Anda di halaman 1dari 30

MODUL 5

REHABILITASI AKHIR KERUSAKAN GIGI

SKENARIO 5
Dirawat…

Imme (21 th) datang ke drg. Spacy karena gigi geliginya banyak yang berlubang. Dari
pemeriksaan klinis diketahui gigi 11, 21, 22, 36, 45, 47 karies profunda, 35 linguoversi, dan
crowding anterior rahang bawah. Dokter gigi menyarankan pada Imme dilakukan perwatan
saluran akar yang nantinya akan diikuti dengan perawatan paska endodontic baik restorasi yang
akan disemenkan atau postcore crown yang dipasangkan.
Imme bertanya pada drg. Spacy apakah gigi-geliginya yang berjejal berhubungan
dengan gigi sulungnya banyak yang berlubang dan dicabut. Dokter gigi Spacy menjelaskan
bahwa salah satu kemungkinan penyebabnya adalah pencabutan gigi sulung yang sebelum
waktunya sehingga tidak terdapat ruang untuk gigi tetapnya tumbuh.
Bagaimana saudara menjelaskan kasus diatas?

1
Terminology

1. Perawatan Postcore
Adalah proses membentuk gigi kembali agar gigi tersebut memiliki dukungan yang
cukup untuk dibuatkan crown.

Rumusan Masalah
1. Mengapa disarankan melakukan perawatan saluran akar?
2. Bagaimana proses perawatan saluran akar?
3. Apa tujuan restorasi pasca PSA?
4. Bagaimana gigi pasca perawatan endodontic?
5. Apa indikasi dan kontra indikasi perawatan postcore?
6. Apa saja jenis-jenis pasak endodontic?
7. Apa syarat keberhasilan postcore?
8. Apa saja semen yang digunakan pada perawatan pasca endodontic?
9. Agar gigi tidak berjejal, apa yang harus dilakukan?

Analisis Masalah
1. Mengapa disarankan melakukan perawatan saluran akar?
- Karena pada scenario, kasusnya terdapat karies profunda, sehingga karies sudah
sampai pada pulpa, maka diperlukan perawatan saluran akar
- Restorasi yang besar

2. Proses perawatan saluran akar


- Diagnosis, terdiri dari diagnosis subjektif, objektif, dan radiografi
- Anastesi
- Isolasi gigi dengan rubber dam
- Preparasi akses untuk membuka atap pulpa
- Pulp debridement
- Negosiasi glide path menggunakan k-file
- Pengukuran panjang kerja
- Cleaning and shaping
- Irigasi saluran akar

2
- Sterilisasi dan desinfeksi
- Obturasi saluran akar menggunakan gutta perca
- Restorasi

3. Tujuan restorasi PSA


- Melindungi sisi gigi dari fraktur
- Mencegah reinfeksi system saluran akar
- Menggantikan struktur gigi yang hilang

4. Bagaimana gigi pasca perawatan endodontic?


- Perubahan sifat fisik jaringan gigi
- Penurunan daya tahan karena kehilangan struktur gigi
- Berkurangnya sensasi proprioseptif

5. Indikasi dan kontraindikasi perawatan postcore

Indikasi:
- Gigi yang telah dirawat endodontic, dengan struktur mahkota gigi yang tersisa
kurang dari setengah
- Gigi yang telah dirawat endodontic, dimana gigi tersebut menerima beban yang
besar
- Gigi dengan struktur akar saja yang tersisa
Kontraindikasi:
- Gigi anterior yang telah dirawat endodontic, dengan marginal ridge masih utuh
- Gigi posterior yang telah dirawat endodontic dengan ruang pulpa yang besar dank
eras dan jaringan keras yang masih tersisa masih banyak sehingga masih dapat
memberi resistensi yang cukup untuk bahan restorasi.

6. Jenis-jenis pasak endodontic


- Pasak tuang, bahannya alloy emas 3 atau 4
- Pasak prefabricated, bahannya metal dan non metal
- Post metal fabricated
- Fiber post
- Zirconia post

3
Indikasi pasak fabricated:
- Gigi yang saluran akarnya tidak bulat
- Gigi yang flared canal
- Sisa mahkota gigi 25%
Indikasi pasak prefabricated
- Sisa jaringan cukup banyak, <75%
- Saluran akar sempit dan berbentuk bulat
- Finish line terletak pada struktur gigi yang letak dan dibawah dowel crown margin

7. Syarat keberhasilan postcore


- Tidak ada peradangan periapical
- Jaringan akar adekuat
- Jaringan harus rapat dan tidak ada celah

8. Semen yang digunakan pasca endodontic


- Semen tradisional
- Semen glass ionomer
- Semen luting berbasis resin
- RMGIC

9. Agar gigi tidak berjejal, apa yang harus dilakukan?


- Pencabutan pada gigi sulung
- Memasang space maintainer (penanggulangan)

4
Skema

Imme (24 tahun)

drg. Spacy

Pemeriksaan klinis:

-Gigi 11,21,22,36,45,74 karies profunda

-Gigi 35 linguoversi

-Crowding anterior RB : diberi space maintainer dan space


regainer

Rehabilitasi akhir kerusakan gigi

PSA Perawatan pasca endodontic

Indikasi dan kontraindidkasi Restorasi

Prosedur Postcore Crown

Syarat keberhasilan

5
Menentukan Learning Objective
1. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang space maintainer.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang space regainer.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang perawatan saluran akar.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang perawatan pasca endodontic
(restorasi).
5. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang postcore crown.
6. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang jenis sementasi yang
digunakan pasca endodontic.

Pembahasan Learning Objective


1. Space Maintainer
Space maintainer merupakan alat yang digunakan untuk menjaga ruang akibat
kehilangan dini (premature loss) gigi sulung.
Fungsi dari space maintainer untuk menjaga panjang lengkung gigi akibat premature
loss dari gigi sulung. Space maintainer memungkin gigi permanen untuk erupsi tanpa
terhalang ke lengkung dan oklusi yang seharusnya. Sebuah space maintainer
direkomendasikan setelah ekstraksi molar sulung.
A. Indikasi dan Kontra indikasi
Indikasi:
- Apabila terjdi kehilangan gigi sulung dan gigi penggantinya belum siap erupsi
menggantikan posisi gigi sulung tersebut dan analisa ruang menyatakan masih
terdapat ruang yang memungkinkan untuk gigi permanennya
- Jika terdapat kebiasaan yang buruk dari anak, misalnya menempatkan lidah di
tempat yang kosong atau menghisap bibir maka pemasangan space maintainer ini
dapat diinstruksikan sehingga memberi efek menghilangkan kebiasaan buruk.
- Premature loss pada gigi molar pertama sulung atau molar kedua
- Adanya tanda-tanda penyempitan ruang
- Kebersihan mulut (OH) baik

Kontra indikasi:
- Tidak terdapat tulang alveolar yang menutup mahkota gigi tetap yang akan erupsi
- Kekurangan ruang untuk erupsi gigi permanen (kehilangan ruang telah terjadi)

6
- Ruangan yang berlebihan untuk gigi tetapnya erupsi
- Kekurangan ruang yang sangat banyak (keadaan gigi crowding berat) sehingga
memerlukan tindakan pencabutan dan perawatan orthodonti
- Gigi permanen penggantinya tidak ada
- Kebersihan mulut (OH) buruk

