Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Era modern keperawatan ialah era perkembangan sistematik dari keperawatan


menuju kepada keperawatan sebagai profesi. Bermula dari pandangan dan pernyataan
dari Florence Nightingale yang mempunyai visi yang sangat maju tentang
keperawatan dalam perkembangan teori keperawatan (Kusnanto, 2004).

Teori keperawatan berperan dalam membedakan keperawatan dengan disiplin


ilmu lain dan bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, memperkirakan, dan
mengontrol hasil asuhan atau pelayanan keperawatan yang dilakukan. Teori
keperawatan digunakan untuk menyusun suatu model konsep dalam keperawatan
sehingga model keperawatan ini mengadung arti aplikasi dari struktur keperawatan
itu sendiri yang memungkinkan perawat untuk menerapkan cara mereka bekerja
dalam batas kewenangan sebagai perawat.

Konsep Keperawatan merupakan ide untuk menyusun suatu kerangka konseptual


atau model keperawatan. Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk
memandang situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat di dalamnya.
Model konseptual keperawatan memperlihatkan petunjuk bagi organisasi dimana
perawat mendapatkan informasi agar mereka peka terhadap apa yang terjadi pada
suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu saat juga dan tahu apa yang harus
perawat kerjakan. Pandangan model konsep dan teori ini merupakan gambaran dari
bentuk pelayanan keperawatan yang akan diberikan dalam memenuhi kebutuhan
dasar manusi berdasarkan tindakan dan lingkup pekerjaan dengan arah yang jelas
dalam pelayanan keperawatan.

Dalam keperawatan terdapat beberapa model konsep keperawaratan berdasarkan


pandangan ahli dalam bidang keperawatan,yang memiliki keyakinan,dan nilai yang
mendasarinya,tujuan yang hendak dicapai serta pengetahuan dan keterampilan yang
ada.dan salah satunya adalah “Model Konsep Dan Teori Keperawatan Florence
Nightingale”

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang teori Florence Nightingale
2. Apa definisi dan konsep mayor dari teori Florence Nightingale
3. Bagaimana penjelasan skema/bagan model konseptual teori
FlorenceNightingale?
4. Bagaimana aplikasi model konseptual Florence Nightingale dalam
keperawatan?

1.3 Tujuan
Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui latar belakang dan teori sejarah dari teori
keperawatan menurut Florence nightingel
2. Untuk mengetahui sumber teori untuk pengembangan teori
3. Untuk mengetahui konsep umum dan definisi dari teori modern
Florence nightingel
4. Untuk mengetahui penggunaan temuan empiris dari teori keperawatan
menurut Florence nightingle
5. Untuk mengetahui paradigma keperawatan dari Florence nightingle
6. Untuk mengetahui aplikasi teori keperawatan menurut Florence
nightingle

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1. Memberi pengetahuan kepada mahasiswa tentang latar belakang dan
sejarah dari teori keperawatan menurut Florence Nightingale
2. Memberi informasi kepada mahasiswa tentang sumber teori untuk
pengembangan teori
3. Memberi informasi kepada mahasiswa tentang konsep umum dan definisi
dari teori modern Florence nightingel
4. Memberi informasi kepada mahasiswa tentang penggunaan temuan
empiris dari teori keperawatan menurut Florence Nightingale
5. Memberi informasi kepada mahasiswa tentang paradigma keperawatan
dari Florence Nightingale
6. Memberi pengetahuan kepada mahasiswa tentang aplikasi teori
keperawatan menurut Florence Nightingale

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Latar belakang teori/sejarah

Florence Nightingale lahir tanggal 12 Mei 1820 di Florence, Italia, dalam


suatu perjalanan panjang keliling Eropa. Nama depannya, Florence merujuk
kepada kota kelahirannya, Firenze dalam bahasa Italia atau Florence dalam
bahasa Inggris. Florence Nightingale memiliki seorang kakak perempuan
bernama Parthenope. Beliau adalah seorang anak bangsawan Inggris yang kaya,
beradab dan bercita-cita tinggi yang bernama William Edward Nightingale.

Semasa kecilnya ia tinggal di Lea Hurst, sebuah rumah besar dan mewah
milik ayahnya, William Edward Nightingale yang merupakan seorang tuan tanah
kaya di Derbyshire, London, Inggris. Sementara ibunya adalah keturunan ningrat
dan keluarga Nightingale adalah keluarga terpandang. Ia belajar bermacam-
macam bahasa yaitu bahasa Latin, Yunani, Perancis, dan lain-lain. Ia senang
memelihara binatang yang sakit, selain itu ia senang bersama ibunya mengunjungi
orang miskin yang sakit serta rajin beribadah.

