Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

“AKUNTANSI HIBAH PEMERINTAH DAN PENGUNGKAPAN BANTUAN


PEMERINTAH (PSAK 61)”

Disusun Oleh :

1. Adi Ngroho (1610631030006)


2. Luluk Dwi Ayuni (1610631030165)
3. Shofi Hadyanti Kurnia (1610631030259)
4. Silfia Rahmah (1610631030260)

PRODI S1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas karunia, hidayah dan nikmatnya penulis
dapat menyelesaikan Makalah Standar Akuntansi Keuangan yang berjudul Akuntansi Hibah
Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah (PSAK 61). Penulisan makalah ini bertujuan
untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah standar
akuntansi keuangan, Bapak DR.R.Nasution.
Makalah ini bersumber dari buku yang berkaitan tentang Standar Akuntansi Keuangan, tak
lupa penulis ucapkan terima kasih kepada pengajar mata kuliah Standar Akuntansi Keuangan
atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini serta kepada rekan-rekan mahasiswa
yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini.
Penulis berharap dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,
semoga makalah ini dapat menambah wawasan kita mengenai Akuntansi Hibah Pemerintah dan
Pengungkapan Bantuan Pemerintah (PSAK 61). Memang makalah ini masih jauh dari sempurna,
maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang
lebih baik.
Demikianlah makalah ini, semoga dapat bermanfaat bagi penulis dan yang membacanya.
Aamiin.

Karawang, 13 September 2019

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................2

DAFTAR ISI...................................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................................4

1. 1 Latar Belakang..................................................................................................................4

1. 2 Rumusan Masalah.............................................................................................................4

1. 3 Tujuan Penulisan...............................................................................................................4

BAB II ISI.......................................................................................................................................5

2. 1 Definisi..............................................................................................................................6

2. 2 Hibah Pemerintah..............................................................................................................6

2. 3 Bantuan Pemerintah..........................................................................................................9

2. 4 Bentuk Lain Bantuan Pemerintah...................................................................................10

2. 5 Persyaratan Pengungkapan.............................................................................................10

2. 6 Ketentuan Transisi...........................................................................................................10

2. 7 Perbedaan Dengan Standar IASB...................................................................................11

2. 8 Contoh Studi Kasus PSAK 61 Tentang Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan
Bantuan Pemerintah yaitu :.......................................................................................................11

BAB III PENUTUP......................................................................................................................13

3. 1 Kesimpulan.....................................................................................................................13

3. 2 Saran................................................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang

Pada bulan November 2010, sesuai dengan kebijakan konvergensi dengan IFRS, DSAK
mengesahkan dan mengeluarkan PSAK 61 Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan
Bantuan Pemerintah. PSAK 61 berlaku efektif untuk laporan keuangan yang mencakup periode
laporan yang dimulai setelah tanggal 1 januari 2012.

PSAK 61 adalah PSAK baru dan belum pernah diterbitkan sebelumnya. PSAK ini
diharapkan memberikan panduan bagi entitas yang menerima bantuan hibah dari pemerintah.

Bantuan pemerintah didefinisikan dalam PSAK 61 sebagai tindakan pemerintah yang


dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi secara spesifik kepada satu entitas atau beberapa
entitas yang memenuhi kualifikasi tertentu (paragraf 3).

Tujuan akuntansi untuk bantuan pemerintah adalah :

 Untuk menentukan pengalihan sumber daya dalam bantuan pemerintah dengan tepat.

 Untuk mengungkapkan bentuk lain bantuan pemerintah guna memberikan indikasi sejauh
mana entitas telah memperoleh manfaat atas bantuan tersebut selama periode pelaporan
dan untuk memberikan perbandingan laporan keuangan entitas yang memperoleh bantuan
dengan laporan keuangan periode sebelumnya dan dengan laporan keuangan entitas lain.

Secara khusus, PSAK 61 mengatur tentang akuntansi untuk pengungkapan hibah


pemerintah, disamping pengungkapan bentuk lain bantuan pemerintah.

1. 2 Rumusan Masalah

Bagaimana penerapan PSAK 61 tentang Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan


Bantuan Pemerintah ?