B. Syarat-syarat space maintainer


- Dapat menjaga ruang dimensi proksimal
- Tidak mengganggu erupsi gigi antagonisnya dan erupsi gigi permanen
- Tidak mempengaruhi fungsi bicara, pengunyahan, dan pergerakan mandibular
- Mencegah ekstrusi gigi lawan
- Tidak memberikan tekanan abnormal pada gigi penyangga
- Tidak mengganggu jaringan lunak
- Desain sederhana, ekonomis, dan mudah dibersihkan

C. Klasifikasi Space Maintainer


i. Space Maintainer Lepasan
 Kelas I: Unilateral maksila posterior
 Kelas II: Unilateral mandibula posterior
 Kelas III: Bilateral maksila posterior
 Kelas IV: Bilateral mandibula posterior
 Kelas V: Bilateral maksila anterior posterior
 Kelas VI: Bilateral mandibula anterior posterior
 Kelas VII: Telah kehilangan satu atau lebih geligi anterior sulung
 Kelas VIII: Semua gigi sulung hilang
ii. Space Maintainer Cekat
 Kelas I
- Fungsional: i. tipe pontik ii. tipe lingual arch
- Non-fungsional: i. tipe bar ii. tipe loop
 Kelas II
Tipe cantilever (distal shoe, band and loop)

7
D. Tipe Space Maintainer
i. Band and loop
Digunakan untuk menjaga ruang dari kehilangan satu gigi molar pertama
atau kedua sulung

o Keuntungan:
 Ekonomis, membutuhkan waktu kerja yang lebih sedikit pada
dental chair, memungkinkan pertumbuhan rahang transversal
o Kerugian
 Band and loop merupakan space maintainer nonfungsional, oleh
karena itu tidak mengembalikan funsi mastikasi
 Tidak mencegah supraerupsidari gigi permanen lawannya
 Memungkinkan mesial tipping jika loop berada di bawah area
kontak. Oleh karena itu pembuatan loop dan adaptasinya harus
tepat

ii. Nance holding arch


Menjaga panjang lengkung maksila setelah premature loss lebih dari satu
gigi molar sulung pada kuadran yang sama atau setelah premature loss
bilateral gigi molar sulung

o Keuntungan:
 Lebih ekonomis bila dibandingkan 2 konstruksi band and loop
 Memungkinkan area inter-canine tumbuh secara transversal
 Jika gigi molar kedua sulung digunakan sebagai gigi sandaran,
memungkinkan area intermolar (permanen) tumbuh secara
transversal
o Kerugian:
 Membutuhkan keahlian dan ketangkasan dari klinisi
 Pin palatal dapat menyebabkan akumulasi makanan, sehingga dapat
menyebabkan respon inflamsi jaringan lunak pada palatal
 Jika gigi molar permanen digunakan sebagai gigi sandaran, tidak
memungkinkan area intermolar untuk tumbuh transversal

8
iii. Fixed lingual arch
Menjaga panjang lengkung mandibula dan mencegah mesial tipping
dan/atau rotasi gigi molar permanen. Fixed lingual arch juga mencegah
lingual tipping dari gigi insisiv perrmanen

o Keuntungan:
 Ekonomis bila dibandingkan 2 konstruksi band and loop dipasang
bersamaan
 Kurang mengiritasi lidah, jika dibuat dengan baik

iv. Distal shoe


Digunakan untuk mencegah migrasi ke mesial dari gigi molar pertama
permanen yang belum erupsi setelah premature loss gigi molar kedua gigi
sulung

o Keuntungan:
 Space maintainer yg efektif
 Mencegah elongasi dari pertumbuhan gigi lawannya
 Dapat dikonstruksi secara direct atau indirect
 Harga tidak mahal
o Kerugian:
 Pasien harus dalam pengawasan ketika alat ini ditempatkan
 Pengukuran yang akurat dalam pembuatan merupakan syarat mutlak

E. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan space maintainer:


o Untuk rahang atas, landasan akrilik harus menutupi seluruh bagian palatum
hingga daerah getar
o Bila terdapat perluasan landasan kea rah labial, maka perluasan tersebut
relative harus pendek dan warnanya sesuai sengan jaringan sekitar
o Jika memakai cangkolan pada gigi kaninus, maka penempatan cangkolan
harus disesuaikan dengan umur anak
o Untuk rahang bawah, pada pemakaian jangka waktu lama sebaiknya dibuat
“lingual bar” dari logam. Letak lingual bar ini pada landasan rahang bawah

9
harus 2mm lebih ke lingual dari jaringan lunak. Hal ini perlu untuk memberi
tempat bagi erupsi gigi penggantinya
o Jenis cangkolan yang umum digunakan : cangkolan adam, circumferensial,
dan ball clasp

2. Space Regainer:
Space Regainer merupakan suatu alat yang didesign untuk menggerakan gigi
permanent yang mengalami displacement agar kembali ke posisi normal didalam
lengkung rahang, sehingga ruang erupsi yang awalnya tertutup akibat pergeseran gigi
tersebut dapat terbuka dan menyediakan ruang bagi benih gigi permanent yang akan
erupsi. Waktu penggunaan dari Space Regainer ini biasanya lebih dari 6 bulan,
dikarenakan terkadang pada gigi yang telah tanggal melebihi dari 6 bulan maka akan
terbentuk suatu ruang yang lebih sempit dari ruang yang dibutuhkan untuk tumbuhnya
gigi permanen nantinya.

A. Fungsi Space Regainer


Fungsi space regainer tidak menciptakan ruangan yang baru tapi untuk
mendapatkan kembali ruangan yang pernah ada akibat shifting/drifting gigi
yang telah mengalami penyempitan oleh beberapa sebab, seperti premature loss,
menegakkan kembali gigi permanen yang miring dan maloklusi kelas I tipe 5
(neutroklusi dengan mesial drifting).
Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan space regainer apakah
terdapat ruangan yang cukup untuk gigi dalam keadaan posisi tegak, dalam
perawatan ortho khususnya dengan space regainer gigi harus diputar, diluruskan
atau digeser, terdapat interferensi oklusal antara gigi RA dan RB, bentuk akar
dari gigi yang akan dirawat ortho normal atau bengkok dan adanya kelainan
jaringan periodontal.

B. Indikasi dan Kontra indikasi Space Regainer:


o Indikasi:
 Apabila untuk mendapatkan kembali tempat sekitar 3 mm atau
kurang atau tidak adanya ruang untuk gigi permanen yang akan
muncul karena pergeseran dari gigi-gigi tetangganya.

