Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bekerja merupakan aktivitas yang dilakukan individu untuk memenuhi

kebutuhannya. baik kebutuhan fisik, sosial, maupun kebutuhan ego. Selain sebagai

sumber penghasilan, pekerjaan juga bisa menjadi simbol dari identitas diri. Individu

yang memiliki identitas dan diakui berarti mereka memiliki arti dan peran yang jelas

dalam masyarakat. Seiring berjalannya waktu, individu akan menghadapi kenyataan

bahwa tidak selamanya ia dapat bekerja. (Fardila, Rahmi & Putra, 2017).

Orang yang memiliki pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan

menjalani masa kerja yang dimulai dari pengangkatan sebagai pegawai negeri sipil

hingga berakhir memasuki masa pensiun. Berdasarkan dengan ketentuan yang berlaku

bahwa Batas Usia Pensiun (BUP) berdasarkan UU No.5 Tahun 2014 adalah 58 tahun

untuk pejabat administrasi, 60 tahun bagi pejabat pimpinan tinggi, dan pejabat

fungsional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Menurut Hurlock (1993),

pelepasan masa jabatan atau pekerjaan disebut pensiun (Fardila, Rahmi & Putra,

2017).

Menghadapi masa pensiun seharusnya seseorang merasa senang karena mereka

akan memiliki waktu luang yang lebih banyak unuk berolahraga, berkumpul dengan

keluarga serta melakukan kegiatan-kegiatan yang disenangi. Tetapi tidak semua

individu siap untuk menghadapinya bahkan hal ini dapat menimbulkan permasalahan.

Terutama pada pegawai negeri sipil yang mempunyai aktifitas rutin yang dilakukan

bertahun-tahun lamanya. Masa pensiun merupakan masa yang penuh tantangan karena

terjadi perubahan seperti dari aktif bekerja menjadi tidak bekerja, dari memiliki

1
2

jabatan menjadi diam di rumah, dari mendapat penghasilan tinggi menjadi penghasilan

yang lebih rendah, serta hilangnya relasi atau berkurangnya kontak sosial, yang

berdampak pada munculnya gangguan secara fisiologis dan psikologis. Perubahan

yang dialami pada masa pensiun membutuhkan penyesuaian diri, agar masa pensiun

dapat berjalan dengan baik yaitu bebas dari stres, kecemasan dan kesepian (Biya &

Suarya, 2016).

Menurut Birren (dalam Santrock, 2012) individu yang memandang perencanaan

pensiun hanya dari sisi finansial tidak beradaptasi sebaik individu yang memiliki

perencanaan berimbang. Hal-hal seperti ini menyebabkan seseorang akan mengalami

kecemasan dan mendatangkan stres saat menjelang masa pensiun. Menurut Nevid,

Rathus, dan Greene, Kecemasan sebagai keadaan yang emosional yang mempunyai

ciri keterangsangan fisiologis, perasaan yang tegang yang tidak menyenangkan dan

perasaan aprehansi, keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk

akan segera terjadi (wulandari & lestari, 2018).

Menurut hasil penelitian Widiastuti (2008) menunjukkan bahwa pada umumnya

seseorang mengalami kecemasan adalah karena ketidakpastian dalam menghadapi

pensiun yang disebabkan masih banyaknya tanggungan yang harus diselesaikan

terutama pada pensiun yang mempunyai tanggungan keluarga seperti anak-anak yang

masih kecil dan membutuhkan banyak biaya, sehingga ia merasa pensiun akan

menambah beban hidupnya (Pratiwi, 2018).

Menghadapi masa pensiun tentunya dibutuhkan sebuah persiapan untuk

mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan kecemasan-kecemasan yang

dapat memberikan efek negative terhadap pensiunan. Bukan hanya dari segi sosial,

finansial, fisik dan mental namun kematangan spiritual juga sangat diperlukan guna

mempersiapkan berbagai macam kemungkinan dimasa pensiun. Seperti yang


3

dikemukakan Garlick (Kinasih & Hadjam, 2010) yakni aspek spiritual merupakan

potensi utama dalam diri manusia, aspek spiritual juga diyakini dapat membantu

meningkatkan kualitas hidup seseorang seperti kesehatan fisik meningkat, menjadi

lebih bahagia serta hidup lebih berarti. Spiritualitas dibutuhkan individu dalam

mengkonstruksi makna atas pengalaman hidup, dengan adanya kepercayaan pribadi

untuk memberikan makna luar biasa kepada realitas kehidupan. Agama akan mampu

mengarahkan individu untuk memberikan penerimaan tulus atas keadaan yang

dialami. Kondisi tersebut memungkinkan individu untuk memaknai kembali hidupnya

dengan membuat perencanaan atas setiap kemungkinan yang terjadi untuk mencapai

suatu tujuan tertentu pada masa yang akan datang (Fakhri, 2012).