Pada masa remaja mulai terlihat perilaku Florence dan kakaknya yang
kontras. Kakaknya, Parthenope, hidup sesuai dengan martabatnya sebagai putri
seorang tuan tanah karena pada masa itu wanita ningrat, kaya, dan berpendidikan
aktifitasnya cenderung bersenang-senang saja dan malas, sementara Florence
sendiri lebih banyak keluar rumah dan membantu warga sekitar yang
membutuhkan. Pada suatu ketika, pada saat Florence berdoa dengan hikmat ia
mendengar suara Tuhan bahwa dalam hidupnya menanti sebuah tugas. Pada saat
itu Folrence berusia tujuh belas tahun. Akhirnya Pada tanggal 7 Februari 1837 dia
menulis di buku hariannya tentang pengalamannya itu dengan judul “Tuhan
berbicara kepadaku dan memanggilku untuk melayani-Nya. Tetapi pelayanan
apa?”

Dia menyadari bahwa dirinya merasa bersemangat dan sangat bersukacita


bukan karena status sosial keluarganya yang kaya tetapi merasa bersemangat
disaat ia merawat keluarga-keluarga miskin yang hidup di gubuk gubuk sekitar
rumah keluarganya serta ia sangat gemar mengunjungi pasien-pasien di berbagai
klinik dan rumah sakit.

Sebagai keluarga yang berasal dari kalangan mapan, keinginan Florence


untuk berkarier sebagai perawat mendapat tantangan keras. Ibu dan kakaknya
sangat keberatan dengan jalur yang hendak ditempuh Florence. Sedangkan
ayahnya, meski mendukung kegiatan kemanusiaan yang dilakukan putrinya ini,

3
juga tidak ingin Florence menjadi perawat. Karena pada masa itu, pekerjaan
sebagai perawat memang dianggap pekerjaan yang hina. Adapun alasannya
adalah sebagai berikut:

a. Perawat disamakan dengan wanita tuna susila atau “buntut” (keluarga


tentara yang miskin) yang mengikuti ke mana tentara pergi,

b. Profesi perawat banyak berhadapan langsung dengan tubuh dalam keadaan


terbuka sehingga profesi ini dianggap sebagai profesi yang kurang sopan untuk
wanita baik-baik, selain itu banyak pasien memperlakukan wanita yang tidak
berpendidikan yang berada di rumah sakit dengan tidak sopan (tidak senonoh),

c. Perawat di Inggris pada masa itu lebih banyak laki-laki daripada perempuan
karena alasan-alasan di atas,

d. Perawat masa itu lebih sering berfungsi sebagai tukang masak dibandingkan
menjalankan tugasnya sebagai seorang perawat.

Meskipun mengahadapi hambatan dari keluarga dan alasan-alasan Florence


tetap memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi seorang perawat. Ketika
berumur 20 tahun Florence meminta izin kepada orang tuanya untuk bekerja di
rumah sakit dan belajar tentang keperawatan. Akan tetapi orang tuanya tetap tidak
mengijinkannya karena keadaan rumah sakit pada saat itu sangaat
memprihatinkan. Walaupun mendapat larangan dari kedua orang tuanya semangat
Florence untuk menjadi perawat tidak hilang.

Pada suatu hari nenek Florence sakit. Saat itu Florence mendapat
kesempatan untuk merawat neneknya sampai pada akhirnya beliau meninggal.
Dengan pengalaman merawat neneknya tersebut bertambahlah pengalaman
Florence dalam merawat orang sakit. Florence berpendapat bahwa ia perlu
menuntut ilmu agar dapat menjalankan pekerjaan perawat dengan baik karena
menolong sesama manusia sama halnya dengan mengabdikan diri kepada Tuhan.
Florence bertanya kepada seorang dokter tamu dari Amerika, Dr. Samuel Howe,
“Apakah pantas bagi seorang gadis Inggris mencurahkan hidupnya untuk menjadi
seorang perawat?” Dr. Samuel Howe menjawab, “Di Inggris, semua yang tidak
biasa dianggap tidak layak. Tetapi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin terjadi
atau tidak wajar bagi seorang wanita terhormat bila melakukan suatu pekerjaan
yang membawa kebaikan bagi orang lain.”

Florence sering bertanya-tanya, mengapa gereja Protestan tidak seperti


Catholic Sisters of Charity yang memberikan jalan bagi para wanita untuk
mencurahkan hidupnya dengan melayani orang lain. Dr. Howe menceritakan
kepadanya tentang Kaiserworth di Jerman, didirikan oleh Pendeta Theodor
4
Fliedner. Tempat itu mempunyai rumah sakit yang dilengkapi ratusan tempat
tidur, sekolah perawatan bayi, sebuah penjara berpenghuni dua belas orang,
sebuah rumah sakit jiwa untuk para yatim, sekolah untuk melatih para guru, dan
sekolah pelatihan untuk para perawat disertai ratusan diaken. Setiap kegiatan
selalu diikuti dengan doa. Florence sangat tertarik dan bersemangat menanggapi
cerita Dr. Howe dan mengatakan bahwa Kaiserworth adalah tujuannya. Pada
bulan Juli 1850 saat ia telah berusia 30 tahun, Florence pergi ke Kaiserworth di
Jerman. Setahun kemudian, dia pulang ke rumah dan tinggal selama tiga bulan.
Dia pulang dengan sikap baru. Sekarang dia tahu bahwa dirinya harus
membebaskan diri dari kehidupannya yang terkekang.