1. 3 Tujuan Penulisan

Tujuan diadakannya penulisan ini adalah Untuk mengetahui Penerapan PSAK 61 tentang
Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah.
BAB II
ISI
2. 1 Definisi

Bantuan pemerintah adalah tindakan oleh pemerintah yang dirancang untuk memberikan
manfaat ekonomi spesifik kepada satu entitas atau beberapa entitas yang memenuhi kualifikasi
tertentu. Bantuan pemerintah untuk tujuan ini tidak mencakup manfaat yang diberikan secara
tidak langsung melalui tindakan yang mempengaruhi kondisi perdagangan umum, seperti
penyediaan/atau pembangunan infrastruktur di daerah yang sedang berkembang atau
pemberlakuan batasan perdagangan terhadap pesaing.

Hibah yang terkait dengan aset adalah hibah pemerintah yang kondisi utamanya adalah
bahwa entitas yang memenuhi syarat harus melakukan pembelian, membangun atau membeli
aset jangka panjang. Kondisi tambahan mungkin juga ditetapkan dengan membatasi jenis atau
lokasi aset atau periode aset tersebut diperoleh atau dimiliki.

Hibah yang terkait dengan penghasilan adalah hibah pemerintah selain dengan hibah
yang terkait dengan aset.

Hibah Pemerintah Nonmoneter adalah hibah pemerintah dapat berbentuk penyerahan aset
nonmoneter, seperti tanah atau sumber daya lain, untuk digunakan oleh entitas. Dalam keadaan
ini adalah lazim untuk menentukan nilai wajar aset nonmoneter dan mencatat hibah dan aset
pada nilai wajar. Sebagai alternatif terkadang dapat saja mencatat aset dan hibah berdasarkan
jumlah nominal.

2. 2 Hibah Pemerintah

Hibah pemerintah adalah bantuan oleh pemerintah dalam bentuk pemindahan sumber
daya kepada entitas sebagai imbalan atas kepatuhan entitas di masa lalu atau masa depan sesuai
dengan kondisi tertentu yang berkaitan dengan kegiatan operasi entitas tersebut. Hibah
pemerintah tidak termasuk jenis bantuan pemerintah yang tidak memiliki nilai yang memadai
bagi entitas dan transaksi dengan pemerintah yang tidak dapat dibedakan dari transaksi
perdagangan normal entitas.

Hibah pemerintah dapat dikelompokkan menjadi :

1. Bantuan keuangan terkait asset yang diberikan dengan syarat perusahaan membeli,
mengonstruksi, atau mengakuisisi asset jangka panjang.

2. Bantuan keuangan yang tidak terkait dengan asset (biasanya disebut sebagai bantuan yang
terkait dengan pendapatan).

PSAK 61 menyatakan bahwa hibah pemerintah tidak boleh diakui sampai terdapat
keyakinan yang memadai bahwa entitas akan mematuhi kondisi yang melekat pada hibah
tersebut dan bahwa hibah akan diterima (paragraf 7).

Dalam akuntansi untuk hibah pemerintah, PSAK 61 mensyaratkan penggunaan


pendekatan pendapatan (yang mengatur bahwa hibah diakui dalam laporan laba rugi
komprehensif selama satu periode atau lebih) dan tidak memperbolehkan penggunaan
pendekatan modal (yang mengkreditkan hibah secara langsung ke ekuitas pemegang saham).
Secara khusus, PSAK 61 menyatakan bahwa :

1. Hibah terkait asset pertama – tama harus dicatat sebagai pendapatan ditangguhkan yang
setelahnya diamortisasi ke pendapatan dengan dasar sistematis, atau di catat sebagai
pengurang nilai tercatat asset terkait yang setelahnya diakui dalam pendapatan melalui beban
penyusutan yang dikurangi (paragraf 25).

2. Hibah terkait penghasilan harus diakui sebagai pendapatan dalam laporan laba rugi
komprehensif (disajikan terpisah atau dalam pos umum seperti penghasilan lain – lain) atau
sebagai pengurang dari beban terkait (paragraf 30).