10
o Kontra indikasi:
 Adanya ruang untuk erupsi gigi permanen
 Apabila gigi pengganti tidak ada dan penutupan ruang diinginkan
 Pasien alergi dengan alat space regainer
 Pasien tidak kooperatif

C. Macam-macam space regainer


o Removable space regainer
Removable Space Regainers adalah Alat yang dapat di pasang dan dilepas
oleh pasiennya sendiri. Removable Space Regainers terdiri dari :
 Free end loop spring space regainer
Ini menggunakan archwire labial yang memberikan stabilitas dan
retensi . Pada interval waktu tertentu , ujung free loop diaktifkan
untuk mencapai gerakan gigi yang diinginkan. Alat harus diperiksa
dan disesuaikan sesering mungkin. Ruang loop free – end untuk
lengkung bawah lebih pendek , sehingga terjadi distorsi yang lebih
kecil saat memasukkan alat.
 Split –block space regainer
Pelat akrilik dibagi dengan disk untuk membentuk bagian aktivator,
dan alat diaktifkan secara berkala untuk gerakan gigi
 Fixed loop-spring space regainer
Alat ini menahan kerusakan dan memberikan metode pemindahan
molar distal yang memuaskan. Bagian mesial dari lingkaran pegas
tertanam di resin dan dilewatkan melalui ruang edentulous. Bagian
kawat ini harus menghubungi permukaan distal gigi yang
berhubungan dengan ruang. Hal ini mencegah pergerakan distal gigi
ini.
 Sling shot space regainer
Disebut sebagai alat sling shot, karena kekuatan distal gigi
dihasilkan oleh elastis yang diregangkan di tengah permukaan lidah
dan permukaan bukal molar untuk dipindahkan. Jika alat itu tipe
removable, pemeriksaan berkala harus dilakukan untuk
mengevaluasi apakah pasien menggunakannya atau tidak, apakah

11
ada distorsi atau kerusakan alat atau iritasi pada jaringan lunak. Alat
dapat dilepas atau dibuang segera setelah gigi yang berhasil meletus
ke posisi yang tepat di rongga mulut

o Fixed space maintainer


Fixed space regainer adalah suatu alat yang tidak bisa dibuka oleh pasien
dan dapat memindahkan gigi permanen yang bergeser kedalam posisinya
dalam lengkung gigi. Macam - macam fixed space regainer:

 Jaffe Applience
Adalah alat untuk perpindahan minor gigi yang berguna ketika
terdapat ankylosed tooth, early loss of a deciduous molar atau
ekstraksi yang menyebabkan terisinya area proksimal.
 Gerber space maintainer
Adalah jenis alat yang tidak memerlukan prosedur laboratorium.
Band disiapkan untuk gigi dan gigi abudment, dan permukaan
mesial ditandai untuk penempatan loop “U”, yang dapat distabilkan
dengan pengelasan atau pematerian. Terdiri daru band yang telah
disesuaikan dengan gigi dan koil terbuka yang dipasang pada kawat
stainless dengan diameter 0,7 yang dibentuk seperti huruf u. Panjang
koil yang akan dipakai lebih panjang daripada jarak antara premolar
pertama dengan molar pertama, sehingga saat dipasang koil dalam
keadaan tertekan. Kawat dimasukkan dalam tube yang telah disolder
pada bagian bukal dan lingual band. Kedua tubenya harus dalam
keadaan sejajar. Bagian anterior kawat ditekuk di bagian yang
mengenai sisi distal premolar pertama , dibawah keliling terbesar.
Keseluruhan peranti ini diletakkan pada gigi dengan semen. Koil
yang dalam keadaan mampat tadi akan menimbulkan tekanan pada
premolar dan molar.
 Hotz lingual arch
Diindikasikan ketika gigi permanen lebih ke arah mesial daripada ke
distal dan juga pada kasus adanya spasi yang cukup ketika gigi molar
kedua erupsi.
 Lip bumper appliance

12
Alat ini digunakan pada mandibula untuk mendapatkan ruang atau
distalisasi molar dan gigi antagonisnya pada gigi maksila. Jenis ini
disebut Denholtz appliance. Digunakan pada awal gigi primer untuk
meminimalisasi distalasi gigi molar. Juga berguna untuk
menyesuaikan gigi molar mesial untuk mendapatkan kembali ruang
di lengkung rahang.
 Space regainer cum space maintener
Sebuah band yang di buat untuk gigi abutment. Alat ini efektif
untuk mendapatkan ruang kembali saat ruang mesial terbuka
untuk erupsi gigi. Kekurangannya adalah jika terjadi kehilangan
ruang yang parah dengan beberapa gigi yang belum erupsi.

D. Komponen Space Regainer


o Labial bows
Sering suatu labial bows yang sederhana hanya menekuk suatu kawat. Ini
membantu mempertahankan alat dalam mulut, dan mencegah gigi dirahang
atas untuk bergerak ke depan. Labial bows harus diletakkan jauh dari
gingival karena hanya digunakan untuk retensi, tetapi jangan sampai
menekan pada papilla interdental. Biasanya, ini didesain dalam oklusal
embrasure antara insisiv lateral dan kaninus, atau distal dari gigi kaninus.
o Acrylic
Secara sederhana, dasar dari removable space regainer dibuat dari akrilik.
Biasanya akrilik yang lembut digunakan supaya tidak menghalangi gigi
permanen yang sedang erupsi.
o Claps ( cangkolan )
claps sederhana sebagai claps interproximal atau wrap around clasps dapat
digunakan. Selain itu, adam’s clasps dapat digunakan sebagai retensi.
o Komponen aktif
Komponen-komponen aktif seperti per : coil springs, helical coil springs,
knee springs. Skrup digunakan dalam removable space regainer, yang
paling sering digunakan adalah tipe yang mempunyai dua bagian atau
dengan benang ditengah silinder yang diputar dengan kunci yang
memisahkan dua bagian dengan jarak yang sudah dihitung sebelumnya
biasanya ± 2 mm untuk masing-masing seperempat putaran.

13
3. Perawatan Saluran Akar
Perawatan saluran akar adalah perawatan yang dilakukan dengan mengangkat
jaringan pulpa yang telah terinfeksi dari kamar pulpa dan saluran akar, kemudian diisi
padat oleh bahan pengisi saluran akar agar tidak terjadi kelainan lebih lanjut atau infeksi
ulang.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan gigi selama mungkin di dalam
rahang, sehingga fungsi dan bentuk lengkung gigi tetap baik.

A. Tahapan Perawatan Saluran Akar


- Tahap 1: Mahkota gigi di-bur untuk mendapatkan jalan masuk ke kamar pulpa.
Semua tambalan dan jaringan rusak pada gigi (karies) dibuang.
- Tahap 2: Pulpa dikeluarkan dari kamar pulpa dan saluran akar. Suatu instrumen
kecil yang disebut “file” digunakan untuk membersihkan saluran akar. Gigi ditutup
dengan tambalan sementara untuk melindungi kamar pulpa dan saluran akar agar
tetap bersih. Tambalan sementara akan dibongkar pada kunjungan selanjutnya.
- Tahap 3: Saluran akar diisi dan dibuat kedap dengan suatu bahan yang mencegah
bakteri masuk. Kamar pulpa sampai dengan permukaan mahkota gigi ditutup
dengan tambalan sementara.
- Tahap 4: Tambalan sementara dibongkar dan diganti dengan tambalan tetap atau
dibuatkan “crown” (sarung gigi).
- Tahap 5: Saluran akar, tambalan tetap, atau “crown” dievaluasi untuk melihat ada /
tidaknya masalah. Setelah PSA selesai, gigi akan disuplai nutrisinya oleh tulang dan
gusi di sekitarnya.

