Anda di halaman 1dari 5

CHAPTER 3

ETHICS, SOCIAL RESPONSIBILITY AND SUSTAINABILITY

Etika bisnis dapat didefinisikan sebagai prinsip perilaku (codes of conduct) yang memandu
pengambilan keputusan dan perilaku organisasional. Etika bisnis yang baik merupakan prasyarat
untuk manajemen strategik yang baik. Etika yang baik adalah bisnis yang baik.

Tanggung jawab sosial mengacu pada tindakan yang dilakukan organisasi melampaui sekadar
kebutuhan pemenuhan hukum untuk melindungi / meningkatkan kesejahteraan makhluk hidup.

Keberlanjutan lingkungan mengacu pada sejauh mana operasi & tindakan organisasi melindungi,
memperbaiki dan melestarikan daripada membahayakan / menghancurkan lingkungan alam.

A. WHY “GOOD ETHICS IS GOOD BUSINESS”

1. Does It Pay to Be Ethical?

Perkembangan dunia dewasa kini menempatkan dimensi etika begitu penting, terutama
dalam kaitannya dengan berbagai keputusan bisnis. Manajemen strategik, baik pada
tataran formulasi, implementasi dan evaluasi strategi, terus berupaya digulirkan oleh para
strategis dengan tetap ada dalam koridor kesadaran etika. Studi-studi empiris terakhir
menunjukkan suatu antara etika bisnis dan konsekuensi logis secara materi/keuangan
(financial consequences) dimana hal ini yang menjadi pegangan para strategis untuk
tetap mempertahankan etika bisnis. Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan
yang menerapkan etika bisnis mampu mencapai profitabilitas yang lebih baik, sedangkan
perusahaan atau stakeholders perusahaan yang kedapatan melanggar code of ethics
harus menanggung berbagai biaya, baik biaya keuangan (denda/sanksi) maupun biaya
sosial (citra perusahaan yang buruk, sanksi sosial, dll). Pertanyaan inti yang mungkin bisa
menjadi suatu kontradiksi adalah, dalam rangka mencegah terjadinya biaya sedemikian,
bukankah pilihan keputusan yang mempertimbangkan etika juga menimbulkan biaya
tersendiri ? Misalnya, pilihan kemasan yg ramah lingkungan (tanpa penggunaan plastik)
tentu meningkatkan biaya produksi yang sedikit banyak akan mengganggu profitabilitas
perusahaan. Menurut hemat saya, pertimbangan manajemen dapat dijelaskan dengan
efek domino (trickle down effect) dimana ada biaya finansial tambahan sebagai akibat
dari biaya sosial. Citra Perusahaan yang buruk di mata masyarakat (biaya sosial)
mempengaruhi perilaku konsumen dan secara khusus, merubah keputusan pembelian
yang menimbulkan potensi penurunan pendapatan dan laba secara signifikan (biaya
keuangan). Hubungan bisnis diawali dari hubungan percaya dan reputasi dan dapat
berakhir jika reputasi itu jatuh. Jangan sampai keputusan bisnis jangka pendek, yang
didasari oleh oportunitas (questionable ethics) dan keserakahan, justru menghancurkan
reputasi sebagai aset jangka panjang perusahaan. Dengan demikian, dari segi
pertimbangan biaya, peranan dimensi etika masih relevan dalam manajemen strategik
perusahaan (being unethical can be expensive).

Tujuh prinsip etika bisnis yang mengagumkan:

1. Dapat dipercaya.
2. Berpandangan terbuka.
3. Menghormati semua komitmen dan kewajiban.
4. Jangan menyesatkan atau melebih-lebihkan informasi dengan media apapun.
5. Jadilah warga masyarakat yang bertanggung jawab.
6. Gunakan praktik akuntansi untuk meminimalisasi questionable activities.
7. Perlakukan orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan (golden rule).

