Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KELOMPOK

PPh PASAL 22/23/24/26

Mata Kuliah

PERPAJAKAN

Disusun Oleh :

Jennifer 181210008

Nurmaidah 181210048

Silvia Salsyadilla 181210055

Putri Kurniati 181210083

Nabila Kusumawardani 181210087

AKUNTANSI A KARYWAN S1
STIE KESATUAN BOGOR

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami Panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan Rahmat-Nya kita dapat menyelesaikan makalah yang berkenaan
dengan PPh Pasal 22/23/24/26 . Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Perpajakan.

Sebelumnya kami mengucapkan Terima Kasih kepada Bapak Hadi


Sutomo, SE., M.Ak. selaku dosen mata kuliah Perpajakan yang telah memberikan
tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna untuk menambah


wawasan serta menambah pengentahuan tentang Perpajakan. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Untuk itu kami berharap adanya saran dan kritikan yang
membangun demi perbaikan makalah ini untuk masa yang akan datang.

Demikianlah kata pengantar dari kami, semoga makalah ini dapat berguna
dan dipahami bagi siapapun yang membacanya. Mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata dalam makalah ini. Sekian dan Terima Kasih.

Bogor, 28 September 2019


DAFTAR ISI
BAB I ........................................................................................................................ 5
PPh PASAL 22 ......................................................................................................... 5
Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 ......................................................................... 5
Berdasarkan penjelasan Pasal 22 UU PPh ............................................................ 5
Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 ....................................................................... 6
Tarif PPh Pasal 22 :............................................................................................... 6
Pengecualian Pemungutan PPh Pasal 22 : ............................................................ 8
Contoh soal PPh Pasal 22 ..................................................................................... 9
Jawaban! ............................................................................................................... 9
BAB II..................................................................................................................... 10
PPh PASAL 23 ....................................................................................................... 10
Pengertian ........................................................................................................... 10
Pemotongan dan penerima penghasilan yang di potong PPh Pasal 23 : ............. 10
1. Pemotong PPh Pasal 23 : ........................................................................ 10
2. Penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 23 :.............................. 10
Tarif dan Objek PPh Pasal 23 : ........................................................................... 10
Pemotongan PPh Pasal 23 tidak dilakukan....................................................... 11
Perhitungan PPh Pasal 23 terutang menggunakan jumlah bruto tidak termasuk
PPN ..................................................................................................................... 11
Dikecualikan dari potongan PPh Pasal 23 : ........................................................ 11
Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 23 : .................................. 12
Contoh Soal PPh Pasal 23 ................................................................................... 12
BAB III ................................................................................................................... 13
PPh PASAL 24 ....................................................................................................... 13
Tujuan PPh Pasal 24 ........................................................................................... 13
Sumber Penghasilan Luar Negeri yang Bisa dijadikan Pengurang Pajak dalam
Negeri.................................................................................................................. 13
Penentuan Jumlah Penghasilan ........................................................................... 14
Ketentuan Kredit Pajak Luar Negeri ................................................................... 14
Contoh Soal PPh 24 ............................................................................................ 15
BAB IV ................................................................................................................... 16
PPH PASAL 26....................................................................................................... 16
Pemotong PPh Pasal 26 : .................................................................................... 16
Tarif dan Objek PPh Pasal 26 : ........................................................................... 16
Pengecualian : ..................................................................................................... 17
Contoh Soal PPh 26 ............................................................................................ 17
BAB V .................................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 18
BAB I

PPh PASAL 22

Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 adalah PPh yang dipungut oleh :

1. Bendahara pemerintah untuk memungut PPh Pasal 22 sehubungan dengan


pembayaran atas penyerahan barang.
2. Badan-badan tertentu untuk memungut PPh Pasal 22 dari Wajib Pajak
yang melakukan kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang
lain.
3. Wajib Pajak badan tertentu untuk memungut PPh Pasal 22 dari pembeli
atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah.

Berdasarkan penjelasan Pasal 22 UU PPh, yang dapat ditunjuk sebagai pemungut


pajak adalah:

1. Bendahara pemerintah, termasuk bendahara pada pemerintah pusat,


pemerintah daerah, instansi atau lembaga pemerintah, dan lembaga-
lembaga negara lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan
barang, termasuk juga dalam pengertian bendahara adalah pemegang kas
dan pejabat lain yang menjalankan fungsi yang sama.
2. Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swasta, berkenaan
dengan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain, seperti
kegiatan usaha produksi barang tertentu antara lain otomotif dan semen.
3. Wajib pajak badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atas
penjualan barang yang tergolong sangat mewah. Pemungutan pajak oleh
wajib pajak badan tertentu ini akan dikenakan terhadap pembelian barang
yang memenuhi kriteria tertentu sebagai barang yang tergolong sangat
mewah baik dilihat dari jenis barangnya maupun harganya, seperti kapal
pesiar, rumah sangat mewah, apartemen dan kondominium sangat mewah,
serta kendaraan sangat mewah.
Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 :

1. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), atas impor
barang.
2. Direktorat Jenderal Pembendaharaan (DJPB), bendahara Pemerintah
Pusat/Daerah yang melakukan pembayaran, atas pembelian barang.
3. BUMN/BUMD yang melakukan pembelian barang dengan dana yang
bersumber dari belanja negara (APBN) dan atau belanja daerah (APBD),
kecuali badan-badan tersebut pada angka 4.
4. Bank Indonesia (BI), Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Badan Usaha
Logistik (BULOG), PT.Telekomunikasi Indonesia (Telkom),
PT.Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT.Garuda Indonesia, PT.Indosat,
PT.Krakatau Steel, Pertamina dan Bank-Bank BUMN yang melakukan
pembelian barang yang dananya bersumber baik dari APBN maupun dari
NON APBN.
5. Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri
kertas, industri baja, industri otomotif, dan industri farmasi, atas penjualan
hasil produksinya kepada distributor di dalam negeri.
6. Produsen atau importir bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan
pelumas, atas penjualan bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan
pelumas.
7. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan,
pertanian, dan perikanan. Yang di tunjuk oleh direktur jenderal pajak, atas
pembelian bahan bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari
pedagang pengumpul.
8. Wajib Pajak badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong
sangat mewah.

Tarif PPh Pasal 22 :


1. Atas impor :
a. Yang menggunakan Angka Pengenal Impor (API), sebesar 2,5%
(dua setengah persen) dari nilai impor.
b. Yang tidak menggunakan Angka Pengenal Impor (API), sebesar
7,5% (tujuh setengah persen) dari nilai impor.
c. Yang tidak dikuasai, sebesar 7,5% (tujuh setengah persen) dari
harga jual lelang.
2. Atas pembelian barang yang dilakukan oleh DJPB, bendahara pemerintah,
BUMN/BUMD sebesar 1,5% (satu setengah persen) dari harga pembelian
tidak termasuk PPN dan tidak final.
3. Atas penjualan hasil produksi ditetapkan bedasarkan keputusan Direktur
Jenderal Pajak, yaitu :
a. Kertas = 0.1% x DPP PPN (tidak final).
b. Semen = 0.25% x DPP PPN (tidak final).
c. Baja = 0,30% x DPP PPN (tidak final).
d. Otomotif = 0.45% x DPP PPN (tidak final)
4. Atas penjualan hasil produksi atau penyerahan barang oleh produsen atau
importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas adalah sebagai berikut :
a. Bahan bakar minyak pertamina = 0,25%
b. Bahan bakar minyak bukan pertamina/swasta = 0,30%
c. Pelumas = 0,30%
d. Gas = 0,30%

Catatan :

Pungutan PPh Pasal 22 kepada penyalur/agen, bersifat final. Selain


penyalur/agen bersifat tidak final.

5. Atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor dari


pedagang pengumpul ditetapkan sebesar 0,25% (nol koma dua puluh lima
persen) dari harga pembelian tidak termasuk pajak pertambahan nilai.
6. Atas impor kedelai, gandum, dan tepung terigu oleh importir yang
menggunakan api sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf a sebesar
0.5% (setengah persen) dari impor nilai.
7. Atas penjualan barang barang yang tergolong sangat mewah (peraturan
menteri keuangan nomor 253/PMK.03/2008 yang kemudian diubah dengan
peraturan kementrian keuangan nomor 90/PMK.03/2015). Dikenakan
sebesar 5% dari harga jual tidak termasuk PPN dan PPNBM.
a. Pesawat udara pribadi dan helicopter pribadi.
b. Kapal pesiar, yatch, dan sejenisnya.
c. Rumah beserta tanahnya dengan harga jual atau harga
pengalihannya lebih dari Rp 5.000.000.000 dan luas bangunan
lebih dari 400m2.
d. Apartemen, kondominium, dan sejenisnya dengan harga jual atau
pengalihannya lebih dari Rp.5.000.000.000 dan/atau luas bangunan
lebih dari 150 m2.
e. Kendaraan bermotor roda empat pengangkutan orang kurang dari
10 orang berupa Sedan, Jeep, Sport Utility Vehicle (SUV), Multi
Perpose Vehicle (MPV), minibus dan sejenisnya dengan harga jual
lebih darib RP.2.000.000.000,00 dan dengan kapasitas silinder
lebih dari 3.000 cc.
f. Kendaraan bermotor dua dan tiga, dengan harga jual lebih dari
RP.300.000.000 atau dengan kapasitas silinder lebih 250 cc.
g. Untuk yang tidak ber-NPWP dipotong 100% lebih tinggi dari tarif
PPh Pasal 22.

Pengecualian Pemungutan PPh Pasal 22 :


1. Impor barang dan/atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan tidak terutang pajak penghasilan
dinyatakan dalam Surat Keterangan Bebas (SKB).
2. Impor barang yang dibebaskan dari pungutan bea masuk dan/atau pajak
pertambahan nilai dilaksanakan oleh DJBC.
3. Impor sementara, jika pada waktu impornya nyata-nyata dimaksudkan
untuk diekspor kembali, dan dilaksanakan oleh Dirjen DJBC.
4. Pembayaran atas pembelian barang oleh pemerintah atau yang lainnya
yang jumlahnya paling banyak Rp.2000.000 (dua juta rupiah) dan tidak
merupakan pembayaran yang terpecah pecah.
5. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, air
minum/pdam benda benda pos.
6. Emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan
dari emas untuk tujuan ekspor.
7. Pembayaran/pencarian dana jaring pengaman sosial oleh kantor
perbendaharaan dan kas negara.
8. Impor kembali (re-impor), yang meliputi barang-barang yang telah
diekspor kemudian diimpor kembali dalam kualitas yang sama atau
barang-barang yang telah diekspor untuk keperluan perbaikan, pengerjaan
dan pengujian, yang telah memenuhi syarat yang ditentukan oleh direktorat
jenderal bea dan cukai.
9. Pembayaran untuk pembelian gabah dan atau beras atau bulog.
Contoh soal PPh Pasal 22
PT. Angkasa (memiliki api) pada juni 2016 melakukan impor barang dari Amerika
Serikat senilai USD 30.000. Biaya asuransi dan angkut barang dari amerika ke
indonesia masing-masing sebesar 0.5% dan 15% dari harga faktur. Tarif bea masuk
sebesar 15% dari CIF. Kurs yang di tetapkan oleh menteri keuangan saat ini adalah
USD1 = Rp.11.000,-. Hitung PPh Pasal 22 yang harus dibayar oleh PT. Angkasa!

Jawaban!
1. Menentukan nilai impor
- harga faktur (cost) USD 30.000,00
- biaya asuransi 0.5% x usd 30.000 USD 150,00
- biaya angkut (freight) 15% x usd 30.000 USD 4.500,00

CIF (Cost, Insurance, Freight) USD 34.650,00


Bea masuk : 15% x usd 34.650 USD 5.197,50

Nilai impor USD 39.847,50


Nilai impor (dalam rupiah) :
USD 39.847,50xrp 11.000 = Rp.438.322.500
2. Menghitung PPh Pasal 22 – impor
2.5% x Rp. 438.322.500 = Rp. 10.958.063
BAB II

PPh PASAL 23

Pengertian
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23 adalah pajak yang dipotong atas
penghasian yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan
penghargaan, selain yang telah dipotong PPh Pasal 21.

Pemotongan dan penerima penghasilan yang di potong PPh Pasal 23 :


1. Pemotong PPh Pasal 23 :
a. Badan pemerintahan.
b. Subjek pajak badan dalam negeri.
c. Penyelenggaraan kegiatan.
d. Bentuk Usaha Tetap (BUT).
e. Perwakilan perusahaan luar begeri lainnya.
f. Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri tertentu, yang ditunjuk
oleh Direktur Jenderal Pajak.

2. Penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 23 :


a. WP dalam negeri.
b. BUT.

Tarif dan Objek PPh Pasal 23 :


1. Dikenakan 15% dari jumlah bruto atas :
a. dividen kecuali pembagian dividen kepada orang pribadi
dikenakan final, bunga, dan royalty.
b. hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong PPh Pasal 21.
2. Dikenakan 2% dari jumlah bruto atas sewa dan penghasilan lain
sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan/atau
bangunan.
3. Dikenakan 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa teknik, jasa manajemen,
jasa konstruksi, dan jasa konsultan.
4. Dikenakan 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa lainnya bedasarkan
PMK 141/PMK.03/2015 sebanyak 60 Jenis.
Pemotongan PPh Pasal 23 tidak dilakukan atas:

1. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank.


2. Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha
dengan hak opsi.
3. Dividen yang bukan objek PPh dan dividen yang diterima oleh orang
pribadi (merupakan objek PPh yang bersifat final).
4. Bagian laba yang bukan objek PPh.
5. Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggotanya.
6. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa
keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan
yang diatur dengan peraturan menteri keuangan.

Perhitungan PPh Pasal 23 terutang menggunakan jumlah bruto tidak termasuk PPN

Dikecualikan dari potongan PPh Pasal 23 :


1. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank.
2. Sewa yang dibayar atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha
dengan hak opsi
3. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai WP dalam negeri, koperasi, dan BUMN/BUMD dari penyertaan
modal pada badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia
dengan syarat:
a. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan.
b. Bagi perseroan terbatas, BUMN/BUMD, kepemilikan saham pada
badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah
modal yang disetor.
c. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi termasuk pemegang
unit penyertaan kontrak investasi kolektif.
d. Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi yang dibayarkan koperasi kepada
anggotanya.
e. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas
jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau
pembiayaan.
Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 23 :
1. PPh Pasal 23 terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran
disediakan untuk dibayar, atau telah jatuh tempo pembayarannya,
tergantung peristiwa yamg terjadi lebih dahulu.
2. PPh Pasal 23 disetor oleh Pemotong Pajak paling lambat tanggal sepuluh
bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutang pajak.
3. SPT Masa disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak setempat, paling
lambat 20 hari setelah Masa pajak berakhir.

Contoh Soal PPh Pasal 23 :


1. Pada 14 Januari 2016, PT. Bahagia Mengumumkan akan membagikan
dividen melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dan Melakukan
pembayaran dividen tunai kepada PT Dahsyat sebesar Rp.70,000,000 yang
melakukan penyertaan modal sebesar 20%.
JAWABAN :
PPh Pasal 23 = 15% x Rp.70,000,000 = Rp.10,500,000
2. PT. Virgo meminta jasa manajemen dari Bapak Bumi dengan imbalan
sebesar Rp.88,000,000 (Sudah termasuk PPN).
JAWABAN :
DPP (tanpa PPN) : Rp.88,000,000/110% = Rp.80,000,000
PPh Pasal 23 yang harus dipotong oleh PT.Irama Adalah
2% x Rp.80,000,000 = Rp.1.600.000
BAB III

PPh PASAL 24

Merupakan besarnya pajak atas penghasilan dari luar negeri yang dapat
dikreditkan terhadap penghasilan Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN). Pajak
terhutang WPDN bersumber dari seluruh penghasilan (Penghasilan dalam negeri
dan luar negeri).

Jumlah pajak atas penghasilan WPDN yang dibayar atau terutang di Luar
Negeri tersebut dihitung bedasarkan tarif pajak yang berlaku di Negara yang
bersangkutan. Jumlah Pajak yang di bayat atau terutang diluar negeri mungkin
tidak semuanya dapat dikreditkan dalam total pajak terutang di Indonesia. Pasal 24
UU No.28 Tahun 2000. selanjtnya mnegatur ketentuan besarnya pajak penghasilan
yang diluar negeri yang dapat dikreditkan dari total pajak penghasilan terutang di
Indonesia.

Tujuan PPh Pasal 24 :

Meringankan pajak ganda yang dapat terjadi karena pengenaan pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh dari diluar negeri.