B. Faktor Keberhasilan dan Kegagalan PSA


- Faktor Patologis
Keberadaan lesi di jaringan pulpa dan lesi di periapikal mempengaruhi tingkat
keberhasilan perawatan saluran akar. Beberapa penelitian menunjukan bahwa tidak
mungkin menentukan secara klinis besarnya jaringan vital yang tersisa dalam
saluran akar dan derajat keterlibatan jaringan peripikal. Faktor patologi yang dapat
mempengaruhi hasil perawatan saluran akar adalah (Ingle, 1985; Walton &
Torabinejad, 1996) :
o Keadaan patologis jaringan pulpa

14
Beberapa peneliti melaporkan tidak ada perbedaan yang berarti dalam
keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar yang melibatkan
jaringan pulpa vital dengan pulpa nekrosis. Peneliti lain menemukan bahwa
kasus dengan pulpa nekrosis memiliki prognosis yang lebih baik bila tidak
terdapat lesi periapikal.
o Keadaan patologis periapical
Adanya granuloma atau kista di periapikal dapat mempengaruhi hasil
perawatan saluran akar. Secara umum dipercaya bahwa kista apikalis
menghasilkan prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan lesi
granulomatosa. Teori ini belum dapat dibuktikan karena secara radiografis
belum dapat dibedakan dengan jelas ke dua lesi ini dan pemeriksaan
histologi kista periapikal sulit dilakukan.
o Keadaan periodontal
Kerusakan jaringan periodontal merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi prognosis perawatan saluran akar. Bila ada hubungan antara
rongga mulut dengan daerah periapikal melalui suatu poket periodontal,
akan mencegah terjadinya proses penyembuhan jaringan lunak di
periapikal. Toksin yang dihasilkan oleh plak dentobakterial dapat
menambah bertahannya reaksi inflamasi.
o Resorpsi internal dan eksternal
Kesuksesan perawatan saluran akar bergantung pada kemampuan
menghentikan perkembangan resorpsi. Resorpsi internal sebagian besar
prognosisnya buruk karena sulit menentukan gambaran radiografis, apakah
resorpsi internal telah menyebabkan perforasi. Bermacam-macam cara
pengisian saluran akar yang teresorpsi agar mendapatkan pengisian yang
hermetis.

- Faktor Penderita
Faktor penderita yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu
perawatan saluran akar adalah sebagai berikut (Ingle, 1985; Cohen & Burns, 1994;
Walton &Torabinejad, 1996) :
o Motivasi Penderita
Pasien yang merasa kurang penting memelihara kesehatan mulut dan
melalaikannya, mempunyai risiko perawatan yang buruk. Ketidaksenangan

15
yang mungkin timbul selama perawatan akan menyebabkan mereka
memilih untuk diekstraksi (Sommer, 1961).
o Usia Penderita
Usia penderita tidak merupakan faktor yang berarti bagi kemungkinan
keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar. Pasien yang lebih tua
usianya mengalami penyembuhan yang sama cepatnya dengan pasien yang
muda. Tetapi penting diketahui bahwa perawatan lebih sulit dilakukan pada
orang tua karena giginya telah banyak mengalami kalsifikasi. Hali ini
mengakibatkan prognosis yang buruk, tingkat perawatan bergantung pada
kasusnya (Ingle, 1985).
o Keadaan kesehatan umum
Pasien yang memiliki kesehatan umum buruk secara umum memiliki risiko
yang buruk terhadap perawatan saluran akar, ketahanan terhadap infeksi di
bawah normal. Oleh karena itu keadaan penyakit sistemik, misalnya
penyakit jantung, diabetes atau hepatitis, dapat menjelaskan kegagalan
perawatan saluran akar di luar kontrol ahli endodontis (Sommer, dkk, 1961;
Cohen & Burns, 1994).

- Faktor Perawatan
Faktor perawatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu
perawatan saluran akar bergantung kepada :
o Perbedaan operator
Dalam perawatan saluran akar dibutuhkan pengetahuan dan aplikasi ilmu
biologi serta pelatihan, kecakapan dan kemampuan dalam manipulasi dan
menggunakan instrumen-instrumen yang dirancang khusus. Prosedur-
prosedur khusus dalam perawatan saluran akar digunakan untuk
memperoleh keberhasilan perawatan. Menjadi kewajiban bagi dokter gigi
untuk menganalisa pengetahuan serta kemampuan dalam merawat gigi
secara benar dan efektif (Healey, 1960; Walton &Torabinejad, 1996).
o Teknik-teknik perawatan
Banyak teknik instrumentasi dan pengisian saluran akar yang tersedia bagi
dokter gigi, namun keuntungan klinis secara individual dari masing-masing
ukuran keberhasilan secara umum belum dapat ditetapkan. Suatu penelitian
menunjukan bahwa teknik yang menghasilkan penutupan apikal yang

16
buruk, akan menghasilkan prognosis yang buruk pula (Walton &
Torabinejad, 1996).
o Perluasan preparasi atau pengisian saluran akar.
Belum ada penetapan panjang kerja dan tingkat pengisian saluran akar yang
ideal dan pasti. Tingkat yang disarankan ialah 0,5 mm, 1 mm atau 1-2 mm
lebih pendek dari akar radiografis dan disesuaikan dengan usia penderita.
Tingkat keberhasilan yang rendah biasanya berhubungan dengan pengisian
yang berlebih, mungkin disebabkan iritasi oleh bahan-bahan dan penutupan
apikal yang buruk. Dengan tetap melakukan pengisian saluran akar yang
lebih pendek dari apeks radiografis, akan mengurangi kemungkinan
kerusakan jaringan periapikal yang lebih jauh (Walton & Torabinejad,
1996).

- Faktor Anatomi Gigi


Faktor anatomi gigi dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu
perawatan saluran akar dengan mempertimbangkan :
o Bentuk saluran akar
Adanya pengbengkokan, penyumbatan,saluran akar yang sempit, atau
bentuk abnormal lainnya akan berpengaruh terhadap derajat kesulitan
perawatan saluran akar yang dilakukan yang memberi efek langsung
terhadap prognosis (Walton & Torabinejad, 1996).
o Kelompok gigi
Ada yang berpendapat bahwa perawatan saluran akar pada gigi tunggal
mempunyai hasil yang lebih baik dari pada yang berakar jamak. Hal ini
disebabkan karena ada hubungannya dengan interpretasi dan visualisasi
daerah apikal pada gambaran radiografi. Tulang kortikal gigi-gigi anterior
lebih tipis dibandingkan dengan gigi-gigi posterior sehingga lesi resorpsi
pada apeks gigi anterior terlihat lebih jelas. Selain itu, superimposisi struktur
radioopak daerah periapikal untuk gigi-gigi anterior terjadi lebih sedikit,
sehingga interpretasi radiografinya mudah dilakukan. Radiografi standar
lebih mudah didapat pada gigi anterior, sehingga perubahan periapikal lebih
mudah diobservasi dibandingkan dengan gambaran radiologi gigi posterior
(Walton & Torabinejad, 1989).
o Saluran lateral atau saluran tambahan

17
Hubungan pulpa dengan ligamen periodontal tidak terbatas melalui bagian
apikal saja, tetapi juga melalui saluran tambahan yang dapat ditemukan pada
setiap permukaan akar. Sebagian besar ditemukan pada setengah apikal akar
dan daerah percabangan akar gigi molar yang umumnya berjalan langsung
dari saluran akar ke ligamen periodontal (Ingle, 1985).