Tiga tahun kernudian, dia melaksanakan pekerjaan keperawatannya yang


pertama sebagai pengawas di Institute for the Care for Sick Gentle Woman in
Distressed Circumstances. Dia memasukkan pemikiran-pemikiran baru ke dalam
institusi itu dan menerapkan beberapa ide yang revolusioner, seperti pipa air
panas ke setiap lantai, elevator untuk mengangkut makanan pasien, dan para
pasien dapat langsung memanggil para perawat dengan menekan bel.

Dia juga menetapkan bahwa institusi tersebut bukan institusi sekte,


institusi tersebut menerima semua pasien dari semua denominasi dan agama. Di
sini florence beragumentasi sengit dengan Komite Rumah Sakit karena mereka
menolak pasien yang beragama Katolik. Florence mengancam akan
mengundurkan diri, kecuali bila komite ini merubah peraturan tersebut dan
memberinya izin tertulis berbunyi; “rumah sakit akan menerima tidak saja pasien
yang beragama Katolik, tetapi juga Yahudi dan agama lainnya, serta
memperbolehkan mereka menerima kunjungan dari pendeta-pendeta mereka,
termasuk rabi, dan ulama untuk orang Islam”

Menanggapi anccaman Florence ini, Komite Rumah Sakit pada akhirnya


merubah peraturan tersebut sesuai permintaan Florence.

A.Peran Florence Nightingale pada Perang Krimea

Pada tahun 1854, ketika Inggris dan Perancis mengumumkan perang


terhadap Rusia untuk menguasai Krimea dan Konstantinopel (pintu gerbang
menuju Timur Tengah). Banyak prajurit yang gugur dalam pertempuran, namun
yang lebih menyedihkan lagi adalah tidak adanya perawatan untuk para prajurit
yang sakit danluka-luka.

Keadaan memuncak ketika seorang wartawan bernama William Russel


pergi ke Krimea. Dalam tulisannya untuk harian TIME wartawan tersebut
menuliskan bagaimana prajurit-prajurit yang luka bergelimpangan di tanah tanpa
diberi perawatan sama sekali dan bertanya, “Apakah Inggris tidak memiliki

5
wanita yang mau mengabdikan dirinya dalam melakukan pekerjaan kemanusiaan
yang mulia ini?”.

Hati rakyat Inggris pun tergugah oleh tulisan tersebut. Florence merasa
saatnya telah tiba abgi dirinya untuk bertindak, ia pun menulis surat kepada
menteri perang saat itu, Sidney Herbert, untuk menjadi sukarelawan di perang
krimea..

Pada pertemuan antara Florence dan Sidney Herbert terungkap bahwa


Florence adalah satu-satunya wanita yang mendaftarkan diri. Dijelaskan bahwa
banyak prajurit-prajurit yang mati di Krimea bukan karena peluru ataupun bom,
namun hal tersebut disebabkan karena tidak adanya perawatan, dan perawat pria
yang ada jumlahnya tidak memadai. Ia meminta Florence untuk memimpin gadis-
gadis sukarelawan dan Florence menyanggupinya.

Sebagai Menteri Perang, Sidney Herbert meminta Florence untuk


mengepalai sebuah tim perawat bagi rumah sakit militer di Scutari, Turki.
Florence menggunakan kesempatan tersebut dengan baik. Dia berangkat bersama
sebuah tim pilihan yang terdiri dari 38 orang perawat. Hanya 14 orang perawat
yang mempunyai pengalaman di lapangan sementara 24 orang lainnya adalah
anggota lembaga keagamaan yang terdiri dari Biarawati Katolik Roma, perawat
rumah sakit Protestan, dan beberapa biarawati Anglikan yang berpengalaman di
bidang penyakit kolera. Teman-temannya, Charles dan Selina Bracebridge juga
turut bersama tim tersebut untuk mendorong semangatnya.

Tiba bulan November 1854 di Barak Selimiye, di Scutari dengan 38


rekanrekannya, mereka mendarat di sebuah rumah sakit pinggir pantai di Scutari.
Saat tiba disana kenyataan yang mereka hadapi lebih mengerikan dari apa yang
mereka bayangkan. Beberapa gadis sukarelawan terguncang jiwanya dan tidak
dapat langsung bekerja karena cemas, semua ruangan penuh sesak dengan
prajurit-prajurit yang terluka, dan beratus-ratus prajurit bergelimpangan di
halaman luar tanpa tempat berteduh dan tanpa ada yang merawat.

