Anda di halaman 1dari 5

ngka Kematian Ibu dan Bayi Indonesia

Tertinggi Kedua di Asia Tenggara

Ilustrasi ibu dan anak (Foto: Jakobking85/Pixabay)


Berdasarkan Laporan World Bank tahun 2017, dalam sehari ada empat ibu di Indonesia yang
meninggal akibat melahirkan. Dengan kata lain ada satu ibu di Indonesia yang meninggal setiap
enam jam.
ADVERTISEMENT
Dalam hasil Survei Dasar Kesehatan Indonesia tahun 2012, disebutkan dari setiap 1.000
kelahiran di Indonesia, ada 19 bayi yang di antaranya meninggal.
“Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan angka kematian ibu dan bayi baru lahir di
Asia Tenggara,” begitulah kata Ryan Washburn, Pelaksana Tugas Direktur USAID, dalam
sambutannya di acara peluncuran Evidence Summit untuk Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi di
Indonesia, di Jakarta, Rabu (28/3).
Ryan Washburn, USAID (Foto: Zahrina Noorputeri/kumparan)
Dalam acara ini, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) memaparkan temuan dari
penelusuran sebanyak 7.831 literatur dan makalah terkait kematian ibu yang baru melahirkan dan
bayinya yang dilakukan selama Juni 2016 hingga Maret 2018, bekerjasama dengan dengan
Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).
Salah satu data yang dipaparkan adalah data dari ASEAN Millenium Development Goals
(MDGs) tahun 2017. Data tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2015 kematian ibu di
Indonesia masih mencapai 305 per 100 ribu. Angka ini tiga kali lipat lebih tinggi daripada target
MDGs Indonesia, yaitu 102 per 100 ribu.
ADVERTISEMENT
Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan angka kematian tertinggi kedua di
Asia Tenggara. Urutan pertama ditempat oleh Laos dengan angka kematian 357 per 100 ribu.
Ilustrasi ibu dan anak (Foto: bingngu93/Pixabay)
Bila dibandingkan dengan tetangga terdekat, yaitu Singapura dan Malaysia, jumlah kematian ibu
melahirkan di Indonesia masih sangat besar. Singapura pada tahun 2015 memiliki angka
kematian ibu melahirkan tujuh per 100 ribu, dan Malaysia di angka 24 per 100 ribu.
“Kematian ibu dan bayi baru lahir masih merupakan masalah kesehatan yang utama,” kata Ketua
AIPI, Prof. Sangkot Marzuki.
Oleh karena itu, AIPI melakukan penelusuran melalui data dan penelitian ilmiah untuk
mendapatkan bukti ilmiah keadaan ibu dan bayi di Indonesia sebagai rekomendasi kepada
pemerintah Republik Indonesia untuk segera membentuk Komite Nasional Percepatan
Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Permasalahan kematian ibu dan bayi memiliki penyebab yang kompleks, sehingga upaya
penurunannya memerlukan kolaborasi berbagai sektor seperti profesional di bidang kesehatan,
pemerintah, dan masyarakat,” sambungnya lagi.
Sangkot Marzuki Serahkan Evidence Summit (Foto: Dok. AIPI)
Tanggapan Menteri Kesehatan RI
Dalam acara Evidence Summit ini, Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Nila F. Moeloek turut hadir
dan memberikan tanggapan langsung.
“Saya menggarisbawahi sekali lagi kualitas. Jadi kualitas daripada tenaga kesehatan kita, tentu
juga dari fasilitas kesehatan, dari sisi eksternal seperti akses, dari sisi masyarakat sendiri
tentunya, banyak hal yang kita perlu mencoba untuk menyatukan.”
Baca Juga

Beranak dalam Kubur Adalah Kejadian Nyata, Arkeolog Temukan Buktinya

5 Kutipan soal Ibu yang Pernah Diucapkan Para Imuwan Dunia


Isu Vaksin HPV Bikin Perempuan Mandul dan Tak Bisa Menikmati Seks Hoax

Menkes menyoroti bahwa kematian ibu dan bayi baru lahir justru terjadi di rumah sakit. “Kalau
begini kita harus mundur, kenapa dia bisa terlambat. Apakah terlambat pengambilan keputusan
dari keluarga, atau memang tenaga kesehatan kita yang menahan-nahan,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Karena itu, Menkes menegaskan perlunya untuk mendidik masyarakat serta mendidik dan
meningkatkan kualitas tenaga kesehatan di Indonesia untuk menekan angka kematian ibu dan
bayi.
SainsIndonesiaKematianIbuAnak
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan