Anda di halaman 1dari 12

Bank Sentral

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Perbaikan Nilai Pada Mata Kuliah Bank Syariah dan LKS

Dosen; Ika Trisnawati Alawiyah, M.Si

Di Susun Oleh :

1. Veta Tiasan Nurcahya 171140022


2. Puput Ratna Sari 1711400018

Program Studi S.I Hukum Ekonomi Syariah

FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM


INSTITUT AGAMA ISLAM MA’ARIF NU
METRO LAMPUNG
1441 H/ 2019 M

i
ABSTRAK

Bank sentral merupakan lembaga yang memiliki peran penting dalam


perekonomian suatu bangsa, terutama di bidang moneter, keuangan, dan
perbankan. Sehingga oleh karena itu bank sentral menjalankan tugasnya
berdasarkan garis-garis pokok kebijaksanaan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Bank sentral merupakan lembaga yang memiliki peran penting dalam
perekonomian suatu bangsa, terutama di bidang moneter, keuangan, dan
perbankan. Tujuan bank sentral seperti tertuang dalam UU RI No. 23 Tahun1999
Bab 3 Pasal 7 adalah untuk mencapai dan memelihara kestabilan rupiah. Peranan
lain Bank Indonesia adalah dalam hal menyalurkan uang terutama uang kartal atau
kertas dan logam dimana Bank Indonesia mempunyai hak tunggal untuk
menyalurkan uang kartal. Bank Indonesia mempunyai tiga pilar yang merupakan
tiga bidang tugasnya: menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, men
gatur dan menjaga kelancaran system pembayaran, serta mengatur dan mengawasi
perbankan di Indonesia.

Kata Kunci : Bank Sentral

A. PENDAHULUAN
Dalam perekonomian modern setiap negara memiliki Bank Sentral atau
setidak-tidaknya ada salah satu bank atau lembaga yang bertindak dan
menjalankan fungsi bank sentral. Bank sentral memiliki fungsi yang sangat
penting dalam pengaturan ekonomi dan moneter yang dalam kegiatannya
dapat bertindak sebagai agen pemerintah.
Bank sentral merupakan lembaga yang memiliki peran penting dalam
perekonomian suatu bangsa, terutama di bidang moneter, keuangan, dan
perbankan. Sehingga oleh karena itu bank sentral menjalankan tugasnya
berdasarkan garis-garis pokok kebijaksanaan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Bank Sentral bertugas untuk melaksanakan fungsi-fungsi Pemerintah
dalam bidang Ekonomi dan Moneter, karena bank Sentral adalah juga bagian
dari Pemerintah dan juga Lembaga keuangan Negara yang mempunyai
wewenang untuk Mengeluarkan alat pembayaran yang sah, Merumuskan dan
melaksanakan kebijakan moneter, Mengontrol kelancaran system pembayaran,
dan Pengawasan Perbankan, serta Menjalankan fungsi sebagai “Lender of the
Last Resort”.

2
Bank Sentral di Indonesia yaitu Bank Indonesia (BI). Dimana bank
sentral tidak sama dengan Bank Umum yang bertujuan Menginvestasikan
asetnya untuk memaksimalkan Profit. Tetapi bank sentral tidak mencari
keuntungan dan Kegiatan bank dikelola oleh pemerintah. Selain bertugas
untuk melaksanakan fungsi-fungsi Pemerintah dalam bidang Ekonomi dan
Moneter, banyak lagi hal yang perlu diketahui tentang bank sentral terdapat
dalam pembahasan makalah ini yaitu tentang fungsi bank sentral, neraca bank
sentral, instrument kebijakan moneter.

B. PEMBAHASAN
1. Sejarah Bank Sentral
Ditinjau dari segi fungsinya, salah satu jenis perbankan yaang
paling utama dan paling penting adalah Bank sentral. Bank sentral di tiap
negara hanya ada ssatu dan mempunyai cabang hampiir di tiap propinsi.
Fungsi utama Bank sentral adalah mengatur masalah-masalah yang
berhubungan dengan keuangan di suatu negara secara luas, baik di dalam
negeri maupun ke luar negeri. Di Indonesia tugas bank sentral dipegang
oleh Bank Indonesia (BI).1
Bank Indonesia pertama kali diatur oleh UU no. 11 Tahun 1953
tentang undang-undang pokok bank Indonesia,yaang kemudian diggantii
oleh UU No. 13 Tahun 1968 tentang bank sentral. Dalam uu tersebut Bank
sentraal yang dimaksud adalah Bank Indonesia, dimiliki oleh negara dan
merupakan badan hukum. Bank Indonesia menurut UU No. 13 tahun 1968
mempunyai tugas pokok membantu pemerintah dalam mengatur, menjaga
dan memelihara kestabilan nilai rupiah; mendorong kelancaran produksi
dan pembangunan serta mempeperluas kesempatan kerja guna
meningkatkan taraf hidup rakyat.2
Menurut penjelasan Pasal 4 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun

1
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan lainnya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2015), hlm. 156
2
Malayu S.P. Hasibuan, Dasar-Dasar Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), hlm. 30

3
1999 tentang Bank Indonesia menyatakan Bank Sentral adalah lembaga
negara yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan alat pembayaran
yang sah dari suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijakan
moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, mengatur
dan mengawasi perbankan, serta menjalankan fungsi sebagai “lender of
the last resort”. Bank Sentral dibutuhkan untuk mengatur dan mengontrol
seluk beluk tentang uang. Sebab itu pula maka semua negara dewasa ini
mempunyai Bank Sentral atau semacam Bank Sentral untuk mengatur dan
mengontrol kebijaksanaan devisa di negara yang bersangkutan. Akan
tetapi sejarah Bank Sentral tersebut banyak pasang surutnya, dengan
berbagai trial & error. Bahkan sebenarnya perkembangan Bank Sentral
dalam arti modern dan sophisticated seperti yang terjadi saat ini boleh
dibilang masih relatif baru.
Memang kelihatannya peran Bank Sentral di suatu negara belum
begitu tertata dengan pola yang baku. Sebab seringkali tindakan-tindakan
Bank Sentral tidak menunjukkan efek yang efektif dalam menanggulangi
berbagai masalah moneter di negara yang bersangkutan. Misalnya Bank-
bank Sentral di negara-negara Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan
Asia Selatan sangat kewalahan dan seperi hilang akal dalam menghadang
dan menanggulangi krisis moneter di negaranya yang terjadi sejak akhir
tahun 1997.
Yang sangat mendorong terbentuknya Bank Sentral di kebanyakan
negara adalah adanya faktor-faktor sebagai berikut:
a. Kekacauan ekonomi setelah perang dunia pertama;
b. Konferensi finansial internasional yang dilaksanakan di Brussels,
September 1920; dan
c. Konferensi Genoa tahun 1922. 3
Dewasa ini semua negara sudah menyadari betapa pentingnya
peran yang dimainkan oleh suatu Bank Sentral sebagai urat nadi

3
Munir Fuady, Hukum Pailit – Dalam Teori Dan Praktek, PT Citra Aditya. Bakti,
Bandung, 2005, hlm. 113

4
perekonomian, stabilisator dan dinamisator dari perkembangan moneter di
negara yang bersangkutan. Akan tetapi sungguhpun demikian, seperti telah
disebutkan bahwa perkembangan dan peran dari Bank Sentral ini masih
berevolusi dan masih saja berkembang dan berubah terus.4
Di Indonesia yang memiliki tugas dan wewenang sebagai Bank
Sentral adalah Bank Indonesia. Sejarah perkembangan Bank Indonesia
sebagai Bank Sentral dimulai setelah zaman kemerdekaan republik
Indonesia, yakni pada tahun 1946, maka dengan dipelopori almarhum
Margono Djojohadikusumo, berdirilah sebuah bank yang dikenal dengan
Bank Nasional Indonesia 1946, yang didirikan dengan Perpu Nomor 2
Tahun 1946 tentang Bank Negara Indonesia, yang mulai berlaku sejak 5
Juli 1946. Itulah sebabnya tanggal 5 Juli diperingati sebagai “Hari Bank”.
Pada saat didirikannya, fungsi BNI 1946 merangkap, yakni
disamping bertindak sebagai bank komersil (dalam hal-hal khusus) BNI
mempunyai fungsi utama sebagai Bank Sentral. Baru kemudian setelah
Bank Indonesia didirikan, fungsi BNI 1946 hanya tinggal sebagai bank
komersil semata-mata. Dengan demikian, awal mulanya Bank Sentral
setelah kemerdekaan itu adalah BNI 1946 tersebut. Fungsi BNI 1946
sebagai Bank Sentral (fungsi utamanya) terlihat dalam Perpu Nomor 2
Tahun 1946 tersebut, yang antara lain menentukan:
a. BNI adalah bank pemerintah untuk mengatur pengeluaran dan
peredaran uang kertas bank sebagai alat tukar serta memperbaiki
peredaran alat pembayaran;
b. BNI melakukan kebijaksanaan diskonto yang aktif untuk mencapai
ketetapan harga;
c. BNI mempunyai kegiatan untuk memberi kredit kepada badan-badan
pemerintah, bank-bank dan badan perekonomian;
d. BNI memberikan kredit kepada Negara Republik Indonesia;
e. Uang kertas BNI merupakan satu-satunya uang kertas yang diakui dan
harus diterima sebagai alat pembayaran yang sah;

