Anda di halaman 1dari 18

PERABOT KERIS GAGRAK NGAYOGYAKARTO

Agar menjadi karya yang lengkap, baik secara teknis dan estetis maka sebilah keris harus diterapkan pada
deder (jejeran, hulu, ukiran, danganan, handle),
mendhak (uwer, cincin keris), warangka, dan pendhok.

Setelah sebuah bilah keris masuk (manjing) ke dalam


perabotnya maka menjadi suatu karya seni yang estetis
dan filosofis. Karya seni itu kemudian dapat difungsikan
sebagai pelengkap busana jawa yang sering disebut
sebagai wangkingan, pusaka atau sipat kandel.

Jika dilepas, maka akan menjadi seperti gambar di


bawah.

Gayaman Ngayogyakarta

Deder

Mendhak

Warangka

Bilah / wilah

Gandar

pendhok
Sebagaimana karya seni tradisi jawa yang lain ( wayang, tari, batik atau yang lainnya), budaya perkerisan juga
mengacu pada kaidah, pedoman atau aturan baku (term of references) sebagai acuan penciptaan suatu karya seni.
Berikut pembahasan tentang bagian bagian perabot keris gagrak Ngayogyakarto.

1. DEDER
Deder atau sering juga disebut sebagai ukiran, jejeran (Solo), landeyan (Madura), danganan (Bali), atau
handle adalah bagian perabot keris yang berfungsi sebagai gagang bilah. Bahan untuk membuat deder
adalah dari kayu yang bersifat keras dan lembut seratnya, ada pula yang terbuat dari gading ataupun
tanduk. Kayu yang terbaik untuk membuat deder adalah Tayuman, Kemuning dan cendana.
Dibandingkan dengan gagrak Solo, deder gagrak Ngayogyakarto bentuknya lebih kecil. Jika diibaratkan
dengan tokoh pewayangan, deder gagrak Solo menyerupai Werkudara sedangkan deder gagrak
Ngayogyakarto menyerupai Setyaki.

Solo Jogja

Mbun mbunan Sirah

Bathuk Pilingan

Cecekan / Patran nginggil Gigir

Dhadha Lingir

Wetengan
Cecekan / Patran ngandhap

Bungkul /Cembung Panjingan & Omah omahan

Karakter Bentuk (wanda) Deder

Wanda dalam konteks seni rupa adalah pencirian karakter satu jenis bentuk terhadap jenis bentuk lainnya; atau
dengan kata lain wanda merupakan pengekspresian watak atau karakter tertentu.Dalam penggarapannya, baik
gagrak Solo maupun gagrak Jogja, seorang pengrajin deder (mranggi) selalu mengacu pada pakem wanda deder.

Kita mengenal beberapa wanda deder yang lazim digunakan dalam budaya perkerisan.
2. MENDHAK DAN SELUT

Mendhak atau cincin keris merupakan bagian perabot keris yang terletak di bagian bawah deder. Mendhak
terbuat dari perak, emas, tembaga atau kuningan, sedangkan mripatan mendak bisa berupa intan, berlian,
yakud ataupun batu mulia yang lain.

MENDHAK

SELUT
Untuk meningkatkan keindahan pada deder, maka dipasang asesoris lain yaitu selut. Selut dipasang pada
bungkul / cembung. Seperti halnya mendhak, bahan selut juga biasanya terbuat dari perak, emas, tembaga
atau kuningan, demikian pula mripatannya.
Selut

3. WARANGKA
Warangka adalah salah satu bagian perabot keris yang memiliki fungsi tertentu, khususnya dalam
kehidupan sosial masyarakat jawa. Ada 4 jenis warangka keris gagrak (gaya) Yogyakarta jika dilihat dari pola
dan bentuknya.
a. Warangka Branggah
adalah warangka gagrak Yogyakarta yang memiliki ciri rangka berbentuk seperti lengkungan perahu.
n

b. Warangka Gayaman
adalah warangka gagrak Yogyakarta yang memiliki ciri rangka berbentuk seperti buah gayam.
c. Warangka Wulan Penanggal
adalah warangka gagrak Yogyakarta yang memiliki ciri rangka berbentuk seperti bulan ditanggal muda pada
penanggalan jawa.

d. Warangka Sandhang Walikat


adalah warangka gagrak Yogyakarta yang memiliki ciri dengan bentuk sederhana, banyak digunakan untuk
sombro, patrem, cundrik, dan keris kecil-kecil. Warangka Sandang Walikat ini juga dipakai oleh para penari
bedoyo/serimpi.

Melihat dari kegunaannya, bagian utama warangka terletak pada bagian bawah berbentuk panjang (sepanjang
bilah keris) yang disebut gandar atau antupan, yang memiliki fungsi membungkus atau sebagai penutup bilah.
Ada 2 macam warangka gandar:

a. Warangka Gandar Iras


adalah jenis warangka terusan atau tidak ada sambungan antara gandar dengan warangka.
b. Warangka Gandar Purusan
adalah jenis warangka yang menyambungkan antara gandar dengan warangka menggunakan purus.

Warangka keris gagrak Yogyakarta terdiri dari 3 model:

a. Model Kasatrian, warangka ini cenderung ramping, sekarang banyak orang menyebutnya model dermo nembungan.
b. Model Pakubuwanan, warangka model ini cenderung agak besar dan tebal, sekarang banyak orang menyebutnya
model kota gedenan juga bisa disebut model darmo arjo.

c. Model Ngrowo, warangka ini termasuk model kuno, ciri-cirinya branggah maupun gayaman agak kecil dan kurang
membat (Kuwung).