- Kecelakaan Prosedural
Kecelakaan pada perawatan saluran akar dapat memberi pengaruh pada hasil akhir
perawatan saluran akar, misalnya :
o Terbentuknya ledge (birai) atau perforasi lateral.
Birai adalah suatu daerah artifikasi yang tidak beraturan pada permukaan
dinding saluran akar yang merintangi penempatan instrumen untuk
mencapai ujung saluran (Guttman, et all, 1992). Birai terbentuk karena
penggunaan instrumen yang terlalu besar, tidak sesuai dengan urutan;
penempatan instrument yang kurang dari panjang kerja atau penggunaan
instrumen yang lurus serta tidak fleksibel di dalam saluran akar yang
bengkok (Grossman, 1988, Weine, 1996). Birai dan ferforasi lateral dapat
memberikan pengaruh yang merugikan pada prognosis selama kejadian ini
menghalangi pembersihan, pembentukan dan pengisian saluran akar yang
memadai (Walton & Torabinejad, 1966).
o Instrumen patah
Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan saluran
akar akan mempengaruhi prognosis keberhasilan dan kegagalan perawatan.
Prognosisnya bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal
patahan yang masih belum dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa
banyak patahannya. Prognosis yang baik jika patahan instrumen yang besar
dan terjadi ditahap akhir preparasi serta mendekati panjang kerja. Prognosis
yang lebih buruk jika saluran akar belum dibersihkan dan patahannya terjadi
dekat apeks atau diluar foramen apikalis pada tahap awal preparasi
(Grossman, 1988; Walton & Torabinejad, 1996).
o Fraktur akar vertical
Fraktur akar vertikal dapat disebabkan oleh kekuatan kondensasi aplikasi
yang berlebihan pada waktu mengisi saluran akar atau pada waktu
penempatan pasak. Adanya fraktur akar vertikal memiliki prognosis yang

18
buruk terhadap hasil perawatan karena menyebabkan iritasi terhadap
ligamen periodontal (Walton &Torabinejad, 1996).

4. Perawatan pasca endodontic (restorasi)


Pembuatan restorasi gigi setelah perawatan endodontik merupakan kelanjutan
dari rangkaian perawatan endodontik yang telah dilakukan, untuk mengembalikan
fungsi fisiologis dan fungsi estetik gigi dan merupakan tahap akhir dalam keberhasilan
perawatan endodontik. Perencanaan restorasi akhir biasanya ditentukan sebelum
perawatan endodontik. Untuk itu, beberapa faktor perlu dipertimbangkan. Usaha ini
berguna untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Ada beberapa tujuan restorasi pada gigi anterior pasca perawatan
endodontik,yaitu mempertahankan kerapatan setelah pengisian saluran akar atau
mencegah microleakage, mempertahankan jaringan gigi yang tersisa, dan
mempertahankan fungsi dan estetik.
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk keberhasilan pembuatan
restorasi akhir setelah perawatan endodontik, antara lain struktur dentin yang tersisa,
hilangnya struktur gigi, perubahan warna gigi, perbandingan antara mahkota dan akar
yang masih tertinggal, dan keadaan sosial ekonomi pasien.
- Struktur dentin yang tersisa
Beberapa penelitian terdahulu menyatakan bahwa dentin gigi yang telah dirawat
endodontik lebih rapuh karena kehilangan kandungan airnya dan kehilangan ikatan
kolagennya. Akan tetapi, penelitian akhir-akhir ini membantah pendapat ini.
Slutzky dkk menyatakan bahwa gigi yang telah dirawat endodontik tidak lebih
rapuh dibandingkan gigi yang tidak dirawat endodontik, serta tidak ada perbedaan
kandungan kelembaban gigi yang telah dirawat endodontik dan gigi vital. Huang
dkk membandingkan sifat-sifat fisik dan mekanis dari dentin gigi yang dirawat dan
tidak dirawat endodontik. Tidak ada pengaruh signifikan akibat perawatan
endodontik terhadap kekuatan kompresif dan tensil dari dentin. Sedgey dan Messer
meneliti sifat-sifat biomekanis dentin pada 23 gigi yang telah dirawat endodontik
selama 10 tahun. Mereka membandingkan dengan gigi vital dalam rongga mulut
pada sisi yang berlawanan. Penelitian ini tidak mendukung pendapat bahwa gigi
setelah perawatan endodontik lebih rapuh.4,5 Perbedaan kandungan cairan pada
dentin vital dan gigi yang telah dirawat endodontik tidak begitu terlihat, kecuali
pada dentin gigi yang telah dirawat endodontik selama lebih dari 10 tahun. Jadi,

19
kerentanan gigi yang telah dirawat endodontik terhadap fraktur tidak dipengaruhi
oleh perubahan struktur dentin. Selanjutnya, dikemukakan bahwa tidak ada
perbedaan yang bermakna pada kelembaban pada gigi yang telah dirawat
endodontik dan gigi vital. Kelembaban dentin vital 12,35%, sedangkan dentin gigi
yang telah dirawat endodontik adalah 12,11%.7 Reek dkk membandingkan
kerapuhan gigi karena perawatan endodontik dan prosedur restorasinya. Kerapuhan
gigi malah meningkat sampai 5% karena prosedur endodontik, sedangkan prosedur
restoratif mengurangi kekerasan sekitar 20-63%. Jumlah kehilangan jaringan gigi
mungkin faktor utama penurunan kekuatan dari gigi yang telah dirawat endodontik.

- Hilangnya Struktur Gigi


Pada saat pemillihan jenis restorasi akhir,struktur jaringan gigi yang masih tersisa
memegang peranan yang sangat pentingdalammenentukan keberhasilan pembuatan
restorasi akhir tersebut.1 Banyak riset yangmendukungpendapat bahwahilangnya
jaringan gigi yang dihubungkan dengan preparasi pasca endodontik yang
sebenarnya menyebabkan fraktur pada gigi yang telah dirawat endodontik,
bukanlah perubahan pada struktur dentin. Gigi akan menjadi lemah walaupun hanya
karena preparasi kavitas oklusal, karena semakin banyak jaringan yang hilang,
maka akan semakin berkurang kekuatan giginya.6 Gigi yang telah mengalami
perawatan endodontik biasanya juga telah banyak kehilangan jaringan
pendukungnya sehingga akan mempengaruhi retensi pada restorasi akhir yang akan
dibuat. Oleh sebab itu, perlu digunakan retensi tambahan seperti pasak dan inti yang
berfungsi menambah retensi pada restorasi yang akan dibuat.

- Perubahan warna gigi


Pemilihan jenis restorasi pasca endodontik juga harus sesuai dengan indikasinya.
Perubahan warna gigi yang diakibatkan perawatan endodontik atau yang
disebabkan kerusakan-kerusakan jaringan lainnya sangat mempengaruhi jenis
restorasi akhir yang akan dibuat.

- Perbandingan antara mahkota dan akar yang masih tertinggal


Perbandingan antara mahkota dan akar gigi yang masih tertinggal sangat besar
pengaruhnya, terutama pada pembuatan restorasi akhir mahkota penuh dengan
menggunakan retensi pasak dan inti karena pelebaran saluran akar untuk tempat

20
pasak dapat melemahkan struktur jaringan akar. Oleh karena itu, perbandingan yang
paling baik antara akar dan mahkota gigi yang masih tertinggal untuk pembuatan
restorasi akhir berkisar 3:2.

- Keadaan sosial ekonomi pasien


Keadaan sosial ekonomi pasien menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan
operator dalam menentukan jenis serta bahan restorasi akhir yang akan dipakai. Hal
ini disebabkan adanya perbedaan tingkatan sosial ekonomi dalam masyarakat dan
juga sangat banyaknya variasi biaya restorasi akhir sehingga perlu dicari restorasi
yang sesuai dengan keadaan sosial ekonomi pasien.
Setelah dilakukan pengisian saluranakar dengan bahan pengisi saluran akar, perawatan
dilanjutkan dengan pembuatan restorasi akhir yang harusnya telah ditentukan
sebelumnnya. Telah banyak riset mengenai cara menentukan restorasi gigi yang telah
dirawat endodontik yang ideal (Tabel 1).Untuk gigi depan terdapat dua pilihan
restorasi, yaitu restorasi mahkota penuh atau resin komposit.
Restorasi mahkota penuh
Pemakaian mahkota penuh pada gigi anterior yang telah dirawat endodontik tidak
membuat gigi tersebut menjadi lebih kuat, karena pembuangan jaringan gigi itu sendiri
pada saat preparasi untuk mahkota penuh telah melemahkan jaringan gigi yang tersisa.
Penggunaan mahkota penuh pada gigi anterior diindikasikan jika kerusakannya besar
atau kepentingan estetik, reposisi gigi, atau pada gigi yang berubah warna bila teknik
bleach dan veneer tidak berhasil, restorasi interproksimal yang besar, dan fraktur
insisal. Untuk menambah retensi restorasi mahkota penuh, maka perlu digunakan pasak
dan inti. Jika restorasi yang digunakan bukanlah mahkota penuh, maka tidak diperlukan
penggunaan pasak. Pendapat bahwa pasak kadang-kadang digunakan untuk
menguatkan gigi non-vital, tidaklah tepat. Preparasi dan penempatan pasak secara
signifikan melemahkan gigi yang telah dirawat endodontik. Belum ada metode restorasi
yang dapat menguatkan gigi yang telah dirawat endodontik. Jadi, jika tidak benar-benar
dibutuhkan,pasak tidak perlu dibuatkan pada gigi yang telah dirawat endodontik. Pasak
hanya digunakan jika dibutuhkan retensi untuk restorasi koronanya. Pasak hanya
disarankan jika jaringan gigi yang tersisa sangat sedikit, untuk untuk mendukung
restorasi korona. Metodeyang dapatdigunakan untuk menambah kekuatan pada gigi
yang telah dirawat endodontik adalah dengan teknik etsa. Jika pada dentin gigi
dilakukan etsa, maka smear layer terlepas sehingga meninggalkan permukaan dentin

21
yang telah bersih sehingga tubulus dentinalis terbuka. Jika kemudian sistem bonding
resin komposit atau amalgam yang akan digunakan sebagai pasak inti atau inti atau
sebagai restorasi akhir, maka resin tag sebagai mikroretensi di dalam tubulus akan
meningkatkan kekuatan dan resistensi gigi terhadap fraktur secara signifikan. Beberapa
simpulan hasil riset menyebutkan bahwa pasak tidak perlu dibuat pada gigi anterior
yang telah dirawat endodontik dengan kehilangan jaringan gigi yang minimal. Gigi-
gigi anterior dapat direstorasi secara konservatif dengan bahan resin komposit. Jika
diskolorisasi gigi menjadi perhatian, metode bleaching dan penempatan veneer dapat
dipertimbangkan, seperti hasil penelitian Baratieri dkk yang menyimpulkan bahwa
penggunaan pasak tidak membuat daya tahan terhadap fraktur menjadi lebih baik
dibandingkan dengan veneer dengan direct composite. Perhatian khusus diberikan jika
penempatan pasak pada gigi insisivus rahang bawah, karena gigi memiliki akar yang
tipis dalam dimensi mesiodistal. Ada dua kategori utama jenis pasak, yaitu custom-
fabricated dan prefabricated. Aloi emas tuang (jenis III atau IV) adalah bahan yang
memiliki modulus elastisitas dan koefisien ekspansi termal hampir sama dengan email,
dan memiliki kekuatan kompresif yang baik dalam menerima tekanan mastikasi.
Kekurangan dari pasak tuang adalah membutuhkan dua kali kunjungan, sehingga jenis
prefabricated dapat dijadikan pilihan. Pasak digolongkan dalam berbagai macam
klasifikasi, yaitu pasak aktif atau pasif, paralel atau tapered, pasak tuang atau jenis
prefabricated, dan menurut komposisi bahannya.
Penggunaan inti
Penggunaan inti dibutuhkan jika jaringan gigi yang tersisa sangat kurang, sehingga
tidak dapat memberikan retensi pada restorasi korona. Menurut Morgano dan Brackett,
menyebutkan beberapa sifat yang diinginkan dari suatu inti adalah mempunyai
kekuatan yang cukup, daya lentur yang cukup, bersifatbiokompabel,dapatmenahan
kebocoran dari cairan mulut, mudah pengerjaannya, kemampuan melekat pada jaringan
gigi sisa, koefisien termalnya sama dengan struktur gigi, dimensinya relatif stabil,
absorpsi air minimal, dan menghambat karies. Bahan inti yang banyak digunakan
sekarang ini adalah bahan emas tuang, amalgam, resin-based composite dan reinforced
glass ionomer. Bahan inti dari emas tuang memiliki kekuatan yang besar, tidak
menyerap air, daya larutnya yang rendah, koefisien termalsama dengan struktur gigi
sehingga kerapatan dengan struktur gigi tetap terjaga. Akan tetapi, inti dari bahan emas
tuang adalah prosedur indirect yang membutuhkan dua kali kunjungan dan kurang
estetik. Inti dari bahan amalgam mempunyai kekuatan yang besar, relatif stabil dalam