4
Munir Fuady, Hukum Pailit – Dalam Teori Dan Praktek, hlm. 115-116

5
f. BNI menyimpan uang negara dan melakukan pembayaran, penerimaan
dan pembukaan rekening untuk negara, perusahaan negara dan
perusahaan yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Disamping itu, BNI
menyimpan barang-barang berharga untuk negara dan perusahaan-
perusahaan yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan RI; dan
g. BNI tidak boleh memberikan kredit kepada swasta atau menerima giro,
deposito dari pihak swasta kecualai di tempat-tempat yang sama sekali
belum ada bank atau kecuali jika memperoleh izin dari Menteri
Keuangan.
Akan tetapi di samping peran BNI 1946 sebagai Bank Sentral,
kenyataan menunjukkan bahwa fungsi BNI 1946 tersebut sebagai Bank
Sentral ternyata tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Karena itu, pihak
yang berwenang mengambil alternatif lain dengan jalan mengeluarkan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1953 tentang Undang-Undang Pokok
Bank Indonesia. Undang-Undang Nomor 11 ini mengubah De Javasche
Bank NV menjadi Bank Indonesia yang berfungsi sebagai Bank Sentral.
De Javasche Bank NV itu sendiri, yang didirikan oleh pemerintah Hindia
Belanda pada tahun 1827, sebelumnya telah dinasionalisasikan oleh
pemerintah Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1951.
Karena itu, sebenarnya sejarah berdirinya Bank Indonesia telah dimulai
sejak berdirinya De Javasche Bank NV yakni pada tahun 1827 tersebut.
Hanya saja pada awal kemerdekaan keberadaaan De Javasche Bank NV
berjalan seiring dengan eksistensi BNI 1946, yang memang dengan tegas
diakui sebagai Bank Sentral. Status BNI 1946 sebagai Bank Sentral baru
kemudian dicabut setelah kurang lebih dua tahun berdirinya Bank
Indonesia terusan dari De Javasche Bank NV, yakni dicabut dengan
Undang-Undang Darurat Nomor 2 Tahun 1955. Sehingga sejak tahun
1955, hanya diakui satu Bank Sentral, yaitu Bank Indonesia terusan De
Javasche Bank NV tersebut.
Kemudian keluar beberapa peraturan perundang-undangan dalam
bentuk undang-undang, undang-undang darurat, peraturan pemerintah

6
pengganti undang- undang, penetapan presiden dan lain-lain dalam rangka
mengatur fungsi dan kewenangan Bank Sentral tersebut. Sampai kemudian
keluarlah undang-undang yang mengatur tentang Bank Sentral secara
khusus yaitu Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968, tentang Bank
Sentral.
Selanjutnya dengan keluarnya Undang-Undang Perbankan Nomor
10 Tahun 1998, maka kedudukan Bank Indonesia dibuat menjadi lebih
mandiri dan mempunyai wewenang yang lebih luas, dengan pada
prinsipnya tidak lagi terikat dengan Departemen Keuangan. Banyak
kewenangan yang dalam undang-undang sebelumnya menjadi
kewenangan Depatemen Keuangan, misalnya tentang pencabutan izin
usaha bank, sekarang dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
tersebut menjadi kewenangan Bank Indonesia.5

2. Proses Pengelolaan Bank Sentral


Bank yang berfungsi dan menjalankan kewenangan sebagai Bank
Sentral di Indonesia yaitu Bank Indonesia. Undang-undang yang kini
berlaku mengatur kedudukan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral, yaitu
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, serta
undang-undang perubahannya, yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999
tentang Bank Indonesia. Undang-undang tersebut merupakan peraturan
pengganti dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank
Sentral.
Ketentuan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang
Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
3 Tahun 2004 mengatur bahwa tujuan Bank Indonesia adalah mencapai
dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah sangat
penting untuk mendukung pembangunan ekonomi dan meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Di dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai

5
Munir Fuady, Hukum Pailit – Dalam Teori Dan Praktek, hlm. 116-118

7
rupiah tersebut, Bank Indonesia dapat melakukan aktifitas perbankan yang
dianggap perlu, tetapi tidak melakukan kegiatan intermediasi seperti bank
umum.
Tujuan dari Bank Indonesia tersebut, sesuai dengan Pasal 7
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yaitu mencapai
dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah, yaitu
terhadap barang dan jasa diukur dengan atau tercermin dari perkembangan
nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Tujuan kestabilan nilai
rupiah ini, yaitu untuk mendukung pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dalam rangka
mencapai tujuan dari Bank Indonesia tersebut, dilaksanakan dengan
bentuk kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan
mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah bidang perekonomian.6
Konsekuensi sebagai lembaga yang bertujuan untuk menjaga dan
memelihara kestabilan nilai rupiah, Bank Indonesia mempunyai tugas
untuk:7
a. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
b. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; dan
c. Mengatur dan mengawasi bank.
Dari tugas utama tersebut bila dilihat secara operasional, terdapat
peran dan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral. Peran dan fungsi
Bank Indonesia sebagai Bank Sentral adalah:8
a. Bank Indonesia sebagai badan pembuat kebijakan moneter. Dalam hal
ini Bank Indonesia menetapkan sasaran-sasaran moneter dan
melakukan pengendalian moneter, baik berdasarkan system perbankan
konvensional maupun berdasarkan sistem syariah. Oleh sebab itu,
Bank Indonesia melaksanakan fungsinya tersebut dengan

6
Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, cetakan. ke v, Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2006, hlm. 118-119.
7
Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesi, hlm. 1122-123
8
Munir Fuady, Hukum Pailit – Dalam Teori Dan Praktek, hlm. 286

8
menggunakan cara-cara yang diatur dalam Pasal 10 UU No. 23 Tahun
1999 sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004,
yaitu:
1) Operasi pasar terbuka;
2) Penetapan tingkat diskonto;
3) Penetapan cadangan wajib minimum; dan
4) Pengaturan kredit atau pembiayaan.
b. Bank Indonesia sebagai pengontrol kredit kepada bank-bank (credit
control). Termasuk di dalamnya bank yang berdasarkan prinsip
syariah. Ini diatur dalam Pasal 11 UU No. 23 Tahun 1999 sebagaimana
yang telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004.
c. Bank Indonesia bertindak sebagai penerbit mata uang rupiah. Bank
Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk
mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah dalam bentuk uang kertas
dan logam. Bank Indonesia juga berwenang untuk menarik dan
memusnahkan uang rupiah yang telah dikeluarkannya. Ini diatur
dalam Pasal 20 jo Pasal 23 ayat (1) UU No. 23 Tahun 1999
sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004.
d. Bank Indonesia sebagai pengatur dan pengawas bank. Oleh sebab itu,
Bank Indonesia berwenang untuk menetapkan ketentuan-ketentuan
perbankan yang memuat prinsip kehati-hatian.
Sehubungan dengan hal ini, Bank Indonesia mempunyai
wewenang untuk:
1) Menetapkan peraturan-peraturan di bidang perbankan (Pasal 25
UU No. 23 Tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan
UU No. 3 Tahun 2004);
2) Memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan
usaha tertentu dari bank (Pasal 26 UU No. 23 Tahun 1999
sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004);

9
3) Melaksanakan pengawasan bank (Pasal 27 UU No. 23 Tahun 1999
sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004);
dan
4) Mengenakan sanksi terhadap bank sesuai dengan peraturan yang
berlaku (Pasal 31 UU No. 23 Tahun 1999 sebagaimana yang telah
diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004).
e. Bank Indonesia bertindak sebagai “lender of the lest resort”, yaitu
Bank Indonesia berfungsi sebagai pemberi pinjaman kepada bank
dalam keadaan yang memaksa untuk menjaga likuiditas bank tersebut.
Dalam hal ini Bank Indonesia melakukan penilaian terhadap suatu
bank. Keadaan yang memaksa tersebut dapat berupa:
1) Hal-hal yang membahayakan kelangsungan usaha bank yang
bersangkutan;
2) Hal-hal yang membahayakan sistem perbankan; dan
3) Terjadi kesulitan perbankan yang membahayakan perekonomian
nasional.
f. Bank Indonesia sebagai bank negara (the banker of the state). Bank
Indonesia bertindak sebagai bank dari dan untuk pemerintah Indonesia.
Dengan demikian, berdasarkan fungsinya tersebut, Bank Indonesia
berwenang:
1) Sebagai pemegang kas pemerintah (Pasal 52 UU No. 23 Tahun
1999 sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. 3 Tahun
2004);
2) Menerima pinjaman luar negeri, menatausahakan, serta
menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah
terhadap pihak luar negeri (Pasal 53 UU No. 23 Tahun 1999
sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004);
dan
3) Membantu pemerintah dalam penerbitan surat-surat utang negara
(Pasal 55 ayat (3) UU No. 23 Tahun 1999 sebagaimana yang telah
diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004).