Lebih lanjut, PSAK 61 mensyaratkan bahwa hibah pemerintah diakui dalam laporan laba
rugi komprehensif dengan dasar yang sistematis selama periode entitas mengakui sebagai beban
atas biaya terkait yang dimaksudkan akan dikompensasikan dengan hibah (paragraf 13).
Namun, untuk hibah pemerintah yang menjadi piutang entitas sebagai kompensasi atas
beban atau kerugian yang telah terjadi atau dalam rangka dukungan keuangan segera kepada
entitas tanpa beban terkait dimasa yang akan datang, PSAK 61 menyatakan bahwa bantuan itu
harus diakui dalam laporan laba rugi komprehensif pada periode hibah menjadi piutang (paragraf
20).

Dilain pihak, untuk hibah pemerintah yang ternyata harus dibayar kembali, PSAK 61
menyatakan bahwa hibah tersebut harus diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi
sesuai dengan PSAK 25 kebijakan akuntansi, perubahan estimasi akuntansi, dan kesalahan.
Secara khusus, PSAK 61 menyatakan dalam paragraf 34 bahwa :

1. Pembayaran kembali hibah yang terkait dengan pendapatan diperhitungkan terlebih dahulu
terhadap setiap saldo kredit ditangguhkan yang belum diamortisasi terkait dengan hibah
tersebut dan jika pembayaran kembali melebihi saldo kredit ditangguhkan (atau tidak ada lagi
saldo kredit ditangguhkan) maka pembayaran kembali diakui segera sebagai beban.

2. Pembayaran kembali hibah yang terkait dengan asset diakui dengan menambah nilai tercatat
asset dan dan akumulasi penyusutan tambahan yang seharusnya diakui pada tanggal itu
sebagai beban seandainya hibah tidak ada, diakui segera sebagai beban atau di catat dengan
mengurangi saldo pendapatan ditangguhkan dengan jumlah yang dibayar kembali.

Terdapat dua pendekatan umum untuk akuntansi atas hibah pemerintah: pendekatan
modal, hibah diakui diluar laba rugi, dan pendekatan penghasilan, hibah diakui dalam laba rugi
selama satu periode atau lebih.

Alasan yang mendukung pendekatan modal adalah sebagai berikut:

a) hibah pemerintah adalah alat pembiayaan dan seharusnya diperlakukan demikian dalam
laporan posisi keuangan daripada diakui dalam laba rugi untuk saling hapus dengan pos-pos
biaya yang didanai hibah pemerintah. Disebabkan diperkirakan tidak ada pembayaran
kembali yang diharapkan, hibah harus diakui di luar laba rugi.
b) adalah tidak tepat untuk mengakui hibah pemerintah dalam laba rugi, karena hibah tidak
dihasilkan, tetapi merupakan insentif yang diberikan pemerintah tanpa biaya terkait.

Argumentasi yang mendukung pendekatan penghasilan adalah sebagai berikut :

a) disebabkan hibah pemerintah merupakan penerimaan dari suatu sumber selain dari pemegang
saham, hibah tidak boleh diakui secara langsung dalam ekuitas tetapi harus diakui dalam laba
rugi pada periode yang sesuai;

b) hibah pemerintah jarang sekali tanpa alasan. Entitas memperoleh hibah berdasarkan
kepatuhan entitas terhadap kondisi yang ditentukan dan memenuhi kewajiban yang akan
dihadapi. Oleh karena itu, hibah diakui dalam laba rugi selama periode entitas mengakui
sebagai beban atas biaya terkait yang dimaksudkan akan dikompensasikan dengan hibah; dan

c) disebabkan pajak penghasilan dan pajak lain merupakan beban, hal logis untuk
memperlakukan hibah pemerintah, yang merupakan perpanjangan dari kebijakan fiskal,
dalam laba rugi.

2. 3 Bantuan Pemerintah

Bantuan pemerintah yang dikecualikan dari definisi hibah pemerintah di paragraf 03


merupakan beberapa bentuk bantuan pemerintah yang tidak memiliki nilai yang memadai bagi
entitas dan transaksi dengan pemerintah yang tidak dapat dibedakan dari transaksi perdagangan
normal entitas.