Robert A Emmons (Adami, 2012) mengungkapkan bahwa spiritualitas

bermanfaat dalam upaya untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan.

Spiritualitas dapat memprioritaskan ulang tujuan-tujuan (reprioritization of goals)

dalam kehidupan. Terlebih lagi, pribadi yang spiritual lebih mudah untuk

menyesuaikan diri pada saat mengalami keadaan-keadaan sulit, mereka pun lebih bisa

menemukan makna dalam setiap keadaan dan memperoleh panduan untuk

memutuskan hal-hal tepat apa saja yang harus dilakukan (Fakhri, 2012).

Kesimpulan dari pernyataan diatas bahwa spiritualitas dapat membuat seseorang

menyesuikan diri pada saat mrngalami keadaan-keadaan sulit salah satunya

menghadapi kecemasan pada masa pensiun. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk

meneliti hubungan antara tingkat spiritualitas dengan kejadian kecemasan dalam

menghadapi masa pensiun.

B. Rumusan Masalah
4

Spiritualitas dapat membuat seseorang menyesuikan diri pada saat mrngalami

keadaan-keadaan sulit salah satunya menghadapi kecemasan pada masa pensiun. Oleh

karena itu peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat spiritualitas

dengan kejadian kecemasan dalam menghadapi masa pensiun?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Menganalisa hubungan antara tingkat spiritualitas dengan kejadian

kecemasan dalam menghadapi masa pensiun

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi karakteristik pegawai yang akan menghadapi masa pensiun

b. Mengidentifikasi tingkat spiritualitas pegawai yang akan menghadapi pensiun

c. Mengidentifikasi tingkat kecemasan pegawai yang akan menghadapi masa

pensiun

d. Mengidentifikasi hubungan tingkat spiritualitas dengan kejadian kecemasan

pada pegawai yang akan menghadapi masa pensiun

D. Manfaat

1. Manfaat bagi Ilmu Keperawatan

Adapun manfaat teoritis dalam penelitian ini sebagai pengembangan keilmuan

keperawatan, khususnya dibidang keperawatan jiwa. Penelitian ini diharapkan juga

mampu memberikan informasi bagaimana hubungan tingkat spiritualitas dengan

kejadian kecemasan dalam menghadapi masa pensiun.

2. Manfaat bagi Institusi


5

Bagi instansi, bisa dijadikan sebagai acuan dalam bimbingan dan pengertian

pada pegawai tentang bagaimana cara menyesuaikan diri dengan baik ketika

menghadapi masa pensiun Selain itu juga untuk memberikan informasi tentang

pentingnya pembekalan psikologis maupun pembekalan keahlian untuk pegawai

yang akan menghadapi masa pensiun.

3. Manfaat bagi Subjek Penelitian

Bagi subjek penelitian memberikan informasi dan gambaran tentang hubungan

antara tingkat spiritualitas dengan kejadian kecemasan dalam menghadapi masa

pensiun. Sehingga diharapkan para pegawai yang akan pensiun dapat

mempersiapkan diri sebaik-baiknya ketika akan menghadapi masa pensiun.

4. Manfaat bagi Peneliti Berikutnya

Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menjadi sumber referensi

pendukung bagi peneliti yang yang tertarik meneliti variabel kecemasan dalam

menghadapi masa pensiun.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad & Ratnaningsih. (2016). Hubungan Antara Kecerdasan Spiritual dengan


Kecemasan Menghadapi Pensiun Pada Karyawan di PT Perkebunan
Nusantara Vii Unit Usaha Betung Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan.
Jurnal Empati 5(3), 467-471: UNDIP.

Arofah, D.S. (2015). Pengaruh Kecerdasan Emosi dan Optimisme terhadap


Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah.

Fadila, Rahmi & Putra. (2015). Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan
Kesiapanmenghadapi Pensiun pada Pegawai Negeri Sipil. Ejurnal
Psikologi 5(2): Universitas Negri Padang

Fakhri. (2012). Dinamika Spiritual pada Pensiun. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas


Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Pratiwi, N.Y. (2018). Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Kecemasan


Menghadapi Pensiun. Naskah Publikasi: Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Surakarta

Wulandari D. P & Lestari D. M. (2018). Pengaruh Penerimaan Diri pada


Kondisi Pensiun dan Dukungan Sosial Terhadap Kecemasan Menghadapi
Masa Pensiun pada Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Badung. Jurnal
Psikologi 5(2), 311-323: Universitas Udayana

Yuliarti, V. dan Mulyana, P.O (2014). Hubungan Antara Kecemasan Menghadapi


Pensiun Dengan Semangat Kerja Pada Pegawai Pt.Pos Indonesia Kantor
Pusat Surabaya. Character: Jurnal psikologi pendidikan. 3(02); 238-243:
UNESA.