Sumber Penghasilan Luar Negeri yang Bisa dijadikan Pengurang Pajak dalam
Negeri

PPh Pasal 24 mengatur beberapa sumber penghasilan berikut yang bisa dikreditkan
sebagai pengurang pajak didalam negeri, antara lain :

1. Penghasilan dari saham dan surat berharga lainnya.


2. Keuntungan dari pengalihan saham dan surat berharga lainnya.
3. Pendapatan lain yang berupa bunga, royalti, dan sewa yang berkaitan
dengan penggunaan harta benda bergerak.
4. Pendapatan yang berupa sewa terkait dengan penggunaan harta benda tidak
bergerak.
5. Jasa imbalan yang berhubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan.
6. Semua keuntungan dari Bentuk Usaha Tetap (BUT) di luar negeri.
7. Keuntungan dari keikutsertaan dalam pembiayaan atau pemanfaatan di
perusahaan pertambangan.
8. Keuntungan dari pengalihan aset yang merupakan bagian dari Bentuk
Usaha Tetap (BUT).

Penentuan Jumlah Penghasilan


Langkah pertama yang dilakukan dalam menghitung total PPh terutang dalam
satu tahun pajak adalah menggabungkan penghasilan dari Luar Negeri (LN)
dengan penghasilan dari dalam Negeri (DM). berikut adalah ketentuan
penggabungan penghasilan tersebut :

1. Saat peroleh dividen dalam rangka penggabungan penghasilan tersebut


ditetapkan sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan, Sebagai Berikut
:Penghasilan Usaha : diakui saat diperolehnya penghasilan tersebut (Acrual
Basis).
2. Penghasilan diluar usaha seperti sewa, bunga, Royalti : diakui pada saat
diterimanya penghasilan tersebut (Cash Basis).
3. Penghasilan dividen yang diperoleh WPDN dari pernyertaan modal
sekurang kurangnya 50% dari jumlah saham di setor atau secara bersama
sama dengan wajib Pajak dalam negeri lainnya sekurang kurangnya 50%
dari jumlah saham disetor pada badan usaha diluar negeri yang sahamnya
tidak diperdagangkan di bursa efek, dilakukan dalam tahun pajak dimana
dividen tersebut diperoleh.
4. Pada bulan keempat setelah akhir batas waktu kewajiban untuk
menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan Usaha di luar negeri untuk tahun
pajak yang bersangkutan.
5. Jika tidak ditentukan batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh, atau
tidak ada kewajiban penyampaiam SPT PPh, saat diperolehnya dividen
adalah pada bulan ketujuh setelah tahun pajak berakhir.

Ketentuan Kredit Pajak Luar Negeri


a. Pajak atas penghasilan yang terutang atau di bayar diluar negeri dapat
dikreditkan terhadap total PPh terutang di Indonesia hanya pajak yang
langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh nWPLN.

b. Besarnya kredit pajak yang diperbolehkan adalah setinggi tingginya sama


dengan jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri, tetapi tidak
boleh melebihi jumlah yang dihitung menurut perbandingan antara
penghasilan dari luar negeri terhadap Penghasilan Kena Pajak (PKP), atau
setinggi tingginya sama dengan pajak yang terutang atas PKP dalam hal PKP
lebih kecil dari penghasilan luar negeri (Metode Pengkreditan Pajak Terbatas
atau Ordinary Credit Method)

Besarnya kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan (PPh Pasal 24) adalah nilai
terendah dari antar tiga perhitungan berikut ini :

1. Total PPh Terutang.

2. x Total PPh terutang.

3. PPh terutang atau dibayar di luar negeri.

Contoh Soal PPh 24


PT AAA di tahun 2014 memperoleh penghasilan neto dari dalam negeri sebesar
Rp3.500.000.000 (Rp3 miliar) dan dari luar negeri sebesar Rp1.000.000.000 (Rp1
miliar).