1
Beberapa contoh tindakan tindakan bisnis yang tidak etis:

1. Plagiarisme.
2. Iklan atau pelabelan yang menyesatkan.
3. Promotor akan kerusakan lingkungan.
4. Produk dengan kualitas dan tingkat keamanan yang buruk.
5. Memperbesar perhitungan beban-beban.
6. Perdagangan informasi internal (insider trading).
7. Dumping produk terlarang atau cacat di pasar luar negeri.
8. Tidak memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan minoritas.
9. Penetapan harga produk yang tidak wajar (overpricing).
10. Pelecehan seksual.
11. Penyalahgunaan aset perusahaan untuk keuntungan pribadi.

2. How to Establish an Ethics Culture

Kunci utama dalam membangun budaya etika adalah memiliki kode etik (code of ethics)
yang jelas. Kode etik tersebut harus diterapkan dalam lingkungan kerja untuk
memastikan bahwa nilai-nilai budaya etika dapat dipahami, diyakini, dan diterapkan. Ada
6 langkah untuk mendirikan budaya etika menurut Donald Palmer:

1. Menghukum kesalahan dengan cepat dan berat saat terdeteksi.


2. Berhati-hati ketika mempekerjakan karyawan yang memiliki standar etika tinggi.
3. Mengembangkan program sosialisasi untuk memperkuat nilai budaya yg diinginkan.
4. Mengubah rantai komando sehingga bawahan melapor ke lebih dari satu atasan.
5. Budaya bawahan dpt menantang perintah atasan saat perintah seems questionable.
6. Pemahaman yang lebih baik tentang kebijakan, prosedur, sistem, dan mekanisme
internal yang dapat menyebabkan kesalahan.

B. WHISTLE-BLOWING, BRIBERY, AND WORKPLACE ROMANCE

1. Whistle-Blowing

Meniup peluit (Whistle-blowing) mengacu pada tindakan pelaporan pelanggaran etika


yang ditemukan atau dilihat karyawan terjadi di dalam perusahaan. Karyawan harus
melatih keberanian melakukan whistle-blowing dan organisasi harus memiliki kebijakan
yang mendorong whistle-blowing, utamanya melalui program penguatan nilai-nilai budaya
etika internal. Para stakeholders juga bertanggung jawab untuk menjamin kesejahteraan
dan keselamatan para whistle-blower.

2. Avoid Bribery

Penyuapan (bribery) didefinisikan oleh Black’s Law Dictionary sebagai penawaran,


pemberian, penerimaan, atau permintaan setiap item yang bernilai untuk mempengaruhi
tindakan pejabat atau orang lain dalam melaksanakan tugas publik atau hukum. Suap
adalah hadiah yang diberikan untuk mempengaruhi perilaku penerima. Penyuapan dikate-
gorikan sebagai tindak kriminal karena dapat berimplikasi pada kepentingan umum.

3. Workplace Romance

Asmara di tempat kerja (workplace romance) adalah hubungan intim antara dua
karyawan yang saling menyetujui, sebagai awan dari pelecehan seksual. Equity
Employment Opportunity Commission (EEOC) mendefinisikan workplace romance secara
secara lebih luas sebagai kemajuan seksual yang tidak diinginkan, permintaan untuk
bantuan seksual, dan perilaku verbal atau fisik lainnya yang bersifat seksual. Suatu
organisasi hendaknya tidak mengatur urusan romance ini terlalu ketat, namun tetap
memperhatikan batas-batas kewajaran sehingga tidak menganggu kinerja personil dan
mengganggu kepentingan organisasi dalam pencapaian visi/misinya.

2
Beberapa alasan pendukung workplace romance dapat berdampak negatif bagi moral
dan produktivitas perusahaan:

1. Komplain ketika ada favoritisme (orang yang difavoritkan, seperti anak emas).
2. Kerahasiaan catatan bisa dilanggar.
3. Masalah akibat berkurangnya kualitas dan kuantitas pekerjaan.
4. Argumen pribadi dapat menyebabkan argumen kerja.
5. Membocorkan rahasia menimbulkan ketegangan dan permusuhan antara karyawan.
6. Pelecehan seksual (atau diskriminasi) mungkin terjadi.
7. Konflik kepentingan dapat muncul, terutama terkait kesejahteraan pasangan.