22
air, mencegah kebocoran denggan struktur gigi dengan sifat korosifnya dan ekonomis.
Kekurangan inti bahan amalgam adalah membutuhkan setting time yang lama, adanya
kandungan merkuri (Hg) dan kurang estetik. Sedangkan inti dari bahan resin-based
composite memberikan tampilan yang estetik terutama dengan penggunaan mahkota
porselen. Selain itu bahan resin-based composite mempunyai kekuatan yang cukup
memadai tapi kekuatannya kurang dibandingkan amalgam dan solubilitas yang rendah,
pengerjaannya relatiflebih mudah dan cepat. Akan tetapi, kekurangan bahan adalah
shrinkage, hydroscopic expansion karena adanya penyerapan air dan adanya ruang-
ruang kosong karena resin komposit tidak dapat dikondensasi seperti halnya amalgam
dan bahan ini tidak cocok dengan ZOE sebagai semen saluran akar. Penggunaan semen
ionomer kaca sebagai bahan pembuat inti sebaiknya dihindari karena mempunyai
banyak kelemahan, seperti kekuatan tensil dan kompresifnya rendah, modulus
elastisitas rendah, perlekatan yang buruk pada dentin dan email, kondensasi yang
kurang baik, dan solubilitas yang tinggi (Gambar 1). Pada penelitian yang
membandingkan bahan inti dari bahan amalgam, resin komposit dan semen ionomer
kaca yang dikombinasi dengan penggunaan pasak prefabricated, ditemukan bahwa
amalgam memiliki rata-rata kegagalan yang paling rendah, sedangkan bahan inti dari
semen ionomer kaca menyebabkan kegagalan yang paling banyak.
Resin komposit
Jika jaringan yang terbuang hanya sedikit, gigi anterior dapat direstorasi dengan resin
komposit. Penggunaan pasak tidak diperlukan jika tidak diindikasikan untuk restorasi
yang luas. Meskipun demikian, pasak tidak menguatkan jaringan gigi yang tersisa.
Penelitian retrospektif oleh Sorensen dan Martinof memperlihatkan tidak ada
peningkatan prognosis pada gigi anterior yang telah dirawat endodontik yang
direstorasi dengan pasak. Loudahl & Nichols menemukan bahwa insisivus sentralis
rahang atas yang telah dirawat endodontik dengan mahkota yang masih utuh (Gambar
2) lebih kuat dibandingkan dengan gigi yang direstorasi dengan pasak dan
inti.4Sorensen dan Martinof memberikan tinjauan mengenai 1273 gigi yang telah
dirawat endodontik yang telah direstorasi dari 1-25 tahun. Analisis statistik yang
dilakukan memperlihatkan bahwa penutupan pada bagian mahkota tidak secara
signifikan meningkatkan keberhasilan perawatan untuk gigi anterior,akan tetapi hal ini
meningkatkan keberhasilan untuk gigi premolar dan molar. Dari pembahasan mengenai
restorasi pada gigi anterior pasca perawatan endodontik, disimpulkan bahwa apabila
masih mempunyai marginal ridge, singulum, dan incisal edge yang baik, maka cukup

23
menggunakan komposit resin untuk restorasinya. Hal ini disebabkan karena gigi
anterior tekanan fungsionalnya kecil. Akan tetapi, pada beberapa kasus gigi anterior
setelah perawatan endodontik dengan kerusakan yang cukup luas membutuhkan
penggunaan mahkota penuh dengan pasak inti karena pertimbangan resistensi restorasi
dan estetik. Meskipun demikian, pasak tidak dapat menguatkan gigi yang telah dirawat
endodontik, karena fungsi utama pasak adalah sebagai retensi inti,bila jaringan gigi
yang tersisa tidak dapat mendukung restorasi korona. Penyelamatan struktur gigi yang
masih sehat dijadikan sebagai aspek yang paling penting dalam meningkatkan pasca
perawatan endodontik pada gigi anterior.

5. Postcore Crown
Dowel atau post adalah bahan restorasi rigid yang diletakkan ke dalam akar gigi yang
dirawat endodontik dengan struktur koronal gigi yang kurang, sebagai retensi
tambahan dari core dan restorasi koronal.

- Karakteristik Ideal Post


o Proteksi maksimal akar terhadap fraktur dengan cara menyalurkan kekuatan
sepanjang panjang akar
o Retensi adekuat di dalam akar
o Retensi maksimal core dan crown
o Proteksi maksimal penutupan semen dari tepi crown
o Estetik yang memuaskan (anterior)
o Radiopak
o Dapat diambil kembali
o Biokompatibilitas
o Memiliki resilien, kekakuan, fleksibilitas dan kekuatan yang optimal.

- Penggunaan Dowel\Post
o Mempertahankan restorasi bila struktur gigi tidak mencukupi
o Melindungi struktur gigi

- BAGIAN-BAGIAN RESTORASI POST ENDODONTI

24
Restorasi gigi yang dirawat endodontik didesain untuk melindungi sisa struktur gigi
dari fraktur dan menggantikan struktur gigi yang hilang.
Restorasi ini meliputi:
o Dowel
o Core
o Restorasi koronal

- Klasifikasi Post
o Post yang dibuat di pabrik dan cast
o Post metal dan non-metal
o Post rigid dan non-rigid
o Post estetik dan non-estetik

I. Post Metal dan Non-metal


o Post Metal
 Stainless steel
 Kuningan
 Nikel-khrom
 Kobalt-khrom
 Titanium
 Emas-platinum
o Post non-metal
a. Komposit
b. Keramik

II. Post Rigid dan non-rigid


o Post non-rigid
 Biokompatibel
 Terbuat dari serat kaca, kuarsa atau karbon ditanamkan pada matriks
resin.
 Sifat fisik post non-rigid hampir menyamai dentin.
 Post serat kaca dan kuarsa putih/translusen untuk keramik. Post
karbon hitam (tidak estetis).

25
 Beberapa post serat kaca dapat memancarkan cahaya curing (0,1-2
mW)
o Post rigid
 Dapat dibuat sendiri atau dari pabrik
 Post rigid terbuat dari alloy crown dan bridge seperti stainless steel,
titanium atau zirconium
 Dari semua, zirconium yang paling kaku

III. Post Pabrikan


Tipe-tipe2:
 Paralel, tapered, paralel dengan ujung tapered
 Permukaan halus, bergerigi, berulir (berulir juga dikenal sebagai
post aktif)
 Kosong, padat, terbelah
 Dapat memiliki lubang atau tidak
 Kombinasi dari fitur-fitur di atas

IV. Post Paralel


Post parallel bersifat lebih:
 Retentif
 Tekanan paling besar pada apeks preparasi (sisi halus)
 Menahan kekuatan torsi
 Mendistribusi tekanan merata sepanjang panjang post sehingga
mengurangi fraktur dentin

Kerugian:
 Tidak dapat digunakan pada akar tapered karena risiko perforasi dan
melemahkan dinding dentinal.
 Paralel dengan ujung tapered menghasilkan efek wedging.
 Post tapered memiliki retensi yang kurang, dan konsentrasi tekanan
pada bahu koronal.

6. Sementasi pasca endodontic

26
Pada pasak buatan pabrik tidak dilakukan pencetakan saluran akar. Hal ini
disebabkan karena pada pasak buatan pabrik dibentuk dengan pasak siap pakai yang
disesuaikan dengan ukuran saluran akar yang telah dipreparasi dan tersedia dalam
bentuk dan ukuran yang bervariasi.
Pada pasak buatan sendiri dilakukan pencetakan saluran akar yang dapat
dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

- Metode Langsung
Pencetakan saluran akar dapat dilakukan dengan menggunakan pola lilin dengan
menggunakan batang malam inlai lunak yang berbentuk kawat.
o Pilih sprue runcing dan harus longgar bila dimasukkan pada saluran akar
yang telah dipreparasi.
o Saluran akar dibasahi kemudian ujung batang dari malam inlay dilunakkan
dan dibentuk menjadi kerucut dan memasukkan ke dalam saluran akar.
Sempai seluruh saluran akar terisi penuh.
o Tekan ujung malam dengan jari pada batas tepi insisal
o Panaskan ujung sprue runcing pada bunsen, tahan dengan ujung jari. Hal
ini menjaga agar tidak terlalu panas, sehingga tidak melukai mulut pasien.
o Masukkan sprue yang telah dipanaskan kedalammalam dan dengan hati-hati
dengan dorongan ke dalam saluran sampai di ujung preparasi.
o Apabila telah mendingin, potong kelebihan malam dari inti yang diinginkan.
Keluarkan sprue dan malam yang telah melekat.
o Periksa kerapatan permukaannya, tambahkan sedikit malam apabila ada
kekurangan dan memasukkan kembali supaya terbentuk sesuai dengan
dinding-dinding preparasi.