Asumsi: pajak di luar negeri = 20%

Total penghasilan :

Penghasilan Dalam Negeri = Rp3.500.000.000

Penghasilan Luar Negeri = Rp1.000.000.000

Total Penghasilan = Rp4.500.000.000

Total PPh terutang

25% x Rp4.500.000.000 = Rp1.125.000.000

PPh maksimum yang dapat dikreditkan:

= (penghasilan luar negeri : total penghasilan) x total PPh terutang

= (Rp1.000.000.000 : Rp4.500.000.000) x Rp1.125.000.000

= Rp250.000.000

PPh terutang yang dipotong di luar negeri:

20% x Rp1.000.000.000 = Rp200.000.000.


BAB IV

PPH PASAL 26

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26 adalah PPh yang dikenakan/dipotong


atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak (WP) luar negeri selain bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia.

Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak yang perlakuan perpajakannya


dipersamakan dengan subjek pajak badan.

Negara domisili dari Wajib Pajak luar negeri selain yang menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan usaha melalui bentuk usaha tetap di Indonesia,
adalah negara tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak luar negeri yang
sebenarnya menerima manfaat dari penghasilan tersebut (Beneficial Owner).

Pemotong PPh Pasal 26 :


1. Badan Pemerintah.
2. Subjek Pajak dalam Negeri.
3. Penyelenggaraan Kegiatan.
4. BUT.
5. Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya selain BUT di Indonesia.

Tarif dan Objek PPh Pasal 26 :


1. 20% (final) dari jumlah penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak Luar Negeri berupa :
a. Dividen
b. Bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan sehubungan
dengan jaminan pengembalian uang
c. Royalti, sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta
d. Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan dan kegiatan
e. Hadiah dan penghargaan
f. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya
g. Premi swap dan transaksi lindung lainnya
h. Keuntungan karena pembebasan utang
2. 20% (final) dari perkiraan penghasilan neto berupa :
a. Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia
b. Premi asuransi, premi asuransi yang dibayarkan langsung maupun
melalui pialang kepada perusahaan asuransi di luar negeri.
3. 20% (final) dari perkiraan penghasilan neto atas penjualan atau pengalihan
saham perusahaan antara conduit company atau spesial perpouse company
yang didirikan atau bertempat kedudukan di negara yang memberikan
perlindungan pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan badan
yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau BUT di
Indonesia.
4. 20% (final) dari Penghasilan Kena Pajak Sesudah dikurangi pajak dari
suatu BUT di Indonesia, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali
di Indonesia.
5. Tarif bedasarkan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) antara
Indonesia dengan negara pihak pada persetujuan.

Pengecualian :
1. BUT dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 26 apabila penghasilan
Kena Pajak sesudah dikurangi Pajak Penghasilan dari BUT ditanamkan
kembali di Indonesia dengan syarat :
a. Penanaman kembali dilakukan atas seluruh penghasilan kena pajak
setelah PPh dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang
didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau
peserta pendiri.
b. Dilakukan dalam tahun berjalan atau selambat lambatnya tahun
pajak berikutnya dari tahun pajak diterima atau diperoleh
penghasilan tersebut.
c. Tidak melakukan pengalihan atas penanaman kembali tersebut
sekurang kurangnya dalam waktu 2 tahun sesudah perusahaan
tempat penanaman dilakukan, mulai berproduksi komersil.
2. Badan badan Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Contoh Soal PPh 26


Mr. Takashi menerima honorarium sebesar Rp.100.000.000 dari hotel amaris.
Honorarium tersebut diperoleh sehubungan dengan jasa konsultasi yang telah di
berikannya. PPh Pasal 26 yang dipotong oleh Hotel Amaris adalah :

20% x Rp.100.000.000 = Rp 20.000.000


BAB V

DAFTAR PUSTAKA

a) https://www.pajak.go.id/index.php/id/pph-pasal-22
b) https://news.ddtc.co.id/contoh-soal-perhitungan-pph-pasal-22-8218
c) https://www.pajak.go.id/id/pph-pasal-2326
d) https://www.pajak.go.id/id/pemotongan-pajak-penghasilan-pasal-23
e) http://ekstensifikasi423.blogspot.com/2014/07/pph-pasal-23-dan-contoh-
soalnya.html
f) https://www.pajak.go.id/id/kredit-pajak
g) http://www.ortax.org/files/lampiran/02KMK03_164.htm
h) https://www.pajak.go.id/id/pph-pasal-2126
i) https://www.pajak.go.id/id/pemotongan-pajak-penghasilan-pasal-26