10
3. Produk Bank Sentral
Produk produk bank sentral antara lain :
a. Uang kartal ( uang kertas dan uang logam ) yang merupakan alat
pembayaran yang sah.
b. Uang giral, seperti cek, giro, dan lain-lain.9
c. Jasa, misalnya memberikan kredit kepada bank-bank lain di Indonesia.
Kegiatan yang dilakukan bank adalah menghimpun dana dari masyarakat
dan menyalurkannya kembali ke masyarakat serta memberikan jasa-jasa
sesuai dengan kebutuhan Masyarakat.

4. Hambatan dan Tantangan Bank Sentral


Bertumbuhnya persoalan perekonomian global membuat bank
sentral masing-masing negara harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan
baru untuk menekan permasalahan tersebut. Disamping melakukan
kebijakan agar pemerintah bisa menahan laju inflasi, bank sentral juga saat
ini harus berperan dalam pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas.
Bank sentral harus memberikan perhatiannya untuk merangsang
pertumbuhan ekonomi, meminimalisir pengangguran hingga menjaga
ancaman stabilitas pasar. Bank sentral memiliki kewajiban modal dan
etika untuk memperluas kinerja dalam menanggapi tantangan ini.
Situasi ini telah memperlihatkan banyak tantangan bagi banyak
negara termasuk Indonesia. Hal ini membuat BI tidak hanya
mengandalkan kebijakan suku bunga sebagai instrumen kebijakan moneter
tunggunga. Bahkan BI juga menggunakan berbgai instrumen kebijakan
yang disebut 'bauran ekonomi'.10

9
Mis Taqwa, “Produk Produk BANK Produk-produk Bank Sentral”, dalam
https://www.academia.edu/37157905/PRODUK_PRODUK_BANK_Produk-
produk_Bank_Sentral, diakses pada 20 September 2019
10
Debbie Sutrisno, “Selain Inflasi, Ini Tantangan yang Dihadapi Bank Sentral Global”,
dalam https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/keuangan/16/08/01/ob7qn9383-selain-inflasi-
ini-tantangan-yang-dihadapi-bank-sentral-global, diakses pada 20 September 2019

11
C. KESIMPULAN
Bank sentral merupakan lembaga yang memiliki peran penting dalam
perekonomian suatu bangsa, terutama di bidang moneter, keuangan, dan
perbankan. Tujuan bank sentral seperti tertuang dalam UU RI No. 23
Tahun1999 Bab 3 Pasal 7 adalah untuk mencapai dan memelihara kestabilan
rupiah. Peranan lain Bank Indonesia adalah dalam hal menyalurkan uang
terutama uang kartal atau kertas dan logam dimana Bank Indonesia
mempunyai hak tunggal untuk menyalurkan uang kartal. Bank Indonesia
mempunyai tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya: menetapkan dan
melaksanakan kebijakan moneter, men gatur dan menjaga kelancaran system
pembayaran, serta mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia.

D. DAFTAR PUSTAKA
Debbie Sutrisno, “Selain Inflasi, Ini Tantangan yang Dihadapi Bank Sentral
Global”, dalam
https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/keuangan/16/08/01/ob7qn
9383-selain-inflasi-ini-tantangan-yang-dihadapi-bank-sentral-global,
diakses pada 20 September 2019

Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan lainnya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2015)

Malayu S.P. Hasibuan, Dasar-Dasar Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara,


2015)

Mis Taqwa, “Produk Produk BANK Produk-produk Bank Sentral”, dalam


https://www.academia.edu/37157905/PRODUK_PRODUK_BANK_P
roduk-produk_Bank_Sentral, diakses pada 20 September 2019

Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, cetakan. ke v, Citra


Aditya Bakti, Bandung, 2006)

Munir Fuady, Hukum Pailit – Dalam Teori Dan Praktek, PT Citra Aditya.
Bakti, Bandung, 2005)

12