAK: SUMBER ENERGI DAN
TENAGA, ALAT ANGKUT VIT. LARUT LEMAK
(A, D, E, K), MEMBERI RASA KENYANG DAN
LEZAT
 MANFAAT GULA: PENAMBAH RASA MAKANAN,
SUMBER ENERGI DAN TENAGA
 MANFAAT GARAM: PENAMBAH RASA
MAKANAN, SUMBER MINERAL (NATRIUM DAN
KLORIDA)
 SUMBER LEMAK: MINYAK GORENG, MENTEGA,
SUSU, KRIM, KEJU

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 PELARUT DAN ALAT ANGKUT ZAT-ZAT GIZI
SEPERTI KARBOHIDRAT, LEMAK, PROTEIN,
VITAMIN DAN MINERAL
 PEMECAH ZAT GIZI KOMPLEKS MENJADI LEBIH
SEDERHANA
 PELUMAS DALAM CAIRAN SENDI-SENDI TUBUH
 MEMILIKI PERAN SEBAGAI ZAT PEMBANGUN
 MENGATUR SUHU TUBUH
 PEREDAM BENTURAN BEBERAPA ORGAN
TUBUH SPT MATA, JARINGAN SARAF TULANG
BELAKANG DLL
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
 TAKARAN KONSUMSI MAKANAN DI RUMAH
 PORSI URT SUDAH DISETARAKAN DENGAN
GRAM, KANDUNGAN ZAT GIZI UTAMA DAN
MANFAAT UNTUK PERTUMBUHAN DAN
KESEHATAN

1 PORSI MIE KERING = 1 PIRING


SEDANG = 50 GRAM
1 PORSI NASI = 1 PIRING SEDANG =
¾ GELAS = 100 GRAM
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
1 PORSI DAGING= SEPARO
1 PORSI ROTI TAWAR = 2 TELAPAK TANGAN DEWASA= 50
LEMBAR= 80 GRAM GRAM (6x5x2 cm)

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
1 PORSI = 1 BUTIR = 60 GRAM

1 PORSI AYAM = 1 POTONG


PAHA BAWAH = 50 GRAM

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
1 PORSI TEMPE = 2 POTONG
SEDANG= 50 GRAM (4x6x1 cm)

1 PORSI TAHU = 2 POTONG


SEDANG= 100 GRAM

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
1 PORSI SAYUR = 1 MANGKUK
SEDANG = 100 GRAM

1 PORSI IKAN = ½ EKOR IKAN


KEMBUNG SEDANG = 50 GRAM

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
1 PORSI BUAH = 1 BUAH JERUK
MANIS = 1 POTONG SEDANG
PEPAYA/ SEMANGKA/ MELON =
100 GRAM
1 PORSI BUAH = 1 BUAH PISANG
UKURAN SEDANG

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Minyak goreng = 5
sendok makan sehari
1 porsi susu = 1 gelas
belimbing =100 ml

Gula pasir = 3-4 sendok makan


sehari, termasuk yg dimasukkan
ke dalam makanan dan minuman
Garam = 1 sendok
teh sehari
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
JENIS MAKANAN

MAKANAN KESUKAAN MAKANAN KURANG DISUKAI

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
TABEL MENU SEHAT

HARI: ……………………………..

WAKTU MENU PORSI


PAGI
07.00-09.00

SELINGAN PAGI
09.00-11.00

SIANG
12.00-14.00

SELINGAN SIANG
14.00-16.00

MALAM
17.00-19.00

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PEMANTAUAN BERAT BADAN

NAMA :

ALAMAT :

HARI/ TANGGAL BERAT BADAN KETERANGAN


PENGUKURAN

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
MENGENAL PENYAKIT
TUBERKULOSIS (TB)

KELOMPOK
KADER KESEHATAN
PEDULI TB

Kel. Curug, Kec. Cimanggis kota Depok bekerjasama dengan


Mahasiswa Spesialis Keperawatan Komunitas
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
APAKAH
TUBERKULOSIS ?
 Tuberkulosis (TB) adalah
suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh kuman
Mycobacterium Tuberculosis.
 TB dapat menyerang semua
bagian tubuh. Paling banyak
menyerang paru-paru.

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PENULARAN TB

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
GEJALA TB
GEJALA UTAMA
BATUK BERDAHAK TERUS
MENERUS LEBIH DARI 2
MINGGU

GEJALA TAMBAHAN

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PEMERIKSAAN TB
 SEMUA ORANG YANG
MEMILIKI GEJALA TB
HARUS SEGERA DI RUJUK
KE PUSKESMAS/
PELAYANAN KESEHATAN
 PEMERIKSAAN TB YANG
TERBAIK ADALAH
PEMERIKSAAN DAHAK
 PEMERIKSAAN DAHAK
DILAKUKAN 3 KALI
(SEWAKTU, PAGI,
SEWAKTU)

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
SIAPA SAJA YANG
BERISIKO TERKENA TB ?

 Orang yang tinggal serumah dengan


pasien TB
 Orang yang kekurangan gizi
 Orang yang sakit kronis seperti
kencing manis
 Bayi, anak-anak dan lansia yang
kontak erat dengan pasien TB
positif
 Orang dengan kebiasaan perilaku
tidak sehat, seperti peminum
alkohol, perokok berat dll

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PENGOBATAN TB
 Penderita TB akan menjalani
pengobatan selama 6-9 bulan. Terbagi
menjadi 2 tahap yaitu tahap awal dan
tahap lanjutan.

OBAT TB TAHAP AWAL


Pada tahap awal berlangsung selama 2-3
bulan. Obat di minum setiap hari.

OBAT TB TAHAP LANJUTAN


Pada tahap lanjutan, obat diminum
seminggu 3 kali selama 4-6 bulan.

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PENCEGAHAN
PENULARAN TB
1. Berikan Bayi ASI eksklusif sampai 6 bulan
2. Imunisasi BCG pada bayi 0-1 bulan
mencegah terjadinya TB
3.Jauhkan balita dari penderita yang batuk
4. Makan dengan gizi seimbang
5. Istirahat yang cukup dan berolahraga
6. Jangan tidur larut malam
7. Jangan merokok
8. Menjemur kasur atau tikar dari jam 7-11
dan mengepel secara teratur seminggu
sekali
9. Membuka jendela pada pagi hari agar
cahaya matahari dapat masuk dan mendapat
udara yang cukup

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
PENCEGAHAN
PENULARAN TB
10. Menutup mulut dan hidung pada saat
batuk dan bersin
11. Membuang dahak di lubang WC atau
tempat tertutup
12. Segera cuci tangan pakai sabun
setelah batuk atau bersin

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Cara Batuk dan Bersin
yang Benar
 Menutup mulut dan hidung dengan
tangan dan segera mencuci tangan
dengan sabun
 Menutup mulut dan hidung dengan
menggunakan tisu dan segera buang
tisu ke tempat sampah
 Menutup mulut dan hidung dengan
menggunakan lengan baju
 Menggunakan masker

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014
Ayo, libatkan semua masyarakat
dalam mencegah penularan TB
Paru.

Laporkan kepada kader dan


pihak Puskesmas kalau
ditemukan ada warga yang
mempunyai gejala penyakit TB
Paru.

Ingatkan warga bahwa penyakit


TB sudah ada obatnya dan
diberikan gratis oleh
Puskesmas!

Pengaruh intervensi ..., Ni Luh Putu Eva Yanti, FIK UI, 2014