Contoh bantuan yang tidak memiliki nilai yang memadai adalah saran teknis atau saran
pemasaran yang diberikan secara cuma-cuma dan ketentuan penjaminan. Contoh bantuan yang
tidak dapat dibedakan dari transaksi perdagangan normal entitas adalah kebijakan pengadaan
pemerintah yang menghasilkan sebagian penjualan entitas. Keberadaan atas manfaat mungkin
tidak diragukan lagi tetapi setiap usaha untuk memisahkan aktivitas perdagangan dari bantuan
pemerintah sangat arbiter.

2. 4 Bentuk Lain Bantuan Pemerintah


Bentuk lain bantuan pemerintah didefinisikan dalam PSAK 61 sebagai bantuan yang
secara rasional tidak memiliki nilai yang memadai, misalnya saran teknis atau saran pemasaran
yang diberikan secara cuma – cuma dan ketentuan penjaminan.

PSAK 61 menyatakan bahwa sifat, luas dan lamanya bantuan itu harus diungkapkan agar
laporan keuangan tidak menyesatkan (paragraf 40).

2. 5 Persyaratan Pengungkapan

PSAK 61 menyatakan pengungkapan berikut :

 Kebijakan penyajian yang digunakan untuk hibah pemerintah, termasuk metode penyajian
yang digunakan dalam laporan keuangan.

 Sifat dan luas hibah pemerintah yang diakui dalam laporan keuangan dan indikasi bentuk lain
dari bantuan pemerintah yang mana entitas memperoleh manfaat langsung atas bantuan
tersebut.

 Kondisi yang belum terpenuhi dan kontinjensi lain yang melekat atas bantuan pemerintah
yang telah diakui.

2. 6 Ketentuan Transisi

PSAK 61 menyatakan bahwa perusahaan yang menerapkan pernyataan ini untuk pertama
kalinya harus (paragraf 40).

a) Mematuhi persyaratan pengungkapan yang sesuai dan

b) Memilih salah satu dari :

i. Menyesuaikan laporan keuangan entitas terhadap perubahan kebijakan akuntansi


sesuai dengan PSAK 25 kebijakan akuntansi, perubahan estimasi akuntansi dan
kesalahan atau
ii. Menerapkan ketentuan akuntansi dalam pernyataan ini hanya untuk hibah atau bagian
dari hibah yang menjadi tagihan atau harus dibayar kembali setelah tanggal efektif
pernyataan ini.

2. 7 Perbedaan Dengan Standar IASB

PSAK 61 dibuat berdasarkan IAS 20 Accounting for Government Grants and Disclosure of
Government Assistance yang dikeluarkan oleh IASB. Tidak ada perbedaan signifikan antara
PSAK 61 dan IAS 20, kecuali dalam paragraf ruang lingkup. IAS 20 mengecualikan hibah
pemerintah yang berbentuk asset biolojik (paragraf 2d) dan diatur terpisah dalam IAS 41
Agriclture. Dalam PSAK 61 hal tersebut tidak dikecualikan dalam ruang lingkup karena
Indonesia belum mengadopsi IAS 41.

2. 8 Contoh Studi Kasus PSAK 61 Tentang Akuntansi Hibah Pemerintah dan


Pengungkapan Bantuan Pemerintah yaitu :

1. Pemerintah Indonesia memberikan Hibah berupa Aset yaitu Tanah dan hibah berupa Uang
sebesar Rp.50.000.000,00 yang mendukung roda ekonomi di daerah tersebut dan bentuk
perhatian dan sumbangan pemerintah agar daerah tersebut menuju ekonomi sehingga
masyarakat sekitar memperoleh penghasilan lebih baik dimana tanah tersebut yang berlokasi
diluar pemukiman penduduk sekitar kepada PT.X yang sedang bergerak di bidang Industri
yang mengelolah Daur Ulang Sampah menjadi Pupuk Organik.