Warangka yang baik, sebaiknya dibuat dari bahan kayu yang berserat mayat (miring), dengan kemiringan kira-kira 45° dari
posisi datar. Khusus pembuatan warangka dari kayu timaha harus angon pelet yang artinya dalam pembuatan warangka
peletlah yang diutamakan.

Waktu memecel kayu harus berhati-hati, mana yang harus dikurangi mana yang tidak. Sehingga nanti warangka pada bagian
depan dapat menghasilkan pelet yang mapan dan tertata.

Untuk jenis kayu lainnya diusahakan letak serat posisi mayat (miring), terkecuali bahan kecil atau terbatas sehingga tidak bisa
dibuat serat mayat.
Warangka Pakualaman

a. Pakualaman Ladrang Gandrung

Bentuk bagian angkup dan janggut pada warangka ini seperti ladrang Solo, githingan mburisampai pucuk
godhongan seperti branggah Jogja. Jadi ini adalah perpaduan warangka branggah Jogja dan ladrang Solo.
b.. Pakualaman Gayaman / Gayaman Gandrung Githingan ngarep sampai jenggot seperti gayaman Yogyakarta,

bagian irung gareng menyerupai gayaman Solo. Githingan mburi sampai gelung seperti gayaman Yogyakarta,
bagian gelung ada yang menonjol seperti gayaman Solo, ukurannya seperti gayaman Yogyakarta.

4. PENDHOK

Dalam bahasa krama inggil Jawa, pendhok dikenal dengan sebutan Kandelan, adalah lapisan pelindung
bagian gandar dari warangka keris. Pendhok terbuat dari logam seperti halnya bahan mendhak dan selut.
Pendhok gagrak Ngayogyakarta pada bagian mukanya diberi hiasan tatahan atau ukiran halus dan
terkadang juga masih diberi hiasan berupa batu mulia. Pada zaman dulu motif tatahan pendok
menunjukkan status sosial pemiliknya. Misalnya, motif tatahan Semen Hok hanya boleh dipakai oleh
seorang pangeran atau kerabat dekat raja, sedangkan motif
tatahan seperti Semen Grodha, Semen Jelengut, Merak Ngigel, Lung
Cepoko, Trajon, Kidang Manyuro, dll boleh digunakan oleh
kalangan umum.

Jenis Pendhok
a. Pendhok Bunton
Berbentuk selongsong pipih memanjang
menutup bagian gandar dan sambungan gandar.
b. Pendhok Slorok
Dari asal katanya,
pendhok slorok
adalah jenis pendhok yang
pemasangan bagian tatahannya
dengan cara didorong masuk
ke dalam (ke dalam awak
awak’an pendok).
Bagian tepi pendhok slorok
terdapatgaris yang disebut
sebagai senuran,
yang juga berfungsi sebagai
pengunci tatahan pendok.

c. Pendhok Blewah
Jenis pendhok ini tidak menutup
keseluruhan gandar, namun
menyisakan celah memanjang
dengan lebar antara 0,8 cm –
2,4 cm. Maksud dibuat celah
Adalah untuk memperlihatkan
bahwa warangkanya adalah
gandar iras; yakni warangka
yang tanpa sambungan / menyatu
dengan gandarnya.

d. Pendhok Topengan
Adalah jenis pendhok yang ornament atasnya
menyerupai bentuk topeng menjorok masuk
sehingga menutup sebagian warangka.
Motif Tatahan Pendok
PEMELIHARAAN BILAH KERIS
(Jamasan Pusaka)
Agar bilah keris menjadi awet serta tampilan pamor menjadi optimal maka bilah keris perlu untuk dijamasi atau
diwarangi. Jamasan adalah pekerjaan membersihkan dan memberikan larutan warangan pada bilah keris.

Teknik Memarangi:
1. Teknik celup / rendam
2. Teknik kuas / koloh

Alat yang Diperlukan:


1. Telawah / blandhongan
2. Sikat halus
3. Kain pel
4. Ember / tempat air

Bahan yang Digunakan:


1. Batu Warangan / Arsenic Trioksida (AS203)
2. Air Jeruk Nipis
3. Sabun Colek
4. Minyak Pusaka

Cara Membuat Adonan Warangan


1. Kupas dan peras kira kira 1 kg jeruk nipis kemudian disaring
2. Tumbuk batu warangan sampai halus (batu Kristal warangan +- 25 gram sedangkan arsen +- 1 ons)
3. Campur air jeruk dan warangan, masukkan ke dalam botol dan dikocok sampai rata. Diamkan selama 1 hari.

Tahapan Mewarangi Keris:


1. Pembersihan karat
Karat pada bilah keris dibersihkan dengan cara direndam dalam air kelapa.
2. Mutih
Mutih adalah menggosokkan jeruk nipis yang
dicampur dengan sabun colek secara berulang ulang
sehingga bilah keris menjadi bewarna putih.
Setelah itu dilap dan dijemur sehingga menjadi kering.
3. Pencelupan Keris ke Dalam Adonan Warangan
Masukkan bilah pusaka yang sudah diputih ke dalam
adonan warangan selama +- 5 menit, kemudian dibalik
selama +- 5 menit.
Selanjutnya diangkat dan ditiriskan sampai keris menjadi
agak mengering.

Bilah keris dipencet pencet dengan kedua telapak


tangan.

Bilah keris dipencet pencet lagi dengan


menggunakan sabun.
Pada tahap ini besi bilah sudah bewarna hitam
dan pamor sudah nampak.

Selanjutnya bilah dibersihkan dengan sabun colek dengan cara disikat, dilap dengan kain dan dikeringkan
dibawah sinar matahari.

Hasil Pewarangan

Pekerjaan terakhir dari penjamasan keris adalah meminyaki keris dengan minyak khusus.