Organisasi harus menetapkan pedoman atau kebijakan yang menangani workplace


romance, setidaknya untuk enam alasan:

1. Panduan dapat memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan dan mencegah


pelecehan seksual atau diskriminasi dengan baik.
2. Pedoman dapat menentukan alasan (seperti ketujuh yang tercantum sebelumnya)
mengapa asmara di tempat kerja mungkin bukan ide bagus.
3. Panduan dapat menentukan hukuman yang dihasilkan untuk pasangan jika timbul
masalah.
4. Panduan dapat membuat suasana kerja yang profesional dan adil.
5. Panduan dapat membantu memastikan kepatuhan terhadap undang-undang federal,
negara bagian, dan lokal dan kasus pengadilan baru-baru ini.
6. Kurangnya pedoman apapun menimbulkan pesan yang tidak senonoh ke seluruh
perusahaan.

Flirting adalah derivasi turunan dari workplace romance. Flirting didefinisikan sebagai
perilaku romantis yang ambigu dan berorientasi pada tujuan. Beberapa aturan flirting:

1. Jangan flirting dengan seseorang yang sedang mencari hubungan jika Anda tidak
tertarik dengan hubungan baru.
2. Lakukan flirting dalam hubungan yang tujuannya ingin serius.
3. Jangan flirting sebagai tindakan manipulatif hanya untuk membuat orang cemburu.
4. Flirting antara pribadi yang berbeda jenjang biasanya menimbulkan masalah.
5. Jangan melakukan kontak fisik dengan orang yang Anda flirt.

C. SOCIAL RESPONSIBILITY AND POLICY

Dua pendapat bertentangan dikemukakan mengenai pandangan organisasi dalam menyikapi


tanggung jawab sosial. Ralph Nader menyatakan bahwa organisasi memiliki kewajiban sosial
yang luar biasa, sedangkan Milton Friedman menegaskan bahwa organisasi tidak ber-
kewajiban melakukan lebih selain daripada tanggung jawab sosial yang bersifat formal-
legalistik. Dalam perspektif etika, memang organisasi memiliki tanggung jawab sosial karena
masyarakat dan lingkungan adalah stakeholders yang paling terpengaruh dampak negatif dari
exploitasi organisasi. Turut menanggung biaya sosial adalah keharusan sehingga lingkungan
terpulihkan dan organisasi mampu tetap bertahan di masa mendatang. Namun, keterlibatan
organisasi dalam berbagai kegiatan filantropi berpotensi menurunkan tingkat laba dan gagal
memenuhi tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor. Dengan demikian, para
strategis diharapkan dapat fokus mengidentifikasi potensi biaya sosial yang terjadi sebagai
bagian dari formulasi strategi dengan berbagai alternatif yang paling menguntungkan.

1. Design and Articulate a Social Policy

Kebijakan sosial (social policy) menyangkut apa tanggung jawab perusahaan terhadap
karyawan, konsumen, pemerhati lingkungan, minoritas, masyarakat, pemegang saham
dan kelompok lainnya. Kebijakan sosial harus menjadi bagian dari setiap tahapan
manajemen strategik.

3
2. Social Policies on Retirement

Jepang memberikan insentif bagi orang lanjut usia untuk bekerja sampai usia 65 sampai
75 tahun. Negara-negara Eropa Barat melakukan hal yang sebaliknya, memberikan
insentif bagi orang lanjut usia untuk pensiun pada usia 55 sampai 60 tahun.

D. ENVIRONMENTAL SUSTAINABILITY

Menurut International Standards Organization, lingkungan (environment) didefinisikan sebagai


keseluruhan yang mengelilingi operasi organisasi serta interelasinya dengan organisasi,
meliputi udara, air, tanah, sumber daya alam, flora, fauna serta masyarakat sekitar.
Mengelola keberlanjutan lingkungan memerlukan pemahaman keterkaitan antara
perdagangan internasional, tingkat kompetisi dan sumber daya dalam konteks global.