Florence melihat para prajurit yang terluka tidak mendapat perawatan dengan
baik. Obat-obatan yang minim ditambah dengan tidak diperhatikannya kebersihan
sering membawa akibat yang fatal bagi pasien. Peralatan untuk menyiapkan
makanan bagi para pasien pun tidak tersedia.

Selama perang berlangsung, Florence menghadapi tantangan berat untuk


meyakinkan para dokter militer bahwa para perawat wanita pun diperlukan di
sebuah rumah sakit militer.

6
Dokter -dokter bekerja cepat pada saat pembedahan, mereka memotong
tangan, kaki, dan mengamputasi apa saja yang membahayakan hidup pemiliknya,
potongan-potongan tubuh tersebut ditumpuk begitu saja diluar jendela dan tidak
ada tenaga untuk membuangnya jauh-jauh ke tempat lain. Bekas tangan dan kaki
yang berlumuran darah menggunung menjadi satu dan mengeluarkan bau tak
sedap.

Florence diajak mengelilingi neraka tersebut oleh Mayor Prince, dokter


kepala rumah sakit tersebut dan menyanggupi untuk membantu. Kenyataan yang
demikian membuat Florence semakin yakin bahwa yang membunuh para prajurit
justru kondisi tempat perawatan yang sangat buruk. Sekembalinya ke Inggris,
Florence mengumpulkan lebih banyak bukti yang disodorkannya kepada Komisi
Kesehatan Angkatan Darat. Ia melaporkan betapa banyaknya prajurit yang
meninggal akibat buruknya kondisi di barak-barak. Hal inilah yang kemudian
memengaruhi karier keperawatan Florence.

B.Akhir Hidup

Florence Nightingale meninggal dalam tugasnya pada tanggal 13 Agustus


1910 pada usia 90 tahun karena penyakit tifus. Florence telah berjasa besar bagi
dunia medis, khususnya menetapkan fondasi keperawatan. Betapa perawat adalah
profesi yang penting dan harus diperlengkapi dengan pendidikan khusus. Tidak
heran, bila profesi ini kini menjadi profesi yang sangat mulia, jauh melebihi
pandangan masyarakat Inggris sebelumnya.

C.Warisan Florence Nightingale

Salah satu warisan yang sangat berharga dari Florence ialah sistem
kesehatan publik. Sistem tersebut menunjukkan keyakinannya akan hukum
Tuhan, Sang Pencipta segalanya, selain itu pendekatannya juga menyeluruh. Ia
juga menekankan pentingnya kesehatan dan pencegahan penyakit secara
konsisten. Ia mencetuskan perilaku hidup yang sehat dengan:

1. rumah yang layak huni (sesuatu yang langka di masanya, bahkan bagi
mereka yang hidup makmur);
2. air dan udara yang bersih;
3. nutrisi yang baik;
4. kelahiran yang aman (tingkat kematian dalam proses kelahiran maupun
pasca kelahiran karena demam, lebih tinggi);
5. perawatan anak yang benar, yang ditunjukkan dengan tidak satu anak pun
yang menjadi pekerja.
Florence juga memegang peranan yang sangat penting dalam mengangkat
harkat para perawat. Meskipun bila kita cermati, hal ini sudah dilakukan sejak

7
Pendeta Theodor Fliedner dan istrinya membangun rumah sakit di Kaiserswerth,
Florence yang berperan menaikkan derajat para perawat sebagai profesional yang
dihargai. Pada tahun 1860, ia mendirikan Nightingale Training School bagi para
perawat di Rumah Sakit St. Thomas.

Pada tahun 1860, karya terbaiknya, Notes on Nursing dipublikasikan.


Karya ini menjadi penting mengingat di dalamnya terdapat prinsip-prinsip
keperawatan yang meliputi pengawasan yang teliti dan sensitif bagi para pasien.

Selain itu, minat dan kemampuan matematis yang dimilikinya semenjak


kecil membuat Florence menjadi salah satu tokoh yang turut berperan penting
dalam hal statistik. Ia mengompilasi, menganalisis, dan mempresentasikan
pengamatan medisnya dengan bidang yang juga dikuasai ayahnya. Salah satu
peranannya ialah dalam mempresentasikan informasi secara visual. Ia bisa
dikatakan memperbaiki "grafik kue pie" yang diperkenalkan pertama kali oleh
William Playfair pada tahun 1801. Dalam penjelasannya di hadapan anggota
parlemen, Florence menggunakan grafik yang menyerupai histogram melingkar
yang kita kenal belakangan, mengingat para anggota parlemen terlihat tidak suka
membaca atau memahami laporan statistik tradisional.