Adapun pencatatan Akuntansi yang dilakukan oleh PT.X tersebut atas Hibah Berupa
Tanah dan Uang sebesar Rp.50.000.000,00 yaitu sebesar jumlah harga wajar Tanah pada saat
ini misalnya pada Saat dilakukan hibah Tanah dari Pemerintah sebesar Rp.100.000.000,00
sedangkan saat ini nilai wajarnya sebesar Rp.125.000.000,00 maka dicatat dalam Neraca
sebesar Rp.125.000.000,00 karena tanah mengalami kenaikan terus menerus di setiap
Tahunnya dan tidak ada Depreasi atas Tanah ini, sedangkan hibah uang yaitu di catat sebesar
Rp.50.000.000,00 yang di sajikan di Laporan Laba Rugi PT.X sebagai pendapatan hibah.
2. Pemerintah memberikan Bantuan dana sebesar Rp.300.000.000,00 kepada Perusahaan Y
yang hanya sebagai perantara untuk di berikan kepada masyarakat setempat karena
mengalami bencana banjir.

Pencatatan yang dilakukan Perusahaan Y hanya di lakukan pengungkapan di catatan


atas laporan keuangan karena pemerintah mengirimkan dana bantuan nya melewati rekening
bank perusahaan Y, yang kemudian di ungkap di laporan CALK pendistribusian bantuan itu
kepada masyarakat setempat.

3. Instansi X memperoleh Hibah dari Jica (japan international cooperation agency) berupa
peralatan kebakaran yang terdiri dari kendaraan roda 4 berupa mobil Patroli kebakaran hutan
sebanyak 1 buah dengan harga perolehan Rp.200.000.000,00 yang di gunakan sebagai alat
transportasi pemadaman kebakaran dan alat-alat kebakaran dengan harga perolehan
Rp.100.000.000,00.

Pencatatan yang dilakukan oleh instansi X berdasarkan dokumen dan berita acara
serah terima barang-barang dari JICA sebagai dasar pencatatan di Aset Tetap seharga Wajar
nya misalnya penerimaan hibah tersebut di Tahun 2005 dan baru dilakukan pencatatan di
Tahun 2012 awal maka harga perolehan di kurangi dengan depresiasi selama 6 tahun
misalkan mobil patroli dengan harga perolehan sebesar Rp.200.000.000,00 dan depresiasi
50.000.000,00 jadi yang dicatat yaitu 150.000.000,00 sedangkan alat-alat kebakaran dengan
harga perolehan Rp.100.000.000,00 dan depresiasi Rp.20.000.000 selama 6 tahun maka yang
dicatat sesuai nilai wajarnya sebesar Rp.80.000.000.

BAB III
PENUTUP
3. 1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penulisan dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat di tarik
kesimpulan sebagai berikut :

Masalah khusus yang timbul dalam akuntansi atas hibah pemerintah pada laporan
keuangan yang mencerminkan dampak dari perubahan harga atau informasi tambahan yang
memiliki sifat serupa; bantuan pemerintah yang diberikan kepada entitas dalam bentuk manfaat
yang tersedia dalam menentukan laba atau rugi kena pajak, atau dalam bentuk manfaat yang
ditentukan atau yang terbatas pada dasar liabilitas pajak penghasilan. Misalnya manfaat masa
bebas pajak penghasilan, kredit pajak investasi, penyisihan atas penyusutan yang dipercepat, dan
pengurangan tarif pajak penghasilan; dan partisipasi pemerintah dalam kepemilikan entitas.

3. 2 Saran

Demikianlah dalam hal ini penulis akhiri makalah ini, tak lupa mohon maaf kepada semua
pihak, kritik dan saran penulis harapkan demi perbaikan penulisan makalah ini selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Wahyuni, Ersa Tri dan Ng Eng Juan. 2012. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta. Salemba
Empat

Martani, Dwi. 2011. PSAK No 61 Akuntansi Hibah Pemerintah Dan Pengungkapan Bantuan
Pemerintah. Jakarta. Diunduh dari https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/PSAK-61-
Akuntansi-Hibah-Pemerintah-IAS-20-Gov-Grant-240911.pdf

Ikatan Akuntan Indonesia. 2010. PSAK NO 61 Akuntansi Hibah Pemerintah Dan Pengungkapan
Bantuan Pemerintah. Diunduh dari https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/ED-PSAK-61-
Akuntansi-Hibah-Pemerintah-dan-Pengungkapan-Bantuan-Pemerintah.pdf