1. Sustainability Reports

Sustainability report mengungkapkan bagaimana operasi perusahaan berdampak pada


lingkungan, seperti praktik perburuhan, sumber produk, efisiensi energi, dampak
lingkungan dan praktik etika bisnis. Sustainability report yang buruk akan merugikan
perusahaan di pasar, membahayakan posisinya di masyarakat, dan mengundang
pengawasan oleh regulator, investor, dan aktivis lingkungan. Pemerintah makin menuntut
bisnis untuk berperilaku secara bertanggung jawab.

2. The Office of Environmental Affairs

Melestarikan lingkungan harus menjadi bagian permanen dalam berbisnis, karena alasan
berikut:

1. Permintaan konsumen untuk produk dan paket yang aman lingkungan itu tinggi.
2. Justifikasi dari sentimen publik yang kuat untuk menuntut perusahaan melakukan
bisnis dengan cara yang melestarikan lingkungan.
3. Aktivis lingkungan yang semakin banyak.
4. Pemenuhan regulasi pemerintah yang telah ditetapkan.
5. Pemberi pinjaman semakin memperhatikan potensi kewajiban lingkungan.
6. Perubahan paradigma dan semakin kuatnya kesadaran lingkungan publik.
7. Potensi kerugian akibat tuntutan dan denda terhadap masalah lingkungan.

3. ISO 14000/14001 Certification

International Organization for Standardization (ISO) adalah pengembang standar


sustainability terbesar di dunia. Standar yang dikeluarkan ISO memang tidak memiliki
kekuatan legalitas hukum. Namun, standar ini telah digunakan oleh para aktivis
lingkungan dan berbagai stakeholders perusahaan sebagai tolok ukur menilai seberapa
baik perusahaan telah memenuhi tanggung jawabnya atas keberlanjutan lingkungan.

ISO 14000 mengacu pada serangkaian standar sukarela di bidang lingkungan. Keluarga
standar ISO 14000 menyangkut sejauh mana perusahaan meminimalkan dampak
berbahaya terhadap lingkungan yang disebabkan oleh kegiatannya dan terus memantau
dan memperbaiki kinerjanya sendiri.

Rangkaian standar pada ISO 14000 menyangkut sejauh mana perusahaan memini-
malkan efek berbahaya pada lingkungan yang disebabkan oleh aktivitasnya dan terus
memantau dan meningkatkan kinerja dan kepatuhan lingkungannya sendiri. Termasuk
dalam rangkaian ISO 14000 adalah standar ISO 14001 dalam bidang seperti audit
lingkungan, evaluasi kinerja lingkungan, pelabelan lingkungan, dan penilaian siklus hidup.

4
ISO 14001 adalah seperangkat standar yang diadopsi perusahaan untuk memastikan
kepada stekaholders bahwa mereka menjalankan bisnis dengan cara yang ramah
lingkungan. Menurut ISO 14001, sebuah organisasi diharuskan untuk menerapkan
serangkaian praktik dan prosedur yang, jika digabungkan, menghasilkan sebuah sistem
manajemen lingkungan (Environmental Management System / EMS).

6 persyaratan utama EMS di bawah ISO 14001:

1. Tunjukkan komitmen untuk pencegahan pencemaran, perbaikan terus-menerus


dalam keseluruhan kinerja lingkungan, dan kepatuhan terhadap semua persyaratan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Identifikasi semua aspek aktivitas, produk, dan layanan organisasi yang dapat
berdampak signifikan terhadap lingkungan, termasuk yang tidak diatur.
3. Tetapkan tujuan dan target kinerja untuk sistem manajemen yang menghubungkan
kembali tiga kebijakan:
- Pencegahan pencemaran
- Perbaikan terus-menerus
- Kepatuhan
4. Memenuhi tujuan lingkungan yang mencakup melatih karyawan, membuat instruksi
dan praktik kerja, dan menetapkan metrik aktual yang dengannya target dan
sasarannya akan diukur.
5. Melakukan audit operasional atas EMS.
6. Lakukan tindakan korektif saat terjadi penyimpangan EMS.