Belakangan, Florence mempelajari sanitasi di India dengan statistik yang


komprehensif. Ia juga menjadi orang terkemuka yang memperkenalkan
pengembangan pelayanan medis dan kesehatan publik di sana. Atas perannya ini,
ia menjadi wanita pertama yang berbagian dalam Royal Statistical Society, yang
juga menjadi anggota kehormatan dari American Statistical Association.

Selain mempromosikan keseragaman statistik di rumah sakit Florence juga


merupakan salah satu penguji data yang berkenaan dengan kesehatan dan
keselamatan. Ia juga menjadi orang pertama yang memimpin studi tingkat
kelahiran anak-anak Aborigin di daerah-daerah koloni Inggris.

2.2 Sumber teori untuk pengembangan teori

Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan


keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses
penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan
dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya
sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi
pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan
dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi
dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien
dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan
kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean.

8
Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep
dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik
keperawatan. Nightingale dalam teori deskripsinya memberikan cara berpikir
tentang keperawatan dan kerangka rujukan yang berfokus pada klien dan
lingkungannya ( Torres, 1986). Surat Nightingale dan tulisannya tangannya
menuntun perawat untuk bekerja atas nama klien. Prinsipnya mencakup bidang
pelayanan, penelitian, dan pendidikan. Hal paling penting adalah konsep dan
prinsip yang membentuk dan melingkupi praktik keperawatan (marriner – tomey,
1994). Nightingale berpikir dan menggunakan proses keperawatan. Ia mencatat
bahwa observasi [pengkajian] bukan demi berbagai informasi atau fakta yang
mencurigakan, tetapi demi penyelamatan hidup dan meningkatkan kesehatan dan
keamanan.”

2.3 Konsep Umum dan definisi

1. Definisi teori

Teori merupakan kumpulan konsep, definisi, dan usulan yang


memproyeksikan sebuah pandangan sistematis tentang suatu fenomena dengan
merancang hubungan khusus antar-konsep guna menggambarkan, menjelaskan,
memprediksi, dan/atau mengendalikan fenomena yang ada (Asmadi, 2008).

Untuk memudahkan alur berpikir mengenai hubungan dan pengaruh logis


antar-konsep serta untuk merealisasikan teori keperawatan ke dalam praktik,
diperlukan suatu model keperawatan. Keperawatan sebagai ilmu dan profesi harus
didukung oleh teori dan model konseptual agar pelayanan keperawatan yang
diberikan semakin professional (Asmadi, 2008).

Florence Nightingale adalah salah satu perawat pertama untuk


mendokumentasikan dampak lingkungan yang dibangun terhadap pasien. Selain
menulis tentang sanitasi, tingkat infeksi, dan ventilasi, Nightingale memahami
bahwa aspek lingkungan seperti warna, suara, dan cahaya, bersama dengan
kehadiran perawat, memberikan kontribusi untuk mendapatkan kesehatan

Florence Nightingale, yang kita kenal sebagai perawat yang membangun


landasan teori bagi profesi keperawatan, mengembangkan dan menerbitkan suatu
filosofi dan suatu teori tentang hubungan antara kesehatan dan keperawatan
(Soemowinoto, 2008). Titik berat teori ini adalah pada aspek lingkungan.
Nightingale meyakini bahwa kondisi lingkungan yang sehat penting untuk
penanganan perawatan yang layak.

9
2. Konsep mayor teori Florence Nightingale

Model konsep Florence Nightingale memposisikan lingkungan sebagai


fokus asuhan keperawatan, dan perawat tidak perlu memahami seluruh proses
penyakit model konsep ini dalam upaya memisahkan antara profesi keperawatan
dan kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan/tindakan keperawatan
lebih diorientasikan pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan,
kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat (jumlah vitamin atau mineral
yang cukup), dengan dimulai dari pengumpulan data dibandingkan dengan
tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam rangka perawat mampu
menjalankan praktik keperawatan mandiri tanpa tergantung dengan profesi lain.

Model konsep ini memberikan inspirasi dalam perkembangan praktik


keperawatan, sehingga akhirnya dikembangkan secara luas, paradigma perawat
dalam tindakan keperawatan hanya memberikan kebersihan lingkungan adalah
kurang benar, akan tetapi lingkungan dapat mempengarui proses perawatan pada
pasien, sehingga perlu diperhatikan. Inti konsep Florence Nightingale, pasien
dipandang dalam konteks lingkungan secara keseluruhan, terdiri dari lingkungan
fisik, lingkungan psiklologis dan lingkungan sosial.

a. Lingkungan fisik (Physical environment)

Merupakan lingkungan dasar/alami yang berhubungan dengan ventilasi


dan udara. Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih
yang selalu akan mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan
harus bebas dari debu, asap, bau-bauan. Tempat tidur pasien harus bersih, ruangan
hangat, udara bersih, tidak lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat
sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun
dirinya sendiri. Luas, tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan
keleluasaan pasien untuk beraktivitas. Tempat tidur harus mendapatkan
penerangan yang cukup, jauh dari kebisingan dan bau limbah. Posisi pasien
ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi.

b. Lingkungan psikologi (Psychology environment)

Florence Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif


dapat menyebabkan stress fisik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien.
Oleh karena itu, ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya.
Mendapatkan sinar matahari, makanan yang cukup dan aktivitas manual dapat
merangsang semua faktor untuk dapat mempertahankan emosinya. Komunikasi
dengan pasien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh,
komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus.