- Metode Tidak Langsung


Pada metode tidak langsung pembuatan pola pasak inti dilakukan dengan
memodelir bahan pola diluar mulut melalui model kerja, yang sebelumnya pada
pasien dilakukan pencetakan dengan mengguankan bahan elestomer.
Pencetak gigi yang telah dipreparasi dapat dilakukan dengan memasukkan
bahan cetak elestomer kedalam saluran akar dengan menggunakan semprotan.
Sebatang kaawat yang dilumuri bahan perekat (tray adhesif) dan juga bahan cetak
dimasukkan kedalam saluran akar dengan gerakan memompa (pumping action)

27
agar semua bahan cetak yang telah masuk kedalam saluran akar dapat mengalir
dengan baik kedalam saluran akar. Batang kawat ini berfungsi sebagai pemegang
bahan cetak yang ada pada saluran akar dan juga memudahkan pengeluaran bahan
cetak dari saluran akar agar bahan cetak terssebut tidak patah pada saat dikeluarkan.
Pada ujung kawat yang berbeda bagian koronal saluran akar dibuat retensi dengan
membengkokkan kawat kemudian dilakukan pencetakan biasa dengan
menggunakan bahan cetak elastomer. Setelah prosedur pencetakan dilakukan,
pasak siap untuk dituang. Saluran akar dipersiapkan untuk pemasangan restorasi
pasak. Pasak dimasukkan ke dalam saluran akar setelah seluruh permukaan
dibersihkan dari sisa-sisa bahan pendam. Untuk melekatkan pasak di dalam saluran
akar, digunakan semen dengan adukan yang agak encer. Pasak yang terlumuri
adukan semen ini dimasukkan kedalam saluran akar dan dipertahankan dalam
kedudukan yang baik sampai semen mengeras dan restorasi pasak siap untuk
dilakukan. Dalam pemasangan pasak yang sesuai dengan protokol klinis standar,
digunakan pilot drill untuk membuat kongruensi-bentuk saluran akar sampai ke
sepertiga apikal akar untuk memperoleh kesesuaian dan retensi pasak primer.
Kesesuaian pasak yang dioptimalkan ini dinamakan form-congruence/kecocokan-
bentuk dan ditujukan untuk memaksimalkan adaptasi pasak pada dinding saluran
akar di sekitarnya dengan interfase semen dentin-pasak yang tipis dan merata.
Diduga bahwa kongruensi-bentuk memungkinkan terjadinya distribusi tekanan
pada dinding saluran akar selama fungsi klinis. Kongruensi-bentuk lima pasak
titanium sediaan yang direkatkan menggunakan semen zinc fosfat dan menemukan
bahwa celah semen rata-rata bervariasi antara 33 sampai 62 µm, tergantung pada
sistem pasak yang digunakan. Pada gigi yang diisi menggunakan cast post-and-core
dan mahkota yang direkatkan dengan semen zinc fosfat, ditemukan peningkatan
resistensi fraktur yang signifikaan jika terjadi adaptasi maksimum pasak taper pada
struktur akar yang tersisa. Efek tersebut tidak ditemukan jika menggunakan pasak
paralel. Namun, preparasi ruang pasak memiliki beberapa resiko. Kurvatura dan
potongan-melintang setiap saluran akar dapat mempengaruhi preparasi tersebut dan
melemahkan akar atau bahkan mengakibatkan perforasi akar. Pengaruh prosedur
endodontik terhadap deformasi gigi-geligi anterior dan menemukan bahwa
stabilitasnya semakin berkurang seiring dengan dilakukannya setiap tahap preparasi
saluran akar. Penurunan stabilitas yang signifikan terjadi jika ruang pasak
dipreparasi, terutama setelah transformasi preparasi pasak konis/kerucut menjadi

28
bentuk silindris/bulat. Disimpulkan bahwa jika struktur gigi yang dihilangkan
cukup banyak dan geometri alami saluran akar berubah, maka akan timbul efek de-
stabilitas pada akar gigi yang diisi. Salah satu penelitian terbaru menggunakan
analisis komputasional, eksperimental, dan fraciographic menguraikan pengaruh
inner dentine [dentin bagian dalam], yang terletak di sekitar saluran akar, terhadap
resistensi fraktur gigi. Jelas, bukan hanya ketebalan dinding dentin yang
menstabilkan akar tapi juga keberadaan inner dentine yang memiliki modulus
elastisitas lebih rendah dibandingkan dengan dentin bagian luar yang lebih
termineralisasi. Pada saluran akar ireguler yang memiliki potongan-melintang oval,
dibutuhkan diameter drill yang besar untuk memastikan kesesuaian pasak
sirkumferensial, jadi banyak struktur inner dentine yang dibuang. Namun,
pemilihan pasak yang sesuai dengan diameter alami slauran akar tanpa preparasi,
yang ditujukan untuk mempertahankan substansi inner dentine, menyebabkan
longgarnya pasak dalam saluran ireguler [tidak ada kongruensi-bentuk]. Segera
setelah pasak direkatkan menggunakan bahan adhesif pada dinding saluran akar,
kesesuaian pasak yang ideal dalam saluran akar [kongurensi-bentuk] tidak terlalu
penting, seperti jika ruang diisi menggunakan luting komposit. Namun, penyusutan
lapisan semen resin yang lebih tebal akibat pasak yang tidak sesuai, akan
mengganggu kinerja klinis jangka panjang. Sebaliknya, setelah dilakukan preparasi
ruang pasak terstandardisasi [menggunakan post hole drill yang disuplai oleh
pabrik] dan prosedur bonding optimal., faktor konfigurasi kavitas yang tinggi akan
mengakibatkan pembentukan celah pada interfase semen-dentin ataupun pada
interfase semen-pasak. Untuk mengurangi ketebalan semen resin dalam ruang
pasak ireguler, Dianjurkan dilakukannya relining pasak pra-sementasi
menggunakan komposit flowable [pasak anatomis] untuk sementasi pasak fiber
guna meningkatkan kesesuaiannya dalam ruang pasak. Dengan latar belakang
tersebut, penggunaan teknik adhesif untuk sementasi pasak dan preparasi ruang
pasak minimal untuk mengurangi pembuangan jaringan keras lebih banyak dipilih
dalam praktek klinis.

29
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/374412992/Tugas-Makalah-Space-Regainer

https://www.scribd.com/doc/220231326/SPACE-MAINTAINER-docx

https://www.scribd.com/doc/191695362/Perawatan-Saluran-Akar

https://dokumen.tips/documents/restorasi-pasca-perawatan-endodontik.html

30