10
Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya
sebaiknya dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar
lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan
harapan yang terlalu muluk muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi
penyakitnya. Selain itu, membicarakan kondisi-kondisi lingkungan dimana dia
berada atau cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik
dapat memberikan rasa nyaman.

c. Lingkungan Sosial (Social environment)

Observasi (pengamatan) dari lingkungan sosial terutama hubungan


spesifik (khusus), kumpulan data-data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan
penyakit, sangat penting untuk pencegahan penyakit. Dengan demikian setiap
perawat harus menggunakan kemampuan observasi (pengamatan) dalam
hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih sekadar data-data yang
ditunjukan pasien pada umumnya.

Seperti juga hubungan komunitas dengan lingkungan sosial dugaannya


selalu dibicarakan dalam hubungan individu pasien yaitu lingkungan pasien
secara menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan
rumah sakit tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap
lingkungan secara khusus.

2.4 Paradigma Keperawatan Teori F.Nightingale

1. Manusia

Manusia mencerminkan tiga komponen, yaitu body, mind, and spirit.


Ketiga komponen tersebut saling berpengaruh dan menjadi satu kesatuan.
Manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus terpenuhi. Kebutuhan-
kebutuhan tersebut melipupi kebutuhan bio-psiko,sosio,spiritual, kultural
(Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Ners, 2012). Manusia mencari dan
menggunakan sumber-sumber yang diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan-
kebutuhan dasarnya.

Keperawatan melihat manusia sebagai seorang klien yang menjadi sasaran


utama dalam memberikan pelayanan kesehatan. Hal ini tidak jauh berbeda dengan
pandangan Nightingale mengenai manusia. Nightingale melihat manusia sama
seperti seorang klien. Konsep manusia menurut Nightingale, yaitu hubungan
timbal balik manusia dengan lingkungannya (Yetti, 2014).

11
Nightingale dikenal dengan teori keperawatannya yang berlandaskan pada
lingkungan sekitar pasien. Lingkungan yang dimaksud oleh Florence, yaitu
lingkungan fisik yang meliputi kebutuhan dasar manusia. Hal ini dikarenakan
situasi Nightingale yang berada pada situasi perang. Konsep manusia dalam
keperawatan menjadikan manusia sebagai pusat dalam pemberian asuhan
keperawatan dan landasan dalam praktik/asuhan keperawatan. Manusia selalu
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan hal ini dapat mempengaruhi status
kesehatannya.

Nightingale telah menginspirasi dunia keperawatan melalui pemikiran-


pemikiran hebatnya. Nightingale beranggapan bahwa setiap manusia merupakan
individu yang berbeda. Nightingale berfokus pada tujuan dalam meningkatkan
kesembuhan klien, yaitu lebih bertindak produktif dan memberikan asuhan
keperawatan yang lebih efisien. Hal ini yang menganjurkan perawat untuk
bertanya pendapat klien mengenai asuhan/pelayanan keperawatan yang
diberikan sudah sesuai dengan kondisi klien atau belum. Nightingale menekankan
bahwa perawat mengontrol dan bertanggung jawab terhadap lingkungan internal
dan eksternal klien. Hal ini secara langsung mengharuskan perawat untuk mampu
mengendalikan keinginan pribadi dan perilaku masing-masing
individu. Nightingale menekankan untuk dapat menghargai setiap orang dari
berbagai latar belakang dan tidak menghakimi orang lain.

2. Sehat-Sakit

Kesehatan adalah karunia Tuhan yang harus disyukuri, dipelajari,


dilindungi, dan ditingkatkan. Kesehatan adalah hak asasi dan sekaligus inverstasi
serta modal utama untuk berkarya dan beraktifitas serta produktif merupakan
tujuan hidup manusia. Sehat adalah keadaan seseorang yang dapat memenuhi
kebutuhan pokoknya sebagai umat manusia sesuai dengan tingkat dan derajat
masing-masing. Sehat yaitu individu yang mampu memanipulasi pengaruh
lingkungan tanpa menimbulkan ketegangan serta tidak menimbulkan ketidak
seimbangan pada dirinya. Sehat adalah adanya keseimbangan komponen-
komponen biologis, psikologis, sosial budaya dan spritual individu.

Nightingale mendefinisikan sehat sebagai suatu keadaan baik dan


menggunakan semua kekuatan atau sumber untuk memenuhi kebutuhan hidup
(Alligood dan Tomey, 2010). Nightingale juga mendefinisikan kesehatan sebagai
kondisi sejahtera dan mampu memanfaatkan setiap daya yang dimiliki hingga
batas maksimal, sedangkan penyakit merupakan proses perbaikan yang dilakukan
tubuh untuk membebaskan diri dari gangguan yang dialami sehingga individu
dapat kembali sehat (Asmadi, 2008). Sakit adalah keadaan yang disebabkan oleh

12
berbagai macam dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh,
baik fungsi jaringan itu sendiri maupun fungsi tubuh.

Nightingale melihat penyakit sebagai proses pergantian atau perbaikan


(reparative process) (Kusnanto, 2004). Konsep sehat-sakit Nightingale berfokus
pada perbaikan untuk sehat. Asumsi sehat-sakit Nightingale ialah perawatan
sebagai wujud tanggung jawab seseorang terhadap kesehatan. Manfaat teori ini
ialah menjadi suatu pijakan bagi pengembangan teori keperawatan sesudahnya,
dapat diterapkan dengan modifikasi dalam banyak tatanan keperawatan,
mendorong pemikiran produktif bagi perawat dan profesi keperawatan (Asmadi,
2008).

3. Lingkungan

Lingkungan adalah semua kondisi yang mungkin mempengaruhi klien dan


tempatnya berada, dimana terdapat kebutuhan pelayanan kesehatan.Terdapat
hubungan berkelanjutan antara klien dan lingkungan. Hubungan tersebut dapat
berupa pengaruh positif dan negative pada tingkat kesehatan manusia dan
kebutuhan pelayanan kesehatan. Selain itu, semua faktor-faktor di rumah, tempat
kerja, atau komunitas juga mempengaruhi tingkat kesehatan klien dan kebutuhan
pelayanan kesehatan.

Dengan meyakini pentingnya faktor kondisi lingkungan yang sehat


berhubungan dengan status kesehatan klien. Didalamnya terdapat banyak
komponen lingkungan yang penting yang berpengaruh pada kesehatan, seperti
udara segar, air bersih, saluran pembuangan yang efisien, kebersihan, cahaya, dll.
Dengan aspek komponen lingkungan yang paling diutamakan
oleh Nightingale ketika melakukan perawatan terhadap klien yaitu ventilasi yang
cukup bagi klien.

Pada Meleis (2006) menyebutkan bahwa konsep Nightingale tentang lingkungan


berfokus pada pelayanan keperawatan dan sarannya, bahwa perawata tidak perlu
mengatahui semua tentnag proses penyakit yang merupakan awal usaha untuk
membedakan antara keperawatan dengan kedokteran, seperti penyediaan udara
segar, pencahayaan, kehangatan, sanitasi, ketenangan, dan nutrisi yang kuat
(Nightingale, 1860)

4. Keperawatan

Keperawatan adalah suatu profesi yang mengabdi pada manusia dan


kemanusiaan, mendahulukan kepentingan kesehatan masyarakat diatas
kepentingan sendiri, menggunakan pendekatan holistic, bentuk pelayanannya
bersifat humanistik, dilaksanakan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan

13
berpegang pada standar asuhan keperawatan serta menggunakan kode etik
keperawatan sebagai tuntutan utama melaksanakan asuhan keperawatan. Teori
Nightingale dan kaitannya dengan keperawatan, Nightingale merupakan pelopor
model awal keperawatan

2.5 Aplikasi Proses Keperawatan


Membuat pasien merasa nyaman dan tenang di lingkungan rumah sakit
merupakan hal yang perlu dilakukan. Cara yang dilakukan untuk membuat pasien
merasa nyaman, pada saat memberi makanan di rumah sakit misal dengan
membersihkan meja tempat tidur dan yakinkan ada tempat untuk semua piring.
Makanan harus di hidangkan pada nampan bersih dan harus terlihat menarik.
Yakinkan ada alat makan yang digunakan.
Melalui observasi dan pengumpulan data Nightingale menghubungkan
antara status kesehatan klient dengan faktor lingkungan dan sebagai hasil yang
menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean.
Kondisi higene penting untuk membantu pasien tetap bersih dan untuk merawat
kulit, mulut, rambut, mata, telinga, kuku. Di jaman sekarang ketika seseorang
sakit, akan sulit memikirkan tentang mandi atau menyikat gigi atau
membersihkan kuku, bernapas atau mengatasi nyeri tampak lebih penting. Oleh
karena itu, perawat perlu melihat apakah pasien dapat mebersihkan diri mereka
sendiri dan membantu mereka bila mungkin. Penting untuk menanyakan pasien
apa yang biasanya mereka lakukan dan bagaimana mereka menginginkan
bantuan. Praktek budaya dan agama dapat membedakan praktek higiene. Higiene
adalah sangat pribadi dan masing – masing individu mempunyai ide yang
berbeda-beda tentang apa yang mereka ingin lakukan. Jika memungkinkan,
perawat harus membantu pasien memenuhi kebutuhan pribadinya daripada
melakukan standard rutin.

Florence Nightingale memfokuskan beberapa komponen dalam merawat


pasien yang diterapkan dalam keperawatan saat ini, dalam hal ini ventilasi
menjadi pokok utama dalam menentukan penyembuhan pasien.

1. Udara segar

Florence berkeyakinan bahwa ketersediaan udara segar secara terus-


menerus merupakan prinsip utama dalam perawatan. Oleh sebab itu, setiap
perawat harus menjaga udara yang harus dihirup klien tetap bersih, sebersih udara
luar tanpa harus membuatnya kedinginan.

14
2. Air bersih

Ketersediaan air bersih sangat diperlukan dalam pemulihan suatu penyakit


pada pasien. Oleh karena itu, perawat harus berusaha dengan baik agar air tetap
terjaga kebersihannya.

3. Saluran pembuangan yang efesien

Dalam hal perawat harus mengetahui semua saluran pengeluaran dan


keadaan normalnya, jarak waktu pengeluaran, dan frekuensi pengeluaran sehingga
terpenuhinya kebutuhan pasien secara efisien.

4. Kebersihan

Kebersihan merupakan hal yang terpenting dalam merawat pasien.


Perawat memerlukan kebersihan yang optimal agar mempercepat proses
penyembuhan. Focus perawatan klien menurut Nightingale adalah pada
kebersihan. Ia berpendapat, kondisi kesehatan klien sangat dipengaruhi oleh
tingkat kebersihan, baik kebersihan klien, perawat maupun lingkungan.

5. Cahaya

Komponen lain yang tidak kalah penting dalam perawatan klien adalah
cahaya matahari. Nightingale yakin sinar matahari dapat memberi manfaat yang
besar bagi kesehatan klien. Karenanya, perawat juga perlu membawa klien
berjalan-jalan keluar untuk merasakan sinar matahari selama tidak terdapat
kontraindikasi (suatu hal yang tidak boleh dilakukan).
Perawat adalah orang yang membantu proses penyembuhan penyakit,
tetapi tidak untuk menyembuhkan penyakit. Ini karena tugas seorang perawat
adalah merawat orang yang sakit dan dokter adalah orang yang berperan penting
dan sangat membantu dalam proses penyembuhan penyakit. Itulah beda perawat
dan dokter. Perawat juga bukan hanya memberikan obat untuk menyembuhkan
penyakit kepada si pasien, tetapi mereka juga harus bisa membuat lingkungan
fisik, psikologis, sosial pasien sembuh. Setelah mereka merasa sehat atau sembuh
dari penyakit baik lahir maupun batin mereka tenang dan nyaman. Pada saat
pasien berada di rumah sakit pun perawat di tuntut untuk memberikan
kenyamanan bagi pasien, artinya kita bisa meringankan

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Model konsep Florence Nightingale memposisikan lingkungan sebagai fokus


asuhan keperawatan, dan perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit
model konsep ini dalam upaya memisahkan antara profesi keperawatan dan
kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan/tindakan keperawatan lebih
diorientasikan pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan,
kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat (jumlah vitamin atau mineral
yang cukup), dengan dimulai dari pengumpulan data dibandingkan dengan
tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam rangka perawat mampu
menjalankan praktik keperawatan mandiri tanpa tergantung dengan profesi lain.
Inti konsep Florence Nightingale, pasien dipandang dalam konteks lingkungan
secara keseluruhan, terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan psiklologis dan
lingkungan sosial.

3.2 Saran

Dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari perlu adanya penerapan teori


modern nursing ini oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap
pasien. Selain itu, perawat perlu memahami lebih dalam lagi tentang teori
keperawatan menurut florence nightingale ini, supaya dapat meningkatkan kualita
pelayanan terhadap klien/pasien.

16
DAFTAR PUSTAKA

Asmandi.(2008).Konsep Dasar Keperawatan.Jakarta:EGC.

Potter,P.A. & Perry, A.G. (2010).Fundamental Keperawatan (3-vol set). Edisi


Bahasa Indonesia 7 Edition. Elseiver (Singapore) Pte.Ltd.
https://ahmadjamal09.blogspot.com/2017/12/teori-florence-nightingale.html?m=1

https://mediaangkona.blogspot.com/2013/12/sejarah-florence-
nightingale.html?m=1

17

Anda mungkin juga menyukai